Kumpulan Cerita Silat

14/06/2010

Imbauan Pendekar – 14

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:36 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Kunamisme, Bpranoto, Sukantas009, Bsarwono dan Axd002)

Thian-sip-sing berkedip-kedip, dia tidak berkata apa-apa melainkan cuma memberi isyarat dengan tangan.

Melihat isyarat tangan itu, seketika berubah air muka Pwe-giok, serunya, “He, apakah… apakah isyarat tangan yang diberikan kepada Cianpwe oleh Ji-bengcu tempo hari itu juga isyarat ini?”

“Hah, kaupun tahu kejadian itu?… Aneh, sungguh aneh?!” kata Thian-sip-sing dengan tercengang.

“Setahuku, isyarat tangan ini kan dimaksudkan sebagai Tangkwik-siansing?” kata Pwe-giok.

“Tangkwik-siansing? Siapa bilang isyarat tangan ini menandakan Tangkwik-siansing? Hah, masakah Tangkwik-siansing telah berubah menjadi wanita maha cantik?” ujar Thian-sip-sing.

Pwe-giok melonjak kaget, serunya, “He, kalau bukan Tangkwik-siansing, habis siapa yang dimaksudkan dengan isyarat tangan ini?”

Sorot mata Thian-sip-sing menampilkan rasa kejut dan takut, katanya dengan suara parau, “Jika kau tidak tahu, darimana pula ku tahu…”

Baru omong sampai di sini, mendadak ucapannya terputus, sebab entah kapan dan darimana datangnya, tahu-tahu mulutnya telah dijejal dengan sebuah jeruk, dengan tepat mulutnya tersumbat.

Padahal orang yang hadir di sini tidaklah sedikit, kalau Thian-sip-sing sendiri tidak tahu darimana datangnya jeruk itu, apalagi orang lain.

Menyusul lantas terdengar seorang berkata dengan menyesal, “Ai, jaman ini memang serba susah, ingin mencari suatu tempat untuk tidur senyenyaknya saja tidak gampang.”

Suaranya ternyata berkumandang dari langit-langit rumah.

Serentak semua orang sama mendongak ke atas, maka tertampaklah di belandar tengah entah sejak kapan bergelantungan sebuah karung besar, suara orang itu timbul dari dalam karung besar itu.

Sungguh aneh, masakah di dalam karung itu ada orangnya? Kalau di dalam karung terisi orang mengapa pula karung itu bisa tergantung di atas belandar? Tanpa sebab mengapa orang itu mengurung dirinya di dalam karung?

Selagi Pwe-giok merasa heran, mendadak orang banyak sama berteriak kaget, “Hah! Tay-te-kian-kun-it-te-ceng (bumi dan langit masuk satu karung)… Itulah dia Poh-te Siansing (Tuan karung)!”

Di tengah jerit kaget dan takut itu, berpuluh orang yang hadir di situ lantas berlari sipat kuping, semuanya kabur pontang-panting, hanya sekejap saja sudah bersih, seorang pun tak ketinggalan, kecuali Ji Pwe-giok.

Malahan Thian-sip-sing tidak sempat mengeluarkan dulu jeruk yang menyumbat mulutnya itu, hanya kotak berisi patung itu yang ditinggalkan, sebab ia tahu untuk lari akan lebih leluasa bertangan kosong daripada membawa barang.

Seorang kalau kepergok Poh-te Siansing, tentu saja lebih baik lari secepatnya.

Suasana di ruangan besar itu menjadi sunyi, hanya Ji Pwe-giok saja yang masih berada di situ.

Setelah terjadi serentetan hal-hal yang aneh dan misterius itu, lalu seorang berdiri di tengah ruangan sebesar itu dalam keadaan sunyi senyap, di atas kepala malahan bergelantung sebuah karung besar yang tampak bergontai kian kemari, keadaan ini sungguh membuat orang merasa ngeri.

Hampir saja Pwe-giok juga ingin angkat kaki saja.

Tapi pada saat itulah dari dalam karung lantas timbul pula suara orang, “He, anak muda, jika kau tidak pergi, mengapa tidak lekas kau turunkan aku si orang tua?”

Seketika Pwe-giok hanya melenggong, sebab iapun tidak tahu apa yang harus dilakukannya?

Segera orang di dalam karung berseru pula, “He, cepatlah sedikit, memangnya kau lebih suka menyaksikan orang tua mati sesak napas terkurung di dalam karung ini?”

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jika kau dapat masuk sendiri ke situ, mengapa kau tidak dapat keluar sendiri pula?”

Orang tua di dalam karung itu tidak bicara lagi, tapi terus mengeluh seperti orang yang benar-benar hendak mati sesak napas. Sampai akhirnya suara keluhan pun tidak terdengar lagi.

Setelah menunggu lagi sekian lamanya, akhirnya Pwe-giok tidak tahan, segera ia meloncat ke atas.

Siapa tahu baru saja tubuhnya mengapung, mendadak “bluk”, karung besar itu terus jatuh ke bawah.

Cepat Pwe-giok melayang turun pula dan membuka karung itu, tapi… mana ada orangnya? Yang terdapat di dalam karung hanya beberapa jilid buku saja.

Pwe-giok jadi melongo, hampir saja ia tidak percaya kepada matanya sendiri.

Padahal jelas-jelas suara orang tua itu tadi timbul dari dalam karung, mengapa di dalam karung ini tidak terdapat orang?

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar orang tertawa di atas belandar. Keruan Pwe-giok terkejut. Cepat ia menengadah, maka tertampaklah dua kaki dan segumpal jenggot panjang bergontai kian kemari di atas.

Kedua kaki itu sangat kecil, sebaliknya jenggot itu sangat panjang dan subur. Cahaya lampu tak dapat mencapai langit-langit rumah, maka sukar terlihat bagaimana bentuk orangnya kecuali kedua kaki dan jenggotnya yang panjang itu.

Pwe-giok menarik napas panjang. Kalau orang lain mungkin akan lari terbirit-birit ketakutan karena menyangka telah ketemu hantu atau siluman. Tapi Pwe-giok tahu orang tua ini pasti menerobos keluar dari karungnya pada saat dia melayang ke atas tadi, lalu pada waktu karung itu jatuh ke bawah dan selagi perhatian Pwe-giok tertarik kepada karung yang jatuh itu, segera orang tua itu melayang lagi ke atas belandar. Sudah barang tentu semua ini dilakukan dengan sangat cepat.

Apa yang terjadi ini kalau sudah dijelaskan tentu tidak perlu dibuat heran, hanya saja kalau Ginkang orang tua itu tidak maha tinggi, mana bisa mata-telinga Pwe-giok dikelabui?

Begitulah Pwe-giok tetap menahan perasaannya, ia tertawa, ucapnya dengan hambar, “Sungguh tak tersangka Lo-siansing masih suka main kucing-kucingan seperti anak kecil. Tapi Cayhe tidak berminat main sembunyi-sembunyi denganmu, maaf, aku mau pergi saja.”

“He, kau mau pergi? Apakah kau tidak ingin melihat barang ini?” tiba-tiba si kakek berseru.

Belum lagi Pwe-giok bersuara pula, mendadak sesuatu barang jatuh dari atas belandar. Ia tidak berani menangkapnya dengan tangan, sedikit mengegos, dengan lengan bajunya ia tadah barang itu.

Di bawah cahaya lampu terlihat benda ini kemilauan, nyata barang ini pun sebuah patung ukir batu kemala, patung wanita cantik. Waktu ia pandang ke sana, kotak besi dan patung yang ditinggalkan Thian-sip-sing di atas meja tadi seluruhnya sudah hilang.

Nyata, pada saat Pwe-giok sibuk membuka karung tadi, sekejap itu telah digunakan oleh si kakek untuk melayang turun dan mengambil kotak besi dan patung di atas meja, semua itu hanya dilakukan dalam sekejap saja, maka dapat dibayangkan betapa hebat ginkangnya.

Betapapun tabahnya Pwe-giok, sekarang ia merasa ngeri juga.

Didengarnya si kakek lagi berkata dengan tertawa, “Eh, anak muda. si cantik dalam pelukanmu, kenapa tidak kau pandang dengan cermat? Kan sayang jika kesempatan baik ini kau sia-siakan?”

Kalau patung batu pada umumnya hanya kelihatan warna aslinya, tapi pakaian pada patung kemala ini ialah selapis warna hitam dari bahan poles yang aneh, sebab itulah meski warna bajunya hitam, tapi lamat-lamat kelihatan badan patung si cantik yang putih bersih.

Kecantikan wajah patung kemala inipun bak bidadari dari kahyangan, hanya di antara mata alisnya membawa semacam sifat dingin yang sukar di jelaskan sehingga membuat orang segan mendekatinya.

“Apakah kau kenal dia?” terdengar si kakek bertanya.

“Tidak,” jawab Pwe-giok.

Kakek itu menghela nafas, ucapnya, “Ya, kau lahir terlalu lambat, makanya tidak kenal dia. Tapi pada 30-40 tahun yang lalu, apa bila orang Kangouw menyebut Bak-giok Hujin, sedikitnya berlaksa lelaki akan sukarela mati baginya.”

“Kurasa wanita ini sangat sulit didekati,” kata Pwe-giok dengan tak acuh.

“Ya, justeru lantaran sikapnya terhadap orang lain selalu dingin seperti es, maka orang lain pun semakin tertarik dan ingin berdekatan dengan dia”, tutur si kakek dengan tertawa. “sembilan diantara sepuluh orang lelaki umumnya berwatak rendah masakah kau tidak paham akan hal ini?”

Pwe-giok tertawa, katanya, “Biarpun wanita ini maha cantik, akhirnya juga masuk liang kubur dan menjadi tanah kembali. Apa sangkut-pautnya wanita cantik 40 tahun yang lalu dengan diriku?”

“Kalau tidak ada sangkut-pautnya tentu tidak ku suruh kau pandang dia,” ujar si kakek.

“Oo?” Pwe giok bersuara heran.

“Yang di maksudkan oleh isyarat tangan Thian sip-sing tadi ialah si dia ini,” kata kakek.

Jantung Pwe-giok berdetak, sedapatnya ia menahan perasaan dan menjawab, “Tapi aku memang tidak kenal dia.”

“Coba ingat-ingat lagi, apakah kau benar-benar tidak kenal dia?” ujar si kakek. “Setahuku sedikitnya kau pernah bertemu satu kali dengan dia.”

Kembali jantung Pwe-giok berdebar keras, tiba-tiba teringat olehnya guru Hay Tong-jing dan Yang cu-kang, wanita bercadar sutera hitam yang maha cantik dan anggun itu.

Serentak juga teringat olehnya sepotong bambu kecil itu, pada bambu kecil itu terukir sebuah karung atau kantung.

Sampai di sini, Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia tanya, “Jangan-jangan engkau inilah Tangkwik-siansing?”

“Tangkwik-siansing”, nama ini seakan-akan mempunyai semacam kekuatan gaib, setelah menyebut nama ini, Pwe-giok sendiripun terkejut.

Sungguh sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dirinya bisa mendadak bertemu dengan Tangkwik-siansing.

Kakek itu tertawa, ucapnya. “Padahal kita sebenarnya juga sahabat lama, seharusnya kau kenal padaku.”

Di tengah gelak tertawanya, dengan enteng ia melayang ke bawah.

Begitu ringan seolah-olah segumpal kapas, seperti sehelai daun jatuh, jenggotnya yang panjang bertebaran seperti titik-titik air hujan mencurah dari langit.

Perawakan pendek kecil dan kurus sehingga seluruh tubuh seakan-akan terbungkus oleh jenggotnya yang lebat dan panjang itu.

“He, kiranya kau!” seru Pwe-giok dengan melenggong.

—–

Pwe-giok memang betul pernah bertemu dengan kakek ini, bahkan tidak cuma satu kali saja melainkan dua kali.

Pertama bertemu pada waktu dia tertimpa musibah, ayahnya terbunuh dan rumah hancur, untung dia dapat menyelamatkan diri, namun dia menjadi putus asa dan tiada keberanian untuk hidup lagi. Pada saat demikian itulah dia bertemu dengan si kakek.

Waktu itu dipergokinya si kakek hendak menggantung diri.

Pwe-giok telah menyelamatkan jiwa orang lain tiba-tiba timbul juga semangatnya untuk mencari hidup.

Pertemuan yang kedua adalah pada waktu dia kehilangan kepercayaan atas ilmu silatnya sendiri, dalam keadaan pikiran kusut itulah dia bertemu pula dengan si kakek.

Tatkala mana si kakek sedang melukis, yang hendak dilukisnya adalah gunung, tapi yang muncul pada kanvasnya ternyata bukan gunung.

Dia masih ingat ucapan si kakek itu, “Jelas-jelas gunung yang kulukis, tapi lukisanku justeru tidak mirip gunung, jelas tidak mirip gunung, tapi setelah kau pandang dengan cermat ternyata memang gunung yang kulukis. Hal ini karena apa yang kulukis ini meski belum tampak berbentuk gunung, tapi intinya, jiwa daripada obyek yang kulukis sudah kutonjolkan dengan jelas. Mungkin orang lain tidak paham melihat lukisanku ini, tapi perduli amat, asalkan yang kulukis adalah gunung, asalkan dalam pandanganku dan perasaanku lukisanku ini adalah gunung, kan cukup dan terlaksanalah tujuanku? Jika aku sendiri dapat menangkap intisari dari lukisan ini dan orang lain justeru tidak paham, hal ini kan terlebih baik?”

Begitulah, justeru ucapan si kakek yang berfalsafah itulah sehingga ilmu silat Pwe-giok dapat melangkah lebih tinggi lagi (tentang pertemuan Pwe-giok dan Tangkwik siansing hendaklah baca “Renjana pendekar”.)

Maklumlah, kungfu aliran Bu-kek-bun keluarga Ji justeru cocok dengan uraian si kakek itu bermakna tapi tak berbentuk, terlepas dari bentuk yang terbatas dan masuk ke alam yang tak berkutub, (Bu-kek artinya tak berkutub).

Sejak itulah kungfu Bu-kek-bun benar-benar dikuasai Pwe-giok dengan baik, meski belum mencapai tingkatan yang sempurna, tapi sudah dekatlah dengan tingkatan tersebut.

Makin dipikir makin terasa oleh Pwe-giok bahwa si kakek ini sama sekali tiada bermaksud jahat padanya, bahkan si kakek selalu muncul pada saat dia menghadapi bahaya sehingga dia terlepas dari kesukaran.

Jika si kakek dikatakan sebagai iblis yang diam-diam hendak membikin celaka padanya seperti apa yang diceritakan “Bak-giok Hujin”, sungguh sukar untuk dipercaya, tapi apa yang dikatakan Bak-giok Hujin itu rasanya juga sulit untuk tidak dipercaya.

Waktu ia angkat kepalanya, dilihatnya si kakek alias Tangkwik-siansing sedang memandangnya dengan tersenyum.

“Sekarang sudah kau kenal diriku bukan?” tanya si kakek.

Dengan hormat Pwe-giok menjawab, “Ya, berulang-ulang Tecu menerima petunjuk dan petuah Cianpwe, sungguh Tecu sangat berterima kasih.”

Dengan jarinya Tangkwik-siansing menjentik patung Bak-giok Hujin dan berkata, “Dengan sendirinya kaupun pernah melihatnya bukan?”

Pwe-giok membenarkan.

“Aneh juga bahwa dia ternyata tidak membunuh kau.” gumam Tangkwik-siansing.

“Kenapa dia perlu membunuh diriku?”

“Sebab, bisa jadi kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membongkar rahasia pribadinya.”

“Rahasia pribadi bagaimana?” tanya Pwe-giok.

“Apakah kau tahu siapa namanya?” tiba-tiba Tangkwik siansing balas bertanya.

Tanpa menunggu jawaban Pwe-giok segera ia menyambung. “Ya, dengan sendirinya kau tidak tahu siapa namanya, sebab di dunia ini hakekatnya cuma beberapa orang saja yang tahu namanya, Namanya sendiri juga merupakan rahasia besar.”

“Masakah namanya saja mengandung rahasia besar?” Pwe-giok menegas dengan heran.

“Ya, sebab namanya Ki Pi-ceng!”

“Ki Pi-ceng? Masakah dia ada sesuatu hubungan dengan Ki Go-Ceng?”

“Tentu saja ada hubungannya, bahkan sangat erat hubungan antara mereka,” tutur Tangkwik siansing. “Sebab dia bukan saja saudara Ki Go-ceng adik perempuannya, bahkan juga isterinya.”

Seketika Pwe-giok melenggong dan tidak sanggup bersuara.

Tangkwik siansing menghela nafas, katanya “Kualat… memang begitulah mereka kena itulah,” ia tersenyum getir, lalu menyambung, “sebab keluarga Ki mempunyai pikiran yang gila, yaitu selalu menganggap di dunia ini hanya keturunan keluarga Ki saja yang maha pintar, maha cerdik, superior yang teratas, yang paling unggul, orang dari keluarga lain tak dapat menimpali mereka.”

“Jadi demikian, jadi…jadi telah berlangsung perkawinan antar anggota keluarga mereka sendiri?” tanya Pwe-giok dengan melengak.

“Betul” jawab Tangkwik-siansing, “justeru lantaran jalan pikiran mereka yang gila itu, karena menganggap hanya anggota keluarga mereka sendiri saja bibit unggul, maka turun temurun terjadi perkawinan antara kakak dan adik sendiri dan putera-puterinya yang dilahirkan kalau tidak gila tentulah linglung, seperti Ki Pi-ceng, meski lahiriah kelihatan secantik bidadari, padahal dia juga tidak terkecuali juga seorang gila.”

Pwe-giok memandang sekejap patung cantik itu, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin.

“Tapi dia adalah seorang gila yang angkuh,” sambung Tangkwik siansing. “Ketika mengetahui Ki Cong-hoa yang dilahirkan itu ternyata abnormal, berbentuk kerdil dan berotak miring, ia sangat kecewa, tanpa pikir ia tinggalkan rumah dan putus cinta dengan Ki Go-ceng, makanya sampai dengan tingkatan Ki Cong-hoa hanya terdapat dia saja putera satu-satunya dan terpaksa pula kawin dengan perempuan dari keluarga luar. Walaupun demikian, sejak awal hingga akhir Ki Cong-hoa tetap tidak mau meniduri isterinya.”

Baru sekarang Pwe-giok tahu duduknya perkara mengapa Ki Leng-hong sejauh itu tidak mau mengakui Ki Cong hoa sebagai ayahnya, baru diketahuinya pula betapa penderitaan Ki-Hujin, isteri Ki Cong hoa.

Tapi kalau Ki Cong-hoa bukan ayah Ki Leng hong, lantas siapa ayahnya?

Mungkinkah “orang she Ji” yang bersembunyi di lorong bawah tanah itu?

Jangan-jangan “orang she Ji” itu ialah…

Makin dipikir makin ngeri Pwe-giok, sungguh ia tidak berani berpikir lagi.

Cuma ada beberapa hal di antaranya yang mau tak mau harus dipikirnya.

Antara lain tentang Bak-giok Hujin, apabila benar wanita cantik ini adalah istri Ki Go-ceng kenapa dia membunuh Ki Go-ceng? Kejadian ini disaksikannya dengan mata kepala sendiri, tidak bisa tidak dia harus percaya apa yang terjadi itu.

Didengarnya Tangkwik-siansing berkata pula, “Sejak itu Ki Go-ceng berubah semakin gila. Waktu itu di dunia Kangouw mendadak terjadi beberapa peristiwa kejahatan yang menggemparkan dan tidak diketahui pula siapa pelakunya. Ada harta benda partai besar yang dirampok secara misterius. Beberapa tokoh ternama secara misterius pula terbunuh. Pelakunya diketahui sangat tinggi kungfunya, setiap peristiwa dilakukan dengan cermat tanpa meninggalkan jejak apapun. Siapapun tidak menyangka bahwa penjahat itu bukan lain ialah Ki Go-ceng.

Ceritera ini sudah pernah didengar Pwe-giok dari si kakek Ko di lorong bawah tanah di Sat-jin-ceng dahulu, maka terbuktilah bahwa cerita Tangkwik-siansing ini bukan karangan belaka.

Terdengar Tangkwik-siansing menyambung lagi, “Waktu itu meski dunia persilatan telah dibikin heboh dan mengerahkan berpuluh-puluh tokoh terkemuka untuk mencari si penjahat, tapi tetap tidak dapat menemukan jejaknya, hanya seorang saja yang mengetahui bahwa pelakunya ialah Ki Go-ceng, tapi sayang, pikirannya ternyata tidak dipercaya oleh orang lain”.

“Apakah Cianpwe kenal orang ini?” tanya Pwe-giok tiba-tiba.

Tangkwik Sian-sing tertawa, jawabnya, “Dengan sendirinya kukenal dia, sebab dia adalah adikku Ban-li-hui-eng Tangkwik Ko”

Sejak mula Pwe-giok memang sudah membayangkan “Kakek Ko” yang misterius itu pasti mempunyai sejarah yang gemilang pada masa lampau, tapi tak pernah terpikir olehnya bahwa kakek Ko itu adalah saudara Tangkwik-siansing yang berjuluk Ban-li-hui-eng atau si Elang terbang berlaksa li.

Dengan tajam Tangkwik-siansing memandang Pwe-giok, tanyanya kemudian dengan tertawa, “Ku tahu, pasti kau kenal dia bukan?”

“Wanpwe menerima budi kebaikan yang amat besar dari Locianpwe itu, sungguh jiwa Tecu boleh dikatakan atas berkahnya sehingga dapat hidup sampai sekarang” tutur Pwe-giok dengan gegetun.

“Adikku itu bukan saja Ginkangnya sangat tinggi sesuai nama julukannya, juga pandang kejahatan sebagai musuhnya, ilmu pertabibannya juga sangat tinggi dan hampir tiada bandingannya di dunia ini. Sekalipun Hoa To (seorang tabib terkemuka di jaman Sam Kok) lahir lagi juga belum tentu dapat melebihi dia, terutama dalam hal ilmu bedah.”

Pwe-giok jadi teringat kepada muka sendiri yang pernah dipermak oleh kekek Ko itu, tanpa terasa ia meraba pipi sendiri dan timbul rasa terima kasih dan hormatnya.

Tangkwik-siansing bercerita pula, karena diuber dan dicari terus oleh saudaraku itu, Ki Go-ceng kehabisan akal, terpaksa ia pura-pura mati dan meninggalkan Sat jin-ceng dan mengasingkan diri di pegunungan terpencil, dicarinya isterinya Bak-giok Hujin Ki Pi ceng.”

“Waktu itu Ki Pi ceng juga jauh berada di luar perbatasan?” tanya Pwe-giok.

“Betul. Setelah suami-isteri ini berkumpul kembali di Kwan-gwa (di luar tembok besar yang merupakan perbatasan antar negara), namun ambisi mereka masih tetap besar, senantiasa mereka bersiap-siap untuk muncul kembali dan merajai dunia persilatan. Tapi mereka tetap jeri terhadap kami bersaudara, sebegitu jauh mereka tidak berani menampakkan diri di depan umum, terpaksa mereka harus menggunakan tipu muslihat, mereka memakai seorang yang ternama dan disegani di dunia persilatan sebagai boneka.”

Kulit muka Pwe-giok berkerut-kerut, ucapnya dengan parau, “Yang dimaksudkan Cianpwe tentunya orang… orang she Ji itu?!”

Sorot mata Tangkwik-siansing menampilkan perasaan kasihan dan simpatik, ucapnya dengan suara halus, “Hong-ho Lojin adalah ksatria pilihan yang jarang ada di dunia persilatan, mana dia mau membantu kejahatan mereka. Dengan sendirinya merekapun cukup tahu bagaimana pribadi Hong-ho Lojin, maka mereka harus menggunakan muslihat keji untuk melenyapkan Hong-ho Lojin dari pergaulan ramai ini, lalu dicarinya seorang yang menyamar sebagai Hong-ho Lojin, mereka bertekad akan memperalat nama baik Ji Hong-ho, dengan sendirinya tindakan mereka tidak kenal cara, yang penting tercapainya cita-cita mereka.”

Mendengar sampai di sini, hati Pwe-giok menjadi pedih, gemas dan juga terharu.

Yang membuatnya pedih dan gemas karena teringat kepada berantakannya keluarga serta kematian ayahnya.

Dia terharu karena untuk pertama kalinya sekarang ada orang membela kemalangannya ini, untuk pertama kalinya ada orang menyatakan simpati kepada nasib mereka ayah dan anak, untuk pertama kalinya ada orang mau bicara baginya.

Tangkwik-siansing menepuk pundak anak muda itu, katanya pula dengan suara lembut, “Jaring langit cukup ketat, setiap perbuatan berdosa tidak nanti lolos begitu saja. Meski sekarang kau kenyang merasakan kegetiran orang hidup, pada suatu hari kelak segala sesuatu pasti dapat dibikin jelas, pada waktu itulah bolehlah kau kembangkan kemahiranmu dan berbuat kebaikan bagi sesamanya.”

Hati Pwe-giok merasa terbakar oleh hawa panas, air mata hampir saja bercucuran, ia berlutut di depan kakek dan berkata, “Jangan-jangan Cianpwe sudah tahu asal-usul Tecu?”

Tangkwik-siansing membangunkan anak muda itu, katanya, “Ya, dengan sendirinya sudah ku ketahuinya sejak dulu. Masih ingatkah kau, pada hari pertama kau tertimpa musibah itulah kita bertemu tatkala mana sudah kuketahui kau mempunyai keberanian menanggung penderitaan dan menahan hinaan.”

Pwe-giok menghela napas panjang agar perasaan menjadi lapang dan tenang, lalu berkata dengan muram, “Hanya masih ada suatu hal yang sampai saat ini tetap tidak kuketahui.”

“Hal apa?” tanya si kakek.

Dengan gregetan Pwe-giok berkata, “Sesungguhnya siapakah bangsat yang menyaru sebagai ayahku itu? Mengapa dia juga mahir kungfu Bu-kek-bun? Bahkan dapat menirukan suara dan gerak-gerik ayahku dengan begitu persis?”

Tangkwik-siansing termenung sejenak, lalu menghela nafas panjang, katanya, “Naga melahirkan sembilan anak dan semua tidak ada yang sama, Hong-ho Lojin terkenal berbudi luhur dan berhati mulia, tapi saudaranya, Ji Tok-ho, justeru seorang terkutuk, binatang yang maha jahat dan tak terampunkan.”

Pwe-giok jadi teringat kepada catatan di dalam buku harian tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, tanpa terasa tubuhnya menggigil, kaki dan tangan menjadi dingin juga, ucapnya dengan gemetar, “Apakah…apakah bangsat itu ialah… ialah pamanku sendiri?”

Tangkwik-siansing tidak segera menjawab, ia menghela nafas, lalu berkata, “Ada beberapa hal rasanya tidak enak kukatakan padamu secara terus terang, cuma harus kau maklumi, meski pamanmu itu dikabarkan minggat dari rumah karena terpaksa, padahal ayahmu tidak pernah bertindak sesuatu yang tidak baik padanya.”

Pwe-giok menunduk dengan berduka dan hanya mengangguk saja.

“Setelah Ji Tok-ho berpisah dengan ayahmu, seperti harimau lepas dari kurungan, dia berbuat sesukanya, segala kejahatan dilakukannya, tangannya berlumuran darah, juga mengikat musuh yang tidak sedikit. Cuma ilmu silatnya sangat tinggi, jejaknya sukar dicari, meski orang membencinya dan ingin mencincangnya kalau bisa, tapi sayang sukar menemukan jejaknya.”

Kakek itu berhenti sejenak, lalu menyambung pula dengan perlahan. “Sampai akhirnya tiba suatu hari yang naas baginya, yaitu pada hari Tahun baru, dia sedang makan dan minum di rumah pelacur terkenal langganannya, di kota Lok-yang, tanpa terasa dan juga tidak curiga ia minum hingga mabuk, ia tidak menduga bahwa perempuan langganannya yang sudah berlangsung sekian tahun itu telah membelot, telah diperalat pihak musuh.”

“Tahun baru?…” Pwe-giok bergumam, teringat olehnya apa yang didengarnya di lorong bawah tanah di Sat jin-ceng dahulu, yaitu “Waktu orang she Ji itu datang ke Sat jin-ceng adalah hari ketiga sesudah tahun baru…

Didengarnya Tangkwik siansing lagi menyambung ceritanya, “Tapi Ji Tok-ho memang seorang jagoan lihay yang jarang ada di dunia persilatan, meski dikerubuti belasan tokoh Bu-lim terkemuka dalam keadaan mabuk, dia tetap mampu membobol kepungan dan lari masuk ke Sat-jin-ceng…”

Dia menghela nafas, lalu menyambung, “Ia tahu dalam perkampungan pembunuh itu pasti ada yang akan melindunginya, apa lagi dia juga sudah biasa masuk keluar kampung itu, jelas orang lain tidak sanggup menemukan dia.”

“Apakah kejadian itu bukan untuk pertama kalinya dia lari masuk ke Sat-jin-ceng?” tanya Pwe-giok.

“Sudah tentu bukan,” jawab Tangkwik-siansing. “Sudah lama dia mempunyai hubungan gelap dengan isteri Ki Cong-hoa, kau tahu Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan kakak beradik itu justeru adalah anaknya dari hasil berhubungan gelap dengan Ki-hujin.”

Sekujur badan Pwe-giok terasa dingin.

Segera teringat olehnya lorong di bawah tanah yang ditemukannya di Sat-jin-ceng dahulu, disanalah dia menemukan sepotong batu Giok waktu itu ia merasa sangat heran, sebab batu jade atau kemala itu dikenalnya sebagai benda pusaka Bu-kek-bun, perguruan keluarga Ji sendiri, mengapa bisa muncul di Sat-jin-ceng?

Selain itu ditemukan sebuah dompet bersulam dan potret sulaman serta dua bait tulisan yang berbunyi, “Senantiasa mendampingi Anda, semoga jangan ditinggalkan”.

Cuma waktu itu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa kekasih Ki-hujin yang dimaksudkan ia adalah pamannya.

Lalu teringat pula olehnya kakak beradik Ki Leng-hong dan Ki Leng-yan, kedua nona itu selalu menaruh perhatian padanya secara misterius. Kiranya didalam tubuh mereka memang mengalir darah keluarga Ji, sebab antara Pwe-giok dan mereka adalah saudara sepupu.

Didengarnya Tangkwik-siansing telah berkata “Ki-hujin telah menyembunyikan Ji Tok-ho di lorong bawah tanah, ia mengira perbuatan mereka pasti tidka diketahui oleh siapapun. Tak tersangka setelah pura-pura mati dan menghilang dari pergaulan umum, Ki Go-ceng juga sembunyi ke dalam lorong bawah tanah itu dan kebetulan memergoki Ji-Tok-ho.”

“Jika begitu, meng…mengapa dia tidak…tidak….”

Tangkwik siansing tahu apa yang hendak ditanyakan anak muda itu, maka sebelum orang mengejutkan ia telah menyambung dengan menghela nafas, “Sebenarnya Ki Go-ceng hendak membunuh “Ji Tok-ho untuk menutup mulutnya agar rahasia pura-pura matinya tidak ketahuan orang. Tapi kemudian terpikir olehnya bahwa orang ini cukup berharga untuk diperalat bagi muslihatnya, mungkin juga dia menganggap Ji Tok-ho sehaluan dan sepaham dengan dia, maka dia hanya menculik dan membawanya pergi dan tidak membunuhnya.”

Hal ini sudah lama terfikir oleh J Pwe-giok, sebab kalau Ji Tok-ho tidak dibawa pergi orang secara mendadak dan tergesa-gesa, tentu dia takkan meninggalkan dompet bersulam dan batu Giok itu di lorong bawah tanah di Sat-jin-ceng sana.

Terdengar Tangkwik-siansing berkata pula, “Namun tampaknya langkah Ki Go-ceng itu tidaklah percuma, sebab Ji Tok-ho dan Hong-ho Lojin adalah saudara, dengan sendirinya lahiriah mereka hampir sama, cukup dipermak lagi sedikit sana sini, tentu sukar lagi untuk dibedakan tulen dan palsunya. Apalagi sejak kecil kedua bersaudara itu selalu berkumpul, dengan sendirinya setiap gerak-gerik dan tutur kata Hong-ho lojin cukup dikuasai oleh Ji Tok-ho, maka selain wajahnya telah dibedah dan dipermak, iapun dapat menirukan suara dan gerak-geriknya dengan persis”

Dia menghela napas lalu melanjutkan, “Sebab itulah, semua persoalan ini bukanlah karena terjadi secara kebetulan, tapi setiap langkah boleh dikatakan sudah mengalami pertimbangan dan pengaturan yang cermat. Kalau tidak kebetulan diketemukan Ji Tok-ho, bisa jadi mereka takkan memilih Hong-ho lojin sebagai sasaran utama.

Lama juga Pwe-giok termenung, tanyanya kemudian, “Apakah Ki Go-ceng juga mahir ilmu bedah?”

“Bukan dia, tapi istrinya, Bak-giok Hujin” jawab Tangkwik-siansing. “Konon ilmu bedahnya dipelajarinya dari seorang Persi dari wilayah barat, meski kepandaiannya tidak sama dengan ilmu bedah Tangkwik Ko, tapi keduanya mempunyai hasil kerja yang hampir sama”

“Apakah Cianpwe juga tahu kedua murid Bak-giok hujin?” tanya Pwe-giok.

“Maksudmu Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing berdua?” sahut si kakek.

“Betul” kata Pwe-giok

Tangkwik-siansing menghela napas menyesal, ucapnya, “Pada dasarnya jiwa kedua anak muda itu sebenarnya tidak jelek, cuma sayang, tanpa sadar mereka telah diperalat oleh gurunya. Menurut pendapatku, mungkin sekali kedua orang itupun tidak tahu rahasia sang guru, terutama mengenai asal-usulnya dan rencana kejinya”

“Betul, sampai-sampai akupun percaya penuh kepada ocehan perempuan itu, apalagi kedua muridnya, tentu mereka percaya kepada sang guru” kata Pwe-giok. “Cuma… jika demikian halnya, lalu atas perintah siapakah tokoh yang disebut sebagai Lengkui itu?”

“Dengan sendirinya juga atas perintah Ki Pi-ceng” kata si kakek.

“Sungguh aneh” Pwe-giok merasa heran. “Jika begitu, mengapa Ki Pi-ceng sengaja menyuruh Lengkui membunuh Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing, mereka kan muridnya?”

“Ya, bisa jadi disebabkan Bak-giok Hujin juga mulai ragu terhadap kesetiaan murid sendiri, sebab lambat laun Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing mulai banyak mengetahui rahasianya,” tutur Tangkwik-siansing. “Menjadi anak murid orang gila seperti Bak-giok Hujin, jika terlalu banyak urusan yang diketahuinya, bukannya beruntung sebaliknya malah akan buntung dan mendatangkan petaka baginya. Mungkin juga Bak-giok Hujin merasa usahanya kini sudah mencapai sukses besar, sebentar lagi dia akan menjadi tokoh utama yang paling berkuasa di dunia persilatan, maka dia merasa Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing sudah tidak diperlukan lagi.”

Dia berhenti sejenak dan menghela napas, lalu menyambung. “Apapun juga, kan sejak awal sudah kukatakan bahwa mereka kakak beradik adalah orang gila semua, tindak tanduk mereka tidak dapat diukur dengan akal sehat .”

“Kecuali Lengkui yang asli, bukankah ia masih mempunyai beberapa duplikat Lengkui yang lain?” tanya Pwe-giok.

Tangkwik-siansing tertawa, ucapnya, “Ah, semua itu adalah permainan belaka, dia sengaja membesar-besarkan hal itu untuk menakuti orang lain. Membuat orang menjadi setan bukanlah pekerjaan yang mudah.”

Pwe-giok termenung sejenak, gumamnya kemudian, “Wah, jika demikian, jadi selama ini Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing juga selalu dikelabui oleh gurunya sendiri. Bahwa aku disuruh bersembunyi ke gua di bawah tanah di pinggang gunung itu bukankah karena dia sengaja hendak mencelakai aku. Apa yang dikatakannya kepadaku itupun dipercaya penuh oleh mereka sendiri.”

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia merasa ngeri bila membayangkan apa yang dialaminya itu, telapak tangannya kembali berkeringat dingin.

Sebab faktanya memang begitu, sekarang bukan saja Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing dalam keadaan bahaya, bahkan Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio juga sudah masuk ke mulut harimau dan sukar dibayangkan bagaimana nasib mereka saat ini.

Seumpama sekarang juga Pwe-giok pergi menolong mereka, tetap tiada gunanya, sebab pada hakekatnya dia tidak tahu mereka telah dibawa ke mana oleh Bak-giok Hujin?

Lalu, apa yang diuraikan Tangkwik-siansing apakah seluruhnya benar?

Didengarnya kakek itu berkata pula, “Meski berbagai kejadian rahasia ini adalah hasil penyelidikanku selama bertahun-tahun dan tentu saja telah banyak memakan tenaga dan pikiranku, tapi ada juga sebagian adalah hasil perkiraanku berdasarkan semua fakta yang telah terjadi, boleh dikatakan tak dapat kubuktikan, tentu juga tidak seluruhnya dapat membuat orang percaya, umpama saja…kalau sekarang kukatakan Ji Hong-ho adalah samaran Ji Tok-ho, coba, siapakah yang mau percaya?”

Pwe-giok menghela napas, diam-diam ia membatin, “Memang betul. Kalau aku saja tidak percaya penuh terhadap keteranganmu, apalagi orang lain?”

Tangkwik-siansing memandang anak muda itu dengan lekat-lekat, katanya kemudian dengan tenang, “Ku tahu, dalam hati tentu juga kau sangsi terhadap apa yang ku uraikan ini, sebab itulah… sekarang juga akan kubawa kau menemui satu orang.”

“Menemui siapa?” tanya Pwe-giok heran.

Tangkwik-siansing tertawa, jawabnya, “Setelah bertemu nanti, tentu kau akan tahu sendiri.”

Begitulah mereka lantas meninggalkan gedung itu, meninggalkan jalan raya dan menyusur jalan gili-gili sawah, di depan kelihatan sebuah sungai kecil.

Ada sebuah jembatan kecil dengan embun yang belum kering, di seberang jembatan tampak pagar bambu mengelilingi tiga buah rumah gubuk beratap rumput alang-alang kering. Terdengar suara ayam dan anjing berisik di balik gubuk sana.

Cerobong asap di atas rumah tampak sedang mengepulkan asap dan buyar terbawa angin.

Dari jauh Pwe-giok sudah mencium bau harum obat yang sedang dimasak.

Kalau ada orang menyeduh obat, tentu di dalam rumah gubuk ada orang sakit. Dan siapakah yang sakit? Siapa pula yang sedang masak obat?

Pintu pagar tampak setengah tertutup, di bawah pagar tampak terletak sebuah anglo kecil dengan pot kecil tempat masak obat, agaknya air obat sudah mulai mendidih dan menyebarkan bau obat yang keras.

Seekor kucing hitam mendekam di samping anglo dengan setengah mengantuk. Di sekeliling situ tak tampak seorangpun. Di manakah orang yang memasak obat? Untuk apakah Tangkwik-siansing membawa Pwe-giok ke tempat ini?

“Meong”, mendadak kucing itu berbunyi sambil meloncat ke atas, ke dalam pangkuan Tangkwik-siansing.

Perlahan Tangkwik-siansing membelai bulu kucing hitam yang halus bagai sutera itu, ucapnya dengan tertawa, “Haha, si Hitam sayang, jangan mencakar jenggot kakek!”

Pwe-giok tidak berminat terhadap anjing atau kucing, maka ia tidak tertarik kepada kucing hitam kesayangan Tangkwik-siansing.

Selagi ia merasa kesepian, tiba-tiba terdengar seorang menegur, “Apa kabar, Ji-kongcu? Baik-baikkah selama ini?”

Suara itu timbul dari belakangnya. Keruan Pwe-giok terkejut, cepat ia berpaling, maka terlihatlah seraut wajah yang sudah dikenalnya.

Wajah yang sudah tua, penuh keriput dan bekas-bekas penderitaan kehidupan yang panjang, namun sinar matanya yang menampilkan senyuman simpatik tampak jernih bagai air telaga yang bening.

Kejut dan girang Pwe-giok demi mengenal siapa gerangan si kakek, serunya, “He, kiranya engkau berada di sini ? ”

Di sini dan dalam keadaan demikian ia dapat bertemu lagi dengan “si kakek Ko”, sungguh rasanya seperti mimpi atau sudah pada penjelmaan hidup baru.

Kakek itu memang betul si kakek Ko alias Tangkwik Ko yang sudah dikenalnya dan pernah menyelamatkan jiwanya di Sat-jin-ceng dahulu.

Tangkwik Ko sedang menjinjing sebuah ember kayu yang penuh terisi air. Meski dengan membawa ember sebesar itu dengan air penuh, ternyata Pwe-giok sama sekali tidak tahu akan munculnya orang tua itu, dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya.

Melihat codet pada muka Pwe-giok itu, seketika air muka Tangkwik Ko berubah, ia memandangnya lagi beberapa kejap, segera sorot matanya memancarkan senyuman pula, gumamnya, “Tampaknya segala sesuatu di dunia ini tidak boleh terlalu sempurna, akan lebih baik jika ada sedikit cacat atau sesuatu kekurangannya.”

Pwe-giok merasa kerongkongannya tersumbat, ingin bicara, tapi sukar bersuara. Seketika ia hanya melenggong saja.

Tangkwik Ko menepuk-nepuk bahunya, ucapnya dengan tertawa cerah, “Kutahu apa yang hendak kau katakan. Lebih baik tidak kau katakan saja. Di dalam rumah masih ada satu orang yang senantiasa memikirkan dirimu, lekas kau masuk menjenguknya.”

Siapakah orang di dalam rumah yang dimaksudkan Tangkwik Ko? Siapakah yang sakit dan perlu dimasakkan obat? Jangan-jangan Ki Leng-yan? Atau Cia Thian-pi? Atau Lim Tay-ih?

Tangan Pwe-giok terasa agak gemetar, tidak urung ia mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah gubuk itu.

Dilihatnya seorang berbaju putih berbaring miring di atas tempat tidur, mukanya pucat kekuning-kuningan dan agak kurus, matanya setengah terbuka dan setengah terpejam, namun sinar matanya tampak gemerlapan.

Begitu melihat orang ini, tak terkatakan rasa girang Pwe-giok, mendadak ia berteriak sambil menubruk maju, “Hong-samko! Mengapa engkaupun berada di sini, Hong-samko?”

Yang berbaring di situ, orang sakit yang perlu minum obat, ternyata Hoang Sam adanya.

Demi melihat Hong Sam dan Tangkwik Ko berada bersama di sini, seketika kepercayaan Ji Pwe-giok terhadap Tangkwik-siansing bertambah kuat, walaupun masih ada beberapa hal dirasakannya masih sukar mendapat penjelasan.

Lebih-lebih tentang kejadian di gua bawah tanah itu, di mana disaksikannya dengan jelas Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng telah membinasakan Ki Go-ceng, peristiwa ini dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan bukan kabar berita.

Begitulah, secara ringkas ia ceritakan kepada Hong Sam pengalamannya selama berpisah ini. Waktu menuturkan cara bagaimana Cu Lui-ji tertipu dan dibawa pegi oleh Ki Pi-ceng, sungguh tidak kepalang rasa sedih Pwe-giok dan juga merasa malu karena dirinya gagal melindungi anak dara itu.

Tapi Hong Sam lantas menghiburnya malah, katanya, “Ki Pi-ceng pasti tidak akan membikin susah Lui-ji, sebabnya dia membawa pergi Lui-ji hanya digunakan sebagai sandera saja agar kau tunduk kepada segala perintahnya, supaya kau tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kehendaknya, supaya kau tidak memusuhi dia.”

“Ya, seharusnya sejak semula kupikirkan hal ini, mengapa kubiarkan Lui-ji dibawa pergi olehnya?” kata Pwe-giok dengan menunduk.

“Padahal kaupun tidak perlu berkuatir bagi Lui-ji,” ujar Hong Sam dengan tertawa. “Anak dara ini cukup cerdik dan licin, kuyakin Ki Pi-ceng belum tentu dapat mengatasi dia. ”

Pwe-giok pikir urusan sudah kadung begitu, biarpun kuatir juga tiada gunanya. Terpaksa untuk sementara dia harus melapangkan dada dan kesampingkan dulu urusan Cu Lui-ji. Segera ia mengeluarkan buku harian dan potongan bambu itu, katanya kepada Hong Sam, “Barang-barang inilah yang kutemukan di bawah loteng kecil di Li-toh-tin itu…”

“Sungguh aneh, mengapa buku kecil catatan begini sedemikian mendapat perhatian Siau-hun-kiongcu dan disimpan secara rahasia ? “kata Hong Sam sambil berkerut kening.

Dengan serius Pwe-giok berkata, “Sebab buku ini adalah buku hutang-piutang yang disebut Giam-ong-ceh ( piutang raja akherat). Di sini tercatat segala perbuatan jahat setiap tokoh dunia persilatan. Dengan memiliki buku ini, sama halnya Siau-hun kiongcu memegang semacam jimat, sebab siapapun pasti kuatir rahasia buruknya akan dibongkar dan disiarkan olehnya, mau-tak-mau mereka merasa jeri dan segan padanya. ”

Hong Sam mengangguk, tapi lantas menggeleng-geleng pula, katanya, “Tidak, alasan ini memang betul juga, tapi masih ada juga segi kebalikannya, maksudku, buku Giam-ong-ceh ini justru merupakan sumber bencana.”

Pwe-giok termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, ku paham maksud Samko. Setiap tokoh Kangouw yang perbuatan buruknya tercatat di dalam Giam-ong-ceh, tentu dengan segala upaya ingin memiliki buku catatan ini, sebab kalau buku ini sudah dipegangnya, di samping perbuatan buruk sendiri dapat ditutupi atau dihapus, sekaligus dapat digunakan sebagai alat pemeras kepada orang lain. Betul tidak ?”

Hong Sam mengangguk, katanya “Betul, sebab itulah jika dari buku Giam-ong-ceh ini sudah sekian banyak rahasia orang lain yang kau ketahui, maka sekarang tidak perlu lagi kau pertahankan buku ini, supaya tidak mendatangkan kesukaran yang tidak kau harapkan.”

Pwe-giok tersenyum, jawabnya, “Dalam hal ini jalan pikiranku justru berlawanan dengan pendapat Samko. Sebab bila orang lain mengetahui buku Giam-ong-ceh ini berada padaku, biarpun buku ini kumusnahkan juga tetap sukar menghindari gangguan serta kesukaran yang akan timbul. ”

“Memangnya kenapa ?” tanya Hong Sam dengan heran.

“Sebab pasti tidak ada orang mau percaya buku ini telah kumusnahkan dengan begitu saja,” jawab Pwe-giok. “Jadi kesukaran yang akan timbul tetap sukar dihindari, malahan aku sendiri berharap semoga gelombang perkara ini bisa lekas timbul.”

Tangkwik-siansing menyabetkan jenggotnya yang panjang itu dan menyela, “He, anak muda, dari nada ucapanmu ini agaknya kau sangat menghendaki kekacauan di dunia ini , begitu bukan?”

Pwe-giok mengangguk, jawabnya, “Betul, karena itulah besok juga ku siarkan berita tentang Giam-ong-ceh, tentang macam-macam perbuatan jahat tokoh-tokoh kangouw itu. Tujuan daripada tindakanku ini bukan saja hendak menuntut balas bagi kematian ayahku, bahkan lebih dari itu, ingin kubersihkan dunia kangouw, hendak ku perbaharui dunia persilatan, tata tertib dunia kangouw harus dipulihkan, tidak boleh lagi dikotori oleh sekelompok manusia munafik yang bermantelkan bulu domba, tapi berhati serigala, setiap perbuatan yang mengelabui mata umum dan merugikan harus disikat bersih secara tuntas.”

Ucapan Pwe-giok ini membuat semua orang yang berada di dalam ruangan ini sama terbelalak dan juga merasa kagum dan memuji.

Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang panjang itu sambil terus menerus mengangguk, akhirnya iapun berkata dengan air muka kereng, “Anak muda, sungguh besar cita-citamu, sungguh gagah pendirianmu. Tapi tekadmu yang terpuji itu perlu juga disertai tindakan yang berencana. Jika sekarang juga secara gegabah kau bongkar apa yang tercatat dalam buku Giam-ong-ceh itu, maka dapat kuberikan suatu tamsil padamu…”

“Tamsil bagaimana?” tanya Pwe-giok dengan mengulum senyum.

“Dapat ditamsilkan seperti orang tidak sakit tapi minum obat, mencari penyakit sendiri, barangkali sudah bosan hidup,” ujar si kakek.

“Oo, apakah maksud Cianpwe hendak bilang kungfuku sekarang ini belum cukup mampu untuk menghadapi tokoh-tokoh Kangouw, belum kuat dikerubut oleh gembong-gembong dunia persilatan. Begitu?” jawab Pwe-giok.

“Betul,” Tangkwik-siansing mengangguk. “Pintar juga kau, memang tepat tebakanmu.”

“Site, hal ini memang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan,” sela Hong sam. “Meski cita-citamu setinggi langit, segala sesuatu juga harus dilakukan sesuai kemampuanmu. Jangan sampai terjadi napsu besar tapi tenaga kurang.”

Dengan tertawa Pwe-giok menjawab, “Ya, ucapan Samko memang betul, dengan sendirinya ada keyakinanku, ada sesuatu peganganku, makanya berani kukemukakan jalan pikiran yang latah ini, dan bukan omong kosong belaka.”

Semua orang menjadi saling pandang dengan melongo, mereka tidak percaya anak muda itu mempunyai sesuatu andalan yang bisa membantunya melaksanakan cita-citanya itu.

Dengan terbelalak Hong Sam lantas bertanya, “Memangnya apa peganganmu? Memangnya berdasarkan apa kau berani bicara sebesar itu? Coba jelaskan, supaya kamipun mengetahuinya.”

Segera Pwe-giok mengeluarkan potongan bambu kecil itu dan diacungkan ke atas, katanya, “Inilah Po-in-pay (tanda balas budi) Tangkwik-siansing, dengan pegangan benda ini, tidak perlu lagi kukuatirkan apapun.”

Tangkwik-siansing melonjak kaget, serunya , “He, anak muda, kenapa Po-in-pay itu juga berada padamu: Keji amat kau, masakah kakek hendak kau seret ke medan juang yang mungkin akan banjir darah itu?”

“Janganlah Lo-cian-pwe salah paham,” kata Pwe-giok dengan khidmat. “Bukan maksudku dengan menonjolkan Po-in-pay untuk memaksa Locianpwe tampil ke depan untuk mengadu jiwa dengan mereka, tapi tujuanku hanya memohon agar Cianpwe suka mengajarkan Bu-siang-sin-kang padaku agar dengan ilmu sakti ini dapat kubersihkan kaum munafik dan menegakkan orde baru di dunia persilatan.”

Kembali Tangkwik-siansing melengak, tanyanya, “Darimana kau tahu aku memilik ilmu sakti Bu-siang-sin-kang?”

“Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng sendiri yang memberitahukan hal ini kepadaku,” jawab Pwe-giok. “Menurut keterangannya, hanya Bu-siang-sin-kang inilah ilmu sakti yang dapat mengatasi kungfu andalannya, yaitu Sian-thian-ceng-gi.”

“Makanya akulah yang menjadi sasaranmu, dengan Po-in-pay hendak kau peras diriku?” kata Tangkwik-siansing.

Dengan hormat Pwe-giok mengangsurkan Po-in-pay dengan kedua tangannya, ucapnya, “Harap Cianpwe jangan marah, sungguh Wanpwe tidak ada niat hendak memeras orang dengan barang yang ku pegang ini. Yang kuharapkan adalah sudilah cianpwe mengingat keselamatan dunia Kangouw umumnya di kemudian hari dan bantulah terlaksananya cita-cita Wanpwe ini.”

Tangkwik-siansing mendengus, mendadak ia merampas Po-in-pau itu, menyusul sebelah tangannya terus menyodok ke dada Pwe-giok.

Keruan Hong sam dan Tangkwik Ko berseru kaget.

Tapi sayang, sudah terlambat, ketika mereka mengetahui yang digunakan Tangkwik-siansing adalah tenaga Bu-siang-sin-kang, terdengar Pwe-giok telah menjerit ngeri, tubuhnya terus mencelat dan melayang jauh ke sana seperti layangan yang putus benangnya, seperti dibawa angin lesus tubuh Pwe-giok menerobos rumah gubuk dan melayang ke tepi sungai.

Hong Sam melenggong, teriaknya kuatir, “Tangkwik-siansing tua bangka, kenapa kau turun tangan sekeji itu kepadanya?”

Tapi kakek itu tertawa sehingga matanya menyipit, ucapnya, “Haha, jangan-jangan karena kau terlalu lama kau berbaring di tempat tidur sehingga matamu sudah rabun!”

Hanya mengucapkan kata-kata yang tidak keruan juntrungannya itu, lalu dia melayang pergi secepat terbang.

Waktu Hong Sam memburu keluar, dilihatnya Tangkwik-siansing dan Pwe-giok sudah lenyap dari pandangan, hanya di kejauhan kelihatan sesosok bayangan kelabu berlari ke depan secepat terbang, hanya sekejap saja lantas menghilang.

Tentu saja Hong Sam kelabakan, segera ia bermaksud memburu kesana.

Pada saat itulah terdengar suara Tangkwik Ko bicara di belakangnya, “Jangan kau kuatir dan tidak perlu mengejarnya, dengan kecepatan lari kita jelas tidak dapat menyusulnya. Ku tahu tempat sembunyinya, nanti kalau kesehatanmu sudah pulih seluruhnya, akan kubawa kau kesana.”

Mendadak Hong Sam membalik tubuh dan menegas, “Harus menunggu sampai kesehatanku pulih sama sekali … tatkala mana Site sudah …”

“Jangan kuatir,” cepat Tangkwik Ko memberi tanda agar Hong Sam tidak melanjutkan ucapannya. “Kukira tidak perlu kau cemas baginya, Ji Pwe-giok bukanlah anak muda yang berpotongan cekak umur, dia takkan mati.”

Tapi Hong Sam masih tetap sangsi, ia pandang kawannya dengan perasaan bimbang …

Sang surya sudah mulai terbit, cahayanya yang gemilang menyinari sawah ladang sehingga alam ini kelihatan kuning emas. Di bawah cahaya subuh itulah Hong Sam seperti menyadari sesuatu, air mukanya berubah cerah.

o0o

Pada suatu tempat lain saat itu keadaannya hanya kegelapan belaka, kegelapan yang sunyi dengan angin dingin menyeramkan dan bau apek yang menusuk hidung.

Jalan lorong di bawah tanah yang panjang itu masih tetap sama seperti waktu datangnya, tetap sangat panjang seolah-olah tidak berujung.

Tiga sosok bayangan sedang merayap ke depan di dalam lorong panjang dan gelap itu.

Mereka ialah Cu Lui-ji, Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing.

Sesuai perintah gurunya, yaitu yang kini telah diketahui sebagai Bak-giok Hujin alias Ki Pi-ceng, adik perempuan merangkap isteri Ki go-ceng, Hay tong-jing hendak membawa Cu Lui-ji dan Thi-hoa-nio pulang ke gunung.

Ketiga orang itu terus merayap ke depan dalam kegelapan tanpa bicara Cu Lui-ji memegang Hay Tong-jing, dengan beriring-iring demikianlah mereka terus menggeremet ke depan, hati mereka terasa berat, seperti tertekan oleh batu yang berat.

Kini ketiga orang itu sama merasakan seolah-olah baru hidup kembali dari malapetaka, ketika di dalam gua tadi, pada detik terakhir yang berbahaya itu, kalau Bak-giok Hujin alias Ki Pi-ceng tidak muncul tepat pada waktunya, tentu mereka bertiga sekarang sudah mati tersiram lilin panas dan telah dijadikan patung penghias kamar batu yang penuh patung lilin itu.

Keadaan mereka sekarang tidak banyak berbeda daripada waktu masuknya tadi, tapi lantaran kekurangan seorang, yaitu Ji Pwe-giok, hal ini jelas lebih menekan perasaan Cu Lui-ji, baginya, kehilangan Ji Pwe-giok sama halnya kehilangan pelita, membuatnya merasa lorong di bawah tanah itu lebih gelap daripada semula, juga membuatnya bingung dan waswas.

Jarak mereka sekarang dengan ke-39 buah lentera itu masih sangat jauh.

Agaknya Hay Tong-jing tidak mau kesepian, dia yang membuka mulut terlebih dulu dan bertanya, “Kalau tidak salah ingat, pernah ada orang bilang, “tidak bicara lebih susah daripada mati”. Tapi pada saat diperlukan orang bicara seperti sekarang, ternyata tenggorokannya seperti keluar bisul dan tidak mau bersuara. Coba aneh tidak?”

Mendadak Lui-ji berhenti berjalan, katanya. “Ucapanmu ini kau tujukan kepadaku, bukan?”

“Tertuju siapa ucapanku ini kukira kita sama-sama tahu, masa perlu kujelaskan lagi?” jawab Hay Tong-jing.

“Hatiku lagi kesal, cara bicaramu hendaknya jangan berduri dan menusuk perasaan.” kata Lui-ji.

“Hatimu kesal? Memangnya kenapa merasa kesal?” tanya Hay Tong-jing dengan melenggong.

Karena pertanyaan ini, seketika Lui-ji juga melengak dan tak dapat menjawab.

Thi-hoa-nio lantas menimbrung, “Masakah perlu kau tanya lagi? Lantaran harus berpisah dengan Ji Pwe-giok, tentu hati nona Cu merasa kesal dan seperti kehilangan sukma, perasaan demikian tentu saja sukar dipahami oleh kaum lelaki seperti dirimu ini.”

Muka Lui-ji menjadi merah karena isi hatinya dengan tepat dibongkar oleh Thi-hoa-nio, untung di tengah lorong bawah tanah itu gelap gulita sehingga rasa likatnya itu tidak dilihat orang.

“Betapapun kesalnya kan juga tidak perlu murung begini,” ujar Hay Tong-jing, “perpisahan ini kan cuma untuk sementara waktu saja, bahkan guruku ada maksud menerima nona Cu sebagai murid, ini kan rejeki besar dan menggembirakan, kalau aku tentu sudah berjingkrak kegirangan sejak tadi.”

“Itukan jalan pikiranmu, tentu berlainan dengan jalan pikiran nona Cu,” kata Thi-hoa-nio. “Memangnya kau tahu apa yang sedang dipikirkan dia?”

Hay Tong-jing menjadi bungkam dan tak dapat menjawabnya.

Mereka terus merambat ke depan dengan diam, sungguh mereka ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang serupa neraka ini.

engah berjalan, mendadak Lui-ji berhenti, desisnya dengan perasaan tegang, “Ssst, coba dengarkan … suara apakah ini?”

Di lorong bawah tanah ini tidak cuma gelap gulita, bahkan juga sunyi senyap dan menyesakkan napas. Tapi di tengah keheningan yang amat luar biasa itu, sayup-sayup terdengar suara “srak-srek” yang berkumandang dari kejauhan.

Suara ini dapat diketahui sebagai suara berkibarnya kain baju ketika orang melompat tinggi atau melayang jauh, atau bisa jadi suara langkah orang yang sedang berjalan, tapi lantaran daya kumandang di lorong ini terlalu keras sehingga sukar dibedakan dengan jelas.

Suara “srak-srek” itu sangat lirih, seperti terjadi di tempat yang sangat jauh, yang didengar mereka adalah gema suaranya saja, kalau tidak, tentu merekapun takkan mengetahui apa-apa.

Cuma ada satu hal dapat dipastikan, yakni di lorong bawah tanah ini telah muncul orang lain lagi, dan orang ini sedang melayang ke arah sini.

Cu Lui-ji terlebih cermat daripada orang lain, cepat ia menarik Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing agar berjongkok di kaki dinding, mereka mendengarkan dengan menahan napas untuk menunggu kejadian selanjutnya.

Benarlah, pada saat lain, sesosok bayangan hitam secepat terbang melayang tiba.

Sungguh cepat luar biasa, seperti angin lalu saja cepatnya.

Cuma sayang, mereka bertiga tidak ada yang dapat membedakan potongan tubuh bayangan itu, bayangan itu seperti seekor burung raksasa dan juga seperti seekor kelelawar besar.

Setelah bayangan itu berkelebat dan menghilang, mereka bertiga masih terus berjongkok di situ hingga sekian lama lagi.

Selang sejenak pula, mendadak Lui-ji berucap dengan suara tertahan, “Aneh! Sungguh aneh!?”

Pelahan Thi-hoa-nio menarik lengan baju si nona dan bertanya, urusan apa yang membikin kau terheran-heran? Jangan-jangan ada kau temukan lagi sesuatu yang mencurigakan?”

“Aku tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan,” jawab Lui-ji. “aku cuma merasakan bayangan yang lewat tadi seperti Ji Hong-ho, Bu-lim-bengcu sekarang. Mungkin inilah yang dikatakan orang sebagai perasaan ke enam.”

“Ji Hong-ho katamu? Memangnya untuk apa dia datang ke sini?” ujar Thi hoa-nio.

“Sudah tentu tidak ada yang tahu, kecuali sekarang juga kita putar balik kesana dan mengintai secara diam-diam,” kata Lui-ji.

“Aku tidak berminat untuk merayap kian kemari di dalam lorong yang gelap dan pengap ini” ujar Thi hoa-nio.

“Tapi aku mendukung usul nona Cu ini,” tukas Hay Tong-jing. “Bukankah makhluk aneh yang suka menyiram manusia hidup dengan lilin panas itu sudah dibinasakan oleh ilmu sakti guruku, di sana tentu takkan timbul lagi adegan yang menakutkan seperti tadi, apalagi yang perlu kita takuti?”

Lui-ji juga berkeras pada sarannya, ucapnya, “Jika secara diam-diam Ji Hong-ho menyusup ke sini, bisa jadi sangat besar sangkut-pautnya dengan urusan Ji Pwe-giok, apapun juga aku harus kembali kesana untuk mengintipnya, inilah kesempatan baik yang sukar dicari.”

Karena dua suara melawan satu suara, terpaksa Thi hoa-nio tunduk kepada suara yang lebih banyak, akhirnya iapun setuju dan ikut putar balik ke arah datangnya tadi.

000OOO000

Di dinding ruangan gua sana menyala beberapa pelita minyak, di bawah cahaya yang redup, ada sebuah kursi batu kelihatan berduduk seorang perempuan berbaju hitam mulus, dan dia inilah Bak-giok Hujin Ki Pi-ceng.

Di ruangan gua batu itu sunyi senyap, tiada terdengar suara apapun. Ki Pi-ceng juga duduk tepekur di situ seperti menanggung tekanan batin yang amat berat.

Watak Bak-giok Hujin suka unggul, berkukuh kepada pendiriannya sendiri. Tapi setelah diberitahu dan diingatkan oleh Ki Go-ceng, akhirnya ia merasa caranya terhadap Ji Pwe-giok memang rada-rada kurang aman.

Namun sesuai wataknya yang kepala batu, ia suka meneruskan kesalahannya itu daripada mengaku salah di depan orang lain.

Dinding batu ruangan itu sangat dingin, tapi raut muka Bak-giok Hujin tampak lebih dingin, lantaran dalam hati merasa tidak aman, tanpa terasa tercetus pada mulutnya, “Masakah aku salah?… Masakah aku keliru…?

Ia menyangka di dalam gua rahasia ini, bahkan di seluruh lorong bawah tanah itu tiada terdapat orang lagi, biarpun dia berteriak mengutarakan segenap isi hatinya juga takkan dilihat dan didengar orang.

Tapi pikirannya ternyata keliru!

Justru pada saat suara ucapannya hampir lenyap, tiba-tiba dari luar pintu ruangan itu berkumandang suara seorang, “Kau memang keliru, bahkan keliru besar, tidak kepalang tanggung kesalahanmu!”

“Siapa?” bentak Ki Pi-ceng terkejut.

“Masakah suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap suara di luar pintu itu. “Wah, tampaknya pikiranmu saat ini benar-benar sangat kusut.”

Berbareng dengan lenyapnya suara itu, serentak melayang tiba sesosok bayangan orang, kiranya Ki Go-ceng adanya.

Ki Pi-ceng memandang dengan dingin, lalu bertanya, “Kenapa kau kembali secepat ini?”

Air muka Ki Go-ceng kelihatan juga masam, jawabnya, “Pertanyaanmu ini salah alamat, seharusnya kau tanya kepada bocah itu kenapa dia mengambil keputusan secepat itu.”

“Kau maksudkan Ji Pwe-giok?” tanya Ki Pi-ceng dengan heran.

“Siapa lagi kalau bukan dia? Bocah ini benar-benar sukar dilawan.”

“Memangnya keputusan apa yang telah diambilnya?” tanya Ki Go-ceng tak sabar.

“Urusah yang paling kita takuti,” tutur Ki Go-ceng. “Ia telah menyiarkan secara terbuka ke dunia Kangouw segenap apa yang tercatat dalam Giam-ong-ceh.”

Tergetar hebat hati Ki Pi-ceng, serentak ia melonjak bangun dan berteriak, “Apa katamu? Coba ulangi lagi sekali?”

Ki Go-ceng menyengir, ucapnya, “Ulangi lagi sekali atau seratus kali juga tetap begitu. Diantara catatan Giam-ong-ceh itu tidak cuma meliputi rahasia hubungan kita, bahkan juga mengenai hubungan gelap orang kita dan Ji Tok-ho.”

Tubuh Ki Pi-ceng tampak rada gemetar, gumannya, “Harus kubunuh dia… Akan kubinasakan dia secara mengerikan…”

“Baru sekarang teringat olehmu harus membinasakan dia, kukira sudah agak terlambat,” ucap Ki Go-ceng. “Sebab berita dalam Giam-ong-ceh sudah terlanjur tersiar, siapapun tak dapat menariknya kembali dan menghapusnya.”

“Dan kalau urusan sudah kadung begini, masakah kau malah menyesali diriku?” teriak Ki Pi-ceng dengan gusar.

Ki Go-ceng menggeleng, ucapnya dengan menghela napas, “Bukannya aku menyesali dirimu, tapi kenyataannya memang demikian. Malahan bocah she Ji itu sangat licik dan licin, saat ini dia telah menghilang, entah sembunyi dimana, sudah beberapa tempat kucari dan tetap tak dapat menemukan dia.”

“Ah, itu hanya soal waktu saja,” ujar Ki Pi-ceng dengan suara gemas, “Aku pasti akan membinasakan dia dengan tanganku sendiri, bahkan harus kubunuh dia dengan cara yang paling kejam dan paling mengerikan.”

“Tapi berbareng itu kita masih perlu juga membinasakan seorang lagi,” tukas Ki Go-ceng. “Sebab orang ini jauh lebih menggemaskan daripada bocah itu.”

“Memangnya siapa yang kau maksudkan?” tanya Ki Pi-ceng dengan melengak.

“Ialah musuh bebuyutan kita, si tua bangka Tangkwik-siansing,” tutur Ki Go-ceng.

“Hah, dia? Masakah urusan inipun ada sangkut-pautnya dengan dia?” tanya Ki Pi-ceng dengan heran.

Sinar mata Ki Go-ceng seperti mengeluarkan api, katanya dengan gregetan, “Justru setan tua itulah yang menjadi tulang punggung anak muda itu sehingga dia berani menantang kita. Ku tahu maksud tujuanmu semula adalah hendak memperalat Po-in-pay yang berada pada bocah itu untuk memeras dan mengancam setan tua Tangkwik itu, siapa tahu sekarang malah senjata makan tuan, kita yang menerima akibatnya. Siapa pun tidak menyangka urusan ini akan berubah menjadi begini buruk.”

“Kembali kau menyesali diriku lagi?” tanya Ki Pi-ceng dengan melotot.

“Apa gunanya sekarang kita bicara tentang kesalahan siapa, toh tak dapat menyelesaikan persoalan pokoknya,” ujar Ki Go-ceng. “Yang penting sekarang harus kita pikirkan akal yang baik untuk menghadapi mereka.”

“Kuyakin persoalan Ji Pwe-giok mudah dibereskan, yang sulit ialah si setan tua Tangkwik itu,” kata Ki Pi-ceng.

“Jika begitu, terpaksa kita harus membuka kartu terakhir,” kata Ki Go-ceng sambil menyengir. “Terpaksa kita tonjolkan Ji Hong-ho gadungan hasil karya bedah kita. Biarkan dia melaksanakan tugasnya selaku Bu-lim-bengcu yang berkuasa, biarkan dia mengumumkan kedua orang, yang satu tua dan yang lain muda itu sebagai musuh bersama dunia persilatan. Dengan begitu kita lantas tidak perlu kuatir lagi dan juga tidak perlu turun tangan sendiri.”

Ki Pi-ceng mendengus, katanya, “Tapi jangan kau lupa bahwa aslinya dia adalah bandit di daerah gurun yang terkenal dengan julukan It-koh-yan. Pada saat yang belum cukup masak, masakah dia mau diperalat oleh kita semudah itu?”

“Kukira tidak ada soal, “ujar Ki Go-ceng. “Sebab jelek-jelek dia kan sudah berbau anggota keluarga kita, Kalau bicara tentang untung rugi pribadinya, tentu juga dia tak bisa tinggal diam, sebab di dalam Giam-ong-ceh itu juga tidak terlepas dari hutangnya yang masih wajib dibayar.”

Ki Pi-ceng tidak bersuara, dia seperti sedang merenungkan gagasan Ki Go-ceng itu.

Pada saat itulah, mendadak sinar mata Ki Go-ceng memancar tajam seperti sinar kilat yang menyorot ke arah pintu, dengan suara bengis ia menegur, “Siapa itu yang berada di luar?!”

Segera di luar pintu berkumandang suara ketus seseorang, “Kawan atau lawan, selanjutnya terserah kepada pilihanmu!”

Suara itu sudah sangat dikenal oleh Ki Go-ceng maupun Ki Pi-ceng, segera pula pembicara itu menyelinap masuk. Siapa lagi dia kalau bukan Ji Hong-ho tiruan, Bu-lim-bengcu gadungan, Ji Tok-ho tulen.

Melihat kedatangan Ji Tok-ho, kedua orang she Ki itu menjadi rada kikuk malah.

Sikap Ji Tok-ho ternyata sekarang tidak sungkan-sungkan lagi terhadap mereka, ia hanya melirik sekejap kepada mereka, lalu berkata, “Hah, lakon sandiwara yang kalian sutradarai selama ini sungguh amat bagus dan menarik, baru sekarang ku tahu jelas wajah asli kalian.”

Ki Go-ceng mendelik, ucapnya, “Jika demikian, jadi maksudmu kau telah dirugikan, begitu?”

“Antara kita sebenarnya tidak perlu bicara tentang untung dan rugi, “jengek Ji Tok-ho. “Sebab kalau mau menyusun neraca, biarpun seratus tahun juga sukar dihitung.”

“Jika begitu, baik neraca untung maupun rugi boleh kita kesampingkan,” kata Ki Go-ceng.

“Cuma, sudah sekian tahun keluarga Ki kami telah kau nodai, masakah kau malah menyesal kepada kami?”

“Kentut anjing! Hal-hal ini masakah pantas kau kemukakan?” damprat Ji Tok-ho dengan gusar.

“Keluarga Ki sekarang sudah tercemar dan berantakan, untuk apalagi ku tinggal di sini!” teriak Ki Go-ceng dengan gusar, mendadak ia melayang keluar dengan cepat.

Setelah terdiam sejenak, kemudian Ki Pi-ceng berkata, “Sepantasnya tidak boleh kau datang ke sini, sehingga membikin urusan tambah runyam.”

“Pergolakan sudah timbul di dunia kangouw, dan itu memerlukan tindakanku, masa aku tidak perlu berunding dengan kau?” kata Ji Tok-ho.

“Apakah kau maksudkan pergolakan yang timbul akibat tersiarnya Giam-ong-ceh?” tanya Ki Pi-ceng.

“Betul,” Ji Tok-ho mengangguk. “Tak terduga berita yang kau terima ternyata tidak lebih lambat daripadaku. Sekarang urusan lain tidak perlu kita persoalkan, marilah kita mendahului turun tangan, mungkin segala sesuatu masih dapat kita pertahankan.”

“Kukira sukar untuk dipertahankan, hanya setan tua dan bocah keparat itu harus kita tumpas untuk melampiaskan dendam kita.”

“Kukira masih belum terlambat, asalkan kita turun tangan selekasnya, bisa jadi segala sesuatu masih dapat berubah,” ujar Ji Tok-ho.

“Kan Giam-ong-ceh sudah disebar-luaskan di dunia Kangouw, masakah pamor kita masih dapat dipertahankan?” tanya Ki Pi-ceng dengan heran.

“Betul, sebab sampai saat ini, berita yang tersiar itu hanya terbatas pada percakapan orang di tepi jalan saja dan belum ada orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri catatan dalam buku Giam-ong-ceh itu, jadi pada umumnya orang Kangouw masih diliputi kesangsian, setengah percaya setengah ragu.”

“Jika menurut penuturanmu, jadi masih ada setitik harapan, “kata Ki Pi-ceng. “Apa maksudmu hendak mengajak aku berangkat bersama sekarang juga?”

“Betul, “jawab Ji Tok-ho. “Ku tahu tempat sembunyi si tua bangka Tangkwik Ko, bila beruntung, bisa jadi kita akan menemukan mereka di sana.”

Biji mata Ki Pi-ceng berputar, katanya tiba-tiba, “Tidak, aku perlu pulang dulu ke gunung”

“Pulang ke gunung?” Ji Tok-ho menegas dengan heran. “Ada urusan apa yang bisa lebih penting daripada pergolakan yang ditimbulkan oleh berita Giam-ong-ceh itu?”

“Akan ku kurung dulu Cu Lui-ji di sana, sebab anak dara itu telah dibawa pulang ke gunung oleh Hay Tong-jing atas perintahku” tutur Ki Pi-ceng. “Jika anak dara itu tetap dalam genggaman kita, tentu akan besar manfaatnya untuk kita gunakan sebagai alat pemeras terhadap Ji Pwe-giok”

“Jika demikian boleh kutemani kau pulang ke gunung dulu, habis itu barulah kita bersatu untuk membikin perhitungan dengan mereka” kata Ji Tok-ho.

Ki Pi-ceng mengangguk setuju, segera mereka meninggalkan gua di bawah tanah itu.

—–

Mungkin disebabkan pikiran yang sedang resah dan hati gelisah, maka ketika Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho meninggalkan ruangan gua itu dan masuk ke lorong, mereka ternyata tidak memergoki Cu Lui-ji bertiga yang bersembunyi di sekitar situ.

Lui-ji bertiga segera menyusul ke situ setelah Ji Tok-ho masuk ke lorong itu tidak lama kemudian, sebab itulah semua percakapan antara Ki Pi-ceng dan Ji Tok-ho dapat didengar oleh mereka, mereka mendekam di tempat sembunyinya dan tidak berani bergerak sedikitpun, bahkan bernapas tidak berani keras-keras.

Sekarang, setelah bayangan Ji Tok-ho dan Ki Pi-ceng menghilang di ujung lorong sana, demi menjaga segala kemungkinan, mereka bertiga masih terus mendekam sekian lamanya di tempat sembunyi itu, setelah semuanya terasa aman barulah pelahan mereka berdiri.

Hay Tong-jin menghentakkan kaki ke tanah dan berucap dengan menyesal, “Sungguh aku menyesal! Aku menyesal mengapa aku mempunyai guru sekotor ini? Aku menyesal mengapa tidak sejak dulu kuketahui rahasia mereka”

“Kita boleh dikatakan sangat mujur” kata Lui-ji. “Untung mendadak timbul semacam firasatku dan tidak langsung ikut kau ke gunung, tapi memutar balik ke sini. Kalau tidak, tentu sampai saat ini kita masih tidak tahu apa-apa, jelas akupun akan dijadikan sandera oleh mereka”

“Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk mengobrol, kita harus lekas-lekas meninggalkan lorong ini,” kata Thi-hoa-nio. “Apapun juga kita harus berdaya untuk mengadakan kontak dengan Ji-kongcu.”

“Tapi siapakah yang tahu dimana jejak mereka sekarang?” ujar Lui-ji dengan sedih, hampir saja mengucurkan air mata.

“Bukankah tadi Ji Hong-ho gadungan itu mengatakan Ji-kongcu sangat besar kemungkinan berada di tempat kakek Ko?” tukas Thi-hoa-nio. “Maka bolehlah kita mengusut dan mencarinya melalui garis petunjuk ini.”

“Tapi siapa pula yang tahu letak tempat kediaman kakek Ko?” sela Hay Tong-jing. “Mencari sesuatu yang tidak jelas kan sama saja seperti omong kosong?”

Seketika semangat Lui ji terbangkit, katanya, “Mari, kita keluar dulu dari lorong pengap ini, apapun juga kita harus berusaha mendahului menemukan Toako, kalau tidak, tentu dia akan terjebak oleh kelicikan musuh.”

Segera mereka mempercepat langkah menuju ke lubang keluar lorong itu. Mereka sudah tidak menghiraukan lagi bahaya apa yang mungkin timbul.

000OO000

Kabut telah menyelimuti lereng-lereng gunung yang terjal dan berderet-deret. Indah sekali pemandangan alam ini.

Tidak lama kemudian kabut pagi itupun buyar, sang surya sudah terbit, di bawah cahayanya yang gilang gemilang tertampak puncak gunung menjulang tinggi menghijau segar, pepohonan lebat masih basah oleh embun dilingkupi awan tipis laksana kepulan asap… Sungguh pemandangan permai seperti tempat kediaman malaikat dewata dalam dongeng.

Terdengar suara gemuruh air terjun, di pinggang gunung sana yang berkumandang hingga jauh, selain itu lereng gunung ini boleh dikatakan sunyi senyap.

Pada saat itulah, di tengah semak pepohonan yang rindang di kaki gunung sana muncul dua sosok bayangan kelabu, kedua orang itu sama memiliki Ginkang kelas satu, mereka terus berlari, dengan cepat sepanjang jalan melayang dan meloncat dengan enteng sekali, melintasi gunung dan memanjat puncak, menyeberangi sungai dan menyusuri kali, hanya sebentar saja mereka sudah melayang tiba di tempat air terjun yang gemerojok dengan kerasnya!.

Pemandangan di sekitar air terjun terlebih permai, batu karang yang beraneka ragamnya, tebing yang curam dengan dinding yang berlumut dan air pun berhamburan dari atas sana.

Kedua sosok bayangan orang itupun turun dari puncak sana dan berhenti tidak jauh di depan air terjun.

Kedua orang ini bukan lain daripada Tangkwik Ko dan Hong Sam.

Setelah memandang sekitarnya sejenak, lalu Tangkwik Ko berkata, “Ya, betul, inilah tempatnya. Pasti di sini, tidak nanti dia bersembunyi di tempat lain.”

Hong Sam kelihatan sangat kagum, katanya, “Sungguh suatu tempat yang indah, bilakah dia menemukan tempat tirakat sebagus ini?”

“Belum lama berselang, tanpa sengaja dia bercerita tentang tempat baik ini,” tutur kakek Ko dengan tertawa “Kecuali diriku, di dunia ini mungkin tidak ada orang lain lagi yang tahu akan tempat ini.”

Hong Sam lantas memandang sekitarnya dengan cermat, katanya kemudian, “Lantas dimanakah dia? Mengapa tidak kelihatan?”

Pada saat itulah, ditengah gemuruh suara air terjun itu mendadak berkumandang suara orang tua berteriak, “Hai, mengapa kalian seperti setan gentayangan saja, kemana pun ku pergi selalu kalian kuntit. Tempat sembunyiku yang terpencil ini akhirnya dapat kalian temukan juga.”

Suara itu timbul dari balik gerombol pohon cemara yang lebat sana.

Dari suaranya segera Hong Sam berdua dapat mengenalinya sebagai suara Tangkwik-siansing. segera mereka berlari kesana mengikuti arah suara itu.

Setiba di tempat, hanya sekilas pandang saja mereka lantas melihat Tangkwik-siansing lagi bersantai di atas pohon.

Cara bersantai kakek kurus kecil itu sangat istimewa, kedua kakinya yang kecil itu menggantol pada dahan pohon, kepalanya menjungkir ke bawah sehingga wajahnya tertutup seluruhnya oleh jenggotnya yang panjang, apabila orang melihatnya secara mendadak, mustahil kalau tidak menyangka ketemu siluman.

“Eh, semangat kau orang tua benar-benar harus dipuji, tampaknya dari tua telah kembali muda sehingga berhasrat main ayun-ayunan di tempat tersembunyi ini,” dengan tertawa Hong Sam berseloroh.

“Kalau berminat, boleh juga kaupun naik kemari untuk mencobanya,” jawab Tangkwik-siansing. “Aku berani menjamin, inilah cara bersantai yang paling menyenangkan apabila kau habis berlatih kungfu.”

Sungguh Hong Sam ingin tertawa, sedangkan kakek Ko hanya berdiri disamping sambil menggeleng-geleng kepala.

Mendadak Tangkwik-siansing mengayun tubuhnya, sekali melejit, seperti putaran roda saja, belum lagi orang sempat melihatnya bagian mana kepalanya dan bagaimana kakinya, tahu-tahu ia sudah melayang turun dan berdiri tegak di depan Hong Sam.

“He, dimanakah saudaraku?” seru Hong Sam dengan tak sabar lagi.

“Untuk apa kau tegang begini? ujar Tangkwik-sian-sing, “Memangnya kalian kuatir kubunuh dia dan kurampas harta bendanya?”

“Sekalipun kami berpendapat begitu juga tidak keterlaluan,” ujar Hong Sam. “Coba jawab apa maksudmu merampas Po-in-pay, lalu menghantam bocah itu hingga mencelat, memangnya semua itu bermaksud baik? Dapatkah kau sangkal semua fakta ini?”

“Justru itulah peraturanku yang khas dan sudah berlaku sejak dulu,” teriak Tangkwik-siansing. “Barang siapa ingin belajar kungfuku, maka dia harus kucoba dengan Bu-siang-si-kang, supaya ku tahu sampai dimana tingkat kekuatannya menahan pukulanku?”

“Busyet!” seru Hong Sam. “Masakah pakai dicoba dengan pukulan segala?… Sungguh aneh dan ajaib, di dunia ini ternyata ada cara menerima murid dengan syarat selucu ini.”

“Apanya yang aneh? Apanya yang lucu? Kau sendiri yang sedikit pengalaman dan dangkal pengetahuan, maka segalanya kau rasa aneh,” omel Tangkwik-siansing dengan mencibir. “Padahal waktu kucoba dia hanya kugunakan tiga bagian tenaga ku saja, apabila dia tidak cukup memenuhi syarat, tentu kontan dia akan mati ku pukul. Tapi bocah itu memang lain daripada yang lain, sekumur darah saja tidak tumpah.”

“Sudahlah, tidak perlu banyak membual lagi,” si kakek Ko menyeletuk, “Yang penting sekarang, Ji-kongcu berada di mana?”

Tangkwik-siansing menuding ke arah air terjun dan berkata, “Di balik air terjun itu ada sebuah panggung batu alam, di sanalah dia berduduk untuk berlatih”

Hong Sam merasa heran, tanyanya, “Air terjun sekeras itu dengan suara gemuruh terus menerus tanpa berhenti, suaranya memekak telinga, masakah kau biarkan dia berduduk dan berlatih di sana”

“Tampaknya kau memang dangkal pengetahuan, makanya segala apa membuat kau heran” kata Tangkwik-siansing. “Ketahuilah, di sinilah terletak perbedaan Bu-siang-sing-kang dengan kungfu lain”

“Baiklah, anggaplah memang dangkal pengetahuanku, maka sekarang kuminta penjelasanmu supaya ku tahu rahasia apa di balik cara berlatih yang luar biasa ini?” kata Hong Sam.

Tangkwik-siansing mengelus jenggotnya yang panjang, tuturnya kemudian, “Bu-siang-sin-kang dapat diyakinkan atau tidak bergantung kepada kekuatan batin dan kecerdasan otaknya. Apabila kekuatan batinnya sudah terpupuk dengan baik, biarpun gunung ambruk di hadapannya juga takkan membuatnya terkejut, apalagi cuma air terjun dan suaranya yang gemuruh. Jika yang berlatih tidak tahan oleh suara gemuruh yang berlangsung terus menerus, maka hal ini berarti kekuatan batinnya belum cukup, kalau kekuatan batin tidak kuat, berarti sukar membangkitkan kecerdasannya, ini berarti tidak memenuhi syarat untuk berlatih Bu-siang-sin-kang, sebab itulah bocah itu harus lulus dulu dari ujianku ini, habis itu baru dapat ku tentukan dia dapat berlatih Bu-siang-sing-kang atau tidak”

“Dan sekarang apakah dia sudah memberi reaksi akan kekuatan batinnya atau belum?” tanya Hong Sam.

“Dia memang hebat” kata Tangkwik-siansing dengan tertawa. “Bahkan sama sekali di luar dugaanku. Kuberani bertaruh dengan siapapun, sebelum lewat tujuh hari dia pasti akan berhasil meyakinkan Bu-siang-sin-kangku”

“Masa begitu pesat kemajuannya?” Hong Sam menegas dengan melongo.

“Ya, kalau orang lain, tidak mungkin berhasil secepat ini” ujar Tangkwik-siansing. “Pembawaan bocah ini memang lain daripada yang lain, ditambah lagi kegiatan berlatih secara pondasi yang telah dimilikinya sebelum ini, maka dia memang pemuda yang sukar dicari bandingannya. Cuma dalam waktu tujuh hari, siapa pun tidak boleh mengejutkan dia, kalau tidak, bukan saja Bu-siang-sin-kang akan gagal dilatihnya, akibatnya akan membuatnya mengalami kelumpuhan dan tamatlah segalanya.”

“Masa kami memandangnya dari jauh juga tidak boleh?” tanya Hong Sam.

Untuk sejenak Tangkwik-siansing melenggong, katanya kemudian, “Baiklah, kalau tidak kululuskan permintaanmu, bisa jadi kau masih mencurigai diriku telah membunuh dan merampas harta bendanya.”

—–

Cara bagaimana si kakek Tangkwik-sianseng menggembleng dan mengajarkan Bu-siang sin kang kepada Pwe giok?

Bagaimana pula nasib Cu-Lui-ji yang berada dalam cengkeraman Ki Pi-ceng alias Bak giok Hujin?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

4 Comments »

  1. […] “Hah, kaupun tahu kejadian itu?… Aneh, sungguh aneh?!” kata Thian-sip-sing dengan tercengang. (more…) Leave a Comment […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm

  2. […] Imbauan Pendekar – 14 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:36 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm

  3. […] kaupun tahu kejadian itu?… Aneh, sungguh aneh?!” kata Thian-sip-sing dengan tercengang. (more…) Leave a […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm

  4. Bagus sekali ceritanya, seakan masuk di dalamnya,

    Comment by Istanamurah — 14/02/2014 @ 3:49 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: