Kumpulan Cerita Silat

09/01/2009

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 19

Filed under: Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 4:40 pm

Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

“Ya, memang betul, Hui-ang-kin, ia telah menjadi is-teriku,” kata Hun-cong pula dengan hati cemas.

“Nyo Hun-cong, kau telah berbuat salah!” seru Hui-ang-kin tiba-tiba.
(more…)

Advertisements

08/01/2009

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 18

Filed under: Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 4:38 pm

Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Thian-bong Siansu adalah Sute Thian-bong Siansu, ilmu pedangnya juga tinggi. Dahulu waktu mendengar Nyo Hun-cong telah mengalahkan Thian-liong, hatinya tidak terima, ia ingin sekali mencari Hun-cong untuk diajak bertanding, karena im ia telah ditarik kemari oleh Coh Ciau-lam, Ha-haptoh melayani dia dengan hormat sekali.

Waktu Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berdua melompat turun tadi, ia sebenarnya sudah berada di situ, tetapi karena ia tidak kenal Nyo Hun-cong dan hanya melihat seorang pemuda sedang bertempur melawan Coh Ciau-lam, sedang seorang wanita muda telah menyeret seorang anak muda untuk kabur, ia berpikir Coh Ciau-lam yang berkepandaian tinggi tentu tidak menjadi soal melawan si pemuda, ditambah pula suara-suara orang yang ramai, hakikatnya ia tidak mendengar apa yang Coh Ciau-lam teriakkan padanya tadi, tanpa pikir lagi ia lantas mengejar Hui-ang-kin.
(more…)

27/06/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 17

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 1:15 am

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 17
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Selagi kepala suku Kazak memuji-muji Nyo Hun-cong, kepala suku Kedar, Bing-lok, tiba-tiba berdiri dan berkata, “Mata kita perlu lebih awas dan terang sedikit, jangan seorang pengecut dianggap orang gagah dan mata-mata musuh dianggap pahlawan!”

“Apa maksudmu im,” kata kepala suku Kazak heran dengan mata membelalak.
(more…)

26/06/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 16

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 1:15 am

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 16
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Lalu Nyo Hun-cong bertanya pula bagaimana sampai mereka bisa tertawan, mendengar pertanyaan ini muka Mokhidi segera berubah menjadi gemas.

“Nyo-taihiap,” katanya kemudian, “Kau baik dalam segalanya, hanya satu hal saja yang tidak baik!”
(more…)

12/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 15

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:52 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 15
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Ia hanya berpikir, “Perkataan Ming-hui memang betul. Aku akan mengumpulkan orang-orang Kazak lagi untuk mengusir tentara Boan, berperang tidak bisa mengandalkan hasil dari pembunuhan satu-dua orang panglima musuh saja lantas segalanya bisa beres!”

Besoknya, hari kedua, seperti biasa Ming-hui pergi memberi selamat pagi pada ayahnya.
(more…)

11/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 14

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:51 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 14
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Hun-cong melihat air muka Toh It-hang seperti menunjukkan rasa sedih, apalagi hubungan antara mereka sebenarnya sangat kental, dalam keadaan biasa, tentu tidak berpamitan secara tergesa-gesa begitu, sekalipun dalam keadaan yang kalut juga pasti akan berbincang-bincang mengenai keadaan masing-masing selama ini.

Akan tetapi kini, bahkan nama Suhunya saja tidak ditanya sudah buru-buru berpisah, ini sungguh aneh sekali.
(more…)

10/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 13

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:50 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 13
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Nilan Ming-hui yang sudah merasakan hangatnya asmara, seperti ikan mendapatkan air, walaupun dalam keadaan sakit, matanya ternyata masih begitu jeli dan air mukanya terang.

Ia memang wanita cantik suku Kijin dari Boan-ciu, ketika tiba-tiba ia menunjukkan dirinya di padang rumput yang luas itu keruan saja seakan-akan pelangi yang menghiasi angkasa dengan aneka warnanya di waktu senja.
(more…)

09/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 12

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 11:12 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 12
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Sementara itu sambil berkata dengan manja, kepalanya sudah di letakkan dipangkuan Nyo Hun-cong. Panggilan yang tadinya ‘Taihiap’ kini pun sudah berubah menjadi Toako atau kakak, dengan setengah gusar dan setengah aleman dia mengucapkan kata-katanya tadi.

Tetapi Nyo Hun-cong menyahut dengan rasa sedih dalam hati, kemudian dengan perlahan ia bangunkan orang.
(more…)

08/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 11

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:47 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 11
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Sementara itu terdengar suara orang memanggil tanpa henti-hentinya, “Hamaya, engkau ada di mana ?” Kiranya mereka masih belum tahu kalau Hui-ang-kin sudah ditolong keempat penunggang kuda tadi, maka mereka masih terus mencarinya.

Kepala suku Tahsan, Pahla, dari jauh sudah melihat Nyo Hun-cong, akan tetapi tidak dapat mendekat karena terhalang oleh serdadu Boan.
(more…)

09/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 10

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 10
Oleh Liang Yu Sheng

ôMereka mengatakan sendiri sebagai murid Hung-lui-kiam Ce Cin-kun dari Kwan-gwa, dan datang kemari hendak mencari harta karun, mereka sungguh ganas sekali,ö jawab Asta.

Nyo Hun-cong teringat pernah mendengar dari Suhunya, bahwa empat puluh tahun yang lalu, Ce Cin-kin dari Kwan-gwa pernah mengelilingi daerah Sinkiang dan naik ke Thian-san untuk mencari dia.
(more…)

08/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 09

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:02 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 09
Oleh Liang Yu Sheng

ôHamaya, ô ia memulai, ô Pemuda-pemudi yang di padang rumput semua memujimu, kepandaianmu juga memang tidak ada bandingannya dikalangan wanita dan boleh disebut gagah perkasa, tetapi apakah juga sudah terpikir olehmu pujaan-pujaan semacam itu juga bisa menimbulkan angin pasir yang berbalik bisa menguburmu ?ö

ôItu bukan aku yang menyuruh mereka menyanyikan lagu pujaan begitu, jika kau tidak suka mendengarnya, aku dapat melarang mereka menyanyikannya, kata Hui-ang-kin.
(more…)

07/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 08

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:02 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 08
Oleh Liang Yu Sheng

Tidak terlihat ia berkelit atau gerakan tangannya, Akat ternyata sudah terpental beberapa kaki jauhnya.

Semua orang saling pandang dengan heran dengan kejadian itu. Sementara itu sesudah Akat menggelindingkan badannya, segera ia bangun lagi, ia kuatkan kuta-kudanya dengan kedua tangan memegang pundak Nyo Hun-cong, tangan kiri mendorong. Tangan kanan kelima jarinya seperti kaitan menarik kebawah, ini adalah satu gerakan dalam ilmu gulat yang dinamakan ‘Thui-jong-bong-gwat’, membuka jendela memandang rembulan.
(more…)

06/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 07

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:02 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 07
Oleh Liang Yu Sheng

Malam di padang rumput di waktu musim panas, udara terang dan tenang, langit penuh dengan bintang-bintang yang gemeredepan seperti batu permata tersunting di layar beludru biru yang luas, puncak gunung penuh salju menegak di kejauhan dengan megahnya, berdiri di antara angkasa malam yang berwarna biru tua bagai intan berkilauan.

Di padang rumput, para pahlawan bangsa Lopuh sedang mengitari api unggun dan memutari pahlawan wanita mereka, Hui-ang-kin alias Hamaya, juga mengitari si pengkhianat, Abu.
(more…)

05/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 06

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 11:01 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 06
Oleh Liang Yu Sheng

Hati Coh Ciau-lam gemas sekali, diam-diam ia mengatur pernafasannya dan ia mengumpulkan tenaga dalam dan berusaha menembus jalan darah yang tertutuk tadi.

Nyo Hun-cong memang agak ceroboh, ia hanya tahu Coh Ciau-lam waktu masih di Thian-san tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan tutukan hiat-to, tak tersangka dalam beberapa tahun belakangan ini kungfu Coh Ciau-lam sudah mengalami banayk kemajuan, walaupun belum dapat menandinginya, namun untuk mengumpulkan tenaga dalam dan melancarkan hiat-to yang tertutuk sudah bukan soal baginya.
(more…)

04/11/2007

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 05

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 05
Oleh Liang Yu Sheng

Dalam pada itu mendadak Coh Ciau-lam menarik serangannya dan melompat mundur, selagi Hui-ang-kin merasa heran, tiba-tiba terdengar suara bentakan, “Berhenti!”

Baru saja Hui-ang-kin menoleh, terlihat olehnya seorang secepat burung terbang sudah menghadang di depan Coh Ciau-lam.
(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.