Kumpulan Cerita Silat

15/06/2010

Imbauan Pendekar – 15

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:36 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Sikasep, Bpranoto, Axd002, Budiwibowo, Yusuf_hari, Bsarwono, dan Sukantas009)

Di belakang air terjun yang airnya berhamburan dengan derasnya itu memang ada sebuah tebing miring, di situ mencuat sepotong batu karang yang rata sehingga mirip sebuah panggung alam terapung. Batu itu seluas meja, karena teraling-aling oleh air terjun, maka tidak kelihatan bila dipandang dari depan. Untuk bisa melihat dengan jelas orang harus mengitar dari sisi kanan atau kiri air terjun.

Hong Sam dan Tangkwik Ko ikut di belakang Tangkwik-siansing, di bawah hamburan air terjun, akhirnya mereka dapat menerobos ke sisi kiri dan menemukan panggung alam yang mencuat di dinding tebing secara aneh itu.

Itulah dia, Ji Pwe-giok lagi duduk bersila di atas panggung.

Gaya duduknya adalah semedi agama Buddha, sikapnya khidmat, wajahnya tenang, kelopak matanya setengah tertutup, keadaannya seperti sudah melupakan segalanya.

Kalau tidak mengalami sendiri memang sulit dibayangkan. Tokoh yang bertenaga dalam kuat seperti Hong Sam dan kakek Ko saja merasakan hati berdebar menghadapi suara gemuruh air terjun laksana gelegar guntur itu. Tapi Ji Pwe-giok sedikitpun tidak terpengaruh, bahkan tetap bersemedi dengan tenangnya, sungguh suatu keajaiban.

Ketiga orang itu berdiri di situ sampai sekian lamanya tanpa bersuara, lalu Tangkwik-siansing mengajak mereka mundur kembali ke bawah pohon raksasa tadi.

Tiba-tiba Hong Sam ingat sesuatu, katanya, “Setelah kau lukai dia dengan Bu-siang-sin-kang, lantas kau bawa dia langsung ke sini?”

“Ya, memangnya ku gendong dia pelesir kemana-mana, kemudian datang ke sini?” sahut Tangkwik-siansing.

“Di tengah jalan dia terus berada dalam keadaan tidak sadar dan tidak pernah kontak dengan siapa pun?” tanya pula Hong Sam.

“Apa maksudmu tanya hal-hal ini?” Tangkwik-siansing merasa heran.

Tiba-tiba Tangkwik Ko menimbrung, “Waktu kami memburu ke sini, kami mendengar Giam-ong-ceh sudah tersiar luas di dunia Kangouw, entah betul tidak hal ini?”

Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya, “Masa tidak betul, meski bocah ini dalam keadaan tak sadar, apakah tidak dapat ku bekerja bakti baginya?”

“Wah, celaka!” seru Hong Sam dengan gegetun. “Tindakanmu ini hakekatnya ingin berjangkitnya kekacauan dunia.”

“Memangnya ada kejadian apa sehingga membikin tegang padamu?” tanya Tangkwik-siansing.

“Sedikitnya tujuh hari lagi barulah ilmu sakti Pwe-giok berhasil diyakinkan, tapi dalam dua-tiga hari ini dunia kangouw pasti akan bergolak, mengapa buru-buru kau siarkan Giam-ong-ceh kepada umum?”

Melengak juga Tangkwik-siansing, “Ah, rupanya karena terdorong oleh hasratku akan membikin gempar sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini. Wah, kan bisa celaka!”

Dengan prihatin kakek Ko ikut bicara, “Harapan kita sekarang, mudah-mudahan tempat ini tidak diketahui orang.”

“Biasanya tempat rahasia begini tentu sukar ditemukan orang,” kata Hong Sam. “Tapi setelah suasana bergolak akibat tersiarnya Giam-ong-ceh keadaan tentu saja berubah, tentu tokoh-tokoh yang merasa dirugikan oleh berita Giam-ong-ceh itu akan mencari kemana pun, dan tiada yang berani menjamin bahwa tempat ini takkan ditemukan oleh mereka.”

Tangkwik-siansing sampai garuk-garuk kepala saking kelabakan, katanya, “Apa mau dikatakan lagi, Giam-ong-ceh sudah terlanjur tersiar dan sukar ditarik kembali, kukira boleh kau…”

Sampai di sini mendadak ia merandek sambil melirik air muka kedua rekannya.

“Katakan terus, “Ujar Hong Sam. “Yang penting kita harus menjaga keselamatan Pwe-giok agar tidak terganggu, untuk ini sekalipun jiwaku harus melayang juga takkan kusesalkan.”

“Bagus!” Tangkwik-siansing berkeplok gembira, “memangnya sedang kutunggu ucapanmu ini. Sekarang kita tidak perlu banyak omong. pokoknya beberapa kerat tulang rapuh kita bertiga sudah siap berserakan di sini.”

“Berserakan di sini tidak menjadi soal, tapi perlu juga kita memperkirakan kemungkinan apa yang akan terjadi,” sela kakek Ko. “Coba pikirkan, siapa-siapa di antara orang-orang itu yang mungkin akan mengadu jiwa ke sini?”

“Wah, tentu saja banyak,” kata Tangkwik-siansing, “Kecuali Ji Hong-ho gadungan itu, tentu masih ada Ki Go-ceng dan Ki Pi-ceng, lalu si Hu-patya yang celaka itu, Lo-cinjin dan… pendek kata, setiap orang kangouw yang menonjol pasti tersangkut, bahkan kau Hong Sam sendiri juga tidak terkecuali.”

“Aku?” teriak Hong Sam dengan kaget sambil menuding hidung sendiri. “Masakah dalam Giam-ong-ceh itu juga menyebut diriku? Memangnya perbuatanku mana yang memalukan?”

“Kalau tidak ditunjukkan, mungkin kau sendiri sudah lupa,” ujar Tangkwik-siansing. “Tapi dalam Giam-ong-ceh tercatat dengan gamblang, aku sendiri sudah membacanya, tidak mungkin keliru.”

“Coba kulihat,” pinta Hong Sam sambil mengulurkan tangannya, “kalau tidak ada bukti, akan kutangkap kau sengaja memfitnah.”

“Buku itu sudah ku masukkan lagi ke saku bocah itu,” kata Tangkwik-siansing. “Jika kau ingin tahu, bolehkah kukatakan terus terang?”

“Baik, coba katakan.” Hong Sam memandangnya dengan terbelalak.

Tangkwik-siansing tertawa lebar, katanya, “Ingat tidak sepuluh tahun yang lalu kau tergila-gila pada seorang pesinden, namanya si Mirah, akhirnya dompetmu kempes dan didepak orang, betul tidak?”

“Omong kosong, masakah aku didepak orang.” cepat Hong Sam membantah. “Soalnya aku sudah bosan dan kutinggalkan dia.”

“Pokoknya pernah terjadi hal begitu, soal didepak orang adalah sengaja kubumbui untuk memancing pengakuanmu,” kata Tangkwik-siansing dengan tertawa.

Seketika muka Hong Sam menjadi merah.

Cepat Tangkwik-siansing menyambung lagi, “Tidak perlu malu, urusan begituan adalah jamak bagi kaum lelaki. Malahan namaku sendiri pun tercatat di dalam Giam-ong-ceh, kalau kuceritakan persoalannya tidak banyak berbeda dengan perbuatanmu.”

“Masa waktu muda kaupun suka main perempuan,” tanya Hong Sam.

Tangkwik-siansing menggeleng kepala, jawabnya, “Aku tidak sembarangan main perempuan, soalnya secara diam-diam kucintai seorang nikoh jelita, tapi sayang, aku hanya bertepuk sebelah tangan, cintaku tidak mendapat sambutan yang memuaskan, akhirnya aku hampir saja membunuh diri.”

Hong Sam dan Tangkwik Ko saling pandang sekejap, lalu ketiga orang sama bergelak tertawa…

——-

Sang surya sudah hampir tenggelam di ufuk barat, di bawah cahaya senja yang keemasan itu sesosok bayangan orang tampak berjalan di antara pematang sawah menuju ke sebuah sungai kecil di depan sana.

Bayangan kecil itu adalah Cu Lui-ji, setelah keluar dari lorong bawah tanah itu ia lantas berpisah dengan Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing, tujuannya mencari Pwe-giok.

Akan tetapi dunia seluas ini, kemanakah perginya Ji Pwe-giok?

Namun Lui-ji tidak perduli, setiap tempat yang mungkin disinggahi Pwe-giok pasti berusaha dicarinya. Demi Pwe-giok dia tidak menghiraukan capek lelah segala.

Bicara sesungguhnya, selama dua hari ini dia benar-benar susah payah dan kehabisan tenaga, namun jejak Pwe-giok tetap tidak diketahui.

Bahkan gerak-geriknya sekarang perlu hati-hati, dia sudah tahu Ki Pi-ceng bermaksud menawannya untuk dijadikan sandera. Sekarang rahasia keluarga abnormal itu sudah terbongkar, sepanjang jalan ia harus waspada agar tidak tersusul oleh Ki Pi-ceng.

Selama dua hari ini iapun mendengar berita Giam-ong-ceh yang ramai dibicarakan orang kang-ouw itu, ini membuktikan bahwa percakapan antara “Ji Hong-ho” dan Ki Pi-ceng di gua bawah tanah itu memang tidak salah, iapun tahu dunia kang-ouw sudah mulai bergolak sehingga dia tambah kuatir akan keselamatan Pwe-giok.

Terutama pada siang hari ini, dilihatnya berturut-turut rombongan orang Kang-ouw yang berlalu-lalang di jalan raya, dari suara yang didengarnya tanpa sengaja, diketahuinya bahwa tujuan orang-orang itu adalah hendak mencari Ji Pwe-giok.

Dari kenyataan ini, dia tidak berani lagi berspekulasi, ia harus berusaha menemukan Pwe-giok selekasnya untuk menyampaikan segala rahasia yang didengarnya di gua rahasia itu serta kejadian yang dilihatnya sepanjang jalan.

Semua ini jelas ada hubungan erat dengan Ji Pwe-giok, kalau tidak disingkapnya, tentu Pwe-giok akan mudah tersesat ke arah yang tidak tepat.

Padahal persoalan yang paling penting adalah kematian Ki Go-ceng yang palsu itu, kalau hal ini tidak dibongkar, tentu Pwe-giok sukar membedakan “Bak-giok Hujin” Ki Pi-ceng itu sesungguhnya kawan atau lawan.

Pada saat Lui-ji sudah putus asa untuk menemukan Pwe-giok itulah, tiba-tiba teringat olehnya cerita Hong Sam yang pernah menyebut tempat tinggal kakek Ko, kalau tidak salah rasanya seperti terletak di sekitar tempat ini, hanya letaknya yang persis belum diketahui. Sebab itulah terpaksa ia mencari sedapatnya secara untung-untungan.

Sekarang Lui-ji benar-benar sangat payah, terasa punggung pegal dan kaki linu, kalau tidak mendapatkan makanan dan istirahat yang cukup, sungguh dia tidak tahan lagi.

Ditengah remang senja itulah dia masih terus mencari ke depan…

Dengan langkah lemah ia masuk ke pintu pagar bambu itu dan berseru, “Sepada?”

Namun tidak terdengar jawaban, suasana sunyi senyap. Sampai beberapa kali Lui ji berteriak dan tetap tiada suara lain. Sialan, rupanya rumah ini kosong.

“Perduli amat, masuk saja, syukur bila dapat menemukan sedikit makanan, makan kenyang dulu dan perkara urusan belakangan,” karena pikiran inilah Lui-ji mendorong pintu rumah itu. Pintu terbuka, “Ngeongng”, mendadak sesosok bayangan meloncat ke pangkuannya.

Lui-ji terkejut. Akan tetapi rasa kaget itu segera lenyap dalam sekejap. sebab diketahuinya yang melompat ke pangkuannya itu seekor kucing hitam.

Pelahan Lui-ji membelai bulu kucing yang halus itu dan berucap, “O, kucing sayang, dimanakah majikanmu?”

“Meong, meong!” kucing hitam itu memandang si nona dengan matanya yang mengkilap. Lui-ji seperti lupa bahwa kucing itu tak dapat bicara, seperti menimang anak kecil ia berkata pula, “Ah, tentunya kau lapar, kucarikan sedikit makanan bagimu.”

Segera ia mengetik api dan menyalakan lentera minyak di atas meja.

Mendadak perhatian Lui-ji tertarik oleh sepotong baju di amben sana, itulah baju yang dijahit untuk Hong Sam, jelas, tidak mungkin keliru.

jangan-jangan disinilah tempat kediaman kakek Ko? Sungguh sangat kebetulan!

Tapi kemana perginya Hong-sacek dan kakek Ko?

Saking girangnya sampai Lui-ji lupa lapar dan lelah. pada saat itulah kucing hitam dalam pangkuannya itu mendadak melompat keluar dan berlari ke arah sawah sana.

Kepergian kucing itu seperti mengandung maksud tujuan tertentu, Lui-ji menjadi curiga, segera ia membuntuti kucing itu.

Sementara itu kelam malam sudah meliputi bumi, di ujung langit timur sana mulai menongol sang dewi malam.

Kucing hitam tadi masih terus berlari ke depan, terkadang menoleh dan memandang Lui-ji seakan-akan kuatir Lui-ji tidak dapat menyusulnya, maka sengaja menunggunya.

Heran sekali Lui-ji, dia lebih-lebih yakin bahwa lari si kucing hitam ini pasti mempunyai tempat tujuan. Seketika semangatnya terbangkit, cepat ia mengejar dengan kencang, ia ingin tahu selekasnya ke mana kucing hitam itu hendak membawanya.

Di bawah sinar bulan yang mulai terang, dapatlah Lui-ji mengikuti kucing itu melintas sungai kecil dan menyusuri hutan, mendaki lereng bukit, dan kucing hitam itu masih terus berlari ke depan.

Sekonyong-konyong Cu Lui-ji merasa ada sesuatu di belakangnya, waktu ia berpaling, ternyata tiada sesuatu yang dilihatnya.

Ia tidak menaruh perhatian dan tetap berlari ke depan agar tidak kehilangan jejak si kucing hitam.

Setelah berlangsung dua-tiga jam, tertampaklah lereng gunung terjal menghadang di depan.

Kucing itu menoleh dan bersuara “meong-meong” dua kali, habis itu mendadak mempercepat larinya ke atas gunung.

Lui-ji sendiri sudah kepayahan, sesungguhnya ia tidak sanggup lagi mengejar kucing itu, tapi sekuatnya ia tetap memanjat ke atas.

Tapi sebelum tiba di pinggang gunung, hanya sekejap saja kucing hitam itu sudah menghilang entah kemana, lalu didengarnya suara gemuruh air terjun.

Ditengah gunung seluas ini dan suara gemuruh air terjun yang menggelegar menimbulkan kumandang suara yang tiada hentinya itu, Lui-ji menjadi bingung dan tak dapat membedakan arah letak air terjun.

Dalam keadaan demikian, Lui-ji merasakan dirinya benar-benar sangat kecil di alam ini, memanggil langit tidak terjawab, menyebut bumi tidak digubris.

Tapi dia tidak menyesal sedikitpun. Baginya, asalkan dia sudah dekat dengan Ji Pwe-giok yang dicarinya itu, sedikit capek lelah ini sama sekali tidak ada artinya.

Begitulah ia membangkitkan semangat dan bertekad terus mendaki ke atas, paling tidak kucing hitam tadi harus ditemukan.

Pada saat itulah baru saja dia hendak melangkah pula, tiba-tiba dari belakang terjulur tiba sebuah tangan yang indah, seketika pergelangan tangan Lui-ji terpegang.

Ditengah malam sunyi, di pegunungan sepi, kejadian ini sungguh sangat mengejutkan.

Tentu saja Lui-ji merinding, tanpa kuasa tubuhnya terus ditarik memutar balik oleh tangan yang indah itu.

Sekilas pikir Lui-ji mengira dirinya bertemu dengan hantu. Tapi baru saja pikiran demikian terlintas dalam benaknya, apa yang dilihatnya segera ternyata seorang perempuan yang amat cantik dengan gayanya yang anggun.

“Haya!” Lui-ji berteriak kaget.

Sungguh tak terduga, setelah melihat jelas orang yang memegang tangannya adalah seorang perempuan cantik berbaju hitam, sungguh kagetnya melebihi melihat setan iblis, saking kagetnya, dan juga lantaran lelahnya, ia jatuh terduduk.

“kau…” terbelalak mata Lui-ji dan tidak sanggup bersuara lagi.

“Betul, aku. Tak kau duga bukan?!” kata perempuan cantik itu, siapa lagi dia kalau bukan Ki Pi-ceng.

Lui-ji gelagapan dan tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Ki Pi-ceng lantas berkata pula, “Pernah ku puji kau ini anak perempuan yang baik, mengapa mendadak kau tidak penurut lagi?”

Setelah berhenti sejenak, lalu ia menyambung, “Tadinya kukira kau ikut Hay Tong jing pulang ke gunung, siapa tahu kau kabur ditengah jalan sehingga aku kecelik.”

Mendadak Lui-ji meronta bangun dan berteriak. “Mengapa aku harus tunduk kepada kehendakmu?”

Suara cukup keras dan sikapnya tegas, mendadak ia menjadi tabah.

“Sebab orang yang tunduk kepadaku tentu takkan susah, tapi kau ternyata tidak mau menurut.” Kata Ki pi-ceng.

Lui-ji tambah berani, ia bertolak pinggang dan mendengus, “Hm, sekarang juga aku tidak merasa susah, bahkan pasti tidak akan tunduk kepada perintahmu, selamanya jua aku tidak pernah susah.”

“Itu kan belum kau rasakan,” ujar Ki Pi-ceng dengan tertawa. “Apabila kau mulai merasa susah, tentu kau akan menyesal.”

Lui-ji melengak, katanya, “Aku tidak mengerti apa arti ucapanmu ini?”

“Masa perlu kujelaskan?” kata Ki Pi-ceng. “Baiklah, biar kau tambah pengalaman.”

Mendadak Lui-ji merinding, lamat-lamat ia merasakan gelagat tidak enak.

Terdengar Ki Pi-ceng menyambung lagi. “Petang tadi jejakmu sudah ku ikuti, bahkan mengikut pula banyak kawanku”

“Apa? kawanmu? Siapa? Di mana?” Teriak Lui-ji dengan gugup.

Ki Pi-ceng tertawa, katanya, “Wah, banyak sekali jumlah mereka. ada diantaranya Ji Hong-ho, Ki Go-ceng, Lo-cinjin, Hu-patya dan lain-lain lagi, sukar dihitung satu persatu. Mereka sudah menuju ke air terjun sana. Tahukah kau untuk apa mereka pergi ke sana?”

Lui-ji tidak menjawab, tapi mukanya menjadi pucat.

Ki Pi-ceng berkata pula, “Kepergian mereka ke sana adalah untuk menjenguk seorang tamu terhormat, sedangkan tamu terhormat itu adalah orang yang sedang kau cari dengan segala daya upaya, tanpa petunjukmu tentu sukar bagi kami untuk menemukan dia. Coba bayangkan, bukankah yang rugi dan bakal susah ialah dirimu?”

Seketika kepala Lui-ji seperti dikemplang satu kali, ia berdiri mematung dan tak sanggup bersuara.

“Nah, ucapanku tidak salah bukan?” kata Ki Pi-ceng pula. “Anak perempuan yang tidak menurut tentu akan susah sendiri, semoga kejadian seperti ini jangan terulang pula.”

Lui-ji tidak menghiraukan ejekan orang, mendadak ia berpaling ke sana dan berteriak sekeras-kerasnya, “Ji-Kongcu, akulah yang membikin susah padamu!”

Menyusul ia terus melompat ke sana. Tapi peristiwa aneh segera terjadi.

Baru saja ia berlari dua-tiga langkah, dari belakang tiba-tiba timbul semacam daya isap yang sangat kuat, kontan dia tertarik balik mentah-mentah.

Jelas itulah perbuatan Ki Pi ceng.

Air mata Lui-ji bercucuran, ucapnya, “Cianpwe, akulah yang menyiarkan Giam-ong-ceh, jika mau membunuh boleh bunuhlah diriku, tapi jangan membikin susah Ji-kongcu.”

Ki Pi-ceng menggeleng, katanya, “Tampaknya kekuatan cinta memang maha besar, bahkan orang rela mati baginya.”

“Memang, ku rela mati asalkan tidak membikin susah dia,” seru Lui-ji dengan menangis. “Biarlah aku mati seratus kali… seribu kali… ku rela…”

Mendadak nada ucapan Ki Pi-ceng berubah menjadi ketus “Hm, urusan di dunia ini memang serba aneh, orang yang pantas mati biarpun ingin lari juga tidak bisa lolos, orang yang tidak harus mati, ingin matipun sukar.”

Lui-ji melengak pula, tanyanya, “Cianpwe, kau bilang siapa tidak pantas mati?”

“Kau anak perempuan yang pintar, tentunya dapat kau bedakan,” kata Ki Pi-ceng.

Seketika Lui-ji seperti terperosot ke jurang, ia menyadari tiada gunanya memohon belas kasihan orang, ia menangis keras-keras, mendadak ia berlari pula ke pinggang gunung.

“Blang”, tahu-tahu ia menyeruduk sesuatu, kontan ia terpental balik.

Rupanya dia terlalu gugup dan tergesa-gesa, yang dipikir hanya lari secepat-cepatnya sehingga entah apa yang ditubruknya, tapi begitu ia menengadah dan melihat jelas, seketika ia menjerit tertahan.

Hah, Leng-kui adanya!

Betul, inilah Leng-kui yang ajaib dan tidak pernah mati itu, senyumannya yang seram, pakaian hitam yang ketat, ikat pinggangnya yang merah dan sebilah golok melengkung terselip di ikat pinggangnya…

Saking kagetnya Lui-ji mendekap mukanya dan tidak berani memandang pula.

“Bawalah dia pulang ke gunung,” demikian pesan Ki Pi-ceng kepada Leng-kui.

Baru lenyap suaranya, serentak Ki Pi-ceng melayang ke atas, gerakannya jauh lebih cepat dari pada Leng-kui, dalam sekejap saja sudah menghilang.

Segera Leng-kui mencengkeram Lui-ji. Kalau Leng-kui ibaratnya elang, maka Lui-ji tepat seperti anak ayam.

Mendingan jatuh dalam cengkeraman orang lain, tapi Lui-ji jatuh dalam cengkeraman makhluk aneh ini, keruan ia ketakutan setengah mati.

Leng-kui menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, katanya, “Anak perempuan harus menurut, marilah kita pulang ke gunung.”

Saking seramnya, pikiran Lui-ji menjadi jernih malah, ia sempat melolos belati terus menikam tubuh Leng-kui.

“Crat”, darah muncrat, dada Leng-kui berlubang.

Akan tetapi Leng-kui tetap menyeringai seram, ucapnya, “Eh, kenapa kau lupa lagi, selamanya Leng-kui takkan mati.”

Hampir saja Lui-ji semaput saking ngerinya.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang berteriak, “Lui-ji! Lui-ji!…”

Lamat-lamat Lui-ji merasa suara itu seperti suara Hong-saceknya, hati tergetar, serentak ia siuman kembali.

Cepat iapun berteriak, “Sacek… Sacek…”

Baru berteriak dua-tiga kali, tahu-tahu ia merasa dirinya sudah berubah seperti sehelai kertas yang tertiup angin dan melayang di udara.

Iapun melihat sesosok bayangan kelabu secepat terbang lagi melayang ke arah sini, lamat-lamat dapat dikenalnya pendatang ini ialah Hong-saceknya.

Dengan Ginkang secepat terbang memang betul Hong Sam sedang memburu ke sini, tapi dia hanya sempat melihat Lui-ji dipanggul oleh sesosok bayangan hitam, lalu seperti asap buyar tertiup angin, dalam sekejap saja sudah menghilang.

Keruan Hong Sam terkesiap, sungguh ia tidak tahu Ginkang apakah bisa secepat itu?

Tak terpikir oleh Hong Sam bahwa yang membawa lari Lui-ji itu ialah Leng-kui, tapi ia merasa bingung untuk mengejarnya.

Pada saat itulah, terdengar angin berkesiur, beberapa bayangan orang melayang keluar dari kaki gunung dang menuju ke air terjun.

Hong Sam tahu gelagat tidak enak, tidak sempat lagi memikirkan Lui-ji, sekali lompat, secepat terbang ia menuju ke tempat Pwe-giok berlatih kungfu itu.

Sesudah dekat, dilihatnya beberapa tombak di luar air terjun sana berdiri tiga orang, Ki Pi-ceng berdiri ditengah diapit oleh Ki Go-ceng dan Ji Hong-ho. Dengan tiga pasang mata yang jelalatan mereka sedang mencari orang yang membentak agar mereka jangan maju lebih jauh lagi.

Sedetik, dua detik, tiga detik… Sungguh aneh, dengan ketajaman mata mereka, jangankan malam ini di cakrawala dihiasi sang dewi malam, sekalipun tanpa sinar bulan, seekor tikus ditengah semak pohon saja dapat mereka temukan dengan cepat. Tapi sekarang sinar mata mereka telah menjelajahi segenap pelosok air terjun itu dan tetap tidak melihat sesuatu.

Ki Go-ceng tidak tahan, dengan gusar ia berteriaknya, “Siapa itu yang bicara tadi? kalau tidak perlihatkan dirimu segera akan kumaki kau!”

Mendadak seorang dengan suara melengking berteriak, “Orang tua berada tidak jauh di depan kalian, apakah mata kalian sudah buta semua, masakah tiada seorangpun melihat diriku?”

Sekali ini ketiga orang itu dapat mendengar dengan jelas, suara itu bergema dari onggokan batu yang terletak beberapa tombak di depan mereka sana.

Dengan pandangan setajamnya mereka mencari pula, tapi tetap tidak menemukan orang bersembunyi didalam onggokan batu itu, hanya tertampak sepotong batu raksasa seperti sedang bergerak-gerak.

“Huh, kiranya dia!” jengek Ki Pi-ceng.

“Siapa?” tanya Ki Go-ceng dengan heran.

“Coba kau perhatikan batu yang bergerak itu, apakah betul-betul batu?” ujar Ki Pi-ceng.

Waktu Ki Go-ceng memandang secermatnya, lalu berkata, “Ya, batu itu lebih mirip sebuah karung warna kelabu.”

“Betul, warnanya serupa batu, kalau tidak bergerak, hakekatnya tak ketahuan bahwa benda itu adalah sebuah karung yang ada isinya,” kata Ki Pi-ceng. “Kecuali orang goblok yang melebihi babi, kalau tidak tentu dapat kau pikirkan siapa yang kita hadapi ini.”

Setelah termenung sejenak, akhirnya Ki Go-ceng menepuk dahi sendiri dan berteriak, “Ah, betul, rupanya kita sedang berhadapan dengan Po-te Siansing.”

“Hahaha, kawan kerdil, hanya separuh tepat terkaanmu!” mendadak seorang bergelak tertawa di sana. “Awas, tangkap!”

Baru lenyap suaranya, isi karung itu menggelinding keluar dengan cepat luar biasa, secara tepat benda itu lantas berhenti setelah menggelinding sampai di depan ketiga orang.

Hah, karung itu terikat erat mulutnya, isinya pasti manusia, hal ini terbukti karena dapat bergerak-gerak.

Ki Go-ceng yakin isi karung itu pasti si tua bangka Tangkwik, memang cara beginilah biasanya Tangkwik-siansing main sembunyi dan menggoda orang. Tanpa pikir segera ia hantam karung itu, “blang-blang”, kontan terdengar suara jeritan di dalam karung. Mulut karung yang terikat juga pecah dan meluncur keluar satu orang dengan mulut tumpah darah.

Seketika air muka Ki Go-ceng berubah, sikapnya menjadi serba susah seperti kera makan terasi.

Ki Pi-ceng dan Ji Hong-ho terkejut.

Isi karung itu memang benar-benar sangat mengejutkan dan di luar dugaan siapapun. Yang menggelinding keluar ini bukanlah Po-te Siansing alias Tangkwik-siansing melainkan Thian-sip-sing, si tukang gegares, yang kini terluka parah karena pukulan Ki Go-ceng.

Ki Pi-ceng bertiga bukan cuma terkejut saja, bahkan melongo tak mengerti. Sebab Thian-sip-sing adalah komplotan mereka yang datang bersama untuk membikin perhitungan dengan Ji Pwe-giok, beberapa saat yang lalu bahkan masih bersembunyi bersama kawan yang lain, siapa tahu sekarang telah ditawan oleh Tangkwik-siansing dan dimasukkan ke dalam karung, malahan dengan meminjam tangan Ki Go-ceng si tukang gegares ini dihantamnya hingga terluka parah.

Maka terdengar gelak tertawa pula dibalik onggokan batu, waktu semua orang memandang kesana, tertampaklah Tangkwik-siansing lagi nongkrong di atas batu dan sedang tertawa terkial-kial.

Ukuran jenggot Tangkwik-siansing yang luar biasa memang tidak sebanding dengan tubuhnya yang kecil, sekarang menongkrong di atas batu dan terkial-kial sehingga kelihatannya menjadi sangat lucu.

Tapi ketiga orang di hadapannya ini tiada satupun dapat tertawa, sebaliknya mereka melotot gusar ke arah Tangkwik-siansing.

Tapi dengan santai Tangkwik-siansing lagi membetulkan jenggotnya yang panjang itu, katanya, “Eh, tumben kalian bertiga pesiar bersama, mengapa kalian suami istri bertiga tidak mengeram di dalam kamar, tapi jauh-jauh datang ke pegunungan sepi ini untuk mencari diriku? Memangnya kalian ingin cari lawan berkelahi?”

Sindiran Tangkwik-siansing itu benar-benar sangat menusuk perasaan Ki Pi-ceng. Muka Ki Go-ceng dan Ji Hong-ho juga merasa panas, sungguh kalau bisa mereka ingin membinasakan Tangkwik-siansing dengan sekali hantam.

Sejenak kemudian, setelah menenangkan diri, Ki Pi-ceng berkata, “Tangkwik-siansing adalah tokoh terkemuka dan terhormat, apabila kutanya sesuatu padamu, tentunya engkau akan bicara terus terang dan takkan berdusta”

“Hah, betapapun Bak-giok Hujin memang lihay, dengan satu kata saja aku lantas terikat untuk tidak berdusta” ujar Tangkwik-siansing.

“Sekarang ingin kutanya, apakah Ji Kongcu berada di tempatmu ini?”

“Jika kalian mencari ke sini, apakah aku dapat menyangkal lagi?”

“Bagus jika kau sudah mengaku” kata Ki Pi-ceng. “Sekarang ingin ku bicara beberapa kata langsung dengan dia”

Tangkwik-siansing tampak melengak, katanya, “Eh, jangan-jangan kau suruh dia membunuhku lagi?”

Ki Pi-ceng tampak kikuk, katanya kemudian, “Hal ini adalah kesalahan siasatku, seharusnya kubunuh dia, dengan memegang Giam-ong-ceh dan Po-in-pai, maka seluruh dunia persilatan akan berada dalam genggamanku”

“Wah, sungguh aku sangat beruntung, untuk pertama kalinya selama hidupmu kau mau mengaku salah di depan orang”

Ki Pi-ceng tersenyum kecut, ucapnya, “Tapi sudah terlambat, segalanya sudah terlambat. Hanya ada sesuatu persoalan yang belum lagi terlambat.”

“Oo, persoalan apa?” tanya Tangkwik-siansing.

“Bunuh dia!” ucap Ki Pi-ceng dengan penuh dendam.

Keras dan tegas ucapannya ini, jelas tidak kepalang bencinya terhadap Ji Pwe-giok.

“Jika demikian, tentu kau akan menyesal satu kali lagi,” kata Tangkwik-siansing.

“Memangnya kenapa?” tanya Ki Pi-ceng.

“Sebabnya akulah yang menyiarkan Gian-ong-cek ke dunia Kangouw.”

“Apakah betul?” Ki Pi-Ceng menegas dengan melengak.

“Tindakan ini kan tidak mendatangkan hadiah, untuk apa kau mencari muka?” jawab Tangkwik-siansing.

“Jika demikian, paling-paling kaupun cuma perantara saja, yang ingin kucari adalah biang keladinya.”

“Jadi sudah pasti kau tuduh bocah itu?”

“Ya, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat mengubah penderitaanku.”

“Jika kupaksakan diri memikul tanggung jawab ini?” tanya Tangkwik-siansing.

Semoga ucapan ini karena Tangkwik-siansing salah omong atau aku salah dengar, kalau tidak, silahkan kau tarik kembali ucapanmu.”

“Maaf kalau boleh kusitir ucapanmu, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini dapat mengubah penderitaanku.” kata Tangkwik-siansing.

“Jika demikian, urusan menjadi rada ruwet,” kata Ki Pi-ceng dengan menyesal.

“Persoalan ini juga tidak sederhana,” ujar Tangkwik-siansing. “Sekalipun kau mau menyudahi urusan ini juga tidak dapat lagi.”

Ki Pi-ceng melengak, tanya, “Agaknya ada maksud tertentu ucapanmu ini, dapatkah kau bicara dengan lebih jelas?”

“Kukira ada baiknya kau linglung untuk sementara, selekasnya tentu kau paham persoalannya.”

Jika tidak mau kau lakukan, aku pun tidak perlu mendesak lagi. Mengingat sesama orang persilatan, biarlah kugariskan dua jalan bagimu dan silahkan Tangkwik-siansing memilihnya.”

“Coba katakan,” jawab Tangkwik-siansing.

Mendadak suara Ki Pi-ceng berubah kereng, katanya, “Pertama, serahkan Ji-kongcu dengan segera, persoalannya akan diputuskan oleh sidang umum dunia persilatan.”

“Bandit besar dari gurun utara It-koh-yan, dengar tidak kau?” teriak Tangkwik-siansing mendadak.

Ji Hong-ho kelihatan melengak, tanyanya, Siapa yang kau maksudkan?”

“Yang kumaksudkan ialah Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho, Anda sendiri!” seru Tangkwik-siansing.

“Hm, tampaknya Anda sudah linglung sehingga tidak kenal orang lagi?” jengek Ji Tok-ho.

“Ji Tok-ho,” kata Tangkwik-siansing, “di dalam Giam-ong-ceh, seluk beluk dirimu tercatat dengan jelas, kukira tidak perlu lagi kau berlagak pilon, kalau terus berlagak lagi bisa segera kujadikan kau asap buyar benar-benar.”

Air muka Ji Tok-ho tampak merah padam dan tidak dapat bersuara lagi.

“Apa yang dikatakan Ki-hujin tadi sudah kaudengar tidak?” tanya Tangkwik-siansing.

“Tentu, itulah usul yang tepat dan pantas,” kata Ji Tok-ho.

“Tapi usulnya dapat kuberi tamsil mengadukan perampok di sarang bandit,” kata Tangkwik-siansing. “Maka jalan ini tidak kutempuh, coba saja jalan kedua?”

“Nah, Ki-hujin, sekarang boleh kau sebutkan jalan kedua,” ujar Ji Tok-ho.

“Mati!” hanya satu kata saja diucapkan Ki Pi-ceng.

Tangkwik-siansing bergelak tertawa sambil mengelus jenggotnya yang panjang, ucapnya, “Usul ini lebih lebih tidak dapat kuterima. Setua ini belum pernah kunikah, kalau harus mati sekarang, cara bagaimana aku akan bertanggung jawab terhadap Giam-lo-ong? Kedua jalan yang digariskan Ki-hujin jelas tak dapat kuterima. Bagaimana kalau kita bicara saja tentang jalan ketiga.”

“Jalan ketiga apa?” Ki Pi-ceng melengak.

“Setiap suka duka, setiap dendam dan benci orang Kangouw memang perlu diselesaikan secara tuntas,” kata Tangkwik-siansing. “Maka berikan waktu tujuh hari padaku, sesudah itu, andaikan kalian tidak mencari bocah itu, tentu juga dia akan mencari kalian, tatkala mana segalanya tentu dapat dibereskan seluruhnya.”

Mendadak Ki Go-ceng meraung, “Setan tua Tangkwik, jangan kau main siasat ulur waktu?”

“Eh, yang bicara apakah sahabat kerdil? Kenapa baru sekarang kau bicara?” ejek Tangkwik-siansing.

Mendadak sesosok bayangan menubruk tiba, menerjang Tangkwik-siansing. Siapa lagi dia kalau bukan Ki Go-ceng yang murka itu.

Daya tubruknya sungguh sangat dahsyat, tertampak Tangkwik-siansing mengebutkan jenggotnya yang panjang, menyusul tubuhnya lantas mengapung ke atas. “Blang” ia sambut pukulan lawan dengan tepat.

Angin keras berjangkit, adu pukulan itu dilakukan kedua orang dengan sama terapung di udara, seketika timbul damparan angin keras, waktu turun ke bawah tubuh Tangkwik-siansing terhuyung mundur dua tiga tindak, sebaliknya Ki Go-ceng tergulung oleh angin dahsyat itu dan berputar-putar beberapa kali di udara dan “brak’, ia terbanting jatuh di tempat semula.

Wajah Ki Go-ceng pucat seperti mayat, ujung mulut juga berdarah, seketika tidak sanggup merangkak bangun.

“Hm, hebat benar Bu-siang-sin-kang Tangkwik-siansing kita,” jengek Ki Pi-ceng. “Tapi perlu kuperingatkan padamu, malam ini selain hadir kami bertiga, di sekitar sini sedikitnya bersembunyi belasan tokoh kelas tinggi, mungkin tidak mudah kau bereskan sebagaimana kau duga.”

Sinar mata Tangkwik-siansing gemerdep dan menyapu pandang sekelilingnya…

Memang betul, bayangan orang bergerak di sana-sini, belasan tokoh Bu-lim serentak muncul dari tempat gelap seperti badan halus saja.

“Masih ada tidak? Biarlah kubereskan saja sekalian supaya anak itu tidak perlu repot lagi,” kata Tangkwik-siansing.

“Jika demikian, tampaknya kalau belum sampai di tepi jurang, Tangkwik-siansing belum juga putus asa?” ujar Ki Pi-ceng.

“Anggaplah kau bicara bagiku, sebelum tahu bagaimana lihainya Bu-siang-sin-kang, agaknya kalian pun tidak mau pergi,” jawab Tangkwik-siansing dengan sama tajamnya.

Dalam pada itu belasan bayangan orang ini sudah semakin dekat, semuanya berdiri di belakang Ki Pi-ceng. Sungguh luar biasa, hampir segenap tokoh ternama telah hadir.

Ki Pi-ceng tertawa, katanya, “Tangkwik-siansing tampaknya yakin benar akan kelihaian sendiri, mungkin kau kira kami tak dapat menemukan Ji-kongcu, jika demikian halnya, maka salahlah kau.”

Tangkwik-siansing melengak, sorot matanya yang tajam menatap wajah Ki Hi-ceng.

Segera Ki Pi-ceng menyambung, “Biarlah kita buka kartu saja secara terus terang, supaya urusan bisa lekas diselesaikan. Memangnya kau kira kami tidak tahu Ji-kongcu bersembunyi di belakang air terjun sana?”

Kembali Tangkwik-siansing melengak, mau tak-mau ia merasa kagum terhadap ketajaman mata lawan.

“Tangkwik-siansing,” kata Ki Pi-ceng pula. “Sekarang kuberi lagi suatu kesempatan padamu, bermusuhan dengan setiap tokoh Bu-lim bukanlah sesuatu yang menguntungkan.”

Waktu Tangkwik-siansing menoleh, dilihatnya Hong-sam dan Tangkwik-ko sudah berjaga di samping air terjun itu, maka hatinya tambah tabah.

Dengan tiga orang harus menghadapi tokoh Bu-lim sebanyak ini, jelas kekuatan mereka terasa sangat tipis, tapi keadaan sudah kadung begini, tiada pilihan lain baginya.

Tangkwik-siansing menjadi nekat, teriaknya, “Ayolah maju! Boleh kalian bertiga maju sekaligus! Tapi ingin kuperingatkan lebih dulu, jangan lupa julukanku yang sebuah karung dapat mengisi seluruh jagat ini, jika cuma kalian bertiga saja tentu belum dapat memenuhi karungku.”

Jangan dikira kata-kata Tangkwik-siansing ini seperti banyolan belaka, secara tidak kelihatan justru menimbulkan pengaruh psikologis terhadap kawanan tokoh Bu-im itu.

Seperti diketahui, dalam perjamuan ulang tahun Hu-patya tempo hari, ketika mendengar munculnya “si tuan karung”, seketika semua orang lari terbirit-birit, apalagi sekarang berhadapan langsung dengan orangnya.

Walaupun keadaan sekarang belum sampai terjadi seperti tempo hari, tapi sudah ada sebagian hadirin itu merasa ngeri dan diam-diam sudah ambil keputusan akan putar haluan apabila keadaan berbahaya.

Sampai di sini, pertempuran tidak mungkin bisa dihindarkan lagi.

Mendadak Ji Tok-ho berteriak, “Lo-cinjin, bawalah beberapa kawan dan menghadapi Tangkwik-ko.”

kini Ji Tok-ho telah memperlihatkan wibawanya selaku Bu-lim-bengcu, ketua perserikatan dunia persilatan yang berkuasa.

Lo-cinjin mengiakan, segera ia berlari pergi membawa beberapa orang temannya.

Lalu Ji Tok-ho berpaling dan berteriak pula, “Hi Soan!”

“Siap!” seru Hi-soan.

“Bawalah beberapa kawan dan hadapi Hong Sam, Ji Pwe-giok harus ditawan hidup-hidup untuk diadili atas segala perbuatannya selama ini,” kata Ji Tok-ho.

Hi Soan juga mengiakan dan berlari pergi dengan beberapa kawannya.

Sekarang di tengah kalangan hanya tersisa dua setengan orang, kecuali Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho, Ki G0-ceng sudah terluka, maka dia hanya dapat dihitung setengah orang.

Dengan sorot mata membara Ji Tok-ho melototi Tangkwik-siansing, katanya, “Asalkan karungmu cukup longgar, malam ini kurela terisap ke dalam karungmu, pendek kata, antara kita harus ada penyelesaian yang tuntas.”

Belum lenyap suaranya, serentak ia mengapung ke atas terus menubruk maju, “Brak-brek-brak” kontan dia menghantam tiga kali.

Tapi dia sangat licin, waktu Tangkwik-siansing balas menyerangnya, cepat ia melompat mundur lagi.

Jelas kelihatan ia sangat jeri terhadap kelihaian Bu-siang-sin-kang, sebab itulah dia tidak berani menangkisnya dengan keras lawan keras.

Pukulan Tangkwik-siansing memang sangat mengejutkan, angin mendampar sekeliling kalangan, debu pasir beterbangan, seketika di sekitar orang tua ini seakan-akan terbentuk selapis dinding hawa yang sukar ditembus.

Diam-diam Ki Pi-ceng terkejut, mau tak-mau ia harus mengakui kelihaian setan tua tangkwik-siansing, jelas orang sudah nekat dan siap mengadu jiwa.

Di tengah deru angin yang keras, “brek-brek”, terjadi beberap kali gebrakan, tapi Ji Tok-ho tidak mampu menangkis, untung dia mengutamakan berkelit dan menghindar, kalau tidak tentu dia sudah roboh terluka oleh Bu-siang-sin-kang.

Pada saat itulah, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang ke tengah medan pertempuran.

Itulah Bak-giok hujin Ki Pi-ceng.

Begitu kedua tangannya ditarik ke depan dada, menyusul lantas ditolak ke depan. “Blang”, terdengar suara benturan keras, terjadi kontak langsung antara kedua tokoh utama itu.

Ki Pi-ceng telah mengeluarkan kungfu andalannya “Sian-thian-ceng-gi” beradu dengan Bu-siang-sin-kang.

Dua bayangan segera terpencar lagi, berturut-turut Ki Pi-ceng menyurut mundur, sedangkan Tangkwik-siansing juga bergeliat, jenggotnya yang panjang bergoyang terdampar angin pukulan sehingga mirip boneka si kakek di toko mainan anak-anak.

Dengan pandangan tercengang Ki Pi-ceng menatap orang tua itu.

Sebaliknya Tangkwik-siansing juga sedang melotot dengan matanya yang kecil itu.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong serangkum angin pukulan dahsyat menyambar tiba dari beakang Tangkwik-siansing.

Tapi mendadak orang tua itu membentak, “Huh, terhitung Bu-lim-bengcu macam ini? Pandainya cuma main sergap dari belakang?!”

Berbareng dengan ucapannya itu, serentak ia berputar, Bu-siang-sin-kang bekerja cepat, suatu pukulan dahsyat dilontarkan ke belakang.

“Brak”, berjangkit suara orang jatuh.

Rupanya Ji Tok-ho tidak sempat menarik kembali serangannya sehingga tepat kena ditolak oleh Bu-siang-sin-kang, kontan ia terpental dan jatuh tersungkur.

Untung baginya, hanya terluka ringan saja dan tidak sampai mati.

Selagi Tangkwik-siansing henak menambah sekali pukulan lagi, pukulan Sian-thian-ceng-gi Ki Pi-ceng keburu menyambar tiba pula.

Dan begitulah, dengan satu lawan dua, Tangkwik-siansing menghadapi kerubutan Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho tanpa gentar.

Sembari bertempur, Ki Pi-ceng sembat memberi pesan kepada Ji Tok-ho, “Ji-bengcu, tempur dia dengan gerak cepat, sedapatnya menguras tenaganya.”

Sungguh celaka! Justru inilah yang dikuatirkan Tangkwik-siansing.

Maklumlah, Bu-siang-sin-kang paling banyak makan tenaga, sedangkan lawannya adalah tokoh besar kelas wahi, tanpa menggunakan Bu-siang-sin-kang jeas tidak mampu menandinginya.

Pada suatu kesempatan Tangkwik siansing coba mamandang ke sana…

Ternyata di samping kanan-kiri air terjun sana juga mulai terjadi pertempuran. Tangkwik-ko dan Hong Sam masing-masing menghadapi kerubutan beberapa tokoh bu-lim, berbareng itu mereka harus menjaga Ji Pwe-giok yang asyik berlatih Bu-siang-sin-kang, tentu saja mereka agak kerepotan dan berulang-ulang terancam bahaya.

Biji mata Tangkwik-siansing berputar, sedapatnya ia mencari akal.

Mendadak ia menghimpun tenaga murni pada kedua tangannya, sekonyong-konyong ia mendorong pada gundukan tanah yang terletak tidak jauh di sebelahnya.

“Blang”, terjadi guncangan keras seperti gempa bumi.

Karena getaran keras itu, mendadak gundukan tanah itu muncrat ke udara sehingga berubah menjadi segulung kabut tebal, mirip angin badai yang berjangkit di gurun pasir.

Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho sama terkejut.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Tangkwik-siansing untuk lolos dari kabut tanah itu, secepat terbang ia memburu ke arah air terjun.

Selagi orangnya melayang tiba, segera terdengar suara bentakannya yang menggelegar, “Ini dia Po-te Siansing, yang takut mati lekas lari, yang tidak takut mati boleh pergi menghadapi Giam-lo-ong!”

Baru lenyap suaranya; segera orangnyapun tiba di tempat itu, seperti burung elang menyambar anak ayam, lebih dulu ia menerjang Hi Soan.

Saat itu Hong Sam sedang menghadapi keroyokan rombongan Hi Soan, karena bentakan Tangkwik-siansing yang keras itu, ia menjadi bingung malah.

Bentakan Tangkwik-siansing itu tiada ubahnya sengaja memeberitahukan kepada musuh agar lekas lari. Padahal memang inilah maksud tujuan Tangkwik-siansing.

Nama “Po-te Siansing” yang gilang gemilang dan dapat membikin gentar atau merontokkan nyali setiap jago persilatan, sudah tentu tidak kecil efeknya bilaman nama itu ditonjolkan.

Padahal rombongan Hi Soan yang mengerubuti Hong Sam itu cukup kuat, tampaknya mereka sudah berada di atas angin. Tapi karena bentakan Tangkwik-siansing itu, seketika kuncup nyali mereka seperti tikus ketemu kucing, sekali berteriak, kontan mereka lari tunggang langgang.

Malahan tidak terbatas pada rombongan Hong Sam saja, bahkan rombongan Lo-cinjin juga terpengaruh dan sama lari ketakutan.

Hanya Lo-cinjin dan Hi Soan yang masih tertinggal disitu. Sebagai kepala rombongan, dengan nama mereka yang menonjol, kalau merekapun lari terbirit-birit oleh gertakan Tang Kwik- sian sing itu, kan bisa ditertawakan orang.

Dalam pada itu, seperti burung saja Tang Kwik- sian sing telah menubruk dari udara, belum lagi orangnya turun, lebih dulu tenaga Bu-siang-sin-kang sudah mendampar tiba.

Hi Soan yang menghadapi terjangan Tang Kwik- sian sing itu, terpaksa mengerahkan tenaga untuk menyambut pukulan lawan.

“Bluk,” terjadi benturan keras tenaga pukulan kedua orang itu, Hi Soan terpental dan jatuh terguling beberapa tombak jauhnya dan tidak dapat bangun lagi.

Dengan demikian tekanan terhadap Hong Sam menjadi longgar. Sedangkan di pihak Tang Kwik Ko sana, karena yang dihadapapinya sekarang juga tinggal Lo-cinjin saja, ia pun merasa ringan.

“Lihat pukulan, setan tua Tang Kwik!” mendadak bergema suara bentakan dari atas.

Suaranya berasal dari satu orang, tapi yang melayang tiba ada dua orang. Yang sebelah kiri adalah Ki Pi-ceng dan yang kanan Ji Hong-ho gadungan alias Ji Tok-ho.

Dengan sepenuh tenaga kedua orang menghantam, apalagi dari atas menghantam ke bawah, tentu saja luar biasa dasyatnya.

Agaknya mereka pun sudah mempertaruhkan segalanya, hidup atau mati bergantung pada serangan ini.

Tang Kwik- sian sing prihatin, iapun mengerahkan segenap tenaganya dan memapak serangan lawan.

Waktu tenaga pukulan kedua pihat kebentur lagi, kembali terbit suara keras dan damparan hawa yang dahsyat laksana badai mengamuk di tengah debu pasir yang berhamburan kelihatan bayangan orang berseliweran.

Sungguh luar biasa! Tang Kwik- sian sing tergetar mundur tiga empat tindak, setelah berdiri tegak, darah terasa bergolak dalam rongga dada, air muka pun sebentar merah dan sebentar pucat.

Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho menyerang dari atas, jelas posisi mereka lebih menguntungkan, walaupun begitu, menghadapi Bu-siang-sin-kang yang maha sakti itu merekapun tidak banyak menarik keuntungan, merekapun tergetar mundur beberapa tindak.

Sementara Hi Soan belum lagi merangkak bangun, ia berduduk di tanah dengan wajah pucat seperti mayat, jelas terluka parah.

Dengan murka Ji Tok-ho hendak menubruk maju lagi, tapi mendadak Ki Pi-ceng berteriak mencegahnya.

Dengan sorot mata tajam ia tatap Tangkwik-siansing, katanya, “Selama 40 tahun ini belum pernah ada orang berani main gila padaku”

“Dan orang tua ini harus dikecualikan bukan?” ujar Tangkwik-siansing.

“Permusuhan kita jelas sudah terikat erat”, kata Ki Pi-ceng. “Tapi tidak ingin kubereskan sekarang ini”

Tangkwik-siansing tertawa lebar, ucapnya, “Haha, kukira bukannya tak ingin, soalnya hasrat besar tenaga kurang, kenapa tidak kau katakan terus terang bahwa keadaanmu malam ini sudah tamat segalanya?”

“Terserah cara bagaimana akan kau katakan” kata Ki Pi-Ceng, “Hanya kau katakan kepada Ji-kongcu agar dalam waktu tiga hari dia datang ke tempatku untuk membereskan segala urusannya”

“Kalau dia tidak memenuhi waktu yang kau tentukan, lalu bagaimana?” tanya si kakek.

“Jika dia tidak datang menurut waktu yang kutentukan, terpaksa kami yang akan mencarinya lagi, dan untuk itu mungkin dia harus mengorbankan suatu nyawa lain yang perlu disayangkan” kata Ki Pi-ceng.

Tangkwik-siansing melengak, tanyanya, “Apa artinya ucapanmu ini?”

“Harus kau pikirkan sebaik-baiknya bahwa saat ini Lui-ji berada dalam cengkeramanku” jawab Ki Pi-ceng.

“He, telah kau apakan anak dara itu?” teriak Hong Sam dengan kuatir.

“Jangan cemas” ujar Ki Pi-ceng dengan tak acuh, “Sekarang dia berada dalam pengawasan Lengkui, dalam waktu tiga hari dia tidak akan diganggu, selewatnya tiga hari tentu tidak kujamin lagi keselamatannya”

Berkata sampai di sini, ia lantas memberi tanda kepada Ji Tok-ho. Segera Ji Tok-ho memanggul Hi Soan dan dibawa pergi dengan cepat.

Selagi Ki Pi-ceng hendak pergi juga, sekonyong-konyong angin pukulan dahsyat menyambar tiba. Tanpa pikir tenaga Sian-thian-ceng-gi lantas dikeluarkan untuk menangkis, kontan Hong-sam yang menyerang itu tergetar mundur dus-tiga tindak.

“Hm, kau juga ingin bergebrak denganku?” jengek Ki Pi-ceng.

Hong Sam mendelik, “Pendek kata, kalau Lui-ji tidak kau serahkan, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini.”

“Huh, memangnya kau mampu menahanku disini?” jengek Ki Pi-ceng. “Sudah tentu, jika kau minta bantuan Tangkwik-siansing tentu adalah soal lain. Cuma perlu kuperingatkan kau lebih dulu sebelum kau bertindak sesuatu.”

“Peringatan pa?” tanya Hong Sam.

“Jangan lupa, Lengkui adalah ciptaanku, aku lah yangmengemudkikan dia, antara dia dan aku ada kontak batin (semacam telepati), asalkan timbul sesuatu pikiran ku, seketika Leng-kui akan membinasakan Cu Lui-ji.”

“Kau berani?!” teriak Hong sam dengan murka.

“Memangnya aku tidak berani?” jengek Ki Pi-ceng. “Berani atau tidak, jika perlu boleh kau coba serang lagi diriku.”

Serentak Hong Sam angkat tangannya dan siap menyerang pula.

Tapi pada saat terakhir, mendadak ia urungkan maksudnya, sorot matanya yang membara itu seakan-akan ingin membakar musuhnya, ia pandang Ki Pi-ceng dengan murka.

Ki Pi-ceng tertawa senag, tertawa kemengangan, ia tahu lawan benar-benar mati kutu oleh ancamannya.

Dengan mengejek Ki Pi-ceng berkata pula, “Wah, sungguh bijaksana dan harus dipuji bawa Hong-siansing dapat mengendalikan diri pada detik terakhir menghadapi maut. Baiklah, hendaknya jangan kau lupa menyampaikan pesanku kepada Ji-kongcu tentang batas waktu tiga hari, pada saatnya nanti akan kusambut dengan hormat kedatangannya.”

Habis berkata, dengan gemulai ia memutar tubuh dan menghilang dalam kegelapan.

Dalam pada itu Lo-cinjin dan Tangkwik Ko masih saling labrak dengan sengit.

Tidak kepalang dahsyat pukulan Lo-cinjin, berbareng mulutnya juga berteriak dan membentak terus-menerus.

Sekonyong-konyong dilihatnya di belakang terlah bertambah dua orang, mereka ialah Hong Sam dan Tangkwik-siansing.

Lo-cinjin terkejut dan berhenti menyerang sambil melompat mundur.

“He, hidung kerbaa, apakah benar-benar hendak kau jual nyawa bagi Ki Pi-ceng?” tanya Tangkwik-siansing dengan tertawa.

“Siapa bilang kubela dia? Aku kan tidak menaksir dia,” jawab Lo-cinjin dengan mendelik.

“Jika begitu, jadi kau berjuang membela Bilim-bengcu?” tanya pula si kakek.

Tambah besar mata Lo-cinjin mendelik, ucapnya, “Huh, lelbih-lebih tidak bisa jadi, memangnya kau kira Lo-cinjin orang yang suka menjilat dan mengekor?”

“Jika demikian, aku menjadi bingung, memangnya untuk apa kau tinggal di sini an mengadu jiwa ?”

“Hm, kenapa kau perlu bertanya lagi?” jengek Lo-cinjin. “Soalnya, mengapa bocah she Ji itu membeberkan urusanku yang memalukan di masa lampau, uaitu yang tercatat dalam buku Giam-ong-ceh?”

Biji mata Tangkwik-siansing yang kecil itu berputar, katanya, “Oya, rasanya aku juga membaca catatan mengenai dirimu di dalam Giam-ong-ceh itu, kalau tidak salah, konon kau pernah berlutut di hadapan Siau-hun-kiongcu, bukan kau minta ampun padanya, tapi kau ingin melamarnya sebagai isterimu.”

“Betul,” kata Lo-cinjin.

“Huh, masakah untuk persoalan sekecil ini pantas bagimu untuk mengadu jiwa?” jengek Tangkwik-siansing.

“Bagiku, kejadian itu adalah noda besar dan memalukan,” kata Lo-cinjin. “Kau tahu, nama atau kehormatan adalah jiwaku yang kedua.”

“Kukira urusan ini tidak perlu dipersoalkan lebih lanjut.” kata Tangkwik-siansing. “Kau tahu, aku pun pernah jatuh cinta kepada seorang nikoh jelita, lelaki cinta kepada perempuan, ialah kodrat, kenapa mesti malu.”

“Sungguh tidak kusangka kau bisa bicara blak-blakan begini,” ujar Lo-cinjin dengan heran.

“Biarlah kukatakan lagi terus terang, sesungguhnya akulah yang mewakili Ji-kongcu menyiarkan catatan dalam buku Giam-ong-ceh itu,” tutur Tangkwik-siansing.

“Jika betul demikian, aku menjadi lebih tidak mengerti apa maksud tujuanmu?” tanya Lo-cinjin. “Masakah kaupun tidak segan-segan menyiarkan perbuatanmu sendiri yang kurang terpuji itu?”

“Hal ini sangat sederhana jika kujelaskan, ” kata Tangkwik-siansing. “Segala sesuatu ini adalah demi pembaharuan Bu-lim secara tuntas.”

“Demi pembaharuan dunia persilatan masakah termasuk urusan tetek bengek yang brengsek ini? ” kata Lo-cinjin.

“Betul, untuk pembaharuan seluruh Bu-lim secara tuntas harus dimulai dengan memperbaiki karakter, moral dan tindak-tanduk setiap orang Bu-lim, “tutur Tangkwik-siansing, ” Dengan menyebar-luaskan isi Giam-ong-ceh itu, diharapkan selanjutnya akan memaksa para anggota Bu-lim supaya mengoreksi tindak-tanduk sendiri di masa lampau. Dengan demikian tentu akan besar efeknya bagi ketentraman dunia persilatan. Tidak terlalu lama lagi seluruh dunia persilatan pasti akan lebih segar dan teratur dengan baik, selamanya takkan terjadi lagi bunuh-membunuh tanpa bermoral. ”

“Akan tetapi kerugian nama baikku…” Lo-cinjin masih juga kurang mantap.

“Apa artinya kejadian itu?” ujar Tangkwik-siansing, “Pada waktu muda, siapa yang tidak pernah berfoya-foya?”

Lo-cinjin menunduk, ia bergumam, “Ehm, kedengarannya perkataanmu cukup beralasan.”

“Tapi pembaharuan Bu-lim secara tuntas sekali ini, sudah barang tentu ada sementara orang yang tidak terlepas dari pembersihan, dosa mereka tidak dapat diampuni sehingga mereka harus mendapat ganjaran yang setimpal,” demikian Tangkwik-siansing menambahkan.

“Siapa-siapa saja yang kau maksudkan?” tanya Lo-cinjin.

“Apakah kau tahu persoalan Bu-lim bengcu sekarang, si Ji Hong-ho?” tanya Tangkwik-siansing.

“Tentu saja tahu, kan cukup jelas catatan dalam Giam-ong-ceh yang sudah tersiar itu?” jawab Lo-cinjin.

“Bagus, tapi sekarang kuharap dengan mulutmu sendiri dapat kau sebutkan bagaimana duduk perkaranya mengenai orang she Ji itu?”

“Aslinya dia adalah bandit gurun pasir yang berjuluk It-koh-yan, nama aslinya Ji Tok-ho, sudah banyak perbuatan terkutuk yang dilakukannya, lebih-lebih setelah dipermak oleh Ki Pi-ceng, sehingga wajahnya telah berubah dan dipalsu menjadi Ji Hong-ho, dia rela menjadi boneka Ki Pi-ceng.”

“Bagus, jika kau tahu semua ini, urusan tentu akan lebih mudah diselesaikan,” ujar Tangkwik-siansing. “Orang semacam Ki Pi-ceng dan Ki Go-ceng yang serba aneh dengan jiwa yang tidak normal, bilamana mereka berhasil menguasai dunia persilatan ini, coba , dapatkah kau bayangkan bagaimana akibatnya nanti?”

Lo-cinjin menggeleng kepala, katanya, “Ya, memang sangat menakutkan dan mengerikan.”

“Sebab itulah penyiaran catatan dalam Giam-ong-ceh itu, sasaran yang sesungguhnya adalah sekelompok manusia abnormal seperti mereka itu,” kata Tangkwik-siansing. “Sedangkan kau, hanya disebabkan sedikit urusan tetek-bengek yang tidak berarti, tanpa sadar kau ikut terlibat oleh persoalan ini dan tanpa sadar telah diperalat oleh mereka. Coba pikirkan, apakah kau tidak merasa malu diri?”

Seketika Lo-cinjin tak dapat bersuara, ia menunduk kikuk.

Tangkwik-siansing lantas berkata pula, “Persoalannya sudah kubeberkan dengan gamblang, bagaimana sikap dan pendirianmu selanjutnya, boleh terserah kepada keputusanmu sendiri. Yang pasti, malam ini takkan ku persulit dirimu, biarlah kita berjumpa lagi kelak.”

Muka Lo-cinjin merah jengah, cepat ia berputar tubuh dan berlari pergi.

Begitulah kegemparan tadi telah dapat diselesaikan, tapi lantaran Cu Lui-ji berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng, hati Hong Sam merasa tidak tenteram.

“Sementara ini tidak perlu kau kuatir,” kata Tangkwik-siansing. “Dalam waktu tiga hari ini jelas anak dara itu takkan berbahaya, kuberani menjamin dengan jiwaku yang sudah lapuk ini.”

“Tapi jangan lupa, dia berada dalam cengkeraman Leng-kui, setelah lewat tiga hari, dengan cara bagaimana akan kita hadapi makhluk yang tidak dapat dibunuh mati itu?” jawab Hong Sam.

“Alam menciptakan berjuta jenis makhluk, satu dan lain saling anti dan saling mengatasi, jika ada Leng-kui, tentu ada cara menghancurkan dia, biarlah perlahan kita mencari jalan untuk menghadapinya,” sela Tangkwik Ko tiba-tiba.

“Tapi jangan lupa, dia bukan manusia, juga bukan makhluk, tapi Leng-kui, setan, hantu yang tidak pernah ada sebelum ini,” tukas Hong Sam.

“Itupun tidak terkecuali,” ujar Tangkwik Ko. “Jangankan dia cuma semacam makhluk aneh yang dikendalikan oleh Ki Pi-ceng, sekalipun setan sungguhan juga ada cara untuk menghadapinya.”

“Ucapan adik memang tepat,” kata Tangkwik-siansing. “Biarlah urusan ini sementara kita kesampingkan dulu, yang paling penting tidak boleh kita abaikan keadaan di sini, harus kita jaga ketat, hati-hati terhadap kemungkinan serbuan Ki Pi-ceng secara pengecut.”

Hong Sam dan Tangkwik Ko setuju atas jalan pikiran Tangkwik-siansing, maka mereka bertiga tetap berjaga di situ, tiada seorangpun berani meninggalkan air terjun.

Semalam berlalu dengan aman, fajar sudah menyingsing, cahaya sang surya yang keemasan menyinari bumi raya yang luas ini.

Baru tiga hari Ji Pwe-giok bersemedi mendalami Bu-siang-sin-kang.

Menurut perkiraan Tangkwik-siansing, perlu tujuh hari barulah Pwe-giok mampu menguasai Bu-siang-sin-kang dengan baik, kini baru tiga hari, jadi masih perlu empat hari lagi. Sedangkan batas waktu tiga hari yang diberikan Ki Pi-ceng kini sudah lewat satu hari, jadi masih ada waktu dua hari saja.

Jika menurut perhitungan tersebut, jelas Pwe-giok tidak keburu memenuhi batas waktu Ki Pi-ceng, bila dia harus pula menamatkan pelajarannya, sebab itulah semua orang sangat prihatin terhadap soal ini.

Sudah barang tentu, yang paling gelisah ialah Hong Sam. Sebab Ji Pwe-giok bukan saja saudara angkatnya, dapat tidak anak muda itu memenuhi batas waktu yang diberikan Ki Pi-ceng itu juga menyangkut mati-hidup Cu Lui-ji.

Dengan air muka prihatin, ia pandang Tangkwik-siansing, katanya, “Bagaimana, menurut pandanganmu, dapatkah Pwe-giok menyelesaikan pelajaran Bu-siang-sin-kang lebih cepat daripada perkiraan semula? Mungkinkah?”

“Sulit, sangat sulit,” jawab Tangkwik-siansing. “Ya, kecuali terjadi keajaiban.”

“Apa yang kau maksudkan dengan “keajaiban” dan cara bagaimana mendapatkannya?” tanya Hong Sam.

Tangkwik-siansing jadi melenggong, jawabnya, “Wah, pertanyaanmu ini membikin bungkam lagi padaku. Soalnya keajaiban hanya dapat dialami secara kebetulan dan tidak mungkin dicari.”

Keterangan ini membuat perasaan Hong Sam tambah tertekan. Betapapun ia sangat menguatirkan keselamatan Lui-ji.

Tak lama, mereka coba mengitari air terjun dan menuju ke depan panggung alam itu. Tampak Pwe-giok masih asyik duduk bersila di atas sana, sikapnya tenang seperti orang yang sudah melupakan segalanya, alam dianggapnya kosong belaka.

Keadaan anak muda itu hanya ada setitik perbedaan yang menyolok dibandingkan kemarin, yaitu air mukanya yang bercahaya, bersemu merah mengkilap.

“Aha, aneh… ajaib….” teriak Tangkwik-siansing mendadak.

“He, ada apa, kenapa terkejut dan gembar-gembor?” tanya Hong Sam cepat.

Mendadak Tangkwik-siansing menarik lengan baju Hong Sam dan mendesis, “Ssst, jangan kita ganggu dia, marilah kita pergi, bicaralah di luar sana.”

Segera ia mengajak kedua rekannya kembali ke tempat tadi, yaitu di tengah onggokan batu karang yang berserakan di luar air terjun sana.

Setelah masing-masing mengambil tempat duduk di atas batu, berkatalah Tangkwik Ko, “Tadi toako menyebut aneh dan ajaib, apakah karena engkau melihat perubahan cahaya muka Ji-kongcu yang berbeda dengan kemarin itu?”

Tangkwik-siansing mengangguk, jawabnya, “Betul, inilah tanda yang luar biasa dan tak terduga.”

“Tanda baik atau buruk?” cepat Hong Sam ikut bertanya.

“Dengan sendirinya baik,” tutur Tangkwik-siansing. “Itulah pertanda pelajaran Bu-siang-sin-kang hampir diselesaikan, nyata dia dapat menyelesaikan pelajarannya tiga hari lebih cepat daripada perkiraanku semula.”

“Hah, tiga hari lebih cepat katamu?” seru Hong Sam kejut dan girang, “jika begitu, artinya hari ini juga ilmu sakti itu dapat diselesaikan olehnya?”

“Betul,” kata Tangkwik-siansing. “Sekarang sudah mendapatkan jawabannya, dan inilah keajaiban yang kukatakan itu. Cuma seketika akupun tidak tahu sebab musabab terjadinya keajaiban ini.”

“Ku tahu,” tukas Tangkwik Ko, “Pasti disebabkan Ji-kongcu sudah memiliki ilmu sakti keluarganya, yaitu Lwekang bu-khek-bun yang hebat, maka untuk meyakinkan lagi Bu-siang-sin-kang menajdi lebih mudah daripada orang lain dan lebih pesat kemajuan yang dicapainya.”

“Aha, ucapan Jite memang betul,” seru Tangkwik-siansing dengan gembira, “Sungguh aku malah tidak pernah berpikir sampai ke situ.”

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Hong Sam, “Sekarang tentu kau tidak perlu kuatir lagi, paling tidak, kita dapat maju satu hari untuk memenuhi janji pertemuan dengan Ki Pi-ceng.”

Seketika air muka Hong Sam yang muram itu tersapu bersih, katanya, “Agaknya jiwa Lui-ji ditakdirkan belum tiba ajalnya, akan tetapi …”

“Akan tetapi entah cara bagaimana harus menghadapi Leng-kui pula, begitu maksudmu bukan?” tukas Tangkwik Ko.

“Ya,” Hong Sam mengangguk.

“Jangan kuatir.” kata Tangkwik Ko dengan penuh keyakinan. “Sekarang sudah kutemukan cara bagus untuk menghadapi Leng-kui, kuyakin segalanya takkan menjadi soal dan tidak perlu diragukan lagi.”

“Bagaimana caranya? Coba lekas katakan,” pinta Hong Sam dengan cemas-cemas girang.

“Untuk menghadapi Leng-kui, kuncinya terletak pada Ki Pi-ceng,” tutur Tangkwik Ko. “Coba kau pikir, segala sesuatu Leng-kui itu berada di bawah kemudi Ki Pi-ceng, atau dengan kata lain, jiwa Ki Pi-ceng seolah-olah melengket pada tubuh Leng-kui dan dapat melakukan segela kehendak hatinya. Maka sekarang asalkan kita dapat menaklukan Ki Pi-ceng, dengan sendirinya pula Leng-kui akan kehilangan daya gunanya, akan kehilangan kemampuannya.”

“Tepat!” seru Tangkwik-siansing sambil berkeplok. “ya, pasti begitulah halnya. Agar Lui-ji tidak mengalami sesuatu cedera, kita harus menundukkan Ki Pi-ceng lebih dulu.”

“Jika betul demikian, aku ingin pergi dulu dari sini,” kata Hong sam tiba-tiba.

“Hendak kemana kau?” tanya Tangkwik-siansing dengan heran.

“Harus kuawasi gerak-gerik Ki Pi-ceng, perlu dijaga kemungkinan dia akan kabur,” tutur hong sam.

“Hanya perlu menunggu satu hari lagi, masakah tidak dapat kau tunggu disini?” ujar Tangkwik-siansing. “Sebelum magrib latihan nanti, latihan Bu-sian-sin-kang bocah itu tentu dapat selesai, kenapa kita tidak menunggu, lalu pergi bersama, bukanlah jauh lebih kuat.”

“Akan tetapi, dalam satu hari segala kemungkinan dapat terjadi.” Hong Sam. “Bukan mustahil akan terjadi perubahan besar di sana, sebab itulah aku sangat gelisah, betapapun aku harus berangkat lebih dulu.”

“Baiklah,” kata Tangkwik Ko, “boleh kau berangkat lebih dulu, cuma harus hati-hati, tidak obleh kau berindak sendiri-sendiri. Jika secara gegabah kau bertindak, bisa jadi takkan mendatangkan manfaat bagi pekerjaan kita, sebaliknya akan membahayakan keselamatan Lui-ji.”

“Ya, kutahu, akan kutunggu kalian disana,” kata Hong Sam.

Selesai berkata segera ia melayang ke sana, hanya beberapa kali naik turun saja bayangannya lantas menghilang di balik lereng sana.

——oo0—–o-

Sehari berlalu dengan cepat, selama sehari ini, dirasakan jauh lebih panjang daripada biasanya oleh kedua saudara Tangkwik itu. Begitu panjang sehingga rasanya seperti setahun lamanya.

Syukurlah sehari itu tidak terjadi ganguan apa pun, hal ini membuktikan bahwa sebelum lewat batas waktu yang diberikan, Ki Pi-ceng tidak lagi merencanakan penyergapan dan sebagainya.

Tangkwik-siansing berduduk di tepi sumber air sana, sambil menikmati pemandangan alam menjelang senja itu, mereka pun mengobrol ke barat dan ke timur.

Kalau menuruti apa yang terlihat pagi tadi, latihan Bu-siang-sin-kang paling lambat besok pagi pasti dapat diselesaikan oleh Pwe-giok, bahkan ada kemungkinan akan lebih cepat daripada perkiraan itu.

Oleh karena itu, kedua kakek tidak berani meninggalkan tempat ini untuk menjaga segala kemungkinan atau kejadian yang tak terduga.

Mendadak terdengar suara “bar .. ber, bar — ber” suara gemuruh yang aneh.

Tentu saja kedua kakek ini terkejut, mereka coba mendengarkan dengan lebih cermat, suara gemuruh air terjun.

Tentu saja kedua Tangkwik bersaudara terkejut dan heran, mereka memandang ke arah datangnya suara.

Busyet! Sungguh luar biasa!

Air terjun yang dituangkan dari ketinggian ribuan tombak itu kini terputus di bagian tengah, bagian yang bawah bahkan terus muncrat balik ke atas sehingga berbentuk tiang air yang menjulang tinggi ke langit.

Sungguh pemandangan yang ajaib, pemandangan yang indah dan megah!

Saking kegirangan Tangkwik-siansing sampai berjingkrak, teriaknya, “Aha! Sungguh luar biasa. Sungguh hebat! Inilah hasil permainan anak itu!”

Segera Tangkwik Ko juga paham duduknya perkara, iapun tertawa gembira.

Kiranya apa yang terjadi itu adalah pertanda Bu-siang-sin-kang yang diyakinkan Ji Pwe-giok sudah selesai, air terjun yang mucrat balik ke atas itu adalah akibat tolakan tenaga dalam Pwe-giok, dimana air terjun itu dijadikannya sebagai sasaran percobaan ilmu saktinya.

Air terjun itu mengguyur dari ketinggian ribuan tombak, sahsyatnya dapat dibayang kan. Tapi tenaga pukulan Pwe-giok ternyata mampu menolak guyuran air terjun itu hingga muncrat balik ke atas, maka kekuatannya sungguh sangat mengejutkan.

Mendadak terdengar suara siulan nyaring terseling di tengah gemuruh air terjun, begitu nyaring suara itu laksana guntur menggelegar. Menyusul sesosok bayangan putih mengapung ke udara.

Sungguh indah sekali gaya melayang itu, cepatnya juga luar biasa.

Pada ketinggian tertentu, bayangan itu lantas berjumpalitan terus menukik ke bawah laksana orang mendadak terjerumus ke dalam jurang, seperti batu meteor jatuh, tahu-tahu bayangan orang itu hinggap di depan kedua kakaek.

Siapa lagi dia kalau bukan Ji Pwe-giok!

Dengan enteng ia turun di permukaan tanah, tenang dan ringan, seperti gerakan mengapung tadi, sedikitpun tidak memakan tenaga.

Tidak kepalang senang Tangkwik-siansing, ia tertawa lebar sehingga hampir saja mulutnya tidak dapat terkatup kembali. Jenggotnya yang panjang itu ikut tergoyang-goyang dan berucap, “Terima kasih atas bantuan Cianpwe yang tak ternilai ini.”

Tangkwik-siansing menariknya bangun, lenyap tertawanya, sebaliknya berkata dengan kereng. “Eh, sejak kapan kau belajar menyembah begini?”

Dengan tulus Pwe-giok berkata, “Cianpwe telah mengajarkan Bu-siang-sin-kang padaku, sepantasnya Wanpwe memberi sembah hormat ini”

Dengan muka kecut Tangkwik-siansing berkata pula, “Eh, tidak perlu kau bicara tentang terima kasih segala padaku, kuajarkan Bu-siang-sin-kang padamu karena kau pegang Po-in-pay, jadi Bu-siang-sin-kang kutukarkan dengan Po-in-pay, selanjutnya lunas, kedua belah pihak tidak ada yang utang, hakikatnya tidak perlu kau terima kasih padaku”

“Meskipun demikian, namun…”

“Namun apa? Sudahlah, tidak perlu banyak cingcong, kau asyik belajar ilmu sakti selama empat hari, apakah kau tahu selama empat hari ini telah terjadi peristiwa yang mengejutkan?”

Pwe-giok garuk-garuk kepala, jawabnya, “Ya, wanpwe memang tidak tahu”

“Nah, jika kukatakan, tentu akan kau sangka aku sengaja menonjolkan jasaku, biarlah kau tanyakan kepada saudaraku saja” kata Tangkwik-siansing.

Tanpa menunggu perintah lagi atau diminta oleh Pwe-giok, segera Tangkwik Ko menguraikan apa yang terjadi selama beberapa hari ini.

Tentu saja Pwe-giok merasa sangat berterimakasih, selain itu dia sangat menguatirkan keselamatan Lui-ji yang berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng dan dijadikan sandera itu. Apalagi anak dara itu diawasi oleh Leng-kui, sungguh sukar dibayangkan keadaannya sekarang.

“Biar sekarang juga kupergi membikin perhitungan dengan Ki Pi-ceng” teriak Pwe-giok dengan tak sabar.

“Untuk apa tergesa-gesa?” ujar Tangkwik-siansing. “Berangkat saja besok dan tepat menurut waktu yang dijanjikan Ki Pi-ceng. Sekarang Bu-kang-siang-sin-kang baru saja selesai kau latih, kukira paling tidak kau perlu istirahat satu hari”

Pwe-giok berkerut kening dan merasa serba susah, ucapnya, “Akan tetapi…”

“Yang pasti, sebelum lewat batas waktu yang diberikan Ki Pi-ceng, Lui-ji pasti takkan mengalami gangguan apapun” sela Tangkwik Ko. “Ucapan toako memang betul, setelah digembleng lahir batin selama beberapa hari, kau perlu istirahat dulu”

Meski dalam hati seperti dibakar dan tidak sabar lagi, terpaksa Pwe-giok harus menurut nasihat kedua kakek itu.

“Meong”, mendadak sesosok bayangan hitam melayang ke pangkuan Tangkwik Ko.

Kiranya si kucing hitam yang memancing Lui-ji ke arah air terjun itu.

Pelahan Tangkwik Ko membelai bulu kucing yang hitam mulus itu. Ucapnya dengan tersenyum “Kucingku sayang, kemana kau sembunyi semalam?”

“Meong, meong!” kucing itu bersuara pula beberapa kali sambil memandang sang majikan dengan matanya yang kecil gilap, seperti anak yang manja dan mendekap dalam pangkuan sang ibu.

—–

Awan mendung memenuhi angkasa, malam kelam, angin kencang. Lereng gunung yang memang sunyi itu bertambah suram oleh gumpalan awan tebal yang menyelimuti seluruh lereng gunung, di tengah kesuraman tersebar pula semacam suasana yang seram.

Angin menderu-deru dengan keras menambah ngerinya suasana yang mencekam.

Di pinggang gunung sana ada sepotong batu besar yang rata permukaannya, di bawah batu itu adalah sebuah liang di bawah tanah, mulut liang itu tertutup rapat oleh batu besar itu sehingga tidak kelihatan apapun dari luar.

Di dalam gua bawah tanah itu menyala lampu minyak yang hijau suram.

Sungguh aneh sekali, mungkin di dunia ini hanya lampu minyak ini saja yang mengeluarkan sinarnya yang kehijau-hijauan.

Pada ujung dinding gua sana ada sebuah dipan batu, di bawah cahaya lampu yang suram itu kelihatan seorang anak dara terlentang di situ.

Siapa lagi dia kalau bukan Cu Lui-ji.

Sejak kemarin malam Lui-ji sudah dikurung di dalam gua ini.

Hanya satu hari yang singkat saja, keadaan Lui-ji sudah banyak lebih kurus, pukulan batin yang dirasakannya paling berat ialah dia merasa dirinya terjatuh dalam cengkeraman Leng-kui, makhluk aneh yang tak dapat dibinasakan itu.

Bila Lui-ji terkenang kepada wajah yang senantiasa mengulum senyum kaku itu, segera pula anak dara itu akan merinding, berdiri bulu romanya.

Mendingan, sejak Leng-kui mengurungnya di dalam gua ini, lalu Leng-kui sendiri tinggal pergi. Hal ini jauh mengurangi rasa seram yang mencekam hati Lui-ji.

Pernah juga anak dara itu memikirkan agar melarikan diri dari gua ini, tapi sampai sekarang belum lagi ditemukan peluang itu, maklumlah, tipis sekali kemungkinan itu. Oleh karenanya, tiba-tiba timbul keinginannya untuk mati.

Manusia yang menghadapi keputus-asaan dan tidak tahan menghadapi pukulan batin yang dahsyat, seringkali mencari pelepasan melalui jalan ini.

Lebih-lebih keadaan Cu Lui-ji sekarang, selagi pikirannya merasa kusut dengan penyesalan yang tak terperikan, sebab ia merasa tindak-tanduk sendiri terlalu gegabah, kurang hati-hati, sepanjang jalan di ikuti Ki Pi-ceng ternyata tidak tahu sama sekali, ini sama artinya dia yang memberi petunjuk jalan bagi musuh untuk membikin celaka Ji Pwe-giok.

Lantas bagaimanakah keadaan Ji pwe-giok sekarang?

Inilah tanda tanya besar yang ingin diketahuinya, dia menduga keadaan Pwe-giok besar kemungkinan lebih banyak celaka daripada selamatnya.

Maklumlah, lawannya adalah tokoh-tokoh besar seperti Ki Pi-ceng, Ki Go-ceng, Ji Tok-ho dan sebagainya, semuanya maha sakti dan sukar diukur kepandaiannya, apalagi ditambah tokoh Bu-lim kosen yang lain seperti Thian-sip-sing dan sebagainya.

Bila terpikir semua ini, Lui-ji lantas merasa sedih, hati serasa disayat-sayat, ia menyesal dan merasa berdosa, sebab ia tidak sempat membantu apapun bagi Pwe-giok, sebaliknya malah mendatangkan petaka baginya.

Lui-ji sangat menyesal karena kecerobohannya, sehingga akibatnya terjadi keadaan yang celaka ini.

Akan tetapi apa gunanya kalau cuma menyesal saja?

Banyak persoalan di dunia ini mestinya dapat dicegah atau dihindarkan sebelum terjadi. Kalau menyesal setelah terjadi, jelas takkan menyelesaikan persoalan apapun dan juga takkan menarik kembali apa yang sudah kadung terjadi.

“Mati! Kau harus segera mati! Sekalipun nanti Ji Pwe-giok ternyata selamat tanpa kurang sesuatu apapun rasanya kaupun malu untuk bertemu lagi dengan dia.”

Beginilah Lui-ji terus berpikir dan menyesali dirinya sendiri, bahkan keberanian untuk hidup lebih lama lagipun tidak sanggup.

Makin dipikir makin sedih, makin sakit hatinya.

Ia berbaring sendirian di dipan batu ini dan mulai menangis, dan tentu saja, melulu menangis pun takkan memecahkan persoalan.

Selang sejenak, mendadak ia berhenti menangis dan melompat bangun.

Sinar matanya tampak buram, mukanya kurus pucat, dia seperti habis jatuh sakit keras.

Akhirnya dia mengambil keputusan, ia bertekad akan mati.

Mendadak ia menundukkan kepala dan menyeruduk dinding gua sekuatnya.

Dinding gua itu tidak mengalami perataan oleh tenaga manusia sehingga menonjol dan mendekuk tidak rata, yang menonjol jelas sangat tajam mirip gigi binatang.

Jika diseruduk secara keras seperti Lui-ji sekarang, jelas kepalanya pasti akan pecah dan jiwa melayang.

Di luar dugaan, terjadilah keajaiban!

“Bluk!”

Dengan tepat kepala Lui-ji menumbuk dinding, tapi bukan dinding batu melainkan dinding sesuatu yang terasa halus dingin, juga tidak terlalu keras, rasanya seperti menumbuk lapisan es yang tipis.

Tentu saja Lui-ji terkejut, pelahan ia angkat kepalanya.

Sialan!

Kembali ia melihat lagi seraut wajah kaku pucat dan senyuman abadi itu. Nyata tadi serudukannya ini tepat menyeruduk pada perut Leng-kui.

Leng-kui masih tetap dengan dandanannya yang khas itu, baju hitam ketat, ikat pinggang merah darah, golok melengkung terselip pada ikat pinggangnya, sekujur badan seolah-olah memancarkan semacam hawa seram, di bawah cahaya lampu yang hijau redup tampaknya menjadi lebih mengerikan.

—–

Bagaimanakah nasib Cu Lui-ji di bawah cengkeraman Leng-kui? Dapatkah dia lolos atau jadi membunuh diri?

Cara bagaimana Ji Pwe-giok akan menghadapi rombongan Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho dengan ilmu sakti Bu-siang-sin-kang?

Apa pula yang terjadi pada akhir cerita ini?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

3 Comments »

  1. salam kenal…semangat….

    thanks… di tunggu kunjungan baliknya…

    happy writing

    Comment by finance charts — 15/06/2010 @ 8:18 am

  2. […] menerobos ke sisi kiri dan menemukan panggung alam yang mencuat di dinding tebing secara aneh itu. (more…) Comments […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm

  3. […] Imbauan Pendekar – 15 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:36 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: