Kumpulan Cerita Silat

08/06/2010

Imbauan Pendekar – 08

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:31 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, dan Sukantas009)

Dengan lembut Lui-ji memandangnya, ucapnya dengan menghela napas pelahan, “Engkau memang harus tidur sebaik-baiknya, kalau tidak, mana ada semangat untuk bekerja lagi besok?”

Hotel di kota kecil itu tidak banyak tamunya, dengan sanjung puji jongos hotel menyediakan bagi mereka dua kamar besar. Tapi setelah memandang Lui-ji sekejap, Pwe-giok berkata, “Kami hanya perlu satu kamar saja.”

Berdetak jantung Lui-ji. Sedangkan jongos hotel kelihatan rada kecewa dan heran. Dari sudut manapun dia memandang, kedua orang ini tidak mirip suami-isteri, mengapa mereka hanya minta satu kamar saja?

Sesudah berada dalam kamar dan pintu ditutup, jantung lui-ji berdebur semakin keras, duduk tidak tenang, berdiripun salah, sungguh ia tidak tahu dirinya harus ditaruh di mana?

Dengan hati-hati Pwe-giok memalang pintu lalu menutup jendela pula, kemudian berkatalah dia dengan tersenyum lembut, “Tidurlah kau!”

Lui-ji menunduk, dengan menabahkan hati ia bertanya, “Dan kau?”

“Dua kursi ini kujajarkan menjadi sebuah tempat tidur yang cukup enak,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

“Boleh kau tidur di ranjang saja, kau perlu tidur nyenyak daripadaku,” kata Lui-ji sambil menggigit bibir.

Memandangi tubuh yang agak kekurus-kurusan dengan rambut yang rada kusut serta mata yang besar dengan sedikit garis merah itu, tanpa terasa timbul rasa kasih sayang Pwe-giok, pikirnya, “Bisa jadi Yang Cu-kang akan segera muncul. Dalam keadaan dan saat demikian, untuk apalagi ku taat adat kolot segala, untuk apa membuat susah dia dan tidak membiarkan dia tidur sebaik-baiknya, apakah kalau malam ini ku tidur seranjang dengan dia, lalu aku Ji Pwe-giok bukan lagi seorang Kuncu sejati?”

Dalam pada itu Lui-ji telah mengambil selimut yang agak tipis dari tempat tidur dan dibentang di atas kursi, ucapnya dengan menunduk, “Tidur di sini juga boleh, waktu ku rawat Sacek dahulu, biarpun berdiri juga aku dapat tidur, jadi soal tidur sudah terbiasa bagiku dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya kau sendiri tidurlah yang baik.”

Tiba-tiba Pwe-giok berucap dengan lembut, “Ranjang ini sangat besar, kita juga bukan orang gendut, mengapa tidak tidur satu tempat tidur saja.”

Bantal yang baru dipegang Lui-ji jatuh lagi ke bawah, ia ingin memandang Pwe-giok sekejap, tapi tidak ada keberanian itu. Ia menunduk dan berkata, “Kau… kau tidak… tidak takut…”

“Takut apa?” sela Pwe-giok, “Dalam keadaan tidur memangnya kaupun dapat memukul orang?”

Tertawalah Lui-ji dengan muka bersemu merah, katanya, “Memukul sih tidak, tapi suka menyepak, awas bila ku depak kau ke bawah tempat tidur.”

oO-Oo oO-Oo

Sesungguhnya tempat tidur itu tidaklah besar. Di dunia ini tidak ada sebuah hotel yang sengaja menyediakan tempat tidur yang sangat besar bagi tamunya.

Sebab pada umumnya tetamu juga tidak memerlukan tempat tidur yang besar. Apabila ada dua orang tetamu lelaki-perempuan perlu tidur satu ranjang, yang mereka harapkan bukanlah tempat tidurnya yang besar, sebaliknya cukup tempat tidur yang kecil saja, makin kecil makin baik, makin sempit makin memuaskan.

Pwe-giok memang sudah terlampau lelah, maka dengan cepat ia lantas terpulas.

Waktu Lui-ji naik tempat tidur, ketegangannya sungguh sukar dilukiskan, jantungnya berdebur keras, dia tidak berani memandang sekejap pun kepada Pwe-giok, bahkan menyentuh selimutnya saja tidak berani.

Padahal kemarin malam rencana hatinya mengharapkan dapat tidur bersama Pwe-giok, tapi sekarang, pada malam ini, mereka benar-benar sudah tidur bersama satu ranjang, tapi dia berbalik sangat ketakutan, takut setengah mati, takut kehilangan apa-apa. Dia membungkus tubuhnya kencang-kencang dengan selimut dan meringkuk di pojok tempat tidur, kepalanya dibenamkan pada bantalnya, tubuh tidak berani bergerak sedikitpun, bernapas juga tidak berani keras-keras, dalam keadaan hening demikian, yang terdengar hanya detak jantungnya yang memukul keras.

Ia membayangkan, apabila mendadak tangan Pwe-giok menggerayang ke sini, lalu bagaimana?

Sungguh ia tidak berani memikirkannya, seketika tubuhnya terasa panas, panas sekali.

Sesungguhnya ia tidak tahan terbungkus dalam selimut, tapi tidak berani membukanya.

Untunglah Pwe-giok sudah tidur, dengan alon-alon, dengan perlahan sekali Lui-ji menjulurkan kakinya keluar selimut untuk mencari angin, tapi bila Pwe-giok membalik tubuh, dengan ketakutan cepat-cepat ia tarik kembali kakinya.

Namun apapun juga Ji Pwe-giok sudah berada di sampingnya, betapapun ia penuh rasa bahagia, tersembul senyuman manis, senyuman bahagia pada wajahnya, senyuman yang timbul dari lubuk hatinya yang dalam, sungguh ia ingin melompat bangun dan berteriak sekerasnya agar manusia di seluruh jagat ini mengetahui betapa bahagianya malam ini.

Akan tetapi bila saat ini benar-benar ada orang datang, seketika dia akan malu dan mungkin akan sembunyi di kolong ranjang.

Dan begitulah perangai seorang gadis, pikiran seorang perawan.

Menjadi seorang anak gadis sesungguhnya memang bahagia.

——-

Sebenarnya Pwe-giok cuma pura-pura tidur saja. Sampai sekian lamanya, didengarnya suara pernapasan Lui-ji sudah mulai tenang, mulai teratur dan rata, jelas si nona sudah tidur benar-benar, barulah dia membuka mata.

Betul juga, Lui-ji memang sudah pulas, bahkan sangat nyenyak tidurnya.

Ia pikir, sesungguhnya Lui-ji memang masih anak-anak, dan biasanya anak-anak memang lebih mudah tertidur daripada orang tua.

Bila membayangkan gerak-gerik Lui-ji yang lucu waktu mau naik ke atas tempat tidur tadi, tanpa terasa Pwe-giok tersenyum geli.

Sesungguhnya Lui-ji memang anak dara yang menyenangkan, sangat menyenangkan.

Tidur satu ranjang bersama anak dara yang sedemikian menyenangkan, kalau dibilang Pwe-giok sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun, maka hakekatnya dia bukan manusia.

Apalagi iapun tahu anak dara itu sedemikian cinta padanya, ia tahu, asalkan dirinya “mau”, tidak nanti anak dara itu menolaknya.

-oOo- -oOo- -oOo-

Malam nan sunyi, cahaya bintang yang redup menyinari kertas jendela dengan lembutnya.

Di tengah malam yang hening dan lembut itu, akhirnya Pwe-giok tidak tahan, ia menjulurkan tangannya dan membelai rambut Lui-ji yang halus itu yang terurai di atas bantal, tiba-tiba iapun merasa sangat panas.

Teringat olehnya ketika beberapa malam dia berada bersama Lim Tay-ih tempo hari juga dirasakan sangat panas, begitu panas sehingga urusan apapun tak terpikir untuk dikerjakannya, tapi rasa panas itupun mendorongnya mengerjakan urusan apapun.

Terbayang olehnya tubuh Lim Tay-ih yang agak menggigil itu, bibirnya yang gemetar… gemetar yang menggetar sukma, yang sukar untuk dilupakan seumur hidup.

Kelembutan Lim Tay-ih, kejudasannya waktu itu, semua itu membuatnya sukar untuk melupakannya.

Waktu itu dia tidak menceritakan rahasia penyamarannya, tapi jelas Lim Tay-ih telah mengetahui siapa dia.

Perempuan umumnya memang ada semacam indera yang misterius, lebih-lebih terhadap orang yang paling dekat dengan dia.

Misalnya sang ibu terhadap anaknya, isteri terhadap suaminya, daya perasa mereka yang tajam dan peka itu sungguh sukar untuk dijelaskan oleh siapapun.

Sebab itulah, kemudian ketika Lim Tay-ih merasa ada orang menguntit jejak mereka, maka dia lantas bertindak kasar terhadap Pwe-giok, supaya orang lain takkan mencurigai dia lagi sebagai Ji Pwe-giok yang sudah “mati” itu.

Ketika Lim Tay-ih menyerangnya, setiap tusukan pedangnya yang mengenai tubuh Pwe-giok hanya menimbulkan rasa bahagia, sebab ia tahu ketika pedang si nona mengenai tubuhnya, hati si nona jauh lebih sakit daripada dia sendiri.

Dan sekarang, di mana Lim Tay-ih?

Di manapun nona itu berada pasti juga sedang memikirkan dia.

Hati Pwe-giok seakan-akan sakit tertusuk pedang, serentak ia menarik kembali tangannya yang sedang membelai rambut Lui-ji itu.

—–

Malam yang serba ruwet itu akhirnya berlalu juga dan Yang Cu-kang tetap tidak muncul.

Waktu Lui-ji mendusin, dilihatnya Pwe-giok belum lagi bangun, teringat dirinya telah tidur semalaman bersama seorang lelaki, timbul semacam perasaan aneh dalam hati Lui-ji, entah kejut entah girang.

Meski Pwe-giok tidak berbuat apa-apa terhadapnya, tapi Lui-ji merasakan dirinya sekarang sudah lain daripada Lui-ji kemarin. Ia merasa dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sudah seorang perempuan benar-benar, seorang perempuan dewasa.

Tanpa terasa tersembul juga senyuman bahagia pada wajahnya.

—–

Sang surya sudah terbit tinggi di langit, Lui-ji memandangi wajah Pwe-giok yang masih lelap itu, gaya tidur Pwe-giok seperti seorang anak kecil saja, tanpa terasa Lui-ji mengangkat tangannya dari dalam selimut dan meraba pelahan hidung Pwe-giok, ucapnya dengan suara lembut, “Alangkah baiknya jika di sini adalah rumah kita, tentu akan kubuatkan sarapan pagi yang enak bagimu, bubur buatanku paling disukai Sacek, kukira kaupun suka, sedikitnya kau akan menghabiskan lima mangkuk besar.”

Mendadak Pwe-giok tertawa dan berkata, “Lima mangkuk saja belum banyak, takaranku adalah sepuluh mangkuk!”

Keruan Lui-ji kaget dan cepat menarik kembali tangannya serta menutupi mukanya dengan selimut, omelnya, “Oi, kukira kau ini orang baik, kiranya kaupun telur busuk! Sudah mendusin, tapi pura-pura tidur, bikin… bikin …”

“Bikin” apa, tak dapat diucapkannya.

Pwe-giok memandangi rambut si nona yang terurai di luar selimut itu, tanpa terasa ia terkesima pula, iapun tidak tahu sesungguhnya dirinya ini bahagia atau celaka?

Ia tidak berani lama-lama lagi tinggal di tempat tidur, cepat ia melompat bangun dan membuka jendela, hawa udara di luar terasa segar dan sejuk, ia menarik napas dalam-dalam, lalu bergumam, “Aneh, Yang Cu-kang belum juga muncul.”

Teringat kepada Yang Cu-kang, seketika rasa hangat dalam hati Lui-ji menjadi dingin kembali, cepat iapun melompat turun dan berseru, “Bisa jadi dia tidak berani datang lagi.”

Pwe-giok tidak menanggapinya.

“Jika dia berani datang kemari, mengapa tidak kelihatan?” kata Lui-ji pula.

Sejenak Pwe-giok termenung, katanya kemudian dengan gegetun, “Akupun tidak tahu apa sebabnya? tapi kuyakin pasti bukan lantaran dia tidak berani.”

Lui-ji tersenyum manis, katanya, “Bisa jadi lantaran mendadak dia mati, atau mendadak matanya buta dicakar burung, atau mendadak sakit lepra. Kalau dia tidak datang, untuk apa kita memikirkannya?”

Pwe-giok juga tertawa geli, katanya, “Yang kupikir sekarang hanya ingin makan bubur ayam.”

Lui-ji berkeplok dan berkata, “Pikiran bagus, bubur ayam dan Yucakue, nikmat!”

Karena urusan yang dipikirnya tidak sebanyak Pwe-giok, dengan sendirinya dia jauh lebih gembira daripada anak muda itu, lebih-lebih hari ini, dia merasa sinar sang surya jauh lebih cemerlang daripada biasanya, sampai bumi raya inipun terasa halus dan empuk, berjalan di atasnya juga terasa enteng dan seperti mengambang.

Menjelang lohor, sampailah mereka di wilayah yang dekat dengan Tong-keh-ceng.

“Masih perlu berapa lama lagi untuk bisa sampai di tempat tujuan?” tanya Lui-ji

“Tidak lama lagi, paling-paling setengah jam lagi,” kata Pwe-giok.

Lui-ji menghela napas lega, ucapnya, “Syukur alhamdulillah! Akhirnya sampai juga.”

“Tapi Tong Bu-siang gadungan itu sedikitnya sudah dua hari sampai di sini lebih dulu, dalam waktu dua hari tentu banyak pekerjaan yang dapat dilakukannya,” kata Pwe-giok dengan menyesal.

“Kau tidak perlu cemas,” ujar Lui-ji, “biarpun dia sampai lebih dulu dua hari, setiba di rumah kan banyak urusan yang perlu diselesaikan dan tidak nanti datang terus membikin celaka orang.”

“Ya, semoga demikian hendaknya, aku hanya kuatir…”

“Kuatir apa?” tanya Lui-ji.

Dengan cemas Pwe-giok menjawab, “Ku kuatir orang Tong-keh-ceng tidak percaya kepada keteranganku. Coba pikir, jika kau menjadi anak murid Tong Bu-siang dan tiba-tiba kau diberitahu bahwa ayahmu sekarang itu palsu, apakah kau percaya?”

Persoalan yang terbesar baginya sebelum ini adalah kekuatirannya sukar datang ke Tong-keh-ceng sini, tapi sekarang setiba di Tong-keh-ceng barulah teringat olehnya masih ada banyak persoalan penting yang lain, bahkan persoalan yang satu lebih sulit daripada persoalan yang lain. Sungguh ia sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana dia harus memberi keterangan supaya dapat dipercaya oleh anak murid keluarga Tong.

Lui-ji berkerut kening juga setelah mendengar alasan Pwe-giok itu, katanya kemudian, “Kau kenal baik dengan anggota keluarga Tong?”

“Kenal baik apa? Hakekatnya tidak kenal,” jawab Pwe-giok sambil menyengir

“Tidak kenal seorangpun?” Lui-ji menegas.

“Hanya kenal seorang nona yang bernama Tong Lin,” sahut Pwe-giok.

Mata Lui-ji berkedip-kedip, dipandangnya anak muda itu seperti tertawa dan tidak tertawa, katanya kemudian, “Tong Lin, ehm, indah sekali nama ini, tentu orangnya juga sangat cantik.”

Baru sekarang Pwe-giok merasa dirinya terlalu banyak bicara, terpaksa ia hanya menjawab singkat, “Ehm!”

“Kau kenal akrab dengan dia?” tanya Lui-ji pula.

“Hanya pernah berjumpa satu kali saja.”

Lui-ji mencibir, “Cuma berjumpa satu kali saja lantas senantiasa ingat pada namanya, boleh juga kau ini.”

Di dampingi oleh seorang anak perempuan yang aneh, banyak olah dan sok cemburu, jalan paling baik baginya adalah tutup mulut dan jangan banyak bicara.

Pada tepi jalan, di bawah pohon yang rindang sana berteduh seorang penjual bakmi pikulan, penjual bakmi ini adalah seorang tua, orang Oh-pak asli, selain bakmi juga menjual penganan lain sebangsa wajik dan sebagainya.

Pwe-giok tidak berhenti untuk makan bakmi, tapi hanya beli beberapa biji penganan dan jajan sekadarnya.

Sebenarnya cukup enak penganan itu, terutama bila orang sedang lapar. Tapi Lui-ji hanya menggigit satu kali saja dan rasanya seperti sukar menelannya.

Pwe-giok tertawa dan berkata, “Apakah kau masih marah?”

Dengan bersungut Lui-ji menjawab, “Masa aku secemburu Ciong Cing?”

Habis bicara, ia merasa rada kikuk, ia menunduk dengan muka merah, kesempatan itu digunakannya untuk menelan makanan dalam mulutnya itu, lalu berkata pula, “Aku tiba-tiba ingat sesuatu.”

“Oo? Apa?” tanya Pwe-giok.

“Kupikir, mungkin sekali Yang Cu-kang sudah tiba lebih dulu di Tong-keh-ceng.”

“Ya, bisa jadi,” sahut pwe-giok samar-samar.

“Dia tahu kita pasti akan datang ke Tong-keh-ceng, maka lebih dulu dia akan menunggu kita di sana.”

“Mungkin.” kata Pwe-giok pula.

“Bisa jadi sebelumnya dia sudah berunding dengan Tong Bu-siang gadungan, asalkan kita masuk ke Tong-keh-ceng, serentak mereka akan memperdayai kita, mungkin kesempatan bicara bagi kita saja tidak ada, lalu bagaimana kita akan mampu membongkar tipu muslihat di Tong-keh-ceng sana?”

Pwe-giok tidak bicara lagi, air mukanya tambah kelam.

Sebenarnya bukannya dia tidak berpikir sejauh itu, iapun tidak tahu bahwa kecil sekali harapan untuk berhasil pada perjalanannya ini, sebaliknya sangat besar bahayanya.

Akan tetapi ketika dilihatnya kegembiraan Lui-ji tadi, mana dia sampai hati mengutarakan rasa sedihnya kepada anak dara itu dan membuatnya ikut kuatir, bila ada kegembiraan, dia sangat suka menikmatinya bersama orang lain.

Tapi kesedihan dan penderitaan, dia lebih suka memikulnya sendiri.

“Jika kita pergi ke Tong-keh-ceng cara begini saja, hakekatnya sama saja seperti mengantar kematian,” kata Lui-ji. “Hampir setiap orang di Tong-keh-ceng adalah jagoan, bila Tong Bu-siang gadungan itu memberi perintah, seketika kita bisa berubah menjadi pusat sasaran senjata rahasia mereka yang berbisa itu.”

“Apa mau dikatakan lagi!” ujar Pwe-giok sambil menghela napas panjang, “Dalam keadaan terpaksa, segala bahaya tak terpikir lagi.”

“Akan tetapi engkau…” mendadak ucapan Lui-ji itu terputus setengah jalan, sebab pada saat itu juga dari kejauhan berkumandang suara roda kereta dan ringkik kuda disertai debu mengepul tinggi, tampaknya tidak sedikit jumlah orang yang datang ini.

“Mungkinkah orang-orang ini datang dari Tong-keh-ceng?” bisik Lui-ji.

“Ehm, bisa jadi,” sahut Pwe-giok.

“Bolehkah kita cari keterangan tentang Tong-keh-ceng kepada mereka?”

“Tidak boleh,” jawab Pwe-giok. “Bukan saja tidak boleh, bahkan sedapatnya jangan kita memperlihatkan gerak-gerik yang dapat menarik perhatian dan menimbulkan curiga mereka.”

“Ya, ku paham,” ujar Lui-ji.

Sementara itu kereta sudah semakin dekat, mereka menyingkir ke tepi jalan dan menunduk. Namun Lui-ji tidak tahan, ia coba melirik ke sana.

Dilihatnya ada iringan belasan kereta barang kawalan, seorang pengiring mondar mandir mengawasi jalannya konvoi itu. Dua ekor kuda yang tinggi besar di bagian depan berpenunggang dua orang lelaki kekar.

Kereta barang itu memakai tanda pengenal panji kecil segi tiga, namun panjinya tergulung. Kedua lelaki kekar berbaju perlente itupun adem ayem dan lagi mengobrol iseng.

Belum jauh konvoi kereta barang itu lewat, Lui-ji tidak tahan dan segera bertanya kepada Pwe-giok, “Inikah rombongan Popiau (pengawal barang)?”

“Ehm,” Pwe-giok mengangguk.

“Selamanya tidak pernah kulihat konvoi kereta barang kawalan begini, tampaknya menarik juga,” kata Lui-ji dengan tertawa. “Jika aku menjadi lelaki, bisa jadi akupun ingin mencicipi rasanya menjadi jago pengawal barang.”

“Tampaknya memang menarik, tapi kalau kepergok sahabat kaum Lok-lim (rimba hijau, artinya kawanan bandit yang keluar masuk hutan) akan menjadi kurang menarik,” ujar Pwe-giok.

“Konon waktu iring-iringan kereta Piaukiok (perusahaan ekspedisi) berjalan, seorang pengiringnya harus berteriak-teriak di depan, harus bersikap garang, bahkan harus menonjolkan nama perusahaannya. Akan tetapi sekarang kawanan pengiring kereta itu tidak berteriak-teriak minta jalan, bahkan panji pengenalnya juga di gulung, sebab apakah bisa begitu?”

“Sebab daerah sini sudah termasuk wilayah kekuasaan Tong-keh-ceng, tindakan mereka ini adalah sebagai tanda menghormati Tong-keh-ceng. Kau lihat kedua jago pengawal yang adem-ayem tadi, mereka dapat bersenda gurau tanpa kuatir apapun, justeru lantaran mereka yakin di daerah pengaruh Tong-keh-ceng tidak bakalan diganggu oleh kawanan bandit yang buta.”

Lui-ji mencibir, ucapnya, “Huh, hanya Tong-keh-ceng sekecil itu apanya yang hebat? jika bukan lagi banyak urusan, pasti akan kuganggu mereka.”

Pwe-giok hanya tertawa saja.

Memang, puteri Siau-hun-kiongcu, keponakan Hong Sam, dengan sendirinya tidak pandang sebelah mata terhadap Tong-keh-ceng.

Akan tetapi di dunia Kangouw ini seluruhnya terdapat berapa orang Siau-hun-kiongcu dan berapa orang Hong-samsiansing?

Tampaknya Lui-ji ingin omong apa-apa lagi tapi mendadak muncul dua penunggang kuda berbaju hitam, kuda dilarikan secepat terbang, kedua penunggangnya yang kekar itu mahir sekali mengendalikan kudanya, dari jauh mereka lantas berteriak-teriak sambil menggapai, “Ong-toapiauthau! Ci-toapiauthau, tunggu, berhenti dulu!”

Pengiring yang berada di belakang konvoi kereta barang tadi melihat datangnya kedua orang ini, segera iapun berseru, “Itu dia ksatria dari Tong-keh-ceng telah menyusul kemari, harap kedua Piauthau suka berhenti dulu, mereka memanggil kalian!”

Cukup lantang suara pengiring kereta itu dan dapat didengar oleh kedua Piausu yang berjalan di depan. Segera mereka memutar kudanya dan memburu ke belakang sini sambil bertanya, “Ada urusan apa?…”

Mendengar kedua penunggang kuda berseragam hitam yang menyusul dari belakang itu adalah orang Tong-keh-ceng, mau tak mau Pwe-giok dan Lui-ji menaruh perhatian terhadap mereka. Pwe-giok pura-pura berjongkok untuk membetulkan sepatunya.

Kelihatan kedua orang itu sangat tergesa-gesa dengan wajah prihatin, masih jauh mereka sudah melompat turun dari kuda masing-masing. Kedua Piausu tadi juga turun dari kuda mereka dan menyongsongnya.

Piausu yang disebut she Ci itu tampaknya gesit dan cekatan, suaranya lantang, ia memberi hormat dan menyapa, “Karena hari masih terlalu pagi, ketika rombongan kami lalu di daerah sini, maka kami tidak berani mengganggu. Namun kartu kehormatan dan beberapa macam oleh-oleh itu adalah siaute dan Ong Tek yang mengantar sendiri ke tempat kalian.”

Rupanya dia kuatir didamperat oleh pihak Tong-keh-ceng, maka sedapatnya ingin memberi penjelasan.

Pwe-giok saling pandang sekejap dengan Lui-ji, diam-diam mereka terkejut, pikirnya, “Jangan-jangan Tong Bu-siang gadungan itu bermaksud menimbulkan malapetaka dan banjir darah di daerah Sujwan ini, maka kedua orangnya dikirim ke sini untuk melakukan keganasan?”

Pwe-giok menjadi ragu apakah dirinya harus ikut campur kejadian ini atau tidak? Dia tidak sampai hati menyaksikan kedua piausu itu mengalami nasib jelek, tapi juga tidak suka “memukul rumput mengejutkan ular.”

Siapa tahu kedua orang dari Tong-keh-ceng itu tidak bertindak apa-apa, sebaliknya salah seorang di antaranya malah tertawa dan berkata, “Justeru setelah membaca kartu nama kalian baru kami tahu ada Toapiauthau dari Wi-wan-piaukiok lalu di sini, apabila kami tidak sempat memberi sambutan apa-apa, diharap suka memberi maaf.”

“Ah, tidak berani,” jawab Ong Tek sambil memberi hormat.

Ci-toapiauthau itu bernama Ci Kian, katanya, “Kedua Suhu memburu kemari secara tergesa-gesa, entah ada petunjuk apa kiranya?”

Anak murid keluarga Tong itu tampak prihatin, ucapnya, “Soalnya ditempat kami…”

Mendadak ia tekan suaranya sehingga sangat lirih, satu kata saja tak dapat didengar lagi oleh Pwe-giok dan Lui-ji. Untuk mendekati mereka jelas tidak mungkin, maka diam-diam Lui-ji sangat mendongkol.

Setelah bisik-bisik, air muka Ong Tek dan Ci Kian mendadak berubah, serunya, “He, bisa terjadi begitu?”

Anak murid keluarga Tong itu mengangguk dengan prihatin.

Lalu Ong Tek dan Ci Kian tidak bicara lagi, dengan pelahan mereka memberi perintah kepada pengiring kereta tadi, habis itu mereka lantas mencemplak ke atas kuda dan pergi bersama kedua orang dari Tong-keh-ceng itu.

Sesudah jauh mereka pergi barulah Lui-ji berkata sambil berkerut kening, “Sesungguhnya apa yang terjadi di Tong-keh-ceng, mengapa kedua orang itu kelihatan cemas dan gugup?”

Belum lagi Pwe-giok menanggapi Lui-ji sudah mendahului menjawabnya sendiri, “Mungkin semua ini adalah tipu muslihat yang sengaja diatur oleh Tong Bu-siang gadungan itu, mereka sengaja menipu kedua orang ini ke Tong-keh-ceng, padahal di sana tidak terjadi apa-apa.”

Makin omong makin dirasakan betapa cepat jalan pikirannya sendiri, maka segera ia menyambung lagi, “Kita tidak boleh sembarangan menerjang ke Tong-keh-ceng, kita harus mencari keterangan lebih dulu, kita tunggu…”

Sudah sekian lama Pwe-giok berdiam, kini mendadak bersuara, “Dapatkah kau terima suatu permintaanku?”

Lui-ji melengak, jawabnya, “Maukah kau katakan lebih dulu mengenai urusan apa?”

“Katakan dulu, mau terima atau tidak?”

“Ai, tak tersangka kaupun serupa anak kecil,” ujar Lui-ji dengan tertawa. “Aku tidak tahu urusan apa yang kau minta, mana dapat kukatakan menerima atau tidak. Apabila kau suruh aku makan kotoran umpamanya…” ia tertawa geli sehingga muka sendiri menjadi merah.

“Belum pernah kuminta apa-apa padamu, tapi urusan ini, betapapun kuharap harus kau terima,” kata Pwe-giok.

“Baiklah,” jawab Lui-ji akhirnya sambil menggigit bibir. “Urusan apakah pasti akan kusanggupi.”

Dengan suara tertahan Pwe-giok lantas bertutur, “Begitu masuk Tong-keh-ceng, di sebelah kiri ada sebuah Ciu-lau (restoran berloteng), itulah tempat penyambutan tamu Tong-keh-ceng. Kalau sudah berada di situ, biarpun mereka tahu kedatanganmu adalah untuk mencari perkara, mereka tidak bakalan mengganggu dirimu, sebab hal ini sudah menjadi peraturan rumah tangga Tong turun temurun.”

“Hah, barangkali hendak kau suruh kumakan enak di restoran itu? Apa keistimewaan masakan restoran itu, adakah bebek panggang?” tanya Lui-ji dengan tertawa. “Jika ada, sekali ini pasti akan kusikat lebih dulu kulitnya.”

Setelah makan bebek panggang dahulu dan diolok-olok oleh Kwe Pian-sian, sampai saat ini ia belum lagi lupa tentang kulit bebek panggang.

Hati Pwe-giok menjadi terharu, ucapnya dengan lembut, “Yang ingin kuminta padamu adalah supaya kau berjanji setiba di Tong-keh-ceng, langsung kau naik ke loteng restoran itu, apapun yang terjadi atas diriku, tidak boleh kau turun dari sana.

Sampai lama Lui-ji termenung, katanya kemudian sambil tersenyum pedih, “Jika terjadi apa-apa atas dirimu, apakah kau kira aku dapat duduk tenteram dan makan bebek panggang di restoran itu?”

Ia merasa tangan Pwe-giok mendadak menjadi dingin, lebih dingin daripada es, Ia dapat memahami perasaan Pwe-giok saat itu, terpaksa ia tertawa dan berkata pula, “Ya, apapun juga tetap kuterima permintaanmu, aku berjanji takkan meninggalkan restoran itu.”

—–

Ketika mereka berada di jalan raya menuju ke Tong-keh-ceng, mendadak orang yang berlalu lalang di situ bertambah banyak.

Pwe-giok melihat orang-orang itu kebanyakan adalah sahabat Kangouw yang berilmu silat tinggi, ada yang mencorong sinar matanya, tampaknya sangat tinggi ilmu silatnya.

Mereka pun berpaling mengamat-amati Pwe-giok dan Lui-ji, ada pemuda cakap dan gadis cantik berjalan bersama dengan bergandengan tangan, siapapun pasti akan melemparkan pandang sekejap dua kejap kepada mereka.

Ini belum lagi aneh, yang aneh ialah air muka orang-orang ini semuanya kelihatan prihatin, seperti menanggung beban pikiran apa-apa. Beberapa orang di antaranya ketika melihat Ji Pwe-giok lantas menampilkan rasa terkejut, seperti kenal padanya, tapi kebanyakan orang hanya memandangnya sekejap saja, lalu menunduk dengan muram.

Dalam pada itu pintu gerbang perkampungan Tong-keh-ceng sudah kelihatan dari jauh, orang-orang yang melalui jalan ini pasti akan menuju ke Tong-keh-ceng, tapi mengapa ada orang sebanyak ini yang berkunjung ke Tong-keh-ceng secara beramai-ramai begini?

Apakah terjadi sesuatu peristiwa besar di Tong-keh-ceng?

Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok erat-erat, tiba-tiba ia mendesis, “Kau kira orang-orang ini apakah tertipu oleh Tong Bu-siang gadungan itu sehingga mereka berbondong-bondong datang ke sini? Tentunya dia sengaja mengumpulkan mereka, lalu membunuh mereka sekaligus dengan senjata rahasianya yang berbisa itu.”

Bila teringat kepada keganasan Ji Hong-ho gadungan, Yang Cu-kang dan lain-lain, tanpa terasa Lui-ji merinding, ucapnya pula dengan parau, “Dengan demikian, maka segenap jago persilatan di daerah Sujwan ini akan sekaligus terjaring seluruhnya.”

“Mungkin nyalinya belum sebesar itu,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

“Toh orang lain akan memasukkan kejadian itu dalam perhitungan dengan keluarga Tong,” kata Lui-ji. “Dia kan berusaha mengacau dunia, tujuannya justeru ingin mengaduk dunia Kangouw ini hingga kacau balau, apapun dapat dilakukannya.”

Pwe-giok termenung, ucapnya kemudian, “Umpama dia berani berbuat demikian, di antara anak murid keluarga Tong tentu juga ada yang cerdik dan pandai, belum tentu mereka mau menurut secara membabi buta.”

Meski di mulut dia berkata demikian, dalam hati sebenarnya jauh lebih kuatir daripada Lui-ji, sebab dia tahu betapa keras tata tertib rumah tangga Tong, perintah sang ketua harus dipatuhi dan tidak mungkin berubah, sekalipun anak murid keluarga Tong ada yang tidak setuju juga tidak berani membangkang secara terang-terangan.

Maklumlah anggota keluarga Tong terdiri dari anak cucu keluarga Tong sendiri tanpa unsur-unsur dari luar, tata tertib rumah tangga lebih keras daripada tata tertib perguruan, Ciangbunjin adalah pimpinan tertinggi, maka kekuasaan kepala keluarga Tong jauh lebih besar daripada ketua perguruan lain, meski Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay sekalipun.

Lui-ji seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi pada saat itu juga tiba-tiba diketahui orang-orang yang berjalan di depan begitu sampai di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng, serentak orang-orang itu sama bertekuk lutut. Bahkan di tengah kerumunan orang banyak itu sayup-sayup terdengar suara orang menangis.

Lui-ji saling pandang sekejap dengan Pwe-giok, keduanya sama-sama heran.

Dalam pada itu sekeliling tanah lapang di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng telah berjubal penuh orang berlutut, di dalam pintu gerbang juga ada belasan orang yang berlutut dan membalas hormat kepada orang-orang di luar.

Belasan orang di dalam pintu itu tampak berpakaian berkabung dengan wajah yang berduka cita, beberapa diantaranya bahkan merah bendul matanya. Pwe-giok kenal seorang diantaranya yang bermuka bundar dan rada gendut, yaitu murid ke tujuh dalam keluarga Tong, terkenal di dunia Kangouw dengan julukan “Jian-jiu-mi-to” atau si Budha gendut seribu tangan, namanya Tong Siu-jing, dia inilah yang menjabat sebagai juragan restoran yang merangkap sebagai penyambut tamu.

Seorang lagi juga dikenal Pwe-giok, yaitu yang bermuka lebar, ialah Tong Siu-hong yang berjuluk “Thi-bin-giam-lo” atau si raja akhirat berwajah besi, artinya selalu bertindak tegas tanpa kenal ampun dan tidak pandang bulu.

Kedua orang ini bukan saja terhitung anak murid keluarga Tong pilihan, bahkan di dunia Kangouw juga sudah lama termasyhur namanya. Tapi kini kedua orang inipun memakai baju berkabung, menyambut tamu dalam kedudukannya sebagai Haulam atau putera orang yang wafat. Jelaslah sekarang bahwa dalam keluarga Tong telah kematian orang, bahkan orang yang mati ini berkedudukan sangat tinggi dan terhormat.

Sungguh Pwe-giok tidak dapat menerkanya siapakah yang meninggal dunia itu?

Lui-ji tampaknya juga tercengang, bisiknya kepada Pwe-giok, “Kita terlambat tiba di sini, entah sudah berapa banyak anggota keluarga Tong yang menjadi korban kekejiannya. Dia tidak mencelakai orang luar, tapi membunuh dulu anggota keluarganya sendiri, hal inipun sangat aneh.”

Meski dia bicara dengan pelahan, tapi ada sebagian orang yang telah berpaling dan memandangnya. Orang lain sama bertekuk lutut, hanya mereka berdua saja yang berdiri ditengah-tengah orang banyak, dengan sendirinya sangat menarik perhatian orang lain.

Pwe-giok berkerut kening, cepat ia tarik Lui-ji dan ikut berlutut. Meski tidak rela, tapi mau tak mau anak dara itu menurut juga.

Terdengarlah seorang berseru dengan menangis, “Sungguh langit dan awan yang tak dapat diramal, dan manusia setiap saat dapat dirundung malang atau tertimpa rejeki. Orang yang bijaksana seperti Tong-loyacu kita harapkan sedikitnya akan berumur panjang hingga seratus tahun, siapa tahu sekarang beliau telah wafat.”

Lalu seorang tadi menyambung, “Tapi orang meninggal tak dapat hidup kembali, hendaklah saudara jangan terlalu berduka. Kepergian Tong-loyacu merupakan suatu kehilangan besar bagi dunia Kangouw umumnya dan Bu-lim daerah Sujwan khususnya, maka untuk selanjutnya diperlukan kepemimpinan saudara sekalian.”

Orang yang bicara ini sudah ubanan, tampaknya seorang tokoh angkatan tua dunia persilatan daerah Sujwan, sebab itulah dia hanya membahasakan pihak tuan rumah sebagai saudara karena dia anggap dirinya sendiri lebih tua.

Sebaliknya para anak murid keluarga Tong hanya mengangguk rendah-rendah dan tidak ada yang menanggapi, semuanya tampak menangis sedih.

Yang mati ternyata “Tong Bu-siang” adanya.

Sungguh Pwe-giok tidak berani percaya, tapi mau tak mau harus percaya.

Cu Lui-ji juga melenggong, sampai sekian lama tak dapat bicara. Setelah orang yang berlutut itu beramai-ramai sudah bangkit, barulah dia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan, “Tong Bu-siang gadungan tidak nanti mati, sampai Tong Giok yang merupakan orang kepercayaan keluarga Tong juga mengakui Tong Bu-siang palsu itu sukar dibedakan cirinya, tidak nanti anggota keluarga Tong yang lain dapat mengetahui kepalsuannya hanya dalam waktu sesingkat ini.”

Setelah mengerling kembali ia berkata, “Maka kukira, bisa jadi dengan jalan ini dia sengaja hendak memancing kedatangan orang banyak…”

Tapi Pwe-giok lantas menggeleng, katanya, “Jika dia ingin memancing orang-orang ini ke sini cara lain masih cukup banyak, kukira tidak perlu pura-pura mati. Apalagi duka cita yang diperlihatkan anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak pura-pura.”

“Jika begitu, jadi kau anggap anak murid keluarga Tong telah mengetahui kepalsuannya, lalu membunuhnya?” tanya Lui-ji.

“Juga tidak bisa terjadi begitu,” kata Pwe-giok. “Kalau anak murid keluarga Tong mengetahui kepalsuannya dan membunuhnya, tentu mereka takkan sedemikian berdukanya dan mengadakan upacara pemakaman sebesar ini.”

“Habis bagaimana, apakah dia mati karena sakit keras mendadak?” kata Lui-ji pula.

“Juga tidak mungkin,” ujar Pwe-giok. “Ji… orang she Ji itu cukup licin dan dapat berpikir panjang, kalau dia sudah berani mengirimnya ke sini tentu kesehatan orang ini dapat diandalkan, tidak nanti dia mati sakit. Mana mereka mau bersusah payah membuang pikiran dan tenaga serta daya atas diri yang tak dapat diandalkan.”

“Betul juga,” kata Lui-ji. “Jika mereka berani mengirimnya ke sini, dengan sendirinya mereka yakin Tong Bu-siang gadungan itu takkan ketahuan belangnya dan juga tidak mungkin mati sakit mendadak. Tong Bu-siang gadungan sendiri juga tidak mungkin pura-pura mati, lantas mengapa dia mati?”

Pwe-giok tak dapat menjawabnya.

Kejadian itu memang di luar dugaan dan sukar untuk dibayangkan.

—–

Orang yang melayat itu kemudian membanjir masuk ke dalam Tong-keh-ceng.

Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut arus manusia masuk ke sana. Urusan sudah kadung begini, mereka hanya dapat maju dan tidak dapat mundur lagi.

Terlihat setiap rumah di kedua sisi jalan raya di dalam Tong-keh-ceng sama tutup pintu, semuanya ikut berkabung, wajah setiap orang tampak muram durja. Maka Pwe-giok tambah yakin apa yang terjadi ini pasti bukan cuma pura-pura belaka.

Pada ujung jalan raya sana ada sebuah ruang pendopo yang sangat luas, di situlah biasanya anak murid keluarga Tong mengadakan rapat, tapi sekarang pendopo ini digunakan sebagai tempat semayam peti mati Tong Bu-siang.

Terdengar suara tangisan ramai di ruang besar itu, para pelayat satu persatu bergiliran masuk ke sana menyampaikan penghormatan terakhir.

Pwe-giok dan Lui-ji juga ikut di belakang dan masuk ke ruangan pendopo itu. Wajah setiap orang tampak berduka cita, sekalipun orang yang biasanya tidak ada hubungan dengan Tong Bu-siang, kini mau tak mau juga ikut sedih oleh suasana yang memilukan ini.

Di tengah pendopo terletak peti mati Tong Bu-siang dan meja sembahyang, di belakang peti mati terpasang tabir yang panjang, suara tangisan di belakang tabir terdengar lebih berduka daripada yang lain, sebab famili perempuan keluarga Tong sama berada di situ.

Jika suara tertawa orang perempuan umumnya lebih lirih daripada suara tertawa orang lelaki, maka suara tangis orang perempuan jauh lebih keras daripada lelaki.

Di kedua sisi pendopo terdapat dua – tiga puluh meja bundar besar, hampir semua meja sudah penuh dikelilingi tetamu, agaknya para pelayat sedang menunggu akan mencicipi perjamuan berduka cita keluarga Tong.

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun. Para pelayat ini entah datang untuk makan atau benar-benar hendak berbela sungkawa terhadap orang mati?

Pelayat yang datang belakangan banyak yang melongok ke sini dan memandang ke sana, kuatir tidak mendapatkan tempat di meja perjamuan. Tapi segera ada anak murid keluarga Tong yang bertugas sebagai penyambut tamu membawa mereka keluar. Kiranya di tanah lapang di depan pendopo juga sudah penuh terpasang berpuluh meja perjamuan.

Maka senanglah para pelayat itu, semuanya berduduk lalu perjamuan lantas dimulai, santapan lezat pun disajikan berturut-turut.

Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut berduduk di tengah para pelayat itu. Karena menanggung macam-macam pikiran, tidak ada napsu makan mereka, sebaliknya para pelayat yang tadi kelihatan berduka cita kini sedang makan dengan lahapnya.

Diam-diam Lui-ji menarik ujung baju Pwe-giok dan bertanya, “Apakah kita hanya duduk makan di sini, habis makan lantas angkat kaki, begitu?”

Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menjawab

Sambil menggigit bibir Lui-ji berkata pula, “Mengapa tidak kau cari nona yang bernama Tong Lin itu untuk mencari keterangan tentang apa yang terjadi sebenarnya?”

Nyata nadanya masih berbau cuka alias cemburu.

Selagi Pwe-giok merasa serba salah, tiba-tiba datang seorang genduk cilik yang mendekat ke sini, yang dicari juga bukan orang lain, tapi justeru Pwe-giok.

Setiba di depan Pwe-giok, babu cilik itu memberi hormat dan bertanya dengan suara pelahan, “Tuan ini Ji Pwe-giok, Ji-kongcu bukan?”

Tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa babu cilik itu mengenalinya, lebih-lebih tak diketahuinya ada urusan apa mendadak dirinya ditanyakan? Terpaksa ia menjawab. “Betul, aku memang Ji Pwe-giok.”

Dengan suara bisik-bisik seperti sangat rahasia babu cilik itu berkata pula, “Orang yang terhormat sebagai Ji-kongcu mana boleh berduduk di sini? Di dalam ada tempat bagi tamu agung, silakan Ji-kongcu berpindah ke dalam saja.”

Pwe-giok menjadi bingung, mengapa dirinya bisa mendadak berubah menjadi tamu agung, ia menjawab dengan ramah, “Di sini sudah cukup baik, nona tidak perlu repot.”

“Tapi nona kami memberi pesan wanti-wanti kepada hamba agar jangan kekurangan pelayanan terhadap Ji-kongcu, jika Ji-kongcu tidak sudi pindah ke dalam, tentu hamba akan dimarahi nona.”

Mendengar “nona” yang disebut-sebut itu, seketika air muka Lui-ji berubah kecut, segera ia berdiri dan berkata, “Jika demikian, marilah kita pindah ke dalam saja.”

Genduk cilik itu memandangi Lui-ji dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, lalu berkata pula, “Tapi di dalam juga sudah… sudah penuh, tinggal satu tempat saja, maka… maka nona…”

Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia tarik Pwe-giok dan diajak masuk ke dalam.

Tampaknya genduk itu menjadi serba susah, ingin merintangi juga tidak berani, terpaksa ia berkata, “Harap nona tinggal di sini saja…”

Tiba-tiba Lui-ji menoleh dan tertawa, katanya, “Bukan nona, tapi nyonya!”

“Nyonya?” genduk itu menegas dengan mulut melongo.

“Ya, nyonya Ji, Ji-hujin,” kata Lui-ji

Genduk itu tambah tercengang, “Ji… Ji-hujin?” kembali ia menegas.

“Betul, Ji-hujin,” Lui-ji tersenyum. “Kalau Ji-kongcu diundang ke dalam, masakah Ji-hujin mesti duduk sendirian di luar sini?”

Seketika genduk cilik itu terbelalak, sampai sekian lamanya barulah ia menunduk dan berkata, “Baiklah, silahkan Tuan dan Nyonya.”

Kembali Pwe-giok dibuat serba salah oleh olah Lui-ji itu, ia tahu pasti Tong Lin yang berada di belakang tabir itu melihatnya, maka pelayan pribadi ini disuruh mengundangnya ke dalam.

Lui-ji memandangnya dengan tertawa tak tertawa dan mendesis, “Sudah kuduga, biarpun tidak kau cari dia, tentu dia yang akan mencari dirimu.”

Setiba di meja perjamuan ruangan dalam, Pwe-giok melihat yang hadir di sini kalau bukan orang tua yang sudah ubanan tentu juga tokoh Bu-lim yang terhormat.

Iapun sungkan berbicara dengan orang, dia hanya memberi hormat sekedarnya kepada hadirin yang lain, lalu berduduk dan angkat sumpit terus mencomot santapan. Sesungguhnya bukan lantaran mereka rakus, tujuannya asalkan mulut terisi, maka bebaslah daripada macam-macam kerewelan.

Sebaliknya orang-orang itu sama mendeliki mereka, agaknya heran mengapa keluarga Tong membawa dua orang “anak kecil” ke tempat duduk kaum “Tokoh besar” sini.

Untuk menandakan mereka tidak suka akan kehadiran Pwe-giok berdua, mereka hanya saling angkat cawan arak diantara mereka sendiri dan sengaja tidak menghiraukan Pwe-giok. Tak tahunya sikap mereka ini justeru kebetulan malah bagi Pwe-giok.

Waktu itu di balik tabir sana ada sepasang mata yang merah bendul terlalu banyak menangis sedang mengintip, setelah memandang Pwe-giok sekejap, lalu melotot ke arah Lui-ji. Sorot matanya penuh rasa duka dan hampa, juga penuh rasa dendam dan benci.

Untung tiada seorang pun yang memperhatikan sepasang mata itu, sebab pada saat itu juga dari meja perjamuan di pojok sana tiba-tiba maju seorang lelaki jangkung.

Orang ini berwajah hitam dan berpinggang kasar, bergodek, tampangnya sangat menyolok. Dengan langkah lebar ia mendekati layon Tong Bu-siang, lebih dulu ia memberi hormat kepada para hadirin, lalu berseru. “Tong-loyacu mempunyai nama besar dan terhormat, beliau adalah tokoh utama dunia persilatan wilayah Sujwan sini, sekali ini beliau mendadak wafat, tidak ada seorangpun di dunia persilatan Sujwan sini yang tidak merasa kehilangan dan berduka cita.”

Kata-kata demikian entah sudah berapa kali diucapkan orang, tapi orang ini masih sok aksi dan mencerocos panjang lebar, tentu saja membosankan hadirin yang lain, semua orang saling pandang dan mengira orang ini mungkin kurang waras.

Tapi lelaki hitam itu seperti tidak perduli dengan orang lain, ia menyambung lagi, “Yang paling harus disesalkan adalah akhir-akhir ini Tong-loyacu selalu berdiam di dalam rumah dan jarang keluar. Biasanya orang-orang luar memang kurang beruntung dapat berjumpa dengan beliau, sekarang beliau berpulang ke alam baka, selanjutnya kita akan terpisah untuk selamanya dan tidak dapat menemui beliau lagi. Sebab itulah sekarang ada usulku, kita harus memberi penghormatan yang terakhir kali di hadapan wajah beliau sekedar kenang-kenangan.”

Haulam, yaitu putera yang ditinggal mati, atau diwakilkan muridnya, memberi hormat dan menjawab, “Tapi peti mendiang guru kami sudah tertutup, maksud baik anda ini kami terima dengan terima kasih di dalam hati saja, di alam baka arwah guru kami pun akan merasa terhibur.”

Jawaban ini sebenarnya cukup sopan dan beralasan, tapi lelaki muka hitam itu tetap ngotot pada pendiriannya, dia malah mendekati peti mati dan berteriak, “Kalau untuk memandang terakhir kali saja tidak dapat, bukankah kita akan menyesal selama hidup?”

Haulam tadi menjawab pula, “Peti mati yang sudah di tutup tidak boleh diganggu lagi, diharap anda maklum, untuk maksud baik anda kami mengucapkan terima kasih.”

Meski jawaban mereka kelihatan tetap ramah tamah, tapi air muka mereka sudah kelihatan kurang senang, nadanya juga sudah berubah agak kasar.

Tak tahunya lelaki muka hitam itu tetap tidak tahu diri, masih terus ngotot ingin melihat wajah Tong Bu-siang yang terakhir, ia berteriak pula, “Ku datang dari tempat beribu Li jauhnya, tentunya tidak boleh pulang dengan kecewa. Sudah lama ku kagum pada nama kebesaran Tong-loyacu, masa untuk melihatnya satu kali saja tidak dapat?”

Sambil gembar-gembor ia terus berlari mendekati peti mati.

Keruan para hadirin sama gempar, banyak yang mengira orang ini sudah gila, tapi Pwe-giok dapat melihat orang ini pasti mempunyai maksud tujuan tertentu dan sukar diraba.

Bagi Lui-ji, dia justeru berharap orang itu dapat membongkar peti mati selekasnya, ingin diketahuinya di dalam peti mati itu apakah betul Tong Bu-siang atau bukan? Ingin dilihatnya cara bagaimana kematian Tong Bu-siang?

Para Haulam yang berlutut di depan layon menjadi panik juga, serentak mereka berdiri.

Jika dalam keadaan biasa, orang ini berani main gila di Tong-keh-ceng, tentu sejak tadi orang ini telah dibereskan. Tapi sekarang kedudukan mereka adalah keluarga yang sedang berduka-cita, mana boleh pakai kekerasan di depan layon orang tua sendiri.

Terpaksa mereka hanya menghadang saja di depan lelaki muka hitam itu dan menegur dengan menahan rasa gusar, “Mungkin anda ini mabuk!”

“Siapa yang mabuk?” kata orang itu. “Satu tetes saja aku tidak minum. Tujuanku hanya ingin melihat Tong-loyacu untuk penghabisan kalinya, masa perbuatan itu melanggar undang-undang?”

Seorang lelaki kekar yang duduk dekat Pwe-giok mendadak menggebrak meja dan berdiri, bentaknya, “Hendaknya kau tahu diri, sobat! Meski saudara dari keluarga Tong tidak leluasa turun tangan, tapi bila kau berani sembarangan main gila, aku Nyo Eng-tay yang pertama-tama akan memberi hajaran padamu.”

Nyo Eng-tay ini berjuluk “Kay-pi-jiu”, si tangan pembelah pilar, namanya cukup gemilang di dunia persilatan daerah Sujwan. Ucapannya ini juga cukup gagah perkasa dan beralasan, segera ada orang bersorak mendukungnya.

Tak terduga mendadak dari luar ada orang menjengek, “Hm, Nyo Eng-tay, sebaiknya kau pun tahu diri sedikit dan lekas tutup mulut! Kalau tidak, sebentar orang pun akan membongkar perbuatanmu di Soa-peng-pah dahulu itu!”

Suara orang itu kedengaran seperti suara banci, para hadirin sama melongok ke arah suaranya, tapi tiada kelihatan bayangan seorangpun.

Namun begitu wajah Nyo Eng-tay sudah lantas merah padam, sekujur badan kelihatan gemetar, benarlah, dengan ketakutan ia lantas duduk kembali dan tidak berani bersuara pula.

Pada saat itu ada seorang tua yang mungkin cukup berkedudukan seperti ingin bicara, tapi seorang tua lain cepat menariknya dan membisikinya, “Untuk apa Oh-heng mencari susah sendiri? Urusan keluarga Tong biar diselesaikan mereka sendiri, masa orang luar perlu ikut campur?”

Benar juga, orang itupun duduk kembali dan tutup mulut.

Pwe-giok tambah curiga, kini dapat diketahuinya bahwa maksud tujuan lelaki muka hitam itu jelas sengaja cari perkara, bahkan di belakangnya pasti ada yang mendalanginya. Orang yang bersuara di luar tadi bisa jadi juga begundal “Ji Hong-ho” itu.

Jika demikian, kematian “Tong Bu-siang” pasti juga mengandung rahasia sangat besar.

Tampaknya anak murid keluarga Tong juga merasakan gelagat tidak enak, diam-diam dari luar sudah masuk beberapa orang dan telah menjaga rapat semua jalan keluar, agaknya lelaki muka hitam itu takkan dibiarkan pergi begitu saja.

Tapi lelaki muka hitam ini hakekatnya tidak ada maksud pergi, dengan suara garang ia malah berkata pula, “Mengapa kalian tidak mengijinkan orang luar melihat wajah Tong-loyacu yang terakhir, apakah karena kematian Tong-loyacu ada sesuatu yang tidak beres? Jika demikian, kami justeru harus melihat wajahnya.”

Ucapan ini kembali membikin gempar para pelayat. Ada sebagian hadirin diam-diam merasakan apa yang dikatakan orang ini juga cukup beralasan.

Tentu saja anak murid keluarga Tong bertambah gusar, segera ada yang membentak, “Sahabat, kalau bicara hendaknya yang jelas dan tahu aturan.”

“Masa ucapanku kurang jelas dan melanggar aturan?” jawab si muka hitam, “Jika kalian sendiri tidak berbuat salah, mengapa…”

“Tutup mulut!” bentak seorang mendadak.

Suaranya tidak keras, tapi membawa semacam wibawa yang menundukkan orang. Tanpa terasa lelaki bermuka hitam menyurut mundur dan tak berani bersuara lagi. Tertampaklah dari balik tabir sana muncul beberapa orang perempuan berbaju putih berkabung.

Perempuan yang paling depan bertubuh ramping, baju berkabung yang putih mulus bersih sekali, raut wajahnya yang agak lonjong kelihatan penuh rasa berduka, namun tidak mengurangi wibawanya yang kereng dan disegani.

Inilah Tong Ki, nona pertama keluarga Tong yang memegang kekuasaan rumah tangga tertinggi.

Perempuan kedua bermuka bundar, matanya juga bundar besar, kelihatan lembut dan subur, inilah model isteri bijak dan ibu yang baik, menantu teladan. Dia inilah isteri Tong-toakongcu, namanya Li Be-ling.

Orang ketiga bertubuh lemah kurus, matanya yang hitam rada cekung, biasanya selalu berwajah sayu, kini kelihatan lebih berduka.

Dia seperti sengaja melirik sekejap ke arah Pwe-giok, lalu menunduk, sorot matanya memancarkan setitik perasaan benci, seakan-akan menyatakan tidak ingin lagi melihat anak muda itu.

Inilah nona kedua keluarga Tong, yakni Tong Lin.

Begitu muncul dari balik tabir, ketiganya lantas memberi hormat kepada para hadirin. Serentak para tamu membalas hormat mereka.

Sambil menyembah di lantai Tong Ki berkata, “Atas wafatnya ayah kami dan berkat kehadiran kalian yang sudi melayat kemari, lebih dulu atas nama keluarga kuucapkan terima kasih.”

Beramai-ramai para tamu menyatakan bela sungkawanya.

Lalu Tong Ki berucap pula, “Sebenarnya tidak pantas kami keluar menemui para hadirin, tapi lantaran ini…” pelahan dia angkat kepalanya dan menatap tajam lelaki muka hitam, lalu iapun berdiri dan bertanya, “Bolehkah kiranya mengetahui nama anda yang mulia?”

Lelaki muka hitam berdehem dua-tiga kali, lalu berkata, “Cayhe Gui Som-lim, tidak lebih hanya Bu-beng-siau-cut (perajurit kecil tidak bernama) dunia Kangouw, hanya saja…”

Mendadak Tong Ki menarik muka, tukasnya dengan suara bengis, “Bagus, Gui Som-lim, coba jawab, siapa yang menyuruh kau kemari?”

Diam-diam Pwe-giok memuji, “Nona besar keluarga Tong ini memang benar pahlawan kaum wanita, pintar dan cerdik, sama sekali dia tidak menegur kelakuan Gui Som-lim yang berteriak-teriak tadi, tapi langsung bertanya siapa yang menyuruh dia ke sini. Hanya satu pertanyaan saja sudah mengalihkan perhatian semua orang. Dengan sendirinya Gui Som-lim takkan mengaku diperintah orang lain, tapi bila dia tidak dapat memberi keterangan, tentu takkan ada orang lain lagi yang menyangsikan sebab musabab kematian Tong Bu-siang.”

Tadi Gui Som-lim masih berseri-seri dan gembar-gembor, tapi sekarang air mukanya berubah pucat, ia menjawab dengan agak gelagapan, “Cayhe datang melayat dan tidak… tidak disuruh oleh siapa-siapa.”

Tong Ki menjengek, “Ruangan layon ini bukanlah tempat untuk membunuh, tapi kalau kau tidak bicara sejujurnya…”

Mendadak ia berhenti dan memberi tanda lambaian tangan. Seketika di luar ada bunyi gembereng satu kali.

Lalu Tong Ki menyambung ucapannya, “Nah kau dengar suara gembereng itu, bukan?”

“Ya, deng… dengar.” jawab Gui Som-lim.

“Bila gembereng sudah berbunyi tiga kali dan belum lagi kau bicara terus terang, segera darahmu akan berhamburan di sini,” ancam Tong Ki.

Dia bicara dengan tenang saja, namun nadanya berwibawa dan membikin orang mau tak mau percaya akan kebenaran ancamannya itu.

Wajah Gui Som-lim tampak pucat pasi, dengan suara terputus-putus ia menjawab. “Apa yang kukatakan tadi adalah… adalah sejujurnya.”

Tong Ki tidak menanggapi lagi, ia berdiri dengan berlipat tangan seolah-olah tidak mendengar ucapan orang.

Menyusul di luar ruangan gembereng berbunyi pula satu kali.

Mendadak Gui Som-lim membalik tubuh terus berlari pergi secepat terbang. Nyata ia bermaksud kabur.

Akan tetapi saat itu juga Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong segera muncul dari luar, keduanya tepat menghadang jalan pergi Gui Som-lim.

Thi-bin-giam-lo, si raja akhirat bermuka besi, sesuai julukannya, Tong Siu-hong memang tegas dan tidak kenal ampun terhadap siapapun yang bersalah. Kini matanya tampak merah membara, napsu membunuhnya berkobar.

Gui Som-lim bergidik dan tanpa terasa menyurut mundur selangkah demi selangkah.

Mendadak gembereng berbunyi pula.

Pada saat itulah di tengah para pelayat itu mendadak terdengar suara jeritan ngeri!

Sebarisan orang yang berdiri di depan layon sana sama menampilkan perasaan takut luar biasa. Tanpa terasa Tong Ki juga berpaling ke sana …

Dan sekali pandang, seketika iapun terperanjat.

Kiranya peti mati Tong Bu-siang entah sejak kapan telah dibuka orang, mayat Tong Bu-siang telah berdiri tegak bersama peti matinya, di bawah cahaya yang remang-remang kelihatan mukanya yang pucat kuning, mata terpejam, meski tidak begitu menakutkan mukanya, tapi keseraman orang mati cukup membikin orang merinding.

“Di belakang peti pasti ada orang, tangkap!” teriak Tong Ki bengis.

Serentak Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong menubruk maju ke sana.

Pada saat itu pula mayat Tong Bu-siang mendadak melayang keluar dengan kaku dari peti matinya.

Pwe-giok juga sudah dapat melihat di belakang peti mati pasti ada orang membikin mayat Tong Bu-siang terpental dengan Lwekang yang kuat, tapi mendadak berhadapan dengan kejadian aneh luar biasa ini, tanpa terasa tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin.

Dilihatnya mayat Tong Bu-siang yang kaku itu langsung menerjang ke arah Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing yang lagi menubruk ke depan. Mestinya mereka tidak berani menggunakan tangan untuk menangkap mayat itu, tapi mau tak mau mereka harus menangkapnya.

Suara aneh yang berbunyi di luar jendela kembali bergema pula dari balik peti mati, ucapnya dengan seram, “Tong Bu-siang sudah muncul, kenapa kalian tidak lekas menyembah padanya?”

Belum lenyap suaranya, serentak empat atau lima orang anak murid keluarga Tong telah menubruk ke sana. Meski sedang berkabung, namun dalam baju mereka selalu membawa Am-gi atau senjata rahasia khas keluarga Tong yang termasyhur.

“Roboh, sahabat!” bentak salah seorang.

Berbareng dengan suara bentakan itu, senjata rahasia merekapun berhamburan, berpuluh bintik hitam menyambar ke belakang peti mati bagai hujan gerimis.

Am-gi keluarga Tong tiada bandingannya di dunia ini, bukan saja buatannya cermat dan bagus, cara menyambitkannya juga bergaya khas. Berpuluh bintik hitam itu menyambar ke depan dengan kecepatan yang berbeda, ada yang lambat, ada yang cepat, yang cepat belum tentu sampai lebih dulu, yang lambat bisa mendadak menyambar tiba dengan kuat. Jadi sukar diraba dan susah dijaga.

Semua orang mengira orang yang berada di belakang peti mati itu sekali ini pasti sukar terlolos dari kematian. Siapa tahu mendadak terdengar suara tertawa panjang, berpuluh bintik senjata rahasia itu mendadak berputar haluan di udara, semuanya terbang balik dan menyambar ke arah anak murid keluarga Tong sendiri.

Sambaran membalik ini jelas lebih keras daripada sambaran ke sana tadi, tampaknya dengan segera senjata akan makan tuannya.

Keruan anak murid keluarga Tong itu terkejut, cepat mereka menutupi muka sendiri dengan tangan kanan, tangan kiri melintang di depan dada, lalu melompat ke atas dan berjumpalitan sekali, ketika jatuh ke lantai, serentak mereka menggelinding jauh ke sana.

Cara menghindar mereka sudah cepat, tapi sambaran Am-gi jauh lebih cepat. Tanpa ampun pundak dan lengan ke empat orang masing-masing terkena beberapa bintik senjata rahasia tersebut, belum lagi mereka melompat bangun, lebih dulu mereka merogoh saku dan mengeluarkan botol kecil, obat penawar racun dalam botol terus ditelan, lalu berbaring di lantai dan tidak berani bergerak sedikitpun.

Maklumlah, senjata rahasia keluarga Tong terkenal maha lihay racunnya, sampai di mana kekejiannya tentu mereka sendiri yang paling tahu. Jika urat nadi yang berdekatan dengan jantung terkena senjata rahasia itu, dengan cepat racun akan menyerang jantung, sekalipun ada obat penawar buatan khusus juga belum tentu dapat menyelamatkan jiwa mereka.

Bila mata yang terkena senjata rahasia itu, sekalipun dapat ditolong, namun penderitaan mengorek mata dan membedah kulit daging tentu juga dapat dibayangkan.

Sebab itulah lebih dulu mereka melindungi bagian-bagian yang fatal dengan tangan sendiri, sekarang setelah makan obat penawar toh mereka tetap kuatir racun akan menjalar, maka mereka harus berbaring diam, setelah obat penawar sudah berjalan barulah mereka berani berdiri.

Di sebelah sini ke empat orang terluka dan roboh, di sebelah sana Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menurunkan mayat yang mereka pegang, lalu mereka menerjang musuh pula dari kanan dan kiri.

Pengalaman tempur dan kungfu kedua orang ini dengan sendirinya jauh lebih tinggi daripada sesama saudara seperguruannya, bahkan gerakan merekapun jauh lebih cermat.

Tak terduga, pada saat itulah, “blang”, mendadak peti mati itu pecah menjadi dua, terbelah bagian tengah, lalu menghantam ke kanan dan ke kiri, memapak serbuan Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong.

Peti mati itu terbuat dari kayu pilihan, biarpun tertanam di bawah tanah berpuluh tahun juga tetap utuh tanpa keropos, maka dapat dibayangkan betapa kuat dan kerasnya.

Tapi sekarang sekali tabas dengan telapak tangannya orang itu sanggup membelahnya menjadi dua, keruan semua orang terkejut.

Seketika Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong merasa pecahan peti mati itu menindih tiba bagai gugur gunung dahsyatnya, masih berjarak cukup jauh sudah terasa daya tindihnya yang hebat sehingga napaspun terasa sesak.

Dalam kejutnya kedua orang itu cepat menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, maka terdengarlah suara gemuruh, kedua potong peti mati yang pecah itu menghantam lantai dan mencelat pula ke sana dan menumbuk dinding, seketika batu pasir bertebaran.

Sial bagi yang terciprat batu, banyak yang menjerit kesakitan. Yang tidak tertimba batu juga cepat-cepat berlari menyingkir, malahan ada yang sembunyi di kolong meja sehingga meja kursi berjungkir balik dan mangkuk piring pecah berantakan.

Setelah kekacauan agak mereda, barulah semua orang melihat di samping mayat Tong Bu-siang telah berdiri seorang berbaju hijau dengan tersenyum simpul.

Anak murid keluarga Tong serentak mengepungnya dan mengawasi musuh dengan siap serbu. Namun orang ini tetap menghadapi mereka dengan tertawa pongah seperti tiada sesuatu yang ditakutinya.

Orang ini bukan saja sangat muda, tampaknya juga sopan santun, juga sangat cakap, hanya sikapnya kelihatan kemalas-malasan, mirip orang yang selalu kurang tidur.

Tidak ada seorang Kangouw yang hadir ini kenal pemuda ini, siapapun tidak menyangka orang semuda ini memiliki tenaga dalam sedemikian hebat.

Hanya Pwe-giok dan Lui-ji saja yang kenal orang ini, tapi mereka jauh lebih terkejut daripada orang lain, sebab mereka tidak pernah menyangka pembuat gara-gara ini ialah Yang Cu-kang.

—–

Akhirnya Yang Cu-kang datang juga!

Anak murid keluarga Tong sama melolos senjata dan mengepungnya di tengah, setiap saat mereka siap turun tangan.

Tapi mendadak Tong Ki membentak dengan suara tertahan, “Mundur semua!”

Tampaknya nona besar keluarga Tong ini sekarang sudah bertindak selaku Ciangbunjin, begitu dia memberi perintah, serentak anak murid keluarga Tong terpencar, sampai Tong Siu-hong juga meluruskan tangan dan tunduk kepada perintahnya.

Di tengah kekalutan juga cuma Tong Ki saja yang tetap dapat mempertahankan ketenangannya, sorot matanya seperti kilat berkelebat mengusap wajah Yang Cu-kang. Lalu jengeknya, “Usia anda masih muda, tapi kungfumu sudah setinggi ini, tentu anda anak murid orang kosen. Tapi mengacau di ruang layon orang lain, membikin anggota keluarganya yang hidup tambah susah dan membuat yang mati merasa terhina, apakah cara inipun termasuk ajaran perguruan anda?”

Asalkan nona besar keluarga Tong sudah buka suara, setiap katanya pasti mempunyai bobot. Kini dia tidak bertanya siapa nama dan asal usul orang, sebaliknya semua perbuatannya itu ditumplekkan atas perhitungan perguruannya, hal ini membuat lawan menjadi serba susah untuk menjawab.

Yang Cu-kang mengamat-amati Tong Ki beberapa kejap, dari atas dipandangnya ke bawah dan dari bawah diulang lagi ke atas, lalu berkata dengan tertawa, “Pantas orang Kangouw sama bilang nona besar keluarga Tong kita lihay dan galak, seekor harimau betina, setelah berhadapan sekarang ternyata memang tidak bernama kosong, benar-benar tidak bernama kosong…”

Dia menengadah dan terbahak-bahak, mendadak ia berhenti tertawa, dengan sorot mata yang tajam dia tatap para hadirin yang memenuhi ruangan luar dan dalam itu, lalu berseru dengan lantang, “Cayhe Yang Cu-kang adanya, meski bukan anak murid perguruan ternama segala, juga bukan keturunan keluarga terhormat, tapi juga tidak nanti melakukan hal-hal yang melanggar tata susila begini. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak bermaksud mengganggu arwah Tong-locianpwe, sebaliknya ingin kutuntut kebenaran baginya, sebab itulah diharapkan para hadirin suka memberi keadilan.”

Ia kuatir perbuatannya mengganggu mayat dan merusak peti mati itu akan menimbulkan amarah umum. Tapi setelah uraiannya ini, pandangan semua orang lantas berubah lagi. Semua orang telah tertarik oleh kata “menuntut kebenaran” tadi, semuanya lantas berpikir, “Apakah barangkali kematian Tong-locengcu ini ada sesuatu yang tidak beres?”

Tong Ki tidak sabar lagi, segera ia menjengek, “Kiranya orang she Gui itu adalah suruhanmu, kau suruh dia mengacau di depan layon untuk memancing perhatian orang banyak, kau sendiri lantas mengacau di belakang peti, begitu bukan?”

Yang Cu-kang menjawab dengan tak acuh, “Demi menuntut kebenaran bagi Tong-locianpwe segala apapun dapat kulakukan.”

“Jangankan ayahku wafat secara wajar, sekalipun pada masa hidup beliau ada permusuhan dengan siapa-siapa, segala persoalannya masih dapat diselesaikan oleh putera-puterinya, kukira tidak perlu kau ikut campur,” seru Tong Ki dengan bengis.

“Oo? Apakah betul kalian dapat menyelesaikannya?” tanya Yang Cu-kang.

“Tentu, kenapa tidak?” jawab Tong Ki.

“Bagus,” ucap Yang Cu-kang. “Jika demikian, marilah kita melihat dulu siapakah kiranya yang turun tangan keji terhadap Tong-locengcu, lalu…” sembari bicara iapun menarik mayat Tong Bu-siang.

Dengan gusar Tong Ki lantas membentak, “Jahanam, berani lagi kau ganggu jenazah ayahku? Biarlah ku adu jiwa dengan kau!”

Dia sudah tahu kungfu Yang Cu-kang maha tinggi dan sangat mengejutkan, sebab itulah sejak tadi ia menahan rasa gusarnya dan belum turun tangan, tapi sekarang semua itu seperti tidak terpikir lagi olehnya, sekali berkelebat, tahu-tahu ia menubruk maju, kesepuluh jarinya yang lancip segera mencengkeram mata dan tenggorokan Yang Cu-kang. Tipu serangan yang cepat dan ganas, sekali turun tangan segera mengincar bagian yang mematikan.

Tapi Pwe-giok tahu kalau melulu kepandaian Tong Ki saja masih selisih sangat jauh untuk dapat menandingi Yang Cu-kang.

Diam-diam Lui-ji juga berkuatir bagi Tong Ki. Betapapun perempuan tetap berharap sesama perempuan akan mengalahkan kaum lelaki, akan tetapi Lui-ji juga berharap Yang Cu-kang akan membongkar rahasia kematian Tong Bu-siang.

Meski perempuan bersimpati kepada sesama perempuan, tapi perempuan juga lebih suka mencari tahu rahasia orang lain.

Dalam pada itu Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menubruk maju, bersama Tong Ki mereka mengerubuti Yang Cu-kang dari tiga jurusan.

“Apakah cuma sekian saja ilmu silat keluarga Tong?” ejek Yang Cu-kang dengan tertawa.

Selesai dia berucap demikian, tahu-tahu jenazah Tong Bu-siang sudah diangkat olehnya. Serangan Tong Ki bertiga juga mengenai tempat kosong seluruhnya.

Yang Cu-kang terus berputar cepat seperti gasingan, mayat Tong Bu-siang digunakan sebagai perisai di depan tubuh. Apabila Tong Ki bertiga menyerang secara ganas, yang akan kena lebih dulu tentulah mayat Tong Bu-siang.

Dengan sendirinya mereka menjadi ragu untuk menyerang lagi.

“Lepaskan jenazah guruku dan jiwamu akan kami ampuni!” teriak Tong Siu-hong dengan murka.

“Haha, aku memang tidak bisa mati, tidak perlu minta ampun padamu!” jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

Makin cepat dia berputar sembari membuka baju mayat yang dikenakan Tong Bu-siang itu.

Air muka Tong Ki berubah pucat, ia berjingkrak dan mendamprat, “Keparat, betapa rendah caramu merusak jenazah, harus kubinasakan kau dulu!”

Tampaknya ia menjadi nekat, tanpa menghiraukan apapun dia terus menerjang.

Tiba-tiba Yang Cu-kang berteriak, “Wahai para hadirin, lihatlah kalian, dia yang sengaja hendak merusak jenazah Tong-locianpwe atau aku? Dia lebih suka menghancurkan tubuh ayahnya yang sudah mati ini dan tidak memperbolehkan kuselidiki sebab-musabab kematiannya, coba jawab, mengapa?”

Semua orang menjadi sangsi oleh uraian Yang Cu-kang ini, sampai Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong juga mulai ragu dan tidak main kerubut lagi bersama Tong Ki. Malahan ada orang yang tidak tahan dan segera berteriak, “Nona Tong, kenapa tidak dibiarkan dia memeriksa sebab musabab kematian Tong-locengcu?”

Serangan Tong Ki sangat cepat, hanya sekejap saja dia sudah menyerang dua-tiga puluh kali, tapi setiap serangannya hanya menyerempet lewat saja di samping tubuh musuh, ujung bajunya saja sukar menyenggolnya.

Kini Tong Ki baru merasakan betapa tinggi ilmu silat pemuda aneh ini. Mendadak ia berhenti menyerang dan melompat mundur, ia menggentak-gentakkan kaki sambil mengucurkan air mata, jeritnya dengan parau, “Para hadirin sudah bicara demikian, apabila aku tidak menurut, akan kelihatan seperti ada sesuatu kesalahanku. Akan tetapi nama baik mendiang ayahku kini harus menjadi korban perbuatan jahanam ini…” sampai di sini kerongkongannya terasa seperti tersumbat dan air mata berderai.

Tong Lin dan Li Be-ling memburu maju dan memapah Tong Ki.

Dengan suara bengis Tong Siu-hong lantas berteriak, “Sahabat, jika kau ingin melihatnya boleh silahkan, tapi kalau tiada menemukan sesuatu, lima ratus anak murid keluarga Tong lebih suka mati seluruhnya sekarang juga daripada membiarkan kau lolos keluar dengan hidup.”

“Apabila tidak kutemukan sesuatu, tanpa kalian turun tangan, aku sendiri akan mati lebih dulu di sini,” kata Yang Cu-kang dengan tertawa. Mendadak ia menarik muka, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Sebab sudah kuketahui, kematian Tong-locianpwe justeru adalah korban perbuatan anak muridnya sendiri.”

Ucapan ini seketika membikin gempar setiap orang. Lebih-lebih anak murid keluarga Tong, semuanya jadi murka, beramai-ramai mereka membentak, “Kau berani sembarangan memfitnah orang? kau ada bukti?”

“Kalian ingin bukti?” tanya Yang Cu-kang, “Baik!”

Mendadak ia angkat mayat Tong Bu-siang tinggi-tinggi, lalu berteriak, “Inilah buktinya!”

Serentak anak murid keluarga Tong membanjir maju, yang di luar ruangan juga menerjang ke dalam. Seketika ruangan pendopo yang besar itu menjadi berjubal-jubal. Tapi sekali lompat Yang Cu-kang telah melayang ke atas.

Meski membawa sesosok mayat, tapi gerak tubuh Yang Cu-kang masih sangat gesit, sekali lompat saja ia sudah hinggap di atas belandar pendopo, lalu berteriak dengan suara bengis, “Tong-locianpwe mati terkena Am-gi perguruannya sendiri, bahkan mati di Tong-keh-ceng, lalu siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri?”

Kejut dan gusar semua anak murid keluarga Tong, ada yang berteriak, ada yang mencaci maki, ada yang menyiapkan senjata rahasia, tapi kuatir pula mengenai jenazah Tong Bu-siang sehingga mereka hanya bergerak saja, tapi urung menyerang.

Ada beberapa orang di antaranya ikut melayang ke atas, tapi baru saja tubuh mereka mengapung, kontan dia tergetar ke bawah lagi oleh angin pukulan yang dahsyat. Malahan ada seorang yang jatuh menindih tubuh kawannya.

Dengan suara bengis Yang Cu-kang berteriak pula, “Apabila kalian ingin melihat bukti, silahkan kalian memilih beberapa orang yang sekiranya terhormat untuk menjadi saksi dan orang lain dipersilahkan mundur lebih dulu.”

Kini Tong Ki berbalik jauh lebih tenang daripada tadi, sinar matanya gemerdep, tiba-tiba ia berkata, “Baik, jika demikian, diharapkan Siok-san-sin-wan (si kera sakti dari Siok-san) Wan-loyacu, Kim-to Oh-toasiok, Khay-pi-jiu Nyo-toasiok dan Ji Pwe-giok, Ji-kongcu berempat untuk menjadi wasit.”

Sungguh tidak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa Tong Ki mendadak akan menyebut namanya, seketika ia melenggong.

Tapi Lui-ji lantas menarik ujung bajunya dan berseloroh, “Masa kau tidak tahu bahwa dirimu adalah seorang tokoh ternama di dunia Kangouw? Ayolah lekas tampil ke depan!”

Si orang tua yang berolok-olok di dekat Pwe-giok tadi cepat mendekati anak muda itu dan berkata sambil memberi hormat, “Tak tersangka anda inilah Ji Pwe-giok, Ji-kongcu yang baru-baru ini menggemparkan dunia Kangouw, sampai tokoh sakti Lo-cinjin juga sangat memuji dirimu. Bilamana sikap kami tadi kurang menghormat, mohon sudi dimaafkan.”

Berita dunia Kangouw ternyata sangat cepat tersebar, kejadian pada setengah bulan yang lalu kini sudah diketahui orang sebanyak ini, sampai Nyo Eng-tay, Kim-to Oh Gi dan lain-lain yang tadi meremehkan dia sekarang juga memandangi Pwe-giok dengan terbelalak, air muka mereka penuh rasa kejut dan heran, seperti tidak percaya seorang pemuda tampan dapat menggemparkan Kangouw hanya dalam waktu setengah tahun ini.

Pwe-giok sendiri tidak pernah membayangkan dirinya ternyata bisa menonjol dan terkenal secepat ini. Terpaksa ia membalas hormat orang dan mengucapkan kata rendah hati.

Orang tua tadi berucap pula, , “Cayhe Wan Kong-beng dari Siok-san, selanjutnya diharapkan Ji-kongcu suka sering-sering memberi petunjuk.”

Pwe-giok membalas hormat dan tetap rendah hati.

Dalam pada itu kerumunan orang banyak sudah mulai mundur, sehingga tempat layon tadi terluang cukup luas.

“Dengan ke empat saksi ini, apakah cukup?” Tanya Tong Ki.

“Yang lain belum tentu bisa dipercaya, tapi Ji Pwe-giok ini sudah lama kudengar dia adalah Kuncu sejati, kuyakin ia takkan berdusta.” kata Yang Cu-kang sambil menunduk ke bawah dan tertawa kepada Pwe-giok, lalu ia melayang turun.

Pwe-giok tidak tahu mengapa orang mendadak bersikap ramah padanya, diam-diam ia mempertinggi kewaspadaan.

Dilihatnya sambil mengangkat jenazah Tong Bu-siang, dengan suara lantang Yang Cu-kang berkata, “Sekarang silahkan kalian memeriksanya, sesungguhnya bagaimana bekas luka Tong-locianpwe yang mengakibatkan kematiannya.”

Pada waktu akan dimasukkan ke peti mati, mayat Tong Bu-siang sudah didandani, mukanya sudah dipoles bedak berminyak yang tebal sehingga sukar lagi melihat air mukanya yang asli.

Maklum, wajah orang mati pada umumnya hampir serupa. Tapi sekarang setelah Yang Cu-kang membuka baju mayat, barulah semua orang melihat bagian dadanya hitam hangus, itulah tandanya terkena racun jahat.

Luka yang mematikannya terletak di bawah dada kiri, ada tiga lubang kecil sebesar mata jarum, di atas lubang kecil itu ada noda darah beku yang sudah hampir berubah menjadi hitam seluruhnya.

Yang Cu-kang lantas membuka telapak tangannya dan berkata pula, “Sekarang hendaknya kalian melihat apa yang terdapat pada tanganku ini?”

Terlihatlah satu biji Am-gi yang terbuat dengan indah di atas telapak tangannya, itulah Tok-cit-le , duri besi berbisa, senjata rahasia khas keluarga Tong, juga boleh dikatakan senjata rahasia yang bersejarah paling tua di dunia ini.

Setiap tokoh yang hadir ini sama kenal senjata rahasia itu, tapi merekapun tahu betapa gawatnya urusan sekarang, maka mulut setiap orang seolah-olah sudah disegel dan tiada seorangpun berani ikut bicara.

Hanya Tong Siu-hong saja yang segera membentak, “Inilah Tok-cit-le dari keluarga Tong kami, darimana kau memperolehnya?”

Yang Cu-kang tertawa, jawabnya,” Am-gi inilah yang tadi hendak kalian gunakan untuk membunuh diriku, seluruhnya mereka menghamburkan 28 biji, telah kubayar kembali 27 biji, yang kuterima hanya satu biji ini. Jika kau tidak percaya boleh kau hitung dulu barangnya.”

Dengan muka masam tong Siu-hong tidak bersuara lagi.

Yang Cu-kang lantas pegang Tok-cit-le itu dan perlahan dipasang di atas luka Tong Bu-siang, tiga ujung duri Tok-cit-le itu persis masuk pada tiga titik bekas luka di dada Tong Bu-siang itu.

“Nah, luka yang mematikan Tong-locianpwe ini terdiri dari senjata rahasia apa, tentunya sekarang kalian sudah dapat melihatnya bukan?” kata Yang Cu-kang.

Padahal sejak tadi semua orang juga sudah melihat racun yang mengenai tong Bu-siang itu serupa dengan racun senjata rahasia keluarga Tong.

Sebab racun yang berbeda, tanda-tanda bekerjanya racun juga berlainan. Racun senjata rahasia keluarga Tong kalau menjalar, seluruh tubuh korbannya akan berubah menjadi hitam hangus seperti halnya Tong Bu-siang sekarang.

Maka Yang Cu-kang lantas mendengus, “Jika Tong-locianpwe mati di Tong-keh-ceng, yang mematikannya juga Tok-cit-le keluarga Tong sendiri, lantas siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri ? ”

Ia berhenti sejenak, lalu melototi Wan Kong-beng dan bertanya, “Coba bagaimana menurut pendapatmu?”

Muka kakek she Wan itu tampak prihatin dan tidak berani menjawab.

“Hm, sejak mula sudah kuketahui kau ini ular tua yang licin, tidak bisa menjadi penengah yang jujur,” jengek Yang Cu-kang. Lalu ia tatap Oh Gi dan bertanya,” Dan bagaimana dengan kau? Konon biasanya kau sok menjadi juru damai, apakah sekarang kaupun tidak berani bicara?”

Muka Oh Gi tampak merah padam, jawabnya dengan tergagap, “Ini… ini mungkin orang lain yang mencuri senjata rahasia keluarga Tong, lalu digunakan menyerang Tong-locianpwe secara gelap.”

“Hm, bila Tong-locianpwe benar mati di tangan orang lain, mengapa anggota keluarga Tong merahasiakannya dan tidak diumumkan secara terbuka?” jengek Yang Cu-kang pula. “Dan mengapa menyatakan Tong-locianpwe mati secara wajar karena sakit tua?”

Seketika Oh Gi tak dapat menjawab lagi.

Kini setiap orang sama setuju dengan keterangan Yang Cu-kang itu, semua menganggap Tong Bu-siang pasti mati di tangan anak muridnya sendiri. Tapi terpengaruh oleh wibawa keluarga Tong, tidak seorangpun berani bicara, namun air muka mereka jelas sama memperlihatkan rasa gusar.

Sebagian besar anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak tahu seluk-beluk persoalan ini. Ada di antaranya juga memperlihatkan rasa sedih dan gusar, ada juga yang cuma melenggong dan ada lagi yang menangis.

Sinar mata Yang Cu-kang hanya berhenti sejenak pada wajah Pwe-giok, mendadak beralih ke muka Tong Siu-hong dan berkata, “Biasanya anda terkenal adil dan tidak pandang bulu serta tidak kenal ampun, entah tindakan apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Tong Siu-hong tampak menggreget-greget sehingga ujung mulutnya merembeskan darah, tampaknya dia juga menahan sesuatu yang sukar diuraikan, sebab itulah ia hanya mengertak gigi dan tidak mau bicara.

Mendadak Tong Siu-jing terkekeh dua kali, lalu berkata dengan suara parau, “Keluarga Tong tidak beruntung sehingga terjadi peristiwa malang ini, atas keterangan anda yang sudi membeberkan kejadian ini sungguh segenap keluarga Tong merasa sangat berterima kasih. Hanya saja, apa yang dialami mendiang guru kami ini mengapa dapat diketahui sejelas ini oleh anda?”

Cara bicara orang ini ternyata tidak kalah lihaynya daripada Tong Ki.

Tampaknya dia bertanya dengan sopan, padahal cukup keji. Di balik ucapannya itu seakan-akan hendak mengatakan,” Kalau Tong Bu-siang bukan mati sewajarnya, sedangkan orang lain tidak ada yang tahu, lalu dari mana kau mendapat keterangannya? Jangan-jangan kau sendirilah yang melakukannya?”

Biarpun kata-kata demikian tidak terang-terangan diucapkan, namun semua hadirin bukanlah orang bodoh, mustahil mereka tak dapat meraba apa maksudnya. Karena itu, mau tak mau semua orang lantas merasa curiga juga terhadap Yang Cu-kang.

Tapi Yang Cu-kang hanya tersenyum tak acuh, katanya, “Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat. Soalnya Cayhe baru saja berpisah dengan Tong-locianpwe pada tiga hari yang lalu, kini mendadak mendengar berita kematiannya, dengan sendirinya timbul curigaku. Seorang yang sehat walafiat, tidak terluka apa-apa, mengapa baru pulang lantas tutup usia dan meninggal untuk selamanya.”

Kata ‘tutup usia dan meninggal selamanya’ sengaja diucapkannya dengan suara tajam, berbareng sorot matanya menyapu pandang para hadirin, melihat air muka semua orang kembali berubah, barulah ia menyambung lagi, “Meski Cayhe adalah kenalan baru Tong-locianpwe, tapi sekali bersahabat tetap bersahabat, betapapun aku tidak rela dia mati secara penasaran. Sebab itulah sengaja ku datang kemari untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Apabila anda menjadi diriku, apakah anda takkan bertindak seperti ini?”

—–

Apakah betul Tong Bu-siang gadungan itu dibunuh oleh anak murid keluarga sendiri?

Apa maksud tujuan Yang Cu-kang mengusut kematian Tong Bu-siang dan apa pula yang akan diperbuat Ji Pwe-giok?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

1 Comment »

  1. […] Imbauan Pendekar – 08 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:31 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:02 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: