Kumpulan Cerita Silat

23/08/2008

Kisah Membunuh Naga (43)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:06 am

Kisah Membunuh Naga (43)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Mendengar perkataan muridnya, Biat-coat jadi girang sekali. Ia mengangguk beberapa kali dan berkata. “Anak, kau tidak menyia-nyiakan capai lelahku.” Nenek itu adalah manusia yang paling jarang memuji orang. Perkataannya itu adalah pujian tertinggi yang dapat diberikan olehnya.

Dalam girangnya, Biat-coat sedikitpun tidak memperhatikan suara Cie Jiak yang sebenarnya terlampau nyaring. Tapi banyak orang sudah melihat keluarbiasaan itu.
(more…)

22/08/2008

Kisah Membunuh Naga (42)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:05 am

Kisah Membunuh Naga (42)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sementara itu, Boe Kie sudah berkata pula dengan suara nyaring. “Benar! Kau rupanya masih ingat orang she Ouw itu. Mengapa kau tidak bicara terus? Sungguh mengenaskan matinya nona Ouw. Apakah di dalam hatimu kau tidak pernah merasa malu?”

Dengan napas mengap-mengap Sian Ie Thong menyerang bagaikan kalap. Boe Kie sengaja mengendurkan tekanan tenaganya dan Sian Ie Thong lantas saja merasakan seakan-akan dadanya lega. Ia menarik napas dan membentak. “Kau?” ia tidak dapat bicara lagi sebab Boe Kie mendadak menekan lagi dengan lweekangnya.
(more…)

21/08/2008

Kisah Membunuh Naga (41)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:04 am

Kisah Membunuh Naga (41)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Dengan demikian, aku justru terjerumus ke dalam jebakan yang dipasang oleh binatang Seng Koen. Sudahlah! Aku harus menelan semua hinaan. Hanya dengan begitu barulah aku bisa membalas sakit hati kedua orang tuaku dan Gie-hoe.”

Sesudah melepaskan Goan im, ia berkata dengan suara perlahan, “Matamu bukan dibutakan oleh Thio Ngo Hiap. Janganlah mendendam begitu hebat. Apalagi sesudah Thio Ngo Hiap bunuh diri, semua sakit hati sebenarnya sudah harus habis. Taysoe adalah seorang pertapa yang tentu tahu, bahwa dunia ini penuh dengan kekosongan. Perlu apa Taysoe begitu sakit hati?”
(more…)

20/08/2008

Kisah Membunuh Naga (40)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:03 am

Kisah Membunuh Naga (40)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tiba tiba dari barisan Boe Tong pay melompat keluar seorang pria yang membentak sambil menuding Ian Thian Ceng. “In Loojie. Jika kau tak menyebut Thio Ngoko tak menjadi soal. Sesudah disebutkan, sakit sekali hatiku. Jie Samko dan Thio ngoko kedua-duanya celaka dalam tangan Peh Bie Kauw. Jika sakit hati ini tak dibalas, cuma-cuma saja Boh Seng Kok menjadi anggota dari Boe Tong Cit Hiap.” Seraya berkata begitu, ia menghunus pedang dan memasang kuda-kuda dalam gerakan Bangak Tiaow Cong (Laksana gunung memberi hormat), serupa pukulan yang biasa di keluarkan jika seorang murid Boe Tong berhadapan dengan lawan yang tingkatanya lebih tinggi.

Boa Cit hiap sedang bergusar, tapi setiap gerak geriknya sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang tokoh terkemuka dalam rimba persilatan.
(more…)

19/08/2008

Kisah Membunuh Naga (39)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:02 am

Kisah Membunuh Naga (39)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tiba-tiba dari belakang batu terdengar suara Goan-tin. “Bangsat kecil! Hari ini aku mengubur engkau di dalam. Tapi untungnya masih bagus, kau mampus dengan ditemani seorang wanita. Biarpun kau bertenaga besar, aku mau lihat apa kau mampu menyingkirkan batu ini. Kalau satu tak cukup, aku akan menambah dengan satu lagi.”

Hampir berbarengan terdengar suara diangkatnya batu dengan semacam alat besi diikuti dengan bunyi yang sangat hebat. Goan-tin ternyata sudah melepaskan sebuah batu lagi yang jatuh di atas batu pertama.
(more…)

18/08/2008

Kisah Membunuh Naga [38]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:01 am

Kisah Membunuh Naga [38]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah menganggap, bahwa mereka takkan bisa lolos dari kebinasaan, sekarang mereka mengharap supaya tenaga Goan tin lekas-lekas pulih. Mereka merasa lebih lekas mati lebih baik, jangan disiksa lebih lama. Antara mereka itu, hanya Swee Poet Tek dan pheng Hweeshio yang masih merasa penasaran. Mereka adalah pendeta, tapi dalam hati merekalah yang mempunyai cita-cita paling besar, cita-cita untuk melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia.

“Pheng Hweeshio,” kata Swee Poet Tek. “Banyak tahun kita tercapai lelah dalam usaha untuk mengusir orang-orang Mongol dari negara kita. Tak dinyana, semua usaha berpikir dengan kegagalan. Hai! Mungkin sekali beribu-ribu dan berlaksa-laksa rakyat memang harus menderita lebih lama.”
(more…)

17/08/2008

Kisah Membunuh Naga (37)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:00 am

Kisah Membunuh Naga (37)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Perbuatan baik apakah yang dilakukan saudara Wie?” tanya Swee Poet Tek.

“Sesudah menggunakan Lweekang, racun dingin dalam tubuhnya mengamuk hebat dan menurut kebiasaan, dia bisa menolong diri sendiri dengan mengisap darah manusia,” terang Cioe Tian. “Ketika itu di sampingnya terdapat seorang gadis. Tapi dia lebih suka mati daripada menghisap darah nona itu. Melihat itu, aku berkata, ‘si Kelelawar berlaku aneh, aku pun mau berlaku aneh.’ Baiklah, Cioe Tian coba tolong dia. Aku lantas saja bekerja dan beginilah hasilnya.”
(more…)

16/08/2008

Kisah Membunuh Naga (36)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:58 am

Kisah Membunuh Naga (36)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Mana berani aku bertanding dengan Soethay?” kata Boe Kie, “Aku hanya mengharap supaya Soethay suka menaruh belas kasihan.”

“Can Siangkong, tak usah banyak bicara dengan bangsat tua itu!” teriak Gouw Kin Co. “Kami lebih suka mampus daripada menerima belas kasihannya yang diliputi kepalsuan.”
(more…)

15/08/2008

Kisah Membunuh Naga (35)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (35)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Budi Wibowo Indra dan Yin)

Boe Kie kaget tak kepalang. Baru sekarang ia tahu, bahwa Coe Jie adalah A-Iee yang pernah mencekal lengannya dalam pertemuan di Ouwtiap kok. Baru sekarang ia tahu bahwa kecintaan yang tidak dapat dilupakan oleh si nona adalah dirinya sendiri. Ia mengawasi muka Coe Jie. Pada roman yang jelek itu sudah tak ada bekas-bekas dari kecantikan yang dulu. Tapi waktu melihat sinar mata si nona, lapat-lapat ia ingat sinar mata A-Iee.

“Kalau begitu dia murid Kim hoa Popo”, kata Biat coat Soethay dengan suara dingin. “Kim hoa Popo pun bukan seorang dari partai lurus bersih. Tapi sekarang kita tak boleh menanam terlalu banyak permusuhan dan untuk sementara waktu, kita tahan saja padanya.
(more…)

14/08/2008

Kisah Membunuh Naga (34)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (34)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

“Setiap laba-laba ini,” menyahut si nona, “mestinya tubuhnya dari belang menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya dan mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna, aku mesti menghabiskan seribu laba laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, aku harus menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”

Boe Kie heran, hatinya jeri.
(more…)

13/08/2008

Kisah Membunuh Naga (33)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:50 am

Kisah Membunuh Naga (33)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Eeyore dan Yin)

Si nona bersenyum-senyum yang penuh dengan rasa beruntung. Sambil bersandar pada dada pemuda it, ia berkata, “Dulu, waktu aku minta kau mengikuti aku, kau bukan saja sudah menolak, tapi juga memukul aku, mencaci. Aku merasa sangat beruntung, bahwa sekarang kau bisa mengatakan begitu.”

Perkataan si nona seolah-olah air dingin yang menyiram kepala pemuda itu. Ia mendapat kenyataan, bahwa dengan mendengar perkataannya sambil memeramkan mata, nona itu membayang bayangkan, bahwa perkataan itu dikeluarkan oleh pemuda yang dipujanya, tapi yang sudah menyakiti hatinya.
(more…)

12/08/2008

Kisah Membunuh Naga (32)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (32)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, wibowoindra dan Thor)

“Sebab takut dipukul olehmu,” jawabnya.

Mendadak Coe Tiang Leng menyambar pundak Boe Kie dengan gerakan Kin na cioe. “Sekarang kau tak takut lagi?” bentaknya. Tiba-tiba ia merasa telapak tangannya panas, lengannya bergemetar dan ia terpaksa melepaskan cengkramannya. Tapi walaupun begitu, dadanya sakit dan menyesak. Ia mundur beberapa tindak dan berkata dengan suara parau. “Kau…ilmu apa itu?”

Sesudah memiliki Kioe yang sin kang, inilah untuk pertama kalinya Boe Kie menjajalnya. Ia sendiri baru tahu hebatnya ilmu tersebut. Dengan hanya menggunakan dua bagian tenaga, Coe Tiang Leng seorang ahli silat kelas satu sudah dapat dijatuhkan. Kalau ia mengerahkan seluruh tenaga mungkin sekali lengan orang tua itu sudah menjadi patah. Ia girang bukan main dan sambil mengawasi muka si tua, bertanya seraya tersenyum, “Coe Pehpeh, bagaimana pendapatmu? Apa ilmuku cukup lihay?”
(more…)

11/08/2008

Kisah Membunuh Naga (31)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:40 am

Kisah Membunuh Naga (31)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

Tiba-tiba ia mengeluh karena di jalanan yang barusan dilewatinya, yang tertutup dengan salju, terdapat tapak-tapak kakinya sendiri. Daerah barat (See hek) adalah daerah yang hawanya sangat dingin dan biarpun waktu itu sudah masuk musim semi, salju di gunung-gunung masih belum lumer. Semalam, dalam ketakutannya, ia tak berani jalan di tanah datar dan sudah mendaki puncak itu. Tapi dengan berbuat begitu, ia malah sudah membuka rahasia sendiri.

Pada saat itu, dari sebelah kejauhan sekonyong-konyong terdengar geram kawanan serigala yang menakutkan. Boe Kie berdiri di atas batu karang yang sangat curam. Mendengar suara itu, ia mengawasi ke bawah. Ternyata, di dasar lembah terdapat tujuh-delapan serigala yang sedang meronyang-ronyang ke arahnya dan menyalak tak henti-hentinya. Kawanan binatang itu kelihatannya kelaparan dan ingin menubruk dirinya untuk mengganjal perut. Tapi ia berdiri di tempat aman yang terpisah jauh dari mereka.
(more…)

10/08/2008

Kisah Membunuh Naga (30)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:01 am

Kisah Membunuh Naga (30)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Eeyore dan Yinyeksin)

Menurut peraturan keluarga Coe, pagi belajar silat, sore belajar surat. Ilmu silat keluarga tersebut mempunyai sangkut paut yang sangan erat denga Soe hoat (seni menulis surat indah). Mungkin tinggal seorang memiliki Soe Hoat, makin tinggi pula ilmu silatnya.

Untuk mempelajari ilmu surat, Coe Kioe Tin mempunyai sebuat kamar tulis yang kecil, dengan hiasan idah. Di tembok sebelah timur tergantung selembar tulisan sajak, buah kalam penyair Touw Bok, sedang tembok sebelah utara di antara dua lukisan san soei (pemandangan alam) terdapat tulisan Si Hie tiap, karya Hway-so Hweeshio.
(more…)

09/08/2008

Kisah Membunuh Naga (29)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:54 am

Kisah Membunuh Naga (29)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell dan hanko)

“Aku she Coe, namaku Kioe Tin.” Si nona memperkenalkan dirinya. “Dan kau?”

“Namaku Thio Boe Kie,” jawabnya.
(more…)

« Newer PostsOlder Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.