Kumpulan Cerita Silat

20/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (33 – Tamat)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna — ceritasilat @ 12:55 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (33 – Tamat)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-khong maksudmu? ….” seru Ban-lo-hu-jin kaget, “kalau demikian, keberangkatan Pui-Po-giok ke Pek-cui-kiong berarti akan mempertemukan tiga generasi mereka dari kakek anak dan cucu.”

Oh-Put-jiu menghela napas, “Sayang sekali meski mereka bertemu, satu dengan yang lain justru tidak boleh saling kenal, Po-ji belum tahu siapa orang yang dilihat dan dihadapinya….”
(more…)

Advertisements

17/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (32)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:40 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (32)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.

Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya? Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?
(more…)

16/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (31)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:40 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (31)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

“Kalian memang sekawanan binatang liar yang bodoh, memangnya kalian tidak melihat sikap nenek itu amat takut dan segan terhadap nona ini? Kalau nona ini tidak kelaparan dan lemas lunglai, memangnya nenek siluman itu tidak berlutut minta ampun padanya.”

Sekilas kawanan perampok itu adu pandang pula, lalu pecah gelak tawa mereka.
(more…)

15/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (30)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:38 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (30)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

“Apakah di atas kapal masih ada orang?” tanya Oh-Put-jiu.

“Ada,” sahut Ban-lo-hu-jin, “tapi sudah dibunuh Ka-sing Tai-su.”
(more…)

14/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (29)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:39 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (29)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

“Oo? Kenapa?” tanya Ban-lo-hu-jin ingin tahu.

“Karena kabin yang terbuat dari papan besi itu adalah gudang koleksi buku masa hidup Ci-ih-hou.”
(more…)

06/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna -28-

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 11:25 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna -28-
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Mendadak didengarnya suara kesiur angin dua kali lalu terdengar “tok-tok” dua kali lagi, dua batang sumpit memaku kedua butir bakso itu di geladak kapal.

Itu sepasang sumpit bambu yang terdapat di depan Bwe-Kiam.
(more…)

29/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (27)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:56 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (27)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

“Satu hal harus kau ingat, kalau kita ingin lekas tiba di Pek-cui-kiong, tenaganya kita butuhkan untuk penunjuk jalan.”

Akhirnya Po-giok menghela napas dan melepaskan pegangannya.
(more…)

27/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (26)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:46 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (26)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

“Agaknya kedua orang itu sudah seia-sekata, bersekongkol menciptakan jurus ilmu silat, sungguh heran bahwa dalam keadaan serba sulit dalam tahanan itu mereka berhasil menciptakan jurus ilmu silat yang lihai, agaknya mereka sudah lama membuat rencana untuk menghadapimu bersama.”

“Kalau benar kedua orang ini bergabung dan kerja sama serta berhasil membuka lembaran baru dalam bidang ilmu silat, maka jerih-payah mereka patut dihargai, hasilnya merupakan sumbangan yang besar artinya bagi kaum Bu-lim.”
(more…)

20/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (25)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:39 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (25)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

Bergegas Li Bin-sing berdiri, katanya dengan tersengal, “Aku …boleh pergi?”

“Ya, kapan mau pergi, boleh kau pergi.”
(more…)

17/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (24)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 12:11 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (24)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

Golok ini memang pemberian Pek-ih-jin, dengan harapan supaya aku dapat menghadapi tokoh paling kosen di Bu-lim. Setahun sudah aku berkelana di kang-ouw, tidak sedikit kaum Bu-lim yang sudah kuhadapi, namun belum seorang pun yang setimpal menyambut golok ini, maka golok ini masih berada di tanganku sampai sekarang.

Po-giok manggut-manggut, “Jadi belum ada tokoh kang-ouw yang pernah menyaksikan jurus golok ini?”
(more…)

11/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (23)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 11:16 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (23)
Oleh Gu Long

Pesan yang tidak begitu panjang, walau mengandung perasaan tawar dan hambar terhadap kehidupan nan fana ini. Tapi dari rangkaian kita itu justru terlukis ikatan asmara nan murni, dambaan terhadap kekasih.

Pui-Po-giok menghela napas panjang, “Ciang-Jio-bin, wahai Ciang-Jio-bin, begitu besar kasih sayang dan perhatianmu terhadap kekasih yang menantimu kembali, kenapa begitu tega kau permainkan jiwa sendiri. kau mati dengan tekad yang besar, mati tanpa menyesal, tapi pujaan hati yang menanti di atas loteng, betapa merana dia akan menghabiskan masa remajanya nanti.”
(more…)

10/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (22)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 11:12 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (22)
Oleh Gu Long

“Kurasa … kurasa belum tentu,” Ban Cu-liang tidak sependapat.

“Melihat keadaan Po-giok, rasanya dia ingin menyerah kalah, tapi namanya baru saja direhabilitir kalau pertandingan ini dia kalah, mungkin sulit dia pertahankan diri.”
(more…)

03/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (21)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:59 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (21)
Oleh Gu Long

Sambil mengusap air mata mendadak Po-giok berteriak dan menuding Hwe-mo-sin. kau ingin tahu kenapa dan karena apa Toa-ko difitnah, boleh kau tanya padanya!”

Dengan sendirinya pandangan orang banyak juga tertuju ke arah Hwe-mo-sin.
(more…)

27/03/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (20)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:17 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (20)
Oleh Gu Long

“Betapapun tinggi kepandaian yang dibekalnya, karena usianya masih kecil, bila berhadapan dengan jago yang benar-benar kosen, sudah tentu ia tetap dikalahkan. kaum pesilat di sana meski berwatak kejam dan suka bunuh, namun terhadap bocah yang lihai ini mereka tidak tega membunuhnya. Oleh karena itu, meski anak ini sering menderita kalah, namun belum menemui ajalnya.

“Dari setiap pengalaman tempur, dari kekalahan demi kekalahan yang dialaminya, bocah ini justru tergembleng lebih matang, lebih peka dan tajam. Masa anak yang indah bagi bocah lain justru ia lewatkan dalam kehidupan yang serba sengsara, boleh dikatakan setiap hari ia harus dihajar dan dihajar. Namun demikian, pengorbanannya itu berhasil memperoleh sukses yang besar, imbalan itu cukup setimpal dibanding seluruh pengorbanannya. Waktu ia berusia delapan belas, seluruh jago silat di Tang-ing sudah disapunya bersih, meski jago angkatan tua juga dikalahkan dalam beberapa gebrak saja.
(more…)

26/03/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (19)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:13 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (19)
Oleh Gu Long

Karena menahan sakit dan derita yang sangat, suara gemetar itu berubah parau, tapi Po-giok masih kenal siapa orang yang sedang sekarat itu.

Jantung Po-giok bergetar mata melotot gusar, desisnya geram, “kau Gui …”
(more…)

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.