Kumpulan Cerita Silat

17/06/2010

Imbauan Pendekar – 17 Epilog

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:36 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Bpranoto)

Ketika Ji Pwe-giok berjalan dia melihat 2 orang lari ke arahnya. Mereka adalah dua orang wanita muda cantik yang menatap Ji Pwe-giok dengan kebahagiaan, kegembiraan tetapi juga kesedihan, mereka adalah: Lim Tay-ih dan Kim Yan-cu. Ji Pwe-giok terkejut, gembira dan juga sedih melihat keduanya terutama Lim Tay-ih, dia kelihatan pucat dan lebih lemah dibandingkan dengan saat terakhir dia melihatnya.

Ada air mata kebahagiaan dan kesedihan di matanya, Ji Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam sekejap kedua gadis itu telah berdiri di hadapan Ji Pwe-giok.

Lim Tay-ih berkata dengan lembut, “Kau…”

Pada saat yang sama Ji Pwe-giok juga berkata, “Kau…”

Keduanya berhenti dan saling memandang dengan kikuk, sampai kemudian Kim Yan-cu yang memecahkan keheningan dan berkata, “Ini tentu adalah Cu siocia yang terkenal itu, Lim cici dan aku telah sering mendengar banyak hal mengenai dirinya. Ji kongcu, Lim cici dan aku sekarang telah menjadi saudara angkat”

Lim Tay-ih diam-diam melihat ke arah gadis yang berdiri di belakang Ji Pwe-giok dan terpesona terhadap kecantikannya, Cu Lui-ji juga mengamati Lim Tay-ih dengan cermat dan memujinya dalam hati.

Cu Lui-ji berkata dengan lembut, “Aku…aku akan pergi dengan sa-cek (paman ketiga) sekarang”, matanya terlihat merah dan dia kelihatan sedih sekali.

Ji Pwe-giok berkata terbata-bata, “Lui-ji, aku…”

Dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya, untung Kim Yan-cu kemudian menarik tangan Cu Lui-ji dan berkata, “Siau-moay (adik kecil), mari kita berikan waktu untuk Ji kongcu dan Lim siocia untuk berbincang-bincang, sementara itu aku juga ingin mengenalmu lebih jauh.”

Selang beberapa lama, Ji Pwe-giok berkata, “Emmm… maaf sekali, seharusnya aku harus lebih memperhatikan dirimu…”

Lim Tay-ih menjawab dengan air mata berlinang, “Tidak, engkau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti engkau tidak bermaksud membiarkanku dalam bahaya. Tapi…tapi…, apakah kau tahu bahwa aku akan mati bila terjadi sesuatu padamu?”

Ji Pwe-giok mengeluh, “Aku juga tidak sanggup hidup lagi bila sesuatu terjadi padamu”

Lim Tay-ih melihat ke arah mata Ji Pwe-giok dalam-dalam dan berpikir, “Tidak percuma semua penderitaan yang telah ku alami, hanya dengan mendengar perkataannya ini semua yang telah kulalui tidak sia-sia”.

Lim Tay-ih kemudian memeluk Ji Pwe-giok dan seketika semua kekuatiran dan kesedihannya hilang musnah, yang tertinggal hanyalah cinta dan kasih sayang.

Ji Pwe-giok bukan laki-laki yang pandai mengutarakan perasaannya, dia menatap mata Lim Tay-ih dan mencium bibirnya. Itulah caranya mengutarakan perasaannya, tidak dengan kata-kata namun dengan tindakan.

Seketika suasana dipenuhi dengan rasa cinta.

Ji Pwe-giok duduk di atas batu sambil memegang tangan Lim Tay-ih, mereka baru saja menikmati kebersamaan mereka. Tetapi Ji Pwe-giok tetap sedikit bingung dan bertanya, “Bagaimana kau bisa sampai di sini? Dan mengapa ke 13 pangcu tiba-tiba berbalik arah?”

Lim Tay-ih tersenyum, “Ketika Hayhong-hujin menerima perintah dari Ji Tok-ho untuk memimpin Pek-hoa-pang untuk melawanmu, aku sangat terkejut. Kim Yan-cu dan aku berpikir bahwa kami harus menemukan sesuatu cara untuk mencegah semua ini terjadi. Pada beberapa bulan terakhir ini Kim Yan-cu dan aku telah menyelidiki orang yang memalsukan ayahku dan juga pemalsu-pemalsu lainnya. Setelah membuntuti mereka selama beberapa waktu, pada akhirnya kita berhasil menemukan kantor pusat dari Ji Tok-ho”

Ji Pwe-giok berkata, “Di manakah kantor pusat mereka?”

Lim Tay-ih berkata, “Mereka sangat licin. Mereka membeli sebuah gedung besar di kota Chengdu dan membohongi orang-orang di sekitarnya seolah-olah gedung itu adalah tempat tinggal seorang pensiunan pejabat pemerintah. Setelah kami menemukan tempat itu, kami memberitahu Ang-lian pangcu dari Kay-pang untuk mengintai gedung tersebut.

Beberapa hari yang lalu, beberapa murid Kay-pang melaporkan ada kegiatan-kegiatan misterius di sekitar gedung itu, pelayan-pelayan di gedung itu kelihatan tegang dan ketakutan. Kami juga mendengar bahwa rahasia isi buku Giam-oh-ceng telah dibeberkan dan Ji Tok-ho telah memerintahkan pengiriman pasukan untuk membunuhmu.

Hayhong hujin sama sekali tidak mempunyai niat untuk membantu mereka, tapi mereka tidak bisa apa-apa karena dia harus mematuhi perintah Bulim Bengcu, kecuali ada bukti nyata bahwa dia bukan Ji Hong-ho yang sebenarnya. Hayhong hujin mengatakan kalau ada seseorang yang dapat memberikan bukti nyata, segala sesuatu akan menjadi berubah.

Dari perkataannya kami mengambil kesimpulan bahwa dia menawarkan bantuannya untuk mencari bukti-bukti itu. Kami menarik kesimpulan bahwa kantor pusat Ji Tok-ho tidak akan dijaga ketat saat ini dan Kim Yan-cu berpikir adalah baik untuk juga menghubungi Anglian pangcu mengenai hal ini.

Singkat kata, dengan gabungan kekuatan Pek-hoa-pang dan Kay-pang kamu menyerbu kantor pusat Ji Tok-ho dan menawan beberapa pimpinan organisasi Ji Tok-ho seperti Sebun Hong, tapi Lim… Lim gadungan itu berhasil lolos. Dengan Sebun Hong dan yang lainnya sebagai saksi kami membujuk aliran-aliran lain untuk menghentikan permusuhan mereka terhadapmu”

Ji Pwe-giok mulai mengerti dan sangat tersentuh atas usaha Lim Tay-ih, Kim yan-cu, Ang Lian-hoa dan Hayhong hujin.

Ji Pwe-giok tiba-tiba bertanya, “Bagaimana ceritanya pertama kali kau bertemu Kim Yan-cu?”

Lim Tay-ih menjawab, “Ang-lian pangcu menulis surat kepada Hayhong hujin meminta kami untuk melindungi Kim Yan-cu, dia terlibat dalam perkara kejadian di perkampungan Tong beberapa bulan yang lalu. Meskipun dia luput dari tuduhan, Anglian pangcu kuatir beberapa murid keluarga Tong akan mencari gara-gara kepadanya, maka Anglian pangcu meminta pertolongan kepada kami untuk melindungi Kim Yan-cu”

Ji Pwe-giok tahu bahwa kejadian itu disebabkan oleh ulah Gin Hoa-nio yang menyusup ke Tong-keh-ceng demi ambisinya sendiri. Mengingat Gin Hoa-nio dia mengeluh dalam hati.

Memikirkan Gin Hoa-nio membuat Ji Pwe-giok teringat pada Cu Lui-ji, apa yang harus dilakukannya pada Lui-ji? Beberapa bulan terakhir ini dia makin sayang kepada Lui-ji, dan tanpa disadarinya benih-benih cinta telah bersemi dihatinya pula.

Hatinya menjadi pedih dan dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan hal ini kepada Lim Tay-ih, dia menjadi bingung dan putus asa. Dia menyalahkan dirinya sendiri mengapa sampai terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan ini.

Dia merasa harus mengatakan kepada Lim Tay-ih apa yang telah terjadi, dan dia mulai berkata, “Tay-ih, aku…aku… Ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus kubicarakan denganmu… aku tidak…”

Lim Tay-ih tersenyum manis, “Ini mengenai Cu siocia bukan?”

Ji Pwe-giok tersipu-sipu.

Lim Tay-ih berkata dengan lembut, “Aku telah mendengar apa yang terjadi antara kau dan dirinya… Dia adalah seorang gadis yang harus dikasihani juga. Aku iri terhadap dirinya karena dialah yang mendampingi dan menunjangmu selama beberapa bulan terakhir ini. Dan aku juga telah melihat di matamu bahwa engkau juga mempunyai perasaan mendalam terhadapnya juga. Cu siocia, Kim moay dan aku semuanya mempunyai perasaan mendalam terhadapmu, kami semua tidak dapat menanggung beban berpisah denganmu lagi. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak cemburu dan aku akan belajar menyayangi pula Cu siocia seperti halnya aku menjadi saudara angkat dengan Kim Yan-cu”

Ji Pwe-giok tersipu-sipu dan berkata dengan lembut, “Aku…aku sangat malu… aku tak tahu harus berkata apa, tetapi terima kasih banyak atas pengertianmu”

Lim Tay-ih tersenyum nakal sekarang, “Sebenarnya, aku juga tahu teman-teman perempuanmu yang lain seperti Tong Lin dan Gin Hoa-nio dan Thi Hoa-nio bersaudara…”

Ji Pwe-giok menjadi semakin malu dan cepat-cepat berkata, “Aku… tidak ada apa-apa di antara aku dan nona Tong… Jujur!… Aku harus menjelaskan hal ini kepada anak murid keluarga Tong… Dan Thi-hoa-nio sekarang telah menjadi istri Yang Cu-kang… aku…”

Lim Tay-ih menyelanya dengan tersenyum, “Aku hanya bergurau.”

Dengan mengeluh ia menambahkan, “Apakah kau tahu kalau nona Tong sekarang telah menjadi nikou?”

Ji Pwe-giok berseru dengan terkejut, “Apa?”

Lim Tay-ih mengeluh, “Aku dengar setelah engkau menghilang dari perkampungan keluarga Tong, Tong Lin jadi tidak disukai dan dijauhi oleh keluarganya. Pada suatu malam dia menyelinap keluar dari perkampungan keluarga Tong dan bermaksud bunuh diri. Untung dia akhirnya diselamatkan oleh Ji-sim suthay, pemimpin Gobi-pay. Nona Tong memohon kepada Ji-sim suthay untuk menerimanya menjadi murid. Melihat keteguhan hatinya, Jisim suthay menyetujuinya. Sebelum orang-orang dari ke tiga-belas aliran pergi ke sini, Thian-in taysu dari Siau lim-pay mengadakan pertemuan untuk membahas apa yang harus dilakukan”

Ji Pwe-giok mengernyitkan muka dan mendengarkan dengan seksama.

Lim Tay-ih melanjutkan, “Ketiga belas aliran terbelah menjadi dua, satu kelompok tidak ingin turut campur dalam urusan ini dan kelompok yang lain ingin menangkapmu. Orang-orang Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay ingin menangkapmu karena mereka berpendapat bahwa engkau bertanggung jawab atas kematian pemimpin mereka”

Ji Pwe-giok menjadi sedih mengenang bagaimana gurunya, Thian-kang totiang, mati dengan mengenaskan dalam rencana keji Ki Go-ceng, Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho.

Lim Tay-ih tahu Ji Pwe-giok bersedih atas kehilangan gurunya. Lim Tay-ih memegang tangan Ji Pwe-giok erat-erat untuk menguatkan hatinya.

Dia menambahkan, “Pemimpin Kun-lun-pay, Shi-kang Totiang dan Bwe Jing-hoa dari Tiam-jong-pay menghendaki menuntut balas kepadamu atas kematian Thian-kang totiang dan Cia Thian-pi. Shi-kang totiang adalah sute dari gurumu sedangkan Bwe Jing-hoa adalah paman guru dari Cia-thian-pi. Anglian pangcu berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan mereka agar bersabar menunggu sampai hal-hal ini dapat diselidiki dengan jelas, tetapi keluarga Tong juga ingin memburumu atas kematian Tong Bu-siang”

Ji Pwe-giok menghela napas dalam-dalam ketika mendengar hal ini dan berkata dengan sedih, “Kau tidak bisa menyalahkan mereka, akupun mungkin akan berlaku sama kalau berada dalam posisi mereka”

Lim Tay-ih juga menghela napas tapi dia juga bahagia melihat Ji Pwe-giok sebijaksana itu.

Dia berkata, “Para pemimpin dari 13 aliran berdebat dengan sengit, Ji-sim suthay sangat mendukung pendapat Anglian Pangcu. Aku pikir, nona Tong pasti mempunyai peran dalam hal ini. Untungnya, kebanyakan pemimpin bersikap netral seperti: Jut Tun totiang dari Bu-tong dan Thian-in taysu dari Siau-lim, akan tetapi di tengah-tengah perdebatan seorang murid Siau-lim dan seorang murid Bu-tong menghampiri ketua mereka masing-masing dan membisikkan sesuatu di telinga ketua mereka. Setelah itu, Thian-in taysu dan Jut Tun totiang meninggalkan pembicaraan dan ketika dua jam kemudian mereka kembali mereka berkata bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam rencana menghukummu”

Ji Pwe-giok sangat terkejut dan berkata, “Mengapa kedua locianpwe ini tiba-tiba bersikap tegas?”

Lim Tay-ih menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku juga tidak tahu, tetapi mendengar bahwa ketua dari dua aliran terbesar tidak mematuhi perintah Bulim Bengcu lagi, pihak-pihak yang lain juga menolak untuk mengikuti perintah Ji Tok-ho. Hanya Tiam-jong, Kunlun dan pihak keluarga Tong yang berkukuh pada pendapat mereka untuk menangkapmu. Untung akhirnya Lo Cinjin tiba, dia dengan marah mengomeli dan memaki Shikang, Bwe Jing-hoa dan yang lain untuk tidak ikut-ikut dalam hal ini”

Ji Pwe-giok tersenyum ketika mendengar hal ini dan Lim Tay-ih juga tertawa geli mengingat bagaimana Lo Cinjin mengkuliahi orang-orang itu.

Lim Tay-ih menambahkan dengan tersenyum, “Begitulah, akhirnya para pemimpin sepakat untuk tidak mengikuti perintah Ji Tok-ho lagi. Semua begundal Ji Tok-ho ditahan untuk diinterogasi nantinya. Sekarang mereka ditahan oleh murid-murid Kay-pang dan Bwe Su-bong cianpwe diberi tugas untuk menjaga mereka”

Ji Pwe-giok bangun dan menghela napas dalam-dalam, kini semua pertanyaannya telah terjawab.

Dia memandang ke depan dan melihat Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji sedang berbicara, Lim Tay-ih berkata, “Mari kita kesana”

Ketika dia berjalan menghampiri, Cu Lui-ji tersipu-sipu dan tidak tahu mau berkata apa, dia hanya mengelus-elus kucingnya dan menghindari matanya bentrok dengan mata Ji Pwe-giok. Kim yan-cu tentunya telah mengatakan kepadanya bahwa Lim Tay-ih tidak keberatan terhadap dirinya dan mengerti posisinya.

Kim Yan-cu tertawa terhadap Ji Pwe-giok, “Jangan kau lupakan aku! Ingat kau telah mengatakan di gua pada waktu itu bahwa engkau juga menyukaiku, aku akan lengket terhadapmu seperti lem”

Tiba-tiba sebuah suara memanggil, “Ji kongcu… Ji kongcu…”, ternyata itu adalah Tangkwik Ko yang memanggilnya, Lim Tay-ih berkata, “Pergilah, aku mau bercakap-cakap dengan nona Cu di sini”

Ji Pwe-giok tersentuh hatinya dan berkata, “Terima kasih”

Dia berjalan ke arah Tangkwik Ko dan terkejut melihat Hai Tong-jin, Yang Cu-kang dan Thi Hoa-nio berdiri saling berdampingan.

Ji Pwe-giok sangat terkejut dan bertanya, “Saudara Yang, apakah engkau baik-baik?”

Yang Cu-kiang tertawa, “Ah, cuma sedikit setan-setan tidak akan membahayakan diriku, biarpun aku tidak bisa mengalahkan mereka aku masih bisa lolos dari mereka. Aku masih belum ingin mati, aku belum punya anak sekarang”

Thi Hoa-nio menjadi tersipu malu mendengarnya.

Yang Cu-kiang berkata dengan serius, “Mempunyai anak adalah hal yang normal, mengapa harus malu?”

Ji Pwe-giok berkata, “Hai-heng dan Yang-heng, guru kalian Bak-giok-hujin adalah…”

Hai Tong-jin menghela napas dalam-dalam, “Ya, kami tahu. Tangkwik siansing telah memberitahu kami… meskipun dia adalah…, betapapun dia telah membesarkan kami dan mengajari kami ilmu silat dan jika kau tidak keberatan, kami ingin menguburkan jenasahnya dengan selayaknya”

Setelah mengatakan hal ini, air matanya bercucuran, bahkan Yang Cu-kangpun kelihatan sedih. Betapapun juga, Ki Pi-ceng adalah guru dan orang tua mereka.

Ji Pwe-giok berkata, “Tentu saja, tapi apa yang hendak kalian berdua lakukan sesudahnya?”

Yang Cu-kiang berkata, “Tentu saja mempunyai anak! Omong-omong kakak Hai dan aku telah menjelaskan bahwa kematian Tong Bu-siang tidak ada hubungannya dengan dirimu. Tong Ki siocia juga telah menjelaskan posisimu. Dia berkata bahwa dia dan Tong Lin tahu bahwa Tong Bu-siang yang itu adalah gadungan dan itulah sebabnya dia dan nona Tong Lin membunuhnya. Karena dia ingin menyelidiki siapa dalang di balik semua ini dia harus menyalahkan seseorang. Selain itu, Hong Sam cianpwe, Tangkwik siansing juga berkata bahwa engkau tidak terlibat dalam hal ini.”

Para anak murid keluarga Tong merasa malu.

Ji Pwe-giok berpikir bahwa sampai saat ini Tong-Ki masih merahasiakan bahwa sebenarnya ayahnya telah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Hai Tong-jin berkata, “Aku punya banyak waktu sekarang, aku pikir aku akan berkelana dan menikmati hidup”

Ji Pwe-giok tersenyum, “Aku harap kita tetap menjadi sahabat baik”

Yang Cu-kang dan Hai Tong-jing tersenyum dengan tulus, “Tentu!”

Yang Cu-kang tiba-tiba berkata sambil tersenyum nakal, “Baiklah.., aku harus pergi sekarang. Aku masih harus menemui ayah mertua nih”

Thi-hoa-nio mencibir dan berkata dengan geregetan, “Kau ini memang…”

Ji Pwe-giok dan Hai Tong-jin tertawa.

Tangkwik siansing, Hong Sam, Tangkwik Ko sedang berbicara dengan Thian-in taysu dan Jut Tun Totiang, Tangkwik siansing melambaikan tangannya, “Anak muda, kemarilah…”

Ji Pwe-giok berjalan menghampiri mereka.

Thian-in taysu kemudian berkata, “Ji kongcu, terima kasih telah membeberkan rahasia kitab Giam-ong-ceh, karena dengan ini Siau-lim berhasil menemukan seorang pengkhianat yang telah kami cari lebih dari 40 tahun lamanya. Siau-lim-si berhutang budi pada kongcu”

Ji Pwe-giok berkata merendah, “Thian in taysu, anda terlalu sungkan”

Thian-in taysu menghela napas, “Hu Pat-ya itu sebenarnya adalah suhengku. Dia sangat berbakat dalam ilmu silat tapi sayang hatinya tidak setia kepada ajaran Budha. Setelah guruku wafat, dia melarikan diri keluar dari Siau-lim sambil membawa kitab jurus 100 langkah tinju sakti”

Hong sam berkata, “Pendeta, dalam pohon yang baikpun pasti ada beberapa buah apel yang busuk. Anda tidak perlu terlalu memikirkan hal ini”

Thian-in taysu menghela napas, “Betapapun juga dia menggunakan ilmu Siau-lim untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap banyak tokoh Bu-lim”

Ji Pwe-giok tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan bertanya, “Bolehkah saya bertanya, apa…”

Jut Tun totiang memotong dengan tersenyum, “Ji kongcu, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Kau ingin tahu apa yang membuat kami berubah pikiran?”

Ji Pwe-giok berkata dengan hormat, “Benar, totiang”

Tangkwik siansing mengelus-elus jenggot panjangnya dan tertawa, “Itu semua adalah gara-gara seorang teman lamaku… engkau juga kenal padanya, Pwe-giok”

Ji Pwe-giok kebingungan.

Tangkwik Ko tersenyum, “Meskipun engkau pernah bertemu dengannya, tapi engkau belum pernah melihatnya”

Ji Pwe-giok tiba-tiba teringat pada seseorang dan berkata, “Hwe sing-diong!”

Tangkwik siansing tertawa, “Ya, si tua itu telah pindah ke sebuah lembah dan menamai lembah itu sebagai lembah gema. Sedikitnya sudah 20 tahun terakhir aku bertemu dengannya.

Ji Pwe-giok berkata, “Aku ingin berterima kasih kepada cianpwe itu atas bantuan-bantuannya”

Tangkwik siansing berkata, “Si tua bangka itu selalu berpergian semaunya sendiri dan tidak ada seorangpun yang tahu dimana letak lembah gema. Kalau dia ingin bertemu denganmu, dia akan pergi mencari dirimu. Dia itu seorang tua bangka yang aneh, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang yang berhati lurus.”

Jut-tun totiang berkata, “Beberapa tahun yang lalu cianpwe ini memberi pertolongan kepada kami ketika Siau-lim dan Bu-tong menghadapi suatu masalah yang sulit. Maka ketika cianpwe ini meminta kami untuk tidak turut campur pada urusan ini, Thian-in taysu dan pinto mematuhinya”.

Setelah itu Jisim suthay berjalan menghampiri dan memberi salam kepada tokoh-tokoh yang hadir sebelum menoleh kepada Ji Pwe-giok, “Omitohud, Ji siauhiap, muridku Konghuan mendoakan keselamatanmu dan berharap engkau dapat menegakkan kebenaran dan keadilan di Bu-lim. Nama lama dari Konghuan adalah Tong Lin. Omitohud, pin-ni harus pergi sekarang. Semoga kalian semua diberkati. Sampai jumpa lagi”

Jisim suthay adalah seorang nikou yang berumur lebih dari 60 tahun, wajahnya nampak agung, dia adalah seorang locianpwe yang sangat dihormati di dunia persilatan.

Ji Pwe-giok tidak tahu harus memikir apa ketika dia mendengar bahwa Tong Lin telah menjadi seorang nikou.

Ang Lian-hoa menghampiri Ji Pwe-giok dan tersenyum, “Saudara Ji, sudah lama sekali”

Ji Pwe-giok merasa terakhir kali dia berbicara dengan Ang Lian-hoa seolah-olah pada kehidupannya yang lain.

Ang Lian-hoa menepuk bahunya dan berkata, “Aku selalu percaya engkau akan dapat menghadapi semua masalah. Engkau benar-benar seorang yang mengagumkan!”

Ji Pwe-giok bercucuran air mata kegembiraan, “Saudara Ang Lian-hoa, aku… jika bukan karena bantuanmu aku tidak mungkin dapat berada di sini saat ini”

Ang Lian-hoa berkata, “Mimpi buruk akhirnya telah berlalu, tapi kewajiban baru sekarang ada di tanganmu”

Pada saat ini, semua tokoh Bu-lim telah berkumpul, Lim Tay-ih, Cu Lui-ji dan Kim Yan-cu berdiri dekat Ji Pwe-giok sebagai tanda dukungan mereka terhadap Ji Pwe-giok.

Thian-in taysu berkata, “Ang-lian pangcu benar, aku merasa Ji Tayhiap harus memimpin Bu-lim sekarang”

Bwe Ceng-hoa dari Tiam-jong berkata dengan dingin, “Baik, mungkin semua pendekar menerima Ji kongcu, tapi… Tiam-jong tidak setuju. Ji kongcu, bagaimana engkau menjelaskan kematian ketua kami Cia Thian-pi?”

Yang Cu-kiang bertanya kepada Hai Tong-jin, “Kakak Hai, sejak kapan Ji kongcu menjadi murid Tiam-jong?”

Hai Tong-jin menyahut, “Sepengetahuanku Ji kongcu tidak mempunyai hubungan apapun dengan Tiam-jong-pay”

Yang Cu-kiang berkata, “Oh… Bwe siansing, kalau begitu mengapa Ji kongcu harus membantumu menyelidiki kematian ketuamu? Apakah Ji kongcu seorang polisi?”

Bwe Ceng-hoa berkata dengan marah, “Yang Cu-kiang dan Hai Tong-jin, kalian berdua adalah murid Ki Pi-ceng! Jangan-jangan kalian sedang merencanakan sesuatu rencana busuk? Tiam-jong-pai tidak takut pada bajingan-bajingan seperti kalian”

Yang Cu-kiang berkata, “Baik, mari kita lihat kehebatan Tiam-jong-pai…”

Ji Pwe-giok tahu bahwa Bwe Ceng-hoa bukan tandingan Yang Cu-kiang dan cepat-cepat menengahi, “Bwe siansing, saya benar-benar tidak bertanggung jawab atas kematian Cia pangcu. Saya berani bersumpah mengenai hal ini…”

Ang Lian-hoa berkata, “Saudara Cia tidak dibunuh Ji kongcu”

Shikang totiang berkata dengan keras, “Bagaimana dengan kakak seperguruanku? Ji Pwe-giok, engkau adalah seorang murid Kun-lun! Katakan padaku apa yang telah terjadi”

Shikang totiang mengemukakan fakta bahwa dia dapat memerintah Ji Pwe-giok karena tidak saja dia adalah susiok dari Ji Pwe-giok tapi dia juga saat ini adalah ketua Kun-lun-pai.

Tiba-tiba sebuah suara jernih terdengar , “Berhenti bertengkar!”

Suara itu terdengar jernih, mendayu-dayu tetapi dingin. Yang berbicara adalah seorang gadis muda, Ji Pwe-giok mengenalinya. Dia adalah saudara sepupunya Ki Leng-yan. Dua orang lelaki tampak berjalan mengikuti di belakangnya.

Tiba-tiba Bwe Ceng-hoa berkata dengan terkejut, “Thian-pi, engkaukah itu?”

Salah seorang dari dua lelaki itu memang adalah Cia Thian-pi, dia nampak sangat kurus, pucat dan sakit. Tapi ketika dia melihat Bwe Ceng-hoa dia kelihatan gembira dan berkata, “Bwe susiok, ya ini aku. Ji kongcu telah membunuh orang yang memalsu sebagai diriku… kita tidak boleh salah menuduhnya”

Bwe Ceng-hoa tampak bingung dan tidak tahu mana yang harus dipercaya.

Ki Leng-yan berkata dengan dingin, “Aku tahu, Cia Thian-pi seorang tidak cukup untuk meyakinkanmu, tapi ada seseorang lagi yang dapat bersaksi bahwa Ji Pwe-giok tidak berdosa.”

Dia menunjuk ke lelaki yang lain, semua orang ini melihat bahwa orang ini adalah Lim Soh-koan atau lebih tepatnya Lim Soh-koan palsu, Lim Tay-ih sangat marah dan sedih.

Ki Leng-yan berkata dengan dingin, “Aku menahan orang ini ketika dia berusaha meloloskan diri keluar propinsi. Katakan kepada semua orang, siapa engkau sebenarnya!”

Lim Soh-kuan berkata, “Namaku yang sebenarnya adalah Siahou Kosing.”

Tiba-tiba beberapa orang berseru dengan terkejut, “Si pedang seribu ular!”

Si Pedang Seribu Ular Siahou Kosing adalah seorang tokoh jahat yang berkeliaran di daerah utara dan kabarnya merupakan seorang teman karib dari Ji Tok-ho. Kadang-kadang mereka melakukan kejahatan dan pembunuhan bersama-sama, merampok rombongan piaukiok. Berkat ilmu silatnya yang tinggi dia dapat lolos dari kejaran musuh-musuhnya, tapi sepuluh tahun yang lalu tiba-tiba tidak terdengar kabar apapun mengenai dia. Orang-orang menganggapnya telah mati, padahal kenyataannya dia bersekongkol dengan Ki Pi-ceng, Ki Go-ceng dan Ji Tok-ho.

Siahou Ko-sing berkata, “Ya, aku memang si Pedang seribu ular. Kakak Ji memerintahkan Cia Thian-pi palsu untuk membokong pendeta Thiankang dari Kun-lun-pai, sesudah itu Cia Thian-pi palsu itu turut menghilang. Kami beranggapan bahwa dia telah dibunuh Ji Pwe-giok dan Ang Lian-hoa. Rencana kami untuk menguasai dunia persilatan sudah gagal, tidak ada satu katapun yang dapat kukatakan sekarang. Jika kalian mau, bunuh saja aku, aku tidak keberatan, toh aku sudah hidup cukup lama”

Dia memandang Lim Tay-ih dan tertawa dingin, “Sebenarnya, aku membunuh ayahmu, aku memimpin kelompok yang membantai keluargamu!”

Lim Tay-ih menjerit, “Engkau bajingan!” dia menghunus pedangnya dan menikam jantung Siahou Kosing.

Semua orang bersorak, “Bagus, nona Lim!”

Dia lalu menangis terisak-isak, akhirnya dia berhasil membalaskan dendam ayahnya. Ji Pwe-giok meraih tangannya dengan lembut, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji berdua berkata, “Jangan sedih, kakak Tay-ih.”

Bwe Ceng-hoa dan Shikang totiang menghampiri dan membungkuk ke hadapan Ji Pwe-giok, “Mohon maafkan kami orang tua yang keras kepala dan tolol ini.”

Cia Thian-pi menambahkan, “Tiam-jong-pai tidak mempunyai keberatan sama sekali terhadap Ji Kongcu sebagai Bulim-bengcu yang baru.”

Ji Pwe-giok berkata dengan sopan, “Bwe locianpwe, tidak usah dipikirkan. Dan terima kasih kepada Cia pangcu tapi aku takut aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjadi Bengcu”

Shikang Totiang berkata, “Ji kongcu, mohon maafkan ketidaksopanan pinto. Tapi pinto rasa engkau harus menjadi Bulim Bengcu yang baru. Sebagai susiokmu, aku merasa engkau sesuai untuk memimpin dunia persilatan ke era baru. Engkau bukan saja akan mengembalikan nama baik keluargamu tapi juga almarhum gurumu. Suheng Thian-kang tentu juga akan ikut berbahagia”

Ji Pwe-giok berkata dengan hormat, “Susiok Shikang, aku…”

Ji Siok-cin dari Hoa-san juga berkata, “Aku setuju dengan Shikang totiang”

Thian-in taysu berkata, “Jut Tun totiang dan pinceng mendukung usulan Ji tayhiap untuk menjadi Bulim Bengcu yang baru”

Ji Pwe-giok berkata terbata-bata, “Tapi…tapi… banyak orang lain yang lebih cocok daripadaku… Tangkwik siansing dan…”

Tangkwik siansing memotong, “Jangan engkau paksa aku, aku tidak punya cukup kesabaran untuk memerintah dunia persilatan… bocah, jangan kau limpahkan permasalahanmu pada diriku”

Ji Pwe-giok menatap pada Hong Sam dan Tangkwik Ko.

Hong Sam berkata, “Adik, aku sudah tua, di samping itu aku sudah lama ingin mengembara di lautan lepas. Akhirnya, kini aku punya waktu untuk mewujudkannya.”

Tangkwik Ko berkata, “Ji kongcu, kau pasti sanggup. Aku sudah tua dan tidak ingin terseret urusan dunia persilatan lagi.”

Ji Pwe-giok berkata, “Baiklah, karena seluruh cianpwe begitu mempercayaiku, aku bersedia menjadi Bengcu sampai aku menemukan orang lain yang lebih cocok untuk menggantikanku. Dan aku juga punya satu syarat… Aku ingin saudara Ang-lian-hoa untuk menjadi penasehatku.”

Setiap orang setuju dengan usulan ini, Ang-lian-hoa adalah seorang yang pandai dan cerdas dan mempunyai watak yang baik. Dia pasti bisa membantu Ji Pwe-giok dalam melaksanakan tugasnya.

Aliran-aliran lain seperti Kong-tong-pay dan Thian-lam-pai tidak keberatan, terutama disebabkan dengan tarap kemampuan ilmu silat Jue Qinzi dan Hi Soan mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi Bengcu. Di samping itu, Hi Soan menyadari bahwa Ji Pwe-giok adalah seorang yang pandai dan mempunyai ilmu silat yang tinggi, dia benar-benar menghargai Ji Pwe-giok dan sangat mendukung usulan itu.

Maka Bulim bengcu baru telah dinobatkan: Ji Pwe-giok.

Musim semi tiba dan musim semi berlalu, musim dingin tiba dan musim dingin berlalu. Waktu berlalu dengan cepat.

Banyak hal terjadi di dunia persilatan setelah Ji Pwe-giok menjadi bengcu, pertama-tama semua orang munafik dan orang-orang busuk di kitab Giam-ong-ceh diadili dan dihukum. Sebagai contoh: Hu Pat-ya dan Hu Pat-naynay dibawa kembali ke biara Siau-lim, ilmu silat mereka dimusnahkan dan mereka ditawan di dalam sebuah gua di gunung Siong-san.

Ji Pwe-giok juga memohonkan ampun untuk Ciong Cing dan Kwe Pian-sian kepada Hay-hong hujin, Ang Lian-hoa dan Ji Siok-cin. Rupanya Ki Leng-yan melepaskan mereka setelah dia lolos dari ruangan batu. Ang Lian-hoa, Ji Siok-cin dan Hay-hong hujin setuju untuk mengampuni Kwe Pian Sian dan Ciong-cing sepanjang mereka bertobat dan tidak membuat masalah baru di dunia persilatan, kalau tidak mereka tidak akan lolos dari hukuman. Ji Pwe-giok setuju dengan syarat-syarat ini.

Sedangkan mengenai Ki Leng-hong, setelah usahanya untuk menguasai dunia persilatan gagal, dia tidak mempunyai ambisi lagi untuk menguasai dunia persilatan. Dia mengurus adiknya yang mempunyai kelainan jiwa dan ibunya yang sakit-sakitan. Mereka meninggalkan Sat-jin-keh dan tinggal di tempat terpencil. Rupanya ketika Ki Song-hoa mendengar bahwa ayah dan ibunya, Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng mati, Ki Song-hoa menjadi gila dan berlari ke komplek pekuburan keluarga mereka dan membakarnya, dia sendiri mati terbakar.

Tangkwik Siansing memberi hadiah sekarung penuh harta yang diambil dari perkampungan Hu. Hadiah itu digeletakkan di depan pintu rumah Ji Pwe-giok bersama sebuah surat yang menyatakan hadiah itu adalah hadiah perkawinan. Dia sendiri akan mencari tempat baru untuk bertapa karena tempat yang lama sudah diketahui orang banyak.

Hong Sam membeli sebuah kapal dan berpetualang dengan kapalnya. Dia tidak lagi mempunyai beban. Cu Lui-ji sudha selamat dan bahagia. Akhirnya dia dapat melakukan apa yang telah diinginkannya sejak lama. Hai Tong-jin menemaninya dalam berpetualang.

Tangkwik Ko pindah ke sebuah rumah dekat Ki Leng-hong, dia menjadi gurunya dan mulai mengajarinya ilmu silat. Dia lebih bahagia sekarang dan kadang-kadang sambil bergurau mengatakan bahwa sedikit banyak cita-citanya telah tercapai karena sepupunya menjadi Bulim Bengcu.

Thian-can-kau hidup damai berdampingan dengan ke tiga belas aliran. Yang Cu-kiang dan Thi-hoa-nio mengundurkan diri dari dunia persilatan. Kadang-kadang orang mendengar kabar tentang seorang aneh yang lucu melakukan perbuatan-perbuatan baik tapi tidak pernah mengatakan namanya. Seorang wanita cantik selalu berada di sisinya sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Setahun kemudian, rumah Ji Pwe-giok kosong. Bendera Bengcu diletakkan di sebuah kotak di atas meja, Jut Tun totiang dan Thian-in taysu kedua-duanya menerima surat dari Ji Pwe-giok.

Dalam surat itu, dia menyatakan bahwa Ang Lian-hoa adalah orang yang lebih cocok untuk menjadi Bengcu, Ang Lian-hoa juga menerima sepucuk surat dari Ji Pwe-giok yang mengatakan Ji Pwe-giok tidak mempunyai cukup kemampuan untuk memimpin dunia persilatan dan lebih baik menghabiskan waktunya bersama istri-istrinya.

Maka Ang Lian-hoa menjadi Bengcu yang baru dan Cia Thian-pi menjadi penasehatnya. Kedua-duanya adalah orang-orang muda yang pandai dan bijaksana. Dengan mereka sebagai pemimpin, dunia persilatan menjadi aman.

Beberapa tahun kemudian, dunia persilatan menjadi damai. Orang-orang yang tinggal di kota Kunming sering melihat seorang muda yang tampan dengan tiga orang wanita cantik berjalan-jalan sambil tersenyum di sepanjang danau Thian-ci.

Seorang lelaki mempunyai tiga orang istri cantik sungguh sangat luar biasa, tidak banyak orang yang beruntung sekalipun hanya untuk mendapatkan seorang istri cantik. Tapi orang-orang juga menyadari betapa banyak air mata, keringat dan darah yang mengalir sebelum impian indah itu terwujud.

Tetapi, sesuatu yang lebih indah bahkan terjadi, yaitu masing-masing istri menggendong bayi yang lucu dan saling bergurau dengan gembira.

Tentu saja mereka adalah Ji Pwe-giok, Lim Tay-ih, Kim Yan-cu dan Cu Lui-ji.

SELESAI

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

18 Comments »

  1. ko ping hoo adalah cerietera yang sangat menarik dan banyak pelajaran di dalamnya terutama masalah tingkah laku manusia

    Comment by sutrisno_585 — 22/06/2010 @ 4:58 am

  2. senangnya bisa ketemu website ini…bisa membaca cerita silat jaman smp dulu…nostalgia…teruskan gan…melengkapi koleksi di web ini..

    Comment by william — 08/10/2010 @ 3:53 pm

  3. telah 25 thn lewat saat demen2nya baca cersil, teringat saat yg kunanti adalah liburan skul,slalu kutaruh cersil dibawah bantal, bgn tidur langsung dibaca, nikmatnya tiada tara.

    to admin – thx, ijin bookmark.

    Comment by Bupunsu — 10/10/2010 @ 7:41 pm

  4. Ok bro

    Comment by Lajundai — 05/12/2010 @ 2:11 am

  5. […] tahu apa yang harus dilakukan. Dalam sekejap kedua gadis itu telah berdiri di hadapan Ji Pwe-giok. (more…) Comments […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:01 pm

  6. […] Imbauan Pendekar – 17 Epilog Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:36 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm

  7. nostalgila… jaman smp dan stm, khopingho sd liong gu long :p

    Comment by Rijal Asep Nugroho — 18/09/2012 @ 7:00 am

  8. Lama banget ga posting bro,padahal masih banyak cerita yg belum tamat.

    Comment by penggemar cersil — 29/10/2012 @ 4:08 am

  9. Ingin nostagia tentang cerita dari Khu Lung bisa join http://www.facebook.com/gulong.id

    Comment by Gulong — 22/02/2013 @ 8:36 am

  10. Banyak petuah dan filsafat yang bisa kita ambil. Dari dulu sampai sekarang, tetap terpincut cersil.. Terus posting ya..

    Comment by joel Pasaribu — 01/07/2013 @ 5:10 pm

  11. oow

    Comment by uklis — 22/07/2013 @ 10:26 am

  12. ijin baca di kosan nanti gan,, kayaknya meraik nih untuk disimak,,

    Comment by Fendi haris — 26/07/2013 @ 8:18 am

  13. Sangat seru sekali membacanya gan, ditunggu update selanjutnya,,

    Comment by Istanamurah — 05/11/2013 @ 1:32 pm

  14. mungkin update-nya dah gk dilanjutin. ingin baca dan download cersil mungkin ini solusinya.
    kunjungi http://siklututjang.blog.com/

    Comment by Siklututjang — 22/02/2015 @ 9:05 am

  15. mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith

    Comment by Jim — 04/11/2015 @ 2:15 am

  16. semakin banyak orang baca cerita silat, semakin banyak jiwa kependekaran akan tumbuh Dan akan membawa dampak jiwa dan perilaku yang baik bagai seorang pendekar DG demikian kejahatan akan berkurang Dan jiwa korupsi juga berkurang

    Comment by bu beng — 17/05/2016 @ 10:49 am

  17. kerenn banget ..

    Comment by Halomurah — 16/09/2016 @ 9:39 am

  18. ikut komen di sini dulu

    Comment by wap keren — 06/10/2016 @ 2:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: