Kumpulan Cerita Silat

02/06/2010

Imbauan Pendekar – 02

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Kunamisme)

Tapi Ji Pwe-giok masih saja memandangnya dengan melongo, bahkan mata pun tidak berkedip.

Kembali Lui ji terkejut, serunya, “He, Sicek ken…kenapa kau tidak bicara?” Waktu ia merabanya, tangan Pwe-giok ternyata kaku seperti kayu.

Tangan Lui ji sendiripun juga dingin saking kagetnya, cepat ia menyusup ke dalam tungku, dilihatnya sekujur badan Pwe giok sama kaku, mata melotot, jelas Hiat-to tertutuk orang.

Waktu ia pandang ujung belakang tungku, entah sejak kapan di situ sudah tembus satu lubang ingin terasa meniup masih dari sana, Lui ji mendapat ajaran ilmu Tiam hoat dari Hong-sam sianseng maka segala kungfu menutuk dari berbagai aliran dan golongan di dunia persilatan sedikit banyak di pahaminya.

Segera ia menepuk Hiat-to Pwe giok yang tertutuk sehingga terbuka lalu bertanya, “Sicek, apa kah yang terjadi, masa ada orang datang ke sini?”

Pwe-giok termenung sejenak, lalu mengembus napas panjang, ucapnya kemudian, “Betul, ada orang datang kemari, tapi aku sendiri tidak tahu jelas yang datang ini sesungguhnya manusia atau setan.”

Kiranya tadi baru saja Pwe giok bermaksud keluar menyusul Lui ji, tiba-tiba sebuah tangan terjulur dari belakang tanpa suara dan menutuk Hiat-tonya.

“Tangan itu terjulur melalui lubang ini?” seru Lui ji terkejut.

“Betul.” jawab Pwe giok.

“Jadi dia membuat lubang tepat di belakang Sicek, tapi sama sekali Sicek tidak mendengar suatu suara?” Lui ji menegas pula.

“Ya, apapun tidak kudengar, batu yang khusus digunakan membuat tungku ini memang sangat kuat dan keras, tapi berada di tangan orang ini telah berubah menjadi empuk seperti tahu,” tutur Pwe giok dengan gegetun.

Membayangkan betapa hebat tenaga orang, Lui ji merasa ngeri juga, tanyanya kemudian, “Lalu bagaimana?”

“Lalu kurasakan ada seseorang menerobos masuk kesini melalui lubang ini.

“Tapi lubang ini hanya sebesar mangkuk, cara bagaimana dia mampu menerobos masuk?”

“Dengan sendirinya ilmu yang digunakannya adalah Siok-kut-kang.”

Siok-kut-kang atau ilmu mengerutkan tulang bukan suatu kungfu yang luar biasa, tapi kalau taraf Siok kutkangnya sudah mampu membuat tubuhnya mengerut sehingga mampu menerobos lubang kecil ini, maka ilmu mengerutnya boleh dikatakan luar biasa.

Lui-ji termenung sejenak, katanya kemudian, “Dan kemudian dia lantas menirukan cara bicara Thian-cia-siang tadi”

Pwe-giok mengiakan.

“Bagaimana bentuk orang itu, tentunya Sicek melihatnya?” tanya Lui-ji.

Tapi Pwe-giok menggeleng, jawabnya dengan menyesal, “Tidak, aku tidak melihatnya”

Lui ji terbelalak heran, “Dia berada di sini dan Sicek tidak melihatnya, apakah dia mahir ilmu menghilang?”

“Hakikatnya aku tidak mampu berpaling untuk memandangnya, aku cuma merasakan dia menerobos masuk lalu merosot keluar lagi dengan cepat.”

“Menerobos masuk dan memberosot keluar lagi, memangnya dia seekor ikan?” ujar Lui ji dengan geli.

“Bicara sejujurnya, biarpun ikan dalam air juga tidak segesit dia,” tutur Pwe-giok dengan gegetun. “Tubuh orang ini hakekatnya seperti segumpal asap belaka, siapa pun jangan harap dapat merabanya.”

Lui-ji berkerut kening, ucapnya, “Dari nada ucapan Thian cia sing tadi, agaknya orang ini datang dari Hwe-seng-kok, mengapa tidak pernah kudengar nama tempat Hwe-seng-kok. Juga Sacek tidak pernah bercerita kepadaku. Kalau Thian-cia-sing tidak takut kepada Sacek, mengapa ketakutan setengah mati terhadap orang ini. Selain itu, tadi Ji Hong-ho telah memberi isyarat tangan kepada Thian cia sing, apakah tokoh yang dimaksudkan ialah orang yang suka menirukan bicara orang ini?”

Air muka Pwe-giok tampak berubah, ia tidak mendengar pertanyaan Lui-ji, tapi bergumam sendiri, “Hwe seng kok…Hwe seng kok…, Sesungguhnya dimanakah letak Hwe sengkok ini?”

Lui ji tertawa, katanya, “Seumpama ku tahu di mana letak Hwe sengkok itu juga aku tidak mau kesana, paling baik kalau selama hidupku ini jangan bertemu lagi dengan orang dari Hwe seng kok itu. Pikir saja, bilamana ada orang siang dan malam selalu mengintil di belakangku, apapun yang kukatakan selalu ditirukannya, andaikan tidak mati kaku saking gemasnya tentu juga akan gila.”

Sungguh ia tidak berani membayangkan lebih jauh, bila teringat di dunia ini ada orang demikian, seketika itu merinding seperti lehernya di lilit oleh seekor ular.

Pada saat itulah, mendadak di luar sana berkumandang suara orang merintih.

Sambil menggenggam tangan Pwe giok, Lui ji mengintai keluar. Dilihatnya seorang dengan muka berlumuran darah sedang berdiri sempoyongan di tengah puing sana.

Tampak tubuhnya mengejang, kedua tangan mendekap muka, apa bila bukan cambang-bauknya yang memenuhi wajahnya, mungkin tiada orang yang mengenal lagi.

Diam-diam Lui ji menghela nafas lega, bisiknya kepada Pwe-giok, “Si Hiang brewok, dia belum lagi mati.”

Selagi Pwe giok bermaksud keluar untuk memeriksa keadaan Hiang brewok itu, tiba-tiba dilihatnya sinar mata orang gemeredep sambil celingukan kian kemari, sikapnya sangat misterius seperti kuatir kepergok orang lain.

Tatkala mana tiada bayangan seorang pun disekitar itu, Li toh tin yang tadinya jaya dan makmur kini telah berubah menjadi kota kuburan.

Mendadak Hiang brewok tertawa terkekeh-kekeh, padahal hidung dan kupingnya sudah terpotong, tapi ia masih sanggup tertawa. Hal ini sungguh mengejutkan.

Mendingan kalau dia tidak tertawa, lantaran tertawa, maka lukanya pecah lagi, darah mengalir pula, namun sedikitpun dia tidak merasakan sakit, dia merasa terus tertawa tiada hentinya. Suara tertawanya kedengaran seram, tampangnya lebih mirip setan.

Tambah kencang Lui ji menggenggam tangan Pwe-giok.

Terdengar si brewok lagi terkekeh-kekeh pula dan berseru, “Ji Hong-ho, wahai Ji Hong-ho, biarpun kau lebih lihay dari pada siapapun juga, tapi kau tetap sia-sia belaka dan yang makan nangkanya adalah aku si brewok.” Sembari bicara ia terus melompat ke dalam kubangan.

Lui ji terkejut dan bergirang, katanya dengan suara tertahan, “He, kiranya barang itu sudah ditemukan olehnya, cuma dia menyadari, sekalipun barang itu diserahkan juga jiwanya tetap akan amblas, maka diam-diam ia menyembunyikan barang temuannya. Di dalam kubangan itu tentu penuh batu dan tanah liat, asalkan ditanam begitu saja pasti tidak terlihat orang.”

Mata Pwe giok juga terbeliak. Didengarnya suara tertawa latah si berewok berkumandang dari kubangan sana. Cepat Pwe giok dan Lui ji menerobos keluar dari tempat sembunyinya dan merunduk ke tepi kubangan.

Tampak seperti anak kecil saja si berewok berduduk di dalam kubangan yang penuh lumpur itu, tubuhnya basah kuyup, kedua tangannya merangkul erat-erat sebuah peti besi kecil dan sedang berteriak gembira tertawa, “Ini milikku, ini punyaku, kini tibalah saatnya si berewok melintang di dunia ini…”

“Hmm, tidaklah terlalu cepat kau bergirang?!” jengek Lui-ji mendadak.

Serentak Hiang berewok melompat bangun seperti kerbau gila, tapi ketika diketahuinya yang berdiri di atas adalah pemuda yang pernah mengalahkan Lo-cinjin itu, seketika ia menjadi lemas dan lesu, peti besi itu dirangkulnya semakin erat, serunya dengan suara gemetar, “Ka…kalian mau apa?”

“Kamipun tidak mau apa-apa,” kata Lui-ji “hanya ingin meminta kembali peti itu.”

Dengan kelabakan si berewok berusaha menyembunyikan peti ke belakang, lalu menjawab dengan terkekeh “Peti apa maksudmu? Mana ada peti.”

Melihat kelakuan orang, Lui-ji merasa geli dan juga kasihan, ia menggeleng, katanya dengan menyesal, “Tidak ada gunanya biarpun kau sembunyikan juga tiada gunanya.”

Kembali si berewok melonjak dan meraung gusar, “Sekalipun peti ini berada padaku, lalu mau apa? Peti ini milikku, kudapatkan dengan imbalan sebuah hidung dan kedua kupingku. Barang siapa ingin merampasnya dariku harus penggal dulu kepalaku.”

“Apakah kau ingin kepalamu dipenggal? Itukan bukan pekerjaan sulit!” kata Lui ji dengan tertawa.

Si berewok memandangnya dengan mata mendelik, teriaknya dengan suara parau, “Kau…kau…” mendadak tubuhnya mengejang pula, belum lanjut ucapannya lantas roboh terkulai.

Lui ji melompat turun dan memeriksa napasnya, katanya kemudian sambil menggeleng, “Sudah mati, orang ini sudah mati, sungguh tak disangka di dunia ini ada orang yang mati gemas begini.

“Jika seorang lagi kegirangan, lalu mendadak lenyaplah segala harapan, ku kira siapa pun takkan tahan oleh pukulan berat ini, apalagi lukanya memang cukup parah,” ujar Pwe giok dengan menyesal.

“Inikan tidak dapat menyalahkan aku,” kata Lui-ji. “Betapapun barang ini kan tidak dapat kuberikan kepadanya.”

“Betul, bukan salahmu, tapi dia yang terlalu tamak,” ucap Pwe giok.

Meski sudah mati, tapi kedua tangan Hiang berewok masih tetap memeluk peti besi itu sekuatnya, untuk melepaskannya Lui-ji memerlukan mencongkelnya dengan cangkul.

“Ingin ku lihat sesungguhnya apa isi peti ini, mengapa orang-orang rela mati demi mendapatkannya,” gumam anak dara itu.

—–

Isi peti itu ternyata bukan sesuatu benda mestika segala melainkan cuma sepotong belahan bambu dan satu buku jurnal, yaitu buku yang biasa terdapat pada dagang.

Belahan bambu hanya sepotong sebesar telapak tangan, diatasnya terukir sebuah karung, ukirannya sangat jelek, dipandang dari sudut manapun juga tiada dapat tanda berharga sepotong bambu ini.

Buku jurnal itupun buku dagang yang sangat umum, sama seperti buku jurnal yang biasa digunakan catatan sesuatu perusahaan dagang, malahan buku ini masih polos, tiada satu huruf apapun.

Pwe giok dan Lui-ji sama melongo, sungguh tak pernah terpikir oleh mereka bahwa barang yang diperebutkan orang dengan mati-matian ini tidak lebih cuma dua macam benda yang tak berharga sama sekali.

Sejenak Lui-ji termenung, katanya kemudian, “Untuk dua macam benda ini Ji Hong-ho tidak sayang membakar sebuah kota, bahkan tidak sedikit orang yang rela mengorbankan jiwanya, huh, persetan benar!”

Segera ia buang dua macam barang itu ke tanah, bahkan hendak disepaknya dengan kaki.

Tapi Pwe giok keburu mencegahnya, dipungutnya kedua benda itu, katanya, “Apapun juga kedua barang ini diperoleh secara tidak mudah, boleh kau simpan saja sebagai tanda kenang-kenangan.”

“Mengenang siapa? Mengenangkan si berewok ini?” tukas Lui-ji dengan tertawa getir, “Tahu begini, biarkan saja peti ini dibawa pergi oleh dia.”

“Menurut pendapatku, ibumu pasti takkan menyembunyikan dua macam benda yang tak berharga secara prihatin dengan rahasia begini, bisa jadi nilai benda ini sekarang belum kita ketahui.”

“Tapi kalau cuma satu buku catatan yang kosong begini, berapa harganya?”

Terpaksa Pwe giok hanya menyengir saja, sebab ia sendiri tidak dapat menjawabnya.

Dengan tertawa Lui-ji berkata pula, “Bila Sicek merasa sayang untuk membuangnya, bolehlah kau simpan saja buat dirimu sendiri, Aku tidak ingin menyimpan satu buku rongsokan begitu, untuk apa anak perempuan menyimpan barang demikian, kan terlalu tolol?”

“Tapi dipandang bagaimana pun kau tidak mirip seorang tolol,” ujar Pwe giok dengan tertawa. Ia benar-benar menyimpan barang tak berharga itu ke dalam bajunya. Lalu mayat yang bergelimpangan di situ diceburkannya ke dalam kubangan dan diuruk dengan tanah galian tadi.

Lui ji menghela nafas, ucapnya dengan tersenyum, “Hati Sicek memang sangat baik, entah anak perempuan mana yang beruntung akan menjadi isteri Sicek.”

Pwe-giok ingin tertawa, tapi tak dapat, sebab lantas teringat olehnya akan Lim Tay-ih, teringat juga kepada Kim-yan-cu. Tanpa terasa ia menghela nafas panjang, ucapnya dengan rawan, “Kukira siapa pun juga sebaiknya jangan berkumpul bersamaku, sebab baginya hanya akan mengalami kesialan belaka.”

Lui-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Dengan ucapanmu ini apakah Sicek hendak menyatakan takkan membawa serta diriku.”

Tanpa menunggu jawaban Pwe giok, dengan menunduk ia berkata lagi, “Meski aku sudah sebatangkara dan tiada tempat tujuan, tapi kalau Sicek merasa keberatan membawa serta diriku, tentu aku pun tidak berani memaksa kehendak Sicek.”

Pwe giok menepuk bahu anak dara itu, katanya dengan tertawa, “Ai, nona cilik jangan berpikir yang bukan-bukan. Umpama betul Sicek tidak ingin membawa serta dirimu, setelah mendengar ucapanmu ini, mau tak mau Sicek harus berubah pikiran.”

Maka tertawalah Lui-ji sambil menengadah, katanya, “Jika demikian, sekarang kita akan pergi ke mana?

Padahal Pwe-giok sendiri tidak tahu harus pergi kemana, sebab ia sendiripun tidak mempunyai rumah lagi.

Setelah berpikir sejenak barulah ia berkata seperti bergumam sendiri, “Entah orang Tong-keh-ceng sekarang sudah mengetahui lenyapnya Tong Bu-siang atau tidak, dan entah Kim-yan-cu sekarang apakah masih berada di sana?”

“Apakah Sicek bermaksud pergi ke Tong Keh ceng?” tanya Lui-ji.

“Ya, boleh juga ke sana,” kata Pwe giok.

“Bagus sekali,” Lui-ji berkeplok senang, “memang sudah lama ku dengar Toh-keh-ceng adalah tempat yang menarik.”

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara ribut orang banyak dari kejauhan sana, terdengar pula suara tangis anak kecil dan orang perempuan. Agaknya Ji Hong-ho sudah melepas pulang penduduk Li-toh-tin ini.

Cepat Lui-ji menarik tangan Pwe-giok dan diajak berlari pergi dengan jalan memutar.

Setiba di luar kota, hawa terasa nyaman dan segar, tiada berbau anyirnya darah dan hangusnya puing, hanya suara tangisan penduduk Li-toh-tin sayup-sayup masih terdengar.

“Sicek,” tiba-tiba Lui-ji bertanya, “kau kira Ji Hong-ho benar-benar akan mengganti rugi kepada penduduk Li-toh-tin atau tidak?”

“Orang ini sedang berusaha mencari nama dan menegakkan wibawa, sudah tentu dia tidak mau kehilangan kepercayaan para pendukungnya,” kata Pwe-giok.

“Akan tetapi penderitaan batin mereka apakah dapat diberi ganti rugi?” ujar Lui-ji. “Seseorang kalau rumahnya sudah terbakar, biarpun diberi ganti sebuah rumah baru juga rasa derita itu sukar dihilangkan.”

“Tapi luka betapa dalamnya tentu akan sembuh, betapa berat penderitaan seseorang, lama-lama tentu juga akan terlupakan, hanya kenangan yang menggembirakan saja yang tetap hidup abadi, lantaran inilah maka manusia dapat hidup terus.”

“Betul juga, seorang kalau tidak dapat melupakan penderitaan di masa lampau, tentu hidupnya tidak ada artinya lagi.”

Sementara itu sang surya sudah terbit, tetumbuhan di musim rontok sudah mulai layu, namun padi di sawah sepanjang tepi jalan justeru menguning dengan suburnya, bumi raya ini penuh diliputi gairah hidup.

Memang, bau harum bunga apa di dunia ini yang bisa lebih harum daripada padi yang menguning di sawah?

Lui ji menarik nafas dalam-dalam, katanya dengan tertawa, “Apa pun juga aku masih tetap hidup dan akan tetap hidup, aku masih muda, dunia seluas ini, kemanapun aku dapat pergi, apa yang mesti ku resahkan?”

Dia pentang kedua tangannya dan berlari ke depan menyongsong semilir angin sejuk.

Melihat senyum si nona yang cerah, hati Pwe giok tanpa terasa ikut lapang. Pada saat itulah tiba-tiba dari tengah sawah sana berkumandang suara orang, merintih seorang mengeluh dengan terputus-putus, “Ai, orang muda tidak…tidak seharusnya putus asa hanya nenek semacam…semacam diriku saja…”

Cara bicaranya seperti sangat susah payah, sampai di sini ia terus terbatuk-batuk dengan keras sehingga tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

Mendengar suara itu, Pwe giok dan Lui-ji terkejut. Cepat Lui-ji berlari balk dan memegang tangan Pwe-giok, lalu melotot ke arah suara di tengah sawah tadi sambil menegur, “Apakah kau Oh-lolo?”

Orang itu memang benar Oh-lolo, dia terbatuk-batuk lagi sejenak, habis itu baru – menjawab dengan napas megap-megap, “Betul memang diriku O, siauya dan siocia yang berhati baik, sudilah memberi semangkuk air bagi nenek yang sudah sekarat ini? Berjalan saja aku tidak sanggup lagi.

Lui-ji mengerling, tiba-tiba ia terbawa dan berseru, “Hah, kau rase tua ini. kau kira kami dapat kau tipu?”

“O, nona yang baik, sekali ini sungguh-sungguh kumohon…kumohon dengan sangat,” Pinta Oh-lolo dengan suara gemetar. “Mulutku hampir pecah saking…saking keringnya, ai, terlalu panas sinar matahari ini.”

Segera Lui ji menarik tangan Pwe giok, katanya , “Sicek marilah kita pergi, jangan gubris nenek setan ini, barang siapa menghiraukan dia tentu akan celaka sendiri.”

Mendadak Oh-lolo menongol dari balik padi yang menguning itu lantas dengan wajahnya yang berlepotan darah, tapi segera ia roboh lagi sambil berseru dengan suara parau, “Ji-kongcu, ku tahu engkau orang yang baik hati kumohon sudilah kau beri sedikit air padaku, matipun aku akan berterima kasih padamu.”

Tanpa bicara Pwe giok melepaskan tangan Lui-ji, lalu berlari pergi. Lui-ji menghela napas, ucapnya, “Dengarkan, nenek celaka, Sicek sudah pergi mengambil air bagimu, sebab dia memang orang yang baik hati. Tapi kalau kau berdusta padanya, tentu akan kupotong lidahmu supaya selanjutnya kau tak bisa membohongi orang lagi.”

Sembari bicara ia terus melompat ke tengah sawah. Maka terlihatlah Oh-lolo meringkuk di semak menjadi seperti seekor anjing yang terluka, tubuhnya penuh lumpur, bibirnya memang tampak kering hingga pecah. Melihat Lui-ji, nenek itu seperti mau tersenyum, tapi baru saja bibirnya bergerak, seketika ia meringis kesakitan, sambil mendekap kepalanya ia terbatuk-batuk lagi sekian lamanya. lalu berkata dengan suara gemetar, “Nona yang baik, tidakkah kau lihat nenek sudah hampir mati? Untuk apa ku tipu orang lagi?”

Lui-ji tidak mengira nenek celaka ini akan berubah menjadi begini, ia melongo sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “bilamana kau tau akan berakhir dengan begini, mungkin kau takkan menipu orang.”

“Ini memang akibat perbuatanku sendiri, aku pun tidak menyesali orang lain,” ucap Oh-lolo dengan pedih. “Tapi kalau bukan usiaku sudah lanjut, biarpun terluka lebih parah juga takkan berubah sepayah ini.”

Lui-ji tahu keadaan nenek ini bukan cuma akibat luka luar saja, yang gawat adalah karena hampir sebagian besar tenaga dalamnya telah disedot oleh Hong-sam-sianseng, karena kehilangan tenaga terlalu banyak, ditambah lagi sekarang banyak mengeluarkan darah, biarpun usia jauh lebih muda juga tak tahan.

Padahal usianya sudah selanjut ini, tampaknya tiada seorang sanak-kadang, apa bila dia mati di sini mungkin mayatpun tidak terkubur. Tanpa terasa Lui-ji menjadi rada kasihan padanya.

Sampai sekian lama Pwe-giok belum lagi kembali, Lui-ji menjadi kuatir, barulah ia melongok ke arah sana sambil menggerundel, “Tentu banyak juga orang lain yang berlalu di sini, seumpama kau hampir mati kehausan, kenapa tidak kau minta bantuan orang lain, tapi justeru kami yang kau temukan?”

“Hal ini bisa jadi lantaran nenek terlalu berbuat dosa sehingga terhadap siapapun tidak percaya lagi,” kata Oh-lolo dengan gegetun.

“Jika demikian, kenapa kau percaya pada Sicekku?” tanya Lui-ji.

“Di dunia ini memang ada semacam lelaki yang dapat dipercaya oleh setiap perempuan yang baru sekali melihatnya,” ucap Oh lolo. “Dan dia adalah lelaki yang demikian ini. Biarpun nenek sudah ompong tapi kan masih tetap perempuan?!”

Luiji tertawa cerah, katanya, “Apapun juga pandanganmu dalam hal ini tampaknya memang tidak salah.”

Oh-lolo terengah-engah sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Dan mengapa kau panggil dia Sicek? Padahal usianya kan selisih tidak banyak dengan kau?”

Lui-ji tidak menjawab, ia potol sebatang padi dan dibuat mainan.

Oh-lolo meliriknya sekejap, lalu berkata pula. “Jika aku seusia kau dan ketemu lelaki semacam dia, pasti takkan kulepaskan dia, dengan cara apapun juga akan ku jadi istrinya dan tidak nanti ku panggil dia Sicek.”

“Apakah kau merasa aku sudah boleh menjadi isteri orang?” Lui-ji tertawa pula.

“Kenapa tidak?” jawab Oh-lolo. “Ada orang seusia mu ini malahan sudah menjadi ibu.”

Lui-ji menunduk termangu-mangu memandangi padi yang dipegangnya. Sang surya menyinari wajahnya. gemerdep sinar matanya, mukanya yang kemerah-merahan juga mencorong, tampaknya dia bukan lagi seorang dara.

Anak yang tumbuh ditengah penderitaan sering kali memang jauh lebih cepat dewasa daripada anak lain.

Tiba-tiba Lui-ji merasa nenek reyot ini tidak terlalu menjemukan lagi. Dia tidak melihat bahwa demi mengucapkan kata-kata tadi, bukan saja mulut Oh-lolo yang kering semakin kering. Darahpun mengucur dari lukanya. Nenek yang sudah tua bangka ini sudah tentu tahu kata-kata apa yang paling di suka oleh nona cilik yang baru mulai akil baligh, yaitu bilamana orang bilang dia sudah dewasa, hal ini akan membuatnya sangat senang.

Tapi sebab apakah nenek yang keji ini berusaha membikin senang hati Lui-ji?

* * *

Akhirnya Ji Pwe-giok muncul kembali dengan membawa sebuah bumbung bambu yang penuh berisi air. Dahinya kelihatan berkeringat, nyata air ini diperolehnya secara tidak mudah.

Oh-lolo tampak kegirangan, katanya,” Terima kasih, terima kasih, sejak mula nenek memang sudah tahu engkau ini seorang yang berhati mulia.”

Pwe-giok tidak berucap apapun, ia hanya menaruh bumbung berisi air itu di depannya. OH-lolo meronta bangun dan bermaksud memegangnya, tapi tangannya tampak gemetar sehingga tidak kuat mengangkatnya.

“Hati-hati bilamana air itu tumpah, tiada orang yang mau mengambilkan lagi bagimu,” kata Lui-ji.

“Ku tahu…ku tahu…” kata Oh-lolo dengan menggeh-menggeh.

Belum habis ucapannya, mendadak bumbung itu jatuh dari pegangannya. Untung Lui-ji cukup cekatan dan sempat meraihnya, kalau tidak air di dalam bumbung pasti tumpah.

“Sudah kukatakan supaya hati-hati, apakah tidak kau dengar?” omel Lui-ji.

“Ai, sungguh tidak tersangka nenek akan berubah setidak becus begini,” ucap Oh lolo dengan suara gemetar, Tampaknya aku memang sudah… sudah akan masuk liang kubur…” bicara punya bicara, bisa juga dia mengucurkan air mata.

Lui-ji menggeleng dan menghela nafas, ia berjongkok dan menyodorkan ujung bambu ke mulut Oh-lolo. Seketika sosok itu memegang bumbung seperti bayi yang menetek, air itu terus diminumnya dengan bernapsu.

Melihat kelakuan orang, Lui-ji tertawa geli dan berketa, “Sicek, coba kau lihat…” belum habis ucapannya mendadak ia urung tertawa dan melompat mundur, sisa air di dalam bumbung tertumpah diatas badah Oh-lolo.

“He, kenapa kau?” seru Pwe giok terkejut.

Merah padam air muka Lui-ji saking gemasnya, teriaknya sambil mengentak-entakkan kakinya, “Tua…tua bangka ini sungguh bukan manusia!”

Sejak mula Pwe giok sudah kuatir kalau Oh-lolo akan main gila, maka senantiasa ia mengawasi gerak-geriknya. Tapi nenek itu tidak kelihatan berbuat sesuatu, maka Pwe giok tidak jadi heran dan kejut, bentaknya dengan gusar,” Kau main gila apa lagi?”

Oh-lolo dengan lagak seperti menyesal, “Ai, barangkali kuku nenek terlalu panjang tanpa sengaja telah melukai tangan nona Cu.”

Cepat Pwe giok melompat maju dan memeriksa tangan Lui-ji, dilihatnya punggung tangan anak dara yang putih bersih itu betul ada bekas goresan kuku.

“Kukunya beracun?” tanya Pwe giok dengan kuatir.

“Ehm,” Lui-ji mengangguk.

“Apakah berbahaya?” tanya Pwe giok pula.

“Kalau kumakan racun ini tentu tidak menjadi soal,” tutur Lui-ji. “Tapi sekarang dia melukai kulit dagingku, racun merembes masuk melalui darah, mungkin…mungkin…”

Pwe giok mengembus napas panjang-panjang ia berpaling menghadapi Oh-lolo dan bertanya sekata demi sekata, “Sesungguhnya apa kehendakmu?”

Dengan suara gemetar Oh-lolo menjawab, “Sungguh nenek tidak…tidak sengaja, nenek memang pantas mampus, sungguh aku berdosa kepada kalian, boleh…boleh Kongcu bunuh…bunuh saja diriku.”

“Kau tahu tidak nanti ku bunuh kau.” kata Pwe-giok.

Mendadak Oh-lolo tertawa terkekeh-kekeh, nada bicaranya seketika berubah, katanya, “Dengan sendirinya ku tahu kau tidak berani membunuhku. Toh sebelah kaki nenek sudah melangkah ke liang kubur, sedangkan hari depan nona cilik ini masih panjang, jika jiwanya digunakan menukar jiwaku tentu saja tidak klop.”

“Cara bagaimana baru kau akan menyerahkan obat penawarnya?” tanya Pwe giok.

“Inilah satu-satunya jalan keselamatan bagi nenek, mana bisa ku simpan obat penawar dalam bajuku,” tutur Oh-lolo dengan adem-ayem. “Jika dalam 72 jam tidak diberi obat penawar, jiwa si nona cilik yang berharga ini akan amblas.”

“Dimana kau simpan obat penawarnya?” tanya Pwe giok sambil mengusap keringat di jidatnya.

“Bila kau menuruti setiap perkataan nenek, dengan sendirinya akan kuberikan obat penawarnya,” ujar Oh-lolo dengan tertawa.

Mendadak Lui-ji berteriak. “Sicek, jangan mau diperas oleh tua bangka ini, ku…” mendadak ia melolos sebilah pisau kecil dari pinggangnya terus menebas ke pergelangan tangan sendiri.

Cepat Pwe-giok memegang tangan si nona, serunya kaget, “He, apa yang hendak kau lakukan?”

“Mumpung racun belum menjalar ke atas, biarlah ku kutungi tanganku ini dan aku pun takkan mati,” kata Lui-ji.

“Ai, anak bodoh,” kata Pwe giok. “Jika dia sudah mau memberikan obat penawarnya, buat apa…buat apa kau…”

Bahwa anak perempuan sekecil ini ternyata biasa berpikir secepat dan berbuat tegas dan nekat, sungguh hal ini sangat mengharukan hatinya, seketika kerongkongannya seperti tersumbat dan tidak sanggup bicara lagi.

Lui-ji lantas mengucurkan air mata, ucapnya dengan menunduk, “Seumpama dia mau memberikan obat penawarnya, tapi aku tidak sampai hati membiarkan Sicek di bawah ancamannya. Biarpun tanganku buntung kan tidak jadi soal?”

Pwe-giok menoleh ke arah lain, katanya dengan tertawa, “Demi membela Sicek kau tidak sayang membuntungi tangan sendiri, sekalipun Sicek mengalami sedikit kesusahan bagimu kan juga tidak apa-apa?”

Mendadak Oh-lolo berkeplok dan terkekeh-kekeh, “Hehe, sungguh yang perempuan setia dan yang lelaki mulia. Tampaknya San-pek dan Eng-tay paling-paling juga cuma begini saja. Ai, sudah berpuluh tahun nenek tidak pernah lagi menyaksikan adegan mesra yang menarik ini.”

Muka Lui-ji menjadi merah, dampratnya sambil menghentakkan kaki, “Kau…kau tidak boleh sembarangan mencerca Sicek.”

“Hahahaha, meski di mulut kau maki diriku, tapi di dalam hati tentu kau sangat senang,” seru Oh-lolo sambil bergelak. “Kalau tadi nenek tidak bilang kalian adalah pasangan yang setimpal sehingga kau lupa daratan, mana kau setan cilik ini dapat ku tipu.”

“Sicek, jangan kau percaya ocehannya,” seru Lui-ji sambil menangis dan mendekap dalam rangkulan Pwe-giok.

Pwe-giok berdehem, tanyanya dengan menarik muka, “Sesungguhnya dimana kau simpan obat penawarnya?”

“Nenek kan juga punya rumah,” jawab Oh-lolo. “Jika dalam waktu tiga hari tiga malam kau sanggup mengantar pulang nenek, tentu jiwa anak dara ini dapat diselamatkan.”

“Dimana letak rumahmu?” tanya Pwe-giok.

“Pendek kata, lekas kau sewa sebuah kereta kuda dan lekas kita berangkat menuju ke timur siang dan malam tanpa berhenti, dengan demikian mungkin masih keburu. Setiba di tempat tujuan tentu akan kuberitahukan padamu.”

—–

Sesudah berada di dalam kereta yang disediakan, Oh-lolo serupa orang sekarat lagi, matanya terpejam dan napasnya megap-megap, mulut pun tampak berbusa.

Lui-ji melototinya dengan gemas, katanya, “Rupanya kau sengaja sembunyi di tengah sawah untuk menjebak kami.”

“Sebenarnya tiada maksudku yang demikian.” jawab Oh-lolo dengan tertawa, “Tapi kalau ada daging disodorkan ke mulut, masa nenek tidak mencaploknya?”

Lui-ji melototinya sejenak pula, akhirnya ia tertawa dan berkata, “Karena perlakuanmu kepadaku ini, pada suatu hari akhirnya kau pasti akan menyesal.”

Bilamana dia bicara dengan garang terhadap orang macam Oh-lolo ini, mungkin takkan berguna sama sekali, sebab ucapan kasar demikian sudah terlalu biasa bagi Oh-lolo, sudah bosan didengarnya dari setiap korbannya. Akan tetapi sekarang Lui-ji berucap dengan tertawa manis, hal ini berbalik menimbulkan rasa ngeri bagi Oh-lolo, terpaksa ia menjawab. “Sesungguhnya tidak pantas kau dendam padaku, tapi harus berterima kasih padaku.”

“Berterima kasih padamu?” Lui-ji menegas.

“Ya, jika tiada perbuatanku ini, darimana kau tahu dia sedemikian memperhatikan dirimu?” ujar Oh-lolo dengan tertawa sambil melirik Pwe-giok.

Pwe-giok lantas terbatuk-batuk lagi, tiba-tiba ia menyela, “Apakah kau dan Ji…Ji Hong-ho itu memang benar ada permusuhan.?”

Oh-lolo tidak menjawabnya, ia terbelalak, lalu balas bertanya. “Kau sendiri juga she Ji, logatmu juga seperti orang Kangsoh atau Ciatkang, apakah antara kau dengan dia ada hubungannya?”

Pedih hati Pwe giok, serunya, “Mana aku bisa mempunyai hubungan dengan dia?”

“Jika demikian bolehlah kuberitahukan padamu, bila Ji Hong-ho ini bukan seorang pelupa, tentu dia telah berganti orang, bisa jadi Ji Hong-ho yang sekarang ini adalah palsu.”

Darah sekujur badan Pwe-giok serasa bergolak. Justeru kata-kata inilah yang setiap saat ingin diteriakkannya tanpa menghiraukan apa akibatnya. Tak tersangka sekarang kata-kata tersebut tercetus dari mulut Oh-lolo. Dia mengepal kedua tangannya dengan kencang sehingga kuku menyocok telapak tangan sendiri, sekuatnya ia menahan emosinya yang bergolak. Katanya kemudian dengan hambar, “Masa dia memalsu? Mana keteranganmu ini bisa dipercaya?”

“Aku pun tahu ucapanku ini takkan dipercaya orang,” ujar Oh-lolo. Tapi apa yang kukatakan ini adalah sungguh-sungguh, bukan bualan.”

“Oo? Apa betul?” Pwe-giok menegas.

“20 tahun yang lalu aku benar-benar pernah bertemu satu kali dengan Ji Hong-ho, tapi dia tidak berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, sebaliknya dia malah telah menyelamatkan jiwaku.”

“Menyela…menyelamatkan jiwamu?”

“Ya, waktu dia menolong aku mungkin dia tidak tahu siapa diriku. Tapi ketika diketahuinya aku inilah Oh-lolo, tampaknya dia juga tidak menyesal, dia cuma menasehati aku agar selanjutnya jangan berbuat jahat kepada orang lain,” si nenek menggeleng dan menghela nafas gegetun, sambungnya pula, “Orang baik seperti dia sekarang sudah sangat jarang, apa bila dia mengungkit kejadian dahulu, betapapun busuk hatiku juga takkan berbuat sesuatu yang tidak baik kepadanya. Siapa sangka dia seperti sama sekali tidak tahu apa yang pernah terjadi, sebaliknya malah mengira ada sesuatu permusuhan dengan nenek. Coba pikir, bukankah sangat aneh?”

Lui ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Jika betul Ji Hong-ho ini palsu. Wah, tentu akan sangat menarik.”

Sembari bicara diam-diam ia melirik Ji Pwe giok. Tapi Pwe-giok tidak memperlihatkan sesuatu perasaan apa pun.

Kembali Lui-ji mengerling, katanya pula. “Jika kau tahu rahasia ini, kenapa tidak kau bongkar saja?”

Oh-lolo menghela nafas, katanya “Jangan kau kira Ji Hong-ho ini orang yang mudah dihadapi, biarpun dia barang palsu, tapi menurut pandanganku, kungfunya mungkin jauh lebih lihay dari pada Ji Hong-ho yang tulen.”

“Akan tetapi selama ini dia tidak pernah memperlihatkan kungfunya,” kata Lui-ji.

“Justeru lantaran dia tidak pernah turun tangan, makanya menakutkan,” ujar Oh-lolo. “sekalipun dalam keadaan tidak kurang sesuatu apa pun nenek juga tidak berani bergebrak dengan dia.”

“Masa kungfunya bisa lebih tinggi daripada kalian yang tergolong kesepuluh tokoh top?” tanya Lui-ji dengan tertawa.

“Tentunya kau tahu, setiap orang Kangouw akan merasa takut bila berhadapan dengan para pemimpin aliran dan golongan ternama betul tidak?”

“Ya,” jawab Lui-ji.

“Dan para pemimpin berbagai golongan dan aliran besar itu pun takut bila bertemu dengan kesepuluh tua bangka macam kami ini, begitu bukan?”

“Ya, seumpama tidak takut juga akan merasa pusing,” ujar Lui-ji dengan tertawa.

“Akan tetapi kesepuluh tokoh seperti kami ini sesungguhnya tidak selihai sebagaimana dibayangkan orang,” tutur Oh-lolo dengan gegetun. “Hal ini cocok benar dengan pepatah yang mengatakan di luar langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai. Justeru nenek tidak pernah meremehkan siapa pun juga, makanya aku dapat hidup sampai sekarang.”

“Bilamana Ji Hong ho itu benar orang kosen mengapa dia sudi bertekuk lutut dan minta bantuan Lo-cinjin?” ujar Lui-ji.

“Mungkin lantaran dia tidak berani memperlihatkan asal-usulnya, kuatir orang lain akan mengenali gaya ilmu silatnya,” ujar Oh-lolo. “Orang yagn berambisi besar seperti dia ini, kalau mengalami sedikit penasaran tentu tidak menjadi soal.”

“Pantas dia cuma memberi isyarat tangan kepada si gendut itu, lalu si gendut yang maha lihai itu lantas melepaskan dia begitu saja,” kata Lui-ji.

Mendadak Oh-lolo merasa tegang, tanyanya, “isyarat tangan apa yang diberikannya?”

“Sayang aku pun tidak melihatnya,” jawab Lui ji sambil menggeleng.

Oh-lolo termenung sejenak, gumamnya kemudian. “Jangan-jangan karena pergantian hawa udara akhir-akhir itu, maka kawanan makhluk tua yang sudah lama mengeram di sarangnya itu juga ingin mencari udara segar. Tampaknya hari-hari selanjutnya akan lebih sulit dilewatkan, apa bila sekali ini nenek tidak jadi mati, selanjutnya akan lebih baik menikmati sisa kehidupan tenteram di hari tua di rumah saja,…” lalu ia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

Udara cerah di luar. Hawa yang sejuk membuat orang mengantuk. Orang berlalu lalang sangat sedikit, juga tidak terdengar suara lain kecuali suara cambuk sais kereta yang menggeletar serta suara detak kaki kuda diselingi suara roda kereta.

Lui ji memandangi cambuk yang berulang-ulang menerbitkan suara nyaring itu, lalu memandang kaki kuda yagn dilarikan secepat terbang itu pandang punya pandang, akhirnya air muka Lui-ji mendadak berubah.

Teringat olehnya Li-toh-tin sudah menjadi timbunan puing, biasanya juga tiada terdapat kendaraan apapun, sekarang darimanakah mendadak Pwe-giok bisa mendapatkan kereta besar dan mewah ini, sampai jok di dalam kabin kereta ini pun terbuat dari alas yang empuk dilapisi kain satin.

Kereta semewah ini, andaikan di kota besar juga cuma dimiliki oleh keluarga hartawan atau orang berpangkat saja, mana bisa kereta ini mengompreng di suatu kota kecil yang sekarang malah sudah berwujud puing belaka?

Cepat Lui-ji menggoyang tubuh Pwe giok dan berbisik padanya, “He, Sicek, darimana kau dapatkan kereta ini?”

Dia mengira Pwe giok juga pura-pura tidur tak tersangka Pwe giok benar-benar tertidur dengan lelapnya, sampai lama ia menggoyangi bahunya barulah Pwe giok membuka mata dan masih kelihatan rasa mengantuknya.

Lui ji menjadi gelisah, ia menggoyang bahu Pwe giok dengan lebih keras dan bertanya, “Bangun dulu, Sicek. Coba lihatlah, kereta ini pasti tidak beres!”

“Tidak beres bagaimana?” tanya Pwe giok.

Ia seperti berusaha membuka matanya, tapi kelopak matanya terasa sangat berat, baru selarik terpentang segera terpejam lagi. Apa yang diucapkan juga tidak begitu jelas.

Waktu Lui-ji pandang Oh-lolo, nenek ini pun tertidur, bahkan terdengar suara mendengkurnya.

Sekujur badan Lui-ji terasa dingin ia mendorong daun jendela dan berseru keluar, “He, toako pengemudi kereta, aku tidak enak badan, ingin muntah, maukah kau hentikan keretamu sebentar?”

Kusir kereta itu menoleh dan tertawa, jawabnya, “Tidur saja, tentu akan terasa segar lagi.”

Maka si kusir memang hitam kemerah-merahan, karena tertawa, kulit yang kemerah-merahan itu di bagian ujung mirip disayat oleh pisau. Habis itu kulit yang kelihatan sehat itu mendadak pula terkelupas sepotong demi sepotong sehingga kelihatan wajahnya yang pucat seperti mayat.

Keruan Lui-ji terkejut, sekuat ia mendorong pintu kereta, akan tetapi tangannya terasa lemas, pintu kereta dirasakan seperti terbuat dari pelat besi dan sukar dibuka. Kusir itu terkekeh-kekeh, lalu berpaling ke depan lagi dan melarikan keretanya terlebih cepat.

“He, sesungguhnya kalian dari golongan mana dan bermaksud mengapakan kami?” seru Lui-ji.

Tapi si kusir tidak menggubrisnya lagi, cambuknya berbunyi lebih keras, kuda juga berlari lebih cepat. Kini Lui-ji sendiri pun merasa kelopak matanya mulai berat dan ingin tidur.

Dia bersandar di jok kereta kuda itu dan menggigit bibir sekuatnya, maksudnya supaya pikirannya tetap jernih, tapi dipegangnya pula belatinya. Sekarang ia tahu bahwa Ji Pwe-giok dan Oh-lolo telah terbius oleh semacam asap yang tak berwarna dan tak berbau, sedangkan dia sendiri lantaran sudah terlatih memakan berbagai macam racun sehingga daya tahannya lain dari pada yang lain, maka sampai saat ini dia masih dapat mempertahankan kejernihan pikirannya.

Tapi apa guna pikiran jernih? Jelas dia tidak mampu menolong Pwe-giok, bahkan menolong dirinya sendiri juga tidak bisa, dari pada sadar tanpa berdaya, kan lebih baik ia pun tertidur saja.

Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan kereta kuda ini, jangan-jangan juga perbuatan Ji Hong-ho? Tapi darimana Ji Hong-ho mengetahui mereka masih berada di Li-toh tin?

Sekonyong-konyong dilihat ada asap tipis melayang turun dari sebelah kecil atap kereta dengan cepat asap tipis itu lantas buyar tertiup angin. Dengan menahan napas LUi-ji berdiri, dengan belatinya ia lantas mengorek sela-sela atap kereta. Akan tetapi kedua kakinya terasa lemas, begitu tangan menggunakan tenaga, kaki tidak kuat lagi, “bluk”, ia jatuh terduduk pula.

Di luar dugaan, pada saat itu juga papan atap kereta lantas merekah, kiranya pada atap kereta itu masih ada satu lapis langit-langit rahasia. Dengan menggertak gigi, sekuatnya Lui-ji merangkak ke atas jok lagi, ia coba melongok ke atas. Dilihatnya di atas situ memang ada satu lapis serupa bagasi kendaraan masa kini, di situ penuh tertaruh barang. Di samping ada setitik lelatu yang masih berkelip membara.

Dengan belatinya Lui-ji mencongkelnya, lelatu api itu lantas jatuh ke bawah, ternyata sepotong lidi dupa yang baru terbakar separuh. Hanya setengah batang lidi dupa itu sudah mampu membius Oh-lolo dan Ji Pwe giok, betapa bagus buatan dupa bius itu sungguh berbeda jauh daripada dupa bius yang digunakan kaum Lok-lim (penjahat, bandit, perampok) umumnya.

Cepat Lui ji memadamkan ujung dupa yang menyala itu, sisa setengah potong itu disimpannya dalam baju, lalu ia meraba bagasi kereta itu untuk mengetahui barang apa lagi yang tersimpan di situ.

Ia merasa benda itu empuk, kenyal seperti kapas, juga seperti gumpalan daging. Ia menghela napas panjang, sekuatnya ia tolak papan bagasi dan “bluk”, barang itu jatuh ke bawah, ternyata sosok tubuh manusia hidup. Sama sekali Lui ji tidak menyangka bahwa orang ini ternyata Gin hoa nio adanya.

Padahal jelas diketahuinya Gin hoa nio telah jatuh dalam cengkeraman Ji Hong-ho, jika sekarang dia berada dalam kereta ini, maka tidak perlu disangsikan lagi kereta ini tentu milik Ji Hong-ho.

Tampaknya Ji Hong ho memang bukan seorang tokoh yang mudah direcoki, setiap tindak-tanduknya selalu diluar dugaan.

Lui ji menghela nafas ia ingin tanya mengapa Gin hoa nio bisa dijejalkan di kolong bagasi kereta itu, akan tetapi Gin hoa nio juga dalam keadaan pingsan terbius, bahkan napasnya sudah sangat lemah.

Pada saat itulah kereta itu terasa bergoncang hebat, agaknya jalan pegunungan tidak rata yang dilaluinya. Selang tak lama mendadak kabin kereta gelap gulita.

Waktu Lui ji membuka daun jendela ingin memandang keluar, ternyata apa pun tidak terlihat lagi. Yang terdengar hanya suara gemuruh roda kereta yang bergema dan memekakkan telinga. Agaknya kereta itu telah memasuki sebuah gua yang gelap, setelah membelok satu tikungan, tiba-tiba di depan muncul bintik-bintik cahaya api.

Lui-ji mengerling, lalu ia pun roboh di atas jok.

Pada saat itulah kereta mendadak berhenti, terdengar ramai suara orang berlari mendekat, ada yang menahan kuda kereta, ada yang memayang turun si kusir, bahkan ada yang menyapa dengan mengiring tawa, “Wah Toasuheng tentu sudah lelah.”

Si kusir ternyata “Toa-suheng” orang-orang ini, apakah dia Ciangbun-tecu, murid ahli waris Ji-Hong-ho? Tapi setiap orang Kangouw sama tahu bahwa Hong-ho Lojin tidak pernah mempunyai murid.

Terdengar Toa-suheng itu hanya mendengus saja tanpa berucap apa pun, sikapnya jelas sangat congkak, tapi mungkin orang-orang ini sudah biasa menghadapi sikap demikian, dengan mengiring tawa mereka berkata pula, “Apakah Toa-suheng sudah menemukan kembali Ji-nio (nona kedua)?”

Mendadak terdengar “plak”, yang ditanya itu telah dipersen sekali tamparan.

“Apakah ku temukan dia kembali atau tidak perduli apa dengan kau?” demikian sang Toa-suheng menjengek.

Orang yang kena digampar itu masih juga berkata dengan mengiring tawa, “Ya, ya, lain kali siaute tidak berani banyak mulut lagi.”

Kembali Toa-suheng mendengus, lalu berkata, didalam kereta masih ada tiga lagi orang lagi yang sengaja kubawa pulang untuk dipersembahkan kepada upacara sembahyang Kaucu, Ji-nio juga berada di atas kereta, boleh kalian bawa mereka ke atas panggung sembahyangan, tahu tidak?” Sembari bicara ia terus melangkah pergi.

Diam-diam Lui ji membatin, “Aneh, mengapa sang Toa-suheng, demikian ganas terhadap semua saudara seperguruannya. Dari nada ucapannya, rupanya Gin hoa nio juga sekomplotan dengan mereka, dan entah siapa lagi Kaucu mereka?

Dia tidak tahu bahwa Gin hoa nio berasal dari Thian-can kau, tapi sekarang ia tahu orang-orang ini tiada sangkut pautnya dengan Ji Hong ho, diam-diam ini jadi tambah kuatir.

Apapun juga tindak tanduk Ji Hong-ho masih pakai pertimbangan, jika jatuh dalam cengkeraman Ji Hong ho rasanya akan lebih baik dari pada berada dalam genggaman orang-orang ini.

Dalam pada itu pintu kereta sudah terbuka empat-lima orang berjubel di depan pintu kereta, semuanya memakai baju ringkas warna perak, air mukanya berbeda dari pada orang biasa. Seorang di matanya tinggi lagi kurus, mukanya yang pucat kehijauan hampir tiada terdapat secuil daging pun sekilas pandang serupa benar dengan jerangkong hidup.

Biarpun cukup tabah, tidak urung Lui-ji merinding juga melihat orang aneh ini, sekali pandang cepat ia memejamkan mata.

Terdengar orang-orang itu ramai-ramai berbicara, “He, Ji-nio seperti terluka? Apakah ketiga orang ini yang melukainya? Siapa dan dari manakah ketiga orang ini?”

“Hah, lihat, nenek ini tidak punya hidung masa mampu mencelakai Ji-nio?”

“Tapi nona cilik ini sangat cantik, cuma sayang, belum cukup umur, kalau dua tahun lagi tentu…”

Begitulah ditengah gelak tertawa yang memuakkan itu, Lui-ji merasa sebuah tangan yang dingin mencolek pipinya, saking tak tahan hampir saja ia muntah.

Tiba-tiba seorang berkata, “Ayo lekas menggotong pergi mereka, bila diketahui Toa-suheng tentu akan dihajar atau didamprat lagi.”

Dari suaranya jelas orang inilah yang digampar sang Toa-suheng tadi. Lui-ji coba mengintip baru diketahuinya bahwa orang ini adalah si jerangkong hidup.

Rupanya orang-orang itu memang sangat takut kepada sang Toa-suheng, begitu si jerangkong menyinggung nama Toa-suheng, seketika orang-orang itu klakap-klakep, tiada satu pun berani bersuara lagi. Sementara seorang diantara mereka menyeret Pwe-giok keluar kereta.

Seorang lagi lantas berkata, “Jisuheng, apakah kita juga akan membawa Ji-nio ke atas panggung sembahyang?”

Dengan suara dingin ia menjawab, “Inikan perintah Toa-suheng.” Setelah ragu sejenak, lalu ia berkata pula, “Biasanya Ji-nio disayang oleh Kaucu, entah mengapa sekali ini dia telah melanggar peraturan, masa orang seperti dia sampai berbuat sesuatu kesalahan yang tak terampunkan?”

Lui ji masih mengintip dengan membuka sedikit kelopak matanya, dilihatnya sekeliling gua itu penuh obor, api obor yang gemerdep menyinari batu gua yang beraneka ragamnya itu. Ditengah-tengah gua terdapat empat gunduk api unggun, di sekeliling api unggun itu adalah sepotong batu besar, mungkin batu inilah yang dimaksudkan sebagai panggung atau altar sembahyang.

Di luar sudah buntut musim rontok hawa sudah dingin, tapi di dalam gua ini hanya terasa hangat seperti di musim semi. Bahkan Lui ji merasa kegerahan dan berkeringat. Ia tidak paham mengapa orang-orang ini menyalakan obor sebanyak ini apakah mereka takut dingin?

Tapi segera ia melihat di samping setiap api unggun dikitari belasan kotak perak yang terukir sangat indah, dari dalam kotak itu terus menerus mengeluarkan suara kresek-kresek yang aneh suara seperti ular makan daun. Waktu mula-mula mendengar suara itu tidak terasa apa-apa, tetapi lama-lama Lui-ji merasa berdiri bulu romanya badan terasa gatal seolah dirambati oleh ular kecil yang tak terhitung jumlahnya.

Orang yang berada dalam gua ini tidak banyak, termasuk Ji-suheng si jerangkong itu, seluruhnya cuma enam orang saja.

Ke enam orang itu menggotong Lui-ji berempat ke atas altar, lalu mengikat mereka dengan tali berwarna perak, habis itu mereka lantas berdiri khidmat di samping, tiada satu pun berani berbicara.

Tidak lama kemudian, orang yang dipanggil sebagai Toa suheng itu muncul di balik tonggak batu yang berwarna-warni sana, kini bajunya sudah berganti menjadi baju panjang berwarna perak mengkilat. Tangannya malah membawa kipas sempit, di pandang dari jauh tampak ganteng juga. Tapi sesudah dekat, ketika cahaya obor menyinari mukanya…Wah, jangankan manusia, sekalipun setan juga tidak lebih menakutkan daripada wajahnya.

Raut sang Toa-suheng ini sebenarnya tidak kurus, tapi entah sebab apa daging pada mukanya itu hampir sebagian besar lenyap entah dimakan apa. Setengah bagian sebelah kiri hidungnya masih utuh, tapi hidung sebagian kanan juga hilang. Pada satu bagian kulit dagingnya masih baik, tapi diantara dibagian bawah kulitnya terkelupas sehingga kelihatan tulangnya yang putih kelabu.

Kedua tangannya juga cacat, sepuluh jari kini tersisa empat jari saja, tiga jari ditangan kanan dan tangan kiri cuma tersisa sebuah jari. Enam jari yang lain entah hilang digerogoti makhluk apa?

Orang ini tampaknya adalah sisa-sisa dari mangsa segerombolan serigala lapar.

Namun ke enam orang lain ternyata sangat takut padanya, begitu melihat dia muncul, mereka lantas menunduk, memandang saja tidak berani mereka menyapa dengan mengiring tawa, “Perintah Toa-suheng tadi sudah kami laksanakan dengan baik.”

Sang Toa-suheng hanya mendengus saja, sinar matanya yang serupa mata ular itu memang sekejap ke arah empat orang yang menggeletak di altar itu, lalu berkata dengan tersenyum seram, “Kukira orang-orang itupun perlu dibangunkan.”

Sembari bicara ia terus pentang kipasnya ia mengipas beberapa kali di atas muka ke empat orang itu, seketika Lui-ji mengendus semacam bau aneh. Toa-suheng itu menyapu pandang sekejap pula lalu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Hehe, tak tersangka Oh-lolo yang termasyhur kini juga jatuh didalam genggaman aku si Siang Ji-long.”

Mendengar ucapannya, Pwe-giok dan Oh-lolo yang sudah siuman itu merasa tenang malah. Sedangkan Lui-ji berlagak terkejut, “He, siapa kau? Mengapa kami dibawa ke sini?”

Siang Ji-long, si Toa-suheng, mendengus, “Hm, jangan sok ceriwis, nona cilik, bila kau omong lagi segera ku copot satu biji gigimu!”

Dalam keadaan demikian, Lui-ji benar-benar tidak berani mengoceh lagi. Kalau di depan Lo-cinjin, Kun Hay-hong dan lain-lain ia berani bicara tajam untuk membikin marah mereka, sebab cukup kenal jalan pikiran mereka yang sok menjaga gengsi, biarpun gemas setengah mati juga takkan bertindak kepadanya.

Akan tetapi Siang Ji-long ini tidak boleh dibuat permainan, apa yang dikatakannya pasti juga dapat diperbuatnya, di depan orang demikian tentu saja Lui-ji bisa melihat gelagat dan membawa diri.

Lalu Siang Ji-long menuding Pwe-giok dengan kipasnya dan bertanya, “Kau inikah Ji Pwe-giok?”

“Betul,” jawab Pwe giok singkat.

Untuk sekian lamanya Siang Ji-long melototi Pwe-giok, ucapnya sambil menyeringai, “Ternyata memang betul seorang anak bagus, pantas ketiga Tongcu agama kami sama terpikat olehmu. Sebentar kalau tidak ku kembalikan mukamu berubah serupa mukaku, maka anggaplah aku kurang hormat padamu.”

“Mungkin Anda berharap muka setiap orang di dunia ini akan berubah seperti mukamu, begitu bukan?” tanya Pwe-giok.

Terpancar sinar mata buas pada kedua mata Siang Ji-long, mendadak ia gampar muka Pwe-giok sambil membentak dengan suara parau, “Kau kira mukaku memang begini sejak lahir? Hm, biar ku katakan padamu, sebenarnya aku…aku…” saking terangsang perasaannya sehingga dia tidak dapat melanjutkan

“O, kasihan anak ini,” tiba-tiba Oh-lolo menimbrung dengan menghela napas, “Tentunya kau pernah dihukum “Thian-can-po-te (badan digerogoti ulat), makanya wajahmu berubah menjadi begini. Tapi dapat kubayangkan, dahulu kau tentu sangat cakap, betul tidak?”

Napas Siang Ji-long tampak terengah karena emosi, jengeknya, “Betapapun, Oh-lolo memang berpengetahuan luas, sampai hukuman digeragoti ular dari agama kami juga tahu, kau memang seorang Cianpwe sejati.”

“Apakah hukuman Thian-can-po-te itu? Apakah kulit daging pada mukamu itu digeragoti ulat sehingga seperti sekarang ini?” seru Lui-ji.

Siang Ji-long tertawa seram, ucapnya, “Kukira kau tidak perlu tanya, sejenak lagi kau sendiri pun akan mencicipi rasanya digeragoti ulat.”

Tiba-tiba Oh-lolo berseru, “Bocah she Ji dan budak cilik itu tidak ada sesuatu hubungan dengan diriku, nenek reyot juga tidak ada permusuhan apapun dengan Thian-can-kau, bilamana mereka hendak kau bunuh, janganlah nenek juga kau masukkan hitungan bersama mereka.”

Tapi Siang Ji-long hanya mendelik saja, apa pun yang dikatakan Oh-lolo tidak digubrisnya, dianggapnya tidak mendengar saja.

Oh-lolo menghela napas, katanya kemudian, Ji Pwe-giok, “Ji kongcu, bukankah kau ini pemuda maha cerdik, kenapa kali ini kau pun kena dikerjai orang dan menumpang kereta setan serta dibawa ke sini?”

Diam-diam Pwe-giok menyesal juga. Waktu itu, yang terpikir olehnya hanya keselamatan Cu Lui-ji sehingga keanehan kereta ini tidak diperhatikan olehnya.

Melihat Pwe giok hanya termangu-mangu, Lui-ji menjadi terharu, basah matanya, sambil menggigit bibir ia berkata, “Ku tahu semua ini dilakukan Sicek demi diriku, jika bukan lantaran diriku, tidak nanti Sicek terjebak.”

“Ah, tidak ada sangkut-pautnya dengan kau.” ujar Pwe-giok dengan tertawa sedapatnya, “yang harus disesalkan adalah tidak pernah ku duga bahwa Thian-can-kau tetap tidak mau melepaskan Gin ho nio, dia…”

Pada saat itulah mendadak Gin-hoa-nio berteriak. “He, Siang Ji-long, mengapa kau pun mengikat diriku di sini? Lekas bebaskan aku!”

Sejak kehilangan tenaga dalam, badan Gin hoa nio jadi lebih lemah dari pada seorang yang tidak mahir ilmu silat. Kalau Pwe-giok bertiga sudah siuman sejak tadi, Gin hoa nio baru mendusin sekarang.

Siang Ji-long bersikap tak acuh, jengeknya “Ji-kohnio (nona kedua), apakah sekarang kau bermaksud bersikap garang lagi padaku?”

“Jangan lupa, orang she Siang”, damprat Gin hoa nio dengan gusar, “waktu kau sekarat dahulu siapakah yang telah menyelamatkan dirimu?”

“Betul kau yang menyelamatkan diriku” jawab Siang Ji-long, “tapi kalau kau tidak mengadu kepada Kaucu bahwa aku telah mengganggu kau mana bisa Kaucu menghukum diriku dengan Thian-can-po-te?”

Mendadak sorot matanya memancarkan cahaya buas, ucapnya dengan dingin, “Apalagi sekali ini kau telah mengkhianati Kaucu, siapa pun tidak mampu lagi menolong kau. Tapi kalau kau pun tidak meniru diriku, sanggup menahan siksaan digerogoti Thian-can, maka mengingat hubungan baik kita di masa lampau akan kuberi jalan hidup padamu,”

Tampaknya Gin hoa nio menjadi ketakutan sehingga mukanya berkerut-kerut, ucapnya dengan suara gemetar, “Hendaklah kau tahu, Kaucu adalah ayahku sendiri, mana beliau akan menghukum diriku sekejam itu.”

“Masa tidak?” jengek Siang Ji-long.

“Sudah tentu tidak, lekas kau lepaskan diriku,” seru Gin hoa nio dengan parau.

“Hm,” Siang Ji long mengejek, “apakah kau tahu, sejak kau curi pusaka Siau hun kiong dan mengelabui Kaucu diam-diam Kaucu sudah menyuruh kukuntit jejakmu. Ketika di tanah pekuburan di luar Li toh-tin sana, bila kau mau tunduk dan mengaku salah, mungkin dosamu akan diberi keringanan…” dia merandek sejenak, lalu menyambung pula, tapi kau percaya kepada kekuatan orang luar dan mengadakan perlawanan terhadap Kaucu, dari sini terbuktilah sudah lama ada niatmu akan berkhianat, sekarang apa pula yang dapat kau katakan?”

“Hah, jadi di tanah pekuburan dulu itu, kiranya cuma kau saja yang main gila padaku?” seru Gin hoa nio.

“Memang cuma diriku ini saja, bilamana Kaucu sendiri, mungkinkah kau hidup sampai saat ini?” kata Siang Ji long.

“Sejak dulu sudah kuketahui kau bukan manusia, nyatanya kau memang binatang.” ucap Gin hoa nio dengan gemas.

“Dan sekarang kau telah jatuh di tangan si binatang,” jengek Siang ji long sambil menyeringai “Kau kira akan dapat lolos dari pengejaran Kaucu kita padahal sudah lama kutunggu kau di luar Li-toh-tin, baru waktu kau ditangkap oleh anak buah Ji Hong-ho di tengah kebakaran itu, lalu ku tolong kau, tujuanku justeru ingin membikin kau juga mencicipi bagaimana rasanya tersiksa seperti apa yang pernah ku alami.”

Dia bergelak tertawa, lalu menyambung, “Tapi sama sekali tak kusangka ketiga orang ini dapat mengantarkan nyawa sendiri padaku. Waktu itu kulihat bocah she Ji ini seperti orang kebingungan begitu melihat aku lantas seperti ketemu bintang penolong, tak tahunya aku justeru setan pencabut nyawa baginya.”

Lui-ji menghela nafas, katanya, “Baru sekarang ku tahu kiranya demikian adanya, rupanya nasibmu saja yang lagi mujur.”

—–

Hawa dalam gua semakin panas, Lui ji dan lain-lain sama basah kuyup oleh air keringat, tapi pada wajah Siang Ji-long tiada dapat sebutir keringatpun. Dengan perlahan dia menggoyangkan kipasnya dan mondar-mandir mengelilingi gundukan api unggun, mendadak ia mengangkat salah satu kotak perak itu dan diketuknya perlahan beberapa kali.

Mendadak kotak yang berada di tangan itu bergerak-gerak, melonjak-lonjak, mengeluarkan semacam suara aneh, seperti ada barang apa didalam yang lagi menumbuk kian kemari dan berusaha menerjang keluar.

Besar kotak perak itu kurang lebih 20 kali 30 senti, tingginya cuma belasan senti, dengan sendirinya isinya juga tidak mungkin berbentuk besar, akan tetapi tenaga gentakannya ternyata cukup keras sehingga kotak perak itu ikut melonjak-lonjak. Siang Ji-long tertawa terkekeh-kekeh, katanya “Tidak perlu tergesa-gesa, sudah ku sediakan satu partai daging segar dan sebentar lagi kalian pasti boleh berpesta pora.”

Gin hoa nio tampak ketakutan memandang kotak yang dipegang Siang Ji-long, mukanya pucat pasi.

“Apakah isi kotak itu Thian-can?” tanya Lui ji.

“Ehm,” Gin hoa nio mengangguk.

“Apakah Thian can suka makan manusia?” tanya Lui-ji pula.

Tapi Gin hoa nio tampak gemetar sehingga giginya gemerutuk, bicara saja sukar.

“Jangan-jangan karena Thian can tidak tahan dingin, maka di sini dibuat api unggun sebanyak ini?” kata Lui-ji.

Mendadak Siang Ji-long mendelik, ucapnya sambil menyeringai, “Kau masih bisa iseng bertanya macam-macam, sebentar kalau Thian can sudah merayap tubuhmu, mungkin kau akan menyesal mengapa kau masih hidup di dunia ini.”

“Huh, kata-katamu ini tidak dapat menggertak kami,” jawab Lui-ji dengan tak acuh. “Betul tidak Sicek?”

Tapi waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya bibir Pwe-giok juga pucat, matanya buram, tampaknya juga ketakutan sehingga tidak mendengar apa yang ditanyakan itu.

Diam-diam Lui-ji menghela napas, pikirnya “Tak kusangka Sicek sedemikian mementingkan mati hidup, bisa jadi lantaran selama ini aku tidak kenal betapa bahagianya orang hidup, makanya aku tidak takut mati.”

Dilihatnya Pwe-giok mengangkat kepala dan tanya Oh-lolo dengan melotot, “Racun pada kukumu itu apakah betul tak tertolong lagi selewat 3 hari?”

Mendengar ini, Lui-ji jadi terharu, hampir saja ia mengucurkan air mata, perasaannya entah manis entah getir.

Baru sekarang diketahuinya bahwa yang dipikirkan Pwe-giok itu ternyata bukan mati atau hidupnya sendiri, dalam keadaan demikian yang senantiasa dipikirkannya justeru adalah racun yang menyerang Cu Lui ji itu dapat ditolong atau tidak.

Seketika Lui-ji termangu-mangu, apa yang diucapkan Oh-lolo tidak lagi didengar dan diperhatikannya. Apakah racun yang menyerangnya bakal tertolong atau tidak juga tidak diperdulikannya lagi.

Cukup kata-kata Pwe-giok yang didengarnya tadi, andaikan sekarang dia harus mati juga rela. Maklumlah, sejak kematian ibunya, dia tak pernah terbayang olehnya bahwa di dunia ini masih ada orang yang sedemikian memperhatikan dirinya tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri.

Entah sudah lewat beberapa lama lagi, sekonyong-konyong terdengar suara detak kaki binatang dari kejauhan dan makin mendekat ke arah gua ini.

“Sret”, mendadak Siang Ji long melipat kipasnya, ia melayang kesana dan berdiri di atas sebuah tonggak batu yang serupa rebung itu lalu membentak, “Siapa itu yang di luar?”

Tapi tidak ada jawaban apa pun, sebaliknya suara detak kaki binatang tunggangan itu semakin dekat.

Siang Ji-long memberi tanda, ke enam orang berseragam perak tadi segera bergerak dan mencari tempat sembunyi masing-masing di balik tonggak.

Melihat gerak tubuh mereka, baru sekarang Lui-ji tahu kungfu mereka memang selisih sangat jauh dengan Siang Ji-long, pantas mereka sangat takut padanya.

Terlihatlah Siang Ji-long berdiri tegak di ujung rebung batu tanpa bergerak sedikit pun, hanya kedua matanya tampak gemerdep, bentuknya itu jadi lebih mirip mayat hidup yang baru keluar dari liang kubur.

Dengan tangan kanan memegang kipas, tangan kiri Siang Ji-long tetap membawa kotak perak tadi hanya sebelah ujung kakinya saja yang menempel ujung rebung batu, tapi ternyata kukuh bagai terpaku di situ.

Oh-lolo bergumam dengan gegetun, “Pantas bocah ini sedemikian congkak, tampaknya memang punya isi, bisa jadi kepandaian Thian can Kaucu sendiri juga selisih tidak banyak dengan dia.”

Belum habis ucapannya, terlihatlah seekor keledai kecil menerobos masuk ke dalam gua. Hampir sebagian besar bulu keledai ini sudah rontok sehingga mirip seekor anjing buduk yang menjijikkan.

Di punggung keledai buduk itu menumpang seorang kakek bermuka jelek, mukanya belang-bonteng penuh keriput, dengan mata setengah terpejam kelihatan napasnya terengah-engah, dipandang sepintas lalu kakek ini dan Oh-lolo dapat dikatakan satu pasangan yang setimpal.

Lui-ji mendesis, “Kakek ini berani menerjang masuk ke sini, jangan-jangan dia juga seorang kosen? Kau kenal dia tidak, Oh-lolo?”

Si nenek menggeleng, jawabnya, “Kebanyakan tokoh Bu-lim yang punya nama tertentu pernah ku lihat sekali dua kali, tapi rasanya tidak ada seorang tua semacam dia ini.”

Dengan kecewa Lui-ji menghela nafas, dilihatnya setelah keledai kecil itu berlari masuk ke dalam gua, belum lagi berhenti seakan-akan lantas berubah menjadi buta.

Mata si kakek juga keriap-keriap seperti tidak dapat melihat apa-apa lagi, orang bersama keledai itu langsung menerjang lurus ke arah Siang Ji-long, tampaknya sama sekali tidak menyadari bahaya apa yang sedang menantikan mereka.

Diam-diam Lui-ji ikut berkuatir bagi mereka.

Siang Ji-long hanya memandang saja tanpa bersuara, cuma sorot matanya penuh napsu membunuh, dengan sabar dia menunggu mendekatnya si kakek bersama keledainya.

Tampak keledai itu sudah hampir menumbuk tonggak batu itu, Lui-ji dan lain-lain tahu apa bila Siang Ji-long bergerak, maka orang berikut keledainya pasti akan tamat riwayatnya.

Selagi Lui-ji bermaksud memperingatkan, tak terduga Pwe-giok sudah mendahului berseru, “Di sini ini bukan tempat yang baik silahkan Lo-sianseng (tuan tua) lekas putar balik ke sana saja!”

Baru sekarang kakek itu menengadah, dengan mata setengah terpicing ia memandang ke atas.

Maka menyeringai lah Siang Ji-long, katanya “Setibanya di sini, apakah kau ingin putar balik kesana?”

Kakek itu mengucek-ngucek matanya lalu menjawab, “Mungkin aku kesasar, apakah ini pun melanggar undang-undang?”

“Ya, anggaplah kau telah melanggar undang-undangku,” bentak Siang Ji-long dengan bengis “Nah, serahkan nyawamu!”

Mendadak tangan kirinya bergerak, seketika enam atau tujuh potong benda kuning yang mengeluarkan cahaya mengkilat terus melarang ke tubuh si kakek.

Lui-ji tahu itulah Thian can atau ulat langit, ulat yang berpuluh kali lipat lebih jahat daripada ular berbisa. Tapi tak disangkanya gerakan ulat itu bisa secepat ini, seolah-olah bisa melayang mengikuti angin.

Ia menjerit keras, disangka kulit daging si kakek dalam sekejap saja bisa akan dimakan habis oleh kawanan ilat itu dan akan tersisa seonggok tulang belaka.

Sungguh ia tidak sampai hati untuk menyaksikan adegan ngeri itu, baru saja hendak memejamkan mata, mendadak dilihatnya tangan si kakek menggapai perlahan, tahu-tahu beberapa potong benda mengkilat itu tergulung seluruhnya ke dalam lengan bajunya.

Hampir saja Lui-ji berkeplok dan bersorak gembira, tampaknya kakek ini memang betul bintang penolong mereka. Sekali ini jelas Oh-lolo telah salah lihat.

Wajah Siang Ji-long yang memang jelek itu berubah buruk, teriaknya dengan parau, “Siapa kau sesungguhnya?”

Begitu pertanyaan diucapkan, serentak ia pun melayang ke atas terus menubruk ke bawah, kipasnya seolah-olah berubah menjadi belasan buah, entah serangan mana yang betul dan serangan mana yang cuma bayangan, yang jelas sebelum bayangan kipasnya menyambar tiba, lebih dulu tangan kiri sudah menghamburkan secomot titik-titik perak.

Serangan tidak saja keji dan cepat, bahkan dalam waktu sekejap saja sekaligus melancarkan berbagai serangan maut.

Betapa kejinya, sampai siapa pihak lawan juga tidak perlu diketahuinya lagi, tujuannya hanya satu, mematikan lawan, biarpun salah membunuhnya juga tidak terpikir.

Diam-diam Pwe giok terkejut, serangan maut yang hebat ini bila ditujukan kepadanya mungkin ia pun sukar mengelakkannya.

Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak terdengar suara “blang” yang keras, tubuh Siang Ji-long mendadak pula melayang balk ke belakang lalu terbanting di tanah dengan terlentang. Ternyata kipasnya sudah berpindah ke tangan si kakek

“Sret”, kakek itu membentang kipas rampasannya dan mengipas perlahan, kedua matanya sekonyong-konyong memancarkan sinar tajam, ucapnya terhadap Oh-lolo sambil tersenyum, “Sekarang tentu nya kau tahu, meski kungfu Siang Ji-long memang hebat, tapi kalau dibandingkan Thian can kaucu jelas masih selisih sangat jauh.”

Ucapan ini kembali membuat dingin hati Lui-ji.

Kiranya kakek ini samaran Thian kaucu, bosnya Siang Ji-long sendiri, pantas sekali gebrak saja serangan maut Siang Ji-long lantas dipatahkan. Kungfu Siang Ji-long memang ajarannya, dengan sendirinya setiap gerak serangan dapat dibacanya seperti menghitung jarinya sendiri.

Lui-ji hanya menyengir saja. Ternyata Thian can kaucu telah disangkanya sebagai bintang penolongnya.

Dalam pada itu Siang Ji-long telah merangkak bangun dan menyembah kepada kakek dengan ketakutan, ucapnya dengan gemetar, “Tecu tidak tahu Kaucu yang datang, sungguh dosa Tecu pantas dihukum mati.”

“Hm kudengar akhir-akhir ini kau sangat temberang, lantaran aku tidak di rumah, kau lantas bertindak sesukamu, siapa pun tidak kau pandang dengan sebelah mata, semua ini sekarang benar-benar telah ku saksikan sendiri,” demikian si kakek Thian can kaucu menjengek.

Siang Ji-long sangat ketakutan, mengangkat kepala saja tidak berani, dengan tetap menyembah ia berkata, “Kaucu mahir mengubah diri seribu macam, Tecu bermata tapi buta dan tidak tahu akan kedatangan Kaucu, Tecu menyangka ada orang asing berani menerobos ke daerah terlarang Thian-can-kau kita, karena kuatir sehingga terburu napsu melancarkan serangan maut.”

“Hm, sekalipun begitu, pantasnya kau tanya dulu asal-usul pihak lawan, mana boleh tanpa membedakan hitam atau putih dan segera kau lepaskan Thian can,” damprat sang Kaucu dengan gusar “Apakah lantaran kau sendiri sudah menderita digerogoti Thian-can, maka kau pun ingin membikin orang lain juga mencicipi rasanya digeragoti Thian-can untuk menyenangkan hatimu?”

“Tecu tidak berani, Tecu memang pantas mampus,” ratap Siang Ji-long.

Dengan suara lantang Thian can kaucu berkata pula, “Setiap orang Kangouw sama tahu betapa keji kungfu Thian can kau kita dan tiada bandingannya di dunia ini, tapi semua orang juga tahu peraturan Kau kita yang tegas membedakan antara budi dan benci, apa bila ada orang berani melanggar kedaulatan Kau kita, apapun juga akibatnya akan kita lawan dan kita binasakan. Tapi setiap anak murid Thian can kau tidak boleh sembarangan membunuh orang yang tak berdosa, dengan perbuatanmu ini bukankah kau telah sengaja merusak nama baik Kau kita?”

Berulang Siang Ji-long menyembah lagi hingga jidatnya lecet dan berdarah, ia memohon, “Tecu menyadari dosanya, mohon Kaucu memberi ampun.”

Rasa gusar Thian can kaucu tampak berkurang, katanya dengan tegas, “Mengingat kau pernah dihukum terlalu berat, maka ku perlakukan kau dengan lebih baik dari pada yang lain, siapa tahu kau malah tambah mengganas dan berbuat tidak semena-mena, jika selanjutnya sifatmu ini bisa berubah akan untunglah kau, kalau tidak, mungkin mati pun kau takkan terkubur.”

Melihat Thian can kau cu ini, Pwe giok sendiri pun pangling, sebab orang sudah berganti rupa dari pada apa yang pernah dilihatnya dahulu, yaitu waktu kepergok di istana bawah tanah tinggalan Siau-hun-kongcu (ibu Cu-Lui-ji, bacalah dalam jilid 9 dan 10 Renjana Pendekar).

Ucapan dan tindakan si kakek tegas dan berwibawa sesuai seorang pemimpin besar suatu aliran tersendiri, sungguh tidak tersangka kakek jelek ini-lah orang tua yang dilihatnya di Siau-hun-kiong dahulu, padahal waktu itu si kakek berpakaian serba warna perak. Pantaslah kalau anak muridnya sendiri juga pangling.

Tertampak Siang Ji-long masih mendekam di atas tanah dan menyembah beberapa kali lagi, mendadak ia merobek bajunya sendiri. Maka tertampaklah badannya yang penuh bekas luka, hampir boleh dikatakan tiada satu bagian pun yang utuh, sungguh mengerikan bagi orang yang memandangnya. Pada pinggangnya terdapat ikat pinggang, di situ terselip tujuh bilah pisau perak.

Siang Ji-long melepaskan ikat pinggangnya dengan deretan pisaunya, lalu dibentangkan di depannya serta menyembah pula.

Bahwa Siang Ji-long yang tadi tidak kepalang garangnya kini telah berubah menjadi ahli menyembah, hal ini tidak saja membuat heran Pwe-giok dan lain, bahkan Thian can kaucu sendiri juga rada terkesiap, ia bertanya, “Apa yang kau lakukan ini?”

—–

Bagaimana nasib Ji-Pwe-giok dan lain-lain setelah terjatuh di tangan orang Thian can kau dan dapatkah Lui-ji sembuh dari racun kuku Oh-lolo?

Rahasia apa yang ditemukan Pwe-giok di sarang Thian can kau?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: