Kumpulan Cerita Silat

05/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (27)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:29 pm

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 27. Golok Keluar Dari Sarungnya
Oleh Gu Long

Musim gugur. Dikejauhan pemandangan di pegunungan, dipenuhi oleh warna musim semi yang serupa dengan lukiran hutan pohon mapple yang merah.

Tiga puluh empat kuda, dua puluh enam orang. Para pengendara di punggung kuda tersebut bersorak-sorai, bersorak karena mereka mereka telah mencapai hutan. Kuda-kuda mereka melesat dengan cepat, para pengendara tersebut terlihat tangkas dan gesit.
(more…)

Advertisements

04/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (26)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:29 pm

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 26. Mati dan Hidup Sama Bila Tidak Punya Tujuan Lagi
Oleh Gu Long

Matahari telah menghilang dari langit, jalan raya yang panjang tersebut telah menjadi kosong dan sepi. Satu-satunya cahaya yang masih terlihat hanyalah berasal dari sebuah gedung yang kecil. Seseorang mendorong daun jendela dari dalam ruangan dan melihat ke bawah ke jalan yang telah sunyi sepi tersebut. Dia sudah tahu bahwa malam yang sunyi telah tiba.

Darah yang berceceran di jalan telah mengering. Hembusan angin menerbangkan helaian-helaian rambut Naga Punggung Emas ke udara. Xiao Bie Li memejamkan matanya dan menghela napas. Kemudian, perlahan-lahan menutup kembali jendelanya.
(more…)

03/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (25)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:21 pm

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 25. Pedang Yang Berkelebat Kesegala Arah
Oleh Gu Long

Panas yang membakar.

Seharusnya tidak pernah sepanas ini setelah turun hujan yang panjang.
(more…)

02/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (24)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:31 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 24. Bendera Besar Berkibar di Senja Hari
Oleh Gu Long

Bendera Gedung Sepuluh Ribu Kuda yang besar dan khas berkibar dengan megahnya tertiup angin. Bila kau berdiri dari kejauhan, bendera tersebut kadang terlihat seperti sebuah saputangan yang melambaikan selamat tinggal. Kelima tulisan tebal berwarna merah di atasnya adalah darah dan airmata kekasihnya.

Kelima tulisan tersebut mungkin ditulis oleh darah dan airmata.
(more…)

01/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (23)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:29 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 23. Si kecil Bel Ding Dang
Oleh Gu Long

Disana terdapat sebuah halaman yang kecil diluar. Ye Kai berjalan keluar pintu dan menuju halaman yang disiniar oleh cahaya matahari. Seekor kucing kecil merangkak dibawah bayangan salah satu pohon. Kucing itu sedang menatap seekor kupu-kupu yang berdansa mengelilingi sekuntum bunga di dekat dinding, menunggu untuk menerkamnya, namun cukup malas untuk bergerak.

Tentu saja, tidak ada seorangpun di atap. Ye Kai sudah tahu bahwa tidak akan ada seorangpun di atas atap, Nenek Du tidak akan menunggunya keluar.
(more…)

30/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (22)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:27 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 22. Pendahuluan Dan Penutupan Untuk Membunuh
Oleh Gu Long

Chen Da Guan, Majikan Zhang, Ding Lao Si dan yang lainnya telah tiba sekarang. Mereka semua berdiri diam menunggu perintah Li Xiao Jia, namun Li Xiao Jia bersikap sepertinya mereka tidak ada.

Hingga saat itu dia bahkan tidak peduli untuk sekalipun menoleh kearah mereka. Akhirnya, dia berkata,”Apakah ada orang yang mau memberikan ku uang?”
(more…)

29/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (21)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 21. Pedang Tanpa Sarung
Oleh Gu Long

Api akhirnya padam.

Toko kelontong Li Mahu telah terbakar habis hingga rata dengan tanah. Tetangganya toko daging dengan papan promosi bertuliskan ‘Kami menjual daging sapi, domba dan babi’ dan kedai mie juga mengalami nasib yang sama.
(more…)

28/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (20)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:21 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 20. Musuh Yang Paling Berbahaya Adalah Musuh Yang Tidak Diketahui
Oleh Gu Long

Ye Kai mengangkat cangkirnya untuk menghirup araknya, arak tersebut mulai terasa agak pahit. Jelas sekali baginya betapa sulitnya bagi wanita itu bersama-sama dengan seseorang yang dia benci.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba menengadah sambil menggoyangkan rambutnya ke samping dan berseru,”Apakah engkau mempercayaiku bila aku katakan aku belum pernah mencintai seorang pria manapun sebelumnya?”
(more…)

27/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (19)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:18 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 19. Membasmi Benalu Hingga Keakar-akarnya
Oleh Gu Long

Ye Kai membuat langkah yang panjang ke depan dan berbisik dengan sopan,”Teman, apa tujuanmu mengajakku pergi? Harap berhenti dan berbicara.”

Orang dengan jubah hijau itu tidak melambatkan gerakannya, namun malah meningkatkan kecepatanya. Hingga setengah jalan, orang tersebut melompat ke udara, memperlihatkan kemampuan meringankan tubuhnya yang tinggi, Mengikuti Jangkrik Dalam Delapan Langkah.
(more…)

26/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (18)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:16 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 18. Senjata Yang Paling Menakutkan Didunia Adalah Senjata Yang Tidak Terlihat
Oleh Gu Long

Sebuah pisau sepanjang tiga hun dan tujuh inci.

Sebuah pisau yang telah dilemparkan!
(more…)

25/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (17)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:15 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 17. Nyonya Tua Yang Misterius
Oleh Gu Long

Kain merah yang mempromosikan kamar untuk disewa masih tergantung di luar gang kecil.

Saat Fu Hong Xue berjalan melewatinya, dia menangkap pandangan wanita dengan rambutnya yang telah memutih yang menatapnya dengan licik, kebencian memenuhi sorot matanya. Tidak terlihat sedikitpun keramahtamahan.
(more…)

24/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (16)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:15 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 16. Sekali Memasuki Gedung Sepuluh Ribu Kuda, Lupakan Untuk Kembali Pulang
Oleh Gu Long

Disana terdapat paviliun kecil di tengah padang belantara.

Para pengendara suka menyebut tempat ini Sarang Kedamaian dan Kebahagiaan. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan paviliun ini. Namun tempat tersebut satu-satunya tempat untuk berteduh saat hujan.
(more…)

23/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (15)

Filed under: Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 3:42 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 15. Bunga Melayang Menerjang Langit
Oleh Gu Long

Darah menetes ke bawah dari pedangnya. Huan Men Tian memalingkan wajahnya ke arah Ma Kong Qun.

Ma Kong Qun menatapnya balik dan perlahan-lahan berkata,” Engkau telah membunuhnya!”
(more…)

22/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (14)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:13 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 14. Golok Yang Mata Goloknya Tidak Pernah Terlihat
Oleh Gu Long

Ma Kong Qun perlahan-lahan menarik tempat duduknya. Meja panjang yang berada di depannya terlihat seperti permukaan jalan yang panjang. Dari gundukan lumpur dan kolam darah hingga seperti saat ini, dia telah melalui jalan yang panjang tersebut.

Namun akan menuju kemanakah dari sini?
(more…)

21/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (13)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:11 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 13. Rahasia Nyonya Ketiga Shen
Oleh Gu Long

Keadaan diruangan tersebut masih gelap.

Nyonya Ketiga Shen telah mengenakan baju mandi yang panjang, sepertinya dia baru saja mencuci mukanya. Wajahnya terlihat memucat dan menyiratkan kesakitan. Semburat darah menodai handuk yang sedang dipegangnya.
(more…)

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.