Kumpulan Cerita Silat

04/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 54

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Bab 54. Segitiga…
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Batu itu melayang bagaikan terbang tetapi Kiu Cian Jin menyambutinya.

“Nona takut bau busuk?” katanya tertawa. “Baiklah, aku akan menyingkir sedikit lebih jauh. Kau orang delapan mesti menunggu, aku larang kamu pada melarikan diri…..!”
(more…)

03/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 53

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Bab 53. Ajalnya Bwee Tiauw Hong
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Khu Cie Kee adalah yang terpandai dari Cit Cu, Oey Yok Su memandang ia terlalu enteng, maka dadanya itu kena terkibas hingga ia merasakan sakit. Dengan sebat ia menutup diri, lalu dengan tangan kirinya menyambar tangan baju si penyerang, tangan kanannya mencari biji mata lawan itu.

Khu Cie Kee meronta sekuatnya, ujung bajunya itu robek.
(more…)

02/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 52

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:20 am

Bab 52. Barisan Bintang
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Liam Cu mengawasi pemuda itu dengan tingkahnya yang tidak wajar, ia mengerti yang orang tidak dapat melupakan kedudukan mulia atau penghidupan yang mewah, ia menjadi berduka.

Ketika itu punggawa perang yang mengepalai pasukan pengiring pihak Song itu masuk ke dalam rumah penginapan, dengan hormat sekali ia menghadap Tuli, dengan siapa ia berbicara. Tuli pun mengatakan sesuatu. Habis itu ia memutar tubuhnya, untuk dengan membentak memberikan titahnya, “Pergi kamu menanyakan setiap rumah di kampung ini, apa di rumah mereka ada Kwee Ceng Kwee Koanjin! Jikalau tidak ada, kamu pergi mencari ke lain tempat!”
(more…)

01/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 51

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:19 am

Bab 51. Ajalnya Auwyang Kongcu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Sebenta saja terdengar perkataan dan tertawanya Auwyang Hong dan Ciu Pek Thong berdua, atau sejenak kemudian, suara mereka terdengar sudah jauh mungkin di luar belasan tombak.

Koan Eng dan Yauw Kee duduk menjublak. Tak tahu mereka siapa kedua orang itu, mereka heran. Apa perlunya dua orang itu muncul di tengah malam buta rata? Saking ingin tahu, mereka bangun berdiri, terus sambil berpegangan tangan mereka bertindak ke pintu.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 50

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:16 am

Bab 50. Menikah!
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Kau hendak menitahkan apa padaku, saudara Liok, silahkan kau mengatakannya,” kata Cie Peng. “Di mana yang aku bisa, pasti aku akan memberikan bantuanku padamu.”

Atas ini, Liok Koan Eng membungkam.
(more…)

29/09/2008

Memanah Burung Rajawali – 49

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:30 am

Memanah Burung Rajawali – 49
Bab 49. Pertempuran di Dalam Rumah Makan
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Sungguh berbahaya!” kata Kwee Ceng perlahan. “Jikalau tidak ada kau, tidak dapat aku mengendalikan diri, dan itu artinya bahaya…”

“Masih ada enam hari dan enam malam, kau mesti janji akan dengar kata aku,” kata si nona.
(more…)

27/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 48

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:13 am

Memanah Burung Rajawali – 48
Bab 48. Apa yang Nampak dari Tempat Sembunyi
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Kwee Ceng dan Oey Yong, yang bersembunyi di belakang gunung, mendengar nyata pembicaraannya Wanyen Lieh beramai. Karena mereka itu hendak mencuri surat wasiat Gak Hui, mereka takut sekali surat wasiat itu kena didapatkan pangeran itu. Inilah hebat. Dengan menggunai siasatnya Gak Hui itu, pasti bangsa Kim bakal berhasil menyerbu negara Song. Bagaimana itu bisa dicegah? Diantara orang-orangnya Wanyen Lieh pun ada Auwyang Hong yang lihay. Oey Yong mencoba mencari akal, untuk membikin mereka itu kaget dan nanti lari kabur. Kwee Ceng sebaliknya tidak sabaran, karena tidak ada tempo lagi untuk berpikir lama-lama atau mengatur tipu. Akhirnya pemudi ini menarik tangan si pemuda, untuk diajak pergi ke belakang air tumpah. Mereka sampai di sana tanpa ada yang lihat dan tanpa ada yang dengar, sebab tumpahnya air sangat berisik.

Muda-mudi ini telah siap sedia ketika See Thong Hay mencoba memasuki air tumpah itu, dengan gampang dia dihajar kembali. Hasilnya penolakan ini membikin mereka berdua jadi heran dan kagum, girang sekali. Itulah buahnya pernyakinan mereka atas ilmu Ie-kin Toan-kut Pian.
(more…)

26/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 47

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:09 am

Memanah Burung Rajawali – 47
Bab 47. Tempat Rahasia
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Sa Kouw tidak menjadi takut, bahkan ia tertawa haha-hihi. Dia seperti tidak kenal bahaya, dia rupanya menyangka nona tetamunya tengah main-main dengannya.

Oey Yong penasaran, ia ulangi pertanyaannya.
(more…)

25/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 46

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:06 am

Memanah Burung Rajawali – 46
Bab 46. Resoran Gelap di Dalam Desa
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tidak puas Oey Yong mendengar Pek Thong cuma mewajibkan Auwyang Hong membuang balas. Untuk orang biasa memang sukar tak karuan mengeluarkan angin busuk, perbuatan itu tak dapat dilakukan semua orang, tidak demikian dengan seorang yang ilmu dalamnya sudah mahir. Sebaliknya, sungguh gampang buat orang sebangsa See Tok. Maka ia lantas berteriak mencegah: “Tidak bagus, itu tidak bagus! Lebih dulu dia dimestikan membebaskan totokannya kepada guruku, kemudian baru kita bicarakan pula!”

Ciu Pek Thong tertawa.
(more…)

15/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 45

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:34 am

Memanah Burung Rajawali – 45
Bab 45. Pesiar dengan Ikan Hiu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Datanglah sang malam dengan segala persiapannya yang sudah sempurnya. Tinggal menanti besok pagi, Cit Kong bertiga bakal pergi berlayar. Selagi hendak tidur, Oey Yong tanya, apa besok perlu mereka pamitan dari Auwyang Hong.

“Bahkan kita harus membuat perjanjian akan bertemu lagi dengannya sepuluh tahun kemudian,” menjawab Kwee Ceng. “Kita telah diperhina begini rupa, mana bisa kita berdiam saja?”
(more…)

14/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 44

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:34 am

Memanah Burung Rajawali – 44
Bab 44. Ilmu yang Sejati dan yang Palsu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok itu, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.

Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.
(more…)

13/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 43

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:19 am

Memanah Burung Rajawali – 43
Bab 43. Melawan Batu Besar
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkan itu. Ia masih sangat lelah maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk meluruskan pernapasannya.

Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun, akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri terhadap pengemis tua itu. Di mulut gua ia memasang kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apa juga. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepet-mepet di pinggiran, majunya setindak demi setindak. Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.
(more…)

12/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 42

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:17 am

Memanah Burung Rajawali – 42
Bab 42. Di Pulau Terpencil
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Oey Yong selulup, ia berenang ke arah air berputar itu. Ia tidak jeri untuk tenaga besar dari usar-usaran air itu, ia dapat mempertahankan diri dari sedotan yang keras. Di situ ia selulup ubak-ubakan, untuk mencari Kwee Ceng. Lama ia berputaran, Kwee Ceng tidak nampak, Auwyang Hong pun tidak ada. Maka maulah ia menduga, kedua orang itu telah kena terbawa perahu sampai di dasar laut…

Lama-lama lelah juga Oey Yong. Tapi ia masih belum putus asa, ia bahkan penasaran. Maka ia mencari terus. Sangat ia mengharap-harapkan nanti dapat menemukan si anak muda. Diam-diam ia mengharapi bantuan Thian, mengasihani dia. Tapi masih sia-sia belaka usahanya itu. Saking letih, ia muncul ke muka air. Ia berenang ke perahu kecil. Di dalam hatinya ia berjanji, sebentar ia akan selulup pula, untuk mencari terlebih jauh.
(more…)

11/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 41

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:14 am

Memanah Burung Rajawali – 41
Bab 41. Pergulatan di Tengah Laut
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Belum ada satu jam sejak berlalunya kedua ekor rajawali, Auwyang Hong kembali mengatur meja perjamuan makan di muka perahu di bawah tiang layar. Untuk ke sekian kalinya ia memancing supaya Ang Cit Kong dan Kwee Ceng tidak dapat menahan lapar dan nanti terpaksa turun untuk dahar pula.

Menyaksikan lagak orang itu, Cit Kong tertawa.
(more…)

10/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 40

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:13 am

Memanah Burung Rajawali – 40
Bab 40. Habis Cucut, Datang Ular
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Begitu lekas Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong dan Kwee Ceng tiba di luar gubuk perahu, mereka merasakan kaki mereka basah. Nyata mereka telah menginjak air, atau kaki mereka kena kerendam air. Tentu sekali mereka menjadi sangat kaget. Tapi mereka sadar, maka itu dengan menjejak tanah, dengan mengenjot tubuh, mereka berlompat naik ke tiang layar. Cit Kong bahkan sambil menenteng dua bujang gagu. Ketika ia memandang ke sekitarnya, yang nampak ialah laut yang luas, perahunya sudah tergenang air.

“Pengemis tua, Oey Lao Shia benar hebat!” berteriak Pek Thong. “Bagaimana perahu ini dibuatnya?”
(more…)

« Newer PostsOlder Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.