Kumpulan Cerita Silat

22/04/2008

Darah Ksatria: Bab 27. Batu Hitam

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 11:49 pm

Darah Ksatria
Bab 27. Batu Hitam
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Mega putih, langit membiru. Di kejauhan masih ada bangunan rumah, ada toko, suara orang dan keributan yang lazim terjadi dalam perkampungan. Langit tetap membiru, kehidupan dalam toko itu pun masih berlangsung, tapi kehidupan dalam toko serba ada ini bukan lagi milik Ma Ji-liong sendiri, seolah kehidupan sejati makin jauh meninggalkan Ma Ji-liong.

Selepas mata Ma Ji-liong memandang, yang terlihat hanya tanah kosong belaka. Sekian lama ia menjumblek, kaget dan tidak mengerti, bagaimana perubahan ini berlangsung. Waktu ia menoleh, dilihat Thio-lausit sedang menggeliat dan menguap, seperti baru sadar dari pulasnya, entah sadar karena mabuk, atau karena sedih dan mendelu? Atau dari tidur pulas sungguhan? Ada kalanya orang sadar lebih celaka daripada tidur, lebih enak mabuk saja, karena begitu ia membuka mata, seketika ia membelalak, kecuali kaget, heran dan juga ngeri.
(more…)

Advertisements

19/04/2008

Darah Ksatria: Bab 24. Langganan Lama Dan Pemborong

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:12 am

Darah Ksatria
Bab 24. Langganan Lama Dan Pemborong
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Pada umumnya sebelum membuka pintu, toko serba ada perlu mengadakan pemeriksaan pada barang-barang persediaannya, barang apa yang kurang dan perlu ditambah, menata kembali secara rapi dan lain sebagainya, persiapan selalu diperlukan demi memberikan pelayanan yang baik. Sebagai pegawai lama dan sudah berpengalaman, Thio-lausit setiap pagi mengerjakan semua itu dengan rapi dan beres. Apalagi sudah delapan belas tahun sejak toko serba ada ini dibuka Thio-lausit sudah bekerja di sini, ia rajin bekerja, jujur dan setia, pengadaan barang berada dalam tangannya, kalau di dalam toko mendadak kehilangan segentong garam dan sekeranjang telur ayam, tidak mungkin ia tidak tahu.

Tapi Thio-lausit justru diam saja, seperti sudah tahu di mana barang itu berada, maka ia bersikap adem-ayem saja.
(more…)

18/04/2008

Darah Ksatria: Bab 23. Orang Jujur Yang Tidak Jujur

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:11 am

Darah Ksatria
Bab 23. Orang Jujur Yang Tidak Jujur
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Tubrukan nekat Thiat Tin-thian sebetulnya merupakan tubrukan mengadu jiwa dengan sisa tenaga terakhir, sergapan yang akan menentukan mati atau hidup. Thiat Tin-thian sudah bertekad mati, rela berkorban untuk menyelamatkan Ma Ji-liong, tetapi ia tidak mati, karena di saat tubuhnya terapung di udara, tahu-tahu tubuhnya malah tertarik mundur ke belakang.

Ternyata berbareng dengan tubrukan Thiat Tin-thian itu, Ma Ji-liong juga menubruk di belakangnya. Dengan kedua tangan ia cengkeram ikat pinggangnya serta menarik sekuat tenaga. Di sana Coat-taysu juga sudah siap menyambut tubrukannya, tapi ia tidak jadi melontarkan pukulannya.
(more…)

17/04/2008

Darah Ksatria: Bab 22. Bukan Kabut Bukan Halimun

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:07 am

Darah Ksatria
Bab 22. Bukan Kabut Bukan Halimun
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Ma Ji-liong mengangkat kepala, sinar mentari menyorot mukanya. Walau wajahnya bukan lagi muka yang gagah dan tampan, bukan wajah yang bisa mempesona para gadis hingga jatuh cinta padanya, tapi siapa pun yang melihatnya, sikapnya pasti hormat dan serius.

Thiat Tin-thian mengawasinya, “Transaksiku tadi sebetulnya cukup baik, boleh sekarang juga teken kontrak, kenapa kau malah tidak setuju?”
(more…)

16/04/2008

Darah Ksatria: Bab 21. Kesetiaan Yang Teruji

Filed under: Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:06 am

Darah Ksatria
Bab 21. Kesetiaan Yang Teruji
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Manusia kenapa harus mempertahankan hidup? Apakah karena ia ingin melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan? Kalau seorang beranggapan tugas yang mutlak ia kerjakan tak mampu ia lakukan, lalu apa artinya ia bertahan hidup?

Sumur itu terletak di tengah pekarangan. Mentari pagi sudah memancarkan cahayanya yang benderang, hawa sejuk dan nyaman, tampak merah darah. Darah memang berceceran di tanah. Darah orang lain, juga darah dari tubuh Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi.
(more…)

15/04/2008

Darah Ksatria: Bab 20. Tiada Pilihan Lain

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:05 am

Darah Ksatria
Bab 20. Tiada Pilihan Lain
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Beberapa langkah setelah meninggalkan rumah, baru Ma Ji-liong mendengar suara tangis bayi dari rumah seberang. Beberapa langkah kemudian, sebuah pintu kecil yang ditempel kertas gambar malaikat rejeki terbuka.

Nyonya muda dengan perutnya yang buncit itu sedang berdiri di depan pintu, mengantar suaminya yang masih muda tegap berangkat kerja di ladang.
(more…)

14/04/2008

Darah Ksatria: Bab 19. Berbuat Pasti Ada Tujuan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:05 am

Darah Ksatria
Bab 19. Berbuat Pasti Ada Tujuan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Pembeli garam duduk di pinggir sambil minum arak, hanya sebotol arak untuk dirinya sendiri. Ia minum seteguk demi seteguk, minum perlahan-lahan, gayanya mirip setan arak yang kikir, mau minum tidak mau merogoh kantong, yang pasti ia gemar minum tapi sayang keluar uang.

Di sini, di dasar sumur ini, tidak bisa tidak harus minum arak, tapi tidak boleh mabuk. Badan harus selalu segar, pikiran harus selalu jernih, karena harus menjaga keselamatan dan merawat kesehatan saudaranya, mengawasi orang yang tidak takut asin dan terus melalap garam seperti kakap mencaplok teri itu.
(more…)

13/04/2008

Darah Ksatria: Bab 18. Orang Yang Makan Garam

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:04 am

Darah Ksatria
Bab 18. Orang Yang Makan Garam
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Seperti biasanya, malam itu Ma Ji-liong menggelar tikar untuk tidur di lantai di pinggir ranjang. Tapi dia tidak bisa tidur.

Agaknya Cia Giok-lun juga tidak bisa tidur, mendadak ia bersuara, “He, kau belum tidur?”
(more…)

12/04/2008

Darah Ksatria: Bab 17. Tidak Ada Yang Tidak Dilakukan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:04 am

Darah Ksatria
Bab 17. Tidak Ada Yang Tidak Dilakukan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Malam itu Ma Ji-liong hanya makan nasi dengan lauk ikan goreng lombok, satu macam menu saja, ada satu mangkuk kuah tulang daging babi juga tersedia di meja, semangkuk kuah ini untuk bininya yang sakit.

Bininya digotong ke atas ranjang dan diselimuti, sudah sadar, tapi rebah diam tidak bergerak, matanya melotot mengawasi langit-langit rumah.
(more…)

11/04/2008

Darah Ksatria: Bab 16. Toko Serba Ada

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:46 pm

Darah Ksatria
Bab 16. Toko Serba Ada
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Bentuk rumah itu terlalu rendah, lelaki bertubuh tinggi kalau mengulurkan tangan pasti bisa menjangkau langit-langit rumah. Kapur dinding juga sudah luntur, di dinding tengah yang menghadap pintu luar tergantung sebuah papan ukiran yang menggambarkan Kwan Kong berduduk sambil membaca buku Jun-jiu. Di pinggirnya tergantung kertas panjang yang memuat tata tertib kehidupan keluarga menurut tradisi kuno yang ditulis Cu-hucu. Di sisi lain adalah tulisan berisi petuah bagi manusia untuk hidup rukun, jujur, dan bajik, serta bertakwa kepada Thian. Gaya tulisannya amat kuat dan indah dengan model kuno lagi, merupakan tulisan yang tinggi nilainya.

Rumah pendek itu hanya ada satu jendela dan satu pintu. Di pintu dipasang kain tirai biru yang sudah luntur warnanya. Sebuah meja segi delapan terbuat dari kayu merah kelihatan sudah tua dan kotor ternyata masih berguna dan diletakkan di seberang pintu.
(more…)

10/04/2008

Darah Ksatria: Bab 15. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:43 pm

Darah Ksatria
Bab 15. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Adis-dewira)

Enam puluh tahun yang lalu, di dunia kangouw ada tiga pasang tangan manusia yang terkenal dan dikagumi, yaitu Bu-ceng-thiat-jiu, Sin-tho-biau-jiu dan Ling-long-giok-jiu.

Thiat-jiu-bu-ceng (Tangan Besi Tidak Kenal Ampun), setiap beroperasi tidak ada korban yang hidup meskipun hanya sekejap saja.

Biau-jiu-sin-tho (Maling Sakti Bertangan Lincah), barang apa saja yang tidak mungkin dicuri orang lain, dengan mudah dapat diambilnya.

Giok-jiu-ling-long (Tangan Kumala Ahli Operasi), tidak ada orang tahu, sepasang tangan ini dapat melakukan apa saja yang sebetulnya tidak masuk akal, kenyataannya ia justru dapat menciptakan sesuatu yang aneh dan ganjil, namun nyata. Dalam jangka setengah jam, seseorang bisa dirubah bentuk wajahnya menjadi orang lain oleh keprigelan kedua tangannya itu.

Ilmu tata rias dan ilmu operasi yang dikuasainya sedemikian bagus dan sempurna, kecuali Toa-sin-thong Biau-hoat-thian-ong dari Persia, tiada orang kedua di Tionggoan yang dapat menandinginya.
(more…)

13/01/2008

Darah Ksatria: Bab 10. Pertanyaan-pertanyaan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:20 pm

Darah Ksatria
Bab 10. Pertanyaan-pertanyaan
Oleh Gu Long

Arak itu memang tidak begitu enak. Juga bukan termasuk jenis arak yang bagus, dan tentu saja bukan arak Li-ji-ang. Arak itu cuma sejenis arak yang bisa kau beli di pasar biasa. Walaupun Ma Ji-liong tidak perduli, tapi Siau-hoan tetap menjelaskan dengan nada meminta maaf, “Hong-seng sangat jarang minum di sini. Dia pun tidak pernah mengundang temannya ke sini. Baru tadi aku membeli seguci arak ini.”

Arak itu baru saja dibelinya, dan makanan baru saja dimasaknya. Ini terjadi karena di tempat itu tidak ada seorang pun pelayan.
(more…)

11/01/2008

Darah Ksatria: Bab 09. Musuh Dan Hati Yang Suci

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:20 pm

Darah Ksatria
Bab 09. Musuh Dan Hati Yang Suci
Oleh Gu Long

Tak diragukan lagi, gang ini adalah tempat tinggal para saudagar kaya.

Orang-orang kaya ini harus menjaga diri dari perampok dan maling yang ingin mencuri harta mereka. Karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas setelah matahari terbenam, maka mereka harus tinggal di balik tembok yang tinggi. Dan begitulah, kedua sisi jalan sempit itu diapit oleh tembok-tembok yang sangat tinggi, begitu tingginya sehingga orang yang memiliki ginkang Thian-ma-hing-khong pun tidak sanggup untuk melompatinya.
(more…)

Blog at WordPress.com.