Kumpulan Cerita Silat

08/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 58

Filed under: +Darah Ksatria — Tags: — ceritasilat @ 1:23 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Ong-kongcu, apakah Cilo Singh ini orang gila?” seru A Ci dengan kurang senang karena orang bicara tak keruan juntrungannya.

Sebaliknya Goan-ci sudah kenyang merasakan siksaan Polo Singh di Siau-lim-si dahulu, ia tahu ilmu silatnya sangat tinggi, sekarang diketahui padri ini adalah suheng Polo Singh, keruan ia tambah keder sehingga lupa bahwa A Ci sudah buta, berulang ia goyang tangan memberi tanda agar A Ci jangan bersuara. Lalu katanya, “Taysu ini tentu salah paham, aku tidak datang dari Siau-lim-si, juga tidak pernah melihat… melihat Polo Singh segala.”
(more…)

26/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 46

Filed under: +Darah Ksatria — Tags: — ceritasilat @ 12:09 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Sudah biasa orang Cidan pandang orang Han seperti hewan, maka Sili malas untuk mengubur Goan-ci, ketika dilihatnya di tepi jalan ada sebuah sungai kecil, terus saja ia buang mayat Goan-ci ke dalam sungai, lalu pulang ke kota.

Dan karena keteledoran Sili inilah jiwa Yu Goan-ci jadi selamat malah.
(more…)

25/10/2008

Duke of Mount Deer (44)

Filed under: +Darah Ksatria, Duke of Mount Deer — ceritasilat @ 1:37 pm

Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

“Tempat untuk meneduh sih ada, tapi tidak berbeda jauh dengan kuil-kuil rusak itu…” kata orang tua yang pertama.

“Yang betul, ada atau tidak?” bentak seorang lainnya. Ditilik dari suaranya, tampaknya orang yang satu ini lebih berangasan.
(more…)

18/05/2008

Duke of Mount Deer (30)

Filed under: +Darah Ksatria — ceritasilat @ 2:10 pm

Duke of Mount Deer (30)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong, dia juga mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali. Namun mulutnya si hiocu lihay sekali. Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya. Tampangnya seperti orang kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe.

Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran. Diam-diam dia berpikir.
(more…)

04/05/2008

Darah Ksatria: Akhir Kata

Filed under: +Darah Ksatria — ceritasilat @ 12:41 am

Darah Ksatria
Akhir Kata
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Setiap perkara pasti ada saatnya berakhir, lalu bagaimana akhir dari kasus panjang ini?

Untuk perbuatan jahatnya, Khu Hong-seng mendapat ganjaran setimpal.
(more…)

03/05/2008

Darah Ksatria: Bab 38. Bu-cap-sah Palsu Ternyata…

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 10:50 pm

Darah Ksatria
Bab 38. Bu-cap-sah Palsu Ternyata…
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Setiap orang harus bernapas, kamar di bawah tanah ini pun perlu udara segar, maka dibuat sebuah lubang angin di langit-langit kamar. Karena adanya lubang angin yang tembus ke kamar bawah tanah ini, maka mayat Bu-cap-sah yang meninggal entah kapan sudah membusuk sejak lama, kini tinggal kerangkanya saja.

Sebatang bambu besar dipotong sepanjang yang dikehendaki, setiap ruas bambu itu dibikin lubang, bambu besar yang sudah berlubang itu pun dijadikan lubang angin yang menyerap hawa segar di luar ke dalam kamar batu di bawah tanah ini. Suara pembicaraan yang mereka dengar datang dari lubang angin di langit-langit kamar itu.
(more…)

02/05/2008

Darah Ksatria: Bab 37. Rahasia Bu-cap-sah

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 10:50 pm

Darah Ksatria
Bab 37. Rahasia Bu-cap-sah
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Di bawah tanah tiada emas, tiada istana, kereta kuda itu pun tidak kelihatan bayangannya.

Mulut lorong itu memang dibangun secara bagus oleh tangan seorang ahli, tapi keadaan di bawah jauh lebih sempit dan buruk dibanding yang pernah mereka pikirkan.
(more…)

01/05/2008

Darah Ksatria: Bab 36. Lembah Mati

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 10:48 pm

Darah Ksatria
Bab 36. Lembah Mati
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Lembah mati tetap lembah mati, tiada perubahan. Di sini tiada emas, tiada istana, apa pun tidak ada.

Secara misterius kereta kuda yang mereka kejar lenyap tak keruan parannya begitu masuk ke mulut lembah mati, lenyap tanpa bekas.
(more…)

29/04/2008

Darah Ksatria: Bab 35. Setelah Kentongan Ketiga

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:00 am

Darah Ksatria
Bab 35. Setelah Kentongan Ketiga
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Mayat Ong Ban-bu juga tidak terluka, tiada noda darah pula, jantungnya tergetar hancur oleh pukulan lunak yang amat dahsyat, itulah penyebab kematiannya.

“Kenapa ia pun dibunuh?” yang bertanya adalah Cia Giok-lun.
(more…)

28/04/2008

Darah Ksatria: Bab 34. Malam Yang Menakutkan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:04 am

Darah Ksatria
Bab 34. Malam Yang Menakutkan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Kakek timpang yang cacat ini tak berbeda lagi dengan kebanyakan manusia, karena sekarang dia sudah mati, mayatnya rebah di bawah tikar yang disingkap Ji-liong.

Setiap orang akhirnya pasti mati. Orang mati sudah tentu sama, kaku dingin tidak bernapas lagi. Entah bagaimana dia mati, mati dibunuh, mati sakit atau kecelakaan, setelah dia mati, tubuhnya akan kaku menjadi mayat. Peduli di masa hidupnya dia seorang Enghiong, seorang Pendekar, perempuan cantik atau ratu sekalipun, setelah mati dia akan berubah dalam bentuk yang sama, sebagai mayat yang tak mampu berbuat apa-apa lagi.
(more…)

27/04/2008

Darah Ksatria: Bab 33. Malam Tragis Di Gedung Besar

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:58 pm

Darah Ksatria
Bab 33. Malam Tragis Di Gedung Besar
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Kanglam Ji Ngo adalah pendekar besar yang terkenal, seorang cerdik, pelajar ternama, ilmu sastra maupun ilmu silatnya jarang ketemukan tandingan, pokoknya serba bisa.

Tapi berbeda dengan Ji Liok yang satu ini. Seperti apa yang ia katakan sendiri, kelihatannya mirip orang kasar, orang desa atau kampung yang bersahaja, kaki besar tangan kasar, hidup tenteram dan sederhana. Menilai wajahnya yang persegi, kelihatannya tak cukup pintar, namun bila tersenyum maka orang baru membayangkan wajah Ji Ngo melekat pada wajahnya juga.
(more…)

26/04/2008

Darah Ksatria: Bab 32. Tangan Yang Mengejutkan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:02 am

Darah Ksatria
Bab 32. Tangan Yang Mengejutkan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Keadaan di dalam rumah sudah berbeda dibanding waktu mereka meninggalkan tempat ini. Ranjang besar yang terletak di tengah ruang sudah dibongkar dan disingkirkan ke pinggir. Cia Giok-lun yang semula harus meronta-ronta untuk berganti pakaian dan membersihkan badan itu sekarang sudah berdiri tegak, berjalan atau bergerak dengan leluasa seperti orang sehat.

Tapi ini bukan sebab utama kenapa Thiat Tin-thian dan Toa-hoan kaget setengah mati. Mereka kaget karena di dalam rumah melihat Ma Ji-liong lagi. Yang berdiri jajar di pinggir Cia Giok-lun ternyata bukan penjahit tadi, tetapi adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong masih dalam penyamarannya sebagai Thio Eng-hoat.
(more…)

25/04/2008

Darah Ksatria: Bab 31. Penjahit Luar Biasa

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:58 pm

Darah Ksatria
Bab 31. Penjahit Luar Biasa
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”

Toa-hoan, Cia Giok-lun, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu menyaksikan penjahit ini tidak membawa apa-apa, bertangan kosong, tetapi sambil bicara ia berputar satu lingkaran. Waktu ia menghadap pula ke arah mereka, tangannya sudah memegang dua blok kain. Satu blok kain sutera di tangan kanannya berdasar merah, malah tersulam kembang mawar kuning emas.
(more…)

24/04/2008

Darah Ksatria: Bab 30. Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:56 pm

Darah Ksatria
Bab 30. Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Ma Ji-liong akhirnya sadar. Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan yang membeku. Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di rumah itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.

Cia Giok-lun duduk di samping mengawasinya dengan rasa kuatir dan penuh perhatian. Di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua saja. Ma Ji-liong berusaha tersenyum, tapi senyumnya getir dan nyengir, segera ia bertanya, “Mana orangnya?”
(more…)

23/04/2008

Darah Ksatria: Bab 29. Perjamuan Besar

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:55 pm

Darah Ksatria
Bab 29. Perjamuan Besar
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Meja perjamuan tidak kelihatan. Bahwasanya tiada meja perjamuan di luar rumah. Tanah kosong yang semula becek itu kini ditaburi batu-batu hitam mengkilap. Di tengah taburan batu hitam bulat mengkilap itu hanya ada sebuah dipan kecil yang terbuat dari kayu cendana berbentuk persegi, terukir indah seluas satu meter persegi.

Di bagian belakang dipan persegi dengan ukiran antik itu, berdiri dua tiang kayu setinggi satu meter. Tiang kayu untuk tempat sangkutan kelambu yang menjuntai turun. Seorang laki-laki tinggi gede bercambang dengan telanjang dada berdiri di belakang dipan sambil membusungkan dada. Dari tampang dan kalung bundar besar yang menggelantung di telinga kirinya, dapat diperkirakan bahwa laki-laki gede ini adalah bangsa Persia. Pengawal Persia ini bermata biru melotot bundar dengan topi pendek warna merah terbuat dari beludru, di pinggir kanan dihiasi pita biru yang melambai ditiup angin, jaket sutera pendek ketat tanpa kancing berwarna hitam disulam garis-garis benang emas tersingkap di bawah ketiaknya. Ikat pinggangnya lebar lagi tebal berwarna merah maron, tangannya memegang gagang golok melengkung yang terselip di pinggangnya.
(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.