Kumpulan Cerita Silat

03/06/2010

Imbauan Pendekar – 03

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Kunamisme, Agusis, Bpranoto, Kris_jusup, Bsarwono, dan Budiwibowo)

“Setelah mendapat petuah Suhu tadi, Tecu merasa dosa sendiri sudah kelewat takaran dan malu untuk hidup di dunia ini, Tecu rela menerima hukuman badan disayat pisau perak untuk menebus dosa” demikian ratap Siang Ji-long sambil mendekam di tanah.

Ucapan ini membuat semua orang terkejut dan bertambah heran.

Thian can kaucu juga berkerut kening, katanya, “Tentunya kau tahu hukuman badan disayat pisau termasuk hukuman mati agama kita?”

“Ya, Tecu tahu,” jawab Siang Ji-long.

“Padahal sudah kuampuni kau, kenapa kau minta dihukum?”

Dengan pedih Siang Ji-long menjawab, “Hal ini dilakukan Tecu dengan sukarela, sebab Tecu merasa berhutang budi kepada Suhu dan tidak dapat membalas, terpaksa menggunakan jiwa Tecu sebagai teladan bagi para Sute agar mereka bisa lebih prihatin.”

Sikap Thian can kaucu tambah lunak, ucapnya, “Tak tersangka kau mempunyai rasa kesadaran demikian, tidak percumalah ajaranku selama ini. Persoalan hari ini mestinya akan kuberi hukuman setimpal padamu, tapi karena kau sudah menyadari akan kesalahanmu, maka sudahlah, berdirilah kau.”

Diam-diam Cu Lui-ji merasa geli, pikirnya “Kiranya Siang Ji-long menggunakan akal ‘Ko-bak-keh’ (akal menyiksa diri sendiri) untuk menghindarkan hukuman berat…”

Tak terduga, tiba-tiba Siang Ji-long berkata pula dengan menyesal, “Meski Kaucu telah mengampuni Tecu, tapi Tecu tak dapat mengampuni dirinya sendiri, Tecu mohon sebelum ajal diperkenankan mengutarakan segenap dosanya supaya Tecu bisa merasa tenteram.”

“Kesalahan apa yang telah kau lakukan sudah kuketahui seluruhnya, kukira tidak perlu lagi kau katakan,” ujar Thian can kaucu.

Dengan pedih Siang Ji-long berkata, “Meski pandangan Kaucu maha tajam, tapi ada pula perbuatan Tecu yang kulakukan di luar tahu Kaucu, sekarang setelah Tecu mengetahui betapa luhur budi Kaucu terhadap Tecu, bilamana perbuatan Tecu itu tidak kubeberkan di depan Kaucu, sekalipun hidup Tecu akan merasa tidak aman, mati pun akan merasa tidak tenteram.”

Mau tak mau Thian can kaucu terkesiap oleh permintaan Siang Ji-long yang ngotot itu, Cu-lui ji juga terheran-heran, ia pikir, “Kalau Siang Ji-long ini menggunakan akal Ko-bak-keh, tentu sekarang sudah cukup baginya, mengapa dia masih terus ngotot begini, apakah dia memang sudah bosan hidup? Sesungguhnya apa maksud tujuannya?”

Selang sejenak, terdengar Thian can kaucu berkata. “Jika demikian, bolehlah kau uraikan.”

“Selama ini Kaucu memandang Tecu seperti anak sendiri,” demikian Siang Ji-long mulai menutur. “Kim-hoa, Gin-hoa dan Thi-hoa bertiga nona juga memandang Tecu sebagai saudara, akan tetapi Tecu ternyata tidak tahu budi, sebaliknya malah timbul napsu binatang…” dia melirik sekejap ke arah Gin hoa nio, lalu menyambung, “lima tahun yang lalu, pada suatu malam di musim panas di bawah sinar bulan purnama, ketika Ji kohnio sedang mandi di sungai, waktu itu usianya masih kecil sehingga tidak menaruh prasangka apa pun terhadap Tecu, tapi demi melihat tubuh Ji kohnio yang putih mulus, tubuhnya yang sudah tumbuh cukup masak itu, mendadak timbul pikiran busuk Tecu dan hendak…hendak…memperkosanya…”

Cara bicara Siang Ji-long ternyata terang-terangan, bahkan melukiskan kejadian itu dengan gerakan nyata.

Geli dan juga gemas Lui-ji, ia merasa biarpun ingin mengaku dosa, mestinya juga tidak perlu bergaya sejelas itu.

Tak tahunya Thian can kaucu ternyata tidak menganggap berlebihan uraian Siang Ji-long itu. sebaliknya malah memuji akan kejujurannya. katanya dengan perlahan. “Untuk kesalahanmu itu kau sudah dihukum dengan ulat menggeragoti badan, maka tidak perlu kau merasa menyesal.”

“Namun sejak itu, bila Tecu teringat kepada kejadian itu, segera nafsu birahi Tecu akan terangsang,” tutur Siang Ji-long pula. “Dari sini terbuktilah bahwa tecu sesungguhnya bukan manusia, bahkan lebih kotor daripada hewan.”

Bicara sampai di sini, agaknya saking menyesal dan malunya, mendadak ia mencabut pisau mengkilap itu terus menikam pahanya sendiri.

Thian can kaucu mengernyitkan dahi, tanyanya,” Selain itu, ada hal lain apa lagi?”

“Tecu tidak percuma tidak setia terhadap Kaucu, juga tidak berbudi terhadap sesama saudara seperguruan, demi merebut kedudukan ahli-waris Tecu, Tecu telah menggunakan segala tipu daya untuk memfitnah Toa-suheng sehingga akhirnya Toa-suheng dihukum mati oleh Suhu.”

“Siang Tay-long memang bermaksud jahat, sudah lama ada maksud hendak menghukum dia menurut penuturan rumah tangga kita, hal ini pun tidak dapat menyalahkan kau,” kata Thian can kaucu.

“Tapi apapun juga jalan pikiran Tecu memang jahat, apa lagi setelah Tecu menggantikan Toa-suheng menjadi Ciangbun suheng (murid pertama ahli-waris), terhadap para Sute tidak pernah Tecu memperlihatkan kasih sayang, sebaliknya malah, memperlakukan mereka dengan kasar, mencaci mereka dan memukul mereka dengan cara sadis…”

“Sebagai To-asuheng, kan pantas juga jika kau memberi hajaran terhadap para Sute, ini bukan sesuatu yang luar biasa,” ujar Thian can Kaucu.

Tadinya dia mendamprat Siang Ji long dengan kata-kata keras, tapi sekarang keadaannya telah berubah. Siang Ji-long seolah-olah sedang mencaci maki dirinya sendiri dan Thian can kaucu berbalik menjadi pembelanya.

Terdengar Siang Ji-long berkata pula,” Suheng memberi hajaran kepada sute memang pantas, tapi Tecu bertindak kelewat batas, untuk ini silahkan Kaucu tanya kepada Jisute, tentu Kaucu akan tahu betapa keji tindakan Tecu.”

Pandangan Thian can kaucu lantas beralih ke arah si jerangkong hidup, lalu bertanya, “Apakah betul tindakan Toa-suhengmu agak kelewat batas?”

“Oo…ti…tidak…Tecu…Tecu…” si jerangkong hidup menjadi gelagapan dan sukar untuk menjawab.

“Coba, sampai sekarang dia masih ketakutan dan tidak berani bicara terus terang, dari sinipun terbukti betapa dia merasa segan kepada Tecu,” kata Siang Ji-long pula. Dia menghela nafas, lalu menyambung, “Ji-sute, sungguh banyak tindakanku yang tidak pantas terhadapmu, sekarang aku bertekad untuk menebus dosaku itu, hendaklah kau bicara terus terang, caci-makilah diriku, makin keras kata-katamu makin tenteram perasaanku.”

Si jerangkong hidup memandangnya sekian lama, mendadak ia berseru, “Betul, biasanya Toa-suheng memang tidak menganggap Tecu sebagai manusia, tidak cuma main pukul dan caci maki saja padaku, bahkan…bahkan Tecu dipaksa melakukan hal-hal yang tidak berperikemanusiaan. Pernah satu kali tanpa sengaja Tecu telah memukul anjing kesayangan Toa-suheng, tapi Toa-suheng lantas paksa Tecu menyembah dan minta maaf kepada anjingnya, bahkan Tecu dipaksa makan kotoran anjing dan…”

“Sudahlah, cukup, tidak perlu dilanjutkan lagi,” kata Thian can kaucu dengan kereng.

Siang Ji-long menghela nafas, “Apa yang dikatakan Ji-sute memang benar, jika Tecu pikir sekarang, apa yang kulakukan itu memang…” sampai di sini ia mencabut lagi sebilah pisau dan menikam pula paha sendiri. Thian can kaucu termenung sejenak, ucapnya kemudian. “Apa pun yang telah kau lakukan, sekarang kau telah mengaku secara terus terang di hadapanku, ini membuktikan kau masih sangat setia padaku, asalkan selanjutnya jangan lagi berbuat kesalahan demikian, maka anggap selesaikan urusan ini.”

Mendadak Siang Ji-long mengucurkan air mata, katanya, “semakin baik Kaucu terhadap Tecu, semakin pedih hati Tecu. Budi kebaikan Kaucu tak dapat kubalas lagi selama hidup ini terpaksa kutunggu sampai titisan yang akan datang.”

Suaranya menjadi tersendat mendadak ia mencabut pula sebilah pisau terus menikam ke ulu hatinya sendiri.

Akan tetapi gerakan Thian can kaucu terlebih cepat, belum lagi ujung belati mengenai hulu hatinya, tahu-tahu Thian can kaucu sudah mencengkeram tangannya sambil membentak, “Ku larang kau mati. maka kau tidak boleh mati, jika tidak berarti kau membangkang perintah guru.”

Sembari bicara ia terus hendak merampas belati Siang Ji-long. Sebaliknya Siang Ji-long seperti sudah nekat dan masih meronta sekuatnya.

Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak dari gagang belati itu terpancar keluar selarik sinar perak, langsung menyambar ke muka Thian can kaucu.

Betapapun Thian can tidak menyangka akan terjadi perubahan demikian, meski ilmu silatnya maha tinggi juga sukar mengelak. Ia meraung keras-keras satu kali, tangannya membalik untuk menghantam Siang Ji-long.

Namun Siang Ji-long sempat menjatuhkan diri dan menggelinding jauh kesana, serunya dengan tertawa latah, “Siang Bok-kong, sekarang barulah kau tahu akan kelihaianku bukan?”

Apa yagn terjadi ini sungguh terlalu mendadak di luar dugaan siapapun juga, Gin hoa nio sampai menjerit kaget, bahkan Oh-lolo yang ulung itu pun terkejut.

Terlihat Thian can kaucu menutup mukanya dengan kedua tangan, teriaknya dengan suara parau, “Binatang, kau… keji amat kau!”- Sambil memaki tempaknya ia hendak menubruk maju.

Tapi siang Ji-long lantas berseru dengan menyeringai, “Apa yang tersembunyi di dalam gagang belatiku tentunya sudah kau ketahui, sekarang tidakkah lebih baik lekas kau duduk saja di situ, memangnya kau kuatir bekerjanya racun kurang cepat?”

Thian can kaucu Siang Bok kong benar-benar tidak berani bergerak lagi, kini langkahnya juga sempoyongan, berdiri saja tidak kuat, ia bergeliat sejenak, akhirnya jatuh terkulai.

Terdengar Siang Ji-long tertawa latah hingga lama sekali, jelas senangnya tidak kepalang. Sebaliknya beberapa murid THian can kau yang berseragam hitam tampak ketakutan dengan muka pucat, bergerak sedikit saja tidak berani.

“Wahai Siang Bok-kong,” demikian Siang Ji long berteriak pula dengan tertawa, “apa kau kira tadi aku memang tidak mengenali dirimu? Haha, bicara terus terang, sejak mula, begitu kau masuk ke sini segera ku tahu siapa kau, hanya saja aku pura-pura tidak kenal padamu agar aku dapat turun tangan padamu, dengan demikian seumpama aku gagal membunuhmu kan ada alasan yang dapat kugunakan untuk membela diri.”

Sambil mendekap mukanya, tubuh Thian can kaucu tampak berkejang, jelas sedang menahan kesakitan yang luar biasa, bahkan ia terus bergulingan di tanah dan tidak sanggup bicara lagi.

Cu Lui-ji merasa penasaran, katanya “Baru sekarang ku tahu kau memang hebat , tapi mengapa kau berbuat seperti tadi?”

“Setelah ku serang dia tadi baru kuketahui tua bangka ini masih mempunyai ilmu simpanan yang tidak pernah diajarkan kepadaku, bila bertempur jelas aku bukan tandingannya, terpaksa ku robohkan dia dengan akal,” tutur Siang Ji-long.

Pada umumnya seorang kalau berhasil berbuat sesuatu yang menyenangkan, maka sedapatnya ia ingin pamer supaya orang lain tahu akan kehebatannya. Kalau tidak maka sama halnya orang berpakaian perlente berjalan pada malam gelap. kurang mentereng. Siang Ji long juga demikian.

Begitulah dia berseri-seri dan sangat bangga, dengan tertawa ia lantas menyambung pula, “Sudah belasan tahun ku tinggal bersama tua bangka ini, setiap ciri kelemahannya sudah kupahami. Ku tahu dia sok anggap awak paling pintar, urusan apa pun tak dapat mengelabui dia. Orang yang berbuat salah asalkan mau mengaku terus terang padanya, maka dia akan gembira mengira orang tidak berani berdusta padanya.”

Makin omong makin bangga dia, setelah terbahak-bahak lebih keras, lalu berkata pula, “Terhadap titik kelemahannya itulah ku turun tangan dan ternyata dapat ku jebak dengan baik.”

“Lantas apa tujuanmu dengan berbuat demikian? Apakah karena kau ingin membalas dendam lantaran kau dihukum ulat menggeragoti badanmu?” tanya Lui-ji pula.

Siang Ji-long menyeringai, katanya, Budak cilik, terlalu banyak kau bertanya.”

Lui-ji tertawa, ucapnya pula dengan tertawa, “Seumpama kemudian kau dapat naik tahta sebagai Kaucu, mungkin orang lain juga takkan takluk padamu.”

Mendadak sorot mata Siang Ji-long yang tajam itu menyapu pandang sekejap ke arah para sutenya, lalu mendengus. “Kalian takluk padaku tidak!”

Serentak beberapa orang itu menyembah di atas tanah dan menjawab dengan suara gemetar, “Siaute takluk lahir batin!”

“Bagus, kalian ikut padaku, kelak kalian tentu akan mendapat pahala yang pantas,” kata Siang Ji-long dengan tertawa. “Sebelum ini, meski orang Kangouw sama jeri terhadap Thian can kau kita, tapi diam-diam mereka sama bilang Kau kita adalah agama jahat, tapi selanjutnya nama Thian can kau pasti akan berdiri sejajar dengan Bu-tong pay dan Siau lim pay, Kau kita akan menjadi suatu aliran besar yang diagungkan di Bu-lim dan tak ada orang yang berani memandang hina lagi kepada kita.”

“Hm, mungkin kau lagi mimpi,” jengek Lui ji tiba-tiba.

“Oo, kau tidak percaya?” tanya Siang Ji-long “Baik, akan ku beri waktu satu jam lebih banyak, biar kau saksikan apa yang terjadi.”

Lui-ji tidak menanggapi lagi, tapi diam-diam bertambah heran, pikirnya, “Dia ingin kusaksikan kejadian apa? Lewat satu jam lagi berdasarkan apa Thian can kau bisa mendadak berubah menjadi suatu aliran besar yang diagungkan?”

Dalam pada itu terdengar si Jerangkong hidup juga sedang menyembah dan berkata, “Toa-suheng maha bijaksana dan gagah perkasa, sudah lama juga Siaute bermaksud mendukung Toa-suheng sebagai Kaucu.”

“Oo? Apa betul?” Siang Ji-long menegas.

“Mana Siaute berani berdusta di hadapan Toa-suheng.” jawab si jerangkong hidup.

Siang Ji-long mendengus, “Aku ini orang yang kejam dan buas, tidak menganggap kalian sebagai manusia, mengapa kau masih tetap hendak mendukung aku menjadi Kaucu? Apakah kau ini sakit ingatan?”

Seketika wajah si jerangkong hidup yang kelabu itu bertambah pucat, tapi setiap cuil kulit daging mukanya seolah-olah gemetar.

Siang Ji-long tidak memberi kesempatan bicara padanya dengan menyeringai ia menyambung pula, “Ya, kau pasti mempunyai penyakit tertentu, atau mungkin kau ini sakit jiwa, kukira benakmu perlu direparasi.”

Mendadak si jerangkong hidup membalik tubuh terus menerobos keluar gua.

Akan tetapi Siang Ji-long sudah memperhitungkan kemungkinan ini, begitu si jerangkong bergerak, segera ia mendahului menghadang di depannya sambil mengejek, “Hm… kau ingin lari?”

“Tadi…tadi Siaute sembarangan mengoceh seperti kentut anjing, mohon…mohon Toa-suheng…” demikian si jerangkong menjadi ketakutan. Namun dia masih berusaha mencari hidup sambil bicara mendadak berpuluh bintik perak terpancar dari kedua tangannya.

Padahal jarak kedua orang sedemikian dekatnya, bintik perak itu terpancar dengan cepat lagi mendadak, ia yakin Siang Ji-long sukar menghindar.

Siapa tahu antara dia dan Siang Ji-long serupa juga Siang Ji-long menghadapi Thian can kaucu, serangan mautnya dianggap seperti permainan anak kecil saja, dengan perlahan Siang Ji-long mengebaskan kipasnya, tahu-tahu berpuluh bintik perak itu menyambar ke arah si jerangkong sendiri.

Kontan dia menjerit dan roboh terjengkang menyusul lantas berguling-guling di tanah sambil menjerit dengan suara parau, “Toa-suheng, mohon…mohon kau bunuh saja diriku, supaya… ku mati dengan cepat!”

Jelas pada senjata rahasia itu terdapat racun yang maha lihay, begitu mengenai tubuh manusia akan menimbulkan rasa sakit yang lebih baik mati daripada hidup, maka dapat dibayangkan betapa tersiksanya si jerangkong.

Tapi sama sekali Siang Ji-long tidak menghiraukannya, ia berpaling ke arah para Sute yang lain dan membentak dengan bengis, “selanjutnya barang siapa berani bersikap kurang sopan padaku, inilah contohnya!”

Di dalam gua itu seketika penuh diliputi suara keluhan dan rintihan yang membuat orang merinding. Siang Ji-long mengerling sekelilingnya, tiba-tiba pandangannya berhenti pada wajah Gin-hoa-nio.

Seketika otot daging di wajah Gin hoa nio juga berkejang.

Sambil menggoyangkan kipasnya dengan pelahan. Siang Ji-long mendekati Gin hoa nio, ucapnya dengan perlahan, “Kejadian lima tahun yang lalu itu tentunya masih kau ingat dengan baik, bukan?”

Gin hoa nio mengangguk.

“Waktu itu kau tahu aku sedang berlatih di dalam gua di tepi sungai sana, tapi kau sengaja membuka baju di luar gua, bahkan memperagakan tubuhmu dengan macam-macam gaya merangsang untuk memikat diriku. Ketika aku tidak tahan dan menerjang keluar untuk mencarimu, tapi kau lantas menolak malah, bahkan mengadukan diriku di depan si tua bangka, katanya kuperkosa dirimu, sesungguhnya sebabnya kau sengaja membikin susah padaku?”

Saking emosi otot daging pada mukanya tampak ikut bergerak-gerak, dengan suara parau ia berteriak, “Selama beberapa tahun ini senantiasa kupikirkan sebab apakah kau berbuat demikian padaku, tapi sukar kudapatkan jawabannya, dan baru sekarang ku tahu sebabnya kau berbuat begitu, hanya ingin membikin orang lain menjadi gila bagimu, menderita bagimu.”

“Bu…bukan begitu maksudku, Toa-suheng.” kaa Gin hoa nio.

“Habis apa maksud tujuanmu?” tanya Siang Ji-long.

“Seb…sebenarnya sudah lama ku jatuh cinta padamu,” tutur Gin hoa nio. “Waktu itu sebenarnya aku pun ingin dipeluk olehmu, tapi caramu terlalu kasar, terlalu buas, padahal waktu itu aku masih terlalu muda, melihat sikapmu itu aku menjadi takut.”

Mendadak suaranya berubah menjadi penuh daya pikat, dada pun naik turun, dada yang montok itu tampaknya seakan-akan meledakkan bajunya yang singsat itu.

Siang Ji-long melototi dada orang, sinar matanya seperti api yang berkobar-kobar, ucapnya sambil menyeringai “Sekarang kau masih takut atau tidak?”

Gin hoa nio menggigit bibir dan menjawab, “Sekarang aku…” dia tidak melanjutkan, sebab dia dapat bicara dengan matanya.

Tapi mendadak Siang Ji-long bergelak tertawa, ditengah tertawa latah itu mendadak ia menubruk maju, ditariknya baju Gin hoa nio hingga hancur seluruhnya dan tertampaklah badannya yang indah dan bernas.

Beberapa orang berseragam hitam itu sama melotot menyaksikan tubuh yang menggiurkan itu, meski tidak berani memandang terlalu lama, tidak jarang mereka main lirik lagi, semuanya bernapas terengah-engah seperti kerbau.

“Selama beberapa tahun ini senantiasa kuharapkan akan dapat melihat tubuhmu dalam keadaan telanjang bulat, ingin kulihat apakah tubuhmu berubah atau tidak,” demikian Siang Ji-long berteriak sambil tertawa latah.

Gin hoa nio menghela nafas panjang-panjang sehingga dadanya semakin membusung dan perutnya mengecil, ucapnya dengan lirih, “Kau lihat aku berubah atau tidak?”

“Tidak, kau tidak berubah,” gumam Siang Ji-long, sama sekali tidak berubah, tidak berubah…” satu kalimat itu diulanginya hingga beberapa kali, suaranya berubah rada gemetar mukanya berkerut-kerut dan butiran keringat menghiasi dahinya.

Melihat wajahnya yang beringas itu, Cu Lui ji merasa kuatir juga, dilihatnya sinar mata Siang Ji-long itu makin membara, seakan-akan sudah gila benar-benar.

Tapi Gin hoa nio tidak melihat apa pun, sebab sejak tadi dia sudah memejamkan matanya, ucapnya dengan suara memikat, “Jika benar senantiasa kau pikirkan diriku, kenapa sekarang tidak kau…

Mendadak Siang Ji-long meraung satu kali, teriaknya dengan suara parau, “Kau tidak berubah tapi…tapi aku sudah berubah!”

Sekonyong-konyong ia membuang kipasnya dan menubruk maju pula, tubuh Gin hoa nio dipukulnya, dicubit, digigi, dicakar, dan dijilatnya, napasnya ngos-ngosan, keadaannya mirip seekor anjing gila,

Lelaki macam apa pun pernah dilihat Gin hoa nio, tapi tidak pernah melihat orang gila begini, keruan ia ketakutan dan menjerit, “He, apa yang kau lakukan? Apa-apaan kau ini?”

Dengan napas terengah-engah Siang Ji-long berkata, “Tahukah kau seorang lelaki akan berubah bagaimana setelah diganjar hukuman ulat menggeragoti badan? Ketahuilah, dia akan berubah menjadi bukan lelaki lagi. Dan karena gara-garamu sehingga aku bukan lagi seorang lelaki, maka aku pun akan membikin kau bukan lagi perempuan.”

Gin hoa nio melenggong, tanyanya dengan terputus-putus, “Masa…masa kau tidak…tidak dapat…”

“Ya, aku tidak dapat, aku tidak …tidak mampu…tidak mampu lagi.” demikian Siang Ji-long meraung kalap.

Kini sampai-sampai nenek reyot macam Oh-lolo juga tidak tega menyaksikan gerakan tangan Siang Ji-long itu. Apa yang diperbuatnya sudah bukan lagi seorang lelaki, bahkan boleh dikatakan bukan perbuatan manusia, sebab kalau dia manusia tidak nanti melakukan perbuatan sadis semacam itu.

Terdengar Gin hoa nio merintih, “O, kumohon…am..puni diriku, lebih…lebih baik kau bunuh saja diriku.”

Semula dia masih memohon agar diampuni tapi akhirnya dia meminta agar lebih baik Siang ji-long membunuhnya saja, nyata penderitaannya sudah sukar untuk dibayangkan.

Namun Siang Ji long belum lagi berhenti ucapnya sambil menyeringai, “Hm, kau ingin mati? Mana boleh semudah ini? Akan kubikin kau…”

Tubuh Gin hoa nio yang tadinya putih mulus itu kini sudah berlumuran darah, akhirnya ia tidak tahan dan jatuh pingsan.

Sekujur badan Siang Ji-long, mukanya dan tangannya juga berlepotan darah, gerak tangannya juga mulai lambat dan akhirnya berhenti, napsunya yang terengah-engah lambat laun juga mereda.

Kedua matanya yang merah membara tadi mendadak berubah menjadi buram seperti ikan mati. sekujur badan serasa kehabisan tenaga, ia berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun. Nyata napsu birahinya yang gila tadi akhirnya telah mendapatkan pelampiasan.

Didalam gua itu menjadi sunyi senyap, hening seperti kuburan.

Tiba-tiba di luar gua bergema pula detak kaki binatang tunggangan, tapi sekali ini Siang Ji-long tidak lagi membentak dan bertanya, air mukanya yang menyerupai orang mati itu berbalik menampilkan rasa girang, agaknya sejak tadi dia sedang menantikan kedatangan seseorang, dan sekarang, orang yang di tunggu-tunggu itu telah tiba.

Diam-diam Lui-ji membatin, “Jangan-jangan sudah lama dia berkomplot dengan orang luar, makanya berani bertindak terhadap Thian can kaucu. Tadi dia suruh aku menunggu lagi barang satu jam, apakah maksudnya akan menunggu kedatangan orang ini?

Tapi siapakah gerangan orang yang datang ini? siapa pula yang bisa berkomplot dengan Siang Ji-liong yang menyerupai binatang buas dan gila ini?

Mau tak mau Lui-ji menjadi tegang, ia tahu sekarang sudah tiba pula saat yang menentukan mati dan hidupnya, kalau tidak mencari akal untuk bertindak, bilamana orang ini sudah datang, maka baginya hanya ada satu jalan saja, yaitu mati.

Akan tetapi berada dalam cengkeraman orang gila semacam ini apa pula yang dapat dilakukannya? Berada di tempat begini tentunya juga takkan datang orang yang akan menolong mereka. Lalu, apakah mereka harus pasrah nasib dan mati di tangan orang gila ini?

Suara detak kaki kuda di luar semakin dekat, sekonyong-konyong seekor kuda berlari masuk secepat terbang, pelana kuda ini tampak mengkilat, seekor kuda yang bagus dan gagah. Penunggangnya seorang lelaki kekar juga berbaju mentereng walaupun wajahnya tidaklah menarik.

“Apakah kau kenal orang ini?” tanya Lui ji kepada Oh-lolo dengan suara bisik-bisik.

“Tidak,” jawab si nenek.

“Tampaknya tokoh Bu-lim kelas tinggi tidak banyak yang kau kenal,” ujar Lui-ji.

“Kalau orang inipun tokoh Bulim kelas tinggi biarlah nenek mencungkil mataku sendiri.” kata Oh-lolo.

“Hidungmu sudah hilang, kalau matamu dicungkil lagi, kan tambah buruk?” ujar Lui-ji.

Meski dimulut ia berucap begitu, tapi sesungguhnya ia pun percaya pendatang ini memang bukan tokoh Bu-lim segala, kepandaiannya menunggang kuda tampaknya lumayan, tapi matanya tidak bersinar. Dari gerakannya waktu turun dari kudanya juga dapat diukur ilmu silatnya pasti tidak tinggi.

Namun begitu air muka Siang Ji-long tetap kelihatan bergirang, sama sekali tidak terasa kecewa akan kedatangan orang.

Apakah memang orang inilah yang ditunggunya? Masa orang ini dapat diandalkan untuk menjunjung nama Thian can kau sehingga diagungkan di dunia persilatan?

Tapi apapun juga, yang jelas orang yang di tunggu-tunggu Siang Ji-long kini sudah datang, jiwa Cu Lui-ji bertiga sudah terancam, betapapun mereka harus cepat mencari akal.

Terlihat orang berbaju mentereng itu memberi hormat kepada Siang Ji-long setelah melompat turun dari kudanya, katanya, “Numpang tanya adakah di sini seorang Siang Ji-long?”

“Aku inilah Siang Ji-long, sudah lama kutunggu kedatanganmu,” jawab Ji long.

Orang itu seperti merasa lega karena dapat menemukan orang yang dicari ucapnya pula dengan tertawa, “Hamba ditugaskan kemari untuk…”

Belum lanjut ucapannya, secepat kilat tangan Siang Ji-long sudah bekerja, seperti pisau saja ujung jarinya sudah menusuk tenggorokan orang itu.

Lelaki itu cuma sempat menjerit setengah suara, lalu kedua matanya melotot seperti mau melompat keluar dari kelopak matanya, ia tatap Siang Ji-long dengan rasa kejut dan sangsi, nyata sampai ajalnya ia belum lagi paham mengapa Siang Ji-long bisa mendadak menyerangnya dan membinasakan dia. Sampai mati pun dia dapat menjadi penasaran yang tidak tahu sebab apa dia dibunuh.

Cu Lui-ji dan lain lain juga terkejut. Mereka pun tidak mengerti sebab apa Siang Ji-long membunuh orang itu.

Kalau yang di tunggu Siang Ji-long adalah orang ini, mengapa mendadak dibunuhnya pula ? seumpama orang ini hanya pengantar saja dan Sian Ji-long harus membunuhnya untuk ditanyai dahulu keterangan yang diperlukan, mengapa sebelum orang itu habis bicara terus dibinasakannya?

Sekalipun Oh lolo adalah rase tua yang paling licin juga merasa bingung melihat kejadian itu.

Diam-diam Lui-ji membatin, “Jangan-jangan Siang Ji-long tahu orang itu membawa sesuatu dokumen yang sangat penting dan harus dirahasiakan, maka lebih dulu membunuhnya untuk menghilangkan saksi hidup.”

Hanya demikianlah kesimpulannya, sebab selain ini hakekatnya tidak ada alasan lain.

Tak terduga, mendadak Siang Ji-long mendepak sehingga mayat lelaki itu terpental jauh ke sana, tanpa memandangnya lagi Siang Ji-long terus melompat ke sana dan memegang tali kendali kuda tunggangan orang tadi. pelahan ia mengelus bulu suri kuda itu, katanya dengan tertawa, “Ha ha, apakah kalian kira orang itu yang kutunggu? Ha ha, kalian salah sangka semua, yang kutunggu justeru adalah kuda ini.”

Lui-ji dan lain-lain sama melenggong.

Bahwa yang di tunggu-tunggu Siang Ji-long adalah seekor kuda! apa apaan ini? sudah gilakah dia ?

Lui-ji menghela napas, ucapnya sambil menyengir, “Tampaknya hanya kuda saja yang dapat bergaul dengan anjing gila semacam kau ini.” Siapa tahu, belum lenyap suaranya, mendadak tangan Siang Ji-long begitu keras seolah-olah terbuat dari baja.

Kuda itu meringkik kaget, kontan kepalanya pecah berantakan dan roboh.

Bukan cuma penunggang kuda saja yang dibinasakan, kudanya juga telah dibunuh Siang-Ji-long.

Sampai di sini semua orang tahu Siang Ji-long benar-benar telah gila, sebab selain orang gila, siapa lagi yang dapat melakukan hal hal yang aneh dan membingungkan ini?”

Sungguh Cu Lui-ji tak berani membayangkan tindakan keji apa pula yang akan dilaksanakan si gila ini terhadap dirinya.

Didengarnya Ji Pwe-giok lagi menghela napas, ucapnya dengan rawan, “Maaf, bukan saja aku tidak dapat menjaga dirimu, sebaliknya… sebaliknya kau…”

“Mana boleh sicek yang disalahkan?” ujar Lui-ji dengan pedih, “Justeru salahku sendiri yang telah membikin susah Sicek.”

Pwe-giok menggeleng dan tidak tahu apa yang harus diucapkan lagi.

Oh-lolo lantas mengejek, “Kalau kau sendiri toh selekasnya akan mati, untuk apa kau bersedih bagi orang lain?”

“Jalan pikiran orang seperti sicek, selama hidupmu tak mungkin dapat memahaminya.” kata Lui-ji. “Sebab orang semacam kau, yang selalu kau perhatikan hanya dirimu sendiri, sedangkan sicekku, dia… dia selalu memperhatikan kepentingan orang lain..” “Hm, dia selalu memikirkan kepentingan orang lain?” jengek Oh-lolo. “Mengapa dia tidak memperhatikan kepentinganmu?”

Lui-ji tidak menanggapinya lagi, tapi di dalam hati terasa manis dan bahagia.

Sekarang meski diketahui dirinya pasti akan mati, namun dia tidak takut, sebab ia tahu di dunia ini sedikitnya ada seorang yang dapat memperhatikan keselamatannya.

PWe-giok sama sekali tidak paham perasaan anak gadis semacam ini, sudah tentu, seumpama dia paham, dalam keadaan demikian dan pada saat begini, tentu pula dia tidak tega melukai perasaannya.

Dalam pada itu Siang Ji-long telah menyeret kuda mati itu ke tengah dan mulai menyembelih perutnya. Isi perut kuda itu dibetotnya keluar semua.

Hampir tumpah Lui-ji, Tadinya ia mengira makhluk yang paling berbisa di dunia ini adalah ular dan yang paling keji adalah serigala, tapi sekarang ia baru tahu bilamana seorang sudah gila, terkadang manusia jauh lebih menakutkan daripada ular berbisa dan serigala kelaparan.

Pwe-giok dapat merasakan tubuh anak dara itu lagi gemetar, dengan suara lembut ia menghiburnya, “terhadap orang gila begini, asalkan kau tutup mata dan tidak memandangnya, tentu kau takkan merasa takut.”

“Aku tidak takut, aku cuma merasa sedih.” Kata Lui-ji dengan menghela napas pelahan, lalu menyambung pula sambil menunduk, “Mestinya ada kesempatan lari bagiku, tapi sayang, kini kesempatan itu sudah ku bikin runyam.”

Seketika Oh-lolo melotot, hampir saja ia berteriak, “Apa katamu?”

“Tadi waktu kalian terbius dalam kereta, aku sendiri masih sadar, dari atap kereta dapat kutemukan sepotong dupa bius, sisa setengah potong lidi dupa itu telah kusembunyikan.”

Mencorong terasa sinar mata Oh-lolo, ia menegas dengan suara tertahan, “Dan setengah potong lidi dupa itu kini berada padamu? Alangkah bagusnya jika dapat kita lemparkan lidi dupa itu ke gundukan api unggun, orang-orang itu sedang gila tentu takkan memperhatikan hal ini,:

“aku pun sudah memikirkan hal ini,” kata Lui-ji. “Kupikir, sekalipun kau dan… dan Sicek juga roboh terbius bersama mereka, tentu aku pun dapat meloloskan diri, sebab pada waktu mereka meringkus tanganku dengan tali, aku pura-pura tak sadar, tapi diam-diam kugunakan tenaga sehingga tanganku tidak terikat dengan erat.”

Dia berhenti sejenak dan menghela napas, lalu menyambung pula, “Tapi sekarang, semua itu tak ada gunanya lagi.”

“Sebab apa?” desis Oh-lolo dengan suara parau. “Sebab pada waktu si gila bicara dengan Thian-can-kaucu tadi, di luar tahu mereka telah kulemparkan setengah potong lidi itu ke sana, kukira akan dapat mencapai gundukan api unggun itu, siapa tahu…”

“Masa lemparanmu tidak mencapai tempat tujuan? Oh-lolo menegas dengan suara serak.

“Betul, sebab waktu itu aku terlalu tegang, ketika melempar, tanganku terasa kejang dan…”

“Lalu terlempar kemana setengah potong lidi dupa itu?” tanya Oh-lolo.

“Dapatkah kau lihat sepotong benda yang serupa tusuk kundai di depan kepala Thian-can-kaucu itu? Nah, itulah dupa bius tersebut.” jawab Lui-ji.

Waktu itu Thian-can-kaucu Siang Bok-kong telah terkulai di tanah seperti orang mati, persis di depan kepalanya memang betul ada setengah potong dupa warna perak, kira-kira satu meter jauhnya dari gundukan api unggun.

Dengan gemas Oh-lolo mengomel, “Kau budak mampus, kalau kau sendiri tidak becus, mengapa kau sok pintar sendiri, tapi tanganmu ternyata lebih goblok daripada kaki keledai, lebih baik kau potong saja tanganmu.”

Sekali ini Lui-ji diam saja manda dimaki. Tapi Pwe-giok lantas berkata dengan lembut.

“Padahal kalau kau serahkan lidi dupa bisu itu kepadaku, mungkin satu jengkal saja tidak kuat kulemparkan.”

Lui-ji menunduk, katanya, “Omelan Oh-lolo memang tidak salah, sesungguhnya aku memang sok pintar, sebab maksudku ingin membikin … dan girang Sicek, agar Sicek tahu aku juga mampu berbuat sesuatu, siap tahu… ”

“Siapa tahu kau ini seorang tolol, gadis goblok.” Oh-lolo mencaci maki pula, “kau tidak cuma membikin celaka orang lain, juga membikin susah dirinya sendiri. Yang kau pikirkan hanya ingin pamer di depan Ji Pwe-giok, kau kira dia akan suka padamu? Huh, kau cuma dianggapnya seperti anak kecil saja, apalagi kekasihnya yang jauh lebih cantik tak terhitung banyaknya, mana dia bisa menyukai budak cilik ingusan macam kau ini.”

Seketika Lui-ji menggigil pula, ucapnya dengan suara terputus, “Kau… kau tua… tua bang…”

Belum lanjut umpatannya, mendadak seorang menjerit ngeri, “Aduh tanganku… tanganku… tanganku…”

Sejak Ji-suhengnya, yaitu si jerangkong hidup dirobohkan Siang Ji-long, ke enam murid Thian-can-kau yang lain sama berdiri mematung di pojok sana, tidak berani bergerak, bahkan bernapas pun tidak berani keras-keras. Tapi sekarang salah seorang di antaranya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, di bawah cahaya api kedua tangannya kelihatan hitam dam bengkak.

Siang Ji-long tidak menggubrisnya, seperti orang gila dia masih terus mengaduk isi perut kuda mati itu.

Pwe-giok memandang Lui-ji sekejap. “Kembali kau lagi?”

Lui-ji menggigit bibir, katanya, “Habis siapa suruh dia sembarangan menggerayangi tubuhku, dia yang mencari mampus sendiri.”

Kembali mencorong mata Oh-lolo, tanyanya, “Jadi orang itu hanya meraba sekali di tubuhmu lalu tangannya berubah begitu?” Lui-ji mengiakan.

Wajah Oh-lolo tampak berseri-seri dan gembira ria, katanya, “Ai, nona yang baik, bilamana kau pun dapat memancing Siang Ji-long merabai tubuhmu, maka dapatlah kita tertolong.”

Seketika Lui-ji menarik muka dan tidak menanggapinya.

Dengan suara tertahan Pwe-giok lantas berkata, “Mati atau hidup sudah suratan nasib, sekalipun kita harus mati juga si gila itu tidak boleh menyentuh seujung jarinya.”

Lui-ji menunduk dengan penuh rasa terima kasih.

Oh-lolo melirik ke arah Siang Ji-long, ucapnya dengan tertawa terkekeh, “Tapi kalau dia berkeras akan merabanya, apa daya kita?”

“Jika dia berani berbuat, tentu akan kuberitahukan bahwa di tubuh Lui-ji terdapat racun,” kata Pwe-giok.

“Jadi kau lebih suka mati?” tanya Oh-lolo dengan melengak.

“Daripada hidup terhina, kan lebih baik mati, pantang menyerah,” jawab Pwe-giok hambar.

Oh-lolo melenggong sejenak, katanya kemudian sambil menyengir, “Siang Ji-long orang gila, tapi Ji Pwe-giok orang maha goblok, sungguh sial tujuh turunan dapat kutemui dua orang macam begini.”

Pada saat itulah mendadak terdengar Siang Ji-long bersorak gembira, teriaknya, “Aha, ini dia, di sini, sudah kutemukan!”

Semua orang jadi terheran-heran, entah si gila itu menemukan apa didalam perut kuda. Hanya Pwe-giok saja yang segera melihat tangan Siang Ji-long memegang satu biji mutiara yang mengkilat.

Dalam pada itu murid berseragam hitam yang tangannya hitam bengkak tadi lantas menyembah kepada Siang Ji-long sambil berteriak, “Tangan … tanganku, Toa-suheng, mohon … mohon belas kasihan Toa-suheng, tolong … tolonglah …”

Gemerdep sinar mata Siang Ji-long, tanyanya, “Tanganmu keracunan?”

Orang itu menyembah pula berulang-ulang, ratapnya. “Selamanya Siaute taat dan setia terhadap Toa-suheng, mohon … mohon Toa-suheng suka …”

“Apakah kau kira aku yang meracuni kau?” bentak Siang Ji-long dengan gusar.

“Siaute pantas mampus, mohon belas kasihan Toa-suheng,” demikian orang itu masih terus meratap dan memohon.

Siang Ji-long menyeringai, ucapnya, “Kau sendiri keracunan, tapi tidak tahu siapa yang meracuni kau, untuk apa orang macam begini dibiarkan hidup, hanya bikin malu Thian-can-kau saja …”

Wajah murid itu menjadi pucat, serunya dengan gemetar, Toasuheng, engkau …”

Belum habis ucapannya, mendadak Siang Ji-long menyayat perutnya dengan pisau yang dibuatnya menjagal kuda tadi. Seketika darah segar terpancur keluar dan membasahi tubuh Siang Ji-long.

Tanpa berkedip dan juga tidak mengusap darah yang membasahi wajahnya, dengan tertawa siang Ji-long berkata pula, “Sekarang tahukah kau untuk apa kusuruh kau menunggu lagi satu jam?”

Ucapannya ini jelas ditujukan kepada Cu Lui-ji.

Mau-tak-mau Lui-ji berkata, “Memangnya apa yang kau temukan di dalam perut kuda?”

“Ini!” seru Siang Ji-long sambil membuka telapak tangannya, maka dapatlah Lui-ji melihat satu biji benda kecil terbuat dari perak, mirip sebuah bola kecil.

“Mainan apakah itu ?” tanya Lui-ji sambil berkerut kuning.

“Lihat!” kata Siang Ji-long sambil mengekeh tertawa, dengan dua jarinya dia putar bola kecil itu, mendadak bola perak itu terbelah dua dan menggelinding keluar sebutir Lakwan (bola malam) ketika Lakwan itu dipecah, terdapat secarik sutera putih didalamnya.

Pada kain putih itu tertulis huruf kecil, kiranya sepucuk surat.

“Sekarang kau paham tidak?” tanya Siang Ji-long sambil tertawa.

“Demi sepucuk surat, begini besar tenaga yang dikeluarkan, kukira agak kurang setimpal,” uajr Lui-ji dengan tak acuh. Meski begitu ucapannya, namun di dalam hati sebenarnya sangat heran dan terkesiap.

Jelas pengirim surat itu kuatir si pengantar surat akan membocorkan rahasia isi surat itu, maka surat itu sengaja disembunyikan di dalam perut kuda, kecuali si penerima surat, siapa pun takkan menyangka di dalam perut kuda ada surat penting dan sukar ditemukan oleh siapa pun juga.

Jadi pengirim surat itu sengaja mengorbankan seekor kuda sebagai alat pengirim surat, bahkan sebelumnya jelas sudah ada janji dengan Siang Ji-long agar nanti membunuh orang yang datang dengan menggunakan kuda ini.

Demi keamanan sepucuk surat, orang itu tidak sayang mengorbankan nyawa satu orang dan seekor kuda, betapa hati-hati tindak-tanduknya dan betapa keji caranya, sungguh jarang ada bandingannya di dunia ini.

Begitulah Lui-ji memandang kain surat itu dengan cermat, sedapatnya ia ingin menemukan sesuatu rahasia pada benda itu, ingin diketahuinya sesungguhnya gerangan siapakah pengirim surat itu?

Berbeda dengan Oh-lolo, nenek itu sejak tadi terus menerus mengawasi setengah potong lidi dupa, dia hanya berharap hendaknya setengah potong lidi dupa itu bisa mendadak bergeser ke tengah gundukan api unggun sana.

Cuma sayang, tiada terdapat embusan angin di dalam gua ini sehingga lidi dupa itu tidak mungkin berjalan sendiri. Oh-lolo pun tahu harapannya itu hanya mimpi belaka.

Siang Ji-long sedang membolak-balik membaca surat itu, tampaknya dia sangat gembira, setiap kali habis membaca tentu dia tertawa.

Tidak kepalang gemas CU Lu-ji, kalau bisa ingin dirampasnya surat itu.

Tiba-tiba didengarnya Siang Ji-long berkata, “Apakah kau ingin membaca surat ini?”.

Lui-ji terkesiap dan juga bergirang, tapi ia sengaja menjawab dengan hambar, “Ah, untuk apa kubaca surat yang tiada menyangkut kepentinganku?”

“Akan kuperlihatkan surat ini padamu,” kata Siang Ji-long dengan menyeringai. “Sebab ku tahu kau pasti akan menjaga rahasia bagiku. Di dunia ini hanya orang mati saja yang dapat menjaga rahasia”.

Lalu dia membentang kain surat itu di depan mata Cu Lui-ji.

Surat itu tertulis:

“Siang-kaucu yang mulia.

Apabila surat ini anda terima, tentu pula tepat pada saat Anda naik tahta. Mengingat bakat dan kepandaian Anda yang tiada taranya kejayaan Kau kalian jelas akan berkembang dalam waktu singkat ini. Untuk itu kami tidak saja ikut merasa bahagia bagi kejayaan Kau kalian, tapi juga merasa bersyukur bagi sesama umat persilatan.

Adapun urusan yang pernah kita rundingkan sudah tidak menjadi persoalan lagi, kujamin sepenuh tenaga bahwa pada pertemuan besar Hong-ti yang akan datang pasti akan kuserahkan kedudukanku ini kepada pihak yang lebih berwenang, kami pasti akan mendukung Kau sekalian sebagai pejabat Bengcu.

Setelah Anda memegang pucuk pimpinan, maka baik Bu-tong maupun Siau-lim harus tunduk juga di bawah pimpinan Anda. Hanya saja urusan ini masih perlu dirundingkan lagi dengan lebih terperinci, untuk ini diharapkan dalam waktu 10 hari Anda dapat berkunjung kemari.

Demikian hendaknya Anda maklum dan kami menantikan kedatangan Anda.”

Di bawah surat ini tidak ada nama terang si pengirim surat, hanya ada tanda tangan saja.

Siang Ji-long menengadah dan bergelak tertawa, katanya kemudian, “Nah, sudah kau baca? Selanjutnya Thian-can-kau kami tidak akan bersaing dengan Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, bahkan mereka harus tunduk di bawah pimpinanku”

Sekujur badan Pwe-giok terasa gemetar sehabis membaca surat itu, dengan suara serak ia bertanya, “Siapakah yang menulis surat ini?”

“Siapa lagi yang berhak menulis surat ini kecuali Bu-lim-bengcu saat ini, Ji Hong-ho, Ji-tayhiap!” seru Siang Ji-long.

Pwe-giok menghela napas panjang-panjang dan tidak bicara lagi.

Gemerdep sinar mata Lui-ji, ucapnya, “Pantas kau kegirangan setengah mati sehabis membaca surat ini, kiranya Ji Hong-ho berjanji akan mendukung kau ke singgasana Bu-lim-bengcu!”

“Ya, selain dia, siapa lagi yang mempunyai kemampuan demikian?” ujar Siang Ji-long dengan riang gembira.

“Betul, kecuali dia, sekalipun orang lain bicara demikian juga takkan kau percayai” tukas Lui-ji.

“Memang begitulah” sambung siang Ji-long

“Kalau dia sudah menyebut kau sebagai Kaucu, agaknya sebelum ini kalian sudah bersepakat asalkan mampu membunuh Siang Bok-kong maka dia akan mengangkat kau sebagai Bu-lim-bengcu pada pertemuan Hongti yang akan datang. Sebaliknya jika kau tidak mampu membunuh Siang Bok-kong, tapi malahan terbunuh, maka Siang Bok-kong juga takkan tahu ada surat tersembunyi di dalam perut kuda, rahasia ini selamanya juga takkan diketahui oleh siapapun”

“Betul, justeru di sinilah kecermatan cara bekerja Ji-tayhiap” ujar Siang Ji-long.

“Dan karena sebelumnya antara kalian sudah ada perjanjian rahasia, maka dia membiarkan kau mengintai gerak-gerik Gin-hoa-nio di Li-toh-tin, sebab itu pula tanpa susah payah dapat kau bawa pulang Gin-hoa-nio ke sini” kata Lui-ji pula.

“Betul, kau memang pintar, sekarang segalanya tentu sudah jelas bagimu” ujar Siang Ji-long dengan gelak tertawa.

“Tapi apakah benar-benar kau percaya kepada janji Ji Hong-ho?” jengek Lui-ji. “Berdasarkan apa dia mau mendukung kau menjadi Bu-lim-bengcu?”

Siang Ji-long menyeringai, ucapnya, “Ini adalah urusanku, kau tidak perlu ikut campur. Aku cuma ingin tanya padamu, kau suka mati digeragoti Thian-can atau lebih suka badan disayat-sayat oleh pisau?”

“Aku lebih suka digigit mati oleh anjing gila,” jawab Lui-ji tiba-tiba dengan tertawa.

“Cara mati demikian cukup menarik juga, cuma sayang di sini tak ada anjing gila,” kata Siang Ji-long dengan tertawa, ia tidak sadar bahwa yang dimaksudkan anjing gila oleh Cu Lui-ji justeru adalah dia sendiri.

Maka Lui-ji lantas berkata, “Siapa bilang di sini tidak ada anjing gila? Bukankah di depanku sekarang ada seekor?”

Saking gusarnya muka Siang Ji-long berubah pucat, segera ia tertawa latah pula, katanya, “Bagus, bagus sekali caci-makimu, bilamana nanti kalian tidak kusuguhi rasanya 10 macam hukum siksa agama kami, anggaplah aku tidak menghormati kau!”

Sambil tertawa seperti orang kalap, ia membalik ke sana untuk mengambil kotak perak berisi ulat buas tadi.

Meski merasa merinding, tapi dalam keadaan demikian Cu Lui-ji sama sekali tidak berdaya. Selagi ia hendak mencaci-maki pula sepuasnya dari pada cuma mati konyol, pada saat itulah tiba-tiba Oh-lolo mendesis padanya, “Ssst, tahan napas dan jangan buka mulut!”

Lui-ji melengak, waktu ia pandang setengah potong lidi dupa tadi, ternyata sudah hilang.

Ia terkejut dan bergirang, sungguh tak dapat dibayangkan cara bagaimana sisa lidi dupa bius itu dapat lari ke gundukan api unggun. Segera ia ingin bertanya, tapi Oh-lolo sudah mendahului memberi keterangan, “Siang Bok-kong belum mati, dia masih dapat bernapas.”

Dilihatnya Siang Ji-long telah berpaling lagi ke sini, cepat nenek itu tutup mulut. Tapi sekarang Lui-ji sudah tahu Siang Bok-kong yang meniup sisa lidi dupa itu ke gundukan api unggun.

Saat itu dupa bius itu tentu sudah mulai terbakar, saking senangnya Lui-ji merasa jari sendiri sama kaku, cepat ia menahan napas dan juga memejamkan mata, ia berlagak seperti orang yang pasrah nasib dan menanti ajal.

Di dengarnya Siang Ji-long lagi berkata, “Apakah kau ingin melihat bagaimana bentuk Thian-can? Inilah makhluk yang paling cantik di dunia ini, beruntunglah kalian dapat melihatnya.”

Sekuatnya Lui-ji mengigit bibir, seperti menahan perasaannya agar tidak bicara.

Siang Ji-long terkekeh-kekeh, katanya pula, “Biarpun kau memejamkan mata juga tiada gunanya, sebentar bila Thian-can sudah merayapi tubuhmu, ingin memejamkan mata saja mungkin tidak bisa.”

Meski yakin dirinya bakal selamat, tapi bila membayangkan makhluk kecil yang lemas dan berkelogat-keloget merayap di atas tubuhnya, seketika bulu roma Lui-ji sama berdiri.

Melihat anak dara itu mengkirik, Siang Ji-long bertambah senang.

Tiba-tiba Pwe-giok menjengek, “Hm, banyak juga orang gila yang pernah kulihat, tapi orang gila semacam kau sungguh jarang ada.”

“Apa katamu?” teriak Siang Ji-long, dengan murka.

Pwe-giok menyambung pula. “Di dunia ini ada dua macam orang gila. Yang semacam adalah lelaki gila dan yang lain perempuan gila. Tapi kau ini orang gila yang bukan lelaki dan juga bukan perempuan, orang gila semacam kau mungkin di dunia ini hanya kau seorang saja.”

Saking gusarnya sehingga gigi Siang Ji-long gemerutuk.

Memakinya dengan kata-kata “bukan lelaki dan bukan perempuan” rasanya jauh lebih sakit daripada menyabetnya dengan cemeti.

Pwe-giok lantas menjengek pula, “Dan lantaran kau sendiri merasa tidak mampu berbuat terhadap perempuan, maka sedapatnya kau berusaha menyiksa mereka, sampai-sampai anak dara ini pun tak kau lewatkan, mengapa kau tidak berani mencari diriku saja?”

Orang berhati mulia seperti Pwe-giok juga dapat mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti ini, heran juga Cu Lui-ji. Tapi setelah berpikir segera ia tahu maksud tujuan Pwe-giok. Jelas dia kuatir sebelum dupa bius itu mulai bekerja dan Siang Ji-long lantas menganiaya terhadap Lui-ji, maka dia sengaja memancing rasa marah Siang Ji-long agar orang bertindak lebih dulu kepadanya.

Terharu Lui-ji, entah bergirang, entah berterima kasih atau sakit? Tanpa terasa air matanya berlinang.

Terdengar Siang Ji-long berkata dengan menggreget.” Baik, mestinya akan ku kerjai dulu nona cilik ini, karena ucapanmu ini, boleh juga kuladeni kau lebih dulu. Bila dalam sepuluh hari ku bikin kau putus napas, biarlah aku tidak she Siang.”

“He, nanti dulu!” mendadak Oh-lolo berteriak.

“Nanti apa?” bentak Siang Ji-long dengan gusar.

“Jika sedikitnya akan kau siksa dia sepuluh hari, tentunya kau pun tidak perlu terburu-buru, marilah dengarkan dulu suatu ceritaku yang sangat menarik.”

Maksud Oh-lolo bukanlah ingin menolong Pwe-giok, sebab ia tahu apabila dia tidak berusaha mencegahnya, tentu tanpa menghiraukan akibatnya Cu Lui-ji akan bicara juga, terpaksa ia mendahului anak dara itu.

Siapa tahu Siang Ji-long cuma menyeringai saja dan berkata, “Kukira akan lebih asyik dan menarik bilamana sambil mendengarkan ceritamu kita juga mendengarkan rintihannya.”

“Tunggu sebentar,” kata Oh-lolo, “jika dia ribut di sebelah, cara bagaimana kau dapat mengikuti ceritaku dengan jelas. Padahal ceritaku ini sangat erat hubungannya dengan pertemuan besar Hongti itu”

Dia mengira kata “pertemuan Hongti” pasti akan menarik perhatian Siang Ji-long, siapa tahu orang justru tidak menggubrisnya sama sekali, apa pun yang diucapkannya tiada yang menarik hati baginya. bahkan siang Ji-long lantas menaruh dua kotak perak berisi ulat buas di atas tubuh Pwe-giok, sebelah tangannya sudah mulai membuka tutup kotak.

Entah bagaimana perasaan Pwe-giok memandangi tangan yg cacat dan berlumuran darah, kurus seperti cakar setan itu, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dirinya akan mati di bawah tangan semacam ini.

Dia yang sudah kenyang menghadapi detik-detik yang gawat, soal mati dan hidup baginya tidak lagi merupakan sesuatu yang penting, akan tetapi setiap kali bila menghadapi kematian mau-tak-mau timbul juga rasa takutnya.

Tapi sekarang tangan yang menyerupai cakar setan ini rada menimbulkan rasa mualnya.

Tiba-tiba ia melihat “cakar setan” ini rada gemetar, pandangan sendiri mulai samar-samar sampai rasa mualnya juga tidak dapat dirasakan lagi …

Waktu ia siuman kembali, dilihatnya Cu Lui-ji berdiri di depannya dengan wajah berseri-seri gembira, malahan anak dara itu memegang kipas lempit milik Siang Ji-long.

Pwe-giok tahu di dalam kipas itulah tersimpan obat penawarnya, ia pun tahu segala mara bahaya sudah dilampauinya, ia menghela napas panjang dan bertanya, “Kau … kau tidak apa-apa, bukan?”

IP03P4849

“Mestinya akulah yang bertanya demikian padamu,” ucap Lui-ji dengan tersenyum. Ia memayang bangun Pwe-giok, lalu berkata pula, “Akupun tidak menyangka dupa bius itu dapat bekerja secepat itu, selagi gelisah, tahu-tahu Siang Ji-long menguap terus roboh terkapar.”

“Hanya ujung dupa saja yang menyala sudah mempunyai daya bius yang sangat kuat, apalagi seluruh lidi dupa dibakar, tentu saja bekerjanya jauh lebih cepat,” ucap Pwe-giok dengan tersenyum.

Mendadak ia melihat pergelangan tangan Cu Lui-ji terluka, “He, tanganmu …”

Lui-ji tertawa, tuturnya, “Tidak apa-apa, karena tali pengikat tanganku tadi terlalu kuat dan sukar dibuka, terpaksa ku geser ke gundukan api unggun sana dan membakarnya dengan api.” Dia pandang Pwe-giok lekat-lekat, lalu bertanya dengan menggigit bibir. “Kau … kau benar-benar tidak apa-apa?”

“Hanya kaki dan tangan terasa agak lemas, tak dapat mengeluarkan tenaga,” jawab Pwe-giok.

“O, tidak menjadi soal kalau begitu, selang sebentar lagi tentu akan pulih kembali,” kata Lui-ji dengan wajah cerah. “Masih untung dupa bisa semacam ini, ada dupa bius jenis lain, biarpun mendapatkan obat penawarnya, sedikitnya perlu rebah beberapa hari lagi baru dapat bergerak.”

Lalu ia mendekati Oh-lolo untuk menolongnya, melihat keadaan Gin-hoa-nio yang mengenaskan itu, tanpa terasa ia menghela napas, katanya sambil menoleh kepada Pwe-giok, “Meski dia tidak tergolong orang baik, tapi nasibnya harus dikasihani juga, biarlah kita membawanya pergi saja”

“Ya, boleh,” kata Pwe-giok. Lalu ia meronta dan bergeser kesana, ia goyangkan tubuh Oh-lolo dengan keras sambil berteriak, “Sesungguhnya dimana kau simpan obat penawarmu, kalau diambil sekarang keburu tidak?”

Oh-lolo membuka matanya, ucapnya dengan tertawa, “Busyet, rupanya kau belum lupa …”

“Mana bisa lupa,” kata Pwe-giok dengan gusar. “Pendek kata, bila kau tak dapat menawarkan racun Lui-ji, segera ku …”

“Kalau tidak keburu lagi waktunya, biar kau bunuh diriku juga tidak ada gunanya,” ucap Oh-lolo dengan adem-ayem. “Tapi kau pun tidak perlu gelisah, kalau sekarang juga kita berangkat, ku jamin dia masih dapat tertolong.”

Pwe-giok menghela napas lega, katanya, “Jika demikian, ayolah lekas berangkat!”

“Dan bagaimana dengan Thian-can-kaucu ini?” tanya Lui-ji tiba-tiba.

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, “Betapapun orang ini adalah seorang pemimpin suatu aliran besar, sepantasnya kita menolong dia. Cuma sayang, racun yang biasa digunakan Thian-can-kau mereka tidak dapat kita punahkan.”

“Kalau begitu, sekalian kita tambahi saja sekali bacok,” usul Oh-lolo sambil berkerut kening.

“Melihat orang tertimpa bahaya tanpa menolong sudah mengingkari jiwa kaum pendekar, mana boleh kita mencelakai orang yang tidak mampu melawan.” kata Pwe-giok.

“Sekarang tidak kau bunuh dia, bisa jadi kelak kau yang akan mati di tangannya,” ujar Oh-lolo.

“Apa yang akan terjadi kelak adalah urusan kelak,” jawab Pwe-giok.

“Inikah yang kau anggap perbuatan kaum pendekar?” jengek Oh-lolo. “Hun, ini tidak lebih adalah jalan pikiran kaum perempuan.”

“Jalan pikiran kaum perempuan yang bajik lebih baik daripada jalan pikiran yang tidak berbudi dan busuk,” jawab Pwe-giok acuh.

Oh-lolo menghela naps, gumamnya, “Tahukah kau orang seperti dirimu ini makin sedikit di dunia ini, sebab orang semacam dirimu ini tentu takkan berumur panjang.”

Mendadak Cu Lui-ji menjemput sebilah belati terus mendekati Siang Ji-long.

“He, mau apa kau?” tanya Pwe-giok.

“Apa pun yang dikatakan Sicek pasti kuturuti,” ucap Lui-ji dengan menunduk, “tapi orang ini tidak boleh tidak harus kubunuh, sebab kelak kuingat dia ini masih ada seorang macam dia ini, mungkin tidur saja tidak dapat nyenyak.”

Sekonyong-konyong suara seorang menanggapi dengan perlahan, “Kukira lebih baik orang ini diserahkan saja kepadaku dan akan kubereskan dia, tidak perlu nona ikut membuang tenaga dan pikiran baginya.”

Suara ini perlahan dan seperti timbul dari samping mereka.

Padahal di dalam gua ini sekarang hanya terdapat Ji Pwe-giok, Cu Lui-ji dan Oh-lolo bertiga, orang lain sudah lama menggeletak tak berkutik.

Lalu suara siapakah dan terucap darimana ?

Di bawah cahaya api yang gemerdep, tonggak-tonggak batu itu seolah-olah akan terbang ke atas, Lui-ji merasa sekujur badan menggigil, ia menyurut mundur dan memegang tangan Pwe-giok erat-erat, tanyanya dengan lirih, “Siapa kau? Dimana kau?”

Dengan tertawa suara itu menjawab,” Aku ada di depan nona, masakah nona tidak melihatnya?”

Di tengah suara gelak tertawa, seorang berbangkit perlahan dari atas tanah. Nyata dia adalah Thian-can kaucu Siang Bok-kong yang sudah sekarat tadi.

Cahaya api unggun seketika guram dan mengepulkan asap hijau sehingga suasana bertambah seram, ditengah kepulan asap itu wajah Siang Bok-kong kelihatan sudah membusuk, sampai mata hidungnya juga sukar dibedakan lagi, mukanya sekarang lebih mirip buah tomat yang membusuk.

Namun kedua matanya masih tetap bersinar gemerdep seperti cahaya kilat.

“Aha, kukira siapa, tak tahunya kau!” seru Lui-ji dengan tertawa. Meski dia lagi bicara dan tertawa, tapi kedua tangganya sudah mulai bergerak.

Pwe-giok tahu anak dara itu bermaksud menubruk maju selagi Siang Bok-kong tidak berjaga-jaga, ia tidak mampu mencegah lagi, sebab dalam keadaan demikian terpaksa ia harus membiarkan Lui-ji mempertaruhkan segalanya.

Tak terduga Siang Bok-kong lantas menjengek, “Kau masih kecil nona, tapi kau sudah boleh dikatakan pintar dan tangkas, namun semua ini tetap tiada gunanya, biarpun sepuluh tahun lagi kau masih tetap bukan tandinganku. Kalau ditambah Ji-kongcu dan Oh-lolo ini mungkin kalian dapat menandingi diriku, cuma sayang untuk kedua kalinya mereka telah terkena Cu-bong-hiang (dupa wangi mimpi), dalam waktu tiga jam jangankan hendak bertempur denganku, bahkan mengangkat pedang saja tidak kuat.”

Dia bicara dengan sangat lambat, bicara sampai di sini, keringat dingin sudah membasahi baju Cu Lui-ji, sebab ia tahu apa yang dikatakan Siang Bok-kong itu memang bukan bualan belaka.

Terdengar Siang Bok-kong mengekek tawa, lalu berkata pula, “Apalagi sudah kuselamatkan jiwa kalian, pantasnya kalian berusaha membalas budi, kenapa malah hendak menyerang diriku?”

“Kau … kau menyelamatkan jiwa kami?” Lui-ji menegas dengan melengak.

“Memangnya nona mengira setengah potong lidi dupa itu dapat melompat sendiri ke dalam gundukan api unggun?” jawab Siang Bok-kong.

“Masa engkau yang …” Lui-ji melengak.

“Kalau tidak kutiup dengan hawa murniku, mana bisa dupa wangi itu bekerja secepat ini?” tukas Siang Bok-kong.

Berputar biji mata Lui-ji, serunya, “Sekalipun benar kau yang meniup lidi dupa itu ke dalam api, kukira kami pun tidak perlu berterima kasih padamu, sebaliknya kau yang harus berterima kasih kepada kami.”

“Sebab apa?” Siang Bok-kong juga melengak.

“Sebab kalau aku tidak melemparkan setengah potong lidi dupa itu ke depanmu, maka riwayatmu pasti tamat.”

Mendadak Siang Bok-kong menengadah dan terbahak-bahak, katanya, “Hahahaha! Betapapun nona memang masih anak kecil.”

Lui-ji menarik muka, omelnya, “Huh, tidak perlu berlagak tua, kalau bukan …”

Suara tertawa Siang Bok-kong memutus ucapan anak dara itu, katanya, “Haha, apakah kau kira aku benar-benar telah terjebak oleh murid murtad ini?”

Kembali Lui-ji melenggong, tanyanya, “Masa dalam hal inipun kau juga main sandiwara?”

“Betul,” tutur Siang Bok-kong. “Sebab sebelumnya ku tahu murid murtad ini akan berbuat sesuatu khianat, tapi aku pun tahu dia pasti tidak berani begitu apabila tidak ada yang mendalanginya secara diam-diam.”

“Oo, maka kau ingin menyelidiki sesungguhnya siapa dalang di belakang layar, begitukah?” tanya Lui-ji.

“Betul,” jawab siang bok-kong.

Rupanya kau tahu biarpun d siksa juga Siang Ji-long takkan mengaku, maka kau sengaja pura-pura mati untuk menunggu munculnya orang itu, betul atau tidak?”

“Ya, tapi aku juga tidak menyangka bahwa orang di belakang layar itu ialah Hong-ho Lojin yang termasyhur sebagai seorang yang berbudi luhur.” ujar Siang Bok-kong dengan gegetun.

Tubuh Pwe-giok tergetar, teriaknya mendadak, “jang …” karena mendadak mendengar nama ayahnya dinista orang, dengan sendirinya ia berduka dan marah, ingin dia membantahnya, namun urusan ini terlalu pelik, terlalu majemuk dan teramat aneh, seumpama diuraikannya juga Siang Bok-kong takkan percaya, bahkan mungkin akan membikin urusan tambah runyam.

Untung Siang Bok-kong tidak memperhatikan perubahan sikap dan air mukanya itu, ia berkata pula, “Murid murtad itu memang berhati keji, di dalam gagang belatinya tersimpan Thian-can-seng-cui (air suci ulat langit) yang sangat berbisa, satu tetes saja mengenai tubuh, ketika seluruh badan akan membusuk, tidak sampai setengah jam tulang pun akan rapuk dan hancur menjadi onggokan daging cacah.”

Lui-ji menarik napas dingin, katanya, “Jelas kulihat air berbisa itu menyemprot ke mukamu, kenapa kau tidak mati?”

“Murid durhaka ini pun tahu akan kelihaian air ini, maka dia yakin aku pasti mati, dia menjadi gembira dan lupa daratan, lalai sesuatu hal.”

“Hal apa? tanya Lui-ji.

Siang Bok-kong tidak menjawabnya, tapi tangannya terus mengusap muka sendiri, wajahnya yang semula tampak membusuk itu seketika berubah secara ajaib.

Baru sekarang Pwe-giok dapat melihat wajah asli Thian-can-kaucu Siang Bok-kong.

Terlihat wajahnya yang putih bersih, cerah dan simpatik, pada waktu mudanya dia pasti pemuda yang cakap. Tapi sekarang tiada tampak sifat aneh “si kakek cahaya perak” seperti apa yang dilihatnya di istana bawah tanah tinggalan Siau-hun kiongcu dahulu, juga tidak kurus kering dan jompo seperti waktu datang tadi. Sungguh Pwe-giok tak mengerti mengapa orang ini suka menyamar dalam bentuk yang aneh-aneh, sampai muridnya sendiri juga tidak kenal wajah aslinya.

Cu Lui-ji melenggong sejenak, ucapnya kemudian dengan gegetun, “Kiranya dia tidak tahu kau memakai topeng.”

Siang Bok-kong tertawa, katanya, “Topeng ini adalah hasil buatanku sendiri secara cermat, kedap air dan tidak mempan dibakar. Sebab itulah, meski air berbisa ini sangat lihay juga tidak dapat meresap ke balik topeng ini dan merusak wajahku.”

Tiba-tiba Lui-ji tertawa dan bertanya, “Wajahmu sebenarnya sangat bagus, mengapa kau memakai topeng bermuka buruk begitu?”

“Sebab setiap orang yang melihat wajah asliku, dia harus mati!” jengek Thian-can-kaucu Siang bok-kong.

Kalau kata-kata ini tercetus dari mulut orang lain mungkin tidak begitu menakutkan, tapi dalam keadaan dan suasana seperti sekarang ini, mau-tak-mau ucapan orang tua itu membuat Lui-ji bergidik, tanyanya dengan gemetar, “Masa kau ….”

“Tapi kau jangan kuatir, ini pun bukan wajahku yang asli,” tukas Siang Bok-kong dengan tertawa.

Keruan Lui-ji bertambah heran, mestinya ia ingin tanya sesungguhnya bagaimana wajah aslinya, tapi pertanyaan itu urung diucapkan. Ia cuma bertanya, “Lalu cara bagaimana akan kau perlakukan kami?”

Gemerdep sinar mata Siang Bok-kong, katanya perlahan, “Aku bukan orang yang berhati welas asih, terlalu banyak pula rahasia yang kalian ketahui, apapun juga tidak boleh kulepaskan kalian.”

Cara bicaranya memang tidak cepat, sekarang kata-katanya itu semakin lambat, hal ini makin menambah rasa tegang Lui-ji, jantungnya serasa mau melompat keluar.

Bicara sampai di sini, mendadak Siang Bok-kong melototi Pwe-giok sekejap, lalu berucap pula dengan perlahan. “Namun kau tidak mau mencelakai diriku tatkala aku sedang sekarat, maka sekarang aku pun takkan mencelakaimu pada waktu kalian tak berdaya. Mulai sekarang perhitungan kita sudah lunas, tidak ada utang piutang lagi, entahlah kelak bila bertemu lagi, entah kawan entah lawan, sukar kukatakan!”

Oh-lolo bergirang, timbrungnya, “Siang Kaucu memang tidak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati yang tegas membedakan budi dan benci.”

Mendadak Siang Bok-kong mendelik dan menyemprotnya, “Lebih baik kau tutup mulut saja, kalau tidak mengingat bocah she Ji ini, umpama tidak kubunuh kau, sedikitnya akan kupotong kedua tanganmu.”

Seketika Oh-lolo kep-klakep dan tidak berani bersuara lagi.

Dilihatnya Ji Pwe-giok seperti mau omong apa-apa lagi, kuatir anak muda itu bicara lagi hal-hal yang tidak perlu dan mendadak Siang Bok-kong berubah pikiran, cepat Oh-lolo berkata, “Marilah kita lekas berangkat, bila terlambat tak berani ku jamin akan keselamatan nona cilik ini.”

oOo

Kereta yang membawa mereka ke sini itu masih berada di luar gua, kuda-kuda itu sudah terlatih meski lari terkejut, tetapi tidak jauh larinya, maka dengan mudah dapatlah kawanan kuda itu dikumpulkan kembali.

Meski belum pernah mengendarai kereta, tapi setelah dicoba sebentar, dapatlah Pwe-giok sekedar menjadi kusir pocokan, ia ayun cambuk dan mempercepat lari kuda, rasa sedih bertumpuk-tumpuk di dalam hati.

Mendadak didengarnya Lui-ji menegurnya, “Sicek, ap … apa yang kau pikirkan?”

Rupanya dari kabin kereta itu ada sebuah jendela kecil yang menembus ke bagian tempat duduk kusir di depan, maka jendela itu lantas digunakannya untuk berbicara dengan Pwe-giok.

“Aku sedang berpikir … ” tutur Pwe-giok sambil menghela naps. “Thian-can-kaucu ternyata seorang yang demikian, hal ini sungguh sangat di luar dugaanku. Tampaknya selanjutnya dia pasti takkan melepaskan orang … orang she Ji itu.”

“Perbuatan orang she Ji itu pun terlampau keji,” kata Lui-ji “kukira Siang Bok-kong juga tak dapat berbuat apa-apa terhadapnya, sebab surat itu tidak diberi nama terang pengirimnya, bisa jadi bukan ditulis oleh orang she Ji itu, sekalipun Siang Bok-kong memperlihatkan bukti surat itu kan dapat disangkalnya dengan tegas, betul tidak ?

“Biarpun begitu, kalau Siang Bok-kong sudah bertekad akan memusuhi dia, tentu dia akan banyak menghadapi kesulitan,” ujar Pwe-giok.

“Orang she Ji itu menghendaki Siang Ji-long mengunjunginya dalam sepuluh hari, sekarang Siang Ji-long jelas tak dapat memenuhi undangan itu, apakah kau pikir siang Bok-kong akan menggunakan kesempatan itu untuk mencari perkara padanya?”

“Bukan mustahil,” jawab Pwe-giok.

“Kupikir dia pasti akan pergi ke sana,” kata Lui-ji. “Meski dalam surat itu tidak disebutkan nama tempatnya, kalau siang Ji-long tahu, pasti Siang Bok-kong dapat memaksanya mengaku.”

“Ya, memang betul.” kata Pwe-giok.

Mendadak Lui-ji menghela napas, katanya, “Sicek, seharusnya kau tanya lagi beberapa hal kepada Siang Bok-kong, tentang urusan … urusanku, biarpun lewat lagi satu-dua jam juga tidak menjadi soal”

“Ya, memang betul,” kata Pwe-giok.

Pwe-giok tertawa hambar, ucapnya, “Sebenarnya tiada persoalan yang perlu kutanyai dia.”

Gemerdep sinar mata Lui-ji, katanya, “Masa Sicek tidak ingin tanya tempat pertemuan yang dijanjikan Ji hong-ho dengan Siang Ji-long itu ?”

Pwe-giok berpikir agak lama, lalu menjawab sekata demi sekata, “Tidak, aku tidak ingin tanya.”

“Sebab apa?” Lui-ji menegas.

Tapi sama sekali Pwe-giok tidak menjawabnya.

“Biarpun Sicek tidak menjawab juga ku tahu sebabnya,” Lui-ji dengan rawan, “sebab Sicek kuatir bilamana tempat pertemuan diketahui, tentu Sicek akan pergi ke sana, padahal Sicek perlu menolong diriku, terpaksa menyampingkan urusan lain.”

Tiba-tiba Pwe-giok tertawa, katanya, “Maukah kau berbuat sesuatu bagiku?”

“Tentu saja mau,” seru Lui-ji dengan terbelalak.

“Jika begitu, hendaknya lekas kau tidur saja.” kata Pwe-giok.

—–

Kereta itu dilarikan terlebih cepat, berulang Oh-lolo memberi petunjuk arahnya dari kabin kereta, tapi sejauh itu tidak mau menjelaskan nama tempat tujuan mereka. Rupanya ia kuatir bilamana tempat tujuan sudah diketahui Pwe-giok, bisa jadi dia akan ditinggal di tengah jalan. Terhadap nenek yang licin dan licik dan juga banyak curiga ini, Pwe-giok benar-benar tidak berdaya.

Hari sudah gelap, tapi kereta itu masih terus dilarikan sepanjang malam, entah sudah berapa jauhnya perjalanan itu, tanpa kenal lelah Pwe-giok terus mengendarai kereta kuda itu, sebab ia tahu sisa waktunya sudah tidak banyak lagi.

Sampai esok paginya sudah genap tiga hari sedangkan jalan yang harus ditempuhnya entah masih berapa jauhnya. Meski sangat lelah, terpaksa Pwe-giok bertahan sekuatnya.

Mereka hanya membeli makanan sekadarnya ketika lalu di suatu kota kecil, Lui-ji membeli satu keranjang jeruk, sepanjang jalan ia mengupas jeruk dan diberikan kepada Pwe-giok.

Anak dara itu kelihatan tidak tentram, dia tidak sedih karena keselamatannya sendiri, tapi seperti ada sesuatu rahasia yang tersimpan dalam lubuk hatinya, beberapa kali tampaknya ia hendak bicara, tapi ditahan sebisanya.

Sesungguhnya rahasia apa yang tersembunyi di dalam hati nona cilik itu?

Terhadap anak dara yang pintar dan juga pengasih itu, Pwe-giok benar-benar tak berdaya apa pun.

Petangnya, sampailah mereka di suatu kota yang tidak terlalu kecil.

Penduduk kota ini tentunya bukan orang udik, tapi ketika melihat munculnya sebuah kereta kuda yang dilarikan secepat ini, mau-tak-mau semua orang sama berpaling.

Orang berlalu lalang di jalan raya cukup ramai, terpaksa lari kereta dilambatkan.

Di kedua tepi jalan terdapat beraneka macam toko, tapi secara keseluruhan, rumah minum dan restoran terhitung paling banyak. Rupanya penduduk kota ini pun serupa penduduk di tempat lain, terhadap urusan lain boleh dikesampingkan, tapi terhadap perut sendiri harus diperlakukan dengan istimewa.

Saat itu belum waktunya orang makan malam, tapi di rumah makan sudah ramai terdengar bendo mencacah daging, bau arak dan bau sedap masakan menimbulkan selera makan.

“He, berhenti, berhenti!” seru Oh-lolo mendadak.

Pwe-giok terkejut dan cepat menarik tali kendali, sebab tidak tahi apa yang terjadi, ia menoleh dan bertanya, “Ada apa?”

“Sudah dua-tiga hari yang dimakan hanya jajanan belaka, mumpung sekarang ada santapan lezat, kita harus makan minum sepuasnya untuk memuaskan selera yang kutahan sekian lama,” kata Oh-lolo.

“Kau ingin masuk restoran?” Pwe-giok menegas.

“Betul,” jawab Oh-lolo dengan tertawa. “Baru saja ku cium bau sate kambing, tampaknya restoran masakan khas utara yang bernama Ti-bi-lau itu lumayan juga.”

Pwe-giok hampir tidak percaya kepada telinga sendiri. Demi menempuh perjalanan dan memburu waktu, sudah dua-tiga hari dia tidak bisa tidur dan tidak istirahat, tapi sekarang nenek celaka ini justeru ingin masuk restoran untuk makan enak dan minum arak.

Kalau orang lain, bukan mustahil nenek itu akan diberi suatu gamparan keras, paling sedikit juga akan berjingkrak dan mencaci-maki.

Akan tetapi Pwe-giok memang pemuda yang sabar, ia cuma diam sejenak, lalu berucap dengan tak acuh, “Baiklah, mari kita ke sana.”

Lui-ji melenggong, serunya. “He, kau terima permintaannya?”

Pwe-giok mengiakan.

Oh-lolo tertawa, katanya, “Jangan kau kira bocah ini hanya menurut saja setiap kehendakku, padahal ia cukup maklum persoalannya, ia tahu biarpun berbantah denganku juga tiada gunanya, toh akhirnya tetap harus memenuhi permintaanku.”

—–

Masakan restoran Ti-bi-lau memang harus dipuji. Selain daging kambing panggang atau sate kambing, bebek panggangnya juga empuk dan lezat. Lui-ji merasa heran ketika melihat Oh-lolo melalap sepotong kulit bebek panggang, dimakan dengan saus manis dan acar, ia tanya, “Kenapa kau tidak makan dagingnya?”

Hampir saja makanan di dalam mulut Oh-lolo tersembur keluar, ia tertawa dan menjawab, “Budak bodoh, makan bebek panggang harus makan kulitnya, hanya orang tolol yang berebut makan dagingnya.”

“Masa?” kata Lui-ji dengan ragu.

“Ya, masa belum pernah kau makan bebek panggang?” tanya Oh-lolo.

Lui-ji terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan hambar, “Apanya yang aneh kalau tidak pernah makan bebek panggang? Bubur asin masakanku juga belum pernah kau rasakan!”

Oh-lolo terpingkal-pingkal saking gelinya. Sedangkan Pwe-giok merasa terharu. Anak dara yang bersifat keras ini ternyata tidak pernah makan bebek panggang yang sangat umum ini, padahal di dunia ini masih banyak santapan enak lain yang tentu saja belum pernah dilihatnya. Nyata dia belum lagi merasakan kesenangan orang hidup, tapi kesengsaraan orang hidup sudah terlalu banyak dirasakannya.

Karena rasa haru dan duka itu sehingga Pwe-giok tidak melihat ada seorang yang baru saja naik ke loteng restoran itu, tapi mendadak mundur lagi ke bawah, hanya setengah kepalanya saja menongol di ujung tangga untuk mengintip.

Setelah memandang sejenak, lalu orang itu berlari pergi secepat terbang.

Tidak lama kemudian, di tengah remang senja itu mendadak ada selarik sinar api hijau menjulang tinggi ke udara.

oooX-0000-Xooo

Malamnya, udara ternyata jauh lebih terang daripada waktu senja, sebab kini bulan sudah menghias di tengah cakrawala. Sinar bulan di musim rontok biasanya memang lebih cemerlang. Jalan raya yang rata membentang panjang itu seperti berlapiskan perak.

Pada waktu mereka makan, Pwe-giok telah minta pegawai restoran agar berusaha mencarikan ganti dua ekor kuda.

Kuda baru sudah tentu tidak segagah kuda semula, tapi kuda yang gagah bagaimana pun kalau sudah berlari terus menerus dua tiga hari tentu juga hampir roboh terkulai. Sebaliknya kuda baru dengan tenaga baru tentu masih dapat berjalan cepat.

Begitulah Pwe-giok terus mengendarai keretanya dan dilarikan lebih cepat, ia pikir waktu makan yang terbuang itu harus dikejar kembali.

Sementara itu sudah larut malam, jalan raya tidak nampak orang maupun kereta berlalu lalang.

Oh-lolo meraba perutnya yang terisi penuh itu, katanya dengan tertawa, “Jangan gelisah, jangan tergesa-gesa, kalau kubilang masih keburu tentunya tidak perlu kau kuatir.”

“Apakah tempat tinggalmu sudah dekat?” tanya Lui-ji.

“Ya, tidak jauh lagi” jawab Oh-lolo.

“Masih ada siapa lagi di rumahmu?” tanya Lui-ji pula.

“Sudah tentu masih ada sanak keluargaku, tidak banyak, juga tidak sedikit…” tapi nenek itu tidak menjelaskan lagi.

Lui-ji ingin bertanya pula, tapi segera terpikir olehnya umpama mau bicara tentu juga jangan harap akan dapat memancing keterangan dari rase tua yang licin ini.

Mendadak terdengar suara “serrrr” bergema di udara. Dari tempat kegelapan di tepi jalan kembali ada selarik sinar api biru menjulang tinggi ke angkasa.

Oh-lolo tidak dapat melihat, tapi dapat didengarnya, sambil berkerut kening ia bertanya, “Suara apakah itu?”

“Tidak ada apa-apa” jawab Pwe-giok, walaupun demikian ucapnya, di dalam hati iapun rada curiga.

Panah berapi yang biasanya digunakan sebagai tanda bahaya itu tentunya takkan dilepaskan tanpa sebab musabab. Sekarang panah berapi itu dilepaskan ketika kereta mereka lewat, jelas yang dituju adalah mereka.

Lantas siapakah gerangannya? Apakah Ji Hong-ho telah dapat mengetahui pula jejak mereka?

Makin cepat Pwe-giok melarikan kudanya, tangan yang memegang tali kendalipun berkeringat dingin.

Pada saat itulah, mendadak ada bayangan orang berkelebat di depan, seperti mau menghadang jalan mereka.

Pwe-giok menggreget, dengan nekat ia cambuk kudanya dan menerjang terus ke depan.

Orang-orang itu tidak bersuara menyuruh berhenti, tapi berbaris di tengah jalan sehingga kereta itu tampak akan menubruk mereka.

Tubrukan keras begitu sungguh luar biasa, sekalipun orang-orang itu adalah jago silat kelas tinggi, betapapun badan mereka juga terdiri dari darah daging, mana sanggup tahan diterjang sedahsyat itu oleh kereta yang dilarikan sedemikian cepatnya.

“Minggir! Kalau tidak…” bentak Pwe-giok sambil ayun cambuknya.

Tapi belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dari tepi jalan melayang tiba dua batang tombak dan tepat menyelonong masuk ke tengah ruji roda kereta, maka terdengarlah serentetan suara “krek-krek” yang keras, ruji kereta sama patah, tapi roda juga lantas terkunci oleh batang tombak sehingga tidak dapat menggelinding lagi. Namun lari kuda tadi terlalu cepat sehingga kereta masih terseret maju cukup jauh.

Suara roda kereta yang menggosok tanah itu menimbulkan suara gemericit laksana jeritan binatang buas yang sedang sekarat.

Dahi Pwe-giok penuh air keringat dan sebagian sudah membasahi matanya, tapi dia masih terus berusaha melarikan kudanya, namun karena roda kereta sudah terkunci sehingga seperti direm tentu saja kereta tak dapat bergerak lagi.

Segera terdengar seorang membentak dengan bengis, “Hm, ikan di dalam jaring masa ingin lari lagi?”

Di tengah suara bentakan itu, seorang lelaki berbaju hitam lantas tampil ke muka dan tepat menghadang di depan kereta, tatkala mana lari kuda sudah berkurang karena roda kereta tak dapat berputar, tapi kalau sampai tertumbuk, sedikitnya akan mencelat dan menggeletak.

Namun lelaki itu tak gentar sedikitpun, kedua matanya mencorong terang dan melototi kepala kuda dengan gusar, mendadak kedua kepalan menghantam sekaligus, terdengar suara “prak-prek” dua kali kereta pun tergetar.

Belum sempat kedua ekor kuda itu meringkik, tahu-tahu sudah roboh terkulai, kepala kuda hancur memar terkena hantaman lelaki itu.

Pwe-giok sendiri bertenaga raksasa pembawaan, tapi tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini benar-benar ada orang yang mampu membinasakan kuda yang sedang lari. Seketika ia tercengang.

Di dalam kereta Oh-lolo dan Cu Lui-ji tidak tahu apa yang terjadi di luar, mereka cuma merasa kereta itu bergetar keras, lalu berhenti sama sekali.

“Ji-kongcu ini sungguh banyak aral rintangannya, tidak sedikit orang yang selalu mencari perkara padanya,” ujar Oh-lolo dengan menghela nafas.

Lui-ji menggigit bibir, ia membuka pintu kereta dan melompat keluar, tanpa memandang orang yang menghadang di depan sana, ia menengadah dan tanya Pwe-giok yang nongkrong di atas “Sicek, apakah kau kenal orang-orang ini?”

“Tidak.” jawab Pwe-giok.

Lui-ji berkedip-kedip, katanya pula “Apakah mereka bukan anak buah orang itu (maksudnya Ji Hong-ho)?”

“Tampaknya bukan,” ujar Pwe-giok.

Lui-ji juga rada tercengang, katanya pula, “Kalau begitu, jangan-jangan mereka adalah kaum bandit?”

“Juga bukan,” jawab Pwe-giok.

Baru sekarang Lui-ji berpaling, memandang orang berbaju hitam itu.

Di bawah sinar bulan, terlihatlah perawakannya yang ramping, tinggi semampai, berwajah hitam mengkilat, kedua matanya yang besar jeli itu juga sedang memandangi Lui-ji dengan rada terkesiap juga, agaknya orang itupun tidak menduga bahwa dari dalam kereta akan keluar seorang nona cilik secantik ini.

Segera Lui-ji menjengek, “Hm, tampaknya kau masih muda, kenapa tidak belajar yang baik, masih banyak pekerjaan halal, kenapa sengaja menjadi bandit yang membegal dan merampok?”

Pemuda baju hitam itu berkerut kening, ia tidak menanggapi teguran Lui-ji, tapi berpaling dan tanya orang-orangnya, “Apakah kalian tidak keliru?”

Salah seorang berseragam hitam dibelakangnya cepat menjawab, “Tidak, tidak mungkin keliru, kulihat dengan mata kepalaku sendiri.”

Sinar mata pemuda baju hitam yang mencorong itu segera beralih pula kearah Lui-ji, tanyanya dengan bengis, “Kau she Oh?”

“Kau sendiri she Oh, namamu Oh-soat-pat-to (ngaco-belo),” jawab Lui-ji.

Kembali pemuda baju hitam mengernyitkan kening, ia berpaling dan tanya Pwe-giok, “Kau lebih tua, kenapa kau tidak bicara?”

Pwe-giok tertawa hambar, jawabnya, “Tengah malam buta begini kalian merintangi perjalanan orang lain, membinasakan kuda orang, tidak tanya dulu juga tidak menjelaskan alasanmu, lalu apa yang perlu kubicarakan?”

“Betul,” tukas Lui-ji, “jangan kaukira karena tenagamu besar, lalu kau akan berlagak kereng didepan Sicekku. Orang semacam kau ini, sekali hantam saja Sicek akan membikin kau mencelat lima tombak jauhnya.”

Sekonyong-konyong pemuda baju hitam menengadah dan bergelak tertawa, katanya, “Nona cilik, besar amat nyalimu, dikolong langit ini, kecuali kau mungkin tiada orang kedua yang berani bicara padaku seperti ini.”

“Oo, jika demikian, agaknya kau ini bukan sembarangan orang,” ujar Lui-ji.

“Boleh kau tanya Oh-lolo yang sembunyi didalam kereta itu, saat ini dia pasti sudah tahu siapa diriku,” kata pemuda baju hitam.

“Apakah kedatangan kalian ditujukan kepada Oh-lolo?” tanya Pwe-giok.

Pemuda baju hitam berhenti tertawa mendadak dan menjawab dengan kereng, “Betul, dan ada hubungan apa antara kau dan dia?”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Cayhe tidak ada hubungan apa apa dengan Oh-lolo, kalian hendak mencari dia, sebenarnya Cayhe tidak boleh ikut campur, tapi sekarang …”

“Dan sekarang kau pasti akan ikut campur, begitu?” pemuda baju hitam menegas dengan bengis.

Pwe-giok tidak menjawab, ia termenung sejenak, lalu bertanya pula, “Entah kalian ada permusuhan apa dengan dia?”

Tiba-tiba pemuda baju hitam bergelak tertawa pula, serunya, “Kau tanya ada permusuhan apa antara kami dengan dia? Haha, bagus!” – Mendadak ia berpaling ke belakang dan bertanya, “Ong-jiko, coba katakan, ada permusuhan apa antara kau dengan Oh-lolo?”

Dengan suara parau seorang berseragam hitam yang berdiri di ujung sana berkata, “Segenap keluargaku yang terdiri dari 19 jiwa, seluruhnya mati di tangannya, istriku berlutut di depannya dan memohon dengan sangat agar dia suka mengampuni ibuku yang sudah berusia lebih 70 tahun itu, tapi dia … dia tidak … ” sampai di sini ia tidak sanggup meneruskan lagi karena air mata telah bercucuran.

“Dan kau, Tio-toako, ada permusuhan apa antara kau dan Oh-lolo?” kembali pemuda baju hitam berseru.

Dengan suara gemetar Tio-toako yang disebut itu lantas menutur “Meski bukan ibuku tapi … tapi kelima anakku, yang paling … paling kecil baru berumur satu tahun, hanya disebabkan mendiang ayahku pernah berbuat salah padanya, lalu dia …dia membunuh anak-istriku tanpa sisa seorang pun.”

“Dan kau bagaimana, Sun-heng?” tanya pula si pemuda baju hitam.

Orang she Sun itu tidak segera menjawab, tapi dengan sisa sebelah tangannya dia menarik baju sendiri hingga robek, tertampaklah sekujur badannya hitam hangus, kulit daging sukar dibedakan lagi.

Dengan suara kereng pemuda baju hitam tadi lantas berteriak, “Nah, sudah kau lihat bukan? Sun-heng ini dahulu pernah bersalah kepada seorang anggota keluarganya, lalu dia mengikat Sun-heng pada sebuah pilar dan memanggangnya selama tiga jam”

Pwe-giok tidak tega lagi melihat dan mendengar, ia menghela napas panjang, katanya, “Sudahlah kalian tidak perlu omong lagi, Cayhe sudah paham.”

“Untuk menuntut balas padanya, orang-orang ini telah mengorbankan jiwa enam orang dan akhirnya dapat menemukan sarangnya, mereka bersembunyi disekitar daerah ini, sudah lebih setahun mereka menunggu, dan baru sekarang orangnya diketemukan,” tutur pemuda itu. “Nah, coba kau pikir, apakah lantaran kau akan ikut campur urusan ini, lalu orang-orang ini akan mundur dan melepaskan nenek celaka itu?”

Pwe-giok jadi melenggong dan tidak sanggup bicara lagi.

Bicara sejujurnya, betapapun dia tidak pantas ikut campur urusan ini. Apalagi saat ini tenaganya juga belum pulih, umpama ingin ikut campur juga bukan tandingan pemuda baju hitam ini. Tapi kalau dia membiarkan orang-orang ini menuntut balas dan membunuh Oh-lolo, akibatnya Lui-ji akan ikut menjadi korban, sebab obat penawar racunnya tentu sukar diperoleh lagi. Ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Didengarnya pemuda baju hitam berkata pula, “Ku bicara sebanyak ini padamu, bukan disebabkan ku takut kau akan ikut campur urusan ini, soalnya kulihat kalian adalah orang yang baik-baik dan tentunya bukan manusia yang tidak tahu aturan”.

“Tapi kalau Cayhe pasti akan ikut campur, lalu bagaimana?” jawab Pwe-giok kemudian sambil menghela napas menyesal.

Dengan angkuh pemuda baju hitam menjawab “Asalkan kau mampu mengalahkan aku dengan sekali pukul atau setengah tendangan, akan kulepaskan dia!”

“Baik, aku setuju!” jawab Pwe-giok, serentak ia terus bergerak hendak menubruk maju.

“Nanti dulu” tiba-tiba Lui-ji berteriak. “Ingin ku bicara dulu dengan Sicek!”

“Ku tahu apa yang hendak kau katakan,” ujar Pwe-giok dengan rawan. “Kukira tidak…tidak perlu kau omong lagi!”

Tapi Lui-ji lantas menarik tangannya dan berkata, “Tidak, harus ku bicara padamu, Sicek, maukah kau kemari sebentar!”

Pwe-giok memandang Lui-ji dan pemuda baju hitam sekejap, katanya, “Kau…”

“Jangan kuatir,” jengek pemuda itu, “Jika sudah kusanggupi kau, sebelum diketahui kalah atau menang antara kita, tidak nanti kuganggu seujung jari Oh-lolo.”

Lui-ji lantas menarik Pwe-giok ke samping, katanya, “Sicek, untuk apa kau meng…mengadu jiwa bagi Oh-lolo?”

Pwe-giok diam saja tanpa menjawab.

“Ku tahu tindakan Sicek ini adalah demi diriku,” kata Lui-ji pula. “Tapi orang ini jelas bukan orang yang ngawur, kenapa Sicek tidak bicara baik-baik dengan dia dan suruh dia menunggu satu hari.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Apabila Oh-lolo tahu sehari lagi dia tetap akan mati, mana dia mau melepaskan dirimu. Apalagi orang-orang itupun belum tentu mau percaya kepada keterangan kita, mana mereka mau melepaskan harimau kembali ke gunung membiarkan Oh-lolo pulang dulu ke rumah?”

Lui-ji melenggong, ucapnya kemudian sambil menunduk. “Cara berpikir Sicek kukira terlalu jelimet, tapi aku…”

“Sudahlah, jangan kau bicara lagi, sekali ku kehendaki Oh-lolo menolong kau, maka dia harus ku tolong lebih dulu, diantara kedua hal ini tiada pilihan lain, tiada gunanya kau omong lagi.”

“Akan tetapi Sicek sendiri…”

“Tidak perlu kau kuatir diriku,” kata Pwe-giok dengan tertawa, “betapapun kuat kepalan pemuda baju hitam itu juga belum tentu mampu mengalahkan aku, sekarang kurasakan tenagaku sudah pulih sebagian besar.”

Pelahan ia lantas melepaskan pegangan Lui-ji dan menuju ke sana dengan langkah lebar.

Memandangi bayangan punggung Pwe-giok, majemuk benar perasaan Lui-ji, ya girang, ya sedih, ya terharu, ya sesal, ya gelisah, ya kuatir.

Ia tahu bilamana Ji Pwe-giok sudah bertekad akan bertindak sesuatu, maka siapapun tidak mampu menghalanginya. Kini dia hanya berharap semoga Pwe-giok akan menangkan pertandingan itu.

Tapi pemuda baju hitam yang angkuh itu tampaknya juga yakin pasti akan menang, jelas dia memiliki kungfu maha tinggi dan asal usul yang mengejutkan orang. Dapatkah Pwe-giok mengalahkan dia?

Lui-ji menunduk sedih, tanpa terasa air matanya bercucuran pula.

Sejak tadi pemuda baju hitam selalu menatap Pwe-giok, mengawasi sikapnya waktu bicara, mengamati gerak-geriknya. Ketika Pwe-giok mendekatinya, segera ia tanya, “Kau akan mulai?”

“Ya boleh kita mulai sekarang” jawab Pwe-giok tegas.

—–

Bagaimana hasil pertarungan antara Pwe-giok dan pemuda baju hitam itu? Tokoh macam apakah pemuda ini?

Apakah Lui-ji akan sembuh dan bagaimana dengan nasib Oh-lolo?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

4 Comments »

  1. […] Imbauan Pendekar – 03 Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: Imbauan Pendekar — ceritasilat @ 1:26 am […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm

  2. […] Ucapan ini membuat semua orang terkejut dan bertambah heran. (more…) Leave a Comment […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:03 pm

  3. I got this site from my buddy who told me about this website and now this time I am browsing this web site and reading very
    informative content at this place.

    Comment by lidi geli — 03/05/2016 @ 2:51 am

  4. karena kadang kita memang membutuhkan backlink untuk website yang kita kelola sehingga berkomentar walau tidak se tema

    Comment by hp murah — 06/10/2016 @ 2:16 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: