Kumpulan Cerita Silat

29/05/2010

Renjana Pendekar – 19

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 10:23 pm

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)

Setelah melayang keluar dari biara itu, detak jantung Ji Pwe-giok belum lagi hilang.

Sesungguhnya siapakah gerangan orang yang telah menyelamatkannya?

Pada detik yang paling gawat itu, dia hanya merasa ada angin keras menyambar lewat di atas kepalanya dan mengenai dada Dian Ce-hun.

Tapi tenaga yang maha dahsyat dan tidak kelihatan itu bukan dikeluarkan oleh si Tojin jubah biru, sebab dia dan muridnya berdiri di depan Pwe-giok, sedangkan tenaga serangan yang tidak kelihatan itu datangnya dari belakangnya.

Sungguh Pwe-giok tidak tahu siapakah yang telah menolongnya dan sebab apa menolongnya? Tenaga pukulan sekuat itu hakekatnya belum pernah dilihatnya selama ini.

Sekilas ia telah menoleh dan memandang ke arah datangnya tenaga pukulan dahsyat itu, dilihatnya ranting pohon bergoyang, namun tiada bayangan seorangpun yang terlihat.

Selain tenaga dalamnya maha dahsyat, ginkang orang itupun sangat mengejutkan. Di dunia ini ternyata masih ada tokoh kosen begini, sebelumnya mimpipun tak pernah dibayangkan Pwe-giok. Baru sekarang ia tahu tokoh ajaib di dunia persilatan ini masih sangat banyak dan sukar dijajaki.

Ia menghela nafas panjang. Mendadak didengarnya daun pohon gemerisik di depan sana, sesosok bayangan orang melayang tiba dan menghadang di depannya, sambil bergelak tertawa orang itu berseru, “Hahaha, setelah kau lukai putera tunggal gabungan tujuh keluarga Dian, lalu kau hendak angkat kaki begitu saja?”

Suara tertawanya keras bagai bunyi genta. Siapa lagi dia kalau bukan si Tojin jubah biru.

Pwe-giok terkesiap dan menyurut mundur, ia lantas memberi hormat dan menjawab, “Pandangan Totiang maha tajam, tentunya sudah tahu bahwa tadi bukan Cayhe yang turun tangan selihay itu.”

“Habis siapa?” tanya Tojin jubah biru dengan sinar mata gemerdep.

“Untuk itu justeru Cayhe ingin mohon petunjuk kepada Totiang,” ujar Pwe-giok.

Tojin itu menjadi gusar, katanya, “Jadi kaupun tidak tahu siapa yang telah menyelamatkan kau?”

“Kalau Totiang saja tidak dapat melihat jelas siapa gerangannya, mana Cayhe mempunyai mata setajam itu?” jawab Pwe-giok.

“Jadi maksudmu mataku ini kurang tajam?” Tojin itu bertambah gusar. “Huh, orang yang suka bertindak secara sembunyi2 begitu mana ada harganya kuperhatikan.” Mendadak ia menarik leher baju Pwe-giok dan bertanya dengan sekata demi sekata, “Dia Hong-sam atau bukan?”

Dengan tak acuh Pwe-giok menjawab, “Memangnya Hong-sam sianseng orang yang suka main sembunyi2 begitu?”

“Bukan Hong-sam, habis siapa?” hardik Tojin itu dengan suara bengis. “Hanya dengan sepotong ranting kayu saja orang itu mampu melukai putera Dian Jit hingga tumpah darah, kecuali diriku dan Hong-sam, siapa pula yang sanggup berbuat demikian?”

“Sesungguhnya Cayhe memang juga tidak percaya masih ada orang lain,” ujar Pwe-giok.

Sejenak Tojin itu melototi anak muda itu, katanya kemudian, “Apapun juga, Dian cilik terluka pada waktu bergebrak dengan kau, bilamana Dian tua tahu, mana dia mau mengampuni kau? Antara ke tujuh Dian bersaudara itu, ke enam orang yang tua masih mendingan, tapi Dian Jit… haha, kalau dia mau merecoki kau, biarpun kau lari ke langit atau masuk ke bumi juga tak dapat lari.”

“Cayhe sendiri tidak bermaksud lari,” ujar Pwe-giok.

“Tidak lari? Memangnya kau kira sanggup melawan dia?” jengek Tojin jubah biru.

“Cayhe juga tidak bermaksud melawan dia,” kata Pwe-giok pula.

“Tidak lari juga tidak melawan, memangnya kau ada akal lain? Kau kira Dian Jit mau bicara aturan dengan kau?”

Pwe-giok berdiam sejenak, katanya kemudian dengan tak acuh, “Urusan sudah kadung begini, kukira nanti akan ada akal.”

“Busyet, masih muda belia, cara bicaramu se-olah2 sudah kakek2,” kata Tojin itu dengan tertawa. “Jika kau tidak punya akal, aku sudah mempunyai akal.”

“Mohon petunjuk Totiang,” kata Pwe-giok.

“Kalau kau mengangkat guru padaku, kujamin di dunia ini tiada orang berani mengganggu satu jarimu.”

“Mengangkat guru kepada Totiang?” Pwe-giok menegas dengan melengak.

“Ya, jangan kau kira aku sukar mencari murid maka ku penujui kau,” teriak Tojin itu, “hanya lantaran kulihat kau ini lumayan, pemberani dan keras kepala, biarpun Dian cilik telah memancing kau dengan berbagai cara, ternyata kau tetap tidak mau mengkhianati aku.”

“Hah, kiranya Totiang telah mendengar ucapannya,” Pwe-giok tertawa geli.

“Bila tidak kudengar ucapannya ketika membujuk kau menyerah saja padanya, hm, biarpun kepalamu pecah menyembah padaku juga tidak sudi kuterima kau sebagai murid.”

Pwe-giok menghela nafas panjang, katanya, “Maksud baik Totiang sungguh sangat mengharukan, untuk mana Wanpwe mengucapkan terima kasih banyak2. Cuma… Wanpwe ini seorang yang bernasib jelek, selama hidup ini Wanpwe tidak ingin mengangkat guru lagi kepada siapa pun.”

“Jadi kau tidak mau?” Tojin itu menegas dengan murka.

Pwe-giok menunduk dan tidak bicara lagi.

“Kau tidak menyesal?” tanya pula si Tojin dengan suara bengis.

Pwe-giok tetap tidak bersuara.

Tojin itu tambah marah, ia mendamprat, “Kau goblok, tolol, sinting…” mendadak ia membalik tubuh dan menghantam, “blang…” sebatang pohon cukup besar di sebelahnya telah dihantamnya hingga patah menjadi dua, pohon patah itupun tumbang dan menerbitkan suara gemuruh.

Sambil menghantam Tojin itupun menengadah dan bersiul panjang, waktu Pwe-giok berpaling, suara siulan Tojin kerdil itu sudah berada di kejauhan.

Pwe-giok menghela nafas pula, mendadak di dengarnya ada seorang juga sedang menghela nafas panjang, “Sayang, sungguh sayang…!”

“Siapa itu?” bentak Pwe-giok tertahan.

Maka muncul seorang dari kegelapan pohon sana dengan langkah ke-malas2an, siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian-hoa.

Mencorong sinar mata Ang-lian-hoa, katanya sambil menatap Pwe-giok, “Kau kenal padaku tidak?”

Bergolak darah panas di rongga dada Pwe-giok ketika dapat berjumpa dengan sahabat karib di tempat sepi ini, hampir2 saja dikeluarkannya seluruh isi hatinya tanpa menghiraukan segala akibatnya.

Namun di bawah bayang2 pohon yang rimbun sana apakah betul tiada terdapat lagi orang lain?

Terpaksa diam2 Pwe-giok hanya menghela nafas, jawabnya kemudian sambil memberi hormat, “Nama Ang-lian-pangcu termasyhur di seluruh dunia, siapakah yang tidak kenal padamu?”

Ang-lian-hoa juga seperti menghela nafas, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, “Eh, apakah kau tahu siapa gerangan orang yang hendak mengambil murid padamu tadi?”

“Siapa?” tanya Pwe-giok.

Ang-lian-hoa tersenyum, jawabnya, “Usiamu terlalu muda, mungkin kau belum pernah mendengar nama Lo-cinjin?”

“Lo-cinjin?” tukas Pwe-giok, “itukah Lo-cinjin dari Hoa-san?”

“Betul, kecuali Lo-cinjin, siapa lagi yang memiliki Kungfu selihay dan pemberang begitu?”

“Pantas orang sama bilang dia benar2 salah seorang di antara kesepuluh tokoh utama jaman ini, baru sekarang kupercaya…” tiba2 ia memandang Ang-lian-hoa sekejap dan tidak meneruskan.

“Baru sekarang kau percaya orang yang disebut “tokoh” seperti kami ini hakikatnya seperti anak kecil bilamana dibandingkan dia, begitu bukan?” Ang-lian-hoa merandek dengan tertawa. Dia tahu Pwe-giok tidak sanggup menjawabnya, maka ia sendiri lantas melanjutkan, “Betapa tinggi khikang orang ini konon sudah mencapai tingkatan yang tertinggi dan boleh dikatakan jago nomor satu di dunia ini. Bahkan watak orang ini sangat aneh, selama ini hampir tidak pernah menghargai orang lain. Tapi sekarang dia mau menerima kau sebagai murid dan kau sebaliknya tidak mau, sungguh aku pun merasa sayang bagimu.”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum hambar, “Apakah kedatangan Pangcu ini hanya ingin memberitahukan kepadaku mengenai urusan ini?”

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan lagi padamu?” jawab Ang-lian-hoa perlahan.

“O, silahkan bicara,” kata Pwe-giok.

Kembali sinar mata Ang-lian-hoa mencorong terang dan menatap Pwe-giok lekat2, ucapnya dengan suara tertahan, “Nona Lim Tay-ih, mengapa dia hendak membunuhmu?”

Pwe-giok tersenyum pedih, jawabnya, “Apakah dia… tidak memberitahukan padamu?”

“Belum pernah kutanyai dia,” kata Ang-lian-hoa.

“Jika Pangcu belum menanyai dia, mengapa malah tanya padaku?”

Mendadak Ang-lian-hoa berkata dengan suara bengis, “Sebab adalah sementara anak perempuan betapapun tidak mau ngomong apa2, tapi kaum lelaki kita, seorang jantan sejati, berbuat apapun seharusnya membusungkan dada dan berani bicara secara terus terang, betul tidak?”

Dengan rawan Pwe-giok menjawab, “Orang yang seperti Pangcu sudah tentu dapat membusungkan dada untuk menghadapi segala, tapi ada sementara orang biarpun ingin membusungkan dada juga tidak.. tidak dapat.”

Sampai sekian lama sinar mata Ang-lian-hoa yang tajam itu menatap Pwe-giok, katanya kemudian dengan suara tertahan, “Sesungguhnya ada urusan apakah yang tak dapat kau bicarakan?”

“Maaf, tiada sesuatu yang dapat kukatakan,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Kembali Ang-lian-hoa menatapnya sejenak, lalu ia menengadah dan menghela nafas menyesal, katanya, “Orang baik2 rela terjerumus ke dalam kegelapan, sungguh sayang!”

“Sesungguhnya Cayhe juga merasa sayang bagi Pangcu,” kata Pwe-giok tiba2.

“Apa yang kau sayangkan bagiku?” tanya Ang-lian-hoa dengan agak melengak.

“Keluhuran Pangcu sudah lama terkenal di seluruh kolong langit ini, mengapa sekarang juga sudi menggabungkan diri dengan kaum munafik itu untuk mengerubuti seorang anak perempuan yatim piatu?”

Air muka Ang-lian-hoa rada berubah, mendadak ia bergelak tertawa dan berakta, “Kau bilang yatim piatu? Maksudmu ia anak perempuan yatim piatu?” mendadak suara tertawanya berhenti, lalu bertanya dengan bengis, “Tahukah kau mengapa kami mencarinya ke sini?”

“Justeru ingin kutanyakan?” jawab Pwe-giok.

“Selama beberapa tahun ini sudah ada 20 orang lebih menghilang secara misterius dan jejaknya tidak pernah diketemukan, orang2 itu ada yang berasal dari utara dan ada yang dari selatan, masing2 boleh dikatakan tiada hubungannya sama sekali. Tapi setelah diselidiki secara cermat, akhirnya diketahui bahwa di antara orang2 yang hilang itu terdapat satu titik persamaan.”

“O, apa itu?” tanya Pwe-giok.

“Satu2nya hal yang sama adalah sebelum mereka menghilang, semuanya pernah dilihat orang tinggal di Li-toh-tin ini.”

“O, hanya begitu?”

“Ya, tapi yang paling penting adalah sesudah kelihatan di Li-toh-tin sini, lalu tiada orang melihat mereka lagi.”

“Hal ini rada membingungkan aku?” ujar Pwe-giok.

“Dengan lain perkataan, umpama orang itu kemarin kelihatan berada di Li-toh-tin sini, besok dia lantas lenyap tanpa bekas dan entah ke mana perginya.”

“Oo…”

“Petunjuk ini sebenarnya tidak begitu jelas, tapi setelah 20 orang lebih sama2 menghilang dengan cara begitu, maka persoalannya menjadi lain. Para sanak keluarga orang2 yang hilang itu lantas mengangkat tiga orang wakil mereka ke Li-toh-tin sini untuk menyelidiki urusan ini dengan lebih jelas.”

“Siapakah ketiga orang itu?” tanya Pwe-giok.

“Biar kukatakan nama mereka juga tidak kau kenal,” kata Ang-lian-hoa. “Cukup kukatakan ketiga orang itu tentunya orang2 yang cerdik dan pandai, kalau tidak masa mereka terpilih?”

“O, lalu bagaimana hasil penyelidikan mereka?”

“Apapun tidak dihasilkan oleh mereka.”

“Oo? Kenapa begitu?”

“Sebab setiba di Li-toh-tin ini, selamanya merekapun tidak pernah kembali lagi.

“Hah? Lantas bagaimana?”

“Dengan sendirinya urusan ini sangat menggemparkan dan akhirnya dilaporkan kepada Bu-lim-bengcu.”

“Ehm, memang harus begitu.”

“Tapi Ji bengcu baru saja kehilangan anaknya, beliau sedang berduka dan belum sempat memikirkan urusan ini,” tutur Ang-lian-hoa. “Dengan sendirinya urusan ini jatuh ke tangan Kay-pang. Bilamana kaum tukang minta2 itu mau menyelidiki sesuatu, tentunya akan jauh lebih leluasa daripada orang lain.”

“Ya, betul juga,” Pwe-giok menyengir.

“Sebab itulah selama setengah bulan ini di Li-toh-tin mendadak kaum pengemis bertambah banyak. Mereka mengemis pada setiap orang dan setiap rumah, tentu saja tiada orang menaruh curiga kepada mereka bahwa sebenarnya mereka sedang menyelidiki sesuatu rahasia yang membikin panik kaum Bu-lim.”

“Justeru lantaran itulah, maka di kolong langit ini siapapun tidak berani merecoki Kaypang kalian,” kata Pwe-giok dengan tersenyum.

Ang-lian-hoa tersenyum bangga, sambungnya lagi, “Setelah penyelidikan selama belasan hari terus menerus, akhirnya diketahui penduduk Li-toh-tin ini adalah rakyat jelata yang patuh dan tertib, hanya sebuah loteng kecil di belakang Li-keh can itu berdiam dua orang yang sama sekali tidak diketahui asal-usulnya. Sebab itulah mereka berdua lantas menjadi sasaran penyelidikan selanjutnya.”

“Kemudian?” tanya Pwe-giok.

“Sehari suntuk mereka mengintai di sekitar loteng kecil ini, belum lagi menemukan sesuatu yang mencurigakan, tahu2 si … si nona cilik yang tinggal di atas loteng kecil itu malah sudah melihat gerak-gerik kaum jembel itu, malamnya, lima murid kami yang pasang mata di sana telah dikerjai, kantung yang membedakan tingkatan mereka yang selalu di panggul di punggung mereka itu tahu2 lenyap secara aneh.”

Dia merandek sejenak, lalu menyambung dengan menarik muka, “Padahal anak murid Pang kami sangat memandang penting kantung yang mereka bawa, tapi orang dapat mencuri kantung yang melengket di punggung mereka itu tanpa diketahui, maka tahulah mereka bahwa nona cilik itu ternyata seorang kosen, jelas orang sengaja hendak memperingatkan mereka agar mereka jangan ikut campur urusan ini.”

“Siapa tahu, urusan menjadi runyam malah, bukan?” tanya Pwe-giok. “Betul, sebab hidup orang Kay pang justeru suka ikut campur urusan.”

“Dan lantaran urusan ini pula maka Pangcu datang ke Sujwan sini.”

“Bukan cuma itu saja, mestinya Pang kami akan mengadakan rapat besar di Thay-heng-san untuk menjatuhkan hukuman bagi pengkhianat, karena adanya urusan ini terpaksa tempat rapat kamipun berpindah ke sini.”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Dan sekarang Pangcu sudah merasa pasti bahwa hilangnya ke-20 orang itu ada sangkut pautnya dengan nona Cu yang tinggal di atas loteng itu?”

“Betul, setelah menerima laporan murid Kaypang, Ji-bengcu lantas mengumpulkan para tokoh Bu-lim dan datang ke Li-toh-tin ini dengan pura2 main catur Li-keh-can yang terletak di depan loteng kecil itu, tapi diam2 tempat itu telah dijaga dan di intai, akhirnya dapat dipastikan bahwa yang tinggal di situ adalah anak keturunan Siau-hun-kiongcu dan Hong-sam.”

“Kiranya di balik persoalan ini masih ada liku2 begini, tadinya kukira urusan ini sangat sederhana,” ujar Pwe-giok sambil menghela nafas.

Gemerdep sinar mata Ang-lian-hoa, mendadak ia berkata dengan suara kereng, “Jika kau mau terima nasehatmu, lebih baik cepat kau tinggalkan tempat ini, kalau tidak, bila tengah malam nanti tiba, segalanya akan hancur lebur dan hal itu tentu akan sangat disesalkan.”

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, “Tapi kukira urusannya tidak sederhana sebagaimana disangka Pangcu.”

“Pokoknya beginilah nasehatku, mau percaya atau tidak bergantung padamu sendiri,” kata Ang-lian-hoa. Dia pandang Pwe-giok sekejap, seperti mau omong apa2 lagi, tapi urung diucapkan, lalu melayang pergi.

Buru2 Pwe-giok menyusuri hutan tadi. Penduduk Li-toh-tin masih berkumpul di situ, tampaknya mereka tambah cemas.

Padahal Pwe-giok juga tidak kurang cemasnya, selama setengah hari ini sudah banyak rahasia yang didengarnya, namun pikirannya masih penuh diliputi tanda2 tanya yang sukar dipecahkan.

Setelah menyusuri hutan itu, di depan adalah sebuah tanjakan, bila tanjakan itu sudah dilintasi barulah sampai di kota kecil itu. Pada saat itulah dari balik tanjakan sana Pwe-giok mendengar suara rintihan orang kesakitan.

Cepat Pwe-giok memburu ke sana, dilihatnya seorang berambut putih sedang berjongkok di samping sepotong batu besar dan sedang merintih.

Masih musim rontok, hawa belum terlalu dingin, tapi nenek ini memakai baju kapas yang sangat tebal. Melihat Pwe-giok, segera ia berkeluh dan berseru, “Siau… Siauya, tol… tolonglah, bantu nenek ini!”

Nenek ini tampaknya cuman sakit keras biasa namun Pwe-giok selalu waspada, betapapun ia merasa sangsi, ia coba tanya, “Apakah nenek penduduk Li-toh-tin ini?”

“Ya, ben… benar…” jawab nenek itu.

“Orang2 sama berkumpul di hutan sana, mengapa nenek berada sendirian di sini?”

Nenek itu mengucek matanya dengan tangannya yang kurus kering sambil berkata, “Janganlah Siauya mentertawakan diriku jika kukatakan, hidup nenek ini sebatang kara, tidak punya sanak keluarga seorangpun, orang lain sama menganggap nenek ini kotor dan sudah tua renta, tiada seorangpun mau memperhatikan diriku, selama ini hanya Siau Hoa (si belang) saja yang mendampingi aku.”

Sambil omong, meneteslah air matanya, dengan suara tersendat ia menyambung pula, “Tapi orang itu tidak… tidak mengijinkan kubawa Siau Hoa, seharian ini Siau Hoa tentu akan mati kelaparan… O Siau Hoa yang baik, Siau Hoa sayang, jangan kau kuatir, sebentar lagi nenek pasti datang menjenguk kau.” segera ia hendak merangkak bangun, tapi jatuh terkulai pula.

Cepat Pwe-giok memayangnya bangun, katanya sambil berkerut kening, “Apakah Siau Hoa itu cucu nenek? Mengapa mereka tidak mengijinkan kau bawa serta dia?”

“Betul, Siau Hoa adalah cucuku sayang,” tutur si nenek sambil menangis. “Cucu orang lain suka ribut, suka nakal, tapi Siau Hoa sangat jinak, sangat penurut, sepanjang hari hanya menunggui aku, menangkap tikus saja tidak mau.”

“Hah, menangkap tikus?” Pwe-giok melengak, akhirnya ia tertawa geli sendiri dan bertanya, “O, kiranya Siau Hoa kesayangan nenek itu adalah seekor kucing?”

Tapi nenek itu lantas menangis ter-gerung2, katanya, “Betul, dalam pandangan orang muda seperti kalian ini Siau Hoa hanya seekor kucing, tapi dalam pandangan nenek yang sudah hampir masuk liang kubur ini, Siau Hoa justeru adalah jiwaku, sukmaku, tanpa dia bagaimana aku akan melewatkan hari2 selanjutnya…?” Dia meronta dan hendak merangkak ke depan, serunya dengan parau, “O, Siau Hoa sayang, cucu sayang, sebentar nenek akan memberi makan ikan padamu, janganlah kau menangis, biarpun perut nenek akan robek kesakitan juga akan merangkak pulang untuk memberi makan padamu.”

Memandangi rambut si nenek yang putih perak dan tubuhnya yang bungkuk, Pwe-giok membayangkan kehidupan orang tua yang sengsara dan kesepian ini, tanpa terasa ia menjadi terharu dan ikut pedih, dengan suara keras ia lantas berseru, “Jika Lo-thaythay (nenek) tidak mampu berjalan lagi, biarlah ku gendong kau saja.”

“Kau… kau sudi?” tanya si nenek sambil kucek2 matanya.

“Jika nenekku sendiri masih hidup, beliau tentu juga akan sayang pada Siau Hoa seperti dirimu,” ujar Pwe-giok sambil tertawa ramah.

Maka tertawalah si nenek sehingga kelihatan mulutnya yang ompong dengan gigi yang tinggal dua, katanya, “Ai, Siauya memang orang baik, tadi begitu mendengar aku akan memberi makan kepada Siau Hoa, mereka lantas merintangi aku dan melarang aku pulang, hanya Siauya saja… Ai, begitu melihat Siauya memang sudah kuduga engkau pasti seorang yang baik hati.”

Begitulah sambil mendekam di atas punggung Pwe-giok ia masih terus mengoceh terus dan memuji Pwe-giok setinggi langit, katanya anak muda itu baik hati, cakap lagi, kelak pasti akan mendapatkan bini yang cantik dan pintar.

Muka Pwe-giok menjadi merah. Untung tidak lama mereka sudah memasuki kota kecil itu. Pwe-giok lantas tanya, “Dimanakah Lo-thaythay bertempat tinggal?”

“Tempat tinggalku paling mudah dikenali, sekali pandang saja lantas tahu,” kata si nenek.

“O, apakah di depan sana?” tanya Pwe-giok pula dengan tertawa.

“Eh, jadi sudah kau lihat? Memang betul di loteng kecil itulah,” kata si nenek.

Air muka Pwe-giok seketika berubah.

Maklumlah, di kota kecil ini hanya terdapat loteng itu, satu2nya loteng kecil itu adalah tempat tinggal Hong-sam dan Cu Lui-ji, sekarang si nenek ternyata mengaku juga bertempat tinggal di situ.

Diam2 Pwe-giok merasakan gelagat tidak enak, tapi sebelum ia bertindak sesuatu, tahu2 kedua kaki si nenek yang tadinya lemas itu seketika berubah menjadi kuat dan menjepit tubuhnya seperti tanggam.

Biarpun Pwe-giok memiliki tenaga sakti pembawaan, tapi terjepit oleh kedua kaki si nenek, jangankan hendak meronta, bernapas saja terasa sesak.

Keruan ia terkejut, serunya, “He, Lothaythay, ap… apa kehendakmu?”

“Aku cuman berharap Siauya akan mengantar ku pulang ke rumah,” kata si nenek.

“Tapi… tapi tempat itu…”

“Hahhh!” mendadak si nenek mengakak, suara tertawanya seperti bunyi kokok beluk di malam sunyi dan membuat bulu roma Pwe-giok sama berdiri.

Di dengarnya si nenek berkata pula dengan terkekeh2, “Barangkali Siauya belum tahu bahwa tempat itulah rumah nenek, yang tinggal di sana, seorang adalah cucuku dan seorang lagi adalah buyut perempuanku.”

Pwe-giok menarik nafas dalam2, sedapatnya ia menahan perasaannya, katanya dengan perlahan, “Jika Lothaythay ada sengketa apa2 dengan Hong-sian sianseng dan ingin mencarinya, mengapa engkau perlu ku gendong ke sana? Padahal dengan tenaga kaki nenek yang kuat, masa tidak dapat naik ke sana?”

Nenek itu tertawa, “Siauya, kau ini orang baik, tapi cucuku itu sedikitpun tidak berbakti padaku, bila dia melihat nenek datang sendirian ke sana, bukan mustahil sekali depak aku akan ditendangnya ke bawah loteng.”

“Dan sekarang apa yang kau inginkan dariku?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Asalkan kau gendong aku ke atas loteng dan katakan kepada mereka bahwa aku ini seorang nenek yang sudah sakit parah, kau yang menolongku ke sana untuk minta mereka memberikan obat padaku.”

“Kemudian?” tanya Pwe-giok.

“Urusan selanjutnya tidak perlu lagi kau ikut campur… Hehe, kau sendiripun tidak mampu ikut campur,” kata si nenek dengan ter-kekeh2.

Diam2 Pwe-giok membatin “Ya, setelah ku gendong dia ke atas loteng, tentunya dia takkan melepaskan aku dan akupun tidak perlu ikut campur apa2 lagi.” Berpikir demikian, sekujur badannya lantas basah kuyup oleh keringat dingin.

“Tapi hendaknya sekarang janganlah Siauya merencanakan tindakan yang tidak2, sebab biarpun usia nenek sudah lanjut, untuk meremas patah tulang lehermu kukira tidak lebih sukar daripada kupatahkan sepotong ranting kayu.”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Lo thaythay, tiada sesuatu yang kukagumi padamu selain ceritamu tentang si belang tadi, sungguh sedikitpun tidak menimbulkan curigaku.”

* * *

Pintu di bawah loteng kecil itu hanya dirapatkan saja tanpa dipalang dari dalam.

Di atas loteng Kwe Pian-sian lagi duduk termenung, Ciong Cing mendekap di pangkuannya, seperti sudah tertidur.

Gin-hoa-nio meringkuk di pojok sana, mukanya yang semula ke-merah2an itu kini tampak pucat seperti mayat, ia sedang memandangi tempat tidur sana dengan terbelalak, matanya yang hidup se-olah2 dapat bicara itu kini tampak sayu dan hampa seperti sudah berubah menjadi seorang linglung.

Si sakit, Hong-sam sianseng masih tetap berbaring di tempat tidur dengan tenang, cuma air mukanya tambah merah dan segar, napasnya juga sudah normal.

Cu Lui-ji berjaga di sampingnya, air mukanya tampak mengunjuk rasa girang.

Pada saat itulah Pwe-giok naik ke atas loteng, begitu melangkah ke atas, dengan suara keras ia lantas berseru, “Nenek ini mendapat sakit keras di tengah jalan, terpaksa ku gendong dia pulang… kan tidak dapat kulihat dia mati sakit di tepi jalan bukan?”

Mendengar ini, Kwe Pian-sian berkerut kening. Ciong Cing tetap masih pulas dalam tidurnya. Gin-hoa-nio tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, sedangkan Hong-sam sianseng tetap diam2 saja tanpa membuka matanya.

Hanya Cu Lui-ji saja yang tersenyum, katanya, “Nenek ini menderita penyakit apa? Biar ku…” mendadak suaranya terhenti, tanpa berkedip ia pandang nenek itu dengan wajah kerut dan takut seperti melihat setan saja.

Nenek itu menyembunyikan mukanya di belakang gendongan Pwe-giok, katanya dengan setengah merintih, “O, kasihanilah nona, berikan obat kepada nenek!”

Siapa tahu mendadak Cu Lui-ji lantas menjerit, “Oh-lolo… Oh-lolo… kau Oh-lolo!”

Tubuh Kwe Pian-sian tergetar demi mendengar nama Oh-lolo atau nenek Oh ini, air mukanya juga tampak kejut dan jeri se-akan2 ingin kabur saja kalau bisa.

Tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin, dia masih ingat kepada cerita ayahnya dahulu bahwa yang paling jahat dan paling keji di dunia sekarang adalah Oh-lolo. Perempuan yang paling tinggi ginkangnya dan paling mahir menggunakan racun juga Oh-lolo. Pernah dia dikerubuti tiga diantara “Kesepuluh tokoh top jaman ini, dia terkurung di suatu lembah pegunungan dan bertahan tujuh hari tujuh malam, akhirnya dia tetap dapat lolos dengan selamat.

Begitulah terdengar Oh-lolo menghela nafas di gendongannya sambil berkata, “Tahu aku bakal dikenali budak cilik ini, untuk apa ku-buang2 tenaga sebanyak ini?” Dia menggapai Lui-ji dan berkata pula, “Eh, budak cilik, cara bagaimana kau kenal pada nenek? Coba jelaskan, nanti nenek memberikan permen padamu!”

Tapi Cu Lui-ji telah memegangi tangan Hong sam sianseng, katanya dengan suara gemetar, “Li… lihatlah Sacek, Oh-lolo tidak mati, sekarang dia datang lagi.

Hong Sam tetap tidak membuka matanya, dengan perlahan dia berucap, “Orang ini bukan Oh-lolo.”

“Tapi, kukenal dia… kukenal dia,” kata Luji. “Dia masih tetap memakai bajunya yang tebal itu, sanggulnya memakai tusuk kundai kayu hitam, sepatunya yang dipakainya juga serupa dengan waktu itu.”

“Dia bukan Oh-lolo,” jengek Hong Sam. “Oh-lolo sudah mati!”

“Tapi dia… dia sudah hidup kembali!” seru Lui-ji.

“Orang yang terkena Hoa-kut-tan (pil penghancur tulang), jangankan dapat hidup kembali, menjadi setan pun tidak dapat,” kata Hong Sam dengan kereng.

Mendadak nenek itu bergelak tertawa, tertawa latah.

Suara seperti bambu patah, pergesekan benda logam, lolong serigala di hutan, bunyi kokok beluk dan sebagainya adalah suara yang paling menakutkan dan paling menusuk telinga, tapi suara tertawa nenek ini jauh lebih tidak enak didengar dan jauh lebih menakutkan daripada suara2 yang disebutkan tadi.

Setelah tertawa seperti orang gila sampai sekian lamanya, lalu nenek itu berkata, “Pantas kucari kian kemari tidak dapat menemukan adik perempuanku yang keji itu, kiranya dia memang telah dibunuh oleh kau si setan penyakitan ini… Oo, baik sekali matinya, dia memang sudah hidup cukup lama dan sudah waktunya harus mati… tapi sesudah dia mati, aku menjadi sebatang kara begini, cara bagaimana aku dapat hidup sendirian!…”

Dari tertawa mendadak berubah menjadi menangis, suara tangisannya berpuluh kali lebih menusuk telinga daripada suara tertawanya tadi, kaki Pwe-giok terasa lemas dan hampir2 saja tidak kuat berdiri.

Akhirnya Hong Sam membuka matanya, sinar matanya berkelebat, setelah menatap si nenek sekejap lalu katanya dengan bengis, “Kau inikah kakak Oh-lolo?”

Nenek itu menjawab, “Dia adalah aku dan aku adalah dia, dia Oh-lolo, akupun Oh-lolo, kami kakak beradik berdua sama dengan satu dan tidak terpisahkan.”

Tiba2 Kwe Pian-sian paham duduknya perkara, pikirnya, “Pantas orang Kangouw sama bilang jejak Oh-lolo tidak menentu dan sukar diraba, pada satu hari yang sama ada orang melihat dia muncul di Holam, tapi ada orang lain yang melihat dia berada di Soa-tang, kiranya Oh-lolo ini terdiri dari dua kakak beradik kembar yang selamanya berdandan sama.”

Tiba2 terdengar si nenek alias Oh-lolo tadi menangis tergerung-gerung sambil berteriak, “Kau setan penyakitan busuk, kau telah membunuh adikku, bolehlah kau bunuh saja diriku sekalian.”

“Jadi kau kemari minta kubunuh?” jawab Hong Sam dengan tak acuh. “Baiklah, boleh kau maju sini!”

“Lihatlah para hadirin!” teriak Oh-lolo. “Di dunia ini ternyata ada orang sekeji ini. Adik perempuanku sudah dibunuhnya dan sekarang ia ingin membunuhku pula… kau setan penyakitan ini apakah benar2 tiada punya hati nurani manusia sama sekali?”

“Jika kau tidak ingin mati boleh kau pergi saja,” kata Hong Sam pula dengan ketus.

“Pergi ya pergi, jika aku tidak dapat membunuh kau, untuk apalagi berada di sini, hanya kheki saja bila melihat kau!” kata Oh-lolo.

Mendengar si nenek menyatakan mau pergi, segera Pwe-giok hendak membalik tubuh, untuk turun ke bawah. Padahal ia tahu sekali turun, maka selama hidupnya pasti akan terkekang di bawah tangan nenek aneh itu.

Siapa tahu belum lagi dia membalik tubuh, se-konyong2 kedua kaki Oh-lolo menggantol sekuatnya sehingga tubuh Pwe-giok bagian atas menubruk ke depan tanpa kuasa. Dirasakannya suatu arus tenaga menyalur ke lengannya, tanpa terasa kedua tangannya terus terangkat dan menghantam ke arah Hong Sam yang masih terbaring itu.

Cara ini benar2 sesuai dengan namanya, yaitu “Cio-to-sat-jin” atau pinjam golok membunuh orang.

Sebab kalau hantaman Pwe-giok itu berhasil, tentu saja sangat baik, tapi kalau Hong Sam melancarkan serangan balasan, paling2 yang akan terluka ialah Pwe-giok. Oh-lolo yang mendekap di belakang punggungnya tentu sempat mengundurkan diri bilamana kejadian tidak menguntungkan.

Maklumlah, sebelumnya Oh-lolo sudah memperhitungkan keadaan Hong Sam, lawan ini berbaring tertutup selimut, jelas tidak dapat mengelak, baginya hanya ada dua jalan, yakni menerima pukulan kedua tangan Pwe-giok itu atau balas menghantam. Dengan lain perkataan, apabila Hong Sam tidak mati, maka yang akan mati ialah Pwe-giok.

Tapi kalau Hong Sam mati, apakah Oh-lolo akan membiarkan anak muda itu hidup terus?

Jadi pergi-datang, akhirnya Pwe-giok pasti akan mati.

Keruan Cu Lui-ji menjerit kaget. Dilihatnya tangan Hong Sam yang kurus kering seperti kayu itu mendadak terjulur keluar dari selimut, entah cara bagaimana tahu2 telapak tangan Pwe-giok kena ditangkapnya.

Sesaat itu Pwe-giok merasakan suatu arus tenaga maha dahsyat timbul dari tangan Hong Sam siansing, tapi hanya satu putaran segera tenaga itu menyurut kembali.

Menyusul tenaga yang dikerahkan Oh-lolo ke tangannya tadi lantas ikut arus tenaga Hong Sam siansing itu dan mengalir keluar.

Seketika Pwe-giok merasa kedua tangannya dialiri oleh arus tenaga yang panas dan bergerak tanpa berhenti, keruan ia terkejut, tapi segera ia tahu apa yang terjadi. Nyata Hong Sam siansing telah menggunakan lengannya sebagai jembatan untuk menghisap tenaga murni Oh-lolo.

Di dunia ini ternyata adalah kungfu ajaib begini, sungguh sukar untuk dibayangkan oleh siapapun.

Agaknya Oh-lolo juga sudah tahu apa yang terjadi, saking takutnya ia berteriak, “Hong Sam… Hong-locianpwe… berhenti… ampun, aku… aku menyerah padamu!”

Dengan perlahan Hong Sam berkata, “Sebenarnya aku tidak mau sembarangan mengambil tenaga murni orang lain, tapi kau yang lebih dulu ingin mencabut nyawaku…”

“Aku tidak berani lagi, Hong-locianpwe, kumohon sudilah engkau mengampuni diriku,” pinta Oh-lolo dengan suara parau.

Pwe-giok jadi heran dan geli. Kwe Pian-sian juga melenggong.

Mendadak Oh-lolo menggigit telapak tangannya sendiri, kedua kakinya memancal sekuatnya di punggung Pwe-giok, orangnya terus mencelat pergi dari gendongan Pwe-giok.

“Blang”, kepalanya menumbuk langit2 rumah, lalu jatuh ke bawah lagi dan terduduk di lantai dengan nafas ter-engah2, mendadak ia berlutut menyembah kepada Hong Sam dan berkata, “Ya, ku tahu akan kesalahanku, kumohon sudilah engkau mengampuni diriku.”

Dengan hambar Hong Sam menjawab, “Kau dapat lolos dari tanganku, sungguh tidak mudah… baiklah, pergilah kau!” lalu ia tersenyum kepada Pwe-giok dan berkata, “Untung bagimu!”

Tadi waktu tubuh Oh-lolo mencelat ke atas, seketika Pwe-giok merasakan tenaga yang menghisap di telapak tangannya hilang mendadak. Kini di antara kedua tangannya masih terasa ada hawa hangat yang bergerak tiada hentinya.

Selagi bingung didengarnya Cu Lui-ji berkata kepadanya dengan tertawa, “Tenaga murni orang yang dipinjam Sacek ada sebagian besar tertinggal di tubuhmu, kau telah mendapatkan keuntungan tanpa sengaja, masa kau belum lagi tahu?”

Pwe-giok melengak, ia pandang tangan sendiri, lalu pandang Oh-lolo pula, dalam hati entah bergirang atau berduka.

Dilihatnya Oh-lolo sedang melangkah ke tangga loteng dengan tubuhnya yang bungkuk dan kelihatan lemas. Meski berjalan dengan tertunduk, tapi sinar matanya yang buas penuh kebencian masih terus melirik ke arah Hong Sam.

“Jangan kau pergi dulu!” kata Hong Sam mendadak.

Oh-lolo terjingkat, tanyanya dengan suara gemetar, “Hong-samya ingin pesan apa lagi?”

“Selamanya aku tiada hubungan apa2 dengan orang Kangouw, apalagi bermusuhan,” ucap Hong Sam dengan perlahan. “Jika sekarang kau pergi begini saja, tentu dalam anggapanmu adik perempuanmu telah kubunuh tanpa alasan.”

“Mana kuberani berpikir begitu,” ujar Oh-lolo dengan kepala tertunduk.

“Bolehlah kau tinggal di sini, dengarkan ceritaku sebab apakah kubunuh dia,” kata Hong Sam pula.

“Jika Hong-samya mau bercerita, dengan sendirinya terpaksa kudengarkan,” ujar Oh-lolo. Meski di mulut dia bilang akan mendengarkan karena terpaksa, padahal di dalam hati ia sangat berharap agar Hong Sam lekas bercerita.

Pwe-giok juga tahu apa yang akan diceritakan Hong-sam sianseng sekarang adalah lanjutan kisahnya yang pernah diceritakan itu. Sudah tentu minatnya terhadap cerita ini tidak di bawah Oh-lolo.

Tak tahunya sebelum Hong Sam berbicara lebih lanjut, tiba2 Cu Lui-ji menyela, “Kukira lebih baik Sacek istirahat saja dan biarkan kuceritakan kepada mereka.”

“Kejadian waktu itu apakah masih kau ingat dengan baik?” tanya Hong Sam dengan menyesal.

Lui-ji menggigit bibir dan menjawab dengan sekata demi sekata, “Meski waktu itu aku masih kecil, tapi apa yang terjadi seolah2 terukir dalam-dalam hatiku. Asalkan ku pejamkan mata segera dapat kulihat setiap… setiap raut wajah itu.”

Meski dia bicara dengan perlahan, tapi rasa bencinya membuat orang mengkirik, tanpa terasa Oh-lolo juga merasa seram, katanya dengan mengiring tawa, “Jika demikian, silahkan nona lekas bercerita.”

Tiba2 Lui-ji melotot ke arahnya dan berkata, “Ingin kutanya padamu lebih dulu, tahukah kau siapa aku ini?”

Dengan menyengir Oh-lolo menjawab, “Di dunia ini, kecuali ibu seperti Cu-kiongcu itu, siapa lagi yang dapat melahirkan anak perempuan seperti nona Cu ini?”

Lui-ji melototinya sekejap dengan gemas, per-lahan2 ia pejamkan mata dan mulai bercerita dengan perlahan, “Waktu itu sudah jauh malam, ibu belum lagi tidur, beliau sedang menjahitkan baju baru bagiku, sepotong baju merah yang disiapkan untuk kupakai pada tahun baru. Ibu bermaksud pula menyulam seekor Kilin (binatang lambang rejeki) pada baju merah itu, beliau membisiki diriku, katanya beliau berharap lambang Kilin itu akan membawa seorang adik lelaki yang mungil bagiku.”

Kenangan itu masih terasa hangat dan indah, wajah Lui-ji yang pucat itupun menampilkan cahaya yang cantik lantaran kenangan yang hangat ini.

Tersembul senyuman manis pada ujung mulut Lui-ji, lalu ia menyambung ceritanya, “Anak kecil mana yang tidak suka pada baju baru, dengan sendirinya akupun ingin cepat2 memakai baju baru. Maka meski sudah larut malam, aku masih menunggui ibu menjahit dan tidak mau tidur.”

Oh-lolo ber-kedip2, katanya dengan tersenyum, “Siau-hun-kiongcu ternyata mau menjahit baju, sungguh tak pernah terbayangkan oleh siapa pun juga.”

“Bukan saja menjahit, bahkan ibuku juga mencuci, menanak nasi, menyapu lantai… pendek kata segala pekerjaan rumah tangga selalu ditanganinya sendiri, masa kau tidak percaya?”

“Apa yang dikatakan nona masakah perlu kuragukan?” jawab Oh-lolo.

“Sementara itu sudah dekat tengah malam, pada umumnya penduduk di kota kecil ini suka tidur lebih dini, suasana sudah sunyi, tiada terdengar suara apapun, keadaannya serupa sekarang ini.”

Angin meniup di luar jendela, suasana memang benar2 hening, entah mengapa dalam hati masing2 sama timbul rasa seram se-akan2 mendapat firasat tidak enak.

Lui-ji melanjutkan ceritanya, “Tatkala mana ibuku agaknya juga merasakan alamat tidak baik, pikiran beliau tampaknya juga sedang kacau. Saat itu beliau sedang menyulam mata Kilin, tapi telah salah sulam tiga kali. Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara menggelepar di luar, seekor burung malam tiba2 terbang dari atap seberang rumah.”

Bicara sampai di sini, senyuman yang menghiasi wajah Lui-ji sudah lenyap, perasaan setiap orang juga ikut tegang.

“Aku terkejut,” sambung Lui-ji pula, “Ku jatuhkan diri ke pangkuan ibu. Sembari menepuk punggungku dengan perlahan, mendadak ibu meraup segenggam jarum sulam terus ditaburkan ke lubang angin di ujung atap sana.”

“Burung malam terbang terkejut, jelas itu tandanya ada Ya-heng-jin (orang pejalan malam),” kata Oh-lolo dengan tertawa. “Ibumu memang tidak malu sebagai seorang tokoh Kangouw kawakan dengan taburan jarum itu, mustahil kalau bocah di luar itu tidak menggeletak.”

“Hm, yang di luar jendela itu tak-lain-tak-bukan ialah Oh-lolo!” jengek Lui-ji.

Oh-lolo melengak, ucapnya dengan menyengir, “O, be… begitukah?”

“Tapi begitu jarum itu ditaburkan ibuku, keadaannya seperti batu tenggelam di lautan, sedikitpun tidak menimbulkan reaksi apa2, maka tahulah ibu telah kedatangan lawan tangguh, ibu lantas memanggil bangun ay…” dia memejamkan mata dan menghela nafas panjang, lalu menyambung lagi, “Memanggil bangun Tonghong Bi-giok dan menyerahkan diriku kepadanya. Tatkala mana kulihat air muka ibu mendadak berubah pucat. Tapi Tonghong Bi-giok itu sebaliknya tampak bergirang.”

Pwe-giok menghela nafas gegetun, pikirnya, “Lelaki yang tidak berbudi dan tidak setia begitu, pantas kalau Lui-ji tidak sudi mengaku ayah padanya.”

Terdengar Lui-ji melanjutkan lagi ceritanya, “Dalam pada itu di luar jendela ada orang berseru dengan tertawa, “Lihay amat hujan jarum yang ditaburkan ini, cuma sayang, terhadap nenek macam diriku ini menjadi tiada gunanya hujan jarum ini…”

Karena uraian ini, tanpa terasa pandangan semua orang lantas beralih ke arah Oh-lolo.

Nenek itu terbatuk, lalu bertanya, “Waktu itu nona berumur berapa?”

“Empat tahun,” jawab Lui-ji. “Masa anak umur empat dapat mengingat sejelas itu apa yang pernah diucapkan orang lain?” ucap Oh-lolo dengan tertawa.

Dengan hambar Lui-ji menjawab, “Ada sementara orang biarpun hidup sampai nenek2 tapi makin tua makin pikun. Sebaliknya ada orang yang sekalipun baru berumur empat, tapi sudah banyak yang dipahaminya, apalagi…”

Tanpa berkedip ia pandang Oh-lolo, lalu menyambung sekata demi sekata, “Bilamana ada orang telah membunuh ibumu pada waktu kau baru berumur empat, maka apapun yang dikatakannya waktu itu, tentu takkan kau lupakan selamanya biarpun cuma satu kata saja.”

Mengkirik Oh-lolo oleh pandangan tajam si nona, ia tertunduk dan berkata, “Adik perempuanku itu memang keterlaluan, suka campur urusan orang lain.”

Lui-ji mendengus, sambungnya pula, “Setelah mendengar ucapan tadi, segera ibuku dapat menerka siapa yang berada di luar jendela. Beliau lantas berseru, “Oh-lolo, selamanya kita tiada sengketa apa2, untuk apa kau cari diriku?…” pada waktu itulah daun jendela di sekeliling rumah lantas terbuka serentak, di dalam rumah tahu2 sudah bertambah belasan orang. Cepat sekali kedatangan orang2 itu, meski mereka melayang masuk dari luar jendela, tapi rasanya seperti arwah yang muncul dari bawah bumi.”

“Kiranya mereka datang belasan orang sekaligus…” kata Oh-lolo. “Rumah kami memang tidak besar, tentu saja belasan orang itu segera memenuhi seluruh ruangan,” tutur Lui-ji pula. “Ibuku lantas terkepung di tengah, jalan mundur saja sudah tertutup buntu.”

“Bagaimanakah bentuk orang2 itu?” tanya Oh-lolo.

“Yang menjadi kepalanya bertubuh jangkung, berkopiah dan berbaju pertapa, tampaknya seperti orang yang beribadat dan menimbulkan rasa hormat orang…” tutur Lui-ji. “Padahal sesungguhnya dia hanya seorang Siaujin (orang kecil, rendah) yang keji.”

“Orang ini tentunya Tonghong-sengcu adanya,” kata Oh-lolo dengan tertawa.

“Ada seorang lagi yang bermuka penuh berewok, bertubuh tinggi besar, mukanya hitam seperti pantat kuali, senjata yang dibawanya mirip sebuah pagoda.”

“Ah, kiranya Li-thian-ong juga ikut,” tukas Oh-lolo.

“Ada pula seorang tua, rambutnya sudah putih seluruhnya, giginya juga sudah ompong semua, wajahnya senantiasa tersenyum seperti seorang nenek yang welas asih, padahal hatinya lebih keji dan buas daripada binatang.”

Tidak perlu dijelaskan lagi semua orang tahu siapa gerangan yang dimaksudkan, tanpa terasa pandangan semua orang lantas beralih pula ke arah Oh-lolo.

“Makian yang tepat,” kata Oh-lolo dengan tersenyum. “Bilamana kulihat dia, tentu juga akan ku maki dia se-kenyang2nya.”

“Sudah tentu ibuku terkejut melihat munculnya orang2 itu, tapi segera beliau dapat menenangkan diri dan bertanya apa maksud tujuan kedatangan mereka?”

“Ya, biarpun orang2 itu bukan orang sembarangan, tapi Cu-kiongcu tentu juga tidak takut terhadap mereka,” kata Oh-lolo dengan menyengir.

“Tapi Tonghong Tay-beng itu lantas mencaci maki, katanya ibu telah memikat anaknya, banyak pula kata2 tidak baik yang diucapkannya. Meski ibu sangat marah mendengar makian orang, tapi beliau menyadari orang itu adalah ayah-mertuanya. Ibu tidak berani memperlihatkan sikap kasar, beliau mengira apa yang terjadi ini hanya salah paham belaka, maka berusaha memberi penjelasan.”

“Huh, si tua Tonghong itu paling suka membela orang sendiri, mana dia mau terima keterangan ibumu,” kata Oh-lolo.

“Benar juga, dia bahkan tidak memberi kesempatan bicara kepada ibuku,” tutur Lui-ji. “Ibuku pikir biarkan Tonghong Be-giok saja yang bicara langsung kepada ayahnya, siapa tahu, mendadak Tonghong Bi-giok melompat ke belakang ayahnya, lalu menuding dan mendamprat ibuku, caci-makinya bahkan jauh lebih kotor daripada Tonghong Tay-beng.”

“Lelaki kebanyakan memang tidak punya Liangsim (hati nurani yang baik),” kata Oh-lolo dengan menyesal.

Dalam pada itu Ciong Cing sudah mendusin, perasaannya jadi tersinggung, kembali ia menangis perlahan.

Lui-ji juga mengembeng air mata, tuturnya pula, “Sampai sekarang barulah ibuku tahu pribadi Tonghong Bi-giok ternyata begini rendah, nyata cintanya selama ini telah diserahkan kepada manusia demikian, sesaat itu mendadak ibu merasa putus asa dan lemas lunglai, iapun malas bicara lagi, ia hanya tanya apakah Tonghong Tay-beng dan Tonghong Bi-giok mau membesarkan diriku atau tidak?”

Bercerita sampai di sini air mata Lui-ji sudah mengucur deras, bahkan Gin-hoa-nio yang berhati keras itupun ikut menangis. Perasaan semua orang juga sangat sedih, satu per satu sama menunduk dan tidak bersuara.

Selang agak lama barulah Lui-ji mengusap air matanya dan melanjutkan ceritanya, “Dengan sendirinya Tonghong Bi-giok menyatakan sanggup, malahan katanya aku ini anaknya, dengan sendirinya akan dijaga se-baik2nya. Untuk terakhir kalinya ibuku memandangnya sekejap, lalu hendak membunuh diri di depannya.”

Tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget, tapi merekapun tahu ibu si nona itu takkan mati secepat itu, sebab seterusnya diketahui masih terjadi lagi macam2 urusan.

Dengan pedih Lui-ji berkata pula, “Tatkala mana usiaku masih kecil, namun samar2 sudah dapat ku terka apa yang terjadi, akupun menangis keras2, namun ibuku sudah nekat dan tidak menggubris ratapanku, segera ia angkat belati hendak membunuh diri. Pada detik terakhir itulah se-konyong2 sesosok bayangan putih melayang masuk pula dari luar, begitu cepat dan gesit gerakan orang itu, tahu2 belati di tangan ibuku sudah dirampasnya.”

Semua orang sama berseru heran, “Hei, siapa lagi orang ini?” Lui-ji tidak menjawabnya, ia meneruskan ceritanya. “Waktu itu meski aku tidak paham tinggi rendahnya ilmu silat, tapi dapat juga kulihat ginkang orang itu ternyata jauh lebih tinggi daripada ibuku.”

“Oo…?” Oh-lolo berseru heran, tanpa terasa ia melirik ke sana, seketika pandangan semua orang ikut beralih kepada Hong Sam sianseng, dalam hati masing2 samar2 sudah dapat menduga siapa si pendatang itu.

“Merasa niatnya dirintangi orang, ibuku menjadi gusar, sebelah tangannya lantas menghantam. Namun dengan enteng dan gesit orang itu dapat menghindarkan serangan ibu. Kukira sekarang kalian tentu tahu siapa penolong ibuku itu?”

“Ehmm,” semua orang sama mengangguk.

Lui-ji memandang Hong Sam sekejap, tersembul senyuman hangat pada ujung mulutnya, lalu katanya, “Waktu itu Sacek masih seorang Kongcu yang gagah dan cakap. Hari itu dia memakai baju putih mulus seperti salju, ketika melayang tiba dari luar sungguh gayanya seperti malaikat dewata yang baru turun dari kahyangan.”

Oh-lolo berdehem dua kali, katanya, “Kecakapan Hong Sam kongcu, pada masa itu pernah kudengar juga.”

“Padahal Tonghong Tay-beng dan begundalnya juga terhitung tokoh Bu-lim yang top, tapi melihat gerakan Sacek yang luar biasa, ginkangnya yang tiada bandingannya, mau-tak-mau mereka sama melongo. Betapapun Tonghong Tay-beng memang lebih tabah, segera ia menegur Sacek, “Siapa kau? Apa maksud kedatanganmu ini?”

“Rupanya Tonghong Tay-beng sudah terlalu lama tinggal di lautan sana sehingga tidak kenal lagi kepada Hong-sam sianseng, hal ini dapatlah dimaklumi, tapi Li-thian-ong, adik perempuanku dan lain2 masa juga tidak dapat menduga pendatang itu ialah Hong-sam sianseng? Di kolong langit ini, kecuali Hong-sam kongcu, siapa lagi yang berusia semuda itu dan menguasai Kungfu setinggi itu?”

“Semula ibuku juga melenggong, setelah mendengar teguran Tonghong Tay-beng itu, mendadak Oh-lolo menjerit kaget dan menyebut nama Sacek. Barulah ibuku tahu telah kedatangan penolong yang dapat dipercaya, ia merasa tidak perlu kuatir lagi akan difitnah dan dikeroyok orang.”

Sampai di sini Hong Sam yang berbaring itu menghela nafas panjang, katanya dengan rawan, “Siapa tahu aku… aku…”

Cepat Lui-ji mendekatinya dan berlutut, ucapnya dengan menangis, “Kejadian itu mana boleh menyalahkan Sacek? Kenapa Sacek berduka?”

Hong Sam termenung sejenak dan memejamkan matanya, katanya kemudian, “Baiklah, lan… lanjutkan ceritamu!”

Lui-ji berdiri dengan menunduk kepala, iapun memejamkan mata dan berdiam sejenak, habis itu barulah dia menyambung kisahnya, “Waktu itu Sacek lantas membongkar seluk beluk rencana busuk yang diatur Tonghong Bi-giok yang bersengkongkol dengan ayahnya itu, Sacek mendamprat Tonghong Bi-giok habis2an akan ketidak-setiaan dan ketidak berbudinya. Begundal Tonghong Tay-beng sama melengak heran dan sangsi, entah mesti percaya atau tidak terhadap keterangan Sacek itu.”

“Biarpun dalam hati mereka tak percaya, di mulut mungkin merekapun tidak berani bicara,” kata Pwe-giok.

“Hanya Li-thian-ong yang biasanya sombong dan suka meremehkan orang lain, meski Tonghong Tay-beng juga sudah pernah mendengar nama Sacek, tapi iapun belum kenal betapa lihaynya Sacek, kedua orang sama merasa penasaran menghadapi Sacek yang cuma sendirian itu. Diam2 kedua orang itu saling memberi tanda, serentak mereka melancarkan serangan maut terhadap Sacek.”

“Kedua orang itu mungkin sudah bosan hidup,” kata Oh-lolo dengan gegetun.

“Memang,” kata Lui-ji. “Orang macam apakah Sacek, sudah tentu beliau sudah memperhitungkan kemungkinan tindakan mereka itu. Beliau tetap tenang2 saja, waktu itu dari jauh kulihat senjata Li-thian-ong yang berwujud pagoda baja itu sedikitnya berbobot beberapa ratus kati sedang menghantam kepala Sacek, begitu dahsyat sehingga tempat aku berdiri juga merasakan angin damparannya yang keras. Apalagi Tonghong Tay-beng ikut menyerang sekaligus, sungguh aku menjadi kaget dan kuatir, saking ketakutan aku sampai menangis.”

Tanpa terasa semua orang ikut berdebar.

Tapi Lui-ji lantas menyambung, “Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak Sacek bersiul panjang nyaring menggema angkasa, namun suaranya tidaklah menusuk telinga, sebaliknya kedengarannya sangat merdu.”

“Itulah yang disebut kicauan burung Hong menggema ribuan li, menggetar sukma kabur sukar dicari!” seru Oh-lolo.

“Di tengah suara siulan nyaring itu,” demikian Lui-ji melanjutkan, “entah cara bagaimana tahu2 tubuh Li-thian-ong mencelat, senjata andalannya, yaitu pagoda baja juga sudah berpindah ke tangan Sacek, dengan enteng Sacek memuntir, seketika pagoda baja itu berubah menjadi untir2.”

Semua orang sama melengak, sungguh mereka tidak pernah mendengar bahwa di dunia ada Kungfu setinggi ini.

“Agaknya Tonghong Tay-beng juga terkena serangan Sacek,” sambung Lui-ji pula, “dia tampak ketakutan, tapi Sacek hanya memandangnya dengan tertawa dingin, katanya, “Mengingat menantu perempuanmu, biarlah kuampuni jiwamu!” Sembari bicara Sacek terus menelikung untir2 baja tadi hingga berubah menjadi sebuah gelang, lalu dilemparkan, terdengar suara “brak” di kejauhan, sebatang pohon cukup besar seketika patah menjadi dua dan tumbang.”

Bicara sampai di sini, Lui-ji menghela nafas lega, lalu katanya, “Setelah Sacek memperlihatkan kungfunya, orang2 itu tiada satupun yang berani bergerak lagi.”

Semua orang ikut merasa lega juga meski diketahui ibu anak dara itu akhirnya tidak terhindar dari kematian. Dan ini pula yang membuat mereka heran, entah mengapa kemudian Siau-hun-kiongcu tewas juga dan entah sebab apa Hong-sam sianseng juga terluka.

Cuaca sudah remang2, senja sudah tiba, di atas loteng mulai suram.

Pwe-giok tidak tahan, ia membuka suara, “Apakah kejadian itu kemudian berkembang lagi lebih mengejutkan orang?”

Lui-ji menuang secangkir teh dan melayani minum Saceknya, habis itu perlahan2 barulah ia menyambung lagi, “Melihat perbawa Sacek sudah menaklukan musuh, ibu lantas mendekati Sacek dan memberi hormat serta mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Sacek tanya kepada ibuku, lantas bagaimana akan menyelesaikan urusan ini?”

“Meski Tonghong Bi-giok itu berdosa kepada ibumu, tapi kukira ibumu pasti tidak tega mencelakai dia,” ujar Kwe Pian-sian dengan gegetun.

“Betul, hati perempuan biasanya memang lemah,” tukas Oh-lolo.

“Tapi diantaranya ada juga yang berhati keras, bahkan tidak kepalang kerasnya dan menakutkan,” sambung Kwe Pian-sian dengan tersenyum.

Seperti tidak mengikuti ucapan mereka, pandangan Lui-ji menatap keremangan senja di luar jendela dengan termangu, sejenak kemudian barulah ia menyambung ceritanya, “Karena pertanyaan Sacek tadi, ibu hanya menangis saja dan tidak bicara. Sacek bertanya pula apakah lelaki tidak setia itu perlu dibunuh saja? Namun ibu tetap tidak buka mulut, melainkan cuma menggeleng saja. Maka berkatalah Sacek, “Jika demikian, suruh dia enyah saja se-jauh2nya!…” ia menghela nafas, lalu melanjutkan, “Siapa tahu, ibu lantas menangis tergerung-gerung mendengar ucapan Sacek itu.”

“Aneh juga,” kata Pwe-giok, “ibumu tidak tega membunuhnya, juga tidak mau melepaskan dia, sesungguhnya apa kehendaknya?”

Dengan menunduk Lui-ji berkata, “Ibuku… dia…”

Mendadak Hong-sam sianseng menukas, “Boleh kau istirahat dulu, biarkan ku sambung ceritamu.”

Lui-ji mengusap air matanya dan mengiakan dengan menunduk.

Hong Sam lantas berkata, “Waktu itu akupun heran, kalau Cu Bi tidak tega membunuhnya dan juga tidak mau melepaskan dia pergi, lalu tindakan apa yang harus kulakukan?”

Dia berhenti sejenak, setelah menghela nafas lalu sambungnya, “Pikiran wanita selamanya memang tak dapat ku raba. Selagi aku merasa bingung, tiba2 Oh-lolo itu menyeletuk, katanya dia tahu maksud Cu Bi.”

“Memang hanya perempuan saja yang mengetahui isi hati sesama perempuan,” kata Pwe-giok.

“Dengan sendirinya ku silahkan dia bicara,” tutur Hong Sam pula. “Maka Oh-lolo lantas mendekati Cu Bi, tanyanya dengan tersenyum, “Maksud Kiongcu apakah ingin rujuk kembali dengan Tonghong-kongcu?…” Tentu saja aku menjadi gusar, kupikir sudah jelas Tonghong Bi-giok itu sedemikian rendah dan tak berbudi terhadap Cu Bi, bilamana Cu Bi tidak membunuhnya sudah tergolong untung baginya, masa sekarang Cu Bi ingin berhubungan baik pula dengan dia? Sudah tentu aku tidak percaya, maka aku lantas tanya Cu Bi, apakah memang begitu maksudnya? Sampai beberapa kali kutanya dia, namun sama sekali dia tidak mau menjawab meski dia tidak menangis lagi.”

“Kalau tidak menangis dan juga tidak menjawab, hal itu berarti diam2 telah membenarkan,” kata Gin-hoa-nio mendadak.

Hong Sam tersenyum pahit, ucapnya, “Sampai lama akhirnya barulah ku paham isi hatinya, memang betul begitulah kehendaknya. Kurasakan hal itu sungguh terlalu enak bagi keparat Tonghong Bi-giok itu, tapi Cu Bi sebagai orang yang paling berkepentingan sudah menghendaki begitu, terpaksa akupun tak dapat berbuat apa2.”

“Di dunia ini hanya cinta kasih antara lelaki dan perempuan saja yang tak dapat dipaksakan oleh siapapun,” kata Pwe-giok.

“Melihat sikapku sudah lunak dan tidak merintangi lagi, orang2 itu sama merasa lega,” tutur Hong Sam pula. “Segera Tonghong Tay-beng menarik anaknya maju ke depan, ayah dan anak itu ber-sama2 meminta maaf kepada Cu Bi. Dalam keadaan demikian aku menjadi lebih2 tidak dapat bicara apa2 lagi.”

“Dan bagaimana pula sikap Tonghong Bi-giok itu?” tanya Pwe-giok.

“Sudah tentu wajahnya penuh rasa menyesal,” jawab Hong Sam. “Tadinya wajah Cu Bi penuh rasa gusar, tapi kemudian telah berubah cerah, sinar matanya menjadi terang pula, tampaknya awan mendung sudah buyar dan segala sesuatu akan menjadi terang. Siapa tahu tiba2 datang lagi usul Oh-lolo.”

“O, usul apa?” tanya Pwe-giok.

“Katanya, meski Tonghong Bi-giok dan Cu Bi sudah suka sama suka, tapi sebelum ada ijin orang tua serta perantara comblang, betapapun ikatan mereka sebagai suami isteri belum resmi, sebab itulah sekarang juga dia ingin menjadi comblang bagi mereka agar Tonghong Bi-giok dan Cu Bi dapat terikat menjadi suami isteri di depan ayahnya, dan akupun diminta menjadi wali bagi Cu Bi.”

“Ehm, bukankah itu usul yang bagus?” kata Oh-lolo.

“Hm, semula akupun merasa usulnya memang bagus,” jengek Hong Sam. “Maka be-ramai2 semua orang lantas sibuk mengatur seperlunya, di atas loteng kecil inilah diadakan perjamuan untuk merayakan peresmian pengantin baru mereka.”

“Perjamuan?” Pwe-giok menegas dengan terbelalak. “Tentunya tiada perjamuan yang tanpa arak!”

“Betul, perjamuan tentu harus lengkap dengan suguhan arak,” kata Hong Sam.

“Jangan2 di dalam arak itulah terjadi sesuatu?” ucap Pwe-giok pula.

Hong Sam menghela nafas panjang, katanya, “Usiamu masih muda belia, tapi nyatanya pengalaman dan pengetahuanmu sudah jauh lebih luas daripada diriku pada waktu itu.”

Diam2 Pwe-giok membatin, “Mungkin lantaran Cianpwe memandang dirimu tiada tandingan di kolong langit ini dan tidak menaruh perhatian terhadap orang lain, dan tentunya juga tidak menyangka ada orang berani mencelakai kau dengan cara yang licik.”

“Sudah tentu pikiran ini tidak berani diutarakannya, tapi didengarnya Hong Sam telah menyambung pula, “Dalam hatimu tentu kau anggap aku terlalu tinggi hati dan mengira orang lain tidak berani berbuat apapun kepadaku, soalnya kau tidak mengetahui keadaan pada waktu itu…” ia menghela nafas panjang, lalu meneruskan, “Apabila waktu itu kaupun di sana dan melihat setiap orang sama riang gembira, tentu kaupun takkan curiga bahwa sebenarnya dirimu sedang diincar.”

“Jika orang ingin mengerjai Cianpwe, mana bisa sikapnya itu diperlihatkan kepada Cianpwe?” ujar Pwe-giok tak tahan.

Air muka Hong Sam tampak guram, sampai lama ia tidak bersuara.

Sementara itu Lui-ji sudah cukup beristirahat, segera ia menyela, “Sudah tentu masih ada alasan lain. Pertama Sacek menganggap orang2 itu adalah tokoh Kangouw terkenal, tentunya tidak sampai bertindak secara keji dan rendah.”

Pwe-giok tersenyum pahit, katanya, “Terkadang orang2 yang sok anggap dirinya kaum pendekar budiman itulah sering2 dapat bertindak secara kotor dan menakutkan. Sebab kalau orang2 macam begitu sampai berbuat sesuatu kebusukan, bukan saja orang lain takkan berjaga-jaga, bahkan juga takkan percaya.”

Lui-ji juga terdiam sejenak, katanya kemudian, “Kedua, dengan Kungfu Sacek waktu itu, sekalipun beliau menenggak habis secawan arak beracun juga takkan menjadi soal, arak beracun itu pasti dapat didesaknya keluar. Apalagi Sacek menyaksikan sendiri arak yang disuguhkan itu dituang dari satu poci yang sama.”

Kwe Pian-sian memandang Oh-lolo sekejap, lalu berkata, “Kalau racun biasa tentu tidak beralangan bagi Hong locianpwe, tapi cara penggunaan racun Oh-lolo boleh dikatakan tiada bandingannya di kolong langit ini, biarpun tenaga dalam Hong locianpwe maha tinggi, betapapun perutnya bukan terbuat dari baja.”

“Baru kemudian Sacek tahu bahwa racun bukan melalui arak yang disuguhkannya itu,” sambung Lui-ji pula. “Tapi racun dipoles pada cawan arak yang digunakan Sacek dan ibuku, sungguh racun yang maha lihay.”

“Bila di dalam arak beracun, rasa arak tentunya akan berubah,” kata Pwe-giok. “Setelah Hong-locianpwe minum cawan pertama, apakah belum dirasakan ada kelainan pada arak itu dan mengapa sampai minum lagi cawan yang kedua?”

Kwe Pian-sian tidak tahan, ia menyeletuk pula, “Seumpama Hong-locianpwe tidak dapat merasakannya, Cu-kiongcu sendiri kan juga seorang ahli racun, masa beliau juga tidak dapat merasakannya?”

“Justeru lantaran racun dipoles pada cawan arak, sedangkan araknya dingin, ketika cawan pertama dituang, serentak semua orang angkat cawan dan menghabiskannya, dengan sendirinya racun yang larut ke dalam arak waktu itu tidak banyak,” demikian Lui-ji menutur dengan gegetun.

“Dan kemudian…?” tanya Kwe Pian-sian.

“Kemudian racun yang larut ke dalam arak tentunya makin lama makin cepat dan banyak,” tutur Lui-ji. “Tapi dalam pada itu arak yang diminum Sacek dan ibuku juga tidak sedikit lagi, daya rasa mereka lambat-laun sudah mulai tumpul… tentunya kalian maklum, saat itu hati ibuku tentunya sangat gembira. Dalam keadaan terlalu gembira, kewaspadaan seseorang biasanya tentu akan sangat berkurang.”

“Sungguh hebat,” ujar Kwe Pian-sian, “tampaknya waktu menaruh racun, setiap kemungkinan sudah diperhitungkan masak2 oleh Oh-lolo. Kemahiran menaruh racun orang ini sungguh sukar ditandingi siapapun juga.”

Membayangkan betapa rapi cara Oh-lolo menaruh racun serta tindakannya yang keji, tanpa terasa semua orang sama mengkirik, apalagi sekarang terdapat pula seorang Oh-lolo di depan mereka, tentu saja timbul rasa was-was dan jemu mereka terhadap nenek ini.

Kebetulan Pwe-giok berdiri di sampingnya, sekarangpun ia merasa ngeri dan cepat menjauhinya. Bahkan Ciong Cing menjadi ketakutan, memandang saja tidak berani.

Lui-Ji lantas berkata, “Sekian lama mereka minum arak, mendadak ibuku menyembah beberapa kali kepada Sacek dan ber-ulang2 menyatakan terima kasihnya atas pertolongan jiwa Sacek.”

Ya, akupun merasa heran dalam keadaan begitu tiba2 dia menyatakan terima kasihnya padaku,” tukas Hong Sam dengan menyesal. “Tapi akupun tidak bilang apa2. Kulihat Cu Bi lantas mendekati Tonghong Bi-giok dan memegang tangannya dengan tersenyum manis, katanya, “Berkat bantuan para Cianpwe yang hadir di sini sehingga dapatlah kita menjadi suami isteri secara istimewa. Betapapun hatiku sangat berterima kasih, Dengan sendirinya Tonghong Bi-giok menyambutnya dengan tertawa dan berkata, “Ya, tentu saja akupun sangat berterima kasih.”

“Dengan tertawa Cu Bi berkata pula, “Kata orang, cinta suami-isteri harus sehidup semati. Meski aku tak dapat lahir bersama kau pada hari dan saat yang sama, hendaklah kita dapat mati pada hari dan saat yang sama, apakah kau bersedia?” aku menjadi heran pada hari bahagianya mengapa tanpa sebab dia bicara tentang kematian.”

“Dalam pada itu kudengar Tonghong Bi-giok telah menjawabnya dengan tertawa, “Dalam suasana bahagia begini, mengapa kau bicara hal2 yang tidak enak ini?” Cu Bi memandangnya tajam2, ucapnya dengan tersenyum, “Kuminta sukalah kau jawab bersedia atau tidak?” kulihat tertawa Tonghong Bi-giok sudah berubah menjadi menyengir, terpaksa ia mengangguk, “Sudah tentu aku bersedia…” Belum habis ucapannya, mendadak Cu Bi memuntir tangannya, krek, tulang lengan Tonghong Bi-giok telah dipuntirnya hingga patah!”

Tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget. Maka dapatlah dibayangkan betapa terkejutnya Tonghong Tay-beng dan lain2 ketika menyaksikan apa yang terjadi waktu itu.

Dengan pedih Pwe-giok berkata, “Mungkin waktu itu Cu-kiongcu sudah merasakan dirinya telah keracunan dan tak tertolong lagi, maka lebih dulu ia menghaturkan terima kasih kepada pertolongan Hong-locianpwe, itulah penghormatan perpisahannya dengan Cianpwe.”

Gin-hoa-nio menghela nafas gegetun, katanya, “Tatkala mana dia tetap tenang2 saja, kiranya dia sudah bertekad akan gugur bersama dengan lelaki tidak setia dan tak berbudi itu.”

“Tapi waktu itu aku belum lagi tahu persoalannya, baru hendak kutanyai dia sebab apa dia bersikap begitu, tahu2 Tonghong Tay-beng dan begundalnya telah berteriak kaget terus menubruk ke arahnya,” tutur Hong Sam. “Namun lebih dulu Cu Bi telah mencekik leher Tonghong Bi-giok sambil membentak, “Berhenti! Siapapun diantara kalian berani maju lagi setindak, segera ku cekik mampus dulu jahanam ini!” Karena itu Tonghong Tay-beng dan lain2 menjadi kuatir dan tidak berani sembarangan bertindak.

“Habis itu barulah Cu Bi berkata kepadaku dengan pedih bahwa arak telah diberi racun jahat, racun sudah merasuk tulang dan tak dapat ditolong lagi, karena itu dia hanya memohon agar aku suka menjaga Lui-ji. Diam2 akupun mengerahkan tenaga, akupun merasakan diriku juga sudah keracunan, bekerjanya racun sebenarnya sangat lambat, tapi lantaran aku mengerahkan tenaga, seketika kaki dan tanganku berubah menjadi biru hangus. Melihat keadaanku, tambah pedih Cu Bi, sebab tahulah dia bahwa racun yang berada dalam tubuhku jauh lebih hebat daripada dia dan jelas tak tertolong lagi.”

Mendengar sampai di sini, hati semua orang seperti tertindih oleh batu, dadapun terasa sesak.

Lui-ji mengusap air mata, katanya dengan perlahan, “Waktu itu aku lagi duduk di suatu kursi kecil dan asyik makan bakso buatan Ibuku sendiri. Melihat kejadian itu, hampir aku keselak bakso. Pada saat itu juga kembali Sacek bersiul nyaring pula laksana kicauan burung Hong itu. Kulihat Oh-lolo menjadi pucat, berulang ia menyurut mundur sambil berteriak, “Racun itu adalah buatan Tonghong-sengcu yang diracik dengan 81 jenis daun2an, jika kau banyak bergerak, kematianmu tentu akan tambah cepat dan tak tertolong…!”

“Kenapa racun itu dikatakan buatan Tonghong Tay-beng?” tanya Pwe-giok dengan heran.

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya, “Oh-lolo itu licik dan licin, melihat kegagahan Hong-locianpwe yang maha sakti itu, mana dia berani mengaku racun itu berasal dari dia? Apa yang diucapkannya itu tidak lain hanya ingin membelokkan perhatian Hong-locianpwe agar Tonghong Tay-beng yang dilabraknya.”

“Orang sekeji itu sungguh sangat menakutkan,” ujar Pwe-giok.

“Tapi dia terlalu menilai rendah kekuatan Sacek,” tutur Lui-ji pula “Meski waktu itu racun sudah bekerja, namun Sacek menahannya ke dalam perut dengan lweekangnya yang maha sakti, sambil bersiul nyaring Sacek terus menubruk ke arah Tonghong Tay-beng. Tapi ibuku lantas berteriak, “Bukan Tonghong Tay-beng yang membuat racun itu, tapi Oh-lolo. Lekas Hong-locianpwe membekuknya dan memaksa dia menyerahkan obat penawarnya, dengan begitu mungkin masih dapat tertolong.”

“Pada saat ibu bicara itulah, tahu2 kedua tangan Tonghong Tay-beng sudah tergetar patah oleh pukulan Sacek, menyusul dadanya kena dihantam pula sehingga tumpah darah dan roboh terkapar. Melihat tokoh semacam Tonghong Tay-beng saja tidak tahan sekali pukul Sacek, keruan para begundalnya ketakutan setengah mati, segera ada di antaranya bermaksud melarikan diri. Namun sudah terlambat, Sacek sudah kadung murka, terdengarlah suara krak-krek, blak-bluk berturut2, suara tulang patah dan orang roboh, para tokoh Bu-lim kelas tinggi yang memenuhi ruangan itu tiada satupun yang hidup, darah muncrat memenuhi lantai dan dinding.” Baru sekarang Pwe-giok menarik nafas lega, segera ia bertanya, “Dan bagaimana dengan Oh-lolo?”

“Hanya Oh-lolo saja yang belum mati, Sacek cuma mematahkan kedua kakinya, akhirnya memaksa dia agar menyerahkan obat penawarnya,” tutur Lui-ji.

“Tapi racun itu katanya diracik dengan 81 jenis tumbuh2an, mungkin dia sendiri juga tidak mempunyai obat penawarnya. Sungguh sayang!” kata Kwe Pian-sian.

“Ya, memang betul,” kata Lui-ji. “Ibu tahu keterangan Oh-lolo itu tidak dusta, maka minta dia menyebut nama ke-81 jenis tumbuh2an berbisa itu, asalkan tahu namanya tentu dapat mencari obat penawarnya dengan lengkap, sekalipun untuk itu diperlukan waktu cukup lama.”

“Betul juga,” ujar Kwe Pian-sian.

“Dan dibeberkan tidak olehnya?” tanya Pwe-giok.

“Rase tua itu ternyata takut mati, asalkan ada kesempatan hidup, mana dia mau menyia-nyiakannya?” kata Lui-ji. Tapi baru saja dia menguraikan dua-tiga nama jenis racun, se-konyong2 dari samping menyambar tiba secomot jarum dan bersarang di punggungnya. Terdengar Tonghong Tay-beng bergelak tertawa dan berseru, “Hong Sam, kau bunuh diriku, kaupun harus mati bersamaku. Di dunia ini tiada seorangpun yang mampu menyelamatkan kau.” Rupanya lwekangnya sangat hebat, meski terkena pukulan Sacek, tapi seketika belum mati, ia kuatir Oh-lolo memberitahukan resep obat penawar maka Oh-lolo dibunuhnya lebih dahulu!”

Kisah sedih yang ber-liku2 ini akhirnya tamat juga. Namun betapa pedih hati anak dara itu setelah menceritakan kemalangan yang menimpa keluarganya tentulah dapat dibayangkan.

Entah berapa lama lagi, terdengar Oh-lolo menghela nafas panjang, gumamnya, “Ai, kiranya akulah yang salah, akulah yang salah…” ia ulangi beberapa kali ucapannya itu, tiba2 ia berbangkit dan menjura dalam2 kepada Hong-sam sianseng, ucapnya sambil menunduk menyesal, “Kiranya adik perempuanku bukan dibunuh oleh Samya, sebaliknya dia yang telah.. telah membikin susah Samya hingga begini, seumpama Samya yang membunuhnya juga aku tidak dapat bicara apa2 lagi.”

Nenek ini dapat mengucapkan kata2 bijaksana begini, sungguh di luar dugaan siapapun juga.

Sikap Hong Sam tampak sangat kesal, katanya, sambil memberi tanda, “Sudahlah, orang yang pantas mati sudah mati semua, kejadian yang lampau tidak perlu diungkit lagi, kau boleh.. boleh pergi saja.”

“Terima kasih Samya,” kata Oh-lolo sambil melangkah ke ujung tangga. Tiba2 ia menoleh dan berkata pula, “Tonghong Tay-beng itu sok pintar, sesungguhnya iapun keliru besar.”

“Oo? Keliru apa?” tanya Hong Sam.

“Dia mengira di dunia ini tiada orang yang sanggup menawarkan racun di tubuhnya Samya, nyata dia lupa bahwa masih ada seorang nenek reyot macam diriku ini,” kata Oh-lolo.

—–

Apakah Hong Sam akan mendapat obat penawar yang akan menyembuhkannya atau ada tipu muslihat di balik keterangan Oh-lolo itu?

Cara bagaimana Hong Sam akan menghadapi kedatangan musuh pada tengah malam nanti?

——————–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: