Kumpulan Cerita Silat

30/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:05 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Epilog (Tamat)
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong sedang mabuk. Karena dia butuh. Dia harus.

“Aku akan bertemu dengannya sekarang. Tapi kau harus menunggu lama sebelum bisa melihatnya lagi. Lama sekali.”
(more…)

29/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 10: Jatuhnya Sang Bandit
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Ajaib, orang yang berdiri di pintu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Liok Siau-hong, bukan Liok si Tiga Telur, bukan pula Liok si Babi Kecil, tapi Liok Siau-hong. Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di sini? Kim Kiu-leng hampir tidak mempercayai matanya sendiri, ini benar-benar tak masuk di akal.

Sedemikian terperanjatnya Kim Kiu-leng sehingga dia mengajukan sebuah pertanyaan yang benar-benar bodoh.
(more…)

28/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 09: Keberhasilan Dan Kegagalan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Beng Wi selalu bersikap amat waspada walaupun sedang tidur. Seorang laki-laki yang dikenal di dunia Kangouw sebagai Sam-thau-coa (Ular Berkepala Tiga) tentulah seorang yang selalu waspada, kalau tidak kepalanya tentu akan telah lama ditebas orang walaupun dia memiliki 30 kepala. Tapi waktu ia terbangun dari tidurnya malam ini, sudah ada seseorang yang berdiri di ujung ranjangnya, sedang menatapnya dengan sepasang mata yang berkilauan. Malam masih larut, di kamar itu tidak ada cahaya, maka ia tidak bisa melihat wajah orang ini.

Tiba-tiba ia merasa bahwa telapak tangannya telah dipenuhi oleh keringat dingin. Orang ini tidak bergerak, ia pun tidak. Ia sengaja mengeluarkan suara dengkuran beberapa kali untuk membuat orang ini yakin bahwa ia masih tidur. Tiba-tiba, ia bergerak dan berusaha meraih golok yang tersembunyi di bawah ketiaknya. Tapi gerakan orang itu jauh lebih cepat. Saat lengannya mulai bergerak, orang ini segera menekan pundaknya ke tempat tidur. Tidak pernah seumur hidupnya ia bertemu dengan orang yang memiliki sepasang tangan yang demikian kuat, seandainya tangan itu menjepit tenggorokannya, nafasnya tentu akan segera berhenti.
(more…)

27/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 08: Duel Setelah Adu Minum
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Kelaparan seharian, tidak mencicipi apa-apa kecuali angin, itu saja sudah merupakan hal yang menyedihkan. Tapi hal yang lebih menyedihkan daripada itu mungkin, di saat-saat hampir pingsan karena kelaparan, lalu ditertawakan orang dan dipanggil si telur tolol besar.

Tapi Liok Siau-hong hanya tertawa.
(more…)

26/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 07: Kegigihan Yang Tak Tergoyahkan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong tidak suka naik kereta kuda, tapi dia malah berada di atas sebuah kereta saat ini. Orang memang tak bisa menghindar dari melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. “Kau harus menemukan sebuah cara untuk bisa tidur di atas kereta, maka bila kau bertemu dengan Kongsun-toanio, kau berada dalam kondisi terbaik untuk menantangnya!”

Liok Siau-hong tahu bahwa kata-kata Kim Kiu-leng itu benar. Tapi bagaimana mungkin dia bisa tidur pada saat seperti ini?
(more…)

25/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 06: Cara Meloloskan Diri Yang Cerdik
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Se-wan terletak di bagian barat kota. Tempat itu adalah sebuah taman bunga dan kebun yang amat besar. Matahari telah terbenam, di bawah naungan pohon, di dalam pondok-pondok dan villa, menyala sejumlah lentera yang terang seperti bintang. Bersama hembusan angin malam, tercium harum bunga, dan juga bau arak. Bulan tampak bundar seperti sebuah cermin yang bergelantungan di salah satu pohon. Dua batang pohon kapas berwarna merah seperti buah cherry terlihat saling bertautan dengan akar yang saling mengait, dan berdiri miring satu sama lain, seperti dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan lembutnya.

Liok Siau-hong tiba-tiba teringat pada Sih Peng lagi. Bila Sih Peng muncul di dalam fikirannya, seakan-akan seseorang telah menusuk hatinya dengan sebatang jarum. Ia bukanlah orang yang tidak berperasaan, tapi ia juga tahu bahwa ini bukanlah saatnya untuk bersedih. Ia telah berjalan mengelilingi taman itu sebanyak satu kali. Malam itu tidak banyak tamu wanita di tempat itu, tapi ia masih harus mencari seorang wanita yang mengenakan sepatu merah. Tetapi ia tidak menjadi gelisah.
(more…)

24/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 05: Resiko Mencari Petunjuk
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Angin masih lembut, malam masih hening. Tapi Liok Siau-hong tahu betul bahwa malam yang tenang ini mungkin menyembunyikan perangkap yang tak terhitung jumlahnya, angin yang lembut ini mungkin membawa anak-anak panah yang mematikan.

“Di dalam Lam-ong-hu, sebenarnya hanya ada 620 orang penjaga, pada malam hari mereka dibagi dalam 3 giliran jaga.”
(more…)

23/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:56 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 04: Sepasang Sepatu Merah
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Warna senja semakin gelap, lentera di ruang meditasi belum dinyalakan. Sinar terakhir dari matahari terbenam jatuh di lorong yang menuju ke kamar tamu di belakang ruang meditasi. Sinar itu menerpa tiang-tiang kayu yang tua dan mulai lapuk, membuatnya tampak mengkilap seperti dulu. Bersama hembusan halus angin malam di bulan tujuh, tercium aroma lembut dari gunung dan pepohonan di kejauhan sana, yang membuat hati manusia dipenuhi oleh perasaan riang dan gembira.

Kang Kin-he berjalan dengan sangat lamban, Liok Siau-hong juga berjalan dengan sangat lamban. Kang Kin-he tidak mengucapkan sepatah kata pun, Liok Siau-hong juga tidak membuka mulutnya. Tampaknya dia menyadari bahwa dirinya adalah tamu tak diundang. Tamu yang tak diundang setidaknya harus cukup bijaksana untuk tetap menutup mulutnya. Halaman di sisi mereka tampak sepi, tak seorang pun terlihat atau terdengar suaranya. Tempat ini memang tempat yang sepi, orang-orang kesepian biasanya pendiam.
(more…)

22/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:52 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 03: Kau Menipu Aku Berdusta
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Malam hari. Tapi malam belum begitu larut. Sukong Ti-sing tidak mabuk, dan telah pergi. Liok Siau-hong, tentu saja, tidak diracuni. Sukong Ti-sing bukan tipe orang yang suka memasukkan racun ke dalam arak. Di samping itu, jika ia menggunakan racun, Liok Siau-hong tidak akan meminumnya.

Tapi terlihat secercah senyuman di wajah Sih Peng.
(more…)

20/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:50 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 02: Mengunjungi Dewi Jarum Sih-hujin
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Lereng bukit. Di bawah sinar senja, lereng bukit yang hijau itu menampilkan warna ungu yang ganjil dan tak nyata. Sekarang hari telah senja, dan lereng gunung itu tertutup oleh beraneka jenis bunga mawar yang sedang berbunga. Dua orang gadis muda dengan rambut dikepang tampak sedang memetik bunga. Dari mulut mereka mengalun irama lagu pegunungan yang lembut dan manis.

Lagu mereka lebih lembut dan halus daripada angin musim panas yang hangat, mereka sendiri lebih cantik daripada bunga-bunga. Waktu Liok Siau-hong berjalan mendaki lereng bukit itu, lagu mereka tiba-tiba berhenti dan mereka berdua menatap Liok Siau-hong dengan mata mereka yang besar dan terang. Untunglah Liok Siau-hong telah biasa melihat wanita memandangnya, maka ia tidak menjadi malu tapi malah tersenyum.
(more…)

19/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:42 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 01: Sejumlah Perampokan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Panas yang menyengat. Sinar matahari seperti pisau panas, menusuk tanpa belas kasihan pada jalanan yang kotor dan berdebu. Bahkan bekas luka di wajah Siang Ban-thian pun tampak terpanggang hingga memerah.

Tepatnya ada tiga bekas luka, bekas luka itu dan sekitar 7 atau 8 macam luka dalam telah memberikan dirinya kemasyuran dan posisi yang ia nikmati sekarang ini. Bila cuaca berubah menjadi lembab atau hujan, luka dalamnya akan mulai berdenyut-denyut lagi, menyebabkan ruas-ruas tulangnya terasa sakit, dan ia tentu akan teringat lagi pada pertarungan-pertarungan dahsyat di masa mudanya dan merasa sangat bersyukur.
(more…)

18/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:58 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Epilog (Tamat)
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Pintu yang menuju tangga batu itu telah dibuka, Cu Ting yang membukanya. Jika seseorang bisa membuat sebuah pintu seperti itu, tentu akan ada orang yang bisa membukanya.

Banyak kejadian seperti itu di dunia. Itulah sebabnya jika kau bisa membuat sebuah tameng yang tak dapat ditembus oleh tombak mana pun, lalu orang lain tentu akan membuat sebuah tombak yang bisa menembus tamengmu. Tak ada sesuatu yang “mutlak” di dunia ini.
(more…)

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:56 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 11: Orang Yang Paling Cerdas
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Udara dipenuhi oleh aroma arak yang harum dan memabukkan, api di dalam tungku tanah liat kecil itu tidak besar, tapi cukup untuk menghangatkan gua yang dingin itu.

“Yah, paling tidak aku datang ke tempat yang tepat,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dan pada waktu yang tepat pula.”
(more…)

17/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:55 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 10: Jiwa-jiwa Yang Rusak dan Kemurkaan Tuhan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Rumput lembut itu telah dibasahi oleh embun, malam pun semakin larut.

Ho Thian-jing berjalan perlahan-lahan di halaman. Cahaya yang berasal dari sebuah bangunan kecil di kejauhan tampak menyinari wajahnya yang pucat dan layu. Ia tampak sangat letih, kesepian dan lelah.
(more…)

16/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:54 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 09: Kematian Yang Begitu Aneh
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Kereta itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menampung 4 orang penumpang. Kuda-kuda yang menarik kereta itu sangat terlatih, walaupun kereta sedang berjalan di atas jalan berlumpur, kedudukannya tetap sangat stabil. Ma Siu-cin dan Ciok Siu-hun duduk di satu jok, sedangkan Sun Siu-jing dan Yap Siu-cu duduk di hadapan mereka.

Kereta itu telah menempuh perjalanan yang panjang, Ciok Siu-hun tiba-tiba melihat semua orang sedang menatapnya. Ia pura-pura tidak tahu, tapi akhirnya tak tahan untuk tidak mencibirkan bibirnya dan menantang semua orang.
(more…)

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.