Kumpulan Cerita Silat

06/06/2010

Imbauan Pendekar – 06

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:30 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Kunamisme, Bsarwono, Catur, Robin dan Yusuf_hari)

Seketika Tong Bu-siang melenggong, mukanya sebentar pucat sebentar merah, mendadak ia menggebrak meja dan berteriak, “Ku tahu kalian memandang hina padaku, sebab dahulu aku cuma seorang perawat kuda saja. Tapi kau sendiri, kau ini kutu macam apa pula? Memangnya kau kira kau ini benar-benar Kanglam-tayhiap Ong Uh-lau segala?”

“Tutup bacotmu!” bentak Ong Uh-lau dengan gusar.

“Aku justru ingin omong lagi” sahut Tong Bu-siang dengan muka merah padam. “Ya, ingin omong terus, apa yang dapat kau lakukan terhadapku? Memangnya dapat kau bunuh diriku?”

“Biar kubunuh kau, memangnya takut apa?” kata Ong Uh-lau dengan beringas.

“Huh, masa kupercaya kau berani? Jangan lupa, saat ini aku adalah ketua keluarga Tong yang disegani, bilamana kau bunuh diriku, ke mana lagi akan kau cari seorang Tong Bu-siang yang lain?”

Ong Uh-lau melotot sekian lama, tiba-tiba ia tertawa, katanya, “Ai, sudahlah, apa yang kukatakan, semuanya adalah demi kebaikanmu, sebab kalau sampai rahasiamu terbongkar, bagimu maupun bagiku sama-sama tidak ada faedahnya.”

Maka tertawalah Tong Bu-siang, ucapnya, “Jangan kuatir, latihanku selama dua tahun ini masa percuma?”

Mendengar sampai di sini, tangan Pwe-giok sudah berkeringat dingin.

Nyata “Tong Bu-siang” ini tadinya cuma seorang perawat kuda saja, bisa jadi lantaran mukanya serupa Tong Bu-siang asli, maka dia terpilih untuk dijadikan Tong Bu-siang imitasi.

Jika demikian, lalu siapa pula orang yang menyaru sebagai Ong Uh-lau ini? Dan siapa lagi yang menyamar sebagai Lim Soh-koan, Ong Tay-oh, Sebun Bu-kut dan lain-lain, berasal dari orang macam apakah mereka itu?

Sudah tentu, bisa jadi mereka semula cuma seorang kusir, seorang koki, seorang tukang sayur, seorang penambal sepatu, bahkan bukan mustahil seorang germo.

Lalu, orang macam apa pula “Ji Hong-ho” itu?

Mungkinkah tingkatannya lebih terhormat daripada orang-orang ini?…

Bisa jadi karena dia lebih berbakat dan lebih giat berlatih, maka selain wajah dan gerak-geriknya dapat menirukan Hong-ho Lojin dengan persis, bahkan juga berhasil mempelajari kungfu Bu-kek-bun dengan baik. Namun apa pun juga, asalnya pasti seorang Siaujin yang rendah.

Berpikir sampai di sini, seluruh badan Pwe-giok rasanya seperti mau meledak.

Dalam pada itu Ong Uh-lau dan Tong bu-siang tampak semakin gelisah. Tong Bu-siang lantas berbangkit dan mondar-mandir di dalam ruangan sambil bergumam, “Aneh, kenapa belum datang…Kenapa belum datang?”

“Jika dia tidak datang, biarpun gelisah juga tiada gunanya,” ujar ONg Uh-lau. “Lebih baik berduduk dan menunggu saja.”

Tong Bu-siang gosok-gosok jenggotnya dan berkata, “Kau tidak gelisah, akulah yang gelisah, jika dia tidak datang, bagaimana?”

“Urusan ini juga menyangkut kepentingannya, mana bisa dia tidak datang,” ujar Ong Uh-lau.

“Semoga tidak terjadi apa-apa atas dirinya,” kata Tong Bu-siang sambil menghela napas.

Sesungguhnya siapakah gerangan yang mereka tunggu itu?

Mengapa mereka begitu tegang dan juga misterius tampaknya?

Saking tak tahan hampir saja Lui-ji bertanya. Tapi pada saat itulah mendadak di luar jendela terdengar suara “kok-kok” dua kali, seperti suara burung kokok beluk.

Seketika semangat Tong Bu-siang terbangkit, ia melompat ke depan jendela dan menjawab dengan suara “cuat-cuit” dua kali, dari luar ada suara mencicit pula, lalu Tong Bu-siang membuka daun jendela, dan dari luar segera melayang masuk seorang lelaki berbaju hijau.

Dandanan orang ini mirip seorang petani yang baru saja habis pulang mencangkul dari sawah, kain bajunya kasar, berlepotan lempung lagi.

Ikat kepalanya yang juga terbuat dari kain hijau kini pun sudah basah kuyup, jelas dia menempuh perjalanan dengan cepat dan tergesa-gesa.

Maka orang ini hitam hangus seperti pantat kuali, bila diperhatikan baru ketahuan mukanya di poles dengan hangus berminyak agar wajah aslinya tidak dikenal orang.

Serentak Ong Uh-lau berbangkit dan menyambut kedatangan orang, tegurnya dengan suara tertahan, “Angin apakah yang meniup sahabat ke sini?”

Orang itu celingukan sejenak, lalu iapun menjawab dengan suara tertahan, “Angin tenggara yang meniup dari barat laut.”

Adakah sahabat melihat sesuatu di tengah perjalanan?” tanya Ong Uh-lau pula.

“Kulihat si kakek lagi makan permen dan si cucu lagi minum arak,” sahut orang itu.

Tanya jawab ini sangat lucu dan mengada-ada saja, jelas hanya untuk mencocokkan kode rahasia masing-masing.

Air muka On Uh-lau kelihatan merasa lega, ia lantas memberi hormat dan berkata pula, “Silahkan duduk, sudah lama kami menunggu di sini,”

“Mengapa tamu Bong hoa lau ini hanya terdiri atas kalian saja?” tanya orang itu.

“Sebab para nona penghuni rumah hiburan ini sama pergi menghibur, tidak menerima tamu,” tutur Ong Uh-lau.

“Masa rumah hiburan begini pakai libur segala?” kata orang itu rada tercengang.

“Maklumlah, bilamana para nona penghuni rumah hiburan macam begini sedang datang bulan, “palang merah” menurut istilah mereka, maka tamu apapun akan ditolak.”

Baru sekarang orang itu menghela nafas lega, pandangannya segera tertarik pada arak dan santapan di atas meja…

“Apakah saudara belum lagi bersantap?” tanya Ong Uh-lau.

“Ya, terus terang, sudah dua hari Cayhe tidak makan satu butir nasi apapun,” jawab orang itu sambil menyengir dan menelan air liur.

Aneh! Orang macam apakah dia ini, mengapa jejaknya demikian misterius dan juga sedemikian konyol, sampai mesti menempuh perjalanan selama dua hari dengan puasa?

Jangan-jangan dia lagi menghindari pengejaran seseorang, karena itulah dia tidak sempat makan dan juga tidak berani muncul di depan umum?

Lalu jauh-jauh Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang datang ke sini untuk menunggu orang ini, apa pula maksud tujuan mereka?…

Dalam pada itu orang berbaju hitam itu sudah berduduk dan mulai makan. Walaupun sudah kelaparan, namun cara makannya tidak rakus, tampaknya cukup sopan dan terpelajar.

Dalam tingkah laku sopan demikian, bisa jadi tidak dapat berpura-pura. Sebab itulah seorang hartawan yang kaya mendadak akan tetap kelihatan kedodoran, seorang pengemis biarpun diberi pakaian mahkota juga tetap tidak memper seorang raja.

Untuk hal demikian ini, sekali pandang saja Pwe giok lantas tahu bahwa orang berbaju hijau ini pasti berasal dari keluarga terhormat.

Selang sejenak pula barulah orang itu menaruh sumpitnya, tiba-tiba ia melototi Tong Bu-siang dan berkata, “Coba, silahkan Anda lepas baju dan celana dan perlihatkan padaku.”

Bahwa seorang yang kelihatan berasal dari keluarga terhormat dan terpelajar mendadak menyuruh orang lain “membuka celana untuk diperlihatkan kepadanya”, sungguh kejadian yang sukar dipercaya.

Yang lebih aneh lagi ialah Tong Bu-siang ternyata menuruti permintaan itu, ia benar-benar membuka baju dan mencopot celana.

Perlahan Lui ji mengomel, ia berpaling dan malu untuk memandangnya, tapi tidak urung hatinya ingin tahu apa yang akan dilakukan orang berbaju hijau itu setelah menyuruh Tong Bu-siang membuka pakaian.

Ia coba melirik lagi ke sana, dilihatnya Tong Bu-siang tidak membuka pakaian hingga telanjang bulat, saat itu setelah kakinya yang penuh bulu lebat tampak selonjor di atas kursi.

Sambil menunjuk satu jalur panjang bekas luka pada kaki Tong Bu-siang itu, Ong Uh-lau berkata dengan tersenyum, “Bekas luka ini kukerjakan menurut contoh bekas luka pada Bu-siang Lojin, baik panjangnya maupun lebar dan dalamnya kujamin persis seperti bekas luka pada Bu-siang Lojin itu.”

“Hehe, caranya bekerja seperti halnya hendak mengukir stempel di pahaku ini,” tukas tong Bu-siang dengan menyengir, “Sampai tiga hari lamanya dia mengukir dan hasilnya memang memuaskan, akan tetapi yang runyam adalah diriku, meski belasan kati arak Hoa-tiau kuhabiskan, sakitnya tetap tidak kepalang.”

Orang berbaju hijau itu manggut-manggut, katanya, “Bagus, tapi tahukah kau siapa yang membuat bekas luka ini?”

“Ini kan Bu-siang Lojin …”

“Ingat!” sela orang itu, “Sekarang kau sendiri ialah Bu-siang Lojin.”

Tong Bu-siang tertawa, ucapnya, “Ya, betul. Tentang … tentang bekas luka ini, terjadinya pada waktu aku masih muda, lantaran kepincuk kepada seorang gadis suku Pai, jauh-jauh ku pergi ke lembah sungai Nu di perbatasan Yunan sana, sendirian ku terjang delapan benteng Kimsah, sebab Kimsah cecu (kepala benteng Kimsah) telah merampas berlaksa tahil pasir emas suku bangsa Pai si gadis, meski ke delapan Cecu yang menjadi biang keladinya telah kubunuh dengan senjata rahasiaku, tapi pahaku juga terkena bacokan golok mereka, kalau saja aku tidak selalu membawa obat luka “Yunan-peh-uo”, bisa jadi pahaku ini harus kupotong.”

“Kemudian bagaimana?” tanya si baju hijau.

“Kemudian baru kuketahui gadis Pai itu sengaja memperalat diriku untuk merampas kembali pasir emas milik bangsanya itu, padahal dia sendiri sudah mempunyai kekasih pilihannya sendiri, pada saat ku rawat lukaku di pembaringan, diam-diam gadis itu kabur bersama kekasihnya.”

Si baju hijau menghela napas panjang, tukasnya, “Ya, begitulah, maka sejak itu kau anggap gadis suku Pai rata-rata tidak setia, semuanya suka menipu, lantaran itu pula kau berkeras melarang anakmu menikah dengan Kim-hoa-nio yang juga berasal dari suku bangsa minoritas itu.”

Baru sekarang Pwe-giok paham sebab musabab Tong Bu-siang benci kepada Kim-hoa-nio, rupanya bukan disebabkan Kim-hoa-nio adalah anggota dan puteri ketua Thian-can-kaucu, tapi lantaran nona itu berasal dari suku bangsa Pai.

Tak tersangka olehnya bahwa Tong Bu-siang yang kelihatan kaku dan prihatin itu, pada masa mudanya juga seorang pemuda pecinta, sebab kalau bukan pemuda yang sok romantis tentu dia takkan tertipu oleh perempuan.

Sementara itu Ong Uh-lau telah memutar badan Tong Bu-siang, ia tuding codet pada punggungnya dan berkata pula, “Bekas luka inipun cukup baik bukan?”

“Ya, bagus, sama seperti aslinya.” ujar si baju hijau.

“Dan bekas luka itu terjadi pada waktu aku berumur 26, demi untuk menuntut balas bagi saudara misanku, aku berduel dengan tokoh golok sakti Ban-sing-to, hasilnya adalah codet ini. Tapi meski punggungku terbacok oleh goloknya, pedangku juga sempat menembus tenggorokannya.”

“Tepat,” ujar si baju hijau. “Lantas di tubuhmu seluruhnya ada berapa banyak bekas luka?”

“Seluruhnya ada sembilan tempat,” sahut Tong Bu-siang, “kecuali kedua codet yang paling besar ini masih ada lagi empat tempat bekas luka pedang dan dua tempat bekas luka golok, serta satu tempat luka terbakar akibat senjata api si Pat-pi-thian-ong.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Dua di antara empat bekas luka itu adalah akibat tusukan Gin-leng-kiam-khek, hal itu terjadi lantaran dia menista nama baik perguruan kami, waktu itu umurku 28, selama setahun kucari dia tiga kali untuk berduel, kedua kali pertama hampir saja ku mati di bawah pedangnya, pada ketiga kalinya barulah kubinasakan dia.”

“Setelah ke sembilan tempat bekas luka ini, apakah di tubuhmu tiada bekas luka lain lagi?” tanya si baju hijau.

“Seperti tidak … tidak ada lagi,” jawab Tong bu-siang setelah berpikir sejenak.

“Masa tidak ada lagi, umpamanya gigimu …”

“Oya, betul, gigiku kurang tiga biji, sebab pada waktu mudaku aku tidak kenal artinya takut, hampir setiap jago ternama ku tantang untuk mengukur kungfu masing-masing. Satu kali ku tantang jago silat nomor satu di lereng Tiang-pek-san, hasilnya daguku kena ditonjoknya sehingga tiga biji gigiku bagian atas rompal, bahkan mulutku bengkak hingga lima hari tak dapat makan dan bicara.”

“Hendaknya kau jangan lupa bahwa peristiwa itu adalah salah satu kebanggaanmu selama hidup.” kata si baju hijau. “Sebab jago Tiang-pek-san itu terkenal berwatak keras dan tidak kenal ampun, barang siapa berani mencari perkara padanya, biarpun orang berkepala besi juga akan dihancurkan olehnya, tapi dia cuma merontokkan tiga biji gigimu, sebab itulah biarpun kau kalah bertanding, namun kekalahanmu cukup gemilang, lantaran itu pula seringkali kau membuka mulut untuk memperlihatkan mulutmu yang ompong akibat gigi rontok ditonjok lawan itu.”

“Ya, aku tidak pernah lupa.” sahut Tong Bu-siang.

Sampai di sini, diam-diam Pwe-giok merasa terharu dan sedih bagi nasib Tong Bu-siang. Padahal tokoh-tokoh yang disebutnya itu terkenal sangat lihay pada masa beberapa puluh tahun yang lalu, tapi tong Bu-siang berani mendatangi jago-jago itu dan menantang duel padanya, ini menandakan masa muda tong Bu-siang pasti seorang yang tidak takut pada langit dan tidak gentar pada bumi, benar-benar seorang ksatria yang gagah berani.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa setelah tua, Tong Bu-siang bisa berubah menjadi pengecut, penakut seperti tikus.

Meski dia sudah mengkhianati Pwe-giok, tapi Pwe-giok tidak dendam padanya, sebaliknya malah merasa orang tua itu harus dikasihani. Dan sekarang duplikatnya sudah tersedia, maka nasibnya selanjutnya pasti lebih mengenaskan.

Terdengar si baju hijau sedang menghela napas dan berkata, “Ada sementara urusan yang mesti takkan menarik perhatian orang lain, tapi sedapatnya kita harus tetap waspada. Sebab sedikit rahasia kita diketahui orang, akibatnya semua urusan bisa runyam, bahkan jiwamu mungkin juga akan amblas.”

“Betul,” kata Tong Bu-siang, “jika ingin bekerja besar harus lebih berhati-hati, ku paham peraturan ini.”

Si baju hijau termenung sejenak, katanya kemudian, “Kebiasaanmu sehari-hari juga tidak boleh teledor sedikitpun. Misalnya, sekarang kau sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, tapi tiap urusan penting dalam perkampunganmu masih harus diselesaikan atau diputuskan olehmu. Sebab itulah anak muridmu setiap hari masih tetap datang menyambangi kau pada waktu tertentu serta untuk meminta petunjukmu.”

“Ya, ku tahu, semua itu dilakukan pada waktu aku sarapan pagi,” kata Tong Bu-siang.

“Dan apakah kau tahu apa-apa saja yang kau makan setiap hari?” tanya pula si baju hijau.

“Ku tahu orang Sujwan tidak biasa makan bubur, sebab itulah setiap pagi ku sarapan satu piring nasi goreng dengan telur dadar, terkadang juga sarapan nasi goreng babat pedas, makin pedas makin baik, sebab orang Sujwan memang terkenal doyan cabai.”

“Apakah semua itu dapat kau biasakan?”

“Pada waktu permulaan memang tidak biasa, bila makan pedas keringat lantas bercucuran, tapi setelah berlangsung dua tahun, semua itupun menjadi biasa bagiku.”

“Dan tahukah kau biasanya berapa hari kau mandi satu kali?” tanya pula si baju hijau, lalu iapun tanya berbagai urusan, baik yang penting maupun yang sepele, dan semuanya itu dijawab oleh “Tong Bu-siang” dengan lancar, sampai-sampai setiap hari Tong Bu-siang yang asli berak berapa kali juga diketahuinya dengan jelas.

Dari sini dapatlah diketahui bahwa komplotan mereka ini telah menguasai benar-benar lahir-batin Tong Bu-siang, setiap gerak-geriknya dan setiap kebiasaannya sudah dipelajarinya dengan tuntas tanpa kekurangan apapun juga.

Ki Leng-hong menghela napas, ucapnya, “Untuk pekerjaan ini, entah betapa banyak Ji hong-ho itu telah memeras pikiran dan tenaga.”

“Tentunya perbuatannya ini ada imbalannya,” ujar Pwe-giok dengan mengertak gigi.

“Betul, dengan demikian, maka segala sesuatu, harta benda maupun kekuasaan tong-keh-ceng di Sujwan yang bersejarah ratusan tahun itu akan berpindah seluruhnya ke tangannya, jadi tenaga dan pikiran serta biaya berapa banyak yang dikeluarkannya tetap berharga, tidak rugi,” demikian kata Leng-hong.

“Mereka menunggu kedatangan orang berbaju hijau ini, kiranya mereka sengaja hendak menguji Tong Bu-siang gadungan ini, apakah sudah memenuhi syarat atau tidak untuk tampil ke pentas,” tukas Lui-ji. “Akan tetapi, orang macam apa pula orang serba hijau ini? Mengapa dia menguasai sejelas ini seluk-beluk kehidupan Tong Bu-siang? Seolah-olah bagaimana bau kentut Tong Bu-siang juga diketahuinya.”

“Kukira orang ini pasti anak murid keluarga tong,” kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

“Ya, dia bukan saja anak murid keluarga Tong, bahkan pasti orang yang sangat berdekatan dengan Tong Bu-siang.” kata Ki Leng-hong.

“Dan sekarang dia telah mengkhianati Tong Bu-siang dan menjualnya,” kata Pwe-giok pula. “Apabila Tong Bu-siang mengetahui dirinya bakal dikhianati anak murid sendiri, mungkin dia takkan mengkhianati orang.”

Dalam pada itu si baju hijau sudah mengecek semua persoalan terhadap Tong Bu-siang gadungan, dia sedang berduduk dan memandangi mereka dengan diam saja.

Sejenak kemudian, Ong Uh-lau menyengir, katanya, “Apakah saudara merasa ada hal-hal lain yang kurang memuaskan?”

Si baju hijau tidak menjawab, tapi menuang tiga cawan arak, lalu berkata perlahan, “Ilmu bersolek atau menyamar meski sudah tersebar luas selama ratusan tahun di dunia kangouw, tapi orang yang berganti rupa secara demikian masih belum juga berani bergaul di depan umum secara terang-terangan, sebab seorang yang sudah berganti rupa dengan menyamar, betapapun pandai caranya berhias, bila ketemu seorang ahli, sekali pandang saja akan diketahuinya.

Menurut cerita yang terjadi di Kangouw, meski banyak orang yang berganti rupa dan menyamar sebagai orang lain, lalu menyusup ke dalam sesuatu organisasi rahasia lain sehingga segenap anggota organisasi itu dapat dikelabuinya, akan tetapi itu hanya dongeng saja di dunia Kangouw, menurut pandanganku sekarang, semua cerita itu hanya dongeng yang sengaja dibumbui dan dibesar-besarkan, kukira sama sekali tak dapat dipercaya.”

Bahwa mendadak si baju hijau bicara hal-hal ini, tentu saja Ong Un-lau dan Tong Bu-siang gadungan itu merasa bingung karena tidak tahu apa maksudnya, terpaksa mereka diam saja tanpa komentar, mereka menunggu ceritanya lebih lanjut.

Benar juga, si baju hijau lantas menyambung pula, “Tapi ilmu menyamar demikian setelah jatuh di tangan Bu-lim-bengcu sekarang, seketika ilmu ini berkembang dengan lebih ajaib, sebab beliau sanggup melebur antara ilmu pengobatan dan ilmu menyamar ini beliau harus dipuji dan tiada bandingannya dari dulu kala hingga sekarang.”

Mendengar sampai di sini barulah Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang menghela napas lega serta tertawa cerah.

Si baju hijau menatap lekat-lekat ke arah Tong Bu-siang gadungan, katanya kemudian dengan suara tertahan, “Bahwa beliau mampu menciptakan seorang tokoh semacam Anda ini, sungguh aku merasa kagum dan takluk benar-benar lahir batin. Sekarang jangankan orang lain tak dapat membedakan asli atau palsunya anda, bahkan akupun tidak dapat membedakannya.”

Tong Bu-siang gadungan itu kelihatan bergirang.” ucapnya, “Jika demikian, jadi aku sudah boleh muncul di depan umum?”

Akhirnya di baju hijau juga tertawa cerah, katanya, “Ya, kemunculan anda sekarang kuyakin tidak perlu dikuatirkan lagi, tidak mungkin gagal.”

Segera ia mengangkat cawan dan menyambung pula, “Marilah kuberi selamat dulu kepada kalian, semoga segala sesuatu berjalan lancar dan sukses!”

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar seorang bergelak tertawa menanggapi, “Hahaha, jika benar kau ingin menyuguh arak, kan jumlahnya masih kurang satu cawan!”

Suara itu berkumandang dari kamar sebelah sana, yaitu kamar si pemuda kurus masuk bersama Hiang-hiang tadi.

Air muka si baju hijau berubah, segera tangannya meraba kantung yang tergantung di pinggangnya, bentaknya. “Siapa itu?”

Maka terlihatlah seorang pemuda cakap melangkah keluar dari kamar dengan kemalas-malasan, badan hampir seluruhnya telanjang, hanya memakai cawat saja.

“Eh, tangan anda itu jangan dikeluarkan,” kata pemuda itu dengan tertawa. “Terus terang, Am gi (senjata rahasia) keluarga Tong tak sanggup kumakan.”

Si baju hijau menyurut mundur dua tindak ucapnya sambil melototi Ong Uh-lau, “Didalam rumah ini ternyata masih ada orang lain, masakah kalian tidak tahu?”

Ong Uh-lau menyengir, jawabnya, “Sudah tentu kami tahu, sebab saudara ini bukanlah orang luar.”

“Oo!” si baju hijau melengak.

Pemuda cakap tadi lantas berkata dengan tertawa hambar, “Hendaklah Anda jangan terlalu tegang, aku ini bukan saja kawan kalian, bahkan juga sahabat baik Ji Hong-ho.”

Secara blak-blakan ia menyebut nama “Ji Hong-ho” di depan Ong Lau-thau, keruan si baju hijau tercengang, sejenak ia melongo, lalu bertanya, “Siapakah nama Anda yang terhormat?”

Pemuda itu menghela napas, jawabnya, “Sebenarnya akupun ingin menyebutkan namaku agar membuat kaget padamu, cuma sayang, aku tidak lebih hanya seorang Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, keroco) saja.”

Ong Uh-lau berdehem, lalu menyela, “Inilah Yang-kongcu, Yang cu-kang, sahabat karib turun temurun Bengcu.”

Mendadak pemuda itu mengulap tangannya, serunya dengan tertawa. “Ah, tak perlu kau bohongi dia dan juga tidak perlu menyanjung diriku. Jangankan Ji Hong-ho tidak kenal ayah-bundaku, sampai-sampai aku sendiripun tidak tahu siapa ayah-ibuku? Masa berani ku bicara tentang persahabatan turun-temurun segala dengan sang Bengcu?”

Air muka Ong Uh-lau menjadi merah, lalu berubah pucat. Sedangkan si baju hijau juga melengak.

Sebaliknya pemuda yang bernama Yang Cu-kang lantas berkata pula sambil menuding hidungnya sendiri, “Tahukah kau sebab apakah aku bernama Yang Cu-kang?”

Si baju hijau ingin tertawa, tapi urung, jawabnya dengan rada gelagapan, “Oo, maaf, aku tidak tahu.”

Maka Yang cu-kang lantas menyambung dengan bergelak tertawa, “Hahaha, sudah tentu kau tidak tahu, sebab urusan inipun tiada sangkut-paut sedikitpun dengan kau, untuk apa kau minta maaf?”

Dia angkat cawan dan menenggak arak, lalu berkata pula, “Supaya kau tahu, bolehlah kuberitahukan padamu, yaitu lantaran aku diselamatkan orang dari banjir Yangcukang (Yangtzekiang, Tiangkang), makanya aku diberi nama Yang Cu-kang. Mungkin begitu aku lahir lantas dibenci orang, sampai-sampai ayah-bundaku juga tidak sudi memiara diriku dan dihanyutkan ke sungai. Agaknya mereka memang orang cerdik, seperti sebelumnya sudah tahu setelah dewasa aku akan semakin dibenci orang.”

Ong Uh-lau, Tong Bu-siang gadungan dan si baju hijau sama melenggong dan tidak menanggapi, namun dalam hati masing-masing sama berpikir bahwa pemuda ini ternyata cukup tahu diri bahwa dirinya dibenci orang.

Yang Cu-kang lantas berduduk, dengan tertawa ia berkata pula, “Untunglah kita tiada maksud bersahabat, sebab itulah tidak menjadi soal meski kalian merasa muak padaku. Ketahuilah, biarpun kalian benci padaku, rasanya juga belum tentu ku suka kepada kalian. Jika bukan atas permintaan Ji Hong-ho, biarpun kalian sediakan tandu bagiku juga ku malas datang ke sini.”

Si baju hijau seperti tidak tahan, katanya dengan dingin, “Sebab apa Bengcu menyuruh anda ke sini, sungguh Cayhe rada-rada tidak paham.”

“Apakah kau betul-betul tidak paham?” Yang Cu-kang menegas dengan tertawa. “Padahal alasannya sangat sederhana, yaitu kuatir jiwa kalian akan disambar orang, makanya aku diminta agar datang kemari untuk melindungi kalian.”

“Hm, sekalipun benar ada orang mengincar jiwa kami, rasanya kami sendiri sanggup melayaninya, tidak perlu Anda ikut berkuatir,” jengek si baju hijau.

“Oo? apa betul kau mampu melayaninya sendiri?” tanya Yang Cu-kang.

“Hmk!” si baju hijau mendengus.

“Wah, jika demikian, tentunya kau anggap kungfumu sendiri cukup hebat, begitu?” tanya Yang Cu-kang dengan bergelak.

“Kalau bicara tentang kungfu, rasanya Cayhe cukup percaya kepada diri sendiri,” kata si baju hijau.

“Hehe, mungkin kau anggap kungfumu sendiri cukup hebat, tapi bagi pandanganku jelas tidak seberapa,” kata Yang Cu-kang dengan terkekeh. “Kalau ku incar jiwamu umpamanya, rasanya terlebih mudah daripada makan nasi.”

Seketika si baju hijau menggebrak meja dan berbangkit.

Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang gadungan saling pandang sekejap, sedikitpun tidak ada tanda-tanda akan melerai, sebab mereka juga ingin tahu sampai dimana lihaynya kungfu Yang Cu-kang ini.

Maka terdengar Yang Cu-kang lagi menghela napas, ucapnya, “Eh, apakah kau bermaksud bertanding denganku?”

“Ya, memang,” jawab si baju hijau dengan gusar.

“Baik!” kata Yang Cu-kang.

Baru saja kata “baik” itu terucap, sinar lampu berkedip, tahu-tahu Yang Cu-kang sudah lenyap.

Jelas si baju hijau sangat terkejut, baru saja ia hendak membalik tubuh, tapi belum lagi tubuhnya berputar, tiba-tiba terasa ada orang meniup hawa di kuduknya.

“Coba, jika benar ku incar jiwamu, tentu kepalamu sudah berpindah rumah, bukan?” demikian terdengar Yang Cu-kang berucap perlahan di belakangnya.

Mendadak di baju hijau berteriak, sebelah tangannya terus berayun ke belakang, serentak sinar perak berhamburan. Tak tahunya di belakang ternyata tiada bayangan seorang pun, Yang Cu-kang sudah menghilang.

Belasan titik sinar perak itu semuanya menancap di dinding dan menimbulkan bunyi nyaring perlahan. Waktu ia berpaling lagi, dilihatnya Yang Cu-kang sudah berduduk kembali di tempat semula, seperti sejak tadi tidak pernah bergeser dari kursinya.

Gerakan pemuda ini sungguh aneh dan cepat seperti hantu, bukan saja Ong Uh-lau dan lain-lain sama melengak, sampai Ji Pwe-giok yang mengintai di balik dinding sana juga terkesiap.

Kalau bicara tentang ginkang, Pwe-giok merasa dirinya tidak mampu membandingi pemuda she Yang itu, bahkan Hay tong-jing yang sombong itupun sukar menandinginya.

Si baju hijau tampak melongo dengan keringat bercucuran, hangus yang terpoles di mukanya juga luntur terguyur oleh air keringatnya sehingga mukanya kelihatan belang-bonteng.

“Nah, bagaimana? Sekarang kau takluk tidak?” tanya Yang Cu-kang dengan tak acuh.

Si baju hijau mengepal kedua tangannya dan tidak mampu menjawab.

Dengan tertawa Yang Cu-kang berkata pula, “Sebenarnya kaupun tidak perlu sedih, sebaliknya kau harus bergembira, sebab kalian mendapat pelindung seperti diriku ini, siapa lagi yang berani ganggu seujung rambut kalian?”

Ong Uh-lau tertawa terkekeh, ucapnya, “Betapa hebat Ginkang saudara, sungguh baru sekarang mataku terbuka benar-benar.”

Tong Bu-siang juga menyanjung, “Kuyakin di seluruh dunia sekarang, tiada seorang pun yang memiliki Ginkang melebihi Yang-heng.”

Walaupun mereka menyanjung, tapi sesungguhnya mereka memang terpengaruh juga oleh kehebatan Ginkang Yang Cu-kang.

Tak terduga, biarpun disanjung, sebaliknya Yang Cu-kang malah menarik muka dan menjengek. “Hm, kata-kata kalian ini tidak beralangan bila diucapkan di dalam kamar ini, tapi kalau kalian siarkan, bisa jadi kepala orang she Yang akan amblas oleh karena propaganda kalian.”

“Ah, janganlah Yang-heng bergurau,” ujar Tong Bu-siang, “Melulu Ginkang Yang-heng ini saja masa perlu takut kepada orang lain?”

Yang Cu-kang mendengus, “Hm, dalam pandangan kalian ginkangku tentu saja luar biasa, hal ini lantaran kalian tidak pernah melihat orang yang benar-benar menguasai kungfu sejati, mungkin mendengar saja kalian tidak pernah.”

Tong Bu-siang merasa penasaran, katanya, “Biarpun pengetahuan kami sangat cetek dan kurang berpengalaman, tapi tokoh-tokoh Kangouw yang terkenal karena Ginkangnya rasanya ada beberapa orang yang kuketahui.”

“O, siapa-siapa saja yang kau ketahui?” tanya Yang Cu-kang.

“Misalnya, Hu-yong-siancu dari Hoa-san-pay, Hay-hong Hujin dari Pek-hoa-bun, An-lian-pancu dari Kay-pang, lalu … lalu tokoh-tokoh yang terkenal sebagai Bu-lim-jit-kim (tujuh unggas dunia persilatan) dan Kanglam-su-yang (empat burung seriti dari Kanglam) serta …”

“Huh, orang-orang begitu juga kau sebut sebagai ahli ginkang?” jengek Yang Cu-kang.

“Meski Ginkang mereka belum dapat menandingi Yang-heng, tapi mereka sudah tergolong jago kelas satu dunia Kangouw.”

“Kelas satu?” Yang Cu-kang menegas. “Huh, mungkin kelas enam saja belum bisa.”

Yang cu-kang menenggak araknya lagi beberapa cawan, kemudian berkata pula dengan pelahan, “Tentunya kalian sudah cukup lama berkecimpung di dunia Kangouw, tapi apakah kalian pernah mendengar suatu tempat yang bernama “Hwe-sing-kok” (lembah gema suara)?”

Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang saling pandang sekejap, lalu menjawab sambil menggeleng, “Tidak … tidak pernah mendengar.”

“Akupun tahu kalian pasti tidak pernah mendengar tempat itu,” ujar Yang Cu-kang, “Sebab kalau kalian pernah mendengar, tentu saat ini kalian takkan duduk dan minum arak bersamaku di sini.”

Air muka Ong Uh-lau berubah, ia tidak tahan, akhirnya ia bertanya, “Apakah di Hwe-sing-kok itu juga terdapat seorang tokoh dengan Ginkangnya yang maha tinggi?”

Yang Cu-kang menghela napas juga, ucapnya, “Tokoh di Hwe-sing-kok itu masa cuma Ginkangnya saja yang maha tinggi, bahkan sudah tergolong Ginkang yang maha ajaib dan mungkin tidak pernah kau bayangkan.”

Ia minum secawan arak pula, lalu menyambung lagi, “Kau tahu sebab apakah tempat itu bernama Hwe-sing-kok? Sebab orang yang tinggal di sana mirip gema suara lembah pegunungan, meski kalian dapat mendengar suaranya, tapi selamanya takkan melihat bayangan mereka. Jika kau bersalah kepada mereka, mereka takkan membunuhmu atau memukul dirimu, tapi begitu kau membuka suara segera kau akan mendengar gema suara mereka yang sama dengan ucapanmu. Jika kau ketakutan dan tiga hari tidak bicara, maka tiga hari itu juga tidak akan terjadi apa-apa, tapi begitu kau bicara, di sampingmu segera akan timbul pula gema suara mereka.”

Pucat muka Ong Uh-lau, katanya dengan menyengir, “Tapi … tapi kalau mereka cuma menirukan caraku bicara kan juga tiada yang perlu ditakuti?”

“Kalau mereka cuma menirukan caraku bicarakan juga tiada yang perlu ditakuti?” kata Yang Cu-kang.

Ong Uh-lau melengak karena ucapan Yang Cu-kang itu jelas ulangan kata-katanya tadi, kembali ia menyengir dan berucap, “Ah, kenapa saudara berkelakar denganku.”

“Ah, kenapa saudara berkelakar denganku!” Yang Cu-kang menirukan pula.

“Ai, saud …saudara ini …”

“Ai, saud …saudara ini …”

Butiran keringat sudah memenuhi jidat Ong Uh-lau, seketika ia tutup mulut dan tidak berani bersuara lagi.

Yang Cu-kang tertawa, katanya, “Nah coba, aku cuma menirukan tiga kalimat ucapanmu, kau pun dapat melihat siapa yang menirukan suaramu, dan kau sudah merasa kesal dan risih, maka boleh kau bayangkan, apabila ada seorang yang tak kelihatan yang senantiasa, setiap saat setiap detik, selalu menirukan caramu bicara, kemanapun kau lari asalkan kau buka mulut, maka suaramu itu seakan-akan lantas bergema di sampingmu. Tapi dengan cara apapun juga, dengan usaha bagaimanapun tetap takkan kau lihat bayangannya.”

Dia berhenti sambil melototi Ong Uh-lau, “Coba jawab, apakah kau dapat hidup tenteram dengan cara demikian?”

Ong Uh-lau sudah mandi keringat, ia terdiam cukup lama, akhirnya menghela napas dan menjawab dengan menyengir, “Hidup dalam keadaan begitu mungkin akhirnya aku bisa jadi gila.”

“Hm, dia justeru ingin membuatmu gila.” jengek Yang Cu-kang. “Jika kau menyalahi dia, meski dia tidak membunuhmu, tapi dia akan memaksa kau bunuh diri. Setahu kami, orang yang pernah digoda oleh mereka, tiada seorangpun yang sanggup bertahan lebih dari tiga bulan.”

Tanpa terasa Tong Bu-siang juga mengusap keringat di dahinya, tanyanya dengan suara parau, “Masa di dunia ini benar-benar ada orang yang menakutkan dengan ginkang sehebat ini?”

“Betapa menakutkan Ginkang mereka mana dapat kulukiskan seluruhnya,” kata Yang Cu-kang, “kalau kau sendiri tidak pernah mengalami, selamanya juga sukar membayangkannya.”

“Jika demikian, kita perlu hati-hati dan jangan sampai berbuat salah kepada mereka,” ujar Tong Bu-siang sambil menyengir.

“Hal ini memang kalian tidak perlu kuatir, mereka tidak nanti mencari setori kepada kalian, jika kalian ingin dicari oleh mereka, sedikitnya kalian harus pulang dan giat berlatih kungfu selama 20 atau 30 tahun lagi.”

Meski mendongkol di dalam hati karena merasa terhina, tapi Tong Bu-siang dan Ong Uh-lau tidak berani lagi membuka mulut.

Dengan tenang Yang Cu-kang menyambung pula, “Kalau bicara tentang Ginkang, tokoh-tokoh dari Hwe-sing-kok itulah yang dapat diibaratkan rajawali diangkasa, orang-orang yang menamakan dirinya Bu-lim-jit-kim atau Kanglam-su-yang apa segala, kalau dibandingkan mereka, paling-paling hanya dapat dianggap sebagai cacing saja.”

“Lantas saudara sendiri bagaimana?” tanya Ong Uh-lau tak tahan.

“Aku? Paling-paling hanya dapat dianggap sebagai seekor burung pipit, begitulah,” sahut Yang Cu-kang dengan tertawa.

“Jika demikian, kan kepala Anda sendiripun setiap saat bisa amblas diprotol orang, cara bagaimana pula engkau akan melindungi orang lain?” tiba-tiba si baju hijau tadi mengejek.

“Untuk ini tidak perlu kalian kuatir.” kata Yang Cu-kang dengan tak acuh, “sebab orang yang mengincar nyawa kalian itu melulu diriku saja sudah cukup kulayani, sedangkan orang yang mampu memprotoli kepalaku itu … Haha, seumpama kau potong kepalamu sendiri dan diantar kehadapan mereka, mungkin memandang sekejap saja mereka tidak sudi, sebab jiwa kalian dalam pandangan mereka tidak laku sepeser pun.”

Si baju hijau terkesima sejenak, tanpa bersuara mendadak ia melangkah pergi. Meski Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang gadungan itu hendak mencegahnya juga tidak keburu lagi.

“Biarkan dia pergi.” jengek Yang Cu-kang.

“Orang ini meski tidak bernilai sepeser pun, kalau dia pergi dengan penasaran, bisa jadi akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik,” ujar Ong Uh-lau.

“Kau kuatir dia akan membocorkan rahasia?” tanya Yang Cu-kang.

“Ya, meski Bengcu sudah berunding dan sepakat dengan dia, tapi orang macam begini kalau sampai hati mengkhianati sanak keluarga sendiri, mustahil tidak tega mengkhianati kita.”

“Kalau begitu, mengapa tidak kau kejar ke sana dan bunuh dia”, ujar Yang Cu-kang.

Ong Uh-lau seperti melengak dan termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa, “Jangan-jangan Anda sengaja membikin dongkol dia supaya angkat kaki dari sini?”

Yang Cu-kang menuang lagi araknya, sahutnya tak acuh, “Betul, berada di tempat begini paling asyik untuk mengobrol dan menghibur diri, jika mesti putar golok dan main pedang, kan tidak cocok dengan keadaan tempat ini. Untuk membunuh orang tidak menjadi soal bagiku, tapi mengacaukan kesenangan, inilah yang tidak dapat kulakukan.”

Kembali Ong Uh-lau termenung sejenak, katanya kemudian. “Masih dua-tiga jam lagi fajar akan menyingsing, kukira dua-tiga jam kan cukup?”

Yang Cu-kang hanya menatap arak dalam cawan, katanya dengan dingin, “Bila urusan ini tidak dapat kau selesaikan sebelum fajar tiba, maka sebaiknya kaupun mencari akal untuk kabur dan menyelamatkan nyawa saja.”

Air muka Ong Uh-lau berubah pucat, tanpa bicara ia terus berbangkit dan menerjang keluar.

Yang Cu-kang masih terus menatap araknya, seperti ingin minum arak dengan matanya, ingin mengguyur rasa sedih dalam matanya dengan arak.

Tong Bu-siang tidak mengerti mengapa pemuda yang dingin dan pongah itu mendadak menjadi sedih, terpaksa iapun tutup mulut dan tidak berani tanya.

Sampai sekian lama barulah Yang Cu-kang berkata pula dengan perlahan, “Tahukah kau sebab apa kusuruh dia membunuh orang, tapi aku sendiri berduduk di sini?” – Ia angkat cawan dan menenggak lagi araknya.

Diam-diam Tong Bu-siang berpikir kalau dalam berduduk dan minum arak di sini, untuk apa susah payah membunuh orang? Walaupun demikian ia membatin, dengan sendirinya ia tidak berani menyatakan perasaannya itu, dia menjawab dengan tertawa. “En… entah, aku tidak tahu.”

“Sebabnya, selama ini akupun tidak pernah membunuh orang” tutur yang Cu-kang dengan suara berat. “Jadi aku tidak ingin melanggar pantangan membunuh demi orang itu.”

Tong Bu-siang melengak, tanyanya, “Haah, Anda benar-benar tidak pernah membunuh orang?”

“Kau tidak percaya?” yang Cu-kang tertawa, tertawa yang hampa, pelahan ia menyambung pula. “Sebenarnya akupun ingin mencicipi bagaimana rasanya membunuh orang, Cuma sayang, sejak kemunculanku belum pernah menemukan seorang yang berharga untuk kubunuh.”

“Orang macam apakah yang sekiranya berharga untuk kau bunuh?” tanya Tong Bu-siang gadungan.

Mendadak Yang Cu-kang menatapnya tajam-tajam dan menjawab, “Akan kukatakan padamu bilamana sudah kutemukan orangnya!”

Tong Bu-siang merasa sinar mata orang tiba-tiba berubah menjadi buram, seperti mata ikan mati, menyeramkan, ia hanya memandang sekejap saja dan merinding.

Untung Yang Cu-kang lantas berdiri, gumannya, “Di dalam kamar masih ada yang menunggu, tempo adalah uang, maaf, tak kutemani kau.”

“Apakah nona itu sudah tidur?” tanya Tong Bu-siang dengan was-was.

“Jangan kuatir” jengek Yang Cu-kang. “Tidak nanti dia mendengar rahasia kita ini, hanya saja sampai saat ini tidak tega kucabut nyawanya… sedikitnya sampai besok malam…”

“Jika demikian, silahkan anda tidur saja sepuasnya…”

“Kau tidak ingin pergi darisini?”

“Pergi?” Tong Bu-siang melengak. “Pergi ke mana?”

“Tong Bu-siang dengan sendirinya harus pulang ke Tong keh-ceng.”

Kembali Tong Bu-siang melengak, katanya kemudian dengan tergagap, “Masa sendirian kupergi ke sana?”

“Memangnya kau anak kecil dan perlu diantar?”

“Akan… akan tetapi…”

Yang Cu-kang menarik muka, katanya, “Masa kau lupa siapa dirimu saat ini?”

Tong Bu-siang menunduk, jawabnya, “Baiklah, sekarang juga ku berangkat.”

Yang Cu-kang tertawa cerah, katanya, “Berangkatlah lekas, mungkin puteri kesayanganmu itu sedang mengharapkan kedatanganmu!”

Dan baru saja Tong Bu-siang melangkah, tiba-tiba Yang Cu-kang bertanya pula, “Setibanya di rumah, apa yang harus kau kerjakan, apakah kau masih ingat?”

“Mana berani kulupakan?” jawab Tong Bu-siang.

“Bagus, berangkatlah kau,” kata Yang Cu-kang, “besok malam mungkin kau sudah sampai di Tong-keh-ceng, sebaiknya malam itu juga kau selesaikan beberapa urusanmu itu, dalam tiga hari bilamana tidak kau selesaikan, sebaiknya kaupun mencari akal untuk menyelamatkan diri saja.”

Dia tertawa, lalu mendelik dan menyambung dengan sekata demi sekata, “Pada waktu bicara hendaknya kau hati-hati, bukan mustahil aku selalu ikut mendengarkan di belakangmu.”

—–

Begitu Tong Bu-siang berangkat, berbareng Pwe-giok, Lui-ji dan Ki Leng-hong lantas ikut keluar juga, cuma mereka tidak berangkat menuju ke arah yang ditempuh tong bu-siang gadungan itu.

Ki Leng-hong berkata, “Untuk membongkar tipu muslihat Ji Hong-ho gadungan itu, kunci utamanya kan terletak pada diri tong bu-siang tiruan itu, mengapa tidak kau kuntit jejaknya?”

“Untuk membongkar rahasia Tong Bu-siang palsu itu, kunci utamanya terletak pada si baju hijau, maka kita tidak mau kubiarkan di dibunuh oleh Ong Uh-lau sehingga hilanglah saksi hidup,” ujar Pwe-giok.

“Menurut kau, sebenarnya siapa dia?”

“Saat ini tidak ada waktu bagiku untuk memikirkannya, sebab pikiranku lagi kusut.”

Ki Leng-hong termenung sejenak, katanya pula. “Tapi beberapa urusan yang akan diselesaikan Tong Bu-siang setibanya di rumah itu tentu sangat besar pula sngkut pautnya dengan urusanmu.”

“Betul,” Lui-ji ikut bicara, “sepulangnya tentu segera ia perintahkan anak muridnya membunuh orang, siapapun yang akan mereka bunuh, orang lain tidak dapat mencegahnya.”

“Selain itu,” tukas Ki Leng-hong, “bilamana resep pembuatan senjata rahasia berbisa keluarga Tong itu sampai diserahkan kepada Ji Hong-ho, hal ini pun bukan suatu urusan kecil, sebab itulah kita harus berusaha untuk merintanginya.”

“Meski urusan ini sangat penting, tapi yang lebih penting kukira tetap si baju hijau yang misterius itu,” ujar Pwe-giok. “Asalkan dapat menemukan dia, maka urusan lain pasti akan terpecahkan dengan sendirinya.”

Mendadak Ki Leng-hong berhentikan langkahnya, katanya, “Baik, boleh kalian mencari si baju hijau, biar ku kembali kesana untuk mengawasi tingkah laku orang she Yang itu, toh dengan kekuatan kalian berdua rasanya sudah lebih daripada cukup untuk melayani Ong Uh-lau dan sibaju hijau.”

“Begini juga baik,” kata Pwe-giok.

Leng-hong tertawa, katanya, “Hendaknya kau pun jangan lupa janji kita, kalau bicara sebaiknya juga berhati-hati, sebab bukan mustahil senantiasa akupun mengintil dan mendengarkan di belakangmu.”

—–

Malam yang sejuk, suasana sunyi senyap.

Embun yang menghiasi jalan raya terbuat dari balok batu itu gemerdep laksana kerlip bintang di langit. Kecuali suara kentongan yang terkadang berkumandang dari kejauhan hampir boleh dikatakan tidak terdengar lagi suara lain.

Di jagat raya yang luas ini seolah-olah tertinggal Cu Lui-ji dan Ji Pwe-giok berdua saja.

Tadi Lui-ji hanya mendengarkan, melihat dan terheran-heran serta tiada hentinya menerka dan menduga, urusan lain sudah terlupakan seluruhnya.

Tapi sekarang, setelah dihembus angin malam yang sejuk, disorot oleh cahaya bintang yang redup, tiba-tiba teringat olehnya apa yang dilakukannya terhadap Pwe-giok itu …

Seketika hatinya seperti dipuntir-puntir, tanpa terasa air matanya akan menetes lagi.

Pwe-giok berjalan dengan cepat, air mukanya juga suram, meski sorot matanya jelalatan dan selalu mengamati segala sesuatu di sekitarnya, tapi sama sekali tidak memandang Lui-ji barang sekejap pun.

“Apakah dia menganggap aku lagi mengganggunya?” demikian pikir si nona.

Mendadak ia berhenti dan berkata, “Aku … akupun akan pergi.”

“Pergi?” Pwe-giok menegas dan melengak sambil berpaling. “Hendak ke mana kau?”

Lui-ji menggigit bibir dan tertawa, katanya, “Banyak sekali tempat yang dapat ku datangi, kukira tidak perlu kau kuatir.”

Kecuali orang buta, siapapun dapat melihat tertawanya yang hampa dan pedih itu. Sungguh Pwe-giok berharap dirinya bisa mendadak berubah menjadi orang buta saja.

Sungguh ia berharap hatinya bisa berubah menjadi keras dan berkata kepada si nona,

“Baiklah jika kau mau pergi silahkan pergi saja, meski menguatirkan kau berkelana sendirian, tapi bila kau ikut bersamaku mungkin akan lebih banyak bahayanya, sebab aku memang tidak sanggup melindungi dirimu, keadaan tidak mengijinkan kubawa serta kau. Jika kau ikut padaku bisa jadi akan lebih membuatmu berduka, sebab tidak mungkin dapat kutemani kau untuk selamanya.”

Apa daya, ia tidak tahu cara bagaimana supaya dia dapat mengucapkan kata-kata itu.

Maka ia tidak bicara apa-apa, hanya pelahan ia pegang tangan Lui-ji, walaupun disadarinya dengan cara demikian tentu akan menambah runyamnya persoalan.

Tapi dia tidak mempunyai cara lain.

Hari segelap itu, angin sedemikian dingin, mana dia tega membiarkan anak dara sebatangkara ini pergi mengembara seorang diri.

Air mata Lui-ji akhirnya juga bercucuran…

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara gemeretak roda kereta dan ringkik kuda dari kejauhan dan makin lama semakin mendekat.

Sudah jauh malam begini, mengapa ada kereta kuda dilarikan secepat ini ?

Kebetulan di tepi jalan sana ada sebuah bak air minum kuda, cepat Pwe-giok menarik Lui-ji dan melompat kesana. Baru saja mereka berjongkok, cepat sekali kereta kuda itu sudah muncul dari tikungan jalan terus dilarikan ke arah sini.

Bagi pandangan orang lain kereta ini hanya sebuah kereta berkabin yang sangat umum, tapi Pwe-giok yakin bila kereta ini kereta berkabin biasa tentu takkan menempuh perjalanan pada tengah malam buta begini.

Tak terduga, setelah memasuki jalan raya ini, lari kereta kuda lantas diperlambat, lalu berhenti dan dari dari dalam kabin kereta mendadak menongol sebuah kepala orang perempuan.

Ketika Pwe-giok mengintip dari balik bak air, dilihatnya rambut perempuan itu hitam gompiok dan digelang dengan hiasan sebuah tusuk kundai kemala hijau, cuma mukanya tidak sempat terlihat.

Terdengar si kusir lagi berkata, “Di depan sana adalah gapura janda Ong, apakah perlu meneruskan perjalanan kesana?”

Perempuan tadi berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Sudahlah, tunggu saja di sini.”

Sebentar lagi ia bertanya pula, “Saat ini kira-kira sudah pukul berapa?”

Si kusir mengusap keringat dengan sebuah handuk kecil sambil menjawab,

“Sudah lewat kentongan ke empat, hampir kentongan kelima.”

“Waktu yang dijanjikan adalah kentongan ketiga (antara pukul 1 tengah malam), jadi kedatangan kita sudah terlambat, mengapa dia malah belum sampai?”

Suaranya penuh rasa gelisah, mirip seorang gadis yang baru saja minggat dari rumah, tapi setiba ditempat yang dijanjikan ternyata tidak bertemu sang kekasih.

Tak terduga, di dalam kabin kereta ada lagi suara seorang perempuan dan bertanya,

“Bisa jadi dia tidak sabar menunggu dan mencari kita ke tempat lain.”

Perempuan pertama seperti tambah gelisah, ucapnya,

“Padahal dia tahu kita pasti datang, mengapa tidak menunggu dulu?”

“Jangan kuatir, dia pasti datang,” kata perempuan yang lain.

Belum habis ucapnya, mendadak sesosok bayangan melayang turun dari wuwungan rumah seberang sana, di bawah remang cuaca malam, wajahnya kelihatan kelam dan sukar diketahui bagaimana mukanya.

Akan tetapi Pwe-giok sudah dapat melihatnya, jelas orang ini adalah si baju hijau yang misterius itu. Kiranya dia juga sudah berjaga-jaga sebelumnya dan telah menyiapkan orang menunggunya di sini.

Terlihat si baju hijau juga sangat gugup dan gelisah, begitu melayang turun ia lantas menggerundel, “Tahukah kau sudah pukul berapa sekarang?”

“Justru lantaran kami memburu waktu, ditengah jalan as kereta patah sehingga datang terlambat…”

Demikian perempuan pertama tadi memberi penjelasan.

“Dan bagaimana dengan kau ? mengapa kau tidak menunggu?”

“Soalnya aku merasa di belakangku seperti ada orang menguntit, maka aku sengaja berputar dulu ke tempat lain,”

Tutur si baju hijau dengan suara parau, sembari bicara ia terus menyusup ke dalam kereta.

Kepala perempuan yang menongol tadi juga mengkeret ke dalam, terdengar dia bertanya,

“Bagaimana, urusannya sudah beres?”

“Wah, ceritanya sangat panjang, lekas berangkat saja !” sahut si baju hijau.

Segera si kusir bersuara menghalau kudanya dan kereta itu dilarikan lagi ke depan dengan cepat…

Biarpun Ong Uh-lau sudah cacat, betapapun dia adalah seorang tokoh Kangouw kawakan, tapi si baju hijau ini ternyata mampu meloloskan diri dari penguntitannya, jelas orang inipun cukup cerdik dan cekatan.

Perempuan yang berada di dalam kereta itu tampaknya juga sangat prihatin, pula perempuan umumnya juga jauh lebih cermat dan hati-hati daripada kaum lelaki, bilamana sekarang hendak menguntit jejak mereka tanpa diketahui, rasanya pasti bukan suatu pekerjaan yang mudah.

Apalagi lari kereta itu sangat cepat, dengan tenaga Pwe-giok dan Lui-ji sekarang mungkin sukar mengintil secara ketat di belakang mereka.

Selagi Pwe-giok ragu-ragu, mendadak Lui-ji melompat keluar dari balik bak air, tubuh si nona yang kecil mungil dan gesit laksana kucing, sekaligus ia melompat ke belakang kereta terus menyusup ke bawah.

Pwe-giok ingin mencegah, tapi sudah terlambat, dilihatnya Lui-ji sudah menempel di bawah kereta, tangannya yang kecil tampak menggapai pelahan padanya, lalu menghilang dalam kegelapan bersama kereta itu.

Nona cilik itu sungguh pemberani, meski merasa kuatir, terpaksa Pwe-giok mengikutinya dari kejauhan. Dalam keadaan demikian ia lebih-lebih harus berusaha agar tidak diketahui lawan, sebelum jelas meraba seluk beluk dan asal usul lawan ia lebih-lebih tidak boleh sembarang bertindak.

Untunglah di tengah malam buta yang sunyi senyap, meski kereta itu sudah dilarikan sangat jauh toh suara gemertak rodanya masih terdengar, dan Pwe-giok lantas menyusul ke sana menuruti arah suara roda kereta.

Kota ini masih asing bagi Pwe-giok, hakekatnya ia tidak dapat membedakan jalan, ia cuma tahu jalan yang dilalui kereta itu semuanya jalan batu yang rajin.

Bar sekarang ia mengetahui kota ini ternyata sangat besar, sudah cukup lama dia menguntit kereta itu dan belum lagi keluar kota.

Kini bajunya sudah basah kuyup oleh keringat, tenaga pun mulai tidak tahan, sebab meski dia baru tidur nyenyak cukup lama, tapi sesudah bangun belum lagi makan sebutir nasipun.

Manusia adalah besi, nasi adalah baja, betapa kuatnya seseorang juga tidak mampu melawan rasa lapar.

Dia boleh tiga hari tiga malam tidak tidur dan dapat bertahan sekuatnya, tapi satu hari tidak makan nasi saja rasanya sudah lemas, kedua kaki terasa lunglai, sekujur badan terasa kosong.

Untunglah pada saat itu laju kereta mulai lambat, suara detak kaki kuda yang semula sangat kerap kini sudah mulai jarang-jarang.

Pwe-giok menghela nafas lega, baru saja ia bermaksud berhenti untuk mengusap keringat, begitu dia mengangkat kepala memandang kesana, seketika ia tercengang, air mukanya juga berubah pucat.

Dilihatnya balok batu jalan raya yang licin dan gemerlap dengan butiran embun, dikejauhan sana ada bayangan gapura besar, di tepi jalan juga ada bak air tempat minum kuda…

Hah, tempat ini bukankah tempat yang sudah dilaluinya tadi ?

Busyet! Jadi kereta ini hanya berputar kayun kian kemari didalam kota. Apakah si baju hijau terlalu iseng habis makan kenyang, maka tengah malam buta pesiar menumpang kereta.

Diam-diam Pwe-giok sudah merasakan gelagat tidak enak, segera ia memburu kesana sekuatnya, dilihatnya kereta kuda itu masih berjalan pelahan ke depan. Jelas kelihatan kuda kelabu berceplok hitam, kereta berkabin yang cukup indah serta si kusir yang kepalanya berikat handuk putih…

Semuanya itu dapat dilihat jelas oleh Pwe-giok, jelas-jelas pula kereta ini adalah kereta yang di kuntitnya tadi.

Tapi mengapa kereta ini hanya berputar-putar saja didalam kota, bahkan berputar balik ke tempat semula. Sesungguhnya apa kehendak si baju hijau yang misterius itu ? sungguh Pwe-giok merasa bingung dan sukar mencari jawabannya.

Ia menjadi serba runyam. Coba bayangkan, dia mengejar setengah malam, letihnya setengah mati, hasilnya dia kembali ke tempat semula. Jika tahu begini sebelumnya, lebih baik dia menunggu saja di sini.

Sementara itu kentongan kelima (antara pukul 4-5) sudah lewat, fajar belum lagi menyingsing dijalan raya masih jarang ada orang lalu, hanya di ujung jalan sana ada sebuah warung yang sudah menyalakan lampu.

Kiranya warung ini menjual tahu, angin malam yang sejuk kini sudah membawa bau sedap bunga tahu serta wedang kacang hijau,

Dalam keadaan dan saat demikian, bau sedap ini bagi Pwe-giok mungkin tergolong daya tarik yang paling besar di dunia ini, hampir saja dia tidak tahan dan ingin menyerbu ke dalam warung itu untuk makan sekenyangnya.

Akan tetapi ia tetap bertahan, ia tidak boleh meninggalkan kereta itu.

Siapa tahu kereta itu lantas berhenti juga di depan warung itu. Cepat Pwe-giok melompat ke emper rumah yang gelap di tepi jalan, ia sembunyi di balik sebuah tong sampah.

Dilihatnya si kusir turun dari keretanya dengan kemalas-malasan, ia minta satu mangkuk wedang kacang, sambil berjongkok di depan warung ia minum wedang kacang itu dengan nikmatnya. Sembari minum, terkadang ia pun berhenti dulu untuk menghela nafas, rasanya seperti sangat puas dengan wedang kacang yang sedap itu.

Anehnya si baju hijau dan kedua perempuan tadi tidak kelihatan ikut turun, didalam kereta juga tiada sesuatu suara apapun, padahal jejak mereka tadi kelihatan sangat misterius dan dilakukan dengan tergesa-gesa, mengapa sekarang mereka cukup sabar berduduk didalam kereta untuk menunggu si kusir minum wedang kacang dengan pelahan ?

Makin dipikir makin dirasakan oleh Pwe-giok ada sesuatu yang tidak beres, waktu ia mengintai ke bawah kereta, keadaan gelap gulita dan tidak terlihat apapun, entah Lui-ji masih menempel di situ atau tidak.

Mau tak mau Pwe-giok merasa cemas dan gelisah.

Dalam pada itu si kusir sudah habis minum wedang kacangnya, dia berdiri dan mengulet, dilemparkannya beberapa mata uang ke dalam mangkuk, tampaknya dia hendak berangkat lagi.

Betapapun sabarnya Pwe-giok kini juga tidak tahan lagi, mendadak ia keluar dari tempat sembunyinya, ia menggapai dan memanggil,

“Hei, kusir, kereta itu menerima penumpang tidak?”

Kusir itu mengusap mukanya dengan handuknya yang sudah kumal, jawabnya dengan tertawa, “Jika kereta kosong tidak terima penumpang, apakah kusirnya tidak makan angin belaka?”

Kereta kosong ?!

Seketika tangan Pwe-giok berkeringat dingin, dengan langkah lebar ia lantas mendekati kereta, mendadak ia menyingkap kerai pintu kereta dan melongok ke dalam…Benar juga, kabin kereta kosong melompong, tiada seorang pun. Waktu ia melongok ke bawah kereta, Cu Lui-ji juga tidak kelihatan lagi.

Keruan kejut Pwe-giok tak terkatakan, ia tidak pantang apa-apa lagi, mendadak ia menubruk maju, baju kuduk kusir itu dicengkeramnya, bentaknya dengan bengis,

“Kemana perginya para tamu penumpangmu tadi?”

Ya, kemana perginya para penumpangnya tadi?

Dan kemana pula perginya Lui-ji ?

Kereta tadi dilarikan dengan sangat cepat, Lui-ji sembunyi di bawah kereta, tulang sekujur badan seakan-akan retak karena diguncangkan oleh kereta itu. Debu yang ditimbulkan oleh kaki kuda dan roda kereta seolah-olah sengaja memusuhi dia, selalu menerobos ke dalam hidungnya. Sungguh ia merasa hidungnya itu hampir berubah menjadi cerobong asap.

Penderitaan itu sungguh sukar ditahan, tapi Lui-ji terpaksa menggertak gigi dan bertahan sedapatnya. Dia bukan saja harus menahan nafas, bahkan juga harus tutup mulut, malahan harus memegangi as roda sekuatnya supaya dia tidak terjatuh dan mungkin digilas oleh roda kereta.

Untunglah pada saat itu dari dalam kabin terdengar suara orang berbicara, hal ini sedikit banyak telah memencarkan perhatiannya dan juga memencarkan rasa deritanya, maka ia lantas pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat…

Didengarnya si perempuan pertama tadi sedang berkata,

“Ai, selama ini, sungguh aku hampir mati rindu padamu. Bagaimana dengan kau? Rindu padaku tidak?”

Terdengar si baju hijau lagi terbatuk-batuk.

Maka perempuan itu berkata pula, “Apakah kau tidak merindukan diriku ?…Mengapa kau tidak bicara?”

Lalu suara perempuan yang lain mengikik tawa dan berkata,

“Tidak perlu kau pantang, ada apa boleh kau katakan saja, anggaplah aku sudah tidur, bukan saja aku tidak mendengarkan percakapan kalian, akupun pasti tidak akan mengintip.”

Karena itu si baju hijau barulah menghela nafas, ucapnya,

“Jika aku tidak memikirkan dirimu, mana.. mana bisa kulakukan hal-hal demikian ini !”

“Apakah kau menyesal?” tanya si perempuan.

“Tidak, sama sekali aku tidak menyesal.” Jawab si baju hijau dengan suara lembut tapi tegas.

“Demi kau, apapun juga dapat kulakukan dan pasti takkan menyesal.”

Perempuan tadi kedengaran bersuara tertahan seperti mendadak dipeluk oleh si lelaki, habis itu lantas tidak terdengar suara apa-apa lagi.

Meski Lui-ji tidak paham apa yang terjadi, tapi diketahuinya juga bahwa dalam keadaan begitu rasanya berdiam akan lebih baik daripada bersuara.

Ia cuma heran apakah si baju hijau rela menjual keluarga Tong hanya demi membela kekasihnya itu? Lantas siapakah gerangan perempuan itu? ada hubungan apa pula antara dia dengan keluarga Tong di Sujwan.

Selang agak lama baru terdengar si perempuan menghela nafas lega, nafas kepuasan. Lalu sambil tertawa dan setengah mengomel ia menghardik,

“Kau budak mampus, katamu tidak akan mengintip, mengapa sekarang mengintip?”

Perempuan yang lain tertawa ngikik, jawabnya,

“Habis, siapa yang tahan melihat kedua kakimu menyepak kian kemari, malahan kusangka kau mengidap penyakit ayan.”

“Sialan !” omel si perempuan pertama.

“Setan cilik ini mungkin lagi birahi dan ingin punya lelaki, makanya bicara seperti orang gila begini,”

Perempuan lain menimpali dengan tertawa, “Ai, entah siapa yang lagi birahi dan ingin dipeluk lelaki, sampai satu detik saja tidak tahan, masa di dalam kereta lantas hendak…hendak main…”

Cepat si baju hijau batuk-batuk lagi, selanya, “Eh, apakah kalian sudah mengatur tempat tujuan kita?”

“Jangan kuatir,” kata perempuan yang lain,

“Begitu toaci menerima beritamu, segera semua urusan telah dibereskannya. Lantaran kuatir siang hari tidak leluasa menempuh perjalanan cepat, dia malah sudah lebih dulu menyuruh orang mengatur suatu tempat tinggal di luar kota, dan sekarang juga kita akan menuju kesana untuk istirahat dan besok malam baru kita berangkat lagi.”

Dia mengikik tawa, lalu menyambung, “Padahal Toaci bukan kuatir tidak leluasa menempuh perjalanan di siang hari segala, dia hanya ingin anu dulu denganmu…”

“Hus, setan cilik, apa kau minta kurobek mulutmu ?!” bentak perempuan yang pertama.

Tampaknya kedua taci beradik itu bersenda-gurau dengan gembira, sedangkan si baju hijau agaknya menanggung sesuatu pikiran, dia berkata dengan suara tertahan,

“Siapakah yang kau suruh mengatur tempat tinggal itu?”

“Dengan sendirinya orang yang dapat dipercaya,” jawab Si perempuan.

“Ai, orang yang dapat dipercaya di dunia ini sesungguhnya tidak banyak,” kata si baju hijau,

“Untuk itu kau…”

“Aku cuma menyuruh dia mengatur pondokan dan tidak kukatakan untuk keperluan apa, dia juga tidak kenal kau…” demikian kata si toaci.

“Tapi kalau kau masih berkuatir, setiba di sana biarlah nanti kubunuh dia.”

Sampai di sini, Lui-ji terkejut pula.

Sungguh tak terpikir olehnya kedua taci beradik yang menarik ini ternyata berhati sekeji itu, membunuh orang dianggapnya seperti makan nasi sehari-hari saja.

Selang sejenak, si baju hijau berkata pula, “Tempat yang telah diatur untuk kalian itu apakah sudah diketahui terletak dimana?”

“Begitu keluar kota segera kita dapat menghubungi dia.” ujar si Toaci.

Si baju hijau termenung sejenak, katanya lagi,

“Jika demikian, boleh kau suruh kusir mengendarai keretanya berputar kayun saja didalam kota.”

“Berputar kayun di dalam kota ? untuk apa?” si Toaci menegas dengan melengak.

“Setiba di depan sana kita lantas melompat keluar, kita keluar kota sendiri dengan berjalan kaki, biarkan kereta ini tetap berputar di dalam kota, dengan demikian, andaikan ada orang menguntit kereta ini juga takkan menjadi soal lagi.”

Perempuan yang lain tertawa, ucapnya,

“Sungguh tidak nyana nyalimu berubah menjadi sekecil ini, kuingat dahulu kau bukan seorang penakut begini.”

“He, jangan.. jangan-jangan telah terjadi sesuatu?” tanya sang Toaci.

“O, tidak, semua syaratku sudah diterima mereka seluruhnya,” kata si baju hijau.

“Kalau begini, urusannya kan sudah berhasil apalagi yang kau takutkan?” ujar si Toaci.

Si baju hijau menghela nafas, katanya,

“Justru lantaran urusan sudah jadi, maka aku harus lebih berhati-hati.”

“Aneh, kenapa bisa begitu?” tanya sang toaci.

“Sebab selalu kurasakan ada sesuatu yang tidak enak, bisa jadi mereka akan membunuhku untuk menutup mulutku !”

“Siapa saja yang bertemu denganmu tadi?” tanya si perempuan kedua tadi.

“Yaitu begundal Ji Hong-ho yang paling dipercaya, Ong Uh-lau dan … dan Tong Bu-siang palsu itu.”

Perempuan kedua itu menjengek, “Hm, jika menguntit, jangan harap lagi mereka dapat pulang dengan hidup.”

“Kedua orang ini tidak menguatirkan, tapi masih ada seorang lagi yang sangat menakutkan,” tutur si baju hijau.

“Siapa dia?”

“Dia mengaku bernama Yang Cu-kang, entah nama asli atau samaran.”

“Apakah ilmu silat orang ini sangat tinggi?”

Si baju hijau menghela napas, katanya, “Selama hidupku ini sungguh belum pernah melihat jago silat yang lebih hebat dari dia, di depannya kungfuku yang kulatih selama berpuluh tahun ini sama seperti permainan anak kecil yang tiada artinya.”

Agaknya kedua taci beradik itupun rada terkejut, seketika keadaan menjadi hening.

Lalu si baju hijau berkata pula, “Apapun juga tidak ada jeleknya jika kita berhati-hati sedikit, lebih-lebih … ” dia menghela napas panjang, lalu menyambung pula, “Segala sesuatu urusanku kan lebih ruwet daripada kalian …”

Dengan tertawa perempuan muda itu memutus ucapannya, “Sudahlah, jangan mengeluh lagi, jika kau mengeluh, sebentar Toaci bisa menangis. Biarlah kuturuti semua kehendakmu.”

Selang sebentar, terdengar dia berkata kepada si kusir, “Lau Wong, kami akan turun di depan sana, tapi kereta jangan berhenti, boleh kau larikan dengan cepat dan berputar kayun di dalam kota, sedikitnya satu jam baru boleh kau hentikan.”

Terdengar si kusir mengiakan.

Lalu perempuan itu berkata pula, “Awas, jika kau bocorkan jejak kami satu kata saja atau kau malas dan tidak menjalankan keretamu sebelum satu jam, maka hukuman apa yang akan kau terima tentunya kau sudah tahu sendiri.”

“Ya, ham … hamba tidak berani,” jawab si kusir.

“Akupun tahu kau pasti tidak berani,” ujar perempuan itu dengan tertawa, “Apalagi ke mana kami akan menuju hakekatnya juga tidak kau ketahui.”

—–

Mendengar mereka akan melompat keluar dari kereta, mulailah Lui-ji merasa gelisah. Sebab kalau dia meneruskan penguntitannya terhadap ketiga orang ini, maka dia pasti akan kehilangan kontak dengan Ji Pwe-giok.

Sebaliknya kalau dia tertinggal di situ untuk memberi kabar kepada Pwe-giok, maka dia akan kehilangan jejak selanjutnya ketiga orang itu.

Padahal hanya diketahuinya pondokan yang dituju mereka terletak di luar kota, tapi rumah di luar kota entah beberapa ratus jumlahnya, darimana dia tahu rumah mana yang akan menjadi pondokan mereka?

Selagi gelisah, tiba-tiba Lui-ji ingat sekotak Yanci (pupur merah, gincu) yang dibawanya, Yanci ini adalah kado pemberian nona penghuni Bong-hoa-lau pada waktu di “menikah” semalam.

Yanci ini sangat bagus warnanya, bahkan dusnya juga sangat indah buatannya, konon produksi termasyhur pabrik kosmetik “Thian-hiang-cay” di Peking.

Lui-ji sangat senang pada Yanci itu, maka sekotak lantas disimpannya dalam baju. Tatkala mana tak terpikirkan olehnya bahwa yanci ini akan berguna baginya.

Tapi sekarang terpikirlah olehnya, dengan sebelah tangannya ia mengeluarkan kotak kecil yanci itu, ia remas pecah dusnya, dengan yanci itu ia menulis beberapa huruf di bawah kereta, bunyinya, “Aku menguntit keluar kota …”

“Meski cuma beberapa huruf saja ditulisnya, tapi tangan sudah terasa pegal, selagi ia mengaso dan hendak menulis lagi, tiba-tiba ada suara dalam kabin kereta, terdengar si baju hijau berkata, “Di sini kelihatan sepi, ayo kita keluar!”

Habis itu lantas kelihatan tiga orang melompat keluar kereta, sekali kaki mereka menempel tanah, serentak mereka melejit lebih jauh lagi ke sana. Gerakan kedua Taci beradik itu ternyata jauh lebih cepat dan gesit daripada si baju hijau.

Segera Lui-ji juga kendurkan pegangannya, “bluk”, ia terbanting di tanah dan hampir-hampir kelenger, tapi ia tidak menghiraukan rasa sakit lagi, cepat ia melompat bangun terus mengejar ke sana.

Ia merasa Ginkang sendiri jauh lebih tinggi satu tingkat ketimbang ketiga orang itu, maka sedikitpun ia tidak kuatir jejaknya akan diketahui lawan.

Sementara itu si kusir sudah melarikan kereta ke arah lain dan juga tidak mengetahui ada seorang jatuh dari bawah keretanya.

Diam-diam Lui-ji bersyukur dan bergirang akan hasil kerja dirinya ini, ia merasa penguntitannya sekali ini boleh dikatakan “tabah dan hati-hati, gesit dan bersih”, biarpun tokoh Kangouw kawakan juga belum tentu dapat bekerja sebagus ini.

Dia lupa bahwa umumnya orang yang semakin berpengalaman di dunia Kangouw nyalinya justeru bertambah ciut. Orang yang bernyali besar seperti dia tidak nanti tahan 20 atau 30 tahun berkecimpung di dunia Kangouw. Sebab orang demikian biasanya pasti tidak berumur panjang.

Dilihatnya ketiga orang di depan itu makin menuju ke tempat yang sepi dan terpencil, karena itu langkah mereka pun tidak lagi berhati-hati seperti semula, tiada seorang pun yang menoleh ke belakang.

Tentu saja Lui-ji bertambah berani, diam-diam iapun tambah senang, pikirnya, “Kalian mengira sudah dapat melepaskan diri dari orang yang menguntit, tentunya kalian tidak tahu masih ada diriku!”

Kini dia sudah dapat melihat jelas perawakan kedua taci beradik itu, mereka berbaju yang sangat serasi dengan garis tubuh masing-masing, potongan badan mereka sangat menggiurkan orang, biarpun sedang berlari dengan Ginkang juga kelihatan pinggang mereka yang ramping dengan gaya yang menarik.

Cuma sayang Lui-ji tetap belum sempat melihat wajah mereka.

Setelah berjalan sekian jauhnya, kedua kakak beradik kembali bersenda gurau lagi.

Karena tidak berani terlalu dekat, maka Lui-ji tidak dapat mengikuti apa yang sedang dipercakapkan mereka.

Dalam pada itu di ufuk timur sana sudah remang-remang, fajar sudah mulai menyingsing. Tertampak sawah membentang di depan sana, padi menguning melambai-lambai terusap angin laksana gelombang ombak.

Di tepi sawah sana ada tiga atau lima buah gubuk, di ujung rumah meringkuk seekor anjing penjaga, ketika mencium bau orang asing, mendadak anjing itu melompat bangun dan menggonggong.

Di belakang rumah sana ada sebuah kolam ikan, ada kebun kecil di samping kolam dengan tanaman sayur yang tampak menghijau segar, kebun itu dikitari pagar bambu yang dirambati akar-akaran yang berbunga kuning kecil yang sedang mekar dengan indahnya.

Itulah gambaran sebuah rumah petani yang aman tenteram dan adem-ayem. Akan tetapi Lui-ji justeru merasa seperti kekurangan sesuatu. Dia memang dibesarkan di suatu kota kecil, terhadap pemandangan dan suasana pedusunan sudah tidak asing lagi. Di sini juga ada sawah dan padi, ada kebun dan sayur, ada rumah gubuk, ada kolam ikan, bahkan juga ada anjing penjaga rumah.

Lantas apa yang dirasakannya masih kurang?

Mendadak ketiga orang di depan itu berhenti, lalu celingukan kian kemari, habis itu mereka lantas langsung menuju ke rumah petani itu. Perempuan yang berbadan lebih padat itu malahan berkata dengan tertawa, “Tentu inilah tempatnya, pasti tidak salah lagi.”

Dia berbicara dengan suara cukup keras, sampai Lui-ji juga dapat mendengar dengan jelas.

Si baju hijau juga berkata, seperti lagi bertanya, “Darimana kau tahu pasti tidak salah?”

Lalu perempuan tadi menjawab, “Sebab di sini tidak ada ayam berkotek, pernahkah kau melihat orang kampung tidak piara ayam?”

Perempuan yang lain menyela dengan tertawa, “Orang tani piara ayam atau tidak, Toa-siauya (tuan muda) yang hidup senang di gedung megah seperti dia mana bisa tahu.”

Si baju hijau seperti benar-benar tidak paham, kembali ia bertanya, cuma suaranya sangat rendah sehingga tidak terdengar oleh Lui-ji.

Maka perempuan muda satunya berkata pula dengan tertawa, “Keluarga petani tidak ada yang tidak piara ayam, tapi ayam jantan adalah makhluk yang paling dipantang oleh kami. Bahwa rumah ini tidak ada ayam, tentu karena semua ayam di sini sudah di bunuh oleh orang suruhan kita itu.”

Mendengar sampai di sini barulah teringat Lui-ji bahwa sesuatu yang dirasakan kurang tadi kiranya adalah ayam yang dibicarakan mereka itu. Sebab ia pun tahu pada umumnya kaum petani pasti piara ayam.

Tapi mengapa kedua perempuan ini bilang pantang pada ayam jago atau jantan?

Hal ini biarpun direnungkan orang selama tiga hari tiga malam mungkin juga belum dapat memahami alasannya. Tapi hanya berpikir sejenak saja Lui-ji lantas mendapatkan jawabannya, tahulah dia apa sebabnya.

Tanpa terasa ia tertawa geli sendiri dan bergumam. “Wah, kiranya mereka adalah sekaum dengan diriku, menarik juga jika demikian.”

Ia tahu ayam jantan adalah musuh dari segala makhluk berbisa, terutama sebangsa kalajengking, kelabang dan sebagainya. Sebab itulah golongan dan aliran Kangouw yang mengandalkan keahlian mereka dalam hal penggunaan racun, semuanya memandang ayam jago sebagai makhluk yang tidak mendatangkan berkah, semuanya pantang melihatnya, apalagi memelihara.

Usia LUi-ji masih muda, tentunya tidak banyak mengetahui seluk beluk orang Kangouw, tapi dia adalah seorang ahli racun, ahli yang tiada taranya, dengan sendirinya alasan orang-orang itu pantang melihat ayam jago dengan segera dapat dipahaminya.

Sementara itu orang di dalam rumah gubuk itu sudah terjaga bangun oleh suara gonggong anjing tadi.

Seorang lelaki berbaju hijau tampak melongok keluar, ketika melihat kedua perempuan muda itu, seketika ia berdiri dengan hormat sehingga urung menguap kantuk, dengan membungkuk tubuh ia menyapa,

“Baru sekarang Tongcu tiba ? maaf hamba tidak sempat menyambut kedatanganmu.”

Kedua perempuan muda itu hanya mengulapkan tangannya, lalu masuk ke rumah gubuk itu. Anjing tadi masih terus menyalak, tapi setelah didepak satu kali oleh lelaki tadi, sambil mengaing anjing itu lari terbirit-birit dengan mencawat ekor.

Pintu rumah gubuk itu kemudian tertutup, menyusul cahaya lampu lantas kelihatan terang di balik jendela.

Pelahan Lui-ji merunduk kesana, ia sembunyi di belakang rumah gubuk lain yang dijadikan lumbung padi, meski melihat kedatangan orang asing lagi, namun anjing itu rupanya sudah kapok dan tidak berani menggonggong pula, hanya lidahnya tampak terjulur dengan nafas terengah-engah.

Kertas perekat jendela tampaknya masih baru, masih putih bersih, Lui-ji sangat ingin mendekat jendela untuk mengintip, tapi setelah dipikir lagi kini pondokan ketiga orang ini sudah diketahui, seharusnya dia cepat putar balik kek kota untuk mencari Pwe-giok, sebab ia dapat membayangkan saat ini anak muda itu pasti sangat gelisah karena tidak menemukan dia.

Selagi ia merasa ragu, entah mesti maju atau harus mundur, tak terduga, pada saat itu juga di sampingnya mendadak ada orang mengikik tawa, suara tertawa nyaring seperti bunyi keleningan.

Keruan Lui-ji terkejut, cepat ia berpaling, dilihatnya dua orang muncul dari depan lumbung, siapa lagi kalau bukan kedua perempuan misterius tadi.

Akhirnya dapatlah dia melihat muka mereka.

Nyata, mereka tidak cuma cantik, bahkan membawa semacam daya tarik yang sukar dilukiskan, daya tarik genit ini seolah-olah timbul dari tulangnya sehingga tidak dapat ditiru oleh siapapun.

Meski pakaian mereka hanya terbuat dari kain kasar, namun para nona penghibur di Bong-hoa-lau sana satu jari saja tak dapat membandingi mereka, bahkan menjadi babunya saja tidak setimpal.

Perempuan yang bertubuh lebih padat agaknya bermata lebih besar sedikit, tapi adik perempuannya tampaknya lebih kuat daya tariknya, tertawanya juga lebih menggiurkan.

Sambil tertawa si adik memandang Lui-ji, ucapnya dengan lembut, “Eh, nona cilik, angin pagi sedingin ini, apakah kau tidak takut masuk angin?”

Mata Lui-ji yang jeli itu berkedip-kedip, iapun tertawa dan menjawab, “Justru lantaran merasa kegerahan di rumah, maka ku keluar untuk mencari angin.”

“Ooo, kau tinggal di sekitar sini?” tanya perempuan muda tadi.

Lui-ji mengiakan.

“Jika demikian, kita kan tetangga”

“Memangnya, siapa bilang bukan?” ujar Lui-ji dengan tertawa.

Perempuan muda itu tertawa, katanya, “Jika kita bertetangga, marilah duduk di dalam, kebetulan ada bakso yang baru ku bikin, masih panas-panas, segar menghangatkan badan.”

Dengan tertawa Lui-ji menjawab, “Baiklah, sejak tadi memang ada maksudku hendak belajar kenal dengan kalian, apalagi sekarang akan disuguh bakso”

Sejak tadi si Taci hanya berdiri dengan tertawa, sekarang iapun menyatakan setuju dengan berkeplok, “Kami baru saja pindah ke sini dan lagi merasa kesepian karena tidak ada kenalan, siapa tahu di pedusunan ini ada nona sepintar dan secantik kau ini.”

Begitulah mereka terus membawa Lui-ji ke dalam rumah, bahkan berulang-ulang memuji Lui-ji, katanya, “cantik dan lincah” dan bermacam-macam lagi, tampaknya seperti benar-benar sangat gembira.

Padahal dengan sendirinya sejak tadi-tadi mereka sudah mengetahui jejak mereka diikuti Lui-ji, mereka memang sengaja berlagak lengah, maksudnya justru hendak memancing Lui-ji ke sini.

Kini setelah diketahui Lui-ji cuma seorang nona cilik, dengan sendirinya pula tidak begitu dirisaukan oleh mereka. Tak tahunya bahwa Lui-ji sendiri juga tidak memandang berat mereka.

Lui-ji bukan anak bodoh, dengan sendirinya iapun tahu maksud tujuan mereka, tapi bila teringat kemahiran andalan kedua kakak beradik itu adalah menaruh racun, maka diam-diam Lui-ji tertawa geli.

Ia membatin, “Huh, memangnya kalian mengira aku ini dapat dikerjai sesuka hati kalian? Huh, ketanggor diriku, kalian yang bakal celaka.”

Begitulah diam-diam ia merasa kedua kakak beradik tidak tahu diri dan berani main racun dengan seorang ahli.

Tak terduga olehnya bahwa di dalam rumah gubuk itu ternyata dipajang cukup resik dan apik, semuanya serba bersih, setiap benda seolah-olah sudah digosok dan dicuci berpuluh kali.

Tapi si baju hijau tidak kelihatan di dalam rumah, lelaki yang menyambut kedatangan mereka tadi juga sudah hilang. Diam-diam Lui-ji heran, pikirnya, “Jangan-jangan mereka sudah membunuhnya.”

Si adik lantas memegang tangan Lui-ji dan bertanya ini dan itu, “Eh, adik cilik, kau she apa? Tinggal dimana? Berapa umurmu? Ada siapa-siapa lagi di rumahmu?”

Dan Lui-ji juga menjawab sekenanya, sampai dia sendiri merasa geli. Baru sekarang ia merasakan bahwa dirinya ternyata juga berbakat untuk berdusta.

Ia tidak tahu bahwa berdusta adalah bakat pembawaan setiap perempuan, sebaliknya lelaki harus mengalami latihan cukup lama baru mahir berdusta.

Selang sejenak, sang Taci muncul dari dapur dengan membawakan tiga pasang sumpit, tiga sendok, satu piring “intip” goreng dan tiga mangkuk baso.

“Intip”, yaitu lapisan nasi yang menempel di bagian dasar kuali, adalah makanan yang biasa di rumah petani. Bakso yang dibawakan itu memang masih mengepulkan asap, jelas memang sarapan yang disediakan oleh lelaki yang mendepak anjing tadi.

“Eh, adik cilik, bakso harus dimakan selagi panas, kalau sudah dingin tidak enak,” kata si Taci dengan tertawa. “Ayolah makan mumpung panas.”

Lui-ji berkedip-kedip, tiba-tiba ia berkata, “Ah, tidak, aku tidak berani makan.”

Si taci seperti terkesiap, tanyanya, “Sebab apa tidak berani makan?”

“Maklumlah kami orang udik, kecuali tahun baru atau hari raya, hampir tidak pernah makan daging. Kalau sekarang harus kumakan semangkuk besar bakso ini ku kuatir perutku bisa mules.”

“Hihi,” kata si Taci tertawa riang, “jangan kuatir, meski bakso ini memakai macam-macam bumbu, tapi gemuknya tidak banyak, tak nanti membikin perut mules.”

“Apakah benar takkan mematikan orang?” tanya Lui-ji dengan tertawa.

Air muka si Taci seperti berubah sedikit, ia pandang adiknya.

Si adik lantas mengikik tawa, katanya, “Ai, adik cilik ini memang suka bergurau, masa bakso bisa membunuh orang?”

Lui-ji mengerling, katanya dengan tertawa, “Baiklah, kalau begitu, akupun tidak sungkan-sungkan lagi.” Dan benar-benar ia lantas berduduk dan makan bakso dengan nikmatnya.

Kedua kakak beradik itupun mengiringinya makan, diam-diam kedua orang saling berkedip.

Dengan kedipan matanya si adik lagi tanya sang Taci, “Kau taruhi “bumbu istimewa” tidak ke dalam bakso ini?”

Dan sang taci seperti menjawab, “Tidak nanti ku lupa!”

Tak terduga mendadak Lui-ji berkata dengan tertawa, “Wah, lezat benar bakso ini, cuma sayang aku rada tidak bisa menikmati bumbu istimewa yang kalian gunakan ini.”

Kembali kedua kakak beradik itu tercengang, dengan tertawa genit si adik berkata, “Di dalam bakso ini mana ada bumbu istimewa segala?”

“Masa tidak ada?” ujar Lui-ji. “Tapi mengapa lidahku terasa kesemutan.”

“O, mungkin terlalu banyak garam.” kata si Taci.

Lui-ji menghela napas, gumamnya, “Terlalu banyak menaruh garam terkadang juga bisa bikin orang mati keasinan.” Tengah bicara orangnya terus memberosot ke bawah kursi.

Kedua kakak beradik itu seperti terkejut dan berseru, “he, adik cilik, kenapa kau?”

Tapi lewat sejenak pula Lui-ji masih tetap terkapar di bawah meja tanpa bergerak sedikitpun, dari ujung mulutnya merembes keluar busa putih. Sampai di sini barulah kedua kakak beradik itu menghela napas lega.

Si adik tepuk-tepuk ulu hatinya sendiri dan berkata, “Tadi aku benar-benar dibuat kaget, dari ucapannya itu kusangka dia ini seorang ahli.”

“Jika benar dia seorang ahli tentu dia takkan makan bakso suguhan kita ini,” ujar sang Taci.

“Cukup tidak kadar obat yang kau gunakan?” tanya si adik.

“Pas, tanggung tidak kurang dan tidak lebih,” jawab sang Taci. “Sekalipun ahli racun seperti Oh-lolo, setelah minum kuah bakso ini pasti juga akan menggeletak tak berkutik.”

“Siuut”, mendadak si baju hijau melompat ke belakang sana, ia berjongkok dan memandang Lui-ji sekejap, lalu berkata sambil berkerut kening. “Mana boleh kau racun mati dia.”

Si Taci menarik muka, tanyanya, “Mengapa tidak boleh? Jangan-jangan kau kenal dia?”

Belum lagi si baju hijau menanggapi, si adik telah menyeletuk dengan tertawa, “Wah, cara bicaramu kudu hati-hati, Cici sudah minum cuka (maksudnya cemburu)”

Si baju hijau menghela napas, katanya kemudian sambil menyengir, “Ai, justru karena aku tidak kenal dia, maka perlu dia dibiarkan hidup”

Tapi sang Taci masih bersungut, tanyanya, “Untuk apa? Memangnya kau ingin berkawan dengan dia?”

Dengan gugup si baju hijau menjawab, “Kita kan perlu tanya dia siapa yang menyuruhnya mengikuti jejak kita dan masih adakah orang lain yang datang bersama dia?”. Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas dan menyambung pula, “Ai, dalam keadaan demikian masa kau cemburu padaku dan tetap tidak percaya padaku?”

Si Taci tertawa cerah, dari belakang ia rangkul pinggang si baju hijau, ucapnya dengan suara lembut, “O, masa aku tidak percaya padamu? Aku…aku cuma main-main saja denganmu”

Segera si adik berseloroh, “Baiklah, jangan kau marah. Jika cici tidak suka padamu, untuk apa dia cemburu. Bagiku, bilamana ada orang mau cemburu padaku, bukannya marah sebaliknya aku akan gembira malah”

Si baju hijau lantas tertawa, katanya, “Aku kan tidak benar-benar marah, hanya saja…”

“Jangan kuatir, kadar racun yang kuberikan itu tidak terlalu keras, untuk sementara ini dia tidak akan mati” tukas si Taci. “Jika kau ingin menanyai dia, segera dapat ku sadarkan dia”

Di luar dugaannya, belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Lui-ji menanggapinya dengan tertawa. “Kukira kau tidak perlu repot-repot, asalkan kalian menghendaki aku hidup lagi, aku sendiri segera dapat hidup kembali”

Sembari bicara, secepat kilat iapun turun tangan, saat itu si baju hijau bermaksud memeriksa denyut nadinya, maka pergelangan tangannya seketika kena dicengkeram oleh Lui-ji.

Sungguh tak terpikir oleh si baju hijau bahwa si nona cilik yang sudah mati keracunan ini dapat hidup kembali secara mendadak, lebih-lebih tidak menyangka kungfunya sedemikian tinggi, seketika sekujur badannya terasa kesemutan dan tidak bisa berkutik lagi.

Kedua kakak beradik itupun melenggong terkejut, si adik melototi sang Taci, agaknya ingin bertanya, “Apa-apaan ini? Jangan-jangan memang benar garam kau gunakan sebagai racun?”

Tapi sang Taci juga tidak kurang kaget dan bingungnya, sungguh ia tidak paham mengapa bisa jadi begini?

Dengan tangan sendiri ia taruh racun di dalam kuah bakso, hal ini tidak mungkin keliru, apa lagi kadar racun yang ditaruhnya itu cukup keras, seekor kudapun akan menggeletak.

Akan tetapi racun sekeras itu bagi nona cilik ini ternyata tidak manjur sama sekali.

Lui-ji tertawa ngikik sambil memandangi mereka yang melongo itu.

Biji mata si adik berputar, tiba-tiba iapun tertawa dan berkata, “Adik cilik, apakah kau kira kami benar-benar hendak meracuni kau? Tadi kami hanya menakut-nakuti kau saja. Coba kau pikir, bila benar di dalam bakso ada racunnya, apakah kau tahan?”

Lui-ji mengangguk, jawabnya, “Benar, jika dalam bakso benar ada racunnya, kan aku sudah mati sejak tadi.”

“Makanya, yang kami taruh di dalam kuah bakso itu hanya bumbu saja sebangsa garam dan merica” ujar si adik dengan tertawa genit. “Malahan bumbu masak itu adalah oleh-oleh seorang paman kami yang baru pulang dari luar negeri”

“Ooo?” Lui-ji bersuara seperti heran.

Mendadak si adik berlari ke dapur dan keluar lagi dengan membawa satu botol kecil, serunya dengan tertawa, “Coba lihat, adik cilik, bumbu masak semacam inilah, barang impor, sukar dicari, masakah kau kira racun segala?”

“Apakah benar-benar bukan racun? Bolehkah kucicipi sedikit?” kata Lui-ji.

Kehendak Lui-ji ini seperti di luar dugaan kedua kakak adik itu dan tentu saja membuat mereka kegirangan, sebab mereka sedang mencari alasan agar Lui-ji mau mencicipi “bumbu masak” itu, siapa tahu Lui-ji sudah mau mencicipi sendiri sebelum diminta.

Segera si adik berkata, “Silahkan saja mencicipinya, rasanya gurih, bila beracun, boleh kuganti nyawamu.”

“Jika beracun, bukankah aku akan mati seketika, cara bagaimana dapat ku tuntut ganti nyawa padamu?” ujar Lui-ji.

Si adik melengak pula, sahutnya dengan tergagap, “Oo, ta… tapi”

Selagi bingung karena tidak tahu cara bagaimana harus menjawab, tiba-tiba Lui-ji berkata pula dengan tertawa, “Coba lemparkan botolmu itu, bumbu masak segurih ini betapapun harus kucicipi sedikit.”

Sehabis menerima botol kecil itu, ia gigit sumbat botol dan dibukanya, maklum, sebelah tangannya masih repot mencengkeram pergelangan tangan si baju hijau.

Kedua kakak beradik itu benar-benar dibuat bingung oleh nona cilik yang angin-anginan ini, sungguh mereka tidak tahu Lui-ji ini nona pandai atau orang sinting?

Tapi ketika Lui-ji menuang bubuk di dalam botol ke mulutnya, tanpa terasa wajah kedua kakak beradik itu menampilkan rasa girang. Sebab mereka tahu obat di dalam botol itu bukan saja racun, bahkan racun yang sangat lihai, sekarang mereka menyaksikan sendiri nona cilik itu menuang bubuk racun di atas lidahnya, jelas sekali ini tidak salah lagi, diam-diam mereka tertawa gembira dan membatin, “Budak cilik ini ternyata seorang tolol.”

Terlihat mulut lui-ji sedang berkecek-kecek, seperti orang makan coklat yang sedap, bahkan nona cilik itu lagi berkata dengan tertawa, “Wah, memang benar sangat enak. Dapat mencicipi barang selezat ini, biarpun mati keracunan juga rela.”

Sembari bicara ia terus menuang seluruh isi botol ke dalam mulut.

—–

Cara bagaimana Cu Lui-ji akan memperdayai ketiga pecundang itu?

Anak buah siapakah dan ada hubungan tugas apa antara kedua Taci dan si baju hijau?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

3 Comments »

  1. […] “Tutup bacotmu!” bentak Ong Uh-lau dengan gusar. (more…) Leave a Comment […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm

  2. […] Imbauan Pendekar – 06 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:30 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm

  3. […] bacotmu!” bentak Ong Uh-lau dengan gusar. (more…) Leave a […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: