Kumpulan Cerita Silat

31/05/2010

Renjana Pendekar – 21 – Tamat

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, dan M_haury)

Kwe Pian-sian menghela napas, ia tahu tiada gunanya lagi main sembunyi-sembunyi. Sekalian ia lantas berdiri, dia mengangguk pelahan terhadap Hay-hong Hujin dengan tersenyum, sikapnya seolah kejut, heran dan juga girang, seperti kekasih yang mendadak berjumpa kembali setelah berpisah sekian tahun lamanya. Kaceknya cuma dia tidak terus berlari maju dan merangkul atau memegang tangannya untuk menyatakan rasa rindunya selama berpisah itu.

Namun Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, seakan-akan di situ tiada terdapat seorang macam Kwe Pian-sian. Sebaliknya ia malah berkata terhadap Ji Hong-ho dengan tersenyum, “Ada satu hal yang sangat mengherankan aku?”

“Hujin mengherankan hal apa?” tanya Ji Hong-ho.

“Coba Bengcu memberi komentar, bagaimana daya pukulan Lo-cinjin kalau dibandingkan mendiang Thian-kang Totiang?” tanya Hay-hong Hujin.

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Ilmu sakti Kun-lun-pay tiada bandingannya. Betapa hebat kekuatan ilmu pukulan Thian-kang Totiang bahkan sudah lama dikagumi oleh sesama rekan dunia persilatan, cuma…”

“Cuma kalau dibandingkan Lo-cinjin masih selisih satu tingkat, begitu bukan?” tukas Hay-hong Hujin.

Ji Hong-ho hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Diam tanpa menyangkal berarti membenarkan.

Maka Hay-hong Hujin berkata pula, “Belasan tahun yang lalu ku ikut almarhum guruku ke Kun-lun-san, kebetulan menyaksikan Thian-kang Totiang sedang bergebrak dengan orang, lawannya seperti seorang Lama dari benua barat, kekuatannya juga sangat mengejutkan.”

“Mungkin itulah Ang-hun Lama, satu di antara tiga tokoh Lama besar yang terkenal, orang ini sudah lama bermusuhan dengan Kun-lun-pay, bukan cuma satu kali saja dia menyatroni Kun-lun-san.”

“Waktu itu jarak berdiri kami dengan kalangan pertempuran mereka sedikitnya ada tujuh atau delapan tombak, akan tetapi setiap kali Thian-kang Totiang menyerang, dengan jelas kulit muka terasa perih oleh samberan angin pukulannya, bahkan ujung baju juga sama tergetar dan berkibar. Tapi sekarang Lo-cinjin bertempur di depan kita dalam jarak sedekat ini, mengapa sedikitpun tidak kurasakan tenaga pukulannya.”

“Hal ini disebabkan Lo-cinjin sudah dapat menguasai tenaga pukulannya dengan sesuka hati, setiap kali dia memukul, tenaga pukulannya hanya dipusatkan kepada Ji-kongcu seorang saja, sedikitpun tidak terbuang ke tempat lain, dan bila serangan tidak kena sasaran, segera ia tarik kembali tenaga pukulannya, sebab itulah beban yang harus dihadapi Ji-kongcu cukup berat,” setelah tertawa, lalu Ji Hong-ho menyambung, “Kalau tidak begitu, jangan kau dan diriku, bahkan seluruh loteng kecil ini mungkin sudah tergetar runtuh sejak tadi.”

Hay-hong Hujin menghela napas, ucapnya dengan pelahan, “Untung aku bukan Ji Pwe-giok, kukira saat ini dia tentu sangat tidak enak.”

“Hm, juga belum tentu tidak enak sebagaimana dugaanmu,” jengek Cu Lui-ji.

“He, kau tahu? Darimana kau tahu?” tanya Hay-hong Hujin dengan tertawa.

Namun Cu Lui-ji tidak menggubrisnya lagi, dia sibuk bergumam dan menghitung jurus pertempuran mereka, “Sembilan puluh… sembilan satu… sembilan dua…”

Cara menghitungnya sesungguhnya terlalu cepat, padahal sampai saat itu antara Lo-cinjin dan Ji Pwe-giok paling-paling baru bergebrak delapan puluh jurus. Akan tetapi rombongan Ji Hong-ho sudah yakin Pwe-giok pasti tidak sanggup bertahan sampai 300 jurus, sebab itulah tiada orang yang perduli cara berhitung Lui-ji itu.

Saat mana Pwe-giok sudah mirip sebuah paku, meski terus menerus dihantam oleh sebuah palu raksasa, tapi bila palu ingin membuat bengkok pakunya juga tidak terlalu gampang.

Tiba-tiba Pwe-giok merasakan daya serang Lo-cinjin itu meski hebat, tapi ternyata tidak terlalu mendesak, terkadang bila dia menghadapi serangan berbahaya dan seketika sukar menemukan cara untuk mematahkannya, Lo-cinjin berbalik seperti sengaja memberi kelonggaran padanya dan memberi waktu berpikir baginya.

Hal ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Pwe-giok, caranya menyerang atau menangkis sengaja lebih diperlambat.

Sebaliknya Cu Lui-ji yang menghitung jumlah gebrakan mereka tambah cepat malah, berturut-turut ia berseru, “Seratus satu, seratus dua, seratus tiga…”

Ji Hong-ho memandang Ang-lian-hoa sekejap, ucapnya dengan tersenyum, “Seratus jurus sudah lalu, tak nyana dia masih sanggup bertahan.”

“Ya, sungguh tak tersangka.” jawab Ang-lian-hoa dengan tak acuh.

Tiba-tiba Sip-hun berkata, “Tenaga dalam Ji-kongcu ini tampaknya mendadak bertambah lipat ganda, betul tidak?”

“Ya,” jawab Ang-lian-hoa.

“Tenaga dalam seorang dapat bertambah sebanyak ini hanya dalam waktu setengah hari ini, hal ini benar-benar sukar untuk dimengerti,” ujar Sip-hun dengan gegetun.

Ji Hong-ho tersenyum, katanya, “Tapi Toheng tidak perlu kuatir, biarpun tenaga dalamnya lebih kuat lagi juga tetap tidak mampu menahan seratus jurus serangan gurumu.”

“Tapi saat ini seratus jurus kan sudah lebih?” ujar Sip-hun.

“Ah, hal itu disebabkan gurumu sengaja hendak mengetahui tinggi-rendah dan asal-usul ilmu silat lawan saja.” kata Ji Hong-ho. “Kalau tidak, pada jurus ke-86 tadi jelas Ji-kongcu sudah tidak sanggup bertahan lagi. Betul tidak?”

Ucapannya itu ditujukan kepada Sip-hun, tapi suaranya itu justeru diperkeras seakan-akan kuatir tidak terdengar oleh Lo-cinjin.

Benar saja, Lo-cinjin lantas tertawa dan berkata, “Betul, aku memang ingin tahu Kungfu hebat apa yang diajarkan Hong Sam kepada bocah ini. Tapi sekarang rasanya sudah cukup bagiku!”

Di tengah suara gelak tertawanya itu mendadak ia pergencar serangannya.

Tak terduga, setiap serangannya selalu dapat dipatahkan oleh Pwe-giok, kalau lawan bergerak dan menyerang cepat, maka iapun ikut cepat.

Hendaklah maklum, sekalipun Ji Pwe-giok sangat pintar dan cerdik, walaupun Hong-sam sianseng juga tidak sayang mengajarkan segenap Kungfunya, tapi dalam waktu singkat yang cuma setengah hari itu apa yang dapat dipahaminya tentu juga sangat terbatas dan tidak banyak.

Sebab itulah jurus serangan yang digunakannya untuk melawan Lo-cinjin ini kebanyakan adalah ciptaannya sendiri secara darurat dan karena itu pula gerak-geriknya dengan sendirinya tidak leluasa.

Akan tetapi setelah lewat seratus jurus, tiba-tiba kecerdasannya tambah meningkat, kini jurus serangan baru ciptaannya sudah tambah banyak, gerak perubahan jurus serangannya juga tambah apal. Hal ini serupa main catur dengan orang yang ahli, biarpun baru mulai belajar, lama-lama tentu juga akan terdesak hingga mendapatkan ilham, tanpa terasa akan memainkan beberapa langkah ajaib yang sama sekali tak disadarinya.

Dan jurus serangan ciptaan Pwe-giok sekarang juga timbul lantaran terdesak dan terpaksa.

Dalam pada itu Cu Lui-ji masih terus menghitung, “Seratus enam puluh satu, enam dua, satu enam tiga…”

Tiba-tiba Ji Hong-ho tertawa, katanya, “Ah, apakah hitungan nona tidak salah? Sampai saat ini kan baru jurus ke 153 saja?”

Tadinya ia anggap tidak menjadi soal meski nona cilik itu menghitung lebih cepat beberapa jurus, tapi sekarang setelah menyaksikan ketahanan Ji Pwe-giok yang luar biasa, bahkan jurus serangannya yang baru bertambah lihay, akhirnya ia tidak tahan dan menyatakan keberatannya terhadap cara hitung Cu Lui-ji.

Lui-ji tertawa terkikik-kikik, katanya, “Bukankah kalian penuh keyakinan akan menang? Kenapa sekarang kaupun mulai berkuatir? … Satu enam tujuh, satu enam delapan… satu enam sembilan…” begitulah dia masih terus menghitung dengan caranya sendiri, cara bagaimana orang memprotesnya sama sekali tak dihiraukannya.

“Ya, jika nona tetap menghitung cara demikian juga tidak beralangan, hanya saja nanti harus dipotong delapan jurus,” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

Mendadak Lo-cinjin meraung gusar, “Biarpun dia menghitung lebih banyak delapan jurus juga tidak menjadi soal, memangnya dia mampu menyambut 300 jurus seranganku?” – Sambil menggerung, suatu pukulan dahsyat terus dilontarkan.

“Nah, kalian sudah dengar sendiri, jago kalian menyatakan cukup 300 jurus saja akan mengalahkan Sicek,” seru Lui-ji dengan tertawa. Lalu dia terus menghitung, “Satu tujuh puluh…”

Dalam pada itu Pwe-giok telah membuat suatu lingkaran dan berhasil mematahkan hantaman dahsyat lawan. Akan tetapi, biarpun serangan lawan sudah dipatahkan, namun tenaga pukulan lawan yang maha dahsyat itu masih terus menindihnya.

“Blang”, tahu-tahu papan loteng berlubang, Ji Pwe-giok benar-benar seperti sebuah paku, langsung diketok ambles ke bawah melalui lubang itu.

Saat itu Lui-ji baru menghitung sampai, “Satu tujuh satu…..” dan karena terkejut, seketika hitungannya terhenti.

Ji Hong-ho tertawa senang, katanya, “Meskipun Ji-kongcu kalah, tapi dia mampu menahan ratusan jurus serangan Lo-cinjin, betapapun dia memang hebat.”

“Apa? Kalah? Siapa bilang Sicek kalah?” tanya Lui-ji dengan melotot.

“Hah, semua orang menyaksikan dengan jelas, masakah ini belum terhitung kalah?” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

Belum lagi Lui-ji menanggapi, sekonyong-konyong terdengar suara “blang” pula, tahu-tahu Pwe-giok telah muncul lagi dengan menerobos lubang papan loteng tadi. Menyusul sebelah tangannya lantas menghantam ke arah Lo-cinjin.

“Hahaha! Apa yang kau lihat sekarang? Jelas bukan?” seru Lui-ji sambil berkeplok tertawa. “Yang pecah adalah papan loteng dan bukan perut Sicekku, masa kau anggap Sicek sudah kalah? Hahaha, sungguh lucu! Jika papan loteng berlubang lantas dianggap kalah, sekarang juga dapat kulubangi papan loteng ini tiga puluh lubang sekaligus.”

Dan tanpa menunggu jawaban Ji Hong-ho ia terus menyambung hitungannya, “Satu tujuh sembilan, satu delapan puluh, satu delapan satu…”

Sekali ini hitungannya tidak lebih banyak lagi daripada gebrakan yang sesungguhnya, sebab pada waktu dia bicara tadi antara Lo-cinjin dan Ji Pwe-giok sudah bergebrak delapan kali..

Ji Hong-ho menjadi bungkam dan tak dapat menyangkal. Ia tersenyum, katanya kemudian, “Ji-kongcu, papan loteng ini telah menyelamatkan jiwamu, hendaknya jangan kau lupakan hal ini.”

Pwe-giok dapat menerima ucapan lawan itu, ia sendiri tahu bilamana tadi papan loteng itu tidak jebol, tentu dia akan dirobohkan oleh tenaga pukulan Lo-cinjin yang maha dahsyat itu. Kalau melulu mereka berdua yang bertanding, dengan sendirinya dia harus menyerah kalah secara jujur.

Akan tetapi pertarungan ini justeru menyangkut pula keselamatan orang lain, mau tak mau Ji Pwe-giok harus melanjutkan pertandingan ini, apapun yang diucapkan Ji Hong-ho dianggapnya sebagai angin lalu saja dan pura-pura tidak mendengar.

Setelah dua-tiga puluh gebrakan pula, kini senyuman yang menghiasi wajah Ji Hong-ho sudah tidak nampak lagi, agaknya iapun melihat betapa tangkasnya Ji Pwe-giok dan sukar dijajaki.

Angin pukulan semakin menderu, bayangan orang berkelebat. Di sekeliling loteng kecil yang penuh kerumunan penonton itu ramai orang berbisik-bisik membicarakan pertandingan dahsyat ini. Terdengar ada yang sedang berkata, “Sekarang dua ratus jurus sudah berlalu, apakah kau kira anak muda itu mampu bertahan seratus jurus lagi?”

“Hal ini sukar dipastikan.” jawab seorang lain.

“Sungguh tak terduga bocah ini ternyata seorang yang tahan gebuk,” demikian sambung seorang lagi. “Pada waktu mulai tadi, tampaknya dia sangat lemah, mungkin sepuluh jurus saja tidak tahan, tapi makin bergebrak makin tangkas, sekarang malah kelihatan penuh bersemangat.”

Mendadak Lo-cinjin berjingkrak murka dan meraung, “Kalian semuanya tutup bacot! Jika ada yang berani kentut lagi, seketika juga kumampuskan dia!”

Karena bentakan ini, suara bisik-bisik itu serentak cep-klakep, semuanya diam, tiada yang berani buka mulut lagi. Namun dalam hati setiap orang cukup maklum bahwa Lo-cinjin sendiri sekarang juga mulai gopoh.

Dalam pada itu suara hitungan Cu Lui-ji bertambah lantang, “Dua ratus sebelas, dua ratus dua belas… dua ratus tiga belas… ”

Mencorong juga sinar mata Kwe Pian-sian menyaksikan pertandingan hebat itu.

Hanya Pwe-giok saja yang tahu keadaannya sendiri, hatinya terasa mulai tenggelam… Tiba-tiba ia merasa dirinya tidak sanggup bertahan lagi, mungkin 30 jurus saja tidak kuat bertahan pula.

Pada saat itulah tiba-tiba Hong-sam sianseng membuka matanya, wajahnya yang sejak tadi selalu tenang itu menampilkan juga setitik rasa cemas, hanya dia dan Ji Pwe-giok saja yang tahu bahwa tenaga dalam yang dipinjamkan kepada Pwe-giok itu sudah hampir terkuras habis.

Hendaklah diketahui bahwa meski Hong-sam sianseng sejak tadi memejamkan mata, tapi dari angin pukulan kedua pihak dia dapat mengikuti apa yang terjadi, dari tenaga pukulan kedua pihak dapat dibedakannya unggul dan asornya. Sebab itulah meski tadi Ji Pwe-giok berada dalam keadaan terserang, tapi dia tidak merasa kuatir, sebab waktu itu dia tahu tenaga dalam Pwe-giok masih kuat, sekalipun Lo-cinjin sudah di atas angin juga sukar hendak merobohkan anak muda itu.

Tapi sekarang meski tenaga pukulan Pwe-giok masih tetap kuat, namun untuk menarik kembali pukulannya justeru terasa payah, bahkan setiap kali menghantam, setiap kali tenaganya juga menyusut.

Sampai akhirnya menyusutnya tenaga Pwe-giok juga bertambah cepat, begitu cepat seakan-akan dibetot orang dari luar.

Ia tahu bilamana tenaga dalamnya sudah terkuras habis, maka jangan harap akan mampu menahan sekali hantam Lo-cinjin yang kuat seperti gugur gunung dahsyatnya itu.

Mendadak dilihatnya kepalan Lo-cinjin memukul ke depan dengan gaya menusuk seperti pedang yang tajam, dalam gugupnya Pwe-giok tidak sempat berpikir lagi, langsung dia menangkis, karena itu tubuhnya lantas tergetar hingga sempoyongan.

Betapa lihay Lo-cinjin, segera ia tahu lawan sudah tidak tahan lagi, seketika semangatnya terbangkit, beruntun dia menghantam pula tiga kali sehingga Pwe-giok terdesak ke pojok.

Semua orang sama melongo heran, ada yang terkejut dan ada yang bergirang, kalau tadi mereka tidak paham mengapa Pwe-giok sanggup bertahan, maka sekarang mereka pun tidak mengerti sebab apa mendadak ia tidak tahan.

Dalam pada itu Cu Lui-ji masih terus menghitung, “Dua dua enam, dua dua tujuh, dua dua delapan…” meski hitungannya tidak pernah terputus, namun suaranya sudah mulai gemetar.

Kini hanya sisa tujuh puluhan jurus saja, namun untuk sekian jurus ini jelas Ji Pwe-giok tidak sanggup bertahan lagi. Keadaan ini sekalipun Ciong Cing juga dapat melihatnya.

Hay-hong Hujin menghela napas gegetun, katanya, “Mungkin takkan sampai hitungan dua ratus enam puluh…”

“Dua ratus lima puluh saja sudah jauh daripada cukup,” ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum.

Mendadak Lo-cinjin menukas dengan membentak, “Kubilang cukup dua ratus empat puluh saja!” – Berbareng dengan bentakannya, kepalan kiri dan telapak tangan kanan terus menghantam sekaligus.

Saat itu Lui-ji lagi menghitung sampai, “Dua ratus tiga puluh delapan…”

Seketika itu juga Pwe-giok merasa angin pukulan dan bayangan telapak tangan beterbangan dan entah cara bagaimana harus menangkisnya. Apalagi sekalipun dia dapat menangkis juga sukar menahan tenaga dalam yang maha dahsyat seperti gugur gunung itu.

Tampaknya dia pasti akan terpukul roboh dan tiada pilihan lain…

Wajah Ji Hong-ho kembali menampilkan senyuman gembira, Ang-lian-hoa juga telah melompat turun dari ambang jendela, Hay-hong Hujin sedang menggeleng kepala, Sip-hun merangkap kedua tangannya di depan dada seperti lagi berdoa…

Tubuh Pwe-giok tampaknya sudah mulai mendoyong ke belakang karena terdesak oleh angin pukulan yang kuat, seperti sebuah gendewa yang terpentang dan segera akan tertarik patah mentah-mentah.

“Mengaku kalah tidak?!” bentak Lo-cinjin mendadak.

Pwe-giok tidak menjawab, ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya sambil menggeleng sebagai tanda pantang menyerah.

Segera Lo-cinjin menambah tenaga lagi, teriaknya dengan gusar, “Masih tahan kau? Tidak roboh sekarang?!”

Akan tetapi Pwe-giok justeru tidak mau roboh, tubuhnya semakin melengkung dan semakin rendah dengan keringat memenuhi kepalanya, namun matipun dia tidak mau roboh.

Pandangan semua orang terpusat kepada Pwe-giok, sampai berkedip saja tidak. Angin di luar jendela meniup makin santer seakan-akan merobek bumi raya ini. Sedangkan semua orang yang berada di dalam sama ikut tegang, suasana sunyi menyesakkan napas.

Tiba-tiba terdengar suara keriat-keriut yang timbul dari tulang punggung Pwe-giok, nyata badannya seakan-akan ditindih patah menjadi dua oleh tenaga tekanan yang maha dahsyat itu.

Ciong Cing sudah mengucurkan air mata, sekujur badannya tampak gemetar. Kwe Pian-sian juga cemas, berulang-ulang ia mengusap keringatnya.

Sekonyong-konyong Ciong Cing berteriak dengan suara parau, “Ji-kongcu kumohon padamu, kumohon dengan sangat, hendaklah kau rebah sajalah!”

Hay-hong Hujin menghela napas panjang, ucapnya, “Ai, anak bodoh, untuk apalah kau bertahan susah payah begitu?…”

Pandangan Cu Lui-ji sudah samar-samar karena kelopak matanya mengembeng air mata, air mata pun mulai meleleh ke pipinya. Saat ini sampai Lui-ji juga hampir-hampir membujuk Pwe-giok agar rebah dan mengaku kalah saja.

Remuk redam hati Lui-ji, ia sudah tidak tega memandangnya lagi.

Ang-lian-hoa juga tidak tahan, mendadak ia berseru, “Hong-sam sianseng, apakah kau menghendaki dia mati tertindih begitu barulah mau mengaku kalah?”

Hong Sam tidak menjawabnya, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan rawan, “Urusan sudah begini, terpaksa aku…”

Tapi mendadak Pwe-giok berteriak, “Tidak, kita belum kalah, aku belum lagi roboh, aku masih tahan!”

Lo-cinjin menjadi gusar, dampratnya, “Anak busuk, tabiat busuk, memangnya kau minta benar-benar kuhancurkan kau?!” – Saking gusarnya ia terus mendesak maju satu langkah.

Tak terduga, tiba-tiba kakinya kebetulan menginjak pada sesuatu yang lunak, kiranya dia menginjak di atas sebuah karung goni. Padahal tenaga injakannya itu tidak kepalang kuatnya, betapapun kukuhnya karung goni itu juga pecah terinjak.

“Bret”, karung goni itu robek, sekonyong-konyong beratus-ratus makhluk berbisa yang sukar dibedakan jenisnya itu sama merayap ke atas tubuhnya.

Karena kejadian yang tak terduga-duga ini, semua orang sama melenggong.

Lo-cinjin menjadi kaget dan juga gusar, cepat tangannya mengebas dan kaki bergoyang, maksudnya hendak membikin rontok binatang melata itu tergetar jatuh dari tubuhnya, habis itu akan diinjaknya hingga hancur.

Akan tetapi binatang melata yang sudah terlanjur merayap ke atas tubuhnya itu terlalu banyak, seketika sukar dibersihkannya.

Maka terjadilah adegan aneh dan lucu, Lo-cinjin seperti lagi menari, sebentar tangannya berputar, lain saat kakinya melangkah, mendadak tangan menepuk tubuh sendiri pula. Kalau saja Khikangnya tidak mencapai tingkatan yang sempurna dan hawa murni meliputi seluruh tubuhnya sehingga sekeras baja, mungkin tubuhnya sudah babak belur digigit oleh kawanan makhluk berbisa itu.

Mata Cu Lui-ji seketika terbeliak, mendadak ia pergencar hitungannya, “Dua empat satu, dua empat dua, dua empat tiga….” sekaligus tanpa ganti napas ia terus menghitung, hanya sekejap saja hitungannya sudah mencapai “dua delapan puluh.”

Baru sekarang Ji Hong-ho terkejut dan mengetahui permainan anak dara itu, cepat ia membentak. “He, tidak, tidak boleh, tidak dapat dianggap!”

Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia masih terus menghitung. “Dua delapan satu, dua delapan dua, dua delapan tiga, dua delapan empat ….”

Mendadak Lo-cinjin meraung keras-keras satu kali, ia injak ke sana-sini dan menginjak mati kelabang yang terakhir, pada saat itu pula hitungan Cu Lui-ji juga genap “tiga ratus”.

Suasana di atas loteng kecil itu seketika sunyi senyap seperti kuburan, selang sekian lamanya barulah terdengar Ji Hong-ho tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Sudah tentu caramu menghitung ini tidak sah.”

“Hm, sah atau tidak adalah urusan nanti, yang jelas sekarang Sicekku roboh atau tidak?!” jengek Lui-ji.

Dalam pada itu Ji Pwe-giok lagi bersandar di dinding dengan napas terengah-engah, namun tubuhnya masih berdiri tegak tanpa ambruk.

Terpaksa Ji Hong-ho bungkam dan tak dapat menjawab.

Dengan melotot Lui-ji lantas berkata pula, “Dan kalau Ji-sicek tidak sampai roboh, sedangkan jago kalian Lo-cinjin juga sudah selesai melancarkan serangan 300 jurus, dengan sendirinya pertarungan ini telah dimenangkan oleh pihak kami, kenapa kau menyangkal dan berdasarkan apa tidak kau anggap sah?” jengek Lui-ji.

“Tapi beberapa puluh jurus Lo-cinjin yang terakhir tadi bukan ditujukan untuk melayani Ji-kongcu, hal ini disaksikan oleh semua orang, masa aku mengada-ada?”

“Hm, itu kan cuma alasanmu sendiri,” jengek Lui-ji. “Jika dia sedang bergebrak dengan Sicekku, maka setiap jurus dan gerakan yang digunakannya berarti ditujukan kepada Sicek, jadi setiap gerakan, setiap jurus yang dilontarkan harus dihitung. Kalau dia menghantam dan menyerang secara ngawur, itu kan salah dia sendiri, kenapa menyalahkan orang lain?”

“Tapi makhluk berbisa itu…”

“Binatang berbisa itu kan terbungkus baik-baik di dalam karung goni, siapapun tidak mengganggunya, juga kami tidak melepaskannya, sebaliknya tanpa sebab jago kalian telah menginjaknya hingga mati semua, untuk itu malahan aku hendak minta ganti rugi padanya.”

Sudah tentu Ji Hong-ho tahu ucapan anak dara itu hanya pokrol bambu saja, tapi seketika ia menjadi bungkam dan tidak sanggup menjawab. Ia melenggong sejenak, akhirnya dia berpaling ke arah Lo-cinjin, katanya dengan menyengir, “Kukira urusan ini Lo-cinjin dipersilahkan memutuskannya sendiri.”

Sinar mata Lo-cinjin gemerdep, mendadak ia berseru, “Bocah ini ternyata mampu menahan 300 jurus seranganku, dia benar-benar anak yang hebat.”

“Tapi cinjin sendiri tidaklah benar-benar melontarkan 300 jurus serangan ke arahnya,” seru Ji Hong-ho.

Lo-cinjin mendelik, katanya, “Siapa bilang aku tidak melontarkan 300 jurus padanya? Jika dia bertanding denganku, dengan sendirinya setiap gerakanku harus dihitung satu jurus. Kalau jurus seranganku tidak mampu merobohkan dia, itu juga urusanku, kalian tidak perlu ikut campur.”

Seketika Ji Hong-ho melongo dan tak dapat bersuara lagi.

Saking bergirang, akhirnya Cu Lui-ji menubruk maju dan mendekap tubuh Ji Pwe-giok, teriaknya gembira, “Sicek, O, Sicek, kita menang, kita menang…..”

Ji Hong-ho tersenyum, sikapnya sudah tenang kembali, katanya, “Jika Lo-cinjin menyatakan kalian yang menang, ya dengan sendirinya kalian yang menang.”

“Nah, kedua kalimat ucapannya ini masih menyerupai ucapan seorang Bu-lim-bengcu,” kata Lui-ji dengan tertawa.

“Dan sekarang silahkan kalian pergi saja, orang she Ji menjamin pasti tiada orang yang akan mempersulit kalian,” ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum hambar.

“Apa katamu? Pergi? Siapa yang pergi?…” Lui-ji menegas dengan mata melotot. “Tempat ini adalah rumah kami, kenapa kami yang harus pergi? Yang benar kalau omong!”

Air muka Ji Hong-ho rada berubah, tapi Lo-cinjin lantas membentak, “Memang tidak seharusnya mereka pergi, kitalah yang harus pergi!…”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong dari luar jendela menerobos masuk dua orang. Seorang diantaranya bersinar mata tajam mencorong, muka burik, dengan suara bengis ia berteriak, “Betul, kita harus pergi. Tapi sebelum pergi kita memenggal dulu kepala mereka.”

“Kau ini barang apa?” damprat Lui-ji dengan gusar.

Ji Hong-ho tersenyum, katanya, “Inilah Tio Kun, Tio-tayhiap yang berjuluk “Boan-thian-sing” (bintang bertaburan di langit), kedua telapak tangan besinya dan ke 72 buah Kim-ci-piaunya terkenal di sekitar Kamsiok dan Samsay.” –

Lalu ia tunjuk seorang lagi yang bermuka lonjong seperti kuda berbaju kuning dan bertubuh tinggi kurus, sambungnya, “Yang ini adalah Wi Hong, Wi-tayhiap yang berjuluk “Jian-li-hong-ki” (Kuda sakti seribu li), terkenal sebagai kaki cepat nomor satu di daerah Hopak dan Holam.”

“Huh, manusia baik-baik kenapa suka disebut sebagai kuda?” jengek Lui-ji. “Coba kawanmu si burik ini, biarpun mukanya tidak rata kan juga tidak mau dipanggil sebagai Tio si bopeng, meski mukamu serupa kuda kan sepantasnya mencari suatu nama yang lebih enak di dengar?!”

Muka kuda Wi Hong yang memang panjang itu rasanya semakin panjang oleh karena olok-olok Cu Lui-ji itu, segera ia balas menjengek, “Hm, meski Lo-cinjin bermaksud mengalah kepada kalian, tapi kami tidak nanti melepaskan kau. Menghadapi kawanan siluman seperti kalian ini kukira juga tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw apa segala. Nah, budak cilik, kalau tahu gelagat, ikutlah pergi bersama tuanmu!”

Selagi telapak tangannya yang lebar seperti daun pisang itu terangkat dan hendak meraih ke arah Lui-ji, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Sip-hun sudah berdiri di depannya dengan mengulum senyum.

“Guruku sudah menyatakan akan melepaskan mereka, maka Wi-tayhiap hendaknya juga suka berbuat sama dengan melepaskan mereka,” kata Sip-hun dengan ramah.

Tapi Wi Hong lantas menjawab dengan suara bengis, “Urusan kaum Cianpwe dunia Kangouw mana ada hak bicara bagi orang muda seperti kau ini? menyingkir!” – Tangan yang baru saja ditarik kembali itu mendadak mendorong pula ke depan.

Akan tetapi Sip-hun masih tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa, sama sekali ia tidak berkelit atau bergerak. Namun gontokan Wi Hong yang keras itu ternyata tidak mampu membuat Sip-hun bergeming sedikitpun.

Air muka Wi Hong berubah pucat, belum lagi dia bertindak lebih lanjut, Lo-cinjin telah mendekatinya dan berkata dengan suara tertahan, “Muridku ini memang tidak tahu aturan, apakah kau ingin mengajar adat padanya?”

Semua orang sudah menyaksikan sikap Lo-cinjin yang kasar itu terhadap muridnya, selain main bentak juga main pukul. Wi Hong mengira Tosu cilik yang selalu tertawa dan ramah ini tentu tidak disukai sang guru, maka ia tidak meragukan ucapan Lo-cinjin tadi, dengan tertawa ia menjawab, “Cayhe memang sembrono dan ingin meng….”

Belum habis ucapannya, kontan Lo-cinjin berjingkrak dan meraung murka, “Kau ini kutu busuk macam apa? Kaupun sesuai untuk mengajar muridku? Huh, tanganmu yang berbau busuk ini berani menyentuhnya? Baik!”

Baru saja kata “baik” diucapkan, mendadak pula ia turun tangan, secepat kilat pergelangan tangan Wi Hong dicengkeramnya, menyusul lantas terdengar suara “krak-krek”, tulang pergelangan tangan itu telah dipatahkannya mentah-mentah.

Keruan Wi Hong meraung kesakitan, segera kaki kanannya menyapu. Dia terkenal sebagai kaki sakti nomor satu di daerah utara, dengan sendirinya tenaga kakinya tidak boleh dibuat main-main, sekalipun sepotong cagak batu, sekali disampuk dengan kakinya juga akan hancur.

Namun Lo-cinjin tidak berkelit juga tidak menghindar, dia sengaja menerima serampangan kaki lawan dengan keras, maka terdengar suara “krek” yang lebih keras, yang patah ternyata bukan kaki Lo-cinjin melainkan kaki Wi Hong sendiri.

Belum lagi Wi-hong sempat menjerit kesakitan, lebih dulu dia sudah kelengar.

Tanpa memandang sekejappun terhadap pecundangnya itu, Lo-cinjin berpaling ke arah Tio Kun, tanyanya dengan dingin, “Kau anggap kata-kataku seperti orang kentut, kaupun menghendaki kepala mereka, begitu bukan katamu tadi?”

Muka Tio Kun pucat pasi seperti mayat. Tapi apapun juga dia tergolong tokoh yang sudah terkenal, di depan orang banyak, betapapun dia tidak mandah diperlakukan kasar begitu, betapapun dia ingin menjaga kehormatannya.

Dia tertawa terkekeh, lalu berkata, “Baiklah, kalau Cinjin tidak mau ikut campur lagi urusan ini, boleh serahkan saja kepada kami.”

“Serahkan padamu? Huh, kau ini apa?” teriak Lo-cinjin dengan murka. “Apakah karena orang sudah kehabisan tenaga dan hampir tidak bisa bergerak lagi, maka kau ingin menarik keuntungan tanpa mengeluarkan tenaga, begitu?”

Begitu habis ucapannya, sekali cengkeram, tahu-tahu leher baju Tio Kun telah dijambretnya, tubuhnya terus diangkat. Padahal perawakan Lo-cinjin jauh lebih pendek dan kecil daripada lawannya, tentu saja hal ini membuat semua orang tercengang.

Tio Kun terkejut dan juga gusar, tanpa pikir kedua telapak tangannya terus menghantam ke bawah dan tepat mengenai pundak kanan-kiri Lo-cinjin.

Seperti sudah diceritakan, Tio Kun terkenal dengan telapak tangan besinya, tapi ketika kena hantam di tubuh Lo-cinjin, telapak tangan besinya telah berubah menjadi tangan tebu, ‘Krak-krek”, kontan tulang tangannya patah semua, kembali ia menjerit ngeri, dari setiap burikan di mukanya tampak menetes keluar air keringat.

Begitulah dengan tangan kanan Lo-cinjin mencengkeram Tio Kun dan tangan kiri mengangkat Wi Hong, meski Tojin ini kurus kecil, tapi dua lelaki kekar itu dapat diangkatnya dengan enteng dan seenaknya, hal ini benar-benar membuat para penonton sama melongo. Malahan Lo-cinjin seperti sama sekali tidak mengeluarkan tenaga meski kedua tangan mengangkat dua lelaki besar itu, dia seperti membekuk dua ekor ayam jago saja, ayam jago yang sudah keok tentunya.

Melihat Kungfu yang mengejutkan ini baru sekarang semua orang teringat kepada Ji Pwe-giok, baru sekarang mereka dapat menilai betapa hebatnya anak muda itu.

Pikir saja, kalau dua tokoh Kangouw terkenal seperti “Boan-Thian-sing” dan “Jian-li-sin-ki” tidak sanggup menahan sekali gebrak dengan Lo-cinjin, sebaliknya Ji Pwe-giok yang masih muda belia dan kelihatan lemah lembut itu ternyata sanggup bergebrak dan bertahan sampai 300 jurus.

Waktu semua orang berpaling ke arah Ji Pwe-giok, pandangan mereka terhadap anak muda ini sekarang jelas sudah berbeda daripada tadi.

Ji Hong-ho juga sedang memandang Pwe-giok dengan lekat-lekat, sampai lama sekali dia menatap anak muda itu.

Tiba-tiba Lo-cinjin berteriak gusar, “Nah, siapa lagi yang berani menganggap ucapanku sebagai kentut? Ayo, bersuara!?”

Suasana menjadi hening, baik orang yang berada di atas loteng maupun yang nongkrong di sekeliling wuwungan rumah itu tiada seorang pun yang berani bersuara.

“Hmmk!” Lo-cinjin mendengus keras-keras satu kali, lalu melangkah turun ke bawah loteng.

Sip-hun lantas merangkap kedua tangannya di depan dada dan memberi hormat dengan tersenyum, katanya, “Beruntung hari ini Tecu sempat berjumpa dengan para Cianpwe, sungguh aku merasa sangat bangga dan bahagia. Semoga selanjutnya dapat sering-sering mendapat petunjuk lagi dari para Cianpwe.”

Meski dia bicara terhadap semua orang, namun matanya terus menerus hanya memandang kepada Cu Lui-ji.

Lui-ji lantas mendamprat perlahan, “Huh, Tosu bermata maling, lekas kau enyah saja!”

Entah mendengar atau tidak, kembali Sip-hun memberi hormat dengan sopan, lalu iapun melangkah pergi, sampai di ujung tangga mendadak ia berhenti dan berpaling, katanya dengan tersenyum, “Silahkan Bengcu jalan dahulu!”

Ji Hong-ho tersenyum, ucapnya, “Hong-locianpwe, selamat tinggal, Ji-kongcu, selamat tinggal… Kumohon diri sekarang juga.”

Tiba-tiba Hay-hong Hujin berjalan ke arah Kwe Pian-sian.

Keruan orang she Kwe itu menjadi kebat-kebit dan muka pucat.

Tak tersangka Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, yang dituju adalah Ciong Cing, katanya terhadap nona ini dengan tertawa, “Apakah kau ini murid Ji Siok-cin?”

Ciong Cing menunduk kikuk. Tiba-tiba ia merasa dirinya tidak boleh tampak lemah di depan saingan cintanya, seketika dia menengadah dan menjawab, “Ya!”

Hay-hong Hujin menghela napas, ucapnya kemudian. “O, kasihan, sungguh kasihan. Ai, sayang, sungguh sayang…”

“Aku… aku… ” seketika Ciong Cing menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Ketika melihat wajah Hay-hong Hujin yang bersifat menghina itu, seketika ia naik pitam, ia tidak pedulikan lagi bagaimana akibatnya, dengan nekat ia berteriak, “Kasihan apa? Perempuan yang sudah dibuang oleh lakinya itulah yang harus dikasihani!”

Hay-hong Hujin hanya tersenyum hambar saja dan tidak meladeni lagi, dengan lemah gemulai ia melangkah pergi, ia anggap tidak berharga untuk meladeni olok-olok itu.

Sekujur badan Ciong Cing sampai bergemetar, air mata akhirnya meleleh membasahi pipinya.

Yang paling ditakuti seorang perempuan adalah kalau dihina oleh bekas kekasih orang yang dicintainya sekarang. Hal ini akan sangat menyakitkan hatinya, sebab akan dirasakannya bahwa orang yang dipandangnya seperti jiwanya, seperti sukmanya, nyatanya tidak lebih adalah barang bekas orang lain, barang yang sudah dibuang orang lain.

Ang-lian-hoa melototi Kwe Pian-sian sejenak, lalu ia pandang Hong Sam dan pandang pula Ji Pwe-giok. Mendadak ia berjumpalitan keluar jendela.

Waktu Pwe-giok memandang keluar, ternyata orang-orang yang memenuhi wuwungan sekeliling loteng kecil itu pun sudah pergi seluruhnya.

Pwe-giok menghela napas panjang, napas yang lega dan akhirnya ia pun roboh terkulai…

-oOo oOo-

Lentera yang tergantung di tangga loteng itu ternyata tidak dibawa pergi oleh rombongan Ji Hong-ho. Pintu juga tidak ditutup kembali, angin meniup masuk membuat sumbu lentera bergoyang-goyang.

Cahaya lentera yang redup itu menyinari wajah Ji Pwe-giok yang pucat bagaikan kertas.

Lui-ji menubruk maju dan mendekap tubuh anak muda itu, serunya dengan menangis, “O, Sicek, entah cara bagaimana aku harus berterima kasih padamu?!”

Keadaan Hong-samsianseng juga sangat payah, ia menghela napas panjang dan berkata dengan lemah, “Di hadapan Sicek kenapa kau bicara tentang ‘terima kasih’?”

Lui-ji menunduk, air matapun bercucuran memenuhi wajahnya.

Pwe-giok tersenyum hambar, katanya, “Apapun juga kita kan sudah menang, apalagi yang kau sedihkan?”

Sambil mengusap air matanya Lui-ji berkata, “Aku tidak sedih, tapi… tapi tidak terlalu bergembira.”

Baru kata “gembira” terucapkan, tangisnya sukar dibendung lagi.

Tiba-tiba Kwe Pian-sian berdehem, lalu berkata dengan tertawa, “Sungguh tidak nyana Lo-cinjin yang termasyhur dan tiada tandingannya di dunia ini sekarang juga keok di bawah tangan saudara Ji kita. Setelah pertarungan ini, siapa pula di dunia Kangouw yang takkan kagum kepada Ji-heng…”

Mendadak Lui-ji berseru, “Dia adalah Sicekku, berdasarkan apa kau berani menyebutnya ‘Ji-heng’ (saudara Ji)?”

Kwe Pian-sian berdehem-dehem, ia tidak menanggapi dampratan anak dara itu, katanya pula, “Ya, selanjutnya nama Ji-kongcu pasti akan termasyhur dan mengguncangkan seluruh dunia, hanya saja…”

“Hanya saja apa?” tanya Lui-ji dengan mendongkol.

“Hanya saja, tempat ini bukan lagi tempat yang boleh didiami untuk selamanya,” kata Kwe Pian-sian. “Menurut pendapatku, akan lebih baik kalau lekas pergi saja dari sini.”

“Pergi dari sini?” Lui-ji menegas dengan melotot. “Di sinilah rumahku, kenapa kami harus pergi?”

“Nona tahu, meski Ji Hong-ho dan begundalnya tadi mengalami kekalahan, tapi mereka pasti penasaran dan tidak terima, jika dikatakan mereka benar-benar sudah kapok dan tidak berani mengganggu lagi ke sini, kukira siapapun takkan percaya.” demikian ulasan Kwe Pian-sian.

“Tapi kalau mereka benar-benar hendak mencari kita, biarpun lari juga tiada gunanya, sebab akhirnya toh pasti akan ditemukan mereka,” jengek Lui-ji. “Apalagi, memangnya kau kira Sacekku ini adalah orang yang suka main lari? Jika mau lari tentu sudah sejak dulu-dulu lari, untuk apa kami menunggu di sini sampai sekarang?”

“Memang betul juga ucapan nona,” kata Kwe Pian-sian. “Tapi… tapi kalau tetap tinggal di sini kukira juga bukan… bukan cara yang baik…”

“Jika kau ingin pergi, boleh silahkan pergi saja sesukamu, tiada orang yang akan menahan dirimu,” jengek Lui-ji pula.

Muka Kwe Pian-sian sebentar pucat sebentar merah, ia tidak bicara lagi, juga tidak berani pergi.

Kalau Ang-lian-hoa dan Hay-hong Hujin ada kemungkinan sedang menunggunya diluar sana, apakah dia berani pergi?

oOo oOo

Angin menderu-deru di luar, suasana di atas loteng kecil itu justeru sunyi senyap, bila teringat kepada Ji Hong-ho dan rombongannya itu pasti tidak mau berhenti begitu saja, pikiran setiap orang menjadi tertekan.

DI tengah suara angin yang menderu-deru itu tiba-tiba terdengar suara anjing mengaing, suara mengaing yang melengking dan seram seperti jeritan setan.

Tanpa terasa Ciong Cing merinding, katanya, “Mengapa…. mengapa suara anjing itu sedemikian menakutkan?”

Bulu roma Cu Lui-ji juga berdiri, tapi ia menanggapi dengan tertawa, “Bisa jadi Ji Hong-ho telah menginjak ekor anjing itu.”

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong suara lengking anjing tadi tak terdengar lagi, mengaingnya sangat mendadak, berhentinya juga secara mendadak. Meski suara mengaingnya menyeramkan dan menakutkan, tapi suara yang lenyap mendadak itu terlebih membuat orang mengkirik.

Di jagat raya ini seketika seperti penuh diliputi alamat yang tidak baik.

Lui-ji ingin bicara apa-apa untuk memecahkan ketegangan, tapi sukar baginya untuk bicara dan juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar suara “blung” yang dahsyat, menyusul api lantas berkobar dan menjulang tinggi ke langit.

Begitu cepat nyala api itu, hanya sebentar saja hampir setengah langit sebelah sana telah terbakar hingga merah menganga.

“Keji amat tindakan Ji Hong-ho ini, dia hendak membakar mati kita,” seru Kwe Pian-sian dengan kuatir.

Air muka Pwe-giok berubah agak pucat juga, katanya, “Pantas lebih dulu dia telah mengusir seluruh penduduk kota ini, rupanya memang sudah direncanakannya akan membumihanguskan Li-toh-tin ini. Hm, dia sok anggap dirinya seorang pendekar budiman, sekarang ternyata tidak segan-segan berbuat serendah ini.”

Kobar api makin lama makin dahsyat dan makin mendekati loteng kecil itu, cuma belum lagi berbentuk suatu lingkaran yang mengepung.

Cepat Kwe Pian-sian melompat bangun, serunya dengan suara parau, “Ayo cepat! Lekas kita terjang keluar, mungkin masih keburu!”

Lui-ji memandang ke arah Hong Sam. Dilihatnya air muka Hong-samsianseng sangat prihatin dan tidak memberi komentar apapun.

Dengan tak sabar Kwe Pian-sian berseru pula dengan melotot, “Urusan sudah begini, masa kalian belum lagi mau pergi?!”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Ya, memang betul, urusan sudah kadung begini, apapun jadinya terpaksa kita harus menerjang ke luar!”

“Tapi… tapi luka Sacek…” Lui-ji merasa ragu.

“Biarkan ku gendong Hong-lo… Hong-samko dan kau ikut saja di belakangku,” kata Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Dan aku bagaimana?” tukas Gin-hoa-nio yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara. “Tentunya kalian tidak akan meninggalkan diriku di sini bukan?!”

Lui-ji menggertak gigi, katanya, “Biarkan ku gendong Sacek saja dan kau… kau gendong dia.”

Kwe Pian-sian memandang Ciong Cing sekejap, akhirnya iapun menggendong nona itu, serunya “Ayolah, kalau tidak berangkat sekarang mungkin tidak keburu lagi!”

“Betul, lekaslah kalian pergi semua,” kata Hong-sam sianseng.

“He, Sacek, kau…”

Belum lanjut ucapan Lui-ji, dengan menarik muka Hong-sam sianseng lantas membentak dengan suara bengis. “Sacek tidak apa-apa, masa aku perlu kau gendong dan melarikan diri?… Memangnya Sacek adalah manusia pengecut demikian?”

Cahaya api yang berkobar dengan hebatnya telah menyinari mukanya yang kelihatan merah padam.

“Jika demikian, biarlah Siaute saja yang….”

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, dengan gusar Hong Sam berkata pula, “Kelak bila orang Kangouw mengetahui Hong Sam telah melarikan diri dengan digendong orang, lalu kemana lagi akan ku taruh mukaku ini? Kalau sudah begitu, biarpun hidup apa bedanya lagi dengan mati?”

“Tapi… tapi urusan dalam keadaan luar biasa,” seru Pwe-giok, “Samko, apakah… apakah engkau tak dapat memaklumi keadaan?…”

“Sudahlah,” ucap Hong Sam dengan tegas, “Tekadku sudah bulat, tiada gunanya kau bicara lagi, lekas kalian berangkat saja!”

Hampir gila Lui-ji saking cemasnya. Tapi ia pun kenal watak sang paman, bilamana Hong-sam sianseng sudah mengambil keputusan demikian, di dunia ini mungkin tiada seorangpun yang mampu mengubah pendiriannya.

Pwe-giok berkata pula dengan rawan, “Ku tahu Samko kuatir pada keadaanku yang sudah lemah ini, maka lebih suka mati sendiri daripada menambah bebanku, tapi hendaklah Samko mengetahui, Siaute masih… masih cukup kuat…”

Hong-sam sianseng terus memejamkan mata dan tidak menggubrisnya lagi biarpun apa juga yang dikatakan Pwe-giok.

Nyala api bertambah hebat dan menjilat ke sekitarnya, hanya sekejap saja api sudah dekat bangunan loteng kecil itu.

Agaknya Ji Hong-ho dan begundalnya telah memasang bahan-bahan pembakar yang mudah menyala, sebab itulah api menjalar dengan amat cepat.

Akhirnya Kwe Pian-sian berkata dengan suara serak, “Jika kalian tidak pergi, terpaksa ku pergi lebih dulu, hendaklah kalian… kalian…” dia seperti mau omong apa-apa lagi, tapi urung. Dengan beringas ia terus melompat keluar dengan memondong Ciong Cing.

Terdengar suara tangis Ciong Cing sayup-sayup berkumandang dari luar jendela sana, sejenak kemudian lantas tidak terdengar apa-apa lagi.

“Kalian pun harus pergi, mengapa masih diam saja di sini?” bentak Hong Sam dengan suara bengis.

Tapi Lui-ji malah berduduk di sampingnya dan berkata, “Sacek tidak pergi, akupun tidak pergi.”

“Kau berani membangkang ucapanku?” bentak Hong Sam dengan gusar.

Lui-ji tersenyum pedih, ucapnya, “Apapun ucapan Sacek akan ku patuhi, tapi sekali ini…. sekali ini aku….”

Mendadak Hong Sam angkat tangannya dan mendorong anak dara itu hingga jatuh tersungkur, lalu bentaknya, “Kau berani membangkang kataku, biar ku pukul mampus kau lebih dulu.”

“Biarpun Sacek pukul mampus diriku tetap aku takkan pergi,” jawab Lui-ji tegas.

Hong Sam menjadi kewalahan, ia menghela napas dan menggeleng.

“Ji Pwe-giok!” teriak Gin-hoa-nio mendadak, “Apakah kau juga tidak mau pergi? Apakah kau hendak mengiringi kematian mereka?”

Tapi Pwe-giok tetap berdiri saja dengan tenang, tampaknya ia pun terkesima.

Ia tahu kalau tetap tinggal di sini dan menunggu mati terbakar, hal ini sungguh perbuatan yang terlalu bodoh. Tapi apapun juga dia tidak dapat menyelamatkan diri dengan meninggalkan Cu Lui-ji dan Hong Sam.

Dengan suara parau Gin-hoa-nio berteriak, “Gila, kalian semua orang gila… Sungguh sial aku berkumpul dengan kalian!”

Sekuatnya ia meronta ke depan jendela, tanpa pikir ia terus melompat keluar. Akan tetapi sisa tenaganya sekarang tidak seberapa lagi, baru saja terjun ke bawah segera terdengar ia menjerit kesakitan, mungkin kakinya terkilir.

Pwe-giok tahu bilamana Gin-hoa-nio hendak lolos di tengah berkobarnya api sehebat itu, maka peluangnya boleh dikatakan sangat tipis, tanpa terasa ia menghela napas.

Segera Hong Sam berteriak pula dengan beringas, “Kalian benar-benar hendak mati bersamaku?”

Pwe-giok memandang Lui-ji sekejap, lalu berkata, “Siaute ingin…”

“Bagus, jadi kalian baru mau pergi setelah ku mati, begitu?” seru Hong Sam sambil tertawa latah, mendadak ia angkat sebelah tangannya terus menghantam kepalanya sendiri.

Keruan Pwe-giok dan Lui-ji menjerit kaget, berbareng mereka memburu maju.

Syukurlah pada saat itu juga mendadak terdengar suara “blang” yang sangat keras, dinding sekeliling hancur lebur, pecahan papan beterbangan, seorang tiba-tiba menerjang masuk seperti malaikat yang baru turun dari langit!

Di bawah cahaya api yang berkobar-kobar itu, pandangan Pwe-giok juga cukup tajam, betapa wajah orang yang menerjang masuk itu seharusnya dapat dilihatnya dengan jelas.

Namun gerak tubuh orang itu sungguh terlalu cepat, baru saja terdengar suara gemuruh tadi, mungkin Hong Sam sendiri juga tertegun, tahu-tahu Pwe-giok melihat sesosok bayangan menyerempet lewat di sebelahnya, Hong Sam terus diangkatnya, lalu melayang pergi secepat kilat. Jadi bagaimana wajah pendatang ini, tua atau muda, lelaki atau perempuan, sama sekali Pwe-giok tidak tahu.

Lui-ji berteriak dengan kaget, “Hai, siapa kau? Kenapa kau menyerobot Sacekku?”

Belum lenyap suaranya, bayangan orang tadi sudah melayang pergi beberapa tombak jauhnya. Terdengar suara Hong-sam sianseng membentak di kejauhan, “Siapa kau?”

Lalu suara orang yang parau menjawab, “Aku!”

Agaknya Hong-sam sianseng lantas menghela napas panjang, napas yang lega, lalu tidak bicara lagi.

Dalam pada itu Pwe-giok dan Lui-ji juga sudah memburu keluar, dilihatnya bayangan orang di depan sana melejit-lejit seperti gundu yang dilemparkan, bila lidah api menjilat ke depan, sekali tangannya mengebas dengan perlahan, kobaran api lantas menyurut, hanya sekejap saja bayangan orang itu sudah menerjang keluar lautan api.

Meski Pwe-giok dan Lui-ji masih terus mengejar dengan sepenuh tenaga, tapi jaraknya makin lama makin jauh.

“Tinggalkan Sacekku… Kumohon, tinggalkan Sacekku!” Lui-ji berteriak-teriak dengan suara parau.

“Wuttt”, mendadak gulungan api menyambar lewat, waktu mereka memandang ke depan, bayangan tadi sudah lenyap. Lui-ji berlari lagi beberapa langkah dan akhirnya jatuh mendekap di atas tanah serta menangis tergerung-gerung.

Pwe-giok pun iba melihat tangis Lui-ji itu, cepat ia memburu maju untuk membangunkan anak dara itu. Baru sekarang Lui-ji mengetahui tanpa terasa mereka sudah menerjang keluar lautan api.

Rambut Lui-ji dan bajunya tampak ada bintik-bintik api, beberapa bagian tubuh Pwe-giok juga hangus terbakar. Tapi dalam keadaan cemas dan gelisah, keduanya sama sekali tidak merasakan hal itu.

“Kenapa kau menyerobot Sacekku? Cara bagaimana aku dapat hidup lagi selanjutnya?” demikian Lui-ji meratap dengan sedihnya.

Pwe-giok menghela napas melihat betapa berduka anak dara itu, ucapnya dengan rawan, “Tampaknya orang tadi tidak bermaksud jahat, coba kalau tiada dia, mungkin kita sudah terkubur di tengah lautan api itu.”

“Tapi… tapi bagaimana dengan… dengan Sacek?” kata Lui-ji.

“Agaknya Sacekmu kenal dengan orang ini, mungkin sekali mereka adalah sahabat.” ujar Pwe-giok. “Kalau kita melihat betapa tinggi Kungfunya tadi, bila Sacekmu dibawa pergi olehnya, kita justeru boleh merasa lega malah.”

Terhibur juga hati Lui-ji, suara tangisnya mulai lirih. Ucapnya dengan masih tersedu sedan, “Ya, memang kedengaran tadi Sacek… Sacek bertanya satu kali padanya, lalu… lalu tidak bertanya pula, agaknya mereka memang kenal… Tapi kalau dia membawa pergi Sacek, mengapa… mengapa tidak membawa serta diriku sekalian?”

Dengan suara lembut Pwe-giok berkata, “Hal ini disebabkan… disebabkan dia tidak kenal padamu.”

“Memang.” ujar Lui-ji dengan air mata meleleh, “Semua sahabat Sacek di masa dahulu, satupun tidak ku kenal. Ya, aku tidak kenal siapapun, sebaliknya juga tiada orang yang kenal diriku. Aku… aku…” teringat kepada nasibnya yang sengsara, tanpa terasa ia menangis sedih pula.

Pwe-giok terharu, hidung pun terasa beringus, air matanya juga hampir-hampir menetes. Pelahan ia mengebut bintik api yang masih membara di atas tubuh Lui-ji, lalu katanya dengan tertawa tawa, “Tapi Sicek kan kenal padamu dan kau pun kenal Sicek, betul tidak?”

Sambil menangis Lui-ji terus menjatuhkan diri ke pangkuan Pwe-giok, ucapnya dengan suara terputus-putus, “Sicek, kau… kau takkan meninggalkan diriku bukan?”

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, tapi dimulut ia menjawab dengan tersenyum, “Masa Sicek akan meninggalkan kau?… Pendek kata, kemana pun Sicek pergi pasti akan kubawa serta dirimu.”

Padahal nasibnya sendiri sekarang juga terkatung-katung, ia sendiri pun ditinggalkan sanak keluarga dan handai taulan, ia pun tak tahu sekarang harus pergi ke mana. Kalau mengurus diri sendiri saja repot, mana dia sempat mengurus orang lain lagi?

Sekonyong-konyong terasa hawa panas menyambar dari belakang, rupanya kobaran api telah menjalar pula ke tempat mereka ini.

Dari jauh terdengar suara ramai orang menangis dan meratap, di tengah hiruk-pikuk itu pun terseling suara orang mencaci maki, Mungkin penduduk Li-toh-tin menjadi kalap ketika melihat rumah dan harta benda mereka telah musnah terbakar menjadi abu.

Tiba-tiba terdengar suara seorang berteriak lantang, “Hendaknya kalian jangan susah dan bingung, pokoknya segala kerugian kalian akan kami ganti sepenuhnya.”

Diam-diam Pwe-giok berkerut kening, pikirnya, “Biarpun Li-toh-tin ini kota kecil dan kebanyakan penduduknya adalah kaum miskin, tapi kalau beratus keluarga jumlahnya kan jadi tidak sedikit, tapi mereka ternyata bersedia memberi ganti rugi, apakah tujuan mereka cuma hendak membakar mati beberapa orang ini?”

-oOo oOo oOo-

Angin sudah mulai berhenti, tapi malam bertambah kelam.

Suara ribut di kejauhan juga mulai sepi, Cu Lui-ji duduk termenung tanpa bergerak, sejak Pwe-giok membawanya ke tanah pekuburan yang sunyi ini, belum lagi dia berucap satu kata pun.

“Api yang mereka kobarkan itu pasti tidak cuma untuk membakar mati kita saja.” kata Pwe-giok tiba-tiba.

Dengan sorot mata yang kabur Lui-ji memandangi sebuah kuburan baru di depan sana, ia hanya menanggapi ucapan Pwe-giok itu dengan suara,” Oo?”

“Sebab kalau mereka menghendaki jiwa kita, pasti mereka sudah memasang perangkap di sekitar tempat yang akan mereka bakar agar kita tak dapat lolos. Tapi sekarang dengan sangat mudah kita dapat lari keluar, bahkan seorangpun tidak kita pergoki.”

“Ehmm!” Lui-ji mengangguk.

“Sebab itulah kupikir, tujuan mereka hanya ingin mengusir kepergian kita saja…”

“Hanya ingin mengusir kita, dan mereka tidak sayang membumihanguskan kota kecil ini, tidak sayang untuk membayar ganti rugi harta benda sebanyak ini… Apakah mereka sudah gila?” demikian tukas Cu Lui-ji.

“Sudah tentu di balik tindakan mereka ini masih ada sebab lain… ya, pasti masih ada sebab lain…”

Lui-ji tersenyum getir, katanya, “Semula kurasa sudah jelas duduknya perkara, tapi ucapan Sicek ini tambah membingungkan aku.”

“Semua kejadian yang tidak masuk akal ini hanya ada suatu penjelasannya,” kata Pwe-giok tanpa menghiraukan ucapan Lui-ji itu.

“Penjelasan bagaimana?” tanya anak dara itu.

“Pada loteng kecil tempat tinggal kalian itu pasti tersembunyi sesuatu rahasia besar yang sangat mengejutkan orang,” kata Pwe-giok.

“Rahasia besar?!” Lui-ji melengak.

“Ya, lantaran rahasia itulah maka Tonghong Bi-giok merasa berat meninggalkan ibumu meski banyak kesempatan baginya untuk pergi,” kata Pwe-giok pula, “Karena rahasia itulah maka Oh-lolo dan lain-lain juga datang, juga lantaran rahasia inilah maka Ji Hong-ho dan komplotannya tidak segan menyalakan api.”

Terbeliak mata Lui-ji, ia bergumam, “Tapi rahasia apakah itu?”

“Apakah kau ingat, sebelum ibumu wafat, pernahkah beliau membicarakan sesuatu yang luar biasa kepadamu?” tanya Pwe-giok dengan suara tertahan.

“Ibu tidak pernah bercerita apa-apa,” ujar Lui-ji sambil berkerut kening. “Beliau cuma memberitahukan padaku bahwa tempat inilah rumahku, tempat inilah satu-satunya benda yang dapat ditinggalkannya kepadaku, aku disuruh menyayanginya, makanya selama ini aku tidak mau pergi dari sini…” mendadak suara ucapannya terhenti, matanya tambah terbelalak.

Kedua orang saling pandang sekejap, lalu serentak sama-sama berdiri.

Dalam pada itu api di kejauhan sudah semakin kecil, tampaknya sudah hampir padam.

Akan tetapi api tidak padam seluruhnya, dari ujung dinding, dari kusen pintu atau jendela yang hangus itu terkadang masih tersembur keluar lidah api dengan membawa asap yang tebal.

Sejauh mata memandang, udara penuh diliputi kabut asap yang tebal sehingga apapun tidak terlihat jelas.

Pelahan Pwe-giok dan Lui-ji menuju kembali ke tengah tumpukan puing itu.

Di bawah alingan asap, mereka menyelinap diantara reruntuhan puing, tidak lama kemudian dapatlah dilihat mereka bangunan berloteng kecil itu sudah terbakar roboh.

Hanya Li-keh-can saja, hotel yang dibangun jauh lebih kukuh daripada rumah penduduk itu tidak seluruhnya runtuh, api sudah padam lebih cepat, tiang belandar sudah terbakar seluruhnya, tapi sebagian besar dinding temboknya masih tegak.

Berjalan di atas reruntuhan puing itu, Lui-ji merasa telapak kakinya masih panas seperti menginjak bara.

Waktu ia mengintai ke balik asap tebal sana, dilihatnya di sekitar sana ada beberapa laki-laki berseragam hitam sedang mondar-mandir membersihkan sisa kebakaran, tapi Ji Hong-ho dan komplotannya tidak kelihatan, juga penduduk asli Li-toh-tin tidak nampak satupun.

Pwe-giok juga sedang mengintai dari pojok dinding sana.

Dengan suara mendesis Lui-ji bertanya, “Sicek, sekarang juga kita mulai mencari atau menunggu kedatangan mereka?”

“Sudah bertahun-tahun kau tinggal di sini dan tidak kau temukan rahasia itu, dalam waktu singkat mana dapat kita menemukannya. Apalagi kobaran api sekarang sudah mereda, kuyakin selekasnya mereka akan datang lagi ke sini.”

“Kalau begitu, apakah kita perlu mencari suatu tempat untuk bersembunyi?”

“Ya, betul,” jawab Pwe-giok.

“Wah, sembunyi di mana baiknya?” kata Lui-ji sambil memandang sekitarnya. “Eh, lihat Sicek, bagaimana kalau di rumah sana?”

“Rumah itu kurang baik,” kata Pwe-giok, “Meski saat ini mereka belum menggeledah sampai sini, tapi selekasnya mereka pasti akan kemari.”

“Habis sembunyi di mana?” tanya Lui-ji

“Dapur!” kata Pwe-giok.

Waktu Lui-ji memandang ke sana, dilihatnya dapur yang terbuat dari kayu itu sudah habis terbakar, ia berkerut kening dan berkata, “Dapur sudah terbakar, mana dapat dibuat sembunyi?”

Pwe-giok tertawa, katanya, “Meski dapur sudah terbakar, tapi di dalam dapur kan masih ada sesuatu tempat yang takkan musnah terbakar.”

Terbeliak mata Cu Lui-ji, serunya dengan suara tertahan, “He, maksudmu tungku? Betul, hanya batu tungku saja yang takkan musnah terbakar untuk selamanya. Hah, sungguh bagus gagasanmu ini Sicek!”

Tanpa ayal lagi mereka terus berlari ke arah dapur hotel, terlihat di pojok sana ada sebuah gentong air yang tidak rusak, cuma air di dalam gentong juga terbakar hingga menguap seperti digodok.

Pwe-giok menyingkirkan wajan besar di atas tungku, air gentong lantas di tuang ke dalam tungku. Setelah hawa panas di dalam tungku hilang, mereka lantas menyusup ke dalam perut tungku dan wajan tadi ditutup lagi di atasnya.

Li-keh-can adalah satu-satunya hotel di Li-toh-tin, tamunya cukup banyak, setiap hari rata-rata harus melayani makan-minum dua-tiga puluh orang.

Dengan sendirinya tungku yang digunakan beberapa kali lebih besar daripada tungku rumah penduduk.

Pwe-giok dan Lui-ji bersembunyi di dalam tungku besar itu sehingga serupa sembunyi di dalam sebuah kamar sempit. Lubang tungku yang biasanya digunakan untuk menambah kayu bakar itu menjadi mirip sebuah jendela bagi mereka.

Dinding papan dapur itu sudah terbakar ludes, maka melalui “jendela’ ini dapatlah Pwe-giok dan Lui-ji mengikuti gerak-gerik bangunan berloteng kecil di depan sana.

Di loteng kecil itulah Lui-ji dilahirkan dan dibesarkan, tapi sekarang bangunan itu sudah berwujud tumpukan puing, tanpa terasa air mata Lui-ji berlinang-linang pula.

Tapi sedapatnya ia tidak memperlihatkan rasa sedih itu, katanya dengan tertawa, “Sicek, kau lihat tidak? Tungku di rumahku sana juga tidak musnah terbakar.”

“Ya, seperti ucapanmu tadi, tungku takkan terbakar rusak untuk selamanya,” kata Pwe-giok dengan suara halus. “Dan bumi juga selamanya takkan rusak terbakar. Bilamana kau suka pada tempat ini, kelak masih boleh membangun sebuah rumah berloteng seperti tempat tinggalmu yang dulu.”

Termangu-mangu Lui-ji memandang ke sana, air mata kembali bercucuran, katanya dengan hampa, “Rumah loteng memang masih dapat dibangun, tapi hari-hari kehidupan seperti dahulu tidak mungkin datang kembali lagi.”

Pwe-giok juga terkesima oleh ucapan anak dara itu.

Karena ucapan Lui-ji itu, tanpa terasa ia pun terkenang kepada kehidupannya yang bahagia dan tenteram di masa lalu, teringat olehnya pohon waringin yang rimbun di halaman rumahnya itu, di bawah pohon itulah setiap musim panas ayahnya suka menyaksikan dia berlatih menulis, terbayanglah senyuman welas-asih sang ayah…

Semua itu baru saja terjadi setengah tahun yang lampau, tapi bila terkenang sekarang rasanya seperti sudah jelmaan hidup yang lalu, tanpa terasa matanya menjadi basah lagi. Ucapnya dengan rawan, “Ya, segala apa yang sudah berlalu takkan kembali lagi untuk selamanya.”

“Dahulu,” demikian Lui-ji bertutur dengan pelahan, “sebelum fajar menyingsing, tentu aku sudah mulai memasak bubur, terkadang kubuatkan telur dadar, sedikit sayur asin dan kacang goreng, maka nafsu makan Sacek lantas bertambah dan satu kuali bubur disikatnya habis, lalu beliau akan memuji bubur yang ku masak itu harum dan enak, sayur asin dan kacang gorengnya lezat dan gurih, tapi sekarang…” dia menghela napas, lalu menyambung dengan menunduk. “Meski tungku di sana belum rusak terbakar, selanjutnya masih dapat ku masak bubur di tungku itu, namun siapakah yang akan makan bubur yang ku masak itu.”

Terharu Pwe-giok, tanpa terasa ia berkata, “Akulah yang akan makan bubur yang kau masak itu.”

“Benar?” tanya Lui-ji sambil menengadah.

Sementara itu hari sudah terang, sinar sang surya menembus ke dalam tungku melalui lubang kecil itu sehingga kelihatan wajah Lui-ji yang masih basah oleh air mata itu. Sinar matanya gemerdep memancarkan cahaya kegirangan sehingga mirip setangkai bunga teratai putih dengan butiran embun yang mekar di pagi cerah di musim semi.

Tergetar juga hati Pwee-giok, cepat ia melengos dan tidak berani memandangnya lagi.

Lui-ji menghela napas, katanya, “Ku tahu ucapan Sicek tadi hanya untuk menyenangkan hatiku saja. Orang semacam Sicek tentu masih banyak urusan penting yang harus dikerjakan, mana kau sempat datang padaku untuk makan bubur yang ku masak.”

Suaranya begitu lirih dan rawan sehingga hati Pwe-giok kembali terharu, jawabnya dengan tertawa, “Sicek tidak berdusta… Biarpun banyak urusan yang harus ku selesaikan, tetapi begitu pekerjaanku selesai, suatu hari aku pasti akan datang ke sini untuk makan bubur yang kau masak.”

Lui-ji tertawa senang seperti bunga yang baru mekar, ucapnya, “Jika begitu, aku akan masak satu kuali bubur dan menunggu kedatanganmu.”

“Setiap hari makan bubur saja tentu juga akan bosan,” kata Pwe-giok dengan serius. “Sebaiknya setiap dua-tiga hari satu kali harus kau buatkan nasi goreng istimewa bagiku, kalau tidak aku bisa kurus kelaparan karena makan bubur melulu.”

Lui-ji terkikik-kikik, katanya, “Makan bubur kan waktu pagi, makan siang tentunya lain, selain nasi goreng, akan kubuatkan pula Ang-sio-tite (kaki babi saus manis), Jau-koh-kek-kiu (ayam goreng jamur) dan hidangan lain yang lezat, tanggung tidak sampai tiga bulan Sicek akan tambah gemuk satu kali lipat.”

Melihat si nona tertawa girang, Pwe-giok juga bergembira. Tapi bila teringat kepada nasibnya sendiri, sakit hati ayah belum terbalas, iblis itu masih memalsu dan menyamar sebagai “Ji Hong-ho” gadungan dengan komplotan jahatnya sehingga segenap kawan Kangouw sama tertipu, sebaliknya dirinya harus berjuang sendirian, entah kapan intrik musuh baru dapat terbongkar. Untuk bisa hidup tenang dan gembira untuk makan bubur yang di masak anak dara ini, mungkin harus menunggu sampai pada penjelmaan yang akan datang.

Selagi Pwe-giok termenung, tiba-tiba Lui-ji menegur, “He, Sicek… mengapa engkau menangis?!”

Cepat Pwe-giok mengusap matanya yang basah, jawabnya dengan tertawa, “Ah, anak bodoh, Sicek sudah tua, mana bisa menangis. Karena asap maka keluar air mata.”

Lui-ji termangu sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Sicek, masa kau anggap dirimu sudah tua? Jika Sacek tidak menyuruhku agar panggil Sicek padamu, sebenarnya lebih tepat kalau ku panggil Siko (kakak ke empat) padamu.”

Pwe-giok memandangi wajah si nona yang berseri itu dan tak dapat menjawab. Entah manis, entah kecut, entah getir, sukar untuk dijelaskan…

Tamat Bagian Pertama

—–

Para pembaca yang mulia. Sampai disinilah “Renjana Pendekar” bagian pertama kita akhiri. Kita beri kesempatan kepada Ji Pwe-giok untuk bercengkerama dengan Cu Lui-ji setelah sekian lama menanggung rasa hati yang berat (renjana), yaitu hasratnya hendak menuntut keadilan, menuntut balas atas kematian ayahnya, membongkar intrik komplotan jahat yang telah mengaduk dunia persilatan selama setengah tahun ini di samping hasratnya mendambakan cinta yang terpaksa ditinggalkan oleh tunangannya atau bakal isterinya.

Setelah mengkonsolidasi segenap pikiran dan tenaga, kita yakin Pwe-giok segera akan menggugah dan menggugat.

Menggugah, mengimbau setiap insan persilatan yang berjiwa ksatria agar bangkit menggugat perbuatan komplotan jahat yang keji itu. Berhubung tindak-lanjut Pwe-giok yang menggugah tersebut, maka pada seri ke II “Renjana Pendekar” nanti kita beri judul, “IMBAUAN PENDEKAR”

Demikianlah supaya para pembaca maklum dan bertemu pula dalam minggu depan.

Selamat membaca

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

3 Comments »

  1. wah berarti downloadku kurang donk.
    thank you om udah upload ni cerita,kirain udah g di urus lagi blog ini.

    Comment by kuro — 31/05/2010 @ 4:20 am

  2. Iya, Mas Kuro. Sy minta maaf karena sempat vakum disebabkan sibuk mengurusi beberapa hal.

    Sekali lagi, maaf.

    Comment by Anonymous — 01/06/2010 @ 5:07 am

  3. Ni cersil favorit gue

    Comment by cerita_silat — 02/04/2013 @ 4:59 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: