Kumpulan Cerita Silat

07/06/2010

Imbauan Pendekar – 07

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:31 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, M_haury, Velovia, Yusuf_hari, Bsarwono, Axd002, Vampire2000, dan Bpranoto)

Meski kedua kakak beradik itu merasa gembira, tapi diam-diam juga merasa sayang, karena sebotol penuh bubuk racun yang sukar dibuat itu telah dihabiskan begitu saja oleh Lui-ji. Padahal bubuk racun itu lebih berharga daripada emas, sebotol kecil itu cukup untuk meracun mati berpuluh lelaki kekar, tapi sendirian budak cilik ini telah melalapnya sekaligus.

Seketika kedua kakak beradik itu melongo, ya gegetun ya menyesal, mereka merasa cara Lui-ji makan racun itu sebagai suatu pemborosan.

Sambil menghela napas, tiba-tiba si adik berhitung, “Satu… dua… tiga…”

Ia yakin, apabila hitungan “tiga” terucapkan, maka budak cilik itu pasti akan roboh, sebab sebanyak itu bubuk racun yang dilalapnya, biarpun manusia baja juga akan meleleh.

Siapa tahu, meski sudah sekian detik dia mengucapkan hitungan “tiga” dan Lui-ji masih tetap tenang-tenang saja tanpa kurang suatu apa pun, malahan nona cilik itu lantas menggantikan dia menyambung hitungannya, “Empat… lima… enam… tujuh…”

Baru sekarang kedua kakak beradik itu melonjak kaget.

Lui-ji tertawa dan berkata, “Bumbu masak ini memang sangat gurih, cuma sayang, terlalu sedikit. Bagiku, sedikitnya harus makan sepuluh atau dua puluh botol baru cukup kenyang.”

Dia melemparkan botol kosong ke lantai, lalu tertawa ngikik, katanya pula, “Jika kalian ingin menyuguh makanan enak kepada tamu, seharusnya kalian jangan terlalu pelit, ayolah keluarkan lagi beberapa botol.”

Mana bisa bicara lagi kedua kakak beradik itu.

Sesungguhnya merekapun bukan anak kemarin yang baru mengembara di dunia Kangouw, mereka sudah cukup berpengalaman, sudah banyak juga tokoh Kangouw kelas tinggi yang pernah mereka temui, tapi selama ini jarang ada yang terpandang oleh mereka.

Dan sekarang, hanya seorang nona cilik ini telah membuat mereka mati kutu dan tak dapat bersuara.

Si baju hijau sejak tadi hanya menunggu kesempatan, sekarang ia menyadari tiada kesempatan lagi, ia menghela napas panjang dan berkata, “Kami bermata tapi buta, tidak tahu bahwa nona ternyata seorang kosen.”

“Ah, akupun bukan orang kosen apa segala, hanya perutku lebih istimewa daripada orang lain,” ujar Lui-ji dengan tertawa.

Si kakak melotot, ucapnya dengan suara parau, “Baiklah, kami mengaku terjungkal, sesungguhnya akan… akan kau apakan dia?”

“Akupun tidak ingin apa-apa…” mendadak ucapan Lui-ji terhenti, sebab diketahuinya di dalam rumah mendadak telah bertambah satu orang.

Siapapun tidak tahu orang ini datang darimana? Orang ini seperti mendadak jatuh dari langit saja, seperti muncul dari bawah bumi dan tahu-tahu sudah berada di situ.

Meski di dalam rumah lampu masih menyala, tapi di luar hari sudah terang benderang, cahaya matahari menyorot masuk ke dalam rumah melalui lubang jendela dan menyinari tubuh orang ini.

Entah sejak kapan dia sudah duduk di kursi sebelah dan terus menerus menguap kantuk seperti orang sudah tiga malam tidak tidur.

Tapi orang ini bukan kakek-kakek, malahan sangat muda, bahkan tergolong cakap, hanya saja kelopak matanya yang kelihatan selalu sukar terpentang, seperti orang yang tidak pernah tidur cukup.

Sudah tentu kedua kakak beradik itupun terkejut ketika mengetahui di dalam rumah mereka tiba-tiba telah bertambah satu orang, Tapi betapapun kaget mereka tetap tidak sekaget si baju hijau dan Cu Lui-ji.

Sebabnya, Lui-ji kenal orang ini, si baju hijau lebih-lebih kenal, melihat datangnya orang ini, disamping terkejut iapun rada-rada bergirang. Maklum, ia berharap orang ini akan turun tangan menolongnya.

Siapa tahu, setelah belasan kali orang ini menguap, lalu dia hanya memandangi si baju hijau dengan cengar-cengir, seluruh badannya terkulai di atas kursi seperti orang yang tidak bertulang atau kehabisan tenaga.

“Yang-heng, apakah kau kenal nona cilik ini?” sapa si baju hijau dengan mengiring tawa.

Pemuda itu memang Yang Cu-kang adanya. Dengan tertawa ia menjawab, “Melihat caranya memegangi tanganmu sedemikian mesranya, tentu dia ini sahabat baikmu. Dan kalau aku kenal sahabat baikmu, bukankah nanti kau akan cemburu lagi dan bisa jadi aku akan kau labrak.”

Biji mata Lui-ji berputar, segera ia berkata dengan tertawa, “Betul, kami memang sahabat baik, masa kau perlu tanya lagi?”

Berbareng ia perkeras cengkeramannya sehingga si baju hijau kesakitan dan berkeringat dingin, mana dia berani membantah sekata pun.

Yang Cu-kang menghela napas, katanya, “Pantas kau tidak sudi minum arak di Bong-hoa-lau sana, kiranya kau sudah mempunyai tempat sebaik ini serta diladeni nona cantik sebanyak ini.” – Dia berhenti dan mendadak menggebrak meja, lalu menyambung, “Dan diam-diam kau datang ke sini sendirian di luar tahu kami, hm, sungguh terlalu dan bukan perbuatan seorang sahabat sejati.”

Kedua nona kakak beradik tadi sama memperlihatkan rasa kurang senang atas sikap Yang Cu-kang itu. Cepat si baju hijau berkata pula, “Meski ku datang sendiri ke sini, tapi berulang-ulang sudah kutanyai beberapa nona ini, siapakah ksatria muda nomor satu di dunia sekarang ini. Beliau tak lain tak bukan ialah Yang Cu-kang, Yang-tayhiap.”

Mendadak Yang Cu-kang menengadah dan bergelak tertawa, katanya, “Haha, apakah benar aku Yang Cu-kang ini seorang ksatria muda? Wah, sampai aku sendiri tidak tahu.”

Gemerdep sinar mata Lui-ji, tiba-tiba iapun berkata dengan tertawa, “Ah, Yang-tayhiap ini baru datang, tentu perutnya sudah lapar, bukankah kalian masih sedia bakso, kenapa tidak kalian suguhi beliau satu mangkuk?”

Kedua kakak beradik itu ragu-ragu sejenak, si Toaci memandang tangan Lui-ji dan memandang pula keringat yang menghiasi dahi si baju hijau, terpaksa ia menjawab dengan menyengir, “Ya, segera kuambilkan!”

“Ah, tidak perlu,” kata Yang Cu-kang. “Aku bukan puteri Siau-hun-kiongcu dan juga bukan murid Hong Sam, bakso spesial buatan nona ini sekali-sekali aku tidak berani makan.”

Ucapan ini kembali membuat semua orang terkejut.

Lui-ji tidak menyangka pemuda yang misterius ini ternyata tahu asal-usulnya. Lebih-lebih kedua nona kakak beradik itu, merekapun tidak pernah menyangka Cu Lui-ji adalah puteri Siau-hun-kiongcu.

Tanpa terasa mereka sama memandang Lui-ji. Sedangkan mata Lui-ji justeru lagi melototi Yang Cu-kang, ucapnya, “Cara bagaimana kau kenal diriku?”

Yang Cu-kang tertawa, jawabnya, “Nona, sekarang kau bukan lagi orang yang tak bernama. Sejak kudengar kejadian yang kau lakukan di Li-toh-tin sana, sudah lama ingin kutemui nona, sebab serupa diriku, nona juga telur busuk yang tiada taranya.”

Lui-ji menjadi gusar, dampratnya, “Siapa yang serupa kau? Setan yang serupa denganmu.”

“Setahuku, setan penasaran di Li-toh-tin sekarang sedikitnya ada ratusan,” kata Yang Cu-kang dengan tertawa. “Memangnya orang-orang itu bukan mati di tangan nona?”

Dia bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Masih sekecil ini usia nona, tapi sudah mempunyai karya sebesar ini, hari depanmu sungguh gilang gemilang dan sukar diukur. Sedangkan kekejianku juga pasti tidak di bawah nona, sebab itulah nona dan aku adalah satu pasangan yang setimpal.”

Hampir saja perut Lui-ji meledak saking gusar, ia merasa kulit muka orang she Yang ini benar-benar tebal dan jarang ada bandingannya. Sudah banyak orang busuk yang dilihatnya, tapi belum pernah ada orang yang mau mengakui dirinya sendiri adalah telur busuk. Tapi sekarang pemuda ini tidak cuma mengaku sebagai telur busuk, bahkan kelihatannya sangat bangga malah.

Mendadak si adik tadi tertawa genit, suaranya nyaring merdu seperti bunyi keleningan, serunya, “Kau bilang nona cilik itu telur busuk? Aku ini kan juga bukan orang baik?!”

“Ya, betul,” kata Yang Cu-kang sambil berkeplok, “Setiap orang di dalam rumah ini memang tiada satupun orang baik.”

Si adik mengerling sambil tertawa menggiurkan, ucapnya pula, “Jika demikian, bukankah aku dan kau adalah pasangan yang paling setimpal.”

Yang Cu-kang tidak menanggapi, ia hanya memandangi si adik dari kepala sampai ke kaki, lalu dari kaki kembali ke atas kepala, tampaknya dia begitu terpesona sehingga matanya menyipit, serupa orang menikmati penari perut yang telanjang bulat.

Meski dalam hati gemasnya tidak kepalang, kalau bisa ia ingin mengorek mata pemuda yang serupa mata maling itu, namun lahirnya si adik justeru tertawa semakin manis, sambil menggigit bibir ia berkata, “Sudah cukup kau pandang? Bagaimana, cocok tidak?”

Dengan mata terpicing Yang Cu-kang tertawa dan menjawab, “Bagus, bagus! Boleh kau jadi Ji-ngeh (bini kedua) ku, aku ini biasanya tidak suka menolak kehendak orang, makin banyak makin baik.”

Si adik terkikik-kikik, katanya, “Wah, sungguh setan cilik yang rakus, melulu diriku saja takkan habis kau ganyang, memangnya kau ingin berapa orang lagi?”

Sembari bicara sebelah tangannya yang memegang sepotong sapu tangan terus mengebas ke arah Yang Cu-kang dengan tertawa manis.

Meski tertawanya manis, tapi sorot matanya justeru sedingin es, ia melototi Yang Cu-kang dan menunggu robohnya pemuda itu, sebab entah sudah berapa banyak pemuda bangor yang pernah roboh di bawah lambaian sapu tangannya itu.

Tak terduga, bukannya roboh, sebaliknya Yang Cu-kang malah bergelak tertawa dan berkata, “Haha, apakah kau kira hatiku dapat kau pikat hanya dengan lambaian sapu tanganmu yang kecil itu? Haha, percuma, jangan membuang tenaga percuma, sebab hatiku ini sudah lama ku buang ke Yang-cu-kang untuk umpan ikan.”

Seketika ujung hidung kedua kakak beradik itu keluar butiran keringat, diam-diam sang kakak menggreget, ia menjadi nekat, sekonyong-konyong ia berputar, serentak tujuh titik sinar emas menyambar secepat kilat ke arah Yang Cu-kang.

Di luar dugaan, tangan Yang Cu-kang hanya bergerak pelahan dan ke tujuh titik emas itu kontan menyambar balik ke sana, bahkan daya luncurnya jauh lebih cepat. Maka terdengarlah suara “crat-cret” beberapa kali, tujuh pisau emas sama menancap di dinding, bahkan salah sebuah pisau emas itu membawa secomot rambut sang kakak yang terkupas.

Sekarang, mau tak mau air muka Lui-ji juga berubah pucat, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana pemuda she Yang ini melatih kungfunya. Apalagi kedua kakak beradik itu, wajah mereka lebih-lebih pucat seperti mayat.

Yang Cu-kang tetap adem-ayem saja, malahan kedua kakinya terus diangkat dan diselonjorkan di atas meja, ucapnya dengan tertawa, “Kungfuku ini tentunya tidak pernah kalian lihat, bukan? Apabila kalian ingin melihat pertunjukan kungfuku yang lain, silahkan kalian mengeluarkan semua besi tua dan baja karatan yang kalian bawa.”

Si adik menghela napas, ucapnya, “Kukira tidak perlu lagi, kami sudah menyerah padamu.”

Mendadak si baju hijau berteriak dengan beringas, “Kedatanganmu ini jika ingin membunuh diriku, silahkan lekas turun tangan dan jangan membikin susah mereka.”

Yang Cu-kang menghela napas, ucapnya, “Ai, kau ini benar-benar seorang pecinta sejati, pantas nona ini sudi mengikuti dirimu dengan sepenuh hati. Cuma, darimana kau tahu kedatanganku ini hendak membunuh kau? Bukan mustahil kedatanganku ini justeru hendak menyelamatkan kau!”

Lui-ji menjengek, “Hm, tak tersangka Yang Cu-kang yang terhormat juga mahir berdusta.”

“Untuk apa kudustai dia?” jawab Yang Cu-kang dengan tertawa kemalas-malasan. “Bagiku, mudah sekali jika ingin kubunuh dia, tapi juga tiada kesukaran apapun jika hendak kuselamatkan dia.”

“Kalau begitu, sesungguhnya hendak kau selamatkan dia atau akan kau bunuh dia?” tanya si adik dengan suara lembut.

“Apakah kau minta ku bicara sebenarnya?” tanya Yang Cu-kang dengan tersenyum.

“Ya.” jawab si adik.

“Baik, biar kukatakan padamu, lebih dulu akan kuselamatkan dia dari cengkeraman nona cilik itu, kemudian…”

“Kemudian bagaimana?” tukas sang kakak tidak tahan.

“Kemudian baru kubunuh dia,” Jawab Yang Cu-kang dengan tak acuh, “lalu aku akan bergembira bersama kalian bertiga nona cantik ini, bilamana aku sudah bosan memainkan kalian, akan ku ringkus kalian bertiga dan kujual seluruhnya ke Bong-hoa-lau.”

Semua itu diucapkannya dengan tersenyum, diuraikannya secara ringan, seperti hal hal demikian ini adalah kejadian yang biasa dan tidak perlu diherankan atau dikejutkan.

Keruan tidak kepalang kejut dan juga gusar Cu Lui-ji, si baju hijau dan kedua nona kakak beradik itu, hampir saja dada mereka meledak. Saking gemasnya hingga seketika mereka tidak dapat bersuara malah.

Mereka merasa betapa keji hati pemuda she Yang ini, betapa tebal kulit mukanya sungguh sukar ada bandingannya.

Dengan tertawa Yang Cu-kang berkata pula, “Mungkin kalian mengira potonganku gagah dan terpelajar, tentu takkan berbuat hal-hal demikian? Jika begitu pikiran kalian, maka salahlah kalian. Caraku bicara justeru sangat jujur dan terus terang. Apa yang kukatakan pasti kulaksanakan, tidak akan berubah sedikitpun.”

Pelahan ia lantas berbangkit, ia pandang Lui-ji dengan tersenyum dan berkata, “Nah, sekarang juga akan ku mulai menyelamatkan dia dari cengkeramanmu! hendaknya kau waspada!”

Tak tersangka mendadak Lui-ji melepaskan cengkeramannya dan berseru dengan suara tertahan. “Lekas lari, biar kuhadapi dia!”

Walaupun ucapan Lui-ji itu dapat didengarnya, tapi Yang Cu-kang masih tetap berdiri di tempatnya dengan tersenyum tanpa bergerak sedikitpun. Si baju hijau tertegun sejenak, mendadak ia melompat bangun terus hendak kabur keluar pintu.

Berbareng itu Cu Lui-ji juga lantas menerjang ke arah Yang Cu-kang.

Siapa tahu, baru saja tubuh Lui-ji bergerak, tahu-tahu Yang Cu-kang sudah menghilang. Terdengar suara “blang” yang keras, si baju hijau telah terbanting di lantai dari udara.

Waktu semua orang memandang ke sana, Yang Cu-kang sudah berada di seberang meja dan masih berduduk di kursinya dengan kemalas-malasan, malahan kedua kakinya diselonjorkan tinggi-tinggi ke atas meja.

“Nah, kalian sudah lihat, aku tidak membual bukan?” demikian Yang Cu-kang berkata dengan tertawa, “Hakekatnya aku tidak menggerakkan tanganku, aku cuma berucap satu kalimat dan dia lantas kuselamatkan dari cengkeraman nona cilik itu.”

Si kakak berkata dengan suara gemetar, “Dan sekarang kau… kau…”

“Sekarang akan kubunuh dia,” tukas Yang Cu-kang dengan tak acuh, “kalian tidak perlu kuatir, ku tanggung dia takkan kesakitan.”

Lalu dengan kemalas-malasan ia berbangkit dan mendekati si baju hijau.

Agaknya si baju hijau yang menggeletak di lantai itu sudah tidak mampu berkutik sama sekali.

Kedua kakak beradik mendadak menggentak kaki, agaknya mereka menjadi nekat, tiba-tiba mereka menarik baju sendiri sehingga kelihatan kutang masing-masing yang berwarna jambon, tertampak pula kulit badan mereka yang putih mulus.

Tubuh kedua kakak beradik itu sungguh sangat memikat, tapi air muka mereka telah berubah menjadi beringas menakutkan, mereka melototi Yang Cu-kang dan berkata dengan suara serak, “Asalkan kau melangkah maju lagi satu tindak, segera kami mengadu jiwa dengan kau!”

Yang Cu-kang menghela napas, ucapnya, “Masa kalian bermaksud gugur bersamaku?”

“Betul,” jawab kedua nona kakak beradik itu berbareng, tahu-tahu tangan mereka sudah memegang sebilah pisau emas sepanjang satu kaki lebih, tapi pisau emas itu tidak ditunjukkan ke arah musuh melainkan mengancam di atas dada sendiri.

Yang Cu-kang berkerut kening, ucapnya, “Apakah ini kungfu kalian yang disebut “Hoa-hiat-hun-sin, Si-kay-tay-hoat” (ilmu menghancurkan tubuh dan bedah mayat)?”

Dengan bengis si kakak membentak, “Jika kau tahu kualitas barang, tentu pula kau kenal lihaynya?”

Yang Cu-kang tersenyum, ucapnya, “Apapun yang kalian keluarkan tetap tidak ada gunanya, sebab kalau aku tidak menghendaki kematian kalian, biarpun kalian ingin mati juga tidak dapat.” – Habis berkata, mendadak ia melayang ke depan.

Dengan menggreget segera kedua kakak beradik itu nekat hendak membedah dadanya sendiri dengan pisau emas yang mereka pegang itu.

Lui-ji sampai kesima memandangi kedua perempuan cantik yang menggiurkan itu dengan segera akan bermandi darah. Dan bila mana setitik air darah itu menciprat di tubuh Yang Cu-kang maka Yang Cu-kang pun jangan harap akan hidup lagi.

Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak terdengar suara “trang-trang” dua kali, kedua bilah pisau emas itu jatuh di lantai, tahu-tahu kedua kakak beradik sudah berada dalam rangkulan Yang Cu-kang.

Dengan setiap tangan merangkul seorang nona itu, mata yang Cu-kang justeru melototi Cu Lui-ji, ucapnya dengan tertawa, “Sungguh menyesal, aku hanya punya dua tangan dan semuanya terpakai, terpaksa kau harus menunggu.”

Gemerdep sinar mata Lui-ji, tiba-tiba ia berkata, “Jika tanganmu tidak sempat kau gunakan, boleh kuwakilkan kau membunuhnya saja!”

Ia tahu si baju hijau sangat enteng bagi Ji Pwe-giok, kalau orang ini mati, bisa jadi selamanya Pwe-giok takkan mampu membuktikan tulen atau palsunya Tong Bu-siang itu.

Sembari bicara serentak iapun melayang maju kedua tangan menghantam sekaligus, kedua kaki juga menendang beruntun ke arah Yang Cu-kang.

Dia mengira biarpun Yang Cu-kang mempunyai kepandaian setinggi langit, kalau sekarang kedua tangannya merangkul dua nona, mana dia dapat menghindari serangannya yang serentak ini.

Siapa tahu mendadak tubuh Yang cu-kang berputar cepat, kedua nona dalam rangkulannya itu mendadak disodorkan ke depan untuk memapak serangannya.

Lui-ji menjadi kaget, tampaknya hantaman dan tendangannya pasti akan mengenai badan kedua nona yang setengah telanjang itu, baru saja ia bermaksud menarik kembali serangannya, tak tahunya pada saat itulah terasa ada orang mengembus hawa di bagian gitoknya.

Didengarnya Yang Cu-kang lagi berucap dengan tertawa di tepi telinganya, “Biarpun kau belajar lagi 30 tahun dengan Hong sam juga tiada gunanya. Akan lebih baik jika kau temani aku main-main beberapa hari, bila hatiku senang, bisa jadi akan kuajarkan beberapa jurus padamu dan selama hidupmu akan merasakan betapa besar manfaatnya.”

Lui-ji merasa telinganya seperti dikili-kili, bahkan terasa geli. Sungguh gemasnya tidak kepalang, ingin sekali tendang orang itu dibunuhnya, tapi sayang, badan sendiripun tak bisa berkutik lagi.

Yang Cu-kang lantas menjajarkan tiga kursi menjadi satu baris, Lui-ji didudukkannya pada kursi tengah, sedangkan kedua kakak beradik itu didudukkan pada kedua kursi kanan dan kiri.

Cahaya mata hari yang menembus masuk melalui jendela itu dapat menyinari tubuh kedua nona kakak beradik itu dengan jelas, sampai-sampai pori-pori di badan merekapun dapat terlihat jelas.

Meski sesama wanita, melihat tubuh mereka yang mulus itu, berdetak juga jantung Lui-ji, dia ingin bergerak, tapi tak dapat, ingin memaki, sukar membuka mulut.

Rupanya Yang Cu-kang tidak cuma menutuk Hiat-to kelumpuhannya, bahkan juga menutuk Hiat-to bisunya, supaya mereka tak dapat bicara satu sama lain.

Muka kedua kakak beradik itu tampak merah padam, mata mereka seolah-olah memancarkan sinar tembus, mereka lantas menangis demi melihat si baju hijau yang menggeletak tak bisa berkutik itu.

Yang Cu-kang membetulkan bajunya, lalu berkata dengan serius, “Hari ini adalah hari besar selama hidupku, sebab itulah ku undang nona bertiga untuk menjadi peninjau, untuk ikut menyaksikan upacara aku membunuh orang. Apabila caraku membunuh orang tidak baik, diharap para nona suka memberi petunjuk seperlunya.”

Dia terus membungkuk tubuh sebagai tanda hormat, lalu menyambung pula, “Soalnya selama hidupku ini tidak pernah membunuh orang, baru sekarang untuk pertama kalinya kubuka pantanganku membunuh, sebenarnya aku tidak ingin menggunakan orang begini sebagai pembukaan, tapi tiada orang lain yang kutemukan, terpaksa seadanya.”

Air mata kedua kakak beradik itu bercucuran bibir pun tergigit hingga berdarah.

Yang Cu-kang menjemput pisau emas yang terjatuh di lantai itu, di usapnya pisau itu dengan mengkilap dengan baju yang ditanggalkan kakak beradik itu, perlahan ia mendekati si baju hijau, tiba-tiba ia menoleh dan berkata pula, “Eh, apa barangkali ketiga nona masih ada kedatangan sahabat lain? Jika masih ada, bagiku menjadi lebih baik, sebab upacara yang khidmat ini rasanya terlalu sedikit jika cuma disaksikan oleh tiga tamu undangan saja.”

Sebenarnya Lui-ji berharap mudah-mudahan Ji Pwe-giok akan menyusul tiba, tapi sekarang ia berbalik berharap semoga anak muda itu jangan datang, sebab ilmu silat orang she Yan ini sungguh terlalu menakutkan.

Yang Cu-kang sedang menghela nafas, gumamnya, “Orang lain sama bilang membunuh orang adalah suatu yang merangsang, mengapa sekarang tidak kurasakan rangsangan sedikitpun?”

Dengan kemalas-malasan pula ia berkata dengan tertawa, “Sebentar kalau kau rasakan sakit boleh kau berkedip-kedip dan akan ku bikin kau mati lebih cepat, sebab aku tidak suka melihat orang meringis kesakitan.”

Tampaknya pisau emas segera akan menghujani hulu hati si baju hijau, air mata kedua nona kakak beradik pun berderai, siapa tahu, pada saat itulah mendadak seorang berucap di jendela, “Aku tidak suka melihat orang meringis kesakitan.

Seketika air muka Yang Cu-kang berubah, ia melompat ke depan jendela, tapi mendadak menyurut mundur pula dan membentak, “Siapa itu?”

Mendadak orang itu pun membentak “Siapa itu?”

Tambah pucat wajah Yang Cu-kang, teriaknya, “Apa…apakah benar kau…” belum habis ucapannya, “blang”, ia terjang jendela yang lain hingga terpentang dan menerobos keluar secepat anak panah, di luar dia membentak pula, “Hwe sing-diong (kutu gema suara), selama ini aku tidak bermusuhan dengan kau, jangan kalian coba-coba mengganggu diriku, ketahuilah akupun bukan orang yang mudah direcoki.”

Bicara sampai kata terakhir itu, suaranya sudah berada berpuluh tombak jauhnya, lalu tidak terdengar apa-apa lagi.

Kedua kakak beradik itu sama melengak, Lui-ji terkejut dan juga bergirang, sungguh tak tersangka olehnya Hwe-sing-diong bisa datang menolong untuk menolong mereka dan dapat membuat pemuda yang misterius itu kabur ketakutan. Dengan penuh rasa kagum dan ingin tahu ia pandang keluar jendela dengan terbelalak, diam-diam ia berharap orang maha sakti itu sudi memperlihatkan wajahnya.

“Blang”, mendadak daun jendela yang sebelah sini juga di dobrak orang, seorang benar-benar menerjang ke dalam rumah.

Ke empat orang yang berada di dalam sama terkejut setelah tahu siapa orang yang menerjang tiba ini, sebab orang ini bukan lain daripada Ji Pwe-giok adanya.

Melihat kedua nona kakak beradik itu, wajah Pwe-giok juga memperlihatkan kejut dan heran, cepat ia membuka Hiat-to Lui ji yang tertutuk, lalu berkata dengan suara tertahan, “Lekas buka Hiat-to mereka, lalu ikut pergi bersamaku.”

Lui-ji tidak bicara lain, tapi bertanya lebih dulu, “Kau kenal mereka?”

Dalam pada itu Pwe-giok sudah angkat si baju hijau dan menerjang keluar rumah.

Sambil menggigit bibir Lui-ji jadi termenung memandangi kedua nona kakak beradik itu.

Didengarnya Pwe-giok lagi mendesak di luar “Lekas, cepat! Bisa jadi sebentar Yang Cu-kang akan kembali ke sini, akan kutunggu kalian di lumbung padi sana!”

Biji mata Lui-ji mengerling, lebih dulu ia jemput baju yang terlempar di lantai dan ditaruh di atas butuh kedua kakak beradik itu, lalu ia membuka Hiat-to bisu mereka, seperti tertawa tapi bukan tertawa ia melototi mereka, katanya, “Setelah kalian berpakaian dengan rapi baru boleh keluar, aku tidak suka suamiku melihat perempuan telanjang, tahu?”

Kedua kakak beradik itu seperti melenggong si taci tidak bicara, tapi si adik lantas bertanya “Suamimu?”

Lui-ji meliriknya sekejap, katanya, “Memangnya kalian kenal suamiku?”

Sang Taci mengangguk, sedangkan si adik berkata pula, “Kami memang kenal Ji-kongcu, tapi tidak tahu dia adalah suamimu?”

Mata Lui-ji melotot lebih besar, ucapnya, “Ji-kongcu ialah suamiku, suamiku ialah Ji-kongcu. masa kalian belum lagi paham?”

“Oo, apa betul?” jengek si adik. “Wah, jika begitu harus kuucapkan selamat padamu. Tadinya kukira kau adalah puterinya.”

Sampai hijau muka Lui-ji saking gusarnya, ucapnya, “Hm, sekali pandang saja segera ku tahu kau bermaksud tidak baik padanya. Tapi ingin ku peringatkan padamu, jika kau coba menggoda suamiku, tentu akan kucabut nyawamu!”

—–

Lumbung padi itu tidak lembab, tapi sangat suram, sekeliling penuh tertimbun padi, hanya pada suatu sudut gudang itu saja tempat luang, waktu Pwe-giok membawa si baju hijau ke situ, Hiat-to orang itu juga telah dibukanya.

Sambil melototi Pwe-giok si baju hijau berucap, “Dengan menyerempet bahaya besar Anda menyusul kemari untuk menolong kami, tentunya hubunganmu dengan mereka kakak beradik cukup akrab bukan?”

Pwe-giok termenung sejenak, ucapnya kemudian dengan perlahan, “Meski hubunganku dengan mereka cukup baik, tapi tidak sampai mesti menjual ayah-bunda sendiri demi membela mereka.”

Tubuh si baju hijau bergetar hebat, ia menyurut mundur dua-tiga tindak, ucapnya dengan parau, “Ap…apa katamu? Aku tidak paham!”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Tong Giok, Tong-ji-kongcu, sudah begini, apakah kau masih ingin mengelabuhi diriku?”

Si baju hijau mengepal tinjunya kencang-kencang sekujur badan bergemetaran.

Pwe-giok berucap pula dengan gegetun, “Semula sukar bagiku untuk menerka siapa dirimu, sebab apapun juga tak terpikir olehku bahwa Tong-jikongcu dapat mengkhianati ayahnya sendiri, menjual keluarga sendiri, Tapi setelah melihat kedua kakak beradik Kim-hoa-hio barulah ku paham duduk perkaranya, Lantaran ayahmu tidak menyetujui perkawinanmu dengan Kim-hoa-nio, maka kau tidak sayang melakukan perbuatan kotor ini.”

Mendadak suaranya berubah bengis, sambungnya, “Rupanya syaratmu bagi perbuatanmu yang terkutuk ini adalah setelah Tong Bu-siang gadungan itu pulang ke Tong-keh-ceng, lalu mengumumkan persetujuannya akan perkawinanmu. Tapi apakah pernah kau pikirkan bahwa perbuatanmu ini bukan saja berdosa pada ayahmu bahkan juga berdosa kepada leluhur keluarga Tong kalian yang telah bersejarah ratusan tahun?”

Tong Giok menyurut mundur selangkah demi selangkah, sampai di kaki dinding, ia mendadak berteriak dengan suara parau, “Ayahku toh sudah mati, aku tidak membunuhnya. Perbuatanku ini kan sama seperti membuat beliau yang sudah mati itu hidup kembali, dan semua saudaraku tidak perlu lagi berduka, sebab itulah aku merasa tidak berbuat salah dan tidak berdosa.”

Dengan gusar Pwe-giok berkata. “Apakah benar-benar kau suka seorang yang tidak kau kenal menjadi ayahmu, menjadi ayah saudara-saudaramu? Benarkah kau suka saudara-saudaramu diperbudak orang yang semestinya tiada sangkut-pautnya dengan keluarga Tong kalian? Apakah tidak kau sadari setelah dia menjadi ketua keluarga Tong kalian, lalu nama baik keluarga Tong yang termasyhur selama beratus tahun itu akan hancur dengan begitu saja?”

Tubuh si baju hijau alias Tong Giok tampaknya mulai lunglai, dia mendekap mukanya dan berkata dengan suara gemetar, “Tapi tahukah kau, apabila aku tidak bertemu dia (maksudnya Kim-hoa-nio), betapa tersiksa batinku? Biarpun aku harus masuk neraka dan takkan menitis selamanya akupun ingin bersama dia.”

Ia berhenti sejenak, mendadak ia melototi Pwe-giok dan menyambung pula, “Apakah kau tahu betapa besar dan betapa kuatnya “cinta”? Tahukah kau tidak sedikit orang yang berada di dunia ini hanya hidup demi cinta dan berapa banyak pula orang mati akibat cinta?”

Setelah tersenyum pedih, lalu lanjutnya lagi, “Dengan sendirinya kau tidak tahu, sebab pada hakekatnya kau tidak pernah jatuh cinta benar-benar kepada seseorang, hakekatnya kau belum tahu bagaimana rasanya cinta!”

Wajah Pwe-giok tanpa terasa menampilkan perasaan berduka, ucapnya sambil menyengir, “Kau kira aku tidak pernah mencintai seseorang? Kau kira aku tidak paham artinya cinta?”

“Jika kau paham, tentu kau tidak…tidak mencela perbuatanku ini.” kata Tong Giok.

“Kesulitanmu mungkin aku lebih paham dari siapapun juga,” ujar Pwe-giok dengan gegetun. “Sebab itulah, sekalipun kau minggat bersama Kim-hoa-nio pasti takkan kusalahkan dirimu, tapi perbuatan inilah yang tidak pantas kau lakukan, perbuatan mengkhianati ayah sendiri dan keluarga sendiri, perbuatan yang terkutuk.”

Tong Giok tersenyum pedih, tukasnya, “Minggat? Kau kira minggat adalah perbuatan yang sangat mudah?”

“Apabila benar cinta kalian sedemikian mendalam, mengapa kalian tidak dapat meninggalkan kehidupan ramai ini dan mengasingkan diri ke satu tempat yang jauh dan sunyi sana agar dapat hidup dengan tenteram selamanya. Apakah kalian masih kemaruk kepada dunia fana ini, masih sayang meninggalkan kenikmatan hidup mewah ini? Jika sedikit pengorbanan ini saja tidak sanggup kalian lakukan, hakekatnya kalian tidak sesuai untuk bicara tentang cinta segala.”

“Jika orang lain, dengan sendirinya boleh berbuat seperti uraianmu itu, tapi kami…”

“Kalian kenapa?” Pwe-giok menegas.

“Tahukan kau hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap putera-puteri keluarga Tong yang minggat bersama kekasihnya? Sekalipun kami kabur ke ujung langit juga mereka akan dapat menemukan kami dan menawan kami kembali, apalagi betapa kejinya Thian can kaucu juga sudah lama diketahui.”

“Setahuku, Thian can kaucu tidak pernah anti perkawinan kalian,” kata Pwe-giok.

“Dia tidak anti, sebab dia tahu perjodohan kami pasti akan gagal,” tutur Tong Giok, “sebab itulah syarat yang dikemukakannya adalah aku harus melamar secara resmi dan kawin dengan sah. Kalau tidak, dia melarang Kim-hoa-nio bertemu denganku.”

“Tapi kalian kan tetap dapat minggat?” ujar Pwe-giok.

“Betul, kami dapat minggat, mungkin juga kami dapat lolos dari pengejaran keluarga Tong, tapi jangan harap akan dapat lolos dari kekejian Thian-can-kau,” kata Tong Giok, lalu ia menyambung dengan sekata demi sekata, “Sebab kalau Kim-hoa mengkhianati Thian-can-kau, dalam waktu tujuh bulan seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati.”

“Sebab apa bisa begitu?” tanya Pwe-giok.

“Sebab dia sudah diberi racun ulat langit oleh Thian-can-kaucu yang tidak mungkin tertolong lagi,” tutur Tong Giok.

Mau tak mau Pwe-giok menghela napas menyesal, katanya pelahan, “Lantaran itulah, demi kepentinganmu sendiri tidak sayang kau korbankan orang lain…”

“Sama sekali aku bukan manusia yang berhati binatang begitu,” kata Tong Giok. “Apa yang kulakukan juga sudah kuperhitungkan dengan baik.”

“Apa perhitunganmu?” tanya Pwe-giok.

“Aku dapat membantu usaha mereka hingga berhasil, tapi akupun dapat menghancurkan usaha mereka,” ujar Tong Giok. “Hanya aku saja yang dapat membongkar intrik mereka, pada suatu hari tentu dapat kubongkar tipu muslihat mereka itu.”

“Pada suatu hari? Memangnya akan kautunggu sampai kapan?” tanya Pwe-giok.

“Dengan sendirinya menunggu sampai perkawinan kami sudah terlaksana.”

“Tapi pernahkah kau pikirkan, sebelum intrik mereka kaubongkar, apa yang dapat dilakukannya?”

“Hal ini…ini…” Tong Giok menjadi gelagapan.

“Banyak yang dapat dilakukannya,” sambung Pwe-giok. “Bukan saja dia dapat membongkar seluruh rahasia pembuatan am-gi (senjata gelap atau rahasia) keluarga Tong kalian, bahkan dia dapat memperalat setiap anak murid keluarga Tong untuk berbuat apa saja baginya, dapat disuruhnya membunuh banyak orang yang akan mati secara mengerikan, bahkan termasuk saudaramu dan sanak keluargamu, jadi sebelum kau sempat membongkar rahasianya, lebih dahulu dia sudah menghancurkan segenap keluargamu.”

Lalu sekata demi sekata Pwe-giok menegaskan lagi, “Apalagi pada hakekatnya kaupun takkan sempat hidup sedemikian lama.”

Tong Giok berdiri terpaku, tiba-tiba air matanya berderai, ia bergumam, “Jadi salahkah aku ini? Apakah aku benar-benar salah?” “Sampai sekarang, apakah kau belum lagi mau mengaku salah?” tanya Pwe-giok.

“Tempo hari, ayahku menyuruh kita bertukar pakaian, bahkan menyuruh kau memakai topengku, meski resminya untuk mengelabui mata-telinga para pekerja i bengkel senjata rahasia itu, padahal diam-diam ayahku menyuruh aku dan toako secara terpencar pergi mencari pimpinan kalian, yaitu Bu-lim-bengcu Ji Hong-ho…”

“Urusan ini sudah kuketahui,” kata Pwe-giok.

Tugas demikian dengan sendirinya beliau tidak dapat mempercayai orang lain, betapapun aku adalah putranya, selamanya juga sangat penurut, tapi sebelum ku berangkat beliau wanti-wanti memperingatkan diriku agar segera pulang ke rumah bila tugas sudah selesai, aku dilarang bertemu dengan Kim-hoa, kalau melanggar, aku akan dihukum menurut tata tertib rumah tangga.”

“Dan kau tidak menurut pada perintahnya, bukan?” kata Pwe-giok.

“Jika aku tidak dipikat orang lain, betapapun aku tidak berani membangkang,” jawab Tong Giok dengan muram. “Tapi ketika kutemui Ji Hong-ho, dia malah memberitahukan padaku bahwa ayah dan Toakoku telah meninggal semua. Katanya, bila berita ini tersiar, bukan saja

Tong-keh-ceng akan segera kacau balau, bahkan dunia persilatan juga akan mengalami pergolakan hebat, demi kepentingan umum, terpaksa dia akan mencari satu orang untuk menyamar sebagai ayahku, lebih dulu menjaga ketenangan dan perkara lain boleh diatur belakangan?”

“Sebab itulah kau lantas percaya pada ucapnya, begitu?”

“Meski apa yang dikatakannya itu kurasakan agak janggal, tapi dia menegaskan lagi bahwa tindakannya itu lebih banyak untungnya dan tiada ruginya, terutama terhadap diriku akan besar manfaatnya.”

“Ya, tampaknya dia tidak hanya menyetujui perkawinanmu dengan Kim-hoa-nio, mungkin dia juga menyanggupi akan mengangkat kau sebagai pimpinan Tong-keh-ceng.”

Tong Giok menunduk, katanya dengan menyesal, “Lantaran salah pikir, seketika itu kuterima semua kehendaknya. Tapi kemudian dapat juga kupikirkan, bilamana rahasianya ketahuan, mungkin akupun akan dibunuhnya untuk membungkam mulutku.”

“Terkadang kau ternyata juga seorang yang sangat prihatin dan hati-hati,” ujar Pwe-giok dengan gegetun. “Tapi lebih sering kau terlalu ceroboh. Mungkin inilah yang disebut…” mendadak ia berhenti, kata “keblinger” urung diucapkannya, sebab tiba-tiba iapun merasakan anak muda ini juga pantas dikasihani, ia tidak tega lagi melukai hatinya.

Tong Giok lantas bercerita pula, “Selama ini aku dan Kim-hoa ada hubungan secara rahasia, sebab itulah setelah janji pertemuanku dengan Ji Hong-ho yang diadakan di Bong-hoa-lau itu selesai diam-diam kuminta agar Kim-hoa datang kemari untuk memapak dan membantuku bila perlu.”

“Langkahmu ini ternyata tidak keliru?” kata Pwe-giok.

“Tapi aku sudah salah berbuat langkah yang paling penting,” ujar Tong Giok dengan muram, “Kata orang, kehidupan manusia ini laksana main catur. Hidupku ini sudah melakukan suatu kesalahan yang tidak dapat ditarik kembali lagi, aku merasa malu untuk…”

Belum habis ucapannya, mendadak Kim-hoa menerjang masuk dan mendekap di atas tubuhnya, serunya sambil menangis, “Kau tidak salah, yang salah ialah diriku, akulah…akulah yang membikin susah padamu!”

Pwe-giok memandangi mereka, memandangi dua sejoli yang saling cinta dengan teguh, meski dalam lingkungan seburuk ini, namun cinta mereka tidak tergoyahkan sedikitpun.

Seketika Pwe-giok juga tidak tahu bagaimana perasaannya, ia tidak tahu apabila dirinya yang menghadapi keadaan seperti mereka itu, apakah dia juga akan dapat tahan uji seperti mereka?

Meski ia merasa apa yang diperbuat mereka itu pantas disesali, tapi nasib mereka juga pantas mendapat simpati, bahkan keteguhan cinta mereka pantas dikagumi.

Perlahan Lui-ji juga sudah mendekati Pwe-giok, tanyanya dengan pelan, “Tulisanku di bawah kereta itu dapat kau baca?”

Pwe-giok mengiakan. Sebenarnya ia bermaksud menegur si nona agar selanjutnya tidak boleh sembrono dan bertindak gegabah, tapi kini setelah berhadapan, satu kata saja sukar untuk diucapkan.

Dilihatnya Lui-ji menunduk sambil memainkan ujung bajunya, seperti sedang menunggu dampratan dan seperti juga sedang menanti dipuji.

Terpaksa Pwe-giok berkata dengan suara halus, “Kalau tidak membaca tulisanmu itu, mana bisa kususul ke sini?”

Lui-ji tersenyum, katanya, “Kira-kira kapan kau sampai di sini? Apakah kau melihat Hwe-sing-diong yang suka menirukan perkataan orang itu?”

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Siapa Hwe-sing-diong itu, sama sekali tidak kulihat seorangpun.”

Berputar biji mata Lui-ji, tiba-tiba ia mendesis pelan, “Jangan-jangan memang tidak ada Hwe-sing-diong segala, tapi kau yang telah menggertak lari Yang Cu-kang?”

Dengan tersenyum Pwe-giok mengangguk, lalu mendesis pula, “Makanya ku kuatir Yang Cu-kang akan segera kembali lagi ke sini.”

“Jangan kuatir,” ujar Lui-ji dengan tertawa, “dia mengira Hwe-sing-diong diam-diam telah mengintil di belakangnya, tentu dia tak berani lagi bersuara. Apabila nanti dia tahu tertipu dan memburu kembali ke sini, tentu kitapun sudah pergi jauh.”

Si adik dari kedua nona itu ialah Thi-hoa-nio, dia berdiri jauh di sebelah sana dan sedang melirik Lui-ji, melihat nona cilik ini bicara bisik-bisik dengan Pwe-giok dan tertawa ringan, betapapun hati Thi-hoa-nio merasa panas, sambil menggigit bibir ia melengos ke sana.

Tiba-tiba ia merasa kehadirannya di situ hanya berlebihan, tidak ada orang memperhatikannya dan juga tidak ada orang menggubrisnya.

Walaupun suara tangisan Kim-hoa-nio dan Tong Giok cukup membuatnya berduka, tapi suara tertawa Lui-ji dan Pwe-giok membuat hatinya lebih pedih dan ia ingin segera mati saja dan bereslah segalanya.

Di luar dugaan, mendadak terdengar Pwe-giok menyapanya, “Nona Thi-hoa, beberapa bulan ini tidak bertemu, tampaknya kau agak kurus sedikit.”

Mendingan tidak ditegur, kata Pwe-giok ini malah menambah pedih hatinya, tak tertahan lagi air mata Thi-hoa-nio berlinang-linang. Pikirnya dengan mendongkol, “Jika kau tahu aku tambah kurus ini lantaran siapa. Bila kau masih juga memperhatikan diriku, mengapa kau menikah dengan orang lain?”

Sungguh ia ingin menubruk ke dalam pangkuan Pwe-giok dan menangis sepuas-puasnya, ingin pula ia menggigit muka Pwe-giok, ingin dicicipinya darah anak muda itu sesungguhnya dingin atau panas? Seketika tidak keruan perasaannya dan entah apa yang harus diucapkannya, siapa tahu Pwe-giok tidak menunggu jawabannya, juga tidak mendekatinya, sebaliknya malah melangkah ke sebelah Tong Giok sana, perkataannya tadi seolah-olah hanya tegur sapa dengan kenalan di tengah jalan saja.

Seketika darah Thi-hoa-nio terasa dingin sampai di bawah derajat nol. Buah hatinya rasanya juga seperti hilang dirogoh orang, urusan apapun tak dirasakan lagi.

Pwe-giok seperti tidak paham betapa besar perubahan perasaan seorang gadis pada waktu sekejap itu, hakekatnya ia tidak memperhatikan Thi-hoa-nio, ia lantas membuka Hiat-to Tong Gok dan berkata dengan menyesal, “Akupun tidak menyalahkan engkau, hanya saja kau harus mempunyai perhitungan sendiri.”

Tong Giok terdiam sejenak, mendadak ia seperti mengambil sesuatu keputusan yang pasti, ia berbangkit dan berdiri tegak, ucapnya, “Aku pergi bersamamu!”

“Pergi ke mana?” tanya Pwe-giok.

“Puang ke Tong-keh-ceng dan membongkar rahasia mereka,” ucap Tong Giok tegas.

“Tepat, beginilah baru perbuatan seorang lelaki sejati,” puji Pwe-giok dengan tersenyum cerah. “Asalkan ada tekadmu, di dunia ini tidak ada urusan sulit yang tidak dapat diatasi, lebih-lebih tidak ada urusan yang tidak dapat diselesaikan.”

Lui-ji juga bergembira, pemberontakan perjuangan Ji Pwe-giok tampaknya sampai di sini baru mulai kelihatan ada hasilnya, baru sekarang mendung gelap mulai kelihatan setitik sinar terang. Kecuali Thi-hoa-nio, semangat setiap orang sama terbangkit.

Tong Giok membersihkan hangus yang mengotori mukanya, dia seperti sudah bertekad takkan main menyamar dan memalsu secara sembunyi-sembunyi lagi, dia ingin menjadi manusia tulen menurut wajah aslinya.

Termangu-mangu Kim-hoa-nio memandangi kekasihnya itu dengan butiran air mata masih berada di kelopak matanya, namun juga kelihatan juga rasa puasnya, perasaan terhibur. Maklumlah, tidak ada seorang perempuan yang tidak mengharapkan kekasihnya sendiri adalah seorang lelaki sejati.

“Waktu kita yang terbuang sudah cukup lama, marilah kita lekas berangkat saja,” kata Lui-ji dengan tertawa.

“Betul, ada persoalan apa boleh kita bicarakan lagi dalam perjalanan,” tukas Pwe-giok.

Tak terduga, mendadak di lumbung padi itu seorang lantas menirukan suaranya, “Betul, ada persoalan apa boleh kita bicarakan lagi dalam perjalanan.”

Seketika semua orang sama berubah pucat.

Meski merekapun tahu pembicara itu pasti bukan Hwe-sing-diong yang tulen, tapi dalam pandangan mereka Yang Cu-kang dan Hwe-sing-diong sama menakutkannya.

Dengan muka pucat lui-ji lantas berteriak, “Yang Cu-kang, tidak perlu kau main sembunyi dan berlagak seperti setan iblis, ku tahu kau telah kembali.”

Kim-hoa-nio menggenggam Tong Giok erat-erat, iapun menjengek, “Hm, tadi kau telah lari terbirit-birit seperti anjing mencawat ekor, masa kau masih punya muka untuk kembali ke sini?”

Pwe-giok juga lantas berteriak, “Yang Cu-kang, jika kau sudah kembali lagi ke sini, masuklah kemari!”

Kalau Lui-ji bicara dengan Pwe-giok, di luar tidak ada gema suara sedikitpun, tapi baru habis ucapan Pwe-giok itu, seketika di luar ada gema suara yang serupa, “Yang cu-kang, jika kau sudah kembali ke sini, masuklah kemari!”

Dengan gregetan lui-ji berteriak pula, “Yang Cu-kang, orang lain takut padamu, namun Ji Pwe-giok tidak pernah jeri padamu, kalau berani ayolah masuk ke sini!”

Dengan sinar mata gemerdep kim-hoa-nio menambahkan, “Dan kalau kau tidak berani masuk kemari berarti kau bukan manusia!”

Biar orang lain berteriak dan mencaci maki apapun juga, orang di luar itu tetap tidak memberi sesuatu reaksi, tapi bila Pwe-giok membuka mulut, segera menggema suara yang sama di luar.

mereka saling memberi isyarat, lalu serentak mereka menerjang keluar.

Di luar, cahaya sang surya gilang gemilang menerangi bumi raya ini, anjing itu masih meringkuk kantuk di pojok rumah, langit cerah kebiruan, hanya segumpal awan mengapung jauh di udara sana, tapi sekeliling situ tiada kelihatan bayangan seorangpun.

Dengan suara bengis Pwe-giok lantas berteriak, “Jika kau merasa telah ku permainkan, mengapa sekarang tidak berhadapan denganku untuk bertempur?”

Kontan gema suara itupun berbunyi, “Jika kau merasa telah ku permainkan, mengapa tidak berhadapan denganku untuk bertempur?”

Sekali ini gema suara itu berkumandang dari lumbung padi sana tapi ketika mereka menerjang ke dalam lumbung, tetap tiada bayangan apapun yang ditemukan.

Lui-ji mendapat akal, ia mendesis kepada Pwe-giok. “Kau tinggal saja di sini, biar kami berempat berjaga di luar.”

Pwe-giok mengangguk. Setelah mereka keluar semua, segera ia berteriak, “yang Cu-kang, ayolah perlihatkan dirimu?”

Benarlah, suara itu bergema pula di luar lumbung, “Yang Cu-kang, ayolah perlihatkan dirimu!”

Gema suara itu kedengaran berkumandang dari sebelah timur lumbung, segera Pwe-giok melayang keluar sana, dilihatnya Lui-ji, Tong Giok dan Kim-hoa-nio kakak beradik berjalan di empat penjuru. Yang berjaga di sebelah timur ialah Tong Giok, saat itu dia kelihatan bingung dan cemas.

Segera Lui-ji dan lain-lain ikut berkerumun ke sebelah sini.

“Kau dengar gema suara itu berkumandang dari sebelah sini?” tanya Lui-ji.

Pwe-giok mengangguk.

Segera Kim-hoa-nio memegang lagi tangan Tong Giok dan tanya padanya, “Apakah tidak ada yang kau lihat?”

Dengan muka pucat dan suara parau Tong Giok menjawab, “Kudengar suara itu timbul dari belakang, ketika ku putar tubuh, suara itu tetap bergema di belakangku, seperti kitiran aku berputar beberapa kali, suara itu lantas lenyap, tapi orangnya lantas menghilang juga.”

“Sekali ini kita berdiri dengan mengadu punggung, coba cara bagaimana dia akan mengelabui kita,” ujar Kim-hoa-nio.

“Kalau kalian berdiri di sini, masa dia tak dapat pergi ke sebelah sana?” kata Lui-ji.

Semua orang saling pandang dengan melongo.

Selang sejenak, tiba-tiba Lui-ji berkata pula, “Kukira orang ini mungkin bukan Yang Cu-kang.”

“Apa dasarnya?” tanya Tong Giok.

“Kalau Yang Cu-kang sudah tahu kau akan membongkar rahasia mereka, tentu kau takkan diberi kesempatan pulang dengan hidup, tapi orang tadi kan tidak bertindak apa-apa terhadap dirimu.”

Tong giok menarik napas dingin, ucapnya, “Habis siapa dia kalau bukan Yang Cu-kang?”

“Kalau bukan Yang Cu-kang, dengan sendirinya ialah Hwe-sing-diong tulen …” ucapannya ini tidak saja membuat orang lain terkesiap, malahan Lui-ji sendiri juga terkejut dan tanpa terasa menyurut mundur ke samping Pwe-giok.

Sudah cukup lama Pwe-giok membungkam, kini mendadak ia berkata, “Apapun juga, rencana kita tetap tidak berubah. Tak perduli siapa dia, karena dia tidak berani berhadapan denganku, maka akupun tidak perlu takut padanya. Biarkan dia menirukan suaraku, hakekatnya tidak kupikirkan hal ini.”

Meski demikian ucapan Pwe-giok, tapi dalam batin seolah-olah tertindih oleh sepotong batu raksasa. Meski dia tidak buka suara dan semuanya akan berlangsung dengan tenang tanpa terjadi apa-apa. tapi setiap orang tahu ada seorang yang misterius dan maha sakti serta menakutkan senantiasa mengikuti jejak mereka secara diam-diam, dimana dan kapan saja, asalkan Pwe-giok bersuara, segera gema suara itu akan berkumandang pula.

Beban moril atau tekanan batin ini sungguh sangat berat dan dapat membikin orang menjadi gila.

Petangnya, sampailah mereka di suatu kota yang cukup ramai, mereka mondok pada satu hotel yang banyak tamunya, makan di restoran pada saat ramai dikunjungi tamu lain.

Pwe-giok memandang sekelilingnya, terlihat semua meja sudah penuh tamu, dengan sendirinya ia tidak menemukan Yang cu-kang. Tapi bagaimana dengan Hwe-sing-diong? Jangan-jangan Hwe-sing-diong itu termasuk di antara tetamu ini.

Mendadak Pwe-giok berteriak, “Wahai, dengarkan! Sekarang aku bicara lagi, ayolah silahkan kaupun bersuara!”

Suaranya keras dan lantang, keruan membikin kaget setiap tamu yang sedang makan itu, semuanya sama menoleh dan memandangnya dengan melongo heran, malahan ada yang menyangka dia sebagai orang sinting.

Tapi Pwe-giok dan lain-lain juga memandangi setiap orang dengan melotot, sebab mereka juga ingin tahu sekarang gema suara itu akan berkumandang dari mana?

Tak tahunya, sampai sekian lama, tetap tiada sesuatu gema apapun. Semua tamu masih memandangi mereka dengan heran dan mengira mereka rombongan orang gila.

Sesungguhnya sikap dan gerak-gerik Pwe-giok dan kawan-kawannya memang serupa orang sinting, mereka diliputi rasa heran, cemas, tapi akhirnya menjadi girang dan sama bergelak tertawa.

Dengan sendirinya tetamu lain tak dapat menerka hal apa yang membuat mereka tertawa gembira begitu.

Saking senangnya, hampir-hampir saja Lui-ji berjingkrak dan berteriak-teriak. Sebisanya ia tahan suaranya dan berkata, “Hwe-sing-diong sudah pergi, kalian dengar tidak?”

“Ya, betul, kami dengar,” jawab Kim-hoa-nio dan Tong giok serentak.

Tetamu lain tentu saja bertambah heran, sudah jelas mereka tidak mendengar apa-apa, mengapa justeru bilang dengar? Apa namanya kalau bukan orang gila?

“Jika demikian, agaknya memang betul Hwe-sing-diong yang tulen.” ujar Lui-ji dengan tertawa. “Sebab kalau dia Yang Cu-kang, tentu dia takkan pergi.”

Agaknya Pwe-giok masih was-was, ia coba berkata pula, “Jika dia sudah merecoki diriku, kenapa mendadak pergi?”

Meski dia sengaja bicara dengan suara keras, namun tetap tiada gema suara apapun.

Lui-ji juga sengaja menunggu sejenak, setelah keadaan tetap tenang, dengan tertawa barulah ia berkata, “Bisa jadi dia tidak ingin mencari perkara padamu, cuma lantaran kau pernah memalsukan suaranya untuk menggertak Yang Cu-kang, maka dia sengaja menggoda dirimu supaya kau kapok.”

“Betul,” tukas Kim-hoa-nio dengan tertawa cerah, “mungkin sekarang dia merasa sudah cukup menggoda dirimu, maka malas bermain-main lagi denganmu.”

Dengan sendirinya makan malam mereka ini berlangsung dengan sangat meriah. Tapi Pwe-giok tetap jarang bicara, hal ini bukannya dia kuatir akan direcoki Hwe-sing-diong lagi, tapi lantaran terlalu sedikit kesempatan bicara baginya.

Bayangkan, kalau tiga perempuan bersama satu meja, mana ada kesempatan bicara bagi kaum lelaki.

Yang paling pendiam diantara ketiga perempuan itu ialah Thi-hoa-nio, terus menerus dia memandang Lui-ji dan Pwe-giok, seakan-akan ingin tahu apakah mereka benar-benar telah kawin.

Dan ketika mereka habis makan, dapatlah Thi-hoa-nio menarik kesimpulan tentang hal tersebut.

Pwe-giok ternyata minta disediakan lima buah kamar, dia berkata, “Hari ini kita harus istirahat sebaik-baiknya supaya besok kita dapat menempuh perjalanan dengan bersemangat, begitu juga supaya dapat bekerja dengan penuh bergairah.

Tiba-tiba ia tertawa terhadap Kim-hoa-nio dan Tong giok, lalu berkata pula, “Hanya kamar kalian saja yang berdempetan, malahan ada pintu tembusnya. Meski lima buah kamar yang ku pesan, tapi aku cukup tahu akan kebutuhan keadaan.”

Kim-hoa-nio melirik Tong Giok sekejap wajah kedua orang menjadi merah. Betapapun mereka belum menikah secara resmi. Maka Kim-hoa-nio lantas berkata, “Malam ini kita harus istirahat sebaik-baiknya, pintu tembus itu pasti takkan terpakai.”

Mendingan dia tidak bicara, begitu dia omong maka serentak tertawalah semua orang, sampai-sampai Tong Giok juga tidak tahan dan ikut tertawa.

Keruan muka Kim-hoa-nio tambah merah, omelnya, “Jangan kau senang, sebentar akan ku kunci pintu tembus itu, coba kau akan senang lagi atau tidak?”

Sehabis bicara, ia sendiripun tertawa dan berlari masuk ke kamarnya sendiri. Meski sekarang mereka masih dalam kesulitan, tapi pada saat yang paling kritis, paling berbahaya kini sudah terlalui, maka hati semua orang dapat bergembira.

Yang paling gembira sekarang tampaknya ialah Thi-hoa-nio.

Tiba-tiba ia tertawa terhadap Lui-ji dan berkata, “Taciku dan Cihuku (suami taci) belum menikah, makanya mereka masih harus tidur terpisah. Tapi kalian kan sudah menikah, mengapa kalian tidak tinggal bersama di dalam satu kamar?”

Setelah melihat Pwe-giok masuk ke kamarnya dan pintu lantas ditutup, hati Lui-ji memang lagi tidak enak, sekarang ditanya Thi-hoa-nio, seketika ia bersungut dan menjawab dengan marah, “Urusan kami suami-isteri, perlu apa kau ikut pikirkan?”

Habis berkata ia terus berlari ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.

Thi-hoa-nio memandang pintu kamar Pwe-giok, lalu memandang pula cahaya bulan di langit, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berucap dengan hampa, “Malam ini sungguh masih sangat panjang, mungkin agak terlalu panjang …”

—–

Kamar Kim-hoa-nio memang benar ada dua pintu, sebuah pintu keluar yang menembus ke serambi, pintu yang lain dengan sendirinya pintu tembus ke kamarnya Tong Giok.

Tanpa membuka sepatu Kim-hoa-nio terus melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, dia berguling kian kemari, seperti ingin cepat-cepat tidur, tapi kedua matanya justru terpentang lebar-lebar dan memandangi pintu tembus itu.

Sungguh sangat mengecewakan, dibalik pintu itu ternyata tiada setitik suara apapun.

Apakah Tong Giok sudah tidur? Apakah dia dapat pulas?

Dengan menggigit bibir, tiba-tiba Kim-hoa-nio merangkak bangun, dengan berjinjit-jinjit ia mendekati pintu tembus itu, ia melangkah dengan berjengket-jengket, persis seperti maling takut kepergok.

Padahal di dalam kamar kecuali dia sendiri seekor lalat saja tidak ada.

Kim-hoa-nio pun merasa geli sendiri. Ia termangu-mangu sejenak sambil menggigit bibir, lalu menjulurkan tangan dan bermaksud mengetuk pintu, tapi tangan yang baru terjulur itu segera ditarik kembali.

Sejauh itu di balik pintu sana masih tetap tiada terdengar gerak-gerik apapun.

Diam-diam Kim-hoa-nio merasa mendongkol, pikirnya, “Sialan! Kau tidak mau kemari, memangnya aku yang harus ke situ? Aku justru tidak mau mencarimu lebih dulu, ingin kulihat apa abamu?”

Sembari menggerundel, segera ia mendekat tempat tidur dan menjatuhkan dirinya lagi ke atas kasur.

Sekali ini dia bukan cuma membuka sepatu, bahkan juga melepaskan kaos kaki. Dipandangnya kaki sendiri yang putih halus itu, entah mengapa, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Pantas juga hotel ini selalu penuh tetamu, servis mereka sangat memuaskan, setiap kamar teratur dengan resik dan apik, setiap hari seprai dan selimut selalu diganti, malahan seluruh kamar berbau harum.

Di dalam kamar yang berbau harum, di atas tempat tidur yang empuk, terdengar pula suara nyanyian merdu sayup-sayup dari kejauhan, lagu yang berirama sendu yang mengenang kekasih.

Busyet! Dalam suasana demikian mana dia dapat pulas?

Perlahan Kim-hoa-nio meraba kakinya yang mulus itu, sebenarnya kakinya sudah pegal karena berjalan sejauh ini, tapi ketika ia meraba kulit kaki yang halus itu, rasanya seperti… seperti mau…

Ia pun tidak dapat menjelaskan apa yang dirasakannya itu, yang pasti mukanya bertambah merah.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar pintu berbunyi perlahan, seperti ada orang mengetuk pintu.

Tanpa disuruh lagi Kim-hoa-nio terus melompat turun, sampai sepatu juga tidak sempat dipakainya, dengan kaki telanjang ia mendekat kesana dan hendak membuka pintu. Tapi tangan yang baru terjulur segera mengkeret lagi.

Dengan menggigit bibir ia berkata dengan tertawa ngikik, “Ku tahu kau pasti tidak tahan. Padahal hari-hari selanjutnya masih sangat panjang, untuk apa kita mesti terburu-buru begini? Masa barang resmi kita jadikan barang gelap?”

Tapi di balik pintu sana tiada suara apa-apa lagi. Apakah Tong Giok menjadi marah dan tidak menggubrisnya?

Dengan suara halus Kim-hoa-nio berkata pula, “Bukan maksudku melarang kau ke sini, tapi telinga mereka sangat tajam, bila terdengar mereka, bukankah akan dijadikan buah tertawaan?”

Padahal sebenarnya ia sendiripun tidak sabar lagi dan ingin cepat-cepat membuka pintu, hanya tadi Tong Giok telah membikin dia menunggu sekian lama, maka sekarang ia juga ingin membiarkan Tong Giok merasakan betapa gelisahnya orang menunggu.

Baginya, cukup Tong Giok memohon satu kali saja dan minta dia buka pintu, bahkan tidak perlu memohon, cukup bersuara saja, atau cukup mengetuk pintu lagi satu kali, maka segera daun pintu akan dibukanya.

Akan tetapi sampai sekian lama, dibalik pintu sana tetap tidak ada suara apapun.

Kim-hoa-nio tidak tahan, ia berkata pula, “He, apakah kau marah?”

Tidak ada jawaban, ia tidak tahan dan berkata lagi “He, orang mampus! Mengapa kau tidak bicara?”

Makin keras suara Kim-hoa-nio, tapi keadaan di balik pintu sana semakin sunyi.

Mendadak ia merasakan gelagat tidak enak, tanpa pikir lagi segera ia membuka pintu dan menerjang ke dalam kamar Tong Giok…

—–

Di kamar lain Thi-hoa-nio juga sedang berbaring di tempat tidurnya dengan mengulum senyum.

Kini rasa kesal, rasa sedihnya sudah lenyap seluruhnya, sebab dilihatnya Ji Pwe-giok tidak tidur sekamar dengan Cu Lui-Ji.

Meski Pwe-giok juga takkan tidur sekamar dengan dia, tapi asalkan anak muda itu tidak tidur dengan orang lain, maka cukup puas baginya, cukup menyenangkan dia.

Ia sendiripun merasakan jalan pikirannya ini sangat aneh, bahkan rada-rada lucu. Ia tidak tahu bahwa jalan pikiran kebanyakan perempuan memang sering aneh dan lucu.

Gerundelan Kim-Hoa-nio di dalam kamarnya itu dapat didengarnya. Maklumlah, hotel ini bukan hotel kelas wahid, segala sesuatunya tentu masih ada kekurangannya, termasuk dindingnya yang tidak terlalu tebal itu.

Didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata, ” … untuk apa terburu-buru…nanti dijadikan buah tertawaan…”

Diam-diam Thi-hoa-nio tertawa geli, pikirnya “Tabiat taci memang aneh, jelas-jelas dia mengharap kedatangan orang, tapi justru pura-pura tidak mau dan membikin orang gelisah”

Ketika didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata, “Eh apakah kau marah ?,,,He, kenapa kau tidak bicara?”

Maka Thi-hoa-nio bertambah gel, diam-diam membatin, “Tak tersangka Tong Giok juga pintar main sandiwara, dengan lagak emoh begini tentu toaci berbalik tidak tahan dan ingin menyeberang ke sana.

Kemudian lantas didengarnya suara pintu dibuka.

Ia tahu sang taci akhirnya tidak tahan dan mendahului masuk ke kamar Tong Giok. Meski dia tertawa geli, tapi muka sendiri juga mulai merah sebab terbayang olehnya …

Nyata terlalu banyak dan terlalu jauh yang dibayangkannya, maka mukanya menjadi merah.

Tapi tak tersangka olehnya bahwa pada saat itu juga mendadak terdengar jeritan Kim-hoa-nio.

Jeritan ngeri dan menakutkan, membuat bulu roma orang berdiri.

Jelas itu bukan jeritan orang bersenda gurau atau teriakan orang asyik masyuk, juga bukan suara “keluhan” yang dibayangkan Thi-hoa-nio tadi. Ia tidak tahan lagi dan segera melonjak bangun dan menerjang ke sana.

—–

Di sebelah sana Cu Lu-ji juga berbaring di tempat tidurnya, tapi dia lagi meneteskan air mata.

Dia memang sangat sedih, hal ini bukan disebabkan Pwe-giok tidak mengajaknya sama satu kamar, tapi lantaran dia memaksa Ji-pwe-giok telah membiarkan dia diolok-olok oleh Thi-hoa-nio.

Bukannya dia ingin benar-benar tidur sekamar dengan Ji-Pwe-giok, cukup asalkan Pwe-giok membolehkan dia masuk ke kamarnya, sekalipun nanti dia harus tidur di lantai yang dingin juga tidak menjadi soal.

Bahkan dia bersedia merangkak keluar lagi melalui jenjela apabila sudah masuk ke kamar, pokoknya asalkan Thi-hoa-nio menyaksikan dia dan Pwe-giok masuk bersama ke kamar, maka puaslah dia.

Dia tidak mendengar suara gerundelan Kim-hoa-nio, tapi suara jeritan Kim-hoa-nio dapat didengarnya. Iapun merasa jeritan itu sangat aneh dan sangat menakutkan, dengan terkejut iapun melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar.

Setiba di luar, dilihatnya pintu kamar Ji Pwe-giok, Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio sama terbuka segera pula didengarnya suara Pwe-giok dan Thi-hoa-nio berkumandang keluar dari kamar Tong-Giok. Menyusul lantas didengarnya suara tangisan Kim-Hoa-nio yang serak dan sangat memilukan.

Apakah yang terjadi di kamar Tong Giok?

Berpikir saja tidak sempat segera Lui-ji menerjang masuk ke sana. Dilihatnya tubuh Tong Giok setengah bersandar di tepi tempat tidur, wajahnya yang tadinya sangat cakap itu kini telah berubah menjadi seram, menyeringai dengan kulit muka berkerut, tapi tidak terdapat noda darah pada tubuhnya, juga tidak ada bekas luka. Hanya kedua tangannya mengepal kencang, otot hijau tampak menonjol di punggung tangannya.

Terlihat pula Kim-hoa-nio terkulai di lantai sambil menangis sesambatan. Thi-hoa-nio berjongkok disampingnya dan perlahan membelai rambut sang taci sembari menghiburnya dengan lirih, namun air mata Thi-hoa-nio sendiri juga bercucuran.

Muka Pwe-giok tampak pucat lesi, kelihatan berduka dan terkejut tapi juga murka. Tangannya juga terkepal kencang sehingga ruas jarinya sampai putih saking kerasnya menggenggam.

Baru saja Lui-ji menerjang ke dalam kamar seketika ia seperti terpaku di situ dan tidak dapat bergerak lagi.

Di halaman hotel juga mulai ada suara orang nyata ada tamu lain yang ikut terjaga bangun dan semuanya ingin tahu apa yang telah terjadi. Akan tetapi tidak ada orang yang benar-benar berani menjenguknya ke sini, sebab pada umumnya orang yang berpergian biasanya berpedoman mementingkan diri sendiri daripada campur urusan orang lain yang mungkin malah akan mendatangkan berbagai kesulitan.

Dalam pada itu Pwe-giok sudah menutup pintu kamar Tong Giok, tangannya tampak gemetar sehingga hampir saja tidak kuat memalang pintu.

Lui-ji mendekati anak muda itu, tanyanya dengan suara tertahan, “Cara bagaimana dia bisa mati?”

Pwe-giok hanya menggeleng saja tanpa menjawab, diangkatnya pelahan mayat Tong giok dan dibaringkan di atas tempat tidur. Nyata, luka lecet saja tidak terdapat di tubuh Tong Giok.

Lalu cara bagaimana kematiannya? Mengapa dia mati?

Pwe-giok termenung sejenak, ia berbalik tanya Lui-ji, “Apakah dia kena racun? Racun apa?”

Lui-ji juga tidak menjawab, ia angkat cangkir teh di atas meja dan menghirupnya seceguk, lalu mengeleng-geleng, cangkir teh dijilatnya pula, lalu menggeleng lagi.

“Tidak beracun?” tanya Pwe-giok.

“Tidak!” jawab Lui-ji.

Gemerdep sinar mata Pwe-giok, tiba-tiba ia bermaksud membuka tangan Tong Giok yang mengepal itu, tapi cepat Lui-ji mencegahnya sambil berkata dengan suara tertahan. “Biarkan aku yang membukanya.”

Begitu erat genggaman Tong Giok, baru saja satu jarinya dipentang oleh Lui-ji, segera darah mengucur keluar, malahan darah ini bersemu hitam.

Lui-ji mementang lagi dua jari Tong Giok, tertampaklah dalam genggamannya terdapat satu biji bunga duri terbuat dari besi, duri yang tajam itu menancap di tengah telapak tangannya.

Lui-ji menghela napas panjang, ucapnya, “Amgi apa ini? Sungguh lihay, akupun rasanya tidak tahan.”

Air muka Pwe-giok bertambah kelam dan prihatin, katanya dengan perlahan dan tegas, “Inilah Tok-cit-le (duri berbisa) keluarga Tong, kena darah lantas menyumbat tenggorokan, hanya sekejap saja jiwa orang akan melayang.”

Lui-ji tercengang, ucapnya, “Jadi ini Tok-cit-le keluarga Tong yang termasyhur itu? Masa … masa dia bunuh diri?”

“Tiga bulan yang lalu mungkin dia bisa bunuh diri, tapi sekarang …”

Pwe-giok tidak melanjutkan ucapannya, hanya memandangi Kim-hoa-nio dengan rawan.

Tong Giok sekarang memang tidak perlu bunuh diri.

“Dia! Pasti dia!” seru Lui-ji mendadak.

-o0o-

Fajar sudah menyingsing, lambat laun Kim-hoa-nio sudah bisa ditenangkan, bahkan tidak kelihatan lagi ada tanda-tanda berduka. Hanya dikeluarkannya sejumlah uang perak dan menyuruh pegawai hotel agar menguruskan tanah kuburan, membeli peti mati, harga tidak ditawar, yang penting cepat.

Setiap urusan yang kecil-kecil juga diperiksa dan diawasi langsung oleh Kim-hoa-nio, dengan tangan sendiri pula ia mengganti baju bagi Tong Giok, betapapun orang lain menganjurkan dia mengaso dulu tetap tak digubrisnya, orang ingin membantu juga ditolaknya.

Terpaksa Pwe-giok dan lain-lain duduk mengelilinginya dan menyaksikan Kim-hoa-nio mondar-mandir.

“Biarkan saja dia bekerja,” ucap Lui-ji dengan perlahan, “seorang kalau sibuk tentu dapat melupakan duka.”

“Tapi kedukaannya ini mungkin tidak mudah dilupakannya,” ujar Pwe-giok dengan muram.

Sejak tadi Thi-hoa-nio hanya duduk menunduk saja, kini mendadak iapun ikut bicara, “Kau kira perbuatan Yang Cu-kang?”

“Siapa lagi selain dia?” jawab Lui-ji.

Thi-hoa-nio menggigit bibir, katanya pula, “Waktu berada di luar lumbung padi kenapa dia tidak turun tangan?”

Pwe-giok menjawab dengan menyengir, “Bisa jadi dia menganggap kita toh tak mampu lolos dari cengkeramannya, maka dia sengaja menyiksa kita beberapa hari lagi, apalagi dia telah ku tipu, tentu dia ingin menagih utang padaku, pokok berikut rentenya.”

Thi-hoa-nio termenung sejenak, gumamnya kemudian, “Memang orang beginilah dia, hanya dia saja yang dapat berbuat demikian.” Ia menengadah dan memandang Pwe-giok lekat-lekat, kemudian menambahkan dengan sekata demi sekata, bisa jadi secara diam-diam dia masih membuntuti kita dan tidak pergi.”

“Ya, memang,” jawab Pwe-giok.

Sorot mata Thi-hoa-nio berpindah dari wajah Pwe-giok dan memandangi pohon Yang satu-satunya di halaman sana dengan perasaan hampa, pohon sebatangkara itu tampaknya harus dikasihani.

Setelah termangu-mangu sekian lama, katanya pula dengan perlahan, “Ku tahu dia takkan puas hanya membunuh satu orang saja, dia masih akan membunuh pula, membunuh dengan pelahan satu persatu sehingga kita terbunuh semuanya.”

Baru saja sorot mata Lui-ji ikut beralih ke pohon Yang itu, demi mendengar ucapan tersebut tanpa terasa ia bergidik, serupa pohon yang sebatangkara itu, iapun merasakan dinginnya angin barat yang menyayat dan sunyinya bumi raya ini.

Selang agak lama barulah Pwe-giok tertawa dan berkata, “Rasanya tidaklah mudah jika dia ingin membunuh kita semua.”

Ketika mereka teringat kepada Kim-hoa-nio, nona itu ternyata sudah tidak berada di situ lagi.

Angin barat meniup semakin kencang, sorot mata Yang Cu-kang yang dingin itu seolah-olah telah bergabung bersama angin barat itu dan sedang mengintai setiap gerak-gerik mereka di mana dan kapan pun juga.

Lui-ji merapikan leher bajunya, lalu tanya Thi-hoa-nio, dengan suara tertahan, “Kemana perginya Tacimu? Kau kira dia akan …”

Belum habis ucapannya, mendadak Thi-hoa-nio berlari keluar.

Lui-ji menghela napas, ucapnya dengan sedih, “Setelah Tong Giok mati, sungguh kukuatir Kim-hoa-nio juga akan …”

Pwe-giok seperti tidak suka mendengar ucapan “bunuh diri”, cepat ia memotong, “Tampaknya dia sangat teguh imannya, kedua kakak beradik itu bukan orang yang lemah dan mudah putus asa.”

“Jika dia berduka, aku malah tidak perlu kuatir,” kata Lui-ji. “Tapi dia mendadak berubah menjadi tenang dan dingin, kedukaan seorang perempuan tidak nanti hilang secepat ini.”

Pwe-giok termenung, tiba-tiba ia merasa selama dua hari ini, Lui-ji seolah-olah telah bertambah dewasa, mendadak berubah jauh lebih masak dan banyak hal yang dipahaminya.

Lui-ji mengerling, ia seperti dapat menerka isi hati anak muda itu, katanya dengan menunduk, “Pada umumnya seorang anak lelaki perlu waktu sangat lama untuk bisa jadi dewasa, berbeda dengan seorang anak perempuan. Pada umumnya anak perempuan memang lebih cepat dewasa daripada seorang anak lelaki, terkadang dalam semalam saja sudah menjadi dewasa.”

Pwe-giok tetap termenung dan tidak menanggapi, sebab ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya, Dari ucapan Lui-ji itu, tiba-tiba ia mengingat kepada orang yang pernah bilang, “Seorang anak perempuan, betapa banyak umurnya, asalkan sudah menikah, maka dalam semalam saja dapat berubah menjadi dewasa.”

Ia tidak tahu beginikah maksud Cu Lui-ji itu? Namun ia tidak berani tanya.

Sesungguhnya dia memang tidak berani merundingkan urusan ini dengan nona itu.

Untunglah pada saat itu juga Thi-hoa-nio telah kembali, Kim-hoa-nio juga tampak ikut masuk. Kini dia sudah tukar pakaian, bukan saja baju baru bahkan warnanya sangat menyolok, malahan bersulam bunga yang semarak.

Betapapun juga baju demikian bukan waktunya untuk dipakai sekarang, Pwe-giok jadi heran, mengapa Kim-hoa-nio sengaja berganti pakaian begini, tanpa terasa ia memandang pakaiannya dengan terbelalak.

Meski mata Kim-hoa-nio masih kelihatan merah karena habis menangis, namun mukanya sudah berbedak tipis, dia duduk di depan Pwe-giok, malahan tertawa terhadap Pwe-giok dan berkata, “Menurut kau, baju ini indah tidak?”

Siapa pun tidak menyangka dia akan bertanya demikian dalam keadaan begini. Keruan Pwe-giok juga melengak, terpaksa ia menyengir dan menjawab, “Ya, sangat bagus!”

Kim-hoa-nio tersenyum, katanya, “Ibu pernah memberitahukan padaku, seorang kalau merasa letih dan merasa kotor, sebaiknya bergantilah baju baru dan akan merasa lebih segar.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Dan sekarang benarkah kau rasakan lebih segar?”

Tapi Kim-hoa-nio seperti tidak mendengar pertanyaan ini, dia hanya meraba perlahan sulaman bunga yang halus pada bajunya itu, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula terhadap Pwe-giok, “Aku sendirilah yang menyulam bunga ini, Tong Giok pun belum pernah melihat kupakai baju ini, engkaulah orang… orang pertama, maksudku lelaki pertama yang melihat kupakai baju ini.”

Meski dia bicara dengan perlahan dan lembut, Lui-ji jadi melengak mendengar ucapannya itu, pikirnya, “Mengapa dia omong hal-hal demikian kepada Pwe-giok, masa Tong Giok baru mati dan segera ia ingin menggoda lelaki lain?”

Segera Lui-ji melotot, meski ia tahu kemungkinan demikian tidaklah besar, namun dia toh berpikir demikian dan tanpa terasa menjadi marah juga.

Didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata pula, “Konon koki di sini paling mahir membuat ayam goreng ham, itik panggang, Ang-sio-hi-bin dan Ko-lok-bak, maka sudah ku pesan agar disediakan santapan lezat ini, kita sudah capai sehari suntuk, kita harus makan enak dan minum barang dua-tiga cawan.”

Dia baru saja kematian calon suami, tapi sekarang sudah ingin minum arak.

Lui-ji tidak tahan, dengan suara keras ia bertanya, “Masa ada seleramu untuk makan minum?”

Kim-hoa-nio tertawa, jawabnya, “Orang mati tidak dapat hidup kembali, mengapa kita harus berduka. Tang mati sudahlah, yang hidup justeru harus menjaga kesehatan sendiri dengan lebih baik, kalau tidak, yang mati tentu tidak akan tenteram di alam baka.”

Kata-kata demikian seyogyanya diucapkan orang lain untuk menghiburnya, tapi sekarang dia sendiri yang berucap untuk menghibur orang lain. Keruan Lui-ji jadi melongo kesima.

Sementara itu santapan yang dipesan sudah diantar dan penuh satu meja, Kim-hoa-nio sendiri lantas menuangkan arak dan mendahului angkat cawannya serta berseru, “Marilah, kita habiskan satu cawan dahulu!”

Pwe-giok menjadi sangsi, dia seperti sudah melihat sesuatu, seperti juga ingin bicara sesuatu. Pada waktu menuang arak, senantiasa Pwe-giok memperhatikan tangan Kim-hoa-nio.

Sebaliknya Lui-ji justeru selalu mengawasi Pwe-giok, ia kira anak muda ini takkan minum arak, tapi mendadak Pwe-giok angkat cawan terus menenggaknya hingga habis.

Karena itu, kata-kata yang akan diucapkan anak muda itupun ikut terminum ke dalam perut lagi bersama arak.

Melihat Lui-ji tidak ikut minum, Kim-hoa-nio berkata, “Nona Cu, kau …”

“Kau berniat minum, aku tidak ingin minum.” seru Lui-ji.

“Apapun juga, aku harus minum arak ini, nona Cu …”

“Apapun juga aku takkan minum arak ini.” tukas Lui-ji dengan ketus.

Kim-hoa-nio tersenyum, tetap dengan lemah-lembut, ia pandang cawan arak yang dipegangnya dan warna arak yang merah, di bawah cahaya sang surya warna arak itu seperti darah.

Senyuman Kim-hoa-nio mulai menampilkan perasaan pedih, dia bergumam pula pelahan menghapalkan dua bait syair kuno, syair berduka cita mengenang pacar yang telah meninggal, arak yang dipandangnya lekat-lekat itu sekali ini dengan cepat ditenggaknya …

“He, Taci, kau …” Thi-hoa-nio kuatir melihat kelakuan kakaknya itu, cawan arak sendiri tanpa terasa terlepas dan pecah berantakan.

Dengan suara lembut Kim-hoa-nio berucap, “Aku sangat baik, aku sangat gembira, selama ini tidak pernah ku gembira seperti sekarang, sebab ku tahu selanjutnya aku akan selalu berada bersama dia dan tiada seorang pun yang dapat lagi memisahkan kami.”

Baru sekarang Lui-ji terkejut, ia rampas cawan arak orang, Pwe-giok juga berdiri dengan kuatir.

Kim-hoa-nio memegang tangan Lui-ji dengan lembut, ucapnya, “Tidak perlu kau cicipi, arak ini tidak beracun.”

“Tapi kau … kau …” Lui-ji tidak sanggup meneruskan lagi.

“Racunnya sudah sejak tadi berada dalam perutku, pada saat pertama setelah ku tahu Giok cilik mati dan akupun …”

Dia tidak dapat menyelesaikan ucapannya itu.

Sedikitnya, kematiannya tidaklah menderita, kalau hidup justeru akan lebih menderita.

—–

Sudah dekat magrib pula.

Angin barat menderu-deru pula. Airpun gemercik mengalir di kejauhan.

Lui-ji memandangi gundukan kuburan yang baru itu, mendadak ia menangis keras, akhirnya ia berkata berulang-ulang, “Mengapa aku tidak minum arak itu, mengapa … mengapa tidak kuminum arak itu?”

Gumpalan awan mengalingi sang surya yang susah hampir terbenam, seakan-akan sengaja menyembunyikan cahayanya yang terakhir dan tidak memperbolehkan manusia memandangi kegemilangannya sebelum kegelapan tiba.

Meski tidak hujan, namun cuaca terasa lebih kelam daripada waktu hujan.

Lui-ji berkata ambil mengucurkan air mata. “Kiranya dia sudah bertekad akan mati, mengapa sebelumnya tidak kulihat maksudnya ini, mengapa? Mengapa aku masih juga menyalahkan dia …”

Pwe-giok hanya memandangi gundukan tanah kuning kemerah-merahan itu, terbayang olehnya kedua muda-mudi yang saling mencintai itu. Mengapa akhir daripada muda-mudi yang saling cinta itu selalu adalah segundukan tanah belaka?

Diam-diam ia mengusap matanya yang basah dan berkata, “Marilah pergi!”

Lui-ji mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara parau, “Pergi! Apakah cuma kata ini saja yang dapat kau ucapkan?”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan muram, “Habis, apalagi yang dapat kukatakan?”

Tiba-tiba Thi-hoa-nio berkata, “Sedikitnya kita tidak perlu tinggal di sini dan menangis melulu.”

“Mengapa?” tanya Lui-ji. “Mengapa? …”

Thi-hoa-nio memandang sekelilingnya, seperti ingin mencari angin barat yang bersembunyi dalam kegelapan senja itu. Kemudian sekata demi sekata ia menjawab, “Sebab jika dia melihat kita sedang menangis sedih, tentu dia akan sangat gembira? Mengapa air mata kita ini tidak kita cucurkan di tempat lain saja?”

Setiap orang tentu dapat menerka siapa yang dimaksudkannya itu.

Tanpa terasa Lui-ji juga memandang sekelilingnya, apakah betul di balik kegelapan senja itu ada sepasang mata yang dingin sedang memandang dengan mengejek mereka yang lagi menangis?

Pwe-giok berkata pula, “Ayolah pergi saja!”

Serentak Lui-ji berbangkit dan menjawab. “Ya, mari pergi!”

—–

Bintang belum lagi ada yang menghiasi angkasa, tatkala mana adalah saat yang paling guram di tengah cakrawala ini, mereka menyusuri lembah sungai dengan airnya yang mengalir tak pernah berhenti itu.

Langkah Pwe-giok paling cepat, bahkan sangat berat langkahnya seakan-akan tanah pasir di bawah kakinya itu akan diinjaknya hingga hancur lebur, hendak menghancur-luluhkannya bumi raya ini.

Apa daya sekarang? Akhirnya Tong Giok mati juga!

Satu-satunya harapannya kembali putus. Rencana hatinya selama ini lagi-lagi mengalami kegagalan, kepada siapa pula selanjutnya dia harus mengimbau?

Kini dia hampir-hampir putus asa sama sekali, hampir melepaskan segala usahanya, sebab apapun perjuangannya dan betapa dia bekerja keras, pihak lawan cukup melambaikan tangan pelahan saja dan dapat menghancurkan semua tumpuan harapannya.

Lereng gunung di bawah gumpalan awan tampaknya sedemikian besar, sedemikian misterius, sedemikian kukuh tak tergoyahkan. Dan lawannya ternyata jauh lebih kukuh, lebih kuat daripada gunung raksasa itu, juga serupa gumpalan awan yang tinggi di angkasa itu, tidak dapat diraba, tak dapat diraih.

Menghadapi lawan demikian, siapa pun akan menyerah dan mengaku kalah.

Lui-ji menyusul ke samping Pwe-giok, tapi ia tidak berani bersuara, tidak berani mengajaknya bicara, sebab ia sangat paham betapa perasaan Pwe-giok saat ini, ia sendiri pun tidak tahu harus bicara apa?

Entah sudah berapa lama lagi, mendadak Pwe-giok berseru, “Mengapa hendak kulepaskan perjuanganku? Biarpun sekali ini ku gagal, lain kali kan masih ada kesempatan, umpama lain kali pun gagal kan masih ada lain kali lagi?”

Meski kata-kata itu diucapkannya terhadap dirinya sendiri, namun Lui-ji toh memandangnya dengan sorot mata yang lembut dan penuh perasaan memuji, katanya dengan suara halus, “Betul, asalkan kita tidak roboh, pada suatu hari kita pasti mampu menjatuhkan mereka.”

Menyongsong tiupan angin, Pwe-giok membusungkan dada dan berkata, “Ya, pasti akan datang suatu hari demikian itu.” Sejenak kemudian ia menyambung pula, “Kini Tong Giok sudah mati, tapi kita tetap akan pergi ke Tong-keh-ceng, tidak boleh kita membiarkan si “perawat kuda” itu malang melintang di sana.”

Menyinggung si “perawat kuda”, tanpa terasa Lui-ji tertawa cerah, katanya, “Betul, kita harus membikin dia pulang kandang dan memberi makan lagi pada kudanya. Bukankah harus begitu nona Thi? ..”

Ia menoleh hendak menyapa Thi-hoa-nio tapi ucapannya seketika terputus seolah-olah sebuah tangan yang dingin mencekik lehernya.

Thi-hoa-nio ternyata tidak berada di belakang mereka!

Thi-hoa-nio telah hilang secara mendadak!

Padahal mereka masih ingat benar ketika menyusuri tepi sungai, selalu Thi-hoa-nio mengikuti di belakang mereka, nona itu seperti tidak ingin terselip di tengah-tengah Pwe-giok dan Lui-ji, dia juga seperti kuatir menimbulkan antipati Cu Lui-ji, maka sejak semula dia selalu mempertahankan satu jarak tertentu di belakang mereka, namun jaraknya tidak terlalu jauh.

Tapi sekarang, sejauh mata memandang lui-ji tidak melihat bayangan seorangpun, yang tertampak hanya berkerlipnya api phosphor membentang hingga jauh.

Kaki dan tangan Lui-ji menjadi dingin, teriaknya, “Nona Thi, di mana kau?”

Sayup-sayup terdengar suara yang terbawa angin dari kejauhan, “Di mana kau?…Di mana kau…”

Tapi suara ini adalah gema suara Lui-ji sendiri.

Air muka Pwe -giok berubah juga, dengan cepat pula ia melayang balik dan menarik tangan Lui-ji terus diajak melayang pula ke arah datangnya tadi menuruti lembah sungai.

Langit yang kelam tadi entah sejak kapan sudah mulai ada cahaya bintang dan sinar bulan, air yang mengalir berkilauan tertimpa sinar bintang dan bulan, tepi sungai kecil itu tampaknya seperti jauh lebih terang daripada tempat lain.

Akan tetapi bayangan Thi-hoa-nio tetap tidak mereka lihat.

Tangan Lui-ji menjadi dingin seperti es, tapi dia merasa tangan Pwe-giok jauh lebih dingin daripada tangannya, bahkan terasa membeku. ia pegang jari tangan anak muda itu dengan kencang, katanya, “Kau pikir apakah… apakah dia sengaja pergi tanpa pamit?”

“Mengapa dia pergi tanpa pamit?” jawab Pwe-giok.

Lui-ji menggigit bibir, katanya pula, “Habis, apakah,…apakah dia telah di… digondol Yang Cu-kang?…”

Mendadak Pwe-giok berjongkok dan menjemput sebuah sepatu bersulam bunga, segera lui-ji mengenali sepatu ini milik Thi-hoa-nio, seketika tenggorokannya seperti tersumbat dan tidak dapat melanjutkan ucapannya.

Waktu Thi-hoa-nio berada di tengah mereka, Lui-ji berharap Thio-hoa-nio pergi saja, makin jauh makin baik, sebab, asalkan Thi-hoa-nio memandang Pwe-giok sekejap saja, hati Lui-ji menjadi tidak enak.

Dan sekarang Thi-hoa-nio “benar” telah pergi bahkan takkan kembali lagi untuk selamanya, hal ini membuat Lui-ji jadi berduka malah, dipandanginya sepatu bersulam itu dengan termangu-mangu dan air matapun bercucuran.

Dia menggali sebuah liang kecil di tepi sungai dan menanam sepatu itu, katanya tiba-tiba, “Mungkin dia sengaja pergi sendiri dan tidak diganggu oleh Yang Cu-kang.”

“Ya, mungkin begitu,” sahut Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

“Jika dia benar dicelakai oleh Yang Cu-kang, mengapa kita tidak mendengar sesuatu suara apapun?” ujar Lui-ji. “Sekalipun dia tidak mampu melawan, sedikitnya dia kan bisa bersuara dan berteriak.”

“Ya, betul,” Pwe-giok mengangguk dengan berat.

“Apalagi, orang mati kan harus meninggalkan mayatnya, sedangkan kita tidak menemukan jenazahnya, bahkan tidak melihat sesuatu tanda yang mencurigakan, apakah mungkin mendadak iapun …” sampai di sini Lui-ji lantas mendekap mukanya dan menangis lagi, ucapnya dengan parau. “Untuk apa aku harus menipu diriku sendiri, sudah jelas dia telah dicelakai oleh Yang Cu-kang, apa gunanya kubohongi diriku sendiri? sejak mula sudah kuketahui Yang Cu-kang takkan melepaskan dia, ku tahu dia juga pasti takkan membiarkan kita hidup sampai di Tong-keh-ceng, dia sudah bertekad akan membunuh kita satu persatu.”

Sampai lama sekali Pwe-giok termenung, akhirnya ia berucap, “Marilah berangkat!”

Serentak Lui-ji melompat bangun, serunya, “Betul, ayo berangkat, kita harus mencari dia!”

“Kita tidak perlu mencari dia,” kata Pwe-giok. “Sebab apa?” tanya Lui-ji.

“Kita tunggu saja, biarkan dia yang mencari kita.”

Lui-ji menggigit bibirnya, katanya dengan gegetun, “Ya, betul, kalau dia sudah pasti mencari kita, untuk apa kita bersusah payah mencari dia, akan tetapi…” ia menengadah dan memandangi Pwe-giok, lalu bertanya, “Apakah kita akan menunggunya di sekitar sini?”

“Tidak,” jawab Pwe-giok. “Kita tetap pergi ke Tong-keh-ceng, apapun juga kita harus pergi ke sana.”

Sikapnya tegas an kokoh, siapa saja yang melihat kebulatan tekadnya itu pasti percaya tiada satupun urusan di dunia ini yang dapat menggoyahkan pendirian dan tekadnya.

Lui-ji juga terharu oleh tekad anak muda itu, seketika iapun berubah menjadi jauh lebih kuat, serunya, “Betul! Kita harus tetap menuju ke Tong-keh-ceng, kita akan pergi ke sana dengan hidup, andaikan mati dan menjadi setan juga tetap akan pergi ke Tong-keh-ceng”

Dia sengaja berteriak, seakan-akan kuatir ucapannya tidak didengar oleh badan halus yang selalu mengintai mereka secara sembunyi itu, seperti juga sengaja mengumumkannya kepada semua orang di dunia ini agar mengetahui kebulatan tekad mereka.

Pwe-giok menepuk bahu anak dara itu sebagai tanda memuji, ia pegang tangan Lui-ji dan tidak mau melepaskannya lagi, ia kuatir bilamana tangan kecil itu dilepaskan, bisa jadi anak dara itupun akan mendadak menghilang dari muka bumi ini seperti halnya Thi-hoa-nio, sekalipun ia tahu dengan kekuatan mereka berdua juga belum tentu dapat melawan musuh yang menakutkan itu.

oOo

Perjalanan selanjutnya jelas akan bertambah sulit dan banyak rintangan.

Mereka tidak berani lengah sedikitpun, sebaliknya mereka menyadari, kelengahan terkecilpun mungkin akan menimbulkan akibat yang fatal.

Setiap saat, Yang Cu-kang bisa melayang keluar dari kegelapan dan menyerang mereka dengan kungfunya yang sukar dibayangkan.

Akan tetapi fajar sudah hampir menyingsing dan sebegitu jauh Yang Cu-kang belum lagi muncul.

Siangnya mereka beristirahat di suatu pedusunan, setelah isi perut sekedarnya mereka melanjutkan perjalanan pula, sampai seja tiba Yang Cu-kang tetap tidak kelihatan.

Sekarang, jaraknya dengan Tong Keh-ceng sudah sangat dekat.

Petangnya, mereka sampai di suatu kota kecil, tiba-tiba Pwe-giok berkata, “Biarlah malam ini kita menginap di sini, besok pagi-pagi baru kita menuju ke Tong-keh-ceng”

—–

Apakah benar Thi-hoa-nio telah digondol Yang Cu-kang? Dan bagaimana nasibnya?

Apa pula yang terjadi di Tong Keh-ceng dan tindakan apa yang akan dilakukan Pwe-giok dan Lui-ji?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

3 Comments »

  1. […] Imbauan Pendekar – 07 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:31 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm

  2. […] ya gegetun ya menyesal, mereka merasa cara Lui-ji makan racun itu sebagai suatu pemborosan. (more…) Leave a […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm

  3. […] Seketika kedua kakak beradik itu melongo, ya gegetun ya menyesal, mereka merasa cara Lui-ji makan racun itu sebagai suatu pemborosan. (more…) Leave a Comment […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: