Kumpulan Cerita Silat

05/06/2010

Imbauan Pendekar – 05

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:29 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Nugi, Robin dan Kunamisme)

Hiang-hiang memijit pergelangan tangannya yang kesakitan sambil memandang Hay Tong-jing.

“Apa katamu?” tanya Hay Tong-jing.

“Kulihat kau pasti juga menyukai nona Cu itu, cuma sayang dia sudah…”

“Plak”, belum habis ucapan Hian-hiang, tahu-tahu Hay Tong-jing telah menggamparnya sehingga dia mencelat jauh ke sana dan terbanting cukup keras.

Keruan nona yang lain menjadi ketakutan dan tiada yang berani bergerak.

Hiang-hiang menangis sambil mendekap mukanya, ratapnya, “Kejam amat kau, jika mau, bunuh saja diriku sekalian!”

Dengan suara bengis Hay Tong-jing membentak, “Supaya kau tahu, jangan kau main gila di depanku, jika kau berani menangis lagi, bisa kubinasakan kau dahulu”

Hiang-hiang benar-benar tidak berani menangis lagi, “Orang galak hanya takut pada orang yang lebih galak”, agaknya pepatah ini memang beralasan. Perempuan macam Hiang-hiang, bilamana kau sungkan padanya, maka yang celaka adalah dirimu sendiri.

Hay Tong jing lantas berkata pula, “Baik, sekarang berdirilah kau, tunjukkan padaku di mana mereka.”

Sambil menangis Hiang-hiang menjawab, “Tidak perlu cari lagi, mereka… mereka sudah pergi sejak tadi.”

“Hm, memang sudah kuketahui tiada sepatah katapun ucapanmu dapat dipercaya.” jengek Hay Tong-jing. Mendadak ia menyeret bangun Hiang-hiang, lalu membentak pula, “Coba katakan, kemana mereka pergi?”

“Nona … nona Cu itu seperti mengidap penyakit berat apa, rupanya dia menyadari umurnya tidak panjang lagi, maka Ji-kongcu didesak agar menikahi dia, bahkan kami dipaksa mengadakan perayaan bagi perkawinannya,” tutur Hiang-hiang.

Cerita ini mau tak mau harus dipercaya oleh Hay Tong-jing, diam-diam ia seperti menghela napas, tanyanya kemudian, “Lalu bagaimana?”

“Lalu merekapun masuk kamar pengantin, malahan aku diminta menjadi pengapitnya, dengan sendirinya akupun ikut bahagia bagi mereka, siapa tahu begitu masuk kamar pengantin, mendadak … mendadak nona Cu itu …”

“Mendadak kenapa?” Hay Tong-hiang menegas dengan terkesiap.

“Baru saja mereka masuk kamar, seketika nona Cu roboh, tujuh lubang inderanya mengeluarkan darah, keadaannya sungguh sangat mengerikan. Aku menjadi kaget dan ketakutan, hampir saja ku jatuh pingsan. Kulihat Ji-kongcu itu menatap mayat nona Cu dengan terkesima seperti orang linglung, mendadak ia memondong mayat nona Cu terus dibawa keluar…” Hiang-hiang menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan rawan, “Ketika kususul keluar, ternyata mereka sudah menghilang entah kemana, sungguh cepat sekali lari Ji-kongcu itu seperti bisa terbang saja, betapapun tak dapat kususul dia.”

“Mengapa kejadian ini tidak kau ceritakan sejak tadi?” bentak Hay Tong-jing.

“Karena…karena para saudara di sini tidak ada yang tahu kejadian ini, maka sengaja ku tutup rahasia ini,” jawab Hiang-hiang dengan menunduk.

“Mengapa kau tutup rahasia ini bagi mereka?” Dengan muka merah Hiang-hiang menjawab, “Ku kuatir bilamana diketahui di kamarku ada orang mati, kalau cerita ini tersiar dan diketahui para tamu langgananku, bisa jadi semua langgananku akan meninggalkan diriku.”

Cerita ini memang cukup beralasan dan masuk akal, sedikitpun tidak ada titik kelemahannya.

Apalagi Hay Tong-jing juga mengetahui Cu Lui-ji memang keracunan dan racun akan bekerja hari ini, bilamana si nona mati keracunan, ia tahu Ji Pwe-giok pasti juga akan sangat berduka. Dan seorang kalau terluka berduka, dengan sendirinya tindak-tanduknya akan luar biasa dan tidak mengherankan jika mendadak ia lari pergi dengan membawa mayat Cu Lui-ji.

Apalagi, para nona di rumah hiburan demikian pada umumnya tentu bersaing berebut langganan, jik orang lain mengetahui ada tamu mati di kamarnya Hiang-hiang, tentu mereka akan senang dan bersyukur malah.

Dan para tamu yang biasa berkunjung ke situ tentu juga tidak mau lagi datang lagi bila mengetahui kamar Hiang-hiang pernah ada kematian tamu. Jadi hal ini tentu saja akan ditutupi oleh Hiang-hiang dan takkan diceritakannya kepada siapapun juga bilamana tidak terpaksa.

Mestinya Hay Tong-jing bukan orang yang gampang ditipu, tapi sekarang dia memang tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada keterangan Hiang-hiang itu, mau tak mau ia harus percaya.

Ia termangu-mangu sejenak, katanya kemudian sambil melototi Hiang-hiang, “Untuk sementara ini biarlah kupercaya keteranganmu ini, tapi kelak bila diketahui kau dusta padaku sekata saja…Hmk!”

“Jika kelak diketahui ku dusta padamu, boleh kau bunuh saja diriku dan takkan kusesali dirimu,” jawab Hiang-hiang dengan menangis.

Hay Tong-jing tidak memandangnya lagi, dengan langkah lebar ia terus tinggal pergi.

Tapi mendadak Hiang-hiang memburu maju dan menarik lengan bajunya sambil berseru,” Apa…apa betul kau akan pergi begini saja?”

“Sudah tentu pergi begini saja, ada apa lagi?” jawab Hay Tong-jing.

“Dengan setulus hati ku cinta padamu, mengapa kau berbalik tidak setia dan tidak berbudi padaku?” kata Hiang-hiang.

Hay Tong-jing mendengus. “Hm, terhadap orang macam kau ini juga bicara tentang setia dan budi, hah, mungkin kau ini seorang sinting.”

Dengan keras ia kipatkan tangan Hiang-hiang dan melangkah pergi tanpa menoleh.

Hiang-hiang tidak mencegahnya pula, setelah Hay Tong-jing sudah pergi jauh barulah ia meludah ke lantai sambil mencibir, “Cis memangnya kau kira dirimu sangat cerdik? Huh, masih jauh! Biarpun kau pintar seperti setan juga dapat ku kerjai.”

Baru sekarang si nona bermuka apel tadi mendekati Hiang-hiang, katanya, “Bocah ini sudah buas lagi kejam, kenapa tidak mencari akal untuk membinasakan dia, tapi malah kau biarkan dia pergi?”

Hiang-hiang menghela napas, katanya, “Meski bocah ini sok pintar. Namun kungfunya memang tidak boleh diremehkan. Untuk membunuhnya mungkin tidak terlalu mudah, sebab itulah hanya ku enyahkan dia dengan membohonginya.

“Dan kalau dia datang, lalu bagaimana?” tanya si muka apel.

“Seumpama dia datang lagi ke sini tentu juga dapat kuhadapi dia dengan akal lain. Apalagi jejak kita sudah ketahuan, betapapun kita tidak bisa mengendon lebih lama lagi di sini.”

“Habis mau ke mana jika tinggal di sini?” tanya si muka apel.

“Orang semacam kita, kemanapun jadi,” ujar Hiang-hiang. “Burung gagak di dunia ini sama hitamnya, lelaki di dunia ini sama busuknya, rata-rata pasti gila perempuan. Maka ke mana pun tidak menjadi soal bagi kita.”

Si muka apel tertawa terkikik-kikik, tiba-tiba ia bertanya pula, “Lantas kemanakah pengantin baru lelaki kita yang cakap dan menyenangkan itu? Apakah telah kau antar dia pulang ke rumah moyangnya?”

“O, belum,” jawab Hiang-hiang.

“Untuk apa menahannya lebih lama?” ujar si muka apel.

“Soalnya, bocah she Ji ini seperti orang yang hendak dicari oleh atasan kita. makanya Ji-lotoa berulang memberi pesan agar menangkapnya hidup-hidup dan tidak boleh dibunuh.”

Si muka apel tertawa senang, katanya, “Jika atasan menghendaki mereka, mustahil dia dapat hidup lagi?”

—–

Ji Pwe-giok tidak sadar sama sekali, entah sudah berapa lamanya, ketika ia mendusin, di dalam rumah sudah dinyalakan lampu, Ji Yak-ih sedang duduk sambil minim arak di depannya.

Seketika rasa duka membanjir pula, hanya sekejap saja rasa duka itu telah menguasai seluruh jiwa-raganya sehingga membuatnya lupa terkejut dan juga tidak tahut apapun.

Ji Yak-ih tersenyum, katanya. “Tampaknya tidur Ji-heng cukup lelap, sudah cukup lama kutunggu di sini dan tidak berani mengganggu tidur Ji-heng yang nyenyak.”

Pwe-giok malas menggubrisnya, dilihatnya orang mengangkat guci arak Li ji-hong yang belum habis terminum itu dituangnya ke dalam poci, lalu isi guci arak lain jua dituangnya sebagian ke dalam poci terus diaduknya dengan sumpit, kemudian dia menuang arak dalam poci itu ke cawannya serta diminumnya seceguk.

“Apakah Ji-heng tahu, untuk minum Li-ji-hong ini harus dicampur sebagian dengan arak baru supaya rasanya sedap,” kata Ji Yak-ih dengan tertawa. “Kalau tidak dicampur, betapapun kuatnya seorang juga pasti akan tidur nyenyak seperti Ji-heng tadi.”

Ia terbahak-bahak, lalu menyambung pula “Melihat kegagahan Ji-heng, tadinya kukira Ji-heng adalah seorang Kongcu keluarga bangsawan yang gemar minum arak dan suka pelesir. Siapa tahu Ji-heng ternyata tidak paham cara bagaimana harus minum arak.”

Supaya maklum, arak yang diberi nama “Li-ji-hong” atau si merah anak perempuan, pada umumnya arak ini adalah sulingan sendiri keluarga hartawan di daerah Kanglam, yaitu dibuat pada waktu genap sebulan melahirkan anak perempuan, lalu arak baru itu ditanam di bawah tanah, arak itu baru dikeluarkan lagi bila anak perempuan itu sudah akil balig dan akan menikah. Pada waktu itu arak simpanan tersebut sudah mengental dan tinggal setengah guci saja. Sari arak ini tidak boleh diminum kalau tidak dicampur dengan arak sulingan baru.

Ji Pwe-giok sendiri meski berasal dari keluarga terpelajar dan juga kuat minum arak, tapi lantaran peraturan rumah tangganya sangat keras, mengenai hal-hal yang mengutamakan kesenangan ini boleh dikatakan sama sekali asing baginya.

Dan baru sekarang ia tahu sebabnya dia merasa pening dan ingin tidur tadi adalah karena pengaruh minum arak Li-ji-hong.

Didengarnya Ji Yak-ih lagi berkata pula dengan tertawa, “Untung juga lantaran Ji-heng tidak paham cara minum arak sehingga sempat selamatkan jiwa seorang.”

“Menolong jiwa siapa?” tanya Pwe-giok.

“Boleh Ji-heng melihatnya sendiri…” jawab Ji Yak-ih dengan tersenyum.

Tengah bicara, datanglah Hiang-hiang dengan memapah satu orang.

Orang ini memakai baju baru, walaupun tidak begitu cocok dengan ukuran badannya, tapi tetap tak dapat menutupi garis tubuhnya yang ramping, dia menunduk, rambutnya yang panjang terurai menutupi mukanya.

Siapa lagi kalau bukan Cu Lui-ji.

“He…Kau…kau tidak meninggal?” seru Pwe-giok terkejut dan girang.

Semakin rendah Lui-ji menunduk, tidak berani menengadah dan juga tidak berani bersuara.

Dengan tertawa genit Hiang-hiang berkata, “Dia sebenarnya ingin mati, cuma sayang terlanjur mabuk, tangannya menjadi lemas, matanya menjadi kabur, pisau yang hendak digunakannya untuk menggorok leher itu salah tempat sehingga menyayat dadanya sendiri. Meski sekujur badan kelihatan berlumuran darah, padahal hanya terluka ringan saja dan tidak berbahaya.”

Segera Pwe-giok hendak memburu maju, tapi segera diketahuinya bahwa kaki dan tangan sama sekali tak bisa bergerak meski pikirannya sudah sadar, agaknya Hiat-to kelumpuhannya tertutuk.

Didengarnya Cu Lui-ji sedang berkata dengan suara terputus-putus, “Hiang… Hiang-hiang, kumohon sudilah kau bunuh saja … bunuh saja diriku, sungguh aku… aku malu untuk bertemu lagi dengan dia.”

Dengan suara halus Pwe-giok lantas berkata “Lui-ji, janganlah kau bicara demikian, sama sekali tidak kusalahkan kau, asalkan kau masih hidup, sungguh aku sangat gembira.”

“Tapi, meski tidak kau salahkan diriku, padahal aku telah membikin susah padamu, mana… mana hatiku bisa… bisa tenteram dan tidak berduka?” ujar Lui-ji dengan air mata berderai.

Mendadak Ji Yak-ih bergelak tertawa, katanya, “Haha. sungguh adegan sandiwara yang mengharukan, sampai-sampai air mataku pun hampir bercucuran. Cuma sayang, sekarang bukan waktu main roman bagi kalian.”

Dengan suara parau Lui-ji berseru, “Kumohon sudilah kau bebaskan dia, sejauh ini dia sangat baik terhadap Oh-lolo, seumpama kau hendak membalas dendam, bagi Oh-lolo, jelas sasaranmu bukanlah dia.”

“Sebenarnya aku sangat ingin membebaskan dia, cuma sayang aku tidak berkuasa.” ujar Ji Yak-ih dengan tersenyum.

“Jika demikian, kuharap dapat bertemu dengan bunda Oh-lolo, akan ku bicara langsung dengan dia.” kata Lui-ji.

“Akupun ingin mencarinya, cuma sayang, saat ini iapun tidak sanggup lagi mendengarkan uraianmu.”

“Sebab apa?” tanya Lui-ji.

“Sebab dia sudah mati,” tutur Yak-ih dengan tak acuh.

“Hah, dia sudah mati?” tukas Lui-ji dengan melenggong. “Apakah Hay Tong-jing yang membunuhnya?”

“Kukira Hay Tong-jing juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu untuk membunuhnya,” ujar Ji Yak-ih dengan tersenyum, “Tadi waktu kulihat dia mengejar keluar untuk mencari diriku, sungguh perutku hampir meledak saking gelinya.”

“Waktu itu kau sembunyi dimana?” tanya Lui-ji.

“Ketika kalian menjebol langit-langit kamar dan lolos keluar, saat itulah kubuka pintu dari bawah loteng dan sembunyi pula ke dalam kamar itu,” jawab Yak-ih. “Kalian hampir membongkar segenap pelosok rumah ini, hanya kamar yang telah kalian bobol itulah yang kalian lewatkan.”

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, mau tak mau ia harus mengakui langkah Ji Yak-ih yang cerdik itu. Meski rada besar resikonya, tapi langkah itu memang benar tak terpikir oleh siapapun.

“jika begitu, siapa pula yang membunuh ibunda Oh-lolo?” tanya Lui-ji.

“Siapa lagi, ialah diriku ini,” kata Yak-ih.

Sekali ini Lui-ji benar-benar terkejut, serunya “kau yang membunuh dia? Bilakah kau bunuh dia?”

“Pada waktu kalian datang kemari, mungkin mayatnya sudah membusuk,” tutur Yak-ih.

Kembali Lui-ji melengak, ucapnya, “Habis, siapa pula nenek yang kami lihat itu?”

Hiang-hiang tertawa, mendadak ia bicara dengan suara yang sudah berubah, ucapnya dengan terputus-putus, “Biar… biarkan mati dia, entah sudah… sudah berapa kali kusuruh budak itu jangan… jangan mencelakai orang lain, tapi dia tidak… tidak mau menurut.”

Seketika Lui-ji melongo, serunya, “He, kiranya… kiranya nenek yang kami lihat itu ialah dirimu ini.”

“Betul, memang aku inilah yang menyamarnya,” jawab Hiang-hiang dengan tersenyum.

“O, rupanya sesudah gagal mencelakai kami, segera kau kembali ke kamarmu sendiri dan cepat-cepat berdandan untuk memulihkan wajahmu yang asli, begitu bukan?…Pantas Hay Tong-jing tidak dapat menemukan dirimu.”

“Ya, memang begitulah,” jawab Hiang-hiang.

“Jelas kalian berdua sudah berniat mengkhianati Oh-lolo, maka pada waktu dia keluar rumah, lalu kau sendiri menyamar sebagai orang tua itu, supaya penghuni rumah hiburan ini tidak curiga. Apalagi orang tua ini juga jarang-jarang muncul di depan umum dan orang luar pun tidak menaruh perhatian.”

“Betul, cocok seperti apa yang kalian katakan, lantaran mengincar kungfunya, maka kukawin dengan Oh-lolo,” ujar Ji Yak-ih dengan tersenyum. “Sekarang sudah hampir seluruh kepandaiannya telah kukuasai, dengan sendirinya aku tidak memerlukan dia lagi, malahan muak rasanya bila kulihat cecongornya itu, maka sudah lama ingin kubunuh dia, cuma sayang belum ada kesempatan baik.”

“Dan pada waktu dia keluar rumah inilah lebih dulu kami membunuh ibunya,” sambung Hiang-hiang. “Kami sedang menunggu pulangnya untuk membereskan dia sekalian, siapa tahu kalian sudah mendahului memberi bantuan kepada kami.”

Lui-ji berdiam sejenak sambil berkedip-kedip ucapnya kemudian, “Jika kami sudah membantu kehendak kalian, mengapa kalian masih juga ingin mencelakai kami?”

“Kan sudah kukatakan sejak tadi, semua ini adalah perintah atasan, kami sendiri tidak berkuasa,” ujar Ji Yak-ih.

“Perintah atasan apa? Masakan kalian juga mempunyai cukong?” Lui-ji menegas dengan terkejut.

“Betul,” sahut Yak-ih.

“Siapa dia?” tanya LUI-ji.

“Bila kalian bertemu dengan beliau tentu kalian akan paham,” ujar Hiang-hiang dengan tertawa.

Lui-ji tercengang sejenak, ucapnya kemudian, “Maksudmu, kami kenal dia?”

“Mungkin kenal,” kata Hiang-hiang.

Lui-ji tidak bertanya lebih lanjut, sebab ia memang tidak perlu tanya lagi. Diam-diam ia melirik Pwe-giok sekejap, dalam hati mereka sudah tahu sama tahu, jelas orang yang mendalangi Ji Yak-ih itu pasti Ji Hong-ho adanya.

Lebih dahulu Ji Yak-ih dan Hiang-hiang dibeli dan mereka memperalat Oh-lolo, setelah Oh-lolo tiada gunanya lagi, mereka lantas diperintahkan membunuhnya.

Inilah cara yang biasa digunakan oleh Ji Hong-ho, dengan cara yang sama pula ia hendak menumpas Thian can-kaucu, bahkan besar kemungkinan setiap tokoh Bu-lim terkemuka jaman ini juga telah menjadi incarannya. Betapa luas dan rapi rencananya sungguh sukar untuk dibayangkan.

“Kiranya dia juga yang menyuruh kau mengerjai kami, jadi kalian bukan bertujuan menuntut balas bagi Oh-lolo,” kata Lui-ji.

Hiang-hiang menguap ngantuk, sambil mengucek matanya yang sepat ia berkata, “Bilamana kami hendak membalaskan sakit hati Oh=lolo, yang akan kami kerjai lebih dulu tentu adalah orang she Hay itu.”

“Dan kalian tidak mengapa-apakan dia?” Pwe-giok ikut bertanya.

“Dia toh bukan sasaran yang dikehendaki juragan kami, untuk apa kami bersusah payah mengeluarkan tenaga percuma ?” jawab Hiang-hiang.

Entah sebab apa, Hiang-hiang yang semula kelihatan lincah dan penuh gairah itu, sekarang kelihatan lesu, sebentar-sebentar menguap seperti ingin tidur, sedikitpun tidak bersemangat lagi.

Waktu Pwe-giok memandang Ji Yak-ih, orang inipun berulang menguap, sampai-sampai air mata dan ingus juga menetes, mukanya juga lesu seperti mendadak tambah tua belasan tahun. Melihat keadaannya sekarang, siapa pun tidak percaya dia adalah lelaki cakap dan gagah tadi.

Pwe-giok tidak dapat mengorek keterangan lagi dari mereka, sebab tidak cuma malas bicara, bahkan mereka pun malas mendengarkan, keadaan mereka lebih mirip mayat hidup belaka.

Sama sekali Lui-ji tidak paham sebab apakah mereka bisa mendadak berubah menjadi begini ?.

Kedua orang yang tadinya masih segar bugar, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi layu.

Selang sejenak, sambil menguap Hiang-hiang tanya Ji Yak-ih,

“Apakah kaupun kehabisan rangsum?”

“Ehm,” Yak-ih mengangguk.

“Huh, ku tahu kau pasti ada simpanan, kalau tidak bagi sedikit, lihat saja nanti kalau tidak ku ganyang kau.” jengek Hiang-hiang mendadak.

Keadaan Yak-ih tambah lesu, sampai matapun malas membentangkannya, jawabnya, “Jika aku menyembunyikan setitik saja, anggaplah aku ini piaraanmu.”

Cara bicara mereka tadi selalu sopan santun, tapi kata-kata mereka sekarang telah berubah kasar seperti umpatan kuli dermaga atau bicokok ditempat judi.

malahan dari percakapan mereka itu jelas diantara mereka berdua tiada tanda ada hubungan intim, semua ini sungguh di luar dugaan dan sangat mengherankan.

Apalagi, dirumah hiburan ini setiap saat dapat disediakan santapan lezat, mengapa mereka bilang kehabisan “rangsum” segala ?

Selagi Pwe-giok merasa curiga, mendadak di luar jendela sana ada orang mendesis, “Ssst! Juragan datang !”

Menyusul lantas terdengar suara kresek-kresek orang berjalan melintasi halaman luar sana. Yang datang agaknya ada tujuh atau delapan orang.

Seketika semangat Ji Yak-ih dan Hiang-hiang terbangkit, mereka memburu ke dekat pintu dan berdiri dengan tangan lurus ke bawah, kelihatannya tegang, tapi seperti juga bergembira.

Mungkin saking senangnya, dengan mengikik tawa Hiang-hiang lantas berkata,

“Syukur kepada Thian yang Maha Pemurah, akhirnya juragan datang juga, kalau tidak…”

“Tutup mulutmu !” bentak Yak-ih mendadak dengan suara tertahan.

Sembari bicara ia terus menyingkap kerai, dan masuklah berturut-turut delapan atau sembilan orang, semuanya memakai mantel hitam panjang menyentuh tanah, memakai topi lebar sehingga hampir menutupi seluruh wajah mereka. Ke sembilan orang ini seperti berasal dari satu mesin cetak, serupa, tak terlihat ada suatu perbedaan.

Mendadak Lui-ji menjengek, “Hm, tak tersangka seorang Bu-lim-bengcu yang terhormat juga suka bertindak secara sembunyi-sembunyi begini. Tapi biarpun kau terbakar menjadi abu juga tetap dapat kukenali kau.”

Tiba-tiba satu diantara ke sembilan orang itu tertawa dan berkata, “Kau kenal diriku ? memangnya siapa aku ini ?”

Suaranya ternyata halus merdu, jelas suara kaum wanita.

Lui-ji jadi tercengang, ucapnya, “Dengan sendirinya bukan kau yang kumaksud, tapi ialah…”

“Ialah siapa ?” orang itu menegas pula.

Sinar mata Lui-ji lantas menyapu kian kemari diantara ke sembilan orang itu, tak terduga delapan diantara sembilan orang itu lantas menanggalkan topinya dan membuka mantelnya.

Ternyata semuanya adalah anak gadis yang masih sangat muda dan sangat cantik, semuanya berpakaian yang sangat serasi dengan garis tubuhnya, garis tubuh yang pasti mendebarkan jantung lelaki manapun juga. Biarpun orang buta sekarang juga dapat melihat bahwa mereka bukanlah samaran lelaki.

Kembali Lui-ji melengak, sorot matanya lantas hinggap pada tubuh orang terakhir.

Perawakan orang ini seperti lebih tinggi sedikit daripada ke delapan orang yang lain, sikapnya juga lebih mantap dan anggun.

Lui-ji mencibir, jengeknya,

“Sekarang tidak kau perlihatkan wajahmu, Ji Hong-ho ?”

Mendadak orang itu tertawa, ucapnya dengan pelahan, “Ji Hong-ho ? kau kira aku ini Ji Hong-ho ?”

Segera ia menanggalkan topinya, segera ke delapan orang tadi berebut bantu membuka mantelnya.

Kini wajahnya dapat terlihat dengan jelas. Mana bisa dia ini Ji Hong-ho ? Dia juga seorang perempuan muda, bahkan terlebih cantik, lebih mempesona.

Baru sekarang Lui-ji benar-benar melenggong dan tak dapat bicara lagi.

Tapi Ji Pwe-giok justru sepuluh kali lebih terkejut daripada Lui-ji, sungguh tak terpikir olehnya bahwa “juragan” yang disebut-sebut oleh Ji Yak-ih dang Hiang-hiang ternyata bukan lain daripada Ki Leng-Hong dari Sat-jin-ceng.

Kini masih siang hari, cahaya didalam rumah cukup terang, Pwe-giok dapat melihat jelas keadaan Ki Leng-hong. Nyata nona ini sudah jauh lebih masak daripada dahulu, juga tambah cantik. Namun sinar matanya terlebih tajam daripada dulu, sikapnya juga lebih dingin, bahkan bertambah semacam wibawa yang membikin orang tunduk bila berhadapan dengan dia.

Ki Leng-hong juga sedang mengamat-amati Pwe-giok, ucapnya dengan tertawa hambar, “Tampaknya kau sangat terkejut, masa tak terpikir olehmu akan diriku ?”

Pwe-giok menghela nafas, jawabnya, “Ya, seharusnya sejak tadi-tadi harus kuingat padamu.”

Dia pandang Ji Yak-ih dan Hiang-hiang sekejap, lalu menyambung pula,

“Setelah melihat perubahan mereka tadi seharusnya kuingat akan dirimu.”

“Oo ?” Ki Leng-hong bersuara heran.

“Sebab hanya orang yang terkena racunmu itulah dapat berubah secepat itu, berubah sedemikian memelas, sebab aku sendiripun pernah merasakan penderitaan semacam itu,” kata Pwe-giok dengan menghela nafas.

Ki Leng-hong juga menghela nafas, katanya, “Cuma sayang, belum sempat kau rasakan nikmatnya, kalau tidak tentu akan kau ketahui bahwa barang siapa sudah merasakan kenikmatan semacam itu, maka penderitaan apapun juga akan terasa setimpal.”

Mendadak ia berpaling dan tanya Ji Yak-ih, “Betul tidak?”

Cepat Ji Yak-ih dan Hiang-hiang bertekuk lutut dan mengiakan.

Ki Leng-hong menuding mereka berdua dan berkata pula, “Coba kau lihat mereka ini, yang lelaki tentu gemar main perempuan, yang perempuan juga bergairah dan memerlukan lelaki. Kedua orang ini tinggal bersama dan boleh di ibaratkan kayu kering dan api yang mudah menyala dan terbakar. Akan tetapi aku berani menjamin bahwa diantara mereka berdua pasti tidak ada hubungan pribadi. Nah, apakah kau tahu sebab apa mereka tidak berhasrat untuk mengadakan hubungan intim ?”

Pwe-giok tidak menjawab, tapi Lui-ji segera bertanya, “Sebab apa ?”

“Sebab pada hakekatnya mereka sudah tidak bergairah untuk berbuat begituan,” tutur Ki Leng-hong.

“Padahal berbuat begituan adalah hal yang paling menyenangkan di dunia ini, setiap lelaki maupun perempuan tentu berhasrat ingin melakukannya. Tapi bagi mereka hal begitu sedikitpun tidak ada artinya. Apakah kau tahu sebabnya ?”

Sekali ini Lui-ji juga tidak bersuara lagi.

Maka dengan pelahan Ki Leng-hong menjawabnya sendiri,

“Sebabnya adalah karena kenikmatan yang kuberikan kepada mereka berpuluh kali lebih menyenangkan daripada berbuat begituan. Setiap orang yang sudah merasakan nikmatnya “Kek-lok-wan” (obat maha nikmat) yang kuberikan, terhadap urusan lain akan dirasakan hambar dan tidak ada rasanya lagi.”

“Kek-lok-wan apa yang kau maksudkan ?” akhirnya Lui-ji tidak tahan dan bertanya juga.

Ki Leng-hong tersenyum, jawabnya, “Yaitu semacam obat dewa yang paling ajaib di dunia ini. Kau ingin mencicipi atau tidak ?”

Lui-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Mencicipi juga boleh. Bagiku, semakin keras racun sesuatu benda, semakin ingin kucicipi.”

“Kaupun ingin mencicipi ?” Mendadak Pwe-giok berteriak.

“Masakah tidak kau lihat keadaan kedua orang ini ? memangnya kau kira mereka ini orang lemah seperti ini ? Apakah kau tahu lantaran Kek-Lok-wan yang disebut itulah maka mereka tidak sayang menjual dirinya sendiri, tidak sayang dihina dan dianiaya orang, bahkan rela melacurkan diri dan menjadi bandit.”

Sudah cukup lama Lui-ji berkumpul dengan anak muda itu dan tidak pernah melihat cara bicaranya yang beringas seperti sekarang ini. Nyata dia sedemikian benci terhadap Kek-lok-wan tersebut.

Waktu ia pandang Ji Yak-ih dan Hiang-hiang, kedua orang sama menunduk malu karena cercaan Pwe-giok itu.

Dengan melotot Pwe-giok berteriak pula, “Tapi kecanduan Kek-Lok-wan ini juga bukan tidak dipunahkan, aku justru pernah mengalami sendiri, asalkan kalian mempunyai hati yang teguh, punya keberanian, sanggup menahan siksaan untuk sementara waktu, maka kalian pasti dapat membebaskan diri dari pengaruhnya. Dengan demikian kalian akan dapat bangkit kembali menjadi manusia baru. Kalau tidak, kalian akan semakin tenggelam dan akan selamanya diperbudak olehnya.”

Air muka Ji Yak-ih dan Hiang-hiang tampak terangsang, tapi Ki Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menuang satu biji pil berwarna coklat tua, ucapnya dengan pelahan, “Satu kotak Kek-Lok-wan ini mestinya ku sediakan untuk kalian, tapi sekarang kalian tidak ingin menikmatinya lagi, biarlah kuberikan saja kepada orang lain.”

Demi mengendus bau khas obat itu, seketika rasa malu dan emosi yang bergejolak pada wajah Ji Yak-ih dan Hiang-hiang tadi sirna seluruhnya. Seketika kedua orang berubah lagi menjadi beringas, seperti anjing lapar yang melihat tulang, dengan pandangan rakus mereka melototi kotak yang dipegang Ki Leng-hong itu.

Sekonyong-konyong kedua orang berlutut dan menyembah, dengan suara gemetar mereka meratap, “O, sama sekali tiada maksud kami akan begitu, kata-kata tadi seluruhnya diucapkan oleh dia.”

Ki Leng-hong memandang mereka dengan dingin, dengusnya, “Jika demikian, jadi tiada maksud kalian hendak melepaskan diri dari Kek-lok-wan ?”

“Ya, ti…tidak !” jawab Ji Yak-ih dan Hiang-hiang berbareng.

“Masa kalian rela diperbudak olehnya selama hidup ?” tanya Ki leng-hong.

“Ya…ya…” Hiang-hiang dan Ji Yak-ih berebut menjawab lebih dulu.

“Huh, manusia tak berguna,” omel Ki leng-hong, “Ini, ambil !”

Mendadak ia hamburkan isi kotak kecil yang dipegangnya sehingga pil kecil-kecil itu bergelindingan memenuhi lantai, serentak Ji Yak-ih dan Hiang-hiang merangkak dan berebut memungutnya.

Pwe-giok menghela nafas, sungguh ia tidak tega menyaksikan tingkah laku mereka.

“Nah, sekarang tentunya kau tahu betapa besar kekuatan Kek-Lok-wan ini,” kata Ki Leng-hong.

“Tentunya tidak setiap orang dapat membebaskan diri dari kekuasaannya seperti kau.”

Tiba-tiba ia tertawa, lalu menyambung pula dengan pelahan, “Terhadap tekad dan keberanianmu, sungguh akupun sangat kagum.”

Pwe-giok tidak menghiraukan ocehannya.

Tapi Ki Leng-hong lantas berkata pula,

“Mengapa kau tidak menggubris diriku ? Apapun juga kita kan sahabat lama. Apalagi akupun pernah banyak membantu kesukaranmu, mengapa begitu melihat diriku lantas ingin mengelak seperti takut kepada ular berbisa.”

Pwe-giok diam sejenak, akhirnya menghela nafas dan berkata, “Betul, memang banyak kau bantu kesukaranku, akupun tahu harus membalas kebaikanmu, tapi…tapi…”

“Jangan kuatir, saat ini belum tiba waktunya kuminta balas jasamu,” kata Ki Leng-hong dengan tertawa.

“Jika demikian, apakah kau…kau ingin…”

“Aku hanya ingin mengadakan suatu transaksi denganmu.”

“Transaksi ?” Pwe-giok menegas.

“Ya, transaksi, persetujuan jual beli, bisnis kata orang !” Leng-hong mengitari Pwe-giok, lalu menyambung,

“Tahukah kau bahwa sesungguhnya kau ini seorang yang sangat aneh. sejak pertama kali kulihat kau lantas kulihat pada dirimu terdapat banyak hal-hal yang aneh.”

“Hal-hal yang aneh bagaimana ?” tanya Pwe-giok.

“Di…dimana letak keanehanku ?”

Mendadak Ki Leng-hong berpaling, Ji Yak-ih dan Hiang-hiang diusirnya keluar, pintu kamar ditutupnya rapat-rapat, lalu berkata dengan pelahan,

“Pertama, mestinya kau ini putera tunggal Ji Hong-ho, tapi malah…”

Belum habis ucapannya, berteriaklah Lui-ji dengan kaget, “Apa katamu ? Dia putera Ji Hong-ho ?”

Ki Leng-hong tersenyum, jawabnya , “Masa kau tidak tahu ? ya, dia memang putera Ji Hong-ho, dengan sendirinya kau tidak tahu. Rahasia ini selain aku dan Ko-lauthau memang tidak ada orang ketiga lagi yang tahu.”

Lui-ji melototi Pwe-giok dengan melongo, saking kejutnya hingga tidak sanggup bersuara pula.

“Dapat menjadi putera Bu-lim-bengcu jaman inikan sesuatu yang membanggakan dan terhormat. Tapi dia tidak sudi dan pura-pura mati agar orang mengira dia adalah seorang Ji Pwe-giok yang lain.”

“Se…sebab apakah dia begitu ?” tanya Lui-ji.

“Bukan saja dia tidak mau mengakui Ji Hong-ho sebagai ayahnya, tidak mau mengaku Lim Tay-ih sebagai bakal istrinya, bahkan membiarkan Lim Tay-ih salah paham padanya dan lebih suka dibunuh oleh nona Lim itu.”

Dia tertawa, lalu melanjutkan, “Hari itu kusaksikan sendiri pedang Lim Tay-ih menusuk tubuhnya, aku menjadi rada sedih baginya.”

“Apa yang terjadi itu mungkin disebabkan persoalan mereka terlalu membuatnya berduka, hanya aku saja yang dapat memahami perasaannya sebab aku..akupun…” sampai di sini dia tidak meneruskan lagi.

“Masa ayahmu juga berbuat hal-hal yang membikin kau kecewa dan berduka, maka kaupun tidak sudi mengakui dia sebagai ayahmu ?” tanya Ki Leng-hong.

Lui-ji menggigit bibir dan tidak menjawabnya.

“Tapi keadaannya jelas berbeda dengan keadaanmu,” kata Leng-hong pula.

“Memangnya dia kenapa ?” tanya juga Lui-ji.

“Bukannya dia tidak sudi mengakui Ji Hong-ho sebagai ayahnya, dia hanya menganggap Ji Hong-ho yang sekarang ini adalah Ji Hong-ho palsu,” tutur Ki Leng-hong.

Keterangan ini membuat Lui-ji terkejut, bahkan air muka Pwe-giok sendiri juga berubah.

Leng-hong memandangnya dengan tersenyum, katanya pula,

“Di dunia ini banyak orang yang mengira rahasianya sendiri pasti takkan diketahui orang lain, padahal sejak purbakala hingga kini tiada sesuatu rahasia yang mutlak dapat mengelabui orang lain. Betul tidak ?”

Ia tahu tidak nanti Pwe-giok menjawab pertanyaannya itu, maka ia lantas menyambung pula,

“Bahkan di dunia ini banyak peristiwa yang sudah terjadi diluar dugaan orang. seperti kejadian sekarang, kau kira sudah dapat menghindarkan diriku, tapi di sini justru kupergoki kau lagi.”

“Maksudmu…”

“Maksudmu kejadian tempo hari,” sela Leng-hong sebelum lanjut ucapannya Pwe-giok, “Yaitu waktu berada di kota kecil yang sepi itu, di sana kau kira takkan bertemu dengan siapapun, tak kau duga orang yang melihat dirimu di sana waktu itu sesungguhnya jauh lebih banyak daripada sangkaanmu.”

Pwe-giok menghela nafas, gumannya, “Ya, memang jauh lebih banyak daripada perkiraanku.”

“Kau tahu, akupun terkejut ketika melihat kau dan Lim Tay-ih masuk ke hotel itu…”

“Tapi sampai sekarang aku tetap tidak paham, mengapa kau bisa berada di kota kecil itu ?” sela Pwe-giok.

“Aku berada di sana karena menguntit jejak Sebun Bu-kut,” tutur Leng-hong.

“Sebab sejak ku pergoki dia, terhadap tindak tanduk orang semacam itu aku lantas menaruh curiga, selalu kurasakan mereka itu bukan manusia baik-baik.”

Pwe-giok tersenyum getir, ucapnya.

“Kami tidak mengira karena menguntit jejak mereka sehingga kalian memergoki diriku di sana.”

“Akupun tidak menduga bahwa mereka sebenarnya sedang menguntit dirimu,” kata Leng-hong.

“Lebih-lebih tak kuduga Ang-lian-hoa juga akan muncul di kota kecil itu. Kemudian baru diketahui bahwa hal itu disebabkan Kay-Pang akan mengadakan suatu pertemuan di daerah Sujwan, maka Ang-Lian-hoa kebetulan lalu di sana.”

“Ai, di dunia ini memang terlalu banyak kejadian kebetulan,” ujar Pwe-giok dengan gegetun.

“Ketika Ang-lian-hoa melihat kalian, mungkin dia jauh lebih terkejut daripadaku,” tutur Leng-hong pula.

“Sebab sama sekali tak terduga olehnya bahwa nona Lim yang dingin seperti es itu bisa masuk hotel bersama seorang lelaki yang baru dikenalnya, bahkan tinggal didalam suatu kamar yang sama.”

Lui-ji seperti mau bicara apa-apa, tapi urung setelah memandang Pwe-giok sekejap.

“Dengan sendirinya Ang-lian-hoa ingin menyelidiki duduk perkaranya,” kata Leng-hong pula.

“Tapi dia harus menjaga gengsi, tidak nanti dia mengintip urusan pribadi orang lain secara diam-diam, sebab itulah dia memerintahkan seorang anak buahnya yang bernama Song-losu agar menyamar sebagai pelayan hotel.”

“Hm, memang sudah kuketahui gerak-gerik pelayan itu rada-rada tidak beres,” jengek Pwe-giok.

“Begitu masuk kamarku dia lantas…lantas memandang tubuh nona Lim, pelayan umumnya mana ada yang berani begitu ?”

“Masa sudah kau ketahui dia adalah anak buah Ang-lian-hoa ?” tanya Leng-hong.

“Meski tidak dapat kupastikan, tapi ku tahu umumnya orang-orang yang bekerja sebagai pelayan dan sejenisnya itu kalau tidak ada kontak dengan Kay-pang tentu sukar mempertahankan profesinya itu.”

Leng-hong tertawa, ucapnya, “Dan mungkin tidak pernah kau duga bahwa Song-losu itu diam-diam juga termasuk anak buahku.”

“Hah, masa…masakah dia juga sudah kecanduan Kek-lok-wan ?” seru Pwe-giok terkejut.

“Ya, begitulah,” jawab Leng-hong.

“Makanya sebelum dia menyampaikan laporan kepada Ang-lian-hoa, lebih dulu setiap gerak-gerikmu telah dilaporkannya kepadaku. Menurut laporannya, katanya sikap kalian berdua sangat aneh. Malahan waktu untuk kedua kalinya dia masuk kamarmu, dilihatnya nona Lim sedang menangis dengan kepala tertutup selimut, sebaliknya kau berdiri termangu menghadapi dinding seperti mau bertemu dengan orang lain.”

“Apalagi yang dilaporkannya ?” tanya Pwe-giok.

“Dia bilang, sebenarnya dia kenal nona Lim, sebab dahulu waktu nona Lim mengalami kesulitan, dia juga menyamar sebagai pelayan dan diam-diam meneruskan berita yang diselundupkan nona Lim. Tapi sekali ini nona Lim seperti tidak kenal dia lagi.”

Pwe-giok lantas teringat kepada kejadian itu, sebab Ang-lian-hoa pernah bercerita padanya bahwa berita yang diselundupkan Lim Tay-ih itu adalah pesan si nona agar Ang-lian-hoa mempercayai si Ji pwe-giok.

Semua ini adalah kejadian beberapa bulan yang lalu, tapi kalau terpikir sekarang rasanya seperti sudah lama sekali, seolah-olah kejadian di jelmaan hidup yang lalu.

Ki Leg Hong bercerita lebih lanjut,

“Setelah menerima laporan Song-losu itu, aku juga merasa heran, timbul keinginanku untuk pergi kesana, siapa tahu Sebun Bu-kut dan begundalnya sudah berada di sana lebih dulu, bahkan Ang-lian-hoa juga ikut kesana.”

“Ya, akupun tahu hotel itu telah kedatangan tamu yang tidak sedikit,” ujar Pwe-giok.

“Kemudian lantas kulihat nona Lim mendadak menerjang keluar dari kamar sambil berkaok-kaok, menyusul kau lantas ditusuknya dengan pedang, tampaknya tubuhmu hendak dilubanginya dengan sekali tusuk,” Leng-hong memandang Pwe-giok dengan terbelalak, lalu bertanya, “Sebab apakah dia bertindak begitu?”

Pwe-giok termenung sekian lamanya, jawabnya kemudian sambil menghela napas, “Seperti katamu tadi, aku tidak memberitahukan padanya bahwa aku inilah… Ji Pwe-giok yang bakal suaminya itu. Dia…dia menganggap aku berbuat sesuatu yang tidak baik padanya, maka dia ingin membunuhku.”

Ki Leng-hong tersenyum hambar, katanya, “Melihat kejadian itu, Ang-lian-hoa, Sebun Bukut dan begundalnya tentu juga mempunyai pikiran begitu, merekapun yakin kau telah berbuat tidak senonoh kepada nona Lim, keteranganmu ini pasti akan dipercaya oleh mereka, tapi aku…”

“Masa kau tidak percaya?” tanya Pwe-giok.

“Ya, satu kata pun aku tidak percaya,” jawab Leng-hong.

“Memangnya kau kira apa yang telah terjadi?” tanya Pwe-giok pula.

“Pertama, kuyakin dia sudah tahu kau inilah Ji-Pwe-giok yang dahulu itu, kalau tidak, mana mungkin dia masuk hotel bersamamu dan tinggal di dalam satu kamar…”

“Tapi mungkin…mungkin dia sengaja mencari kesempatan untuk membunuhku,” kata Pwe-giok.

Leng-hong tertawa, katanya, “Jika dia ingin membunuhmu, dimana-mana kan terbuka kesempatan baginya, mengapa mesti menunggu sampai berada dihotel? Sebabnya dia bertindak setelah masuk hotel, tujuannya hanya untuk main sandiwara saja, kalau penontonnya sudah hadir semua barulah dia mulai main.”

Air muka Pwe-giok semakin pucat, desisnya “Untuk apa dia main sandiwara?”

“Untuk para penontonnya,” kata Leng-hong dengan tertawa. “Sebab kalian sudah melihat kedatangan Sebun Bu-kut dan begundalnya, bahkan tahu diam-diam mereka sedang mengintai gerak-gerik kalian, maka si nona berlagak bertengkar dengan kau dan seperti ingin membunuhmu, dengan demikian orang-orang itu tentu takkan curiga bahwa kau adalah Ji Pwe-giok yang dahulu itu.”

Dia tertawa dan berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan, “Justeru lantaran kutahu rahasiamu, makanya dapat ku terka semua ini, kalau aku sudah dapat menerkanya, untuk apa lagi kau bohongi aku, kan tiada gunanya?”

Kembali Pwe-giok termenung pula hingga lama, katanya kemudian, “Seumpama betul terkaanmu, lalu kau mau apa?”

“Tidak mau apa-apa,” jawab Leng-hong. “Aku cuma kagum dan iri padamu yang mempunyai bakal isteri sedemikian pintar dan bijaksana…”

Mendengar kata “bakal isteri” itu, tiba-tiba muka Lui-ji berubah merah padam, lalu mendadak berubah pucat pula, sungguh ia ingin mendekap telinganya, tidak sudi mendengarkannya.

Sementara itu Ki Leng-hong telah menyambung, “Berbareng itu akupun sangat berkuatir bagimu, sebab orang semacam Ji Hong-ho, sekalipun untuk sementara dapat kau tipu, lambat laun rahasiamu tetap akan diketahui olehnya. Waktu itu ada maksudku hendak memperingatkan dirimu, siapa tahu, begitu melihat diriku kau lantas ketakutan seperti melihat setan dan lari terbirit-birit.”

Sekali ini Pwe-giok termenung hingga agak lama, katanya kemudian, “Lalu apa pula transaksi yang kau sebut tadi?”

“Semua rahasiamu sudah kuketahui,” jawab Leng-hong.” bilamana kubeberkan rahasiamu ini, seketika akan mendatangkan malapetaka bagimu. Tapi kau tidak perlu kuatir, bukan saja akan ku tutupi rapat rahasiamu ini, bahkan akan kubantu kau pula.”

“Membantuku bagaimana?” tanya Pwe-giok.

“Dapat kubantu kau menghancurkan Ji-Hong-ho gadungan itu, sebab aku sendiri pun ingin menghancurkan dia,” jawab Leng-hong sekata demi sekata.

Pwe-giok menghela nafas panjang, katanya, “Betul, ku tahu ambisimu yang ingin menjadi Bu-lim-bengcu, untuk itu kau harus menghancurkan dia lebih dahulu, dan untuk menghancurkan dia, lebih dulu harus pula kau bongkar rahasianya, sebab itulah kau lantas ingat kepadaku, daripada kau bilang akan membantu diriku, kan lebih tepat jika dikatakan kau bantu dirimu sendiri.”

Ki Leng-hong tertawa, katanya, “Saat ini kita berdua mempunyai musuh yang sama, jadi bukan soal lagi tentang siapa membantu siapa, kukira sama saja apakah kau bantu aku atau ku bantu kau.”

“Dan kalau aku tidak sudi bekerja sama dengan orang macam kau ini!”

“Kan sederhana saja…sekarang juga akan kubunuh kau…”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Ai, tampaknya aku sudah tidak mempunyai pilihan lain, begitu bukan?”

“Ya, memang begitulah.” jawab Ki Leng-hong. Ia tertawa cerah, lalu menyambung, “Tapi bila kau mau bekerja sama denganku, tahu akan kubantu kau dengan sepenuh tenaga, mungkin tidak kau ketahui betapa kekuatanku, untuk itu dapat kuberitahukan padamu bahwa di sekitar utara dan selatan sungai panjang (Tiangkang atau Yang tze kiang), di sepanjang lembah Sungai Kuning, dari Saypak (barat laut) sampai Saylam (barat daya), pada setiap kota besar yang penting rata-rata terdapat anak buahku, asalkan kuberi perintah, tentu mereka akan menjual nyawa bagimu.”

“Jika benar sebesar ini kekuasaanmu, mengapa kau masih ingin menjadi Bu-lim-bengcu, lalu apa manfaatnya bagimu?”

Ki Leng hong tertawa, katanya, “Setiap orang mempunyai hobinya sendiri, ada orang gemar minum arak, ada yang kemaruk harta, ada pula yang suka main perempuan, dan hobiku adalah kekuasaan.”

“Kekuasaan?” Pwe-giok menegas dengan melengak.

“Ya, kekuasaan,” jawab Ki Leng-hong. “Orang yang tidak pernah berkuasa, selamanya tidak akan tahu bagaimana rasanya kekuasaan, dan cita-citaku yang terbesar selama hidupku ini adalah ingin melihat para ksatria Bu-lim di seluruh dunia ini sama berlutut dan tunduk di hadapanku, tapi sekarang,… sekarang aku hanya dapat beraksi secara rahasia saja, apa bila gagal, maka selamanya akupun takkan melihat matahari lagi.”

“Ada sementara orang bilang arak dapat mengacaukan watak dan perempuan bisa merugikan kesehatan, tapi menurut pendapatku, yang paling celaka di dunia ini mungkin adalah “kekuasaan” yang kau inginkan itulah,” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Sorot mata Ki Leng-hong mendadak berubah menjadi merah membara, ucapnya sekata demi sekata, “Tapi kalau ada sesuatu yang paling menarik di dunia ini, maka hal itu adalah kekuasaan. Betul tidak?”

“Tapi hendaklah kau renungkan lagi, meski sekarang Ji Hong-ho jadi Bu-lim-bengcu, tapi kau kan tidak pernah tunduk dan menyembah padanya, bila kau jadi Bengcu, darimana pula kau tahu tiada orang lain yang secara diam-diam mengkhianat dan membangkang padamu ?”

“Hal itu adalah lumrah,” ujar Ki Leng-hong, “Sekalipun menjadi raja juga pasti ada bawahan yang mengkhianat dan memberontak. Yang penting asalkan setiap orang menghormat dan tunduk di hadapanku, biarpun ada yang secara diam-diam membangkang juga tidak menjadi soal.”

“Namun kedudukan Bu-lim-bengcu macam begitu akan dapat bertahan berapa lama ?” tanya Pwe-giok

“Asalkan dapat berkuasa satu hari…biarpun cuma satu hari juga sudah puas bagiku,” kata Leng-hong.

Pwe-giok menghela nafas pula, gumannya, “Ai, kekuasaan, kekuasaan! Tak tersangka kata-kata ini mempunyai daya tarik sebesar ini ?”

“Kau tidak perlu banyak mempelajari urusan ini, cukup bagimu asalkan kau paham bahwa untuk menuntut balas, jika ingin membongkar rahasia Ji Hong-ho itu, maka kau perlu bekerja sama denganku, kalau tidak, jalan lain bagimu hanya ada satu, yaitu mati !”

“Tapi akupun ada suatu syarat, kalau tidak kau terima aku lebih suka mati saja,” kata Pwe-giok.

“Syarat apa ?” tanya Ki Leng-hong.

“Aku tidak ingin kau sebut-sebut Kek-Lok-wan di hadapanku, bukan saja tidak ingin meminumnya, akupun tidak sudi mendengarnya.”

“Memangnya kau kira barang ini tidak berharga ?” ujar Leng-hong dengan tertawa,

“Supaya kau tahu bahwa barang ini terkadang jauh lebih bernilai daripada emas. Apalagi kalau kau sudah terima kehendakku, untuk apa ku buang-buang percuma ransum yang sukar dicari ini.”

“Asal kuterima permintaanmu dan kau lantas percaya ?” Pwe-giok menegas.

“Di dunia ini kalau masih ada orang yang dapat kupercaya, maka orang itu adalah kau ! Apalagi…”

Ia tertawa, lalu menyambung, “Masih cukup banyak rahasiamu yang tergenggam di tanganku, aku tidak perlu kuatir kau akan ingkar janji, lebih-lebih persekutuan kita inikan saling menguntungkan, mustahil takkan kulaksanakan dengan baik.”

“Wah, tampaknya bila ingin ku bongkar rahasia mereka, terpaksa aku harus bekerja sama dengan orang-orang seperti kalian ini.”

“Betul,” kata Leng-hong,

“Sebab orang yang sok anggap dirinya kaum pendekar budiman, pahlawan setia, semua itu sudah berdiri dipihak Ji Hong-ho, jelas tiada seorang pun yang mau membantumu, sebab Ji Hong-ho kan Bu-Lim-bengcu sekarang ?”

Di dunia ini memang banyak hal-hal aneh dan ajaib.

Yang dilakukan Pwe-giok sebenarnya pekerjaan yang luhur dan suci, tapi terpaksa harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, terpaksa harus berkumpul dengan manusia yang tidak luhur dan juga tidak suci.

Demi hidup, terpaksa ia harus mati lebih dulu.

Hal ini kedengarannya sangat lucu dan sukar dipercaya, tapi faktanya memang demikian dan masuk diakal. Memang, ada sementara urusan yang tampaknya benar dan masuk diakal, padahal sebenarnya justru sangat janggal.

Betapapun Lui-ji tidak menyangka kisah hidup Pwe-giok masih sedemikian banyak rahasianya yang liku-liku. Baru sekarang ia tahu betapa malang nasib Pwe-giok dan ternyata jauh lebih nelangsa daripadanya.

Kalau kemalangan Lui-ji sendiri masih dapat diceritakan kepada orang lain, tapi kemalangan Pwe-giok justru harus serba tertutup, sama sekali tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Pula kemalangannya masih dapat memperoleh simpatik dari orang lain, sedangkan kemalangan Pwe-giok siapa yang tahu ?

Dia pandang Pwe-giok dengan termangu-mangu, tanpa terasa air mata meleleh pula.

Tiba-tiba Ki Leng-hong berkata dengan tertawa,

“Cu Lui-ji…Cu Lui-ji…Nama ini memang sangat tepat bagimu, sesungguhnya kau memang seorang “lui-ji” (anak suka menangis), mungkin cairan yang mengalir dalam pembuluh darahmu juga terdiri dari air mata.”

“Dan tahukah kau cairan apa yang mengalir dalam pembuluh darahmu ?” jawab Lui-ji dengan gusar.

“Jika kau tidak tahu, biarlah kuberitahukan padamu, yang mengalir dalam pembuluh darahmu itu adalah air busuk, air got, air pecomberan. Nah, tahu ?”

Ki Leng-hong tidak marah, ia tersenyum dan berkata pula,

“Umumnya orang berduka tidak dapat marah-marah, tapi sambil mencucurkan air mata kau masih dapat memaki orang, sungguh aneh.”

“Kenapa mesti heran,” ujar Lui-ji.

“Ada sementara orang sambil tersenyum malahan dapat membunuh orang sekaligus, inilah yang lebih aneh.”

“Tersenyum sambil membunuh orang, kukira untuk kepandaian ini tiada orang yang mampu menandingi Siau-hun-kiongcu ?”

Lui-ji terkejut,

“Hah, kau tahu asal-usulku ?”

“Coba kau pikir, apabila tidak kuketahui asal-usulmu, mana bisa kubeberkan rahasia besar ini di hadapanmu ? masa aku tidak kuatir rahasia ini akan kau siarkan?”

“Darimana kau tahu ?” tanya Lui-ji dengan beringas.

“Jika sedikit urusan ini saja tidak mampu kuketahui, masa aku berani berebut kuasa dengan Ji Hong-ho ?” jawab Ki Leng-hong.

“Ingin ku beritahu, sekalipun aku masih jauh berpuluh li di sana, apa yang terjadi di sini pasti kuketahui.”

Tiba-tiba ia tertawa terhadap Pwe-giok dan berkata pula, “Ah, aku lupa mengucapkan selamat kepadamu. Kau dapat mempersunting istri sepintar dan secantik ini, sungguh mengagumkan dan menggirangkan.”

Pwe-giok tidak berucap apapun, tanpa terasa ia memandang Lui-ji sekejap, dilihatnya wajah Lui-ji pucat lesi, air mata hampir bercucuran pula.

“Ti…tidak perlu kau berolok-olok padaku dengan…dengan kata-kata demikian,” ucap Lui-ji dengan tersendat.

“Olok-olok ? Masa kau anggap aku berolok-olok ?” kata Leng-hong.

Sambil menggigit bibir Lui-ji menjawab dengan parau, “Sudah jelas-jelas kau tahu apa yang terjadi itu cuma…cuma gurauan saja.”

Sehabis mengucapkan “gurauan” itu sekujur badannya serasa kehabisan tenaga, akhirnya air mata pun berderai tak tertahankan lagi.

“Gurauan ? Masa urusan perkawinan boleh dibuat bergurau ?”

“Tapi…tapi aku…”

“Jangan kuatir,” ujar Leng-hong dengan suara lembut,

“Jika kau kira dia akan menyangkal pernikahan ini, maka salahlah kau. Ji Pwe-giok pasti bukan manusia rendah demikian. Tidak nanti dia mengingkari janji dan tidak mengakui kau sebagai istrinya lantaran kau tidak jadi mati.”

Tubuh Lui-ji bergemetar, sorot matanya beralih pelahan ke arah Pwe-giok.

Mendadak Ki Leng-hong berkata pula dengan tertawa, “Tidak perlu kau tanya dia. Malahan dapat kuajari suatu akal padamu, apabila dia tidak sudi mengakui Cu Lui-ji sebagai istrinya, maka boleh kau mati dihadapannya.”

Diam-diam Pwe-giok menghela nafas, dilihatnya Lui-ji masih memandangnya dengan termangu-mangu.

Belum lagi tahu apa yang harus diucapkannya, tiba-tiba Lui-ji berkata dengan sayu,

“Jangan kau kuatir, betapapun tidak nanti kulakukan hal begitu, aku…”

“Mengapa tidak kau lakukan ? Apa jeleknya tindakan begitu ?” sela Leng-hong mendadak.

“Seorang lelaki kalau menyukai seorang perempuan segala jalan akan ditempuhnya untuk mendapatkan si dia, dan orang takkan memaki dia, malahan orang akan memuji kepintarannya cara mendapatkan perempuan itu. Sebaliknya kalau seorang perempuan menyukai seorang lelaki, mengapa si perempuan tidak boleh main akal ?”

“Akan…akan tetapi…perempuan kan tidak sama dengan lelaki,” kata Lui-ji.

“Apanya yang tidak sama ? lelaki adalah manusia, perempuan juga manusia bukan ? Selama beribu-ribu tahun perempuan selalu tertindas oleh kaum lelaki, sebabnya si perempuan sendiri yang memandang dirinya lebih rendah daripada lelaki. Sebab itulah aku harus berjuang bagi kaum wanita.”

Dia melototi Lui-ji, lalu berkata pula,

“Coba, ingin kutanya padamu, dalam hal apa kau lebih rendah daripada lelaki ? mengapa kau justru memandang rendah dirimu sendiri ?”

Lui-ji menggigit bibir dan tidak bersuara lagi, tapi air mata yang meleleh di pipi sudah mulai mengering, wajahnya yang pucat juga mulai cerah, tidak putus asa lagi.

Leng-hong mendekatinya dan memegang tangannya, ucapnya dengan suara lembut, “Adik cilik, kita sama-sama orang perempuan, sebab itulah kita juga harus bersatu padu dan berjuang bagi kaum wanita yang tertindas selama beribu tahun ini, supaya lelaki di dunia ini tidak berani menindas kita lagi, kita harus berbuat sesuatu agar kaum lelaki tahu bahwa perempuan bukan dilahirkan sebagai barang permainan lelaki.”

Melihat air muka Lui-ji tahulah Pwe-giok bahwa propaganda Ki Leng-hong itu bukan saja telah menggelitik lubuk hati Lui-ji, hakekatnya dapat dikatakan Lui-ji telah terpikat olehnya.

Maklumlah apa yang diuraikan Ki Leng-hong itu tentu cocok bagi telinga setiap perempuan di dunia ini. Ia tahu sekarang Lui-ji pasti tidak lagi menganggap Leng-hong sebagai orang jahat.

Didengarnya Leng-hong lagi pidato pula, “Pernikahan diantara lelaki dan perempuan memang serupa orang mengail, yang memegang alat pancing biasanya adalah si lelaki, boleh juga sekali tempo perempuan juga memegang alat pancingnya, toh yang mau terpancing hanya orang yang suka saja. Tapi pada saat kau berhasil mengail seekor ikan, bisa jadi ikan itupun menyangka kau yang terpancing olehnya.”

Dalam pada itu ia sudah membuka Hiat-to Lui-ji dan Pwe-giok yang ditutuknya tadi, lalu ia jejalkan tangan Lui-ji pada tangan Pwe-giok, seperti benar seperti pura-pura, seperti berkelakar tapi juga seperti bersungguh-sungguh ia berkata. “Sekarang kuserahkan dia padamu, jika kau berani membikin susah dia. awas, pasti akan kubikin perhitungan denganmu.”

Tiba-tiba Pwe-giok tertawa dan berkata, “Terima kasih!”

“Apa? Kaupun terima kasih padaku?” Leng hong melenggong.

“Ya, tadinya ku kuatir dia sukar diberi penjelasan, sekarang barulah merasa lega hatiku,” kata Pwe-giok.

“Ah, meski dimulut kau bicara demikian, didalam hati mungkin kau caci-maki padaku karena aku telah memberi kuliah pada binimu tadi,”

“Mana bisa ku caci-maki padamu?” ujar Pwe-giok dengan tak acuh. “Aku cuma merasa rada heran saja.”

“Oo! Heran bagaimana?” tanya Leng-hong.

“Ku heran, apa yang terjadi di sini cara bagaimana dapat kau ketahui di kejauhan sana?”

Leng-hong tersenyum misterius, ucapnya, “Masakah kau lupa pada dongeng tentang Kongsun Tiang yang mahir bahasa burung itu?”

“O, maksudmu kau terima berita melalui burungmu?” tanya Pwe-giok dengan rada geli. “Apakah kau kira sekarang aku masih percaya tentang bahasa burung yang kau kuasai itu?”

“Jika aku tidak paham bahasa burung, waktu kau terjebak di kamar sumur hantu itu, siapakah yang dapat menolong kau?”

“Yang…yang menolongku itu kan nona…nona Ki Leng-yan?” jawab Pwe-giok dengan ragu.

“Hahahahaha!” mendadak Leng-hong tertawa.

“Cara bagaimana kau tahu itu perbuatan Ki Leng-yan? Apakah dapat kau bedakan? Berapa banyak pula kau memahami diri kami?”

Pwe-giok jadi melengak, malahan terasa merinding.

Sebenarnya ia percaya penuh nona yang berdiri di depannya ini Ki Leng-hong adanya, sebenarnya ia percaya penuh Ki Leng-yan pasti tidak nanti berbuat demikian. Tapi sekarang, ia benar-benar bingung.

Maklumlah, terhadap dua kakak beradik itu memang tidak banyak yang diketahuinya. Meski Ki Leng-hong kelihatan sangat pintar dan cekatan, tapi siapa pula yang tahu bahwa kelinglungan Ki Leng-yan itu bukan pura-pura belaka?

Ki Leng-hong melototinya dan berucap pula sekata demi sekata, “Sekarang dapatkah kau membedakan siapa aku ini?”

Pwe-giok menghela nafas, jawabnya sambil menyengir, “Mestinya dapat kubedakan, tapi tambah lama tambah sukar bagiku untuk membedakannya.”

Leng-hong bergelak tertawa, katanya. “Dan sekarang tentunya kau tahu bahwa seorang yang menganggap benar-benar menguasai sesuatu urusan terkadang justeru sangat sedikit yang dikuasainya. Sebab bila dia merasa menguasai betul-betul, biasanya ia lantas tidak mau memikirkannya lebih mendalam lagi.”

Diam-diam Pwe-giok berusaha mencerna makna yang terkandung dalam kata-kata Ki Leng-hong ini, tanpa terasa ia jadi terkesima.

Pada saat itulah tiba-tiba ada orang mengetuk pintu perlahan, terdengar suara orang, katanya ingin melapor sesuatu.

Waktu Pwe-giok menengadah, barulah diketahuinya cuaca sudah kelam, hari sudah petang.

Yang mengetuk pintu dan masuk itu ialah Hiang-hiang, kini sudah bergairah lagi. Tentu berkat Kek-lok-wan pemberian Ki Leng-hong tadi.

“Ada urusan apa?” tanya Leng-hong.

“Di luar kedatangan tiga orang…”

“Ku ahu bila malam tiba, di sini akan banjir tamu,” sela Leng0hong dengan dahi berkerut. “Tapi hari ini… kau tahu beberapa daripada hari-hari biasa, mengapa tidak kau tolak mereka dan katakan tidak terima tamu.”

“Sejak magrib entah sudah berapa banyak tamu yang ditolak,” turu Hiang-hiang, “tapi ketiga orang ini tidak mau pergi meski sudah kukatakan hari ini Bong-hoa lau tidak menerima tamu, mereka berkeras masuk.”

Leng-hong menarik muka katanya, “Oo…Sudahkah kau periksa ketiga orang itu?”

“Siau Hong tidak berani bertindak sendiri dan melapor padaku, maka ku keluar melihat mereka, kulihat ketiga orang itu berdiri seperti patung didepan pintu dan tidak menerjang masuk secara paksa,” demikian tutur Hiang-hiang.

“Bagaimana bentuk mereka?” tanya Leng-hong setelah termenung sejenak.

“Karena di depan pintu malam ini tidak diberi lampu gantung, maka samar-samar hanya kelihatan usia ketiga orang seperti tidak muda lagi, kuda tunggangan mereka kelihatan jenis kuda terkenal dari Kwan-gwa, mulut kuda malahan masih berbusa, jelas baru saja menempuh perjalanan jauh dan berlari cepat.”

“Maka mereka tidak terlihat?” tanya Leng-hong.

“Mereka sama memakai topi pandan yang lebar dan buatan khas sehingga wajah mereka tidak jelas kelihatan, hanya satu diantaranya seperti ada cirinya, yaitu lengan baju kanan seperti kosong melompong, jelas seorang yang buntung tangannya.”

Gemerdep sinar mata Ki Leng-hong, ucapnya, “Jika demikian, ketiga orang ini jelas datang dari tempat jauh, bahkan tidak suka wajah mereka dilihat orang.”

“Ya, begitulah,” kata Hiang-hiang.

Leng-hong termenung sejenak, jengeknya kemudian, “Apakah diriku inilah sasaran mereka? Justeru akan kulihat orang macam apakah mereka itu dan untuk apa mereka datang ke sini? Apapun juga takkan ku kecewakan mereka.”

Sebenarnya sikap Lui-ji sudah kembali biasa, tapi begitu Ki Leng-hong keluar dan tertinggal dia dan Pwe-giok saja, ia menjadi kikuk dan tidak tahu kemana tangannya harus ditaruh?

Iapun tidak tahu waktu itu hati Pwe-giok sedang senang atau marah, juga tak dapat menerka apa yang sedang dipikirnya, sebab anak muda itu selalu kelihatan tenang dan halus.

Ia tidak tahu bahwa hati Pwe-giok saat itu juga tidak kurang kalutnya dan tidak tahu cara bagaimana harus bersikap terhadap si nona serta apa pula yang harus dibicarakannya.

Pwe-giok hanya tahu dirinya tidak boleh lagi menyinggung perasaan si nona. Sebab ia tahu, apapun juga, seorang anak perempuan seusia Lui-ji tentu penuh dengan khayalan yang muluk-muluk, mudah tersinggung dan juga gampang berduka, tapi juga paling kuat akan harga diri sendiri.

Masa inilah masa paling berbahaya bagi anak gadis, anak masa demikian inilah sering terjadi pergolakan batin dan tidak mantap pendiriannya, cukup sesuatu urusan kecil saja dapat menimbulkan petaka bagi mereka.

Namun Pwe-giok sesungguhnya juga tidak dapat mengakui Lui-ji adalah isterinya, seumpama usia mereka tidak selisih sebanyak itu, seumpama Lui-ji memang gadis yang sudah tumbuh cukup masa, sekalipun Pwe-giok benar-benar suka padanya, rasanya juga tidak nanti dia mengakui si nona sebagai isterinya.

Sebab, apapun juga tidak boleh Pwe-giok meninggalkan Lim Tay-ih.

Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana dirinya harus menyelesaikan urusan ini, sebab itulah dia tidak berani salah omong lagi, sebab itu pula mereka hanya duduk berhadapan saja dan tiada yang dapat dibicarakan.

Selagi keadaan terasa canggung, untunglah Ki Leng-hong telah kembali.

Serentak Pwe-giok dan Lui-ji bangkit dan menyongsong kedatangan Ki Leng-hong, tapi baru satu-dua langkah, keduanya lantas berhenti pula serentak, Lui-ji melirik Pwe-giok sekejap, sebaliknya Pwe-giok juga sedang memandangnya.

Lui-ji berharap Pwe-giok tidak jelas melihat air mukanya, siapa tahu Ki Leng-hong justeru menyalakan lampu didalam ruangan.

Keruan muka Lui-ji menjadi merah, ia menunduk dengan senyuman kikuk, cepat ia mundur dan duduk kembali.

Setelah mengerling sekejap. Leng-hong mengikik tawa, katanya, “Baru ku tahu sekarang bahwa semua pengantin di dunia ini ternyata sama, betapapun tabahnya seseorang, apabila menjadi pengantin baru tentu juga akan merasa malu.”

Makin rendah kepala Lui-ji tertunduk, sampai dia sendiri tidak tahu mengapa mukanya bisa semerah itu.

Pwe-giok berdehem untuk menghilangkan rasa canggung, lalu bertanya, “Sesungguhnya siapakah yang datang itu?”

“Entah, aku tidak tahu siapa mereka?” jawab Leng-hong.

“Bukankah baru saja kau keluar melihat mereka?” tanya Pwe-giok.

“Tidak, hakekatnya aku tidak keluar.”

“Sebab apa?” tanya Pwe giok pula.

“Sebab tanpa melihat mereka pun ku tahu apa maksud tujuan kedatangan mereka,” tanpa menunggu pertanyaan Pwe-giok lagi, segera Leng-hong menyambung, “Rupanya mereka telah berjanji dengan orang untuk bertemu di sini, makanya mereka buru-buru datang kemari. Orang Kangouw mengadakan pertemuan dirumah pelacuran kan sesuatu kejadian yang jamak.”

“Jika demikian, mengapa gerak gerik mereka sedemikian misterius seakan-akan kuatir dilihat orang?” kata Pwe-giok.

“Bisa jadi mereka bersepakat akan berbuat sesuatu yang tidak boleh dilihat orang,” ujar Leng-hong. “Kan banyak perbuatan yang tidak boleh dilihat orang di dunia “Kangouw, asalkan tidak ada sangkut pautnya dengan kita, untuk apa kita ikut campur.”

Pwe-giok termenung sejenak, katanya kemudian, “Aku menjadi tertarik untuk melihat bagaimana bentuk ketiga orang itu.”

Lenghong tertawa katanya, “Tak tersangka kau ini juga suka ikut campur urusan orang lain, padahal kau sendiri sedang dirundung macam kesulitan.”

“Justeru lantaran cukup banyak kesulitanku, maka biarpun ditambah lagi beberapa macam urusan lagi juga tidak menjadi soal bagiku,” jawab Pwe-giok dengan menyengir. “Apalagi, bila kulihat seseorang yang suka main sembunyi-sembunyi dan gerak-geriknya menimbulkan curiga, selalu kurasakan dia pasti ada sangkut pautnya dengan diriku.”

Mencorong sinar mata Ki Leng hong, katanya, “Cukup leluasa jika kau ingin melihat mereka, cuma sekarang Hiang-hiang sedang meladeni mereka, kuberani menjamin, darimana asal-usul mereka pasti sukar lolos dasri pengamatan Hiang-hiang.”

“Ah, kukira belum tentu,” mendadak Lui-ji menyeletuk.

Leng-hong tersenyum, katanya, “Tampaknya kau belum paham urusan-urusan beginian. Seorang anak perempuan yang sudah berkecimpung selama 3 tahun di rumah hiburan begini, maka matanya akan berubah jauh lebih tajam daripada pisau. Misalnya terhadap seorang tamu, betapa bobotnya, tebal atau tipis isi sakunya, begitu melangkah masuk rumah ini segera akan dapat dilihat mereka. Di depan mereka, jangankan orang miskin sok berlagak cukong, biarpun cukong sengaja pura-pura miskin juga akhirnya saku mereka akan dikuras habis habisan oleh mereka.”

Lui-ji tertawa, katanya, “Berlagak cukong memang jauh lebih gampang daripada pura-pura miskin.”

Pada saat itulah mendadak seorang menanggapi dengan mengikik tawa, “Hihihi, betul, orang yang berlagak cukong memang tidak kutakuti, orang demikian biasanya berani buang uang tanpa banyak yang mereka bawa. Sebaliknya orang miskin kebanyakan sukar dilayani, apa bila tidak kau beri rasa enak dulu kepadanya, biarpun saat itu saku mereka penuh duit juga jangan harap akan kau gaet sepeser pun.”

Jelas Hiang-hiang telah datang lagi.

“Bagaimana dengan ketiga orang itu?” tanya Leng-hong.

“Berada di pavilyun sana,” lapor Hiang-hiang.

“Mengapa tidak kau temani mereka?”

“Ketiga orang itu mirip patung belaka, ku tertawa pada mereka, sama sekali mereka tidak menggubris, ku bicara pada mereka juga tidak mereka dengarkan, hakekatnya aku ini tidak dianggap sebagai perempuan. ingin kulihat apakah diriku ini mendadak telah berubah tua atau buruk rupa, masa tiada orang yang tertarik lagi padaku.”

Lui-ji berkedip-kedip mendengarkan cerita Hiang-hiang itu, tiba-tiba ia berkata, “bisa jadi mereka orang tuli.”

Hiang-hiang bergelak tertawa, “Mereka tidak tuli, sebaliknya pendengaran mereka sangat tajam, lebih-lebih kakek itu, setiap kali ada orang berlalu diluar, segera ia melompat ke jendela dan melongok keluar.”

“Kakek?” gumam Pwe-giok sambil berkerut kening. “Kakek macam apakah dia?”

“Tampaknya sudah 60 atau 70 tahun, jenggotnya sudah putih semua, gayanya juga bukan sembarang orang, tidak saja kelihatan berduit, bahkan juga seperti cukup berpengaruh”, Hiang-hiang tertawa, lalu menyambung pula, “Tua bangka yang masih suka pelesir demikian sebenarnya sudah cukup banyak kulihat, namun kakek yang satu ini rada lain daripada yang lain.”

“Apanya yang lain?” tanya Pwe-giok.

“Orang yang datang kesini, semakin tua usianya semakin gila perempuan, dan juga makin suka main gerayang, tapi kakek ini senantiasa bersungut, seperti setiap saat siap berkelahi dengan orang.”

“Dia bicara dengan logat daerah mana?” tanya Pwe-giok.

“Hakikatnya dia tidak berucap satu katapun. hanya si buntung itu ketika menyeruhku menyediakan makanan telah berucap beberapa kata padaku, logatnya seperti orang dari daerah Kanglam.”

“Bagaimana bentuk orang ini?” tanya Pwe-giok tertarik.

Sikap Hiang-hiang seperti muak dan ingin tumpah, tuturnya dengan rasa jiji, “Usia orang ini pun tidak muda lagi, bukan saja sebelah tangannya buntung, bahkan mukanya penuh bekas luka yang merah menakutkan sehingga lebih mirip orang sakit lepra.”

Rada berubah air muka Pwe-giok, ia termenung sejenak, tanyanya kemudian, “Lalu bagaimana bentuk orang ketiga?”

Hiang-hiang tertawa cerah, tuturnya, “Orang ini masih muda, antara tiga orang hanya dia saja yang paling mirip manusia. Cuma tampaknya dia sudah beberapa hari tidak makan nasi, kurusnya tidak kepalang, tinggal kulit membungkus tulang, sampai membuka mata saja rasanya tidak sanggup.”

Kembali Pwe-giok termenung sejenak, ia berpaling dan berkata kepada Ki Leng hong. “Tadi kau bilang cukup leluasa apa bila ingin melihat mereka.”

“Betul,” jawab Leng-hong dengan tertawa, “di seluruh dunia, rumah pelacuran manapun, baik besar maupun kecil, sedikit banyak tentu ada sesuatu yang aneh, apa lagi rumah pelacuran ini adalah milik Oh-lolo.”

“Sesuatu yang aneh? Apa maksudmu?” tanya Lui-ji saking ingin tahu.

Leng-hong tidak menjawabnya, tapi bertanya malah, “Menurut perasaanmu, adakah sesuatu perbedaan antara cahaya lampu di sini dengan cahaya lampu di tempat lain?”

Lui-ji jadi melengak, ia menggeleng dan menjawab, “Apa perbedaannya?”

“Tidakkah kau rasakan cahaya lampu di sini lebih terang dan juga lebih lembut.”

“Oooo…” Lui-ji melongo.

“Tahukah kau apa sebabnya?”

“Sebab…sebab di ruangan ini tidak cuma dua buah lampu saja yang terletak di meja. Pada dinding juga tergantung dua lampu lagi,” jawab Lui-ji.

“Dan tahukah kau sebab apa kedua lampu itu ditaruh dekat dinding?

Kembali Lui-ji melengak, jawabnya, “Sebab apa? Sudah tentu untuk penerangan.”

“Haha, salah kau!” seru Leng-hong dengan tertawa. “Untuk mengintiplah maka kedua lampu itu dipasang di dinding.”

“Untuk mengintip?” Lui-ji menegas.

“Ya, apa bila ada orang mengintip di lubang kunci atau celah-celah jendela, bisa jadi akan dilihat olehmu, tapi kalau orang mengintip dari balik lampu sana, tentu takkan kau ketahui.”

Terbeliak mata Lui-ji, katanya,

“Betul juga, sebab pasti tidak ada orang yang akan memandang ke arah cahaya lampu, seumpama memandang kesana juga takkan jelas terlihat, sebab matanya pasti akan silau.”

“Betapapun kau memang pintar,” ujar Leng-hong dengan tertawa.

“Pantas Oh-lolo sedemikian banyak mengetahui segala seluk beluk kejadian di dunia kangow.” guman Lui-ji dengan gegetun.

“Tapi tujuan mengintip bukanlah karena ingin tahu rahasia orang lain,” kata Hiang-hiang tiba-tiba.

“Habis apa tujuannya ?” tanya Lui-ji

Dengan gemas Hiang-hiang menjawab,

“Dia tahu adat orang lelaki, bila seorang lelaki masuk rumah pelacuran, maka segala tingkah lakunya yang paling kotor dan rendah akan dikeluarkannya tanpa restan. Maka dia lantas sembunyi dibalik dinding untuk mengintip semua tingkah olah kaum lelaki ini, menyaksikan kami dipermainkan kaum lelaki, semakin senang hatinya. Terkadang dia malah menyeret lakinya untuk menonton bersama. Sebab hanya dengan cara inilah dia akan…akan mendapat kepuasan, sebab nenek jompo ini memang sudah terlalu reyot dan tidak.. tidak bergairah untuk berbuat sendiri, terpaksa ia harus main intip supaya…supaya dapat…”

“Cukup,” sela Leng-hong sambil berkerut kening.

“Memangnya perlu kau ceritakan lebih jelas lagi ?”

Terbelalak mata Lui-ji, ucapnya,

“Ceritanya memang belum begitu jelas, sebab aku memang belum begitu jelas, sebab aku memang belum begitu paham,”

Leng-hong tertawa geli, katanya,

“Urusan beginian, akan lebih baik jika kau jangan terlalu paham.”

Dengan gemas Hiang-hiang bertutur pula,

“Pendek kata, tujuan nenek itu membuka rumah pelacuran ini sebagian besar juga untuk memenuhi kepuasannya itu. Ya, nenek jompo ini bukan saja seorang perempuan yang keji dan kejam, bahkan juga orang gila yang kotor dan cabul.”

Pwe-giok menghela nafas, katanya,

“Tapi sekarang dia sudah mati. setiap orang mati adalah orang bajik, sebab dia takkan berbuat sesuatu lagi yang merugikan orang lain. Lalu, untuk apa kau mencaci-maki dia ?”

Akhirnya Ki Leng-hong membawa Pwe-giok ke suatu ruang rahasia yang berdinding rangkap.

Sudah tentu, didalam ruang sempit berdinding rangkap demikian hawa sangat panas, hanya mengintip sebentar saja mereka sudah sama berkeringat. Hanya Pwe-giok saja yang berkeringat dingin.

Sebab akhirnya diketahuinya bahwa si kakek yang berlagak tuan besar itu adalah Tong Bu-siang, sedangkan orang buntung yang bermuka buruk itu adalah Ong Uh-lau.

Seperti diketahui. buntungnya tangan dan rusaknya muka Ong Uh-lau itu adalah akibat terkena racun Khing-hoa-samniocu di hotel kecil itu dahulu. Sejauh ini baru sekarang Ong Uh-lau muncul lagi di depan umum.

Dengan sendirinya muka Ong Uh-lau sekarang sudah berubah sama sekali. Dipandang dari balik gelas lampu yang tembus cahaya, wajah Ong Uh-lau tampak beringas menakutkan, seolah-olah benci dan memusuhi setiap manusia di dunia ini.

Tong Bu-siang kelihatan berduduk tenang, lagaknya memang kereng sesuai seorang pemimpin suatu perguruan ternama, hanya sikapnya saja kelihatan rada tegang, kedua tangannya tiada hentinya mengutak-atik sebuah cawan teh di atas meja.

Masih ada seorang lagi yang duduk membelakangi Pwe-giok. Dengan sendirinya Pwe-giok tak dapat melihat wajahnya, hanya kelihatan bahunya sangat lebar, pinggang kecil.

Dengan menempelkan telinganya ke dinding dapatlah Pwe-giok mendengar suara didalam ruangan itu. Saat itu kedengaran ada langkah orang di luar.

Segera Tong Bu-siang melompat bangun, “Trang”, cawan sampai terjatuh ke lantai hingga pecah berantakan.

Dengan mendongkol Ong Uh-lau melototinya sekejap, meski tidak omong apa-apa, tapi Pwe-giok sudah dapat memastikan bahwa TOng Bu-siang ini pasti gadungan.

Sebab, ahli senjata rahasia seperti Tong Bu-siang, kedua tangannya pasti sudah sangat terlatih, kalau memegang sebuah cangkir saja tidak mantab, lalu cara bagaimana akan sanggup menyambitkan senjata rahasia keluarga Tong yang terkenal lihay itu ?

Wajah dan sikap orang ini memang persis Tong Bu-siang yang asli, boleh dikatakan “barang tiruan” yang sangat sempurna, kecuali kedua tangannya itu.

Maklumlah, tangan Tong Bu-siang yang menjadi andalannya itu memang tidak dapat dipalsukan oleh siapapun juga.

Terbeliak mata Pwe-giok, seperti mendadak melihat setitik sinar dalam kegelapan, sebab sekarang diketahuinya bahwa intrik busuk komplotan jahat itu toh tidak seluruhnya sempurna, masih ada titik-titik kelemahan yang dapat digempur.

Ternyata yang masuk kemudian tidak lain adalah Hiang-hiang dan beberapa genduk yang membawakan beberapa nampan makanan. Tong Bu-siang itu menghela nafas panjang, lalu berduduk pula.

Di bawah cahaya lampu, senyuman Hiang-hiang sungguh amat menggiurkan, setiap lelaki yang dilirik dengan senyuman maut Hiang-hiang itu mustahil kalau tidak segera mengajaknya ke dalam kamar.

Sekalipun senyuman maut Gin-hoa-nio rasanya juga tidak sebesar ini daya tariknya, sebab, apapun juga Gin-hoa-nio kan cuma “amatir” saja, sedangkan Hiang-hiang adalah “professional”, memang itulah pekerjaannya.

Cuma sayang, dia ketanggor, Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang itu bahkan sama sekali tidak melirik padanya, apalagi tertarik.

Sesudah para pelayan menyiapkan makanan dan minuman, dengan goyang pinggul Hiang-hiang lantas mendekati tamunya, ia angkat poci arak dan sengaja mempertontonkan tangannya yang putih mulus itu ke depan mata orang.

Gelang kemala hijau yang dipakainya sama berdentingan, suaranya juga halus merdu, biar tanpa arak juga suara tertawanya cukup memabukkan tamunya. Tapi sayang, Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang tetap tidak menggubrisnya, seperti tidak melihatnya sama sekali.

Namun Hiang-hiang belum putus asa, dengan suara nyaring seperti bunyi keleningan ia berkata,

“Silahkan tuan-tuan mencicipi arak simpananku ini, biasanya arak ini tidak sembarangan kusuguhkan kepada tamuku, hanya sekarang harus dikecualikan sebab hanya ketiga ksatria ternama seperti kalian inilah yang…”

Belum habis ucapannya mendadak Tong Bu-siang mendelik dan memotong ucapannya,

Darimana kau tahu kami ini ksatria ternama ? siapa yang beritahukan padamu ?”

Hiang-hiang mengerling genit, katanya dengan senyuman menggiurkan,

“Masa perlu diberitahu ? Sekali melihat sikap kalian yang berwibawa ini, kalau bukan ksatria ternama mana bisa sekereng ini ?”

Tong Bu-siang mendengus, katanya,

“Kami ini orang dagang, kekayaan kami memang boleh diandalkan…”

“Creng”, mendadak Ong Uh-lau melemparkan sepotong emas murni diatas meja, katanya,

“Kau ingin memiliki emas ini atau tidak ?”

Meski Bong-hoa-lau ini rumah hiburan yang biasanya penuh tamu berduit, tapi emas seberat ini tidaklah mudah diperoleh apabila tiada hubungan intim antara tamu dan langganannya.

Hiang-hiang pura-pura menunduk, ucapnya dengan menggigit bibir,

“Apakah tuan ingin…ingin…”

“Ku ingin kau keluar dari sini !” tukas Ong Uh-lau,

“Keluar dengan membawa emas ini, kalau tidak dipanggil sebaiknya jangan masuk kemari.”

Lui-ji mengira sekali ini Hiang-hiang pasti tidak dapat tertawa lagi. Siapa tahu, sambil mengerling Hiang-hiang berkata pula dengan tertawa genit,

“Ai, jika demikian, biarlah kuucapkan terima-kasih saja.”

Habis berucap segera ia comot emas itu dan benar-benar melangkah pergi.

Mendadak orang yang duduk membelakangi Pwe-giok itu berseru,

“Nanti dulu !”

Hiang-hiang menoleh dan tersenyum genit, tanyanya, “Ada apa lagi ?”

Tangan orang itu terjulur ke depan, tahu-tahu setangkai bunga goyang berhias mutiara besar tersunggih di tangannya.

Bunga goyang bermutiara ini jelas jauh lebih berharga daripada sepotong emas tadi, seketika perhatian semua orang tertarik oleh perhiasan ini, hanya Pwe-giok saja yang tetap memperhatikan tangan orang itu.

Tangan itu tidak kasar, bahkan jarinya halus dan lentik, tercuci sangat bersih, meski baru saja memegang tali kendali kuda dan menempuh perjalanan jauh, tapi tangannya tetap tidak sekotor sedikitpun.

Tangan ini tampaknya tidak terlalu kuat, tapi sangat mantap, dengan menyunggih bunga mutiara dan terjulur begitu tetap kelihatan mantap tidak bergoyang sedikitpun.

Dada Hiang-hiang tampak naik turun, dengan terengah ia berkata, “Selama hidup tidak pernah kulihat mutiara seindah ini, bolehkah aku memegangnya ?”

“Untuk apa hanya memegang saja ? Jika kau suka, boleh kuberikan padamu,” kata orang itu.

Suaranya ternyata suara orang muda, bahkan kedengarannya rada kemalas-malasan.

Hiang-hiang menjawab dengan tersenyum senang, “Jelas kau tahu tiada seorang perempuan yang dapat menolak pemberian perhiasan sebagus ini. kenapa kau perlu tanya lagi padaku.”

“Tapi kalau kau suka pada perhiasan ini, kau harus tinggal di sini dan mengiringiku minum arak,” kata orang itu.

Seketika timbul rasa kejut dan heran pada wajah Hiang-hiang, tanpa terasa ia pandang Tong Bu-siang dan Ong uh-lau, dilihatnya air muka kedua orang itu bersungut menahan rasa marah, tapi tidak berani menyatakan keberatannya.

Dengan sendirinya Pwe-giok jauh lebih terkejut dan heran daripada Hiang-hiang.

Siapakah gerangan pemuda itu ? mengapa dia sengaja memusuhi Ong Uh-lau ? terang-terangan Ong Uh-lau mengusir Hiang-hiang, tapi dia minta Hiang-hiang menemaninya minum arak ?

Tampaknya Ong Uh-lau hanya berani marah tapi tidak berani bicara, masa orang she Ong ini jeri terhadap pemuda itu ?

Bahwa mereka adalah satu rombongan dan datang bersama, jelas merekapun sedang melakukan sesuatu yang penuh rahasia, agaknya pemuda itupun anak buah Ji Hong-ho.

JIka begitu, mengapa dia memusuhi Ong Uh-lau dan mengapa Ong Uh-lau jeri padanya. Setahu Pwe-giok, kedudukan Ong Uh-lau dalam komplotan Ji Hong-ho gadungan itu tidaklah rendah, juga bukan seorang penakut, tapi mengapa mengalah kepada pemuda ini.

Tiba-tiba Pwe-giok merasakan pemuda inilah betul-betul seorang tokoh yang misterius…

Dengan sendirinya Hiang-hiang menurut dan berduduk lagi di situ.

Malahan ia sengaja berduduk di pangkuan pemuda itu, sekujur badannya terbenam dalam pelukan orang itu.

Ong Uh lau dan Tong Bu-siang saling pandang sekejap, mereka berpaling ke arah lain dan tidak mau memandang lagi rekannya.

“Huh, munafik, hipokrit,” ejek pemuda itu dengan bergelak tertawa.

“Sebabnya dunia ini kacau balau begini adalah karena terlalu banyak manusia munafik.”

Dia rangkul pinggang Hiang-hiang yang ramping, lalu menyambung pula dengan tertawa,

“Tapi antara kau dan aku tiada bedanya, sama-sama siaujin (manusia kecil, rendah) tulen, makanya kita berdua jauh lebih gembira daripada orang lain, betul tidak ?”

Hiang-hiang terkikik-kikik di tepi telinga pemuda itu, ucapnya, “Ya, bukan saja jauh lebih gembira daripada orang lain, bahkan juga jauh lebih menarik daripada orang lain.”

“Haha, ucapan bagus, ucapan tepat ! Harus kuhormati kau tiga cawan !” seru pemuda itu sambil bergelak.

Dia benar-benar menuang tiga cawan arak berturut-turut, sambil mengetuk poci arak iapun berdendang, “Manusia hidup jarang ketemu waktu gembira, mumpung ada kesempatan janganlah dilewatkan. Malam sejuk dan indah begini, mana boleh tanpa minum arak. Marilah mari, akupun menyuguh kalian tiga cawan arak !”

Sekali ini Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang ternyata sangat penurut, mereka benar-benar angkat cawan dan menenggaknya hingga habis meski dengan ogah-ogahan dan berkerut kening, cara minum arak mereka ini mengingatkan orang pada anak kecil yang dipaksa minum obat.

Tapi pemuda itu masih terus menenggak araknya secawan demi secawan, berbareng ia terus lalap santapan yang tersedia, malahan seperti santapan itu kurang lezat, berulang ia menggigit hidung Hiang-hiang pula.

Hiang-hiang tertawa cekakak dan cekikik, mendadak ia menjerit.

“Sakit ?” tanya pemuda itu.

Hiang-hiang membenamkan kepalanya di dada orang sambil menjawab, “O, tidak !”

“Hahahaha !” Pemuda itu tertawa.

“Sudah kuberikan bunga mutiara yang bernilai ribuan tahil emas tadi, maka akupun berhak menggigit kau dan terpaksa kaupun menjawab tidak sakit, Inilah manusia, setiap manusia ada harganya, ada tarifnya sendiri-sendiri, bedanya cuma tinggi atau rendah tarif saja.”

“Dan engkau sendiri apakah pasang tarif ?” tanya Hiang-hiang dengan aleman.

“He, kau ingin membeli diriku ?”

“Ehmm, akan ku beli kau dan kubawa pulang dan kusembunyikan didalam kamar.”

Pemuda itu tertawa keras, ucapnya, “Cuma sayang, harga diriku terlalu tinggi, jika kau cari duit mati-matian seperti sekarang ini, setiap tamu kau terima dan seluruh hasil pendapatanmu kau kumpulkan, setelah menabung 30 atau 50 tahun, mungkin masih ada harapan.”

“Wah, sementara itu bukankah aku sudah menjadi nenek-nenek ?” ujar Hiang-hiang sambil mengikik tawa.

“Asal ada duit, biarpun nenek-nenek juga tidak menjadi soal.”

Mendengar sampai di sini, dibalik ruangan rahasia Lui-ji tidak tahan dan mendesis, “Busyet, tampaknya orang ini cocok menjadi saudara angkat Ji Yak-ih.”

Ki Leng-hong menghela nafas pelahan, katanya, “Orang ini mungkin sepuluh kali lebih pintar daripada Ji Yak-ih dan juga berpuluh kali lebih menakutkan.”

“Tapi juga orang semacam dia inilah yang pantas disebut sebagai siaujin tulen.” tukas Pwe-giok.

Dilihatnya pemuda itu berturut-turut menghabiskan lagi tiga cawan arak, lalu memukul meja dan berseru dengan tertawa, “Meski sekarang kau tidak mampu membeli diriku, tapi aku mampu membeli dirimu. Kau beli diriku atau aku yang membeli dirimu, akhirnya kan juga sama saja?”

Mendadak ia berbangkit, Hiang-hiang diseretnya sambil berguman, “Wah, rasanya aku sudah mabuk dan ingin bobok, marilah kita…”

Dengan sempoyongan ia terus tarik Hiang-hiang ke kamar sebelah sana, terdengar suara tertawa Hiang-hiang dan pintu kamar pun tertutup.

Selang sejenak, terdengar pemuda tadi berdendang pula, dendangnya orang mabuk, suaranya semakin lirih dan akhirnya tak terdengar lagi.

Mendadak seluruh rumah hiburan itu berubah menjadi sunyi senyap, Lui-ji dan lain-lain yang mengintip dibalik ruang rahasia sana juga tidak berani bersuara lagi.

Selang sejenak pula, Tong Bu-siang menggeleng kepala dan berucap dengan menyesal, “Sungguh aku tidak mengerti, mengapa Bengcu menyuruh orang macam begini ikut ke sini bersama kita.”

Ong Uh-lau terpekur sejenak, sahutnya, “Perintah Bengcu, sudah tentu cukup beralasan.”

“Tapi orang sialan ini sebenarnya orang macam apa, kau tahu ?” tanya Tong Bu-siang.

“Akupun tidak tahu.” jawab Ong Uh-lau.

“Yang jelas Bengcu menaruh kepercayaan penuh kepadanya, sebab itulah beliau memberi pesan wanti-wanti padaku agar kita tunduk kepada perintahnya, apapun juga kehendaknya harus kita turuti.”

Tong Bu-siang menghela nafas, katanya,

“Tapi dalam keadaan demikian orang ini hanya tahu makan minum dan berfoya-foya, urusan lain tidak ambil pusing, malahan terus pergi tidur segala. Orang macam begini masa dapat dipercaya?”

Ong Uh-lau termenung sejenak, akhirnya tetap mengemukakan kata-kata yang sama, yaitu, “Atas pesan Bengcu, tentu ada alasannya.”

Baru sekarang Pwe-giok tahu sampai Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang juga tidak tahu asal-usul si pemuda yang misterius ini.

Sejak awal hingga akhir pemuda itu tetap berduduk membelakangi Pwe-giok sehingga yang kelihatan hanya bayangan samping saja, malahan hanya pandangan sekilas saja. Diketahuinya wajah pemuda itu sangat cakap, tapi juga seperti pemalas, membuka mata saja rasanya enggan.

Sampai saat ini Pwe-giok dapat memastikan sesuatu, yakni bukan saja ia tidak kenal pemuda ini, bahkan tidak pernah melihatnya sebelum ini.

Dalam pada itu, Tong Bu-siang dan Ong Uh-lau masih tetap duduk diam sana, arak setetespun tidak minum, makanan setitik juga tidak disentuh.

Malahan keduanya kelihatan rada tegang dan mulai gelisah.

Selang sekian lama lagi, tiba-tiba Tong Bu-siang tertawa dan berkata, “Kuharap orang itu bisa lekas datang, biarlah kita menyelesaikan urusan kita di luar dan biarkan dia menikmati menjadi pengantin baru, coba nanti cara bagaimana dia akan bertanggung jawab terhadap Bengcu”

Ong Uh-lau melotot lagi padanya sambil menjengek, “Hm, caramu bicara ini apakah takkan ketahuan belangmu?”

“Ketahuan belangku apa?” jawab Tong Bu-siang dengan mendelik.

“Ingat, sekarang kau ini dalam kedudukan apa?”

“Sudah tentu ku tahu.”

“Jika kau dalam kedudukan sebagai seorang Ciangbunjin suatu perguruan ternama, caramu bicara hendaknya juga berbau sebagai seorang berpengaruh. Tapi caramu bicara yang inginkan orang lain tertimpa malang dan mengharapkan kekacauan dunia ini hanya memperlihatkan kau ini berasal dari kaum rendahan”

—–

Berasal dari orang rendah macam apakah Tong Bu-siang gadungan dan Ong Uh-lau palsu itu?

Siapakah yang mereka tunggu dan intrik apa pula yang sedang mereka laksanakan?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

1 Comment »

  1. […] Imbauan Pendekar – 05 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:29 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: