Kumpulan Cerita Silat

28/05/2010

Renjana Pendekar – 18

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:23 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Bsarwono, Budiwibowo, Koedanil, Kris_jusuf, dan Sukantas009)

Sebaliknya Dian Ce-hun juga tidak menyangka pemuda cakap yang tampaknya lemah lembut ini, ternyata memiliki tenaga sakti sekuat ini. Dia menahan dari atas, jadi posisinya lebih menguntungkan, tapi ternyata kedua tangan lawan ternyata tetap keras bagai baja, betapapun dia mengerahkan tenaga lagi tetap tak mampu menekannya ke bawah.

Karena adu tenaga, hanya sekejap saja kedua orang sudah sama-sama berkeringat. Diam-diam Dian Ce-hun menyesal, tidak seharusnya dia beradu tenaga dalam dengan lawan.

Dalam pada itu, diam-diam Cu Lui-ji telah memutar ke samping Dian Ce-hun, katanya, “Silahkan kalian mengukur tenaga di sini, suratnya serahkan saja kepadaku.”

Sebelah tangannya segera terjulur dari belakang untuk meraba sampul surat yang tersimpan di dalam baju Dian Ce-hun.

Dalam keadaan begini, bilamana Dian Ce-hun menghindar, tentu bagian depannya akan tak terjaga dan peluang itu akan memberi kesempatan kepada Ji Pwe-giok untuk menyerangnya. Apalagi ketika tangan kiri Cu Lui-ji meraba suratnya, tangannya yang lain juga sudah siap untuk menyerang.

Diam-diam Pwe-giok berkerut kening, menyaksikan tindakan Cu Lui-ji itu, ia merasa tidak pantas nona itu mengancam orang selagi lawan kepepet. Tapi keadaan sudah terlanjur begitu, jika dia menarik diri, mungkin lawan yang terus mendesak dan dirinya yang bakal celaka.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa panjang. Bayangan tubuh Dian Ce-hun mendadak melayang ke atas.

Pwe-giok berdiri di ujung tangga, jarak papan loteng dengan kepalanya tidak lebih dari setengah meteran, siapa tahu tubuh Dian Ce-hun yang melayang ke atas itu dapat memberosot ke atas loteng menempel papan loteng selicin ikan.

Ginkang yang diperlihatkan ini benar-benar sangat mengejutkan dan sukar dibayangkan.

Baik Pwe-giok maupun Cu Lui-ji sama terkejut.

Terdengar Dian Ce-hun bersuara di atas loteng, “Wanpwe Dian Ce-hun ingin menyampaikan surat, mohon cianpwe sudi menerima.”

Padahal saat itu dia sudah melihat jelas orang berbaring di tempat tidur, andaikan si sakit tidak mau menerimanya, juga sukar mengelakkan diri.

Orang sakit itu hanya memandang Dian Ce-hun sekejap dengan tak acuh, lalu bertanya, “Kedatanganmu ini atas suruhan siapa ?”

“Inilah suratnya, setelah cianpwe membacanya tentu akan tahun sendiri,” jawab Dian Ce-hun. Kedua tangannya lantas menjulur ke depan, perlahan ia mengangsurkan sampul surat yang dibawanya, tanpa berkedip ia pandang si sakit.

Sementara itu Cu Lui-ji sudah memburu ke atas dan berseru, “Awas tangannya, sacek … ”

Belum lenyap suaranya, mendadak tangan si sakit menggapai perlahan, entah dengan cara bagaimana tahu-tahu sampul surat yang dipegang erat-erat oleh kedua tangan Dian Ce-hun telah berpindah ke tangan orang lain.

Air muka Dian Ce-hun rada berubah dan menyurut mundur dua-tiga langkah, katanya sambil membungkuk, “Tugas Wanpwe sudah selesai, sekarang juga kumohon diri.” Sambil bicara ia melangkah mundur dua tiga tindak sehingga menyurut sampai di ujung tangga, tapi sebelum melangkah ke bawah loteng, mendadak ia turun tangan secepat kilat, tahu-tahu pergelangan tangan Cu Lui-ji dicengkeramnya. Lui-ji tidak pernah menduga akan disergap begitu, keruan badannya lantas lemas dan tak berdaya, ia sempat berteriak, “Sacek … .”

Dian Ce-hun lantas berkata dengan suara tertahan, “Bilamana kalian memikirkan keselamatan nona ini, hendaklah kalian jangan sembarangan bergerak, Cayhe hanya ingin membawanya pergi menemui seseorang, habis itu pasti akan ku antar dia pulang ke sini dengan selamat.”

Sambil bicara, selangkah demi selangkah ia terus mundur ke bawah loteng, semua orang hanya menyaksikan kepergiannya dengan mata terbelalak tanpa bisa bertindak apa-apa.

Si Sakit sedikitpun tidak kelihatan cemas, dia malah bertanya lagi dengan perlahan, “Hendak kau bawa dia untuk menemui siapa ?”

“Guruku … ” jawab Dian Ce-hun.

Mendadak si sakit mendengus, “Hmm, jika dia ingin menemuinya, suruh dia sendiri datang ke sini.”

Sambil bicara mendadak tubuhnya melayang melintang dari tempat tidurnya.

Ketika berbaring tampaknya dia sudah kempas-kempis dan tak dapat bergerak, tapi sekarang begitu melayang ke atas, gerak tubuhnya itu tampak begitu gesit dan tangkas.

Wajah Dian Ce-hun menjadi pucat, bentaknya, “Apakah Cianpwe tidak memikirkan dia lagi …” belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong si sakit sudah menubruk ke arahnya segera lehernya hendak mencengkeramnya.

Ketika Dian Ce-hun merasa angin keras menyambar tiba, begitu kuat sehingga napaspun terasa sesak. Mana dia sempat mencelakai Cu Lui-ji lagi, ingin lari saja tidak sempat. Terpaksa ia mengerahkan segenap tenaga, kedua tangannya menangkis ke atas.

Tak terduga si sakit yang mengapung di atas udara itu ternyata dapat melakukan perubahan dengan gesit, sekali putar badan, secepat kilat urat nadi pergelangan tangan Dian Ce-hun telah di kena di cengkeramannya.

Sekejap itu, semua orang sama melenggong menyaksikan apa yang terjadi itu. Semua orang tahu si sakit ini pasti bukan tokoh sembarangan, tapi tiada yang menduga kungfunya sedemikian mengejutkan. Kungfu dari perguruan dan aliran manapun di dunia ini kalau dibandingkan gerakan si sakit barusan. Hakekatnya, boleh dikatakan seperti permainan anak kecil belaka.

Diam-diam Kwe Pian-sian terkejut, pikirnya, “Bocah she Dian ini benar-benar cari penyakit sendiri. Sekarang tangannya sudah dicengkeram orang, mungkin segenap kungfunya akan dipinjam pakai juga oleh orang.

Bara saja terlintas pikiran demikian, tiba-tiba terdengar si sakit mendamprat perlahan, “Inilah sedikit hajar adat padamu agar selanjutnya kau tahu diri. Nah, enyahlah kau!”

Di tengah bentakannya itu, tubuh Dian Ce-hun telah diangkatnya ke atas terus dilemparkannya ke luar jendela seperti anak kecil lempar bola. Sampai lama sekali baru terdengar suara “bluk” di luar sana.

Habis itu, si sakit melayang kembali ke tempat tidurnya dan berbaring pula seperti semula, hanya napasnya tampak terengah-engah.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar suara Dian Ce-hun berkumandang dari luar jendela sana, “Kungfu Cianpwe sungguh hebat luar biasa kelak Wanpwe masih ingin minta petunjuk lagi.”

Bicara sampai kata terakhir itu suaranya kedengarannya sudah berada di tempat beratus tombak jauhnya. Nyata anak muda ini tidak cuma kepala batu, dan tidak kenal apa artinya kapok, bahkan nyalinya juga besar dan tidak takut apapun.

Diam-diam timbul rasa suka dan sayang dalam hati Pwe-giok terhadap pemuda she Dian itu, pikirnya dengan gegetun, “Sungguh lelaki yang hebat, entah dia anak murid siapa?”

Di dengarnya si sakit sedang berkata dengan megap-megap, “Melulu Ji Hong-ho dan begundalnya itu tidak nanti berhasil mendidik anak murid seperti ini.”

“Betul,” tukas Pwe-giok. “Dia tidak mungkin murid salah satu ke-13 perguruan terkemuka jaman ini. Sebab itulah Wanpwe merasa heran entah dia berasal dari mana?”

Orang sakit itu memejamkan mata, ia cuma menggeleng dan tidak bicara lagi.

Tiba-tiba Cu Lui-ji bertanya, “Sacek, mengapa kau lepaskan dia ?”

“Perang antara dua negara tidak boleh membunuh utusan musuh,” kata si sakit dengan dingin. “Apalagi biarpun dia kurang sopan, masa akupun bertindak ngawur seperti dia?”

“Tapi kulihat kedatangannya itu tidak melulu untuk mengantar surat saja, tentu dia ingin tahu keadaan di sini, setelah dia tahu penyakit Sacek belum sembuh, sepulangnya ini mungkin akan datang lagi dengan membawa orang lain.”

“Biarpun membawa orang lain lantas mau apa?” kata si sakit dengan gusar. “Sekalipun kita harus mati juga tak boleh bertindak sesuatu yang memalukan, tahu tidak?”

Cu Lui-ji mengiakan dengan menunduk. Iapun tidak berani bicara lagi.

Diam-diam Pwe-giok bertambah kagum terhadap kepribadian si sakit.

Kwe Pian-sian sejak tadi diam saja, kini iapun tidak tahan, katanya, “Sekalipun Cianpwe harus membebaskan dia, mengapa tidak kau pinjam pakai dulu Kungfunya itu?”

Si sakit meliriknya sekejap dengan sorot mata dingin dan penuh rasa menghina, iapun tidak menjawabnya.

Cu Lui-ji lantas mendengus, “Sekalipun Sacek suka pinjam pakai Kungfu orang lain, kalau bukan orang itu sukarela tentulah akibat perbuatan orang itu sendiri. Kalau tidak, Kungfumu kan juga tidak lemah, mengapa Sacek tidak pinjam pakai?”

Kwe Pian-sian jadi ngeri sendiri dan tidak berani bicara lagi. Tapi biasanya dia juga angkuh dan tinggi hati, tentu saja dia tetap penasaran karena merasa dihina. selang sejenak, ia tidak tahan dan berkata pula, “Mungkin nona hanya bergurau saja. Di seluruh dunia ini mana ada orang yang sukarela meminjamkan Kungfunya yang dilatihnya dengan susah payah selama hidup kepada orang lain?”

Tiba-tiba Cu Lui-ji melirik Gin-hoa-nio sekejap, lalu mendengus, “Mungkin ada, siapa tahu?!”

Gin-hoa-nio merasa bingung mengapa anak dara itu meliriknya, seketika ia merinding sendiri. Selagi ia hendak mencari alasan untuk bertanya, tiba-tiba Pwe-giok sudah bertanya lebih dulu, “Entah apa yang tertulis di dalam surat itu?”

Setelah bertanya, hati Pwe-giok menjadi menyesal, ia menyangka si sakit pasti tidak akan memberitahukannya dan hal ini berarti dirinya mendapat malu sendiri.

Siapa tahu si sakit lantas menyerahkan surat tadi kepada Lui-ji dan berkata, “Coba, kau bacakan bagi mereka.”

Lui-ji lantas merobek sampul surat itu, diloloskannya secarik surat, lebih dulu dilihatnya satu kali, habis itu baru dibacanya dengan perlahan, “… Locianpwe yang terhormat, sudah lama kami kagum atas pribadimu, tak tersangka sekarang Cianpwe bertirakat di sini. Nama Cianpwe termasyhur bijaksana, tentunya Cianpwe takkan membela puteri … Pada tengah malam nanti kami akan berkunjung kemari, diharapkan Cianpwe takkan menolak kedatangan kami. Hormat Ji Hong-ho dan kawan-kawan berjumlah 12 orang.”

Isi surat itu ditulis secara tergesa-gesa sehingga kalimatnya tidak diperbaiki lagi, namun cekak-aos, singkat dan jelas.

Namun waktu membacanya, Cu Lui-ji sengaja melompati beberapa nama yang tidak dibacanya.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Nama pada bagian depan surat itu tentulah nama orang sakit ini dan nama bagian lain yang menyebutkan nama orang tua nona Cu ini, dengan sendirinya juga tidak dibacakannya.”

Mendadak si sakit mendengus, “Hm, Ji Hong-ho dan kawan-kawannya berjumlah 12 orang … huh, hanya mereka itu saja berani menemui aku dengan menjanjikan waktu berkunjung segala?”

Dengan suara tertahan Cu Lui-ji berkata, “Jika cuma mereka saja tentu saja tidak berani menulis surat ini, tapi sekarang kukira mereka tentu sudah mempunyai beking yang kuat, makanya nyali mereka tambah besar.”

Pwe-giok saling pandang sekejap dengan Kwe Pian-sian, diam-diam mengagumi kecepatan berpikir nona cilik ini, mereka memang juga sudah memperkirakan Ji Hong-ho pasti mendapatkan bala bantuan yang tangguh.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Rasanya tokoh andalan mereka pasti bukan Dian Ce-hun yang mengantar surat ini, tapi pasti lebih lihay daripada Dian Ce-hun, jangan-jangan orang yang dimaksud adalah guru pemuda she Dian itu?”

Berpikir demikian, diam-diam ia berkuatir bagi si sakit. Dilihatnya orang sakit itu telah memejamkan mata pula, setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan perlahan, “Jika mereka telah mengirim surat secara sopan padaku rasanya kitapun harus membalasnya dengan cara yang sama ….. Lui-ji, boleh kau pergi kesana, katakan kepada mereka bahwa aku tetap menantikan kedatangan mereka di sini.”

“Tidak, aku tidak mau kesana,” di luar dugaan Lui-ji menjawab dengan menggeleng.

“Kau tidak mau pergi?” si sakit menegas dengan berkerut kening.

Lui-ji menyapu pandang sekejap ke arah Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, katanya kemudian dengan menunduk, “Aku akan mengiringi Sacek di sini, aku tidak mau pergi kemana-mana.”

Pwe-giok tahu sebabnya nona cilik itu tidak mau pergi adalah karena kuatir terhadap Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, ia harus tetap tinggal di sini untuk mengawasi gerak-gerik kedua orang itu. Dari sini terbuktilah bahwa saat ini si sakit berada dalam keadaan gawat, sisa tenaganya sudah tidak cukup untuk melayani gin-hoa-nio dan Kwe Pian-sian berdua. apalagi untuk menghadapi Dia Ce-hun dan gurunya yang pasti jauh lebih lihay.

Berpikir demikian, tanpa terasa Pwe-giok terus berseru, “Jika nona Cu harus meladeni Cianpwe di sini, biarlah aku saja yang mewakili Cianpwe pergi ke sana.”

Sekonyong-konyong si sakit membuka mata dan bertanya, “Kau ingin pergi?”

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Ya, jika sekiranya Cianpwe tidak merasa keberatan.”

Sorot mata si sakit yang tajam itu menatapnya sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Coba kemari kau!”

Sejak tadi Ciong Cing berduduk melongo disamping sana, kini timbul rasa kuatirnya ketika dilihatnya Ji Pwe-giok disuruh mendekati orang sakit itu, hampir saja ia berteriak, “He, jangan kau mendekati dia. Kungfumu akan dipinjam pakai juga olehnya.”

Namun tanpa prasangka apapun Pwe-giok tetap mendekati si sakit dengan tenang, katanya, “Cianpwe hendak memberi pesan apalagi?”

Si sakit memberi tanda, Pwe-giok terus mendekatkan telinganya ke mulut orang itu. Dengan mata terbelalak Ciong cing menyaksikan si sakit berbisik-bisik sekian lamanya di tepi telinga Pwe-giok.

Suaranya sangat lirih sehingga tiada seorangpun yang tahu apa yang dikatakannya. Hanya terlihat air muka Pwe-giok lambat-laun memperlihatkan rasa girang, mendadak ia memberi hormat dan berucap, “Terima kasih, Cianpwe”.

“Kau sudah paham?” tanya si sakit.

Pwe-giok memejamkan matanya dan berpikir sejenak, tiba-tiba kedua tangannya bergerak beberapa kali di udara, seperti menggores beberapa lingkaran yang besar-kecilnya tidak sama.

Orang lain tidaklah merasakan apa-apa atas perbuatan Pwe-giok itu, tapi Kwe Pian-sian menjadi terkejut. Nyata dia merasakan pad setiap lingkaran yang dibuat oleh Ji Pwe-giok itu mengandung satu jurus serangan mematikan yang amat lihay.

Makin lama makin cepat lingkaran yang dibuat Ji Pwe-giok itu, tapi dari cepat mendadak berubah lambat, habis itu lantas berhenti, dia menarik napas panjang-panjang, air mukanya bersemu merah, lalu ia memberi hormat kepada si sakit dan bertanya, “Apakah begini caranya?”

Sorot mata si sakit menampilkan rasa girang, katanya sambil mengangguk, “Bagus sekali, bolehlah kau berangkat!”

Pwe-giok memberi hormat pula, tanpa bicara lagi ia terus bertindak pergi dengan langkah lebar.

Kini Kwe Pian-sian dapat menerka bahwa mungkin si sakit kuatir Pwe-giok akan dianiaya atau dihina waktu mengantar surat ke sana, maka si sakit sengaja mengajarkan sejurus Kungfu maha lihay kepadanya.

Diam-diam Kwe Pian-sian menyesal, “Tahu begitu. tentu tadi ku dahului mencalonkan diri sebagai pengantar surat.”

Tapi setelah menyesal ia menjadi heran pula, “Orang sakit ini hanya berbisik-bisik sejenak kepada Ji Pwe-giok ini dan anak muda itu lantas dapat menguasai jurus serangan maha lihay itu, mengapa dia dapat belajar secepat ini?”

Ia tidak tahu bahwa pandangan si sakit sangat tajam, dari gerak-gerik Ji Pwe-giok sejak tadi sudah dapat dirabanya asal-usul ilmu silatnya. Apa yang diajarkannya barusan adalah Kungfu yang berdekatan dengan kepandaian yang telah dikuasai Pwe-giok, apalagi anak muda itu memang sangat cerdas, diberitahu satu segera paham tiga, diberi petunjuk sebelah sini serentak tahu pula apa yang di sebelah sana, setelah diberitahu kunci-kuncinya oleh orang kosen, dengan sendirinya segera dapat dikuasainya dengan cepat.

Dalam pada itu kedengaran si sakit telah mendengkur, agaknya sudah tertidur pulas pula.

Sebaliknya wajah Cu Lui-ji sekarang tampak agak pucat, dia bergumam, “Tengah malam nanti … waktunya tinggal lima-enam jam lagi …” tiba-tiba pandangannya beralih ke arah gin-hoa-nio dan berkata dengan dingin, “Sesudah lima enam jam lagi mungkin kau akan ….. ”

Gin-hoa-nio menjadi ketakutan setengah mati, sebelum habis ucapan anak dara itu segera ia berlutut dan menyembah, mohonnya dengan suara gemetar, “Mohon belas kasihan nona, sudilah mengingat sesama perguruan dan tolonglah diriku.”

“Jadi sekarang kau mau mengaku sebagai orang perguruan kita?” tanya Cu Lui-ji.

Gin-hoa-nio menunduk, jawabnya dengan terputus-putus, “Aku … aku … ”

“Hm, apakah tidak terlalu terlambat pengakuanmu sekarang?” jengek Lui-ji

Gin-hoa-nio merasa sekujur badan lemas seluruhnya dan hampir jatuh terkulai. Meski dia biasa mempermainkan setiap lelaki, tapi di depan anak perempuan ini dia benar-benar mati kutu dan tidak sanggup bertingkah sama sekali.

Tak terduga, lewat sejenak, tiba-tiba Lui-ji berkata pula, “Jika kau ingin hidup, kukira masih ada jalannya.”

“Apa jalannya?” tanya Gin-hoa-nio cepat,

“Masa kau sendiri tidak dapat menerkanya?” ucap Lui-ji dengan hambar.

Diam-diam Gin-hoa-nio menggreget, pikirnya dengan gemas, “Budak sialan, budak mampus, jika aku dapat memikirkan jalan baik, masa perlu kuminta pertolongan kepada budak hina macam kau?”

Sudah tentu dia tidak berani memperlihatkan rasa penasarannya itu, sebaliknya ia menjawab dengan mengiring tawa, “Ah, aku ini terlalu bodoh sehingga perlu minta petunjuk kepada nona, mana sanggup kucari jalan yang lebih baik. Hendaklah nona saja sudi menolong, budi kebaikanmu tentu takkan kulupakan selama hidup ini.”

Tapi Cu Lui-ji lantas melengos ke sana seperti tidak mendengar ucapannya itu.

Keruan Gin-hoa-nio tambah gelisah, saking gregetan hampir saja ia mencaci-maki.

Tak terduga Kwe Pian-sian lantas menimbrung dengan perlahan, “Jalan keluarnya mungkin dapat ku terka.”

Gin-hoa-nio melengak, tanyanya , “Kau tahu?”

“Ehmm,” Kwe Pian-sian mengangguk.

“Meng … mengapa tidak lekas kau katakan?” seru Gin-hoa-nio.

“Untuk apa harus kukatakan?” jawab Kwe Pian-sian dengan ketus.

Gin-hoa-nio jadi tertegun, mukanya sebentar pucat sebentar hijau, diam-diam ia menggertak gigi saking gemasnya, namun wajahnya segera menampilkan senyuman menggiurkan, katanya, “Kumohon dengan sangat, sudilah kau katakan padaku, selama hidupku ….”

“Ah, justru aku tidak berharap agar selama hidupmu akan selalu teringat padaku.” tukas Kwe Pian-sian.

“Tapi bukan saja aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu, bahkan apapun kehendakmu atas diriku pasti akan kuberikan,” sambung gin-hoa-nio pula.

Kwe Pian-sian melirik sekejap ke arah bungkusan benda mestika sana, katanya, “Barang apapun juga, katamu?”

“Ya.” jawab Gin-hoa-nio dengan menunduk.

Terdengar suara keriat-keriut di sebelah sana, kiranya saking gregetan Cion Cing telah menggertak giginya. Maklumlah, makna kata “barang apapun yang kau kehendaki” terlalu luas dan meliputi macam-macam hal.

Kwe Pian-sian tertawa cerah, katanya, “Tentang jalan keluarnya, tadi kudengar nona Cu bilang ada sementara orang yang sukarela akan meminjamkan Kungfunya kepada Cianpwe ini, tatkala mana aku merasa bingung, tapi sekarang aku telah paham arti ucapannya itu.”

Teringat waktu bicara tadi Cu Lui-ji pernah melirik ke arahnya, tiba-tiba Gin-hoa-nio juga paham apa yang dimaksudkan, seketika keringat dingin membasahi tubuhnya.

Terdengar Kwe Pian-sian menyambung pula, “Dan jika kau mau meminjamkan Kungfumu kepada Cianpwe ini, racun yang mengeram di tubuhmu dengan sendirinya juga akan terhisap bersih oleh Cianpwe ini dan jiwamu juga tidak akan menjadi soal lagi.”

Gemetar Gin-hoa-nio, katanya, “Tapi … tapi kalau terjadi begini, bukankah be … beliau sendiripun akan keracunan?”

Meski ucapannya ini ditujukan kepada Kwe Pian-sian, iapun tahu Kwe Pian-sian pasti tidak mampu menjawab, yang sanggup menjawab pertanyaannya ini hanya Cu Lui-ji saja.

Benarlah, dengan tenang Cu Lui-ji lantas berkata, “Sedikit racun di tubuhmu itu memang cukup berat bagimu, tapi bila berada di tubuh Sacek, racun itu sama sekali tidak ada artinya.”

Gin-hoa-nio melenggong pula dengan berkeringat dingin, sebentar-bentar ia pandang si sakit dan sebentar-bentar lagi memandang tangannya sendiri. Mendadak ia berteriak dengan suara parau, “Baiklah! Akan …. akan kupinjamkan kepadamu!”

“Hm, kau mau, masih perlu dipertimbangkan lagi apakah kami mau terima?” jawab Cu Lui-ji dengan tertawa dingin.

Kembali Gin-hoa-nio melengak, ucapnya pula dengan terputus-putus, “Habis sesungguhnya apa .. apa kehendakmu?”

Lui-ji hanya tertawa dingin saja tanpa bersuara.

Tapi Kwe Pian-sian lantas menyeletuk, “Jika orang tidak mau menerima, apakah kau tidak dapat memohon lagi?”

Gin-hoa-nio terkesima lagi sekian lamanya, akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata dengan air mata bercucuran, “Ya, kumohon … kumohon dengan sangat sudilah … sudilah nona …”

Sesungguhnya dia sangat penasaran dan menahan dendam, suaranya menjadi tersendat dan hampir-hampir sukar diucapkan.

Sebaliknya diam-diam Cion Cing merasa senang, pikirnya, “Tak tersangka orang semacam kau sekarang juga mendapat ganjaran yang setimpal.”

Sejenak kemudian barulah Cu Lui-ji tersenyum hambar, katanya, “Baiklah, cuma kau harus ingat kau sendiri yang memohon padaku, aku tidak pernah memaksa kau, betul tidak?”

Gin-hoa-nio tidak tahan lagi, ia menjatuhkan diri di lantai dan menangis sedih …

oOo oOo oOo

Saat itu baru saja lewat lohor, sang surya sedang memancarkan sinarnya yang cerlang cemerlang, tapi suasana di kota kecil ini terasa seram dan suram.

Di pojok dinding sana meringkuk seekor anjing tua, mungkin binatang itu sudah terbiasa oleh keramaian, kini juga merasakan suasana yang luar biasa ini sehingga ketakutan dan tidak berani sembarangan bergerak.

Walaupun kecil, tapi Li-toh-tin semula adalah sebuah kota kecil yang cukup ramai, tapi sekarang keadaan kota ini sunyi senyap, suara kokok ayam dan gonggong anjingpun tak terdengar, karena itulah terasa seram laksana sebuah kota hantu.

Pwe-giok berjalan sendirian di jalan raya satu-satunya ini, dilihatnya pintu toko di kedua samping jalan sama tertutup rapat, hanya papan merek toko saja yang bergoyang-goyang tertiup angin, mau-tak-mau timbul juga rasa seramnya.

Setelah berjalan lagi sekian lamanya ke depan, mendadak terlihat di hutan di depan sana ada bayangan manusia. Pwe-giok mengira orang-orang yang hendak dicarinya itu bersembunyi di hutan sana, segera ia mendekatinya dengan langkah lebar.

Siapa tahu, setelah dekat, dilihatnya ditengah hutan itu penuh berjubel orang-orang, ada yang duduk di atas batu, ada yang berkerumun di bawah pohon, lelaki dan perempuan, tua dan muda, entah berapa jumlahnya. Rupanya Ji Hong-ho telah menggiring segenap penduduk Li-toh-tin ke hutan ini.

Wajah orang-orang itu sama mengunjuk rasa takut dan cemas, begitu banyak orang yang berkerumun di situ, tapi tiada seorangpun yang berani bersuara, sampai bayi-bayi dalam pangkuan san bunda juga dibungkus rapat-rapat dengan selimut sehingga suara tangisannya tidak tersiar. Semua orang merasa seakan-akan ditimpa oleh malapetaka.

Pwe-giok menghela napas, pikirnya, “Orang she Ji itu sengaja mengiring penduduk Li-toh-tin ke sini, tentu saja dengan alasan demi keselamatan penduduk itu sendiri agar tidak menimbulkan korban orang yang tak berdosa, padahal penduduk di sini adalah rakyat jelata yang hidup tertib, mana pernah mengalami kejadian seperti ini …”

Kedatangan Pwe-giok disambut orang-orang di tengah hutan itu dengan pandangan yang curiga dan benci, mereka seakan-akan hendak berkata, “Sesungguhnya kau ini manusia macam apa ? Mengapa kalian mengganggu ketenangan kami?”

Pwe-giok tidak berani memandang mereka dengan kepala tertunduk ia lalu ke sana. Mendadak dua lelaki berpakaian ketat melompat keluar dari balik pohon sana dan menghadang di depan Pwe-giok.

“Kawan ini datang darimana dan ada keperluan apa?” segera seorang menegur.

Kedua orang itu tadi tidak ikut ke Li-keh-can, maka mereka tidak kenal Pwe-giok. Sebaliknya dari dandanan mereka Pwe-giok dapat menerka mereka pasti anak buah langsung orang she Ji itu. Ia menjadi gusar. Tapi sedapatnya ia menahan perasaannya, jawabnya dengan ketus, “Ku datang mengantar surat, dapatkah kalian memberi petunjuk jalannya?”

Orang itu tertawa lebar, katanya, “Bengcu sudah tahu pasti ada orang yang akan datang dengan membawa surat, makanya kami berdua ditugaskan menunggu di sini. Perhitungan Bengcu yang maha jitu ini sungguh luar biasa, kawan merasa kagum tidak?”

Pwe-giok hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Orang itu melototinya sekejap, seketika iapun menarik muka dan berkata, “Jika kau ingin menyampaikan surat, marilah ikut padaku. Kalau saja tiada pesan Bengcu ….. Hm!”

Melihat lagak orang, Pwe-giok berbalik tidak marah, pikirnya, “Jika anak buah orang she Ji itu melulu terdiri dari orang-orang tolol begini, jadinya lebih baik malah.”

Setelah menyusuri hutan itu tampaklah di depan sana ada sebuah biara.

Hampir seluruh penduduk Li-toh-tin itu she Li, patung yang dipuja di biara ini ialah Thay-siang-lo-kun yang aslinya juga she Li. Rupanya penduduk

Li-toh-tin ini menganggap mereka adalah keturunan Thay-siang-lo-kun, sebab itulah biara ini dibangun dan dirawat dengan sangat megah dan bagus, bahkan besarnya tidak kalah dengan biara ternama di kota-kota besar.

Tapi sekarang suasana biara itupun senyap, kedua sayap daun pintu bercat hitam hanya terbuka sedikit, pohon di depan biara adalah pohon tua yang berumur ribuan tahun.

Setiba di depan pintu, kedua pengantar itu menoleh dan berkata, “Tunggu dulu di sini, biar kami laporkan bagimu, jangan sembarangan bergerak, tahu ?”

Jika orang lain diperlakukan kasar begini, bisa jadi kedua orang itu akan kontan dipersen dengan dua kali gamparan. Tapi Pwe-giok memang pemuda sabar, ia hanya tersenyum hambar dan menjawab, “Baiklah, terima kasih”.

Kedua orang itu melotot lagi sekejap, lalu melangkah ke dalam biara sambil mendengus.

Sejenak kemudian dibalik pintu sana berkumandanglah suara mereka, “Bengcu melukiskan pihak lawan sedemikian lihaynya, tapi kulihat pengantar surat ini mirip seorang penari belaka, cuma sayang mukanya ada bekas luka”.

Pwe-giok tidak menjadi marah oleh olok-olok itu, sebaliknya malah ia tertawa senang.

Kebanyakan anak muda berdarah panas dan lekas marah, tinggi hati, tidak mau kalah. Apalagi dihina orang. Dengan sendirinya Pwe-giok juga begitu.

Tapi kini setelah mengalami berbagai macam gemblengan, sudah kenyang dengan pengalaman pahit, ia justru takut bila orang lain memperhatikan dan menghargainya, semakin orang memandang rendah padanya, semakin meremehkan dia, dalam hatinya justru semakin girang. Sebab ia tahu hanya orang demikian inilah takkan dibenci dan dicemburui orang lain dan juga takkan dicelakai orang. Meski usianya masih muda, tapi pengetahuannya kini sudah terlalu banyak.

Selang tak lama, terdengar dibalik pintu ada suara orang bertanya, “Dimana si pengantar surat ?”.

Pwe-giok tahu pertanyaan orang itu berlebihan, sebab jelas-jelas diketahuinya pengantar surat berada diluar, untuk apa mesti bertanya lagi. Segera ia membetulkan bajunya dan menjawab, ” Di sini!”

Tanya jawab ini sebenarnya memang tidak perlu, tapi kalau tiada permainan begini, rasanya sandiwara ini menjadi kurang menarik.

Akan tetapi setelah bertanya-jawab, dari dalam tetap tiada orang muncul. Pwe-giok menunggu lagi sejenak, sekalipun ia cukup sabar, tidak urung ia tidak tahan dan mengulangi lagi jawabnya, “Di sinilah pengantar suratnya…” dua kali dia mengulangi ucapannya itu, suaranya juga tambah keras, tapi di balik pintu tetap sunyi senyap tanpa reaksi apa-apa.

Ia menunggu lagi sebentar, tiba-tiba ia berseru dengan tertawa, “Jelas-jelas anda tahu kedatangan pengantar surat, mengapa tinggal diam dan tidak menggubrisnya? Apakah anda tidak suka menerima surat ini? Sungguh cayhe tidak paham apa maksud anda?”

Namun di balik pintu tetap tiada suara jawaban.

Pelahan Pwe-giok berkata lagi, “Namun Cayhe sudah menerima tugas dan harus melaksanakan kewajiban. Kalau surat sudah ku antar kemari, betapapun harus kuserahkan kepada yang wajib terima”. Sembari bicara ia terus mendorong pintu dan melangkah ke dalam.

Halaman dalam kelihatan guram, suasana juga hening, bahkan kedua orang yang membawanya kemari tadi juga sudah menghilang entah ke mana.

Tanpa melirik ke kanan maupun ke kiri, Pwe-giok langsung menuju ke ruangan tengah sana dengan melintasi halaman itu.

Di ruangan pendopo biara itu tampak asap dupa bergulung-gulung, patung Thay-siang-lo-kun di altar kelihatan khidmat, sebuah Hiolo (tungku dupa) terbuat dari perunggu yang biasanya terletak di tengah-tengah pendopo kini sudah disingkirkan ke pinggir.

Hiolo itu tingginya melebihi manusia, tampaknya biarpun bertenaga raksasa juga sukar memindahkannya kecuali kalau belasan orang bertenaga kuat menggesernya bersama. Tapi Hiolo itu cuma berkaki tiga, bagian lain boleh dikatakan licin sekali dan sukar dipegang, biarpun belasan orang hendak mengangkatnya sekaligus rasanya juga sulit.

Sungguh Pwe-giok tidak paham siapakah yang memindahkan Hiolo raksasa itu dan cara bagaimana menggesernya?

Terlihat setelah Hiolo itu dipindahkan, di ruang pendopo itu kini sudah dipasang 12 kursi besar dari kayu merah. Namun ke 12 kursi itu belum satupun diduduki orang.

Sampai di sini Pwe-giok tidak melangkah lebih maju lagi. Sekarang iapun paham duduknya perkara. Pikirnya, “Rupanya merekapun tahu orang sakit itu juga akan menggunakan alasan mengirim surat balasan dan sekaligus mencari tahu kekuatan mereka, sebab itulah mereka sama menyingkir dan tiada seorangpun mau memperkenalkan diri. Tapi orang se Ji dan Lim Soh-Koan dan lain-lain kan tidak perlu lagi menyembunyikan jejak mereka, yang tidak ingin memperlihatkan wajah aslinya mungkin adalah tokoh andalan mereka yang lihai itu.”

Lalu siapakah tokoh andalan mereka itu? Mengapa mesti bertindak misterius begini? Apakah mungkin dia kuatir kedatangannya diketahui oleh si sakit? Bisa jadi si sakit akan kabur bilamana mengetahui kedatangannya?

Timbul juga rasa ingin tahu Pwe-giok, ia mengerling sekeliling ruangan itu, mendadak ia menjura terhadap kursi besar dibagian tengah yang kosong itu dan berkata, “Cayhe Ji Pwe-giok sengaja berkunjung kemari untuk menemui Bengcu.”

Dia menjura dengan sikap yang sangat hormat, sama seperti saat itu Ji Hong-ho benar-benar berduduk dikursi itu. Dalam keadaan demikian, bilamana Ji Hong-ho tidak mau kehilangan pamornya sebagai seorang Bengcu, maka mau-tak-mau dia harus memperlihatkan dirinya.

Selang sejenak, benarlah terdengar suara Ji Hong-ho berkumandang dari belakang sana, katanya dengan tertawa, ” Sungguh tidak pernah kuduga si pengantar suratnya ialah Ji-kongcu, maaf jika tiada penyambutan yang layak.”

Ramah juga nada ucapannya, tapi belum lama lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong seorang berteriak disamping, ” Jadi kau inilah pengantar surat Hong Sam?”

Baru sekarang Pwe-giok tahu orang sakit itu bernama Hong Sam, didengarnya orang itu bicara dengan keras dan cepat, jelas orang yang berbicara ini berwatak keras dan pemberang.

Pada umumnya orang yang berwatak keras dan pemberang tentu sukar melatih Kungfu dengan baik, tapi tenaga dalam orang itu justru begini kuat, setiap katanya bergetar seperti bunyi genta sehingga anak telinga pendengarnya terasa sakit.

Tanpa melihat orangnya saja Pwe-giok tahu tinggi ilmu silat orang ini benar-benar belum pernah dilihatnya selama hidup ini. Jelas memang lebih tinggi setingkat dibandingkan para ketua dari ke-13 perguruan terkemuka jaman ini.

Selagi Pwe-giok tercengang, agaknya orang itu tidak sabar menunggu lagi, dengan gusar ia menegur pula, “Kutanya padamu, mengapa tidak lekas kau jawab?”

Maka Pwe-giok lantas berkata, “Betul Cayhe memang mengantar surat bagi Hong-locianpwe…”

“Kau pernah apanya Hong Sam?” tanya pula orang itu dengan suara bengis.

“Cayhe dan Hong-cianpwe bukan sanak bukan kadang, hanya … ”

“Bukan sanak bukan kadang?” orang itu memotong dengan gusar. “Lalu untuk apa kau menjadi pengantar suratnya? Apakah kau makan kenyang dan terlalu iseng?”

Setiap kali ucapannya belum habis lantas dipotong oleh orang itu, diam-diam Pwe-giok mendongkol dan juga geli, pikirnya, “Watak orang ini begini keras, jelas pula seorang pemberang, entah cara bagaimana dia berhasil meyakinkan Kungfu setinggi ini?”

Walaupun dalam hati merasa heran, tapi dimulut iapun tidak berani ayal, jawabnya, “Tugas mengantar surat adalah pekerjaan yang mudah, tidak merugikan diri sendiri, tapi berguna bagi orang lain, mengapa tidak kulakukan?”

“Hm,” orang itu mendengus. “Di mana suratnya?”

“Surat Hong-locianpwe yang ku antar ini adalah surat lisan,” jawab Pwe-giok.

“Surat lisan?” Orang itu menegas. “Apakah untuk memegang pensil saja dia tidak punya tenaga lagi?”

Berkata sampai di sini mendadak ia tertawa terbahak-bahak, begitu keras dan nyaring suara tertawanya sungguh-sungguh sangat mengejutkan, seluruh ruangan pendopo itu seolah-olah bergetar oleh gema suara tertawanya.

Pwe-giok tambah terkejut juga. Ia tunggu setelah suara tertawa orang mereda barulah ia menjawab dengan suara tegas, “Hong-locianpwe menyuruh Cayhe menyampaikan kepada Anda sekalian bahwa tengah malam nanti beliau siap menanti kunjungan kalian, diharap kalian datang tepat pada waktunya..”

“Dia berharap kami datang tepat pada waktunya, memangnya dia mengira aku tidak berani pergi kesana?” kata orang itu dengan gusar.

“Maksud Hong-locianpwe hanya ….”

“Darimana kau tahu maksudnya?” sela orang itu dengan meraung gusar. “Kau ini kutu macam apa? Selesai mengantar surat, tidak lekas enyah dari sini, apakah kau minta ku gencet pecah kepalamu?”

Pwe-giok tersenyum tak acuh, jawabnya “Jika demikian, baiklah Cayhe mohon diri.”

Sedikitpun pihak lawan tidak mempersulit dia, seharusnya dia bersyukur dan merasa senang tapi dalam hati Pwe-giok sekarang justru merasa tertekan. sebab kedatangannya ini meski hanya mengantar surat, sesungguhnya masih ada dua maksud tujuan lain, satu diantaranya adalah demi kepentingan si sakit dan tujuan lainnya adalah demi kepentingannya sendiri.

Tujuannya bukan saja ingin menyelidiki kekuatan musuh bagi si sakit, Pwe-giok juga ingin menemui Ang-lian-hoa untuk menjelaskan seluk-beluk apa yang terjadi ini. Betapapun ia tidak ingin Ang-lian-hoa ikut campur urusan yang ruwet ini.

Tapi sekarang tujuannya mencari tahu kekuatan lawan tidak berhasil, Ang-lian-hoa juga tidak ditemuinya, malahan gelagatnya dia harus segera meninggalkan tempat ini, jadi kunjungannya ini boleh dikatakan sia-sia belaka.

Halaman yang suram itu penuh berserakan daun kering yang belum tersapu, suasana hening.

Pwe-giok telah meninggalkan pendopo dan menyusuri halaman itu, selagi dia merasa gegetun pada perjalanannya ini, tiba-tiba terdengar suara “sret” yang perlahan, sinar pedang menyambar tiba secepat kilat, tulang rusuk belakang yang terarah.

Begitu cepat serangan ini sehingga sukar untuk menghindar bagi sasarannya.

Meski perasaan Pwe-giok sedang tertekan, namun dia tidak pernah melupakan kewaspadaannya, dengan tidak kalah cepatnya ia berputar dan kedua tangannya masing-masing menggores satu lingkaran.

Itulah jurus ajaib ajaran si orang sakit tadi, sekarang dikeluarkannya secara mendadak, entah betapa hebat daya serangannya, yang jelas segera terdengar suara “pletak”, pedang musuh yang menusuk ke tengah lingkaran yang digarisnya itu mendadak patah menjadi dua. Padahal tangan Pwe-giok tidak pernah menyentuh pedang lawan, hanya tenaga dalamnya saja sudah cukup mematahkan pedang baja musuh. Daya serangannya ini sungguh mengejutkan, sampai Pwe-giok sendiripun terkesiap.

Waktu Pwe-giok berpaling, dilihatnya di bawah pohon berdiri seorang dengan memegang pedang buntung, agaknya orang inipun terkejut oleh pedangnya yang patah mendadak itu. Orang ini bertubuh jangkung dan bergaya, kiranya Lim Soh-koan adanya.

Setelah tahu siapa penyerangnya, hati Pwe-giok jadi paham duduk perkaranya. Nyata orang ini masih tetap menaruh curiga padanya dan sekarang sengaja hendak mencoba dan memancing gaya Kungfunya untuk mengetahui asal-usulnya.

Maklumlah, bilamana seorang mendadak diserang, secara naluri tentu akan dipergunakannya Kungfu aslinya untuk menjaga diri. Hal ini dilakukannya secara otomatis, jadi tidak mungkin pura-pura, andaikan pura-pura juga tidak sempat lagi.

Tak tahunya, Pwe-giok baru saja mendapat ajaran Kungfu yang maha hebat dan setiap saat selalu diulang-ulang ingat dalam hati. Kini mendadak mengalami serangan, tanpa terasa Kungfu baru ini lantas digunakannya. hal inipun dilakukannya secara naluri, sedikitpun tidak berpura-pura.

Keruan Lim soh-koan tercengang dan berdiri seperti patung dengan wajah sebentar pucat sebentar hijau, sampai lama sekali tidak sanggup bicara.

Jika orang lain tentu akan mengucapkan beberapa kata ejekan, tapi dasar Pwe-giok memang pemuda berbudi, dia cuma tersenyum hambar saja dan berkata, “Cepat amat pedang anda.”

Iapun tidak ingin menyaksikan sikap Lim Soh-koan yang serba susah itu, sambil bicara ia terus memutar pergi lagi ke depan. tak terduga, pada saat itu juga seorang membentaknya, “Berhenti!”

Begitu keras suara bentakan itu, daun kering sama rontok tergetar, telinga Pwe-giok pun mendengung, pandangannya serasa kabur, tahu-tahu sesosok bayangan orang melayang tiba seperti burung raksasa, cara melayangnya juga sedemikian cepat, belum lagi daun rontok jatuh di tanah, orang itu sudah berada di depan Pwe-giok.

Dilihatnya orang ini bersinar mata tajam, muka berewok, rambutnya juga semrawut dan kaku menegak.

Dari suara bentakannya yang keras serta wajah yang aneh ini, setiap orang tentu akan mengira orang ini pasti tinggi besar dan gagah perkasa. tak tahunya orang ini ternyata seorang tua kurus kecil, tingginya hanya sebatas dada Pwe-giok, memakai jubah pertapaan biru, ikat pinggangnya terdiri dari seutas rami, pada tali pinggang itulah terselip sebilah pedang pendek. namun sarung pedangnya penuh bertaburan batu permata yang bercahaya gemerlapan dan tak ternilai harganya.

Melihat betapa garangnya orang ini, betapa hebat gerakan tubuhnya serta dandanannya yang aneh, diam-diam Pwe-giok terkejut juga. tapi dengan tersenyum ia lantas menegur, “Cianpwe ada pesan apakah?”

Tojin jubah biru pendek kecil itu membelalakkan matanya yang bersinar tajam, tanpa berkedip ia pandang Pwe-giok, bentaknya kemudian, “Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan Hong Sam?”

“Tadi kan sudah kukatakan, Cayhe dan Hong-locianpwe bukan sanak … ”

“Kentut!” bentak Tojin jubah biru sebelum lanjut ucapan Pwe-giok. “Kalau kau tiada hubungan sanak keluarga dengan Hong Sam, darimana kau dapat belajar jurus ‘Heng-hun-po-uh, Hong-bu-kiu-thian’ (awan berarak dan hujan mencurah, burung Hong menari di surga) ini?”

Suaranya sungguh keras sebagai bunyi genta, setiap kali dia bicara, rasanya Pwe-giok pasti berjingkat. siapapun tidak dapat membayangkan suara sekeras itu. Tidak ada yang tahu bahwa Khikang (tenaga dalam) Tojin kerdil ini sudah terlatih sangat sempurna, waktu bicara biasa saja selalu disertai tenaga dalam yang maha kuat sehingga setiap katanya tercetus seperti bunyi genta.

Pwe-giok menghela napas, jawabnya kemudian, “Jurus ini baru saja diajarkan Hong-locianpwe kepadaku sesaat sebelum ku berangkat ke sini. terus terang, semula Cayhe sendiripun tidak tahu apa nama jurus ini.”

“Kentut, kentut busuk,” Tojin kerdil itu meraung pula. “Jika Hong Sam mau sembarangan mengajarkan jurus serangan andalannya ini kepada orang lain, maka dia bukan lagi Hong Sam tapi kunyuk!”

Diam-diam Pwe-giok merasa geli melihat orang tua beribadat ini selalu mengucapkan kata-kata kasar. Tapi bila melihat sikapnya yang marah benar-benar itu, mau-tak-mau ia menjadi kuatir, cepat ia menjawab pula, “Soalnya hong-locianpwe kuatir ku bikin malu padanya, makanya ….”

Tojin jubah biru itu semakin murka, teriaknya, “Baik, seumpama benar dia mau mengajarkan jurus serangannya itu kepadamu, tapi dalam waktu sesingkat ini kaupun dapat menguasainya sebagus ini, maka kau hakekatnya bukan manusia.”

Rupanya Tojin kerdil ini suka mengukur orang lain atas dirinya sendiri. Dia sendiri bukan orang yang berbakat, bukan orang yang berotak cerdas. Kungfunya yang sakti itu dilatihnya secara mati-matian berdasarkan kegiatan dan ketekunan melulu, maka sama sekali ia tidak percaya di dunia ini ada manusia cerdas yang diberitahu satu segera tahu tiga, diajar sekali lantas paham seluruhnya.

Justeru lantaran pada waktu berlatih Kungfu dia lebih banyak mengalami pahit getir daripada orang lain, maka Kungfunya berhasil dikuasai, wataknya lantas berubah menjadi berangasan dan mudah marah, seringkali dia melampiaskan rasa gusarnya yang tak berdasar pada orang lain.

Pwe-giaok tahu sukar baginya untuk menjelaskan, ia hanya menyengir dan berkata, “Jika Cianpwe tidak percaya, apa yang dapat kukatakan lagi …..”

“Sudah tentu tak dapat kau katakan,” tojin kerdil itu berjingkrak, “di depanku masa kau bisa bermain gila? Tapi kalau ku tantang kau untuk bergebrak, tentunya kau akan bilang aku orang tua menganiaya anak muda …. ” mendadak ia meraung lebih keras, “Ya, kau hendak bilang aku orang tua menganiaya anak muda, begitu bukan?”

Pwe-giok jadi tertawa geli, jawabnya, “Kata-kata ini diucapkan oleh Cianpwe sendiri, mana Cayhe pernah ….”

“Baik, anggap kau tidak bilang begitu, lalu apa yang kau tertawakan?” bentak Tojin kerdil itu.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, pikirnya, “Orang kasar dan ingin menang sendiri begini sungguh jarang ada.” Karena bicaranya selalu dianggap salah, terpaksa dia tutup mulut.

Siapa tahu tutup mulut juga dianggap salah oleh Tojin jubah biru itu, bentaknya pula, “Mengapa kau tidak buka mulut? Apakah mendadak kau berubah bisu?”

Pwe-giok menyengir, jawabnya, “Jika Cianpwe tidak sudi bergebrak denganku, biarlah Cayhe mohon diri saja.”

Tapi Tojin kerdil itu lantas membentak, “Nanti dulu! Bila kau bukan murid Hong Sam, maka akan kulepaskan kau pergi, tapi sekarang justeru ingin kulihat Kungfu lihay apalagi yang diajarkan Hong Sam kepadamu?” Bicara sampai di sini, mendadak ia berpaling dan membentak, “Murid orang lain sedang bergaya di sini, tapi dimana muridku? Apakah dia sudah mampus?”

Belum lenyap suaranya, tertampaklah seorang berlari keluar dari pendopo, ia memberi hormat kepada Tojin kerdil itu dan bertanya, “Suhu ada pesan apa?”

Semula Pwe-giok mengira murid tojin jubah biru ini pasti Dian Ce-hun adanya, siapa tahu yang muncul ini adalah seorang tosu kecil yang berwajah cakap dan sopan santun, jubah pertapaannya berwarna hijau dan sangat bersih, mukanya juga putih bersih bersemu kemerah-merahan, sepintas pandang orang akan mengira dia adalah anak perempuan.

Dalam pada itu Tojin jubah biru sudah tidak sabar lagi, kembali ia meraung pula, “Aku ada pesan apa? Masa kau perlu tanya lagi padaku? Apakah kau ini orang mampus dan tidak tahu?”

Tosu cilik itu menjawab dengan mengiring tawa, “Apakah Suhu menghendaki Tecu menjajal Ji-kongcu ini?”

“Kalau sudah tahu, kenapa kau tanya pula padaku?” teriak si Tojin kerdil dengan lebih keras.

Baru sekarang Pwe-giok tahu bahwa watak tojin jubah biru itu memang begitu aslinya, jadi bukan cuma terhadap orang lain saja dia berteriak dan menghardik, terhadap muridnya sendiri juga dia main bentak dan maki.

Dilihatnya si Tosu cilik sedang mendekatinya dengan tersenyum, dengan sopan ia memberi hormat, katanya, “Tecu Sip-hun, ingin mohon petunjuk beberapa jurus kepadamu, mohon Kongcu mengalah sedikit padaku.”

Tosu cilik ini bukan saja sopan santun bicaranya dan cakap orangnya, mukanya juga selalu dihiasi senyuman manis, wataknya ternyata sangat halus, sungguh berselisih 180 derajat dibandingkan perangai gurunya.

Guru yang begitu dapat mempunyai murid begini, sungguh Pwe-giok merasa heran. Tapi setelah dipikir lagi, apabila tiada murid yang berwatak sabar, mana bisa meladeni guru yang pemberang begitu. Andaikan tidak diusir oleh Tojin jubah biru tidak sampai tiga hari juga pasti akan kabur dengan sendirinya saking tidak tahan apalagi disuruh belajar silat dengan sabar?

Perangai Pwe-giok sendiri juga halus dan sopan, orang lain bersikap ramah padanya, iapun membalasnya dengan lebih ramah, maka ia lantas membalas hormat Tosu cilik itu dan menjawab, “Ah, totiang terlalu rendah hati, sebenarnya Cayhe tidak berani bergebrak dengan Totiang, hanya saja …”

Mendadak si tojin jubah biru membentak, “Mau berkelahi hendaklah cepat mulai, pakai cerewet apalagi?”

“Jika demikian, silahkan Totiang memberi petunjuk,” ujar Pwe-giok dengan menyengir.

Sip-hun lantas memberi hormat dan berkata, “Kalau begitu, terpaksa Tecu berbuat kurang hormat.” Cara bertindaknya ternyata tidak bertele-tele, begitu bilang mulai, segera ia memukul lebih dahulu.

Jurus serangannya ini sungguh luar biasa dahsyatnya, siapapun tidak menyangka orang lembut dan ramah seperti dia bisa melancarkan pukulan seganas ini.

Pwe-giok tidak sempat memperlihatkan rasa terkejutnya, cepat ia berputar sehingga serangan lawan dapat dielakkan, akan tetapi pukulan lawan berikutnya segera melanda tiba pula.

Guru yang keras tidak nanti melahirkan murid yang lemah, jika watak gurunya begitu keras, anak didiknya dengan sendirinya juga suka pada kekerasan, ini terbuktilah dari pukulan-pukulannya yang dahsyat dan ganas.

Pwe-giok merasa tosu cilik yang sopan santun dan selalu tersenyum itu kini telah berubah sama sekali. Yang dihadapinya sekarang seolah-olah seorang pengganas yang buas dan tidak kenal sopan.

Dengan cepat belasan jurus telah berlalu, Pwe-giok terdesak hingga bernapas saja hampir tidak sempat. Ada beberapa jurus mestinya dapat dipatahkannya dengan Kungfu perguruannya sendiri, tapi kalau dia memperlihatkan Kungfu “Bu-kek-pay”, bukankah asal-usulnya akan konangan.

Terpaksa ia menciptakan jurus sebisanya dan bergerak menurut keadaan, akan tetapi terbatas oleh macam-macam kekuatiran, sebaliknya tekanan lawan sedemikian hebat, maka jurus serangan yang dikeluarkannya tidak begitu leluasa.

Terdengar si Tojin jubah biru lagi meraung pula, “anak busuk, mengapa tidak kau keluarkan Kungfu ajaran Hong sam, apakah kau takut rahasia Kungfunya diketahui olehku? …. Keras sedikit, keparat! Kemana kau semalam? Mengapa sekarang kelihatan lemas? …. Bagus, itulah Yong-hu-pwe-ci, Beng-hou-khay-san (si perkasa menyandang panah, harimau buas keluar gunung) …. Sontoloyo, masa seranganmu ini kau anggap Yong-hu-pwe-ci? Lebih mirip kau lagi menggaruk punggung orang yang gatal!”

Beberapa kalimat bagian depan dengan sendirinya ditujukan memaki Pwe-giok, tapi kalimat-kalimat belakangan adalah digunakan memaki muridnya. dia mengira Pwe-giok tidak berani mengeluarkan ilmu silat perguruannya karena kuatir rahasia ilmu Hong Sam dapat diketahuinya. Padahal Pwe-giok sendiri lagi mengeluh, sebab kemampuannya hanya itu-itu saja, untuk menangkis saja sekarang rasanya sulit.

Namun si Tojin jubah biru masih mencela serangan muridnya kurang keras, padahal betapa hebat dan kuat serangan Sip-hun sudah cukup membuat melongo orang-orang yang menyaksikannya.

Karena terbatas oleh kekuatiran gaya Kungfu aslinya akan diketahui musuh, maka setiap kali Pwe-giok hendak menyerang selalu harus mengingat-ingat apakah jurus serangan ini ilmu silat perguruan asalnya atau bukan. Dengan cara demikian, bukan saja gerak-geriknya menjadi lebih lambat, tenaga juga banyak terbuang.

Setelah belasan jurus lagi, Pwe-giok sudah mandi keringat, bilamana terancam bahaya, terpaksa ia menggunakan jurus “Heng-hun-po-ih, Hong-bu-kiu-thian” ajaran Hong Sam itu untuk mendesak mundur musuh. Tapi setelah beberapa kali gebrak lagi, kembali ia terdesak dan terancam bahaya.

Begitulah sudah berulang-ulang ia menggunakan jurus sakti ajaran Hong Sam itu, untung setiap kali diulang, setiap kali bertambah lancer dan daya serangnya juga tambah kuat.

Sampai akhirnya, terpaksa Sip-hun harus menyingkir terlebih dahulu bila Pwe-giok menggunakan jurus sakti itu. Setelah jurus itu lewat, barulah Sip-hun menubruk maju dan menyerang lagi sehingga Pwe-giok tambah mengeluh.

Didengarnya si Tojin kerdil lagi meraung-raung pula, “Anak busuk, lebih baik kau keluarkan seluruh ajaran Hong Sam, kalau cuma satu jurus ini apa gunanya? Bila bukan muridku ini terlalu tidak becus, tentu kau sudah mati lima puluh kali sejak tadi. ”

Nyata dia anggap Hong Sam telah banyak mengajarkan kungfunya kepada Pwe-giok, sebab ia menilai kekuatan anak muda itu bukanlah jago muda yang baru muncul, malahan kepandaiannya sudah tergolong kelas satu di dunia Kang-ouw, tapi selain satu jurus “Heng-hun-bo-ih” itu ternyata tiada jurus lain yang dikeluarkannya.

Sudah tentu keadaan Pwe-giok mirip si bisu dicekoki pil pahit, hanya bisa mengeluh tapi tak dapat menjelaskan. Ia tidak tahu bahwa raungan Tojin kerdil itu justru telah membantunya malah. Kalau tidak, betapa tajam pandangan Lim Soh-koan dan begundalnya, bila melihat caranya berusaha menutupi gaya silat aslinya, tentu mereka akan curiga lagi dan kesulitan yang akan timbul kelak tentu akan bertambah banyak.

Sementara itu Pwe-giok sudah mandi keringat, setiap orang percaya dia tidak mampu bertahan hingga 20 jurus lagi.

Tak terduga tenaga pembawaan Pwe-giok maha kuat, keuletannya sungguh di luar dugaan, setelah belasan jurus lagi keadaannya masih tetap begitu, biarpun keringat tambah banyak menghias jidatnya, tapi dia tetap bertahan.

Mau-tak-mau semua orang jadi melongo heran, cuma keheranan mereka sekarang bukan lagi karena kedahsyatan serangan Sip-hun melainkan karena daya tahan Pwe-giok yang luar biasa itu.

Di luar pendopo sekarang sudah penuh berkerumun orang, semuanya tercengang.

Lim Soh-koan menggeleng dan bergumam, “Bocah ini kelihatan lemah lembut, tak tersangka sekuat kerbau. Kalau bukan Sip-hun suheng orang lain mungkin sukar melayani dia.”

Dia sendiri hanya satu gebrakan saja pedangnya telah dipatahkan Pwe-giok, maka sekarang dengan sendirinya ia sengaja menyanjung puji setinggi langit kungfu anak muda itu sekedar untuk menutupi kekalahannya tadi.

Tapi Dian Ce-hun hanya tersenyum hambar saja, katanya, “Seumpama dia benar seekor kerbau yang kuat, memangnya kita tidak mempunyai kepandaian menaklukkan kerbau?”

Dia bicara dengan suara lirih, ia mengira orang lain pasti tidak mendengarnya. Siapa tahu si Tojin jubah biru mendadak berjingkrak gusar, nyata telinganya sangat tajam dan dapat mendengar apa yang dikatakan Dian Ce-hun itu, dengan gusar ia berteriak, “Baik, jika begitu besar kepandaianmu, biarlah kulihat kesanggupanmu saja!”

Saat itu Sip-hun sedang memukul kedua sisi tubuh Pwe-giok dengan kedua telapak tangannya. Pwe-giok sendiri lagi bingung karena tidak tahu cara bagaimana mematahkan serangan tersebut. Untunglah mendadak dilihatnya tubuh Sip-hun terus mengapung ke atas, ternyata kuduknya telah dicengkeram oleh Tojin jubah biru terus dilemparkannya.

“Telur busuk yang tak berguna!” demikian terdengar Tojin jubah biru memaki. “Lebih baik menggelinding ke samping sana dan saksikan kemampuan orang lain yang katanya sekali turun tangan lantas dapat menundukkan bocah she Ji itu.”

Meski di mulut ia memaki muridnya sendiri, yang benar ia berolok-olok kepada Dian Ce-hun, sebab ia sendiri tahu siapapun juga tiada yang mampu mengalahkan Ji Pwe-giok hanya dengan sekali dua gebrak saja.

Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan saling pandang sekejap menyaksikan tindakan Tojin jubah biru itu, diam-diam mereka merasa geli, piker mereka, “Tak tersangka watak orang ini yang suka membela murid sendiri sampai tua tetap tidak berubah.”

Dalam pada itu Sip-hun yang dilemparkan itu sempat berjumpalitan satu kali di udara, lalu melayang turun dengan enteng, wajahnya lantas menampilkan senyuman ramah pula, dia memberi hormat kepada Pwe-giok dan berkata, “Tadi aku telah berlaku kasar, mohon Kongcu sudi memaafkan.”

“Ah, Totiang telah bermurah hati padaku,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum dan membalas menghormat.

Kedua orang saling pandang dengan tertawa, tiada yang menyangka beberapa detik sebelumnya mereka telah saling labrak dengan mati-matian.

Sementara itu Tojin jubah biru telah melototi Dian Ce-hun dan membentak, “Nah, sekarang ingin kulihat gurumu yang rudin dan kecut itu telah mengajarkan Kungfu lihay macam apa kepadamu? Kenapa tidak lekas kau maju kemari, apakah perlu kumohon lagi padamu?”

Dian ce-hun menghela napas, katanya sambil nyengir, “Jika totiang menghendaki pertunjukanku yang jelek ini, terpaksa Tecu menurut. Cuma jangan para Cianpwe mentertawakanku.” dia menyingsingkan lengan baju dan melangkah ke depan.

Kesempatan itu digunakan Pwe-giok untuk berganti napas sambil memandang sekeliling orang-orang yang hadir di situ.

Dilihatnya Ji Hong-ho tersenyum simpul berdiri berjajar dengan “Tong Bu-siang” itu, Lim soh-koan berdiri di belakangnya dengan tangan masih memegang pedang buntung. Rupanya saking asyiknya dia mengikuti pertarungan seru tadi sehingga lupa membuang pedang patah itu.

Kecuali mereka bertiga, yang lain-lain terasa asing bagi Pwe-giok, hanya saja setiap orangnya tampak tenang dan kereng, jelas semuanya tokoh-tokoh Bu-lim kelas tinggi.

Selagi Pwe-giok merasa heran karena tidak melihat Ang-lian-hoa, tiba-tiba dilihatnya di atas tungku perunggu raksasa di ruangan pendopo sana menongkrong satu orang, siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian-hoa.

diam-diam Pwe-giok menghitung, termasuk tojin jubah biru dan muridnya, yang hadir ini semuanya berjumlah 11 orang. Jadi masih kurang satu orang.

Setelah berpikir, akhirnya Pwe-giok paham persoalannya, “Selisih seorang ini jelas ialah Hay-hong Hujin, dengan sendirinya dia enggan bercampur dengan orang-orang ini.”

Didengarnya tojin jubah biru lagi membentak, “Anak busuk, kau melamun apa? Orang lain menganggap kau sebagai kerbau dan hendak menaklukan kau. Orang ini tidak seperti muridku yang tidak becus, jika kau tahu gelagat, lekas berjongkok dan biarkan orang menunggangi kau si kerbau ini.”

Ucapannya ini tampaknya memaki Ji Pwe-giok, padahal sama saja dia menyuruh anak muda itu untuk berkelahi sekuatnya agar jangan sampai dikalahkan orang. Bahwa muridnya tidak sanggup mengalahkan Pwe-giok, dengan sendirinya ia tidak ingin orang lain mampu mengalahkan Pwe-giok.

Setiap orang yang hadir di situ adalah orang Kangouw kawakan, tentu saja semuanya dapat menangkap arti ucapannya, meski merasa geli, tapi tiada seorangpun yang berani tertawa.

Dian Ce-hun tersenyum terhadap Pwe-giok, katanya, “Tenaga sakti anda sungguh mengejutkan tadi Cayhe sudah merasakannya, sekarang ingin kubelajar kenal pula dengan Kungfu anda yang hebat, hendaklah Anda tidak perlu sungkan-sungkan …”

“Sungkan?” si tojin jubah biru meraung pula. “Memangnya bocah ini berlaku sungkan terhadap muridku?!”

Perangai kasar tojin kerdil ini sungguh jarang ada bandingannya, bahkan Dian Ce-hun dan Pwe-giok sudah bergebrak hingga berpuluh jurus, dia masih tetap marah-marah saja.

Pertarungan sekarang berbeda lagi dengan tadi. Sekalipun orangnya lemah-lembut, tapi serangan sip-hun tadi mengutamakan keras dan dahsyat. Kini Dian Ce-hun sebaliknya menggunakan gaya serangan yang lunak, tapi penuh variasi. Meski sudah berlangsung beberapa puluh jurus, tapi serangannya masih tetap serangan pancingan dan tiada satupun yang benar-benar diarahkan sasarannya.

Meski Pwe-giok tidak dapat memainkan ilmu silat perguruan asalnya, tapi silat Bu-kek-bun mengutamakan ketenangan, untuk menghadapi serangan Dian Ce-hun yang banyak variasinya itu menjadi sangat cocok.

Namun ginkang dian Ce-hun memang sangat hebat, cepat dan sukar diduga laksana naga meluncur di tengah awan dengan gerak perubahan yang tidak menentu, jangankan Pwe-giok tidak dapat meraba posisi lawan, sampai yang menonton disampingpun merasa bingung, seorang Dian Ce-hun seolah-olah telah berubah menjadi berpuluh orang.

Terdengar seorang tua berbaju ungu dan berjenggot panjang berkata dengan gegetun, “Dian jitya berjuluk Naga Sakti, tak tersangka putera kesayangannya juga memiliki Ginkang setinggi ini. Tampaknya biarpun Ginkang si Elang dari Bu-lim-jit-kim (tujuh burung dari dunia persilatan) juga tak melebihi Dian-kongcu ini,”

Seorang lagi menanggapi dengan tertawa, “Bu-lim-jit-kim memang tiada satupun yang memiliki kepandaian sejati. Sun Tiong si Elang itu meski tertua dari Jit-kim, tapi bila dibandingkan anak murid Sin-liong (Naga Sakti), jelas bedanya terlalu jauh.”

Orang ini sudah ubanan, perawakannya pendek kecil, namun kelihatan gesit dan tangkas, jelas ginkangnya pasti juga tidak lemah. Maka meski di mulut dia memuji orang lain, namun sikapnya ternyata ingin membanggakan dirinya sendiri, agaknya baru merasa puas bilamana orang lain mau memujinya beberapa kata.

Benar juga, Lim Soh-koan lantas berkata dengan tertawa, “Ucapan Hui-lo (kakek Hui) memang tepat. Tapi mengapa kau lupa pada dirimu sendiri. Siapakah di dunia kangouw yang tidak kenal ginkang Bu-eng-cu To-toaya yang tiada bandingannya. Seumpama engkau tidak dapat menandingi kesempurnaan Dian-jitya, bila dibandingkan Dian-kongcu ini… Hahaha!”

Kakek pendek kecil yang berjuluk Bu-eng-cu atau tanpa bayangan itu tampaknya berseri-seri oleh pujian Lim Soh-koan itu, dia berharap orang akan terus bicara. Siapa tahu, setelah tertawa, lalu Lim Soh-koan tidak melanjutkan lagi.

Untung si kakek berbaju ungu lantas menyambungnya, ” Betul, jahe memang selalu pedas yang tua. Betapapun tinggi ginkang Dian-kongcu ini, mana bias menandingi kesempurnaan ginkang To-heng.”

Bu-eng-cu To Hui tambah senang karena diumpak dan ditiup, tapi wajahnya justru tidak memperlihatkan setitik senyumpun, ia malah berkata dengan sungguh-sungguh, “Agaknya Hiang-heng tidak tahu, orang kalau sudah tua, tulangnya juga tambah berat, mana dapat kutandingi Dian-siauhiap yang muda dan perkasa itu. Apalagi ginkang hanya kepandaian sampingan saja dan tidak banyak gunanya, bicara ilmu pukulan Hiang-heng, itulah baru benar-benar kungfu sejati.”

Kakek baju ungu she Hiang itu berjuluk ‘Sin-kun-bu-tek’ atau pukulan sakti tanpa tanding, ia menjadi gembira karena dipuji, sambil terbahak-bahak ia menjawab, “Ah, To-heng terlalu memuji padaku.”

Begitulah semula mereka hanya memuji kehebatan ginkang Dian Ce-hun, tapi akhirnya berubah arah dan malah saling membual akan keunggulannya sendiri-sendiri.

Tentu saja si Tojin jubah biru sangat mendongkol, segera ia meraung, “Wah, ada orang kentut! Alangkah busuk kentutnya!” Sambil berkata iapun seraya mendekap hidung.

Ucapannya ini ibarat pelawak di panggung hanya sebagai umpan belaka dan memerlukan rekan lain untuk menanggapinya, jika tiada tanggapan, jadinya akan putus sampai di situ saja. Tak terduga Sip-hun lantas menanggapinya dengan tersenyum, “Suhu, mana ada orang kentut di sini!”

Tojin jubah biru mendengus, “Hm, kautahu apa? Kalau kita kentut biasanya keluar dari pantat, tapi ada sementara orang kentut dengan mulut. Kentut yang keluar dari mulut itulah baunya lebih bacin, tahu!”

Seketika muka To Hui, Lim Soh-koan dan kakek she Hiang berubah merah seperti kepiting rebus, meski dalam hati sangat gusar, tapi tiada seorangpun berani memberi reaksi. Padahal dengan nama dan kedudukan ketiga orang ini, biasanya mana mereka pernah diolok-olok orang. Tapi sekarang, entah mengapa tampaknya mereka sangat jeri terhadap Tojin jubah biru ini.

Hanya dalam hati ketiga orang itu sama menggerutu, “Muridmu sendiri tidak mampu mengalahkan orang, sekarang bocah she Dian ini tampaknya akan berhasil, tentu kau akan kehilangan muka, untuk apa kau melampiaskan dongkolmu atas diri kami?”

Tojin jubah biru memang tidak ingin mendapat malu, tadinya ia bermaksud mencari tahu betapa hebat kungfu Hong Sam melalui Ji Pwe-giok, bilamana sudah tahu, kalau tengah malam nanti harus saling gebrak, tentu dia sudah mempunyai pegangan. Tapi setelah muridnya gagal memancing keluar kungfu Pwe-giok yang lain, sekarang Tojin jubah biru ini justru berharap sekali hantam dapatlah Pwe-giok merobohkan Dian Ce-hun.

Namun apa yang terjadi justru jauh dari kehendaknya, bukan saja Pwe-giok tidak mampu merobohkan Dian Ce-hun, bahkan ujung baju lawan saja tidak dapat menyentuhnya.

Padahal sejak mengalami macam-macam petaka dan kenyang derita, selama ini belum pernah ada orang dapat merobohkan Pwe-giok dengan ilmu silat. Sudah tentu ia bukan pemuda yang sombong, tapi setidak-tidaknya iapun merasa kungfunya sendiri sudah cukup lumayan.

Siapa tahu sekarang hanya dalam waktu singkat saja, telah ditemuinya dua lawan tangguh yang belum pernah dilihatnya selama hidup ini. Kungfu kedua orang ini bukan saja jauh melebihi dirinya, usianya juga tidak lebih tua. Tampaknya di dunia kangouw ini memang masih banyak ‘harimau tidur dan naga bersembunyi’, entah betapa banyak lagi orang kosen. Kungfu yang dimilikinya boleh dikata masih jauh untuk dapat menandingi mereka.

Seketika Pwe-giok menjadi kesal, dengan sendirinya tenaga pukulannya menjadi kendur. Bila orang lain, mungkin akan putus asa menyerah kalah. Tapi wataknya adalah halus di luar keras di dalam, meski menyadari bukan tandingan lawan, betapapun ia pantang menyerah. Meski Dian Ce-hun masih terus melancarkan serangan dan selalu mendahului, tapi untuk merobohkan Pwe-giok dalam waktu singkat juga sulit, mau tak mau ia menjadi gelisah sendiri.

Dalam pada itu Tojin jubah biru telah berteriak pula, “Berapa jurus tadi kau bergebrak dengan bocah she Ji ini?” Pertanyaannya ini ditujukan kepada muridnya.

Maka Sip-hun lantas menjawab, “Belum sampai 300 jurus!”

“Dan sekarang sudah berapa jurus mereka saling labrak?” Tanya pula si Tojin kerdil.

“Juga mendekati 300 jurus!” kata Sip-hun.

“Hahahaha!” Tojin kerdil itu bergelak tertawa. “Sekarang tentunya kaupun tahu bahwa orang yang suka membual, kebanyakan juga tidak mempunyai kepandaian sejati. Orang muda sebaiknya lebih giat belajar kungfu kaki dan tangan, daripada berlatih kungfu mulut!”

Muka Dian Ce-hun tampak sebentar merah sebentar pucat, gerak tubuhnya juga bertambah cepat. Mendadak ia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan, “Lambat atau cepat akhirnya kau toh pasti kalah, untuk apa kau bertahan mati-matian? Bila tiba saatnya tentu aku tidak kenal ampun lagi, akan lebih baik jika sekarang kau mengaku kalah saja.”

“Mengaku kalah?” Pwe-giok menegas.

“Ya, jika sekarang kau mengaku kalah, bukan saja takkan kulukai kau, bahkan aku menjamin akan mengantar kau pulang dengan selamat.”

Pwe-giok tersenyum, mendadak ia menghantam sekuatnya. Pukulan inilah merupakan jawabannya.

Keruan Dian Ce-hun menjadi marah, dampratnya, “Keparat, kau tidak mau tahu maksud baik orang, lihat saja apakah kau mampu lolos dari sini?”

Sementara itu belasan jurus sudah lalu pula, karena ia bertekad akan mengalahkan Pwe-giok sebelum mencapai 300 jurus, mendadak ia melayang ke udara sambil bersiul panjang, dari atas seperti ular naga melingkar, segera ia menubruk ke bawah.

Inilah jurus serangan rahasia perguruan “Naga Sakti” yang disebut “Keng-liong-pok-beng-sam-sik” (tiga jurus adu nyawa si naga sakti). Dahsyatnya sukar ada tandingannya. Tapi dari namanya yang disebut “mengadu nyawa”, jelas serangan ini baru akan dikeluarkan bilamana keadaan kepepet. Sebab kedahsyatan serangan ini juga merupakan modal terakhirnya, bilamana tidak kena sasarannya, dirinya sendiri yang akan celaka.

Sebab itulah bilamana tidak terpaksa, anak murid “Naga Sakti” tidak akan mengeluarkan jurus maut ini. Sekarang Dian Ce-hun tidak kepepet, dia hanya ingin merobohkan lawan lebih cepat, maka telah digunakannya jurus maut yang membawa resiko ini. Dengan sendirinya iapun sudah memperhitungkan lawan pasti tidak mampu menghindarkan serangannya ini.

Seketika Pwe-giok merasa udara penuh bayangan musuh, sekujur badan sendiri telah terkurung di bawah angin pukulan lawan, ke manapun dia menghindar tetap sukar lolos.

Begitu keras angin pukulan musuh sehingga dia hampir tidak dapat bernapas, bila dia balas menghantam, bisa jadi kedua tangan sendiri akan patah.

Pada waktu itu dia masih ragu itulah, telapak tangan musuh sudah menindih tiba dari atas kepala.

Dalam keadaan demikian, tiada pilihan lain lagi baginya kecuali memejamkan mata dan menanti ajal belaka.

Dengan sendirinya serangan Dian Ce-hun itupun menggemparkan para penonton.

Sampai-sampai Ji Hong-ho berseru kuatir, “Lihay amat serangan ini, pantas di dunia Kangouw tersiar semboyan ‘Naga Sakti muncul, matipun tidak menyesal’!”

Bahwa suatu jurus serangan mematikan dapat membuat korbannya mati tanpa menyesal, maka betapa lihaynya dapatlah dibayangkan.

Tak terduga, baru saja lenyap suara ucapan Ji Hong-ho, sekonyong-konyong terdengar suara orang menjerit, yang menjerit ternyata bukan Ji Pwe-giok melainkan Dian Ce-hun. Terlihat bayangan tubuhnya yang sedang menubruk ke bawah sekuatnya itu mendadak mengapung lagi ke atas dan mencelat hingga jauh.

Yang mengikuti pertarungan ini hampir seluruhnya adalah jago kelas satu di dunia persilatan, bahkan rata-rata adalah tokoh kawakan Kangouw, sedikit kejadian ini mana dapat membuat mereka melengak, Tapi sekarang, ketika tubuh Dian Ce-hun mencelat, baik Ji Hong-ho, Lim Soh-koan dan lain-lain hampir semuanya berubah pucat.

Apakah benar-benar Hong Sam telah mengajarkan ilmu maha sakti kepada Pwe-giok sehingga pada detik terakhir itu, pada saat terancam bahaya dia dapat mematahkan serangan maut Dian Ce-hun itu ?

Padahal jelas-jelas Pwe-giok sudah tak bisa berkutik dan hanya menanti ajal belaka, mana dia mampu lagi mengelabuhi pandangan tokoh-tokoh ulung ini dengan sesuatu gerak serangannya?

Terdengar suara gemersak, tubuh Dian Ce-hun telah menumpuk daun pohon, lalu “bluk”, ia jatuh ke bawah dengan muka pucat seperti kertas, dengan mata mendelik ia pandang Tojin jubah biru dan berkata dengan suara parau, “Kau…kau…” belum lanjut ucapannya, darah segar tersembur dari mulutnya, pingsanlah dia di bawah pohon.

Pandangan semua orang tanpa terasa juga terpusat ke arah Tojin jubah biru.

Tapi Tojin kerdil itu lantas berjingkrak gusar, teriaknya, “Apa yang kalian pandang? Memangnya kalian kira aku yang menolong bocah she Ji ini? Hm, selama hidupku ini bilakah pernah ku main sergap? Apalagi terhadap anak busuk pembual ini?”

Kedua tangan Tojin kerdil ini memang selalu terselubung didalam lengan jubahnya yang longgar, tampaknya memang benar-benar tidak pernah bergerak. Karena itu, pandangan semua orang lantas beralih lagi ke arah Ji Pwe-giok.

Pwe-giok masih berdiri di tempatnya, seperti kesima, nyata yang membikin Dian Ce-hun mencelat tadi bukan dia sendiri. Jika demikian, lantas siapa gerangan yang membantunya itu?

“Huh!” jengek si Tojin kerdil. “Orang sebanyak ini hanya berdiri melongo saja, sampai siapa orang yang turun tangan juga tidak tahu, cis, sungguh memalukan!”

Setelah berludah, lalu ia memutar pergi dengan langkah lebar.

Wajah semua orang sama merah dan menunduk malu.

Pada saat itu juga mendadak Pwe-giok melompat ke atas dan melayang pergi melintasi pucuk pohon, hanya sekejap saja bayangannya sudah lenyap.

Lim Soh-koan memandang Ji Hong-ho sekejap, katanya, “Bengcu…”

“Biarkan dia pergi,” ucap Ji Hong-ho dengan tersenyum tak acuh. “Betapapun nanti malam…”

Lim Soh-koan mendekati Dian Ce-hun dan membangunkannya, dengan tersenyum ia bergumam, “Sekalipun dia dapat lolos tengah malam nanti, mustahil dia mampu lolos dari cengkeraman Dian jitya? Naga sakti pemburu sukma, naik ke langit maupun menyusup ke bumi… Hahaha, masakah dia mampu naik ke langit atau menyusup ke bumi?”

—–

Siapakah yang telah menolong Pwe-giok dan siapakah sebenarnya Tojin kerdil berjubah biru ini?

Cara bagaimana Hong Sam akan menghadapi kedatangan musuh tangguh pada tengah malam nanti?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: