Kumpulan Cerita Silat

01/06/2010

Imbauan Pendekar – 01

Filed under: Imbauan Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 1:21 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Kris_jusup, Agusis, Bsarwono, M_haury dan Hiku)

Sang surya memancarkan cahayanya yang cerlang cemerlang, akan tetapi Li-toh-tin, kota kecil dengan hotel satu-satunya, Li-keh-can serta bangunan berloteng kecil di seberangnya telah berubah menjadi tumpukan puing.

Saat itu Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji bersembunyi di dalam tungku Li keh-can yang tidak terbakar dan asyik mengisahkan pengalaman masing-masing pada masa lampau.

Melalui lubang tungku yang biasanya digunakan untuk menambah kayu bakar itu dapatlah mereka melihat segala apa yang terjadi di luar.

Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah orang. Empat lelaki berbaju hitam tampak masuk ke Li keh-can yang sudah hancur ini.

Ke empat orang ini semuanya tegap dan kekar, langkahnya cepat, tapi kaki dan tangan kelihatan kasar dan besar, kulit badannya hitam, sekali pandang saja dapat diketahui mereka pasti sudah biasa bekerja kasar. Meski tubuh mereka kasar dan kuat, namun soal ilmu silat pasti tidak tinggi, bisa jadi belum lama mereka ikut berkecimpung di dunia Kangouw.

Untuk memimpin orang-orang semacam ini sudah tentu jauh lebih mudah daripada memerintah orang Kangouw kawakan.

Seorang yang berjalan paling depan membawa sebuah tombak, di belakangnya seorang membawa sejenis senjata garpu, dua orang lagi membawa golok dan perisai.

Begitu masuk ke hotel yang sudah berbentuk puing itu, mereka lantas membacok dan menabas kian kemari di sekeliling tumpukan puing itu, kelakuan mereka seperti ingin tahu kalau kalau di dalam tumpukan puing itu tersembunyi orang.

Lui-ji memandang Pwe-giok sekejap, meski tidak bersuara, namun dalam hati jelas si nona sangat memuji tindakan Pwe-giok yang teliti dan hati hati.

Apabila mereka bersembunyi di tempat lain, bukan mustahil saat ini sudah dipergoki orang.

Terdengar orang yang membawa tombak tadi tertawa dan berkata, “Tindakan Tongcu terasa agak berlebihan. Setelah pembakaran ini, mana ada orang yang bersembunyi di sini?”

Orang yang membawa garpu menanggapi dengan tertawa, “Apakah kau kira tindakan Tongcu ini adalah kehendaknya sendiri?”

“Bukan kehendaknya sendiri, memangnya kehendak siapa?” tanya orang yang membawa tombak.

Tiba-tiba orang yang membawa garpu itu mendesis, “Akan kuceritakan, tapi kalian tidak boleh bilang lagi kepada orang lain. Keluarnya Tongcu sekali ini konon hanya karena ingin membantu orang she Ji yang menjabat Bu-lim-bengcu itu.”

“Masa membakar juga atas kehendaknya?” ujar yang membawa tombak.

“Dengan sendirinya juga kehendaknya,” kata yang membawa garpu. “Kalau tidak untuk apa jauh-jauh Tongcu datang ke kota kecil ini untuk membakar?”

Baru sekarang Pwe-giok dan Lui-ji mengetahui ke empat orang ini bukan anak buah Ji Hong-ho. Bahwa orang lain yang disuruh membakar oleh Ji Hong-ho, maka selanjutnya tanggung jawab ini dapat dibebankan kepada orang itu.

Sambil bicara, beberapa orang itu lantas menuju keluar.

Lui-ji menghela napas gegetun, ucapnya dengan suara tertahan, “Ji Hong-ho benar-benar licik, berbuat apapun selalu mengatur jalan mundur dengan rapi, jika orang lain yang menanggung dosanya, tentu kedudukan Bu-lim-bengcunya takkan terganggu sedikitpun.”

“Ya, memang,” tukas Pwe-giok, “perbuatan apapun, baik membunuh atau membakar, dia selalu mendalangi di belakang layar, apabila terbongkar tentu juga orang lain yang menanggung dosanya.”

“Kalau untuk membunuh dia mencari Lo-cin-jin, lalu siapa yang dia cari untuk membakar?” kata Lui-ji. “Dan … siapa pula ’Tongcu’ yang disebut-sebut tadi?”

Pwe-giok berpikir, lalu berkata, “Mungkin pemilik ’Pi-lik-tong’ dari Kang-lam yang terkenal sebagai ahli dan pembuat mesiu yang tiada bandingnya di dunia ini, kalau bukan dia yang membakar, tidak mungkin api menjalar secepat ini.”

“Tahukah kau siapa pemilik Pi-lik-tong itu?” tanya Lui-ji.

“Lui Hong,” jawab Pwe-giok.

“Pi-lik-tong, Lui Hong … Pi-lik-tong, Lui Hong … ” Lui-ji berguman mengulangi nama itu hingga belasan kali seolah-olah kuatir akan lupa lagi.

“Akan kau tuntut balas padanya?” ucap Pwe-giok sambil berkerut kening.

“Meski dia bukan biang keladi dalam persoalan ini, tapi apapun juga dia yang turun tangan membakar rumahku,” kata Lui-ji dengan perlahan. “Apabila tidak kubalas bakar ludes rumahnya, kan kurang adil.”

Pwe-giok termenung sejenak, tanpa terasa ia menghela napas panjang.

Perangai anak dara ini ternyata sedemikian keras dan tinggi hati, bilamana orang berbuat salah padanya, maka akan terukir dalam lubuk hatinya. Usianya sekarang masih kecil, bila dia mengembara seorang diri, betapapun membuat orang kuatir.

Dalam pada itu, tiba-tiba di kejauhan sana ada seorang bergelak tertawa dan berseru, “Aha, Lui-cu-sin-hwe (api sakti mutiara geledek) dari Pi-lik-tong memang tidak bernama kosong, baru hari ini terbuka mataku, sungguh sangat mengagumkan…”.

Jelas itulah suara Lim Soh-koan, dia sengaja bicara dengan suara keras seperti orang berteriak, seakan-akan kuatir bilamana orang tidak tahu bahwa Lui Hong yang telah membakar Li-toh-tin ini.

Lalu seorang terbahak-bahak dan menanggapi. “Hanya setitik apa ini saja mungkin sudah meludeskan bahan berlaksa tahil perak kami”

Suara tertawa ini penuh rasa bangga dan senang, jelas dia inilah Lui Hong, pemilik pabrik mesiu Pi-lik-tong di Kang-lam yang terkenal.

Lui-ji mendengus, omelnya, “Orang she Lui ini ternyata maha tolol, orang lain memperalat dan menonjolkan dia kepada musuh, tapi dia malah merasa bangga.”

“Sssst,” desis Pwe-giok, “mata-telinga orang-orang itu sangat tajam, hendaklah jangan bersuara”

Sementara itu kelihatan beberapa orang sedang melangkah ke sini sambil bersenda-gurau.

Terlihat Ji Hong-ho berjalan di depan bersama seorang tua yang gagah berjubah merah tua. Lim Soh-koan dan beberapa orang lagi mengintil di belakang.

Kakek berjubah merah ini melangkah dengan lagak tuan besar, seolah-olah dia yang paling jempolan di dunia ini.

Hendaklah diketahui bahwa Pi-lik-tong sangat terkenal di dunia persilatan, bukan saja senjata rahasianya yang berwujud mesiu sangat ditakuti, bahkan juga berusaha menjual bahan peledak dan sebagainya sehingga mengeduk keuntungan yang tidak sedikit, kekayaan keluarga Lui yang memiliki pabrik mesiu itu sudah sukar dihitung. Sebab itulah Lui Hong yang sudah biasa hidup senang dan dihormati itu merasa dirinya sebagai seorang tokoh jempolan.

Ke empat orang berseragam hitam yang masuk ke Li-keh-can tadi kini berdiri di tepi jalan dan menyambut kedatangan sang majikan dengan hormat.

“Diketemukan orang atau tidak?” tanya Lui Hong sambil mengerling anak buahnya.

“Kecuali perempuan tadi tidak diketemukan orang lain lagi” jawab orang yang memegang tombak tadi.

“Bagus, mundur saja kalian” kata Lui Hong.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas menyesal, perempuan yang dimaksudkan mereka itu tidak perlu disangsikan lagi pasti Gin-hoa-nio adanya. Meski sejak semula ia sudah tahu Gin-hoa-nio tentu sukar meloloskan diri, kini setelah terbukti benar, hatinya tetap merasa tidak enak dan rada menyesal. Betapapun juga kedatangan Gin-hoa-nio ini kan bersama dengan dirinya?

Dilihatnya ke empat lelaki berseragam hitam tadi masih berdiri dengan kepala tertunduk di tepi jalan, sedangkan rombongan Lui-hong sudah lalu ke sana.

Lim-Soh-koan yang membuntuti paling akhir mendadak tersenyum dan berkata kepada ke empat orang itu, “kalian tentunya sama lelah” “Ah, biasa.” ucap salah seorang itu dengan hormat.

“Melihat cara kalian yang cekatan, tampaknya kalian tidak cuma sekali dua kali saja membereskan tempat kebakaran, makanya pengalaman kalian sedemikian banyak,” kata Lim-Soh-koan pula.

“Betul,” jawab orang tadi. “Pekerjaan ini bagi kami boleh dikatakan pekerjaan biasa, pekerjaan rutin.”

Mendadak Lim Soh-koan menarik muka, katanya dengan pelahan, “Perbuatan membakar dan membunuh begini kalian anggap pekerjaan rutin?”

Orang itu jadi melengak, baru air mukanya berubah, “Creng”, tahu-tahu Lim Soh-koan sudah lolos pedangnya dan secepat kilat menusuknya.

Leng-hoa-kiam andalan Lim Soh-koan terkenal cepat luar biasa, mana bisa ke empat orang itu berkelit, apalagi mimpi pun mereka tidak menyangka akan diserang oleh Lim soh-koan.

Maka terlihatlah sinar pedang berkelebat, “sret-sret-sret-sret” empat kali, susul menyusul terdengar, empat kali jeritan disertai berhamburnya darah. Ke empat orang itu sudah menggeletak tak bernyawa dan menjadi setan penasaran karena tidak tahu sebab apa mereka terbunuh.

Keruan Lui Hong terkejut, ia berpaling dan berteriak, “he, Lim Soh-koan. ap… apa yang kau lakukan?”

Lim soh-koan mengeluarkan sapu tangan putih dari bajunya dan pelahan mengusap darah yang mengotori pedangnya, lalu berkata dengan suara bengis, “Di hadapan Bengcu, orang-orang ini berani main bakar rumah rakyat yang tak berdosa, maka dapat dibayangkan betapa sewenang-wenangnya di hari-hari biasa. Kalau tidak dibinasakan mereka, apakah mereka harus dibiarkan membikin celaka rakyat jelata lebih banyak lagi?!”

“Apa… apa maksudmu ini?” teriak Lui Hong dengan gusar.

“Bengcu, coba… coba dengarkan apa ucapannya itu?”

Dengan tak acuh Ji Hong-ho menjawab, “Ucapannya memang betul, setiap pengganas yang suka main bunuh dan bakar pantas dibinasakan oleh siapa pun jua”

Lui Hong menyurut mundur dua tindak, serunya dengan wajah pucat, “Tapi… tapi engkau sendiri yang merencanakan pembakaran Li-toh-tiu ini, kau yang mengupahi Pi-lik-tong kami dengan lima laksa tahil perak dan menyuruh kami meledakkan tempat ini, mengapa… mengapa sekarang kau malah menuduh kami yang bersalah?’

Ji Hong-ho tampak berkerut kening dan mendamprat pelahan, “Huh, tindakan orang she Ji selamanya terang-terangan, mana bisa jauh-jauh mengundang kau ke sini untuk melakukan hal yang tak terpuji ini, Kau sembarangan menuduh orang, jangan menyesal kalau Bengcumu ini terpaksa bertindak untuk menumpas kejahatan bagi dunia Kangouw”

Air keringat tampak memenuhi kepala Lui Hong, teriaknya dengan suara parau, “Kau… kau… manusia munafik, bangsat yang berlagak kesatria, meng… mengapa kau sengaja menjebak diriku? kau… ”

Belum habis ucapannya, sinar pedang sudah bergulung menyambar tiba. Dengan suara bengis Lim-Soh-koan mendamprat, “Kau berani bicara kotor kepada Bengcu, melulu dosamu ini saja harus dihukum mati” hanya dua tiga kalimat ia bicara, tapi pedangnya sudah menyerang tujuh atau delapan kali.

Meski pinggang Lui Hong juga bergantung sebatang golok, namun kesempatan menghunus golok saja tidak ada, tahu-tahu pundaknya sudah terluka, sembari berkelit ia terus berteriak teriak, “Kalian semua yang hadir di sini apakah cuma menyaksikan aku dibinasakan secara begini? Dimana lagi letak keadilan dunia Kangouw?”

Namun orang-orang yang ikut datang bersama meraka itu semuanya berlagak memandang ke langit seolah-olah tidak melihat dan mendengar apapun.

Sementara itu jubah merah Lui Hong sudah terkoyak-koyak, sebuah kopiah emas pengikat rambut juga sudah terbatas putus, rambutnya semrawut seperti orang gila.

Meski nama Pi-lik-tong sangat terkenal, tapi bukan unggul dalam hal ilmu silat melainkan karena mesiunya. Dari orang tua Lui Hong menerima warisan yang sangat besar, sejak kecil ia sudah hidup senang, hampir tidak pernah berlatih silat dengan sungguh-sungguh, sebaliknya Lim Soh-koan adalah ahli pedang yang berpengalaman, hakekatnya tidak memberi kesempatan kepada Lui Hong untuk mencabut goloknya.

Setelah terserang belasan kali lagi, napas Lui Hong sudah megap-megap dan mandi keringat, mendadak ia tertawa latah dengan suara serak, teriaknya. “Bagus orang she Ji, kau hendak membunuhku untuk menghilangkan saksi, biarlah kusempurnakan niatmu ini !” – habis berkata, segera ia menubruk maju menyongsong ujung pedang li, Soh-koan.

Rupanya ia tidak tahan serangan lawan dan menjadi nekat, tanpa ampun lagi pedang menembus dadanya. Waktu Lim Soh-koan menarik pedangnya, seketika darah segar menyembur seperti air mancur.

Sambil mendekap dadanya Lui Hong lantas terhuyung huyung, matanya yang merah menyapu pandang sekejap semua orang, teriaknya pula dengan suara pedih, “Bagus, bagus akhirnya baru kukenal betul kalian yang sok mengaku pendekar berbudi ini!”

Sedemikian seram tertawanya hingga membuat orang merinding.

Tanpa terasa Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok dengan telapak tangan berkeringat dingin, sebaliknya tangan Pwe-giok juga dingin seperti es.

Dalam pada itu dari jauh tampak berlari datang dua orang, meski kedua orang ini pun memakai baju hitam ketat, namun air mukanya kaku dingin, sorot matanya lebih lebih dingin sehingga mirip orang yang memakai topeng. Tampaknya mereka bukan anak buah Pi-lik-tong melainkan begundal Ji Hong-ho sendiri, tampaknya mereka pun membawa semacam senjata, sesudah dekat baru diketahui masing-masing membawa sebuah cangkul.

Lim Soh-koan menyimpan kembali pedangnya, lalu berkata, “Beberapa mayat ini tidak perlu dikubur, bawa saja dan perlihatkan kepada segenap penduduk Li-toh tin, katakan Bengcu kita telah menjatuhkan hukuman setimpal kepada penjahat yang main bakar. Namun segala kerugian Li-toh-tin tetap akan diusut oleh Bengcu untuk mendapatkan ganti rugi sepenuhnya.”

Kedua orang tadi mengiakan sambil memberi hormat.

Tiba-tiba dari balik tumpukan puing sana ada orang berkeplok tertawa, “Ha ha, bagus, bagus, bagus sekali! kata ’usut’ ini sungguh istilah yang sangat indah!”

Berubah air muka Lim Soh-koan, sambil meraba pedangnya, ia membentak, “Siapa itu?’

“He he , Lim-tayhiap tidak perlu terkejut, aku tidak lebih hanya setengah potong nenek yang sudah hampir masuk liang kubur,” ucap orang itu dengan terkekeh kekeh. “Jika Lim-Tayhiap juga ingin membunuh diriku sekalian untuk melenyapkan saksi hidup, kukira mudah daripada memites mati seekor semut.”

Dari suaranya tahulah Pwe-giok dan Lui-ji bahwa pembicara itu ialah Oh-lolo.

Lui-ji menggertak gigi hingga gemerutuk, badan pun terasa gemetar.

Pwe-giok tahu anak dara ini membenci nenek keji itu sampai merasuk ke tulang, pelahan ia menepuk tangan Lui-ji agar anak dara ini bersabar.

Tangan yang kecil ini terasa dingin sekali, tanpa terasa timbul pula rasa kasihan Pwe-giok sehingga dipegangnya hingga lama.

Lui-ji lantas menunduk malah dan tidak memandangnya, entah mengapa tangan kecil yang dingin itu mendadak berubah menjadi panas membara.

Namun Pwe-giok tidak lagi memperhatikan perubahan ini, sebab waktu itu Oh lolo kelihatan muncul dengan langkahnya yang reyot, dari mulutnya terdengar suara “krat-krut” seperti lagi makan kacang goreng.

Sembari berjalan nenek itu pun berkeluh kesah, “Ai, semakin ompong seseorang semakin suka makan kacang. Sesuatu yang tak dapat dilakukan, semakin menarik pula untuk dikerjakan. Tampaknya setia orang memang mempunyai bakatnya sendiri-sendiri, betul tidak menurut kalian?”

Tadinya Lim Soh-koan bermaksud memburu maju, tapi demi melihat pendatang ini benar-benar seorang nenek yang sudah hampir masuk liang kubur, ia batal mendekatinya dan menantikan perkembangan selanjutnya dengan tenang.

Betapapun dia seorang Kangouw kawanan, ia tahu semakin aneh seseorang, semakin tidak boleh diremehkan dan direcoki, terutama sebangsa nenek-nenek dan kakek-kakek.

Air muka Ji Hong-ho tampak berubah juga, tapi sedapatnya ia tersenyum dan menyapa, “Cianpwe ini apakah…”

Belum selesai ia berucap, berulang Oh-lolo menggoyang tangannya dan berseru, “Wah, janganlah Ji-Tayhiap menyebut Cianpwe padaku, Nenek konyol macam diriku ini mana ada rejeki untuk menjadi Cianpwe seorang Bu0lim-bengcu. Sebutan Cianpwe barusan ini sedikitnya akan mengurangi umurku sepuluh tahun, bilamana kau panggil sekali lagi, bisa jadi nenek reyot ini akan menghadap Giam-lo-ong (Raja Akhirat).”

Meski bicaranya sangat pelahan, tapi ia seperti sengaja tidak memberi kesempatan bicara bagi orang lain. belum habis ucapannya tadi tatapannya sudah beralih lagi ke arah Lim Soh-koan, lalu menyambung, “Nama besar Leng-hoa-kiam Lim-tayhiap sudah lama kukagumi, tapi yang keketahui adalah ilmu pedang Lim-tayhiap maha cepat, sama sekali aku tidak tahu bahwa Lim-tayhiap juga seorang ahli bahasa. Istilah ’usut’ tadi sungguh sangat tepat dan sukar dicari dalam kamus.”

Sudah tentu Lim Soh-koan merasakan kata yang bernada menyindir itu, terpaksa ia hanya menyengir dan menjawab, “Tapi Cayhe tidak merasakan ada keistimewaan pada istilah itu.”

“Hanya istilah yang tepat saja baru kelihatan keindahannya meski istilah itu cuma satu kata yang biasa,” ucap Oh-lolo dengan tertawa. Dia tunjuk puing yang masih mengepul itu dengan menyambung pula, “Di situ tadinya adalah sebuah toko kelontong, meski tidak besar, tapi persediaan barangnya cukup banyak dan beraneka ragamnya, nilainya paling tidak ada beberapa ribu tahil perak, betul tidak?”

“Perkiraan Cianpwe tentunya tidak salah,” ujar Lim soh-koan dengan mengiring tawa.

“Dan toko yang serupa ini kukira ada belasan buah di Li-toh-tin ini, ada pula beberapa keluarga hartawan disekitar sini, maka kobaran api sedikitnya telah meludeskan beberapa puluh laksa tahil perak, betul tidak?”

“Taksiran Cianpwe tentunya benar,” kembali Lim Soh-koan mengiakan.

“Dan beberapa puluh laksa tahil perak yang ludes terbakar itu seharusnya adalah menjadi tanggung-jawab paduka tuan Bengcu kita untuk menggantinya, tapi anda tadi cuma menyatakan akan ’usut’ kejadian ini, maka tanggung-jawab memberi ganti rugi ini lantas kau bebankan kepada orang lain,” sampai di sini Oh-lolo tertawa terkekeh-kekeh pula.

“Lantas cara bagaimana akan kau usut? siapa yang harus diusut? Kukira tidak perlu ditanyakan lagi, dengan sendirinya adalah Pi-lik-tong di Kang-lam sana. Harta kekayaan Pi-lik-tong sudah tentu tidak cuma berpuluh laksa tahil perak saja, sepuluh kali lipat kukira juga lebih, setelah mengganti kerugian Li-toh-tin yang terbakar ini tentu masih tersisa sebagian besar. Dengan demikian paduka tuan Bengcu kita tidak saja sudah menjadi orang yang maha bijaksana dan berbudi luhur telah membela penduduk Li-toh-tin yang menjadi korban, beliau sendiri juga akan mendapat rejeki nomplok. Hehe, jual beli cara begini sungguh nenek reyot macam diriku ini pun ingin melakukannya.”

Air muka Lim Soh-koan dan lain-lain sudah sama berubah, tapi Ji Hong-ho masih tetap tak acuh, dengan tersenyum ia berkata, “Jika demikian, bolehlah kuserahkan jual-beli ini kepada Hujin (nyonya).”

“Hujin?” Oh-lolo menegas. “Hehe, mengapa kau sebut Hujin padaku? Padahal selama hidupku ini belum pernah kawin. tahu tidak bahwa sampai saat ini aku ini masih perawan tulen. Ya, apa boleh buat, sudah tua begini, ingin menjadi Hujin rasanya juga sudah tidak ada yang mau lagi.”

Ji Hong-ho tersenyum dan berkata pula, “Kalau begitu, ada keperluan apakah kedatangan nona? Katakan saja terus terang, tentu akan kupenuhi,”

“Nona? Hahahaa! Nona?!” Oh-lolo tertawa terpingkal-pingkal. “Sedikitnya sudah 50 tahun tidak ada yang memanggil nona padaku. Panggilanmu ini membuat seluruh ruas tulangku seolah-olah lepas semua. cukup dengan panggilanmu ini maka nenek tak tega lagi mencari perkara padamu, kau tidak perlu kuatir.”

Meski Ji Hong-ho masih tetap tersenyum, namun beberapa begundalnya sudah tidak tahan.

Seorang bernama “Bu-eng-cu” To hui, si tanpa bayangan, segera membentak dengan gusar, “Kalau Bengcu bersikap baik hati padamu, hendaklah kau pun jangan terlalu latah, biarpun benar kau mempunyai sejurus dua, kukira Bengcu dan Lim-tayhiap juga tidak pandang sebelah mata, hendaklah kau tahu diri sedikit.”

“Hehe, nenek reyot biasanya cukup tahu diri,” ujar Oh-lolo dengan tertawa, “Jangankan di sini masih berkumpul sekian banyak kesatria dan pahlawan besar, melulu seorang Bu-eng-cu To Hui saja sudah lebih dari cukup untuk membereskan nenek reyot macam diriku ini.”

To Hui hanya mendengus saja.

Oh-lolo menghela napas, katanya pula, “Cuma nenek reyot mungkin sudah bosan hidup, makanya berani datang ke sini. Ku harap To-toaya sekalian sempurnakan harapanku saja, berikan sekali bacok padaku.”

Tanpa terasa To Hui memandang sekejap ke arah Ji hong-ho, seperti ingin tanya apakah sang Bengcu tahu asal-usul nenek ini. Tapi wajah Ji hong-ho tidak memperlihatkan sesuatu perasaan pun mulut juga membungkam tanpa komentar.

dalam pada itu si nenek terus berjongkok malah sibuk makan kacangnya, tampaknya tiada sesuatu yang ditakutinya, seperti juga memang sudah bosan hidup dan menunggu orang membunuhnya.

To hui berdehem dua kali, lalu tertawa dan berkata, “Jika kau kenal namaku, tentunya kau tahu orang she to takkan sembarang menyerang kau. Bila ku bunuh seorang nenek macam kau ini, kalau tersiar, bukankah akan ditertawakan oleh kawan dunia Kangouw?”

Oh-lolo terkekeh-kekeh, katanya, “Hehe, tadinya kukira To-toaya ini seorang tokoh yang gilang-gemilang, siapa tahu kau tidak lebih hanya seekor beruang yang main gertak saja. Jika seorang nenek saja tidak berani kau hadapi, bila kelak tersiar, tidakkah kau akan lebih-lebih ditertawakan?”

Lim Soh-koan dan si berewok she Hiang saling pandang sekejap dan sama tersenyum. Senyuman mereka inilah yang membikin panas hati To Hui.

Ia menjadi murka sekalipun tahu si nenek pasti bukan orang yang mudah direcoki, biarpun diketahuinya orang lain ingin menggunakan dia sebagai batu penguji untuk menjajal kemampuan si nenek.

Tapi ia tidak tahan lagi, mendadak ia meraung terus menerjang si nenek, bentaknya, “Kau sendiri yang cari mampus, jangan kau sesalkan orang she To!”

Kalau dia berjuluk “Bu-eng-cu” atau si tanpa bayangan, maka Ginkangnya pasti tidak rendah.

Di tengah berkelebatnya bayangan, serentak golok juga sudah di cabutnya, baru lenyap suaranya, tahu-tahu ia pun sudah berada di depan Oh-lolo, kegesitannya memang cocok dengan julukannya sebagai “si tanpa bayang”.

Orang hanya sempat melihat sinar golok berkilat dan membacok Oh-lolo, tidak juga kelihatan si nenek berdiri, bahkan tidak nampak dia melakukan sesuatu gerakan. Tapi mendadak suara raungan To Hui berhenti ditengah jalan, sambil berjumpalitan di udara To Hui lantas melompat mundur dengan tangan mencengkeram leher sendiri dan mat melotot besar seperti mata ikan mas. Dada juga naik-turun, napasnya seperti mau putus.

Tiada seorangpun yang tahu mengapa mendadak To hui bisa berubah menjadi demikian, semua orang saling pandang dengan bingung dan terkejut.

Waktu memandang Oh-lolo, nenek itu masih tetap berjongkok di tempatnya dan asyik makan kacang, sambil menggeleng kepala ia berkata, “Ai, dasar anak rakus, hanya kuberi persen satu biji kacang goreng, lalu dia tidak sampai hati membunuhku. Agaknya kacang goreng si nenek sangat enak sekali rasanya.”

Baru sekarang semua orang tahu bahwa pada saat To hui meraung tadi, si nenek telah menjentik satu biji kacang ke mulutnya. Sampai-sampai tokoh semacam Lim soh-koan juga tidak melihat cara bagaimana Oh-lolo mengerjai To Hui.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Sungguh luar biasa, cara menyambitkan senjata rahasia begini mungkin Tong Bu-siang pun akan mengaku tidak sanggup.”

Berpikir demikian baru sekarang dia ingat kepada Tong Bu-siang gadungan yang ternyata tidak ikut serta dalam rombongan Ji Hong-ho ini. Apa yang terjadi selama dua hari ini sungguh terlalu banyak sehingga membuatnya hampir lupa segalanya. Padahal Tong Bu-siang gadungan itu satu-satunya petunjuk baginya untuk menyelidiki seluk beluk muslihat keji komplotan jahat yang menghancurkan keluarganya itu. Lantaran ikut campur urusan orang lain sehingga melupakan urusan penting pribadi.

Lui-ji merasa kedua tangan Pwe-giok mendadak berubah lebih dingin, mukanya juga penuh keringat yang menghiasi dahinya.

Tapi Pwe-giok masih menatap ke depan sana, seperti tidak merasakan apa yang dilakukan anak dara itu.

Dalam pada itu butiran keringat yang memenuhi jidat To hui jauh lebih banyak daripada keringat yang diusap Lui-ji tadi. Sekarang golok pun sudah dibuangnya, kedua tangan mencekik leher sendiri dan berteriak dengan suara parau, “Kacang … ka …”

“Ai, apakah barang kali kacangku telah membikin To-tayhiap keselak?” tanya Oh-lolo dengan tertawa. “Kenapa tidak To-tayhiap tumpahkan keluar?”

Tapi mendadak To Hui meraung murka, seperti orang gregetan, tangannya dimasukan ke dalam mulut, tampaknya seperti hendak mengorek keluar kacang yang menyangkut di kerongkongannya, tentu saja ia terbatuk-batuk dan muka pun merah padam seperti orang yang tak dapat bernapas.

Maklum, tangannya terlalu besar, meski ia mengorek sebisanya, tetap sukar mengeluarkan biji kacang yang sudah tertelan itu, suara batuknya makin kerap dan tambah keras, air muka dari merah berubah menjadi biru, air matanya dan ingus juga bercucuran. sekonyong-konyong tubuhnya mengejang, habis itu mendadak ia meraung keras-keras.

“Krek-krek, berbareng dengan suara gemertak di mulutnya ini, ia terus roboh terlentang. Darah segar muncrat dari mulutnya, kedua tangannya bergerak-gerak seperti orang gila, darah lantas terpercik dari jarinya seperti hujan gerimis.

Ternyata tangan kanannya tersisa dua buah jari saja, rupanya ketiga jari yang digunakan mengorek kerongkongan tadi telah dikertaknya hingga putus.

Si berewok she Hiang bermaksud membangunkan rekannya itu, tapi baru dua tindak ia malah terus menyurut mundur lagi tiga tindak, sebab mendadak ia teringat sesuatu, tanyanya kepada Lim Soh-koan, “Apakah … apakah kacang itu beracun?…”

Lim Soh-koan hanya mengangguk saja tanpa menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara krak-kruk orang yang mengunyah sesuatu, rupanya To Hui sedang mengganyang jarinya sendiri. Mungkin saking tersiksanya sehingga dia tidak sanggup bertahan lagi.

Melihat racun si nenek sedemikian keji dan lihay, semua orang sama berkeringat dingin dan tiada satu pun berani bicara.

Dengan adem-ayem Oh-lolo lantas berkata dengan tertawa, “Wah, kacang goreng dimakan bersama jari, rasanya pasti lain daripada yang lain. Bagus juga caramu makan enak ini, selama hidup nenek justeru tidak pernah makan cara begini.”

Melihat muka To Hui penuh berlumuran darah, mendengar pula suaranya mengganyang jari sendiri, tentu saja semua orang merasa mual, kini Oh-lolo menambahi lagi kata-kata demikian, si berewok Hiang yang tidak tahan, mendadak ia berlari ke pinggir dana dan tumpah-tumpah.

Waktu dia berpaling kembali, tangan To hui sudah tidak bisa bergerak lagi, suara mengunyah juga tidak terdengar, yang masih terdengar hanya suara napasnya yang lemah.

Sejenak kemudian, suara napas itupun lenyap, darah yang mengalir dari ujung mulut dan dari jari putus to Hui telah berubah juga menjadi warna hitam seperti tinta.

Oh-lolo menghela napas, gumamnya “Tak tersangka seorang jago ternama seperti Bu-eng-cu To Hui juga tidak tahan keselak satu biji kacang goreng!”

Tiba-tiba Ji Hong-ho menghela napas panjang dan berucap, “Kiranya Oh-lolo yang tiba!”

Mendengar nama “Oh-lolo” disebut, seketika semua orang berteriak kaget.

Sebaliknya Oh-lolo sendiri lantas terkekeh-kekeh, katanya, “Dari ucapanmu ini, agaknya baru sekarang kau kenal aku ini Oh-lolo?”

“Hendaknya Lolo sudi memaafkan bilamana kami punya mata tapi tak bisa melihat,” ucap Ji Hong-ho.

Oh-lolo menatapnya lekat-lekat, seperti baru pertama kali melihatnya. Wajahnya yang penuh keriput tapi bersifat licin itu pun menampilkan rasa kejut dan heran.

Meski Ji hong-ho masih tetap tersenyum, tapi jelas juga merasa tidak tenteram karena dipandang setajam itu oleh si nenek, siapa pun akan merasa tidak enak dipandang oleh mata yang licik dan licin seperti mata rase tua itu.

Akhirnya Oh-lolo menghela napas, katanya sambil menggeleng, “Sungguh kau seorang yang hebat, sampai si nenek juga tidak dapat memahami dirimu. Jika tadi kau pinjam tanganku untuk membunuh To hui, sekarang To hui sudah mati, kenapa kau masih berlagak tidak kenal padaku?”

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Cayhe memang ……”

“Kau kan kenal diriku,” jengek Oh-lolo. “Sudah 20 tahun lamanya kau kenal nenek ini. Setiap orang yang berjumpa satu kali saja dengan ku, selama hidup pula takkan kulupakan. Apalagi antara kau dan aku kan juga ada sedikit hubungan, masakah kau lupa.”

Senyuman yang selalu menghiasi wajah Ji Hong-ho itu seketika beku, perubahan ini mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain, tapi tidak terlepas dari pengamatan Ji Pwe-giok.

Lui-ji merasakan tangan Pwe-giok sedingin es, tapi mendadak berubah panas membara, bahkan dapat dirasakannya denyut jantung dan gemetar tubuhnya.

Dalam pada itu terdengar Oh-lolo lagi berkata, “Jelas kau kenal padaku, mengapa berlagak tidak kenal?”

Hampir saja berteriak, “Dia tidak berlagak, tapi dia memang tidak kenal padamu, sebab dia bukan Ji Hong-ho yang kau temui 20 tahun yang lalu itu, dia ini Ji Hong-ho gadungan.”

Terpaksa Pwe-giok menggertak gigi sekuatnya sehingga tidak sampai bersuara. Otot daging mukanya sampai berkerut-kerut saking menahan derita perasaannya.

Melihat wajah yang demikian ini, Lui-ji ikut merinding, tak tersangka olehnya wajah Pwe-giok dapat berubah sedemikian menakutkan.

Mendadak terdengar Ji Hong-ho bergelak tertawa, serunya. “Kejadian 20 tahun yang lalau sudah lama kulupakan, untuk apa Lolo mengingatnya?”

“Tapi urusan demikian selamanya takkan kulupakan,” jengek Oh-lolo.

Ji Hong-ho bermaksud menutupi kecanggungannya dengan suara tertawanya, tapi demi mendengar ucapan si nenek yang terakhir ini, seketika suara tertawanya berubah lebih kasar daripada suara kayu digergaji. Tanyanya kemudian dengan suara serak “Jadi kedatanganmu ini bermaksud menuntut balas?”

Gemerdep sinar mata Oh-lolo, dipandangnya sejenak pula, lalu menjawab dengan perlahan, “Betul, tentunya kau tahu cara bagaimana si nenek akan menuntut balas. Barang siapa pernah bersalah padaku, si nenek pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda, kalau ditambah lagi dengan rente selama 20 tahun, maka … hahaha …”

Dia jejalkan dua biji kacang ke dalam mulut dan dikunyahnya dengan bernapsu seakan-akan kacang goreng itu adalah Ji hong-ho yang sedang diganyang.

Tiba-tiba Lim Soh-koan berteriak, “Sekalipun Cianpwe adalah orang kosen dunia persilatan, tapi hendaklah jangan kau lupa akan kedudukan Ji-tayhiap sekarang!”

“Kedudukan apa?” tanya Oh-lolo dengan mendelik.

“Jika Cianpwe melakukan sesuatu tindakan terhadap Bengcu, maka sama halnya Cianpwe memusuhi segenap orang Bu-lim,” ucap Lim Soh-koan dengan bengis.

Oh-lolo tetap tertawa, katanya, “Apakah seluruh orang Bu-lim berada di sini? Eh, kenapa tidak kulihat. Yang terlihat oleh nenek hanya kalian berlima, kalau cuma kalian berlima saja rasanya nenek masih sanggup melayani.”

Lim Soh-koan menggenggam pedangnya erat-erat, butiran keringat sudah merembes di jidatnya. Si berewok Hiang berdehem sambil menyurut mundur dua tindak, lalu berkata, “Jika Cianpwe ada permusuhan lama dengan Bengcu, sudah tentu Cayhe takkan ikut campur.”

“Nah, tinggal empat orang sekarang,” ucap Oh-lolo dengan tenang.

Seorang di sebelah si berewok Hiang berwajah kuning, ia pun berdehem dan berkata, “Orang she Song biasanya tidak suka ikut campur urusan orang lain, apalagi urusan para Bu-lim-cianpwe. cayhe lebih-lebih tidak berani ikut campur.”

“Nah, tinggal tiga,” tukas Oh-lolo pula.

Seorang lagi berbadan jangkung, segera ia pun berseru, “Selamanya Cayhe maju atau mundur bersama Song-heng, apa yang menjadi pikiran Song-heng juga menjadi pikiranku.”

“Bagus, tinggal dua,” kata Oh-lolo dengan tertawa. “Wah, tampaknya sahabat orang she Ji rata-rata memang kaum pendekar sejati, kalau mereka memang kaum pendekar sejati, kalau mereka bukan orang semacam ini, tentunya kau takkan mencari mereka, betul tidak ?”

“Creng”, Lin Soh-koan meloloskan pedangnya, tapi baru saja terlolos separuh, mendadak Ji Hong-ho memegang tangannya.

Lim Soh-koan terkesiap, tanyanya dengan suara tertahan, “Apakah Bengcu ingin menunggu dia turun tangan lebih dulu?”

Ji Hong-ho tersenyum hambar, ucapnya, “Dia takkan turun tangan, jika dia bermaksud bertindak sesuatu, tentu dia takkan bicara seperti ini.”

Lim Soh-koan merasa sangsi, tapi Oh-lolo sudah lantas berkeplok tertawa, katanya, “Betul juga, tampaknya orang yang bisa menduduki singgasana Bengcu memang lain daripada yang lain.

Apa yang kukatakan ini hanya sebagai pemberitahuan saja bahwa sekarang kalian sudah berada dalam genggamanku, makanya kalau nenek bertanya hendaklah kalian menjawab sejujur-jujurnya.”

“Apa yang hendak kau tanyakan” kata Ji hong-ho.

Oh-lolo menuding si berewok bertiga, lalu berkata, “Meski nama ketiga orang ini cukup terkenal di dunia Kangouw, tapi kalau dijumlahkan rasanya tidak laku satu tahil perak. Tapi sekarang kau sengaja membohongi Ang-lian-hoa dan lain-lain sehingga mereka telah pergi dari sini, sebaliknya kau malah membawa orang-orang ini ke sini, sesungguhnya apa maksud tujuanmu di balik semua perbuatanmu ini ?”

Ji hong-ho berdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Apa yang hendak kulakukan masakah Lolo tidak tahu?”

“Mungkin ku tahu, tapi juga mungkin tidak tahu,” uajr Oh-lolo. “Pendek kata ingin kudengar dari mulutmu sendiri, dengan begitu barulah hati nenek bisa tenteram.”

Ji Hong-ho berpikir sejenak, katanya kemudian, “Tujuanku adalah ingin mencari sesuatu barang di sini, nilai barang ini tidak dapat ditaksir oleh siapa pun, tapi nenek sendiri tentunya sudah tahu.”

Mencorong sinar mata Oh-lolo, ucapnya, “Dan kalau barang itu ditemukan, apakah nenek juga akan mendapat bagian?”

Hong-ho tersenyum, jawabnya , “Setiap orang yang gadir disini akan mendapatkan bagiannya.”

Serentak Oh-lolo melompat bangun, ia melemparkan sebuah cangkul kepada si Hiang berewok dan berseru, “Jika demikian, kalian menunggu apa lagi?”

—— ——

Pondasi bangunan berloteng kecil itu ternyata sangat kuat, ketika dicangkul, rasanya seperti mencangkul papan besi saja, selain menerbitkan suara nyaring memekakkan telinga, bahkan memercikkan lelatu api.

Lelaki jangkung tadi berpakaian yang terbuat dari bahan sutera, baju yang mentereng itu sekarang sudah basah kuyup oleh air keringat,. Sembari ayun cangkulnya ia menggerundel, “Cong-piauthau dari Tin-wan-piaukiok, Thi-kim-kong Han Tay-goan dan tuan muda dari Ban-bok-ceng Song In-seng, kini telah menjadi kuli penggali tanah, coba, apakah tidak runyam?”

Kawannya yang bernama Song Ing-seng yang berwajah kuning itu menyengir, katanya, “Ini kan kita lakukan dengan sukarela, bukan?”

“Betul”, kata si jangkung, Han Tay-goan, “kita memang sukarela, demi mendapatkan barang itu, jangankan cuma menggali tanah, sekalipun aku disuruh menguras kakus juga tidak menjadi soal. Yang kukuatirkan hanya kalau nanti barang ini sudah ditemukan, lalu mereka akan melupakan kita.”

Sembari bicara ia pun melirik ke sana, dilihatnya Ji Hong-ho, Oh-lolo dan Lim Soh-koan berdiri cukup jauh, maka beranilah dia bicara tanpa takut.

Song Ing-seng menjawab, “Jika mereka tidak mau memberi bagian pada kita, untuk apa pula kita didatangkan ke sini?”

“Justeru ku kuatir kita hanya akan dijadikan kuli belaka,” ujar Han Tay-goan.

Sambil mengusap keringat song Ing-seng berkata, “Kuyakin Ji Hong-ho bukan manusia demikian.”

“Hm, semula akupun percaya dia bukan orang demikian, tapi sekarang …” Han Tay-goan mendengus, “coba kau lihat nasib Lui Hong atau tidak? Bisa jadi nasib kita nanti juga tidak berbeda banyak dengan mereka.”

Mendadak ia berpaling ke sana dan bertanya kepada si Hiang berewok, “He. hiang-lotoa, kau dengar percakapan kami tidak?”

Cambang Hiang berewok juga penuh butiran keringat, dengan suara parau ia menjawab, “Biarpun dengar lantas mau apa? Memangnya sekarang kita dapat berhenti?”

Tiba-tiba terdengar Lim soh-koan berteriak kepada mereka. “Apakah kalian menemukan sesuatu?”

“Tidak, tidak menemukan apa-apa,” jawab si berewok Hiang.

Oh-lolo lantas menjengek, “Hm, hendaklah kalian kerja segiatnya, kalau tidak menemukan apa-apa tentu kalian yang akan menerima akibatnya.”

“Tapi … tapi kalau barang itu tidak berada di sini?” tanya si berewok.

“Kalau barang itu tidak berada di situ, kalian lantas ku pendam hidup-hidup,” kata Oh-lolo.

Dalam pada itu Lui-ji tidak tahan lagi, ia membisiki Pwe-giok “sekarang mereka tentu tak mendengar suara kita.”

Pwe-giok mengangguk.

“Sesungguhnya barang apa yang ditanam ibu di situ? Setahuku, kedatangan ibu di sini bertekad akan menjadi nyonya yang baik, ingin hidup bahagia berumah tangga, maka barang perhiasan sedikit pun tidak dibawanya ke sini.”

“Yang hendak mereka cari sekarang pasti bukan barang sebangsa perhiasan,” ujar Pwe-giok.

“Masa?” tanya Lui-ji

“Tapi batu permata yang kau keluarkan itu kan tidak disimpan kembali, setiap orang yang naik ke loteng sana tentu juga melihatnya,” kata Pwe-giok.

“Ya, tapi kan terbungkus rapat dengan kain?”

“Biarpun terbungkus rapat, orang yang berpengalaman seperti mereka itu tentu dapat melihat apa yang terbungkus di dalamnya. apalagi dalam kegelapan, cahaya batu permata tetap dapat tembus keluar. Sebab itulah, bilamana yang mereka kehendaki adalah batu permata, tentu bungkusan benda berharga itu takkan dibiarkan ikut terbakar.”

“Habis apa yang mereka cari?” ucap Lui-ji sambil berkerut kening.

Pwe-giok tidak menjawabnya, sebab ia sendiri pun tidak tahu.

Sementara itu lubang galian si Hiang berewok sudah cukup dalam, pondasi loteng kecil itu sudah berubah menjadi sebuah kubangan beberapa meter persegi.

Ketiga orang itu berada di dalam kubangan, dipandang dari tempat persembunyian Pwe-giok kepalanya saja tidak kelihatan, hanya terkadang terlihat ada sepotong dua potong batu atau kayu dilempar ke atas.

Kini Oh-lolo, Ji hong-ho dan Lim Soh-koan juga sudah berdiri di tepi kubangan itu, mereka kelihatan mulai gelisah. Akhirnya suara galian itu berubah menjadi lunak, tiada batu kerikil lagi yang terlempar ke atas. Nyata batu koral yang digunakan sebagai pondasi pun sudah tergali keluar semua dan telah menembus ke bagian yang cuma tanah liat melulu.

Sejenak kemudian, Lim Soh-koan berkata, “Mungkin Siau-hun-kiongcu tidak menyembunyikan barang itu di sini, bisa jadi memang tidak dibawanya kemari.”

“Dibawanya kemari, bahkan disembunyikan di sini,” ucap Oh-lolo.

“Darimana Cianpwe tahu?” tanya Soh-koan.

“Sudah tentu ku tahu, bilamana kau mau menggunakan otakmu tentu juga kau akan tahu,” jawab Oh-lolo dengan dingin.

“Ya, tentunya Tonghong Bi-giok mengetahui dengan pasti bahwa barang itu disembunyikan di sini, makanya dia tidak mau pergi,” kata Ji Hong-ho. “Dengan sendirinya pula Tonghong-sengcu menggunakan barang itu sebagai syarat pertukaran, makanya Li-thian-ong dan lain-lain mau diundang ke sini.”

Lim Soh-koan menggigit bibir, ucapnya, “Tapi kalau Siau-hun-kiongcu sudah memiliki barang ini, mengapa dia tidak memanfaatkannya, sebaliknya malah dipendam di bawah tanah?”

“Hal ini disebabkan dia sudah bertekad akan menjadi seorang nyonya rumah tangga yang baik, tapi ia pun tidak ingin barang itu jatuh ditangan orang lain, maka…” sampai di sini Oh-lolo mendengus lalu menyambung, “itulah akibatnya kalau seorang perempuan sudah jatuh cinta, seringkali dia dapat bertindak sesuatu yang aneh dan lucu.”

Pada sat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara ringkik kuda disusul dengan suara menggelindingnya roda kereta.

Oh-lolo, Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan sama kaget dan cepat berpaling.

Pada kesempatan itulah Lui-ji lantas membisiki Pwe-giok pula, “Tahulah aku barang apa yang hendak mereka cari!”

“Oo?” Pwe-giok merasa heran.

“Yang ingin mereka temukan pastilah sejilid kitab pusaka ilmu silat yang sangat hebat.” bisik Lui-ji. “Entah darimana ibu mendapatkan kitab pusaka itu, tapi sebelum beliau sempat berlatih sudah keburu bertemu dengan Tonghong Bi-giok, oleh karena ibu bertekad akan hidup berumah tangga dengan baik, maka segala macam ilmu silat sudah tidak ada gunanya lagi baginya. Sebab itulah ibu lantas menyembunyikan kitab pusaka itu. Celakanya, apa yang dilakukan ibu itu justeru diketahui oleh Tonghong Bi-giok.”

Sembari mendengarkan, berulang Pwe-giok mengangguk, sebab penuturan anak dara itu memang sangat masuk di akal, betapapun Pwe-giok tidak menemukan jawaban lain yang melebihi cerita Lui-ji itu.

Ketika Lui-ji selesai bercerita, tertampak sebuah kereta kuda telah menerobos ke tengah kota yang sudah berwujud puing itu.

Daripada dikatakan sebuah kereta, akan lebih tepat kalau dikatakan sebuah rumah yang dapat bergerak. Sebuah rumah yang dipasangi roda kereta dan ditarik oleh enam belas ekor kuda.

Jika tetap dikatakan sebuah kereta kuda, maka di dunia ini mungkin tidak ada kereta kuda yang lebih besar daripada kereta ini. Mungkin ruang kereta ini cukup untuk memuat ratusan penumpang.

Ji Hong-ho mengernyitkan kening, tanyanya kepada Lim Soh-koan, “Apakah sudah kau pasang penjaga di sekitar sini?”

“Sudah,” jawab Soh-koan.

“Jika begitu, apakah mereka semuanya tertidur, masa kereta ini dibiarkan menerobos ke sini, seumpama mereka tidak merintanginya, paling tidak kan mesti memberi tanda bahaya,” kata Ji Hong-ho pula.

Dalam pada itu kereta tadi sudah berhenti di kejauhan, mereka mengira percakapan mereka pasti tidak didengar oleh lawan.

Tak terduga, baru habis ucapan Ji Hong-ho, mendadak di dalam kereta itu ada orang menanggapi dengan tertawa, “Hal ini pun tak dapat kau salahkan mereka, sebab mereka memang sudah siap hendak melepaskan panah api, tapi sayang sebelum sempat berbuat begitu kepala mereka sudah terpenggal lebih dulu,” orang itu tertawa terkikik-kikik, lalu menyambung, “Tentunya dapat kau bayangkan seorang kalau sudah kehilangan kepala, lalu apa lagi yang dapat dibuatnya?”

Kata-kata ini sebenarnya berlebihan, tapi orang itu justeru menganggap sebagai lelucon yang paling lucu dan tertawa terkial-kial, seakan-akan di dunia ini tiada lelucon lain yang lebih lucu.

Begitulah sembari bicara sambil tertawa, suaranya kecil, tertawanya juga renyah, kedengarannya seperti suara anak perempuan yang belum akil balik, yang suka merasa geli terhadap kebanyakan kejadian di dunia ini, misalnya orang kentut saja dapat membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Orang semacam ini kebanyakan bersifat periang, ramah tamah, bila dapat bertemu dengan orang seperti ini kebanyakan orang akan merasa senang. Akan tetapi, sekarang Oh-lolo justeru tidak merasa senang sedikit pun.

Begitu mendengar suara tertawa orang, segera nenek ini seperti mau mengeluyur pergi, tapi ketika ia memandang kubangan sana, tampaknya merasa berat pula untuk pergi.

Selagi ragu-ragu, mendadak pintu kereta raksasa itu terbuka, belasan lelaki kekar dengan setengah badan telanjang, hanya memakai celana satin merah, menggotong keluar sebuah ranjang besar.

Ukuran ranjang ini pun sangat mengejutkan, di atas ranjang penuh tertimbun beraneka macam barang, ada ayam dan babi panggang yang lezat, ada buah-buahan yang warnanya segar, ada manisan dan nyamikan, ada pula berbagai minuman botol dan kaleng, pokoknya makanan dan minuman enak apapun yang kau bayangkan pasti terdapat di tempat tidur itu.

Dan di tengah-tengah barang makanan dan minuman itulah berduduk seorang dengan setengah berbaring.

Melihat orang ini, sampai Ji Hong-ho juga hampir saja tertawa geli.

Sebab yang berbaring itu daripada dikatakan sebagai manusia, akan lebih tepat kalau dikatakan cuma seonggok daging. Onggokan daging yang ditumpuk dengan beberapa ratus kati daging gemuk pilihan.

Badannya hampir tidak memakai kain apapun, ini pun tak dapat menyalahkan dia. Bayangkan saja, kalau perutnya yang gendut itu sudah melambai sampai dengkul, cara bagaimana pula dia akan memakai celana? Kalau dua orang menyunggih perutnya dengan kepala, bisa jadi sekadarnya dapat memberinya pakai sebuah cawat.

Waktu itu si Hiang berewok, Song Ing-seng dan Hay Tay-goan baru saja melompat naik dari dalam kubangan, ketika mendadak melihat makhluk seaneh itu, mereka terkejut dan juga geli.

Tapi orang gendut itu sudah mendahului tertawa terkikik-kikik, katanya, “Orang suka bilang An Lok-san (seorang panglima perang di jaman dinasti Tong) gemuk seperti babi, tapi menurut keyakinanku, dua orang An-Lok-san juga tidak segemuk diriku. Di dunia ini kalau ada lomba orang gemuk, aku pasti akan ikut dan aku pasti akan keluar sebagai juara. Betul tidak?”

Makhluk raksasa begini suara bicaranya ternyata lirih rendah seperti anak perempuan kecil, maka si Hiang berewok dan lain-lain tidak tahan lagi, mereka sama tertawa geli.

Si gendut juga ikut tertawa, bahkan terlebih riang daripada siapa pun juga, sampai-sampai wajah Lim Soh-koan yang tadinya tampak tegang juga mengendor.

Di antara mereka hanya seorang saja yang sama sekali tidak menampilkan senyuman setitik pun, orang itu ialah Oh-lolo. Dia berdiri kaku seperti patung.

Pada saat itulah si gendut telah memandangnya, ucapnya dengan tertawa terkikik-kikik, “He, orang lain sama tertawa, mengapa kau malah tidak tertawa-tawa? Melihat orang gendut semacam diriku, masa kau tidak merasa geli?”

Muka Oh-lolo yang penuh keriput itu terpaksa menampilkan secercah senyuman, sudah tentu senyuman yang lebih tepat dikatakan menyengir.

Hal ini membuat si nenek tambah tua, mestinya dia kelihatan berusia 80-an tahun, kini tampaknya sudah 160 tahun. Dengan menyengir ia berusaha mengumpak, “Gendut? Mana ada orang gendut? kenapa nenek tidak melihatnya?”

“Kan jelas aku berada di depanmu, masa tidak kau lihat? kata si gendut.

“Ah, Cianpwe cuma bertubuh sangat kekar mana bisa dihitung gendut? ujar Oh-lolo sambil menyengir.

Mendadak si gendut menarik muka, katanya dengan gusar, “Kau kira setiap orang gemuk pantang dikatai oleh orang lain, makanya kau hendak menjilat pantatku?”

Melihat wajah orang yang menampilkan rasa marah, Oh-lolo berbalik merasa lega, dengan mengiring tawa ia menjawab, “Tetapi yang kukatakan adalah sesungguhnya.”

“Tidak, kau tidak omong sesungguhnya,” ujar si gendut. “Mestinya akan ku potong lidahmu.”

Mendadak ia menghela napas panjang, lalu menggeleng dan menyambung, “Tapi aku benar terlalu gemuk, saking gemuknya sehingga bergerak saja malas, untuk itu hendaklah kau suka bantu aku, sudilah kau potong lidahmu sendiri? Kalau tidak potong lidah, potong hidung juga bolehlah!”

Dia bicara dengan serius, tentu saja orang lain akan tertawa geli, bahwasanya dia minta bantuan orang lain, yang diminta justeru agar orang lain suka memotong hidungnya sendiri.

Di dunia ini mungkin tiada sesuatu yang lebih mustahil daripada hal ini.

Siapa tahu, Oh-lolo tidak banyak cingcong lagi, “sret”, mendadak ia lolos pedang yang tergantung di pinggang Lim Soh-koan, kontan dia benar-benar memotong hidung sendiri.

Baru saja hidung yang berlumuran darah itu jatuh, segera Oh-lolo membuang pedang dan berlari pergi dengan mendekap mukanya.

Keruan Lim Soh-koan dan lain-lain sama melenggong dan tiada satupun yang sanggup tertawa lagi.

Si gendut lantas berkeplok dan tertawa gembira, teriaknya, “Haha, di dunia ini ternyata ada orang yang mengiris hidungnya sendiri, masa kalian tidak tertawa?”

Tapi semua orang hanya saling pandang saja betapapun mereka tidak sanggup tertawa.

Si gendut menghela napas, katanya, “Ai, kenapa kalian sama sekali tidak tahu hal-hal yang menarik, sungguh sangat mengecewakan aku,” Mendadak ia tuding Song Ing-seng dan bertanya, “Eh, siapa namamu.”

“Cay … Cayhe Song … Song Ing-seng.”

“Tadi kulihat kau tertawa dengan riang gembira mengapa sekarang kau tidak tertawa lagi?” tanya si gendut.

Sebisanya Song Ing-seng ingin tertawa, akan tetapi wajahnya ternyata lebih buruk daripada menangis.

“Sudahlah, jika kau tidak paham akan kesenangan, apa gunanya kau mempunyai telinga, kumohon tolong padamu, sudilah kau bantu memotong kupingmu sendiri!” demikian pinta si gendut.

Jika kata-kata ini diucapkan orang lain, mungkin gigi Song Ing-seng akan copot saking tertawa geli. Tapi sekarang dia tidak lagi merasakan lucu, bahkan ketakutan setengah mati.

Dia pandang perut si gendut yang kedodoran itu, pikirnya, “Oh-lolo saja takut terhadap orang gemuk ini, tentunya dia memang sangat lihay. Tapi umpama aku tidak sanggup melawannya, masa aku tak dapat lari saja secepatnya?”

Berpikir demikian, tanpa bersuara lagi segera ia membalik tubuh dan angkat langkah seribu.

Si gendut bergelak tertawa, katanya, “Coba kalian lihat, orang ini telah lari, sebab apakah dia lari?”

Ilmu silat Song In-seng terhitung kelas tinggi juga di dunia Kangouw, kini dia lari dengan ketakutan, sudah tentu cepatnya seperti burung terbang, hanya sekejap saja, selagi si gendut bicara, dia sudah berlari berpuluh tombak jauhnya.

Semua orang merasa yakin si gendut pasti tak mampu mengejarnya.

Tak terduga, pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara “wuut”, selarik cahaya perak terus meluncur ke sana secepat meteor jatuh, hanya sekejap saja sinar perak itu sudah menyusul Song In-seng, sekali berputar mengelilingi badan Song In-seng, segera cahaya perak itu melayang kembali ke tangan si gendut.

Waktu semua orang mengawasi, kiranya cuma sebuah piring perak tempat buah-buahan.

Song In-seng kelihatan masih terus berlari ke depan, tapi baru dua-tiga langkah, setengah badan bagian atas mendadak menekuk patah ke belakang, darah pun menyembur ke udara seperti air mancur. Kedua kakinya masih sempat berlari lagi tiga langkah ke depan, habis itu barulah ambruk.

Hiang berewok dan lain-lain tergolong kaum pembunuh kejam, tapi adegan ngeri begini selama hidup pun belum pernah mereka lihat.

Hanya dengan sebuah piring perak si gendut sanggup menabas badan seorang sebatas pinggang hingga putus menjadi dua, kungfu sehebat ini sungguh dengar saja mereka belum pernah dengar.

Sekali ini mereka baru benar-benar melenggong ketakutan.

Tapi si gendut lantas berkeplok tertawa pula, serunya “Coba kalian lihat orang mati masih dapat berlari, lucu atau tidak? Apakah kalian tidak merasa geli, mengapa tiada seorang pun yang tertawa?”

Tanpa disuruh lagi, sekali ini Han Tay-goan mengerahkan segenap tenaganya dan bergelak tertawa sekerasnya.

“Nah, tertawa, ada orang tertawa!” seru si gendut dengan senang, “Eh siapa namau?”

“Cayhe Han … Han Tay-goan!”

“Kau tertawa segembira ini, apakah karena kau merasa aku si gendut ini sangat lucu?”

“Ya, sangat lucu, kau si gendut ini benar-benar sangat lucu dan menggelikan.”

“Haha, tampaknya cuma kau saja yang tahu hal-hal yang lucu, kuyakin kau pasti suka menolong berbuat sesuatu bagi si gendut.”

Seketika Han Tay-goan seperti tercekik lehernya, dengan suara parau ia berkata, “Aku sudah bicara demikian dan kau masih… masih hendak…”

“Habis kalau bukan kau yang menolong diriku, siapa lagi yang akan menolong?”

Seketika Han Tay-goan melonjak dan meraung murka, “Kau si gendut jahanam, kau babi mampus, biar ku adu jiwa denganmu!”

Di tengah raungannya, segera ia angkat cangkulnya dan menerjang ke sana.

Si gendut benar-benar seperti tidak mampu bergerak sedikitpun, sama sekali ia tidak mampu mengelakkan serangan Han Tay-goan, cangkul itu dengan tepat memacul di atas perutnya. Orang segendut itu, perut sebesar itu, bilamana tercangkul, perut tentu akan robek dan darah pasti akan mengalir lebih banyak daripada orang biasa.

Siapa tahu, ketika pacul itu mengenai perutnya, badan si gendut sama sekali tidak terluka, apalagi mengucurkan darah. Sebaliknya cangkul itu seolah-olah terisap oleh gumpalan daging, meski Han Tay-goan sudah mengerahkan segenap tenaganya tetap tak dapat menariknya kembali.

Si gendut masih tetap tertawa gembira, ketika sebelah tangannya menampar muka Han Tay-goan, kontan sesosok tubuh mencelat seperti layangan yang putus benangnya, melayang ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, habis itu baru terbanting ke bawah. Namun kepalanya sudah hancur seperti buah tomat lalu yang pecah.

Hiang berewok terkesima ketakutan, dia berjuluk “Sin-kun-bu-tek” atau pukulan sakti tanpa tandingan, dengan sendirinya tenaga pukulannya maha dahsyat, tapi tenaga pukulan si gendut ternyata berpuluh kali lipat lebih kuat daripadanya. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa di dunia ini ada orang bertenaga sebesar ini.

Dalam pada itu sorot mata si gendut sudah beralih ke arahnya dan bertanya dengan tertawa, “Eh, siapa namamu?”

Kedua kaki si berewok terasa lemas seluruhnya, tanpa disuruh, “brek”, ia terus berlutut dan berkata dengan suara gemetar, “Siaujin (hamba) she Hiang, jika Cianpwe suruh hamba potong hidung, segera hidung akan kupotong, bila hamba disuruh potong kuping, segera pula hamba akan potong kuping, pasti takkan lari dan juga pasti takkan melawan.”

Si gendut menghela napas, katanya, “Aku sangat tertarik oleh cambangmu yang lebat ini, sebenarnya aku cuma ingin memotong cambangmu saja, tapi kau sendiri rela memotong hidung dan mengiris kuping, ya, apa boleh buat?”

Seketika Hiang berewok jadi melenggong sendiri, ya takut ya menyesal.

Si gendut berkata pula, “Nah, kalau kau sendiri sudah sukarela, mengapa tidak lekas kau kerjakan?”

Terpaksa Hiang berewok nekat, golok dicabutnya, ia pikir seorang biarpun kehilangan hidung dan kuping kan jauh lebih baik daripada kepalanya hancur.

Akibatnya, dia menjerit terus jatuh pingsan.

Lalu si gendut berkata pula dengan tertawa. “Konon di sini ada seorang yang menjabat Bu-lim-bengcu segala, siapakah gerangan sebenarnya?”

“Ialah diriku.” jawab Ji Hong-ho.

Sampai sekarang dia masih tetap tenang dan sabar, sampai Pwe-giok dan Lui-ji diam-diam merasa kagum juga.

“Ehm, tampaknya hanya kau yang menyerupai seorang Bu-lim-bengcu.” ucap si gendut dengan tertawa. “Eh, maukah kau menolong diriku?”

Akhirnya tiba juga giliran Ji Hong-ho!

Pwe-giok genggam kencang tangan Lui-ji, entah girang, tegang. Meski dalam hatinya sangat ingin menyaksikan iblis jahat ini dibinasakan orang, tapi ia pun tidak menghendaki dia mati sekarang, lebih-lebih tidak ingin dia dibunuh oleh orang lain. Betapapun Pwe-giok bertekad akan membunuh musuh ini dengan tangan sendiri untuk mencuci bersih nama kotor dan dendam keluarga Ji.

Akan tetapi, biarpun dia tidak rela, apa daya? Jika kepandaiannya dibandingkan si gendut ibaratnya capung hendak menggoyangkan cagak.

Tiba-tiba terdengar Ji Hong-ho berkata dengan suara tertahan, “Apabila sang Thian-cia-sing ada perintah, mana Cayhe berani membangkang?”

Seketika wajah si gendut memperlihatkan rasa kejut, tanyanya, “Kau tahu namaku?”

Ji Hong-ho tersenyum, ia menjawab seperti berpantun, “Thian-cia-sing (bintang pemakan), liang-cing-cing (terang benderang), semua dimakan habis tanpa tandingan, sepuluh laksa prajurit dapat mengisi perutnya… Sudah lama kudengar keperkasaan Cianpwe, selama ini pula tidak pernah kulupakan.”

“Dari siapa kau dengar cerita mengenai diriku?” kembali si gendut atau Thian-cia-sing, menarik muka pula.

Ji Hong-ho tidak bersuara, tapi memberi isyarat tangan. Cuma sayang, dipandang dari tempat sembunyi Pwe-giok, gerak tangan Ji Hong-ho itu teraling tubuhnya sehingga tidak kelihatan.

Yang jelas air muka si gendut lantas rada berubah dan bertanya pula, “O, kau kenal dia?”

Dengan tersenyum Ji Hong-ho menjawab, “Berkat kebijaksanaan beliau, Cayhe tidak dipandangnya sebagai orang luar.”

Thian-cia-sing tidak bicara lagi, tapi terus menerus mencomot makanan dan dijejalkan ke dalam mulut, entah makanan itu babi atau ayam panggang, buah-buahan, manisan atau asinan, semuanya di makan, seperti mesin pabrik, giling terus.

Baru sekarang Pwe-giok melihat makanan yang tertimbun di atas tempat tidur itu sekarang sudah lebih separuh dimakan oleh si gendut. Nyata julukan “makan habis seluruh dunia tanpa tandingan” memang tidak bernama kosong.

Selang agak lama, terlihatlah Thian-cia-sing tersenyum pula dan berkata, “Jika kau ada hubungan dengan si makhluk tua aneh itu, maka aku pun takkan minta tolong lagi padamu. Tapi ada beberapa soal tidak boleh tidak harus kutanyai kau.”

“Apa yang Cayhe ketahui pasti kukatakan, apa yang kukatakan pasti jelas,” jawab Ji Hong-ho

“Konon demi membantu Cu Bi, si Hong Sam telah ngendon beberapa tahun di sini, apakah betul keterangan ini?” tanya Thian-cia-sing.

“Memang betul,” jawab Hong-ho.

“Dan di manakah mereka sekarang? Apakah mati terbakar?”

“Waktu api berkobar mereka masih berada di sini, sesudah api padam, ternyata tiada ditemukan mayatnya.”

“Darimana kau tahu tiada terdapat mayatnya?”

Ji Hong-ho menghela napas, ucapnya, “Sebab tidak terlihat sepotong tulang belulang apapun di sini.”

Thian-cia-sing berkerut kening, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, “Konon entah dari siapa Cu Bi mendapatkan sesuatu barang, kabarnya barang siapa mendapatkan barang ini akan bisa malang melintang di dunia ini, entah berita ini betul atau tidak?”

“Sumber berita Cianpwe ternyata sangat tajam, berita ini memang betul” jawab Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Jika demikian, tadi kalian sedang menggali di sini, agaknya kalian sedang mencari barang tersebut?”

“Memang begitulah.” kata Hong-ho.

“Dan sudah kau temukan belum?” tanya Thian-cia-sing.

Jawab Hong-ho sambil menyengir, “Sudah dua tiga tombak dalamnya kami menggali tempat kediaman Cu Bi ini, makin lama makin basah tanahnya, jelas sudah hampir mencapai mata air di bawah tanah, tapi secarik kertas saja tidak diketemukan.”

Thian-cia-sing terkikik-kikik, katanya, “Bekerja harus sampai akhirnya, mana boleh kepalang tanggung, kenapa tidak kau gali lagi lebih dalam?”

Ji Hong-ho tidak bicara lagi, ia mengedipi Lim Soh-koan, keduanya mengangkat cangkul terus melompat ke dalam kubangan tadi. Tidak lama kemudian, terlihatlah sumber air muncrat ke atas dengan kerasnya.

Dengan basah kuyup Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan lantas melompat ke atas.

“Tetap tidak ditemukan apa pun.” tutur Hong-ho sambil menyengir.

Thian-cia-sing berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jika demikian, tampaknya Cu Bi tidak menyembunyikan barang itu di sini.”

“Tampaknya memang demikian.” ujar Ji Hong-ho dengan menyesal.

“Sudahlah, barang begini, tidak ketemu akan lebih baik, supaya tidak membikin celaka orang,” ujar Thian-cia-sing dengan tertawa. Makin riang tertawanya sehingga terkial-kial, bernapas saja kelihatan sesak.

Ji Hong-ho berdehem, lalu berkata, “Jika Cianpwe tidak ada pesan lain, Cayhe ingin mohon diri saja.”

Thian-cia-sing tertawa sambil memberi tanda, “Ya, pergilah, pergi lekas! Makin cepat makin baik. Selanjutnya sebaiknya juga jangan sampai kulihat kau lagi. Bila melihat kau, segera kuingat kepada si makhluk tua aneh itu, dan bila teringat kepada si makhluk tua aneh kepalaku lantas pusing.”

Dan Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan lantas pergi dengan sangat cepat.

Melihat kedua orang itu dapat lolos dengan selamat, diam-diam Pwe-giok menggeleng dan menghela napas gegetun.

Seperginya Ji Hong ho dan Lim Soh koan, terdengar Thian cia sing berseru pula dengan tertawa, “Di dalam sana kan panas dan tak tembus hawa, lebih baik keluar saja lebih nyaman.”

Kecuali anak buahnya yang menggotong ranjang besar itu, kini di sekitar situ tidak ada orang lain lagi.

Selagi Pwe giok heran dengan siapakah THian cia sing berbicara, tiba-tiba dilihatnya orang gendut itu lagi menggapai-gapai ke arahnya.

Baru sekarang Pwe giok tahu tempat sembunyinya telah diketahui Thian cia sing. Keruan ia terkejut dan keluar keringat dingin.

Lui ji menghela napas, gumamnya, “Lihai amat orang gendut ini.”

Habis berkata, segera ia mendahului menerobos keluar. Pwe-giok ingin mencegahnya, tapi sudah terlambat. Nyata keberanian anak dara ini tidak kalah dari siapapun juga.

Agaknya Thian cia sing juga tidak mengira orang yang mengintip di tempat gelap itu adalah seorang nona cilik cantik dan kelihatan lemah lembut, tanpa terasa ia pun memperlihatkan rasa heran.

Dalam pada itu Lui ji sudah berhadapan dengan dia, ucapnya sambil berkeplok dan tertawa, “Wah, makanan enak sebanyak ini kenapa kau makan sendiri, bolehkah bagi sedikit padaku? Ai, hampir saja aku mengiler!”

Sembari bicara, tanpa permisi lagi ia terus mencomot sebuah apel besar dan digeragori dengan lahapnya.

Sampai sekian lama Thian cia sing melototi Lui ji, tegurnya kemudian, “Kau tidak takut padaku?”

“Ai, melihat orang ramah dan baik hati serta lucu seperti kau, hatiku justeru sangat gembira, kenapa ku takut padamu?” jawab Lui ji dengan tertawa.

“Tidakkah kau lihat caraku membunuh orang tadi?”

“Ah, ksatria besar seperti dirimu itu mana bisa membunuh seorang nona cilik, aku tidak perlu kuatir.”

“Hahahaha, menarik, sungguh menarik!” seru Thian cia sing dengan tertawa, “Tak tersangka anak dara sekecil ini ternyata bermulut lebih manis dari pada Oh lolo yang licin melebihi rase tua itu. Bahkan kaupun gemar makan, tampaknya seperti anak perempuanku malah.”

“Menjadi anakmu juga boleh, setiap hari bisa makan enak, juga tidak takut dihina orang, cuma sayang…”

“Cuma sayang, tiada gunanya biarpun kau mengumpak diriku,” tukas Thian cia sing dengan tertawa, “sebab sejak tadi sudah kulihat masih ada orang lain yang sembunyi bersamamu di sana. Kenapa dia belum lagi keluar, apakah takut?”

“Takut? Kau kira dia takut padamu?” tukas Lui ji dengan tertawa, “Apakah kau tahu siapa dia?”

Tiba-tiba si gendut tersenyum penuh arti dan memicingkan sebelah matanya, ucapnya, “Hahahaha, sekecil ini kau sudah punya pacar barangkali?”

Seketika Lui ji mendelik, omelnya, “Jangan kau sembarang omong, meski sicekku orangnya tampan dan halus, tapi kalau marah, wah, sampai sacek juga rada takut padanya.”

“Sacekmu? Siapa dia?” tanya Thian cia sing.

“Kau kenal dia,” jawab Lui ji dengan perlahan. “Tadi baru saja kau sebut namanya.”

“O, maksudmu Hong Sam?” si gendut jadi melengak.

“Betul, betapa lihaynya sacek tentunya kau tahu dengan jelas,” kata Lui ji dengan tertawa.

“Aha, sungguh lucu dan menggelikan,” seru Thian cia sing sambil berkeplok tertawa, “Saudaranya Hong Sam ternyata main sembunyi di dalam tungku dan takut dilihat orang, tapi malah menyuruh seorang nona cilik untuk membual baginya, hahahaha, sungguh perutku bisa meledak saking gelinya.”

Bahwa sampai saat ini Pwe giok masih tetap bersembunyi di sana, diam-diam Lui ji juga merasa heran. Betapapun Ji Pwe giok pasti bukan seorang penakut, kalau dia tidak mau keluar tentu ada alasannya.

Tapi Lui ji juga tidak dapat menerka apa alasannya, terpaksa ia melototi Thian cia sing lagi dan mengomel, “Kenapa kau berani bersikap kasar terhadap sacek dan sicekku?”

Si gendut tertawa terkial-kial, katanya, “Hahaha, apakah kau kira aku takut kepada Hong Sam?.. Sungguh lelucon besar jika kutakut padanya..”

Lui ji memang belum pernah melihat ada orang tidak gentar terhadap Hong Sam. Selagi dia melenggong, tiba-tiba didalam tungku sana seorang berteriak dengan tertawa, “Hahaha, apakah kau kira aku takut kepada Hong Sam?.. Sungguh lelucon besar jika kutakut padanya..”

Suara tertawa itu kecil melengking, serupa suara Thian cia sing, bila didengarnya sepintas lalu rasanya mirip gema suara Thian cia sing.

Keruan Lui ji sangat terkejut, sebab diketahuinya orang yang bersuara itu pasti bukan Ji Pwe giok, lalu siapa? padahal di dalam tungku sana jelas-jelas cuma tinggal Pwe giok seorang saja.

Tampaknya Thian cia cing juga terkejut demi mendengar suara tertawa tadi, ia berkata pula, “Jika kau tidak keluar, mengapa kau menirukan cara bicaraku?”

Kembali orang di dalam tungku juga berkata, “Jika kau tidak berani keluar, mengapa kau menirukan cara bicaraku?”

“Se… sungguhnya siapa kau?” tanya Thian cia sing, ia tak dapat tertawa lagi, bahkan suaranya sudah rada serak.

Tiba-tiba orang di dalam tungku juga mengeluarkan suara serak yang sama dan menirukan, “Se… sungguhnya siapa kau?”

Sampai sekian lamanya Thian cia sing tertegun, mendadak ia tertawa pula dan berseru, “Aku keparat, jahanam, sontoloyo, selain menirukan orang bicara, kepandaian lain sama sekali tidak punya.”

Kontan orang di tungku meniru pula, Aku keparat, jahanam, sontoloyo, selain menirukan orang bicara, kepandaian lain sama sekali tidak punya.”

Si gendut berseru pula, “Manusia paling tidak tahu malu, paling rendah di dunia ialah Eng seng diong (si kutu peniru suara) dari Hwe seng kok (lembah gema suara)!”

Orang itu menirukan, “Manusia paling tidak tahu malu, paling rendah di dunia ialah Eng seng diong (si kutu peniru suara) dari Hwe seng kok (lembah gema suara)!”

Apa pun yang dikatakan Thian cia sing selalu ditirukan orang itu, satu kata saja tidak kurang bahkan suara tiruannya juga persis.

Lui ji merasa heran, kejut dan juga geli, terbayang olehnya apabila dirinya bicara apapun dan selalu ditirukan orang, maka betapa rasa dongkol dan gemas sungguh sukar dilukiskan.

Dilihatnya Thian cia sing telah mandi keringat, dengan suara serak ia menjerit, “Jika kau berani menirukan suaraku lagi, segera kubunuh kau!”

Tapi orang itu pun menirukan lagi dengan suara serak, “Jika kau berani menirukan suaraku lagi, segera kubunuh kau!”

“Kau.. kau..” Thian cia sing jadi gelagapan sendiri, tubuhnya yang menyerupai gumpalan daging raksasa itu mendadak melejit ke udara, seperti angin puyuh saja ia terus menyusup ke dalam kereta raksasa tadi.

Menyusul kereta itu lantas dilarikan dengan cepat, belasan lelaki telanjang dada itupun berlari kesana dengan menggotong tempat tidur itu, begitu cepat seolah-olah diuber setan.

Lui ji terkesima menyaksikan itu, dari tungku sana juga tiada kumandang suara lagi. Ia termangu-mangu sejenak, lalu melangkah kembali ke tungku dan memanggil dengan suara perlahan, ’Sicek, adakah kau berada di dalam?”

Namun tiada jawaban. Pwe giok seperti sudah pergi dari situ.

Keruan Lui ji kaget, cepat ia memburu kesana dan melongok ke depan tungku, dilihatnya Pwe giok masih berada di situ, dengan mata melotot memandangnya.

Lui ji menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Tadi kukira orang lain, kiranya sicek masih mempunyai kepandaian simpanan, caramu menirukan suaranya telah membuat si gendut ketakutan dan kabur seperti melihat setan.

—–

Siapakah gerangan yang menirukan suara ucapan Thian-cian-sing dan membuat si gendut ini ketakutan setengah mati?

Pusaka apakah yang dicari oleh komplotan Ji Hong-ho di bawah tumpukan puing itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: