Kumpulan Cerita Silat

30/05/2010

Renjana Pendekar – 20

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)

“Tapi masih ada satu hal yang tidak diketahui nona,” kata Oh-lolo dengan tertawa.

“Oo? Hal apa?” tanya Lui-ji.

“Racun itu sebenarnya adalah buatanku, makanya adik perempuanku tidak mempunyai obat penawarnya,” tutur Oh-lolo.

Seketika Lui-ji melonjak kegirangan, teriaknya, “Betul, biarpun racun buatan adik perempuannya, dengan sendirinya iapun paham cara bagaimana menawarkannya.”

Keterangan Oh-lolo ini membuat semua orang terkejut dan juga bergirang.

Saking senangnya muka Cu Lui-ji menjadi merah, serunya dengan suara parau, “Jadi pada… padamu terdapat obat penawarnya?”

Oh-lolo mengeluarkan sebuah kotak kecil, katanya, “Inilah obat penawarnya.”

Kejadian ini datangnya sungguh terlalu mendadak dan terlalu beruntung, benar2 sukar untuk dipercaya. Cu Lui-ji terbelalak memandangi kotak kecil yang dipegang nenek itu, sekujur badan sampai bergemetar.

“Obat ini sebenarnya tidak ingin kuberikan,” kata Oh-lolo sambil menghela nafas. “Tapi Samya benar2 seorang berbudi, bilamana orang baik semacam Samya sampai tidak tertolong, memangnya di dunia ini tidak ada keadilan lagi?”

“Tak ter… tak tersangka kau masih punya Liangsim (hati nurani yang baik),” seru Lui-ji dengan ter-putus2.

Mendadak ia rampas kotak kecil yang dipegang Oh-lolo itu dan didekap erat2 di dalam pangkuannya se-olah2 takut direbut orang lagi. Air matapun bercucuran, serunya saking kegirangan, “Sacek… O, Sacek! Akhirnya… akhirnya kita tertolong! Sudah lama kita seperti bermimpi buruk dan mimpi buruk kini sudah berakhir. Sacek, apakah engkau bergembira?”

Tampaknya Hong Sam juga sangat terangsang dan hampir tak dapat menguasai perasaannya. Setelah mengalami siksa derita sekian tahun, kini dapat terlepas dari lautan derita itu, tentu saja iapun bergirang.

Lui-ji mendekap di depan tempat tidur, saking gembira ia terus menangis ter-gerung2.

Hong Sam membelai rambutnya dengan perlahan, seperti ingin omong apa2, tapi suaranya tersendat sehingga tiada terucapkan sekatapun.

Tampaknya Oh-lolo juga sangat terharu, desisnya dengan hati lega, “Orang baik tentu mendapat ganjaran yang baik, keadilan tentu terdapat pada hati setiap orang. Ai, rasanya sekarang nenek harus pergi saja.”

Tapi baru saja ia membalik tubuh, mendadak Pwe-giok menghadang di depannya dan menegur, “Apakah obat itu benar2 obat penawar?”

Oh-lolo tersenyum, katanya, “Ai, anak muda, mungkin sudah terlalu banyak orang jahat yang kau temui, makanya kau tidak percaya kepada siapapun. Apakah kau lihat nenek seperti aku ini tega membikin celaka orang macam Hong-sam sianseng?”

“Memang betul sudah terlalu banyak orang jahat yang kutemui, makanya baru sekarang ku tahu biarpun orang semacam Hong-locianpwe terkadang juga bisa dicelakai orang,” jawab Pwe-giok dengan perlahan.

Tiba2 Kwe Pian-sian juga menimbrung, “Apalagi, Hong-locianpwe sudah pinjam ilmu silatmu, tapi kau berbalik hendak menolongnya? Betapapun aku menjadi ikut curiga apakah di dunia ini benar2 ada orang baik hati seperti kau ini?”

Padahal sejak mula ia sudah curiga, cuma urusannya tidak menyangkut kepentingannya, maka dia diam saja. Kini Pwe-giok sudah mendahului membongkar hal itu, maka iapun membonceng biar kelihatan berjasa.

Karena ucapan mereka berdua, hati Cu Lui-ji jadi cemas lagi, perlahan ia berbangkit, katanya dengan melotot terhadap Oh-lolo, “Coba ka… katakan, obatmu ini sesungguhnya obat penawar atau bukan?”

Oh-lolo menghela nafas, jawabnya, “Kalau nona tidak percaya, boleh kau kembalikan saja obat itu kepadaku.”

“Mana boleh,” jawab Lui-ji dengan suara bengis. “Pendek kata jika obat ini bukan obat penawar, segera kucabut nyawamu!”

“Habis cara bagaimana barulah nona mau percaya?” tanya Oh-lolo sambil menggeleng.

“Coba kau sendiri makan dulu satu biji obat ini,” kata Lui-ji.

Pwe-giok mengira sekali ini Oh-lolo pasti akan mengalami ‘senjata makan nenek’, tak terduga tanpa sangsi Oh-lolo terus menerima kembali kota obatnya, katanya dengan tertawa, “Jika demikian, akan ku makan satu biji obat ini.”

Tiba2 Kwe Pian-sian menyeletuk lagi, “Apa bila kau sudah makan obat penawar lebih dulu, sekalipun obat ini adalah racun, tentunya tidak beralangan biarpun kau makan seluruhnya.”

Oh-lolo menghela nafas, katanya, “Wah, jika begini jadinya serba salah bagiku.”

Dia mengerling, tiba2 ia berkata pula dengan tertawa, “Tapi masih ada satu cara yang dapat kubuktikan isi kotak ini obat penawar atau racun.”

Dengan menggreget Lui-ji berkata, “Sebaiknya kau dapat membuktikannya, kalau tidak… hmmm!”

Dilihatnya Oh-lolo mengeluarkan pula sebuah kotak kayu kecil, kotak inipun diukir dengan indah, dicat dengan warna merah darah.

“Kotak inilah berisi racun yang pernah digunakan adik perempuanku itu,” kata Oh-lolo. Lalu dari dalam kotak ia mencolek setitik bubuk obat berwarna jambon terus ditelan.

Semua orang sama terkejut, tapi Oh-lolo malah tertawa, katanya, “Tampaknya mata nona bersinar aneh, kekuatan tubuhmu pasti lain daripada orang biasa. Racun yang dapat membinasakan orang lain kukira takkan beralangan apapun bagi nona.” Dia tersenyum, lalu menyambung, “Entah apa yang kukatakan ini betul atau tidak?”

“Hmk!” Lui-ji hanya mendengus saja. Meski tidak bersuara, tapi di dalam hati diam2 ia mengagumi penglihatan nenek yang tajam ini.

“Tapi terdapatnya kelainan nona yang hebat ini juga bukan berasal dari pembawaan lahir, betul tidak?” tanya Oh-lolo pula.

Lui-ji tidak lantas menanggapi, tapi akhirnya ia bersuara, “Betul, hal ini disebabkan aku harus mencobai racun apakah yang diidap Sacek, maka aku bertekad akan mencicipi setiap macam racun di dunia ini, dari cara bekerjanya racun yang kucicipi ini akan kupelajari bagaimana kadar racunnya dan cara bagaimana menawarkannya.”

“Betul, racun apapun juga, asalkan makannya tidak melebihi dosisnya tentu takkan membinasakan. Apalagi kalau sudah banyak memakannya, kelak akan timbul daya tolak mu terhadap racun ini.” Setelah menghela nafas, lalu Oh-lolo menyambung pula, “Tapi urusan ini tampaknya sangat mudah dilakukan, padahal tidak sembarang orang mampu melaksanakannya. Sungguh aku sangat kagum terhadap tolak dan kesabaran nona.”

Bilamana membayangkan seorang nona cilik seperti Cu Lui-ji setiap hari harus mencobai macam2 racun, sedikit lengah saja akibatnya adalah mati. Untuk ini semua orang merasa tidak punya keberanian seperti nona cilik ini dan mau-tak-mau mereka bertambah kagum dan hormat kepadanya.

Namun Cu Lui-ji hanya menanggapi dengan hambar, “Inipun bukan sesuatu yang luar biasa. Kau tahu, ada sementara racun bukannya pahit, sebaliknya rasanya sangat manis.”

“Ya, obat yang mematikan kebanyakan rasanya manis, obat penolong jiwa rasanya malah pahit,” kata Oh-lolo dengan tertawa. “Tapi menurut pendapatku, obat racun yang ditemukan nona itu pasti bukan racun yang sukar dicari. Jika racun sebangsa racun ular, kelabang, ketungging dan sebagainya, tentunya takkan berbahaya bagi nona, tapi bila racunku ini…”

Lui-ji menengadah, seperti mau omong apa2, tapi seketika tak dapat bersuara apapun, sebab tiba2 dilihatnya muka Oh-lolo yang berkeriput itu kini telah berubah menjadi ungu ke-biru2an, bahkan matanya juga bercahaya ungu, tampaknya menjadi beringas dan menakutkan.

Bukan cuma Lui-ji saja yang terkesiap, ketika semua orang ikut memandang si nenek, hati semua orangpun terperanjat.

Namun Oh-lolo berkata pula dengan tertawa, “Racun yang baru saja kumakan kini sudah mulai bekerja. Sebagai seorang ahli racun tentu nona dapat melihatnya, cara bekerja racun ini apakah serupa dengan keadaan Hong-sam sianseng waktu keracunan dahulu?”

Sampai di sini, suara nenek itu sudah mulai kaku dan hampir tidak jelas terdengar, tubuhnya juga mulai berkejang.

“Betul, memang begini keadaannya,” jawab Lui-ji dengan muka pucat. Lalu Oh-lolo mengeluarkan satu biji pil dari kotak yang diterimanya kembali dari Lui-ji tadi dan diminum.

Meski semua orang berdiri cukup jauh, namun terendus juga bau amis dan busuk dari pil yang ditelan Oh-lolo itu.

Melihat sikap orang2 itu, Oh-lolo berkata dengan tertawa, “Obat yang mujarab selain pahit biasanya juga berbau busuk bukan? Tapi obat penyelamat jiwa biarpun berbau tentu juga akan diminum orang. Sebaliknya kalau racun juga berbau busuk, lalu siapa yang mau meminumnya?”

Ciong Cing yang sejak tadi berdiam diri itu kini mendadak menghela nafas dan berucap, “Ya, kata2 ini sungguh mengandung makna yang sangat dalam. Tapi di dunia ini ada berapa orang yang menyadari hal ini?”

“Eh, nona cilik, ingatlah dengan baik,” kata Oh-lolo dengan tersenyum. “Terkadang mulut lelaki yang manis jauh lebih menakutkan daripada racun yang mematikan.”

Ciong Cing memandang Kwe Pian-sian sekejap, lalu menunduk dan tidak bicara lagi.

Selang sejenak, air muka Oh-lolo telah berubah normal kembali. Racun yang diminumnya meski lihay, tapi obat penawarnya juga sangat mujarab. Nenek itu menghela nafas panjang2, lalu berkata dengan tertawa, “Nah, sekarang nona percaya tidak?”

Lui-ji menunduk dan berkata, “Tadi aku salah menyesali engkau, hendaklah engkau jangan marah.”

“Mana bisa ku marah padamu?” ujar Oh-lolo. “Memang lebih baik kalau ber-hati2.”

Sekarang Lui-ji sudah tidak sangsi sedikitpun, ia merasa malu dan juga berterima kasih, segera ia terima lagi obat penawar itu dan terus berlari ke tempat tidur Hong-sam.

Sorot mata Oh-lolo menyapu pandang sekejap ke arah Ji Pwe-giok dan Kwe Pian-sian, katanya dengan tersenyum, “Sekarang nenek boleh pergi bukan?”

Meski di dalam hati Pwe-giok masih merasakan sesuatu yang tidak beres pada urusan ini, tapi bukti terpampang di depan mata, apa yang dapat dikatakannya lagi? Terpaksa ia memberi hormat dan berkata, “Maaf jika tadi aku bersikap kasar padamu.”

Oh-lolo tertawa, tiba2 ia mendekati Kwe Pian-sian.

Teringat sikapnya tadi rada kurang hormat terhadap si nenek, baru sekarang Kwe Pian-sian menyesal telah menyalahi orang semacam ini, seketika mukanya menjadi rada pucat, cepat ia berkata, “Harap Cianpwe jangan… jangan…”

“Tidak perlu kau takut,” kata Oh-lolo dengan tertawa, “tiada maksudku hendak mencari perkara padamu. Meski tadi kau rada2 membikin sirik hatiku, tapi akupun tidak menyalahkan kau, malahan kurasakan kau inipun seorang berbakat, kelak jika perlu boleh coba2 kau cari diriku untuk ber-bincang2 lebih banyak.”

Dia pandang Ciong Cing sekejap dengan tertawa, lalu berkata pula, “Eh, nenek ompong semacam diriku ini tentunya takkan menimbulkan rasa cemburumu bukan?”

Kwe Pian-sian melenggong hingga sekian lamanya, dilihatnya nenek itu telah melangkah ke bawah loteng, ia menggeleng kepala dengan menyengir, katanya, “Ai, nenek ini sungguh seorang yang aneh dan sukar untuk diraba…”

Akhirnya Hong-sam telah minum juga obat penawar itu. Mahluk2 berbisa yang memenuhi kolong selimutnya itu dengan sendirinya telah digiring oleh Cu Lui-ji ke dalam sebuah karung goni. Kalau racun sudah ditawarkan, untuk apa pula mahluk2 yang menjemukan itu.

Cu Lui-ji tampak berjingkrak kegirangan, seperti burung cucakrowo saja dia mengoceh tiada hentinya, bertanya ini dan itu. Maka Pwe-giok lantas menceritakan pengalamannya secara ringkas waktu ditugaskan menjadi utusan Hong-sam.

Hong-sam duduk bersila di tempat tidur, dia berkerut kening dan berkata, “Kiranya tokoh andalan mereka adalah Lo-cinjin. Konon khikang orang ini tidak lemah, bagaimana menurut pengalamanmu?”

“Ya, memang tidak bernama kosong,” ujar Pwe-giok.

“Betapapun hebat Khikang nya juga tiada gunanya, sekarang racun dalam tubuh Sacek sudah dipunahkan, betapapun banyak jago mereka, datang satu sikat satu, datang dua sikat sepasang. Takut apa?!” ujar Lui-ji dengan tertawa.

Pwe-giok diam sejenak, akhirnya ia tidak tahan dan berkata, “Menurut apa yang kulihat dan kudengar sehari ini, Hong-cianpwe memang seorang berbudi luhur dan sukar dibandingi siapapun. Cuma kedatangan mereka inipun bukannya tidak beralasan.”

“O, apa alasan mereka? Coba ceritakan!” kata Lui-ji dengan mendelik.

Dengan suara berat Pwe-giok berkata, “Yaitu disebabkan tindakan nona…”

Lui-ji melonjak bangun dengan gusar, teriaknya, “Mereka pasti bilang padamu bahwa banyak orang Kangouw telah hilang, semuanya telah kubunuh, begitu bukan?”

Pwe-giok menarik nafas dalam2, jawabnya, “Ya, memang begitu kata mereka.”

“Tapi apa kau tahu sebab apa orang2 itu masuk ke rumah ini?” jengek Lui-ji.

“Tidak tahu,” jawab Pwe-giok.

“Karena ada di antaranya ingin mengganggu diriku, ada yang ingin merampok, mereka sendiri yang bermaksud jahat, makanya kubereskan mereka, salah mereka sendiri,” tutur Lui-ji. “Jika kau lihat kawanan penjahat itu, mungkin kaupun takkan mengampuni mereka.”

“Meski ucapan nona juga beralasan, tapi…”

“Tapi apa?” sela Lui-ji. “Sacek menolong orang dan akibatnya keracunan, meski dengan Lwekangnya yang kuat beliau dapat menahan bekerjanya racun, tapi juga tak dapat bertahan terlalu lama, terpaksa kami harus berusaha mendesak keluar kadar racun di dalam tubuhnya. Sebab itulah Sacek memerlukan bantuan tenaga orang lain, kalau tidak, mungkin sudah lama beliau meninggal. Nah, coba katakan Sacek yang pantas mati atau keparat2 itu yang harus mampus?”

Pwe-giok termenung sejenak, ia menghela nafas panjang, katanya, “Urusan di dunia ini memang sukar ditentukan benar dan salahnya oleh orang di luar garis. Agaknya aku… akupun salah.”

“Di dalam persoalan ini memang masih ada sesuatu yang agak luar biasa, yaitu meski Sacek dapat menggunakan semacam kungfu istimewa untuk menghisap tenaga dalam seseorang dan dipinjam pakai, akan tetapi tenaga pinjaman itu pun akan terbuang dengan sangat cepat, sebab itulah hanya sebentar saja beliau perlu mencari pinjaman tenaga baru orang lain lagi…”

“Kalau Hong-locianpwe dapat menggunakan tenaga dalamnya untuk mendesak keluar kadar racunnya, mengapa perlu menggunakan pula mahluk2 berbisa itu?” Kwe Pian-sian ikut bertanya.

“Soalnya setelah Sacek mendesak keluar racunnya, namun pori2 kulitnya akan menghisap kembali hawa berbisa yang didesak keluar itu,” tutur Lui-ji. “Semula Sacek tidak paham kejadian ini sehingga beliau membuang tenaga percuma selama beberapa bulan, akhirnya barulah disadari apa yang terjadi, maka selanjutnya mahluk2 berbisa itu lantas di kerudung di dalam selimut untuk menghisap hawa berbisa yang keluar dari tubuh Sacek… sekarang tentunya kalian paham duduknya perkara?”

Pwe-giok lantas berkata, “Setelah keracunan, Hong locianpwe telah dibuat marah lagi sehingga tenaga murninya buyar, dengan sendirinya beliau tak dapat pergi ke tempat lain dan terpaksa merawat dirinya di loteng kecil ini, begitu bukan?”

“Ya, sesudah Sacek membunuh kawanan penjahat itu, beliau sendiripun ambruk,” tutur Lui-ji. “Kalau saja Sacek tidak membawa Hoa-kut-tan sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membereskan mayat sebanyak itu.”

“O, jadi orang2 yang lenyap setelah masuk kemari, dengan sendirinya juga berkat Hoa-kut-tan?” tanya Kwe Pian-sian.

Lui-ji mendengus, katanya, “Hoa-kut-tan ini adalah obat mustajab yang sukar diperoleh, sesungguhnya terlalu boros kugunakan obat berharga itu bagi orang2 yang lebih rendah daripada binatang itu.”

Pwe-giok menghela nafas panjang, katanya, “Sebelumnya kurasakan berbagai urusan ini sangat tidak masuk di akal dan sukar dipecahkan, baru sekarang macam2 tanda tanya dalam benakku dapat terjawab dan tersapu bersih.”

Dalam pada itu, se-konyong2 Ciong Cing menjerit kaget, “Hei, li… lihatlah, mengapa… mengapa Hong-locianpwe berubah menjadi begini?”

Waktu semua orang berpaling, tertampaklah nafas Hong-sam megap2 dengan tubuh bergemetaran. Sudah jelas yang diminumnya tadi adalah obat penawar, tapi sekarang dia seperti terserang racun jahat lagi.

Keruan semua orang melongo kaget. Saking cemasnya hampir saja Cu Lui-ji menangis, dirangkulnya Hong-sam sambil berseru dengan suara ter-putus2, “Sacek, ken… kenapa kau?”

Namun mata Hong-sam terpejam rapat, bahkan tampak menggertak gigi hingga bunyi gemertak dan tak sanggup bicara.

Tidak kepalang kuatir Lui-ji, serunya, “Kalianpun melihat obat tadi jelas2 obat penawar, mengapa bisa… bisa jadi begini? Sebab… sebab apakah menjadi begini?”

Mendadak Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Ku tahu apa sebabnya.”

Lui-ji melompat ke depan Gin-hoa-nio dan bertanya dengan suara parau, “Benar kau tahu?”

“Ehmm,” Gin-hoa-nio mengangguk.

“Masa isi kotak Oh-lolo ini bukan obat penawar?” tanya Lui-ji. “Memangnya telah dicampurnya dengan racun? Atau waktu menyerahkannya kepadaku dia telah main gila dengan menukar obat penawar dengan racun?”

“Isi kotak ini memang benar2 obat penawar,” jawab Gin-hoa-nio. “Di depan kalian iapun tidak berani main gila. Umpama dia berani main2, masakah mata orang sekian banyak dapat dikelabui semua?”

“Habis kenapa jadi begini?” seru Lui-ji dengan membanting kaki.

Gin-hoa-nio menghela nafas perlahan, katanya kemudian, “Untuk membuat semacam racun dari kombinasi sekian puluh jenis bahan racun, kukira tidaklah sederhana sebagaimana bila kita membuat gado2 atau Cap-jai.”

“Ya, betul juga,” Kwe Pian-sian meng-angguk2.

“Sebab kadar racun setiap jenis racun kan berbeda-beda,” tutur Gin-hoa-nio lebih lanjut. “Bahkan ada di antara racun itu satu sama lain saling bertentangan. Apabila kau mencampurkan beberapa jenis menjadi satu, terkadang kadar racunnya malah akan lenyap sama sekali. Teori ini serupa kalau kita mencampurkan beberapa macam warna menjadi satu, kadang2 malah akan berubah menjadi warna putih.”

“Betul,” kata Kwe Pian-sian, “jika cara mencampur racun itu pekerjaan yang gampang, tidak nanti Oh-lolo mendapat nama besar di dunia persilatan.”

“Dan bila kau campur ber-puluh2 jenis bahan racun menjadi satu, maka dosis dari tiap2 jenis racun itu harus sudah ditakar dengan tepat, sedikitpun tidak boleh lebih banyak atau berkurang, perbandingan dosis inilah rahasia yang paling besar dan penting dalam hal membuat racun. Dan obat penawarnya, dengan sendirinya juga harus dibuat dengan cara perbandingan dosis yang sama pula, tidak boleh selisih sedikitpun, kalau sebaliknya, maka tidak menimbulkan khasiat apapun.”

“Ya, memang begitu,” tukas Kwe Pian-sian.

“Dan setelah lewat sekian tahun,” sambung Gin-hoa-nio lagi, “racun yang mengeram di dalam tubuh Hong-sam sianseng tentu kadarnya sudah kacau balau, sebab kadar racun ada yang berat dan ada yang ringan, ada yang sudah didesak keluar oleh tenaga dalamnya. Sebab itulah obat penawar pemberian Oh-lolo ini sama sekali tidak mempunyai khasiat menawarkan racun yang mengeram di tubuh Hong-sam sianseng, sebaliknya malah mengganggu racun yang sudah ditahan secara susah payah itu dan akhirnya racun itu buyar dan bekerja lagi.”

Dia menghela nafas, lalu menyambung pula, “Dan di sinilah letak kelihaian cara Oh-lolo menggunakan racunnya.”

Mendadak Cu Lui-ji menjambret baju Gin-hoa-nio dan membentak dengan suara parau, “Jika kau tahu sejelas ini, mengapa tak kau katakan sejak tadi?”

Gin-hoa-nio tersenyum hambar, jawabnya, “Jika kau jadi diriku, apakah akan kau katakan?”

Lui-ji jadi melengak dan tak bisa bicara. Maka Gin-hoa-nio menyambung lagi, “Mungkin juga baru saja dapat kuketahui teori yang kukatakan ini.”

Sekarang semua orangpun dapat memahami uraian Gin-hoa-nio itu, teringat bahwa dengan obat penawarnya saja Oh-lolo juga bisa bikin celaka orang, betapa keji dan betapa jauh tipu muslihatnya itu sungguh membuat orang bergidik.

Keringat tampak bercucuran dari kepala Hong-sam, jelas dia sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menghimpun kembali kadar racun yang sudah buyar itu. Melihat air mukanya yang penuh derita itu, dapatlah dibayangkan betapa gawatnya urusan ini.

Lui-ji menunduk perlahan, air matanya kembali berderai.

“Nona tidak perlu cemas,” Ciong Cing berusaha menghibur, “kalau sebelum ini Hong-sam sianseng dapat menahan bekerjanya racun, tentu akan lebih mudah baginya untuk berbuat sesuatu.”

“Mestinya betul ucapanmu, tapi… tapi tenaga Sacek sekarang sudah jauh daripada sebelum ini,” kata Lui-ji sambil menangis.

“Apalagi,” tukas Gin-hoa-nio, “Dalam keadaan gawat begini dia tidak dapat sembarangan menggerakkan tenaga murninya, sedangkan musuh akan datang dua-tiga jam lagi, lalu bagaimana baiknya?”

Dia berucap se-akan2 ikut gelisah bagi keadaan Hong-sam sianseng, padahal siapapun dapat mendengar nadanya itu mengandung rasa syukur dan senang karena orang lain mendapat celaka.

Dengan gemas Cu Lui-ji lantas mendamprat, “Memangnya kau senang ya? Hm, kalau kami mati, kaupun jangan harap akan hidup!”

Namun dengan dingin Gin-hoa-nio menjawab, “Betapapun aku sudah cacat begini, mati atau hidup bagiku tidak menjadi soal lagi.”

* * *

Sang waktu terus berlalu, perasaan semua orang juga semakin tertekan.

Meski Kwe Pian-sian tidak perlu ikut berkuatir bagi mati atau hidupnya Hong-sam sianseng, tapi bila teringat dirinya masih harus bersandar padanya untuk menghadapi kedatangan Ang-lian-hoa dan lain2, bila Hong-sam mati, semua orang yang berada di atas loteng inipun jangan harap akan hidup.

Sekarang waktunya tinggal dua jam lagi.

Mendadak Pwe-giok berbangkit dan berseru, “Nona Cu, silahkan kau bawa Hong-sam sianseng dan cepat pergi saja… yang lain2 juga silahkan pergi semua!”

“Dan.. dan kau?” tanya Lui-ji.

“Saat ini di-mana2 tentu sudah dijaga oleh mereka, tapi dengan kekuatan nona dan Kwe-heng kukira tidak sulit untuk menerjang pergi,” kata Pwe-giok. “Yang kukuatirkan hanya kalau Lo-cinjin dan rombongannya keburu menyusul kemari, maka aku…”

“Kau sengaja tinggal di sini untuk menghadangnya?” sela Lui-ji.

“Biarpun kepandaianku kurang tinggi, tapi untuk merintangi mereka sementara waktu kukira masih sanggup, dengan demikian nona dan rombongan mungkin sempat pergi agak jauh,” setelah berhenti sejenak lalu Pwe-giok menyambung pula, “sebab daripada kita menanti kematian di sini, akan lebih baik aku sendiri saja yang mengadu jiwa dengan mereka. Apalagi, orang yang hendak mereka cari bukanlah diriku, akupun belum pasti akan mati di tangan mereka.”

“Jika yang dicari mereka bukan dirimu, untuk apa kau mengadu jiwa?” tanya Lui-ji.

“Kukira setiap orang pada suatu waktu tentu rela akan mengadu jiwa, bukan?” jawab Pwe-giok.

Tiba2 Gin-hoa-nio menjengek, “Hm, tadinya kukira kau ini seorang yang sangat teliti dan hati2, dapat menghargai jiwanya sendiri, tak tersangka sekarang kaupun dapat berbuat hal2 bodoh dan emosi begini.”

“Seorang kalau tidak punya emosi, apakah dia terhitung manusia?’ jawab Pwe-giok.

Kwe Pian-sian berdiri dan siap untuk pergi, katanya dengan tertawa, “Seorang lelaki sejati harus tahu apa yang harus dilakukannya dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Ji-heng memang tidak malu sebagai seorang pendekar sejati, maka kamipun tidak enak untuk membantah kehendakmu.”

“Betul, tekadku sudah bulat, silahkan kalian lekas pergi saja,” kata Pwe-giok.

Tak terduga mendadak Hong-sam membuka mata dan menatap Pwe-giok tajam2, ucapnya dengan kereng, “Caramu bertindak ini, apakah kau kira orang she Hong ini manusia yang tamak hidup dan takut mati?”

“Sama sekali Cayhe tidak bermaksud demikian,” jawab Pwe-giok dengan menghela nafas. “Cuma…”

“Soal mati atau hidup memang sulit diramalkan, tapi bilamana menghadapi pilihan, seorang lelaki sejati kenapa mesti gentar mati?” kata Hong-sam pula dengan tegas.

“Ya, Tecu tahu,” jawab Pwe-giok.

“Jika kau tidak tahu tentu kau takkan tinggal di sini, betul tidak?”

Pwe-giok mengiakan pula.

“Jika demikian, kenapa kau suruh aku lari?” seru Hong-sam dengan gusar. “Memangnya agar aku dapat menyempurnakan keluhuran budimu sebagai seorang pendekar sejati?”

“Ah, Tecu tidak berani,” jawab Pwe-giok dengan menunduk dan kikuk.

Dengan lemas Kwe Pian-sian berduduk kembali, ucapnya dengan menyengir, “Kalau begitu, biarlah kita semua tinggal saja di sini dan bertempur mati2an menghadapi mereka. Cuma, kalau kita dapat bertahan satu jam saja sudah untung.”

Sorot mata Hong-sam tampak gemerdep, katanya pula sambil menatap Pwe-giok, “Menurut pendapatmu, apakah kita pasti akan kalah?”

Membayangkan betapa hebat kekuatan lawan, Pwe-giok menjadi ragu2 untuk menjawab, katanya dengan tergagap, “Cianpwe sendiri tidak dapat turun tangan, kemenangan pihak kita memang sukar diramalkan.”

Hong-sam menepuk tempat tidurnya keras2, ucapnya dengan bengis, “Kematianku tidak perlu disayangkan, tapi matipun aku pantang dihina orang.”

“Apapun juga Sacek tidak boleh turun tangan,” seru Lui-ji dengan kuatir.

Hong-sam memandang sekejap pula kepada Pwe-giok, lalu berkata dengan perlahan. “Jika aku dapat meminjam pakai tenaga dalam orang lain, masakah aku tidak dapat meminjamkan tenagaku kepada orang lain?”

“Jika Sacek meminjamkan tenagamu kepada orang lain, lalu cara bagaimana akan sanggup menahan serangan racun dalam tubuhmu?” kata Lui-ji dengan suara gemetar.

“Akan lebih baik aku mati keracunan daripada mati terhina,” seru Hong-sam dengan gusar. “Hanya tidak tahu adakah orang yang sudi bertempur mati2an bagiku?”

Terbeliak mata Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, kalau dapat memindahkan segenap tenaga dalam Hong-sam ke dalam tubuhnya sendiri, hal ini sungguh sangat menarik. Tapi segera terpikir pula kekuatan Hong-sam sekarang tersisa tidak banyak, andaikan sisa tenaga itu dapat dipinjamkan seluruhnya kepadanya mungkin juga sukar melawan Lo-cinjin yang maha sakti itu. Teringat demikian, hasrat mereka jadi dingin lagi.

Tiba2 Ciong Cing berkata, “Kalau Cianpwe dapat meminjamkan tenagamu kepada orang lain, mengapa tidak kau gunakan tenagamu itu untuk menghadapi musuh?”

“Tenagaku yang kusalurkan ke tubuh orang lain akan berjalan perlahan seperti air di sungai, aku sendiri mungkin dapat menyimpan sedikit sisa tenaga untuk menahan serangan racun,” tutur Hong-sam. “Sedangkan bila aku harus bergebrak dengan musuh, tenagaku akan meledak seperti air bah yang sukar ditahan. Dalam keadaan payah seperti diriku sekarang, tidak sampai tiga kali gebrak saja pasti racun akan bekerja dengan hebat dan membinasakan diriku. Apalagi pihak lawan sangat banyak dan rata2 sangat lihay, betapapun tidak mungkin dalam tiga kali gebrak kubinasakan mereka satu per satu.”

“Jika… jika demikian, entah bolehkah Tecu membantu Cianpwe?” tanya Ciong Cing dengan tergagap.

“Kau tidak dendam padaku dan bersedia membantuku, kebaikan dan keberanianmu ini sungguh harus dipuji,” jawab Hong-sam. “Cuma sayang badanmu lemah, bakatmu juga kurang, bilamana kusalurkan tenagaku, mungkin malah akan membikin celaka padamu.”

Pada waktu bicara, seperti tidak sengaja sorot matanya mengerling sekejap pula ke arah Pwe-giok.

Maka Ciong Cing lantas berkata, “Ji-kongcu, apakah… apakah engkau tak dapat…”

“Sudah tentu akupun sangat ingin membantu Hong locianpwe,” kata Pwe-giok dengan gegetun, “Tapi aku kan tidak dapat menggunakan kesempatan pada waktu orang kesempitan…”

Ciong Cing berteriak, “Ini kan keinginan Hong-locianpwe sendiri, dia yang meminjamkan tenaganya padamu, mana bisa dikatakan menggunakan kesempatan pada waktu orang kesempitan.”

Pwe-giok termenung sejenak, tiba2 ia memberi hormat dan berkata kepada Hong-sam, “Entah Hong-locianpwe sudikah menerima Tecu sebagai murid?”

Nyata, watak Pwe-giok memang jujur dan tulus, bahkan juga pintar dan cerdik. Dengan tindakannya ini, bila murid meminjam kungfu sang guru, maka soalnya jadi adil dan cukup berdasar, murid mewakilkan guru bertempur, orang lainpun tak dapat bilang apa2 lagi.

Tak terduga Hong-sam lantas menjawab, “Kau tidak mau menggunakan kesempatan pada kesempitan ku, mana aku dapat pula memperalat keluhuran budimu dan menyuruh kau mengangkat guru padaku?… Sebabnya kau mengangkat guru padaku tentunya bukan demi kepentinganmu, melainkan karena ingin membela diriku, begitu bukan?”

Pwe-giok melengak, jawabnya, “Tapi ini…”

Hong-sam tertawa dan menyela, “Jika kau sudi memanggil Hengtiang (kakak) padaku, maka puas dan senang lah aku. Hubungan antara kakak dan adik kan jauh lebih akrab daripada antara guru dan murid? Dan kalau ada saudara seperti dirimu ini menghadapi musuh bagiku, matipun aku tidak menyesal lagi.”

Belum habis ucapan Hong-sam, tanpa disuruh segera Cu Lui-ji berlutut dan menyembah kepada Pwe-giok dan memanggil paman.

Panggilan paman ini membuat Pwe-giok terkesiap dan juga bergirang. Kalau dirinya dapat mengikat saudara dengan tokoh Bu-lim yang hebat ini, tentu saja suatu kehormatan besar baginya. Tapi bila teringat betapa berat tugasnya pada pertarungannya nanti, hanya boleh menang dan tidak boleh kalah, maka perasaannya lantas mirip cuaca di luar, terasa kelam dan tertekan.

* * *

Mendadak angin meniup keras, malam semakin larut. Deru angin se-akan2 hendak merobek sukma.

Di atas loteng kecil itu tetap tiada penerangan, gelap dan hening seperti kamar mayat. Hong-sam sianseng duduk bersila di tempat tidurnya tanpa bergerak sedikitpun seperti orang mati.

Padahal setiap orang yang berada di atas loteng itu memang sudah tidak banyak bedanya daripada orang mati. Kecuali suara bernapas yang semakin berat, selebihnya tiada terdengar apa2 dan juga tiada terlihat apa2.

Lui-ji bersandar di samping Hong-sam sianseng, tidak meninggalkannya barang sedetikpun. Ia se-akan2 merasakan semacam firasat tidak baik, merasa waktunya bersandar di tubuh sang Sacek ini sudah tidak banyak lagi.

Pwe-giok juga duduk diam saja di tempatnya, dengan tekun dia bermaksud mencairkan tenaga dalam yang diperolehnya tadi agar dapat digerakkan dengan sesukanya, akan tetapi perasaannya tetap sukar untuk ditenangkan.

Hanya setengah hari yang lalu, mimpipun dia tidak pernah membayangkan akan dapat bertempur melawan seorang tokoh besar semacam Lo-cinjin. Walaupun pertempuran itu tidak dapat dikatakan dimenangkan olehnya, tapi kejadian itu cukup membuatnya bergembira.

Maklumlah, di seluruh kolong langit ini ada berapa gelintir manusia yang pernah bertempur melawan Lo-cinjin?

Sejak tadi Kwe Pian-sian terus berdiri di depan jendela, memandang jauh keluar sana, ke tengah kota yang mati seperti kuburan itu.

Entah daun jendela rumah siapa yang tidak tertutup rapat, karena tertiup angin sehingga menerbitkan serentetan suara ‘blang-blung’ yang keras. Anjing geladak yang meringkuk di pojok jalan sana terkadang mengeluarkan suara gonggongan yang menyeramkan. Panji reklame hotel Li-keh-can juga masih berkibar dihembus angin, beberapa genteng jatuh hancur tertiup angin dan menjangkitkan suara gemertak.

Malam yang dingin dan seram dengan angin puyuh sekeras ini dan suasana setegang ini, setiap suaranya cukup membuat orang merinding. Tapi kalau keadaan menjadi senyap tanpa suara, rasanya menjadi semakin menegangkan sehingga membuat dada setiap orang merasa sesak nafas.

Se-konyong2 di ujung jalan yang jauh sana muncul sebuah lentera, cahaya lentera yang guram itu tampak ber-goyang2 di bawah hembusan angin yang kencang. Tampaknya seperti api setan (cahaya phosphor) yang berkelip di kejauhan.

Kwe Pian-sian mengembus nafas panjang2, katanya, “Itulah dia… akhirnya datang juga dia!”

* * *

Datangnya kelip lentera itu sangat lambat, tapi akhirnya sampai juga di depan rumah berloteng kecil itu.

Di bawah cahaya lampu yang ber-kelip2 guram itu, kelihatan bayangan orang yang tidak sedikit dengan sorot mata yang gemerdep, setiap bayangan orang itu melangkah dengan perlahan, berat dan mantap, setiap pasang mata sama bersinar tajam penuh semangat.

Menyusul suara seorang yang lantang dan halus berucap perlahan, “Murid Thian-biau-koan dari Jingsia, Sip-hun, khusus datang kemari untuk menyampaikan surat, maka mohon bertemu.”

“Orang macam apakah Sip-hun ini?” tanya Lui-ji dengan suara bisik2.

“Murid Lo-cinjin,” jawab Pwe-giok.

Lui-ji lantas menjengek, “Hm, masuklah, pintu kan tidak terpalang!”

Selang sejenak, terdengarlah suara tangga berbunyi, seorang naik ke atas dengan perlahan. Bunyi tangga sangat perlahan dan teratur, suatu tanda orang yang datang ini sangat sabar, bahkan kungfu bagian kakinya sangat mantap.

Maka terlihatlah Tosu muda dengan wajah yang cakap dan tersenyum simpul, meski masih muda, namun sikapnya tampak alim seperti pertapa tua, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa suka padanya.

Seperti juga waktu pertama kalinya Pwe-giok bertemu dengan dia, semua orang pun heran mengapa seorang Lo-cinjin yang terkenal berangasan dan pemberang itu bisa mempunyai seorang murid sehalus ini. Keruan Cu Lui-ji sampai melotot heran.

Di dalam loteng kecil itu benar2 terlalu gelap, Sip-hun baru saja naik ke situ, ia seperti tidak dapat melihat apa2, namun sedikitpun dia tidak gugup, dia cuma berdiri tenang saja di tempatnya.

Lui-ji lantas mendengus, “Kami berada di sini semuanya, kenapa kau berdiri kesima di situ?”

Sip-hun tidak menjadi marah, juga tidak balas ber-olok2, ia hanya memandang si nona sekejap, lalu menunduk dan melangkah maju, katanya sambil memberi hormat, “Sip-hun menyampaikan salam hormat kepada Locianpwe!”

“Tidak perlu banyak adat,” jawab Hong-sam.

Dengan hormat Sip-hun menyodorkan sebuah kartu dengan kedua tangannya, katanya, “Bu-lim-bengcu Ji-locianpwe dan guruku sama menunggu di luar pintu, entah Hong-locianpwe sudi bertemu atau tidak?”

“Kalau Sacek bilang tidak, memangnya mereka takkan naik kemari?” jengek Lui-ji.

Sip-hun menjawab dengan tetap menunduk, “Tecu hanya melaksanakan tugas belaka, urusan lain tidak tahu menahu.”

“Habis apa yang kau tahu?” tanya Lui-ji.

“Apapun tidak tahu,” jawab Sip-hun.

“Hm, murid Lo-cinjin kenapa tidak becus begini?” ejek Lui-ji.

“Guru pandai tidak mempunyai murid baik, memang inilah yang selalu disesalkan oleh guruku,” kata Sip-hun dengan tersenyum.

Nyata bukan saja dalam hal bertanya-jawab Tosu muda ini selalu sopan santun, bahkan apapun orang mencemoohkan dia, semuanya dia terima tanpa membantah, sedikitpun tidak marah. Sungguh aneh.

Selama hidup Cu Lui-ji belum pernah melihat orang muda yang berwatak seramah dan sesabar ini, keruan ia menjadi melenggong sendiri.

Dalam pada itu berkatalah Hong-sam sianseng, “Lo-cinjin mempunyai murid seperti kau ini, beliau boleh dikatakan sangat bahagia dan tiada penyesalan sedikitpun.”

“Ah, Cianpwe terlalu memuji, Tecu menjadi malu diri,” jawab Sip-hun cepat sambil memberi hormat.

“Jika demikian, bolehlah kau sampaikan kepada gurumu, katakan orang she Hong menantikan kedatangannya di sini,” kata Hong-sam kemudian.

Kembali Sip-hun memberi hormat sambil mengiakan.

Perlahan ia lantas membalik tubuh dan melangkah turun, tetap ramah dan sabar, sedikitpun tidak gugup dan ter-buru2.

Lui-ji menjengek pula, “Hm, sudah jelas datang hendak membunuh orang, tapi justeru berlagak ramah segala, sungguh memuakkan!”

Suaranya cukup keras dan sengaja diperdengarkan kepada Sip-hun, akan tetapi Sip-hun tidak memberi reaksi apa2, seperti tidak mendengar saja.

Dengan suara tertahan Hong-sam sianseng berkata, “Orang2 ini sama2 berkedudukan sebagai seorang guru besar suatu aliran tersendiri, dengan sendirinya tindak tanduk mereka menjaga gengsi agar tidak menurunkan derajat mereka. Hendaklah diketahui, menghormati orang lain adalah sama dengan menghormati dirinya sendiri.”

Meski di mulut Lui-ji tidak berani bicara apa2 lagi, namun di dalam hati dia tetap penasaran dan tidak bisa menerima sikap kawanan pendatang itu.

Yang diminta naik ke atas loteng akhirnya datang juga. Mereka tetap tidak mau kehilangan sopan santun, lentera yang mereka bawa digantungkan pada tangga loteng dan tidak dibawa serta ke atas, di tengah remang2 cahaya lentera itu, seorang telah mendahului naik ke atas loteng.

Tertampak orang itu berwajah putih bersih, sikapnya tenang dan sopan. Dia inilah Ji Hong-ho.

Hendaklah diketahui, meski ilmu silat dan nama Lo-cinjin lebih tinggi setingkat daripada Ji Hong-ho, tapi jelek2 Ji Hong-ho bergelar Bu-lim-bengcu atau ketua perserikatan dunia persilatan, siapapun tidak boleh berjalan di depannya.

Diam2 Lui-ji membatin, “Hm, jelas2 mereka tahu kami takkan pergi, makanya mereka sengaja berlagak tertib dan sopan begini untuk naik ke sini, kalau tidak, mustahil kalau mereka tidak menerjang kemari seperti kawanan anjing gila.”

Begitu melihat Ji Hong-ho, seketika darah panas bergolak dalam dada Ji Pwe-giok, hampir saja ia tidak dapat menahan emosinya, syukur dia masih dapat menahan diri.

Dilihatnya Ji Hong-ho sedang memberi hormat dan berkata, “Wanpwe Ji Hong-ho dari Kanglam, sudah lama mengagumi nama kebesaran dan keluhuran budi Hong-locianpwe, hari ini Cianpwe sudah menerima kunjunganku, sungguh sangat beruntung dan berterima kasih.”

“Jadi Anda inilah Bu-lim-bengcu seluruh dunia sekarang ini?” tanya Hong-sam sianseng dengan hambar…

“Ah, tidak berani,” jawab Ji Hong-ho dengan rendah hati.

Hong-sam sianseng lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia seperti tidak sudi memandangnya lagi, se-olah2 memandang hina terhadap Bu-lim-bengcu ini dan juga rada kecewa. Dengan dingin ia hanya berkata, “Baik sekali, silahkan duduk.”

Dalam pada itu tiba2 terendus bau harum semerbak menusuk hidung, seketika air muka Kwe Pian-sian berubah, memangnya dia berduduk jauh di pojokan sana, sekarang dia malah terus melengos dan meringkuk di belakang Ciong Cing dengan sembunyi2.

Segera Ji Pwe-giok tahu Hay-hong Hujin yang telah datang. Hatinya juga mulai berdetak, ia tidak tahu apakah Lim Tay-ih ikut datang atau tidak?

Di bawah remang cahaya lentera, Hay-hong Hujin kelihatan anggun, cantik tiada bandingannya.

Iapun melihat Pwe-giok berada di situ, dia seperti tersenyum, lalu dia memberi hormat kepada Hong-sam dan berkata, “Kun Hay-hong dari Kohsoh menyampaikan salam hormat kepada Hong-kongcu, baik2kah Kongcu?”

Perempuan sejelita ini, sekalipun sama2 perempuan juga ingin memandangnya beberapa kejap lebih banyak. Siapa tahu Hong-sam sianseng tetap bersikap tawar saja, jawabnya tak acuh, “Baik, silahkan duduk.”

Menyusul muncul lagi seorang dengan baju compang-camping, gagah dan angkuh tanpa memberi hormat.

Tapi sinar mata Hong-sam lantas gemerdep, tegurnya, “Apakah ini Pangcu dari Kaypang?”

“Ya, Ang-lian-hoa,” jawab orang itu.

Tanpa menunggu dipersilahkan duduk, segera ia berduduk di ambang jendela.

Ji Hong-ho dan Kun Hay-hong masih tetap berdiri, sebab di atas loteng kecil ini hakekatnya tidak ada tempat duduk lain.

Se-konyong2 terdengar suara ‘dung’ satu kali, seorang Tojin pendek kecil melangkah ke atas loteng. Begitu mendadak dan cepat, tahu2 dia sudah muncul di ujung tangga loteng, se-olah2 cara naiknya hanya satu kali langkah saja lantas sampai di atas.

Dengan sorot mata yang tajam Tojin ini menatap Hong-sam sianseng dan menegur, “Kau inikah Hong-sam?!”

“Dan kau inikah Lo-cinjin?” mendadak Lui-ji mendahului menjawab.

Lo-cinjin menjadi gusar, “Kurang ajar! Masa namaku boleh sembarangan dipanggil oleh budak ingusan seperti kau ini?”

Tidak kurang ketusnya, Lui-ji balas menjengek, “Hm, memangnya nama Sacek juga boleh sembarangan di-sebut2 oleh orang kerdil semacam kau?”

Saking gusarnya Lo-cinjin sampai melotot, matanya se-akan2 menyemburkan api, mendadak ia berteriak, “Sip-hun, naik ke sini!”

Baru lenyap suaranya, dengan sangat hormat tahu2 Sip-hun sudah berdiri di sampingnya, katanya dengan perlahan, “Adakah suhu memberi sesuatu pesan?”

“Cara bicara budak cilik ini tidak bersih, coba kau sikat mulutnya,” bentak Lo-cinjin.

Sip-hun mengiakan.

Meski cukup cepat mulutnya mengiakan, tapi kaki tetap tidak bergerak, tetap berdiri di tempatnya.

Lo-cinjin menjadi gusar, bentaknya pula, “Ayo, kenapa tidak lekas kau hajar dia?”

Tapi Sip-hun lantas menunduk dan tetap tidak bergeser selangkahpun.

“He, apakah kau tuli?” teriak Lo-cinjin dengan murka.

“Tecu tidak tuli,” jawab Sip-hun, tetap perlahan dan halus.

“Kalau tidak tuli, kenapa tidak lekas kau hajar dia?” omel Lo-cinjin lagi.

“Tecu tidak berani,” kata Sip-hun dengan menunduk.

“Kurang ajar! Memangnya apa yang kau takuti?” damprat Lo-cinjin sambil mencak2. “Sekalipun Hong-sam akan merintangi kau, tentu aku yang akan menghadapi dia. Biarkan murid lawan murid dan guru melawan guru, kenapa kau takut, kenapa kau tidak berani?”

“Memang Tecu tidak … tidak berani,” jawab Sip-hun.

Mendadak sebelah tangan Lo-cinjin terus menampar, ‘plok’, kontan muka Sip-hun merah bengap.

“Kau mau maju ke sana tidak?” bentak Lo-cinjin dengan murka.

Meski muka Sip-hun seketika tembem seperti kue apem karena gamparan sang guru, tapi dia tetap tenang dan sabar, sedikitpun tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, jawabnya dengan suara halus, “Selamanya Tecu tidak berani bergebrak dengan kaum wanita.”

Kontan Lo-cinjin berjingkrak dan menampar pula sambil membentak, “Bila perempuan itu akan membunuh dirimu, apakah akan kau julurkan kepalamu untuk dipenggal sesukanya?”

Sembari berjingkrak, sekaligus ia telah menggampar beberapa kali.

Sip-hun tetap berdiri diam saja, semua gamparan sang guru itu diterima tanpa menghindar dan tidak mengelak, malahan dengan tersenyum ia menjawab, “Nona cilik ini kan tidak bermaksud membunuh diriku.”

Semua orang sama melongo heran dan geli menyaksikan pertunjukan gratis tersebut. Sungguh tak terbayangkan oleh mereka bahwa di dunia ini terdapat guru begini dan juga murid demikian.

Lui-ji sangat senang juga menyaksikan pertunjukan lucu itu, diam2 iapun mendongkol terhadap Tojin pemberang itu, ia tidak tahan, tiba2 ia berkata pula, “Yang ku maki adalah dirimu, mengapa kau tidak berani turun tangan sendiri?”

Lo-cinjin berjingkrak seperti orang kebakaran jenggot, teriaknya murka, “Jika aku bergebrak dengan budak ingusan seperti kau ini, apakah takkan ditertawakan orang hingga copot giginya?”

“Huh, tiada hujan tanpa angin menghajar muridnya secara tidak se-mena2, apakah perbuatan demikian tidak takut ditertawakan orang hingga copot giginya?” jengek Lui-ji.

Semua orang mengira Lo-cinjin pasti akan tambah murka dan bukan mustahil sekali hantam Cu Lui-ji bisa dibinasakannya.

Tak terduga, sampai sekian lama Lo-cinjin melototi anak dara itu, akhirnya, bukannya murka, sebaliknya ia malah bergelak tertawa dan berseru, “Hahaha! Sungguh budak yang hebat, besar amat nyalimu!”

Bahwa dia tidak menjadi marah, semua orang jadi melengak pula.

Dalam pada itu Hay-hong Hujin sedang memandangi Cu Lui-ji, tiba2 ia bertanya dengan suara lembut, “Eh, adik cilik, berapakah usiamu tahun ini?”

Dengan acuh tak acuh Lui-ji menjawab, “Kukira selisih tidak banyak dengan engkau?”

“Selisih tidak banyak?” Hay-hong Hujin menegas dengan tertawa geli. “Apakah kau tahu berapa umurku?”

Lui-ji tidak lantas menjawab, ia pandang orang sejenak, lalu menjawab dengan sikap sungguh2, “Melihat wajahmu, kukira usiamu kira2 baru dua puluhan.”

“Apa iya!?” ucap Hay-hong Hujin dengan tertawa, tanpa terasa ia meraba mukanya sendiri.

“Dan kalau melihat tubuhmu, kukira juga baru berumur dua puluhan,” kata Lui-ji pula sambil memandangi tubuh orang yang bernas itu.

Maka senanglah hati Hay-hong Hujin, ia tertawa nyaring seperti bunyi keleningan, katanya, “Ai, adik cilik ini benar2 pintar bicara.”

Maklumlah, setiap perempuan di dunia ini tentu suka dipuji. Tiada seorang perempuan yang tidak senang kalau orang memujinya masih cantik dan awet muda. Lebih2 perempuan yang sudah setengah baya, biarpun muka sudah mulai keriput, tapi pasti gembira kalau orang bilang dia baru berumur delapan belas.

Dengan lagak seperti sangat kagum Lui-ji lantas berkata pula, “Apalagi kalau melihat tangannya yang putih dan halus ini, kukira umurmu paling2 baru delapan belas.”

Hay-hong Hujin tertawa senang pula, tanpa terasa ia menjulurkan kedua tangannya, se-akan2 hendak dipertunjukkan kepada semua orang.

Di luar dugaan, dengan perlahan Lui-ji lantas menyambung lagi, “Dan kalau ketiga macam tadi dijumlahkan, total jenderal menjadi 58, maka kukira umurmu belum lagi genap 60, betul tidak?”

Ucapan Lui-ji ini hampir saja meledakkan tertawa semua orang, sampai2 Hong-sam yang selalu bersikap dingin itupun merasa geli.

Akan tetapi di hadapan Hay-hong Hujin, siapapun tidak berani tertawa.

Sudah barang tentu, yang paling runyam adalah Hay-hong Hujin sendiri, sungguh ia tidak menyangka dirinya akan terkecoh oleh seorang dara cilik, seketika ia menjadi merah padam dan tidak dapat bersuara lagi.

Syukurlah Pwe-giok lantas bertindak. Betapapun ia masih ingat kebaikan Hay-hong Hujin ketika menemuinya di bawah sinar purnama dengan lautan bunga yang semerbak itu. Iapun teringat kepada murid Hay-hong Hujin, yaitu Lim Tay-ih, tunangannya atau calon isterinya. Maka ia coba menyimpangkan persoalan dan bertanya kepada Ji Hong-ho, “Yang berkunjung kemari apakah cuma Anda berempat saja?”

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Kami tahu tempat kediaman Hong-locianpwe ini agak kurang leluasa menerima kunjungan orang banyak, sebab itulah beberapa sahabat terpaksa kami tinggalkan menunggu di bawah sana.”

Cu Lui-ji mendengus, “Hm, tentunya kau kira melulu kalian berempat saja sudah lebih daripada cukup untuk menghadapi kami bukan? Atau, kalian kuatir kami akan lari, maka lebih dulu begundal kalian telah diatur menjaga di sekitar tempat ini?”

Ji Hong-ho tidak menjadi marah, dengan tak acuh ia menjawab, “Nona memang pintar bicara, tapi kalau nona mengira dengan kata2 yang tajam dapat kau bikin jeri kami, maka salahlah kau. Coba pikirkan, dengan tokoh2 besar seperti Lo-cinjin dan Hay-hong Hujin ini, apakah beliau ini sudi bertengkar mulut dengan seorang nona cilik hanya untuk kepuasan seketika saja?”

“Tapi mengapa sekarang kau sendiri bertengkar mulut denganku?” jawab Lui-ji. “Memangnya karena kau merasa harga diri dan kedudukanmu terlebih rendah?”

Ji Hong-ho jadi melengak dan mendongkol, ia pikir kalau adu mulut dengan seorang anak dara hanya akan menurunkan pamornya sendiri saja, terpaksa ia berlagak tidak dengar olok2 Cu Lui-ji, ia berdehem, lalu berkata terhadap Hong-sam, “Maksud kedatangan kami ini, kukira Hong-locianpwe tentunya sudah tahu.”

“Oo!” demikian Hong-sam sianseng hanya bersuara seperti orang ingin tahu.

Ji Pwe-giok juga berdiri tenang dan mendengarkan di samping.

Lalu Ji Hong-ho menyambung ucapannya, “Tentunya Hong-locianpwe juga tahu bahwa orang yang kami cari dan akan kami ambil ialah nona Cu ini.”

“Ooo?” kembali Hong-sam bersuara seperti keheranan.

Maka Ji Hong-ho melanjutkan lagi, “Soalnya nona Cu ini beberapa tahun akhir2 ini telah berbuat berbagai urusan yang menimbulkan rasa ketidakpuasan para kawan Kangouw. Dalam kedudukanku selaku Bengcu, terpaksa kupenuhi permintaan orang banyak dan secara sembrono berkunjung kemari demi mencari keadilan. Dalam hal ini, asalkan Hong locianpwe dapat memakluminya dan membiarkan kami membawa pergi nona Cu ini, maka Cayhe akan menjamin persoalan ini pasti akan ku selesaikan secara adil dan jujur, bahkan pasti takkan mengganggu ketenangan Hong-locianpwe yang perlu tetirah lebih lama lagi.”

“Ooo!?” lagi2 Hong-sam hanya bersuara singkat saja.

Ber-turut2 ia bersuara ‘O’ tiga kali tanpa memberi reaksi sedikitpun. Hal ini membuat Ji Hong-ho jadi melengak malah, sebab ia tidak tahu apa artinya ‘O’ itu, apakah setuju dan menerima dengan baik atau menolak permintaannya?”

Sampai sekian lama baru terdengar Hong-sam sianseng menghela nafas panjang, lalu berkata, “Bahwa kau berani datang kepada orang she Hong untuk mengambil orang, sungguh nyalimu tergolong tidak kecil.”

Ji Hong-ho tertawa hambar, ucapnya, “Ini disebabkan Hong-sam sianseng sekarang sudah bukan lagi Hong-sam sianseng di masa dahulu.”

Hong-sam tidak menjadi marah. Tiba2 sorot matanya beralih ke arah Lo-cinjin, katanya, “Yang bicara adalah dia, yang akan bertempur mungkin ialah dirimu, begitu bukan?”

Lo-cinjin bergelak tertawa, jawabnya, “Hahahaha! Memang betul, walaupun Hong-sam sekarang sudah bukan lagi Hong-sam dahulu, tapi apapun juga, kecuali diriku, mungkin belum juga ada orang yang mampu melawan kau.”

“Hehe, bagus,” jengek Hong-sam sianseng. “Site (adik ke empat, maksudnya Ji Pwe-giok), bolehlah kau maju bergebrak dengan dia.”

Pwe-giok mengiakan terus melompat maju, ucapnya sambil memberi hormat kepada Lo-cinjin. “Silahkan Totiang memberi petunjuk beberapa jurus.”

Bahwa yang ditantang ialah Hong-sam sianseng dan dia tidak maju sendiri, juga bukan Cu Lui-ji yang maju melainkan Ji Pwe-giok yang diajukan sebagai jagonya, hal ini benar2 di luar dugaan siapapun juga. Lo-cinjin, Ji Hong-ho, Ang-lian-hoa, dan Kun Hay-hong sama melenggong bingung.

Segera Lo-cinjin berteriak dengan gusar, “Busyet! Masa kau suruh aku bergebrak dengan bocah yang masih berbau pupuk ini. Memangnya apa maksudmu sebenarnya?”

“Masa maksudnya tidak kau pahami?” tanya Cu Lui-ji dengan perlahan.

“Ya, aku justeru tidak paham!” teriak Lo-cinjin.

“Rupanya tidak cuma badanmu saja kerdil, otakmu juga kerdil,” demikian Lui-ji ber-olok2. “Soalnya hanya dengan sedikit kemahiran mu ini lantas ingin bergebrak dengan Sacek sendiri, maka kau masih ketinggalan sangat jauh. Kelak kalau kejadian ini tersiar, bukankah di dunia Kangouw akan ramai orang bilang Sacek hanya mampu mengalahkan seorang kecil macam kau.”

Seketika Lo-cinjin berjingkrak pula, kembali ia meraung gusar, “Tapi kenapa aku juga disuruh bergebrak dengan anak ingusan ini? Sedangkan mengalahkan muridku saja dia tidak mampu…”

“Hm, berdasarkan apa kau berani meremehkan dia?” jengek Hong-sam sianseng. “Seumpama Hong-sam sekarang bukan lagi Hong-sam dahulu, akan tetapi Ji Pwe-giok sekarang jelas juga bukan Ji Pwe-giok pada waktu yang lalu.”

Sinar mata Ji Hong-ho tampak gemerdep, tiba2 ia berkata, “Jika demikian, jadi urusan hari ini cukup diandalkan padanya dan segala persoalannya akan dapat diputuskan berdasarkan pertempurannya ini?”

“Ya, begitulah!” jawab Hong-sam sianseng dengan tegas.

“Dan kalau dia kalah, lalu bagaimana?” tanya Ji Hong-ho.

“Bila Sicek (paman ke empat) kalah, segera ku ikut pergi bersama kalian dan terserah akan diapakan kalian!” seru Lui-ji lantang.

“Apakah ucapan ini dapat dipercaya?” tanya Ji Hong-ho pula.

“Hm, orang macam kau juga berani menyangsikan kepercayaanku?” jengek Hong-sam sianseng.

Terunjuklah rasa kegirangan pada sinar mata Ji Hong-ho, cepat ia berseru, “Jika demikian, ayolah Totiang, lekas turun tangan, mau tunggu kapan lagi?”

“Kau juga menyuruh aku bergebrak dengan anak kemarin ini?” raung Lo-cinjin.

Dengan tersenyum Ji Hong-ho menjawab, “Tapi Ji-Kongcu ini sekarang sudah menjadi saudara Hong-sam sianseng, bila Totiang bergebrak dengan dia kan tidak dapat dianggap orang tua melabrak anak muda lagi?”

“Betul,” tukas Hay-hong Hujin, “jika saudara Hong-sam sianseng yang bergebrak dengan Totiang, apapun juga tak dapat dikatakan telah menurunkan derajat Totiang.”

“Akan tetapi, bagaimana dengan janji pihak kalian apabila Totiang kalian yang kalah?” tanya Lui-ji tiba2.

Kembali Lo-cinjin berjingkrak, teriaknya dengan gemas, “Jika aku kalah, segera aku menyembah padanya dan memanggilnya Suhu!”

“Wah, untuk ini kukira tidak perlu,” kata Lui-ji dengan tertawa. “Jika Sicek menerima seorang murid yang setiap hari senantiasa marah2 saja seperti dirimu ini, bisa jadi Sicek akan kepala pusing tujuh keliling.”

Lo-cinjin meraung pula dengan gusar, “Dalam 50 jurus, bilamana tidak dapat ku robohkan dia, seketika juga ku angkat kaki dari sini.”

Sebenarnya dia masih enggan bertarung dengan Pwe-giok yang dianggapnya tidak sepadan.

Tapi sekarang dia sudah benar2 murka sehingga berubah menjadi tidak boleh tidak harus bertarung dengan Pwe-giok, kini tiada seorangpun yang dapat mencegah akan niatnya itu.

Dengan tertawa Lui-ji menjawab, “Jangankan cuma 50 jurus… jadikan saja 500 jurus juga belum tentu dapat kau sentuh ujung baju Sicek. Hanya saja, meski demikian pernyataanmu, lalu bagaimana pula dengan begundalmu itu?”

“Baiklah, jadi 500 jurus begitu,” kata Ji Hong-ho dengan tersenyum. “Dalam 500 jurus itu bila Lo-cinjin tidak dapat mengalahkan Ji-kongcu ini, seketika juga kami akan angkat kaki dari sini dan takkan mengganggu gugat padamu lagi.”

“Apakah pernyataannya juga mewakili kau?” tanya Lui-ji sambil memandang Hay-hong Hujin.

“Ji-kongcu adalah sahabatku, yang kuharap semoga Lo-cinjin hanya merobohkannya saja tanpa melukainya,” ucap Hay-hong Hujin dengan tersenyum.

“Dan kau?” tanya Lui-ji terhadap Ang-lian-hoa.

Sinar mata Ang-lian-hoa tampak guram, siapapun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ketua Kaypang ini. Dia hanya menjawab dengan dingin, “Setuju!”

Semua orang, termasuk Ang-lian-hoa, siapapun tidak percaya Ji Pwe-giok mampu melawan Lo-cinjin hingga 500 jurus. Sebab mereka sudah sama menyaksikan kepandaian Pwe-giok, kalau anak muda itu mampu melawan Sip-hun hingga 500 jurus, hal ini boleh dikatakan cukup hebat, dan sekarang kalau dia sanggup menahan 50 kali serangan Lo-cinjin, maka hal ini benar2 suatu keajaiban.

“Jika sudah diputuskan begini, jadi semua orang sudah setuju, tiada orang lain lagi yang bakal rewel?” demikian Lui-ji menegas.

“Siapa yang berani rewel?” Lo-cinjin meraung pula. “Jika ada yang berani rewel, segera kupuntir kepalanya di sini juga.

Dia seperti tidak sabar lagi, segera ia berteriak pula, “Nah, bocah she Ji, ayolah mulai serang dulu, aku akan mengalah tiga jurus padamu.”

Sejak tadi Pwe-giok diam2 saja tanpa memberi komentar.

Ia tahu tugas yang dipikulnya sekarang maha berat, sesungguhnya dia sangat tegang dan rada kebat-kebit, tapi ketika benar2 sudah berhadapan dengan Lo-cinjin, rasa tegangnya lantas mulai kendur.

Diam2 ia berkata kepada dirinya sendiri, “Sabarlah! Apapun juga Lo-cinjin juga cuma seorang manusia belaka, kenapa aku harus jeri kepadanya?”

Karena lagi memikirkan dirinya sendiri, apa yang dipercakapkan orang lain tiada satu katapun diperhatikannya, apa yang diperbuat orang lain juga sama sekali tidak dilihatnya. Perhatiannya kini sudah tercurahkan seluruhnya ke tubuh Lo-cinjin saja.

Tiba2 ia melihat kedua mata Lo-cinjin, kedua alisnya dan kedua tangannya tidak sama rata besarnya, yang sebelah kanan lebih kecil sedikit daripada yang sebelah kiri. Pada lubang hidungnya kelihatan menongol tiga utas rambut hitam dan sangat kasar, rambut hidung itu terlalu panjang hingga ber-getar2 di atas bibir. Pada leher bajunya di depan dada ada sebagian tergores robek sehingga kelihatan baju dalamnya yang putih.

Lalu diketahui pula kelopak mata kiri Lo-cinjin sedang me-lonjak2, mungkin sedang kedutan, ujung mulutnya juga ber-kerut2 seperti orang kejang. Kelima jari tangan kanan juga sama bergemetar, tapi jari tangan kiri terjulur kaku lurus.

Apa yang dilihat Pwe-giok itu sebenarnya sedikitpun tidak menarik perhatian orang, akan tetapi dalam keadaan perhatian Pwe-giok lagi dipusatkan kepada Lo-cinjin seorang saja, setiap ciri yang paling kecil, tiba2 berubah menjadi begitu leas dan begitu nyata baginya.

Selamanya belum pernah Pwe-giok memperhatikan seseorang dengan sedemikian cermat, selamanya pula tak terpikir olehnya akan dapat melihat keadaan seseorang dengan sedemikian jelas.

Ia masih terus memandangnya, sampai akhirnya hidung Lo-cinjin itu bagi pandangannya itu seolah2 telah berubah menjadi sebesar mangkuk, berapa banyak pori2 di atas hidung orang rasanya seperti dapat dilihatnya dengan jelas…

* * *

Lo-cinjin sedang berteriak dan meraung, namun Pwe-giok seperti tidak mendengarnya. Sudah dua kali Lo-cinjin mendesaknya agar anak muda itu lekas mulai, tapi dia masih tetap berdiri tenang seperti orang linglung, sedikitpun tidak bergerak.

Semua orang menjadi heran, ada yang berpikir, “Jangan2 anak muda ini menjadi ketakutan dan kesima.”

Tanpa terasa tersembul senyuman girang pada ujung mulut Ji Hong-ho.

Lo-cinjin tidak sabar lagi, kembali ia berjingkrak dan meraung, “He, apakah kau…”

Di luar dugaan, sekali ini baru saja kakinya melonjak dan suaranya baru saja bergema, Ji Pwe-giok yang kelihatannya linglung seperti patung itu mendadak melompat maju secepat terbang. Secepat kilat telapak tangannya juga lantas menabas ke dengkul Lo-cinjin.

Hendaklah dipahami bahwa tokoh besar seperti Lo-cinjin ini, kungfunya boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan yang terlebur menjadi satu dengan jiwa raganya. Pada waktu biasa, setiap gerak geriknya, sengaja atau tidak sengaja selalu bertindak sesuai dengan kungfunya.

Seperti halnya seorang penari mahir, setiap gerak geriknya pada waktu biasa juga pasti bergaya jauh lebih indah daripada orang lain.

Sebab itulah, meski Lo-cinjin tampaknya berdiri seenaknya, namun seluruh tubuh se-akan2 juga senantiasa terjaga rapat dan tiada setitik lubangpun untuk diserang.

Tapi, tidak perduli siapapun juga, bilamana sedang marah, selagi berjingkrak seperti orang kebakaran jenggot, maka setiap gerakannya tentu juga rada teledor, apalagi kalau kedua kaki sudah terapung di udara dan bukan lagi menendang lawan, maka di bagian bawah pasti akan memperlihatkan ciri kelemahan.

Dengan memusatkan segenap perhatiannya mengamati lawan, tujuan Pwe-giok justeru ingin mencari titik kelemahan Lo-cinjin. Maka begitu lawan memperlihatkan kelemahan pada bagian bawahnya, serentak dia melesat maju, tebasan telapak tangannya justeru menyerang titik yang paling lemah di tubuh lawan pada sat itu, bagian yang hampir tidak terjaga sama sekali.

Tentu saja Lo-cinjin terkejut, perawakannya yang kurus kecil itu se-konyong2 berputar di udara, sekaligus kaki dan tangannya balas menyerang Pwe-giok .

Gerakan mengelak sambil balas menyerang atau menyerang untuk menyelamatkan diri ini ternyata tindakan yang tepat dan hebat. Di sini terbukti bahwa Lo-cinjin memang tidak malu disebut sebagai tokoh kelas top pada jaman ini, sekalipun menghadapi bahaya tetap tidak bingung.

Pada saat itulah Cu Lui-ji lantas menjengek, “Huh, mau mengalah tiga jurus? Hm…!”

Seperti diketahui, tadi Lo-cinjin menyatakan hendak memberi tiga jurus kepada Pwe-giok. Tapi sekarang dia bukan cuma mengelak saja, tapi balas menyerang, dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai jurus mengalah.

Mendadak terdengar Lo-cinjin bersuit panjang, di tengah suara suitan nyaring itu tahu2 tubuhnya sudah menyurut mundur ke belakang.

Padahal tangan dan kakinya sedang menyerang ke depan, tapi mendadak tubuhnya dapat menyurut mundur dalam keadaan terapung, kelihatannya jadi seperti ada orang menariknya dari belakang.

Kejadian ini bila dilihat orang biasa, mungkin akan menyangka Tojin kecil itu mahir ilmu gaib atau sedang main sulap.

Tapi yang hadir di atas loteng ini sekarang hampir boleh dikatakan seluruhnya terdiri dari jago2 silat kelas satu, semuanya dapat melihat suara suitan Lo-cinjin tadi bukannya tidak ada gunanya. Dengan bersuit itulah Lo-cinjin mengerahkan hawa murni di dalam tubuhnya dan dipancarkan. Karena pancaran hawa murni inilah tubuhnya lantas tertolak mundur.

Soal sebab apa pancaran hawa itu dapat membuat orang berbalik terdorong ke belakang, teori ini dengan sendirinya belum dapat dimengerti orang pada jaman itu. tapi di sini pula setiap orang dapat menyaksikan betapa hebat Khikang (ilmu mengerahkan hawa dalam perut) Lo-cinjin.

Sampai2 Ang-lian-hoa yang tidak suka sembarangan memuji orang, tanpa terasa iapun berseru, “Khikang yang hebat!”

Ji Hong-ho tersenyum puas dan bangga, tanyanya pada Ang-lian-hoa, “Menurut pendapat Pangcu, Ji-kongcu ini kira2 mampu menahan berapa jurus serangan Cinjin?”

Wajah Ang-lian-hoa menampilkan perasaan sayang dan menyesal, jawabnya sesudah berpikir sejenak, “Kukira paling banyak hanya antara seratus jurus saja.”

Ji Hong-ho lantas berpaling ke arah Hay-hong Hujin dan bertanya dengan tersenyum, “Dan bagaimana pandangan Hujin?”

“Pandangan Ang-lian-pangcu maha tajam, masakan pendapatnya bisa keliru?” ujar Hay-hong Hujin dengan tersenyum.

Sejak awal hingga sekarang Hay-hong Hujin dan Ang-lian-hoa sama sekali tidak memandang barang sekejap pun ke arah Kwe Pian-sian, se-olah2 di pojok sana hakekatnya tidak terdapat sesuatu, apalgi ada orang bersembunyi di situ.

Tentu saja diam2 Kwe Pian-sian bergirang karena jejaknya tidak diperhatikan lawan yang ditakuti itu. Tapi sekarang demi mendengar ucapan mereka, seketika hatinya cemas. Pikirnya, “Loteng ini hanya sejengkal luasnya, sekalipun aku bersembunyi di sudut segelap ini, mustahil dengan ketajaman mata mereka tak dapat melihat diriku? Jelas mereka yakin benar2 tiada seorangpun di atas loteng ini yang mampu lolos, makanya mereka sengaja berlagak tak acuh terhadapku.”

Berpikir demikian, seketika keringat dingin membasahi tubuhnya.

Dalam pada itu Lo-cinjin benar2 telah mengalah tiga jurus kepada Pwe-giok, kini dia sudah mulai melancarkan serangan balasan.

Gaya serangannya tiada memperlihatkan sesuatu tipu istimewa atau gerakan yang luar biasa, tampaknya tidaklah sesuai dengan nama kebesarannya.

Akan tetapi setelah belasan jurus, daya tekanannya mulai kelihatan hebatnya, serangannya tambah mantap dan berat.

Gaya serangannya memang tiada sesuatu perubahan yang istimewa dan mengherankan, akan tetapi antara jurus serangan yang satu dengan serangan berikutnya terpadu sedemikian rapatnya, terkadang antara dua jurus kelihatan berlawanan, gerak tangan dan arah yang dituju jelas berbeda. Bila orang lain yang memainkan dua jurus serangan demikian pasti akan kerepotan atau kalau bisa tentu juga sangat dipaksakan, namun bagi Lo-cinjin ternyata dapat dimainkan dengan sangat lancar dan serasi se-olah2 jurus yang satu dengan jurus lain memang sambung menyambung.

Semula Cu Lui-ji rada meremehkan Tojin kerdil ini, diam2 ia lagi melengak, “Hm, rupanya Lo-cinjin yang termasyhur juga cuma begini saja kemampuannya.”

Akan tetapi setelah mengikuti beberapa jurus lagi, mau-tak-mau perasaannya mulai tertekan.

Gerak serangan Lo-cinjin yang kelihatannya lumrah saja itu, makin dipandang makin lihay dan makin menakutkan. Serangannya tidak banyak variasinya, kalau menghantam ya menghantam begitu saja seperti sebuah martil besar atau sebuah kapak raksasa, tapi serangan demi serangan susul menyusul, sambung menyambung tanpa putus.

Melihat gencarnya serangan Lo-cinjin itu, para penonton saja merasa tegang sehingga bernapas saja hampir2 tak sempat, apalagi Ji Pwe-giok yang langsung menghadapi serangan dahsyat itu.

Dalam cemasnya, Cu Lui-ji coba memandang Hong-sam sianseng sekejap, meski di mulut tidak bersuara, namun sorot matanya tiada ubahnya seperti ingin bertanya, “Apakah Sacek yakin jago kita akan sanggup menahan 300 jurus serangan lawan?”

Tak terduga Hong-sam sianseng malah terus memejamkan matanya, terhadap pertarungan mati2an, pertarungan yang menyangkut mati atau hidup, pertarungan yang menyangkut hina atau jaya namanya itu, sama sekali ia tidak menghiraukan lagi.

Hanya sekejap saja 30 jurus lebih sudah berlangsung, setiap jurus serangan Lo-cinjin semakin dahsyat dan tambah lihay. Tampaknya Pwe-giok hanya mandah diserang saja, sampai2 tenaga untuk balas menyerang saja sudah tidak ada lagi.

Begitu berat rasanya Pwe-giok menghadapi lawannya terbukti dari sikapnya yang kelihatan prihatin, setiap kali dia hendak bergerak, tampaknya kudu berpikir lebih dulu. Padahal pertarungan di antara tokoh silat kelas tinggi mana ada peluang baginya untuk berpikir segala.

Maka setelah mendekati 50 jurus, unggul dan asor atau kalah dan menang tampaknya sudah jelas, sudah pasti. Semua orang yakin, apabila Ji Pwe-giok sanggup bertahan sampai 100 jurus lebih, maka hal inipun sudah terhitung ajaib.

Tiba2 terdengar Ji Hong-ho berkata dengan tertawa, “Haha, pertarungan sebagus ini, sungguh jarang ditemui selama ratusan tahun ini. Kalau tontonan menarik ini di-sia2kan, sungguh terasa sangat sayang.”

Dengan tersenyum Sip-hun lantas menanggapi, “Jika demikian, biarlah Tecu mengerek semua kerai jendela loteng ini agar setiap orang dapat ikut menyaksikannya, boleh?”

“Hah, bagus sekali usulmu!” seru Ji Hong-ho dengan bergelak.

Tanpa menunggu perintah lagi, terus saja Sip-hun melipat semua kerai jendela.

Suara angin di luar masih men-deru2 dan menyeramkan, malam tambah kelam, bumi dan langit se-olah2 penuh 0064iliputi oleh suasana ketegangan.

Di atas wuwungan rumah di sekeliling loteng kecil itu ternyata sudah penuh ditongkrongi orang, semuanya ingin menonton pertarungan menarik ini meski harus menahan dinginnya udara malam. Dan begitu kerai jendela dikerek, seketika orang yang menongkrong di atas wuwungan rumah itu bertambah banyak.

Tadi Kwe Pian-sian bermaksud kabur pada waktu keadaan kemelut, tapi sekarang barulah ia sadar biarpun mendadak dia tumbuh sayap juga jangan harap akan dapat mabur.

—–

Bagaimana akhir daripada pertarungan sengit Ji Pwe-giok melawan Lo-cinjin yang pemberang tapi maha lihay itu?

Intrik apa di balik alasan ‘Ji Hong-ho’ yang bermaksud menangkap Cu Lui-ji?

Bagaimana nasib Kwe Pian-sian menghadapi Hay-hong Hujin dan Ang-lian-hoa yang sangat ditakutinya itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: