Kumpulan Cerita Silat

09/06/2010

Imbauan Pendekar – 09

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:31 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Sukantas009)

Ucapan ini memang benar dan masuk akal sehingga sukar dibantah.

Tong Siu-jing menghela napas panjang, lalu berkata dengan muram, “Pandangan anda sangat tajam, kami tidak cuma berterima kasih, juga sangat kagum. Hanya saja anak murid keluarga Tong yang dewasa sedikitnya ada 500 orang lebih, yang mahir menggunakan Tok-cit-le ini juga ada ratusan orang. Dalam waktu singkat mungkin sangat sukar menemukan siapa pembunuhnya. Sebab itulah diharap anda suka menyerahkan persoalan ini kepada kami untuk membereskannya. Kelak kami pasti akan memberi pertanggung jawaban kepada anda.”

“Hm, orang luar semacam diriku ini memang tidak pantas ikut campur urusan dalam rumah tangga keluarga Tong,” jengek Yang Cu-kang. “Hanya saja apa yang kau katakan barusan ini sukar dipercaya orang.”

“Yang kukatakan adalah sejujurnya…”

“Sejujurnya?” Yang Cu-kang menegas, “Kalau begitu coba jawab, apakah Tong-locianpwe meninggal di kamar pribadinya yang terahasia?”

“Ini… ini….” Tong Siu-jing gelagapan.

“Kalau dia tidak mati di kamar rahasia pribadinya, maka setelah dia terkena senjata rahasia berbisa, tentu akan segera diketahui oleh kalian, mengapa mesti menunggu sampai ikut campurnya orang luar seperti sekarang ini?”

Karena tidak ada alas an lain, terpaksa Tong Siu-jing mengaku, katanya, “Betul, beliau memang wafat di kamar tidur pribadinya.”

“Jika demikian, ingin kutanya pula, di antara ratusan anggota keluarga Tong yang mahir menggunakan Tok-cit-le, ada berapa orang di antaranya yang boleh masuk ke kamar pribadi Tong-locianpwe?”

Biarpun Tong Siu-jing juga pandai bicara, sekarang ia menjadi mati kutu dan tak dapat menjawab pertanyaan Yang Cu-kang yang tajam itu.

Baru sekarang Pwe-giok mengetahui ketajaman mulut Yang Cu-kang ternyata tidak di bawah ilmu silatnya.

Para anak murid keluarga tong, sama menunduk, tiada seorangpun berani memandang Tong Ki.

Tapi semakin mereka tidak berani memandangnya, justru sama dengan memberitahukan kepada orang lain, bahwa yang dapat memasuki kamar pribadi Tong Bu-siang itu setiap saat, hanya terdiri dari beberapa nona keluarga Tong saja. Hanya saja mereka merasa borok rumah tangga sendiri tidaklah baik disiarkan keluar, maka tidak ada yang mau bicara.

Maka selain anak murid keluarga Tong, pandangan semua orang sama tertuju kea rah Tong Ki. Sorot mata mereka jauh lebih merikuhkan daripada ucapan apapun.

Wajah Tong Ki tampak pucat. Nona besar keluarga Tong yang sehari-hari terkenal pintar bicara dan cekatan dalam bertindak ini, kini harus menghadapi tuduhan membunuh orang tua sendiri. Sekujur badannya kelihatan gemetrar, ia berdiri kaku di situ dan tak dapat bicara sekatapun.

Mendadak salah seorang hadirin berseru, “Masakah anak perempuannya juga bisa membunuhnya?”

Ucapan ini kedengarannya seperti ingin membela Tong Ki, padahal sama saja melontarkan tuduhan resmi terhadap Tong Ki. Waktu semua orang menoleh, tidak kelihatan siapa yang bersuara itu.

Terdengar yang Cu-kang menjengek,” Seorang kalau sudah kemaruk kepada kekuasaan dan kedudukan, segala apapun dapat diperbuatnya.”

Tiba-tiba seseorang berseru pula di tengah orang banyak, “Masakah maksudmu demi menjabat Ciangbunjin, nona besar Tong tidak sayang membunuh ayahnya sendiri, memangnya siapa yang mau percaya kepada ocehanmu ini?”

Ucapan ini tambah menyudutkan Tong Ki, meski dia bilang siapapun tidak mau percaya, yang benar mungkin sedikit sekali orang yang tidak percaya kepada ucapan ini.

Yang Cu-kang mendengus,” Apabila hati Tong-toakohnio tidak menyembunyikan sesuatu, mengapa dia melarang orang lain memeriksa sebab musabab kematian Tong-locianpwe? Pada waktu jenazah Tong-locianpwe dibersihkan, masa dia tidak melihat tanda-tanda luka beracun pada tubuhnya?”

Seketika para pelawat menjadi heboh, semuanya yakin si pembunuhnya pastilah Tong Ki, sampai-sampai Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji mau-tak-mau juga percaya.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia sendiripun sedih, pikirnya,” Jika benar Tong Ki membunuh ayahnya lantaran ingin kedudukan dan berkuasa, maka apa yang terjadi ini boleh dikatakan hukum karma, sebab “Tong Busiang” yang dibunuhnya ini justru adalah musuhnya yang membunuh ayahnya yang sesungguhnya.”

Sorot mata Yang Cu-kang yang tajam itu menatap wajah Tong Ki, katanya dengan bengis, “Tong-toakohnio, sekarang apa yang dapat kaukatakan lagi?”

Tong Ki balas melototinya dan menjawab sekata demi sekata, “Benar kau minta aku menceritakan duduk perkara yang sebenarnya?”

“Hm, masa kau berani bercerita?” jengek Yang Cu-kang.

“Baik, kau sendiri yang memaksa ku bicara,” jawab Tong Ki dengan suara bengis, lalu ia menarik napas panjang-panjang.

Tapi sebelum ia bicara lagi, mendadak Tong Lin berseru, “Kejadian ini seharusnya akulah yang menjelaskannya.”

Gadis yang selalu murung ini biasanya jarang bicara, sejak tadi iapun bungkam belaka, siapa tahu pada detik yang genting ini mendadak ia buka suara. Apa yang diucapkannya bahkan sangat mengejutkan, sampai Pwe-giok juga terkesiap dan tak dapat menerka apa yang hendak diceritakan.

Tong Ki memandangnya dengan penuh rasa heran dan sangsi, tanyanya, “Kau…”

Dengan air muka kelam Tong Lin berkata pula, “Pada saat terakhir sebelum ayah meninggal, hanya aku saja yang berjaga di sampingnya, sebab itulah cuma aku saja yang mengetahui dengan jelas sebab musabab kematian beliau.”

“O, hanya kau yang tahu?” Yang Cu-kang menegas dengan terheran-heran.

“Ya, hanya aku,” jawab Tong Lin.

Yang Cu-kang berkerut kening, katanya, “Apakah kau sendiri yang membunuh Tong-locianpwe?”

Betapapun ia merasa sangat heran, sebab sesungguhnya Tong Lin tidak ada alasan untuk membunuh ayahnya sendiri.

Li Be-ling menarik tangan Tong Lin dan bertanya dengan suara lembut,” Mungkin kau terlalu berduka, sehingga pikiranmu menjadi kurang sadar?” “Pikiranku cukup terang dan sadar,” jawab Tong Lin, “sebenarnya tidak ingin kukatakan kejadian ini, akan tetapi keadaan sudah mendesak, jika tidak kubeberkan, tentu fitnah terhadap Toaci sukar lagi dicuci bersih.”

Tong Ki memandang adiknya itu dengan bingung, entah kaget entah terima kasih.

“Malam itu,” demikian Tong Lin mulai berkisah,” Toaci dan Toaso sudah sama tidur. Tiba-tiba teringat sesuatu urusan dan harus kubicarakan dengan ayah. Maka aku lantas mencari beliau untuk berunding, meski sudah larut malam.”

“Kau teringat kepada urusan apa?” tanya Yang Cu-kang.

“Urusan rumah tangga kami apakah kaupun ingin ikut campur?” jengek Tong Lin.

Yang Cu-kang menyengir dan tidak bicara lagi.

“Siapa tahu, belum lagi ku masuk ke kamar ayah, segera kudengar ada suara orang bicara di situ,” demikian Tong Lin melanjutkan ceritanya. “Tentu saja aku sangat heran, sudah larut malam begini mengapa di kamar ayah masih ada tamu? Padahal sehari-hari ayah hidup teratur, jarang tidur jauh malam, bahkan bila kedatangan tamu tentu kamipun diberitahu, kecuali tamunya tidak melalui pintu gerbang , melainkan masuk secara sembunyi-sembunyi.”

“Hm, penjagaan Tong-keh-ceng sedemikian keras dan ketat, sekalipun ada orang hendak menyelundup ke sini secara sembunyi-sembunyi kukira juga bukan pekerjaan mudah,” jengek Yang Cu-kang.

“Bukan saja tidak mudah, bahkan tidak mungkin terjadi,” tukas Tong Lin.

“Jika demikian, cara bagaimana pula tamu itu masuk ke kamar ayahmu?” Tanya Yang Cu-kang.

“Di kamar ayah ada sebuah jalan rahasia yang langsung menembus ke luar perkampungan,” tutur Tong Lin, “mungkin orang itu sudah ada janji dengan ayah, sebab itulah ayah sendiri yang membawanya masuk melalui jalan rahasia di bawah tanah itu.”

Bahwa kejadian rahasia inipun diceritakannya, meski belum diketahui bagaimana lanjutannya, tapi sedikit banyak orang sudah mulai percaya kepada penuturannya.

“Sebenarnya aku tidak sengaja hendak mengintip rahasia ayah, tapi aku sudah terlanjur datang ke situ, selagi aku berdiri di situ dengan ragu, mendadak kudengar ayah sedang berkata, “Kita adalah kenalan lama, tapi persoalan ini cukup penting, betapapun aku harus hati-hati. Kau tahu, senjata rahasia Tong-keh-ceng selamanya tidak pernah dipinjamkan kepada orang luar.”

“O, orang itu datang untuk meminjam senjata rahasia kepada Tong-locianpwe,” tanya Yang Cu-kang.

“Tatkala mana, akupun merasa orang itu terlalu tidak tahu diri dan ingin memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Kudengar dia bicara banyak dengan ayah dan tampaknya tetap minta ayah meminjamkan senjata rahasia kepadanya.”

“Apalagi yang dikatakannya?” tanya Yang Cu-kang.

“Dia bilang urusan yang akan dilaksanakannya sangat penting, jika berhasil, ayah juga akan mendapatkan manfaatnya. Dia bilang jika ayah tidak mau tampil sendiri, sedikitnya harus meminjamkan senjata rahasia kepadanya.”

“Lalu Tong-locianpwe menerima permintaannya?” tanya Yang Cu-kang lagi.

“Tidak, meski ayah adalah kepala keluarga, tapi peraturan leluhur betapapun tidak berani dilanggar oleh beliau.”

“Dan kalau senjata rahasia tidak dipinjamkan kepada orang itu, maka orang yang menewaskan Tong-locianpwe juga bukan dia.” ujar Yang Cu-kang.

“Kudengar orang itu masih terus membujuk,” demikian Tong Lin menyambung, “ku kuatir ayah akan terbujuk akhirnya, maka cepat ku masuk ke situ. Sebab kuyakin bilamana ada orang ketiga ikut hadir, tentu orang itu tidak leluasa untuk bicara lagi.”

“Dan dia juga melihat kedatanganmu?” tanya Yang Cu-kang.

“Dia bukan orang buta, masa tidak melihat kedatanganku?” jawab Tong Lin. “Meski kedatanganku membuatnya agak terkejut, tapi dia ternyata tidak mengurungkan maksud tujuannya.”

“O, dia kenal kau?” tanya Yang Cu-kang.

Tong Lin mengangguk, jawabnya dengan muram, “Justru lantaran kukenal dia, makanya aku tidak mencurigai dia. Siapa tahu pada saat aku lengah, sebiji Tok-cit-le yang kubawa telah dicuri olehnya.”

Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang, tiba-tiba ia mendengus, “Hm, rupanya orang itupun seorang copet sakti.”

“Gerak tangannya sungguh halus dan cepat, bukan saja aku tidak tahu sama sekali, bahkan ayah juga tidak mengetahuinya, “sambung Tong Lin dengan menyesal.

“Kau datang ke kamar ayahmu, untuk apa kau bawa senjata rahasia?” tanya Yang Cu-kang dengan melotot.

“Anak murid keluarga Tong tidak pernah meninggalkan senjata rahasianya, pada waktu tidurpun selalu membawanya,” jawab Tong Lin.

“Apakah inipun peraturan leluhur kalian?” tanya Yang Cu-kang.

“Betul,” jawab Tong Lin tegas.

“Dan dengan Tok-cit-le yang dicurinya darimu itu digunakannya untuk membunuh ayahmu?” tanya Yang Cu-kang lagi.

Tong Lin menunduk dengan muram, sambungnya lagi,” Pada waktu ia mohon diri, ayah mengantarnya keluar, setiba di ambang pintu, mendadak dia membalik badan dan memberi hormat, tapi kesempatan itu telah digunakannya menepuk sekali di dada ayah, siapapun tidak menyangka pada telapak tangannya tersembunyi senjata rahasia, lebih-lebih tidak menyangka hanya lantaran ayah menolak meminjamkan senjata rahasia kepadanya, lalu dia turun tangan keji terhadap ayah.”

Sampai di sini ceritanya, tanpa terasa semua orang percaya tujuh bagian kepadanya. Sebab meski urusan ini tidak seluruhnya masuk akal, tapi urusan sudah terlanjur begini, betapapun Tong Lin sendiri ikut bertanggung jawab, jadi mustahil dia berdusta hal-hal yang tidak menguntungkan dia.

Yang Cu-kang menghela napas panjang, katanya,” Jika demikian, jadi kau menyaksikan sendiri ketika orang itu membunuh Tong-locianpwe?”

“Betul,” jawab Tong Lin.

Mendadak Yang Cu-kang membentak dengan gusar,” Jika benar kau saksikan sendiri kejadian itu, mengapa baru kau ceritakan sekarang?”

Tong Lin menunduk, ucapnya dengan sedih. “Sebab… sebab orang yang bertindak begitu adalah …adalah bakal suamiku, ayah memang sudah menjodohkan diriku kepadanya.”

Keterangan ini seketika menggemparkan para hadirin, ada yang terkejut, ada yang menyesalkan, ada yang kasihan, tapi terhadap apa yang diceritakan itu tidak curiga lagi. Sebab kalau tidak terpaksa, tidak mungkin Tong Lin mau membeberkan rahasianya sendiri.

Diam-diam Pwe-giok juga merasa gegetun, sungguh dia tidak menyangka urusan bisa berbelit-belit begini.

Dengan menangis Tong Lin berkata pula, “Waktu kulihat dia berani turun tangan keji terhadap ayah, sebenarnya saat itu juga ingin ku adu jiwa dengan dia, tapi hatiku menjadi lemah setelah dia membujuk rayu diriku.”

“Hm, dasar perempuan,” jengek Yang Cu-kang, “perempuan memang condong ke luar, kalau sudah punya suami, ayah ibu pun tak terpikir lagi. Kebanyakan perempuan di dunia memang begini, maka kaupun tak dapat disalahkan.”

“Kuminta jangan kau omong lagi,” kata Tong Lin dengan air mata bercucuran. “Akupun tahu dosaku, namun menyesalpun tidak keburu lagi, sebab apa yang terjadi ini tidak kubeberkan waktu itu, kemudian aku semakin tidak berani omong. Waktu ayah dimasukkan peti, akulah yang mengatur segala sesuatu, sebab ku kuatir luka di tubuh beliau diketahui orang lain.”

“Jika demikian, urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan saudaramu yang lain?” tanya Yang Cu-kang.

“Ya, hakekatnya mereka tidak tahu apapun,” kata Tong Lin.

“Hm, bagus, pemberani, kau memang pemberani dengan menanggung semua perbuatan ini,” jengek Yang Cu-kang.

“Hal ini memang kesalahanku, dengan sendirinya aku harus bertanggung jawab,” kata Tong Lin dengan menangis.

“Tapi siapakah bakal suamimu itu? Masa orang lain tidak tahu?” tanya Yang Cu-kang.

“Perjodohan kami ini diputuskan oleh ayah dan mestinya akan diresmikan pada hari ulang tahunku yang ke 18 nanti, siapa tahu…siapa tahu belum tiba hari ulang tahunku dan beliau sudah…sudah …” dia menangis tersedu-sedu sehingga tidak sanggup melanjutkan.

“Apakah kau masih hendak menyembunyikan identitasnya?” tanya Yang Cu-kang dengan bengis.

Tong Lin menangis sambil menutup mukanya dan tidak menjawab.

Semua orang jadi murka, ada yang berteriak “Siapa anak jadah itu? Jika tidak kau katakan, cara bagaimana akan kau hadapi ayahmu di alam baka nanti nona tong?”

Tong Lin menggreget, seperti mengambil keputusan dengan tekad yang bulat, mendadak ia mendongak, katanya sambil menuding seorang, “Bakal suamiku itu ialah dia!”

Sungguh, siapapun tidak menduga bahwa orang yang dituding oleh Tong Lin adalah Ji Pwe-giok!

Mimpipun Pwe-giok sendiri juga tidak menduga, dia malah menyangka yang dimaksudkan Tong Lin adalah seorang yang berdiri di belakangnya, ia menoleh.

Tapi segera didengarnya Tong Lin menyambung lagi, “Iyalah orang ini, Ji Pwe-giok.”

Keterangan ini tidak cuma menggemparkan para hadirin, para anak murid Tong juga serentak mengepung Pwe-giok di tengah, semuanya melototinya dengan mata merah berapi, seperti sekawanan binatang liar yang sudah kalap dan siap menerkam dan mengganyangnya.

Selama hidup Pwe-giok sudah acapkali dituduh dan difitnah, entah sudah betapa banyak dia mengalami kejadian di luar dugaan dan mengejutkan, tapi tidak ada satupun yang lebih menggetarkan hatinya seperti sekarang. Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus membantah atau memberi penjelasan, seketika ia terkesima dan tidak dapat bicara.

Di ruangan besar itu kembali gempar, ada yang berteriak murka, ada yang mencaci-maki.

Ada yang berkata, “Sungguh tidak tersangka sudah membunuh Tong-loyacu, keparat ini masih juga berani datang ke sini, sungguh besar amat nyalinya.”

“Ya, tampaknya dia ramah tamah dan sopan santun, siapa tahu dia adalah manusia yang berhati binatang,” sambung yang lainnya.

Ada lagi yang menanggapi dengan suara tertahan, “Jika bukan pemuda cakap seperti dia ini, mana bisa Tong-jikohnio terpikat olehnya.”

Dengan sendirinya Lui-ji juga melenggong kaget, baru sekarang ia berteriak, “Tidak, bukan dia, tidak mungkin dia, kalian keliru!”

Seperti orang kesetanan dia menerjang ke tengah kerumunan orang banyak dan menubruk ke samping Pwe-giok terus mendekapnya, dengan suara parau ia berteriak pula, “Tidak mungkin dia melakukan hal ini. Apalagi dua hari yang lalu hakekatnya dia tidak berada di sini, tapi masih berada beratus li jauhnya di sana, mana bisa dia terbang ke sini untuk membunuh oang.?”

“Dari mana kau tahu dua hari yang lalu dia masih berada di tempat beratus li jauhnya?” bentak Tong Siu-hong mendadak.

“Dengan sendirinya ku tahu, sebab selama ini aku selalu berada bersama dia,” jawab Lui-ji.

“Memangnya kau ini apanya?” tanya Siu-hong.

“Akulah isterinya ” jawab Lui-ji tegas.

Tong Siu-hong menggeleng dan menghela napas, katanya, “Ai, nona cilik, mungkin kau telah tertipu dan diperalat olehnya.”

Dengan suara parau Lui-ji berteriak, “Meng…mengapa kalian tidak percaya kepada keteranganku ? Mengapa kalian memfitnah orang baik-baik.?”

“Orang semacam ini tidak ada harganya untuk dibela, nona cilik,” ujar Tong Siu-hong dengan gegetun. “Kalau dia dapat menipu orang lain, lambat atau cepat kaupun akan tertipu olehnya.”

“Dia pernah menipu siapa? Coba katakan!” teriak Lui-ji.

“Kalau dia sudah mengikat jodoh dengan gadis keluarga Tong, tapi di luaran dia memelet pula dirimu, jahanam yang tidak berbudi pekerti seperti ini masakah masih kaubela?” teriak Siu-hong dengan gusar.

“Tapi hakikatnya dia tidak pernah mengikat jodoh apa segala dengan orang keluarga Tong kalian,” kata Lui-ji.

“Darimana kau tahu?” Siu-jing ikut bertanya.

“Tentu saja kutahu, sebab sejak kukenal dia, selama ini kami tidak pernah berpisah,” jawab Lui-ji tegas.

Gemerdep sinar mat Tong Siu-jing, tanyanya pula, “Bilakah kau kenal dia?”

“Aku…aku …” hanya satu kata saja Lui-ji berucap dan tidak dapat menyambung lagi. Sebab perkenalannya dengan Ji Pwe-giok belum lagi ada sebulan lamanya, apa yang dilakukan Pwe-giok lebih sebulan yang lalu, tentu saja tak diketahuinya sama sekali.

Baru sekarang ia merasakan dirinya sama sekali tidak tahu apapun mengenai diri Ji Pwe-giok, kecuali tahu namanya, urusan lain tidak pernah diberitahu oleh Pwe-giok. Bahkan namanya asli atau palsu juga tidak diketahuinya dengan pasti.

Tong Siu-jing melihat perubahan air muka si nona, katanya dengan lembut, “Nona cilik, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, lebih baik kau menyingkir saja.”

“Apa … apa kehendak kalian?” tanya Lui-ji

Wajah para anak murid keluarga Tong tampak kelam dan masam, semuanya tutup mulut.

Padahal tanpa menjawabpun semua orang tahu apa yang hendak mereka lakukan.

Jika benar Ji Pwe-giok telah membunuh orang tua mereka, mana bisa mereka melepaskan dia begitu saja. Sejak tadi mereka sudah menyiapkan senjata rahasia maut di tangan masing-masing.

Kini Pwe-giok terkepung oleh berpuluh orang. Asal Am-gi atau senjata rahasia mereka dihamburkan, biarpun punya sayap juga sukar bagi Pwe-giok untuk menghindar.

Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya dengan rawan,” Ya, persoalan ini memang tidak ada sangkut-pautnya dengan kau, maka lebih baik kau menyingkir saja.”

Dia tahu mati hidupnya hanya bergantung dalam sedetik saja, maka ia tidak ingin membuat susah Lui-ji, apalagi iapun dapat melihat kini anak dara itupun curiga kepadanya dan tidak lagi percaya kepadanya seperti sebelum ini.

Lui-ji mengertak gigi dan berkata, “Tidak, apapun juga ku tahu hal ini pasti takkan kau lakukan.”

“Apa gunanya kalau tahu?” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir, “apa yang kau katakan hakekatnya tidak dipercaya mereka, padahal selain dirimu, siapa lagi yang dapat memberi kesaksian bahwa dua hari yang lalu hakekatnya aku tidak berada di sini.”

Ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu menyambung pula dengan suara parau, “Ya, seandainya ada orang lain yang tahu, siapakah di dunia seluas ini yang sudi menjadi saksi bagi Ji Pwe-giok.”

Air mata Lui-ji sudah meleleh di pipinya.

Dilihatnya Tong Lin telah menyusup ke tengah orang banyak sambil berseru, “Ji Pwe-giok, jangan kau salahkan diriku, aku…aku terpaksa, maka kukatakan terus terang.”

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya, “Ya, kau sangat baik, sangat baik…”

“Tapi bagaimanapun juga, bila kau mati, akupun tidak ingin hidup lagi di dunia ini…” ucap Tong Lin dengan menangis.

Mendadak Lui-ji membentak, “Kau perempuan jahanam, kau bikin celaka dia hingga begini, kau masih berani bicara lagi dengan dia!” Di tengah bentakannya segera ia menubruk ke sana.

Tong Lin tidak menangkis, dan juga tidak menghindar, ucapnya dengan pedih, “Bagus, biarlah kita mati bersama-sama saja!”

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu tangan Lui-ji sudah mencekik lehernya.

Tong Siu-jing bermaksud melerai mereka, tapi dicegah oleh Tong Siu-hong, “Tidak perlu,” bisik Tong Siu-hong dengan suara tertahan, “keluarga Tong kita tidak beruntung, sehingga terjadi urusan begini, biarkan saja dia mati.”

Tong Siu-jing menoleh, dilihatnya Tong Ki masih berdiri kaku di tempatnya tadi dengan wajah pucat seperti mayat, sama sekali tidak ada niatnya hendak mencegah keributan antara kedua nona itu.

Dalam pada itu para hadirin lantas berteriak-teriak, “Ji Pwe-giok, apa lagi yang akan kau katakan… Hayolah, anak murid keluarga Tong, lekas kalian turun tangan, kami sama menunggu hendak menggunakan hati keparat ini untuk sesaji di depan layon Tong-locengcu.”

Tapi Pwe-giok berdiri berpangku tangan tanpa bicara apapun, sebab ia tahu tiada gunanya bicara terhadap orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat ini.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berseru, “Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwe-giok, sungguh kau bernasib sial, tanpa sebab kau difitnah sebagai pembunuh. Tampaknya lebih baik kau mati di tanganku saja daripada mati secara penasaran.”

Suaranya bergema hingga lebih keras daripada suara beratus orang yang sedang berteriak-teriak itu. Tanpa terasa semua orang sama mendongak dan memandang ke atas. Baru diketahui mereka entah sejak kapan Yang Cu-kang telah melompat lagi ke atas belandar, dengan tangan memegang poci arak dan mulut menggigit sepotong paha ayam, sedang makan dengan nikmatnya.

“Difitnah apa? Bukti sudah nyata, saksi juga ada, masa kaupun ingin membelanya ? “teriak Tong Siu-hong.

Yang Cu-kang menjengek, “Hm, bukti dan saksi ? Di mana ? Siapa pula yang menyaksikan dia membunuh Tong-locengcu ? ”

“Apa yang dikatakan Ji-kohnio tadi masa tidak kau dengar? “kata Siu-hong.

Yang Cu-kang menghela napas dan menggeleng, ucapnya, “Hanya berdasarkan keterangan seorang perempuan dan kalian lantas hendak menjatuhkan vonis padanya, sungguh anggap nyawa orang bagai permainan anak kecil saja.”

Tong Siu-hong menjadi gusar, teriaknya,” Memangnya kau anggap Ji-kohnio berdusta?”

“Ya, mana mungkin Jikohnio berdusta!” teriak orang banyak.

“Betul, tindakannya itu selain membikin celaka orang lain, ia sendiripun susah dan ikut tersangkut, sungguh akupun tidak paham mengapa dia berdusta? Yang jelas ku tahu dia memang berdusta.”

“Kau tahu? Kau tahu apa?” teriak Siu-hong dengan murka.

“Ku tahu dengan pasti malam kemarin dulu orang she Ji ini memang tidak berada di Tong-keh-ceng, tapi jauh berada di tempat ratusan li sana.”

“Hm, hanya berdasarkan keteranganmu saja masa dapat dipercaya?” jengek Siu-jing.

Yang Cu-kang menghela napas, katanya, “Ya, akupun tahu keteranganku sukar dipercaya oleh kalian, sebab itulah sejak tadi aku diam saja.”

Baru saja habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara “cas” satu kali, menyusul lantas terjadi getaran dahsyat seperti langit runtuh dan bumi ambles, belandar ruangan pendopo itu mendadak patah. Atap pendopo itu ambruk dengan menerbitkan suara gemuruh yang menggetar sukma.

Seketika jeritan kaget dan takut terdengar di mana-mana, semua orang berebut lari keluar agar tidak tertindih oleh gedung yang ambruk itu. Ada yang bertenaga lemah dan berilmu silat rendah, kontan roboh terinjak-injak sehingga timbul teriakan ngeri di sana-sini.

Tong Siu-hong, Tong Siu-jing dan lain-lain merasa kayu dan batu bertebaran menjatuhi mereka, terpaksa mereka harus mencari selamat lebih dulu. Dengan tangan mereka melindungi kepala masing-masing, walaupun begitu, tidak urung merekapun tidak terhindar oleh urukan puing, sebelah kaki Tong Siu-hong malah tertindih oleh belandar patah dan merintih kesakitan.

Walaupun begitu, ia tetap berteriak memberi komando, “Awas, jangan sampai lolos keparat she Ji itu, jaga rapat pintu keluar!”

Tapi seluruh ruangan pendopo itu sekarang sudah kacau balau, mana Ji Pwe-giok dapat ditemukan lagi.

“Mungkin dia sudah kabur pada waktu kekacauan terjadi,” teriak Siu-jing dengan gusar.

Di tengah teriakannya, serombongan anak murid keluarga Tong yang tidak terluka telah ikut dia menerjang ke luar. Tapi baru sampai di ambang pintu, kembali debu pasir dan rontokan puing berhamburan dari depan, bahkan sedemikian kuat sehingga tanah pasir yang rontok ke lantai juga menerbitkan suara gemerasak.

Mendadak tampak Yang Cu-kang berdiri di depan pintu dengan tertawa, ucapnya dengan tenang, “Apa yang kalian kejar ? Memangnya kalian tidak percaya kepada keteranganku ? Kalau tidak percaya, agaknya terpaksa harus kuruntuhkan segenap rumah Tong-keh-ceng kalian. ”

—–

Pada waktu terjadi kekacauan, tiba-tiba Pwe-giok mendengar suara Yang Cu-kang berkata di sampingnya, “Di sini dapat kulayani sendiri, lekas kalian menerjang keluar dan menyusur jalan raya, nanti kalian akan dipapak orang… ”

Belum habis ucapan Yang Cu-kang, segera Pwe-giok menarik Cu Lui-ji dan sebelah tangan mengempit Tong Lin yang sudah jatuh pingsan itu, mereka terus menerjang keluar mengikuti arus manusia.

Tanpa banyak buang tenaga, dapatlah Pwe-giok menerjang keluar pintu, sebab Yang Cu-kang telah menghadang di depan sana, didengarnya di ruangan pendopo sana masih ramai dengan suara gemuruh.

Tetamu yang semula duduk makan minum di luar, karena diterjang oleh arus manusia yang membanjir keluar dari dalam, serentak merekapun lari lintang pukang, meja kursi jungkir balik, mangkok piring pecah berantakan. Ada yang sol sepatunya agak tipis, begitu menginjak pecahan beling seketika menjerit kesakitan, tapi baru menjerit kontan mereka diterjang roboh dan terinjak-injak oleh arus manusia.

Ada sementara tamu yang hadir dengan membawa anak kecil, maksud mereka ingin hemat, daripada makan di rumah, mumpung ada pesta, nunut makan sekalian. Siapa tahu keuntungan tidak diperoleh, sebaliknya malah tertimpa petaka.

Maka di tengah jeritan di sana sini terselip pula jerit tangis orang perempuan dan anak kecil.

Jika yang hadir cuma orang-orang kangouw saja, mungkin kekacauan itu akan lebih mudah diatasi, tapi kini di antara tamu ditambah sanak famili dan sobat andai keluarga Tong di sekitar Tong-keh-ceng, maka suasana benar-benar kacau-balau tak keruan, ada orang yang biasanya bisa bersikap tenang, dalam keadaan begitu pusing kepala juga oleh suasana hiruk pikuk ini.

Hanya Pwe-giok saja yang sudah gemblengan dan kenyang siksa derita, pada saat demikian masih tetap tenang dan kepala dingin. Ia menyapu pandang sekejap sekelilingnya, segera ia menarik Lui-ji berlari menuju ke sebuah gang di sebelah kiri sana.

“Mengapa kita tidak menyusuri jalan raya, bukankah di sana katanya akan dipapak orang ? ” tanya Lui-ji.

Dengan suara tertahan Pwe-giok menjawab, ” Meski Yang Cu-kang menolong kita, tapi kata-katanya tetap tidak boleh dipercaya, orang ini banyak tipu akalnya, tindak-tanduknya sukar diduga, dia menolong kita pasti dengan tujuan tidak baik. ”

“Betul, akupun tidak habis mengerti mengapa dia tidak membunuh kita, sebaliknya malah menyelamatkan kita, “kata Lui-ji.

Setelah masuk ke jalan kecil ini, orang berlalu lantas sedikit, sebab pada umumnya semakin kacau suasananya, semakin sedikit orang yang menuju ke tempat sepi, kebanyakan orang tentu berlari menuju ke tempat yang banyak orangnya dan tidak dapat membedakan arah mana yang lebih aman.

Meski ada orang yang jelas-jelas tahu di depan ada jurang berapi, tapi bila melihat semua orang sama berlari ke sana, tanpa kuasa iapun akan ikut orang banyak berlari ke situ. Sebab dalam keadaan demikian umumnya orang sudah kehilangan rasio, sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.

Di depan kelihatan pepohonan yang jarang-jarang, ternyata suatu tempat yang sunyi, suasana kacau balau tadi tampaknya sudah ditinggalkan jauh di belakang sana.

“Tempat apakah ini ? ” tanya Lui-ji.

“Tempat pribadi keluarga Tong, ” jawab Pwe-giok.

Lui-ji terkejut, serunya, “Lari saja kuatir tersusul, kenapa kita malah menuju ke tempat mereka? Memangnya kita sengaja mengantar nyawa?”

“Hanya jalan ini paling baik bagi kita, “ujar Pwe-giok, “sekalipun rada berbahaya, terpaksa harus kita coba.”

Lui-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Kau kira segenap anggota keluarga mereka berada di depan sana, maka sengaja kau tempuh bagian yang sepi dan penjagaan longgar ini?”

Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak terdengar seorang menghardik, “Berhenti! Apakah kalian ingin lari?”

Berbareng dengan suara bentakan itu, belasan pemuda berpakaian ringkas ketat serentak melayang keluar dari balik hutan di sebelah kanan sana, yang menjadi kepala adalah orang yang terluka sebelah kakinya, darah di kaki yang cidera itu belum lagi kering, nyata dia inilah Tong-Siu-hong yang tadi tertindih oleh belandar patah itu.

Orang ini benar-benar manusia baja, meski kaki sudah patah tulang, tapi tubuh masih tegak seperti tonggak.

“Kau lagi, seru Lui-ji dengan gregetan. “Mengapa kau terus membuntuti kami?”

Ia tidak tahu bahwa Tong Siu-hong tidaklah sengaja mengejarnya, hanya lantaran jalan mereka dirintangi Yang Cu-kang, terpaksa mereka harus memutar dari belakang, siapa tahu secara kebetulan jalan lari Pwe-giok dan Lui-ji malah benar-benar tercegat.

Nasib manusia terkadang memang sangat ajaib, seperti kata peribahasa, “Sengaja menanam bunga, bunga tidak berkembang. Tidak sengaja menanam pohon Liu, justru pohon ini tumbuh rindang.” Seluk-beluk hal demikian mungkin hanya orang yang sudah mengalami sendiri barulah dapat memahaminya.

Baru habis Lui-ji berkata tadi, serentak anak murid keluarga Tong lantas terpencar dan mengepung mereka di tengah, cuma merekapun jelas merasa jeri, maka tidak berani sembarangan turun tangan.

Berputar biji mata Lui-ji, segera ia tahu pihak lawan merasa kuatir bila melukai Tong Lin yang berada dalam cengkeraman Pwe-giok. Maka ia lantas berkata dengan tertawa, ” Sesungguhnya kami tidak membunuh Tong Bu-siang, selamanya kita tidak kenal mengenal dan tiada sengketa apapun, asalkan kalian melepaskan kami, segera kami kembalikan nona Tong kepada kalian.”

Ia menyangka ucapannya ini sudah cukup tepat. Siapa tahu Tong Siu-hong seakan-akan tidak mendengar saja, mendadak ia membentak, “Tok-soa ! ”

“Tok-soa” atau pasir berbisa adalah senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihai, meski jaraknya tak dapat mencapai jauh, tapi asal dalam lingkaran seluas kurang dari dua tombak, asalkan pasir beracun itu dihamburkan, jarang ada orang yang dapat lolos dari serangannya, dan asalkan terkena satu butir pasir saja, kalau tidak dioperasi bagian lukanya, dalam waktu singkat bagian luka itu akan membusuk dan dalam waktu tiga hari, orang itu akan mati.

Tong Siu-hong tidak malu berjuluk sebagai “Thi-bin-giam-lo”, si raja akhirat bermuka besi, artinya orang yang berhati keras tanpa kenal ampun, nyata ia sudah bertekad mengambing-hitamkan Tong Lin, bila perlu nona itu akan dibiarkan mati bersama Ji Pwe-giok.

Di antara anak murid keluarga tong ada juga sementara pemuda yang diam-diam menaksir Tong Lin, tapi sekali mendengar perintah Tong Siu-hong, tiada seorangpun yang ragu dan membangkang. Dalam sekejap itu belasan tangan yang bersarung kulit menjangan sudah meraup pasir beracun yang berada di kantung masing-masing, bila tangan mereka ditarik kembali, segera akan terjadilah hujan pasir, dan dalam jarak belasan tombak di sekitar Pwe-giok dan Lui-ji akan berada di bawah ancaman pasir berbisa itu.

Tapi sekarang mendadak Pwe-giok menerjang ke sebelah kiri.

Rupanya pada waktu Tong Siu-hong memberi perintah tadi, ia sempat melihat perubahan air muka dua orang pemuda di sebelah kiri, mereka memandang Tong Lin dengan sorot mata yang sedih dan tidak tega.

Maka tahulah Pwe-giok kedua pemuda ini pasti diam-diam mencintai tong Lin, serangan mereka tentu juga tidak tega, asalkan cara turun tangan mereka memperlihatkan agak ragu, tentu Pwe-giok ada harapan untuk menerjang keluar kepungan.

Walaupun cara demikian sangat berbahaya, tapi dalam keadaan kepepet, tiada pilihan lain lagi baginya. Dia benar-benar menerjang keluar.

Tapi dia lupa terjangannya itu tetap tak dapat lolos dari jangkauan pasir beracun itu, bila anak murid keluarga Tong itu menghamburkan pasir beracun dari belakang, tentu juga akan sulit menghindarkannya.

Untunglah pada saat itu juga mendadak terdengar suara Tong Ki berteriak, “Berhenti, semuanya berhenti!”

Di tengah suara teriakannya, muncul Tong Ki bersama Li Be-ling , di belakang mereka ikut pula tujuh atau delapan orang pelayan berpakaian singset, semuanya berlepotan debu pasir.

“Hamburkan Tok soa, jangan sampai mereka kabur!” bentak Siu-hong dengan bengis.

“Jangan! Tidak boleh!” bentak Tong-ki tidak kurang bengisnya.

“Serang!” teriak Siu-hong pula sambil menghentak kaki.

Tong Ki juga menghentakkan kakinya ke tanah dan berteriak, “Siu-hong apa kau tidak pikirkan lagi keselamatan Jimoay?”

Dalam pada itu para anak murid keluarga Tong sudah siap menggenggam pasir berbisa, tapi semuanya ragu dan serba salah, entah perintah siapa yang harus mereka turut. Sementara itu Pwe-giok dan Lui-ji sudah sempat menerjang pergi beberapa puluh tombak jauhnya.

“Kohnaynay (bibi), jika kau pikirkan hubungan pribadi, keluarga Tong bisa hancur oleh tindakanmu ini, “seru Siu-hong dengan suara parau.

Tib-tiba Li Be-ling ikut bicara, “Urusan ini tidak perlu kalian ikut campur, kujamin mereka takkan bisa kabur, turutlah kepada perkataanku dan tentu takkan salah.”

Biasanya Li be-ling terkenal pendiam dan jarang bicara, maka setiap ucapannya cukup berbobot.

Tong Siu-hong melotot, katanya,” Baik, biarlah kuserahkan mereka kepada kalian.”

Sembari bicara rombongan anak murid keluarga Tong itu tetap mengejar ke depan sana. Sebaliknya Pwe-giok membawa seorang tawanan, jalanan tidak apal pula, maka sukar untuk lolos dari kejaran lawan. tapi setelah Siu-hong memberi tanda, pengikutnya tadi lantas berhenti mengejar, hanya tinggal Li Be-ling dan Tong Ki saja yang masih terus mengejar ke depan.

Dengan ginkang Pwe-giok dan Lui-ji, mestinya mereka dapat lolos dari kejaran musuh, tapi apa yang dapat dikatakan lagi kalau di depan sudah buntu, beberapa rumah tampak menghadang di depan sana, di belakang rumah adalah dinding tebing belaka.

Yang dipikir Pwe-giok hanya selekasnya meloloskan diri, tidak ada hasratnya untuk bergebrak dengan lawan. Dia tidak ingin mencelakai lawan, juga kuatir sukar kabur bila terlibat lagi dalam pertempuran, namun keadaan sekarang memaksanya mau-tak-mau harus menggunakan kekerasan.

Tak terduga, setiba di sini, Tong Ki dan Li Be-ling lantas berhenti jauh di sana dan tidak mendesak maju lagi. Malahan Tong Ki memberi tanda lambaian tangan, agaknya menyuruh mereka lekas pergi.

Pwe-giok jadi melengak, seperti ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi, ia tarik Lui-ji dan menerjang masuk ke dalam deretan rumah di depan.

Tampak segala sesuatu yang terdapat di dalam rumah itu teratur dengan rapi, setiap alat perabotnya serba antik dan indah.

Lui-ji menggeleng, katanya, “Aku tidak paham mengapa yang Cu-kang menolong kita, tapi aku lebih-lebih tidak habis mengerti bahwa Tong-toakohnio inipun menolong kita, sungguh aneh dan ajaib.”

“Di dunia ini memang banyak kejadian yang tak terduga,” ucap Pwe-giok.

“Dan bahwa Tong-jikohnio bisa membikin susah padamu, mungkin juga tidak kauduga bukan?” jengek Lui-ji tiba-tiba.

Pwe-giok hanya menghela napas dan tidak bicar lagi.

Saat itu Tong Lin belum lagi siuman, Pwe-giok menaruhnya di atas kursi, lalu dia mencari di seluruh ruangan.

Lui-ji tidak tahu apa yang dicari anak muda itu, ia coba tanya, “Tempat apakah di sini?”

“Kamar pribadi Tong Bu-siang,” jawab Pwe-giok.

Lui-ji terkesiap, ucapnya, “Tong-toakohnio sudah menolong kita, kesempatan ini tidak kita gunakan untuk kabur, untuk apa kita berbalik lari masuk ke kamar rahasia Tong Bu-siang?”

“Untuk mencari jalan keluarnya.”

“Jalan keluar? Masa di sini ada jalan keluarnya?”

Belum lagi Pwe-giok menjawab, Lui-ji sudah melihat dipan di pojok kamar itu mulai bergeser, di bawah tempat tidur itu muncul sebuah lorong di bawah tanah yang sangat gelap.

“Hah, kiranya di sini memang ada jalan keluar rahasia, “seru Lui-ji sambil berkedip-kedip, “pantas Tong-jikohnio ini mengatakan kau masuk ke sini melalui jalan rahasia, caranya berdusta ternyata sangat hidup dan seperti terjadi sungguhan. ”

Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menanggapi, segera ia mendekati tong Lin dan mengangkatnya.

Mendadak Lui-ji mendengus, “Hm, tampaknya kalian memang tidak mau berpisah sedikitpun, kukira lebih baik kalian berdua diikat menjadi satu saja dengan tali. ”

Sementara itu Pwe-giok sudah melangkah turun ke lorong di bawah tanah itu, tiba-tiba ia menoleh dan berkata, “Saat ini bukan waktunya bicara, maukah kau tutup mulut ?”

Terkesiap Lui-ji, matanya menjadi merah. Belum pernah Pwe-giok bicara kepadanya dengan muka masam seperti ini.

Pwe-giok berjalan di depan dengan hati-hati, setelah berjalan sekian jauhnya, ia menghela napas dan berkata,” Nah, apa yang hendak kau katakan sekarang boleh kau katakan saja sepuasmu.”

Tapi mulut Lui-ji justru tertutup rapat-rapat.

“Meski tadi tidak kau bunuh dia, tapi ku tahu dia pasti terkena racun di tubuhmu, jika sekarang kau paham maksudku, hendaklah kau punahkan dulu racun dalam tubuhnya.”

Tapi Lui-ji tutup mulut semakin rapat, seakan-akan tidak mau lagi dibuka.

Pwe-giok berkerut kening, katanya, “Kenapa. Sekarang kau malah tidak mau bicara.”

Lui-ji tetap tutup mulut, hanya dengan jarinya ia tuding Pwe-giok, lalu tuding pula mulutnya sendiri.

Pwe-giok tersenyum, ucapnya, “Sekarang kau sudah dewasa, masa masih suka ngambek seperti anak kecil.?”

Mendengar dirinya dianggap sudah “dewasa”, Lui-ji tertawa, dengan mulut menjengkit, ia berkata, “Kau yang suruh aku tutup mulut, aku kan selalu menuruti perintahmu saja. ”

“Jika begitu, lekaslah kau menolong dia, “kata Pwe-giok.

Mata Lui-ji kembali merah, ia menggigit bibir dan berkata, “Tahumu hanya menyuruh ku tolong dia, kau hanya gelisah baginya, mengapa tidak kau tanyakan diriku, apakah juga terkena racunnya atau tidak? Anggota keluarga Tong mereka kan juga terkenal ahli racun?”

“Meski senjata rahasia berbisa keluarga Tong sangat terkenal, tapi kau sendiri kan…”

“Aku kenapa? Aku ini orang berbisa, begitu? Barang siapa bila menyentuh diriku pasti keracunan, begitu? Jika demikian, kenapa sampai sekarang kau tidak keracunan?”

Pwe-giok jadi melenggong, jawabnya, “Soalnya ku…kulihat Gin-hoa-nio yang cuma menampar kau satu kali dan tangannya lantas keracunan, anggota Thian-can-kau itupun hanya mencolek kau sekali dan dia juga…”

“Tapi Tong-jikohnio ini kan tidak memukul dan mencolek diriku? Jika racun di tubuhku tak dapat kukuasai sendiri, mungkin sejak dulu Sacek sudah mati keracunan.”

“O, jadi begitu, jadi dia tidak keracunan?”

“Memangnya kau kira aku ini orang goblok dan tidak tahu bahwa nona Tong kita ini tidak boleh dibunuh?”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Ai, rupanya aku salah mengomeli kau, soalnya kulihat sampai saat ini nona Tong itu belum lagi siuman, maka kukira…”

Belum habis ucapan Pwe-giok, Lui-ji mendekati Tong Lin dan menepuk bahunya sambil mendengus, “Tong-jikohnioku sayang, tampaknya kau tidak cuma pintar berdusta, caramu pura-pura juga sangat ahli. Akan tetapi bila kau tidak segera siuman, sekarang juga akan kubelejeti pakaianmu.”

Tubuh Tong Lin tampak bergetar, benarlah dia lantas membuka mata.

Lui-ji melototi Pwe-giok, katanya, “Nah, sekarang tentunya kau paham apa yang terjadi. Lantaran kuatir ditanyai, maka dia sengaja pura-pura mampus…Hm, tanpa membedakan hitam dan putih lantas menuduh orang yang tak bersalah, malahan menganggap dirinya sangat pintar dan cerdik , huh.!”

Terpaksa Pwe-giok menerima omelan itu dengan jujur, bahkan tunduk lahir batin.

Mulut Lui-ji menjengkit, dia melengos dan mengejek pula, “Nah, Tong-jikohnio, apakah sekarang kau masih segan untuk bangun berdiri?”

Muka Tong Lin yang pucat itu kelihatan merah, ia menggreget, jawabnya, “Sudah jelas kau…kau tahu hiat-to kakiku tertotok, tapi kau bicara seenaknya.”

“Terkadang aku memang juga bisa membikin dongkol orang,” ujar Lui-ji tak acuh. “Memangnya hanya kalian saja yang boleh memfitnah diriku dan aku tidak boleh membalas.?”

Sekujur badan Tong Lin gemetar saking gemasnya, tapi tak dapat menjawab.

Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian. “Ji-kohnio, aku tidak ada permusuhan apapun dengan kau, mengapa kau sengaja mencelakai diriku?”

Tiba-tiba Lui-ji mendengus pula. “Kau boleh sembarangan menuduh diriku, tentu boleh juga dia sembarangan menuduh kau. Kalian berdua adalah sepasang ahli yang suka menuduh orang baik, kenapa kau salahkan dia ? ”

Sungguh Pwe-giok serba susah, ia hanya menyengir saja, tapi sekarang ia tidak berani lagi menyuruh Lui-ji tutup mulut, sebab ia telah mendapatkan suatu pelajaran berharga pula, yaitu: Jangan sekali-kali kaum lelaki menyuruh orang perempuan tutup mulut. Sebab seketika itu mungkin si dia akan benar-benar tutup mulut, tapi seterusnya bukan mustahil dia akan cerewet selama hidup.

Kini yang tutup mulut benar-benar adalah Tong Lin, dia seperti sudah mengambil keputusan takkan bicara lagi.

Dengan suara lembut Pwe-giok membujuknya. “Caramu bersikap demikian bisa jadi lantaran kaupun mempunyai kesulitan, sebab jelas kau bukan seorang yang suka berdusta.”

“Hm, justru lantaran dia bukan seorang yang suka berdusta, maka apa yang diucapkannya tentu dipercaya orang lain,” jengek Lui-ji. “Apabila dia kelihatan sebagai seorang perempuan bawel, tentu tiada orang yang mau percaya kepada ocehannya.”

Setiap kali Pwe-giok tanya Tong Lin, yang ditanya tidak bersuara, tapi Lui-ji selalu mendahului menanggapi.

Terpaksa Pwe-giok berlagak pilon dan bersabar, katanya pula, “Bisa jadi ada alasanmu yang kuat sehingga terpaksa kau berdusta, asalkan kau tuturkan terus terang, pasti tidak kusalahkan kau.”

“Hm, bisa jadi memang benar-benar kekasihnya yang membunuh Tong Bu-siang itu, demi untuk menyelamatkan kekasihnya, maka dia perlu mencari seorang sebagai tumbal,” jengek Lui-ji lagi.

Sekali ini dia tidak menanggapi dengan ngawur, tapi yang dikemukakan cukup masuk akal.

Terbeliak mata Pwe-giok, serunya, “Masa benar-benar kau tahu siapa si pembunuhnya?”

“Sudah tentu dia tahu, “Lui-ji mendahului menanggapi pula, “Tapi caramu bertanya ini tentu juga takkan mendapatkan jawabannya.”

Lalu Lui-ji mendekati Tong Lin, dengan bengis ia berkata, “Sesungguhnya siapa yang membunuh Tong Bu-siang itu ? Jika tetap tidak kau katakan, segera ku… ”

Belum habis ucapannya, mendadak seorang menanggapi dengan perlahan, “Orang yang membunuh Tong Bu-siang itu ialah diriku ini.”

Dalam kegelapan entah sejak kapan telah bertambah sesosok bayangan orang yang berwarna putih kelabu, seperti badan halus saja yang mendadak muncul di situ.

Karena tak dapat melihat jelas wajah orang, Pwe-giok dan Lui-ji berseru berbareng, “Siapa kau ? ”

Orang itu tidak menjawab, tapi lantas mengetik api.

Di bawah cahaya api, tampak seorang perempuan berkabung, geretan api yang dipegangnya berkelip seperti api setan, wajahnya pucat lesi tanpa warna darah sedikitpun.

Melihat orang ini, Pwe-giok benar sangat terperanjat, serunya tanpa terasa, “He, kau ?!”

“Ya, betul aku!” sahut orang itu sambil menghela napas.

“Sungguh tak tersangka olehku yang berbuat itu adalah dirimu,” kata Pwe-giok dengan gegetun.

Mendadak Lui-ji membentak, “Kau berani mengaku sebagai si pembunuhnya di depan kami, apakah kau sudah bertekad akan membunuh kami untuk menghilangkan saksi?”

Orang itu mendengus, “Huh, jika ingin kubunuh kalian, mengapa tadi ku tolong kalian?”

Orang yang mengaku sebagai “pembunuh” ini ternyata nona besar keluarga Tong, yaitu Tong Ki.

Air mata Tong Lin sudah bercucuran, ucapnya dengan suara parau, “Toaci, untuk apa kau datang kemari? Aku sudah jelas tak dapat hidup lagi, juga tidak ingin hidup lebih lama lagi, mengapa tidak kau biarkan ku tanggung dosa ini?”

“Ku tahu tindakanmu ini adalah demi diriku,” ucap Tong Ki dengan rawan. “Kau rela mengorbankan dirimu, kau memang anak yang baik, tapi aku…”

“Akupun tahu tindakan toaci ini adalah demi mempertahankan nama baik keluarga Tong kita…”

“Bagus, bagus, kalian semuanya anak baik, apa yang kalian lakukan semuanya beralasan. Tapi Ji Pwe-giok apakah harus ikut dikorbankan ?” teriak Lui-ji mendadak.

Tong Ki menghela napas panjang, katanya. “Ya, ku tahu tindakan kami ini telah membikin susah Ji-kongcu, tapi di dalam persoalan ini sesungguhnya memang mengandung banyak rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar. ”

“Masa sekarang kami belum juga berhak mengetahui rahasia ini?” tanya Lui-ji.

“Kedatanganku untuk menemui kalian ini justru sudah siap hendak kuberitahukan rahasia ini kepada kalian,” ucap Tong Ki. Ia berhenti sejenak dan tersenyum getir, lalu melanjutkan, “Tentu dalam hati kalian merasa sangat heran mengapa aku membunuh ayah sendiri, bukan ? ”

“Ya, aku memang sangat heran,” kata Lui-ji.

“Setelah ku beritahu rahasia ini, kuharap kalian jangan menyiarkannya, sebab rahasia ini sesungguhnya sangat penting.”

“Masa kau tidak percaya kepada Ji Pwe-giok?” Lui-ji mendahului bertanya.

“Justru ku tahu lantaran Ji-kongcu adalah seorang kuncu sejati, maka ku datang ke sini…”, tiba-tiba Tong Ki tersenyum misterius, “Kalian tahu, Tong Bu-siang yang kubunuh itu sebenarnya bukanlah ayahku.”

Ia mengira keterangannya ini pasti akan membikin kaget Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, tak terduga Lui-ji hanya mencibir saja dan berkata, “Rahasia ini tidak luar biasa, sebelumnya kami sudah tahu.”

Tong Ki berbalik terperanjat, serunya, “Apa, kalian sudah tahu sebelumnya?”

“Ya, memang betul, “tukas Pwe-giok.

Dia sebenarnya adalah pemuda yang pendiam, apalagi berada bersama Lui-ji, kesempatannya bicara boleh dikatakan sangat sedikit, sejak tadi sampai sekarang, hanya ketiga kata itu saja sempat diucapkannya.

Malahan sekarang Lui-ji terus mendahului berkata pula, “Tidaklah heran jika hal ini diketahui oleh kami, yang ku herankan justru cara bagaimana kalianpun mengetahuinya?”

Tong Ki tersenyum getir, tuturnya, “Sebenarnya urusan keluarga Tong ini hanya diketahui olehku sendiri, tapi sekarang kalianpun mengetahuinya, tentu saja sangat mengherankan.”

“Malahan kami tahu pula bahwa Tong Bu-siang gadungan itu aslinya cuma seorang kusir,” kata Lui-ji pula.

“Kusir?” Tong Ki menegas dengan tercengang.

“Betul, hanya seorang kusir,” kata Lui-ji. “Dia berkasak-kusuk dengan anak buah Ji Hong-ho di Bong-hoa-lou sana, mereka tidak tahu kami mengintipnya dari balik dinding, sehingga rahasianya ketahuan.”

Mendingan dia tidak bicara, sebab Tong Ki tambah bingung oleh ceritanya itu.

Dengan menyesal Pwe-giok berkata, “Urusan ini memang sangat ruwet, tapi yang paling penting haruslah diketahui oleh nona, bahwa semua tipu muslihat, semua intrik keji ini datang dari … dari Ji Hong-ho itu, dialah yang mendalangi semua kejadian ini.”

“Ji Hong-ho?” Tong Ki menegas pula dengan melenggong. “Kau maksudkan Ji-lo-siansing yang menjadi Bu-lim bengcu itu?”

“Betul, siapa lagi kalau bukan dia?” jawab Pwe-giok dengan menggreget.

Tong Ki tambah tercengang, katanya, “Dan apa sangkut-pautnya dengan urusan keluarga Tong kami ini?”

“Justru lantaran ia ingin menguasai keluarga Tong yang berpengaruh ini, maka dia telah menculik Tong-locianpwe untuk memalsukannya, “tutur Pwe-giok. “Tindakannya ini sebenarnya berlangsung dengan sangat rahasia, siapa tahu secara tidak sengaja dapat kami pergoki.”

“Kedatangan kami ke sini justru hendak membongkar tipu muslihatnya itu,” timbrung Lui-ji tak tahan.

Tong Ki melengak sejenak, mendadak ia bergelak tertawa.

Pwe-giok dan Lui-ji saling pandang dengan bingung, mereka tidak tahu mengapa nona besar keluarga Tong itu tertawa sedemikian geli.

Setelah tertawa sekian lamanya, tiba-tiba Tong Ki menghela napas panjang dan bergumam, “Agaknya inilah yang disebut manusia berencana, Thian yang menentukan. Betapapun usaha manusia takkan berhasil jika Thian tidak berkenan.”

“Apa maksudmu?” tanya Lui-ji sambil berkerut kening.

“Terus terang, ayahku sudah wafat belasan tahun yang lalu,” tutur Tong Ki dengan suara tertahan.

Kembali Pwe-giok terkejut, serunya, “Belasan tahun yang lalu? Tapi jelas…jelas ku..”

“Waktu beliau wafat, saat itulah suasana di daerah Sujwan ini sedang kacau balau, keluarga Tong kami waktu itupun menghadapi sesuatu yang sangat berbahaya,” tutur Tong Ki. “Berkat mendiang ayahku bertahan dengan tenang sehingga segala kesulitan dapat diatasi. Tapi beliau kuatir apabila dia meninggal, suasana bisa kacau lagi, maka beliau sengaja mencari seorang duplikat untuk menyaru sebagai dia, guna mengatasi segala kemungkinan.”

Dia tertawa, lalu melanjutkan, “Duplikat yang ditemukan ayah itu adalah seorang paman yang masih sanak keluarga kami dan bukanlah kusir segala. paman ini memang sangat mirip ayah, setelah dirias, sukarlah orang luar akan membedakannya. Apalagi seumpama ada sesuatu yang tidak betul, tentu orang akan menyangka karena ayah habis sakit, sehingga terjadi perubahan.”

“Jika demikian, jadi Tong-locianpwe yang pernah kutemui itu sesungguhnya juga palsu?” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Baru sekarang ia paham, mengapa Tong Bu-siang itu kelihatan takut urusan, terkadang sikapnya tidak menampilkan wibawa seorang pemimpin.

Akhirnya iapun paham sebab apa “Tong Bu-siang” itu mengkhianatinya.

“Paman itu memang bukan seorang bijaksana dan cekatan, maka sebelum wafat, ayah telah pesan padaku secara wanti-wanti agar paman itu hanya dijadikan sebagai boneka saja. Apabila suatu waktu timbul pikiran jahatnya hendak merebut kedudukan dan merampas kekuasaan, ayah menyuruhku agar membinasakan dia tanpa ragu,” setelah berhenti sejenak sambil menghela napas, lalu Tong Ki menyambung, “Justru karena diberi tugas berat ini oleh mendiang ayahku, terpaksa ku jaga keluarga ini sepenuh tenaga, betapapun aku tak dapat menikah dan ikut suami.”

Teringat kepada pengorbanan Tong Ki yang besar ini, tanpa terasa Pwe-giok ikut terharu dan bersedih baginya. Seorang perempuan rela mengorbankan masa muda sendiri dan hidup kesepian, kehidupan demikian tidaklah mudah dilakukan setiap orang.

“Selama belasan tahun ini,” tutur Tong Ki pula, “pamanku itu tampaknya juga hidup prihatin, segala persoalan akulah yang memutuskan, ia sendiri tidak berani bertindak di luar tahuku. Siapa tahu, setelah pulang sekali ini, dia kelihatan berubah, dalam waktu satu hari saja dia berani mengambil keputusan sendiri dan mengeluarkan belasan macam perintah. Demi untuk melaksanakan pesan ayah, terpaksa kubunuh dia.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi, “Tapi akupun tidak menyangka bahwa di balik kepalsuan itu, masih ada tiruan pula. Kejadian aneh di dunia ini sungguh terkadang jauh lebih mustahil daripada dongeng.”

Termangu-mangu Lui-ji mendengarkan ceritanya, baru sekarang ia tersenyum getir dan bergumam, “Ya, memang tidaklah gampang bila suatu keluarga persilatan ternama ingin mempertahankan nama dan kehormatannya.”

Tong Ki tersenyum pedih, katanya, “Betul, umumnya orang hanya tahu kebesaran dan kejayaan keluarga Tong kami, tapi siapa yang tahu di balik kejayaan ini entah tersembunyi betapa banyak pahit getir, betapa banyak mengalirkan darah dan air mata…”

Dia seperti terkenang kepada kejadian-kejadian di masa lampau, tanpa terasa air matanya bercucuran.

Pwe-giok jadi teringat kepada nasib Tong Ki yang pernah bertunangan 2 – 3 kali, tapi setiap kali bakal suaminya selalu mati mendadak, apakah orang-orang itu hanya mati secara kebetulan ? Adakah di balik kematian itu tersembunyi suatu rahasia ?

Teringat demikian tanpa terasa Pwe-giok bergidik.

Ia tidak ingin memikirkannya lagi, juga tidak sampai hati untuk memikirkannya, apapun juga Tong Ki harus dianggap sebagai anak perempuan yang tidak beruntung dan perlu dikasihani.

Kejayaan hanya bisa diperoleh dengan macam-macam imbalan yang besar. Sejak dahulu kala, di balik soal “kejayaan”, entah telah berapa banyak menimbulkan korban, entah berapa banyak tulang-belulang yang bertumpuk dan betapa banyak darah yang mengalir.

Dan semua ini apa cukup berharga?

Lui-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah Tong Giok juga tidak tahu rahasia keluarga kalian ini?”

“Tidak, iapun tidak tahu,” jawab Tong Ki.

“O, pantas dia… “mendadak Lui-ji tidak melanjutkan ucapannya, sebab ia merasa orang yang telah mati tidak perlu lagi disinggung perbuatannya yang memalukan itu.

Pwe-giok memandangnya sekejap sebagai tanda memujinya.

Betapapun pada dasarnya Lui-ji adalah anak perempuan yang berhati bajik, cuma seperti juga kebanyakan anak perempuan di dunia ini, terkadang dia suka banyak bicara walaupun sebenarnya bukan waktunya untuk bicara.

Tong Ki lantas menutur pula, “Kecuali diriku dan paman itu, di dunia ini jelas tiada orang lain lagi yang tahu rahasia penyamaran ini. Sebab waktu itu adik-adikku masih kecil, maka ayah menyuruhku sekalian merahasiakan urusan ini bagi mereka.”

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, ia tahu Tong Jan juga pasti tidak tahu rahasia ini, kalau tidak, mustahil ia mau membantu Tong Bu-siang gadungan itu untuk mengkhianatinya dahulu.

Rupanya setelah belasan tahun menjadi boneka, Tong Bu-siang palsu itu tidak rela dan merasa penasaran, maka dia bersekongkol dengan Ji Hong-ho untuk mempertinggi kedudukan sendiri dan memperkuat kekuasaannya.

Tapi meski dia telah mengkhianati Ji Pwe-giok, dia tidak menjual keluarga Tong, sebab itulah ketika ajalnya itu, dia tetap tidak memberitahukan rahasia kepalsuannya sendiri kepada Ji Hong-ho.

Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya, “Apapun juga pamanmu itu tidak bersalah terhadap keluarga Tong kalian.”

Tong Ki menghela napas, katanya, “Demi kehormatan keluarga, terpaksa harus berkorban sendiri, inilah penderitaan kebanyakan murid ke keluarga persilatan di dunia ini, juga semangat dasar keluarga persilatan ini supaya dapat bertahan hidup di dunia persilatan. ”

“Tadinya akupun sangat mengagumi para murid keluarga persilatan, tapi sekarang… “Lui-ji berucap dengan rawan, sebab iapun mempunyai penderitaannya sendiri, menjadi puteri “Siau-hun-kiongcu”, betapapun bukanlah sesuatu yang enak.

Selang sejenak, tiba-tiba ia bertanya pula, “Rahasia ini mungkin tidak diketahui orang lain, tapi Ji-kohnio tentunya tahu, bukan? ”

“Ia baru tahu pada kemarin malam, “jawab Tong Ki.

“Ooh ? Baru kemarin malam ? “Lui-ji merasa heran.

“Ya, baru kemarin malam, memang betul ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Tong…Tong Bu-siang itu, setiba di luar pintu, ia memang berhenti di sana, sebab saat itu aku sedang bicara di dalam kamar. ”

“O, jadi dia menyaksikan kau bunuh Tong Bu-siang itu, tentu saja dia terkejut, ketika kau tahu dia berada di luar kamar, terpaksa kau beritahukan rahasia keluargamu itu kepadanya, begitu ? “tanya Lui-ji.

“Ya, memang betul begitu, “sahut Tong Ki.

“Aku memang lagi heran mengapa kalian tidak mau menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.”

“Soalnya waktu itu kami belum mengetahui liku-liku urusan ini, lebih-lebih tidak tahu bahwa Tong Bu-siang palsu itu telah dipalsukan pula oleh orang lain.”

Lui-ji menjengek, “Hm, kalian tidak ingin orang luar mengetahui perebutan kekuasaan di tengah keluarga sendiri, demi menjaga nama baik keluarga Tong, lantas kalian korbankan Ji Pwe-giok, begitu bukan?”

Terpaksa Tong Ki menghela napas panjang, sebab dia memang tidak dapat menjawabnya.

Lui-ji melototi Tong Lin, katanya pula dengan perlahan, “Ji-kohnio, ingin kuminta penjelasan sesuatu kepadamu.”

Tong Lin menundukkan kepala, seakan-akan tak mau mendongak lagi untuk selamanya.

Maka Lui-ji berkata pula. “Jika kau perlu cari tumbal, siapapun boleh kau cari, kenapa pilihanmu jatuh pada diri Ji Pwe-giok ? Ada persoalan apa antara kau dengan dia ? ”

Kepala Tong Lin tertunduk lebih rendah lagi, air matapun berderai.

Mendadak Tong Ki menghela napas, katanya, “Daripada kau minta penjelasannya, lebih baik aku saja yang berbicara baginya.”

“Hm, kiranya kaupun tahu apa sebabnya, jangan-jangan hal inipun atas gagasanmu?” jengek Lui-ji.

Tong Ki tak tahan, iapun balas menjengek, “Hm, jika gagasanku, tentu takkan jadi begini, sebab biarpun Ji-kongcu adalah pemuda cakap yang jarang ditemukan, tapi bagiku rasanya tidak berarti apa-apa.”

Dia seperti dibikin marah oleh Lui-ji sehingga cara bicaranya juga tidak sungkan-sungkan lagi.

Lui-ji berbalik tertawa geli malah, ucapnya, “Baik sekali, justru kuharapkan dia akan dipandang sebagai siluman buruk di mata wanita lain. Apabila semua perempuan di dunia ini berpandangan serupa Tong-toakohnio, maka amanlah hatiku.”

Tong Ki memandangnya, rasa gusarnya perlahan-lahan lenyap, sebab ia merasa Lui-ji tidak lebih hanya seorang anak kecil yang berlagak menjadi orang tua. Ia tertawa, lalu menghela napas panjang lagi dan berkata, “Namun adik perempuanku ini justru…”

“Toaci!” seru Tong Lin mendadak sambil mendongak, “jangan…jangan kau…”

“Mengapa jangan?” jawab Tong Ki lembut. “Seorang anak gadis jatuh cinta kepada seorang pemuda kan bukan sesuatu yang memalukan ? Mengapa tidak boleh kita katakan terus terang?”

Tubuh Tong Lin tampak gemetar, mukanya bersemu merah.

Lui-ji mendelik, ucapnya, “Jadi maksudmu, lantaran dia suka kepada Pwe-giok, maka dia mencelakainya pula. Wah, kalau begitu, rasa sukanya itu rada-rada tidak enak.”

“Dia memang jatuh cinta kepada Ji-kongcu,” sambung Tong Ki, “ketika diketahuinya Ji-kongcu sudah menikah denganmu, betapa sedih hatinya, tentu dapat kau bayangkan, ditambah lagi kemalangan yang menimpa keluarga kami, derita batinnya mana bisa ditahannya ? ”

Dia menatap Lui-ji lekat-lekat, lalu berkata pula dengan perlahan, “Tentu nona juga tahu, jarak antara cinta dan benci sedemikian kecilnya. Bilamana nona yang berada dalam keadaan seperti dia ini, mungkin kaupun akan bertindak demikian. ”

Lui-ji terdiam sejenak, ia pandang sekejap Pwe-giok yang sedang melenggong itu, lalu berucap dengan sayu, “Ya, bisa jadi aku akan bertindak terlebih kejam daripada dia. ”

“Apalagi, memang cuma Ji-kongcu saja yang dapat disebutnya, bila dia menyebut orang lain, pasti tidak ada yang mau percaya, “kata Tong Ki.

“Sebab apa? “tanya Lui-ji.

“Sebab dia telah cukup tersiksa demi membela Ji-kongcu, “tutur Tong Ki dengan gegetun. “Jika bukan lantaran kejadian itu, meski kemudian tidak menimbulkan banyak persoalan, mungkin dia sudah dihukum mati menurut peraturan rumah tangga kami…”

Sampai di sini, Pwe-giok tidak tahan lagi, ucapnya dengan terharu, “dia membawa Gin-hoa-nio ke tempat rahasia pembuatan Am-gi keluarga Tong, apakah tindakannya itu demi diriku ?”

“Asal kau tahu saja,” ujar Tong Ki dengan tersenyum getir, “dan kalau Ji-kongcu sudah tahu, tentunya kau harus memaafkan perbuatannya tadi.”

Pwe-giok pandang Tong Lin yang sedang menangis itu dan entah apa yang harus diucapkannya.

Tapi Lui-ji lantas mendekati Tong Lin, ucapnya dengan suara lembut. “Jikohnio, sebenarnya aku benci padamu, tapi sekarang aku benar-benar bersimpati padamu…”

Mendadak Tong Lin melonjak bangun, teriaknya dengan suara parau, “Aku tidak memerlukan simpatimu, tidak perlu kasihanmu. Kubenci padamu, kubenci kau!…” dia terus meronta dan hendak menerjang maju, tapi lantaran hiat-to kaki tertotok, ia jatuh terjungkal pula.

Lui-ji menggigit bibir dan tersenyum pedih, ucapnya,” Tidak perlu kau benci padaku, kubilang dia suamiku, sesungguhnya hanya menipu diriku sendiri saja, sebab dalam hatinya hanya terisi oleh nona Lim Tay-ih itu. Akupun serupa kau, sama-sama gadis yang harus dikasihani, aku…aku… “sampai di sini air matanyapun berderai.

Tong Ki memandangi mereka, matanya juga mengembeng air mata, gumamnya, “Cinta… O cinta…” mendadak ia pandang Pwe-giok, ucapnya dengan dingin, “Ji-kongcu, tampaknya tidak sedikit kau bikin susah orang!”

Pwe-giok tampak terkesima dan bergumam, “Tidak sedikit orang yang ku bikin susah…” ia mengulang kalimat tersebut beberapa kali, tapi selain itu dia memang tidak dapat bicara lain. Apalagi, biarpun bicara apapun juga, Tong Ki takkan bersimpati padanya.

Tong Ki membangunkan Tong Lin, lalu berkata, “Sekarang, selesailah perkataanku, bolehlah Ji-kongcu pergi!”

Dia seperti tidak mau memandang Pwe-giok lagi, sampai Lui-ji juga tidak menyangka sikapnya akan berubah menjadi sedingin itu.

Lui-ji tidak tahu bahwa seorang perawan tua biasanya paling benci terhadap lelaki yang tidak berbudi dan tidak setia, seakan-akan dia sendiri sudah beratus kali ditipu oleh kaum lelaki.

Padahal masakah dia tidak tahu bahwa Pwe-giok tidak bersalah, hanya saja ia tidak mau mengakui fakta ini, sebab yang dibencinya bukanlah Ji Pwe-giok melainkan kaum lelaki.

Melihat Tong Ki mulai melangkah pergi dengan memayang Tong Lin, Lui-ji tidak tahan, serunya, “Nona Tong, apakah rahasia tadi akan kau siarkan ? ”

“Tidak, “jawab Tong Ki.

“Jika … jika begitu, apa gunanya kau beritahukan rahasia ini kepada kami ? “tanya Lui-ji pula.

“Kenapa tidak ada gunanya ? “sahut Tong Ki.

“Sebab kalau orang lain tidak tahu seluk-beluk persoalan ini, bukankah Pwe-giok akan tetap dianggap sebagai pembunuh Tong-locengcu?”

“Hm, sudah jelas dia tidak setia padamu, untuk apa kau perhatikan dia?” jengek Tong Ki, sambil bicara, tanpa menoleh lagi ia terus tinggal pergi.

Lui-ji melenggong, ia ingin menyusul ke sana, tapi Pwe-giok keburu menariknya dan berkata. “Sudahlah, biarkan dia pergi.”

“Sudahlah!?” teriak Lui-ji. “Urusan ini mana boleh dianggap sudah? Masa kau lebih suka dituduh orang sebagai pembunuh?”

Pwe-giok termangu sejenak, ucapnya kemudian dengan tersenyum getir, “Aku sendiri sudah cukup dibebani berbagai tuduhan, biarpun ditambah lagi urusan ini juga tidak menjadi soal.”

“Sungguh aku merasa bingung, kau ini orang macam apa,” ucap Lui-ji dengan mendongkol. “Orang lain membikin susah padamu, tapi kau tidak marah sedikitpun. Orang lain kuatir dan gelisah bagimu, kau sendiri malah adem-ayem?”

Pwe-giok tertawa, katanya, “Jika kau anggap aku ini orang yang tak berbudi dan tak setia, untuk apa lagi kau perhatikan diriku?”

Ucapan Pwe-giok ini membuat Lui-ji melengak, mendadak ia mendekap mukanya dan menangis, dengan gemas ia berkata, “Masa kau anggap ucapanku tadi tidak pantas? Memangnya hatimu tidak memikirkan Lim Tay-ih melulu? Apakah aku salah omong, salah menuduh padamu?”

Apapun Pwe-giok tidak dapat bicara lagi.

Setelah menangis sejenak, rasanya Lui-ji sudah cukup menangis, kemudian ia bergumam, “Mungkin akulah yang salah. Aku ini gadis cerewet, cengeng, sedikit-sedikit menangis, sering pula bicara, hingga menimbulkan kemarahanmu, mengapa tidak kau tinggalkan diriku dan pergi sendiri saja ? ”

Pwe-giok tetap tidak bicara apapun, ia hanya gandeng tangan si nona dan diajaknya berangkat, maka dengan menurut Lui-ji juga ikut berangkat.

Tanpa bicara memang cara yang paling baik untuk menghadapi kaum perempuan.

ooo00000000ooo

Pwe-giok tahu lorong di bawah tanah itu menembus ke kelenteng yang letaknya terpencil itu. Di kelenteng itulah anak buah Ji Hong-ho menculik “Tong Bu-siang” dan membunuh Tong Jan.

Juga di kelenteng itu untuk pertama kalinya Pwe-giok bertemu dengan Kwe Pian-sian. Tanpa terasa ia jadi teringat kepada Ciong Cing, gadis yang merana karena cinta itu.

Ke manakah mereka sekarang? masih hidup atau sudah mati?

Iapun teringat kepada Gin-hoa-nio, teringat kepada nasibnya yang mengerikan itu, maka wajah Kim-hoa-nio, Thi-hoa-nio, Kim-yan-cu dan lain-lain seolah-olah terbayang pula di depan matanya.

Dengan sendirinya, ia lebih-lebih tak dapat melupakan Lim Tay-ih.

Ia menghela napas panjang, pikirnya dengan rawan, “Nasib mereka sama tidak beruntung, apakah benar akulah yang membikin susah mereka…?”

Hampir setiap anak perempuan yang dikenalnya seakan-akan tidak ada satupun yang beruntung dan bahagia. Apakah sebabnya?

Wanita cantik biasanya dipandang orang sebagai “air bencana”, lalu pemuda cakap seperti Ji Pwe-giok ini terhitung apa?

Jalan tembus pada lorong di bawah tanah itu ditutup oleh sepotong batu yang dapat diputar, sehingga tidak banyak suara yang ditimbulkannya. Apalagi di luar sana adalah kelenteng di tanah pegunungan sunyi dan jauh dari jejak manusia, biarpun menerbitkan sedikit suara juga tidak menjadi soal.

Namun begitu Pwe-giok tetap sangat hati-hati, lebih dulu ia geser batu itu sedikit, di luar ternyata gelap gulita, biarpun ada cahaya bulan dan bintang juga tak dapat menyinari tempat ini.

Dan biasanya kegelapan selalu berkawan kesunyian, kecuali denyut jantung sendiri, hampir tak terdengar apapun oleh Pwe-giok, bahkan anginpun berhenti berdesir.

Setelah yakin benar keadaan aman, barulah Pwe-giok menarik Lui-ji naik ke atas.

Tapi pada saat itu juga dalam kegelapan mendadak timbul serentetan suara orang tertawa.

Seorang dengan tertawa berkata, “Baru sekarang kalian muncul? Sudah lama kutunggu di sini.”

Pwe-giok terkejut dan menyurut mundur, tapi segera cahaya lampu terang benderang.

“He, Yang Cu-kang!” seru Lui-ji kaget, “Kau benar-benar seperti arwah yang tidak mau buyar, kenapa kaupun ikut ke sini?”

“Bisa jadi lantaran aku dan kalian memang berjodoh…” Yang Cu-kang tersenyum, dia duduk bersila di lantai, di depannya ada sebotol arak dan beberapa bungkus makanan, ada pula sebuah lampu dan sebuah geretan api.

Dengan tertawa ia berkata pula, “Arak dan makanan ini kubawa sendiri dari tempat perjamuan keluarga Tong sana, meski arak masih hangat, namun makanannya sudah dingin, karena barang didapatkan dengan gratis, biarlah kita nikmati saja seadanya. Marilah, silahkan kalian ikut minum barang secawan. ”

Pwe-giok memandangnya dengan tersenyum, ucapnya kemudian, “terima kasih!”

Dia benar-benar mendekati Yang Cu-kang dan ikut duduk di situ, cawan arak diangkatnya dan ditenggak habis. Lui-ji ingin mendahului mencicipi arak itu, tapi sudah tidak keburu lagi.

Yang Cu-kang tertawa, katanya. “Ji-heng, ilmu silatmu sebenarnya tidak seberapa, kecakapanmu juga tidak melebihi diriku, tapi kau memang jauh lebih sabar daripadaku. Hal ini mau-tak-mau aku harus kagum padamu. Marilah, ku suguh kau satu cawan.”

Lalu dia tertawa terhadap Lui-ji dan berkata pula, “Hendaknya nona Cu jangan kuatir, arak ini tidak beracun, untuk membunuh orang cukup banyak caraku dan tidak perlu memakai racun.”

Biji mata Lui-ji berputar, ucapnya hambar, “Tapi caraku membunuh orang cuma ada satu, yakni pakai racun. Setiap saat dan di manapun juga dapat ku taruh racun, entah sudah berapa banyak orang yang mati ku racun, tapi tiada seorangpun yang mengetahui cara bagaimana matinya.” Sampai di sini mendadak ia tertawa terhadap Yang Cu-kang dan menambahkan, “Bukan mustahil akupun sudah menaruh racun di dalam arak yang akan kau minum ini, kau percaya tidak?”

Jika orang lain yang berkata demikian, bisa jadi Yang Cu-kang akan bergelak tertawa dan menenggak habis araknya itu, tapi sekarang kata-kata tersebut diucapkan oleh puteri tunggal Siau-hun-kiongcu, maka bobotnya menjadi lain.

Yang Cu-kang pandang arak dalam cawan yang dipegangnya itu, katanya dengan tetap tertawa, “Bila benar arak ini sudah kau racuni, tentu takkan kau beritahukan kepadaku, bukan?”

“Kenapa tidak kau coba?” ucap Lui-ji dengan tersenyum.

Melengak juga Yang Cu-kang, betapapun ia menjadi sangsi, seumpama tahu benar arak ini tidak beracun juga tidak sanggup diminumnya lagi.

“Kenapa? Bukankah nyalimu biasanya sangat besar?” tanya Lui-ji.

“Nyaliku memang sangat besar, tapi kalau dipancing orang, seketika bisa berubah menjadi kecil,” kata Yang Cu-kang.

Dengan jarinya yang lentik, Lui-ji mengambil cawan arak yang dipegang Yang Cu-kang itu, arak dalam cawan dituangnya ke dalam cawan Pwe-giok, lalu berkata dengan terkikik, “Sayang jika arak ini dibuang, dia tidak mau minum, biar kau saja yang menghabiskannya. ”

Pwe-giok tertawa, tanpa bicara ia tenggak araknya hingga habis.

Dengan tertawa Lui-ji berkata pula, “Nah, lihatlah, hakekatnya arak ini tidak beracun, kenapa tidak berani kau minum? Sungguh memalukan jika keberanian minum arak saja tidak ada.”

Yang Cu-kang tidak malu juga tidak rikuh, ia malah tertawa dan menjawab,” Apa salahnya jika bertindak hati-hati, apalagi arak kan harus disuguhkan dulu kepada tetamu.”

Habis berkata ia menuangi lagi cawan sendiri dengan arak dalam poci, lalu berkata, “Sekarang arak ini tentunya dapat kuminum tanpa kuatir.”

Mata Lui-ji berkedip, katanya, “Betul, arak baru ini tidak beracun, lekas kau minum saja.”

Tapi kembali Yang Cu-kang merasa sangsi, sampai sekian lama ia pandang cawan arak yang dipegangnya itu, katanya dengan menyengir, “Ah, kalau terlalu banyak minum arak mungkin akan mengidap kanker hati, lebih baik mengurangi minum arak.”

Lui-ji tertawa senang, ucapnya, “Coba lihat, kubilang di dalam arak beracun, kau tidak berani minum, kukatakan arakmu tidak beracun, kaupun tidak berani minum. Memangnya apa yang harus kukatakan supaya kau berani minum arak ?”

“Apapun yang kau katakan, jelas aku tidak ingin minum lagi, ” ujar Yang Cu-kang dengan tertawa. Ia menaruh cawan araknya, lalu bergumam, “Jiwanya telah kuselamatkan, tapi secawan arak saja aku tidak boleh minum, tampaknya memang lebih baik tidak menolong siapapun.”

Mendadak Lui-ji menarik muka, ucapnya, “Siapa yang minta kau tolong kami ? Tong Giok telah kau bunuh, Kim-hoa-nio juga kau celakai, Thi-hoa-nio juga kau binasakan, kenapa kami tidak kau bunuh, sebaliknya malah menolong kami ?”

“Memangnya kau senang jika kubunuh kalian ?” tanya Yang Cu-kang dengan tersenyum.

“Mendingan kau tidak mengincar kami, kalau tidak, tentu susah kau !” jengek Lui-ji.

“Bagiku bukan soal susah atau tidak, jika aku berniat membunuh orang, yang menjadi soal adalah orang itu pantas dibunuh atau tidak, ” kata Yang Cu-kang, mendadak ia menarik muka dan menegas, “Coba, ingin kutanya padamu, seorang demi mendapatkan isteri, dia lupa kepada sanak famili, sampai saudara sendiri juga dikhianatinya, orang demikian pantas dibunuh atau tidak ?”

“Hal ini disebabkan kalian sendiri yang….yang memaksa dia berbuat demikian, masa kau salahkan dia malah ?” jawab Lui-ji.

“Jika kupaksa kau bunuh Ji Pwe-giok, kau mau ?” tanya Yang Cu-kang.

“Dengan sendirinya tidak mau,” sahut Lui-ji.

“Nah, apa bedanya, ” ujar Yang Cu-kang. “Kupaksa kau atau tidak adalah satu hal, kau mau melakukannya atau tidak juga satu hal yang lain. Jika Tong Giok setia kepada sanak keluarganya seperti kesetiaanmu terhadap Ji Pwe-giok, lalu apa gunanya kami memaksa dia ?”

“Tapi bagaimana dengan Kim-hoa-nio ? Ken..kenapa kau….”

“Kim-hoa-nio ? Bilakah pernah kuganggu seujung rambutnya ? ” sela Yang Cu-kang, “Dia sendiri yang rela mati bersama kekasihnya, apa sangkut pautnya dengan diriku? Di dunia ini banyak perempuan bodoh seperti dia, entah berapa banyak yang mati setiap hari, masa aku yang kau salahkan? ”

“Hm, kau tolak bersih semua kesalahanmu, jika demikian, jadi kau ini manusia baik hati malah,” jengek Lui-ji.

“Ah, predikat ini tak berani kuterima, “jawab Yang Cu-kang dengan tertawa, “cuma orang yang memang tidak harus dibunuh, biarpun orang menyembah padaku agar membunuhnya juga takkan kulakukan.”

Mata Lui-ji mendelik, teriaknya dengan bengis, “Lantas bagaimana dengan Thi-hoa-nio? Dalam hal apa dia pantas dibunuh?”

“Thi-hoa-nio? Siapa bilang kubunuh dia?”

“Aku yang bilang!” teriak Lui-ji.

“Kau lihat kubunuh dia? Apakah kau lihat jenazahnya? Darimana kau tahu dia sudah mati?”

“Tanpa melihatnya sendiri juga ku tahu dia mati di tanganmu,” jengek Lui-ji.

“Eh, coba jawab, bagaimana jika dia tidak mati?” tanya Yang Cu-kang tiba-tiba.

“Jika dia tidak mati, biar ku… kutelan guci arak ini,” kata Lui-ji.

“Wah, guci arak ini sekali-kali tidak boleh ditelan, kalau kau telan, bila ada orang melihat perutmu mendadak buncit, tentu orang akan heran, masa ada anak perawan bunting sebelum bersuami, bahkan mengandung anak kembar, kalau tidak masakah perutmu sebesar gentong?”

“Siapa bilang perutku besar? ” teriak Lui-ji dengan gusar dan muka merah.

“Bila perut terisi dua guci, mustahil tidak menjadi besar?”

Lui-ji melengak, tanyanya, “Dua guci? Dari mana datangnya dua guci ?”

“Kan nona sendiri sudah mempunyai guci cuka, sekarang menelan lagi guci arak, jadinya kan dua guci?” jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

Seorang anak perempuan kalau kalah berdebat dengan orang, biasanya kalau tidak menangis dan ribut, sedikitnya juga akan ngambek dan menggunakan macam-macam alasan yang tidak masuk akal, orang lain kudu dibikin keok barulah dia merasa puas.

—–

Apa maksud tujuan sebenarnya Yang Cu-kang terhadap Pwe-giok dan Lui-ji?

Kemana perginya Thi hoa-nio dan apa hubungannya dengan Yang CU-kang?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

1 Comment »

  1. […] Imbauan Pendekar – 09 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:31 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: