Kumpulan Cerita Silat

27/05/2010

Renjana Pendekar – 17

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 10:23 pm

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Koedanil, Kunamisme, dan Tingsen)

Setelah memetik bunga mawar itu, tanpa berpaling lagi Cu Lui-ji lantas kembali ke loteng sana.

Ko Tiong dan lelaki baju hijau itu terpesona, wajah mereka tampak linglung seperti tergila-gila kepada anak dara itu sehingga lupa daratan.

Kwe Pian-sian jadi terheran-heran, ia tidak mengerti apa sebab apakah kedua orang ini berubah seperti orang kehilangan ingatan.

Padahal, sekalipun Cu Lui-ji memang seorang dara yang cantik, betapapun usianya baru 11-12 tahun, masa dua laki-laki setengah umur begini juga tergila-gila kepadanya?

Tertampak langkah Cu Lui-ji yang lemah gemulai, bajunya yang tipis bergerak terembus angin, tubuhnya yang lemah itu seolah-olah juga melayang ke sana tertiup angin. Mendadak anak dara itu menoleh dan tersenyum, sorot matanya yang bening itu seperti tidak sengaja melirik sekejap ke arah Kwe Pian-sian.

Seketika Kwe Pian-sian merasa dirinya hampir melupakan usia anak dara yang masih kecil itu, yang tampak olehnya hanya liuk pinggang si nona yang menggiurkan, selebihnya ia tak tahu lagi. Hampir-hampir saja iapun mengintil ke sana.

Tapi apapun juga dia memang lebih kuat dan dapat mempertahankan diri, hatinya hanya terguncang sekejap saja setelah itu tenang kembali. Sementara itu Cu lui juga berjalan kembali ke ujung rumah sana, Ko Tiong dan temannya mengikutinya kemudian juga ikut lenyap di balik pintu sana.

Sejak tadi Gin-hoa-nio juga mengikuti kejadian tersebut dan baru sekarang ia menghela napas dan berkata, “Siluman, budak cilik ini benar-benar siluman, sekecil itu sudah mampu memikat dua lelaki sebesar itu. Pada waktu aku berusia sebaya dia, akulah yang ikut kian kemari di belakang lelaki”.

Setelah berhenti sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata pula, “Hihi, untung iman tuan Kwe kita cukup teguh, kalau tidak, hampir saja tuan Kwe kita juga ikut terperangkap olehnya”

“Bukan karena lwekang ku tinggi, melainkan pengalamanku terhadap perempuan jauh lebih banyak daripada kedua orang itu,” kata Kwe Pian-sian dengan tertawa.

“Sungguh aku tidak paham, untuk apakah budak cilik itu memikat kedua lelaki itu?” ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa. Mendadak sinar matanya mencorong terang, ia berseru pula, “Ah, tahulah aku, budak cilik itu sedang memancing ikan, bilamana kedua orang tolol itu terpancing ke atas loteng sana, maka segenap kungfu mereka pasti akan terhisap ludes oleh si sakit tbc itu”

“Ya, memang begitu” kata Kwe Pian-sian

“Sungguh tak tersangka, sekecil itu dia sudah mahir memancing ikan dengan “Bi-jin-keh” (akal dengan memperalat perempuan cantik),” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Tanpa disadari kedua orang tolol tadi, tahu-tahu telah terjebak.”

“Tampaknya, sebabnya Ang-lian-hoa dan lain-lain datang ke sini untuk mencarinya memang juga cukup beralasan” kata Kwe Pian-sian sambil memandang Ji Pwe-giok.

“Memangnya tidak cuma sekali ini saja perbuatan nona cilik itu?” tanya Pwe-giok.

Melihat caranya bertindak tidak canggung-canggung itu, jelas sudah tidak sedikit korban yang terjebak di tangannya, makanya Ji Hong-ho mengerahkan orang sebanyak ini untuk melayani dia” ujar Kwe Pian-sian.

“Ya, kukira begitu,” kata Pwe-giok. “Kalau tidak, tokoh macam Ang lian hoa tidak nanti sudi diperintah oleh Ji Hong ho.”

Hal ini mungkin tidak diketahui orang lain tapi cukup diketahuinya dengan jelas, sebab Ang lian hoa juga sudah menaruh curiga terhadap “Ji Hong ho” itu.

“Hah, sungguh menarik juga,” kata Kwe Pian sian dengan tertawa, “seorang anak perempuan berumur belasan ternyata begini besar kesaktiannya. Orang macam begini jelas bukan orang sembarangan, mungkin tidaklah mudah bagi Ang lian hoa untuk melayaninya.”

Gin hoa nio tertawa ngikik, katanya, ” Betapapun hebat dia toh sudah pernah juga merasakan tamparanku.”

Sembari bicara ia angkat tangannya hendak memberi contoh agar dia menampar Cu Lui-ji, tapi mendadak…ia merasa dirinya juga seperti kena gampar orang satu kali, seketika ia tak dapat tertawa dan tak dapat berbicara lagi.

Pwe giok dan Kwe Pian sian memandangnya , wajah Gin hoa nio yang biasanya selalu tersenyum manis itu kini mendadak berubah pucat seperti mayat, matanya yang jeli kini juga menampilkan rasa kejut dan cemas yang tidak terhingga sambil memandangi tangannya sendiri. Malahan sekujur badannya lantas menggigil.

Tanpa terasa Pwe giok dan Kwe Pian sian ikut memandang tangan Gin hoa nio, hanya sekejap saja mereka memandang, seketika air muka merekapun berubah, sorot mata merekapun menampilkan rasa kejut yang tak terhingga.

Tangan Gin ho nio yang putih bersih dan halus mulus itu kini telah berubah menjadi hitam kemerah-merahan mirip cakar setan.

“He, kenapa bisa begini?” seru Pwe giok terkesiap.

Dengan suara gemetar Gin hoa nio berkata, “Ak…akupun tidak tahu mengapa bisa jadi… jadi begini, sedikitpun tidak kurasakan apa-apa dan tangan ini tahu-tahu sudah… sudah berubah menjadi begini.”

“Bisa bergerak tidak tanganmu ini?” tanya Kwe Pian sian.

“Seperti masih…masih bisa bergerak, cu…cuma…”

Belum habis ucapan Gin hoa nio, mendadak Kwe Pian sian mengangkat sepotong kayu terus menghantam punggung tangan Gin hoa nio “plok”, kayu bakar itu cukup besar, cara menghantamnya juga cukup keras, tangan siapapun kalau terpukul pasti juga akan menjerit kesakitan, siapa tahu Gin hoa nio sama sekali tidak berteriak sakit, bahkan tidak merasakan apapun meski tangan terpukul sekeras itu.

“Sakit tidak?” tanya Kwe Pian sian.

“Ti…tidak.” jawab Gin hoa nio.

Dipukul tanpa merasa sakit, sepantasnya dia bergembira. tapi setelah menjawab begitu, seketika air mata Gin hoa nio berlinang-linang. Ia merasa tangan sendiri kini sudah berubah menjadi kayu belaka, kaku dan mati rasa seperti bukan tangannya sendiri lagi. Dia menyaksikan Kwe Pian sian memukulkan kayu tadi, tapi yang dipukul seolah-olah tangan orang lain.

Kwe Pian sian berkerut kening pula, dilihatnya di meja sana ada bendo yang biasa di buat potong sayur, mendadak bendo itu disambarnya terus dibacokkan ke punggung tangan Gin hoa nio.

Meski bendo itu terlalu tajam, tapi kalau digunakan memenggal tangan seseorang rasanya mudah terlaksana. Siapa tahu, begitu bendo itu mengenai sasarannya, tangan Gin hoa nio yang terbacok itu hanya bertambah satu luka kecil saja, bahkan tiada tetes darah yang mengucur keluar.

Nyata tangan Gin hoa nio telah berubah lebih keras daripada kayu.

Bahwa tangannya tidak mempan dipenggal orang, seharusnya Gin hoa nio bergembira tapi mukanya justeru bertambah pucat dan ketakutan setengah mati.

“Trang”, Kwe Pian sian melemparkan bendo tadi, katanya sambil menggeleng kepala, “Wah, nonaku yang baik, tamparanmu tadi mungkin telah menimbulkan kesulitan.”

“Tapi…tapi waktu ku pukul dia, sedikitpun tidak…tidak merasa apapun,” kata Gin hoa nio.

“Justeru racun yang tidak menimbulkan perasaan apa-apa inilah yang lihai” ujar Kwe Pian sian. “Tanpa terasa tahu-tahu racun telah merembes ke dalam darahmu, merasuk ke dalam tulangmu. Bila pada saat kejadian kau rasakan apa-apa tentu kau akan tertolong.”

“Dan sek…sekarang apakah tidak tertolong lagi?” tanya Gin hoa nio dengan suara gemetar.

Padahal ia sendiri juga ahli racun, sudah tentu iapun tahu betapa hebat racun telah masuk tubuhnya. Hanya dalam keadaan cemas ia masih menaruh setitik harapan atas pertolongan orang lain.

“Mungkin tak tertolong lagi,” jawab Kwe Pian sian sambil menggeleng.

Gin hoa nio menubruk maju sambil berteriak. “Ku tahu kau pasti mampu menolong diriku, kaupun ahli racun, kau…kau…”

Seperti menghindari makhluk berbisa saja, dengan cepat Kwe Pian sian melompat mundur sambil berkata, “Betul, akupun tergolong kakeknya ahli racun, tapi racun selihay ini selamanya belum pernah kulihat…Nona yang baik, kau sendiri terkena racun, sebaiknya jangan kau bikin susah lagi kepada orang lain, lekas kau cari satu tempat yang baik untuk menantikan ajalmu saja.”

Seketika Gin hoa nio menjadi lemas dan roboh terkulai.

Pwe giok juga tercengang menyaksikan racun yang meresap di tubuh Gin hoa nio itu, mendadak ia mendorong pintu dan berkata, “Mari ikut padaku!”

“Akan…akan kau bawa kemana diriku?” tanya Gin hoa-nio.

“Orang lain tidak mampu menolong kau, orang yang meracuni kau pasti dapat,” kata Pwe giok.

Seketika Gin hoa nio melonjak bangun, serunya, “Ya, betul, dia pasti dapat menolong diriku. Meski telah ku pukul dia, namun antara dia dan aku sebenarnya tiada permusuhan apa-apa, bila kuminta maaf dan memohon dengan sangat, mungkin dia masih mau menolong jiwaku.”

Padahal iapun menyadari urusan ini tidak sedemikian sederhana. Tapi maklum juga, seorang yang sudah mendekati ajalnya layaknya kalau berusaha menghibur dirinya sendiri.

Tiba-tiba Kwe Pian sian berseru, “Ji-heng, masa betul hendak kau bawa dia kembali ke atas loteng itu?”

“Ya,” jawab Pwe giok

“Kedua orang yang berada di sana itu jelas bukan manusia baik-baik, untung kau dapat meninggalkan tempat itu, jika kau pergi lagi kesana, mungkin kau sendiri juga takkan kembali lagi,” seru Kwe Pian sian.

Pwe giok tersenyum hambar, katanya, “Jika aku harus mati, entah sudah berapa kali aku telah mati.”

“Perempuan begini masa ada harganya bagimu untuk membelanya dengan taruhan nyawamu, Ji-heng?”

“Sekalipun orang semacam Kwe heng bila terancam bahaya juga akan ku tolong tanpa pamrih.” kata Pwe giok sembari bicara ia lantas melangkah pergi bersama Gin hoa nio.

Kwe Pian sian menggeleng sambil bergumam, “Orang macam begini sungguh jarang terlihat, aku tidak mengerti untuk apakah dia…”

Pada saat itulah mendadak terdengar Gin hoa nio berteriak-teriak di kejauhan sana, “Ang lian hoa, Kun Hay-hong, lekas kalian kemari, Kwe Pian sian bersembunyi di dapur hotel sana…”

Air muka Kwe Pian sian berubah pucat, dengan gemas ia menggerutu, “Keji amat hati perempuan ini.”

Ia lantas memondong Ciong Cing, lalu diambil lagi bungkusan yang disimpan di bawah onggokan kayu bakar tadi.

Ciong Cing mendongak memandangnya, tiba-tiba ia mengucurkan air mata pula, katanya dengan suara terputus-putus, “Aku….aku sudah begini. tapi…tapi kau tidak melupakan diriku, padahal sudah…sudah banyak perempuan yang kau kenal, mengapa…mengapa kau masih begini baik padaku?”

“Jika kau tutup mulut, mungkin akan lebih baik lagi padamu” jengek Kwe Pian sian.

o0o

Sembari berteriak-teriak, setiba di bawah rumah berloteng tadi Gin hoa nio sudah terengah-engah, dilihatnya Pwe giok sedang memandangnya, ia menyengir dan menjelaskan, “Betapa takkan kubiarkan dia kabur begitu saja, dia bertindak kejam lebih dulu padaku betul tidak?”

Pwe giok menghela napas, katanya, “Jangan kau kira aku akan menyalahkan kau, sekarang aku sudah tahu di dunia ini masih banyak orang yang terlebih busuk darimu. Kau baru mencelakai orang lain apa bila orang bersalah padamu, tapi ada sementara orang…” mendadak tidak dilanjutkan ucapannya, ia membalik badan dan hendak mengetuk pintu.

Tak terduga didalam rumah lantas ada orang berseru, ” Pintu tidak terkunci, masuklah sendiri!”

Gin hoa nio menggigit bibir, desisnya, “Kiranya dia sudah memperhitungkan kepergian kita tadi pasti akan datang kembali, makanya kita dibiarkan pergi begitu saja.”

Meski ucapannya sangat lirih, siapa tahu tetap terdengar juga oleh orang di dalam rumah. Terdengar Cu Lui ji berucap dengan tak acuh, “Kan sudah kukatakan, kami tidak pernah memohon sesuatu kepada orang lain, kami hanya menunggu orang lain akan datang memohon kepada kami.”

Gin hoa nio mengira Cu Lui ji berada di balik pintu, tak tahunya setelah pintu didorong, di ruangan bawah situ ternyata tiada bayangan seorang pun.

Tapi suara Cu Lui ji lantas berkumandang dari atas loteng, katanya, Sesudah masuk pintu, jangan kalian palang, bisa jadi sebentar lagi ada orang lain akan datang juga!”

Gin hoa nio menggertak gigi dengan mendongkol, pikirnya: Tajam benar telinga budak ini.”

Sudah tentu ia tak berani bersuara lagi. Ia ikut Pwe giok naik ke atas loteng dengan perlahan, tirai jendela tertutup rapat, suasana terasa seram.

Cu Lui ji kelihatan duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, melirik saja tidak kepada kedatangan mereka, dengan mata terbelalak nona cilik itu mengawasi Sacek atau paman ke tiganya yang berbaring di tempat tidur.

Kedua orang yang terpancing masuk tadi juga kelihatan berlutut di kanan kiri tempat tidur, sikap mereka kelihatan sangat ketakutan, seperti ingin kabur kalau bisa, tapi sayang, tenaga untuk kabur ternyata tidak ada.

Si sakit tetap berbaring dengan memejamkan mata, air mukanya tampak mulai bersemu merah pula, selang sejenak, mendadak uap mengepul di atas kepalanya.

Gigi Ko Tiong kedengaran bergemerutuk, tiba-tiba ia berseru dengan suara parau dan lemah, “Am…ampun Cianpwe, ampun…” makin lama makin lirih suaranya, sampai akhirnya bahkan suaranya tak terdengar sama sekali.

Sebaliknya Cu Lui ji lantas berkata “Sacek hanya pinjam pakai tenaga kalian dan tidak ingin mencabut nyawa kalian, bila setitik Kungfu kalian ini dapat diberikan kepada Sacek, ini kan rejeki dan kebanggaan kalian.”

Belum habis ucapannya mendadak tangan si sakit dikendorkan, kontan Ko Tiong berdua jatuh terjengkang dengan napas ngos-ngosan seperti kerbau.

Cu Lui ji lantas mengusap keringat sang paman dengan sapu tangannya dan bertanya dengan perlahan “Bagaimana Kungfu kedua orang ini?”

Si sakit menghela napas gumamnya “Ada nama tanpa isi…ada nama tanpa isi…Mengapa dunia Kangouw sekarang penuh manusia-manusia yang bernama kosong belaka.”

Sambil berkerut kening Cu Lui ji berkata, “Sudah selanjut ini usia kalian, mengapa kalian tidak berlatih sebaik-baiknya, bilamana latihan dipergiat sedikit, tentu sekarang kalian akan jauh lebih berjaya.”

Ternyata dia menghendaki orang lain berlatih Kungfu sebaik-baiknya agar dapat “dipinjamkan” kepada pamannya, ucapan yang mau menang sendiri ini sungguh keterlaluan, sampai Pwe giok juga geleng-geleng kepala.

Tapi bagi Cu Lui ji, ucapannya itu ternyata sangat beralasan, bahkan makin omong makin jengkel, mendadak sebelah kakinya mendepak, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu kedua orang yang menggeletak di lantai itu terus mencelat keluar jendela, selang sejenak baru terdengar suara gemuruh genteng pecah, mungkin keduanya jatuh di atap rumah sebelah.

Bahwa dua orang itu berani menaksir gadis orang, apa yang mereka alami adalah akibat salahnya sendiri. Tapi melihat cara anak dara itu turn tangan sekeji itu, mau tak mau Pwe giok geleng-geleng kepala pula dan menghela napas gegetun.

Gin hoa nio lantas melangkah maju memberi hormat kepada Lui-ji, katanya dengan mengiring tawa, “Nona Cu, tadi mataku buta dan berani berbuat sembrono terhadapmu. Kuharap engkau jangan marah lagi dan sudi memaafkan diriku.”

“Aku memang sudah biasa digampar orang, mana berani ku marah padamu,” jawab Lui ji dengan dingin.

Gin hoa nio tahu rasa gusar orang sebelum lagi hilang, mendadak tergerak pikirannya, ia terus berlutut di depan si sakit, air matapun berderai, ratapnya, “Sejak kecil aku sudah yatim piatu, bilamana Cianpwe sudi menolong jiwaku, selanjutnya sekalipun dijadikan kuda atau kerbau, selama hidup akan kuladeni Cianpwe di sini.”

Dia tidak langsung memohon pertolongan kepada Cu Lui ji, tapi malah memohon kepada si sakit, inilah kecerdikan Gin ho nio. Ia tahu banyak lelaki berhati lemah terhadap perempuan, lebih-lebih bila melihat ari mata perempuan. Sebaliknya perempuan terhadap perempuan biasanya tidak kenal ampun. Kalau sakit ini sudah menyanggupi akan menolong tentu Cu Lui ji tidak berani membantah.

Betul juga si sakit lantas membuka matanya dan memandangnya sejenak tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kau murid siau hun kiongcu?”

Pertanyaan mendadak ini membuat Pwe giok ikut terperanjat.

Dengan terkejut Gin hoa nio menjawab, “Dari mana…darimana Cianpwe…”

Mestinya dia hendak bilang “Darimana Cianpwe tahu” sebab dia sudah masuk ke siau hun kiong, yaitu istana di bawah tanah tempat kediaman siau hun kiongcu, iapun sudah menyembah kepada amanat tinggalan siau hun kiongcu yang terukir di dinding, jadi sudah terhitung murid siau hun kiongcu.

Tapi tiba-tiba teringat olehnya jaman hidupnya Siau hun kiongcu hampir dimusuhi oleh setiap tokoh dunia persilatan, jika dirinya mengaku sebagai murid Siau hun kongcu, lalu siapa pula yang mau menolongnya?

Karena pikiran inilah dia menelan kembali sebagian ucapannya.

Si sakit lantas bertanya pula, “Apakah kau murid Siau hun kongcu?”

“Bukan!” jawab Gin hoa nio.

Sejenak si sakit memandangnya, lalu menghela napas panjang, katanya, “Sayang… sayang!”

“Sayang?” Gin hoa nio menegas dengan bingung.

Si sakit lantas memejamkan matanya dan tidak menghiraukannya lagi.

Beberapa kali Gin hoa nio sudah pantang mulut, tapi tidak berani bertanya, ia menjadi gelisah dan mulut terasa kering.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar Cu Lui ji berucap, “Sudah belajar ilmu silat Siau hun kiong, itu berarti sudah menjadi murid Siau hun kiongcu, dan kalau sudah menjadi murid Siau hun kiong kenapa tidak berani mengaku? Orang yang lupa pada perguruan dan berkhianat begini siapa pula yang sudi menolong kau?”

Keringat Gin ho nio berketes-ketes, ucapnya dengan suara gemetar, “No…nona bilang apa?”

Tapi Cu Lui ji juga lantas memejamkan mata dan tidak menggubris kepadanya.

Seketika keadaan menjadi hening dan menyesakkan napas.

Gin hoa nio memandang si sakit memandang pula Cu Lui ji, gigi mulai gemerutuk.

“Sayang, sungguh sayang!” tiba-tiba seorang berseru dengan menghela napas panjang.

Ternyata Kwe Pian sian adanya, entah sejak kapan dia sudah ikut naik ke atas dan berduduk di ujung tangga sana.

Gin hoa nio tidak tahan lagi, dengan suara parau ia bertanya, “Sayang katamu? Sesungguhnya apanya yang harus disayangkan?”

“Bilamana tadi kau mengaku sebagai murid Siau hun kiongcu, bukan mustahil nona Cu ini akan menolong kau,” kata Kwe Pian sian.

“Sebab apa?” tanya Gin hoa nio.

Kwe Pian sian tertawa, katanya, “Masa sampai sekarang kau tidak dapat menerka siapakah nona Cu ini?”

“Memangnya siapa…siapa dia?” tanya Gin hoa nio.

Mendadak Kwe Pian sian berdiri dan memberi hormat kepada Cu Lui ji, katanya, “Dengan sendirinya nona Cu inilah puteri kesayangan Cu nio-nio dari Siau hun kiong.”

Ucapan ini membikin Pwe giok ikut terkejut serentak Gin hoa nio lantas berdiri, tapi cepat ia berlutut pula kebawah tanyanya dengan terbelalak terhadap Cu Lui ji, “Apakah…apakah benar engkau puteri siau hung kiongcu?”

Namun Cu Lui ji sama sekali tidak menjawab, wajahnya tetap kaku dingin tanpa emosi. Anak umur belasan tahun seolah-olah berubah menjadi nyonya setengah baya yang kenyang asam garamnya kehidupan.

Sekujur badan Gin hoa nio terasa dingin, mendadak ia berteriak dengan suara parau, “Tidak, tidak mungkin! Siau hun kiongcu sudah meninggal 30 atau 40 tahun, tidak mungkin mempunyai anak perempuan sekecil ini!”

Kwe Pian sian menghela napas, katanya, “Dunia persilatan memang penuh rahasia dan banyak teka-teki yang tak terpecahkan, perempuan muda belia seperti kau bisa tahu apa?”

“Apa…apakah kau tahu?” tanya Gin hoa nio.

“Meski aku tahu sedikit, tapi tidak berani ku katakan” ujar Kwe Pian sian.

Mendadak si sakit menukas, “Kalau tahu, mengapa tidak berani dikatakan?”

Kwe Pian sian berbangkit dan memberi hormat katanya, “Jika demikian kehendak Cianpwe, tentu saja Cayhe menurut.” Lalu dengan perlahan ia bertutur, “Menurut cerita yang sudah turun temurun, satu diantara rahasia besar dunia persilatan adalah mengenai teka-teki kematian Siau hun kiongcu…”

“Tapi dengan mata kepalaku sendiri kulihat jenazahnya,” kata Pwe giok.

“Konon itu bukan Siau hun kiongcu yang tulen” ujar Kwe Pian sian, “jenazah itu hanya seorang pelayannya saja. Karena dia hendak menghindari pencarian musuh, maka menggunakan akal begitu.”

Meski dia sedang menjawab pertanyaan Ji Pwe giok, tapi matanya terus memandang si sakit.

Dilihatnya si sakit tetap berbaring tanpa bergerak, seperti sudah tertidur dan entah dengar tidak ucapannya.

Kwe Pian-sian berdehem, lalu menyambung, “Meski tindak-tanduk Siau-hun-kiongcu sangat dirahasiakan, tapi entah mengapa, akhirnya jejaknya diketahui orang, orang pertama yang mengetahui rahasianya konon ialah Tonghong-sengcu…”

“Tonghong-sengcu?” Pwe-giok menegas. “Apa yang kau maksudkan adalah Tonghong Tay-beng dari Put-ya-seng (kota tanpa malam) di pulau Jit-goat-to yang merajai 72 pulau lautan selatan itu?”

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya, “Betul, tidak menjadi soal sekarang kau sebut namanya, konon di masa jayanya, bilamana ada orang berani langsung menyebut namanya, maka orang itu mungkin sukar hidup satu jam lebih lama lagi.”

Mendadak si sakit membuka mata dan menatap Pwe-giok, tanyanya dengan bengis, “Darimana kau tahu nama Tonghong Tay-beng?”

Pwe-giok merasa mata orang yang tadinya guram itu mendadak mencorong terang dan menggetar sukma, meski diam2 terkejut, tapi dia tetap tenang saja dan menjawab, “Ayahku pernah bercerita padaku bahwa Tonghong-sengcu ini adalah satu di antara ke sepuluh tokoh terkemuka dunia persilatan. Cuma dia jauh bertempat tinggal di lautan selatan, kebanyakan orang Kangouw tidak kenal kelihaiannya. Ayahku juga mengatakan bahwa kesepuluh tokoh yang memang hebat itu kebanyakan jarang bergerak di dunia Kangouw, padahal ilmu silat mereka rata2 di atas pimpinan ke-13 aliran dan perguruan yang paling ternama sekarang ini.”

“Siapa2 saja ke sepuluh tokoh yang dimaksudkan?” tanya si sakit.

“Cayhe tidak ingat lagi seluruhnya, cuma masih ingat diantaranya kecuali Tonghong-sengcu ini, ada lagi Nikoh sakti Eng-hoa Taysu dari Eng-hoa-kok. It-gun, si unta terbang dari gurun utara, Lo cinjin dari Jing-sia-san, Sin-liong-kiam-khek, yang jejaknya sukar diraba itu, lalu ada lagi Li Thian-eng dari Sin-hong-nia …”

Belum habis ucapannya, si sakit seperti tidak sabar lagi mendengarkan, ia berkerut kening dan mendengus, “Hm, jadi mereka itu yang dimaksudkan ke sepuluh tokoh tertinggi? Hm, mereka sesuai?” Lalu dia memejamkan mata dan memberi tanda kepada Kwe Pian-sian, “Lanjutkan!”

Kwe Pian-sian berdehem pula, lalu menyambung, “Konon permusuhan Tonghong-sengcu dan Siau-hun-kiongcu sangat dalam, setelah mendapat kabar di mana beradanya Siau-hun-kiongcu, segera ia mengumpulkan belasan Tocu dari ke-72 pulau laut selatan, diundang pula Li-thian-ong, Oh-lolo dan lain2, dicarinya Siau-hun-kiongcu untuk menuntut balas.”

“Ah, ingatlah aku,” seru Pwe-giok mendadak. “Oh-lolo itupun termasuk satu di antara kesepuluh tokoh tersebut, konon ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi kemahirannya menggunakan racun konon jarang ada bandingannya di dunia ini.”

“Tujuan Tonghong-sengcu mengundang Oh-lolo agar ikut menghadapi Siau-hun-kiongcu justeru supaya meng…Hk, hk…” mestinya Kwe Pian-sian hendak omong “menggunakan racun untuk menyerang racun”, tapi demi melihat wajah Cu Lui-ji yang masam itu, seketika ia telan kembali ucapannya itu dengan batuk2.

“Apakah orang2 itu sudah mengetahui tempat sembunyi Siau-hun-kiongcu?” tanya Pwe-giok.

“Dengan sendirinya tahu,” jawab Kwe Pian-sian.

“Dan dapatkah mereka menemukan Siau-hun-kiongcu?” tanya Pwe-giok pula.

“Mungkin ketemu,” kata Kwe Pian-sian.

“Wah, pertarungan sengit itu pasti luar biasa dan jarang terjadi di dunia ini,” ujar Pwe-giok. “Lalu bagaimana kesudahannya?”

“Itulah akupun tidak tahu,” kata Pian-sian.

“Kaupun tidak tahu?” Pwe-giok menegas.

“Ya, bukan cuma aku saja tidak tahu, mungkin di dunia ini juga tiada orang lain lagi yang tahu,” kata Pian-sian sambil menyengir.

“Memangnya sebab apa?” tanya Pwe-giok heran.

“Tindak-tanduk Tonghong Tay-beng dan rombongannya sudah tentu juga sangat dirahasiakan, tapi pada waktu mereka hendak mulai bergerak, konon lebih dulu mereka mengadakan pesta pora di Gak-yang-lau (nama restoran terkenal di tepi danau Tongting), kebetulan di dekat Gak-yang-lau juga ada orang yang sedang pesiar dengan perahu di bawah bulan purnama, tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan rombongan Tonghong-sengcu itu, maka diketahuilah berkumpulnya tokoh2 top dunia persilatan itu adalah hendak menghadapi Siau-hun-kiongcu.”

“Dengan begitu beritanya lantas tersiar?” tanya Pwe-giok.

“Orang yang mendengar pembicaraan rombongan Tonghong-sengcu itu bukan orang yang suka usil mulut, sebab itulah berita itu tidak tersiar dengan luas, namun orang Kangouw umumnya memang sukar menjaga rahasia, akhirnya urusan itu tetap juga didengar orang, diam-diam ada orang menyelidiki kejadian itu, betapapun mereka ingin tahu bagaimana kesudahan pertarungan sengit antara tokoh-tokoh top itu.”

“Apakah kejadian itu tetap tak dapat diselidiki mereka?” tanya Pwe giok pula.

“Ya, tidak ada yang berhasil menyelidikinya,” jawab Kwe Pian sian.

“Sebab apa?” tanya Pwe giok.

Kwe Pian sian menghela nafas gegetun, katanya, “Sebab tokoh-tokoh top macam Tonghong-sengcu, Oh-lolo dan lain-lain itu untuk selanjutnya lantas lenyap tanpa bekas, seolah-olah mereka mendadak hilang dari permukaan bumi ini, siapapun tak dapat menemukan mereka.”

Terperanjat Pwe-giok, tanyanya, “Masa orang-orang itu sama…sama disikat Siau hun kiongcu…” dia pandang Cu Lui ji sekejap dan tidak melanjutkan ucapannya.

Kwe Pian sian menjawab, “Meski Siau hun kiongcu adalah tokoh ajaib di dunia persilatan, tapi menurut perkiraan umum, rasanya tidak mungkin sekaligus dia dapat menyikat tokoh-tokoh top sebanyak itu…” mendadak iapun pandang Cu Lui ji sekejap dan tidak bicara lebih lanjut.

Mendadak terdengar si sakit bersuara, “Apakah kalian ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa itu?”

“Sudah tentu sangat kuharapkan asalkan ada yang sudi memberitahu.” ujar Kwe Pian sian dengan tertawa.

“Baik, akan kukatakan kepada kalian,” tutur si sakit. “Tonghong Tay-beng, Li thian ong, Oh-lolo beserta 19 Tocu ke 72 pulau di lautan selatan itu, seluruhnya telah kubunuh, satupun tidak tersisa!”

Dia bicara dengan acuh tak acuh, seolah-olah kejadian itu hanya sesuatu yang biasa, tapi Kwe Pian sian dan Ji Pwe giok jadi melongo.

Meski mereka tidak pernah menyaksikan sendiri betapa lihay Tonghong Tay-beng, Oh-lolo dan lain-lain, tapi kalau Kungfu mereka diketahui jauh lebih tinggi daripada pimpinan 13 perguruan ternama jaman kini, maka dapatlah dibayangkan sampai dimana kelihaian mereka, sedangkan para Tocu dari laut selatan itu konon juga bukan jago lemah, ada diantaranya yang mampu menandingi Hui-hi-kiam-khek sehingga tiga hari tiga malam dan tetap belum terkalahkan.

Tokoh lihay semacam begitu, satu saja sukar dilawan, apalagi sekaligus berkumpul sampai 20 orang, sebaliknya si sakit yang sudah kempas kempis ini menyatakan telah membunuh tokoh-tokoh top itu tanpa tersisa satupun. Keruan Pwe giok dan Kwe Pian sian melongo kaget dan tidak sanggup bersuara pula.

Dengan perlahan si sakit berkata lagi, “Selain itu, harus kuberitahukan bahwa ibu Lui-ji, Cu Bi yang kalian kenal sebagai Siau hun kiongcu, dia meninggalkan istananya bukan lantaran takut terhadap pencarian musuh, kepergiannya itu hanya karena sudah bosan dengan kehidupan yang kesepian, tiba-tiba ia jatuh cinta kepada seorang dengan setulus hati, sebab itulah dia tidak sayang mengorbankan segalanya dan pergi bersama orang yang dicintainya itu untuk meneruskan sisa hidupnya sebagai suami istri seperti khalayak umumnya.”

Pwe giok dan Kwe Pian sian memandangnya dengan terkesima, diam-diam mereka berpikir, “Jangan-jangan orang yang dimaksudkan ialah kau sendiri? Jangan-jangan kau inilah ayah Cu Lui ji?” Dengan sendirinya pikiran mereka ini tidak berani dikemukakan nya.

Si sakit itu tiba-tiba bertanya, “Apakah kalian ingin tahu siapakah yang berhasil merebut hati Cu Bi itu?”

“Kalau Cianpwe keberatan untuk menjelaskan juga tidak menjadi soal,” ujar Kwe Pian sian dengan mengiring tawa.

Tapi si sakit lantas menjelaskan, “Orang itu adalah putera Tonghong Tay-beng, Tonghong Bi giok.”

Kwe Pian sian dan Pwe giok sama menghela nafas panjang, dalam hati mereka seperti agak kecewa.

Dalam pada saat itu Cu Lui ji telah maju ke sana mendekap disamping si sakit.

“Pemuda itu bernama Bi-giok (kemala indah), dari namanya dapat dibayangkan dia pasti seorang pemuda cakap,” sambung si sakit. “Sebab itulah, meski Cu Bi sudah cukup berpengalaman, dia jatuh hati juga terhadap bocah yang usianya hampir cuma separuh umurnya itu. Tentunya kalian dapat memaklumi, perempuan seperti Cu Bi, apabila sudah jatuh cinta benar-benar, maka tidak tanggung-tanggung lagi dan sukar dicegah.”

Selagi Pwe giok dan Kwe Pian sian tidak tahu cara bagaimana harus menanggapi, tiba-tiba Gin hoa nio menghela nafas dan berkata, “Ya, memang betul!”

“Tapi Tonghong Bi-giok itu selain cakap, ternyata jiwanya justeru sangat kotor dan rendah,” kata pula si sakit.

Di depan Cu Lui ji dia mencaci-maki ayahnya, tapi anak dara itu ternyata tidak menghiraukan, seolah-oleh dia memang pantas dicaci-maki. Diam-diam Pwe giok dan Kwe Pian sian menjadi heran.

Terdengar si sakit menyambung lagi, “Sesudah Cu Bi menjadi isterinya, dia meninggalkan segala kebiasaannya yang hidup mewah dan suka memerintah, dia menjadi isteri yang baik seperti perempuan umumnya. Setiap hari dia mengurus rumah tangga dan meladeni sang suami, sebab ia ingin melupakan segala apa yang telah lalu ditengah kehidupan yang masa ini, betapa mendalam cintanya terhadap Tonghong Bi-giok tentu pula dapat kalian bayangkan.”

Pwe-giok menghela nafas, katanya didalam hati, “Seorang lelaki bila mendapatkan isteri sebaik ini, apa pula yang diharapkannya?”

Diam-diam Gin hoa nio juga membatin, “Kelak bilamana akupun jatuh cinta kepada seseorang, entah aku akan bertindak begitu atau tidak?…Tapi, aihh, jiwaku saja sukar dipertahankan, untuk apa kupikirkan hal ini?”

Juga Kwe Pian sian diam-diam berpikir, “Siau-hun-kiongcu itu sudah kenyang merasakan asam garamnya kehidupan manusia ia merasa hanya dengan memperlihatkan tindak nyata itulah baru dapat membuktikan cintanya yang tulus, Tapi Tonghong Bi giok adalah pemuda yang masih hijau, mungkin dia malah merasa kehidupan yang begitu itu terlalu kaku dan bersahaja dan tidak menarik.”

Begitulah tiga orang tiga macam pikiran, sudah tentu tiada seorangpun yang berani, memberi komentar.

Si sakit lantas menyambung lagi, “Meski Cu Bi telah mencurahkan, cintanya dengan segenap jiwa raganya, siapa tahu Tonghong Bi giok justeru bosan terhadap kehidupan mereka itu, berulang-ulang ia membujuk agar Cu Bi mau kembali ke Siau hun kiong.”

Kwe Pian sian tersenyum puas, ia bangga karena merasa dugaannya tadi cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Sedangkan Pwe giok diam-diam menggeleng kepala.

Gin hoa nio yang lantas bertanya, “Dan dia…dia jadi pulang ke Siau hun kiong atau tidak?”

“Dengan sendirinya Cu Bi tidak mau” tutur si sakit. “Waktu itu usianya tidak tergolong muda lagi, namun dia mahir bersolek sehingga tampaknya masih tetap cantik seperti bidadari, sebab itulah Tonghong Bi giok juga masih berat untuk meninggalkan dia…”

Kwe Pian sian memandang sekejap ke arah Cu Lui ji, pikirnya, “Dalam usia sekecil dia ini sudah dapat memikat kaum lelaki, maka tidak perlu ditanyakan lagi betapa cantik ibunya. Sayang, aku sendiri sok mengaku kenyang main perempuan macam apapun, tapi ternyata tidak dapat bertemu dengan perempuan seperti Siau hun kiongcu.”

Gin hoa nio juga sedang membatin, “Biarpun Cu Bi sudah meninggalkan kehidupannya yang mewah, tapi dalam hal-hal tertentu dia pasti dapat membuat Tonghong Bi giok lupa daratan. Kelak entah aku dapat menandingi dia atau tidak?”

Ia pandang Pwe giok, anak muda itu tampak sedang menghela nafas gegetun.

Terdengar si sakit bertutur pula, “Umumnya perempuan yang suka berdandan paling pantang melahirkan, dengan sendirinya Cu Bi juga tahu hal ini, sebab itulah selama hidup bersama dua tahun iapun tidak mengandung. Tapi lambat laun usia Cu Bi juga makin bertambah, cita-citanya akan menjadi ibu juga bertambah keras, akhirnya ia tidak menghiraukan soal kecantikan lagi dan lahirlah seorang puterinya.”

Dia pandang Cu Lui ji sekejap, anak dara itu menunduk dengan air mata berlinang.

Gin hoa nio tidak tahan, ia bertanya, “Sesudah melahirkan anak, apakah dia betul-betul berubah menjadi tua?”

Kalau orang lain sama asyik mendengarkan cerita yang misterius ini, hanya Gin hoa nio saja yang justeru memperhatikan soal kecantikan Siau hun kiongcu.

Si sakit menghela nafas, berkata” “Ya, tidak sampai setengah tahun setelah melahirkan anak ini perempuan yang maha cantik itu lantas berubah keriput dan ubanan, seketika seperti bertambah berpuluh tahun lebih tua.”

Gin hoa nio menghela nafas, ia tidak bicara lagi, tapi diam-diam membatin, “Jika demikian, biarpun kepalaku harus dipenggal juga aku tidak mau melahirkan anak.”

Tak terduga Pwe giok juga menghela nafas dan berkata, “Bila Tonghong Bi giok itu sudah mulai timbul rasa…rasa bosannya terhadap Cu kiongcu, maka selanjutnya…selanjutnya mungkin…” dia memandang Cu Lui ji sekejap dan menelan kembali kata-kata yang belum terucap itu.

Tapi si sakit lantas berkata, “Cu Bi sangat cerdik, masa dia tidak tahu Tonghong Bi giok mulai berubah pikiran terhadapnya. Ia cuma tidak berpikir bahwa setelah melahirkan anak dia bisa berubah tua secepat itu. Satu hari ia berkaca dan melihat rambut sendiripun sudah mulai rontok, segera terpikir olehnya bahwa sekali ini pasti sukar merebut kembali hati Tonghong Bi giok yang memang sudah goyah itu.

Diam-diam Gin hoa nio membatin, “Jika aku menjadi dia, akan lebih baik kubunuh saja Tonghong Bi giok, dengan demikian, biarpun aku tidak mendapatkan dia lagi, orang lainpun jangan harap akan memiliki dia.”

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia melirik ke arah Pwe giok, dilihatnya bekas luka di muka anak muda itu, seketika ia menunduk dan tidak berani mendongak lagi.

Didengarnya si sakit sedang menyambung pula ceritanya, “Malam itu diam-diam ia menangis sambil menimang anaknya, semalam suntuk dia menangis, esoknya sebelum lagi terang tanah dia lantas membangunkan Tonghong Bi-giok.”

Gin hoa nio tidak tahan dan menyela pula, “Apakah…apakah mereka tidak tidur bersama di dalam satu kamar?”

“Sejak anak ini lahir, Tonghong Bi-giok lantas tidur di suatu kamar tersendiri,” jawab si sakit. “Katanya dengan demikian supaya Cu Bi dapat momong anaknya dengan lebih baik, padahal…Hmk.”

Diam-diam Kwe Pian sian membatin, “Hal inipun tidak dapat menyalahkan dia, bilamana aku, tentu aku pun tidak sudi tidur bersama seorang nenek-nenek…” mendadak ia merasa sorot mata si sakit tertuju kepadanya, cepat ia berkata dengan mengiring tawa, “Entah untuk apakah Cu-kiongcu membangunkan dia?”

Orang sakit itu menghela nafas, katanya kemudian, “Mungkin kalianpun tak dapat menerka apa maksudnya.”

Seketika semua orang terdiam, siapapun tidak berani buka mulut. Selang sejenak barulah si sakit menyambung lagi, “Tujuannya membangunkan dia adalah mohon diri kepadanya.”

“Mohon diri?!” serentak Ji Pwe-giok, Kwe Pian sian dan Gin hoa nio sama melenggong.

“Betul,” kata si sakit. “Dia tahu keadaannya tidak mungkin disukai lagi oleh Tonghong Bi-giok, ia menyatakan tak mau lagi membebani Tonghong Bi-giok, setelah berpisah bolehlah Tonghong Bi giok mencari gadis lain yang sembabat dan berumah tangga lagi yang bahagia. Cu Bi sendiri tak mau lagi bertemu dengan dia, yang diharapkannya adalah Tonghong Bi-giok dapat hidup bahagia asalkan dapat membesarkan anak mereka, maka puaslah dia.”

Bilamana membayangkan betapa pedih waktu Cu Bi mengucapkan katanya itu, tanpa terasa hati semua orang ikut remuk redam.

Sampai-sampai Kwe Pian sian juga merasa terharu, pikirnya, “Tak tersangka Cu Bi benar-benar mencintai Tonghong Bi-giok dengan suci murni, seorang lelaki bila mendapatkan cinta setulus itu dari seorang perempuan, maka tidak penasaranlah hidupnya ini.”

Pwe giok juga terharu, ia berkata, “Sesudah mendengar ucapan itu, apakah Tonghong Bi-giok tega tinggal pergi begitu saja?”

Si sakit menjawab, “Tidak, dia tidak pergi, sebaliknya setelah mendengar kata-kata Cu Bi itu lantas bersumpah segala, katanya cintanya terhadap Cu Bi takkan berubah sampai dunia kiamat. Biarpun Cu Bi berubah tua dan betapa jelek juga dia tidak mungkin meninggalkannya.”

Pwe giok menghela nafas panjang, katanya, “Jika demikian, Tong hong Bi giok ini bukanlah manusia yang tidak setia.”

“Betul, dia memang bukan manusia yang tidak setia, sebab hakekatnya dia memang bukan manusia,” tukas si sakit mendadak. Sampai di sini wajahnya yang semula tenang-tenang itu seketika berubah menjadi emosi, sorot matanya berapi, butiran keringatpun merembes keluar di dahinya.

Perlahan Cu Lui ji mengusap keringat sang paman, air mata anak dara itupun berderai.

Semua orang sama ternganga menyaksikan kejadian itu, tiada yang berani buka suara. Seketika suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara sedu-sedan Cu Lui-ji yang berduka itu.

Selang sejenak, akhirnya ia si sakit menghela nafas, katanya, “Setelah mendengar sumpah setia Tonghong Bi-giok itu, hati Cu Bi menjadi terharu dan berterima kasih, memangnya dia juga merasa berat untuk berpisah, ia hanya rela berkorban baginya. Sekarang Tonghong Bi giok tegas-tegas menyatakan setianya, dengan sendirinya Cu Bi juga tidak menyinggung lagi soal berpisah.”

“Jangan-jangan Tonghong Bi giok itu ada…ada rencana tentu?” kata Pwe giok.

Si sakit tidak menjawab, ia melanjutkan ceritanya, “Sejak itulah Cu Bi mencurahkan segenap tenaganya untuk menjaga anak dan merawat Tonghong Bi giok dengan lebih rajin. Lewat dua tahun lagi, tiba-tiba ayah Tonghong Bi-giok, yaitu Tonghong Tay-beng itu bahkan membawa serta 20 tokoh Bu-lim terkemuka.”

Si sakit memandang sekejap Pwe giok bertiga, lalu menyambung, “Padahal tempat tinggal Cu Bi itu sangat dirahasiakan, maklum dia sendiri musuhnya terlalu banyak. Lalu cara bagaimana Tonghong Taybeng berhasil menemukan tempat kediamannya? Dapatkah kalian membayangkan hal ini?”

“Ya Wanpwe juga sedang heran.” kata Kwe Pian sian.

“Bukan cuma kau saja yang heran, waktu itu Cu Bi juga sangat heran,” ujar si sakit. “Dia baru paham duduknya perkara setelah dilihatnya tindakan Tonghong Bi-giok, ia tidak terkejut, bahkan… bahkan dia terus berlari menggabungkan diri dengan mereka…” seru si sakit dengan suara parau, “brak, mendadak sebuah meja kecil di ujung tempat tidur dihantamnya hingga hancur.

Tergerak hati Pwe giok, Kwe Pian sian dan Gin hoa nio, lamat-lamat mereka dapat menerka bahwa kedatangan Tonghong Taybeng dan rombongannya itu bukan mustahil justru Tonghong Bi-giok sendiri yang membocorkan tempat tinggalnya ini, namun mereka tidak sampai hati untuk memberi komentar. Mereka mendengar nafas si sakit terengah-engah, jelas gusarnya tidak kepalang.

Dengan menahan tangis Cu Lui-ji berkata, “Sacek, tenaga…tenagamu belum pulih, untuk…untuk apa kau…”

“Di seluruh kolong langit ini belum ada orang lain yang tahu akan rahasia ini,” seru si sakit dengan suara bengis. “Sekalipun aku harus mati sehabis bercerita juga akan kubeberkan, tak dapat kubiarkan ibumu menanggung nama busuk meski sudah mati.”

Cu Lui-ji tak tahan lagi, ia mendekap di tempat tidur dan menangis sedih.

Dengan suara serak si sakit bercerita pula, “Kiranya binatang Tonghong Bi-giok itu diam-diam telah berkhianat, pada tahun berikutnya setelah Cu Bi melahirkan, pada waktu kecantikan Cu Bi sudah luntur, diam-diam binatang itu menyewa seorang saudagar yang biasa berlayar keluar lautan, dengan upah besar dia minta orang itu menyampaikan suratnya ke Jit-goat-to, ke Put-ya-seng, kepada ayahnya. Tentu saja dengan janji muluk-muluk dan upah besar agar saudagar itu mau melaksanakan tugasnya. Cuma Jit goat to itu sangat sukar ditemukan, sebab itulah baru beberapa tahun kemudian surat itu sampai di tangan Tonghong Tay-beng…”

Meski sejak tadi semua sudah menduga akan kemungkinan kejadian ini, namun mereka belum lagi berani percaya Tonghong Bi-giok itu ternyata sedemikian kejinya. Sekarang hal ini diceritakan sendiri oleh si sakit, tanpa terasa semua orang ikut gemas juga, sampai-sampai Kwe Pian sian dan Gin hoa nio juga merasa tindakan Tonghong Bi giok itu terlalu kejam.

Mendadak dengan sinar mata yang tajam si sakit melototi Kwe Pian-sian, katanya, “Ku tahu kau inipun orang yang tak berbudi, tapi bila kau yang menjadi Tonghong Bi-giok, apakah kau tega berbuat begitu…? Coba jawab dengan sejujurnya!”

Kwe Pian sian jadi gelagapan, “O, Cayhe…Wanpwe…”

Ia merasa sinar mata si sakit setajam sembilu yang hendak membedah dadanya sehingga untuk berdusta saja ia tidak berani. Ia menghela nafas, lalu menyambung dengan menyengir, “Jika…jika Wanpwe, paling-paling ku tinggal pergi begitu saja dan habis perkara.”

“Betul, bila orang lain, betapa keji orang itu, paling-paling cuma tinggal pergi saja dan habis perkara.” kata si sakit. “Tapi Tonghong Bi-giok si binatang itu benar-benar lain daripada yang lain, ia tahu betapa tinggi Kungfu Cu Bi dan betapa keji caranya turun tangan, ia takut bila melarikan diri mungkin Cu Bi akan menemukan kembali, ia kuatir jiwanya tetap tak bisa lolos dari tangan Cu Bi.”

“Tapi…tapi Cu-kiongcu kan sudah rela mau berpisah dengan dia, mengapa dia bertindak pula sekeji itu?” tanya Pwe giok dengan gemas.

Jawab si sakit, “Meski Cu Bi hendak berpisah setulus hati dengan dia, tapi dia khawatir tindakan Cu Bi itu hanya pura-pura saja dan hendak mengujinya. Apalagi waktu itu dia juga sudah mengirim surat kepada ayahnya, demi kepentingan sendiri dan agar tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari dengan sendirinya ia harus menyaksikan kematian Cu Bi barulah dia merasa aman. Jadi apa yang dikatakannya kepada Cu Bi itu hanya sekedar untuk menghiburnya agar Cu Bi tetap tinggal di situ.”

Mendengar sampai di sini, tanpa terasa Kwe Pian-sian ikut bicara, “keji amat hati orang ini, sungguh sangat kejam.” “Kemudian apakah… apakah Cu-kiongcu benar-benar mati di tangan mereka?” tanya Pwe-giok.

Muka si sakit tampak masam dan tidak lantas menjawab, selang sejenak barulah ia berkata, “Kukira kalian lupa bertanya sesuatu padaku.”

“Dalam hal apa?” tanya Pwe-giok.

“Kalian lupa tanya padaku dari mana ku tahu semua kejadian ini.” kata si sakit.

Mendingan dia tidak omong, begitu dia katakan, mau tak mau semua orang menjadi heran. Memang betul juga, kalau peristiwa itu sedemikian dirahasiakan, darimana pula si sakit mendapat tahu? bahkan sedemikian jelas seperti di menyaksikan dengan mata kepala sendiri di tempat kejadian.

Pelahan-lahan orang sakit itu memejamkan mata lagi sambil berkata, “Selama hidupku paling suka menyendiri, sejak mengalami sesuatu kejadian, aku lantas merasa di dunia ini tiada seorangpun yang cocok bagiku, siapapun yang kutemui kalau bisa ingin ku mampuskan dia dengan sekali bacok”

Belum habis dia bercerita kisah kehidupan Siau-hun kiongcu, tiba-tiba ia bicara tentang wataknya sendiri. Tentu saja semua orang merasa heran, tapi mereka tetap diam saja dan mendengarkan dengan cermat, tiada seorangpun berani menyeletuk.

Terdengar si sakit menyambung pula dengan pelahan, “Tapi tidak mungkin kubunuh habis manusia di dunia ini, terpaksa akulah yang menjauhi mereka. Tatkala itu lagi musim semi, di sekitar pantai Hokciu di propinsi Hokkian banyak kapal dagang yang hilir mudik ke kepulauan timur, ku pilih sebuah kapal layar yang kuat dan gesit, ku lompat ke atas kapal itu dan mengusir seluruh anak buahnya, aku berlayar sendirian.

“Sudah tentu perbekalan di atas kapal itu cukup lengkap dan banyak sehingga aku tidak perlu akan kelaparan dan kehausan, kurasakan jagat raya yang luas ini benar-benar bebas merdeka dan tiada seorangpun yang akan mengganggu diriku lagi. Kurasakan hidup yang tenang dan sunyi, rasa kesal yang terpendam sekian lama akhirnya terasa buyar.”

Mendengar sampai di sini, samar-samar orang dapat merasakan cerita orang ini pasti ada sangkut pautnya dengan kisah hidup Siau-hun-kiongcu itu, sangkut pautnya justeru terletak pada kapal layar ini.

Terdengar si sakit menyambung pula ceritanya, “Entah sudah berapa lama aku berlayar, suatu hari aku berduduk di buritan kapal dan menikmati matahari terbenam yang indah, tiba-tiba kulihat sesosok tubuh manusia terombang-ambing di lautan yang luas itu, sekujur badan orang itu berlumuran darah, dengan mati-matian berpegangan erat-erat pada sepotong kayu, keadaan sangat payah dan tampaknya lebih banyak mampusnya daripada hidup.”

Diam-diam Kwe Pian-sian membatin, “Bilamana orang ini masih bisa hidup, mungkin kau takkan menolong dia. Tapi lantaran orang itu pasti akan mati, kaupun lagi iseng karena kesepian, bisa jadi akan kau tolong dia malah.”

Dalam pada itu si sakit telah berkata pula, “Waktu itu aku sudah terlalu benci kepada setiap manusia di dunia ini, mestinya tiada niatku akan menolong dia, tapi melihat lukanya begitu parah, aku menjadi tidak tega dan kutanya dia apa yang terjadi, siapa yang melukai dia separah itu? Kupikir bilamana di sekitar situ ada bajak laut, kebetulan bagiku akan dapat ku sikat mereka untuk melampiaskan rasa gemasku.”

Mendengar uraian si sakit yang penuh emosi itu, diam-diam Pwe-giok membatin, “Meski orang ini penuh dendam kepada sesamanya, tapi apapun juga dia tidak mau sembarangan membunuh, malahan bajak laut yang ingin di tumpasnya, dari sini terbukti hati nuraninya belum lagi gelap sama sekali, tindak tanduknya tetap bersifat seorang pendekar sejati.”

Berpikir demikian, tanpa terasa timbul juga rasa hormatnya kepada si sakit ini.

Tapi mendadak si sakit melotot padanya dan bertanya, “Sekarang apakah kau tahu siapa orang yang ku tolong itu?”

Pwe-giok melengak, benaknya bekerja cepat, serunya, “Jangan-jangan orang yang dititipi surat oleh Tonghong Bi-giok itu”

Untuk pertama kalinya sorot mata si sakit yang dingin itu menampilkan secercah senyuman, katanya, “Tepat sekali tebakanmu.” Dengan cepat senyumnya itu lantas lenyap, dengan ketus dia menyambung lagi, “Dan tahukah kau siapa yang turun tangan keji kepadanya?”

Belum lagi Pwe-giok bersuara, mendadak Kwe Pian-sian menyela, “Tonghong Tay-beng!”

“Betul,” kata si sakit. “Rupanya setelah dia berhasil mencapai Put-ya-sia di Jit-goat-to, setelah dia menyerahkan surat kepada Tonghong Tay-beng, selagi dia menunggu hadiah besar dari penerima surat itu, siapa duga Tonghong Tay-beng malah mengerahkan anak buahnya, segenap rombongan pengantar surat yang berjumlah 37 jiwa itu telah dibunuhnya sama sekali tanpa sisa satupun. Untung pengantar surat itu hanya terluka parah dan belum tewas, sekuatnya ia berusaha lari, tujuannya hanya ingin membeberkan rahasia yang diketahuinya mengenai Tonghong Bi-giok.”

“Mungkin dia memang ditakdirkan harus membeberkan rahasia yang diketahuinya, maka Thian mengantarkan dia untuk bertemu dengan Cianpwe.” sela Pwe-giok pula.

Tapi Kwe Pian-sian berkata dengan menyesal, “Jika aku menjadi dia, hakekatnya aku tidak mau mengantarkan surat itu. Masa urusan sepenting itu harus dirahasiakan boleh diserahkan begitu saja kepada orang yang baru dikenal, mana mungkin Tonghong Tay-beng membiarkan dia pergi lagi dengan hidup setelah menerima surat itu.”

“Tapi pada umumnya orang yang sudah biasa berlayar kian kemari rata-rata adalah orang licin, dengan sendirinya segala kemungkinan juga sudah dipikirnya.” kata si sakit. “Setelah dia menerima upah dari Tonghong Bi-giok, cukup baginya surat itu dibakar saja dan segala urusan beres, ke mana Tonghong Bi-giok akan mencarinya lagi. Tapi sayangnya dia telah berbuat suatu kesalahan, timbul rasa ingin tahunya akan surat antarannya itu, ia pikir isi surat itu pasti sangat penting, kalau tidak tentunya tidak perlu di suruh mengantar dengan upah yang besar. Maka secara diam-diam ia telah mencuri baca isi surat itu.”

Gin-hoa-nio menghela napas, katanya, “Jika aku menjadi dia, rasanya akupun ingin tahu apa isi surat itu.”

“Makanya orang macam begitu tidak perlu penasaran kalau mampus.” jengek si sakit.

Gin-hoa-nio menunduk dan tidak berani bersuara lagi.

“Sesungguhnya apa isi surat itu? tanya Pwe-giok tiba-tiba.

“Binatang Tonghong Bi-giok itu telah menyatakan di dalam surat bahwa dia yang terpelet oleh Cu Bi dan berada dalam bahaya, maka diharapkan pertolongan Tonghong Tay-beng. Didalam surat itupun dinyatakan dengan tegas agar setelah terima surat itu, supaya Tonghong Tay-beng memberikan upah kepada si pengantar surat satu jumlah harta yang tak habis terpakai selama hidup.

“Mungkin pengantar surat itu telah terpancing oleh pesan Tonghong Bi-giok itu, maka sedapatnya dia berusaha menyampaikan surat itu ke Put-ya-sia.

Padahal kalau dia mau berpikir secara cermat, di dunia ini mana ada kekayaan yang tak habis terpakai selama hidup? Betapapun besar jumlahnya harta kekayaan juga ada kalanya akan habis dan ludes, kecuali orang itu mati seketika, dengan begitulah baru benar-benar tidak habis terpakai selama hidup.”

“Betul, dengan pesan itu Tonghong Bi-giok justeru menghendaki ayahnya membinasakan si pengantar surat apabila surat sudah diterimanya.” sela Kwe- Pian-sian. “Cuma sayang, bocah itu mungkin sudah keblinger oleh janji upah yang besar itu sehingga dia tidak memperhatikan arti yang terkandung di dalam pesan itu.”

“Bukan cuma begitu saja, justeru Tonghong Bi-giok sudah memperhitungkan di tengah jalan pengantar surat itu pasti akan mencuri baca suratnya, maka di dalam suratnya dia sengaja menulis pesan yang bermakna ganda itu untuk memancingnya,” kata si sakit. “Manusia mati karena harta, burung mati karena pangan, jadi orang itu memang pantas mampus. Namun apa yang terjadi itupun dapat menggambarkan betapa kejinya Tonghong Bi-giok.”

“Jangan-jangan lantaran Cianpwe merasa perbuatan orang ini terlalu keji, maka Cianpwe ingin membunuhnya demi kesejahteraan umum, maka Cianpwe terus putar balik dari pelayaranmu itu?” tanya Pwegiok.

“Kalau melulu soal ini mungkin aku takkan kembali lagi ke daratan sini.” tutur si sakit dengan pelahan. “Justeru sebelum mati orang itu telah bercerita pula apa yang dialaminya, saking gusarnya barulah aku ingin bertindak.”

“Apalagi yang diceritakan orang itu?” tanya Pwe-giok.

“Bahwa Tonghong Bi-giok mau menyerahkan surat sepenting itu kepadanya, tentunya orang itupun mempunyai hubungan cukup erat dengan dia, betul tidak?” tanya si sakit.

“Ya, tapi Tonghong Bi-giok kan sudah hidup menyepi… ”

“Tahukah kau bahwa untuk menyepi yang paling baik adalah di tempat yang ramai?” tanya si sakit tiba-tiba.

Seketika Kwe Pian-sian berkeplok dan membenarkan, katanya, “Betul, untuk menyepi, artinya bersembunyi menghindari pencarian orang, tempat yang baik memang tidak harus di pegunungan atau tempat terpencil. Bila kau sembunyi di tempat begitu, terkadang malah lebih mudah ditemukan orang. Tapi orang semacam Cu-kiongcu, bila bersembunyi di suatu kota kecil biasa dan hidup tenteram seperti orang lain, tentu jejaknya akan sukar ditemukan orang.”

Tergerak pikiran Pwe-giok, serunya, “He, jangan-jangan di kota kecil inilah dahulu Cu-kiongcu bertirakat?”

Si sakit menghela nafas, tuturnya, “Kota ini dibilang kecil juga tidak kecil, dikatakan besar juga tidak besar, tapi kehidupan di sini aman tenteram, penduduknya hidup rukun dan damai, tak nanti sengaja mencari tahu rahasia pribadi orang lain. Sekalipun terkadang ada orang Kangouw lalu di sini juga takkan menaruh perhatian keadaan di sini, jadi memang suatu tempat tirakat yang baik. Sungguh cerdik Cu Bi dapat memilih tempat sebaik ini. Kalau saja Tonghong Bi-giok tidak berubah pikirannya, sekalipun dia tinggal seratus tahun di sini juga orang lain takkan menyangka nyonya rumah yang biasa di kota kecil ini sebenarnya adalah Siau-hun-kiongcu dan dikabarkan sudah mati itu.”

“Ya, memang benar tak terduga oleh siapapun juga,” kata Pwe giok.

“Pelaut yang dititipi surat oleh Tonghong Bi-giok itu bernama Li Bo-tong, aslinya juga penduduk kota kecil ini, cuma sejak muda dia sudah mengembara ke mana-mana sehingga hampir dilupakan oleh penduduk setempat. Kebetulan tahun itu dia pulang kampung halaman, kebetulan pula tempat tinggalnya sebelah menyebelah dengan rumah Cu Bi. Pada waktu Tonghong Bi-giok mengetahui orang she Li ini tidak lama akan berlayar lagi, pada saat itulah dia lantas bersahabat dengan dia.”

“Cu-kiongcu adalah orang yang cerdik, masa sedikitpun dia tidak menaruh curiga?” tanya Kwe Pian sian.

Si sakit menjawab, “Waktu itu Cu Bi mencurahkan segenap perhatiannya untuk merawat anaknya, apalagi pergaulan antara tetangga kan juga jamak,” kata si sakit.

“Betul, dia sudah bertempat tinggal di situ, kalau tidak bergaul dengan tetangga tentu akan menimbulkan curiga orang lain malah,” ujar Pwe giok. “Apalagi orang biasa seperti Li Bong-tong itu tentu juga takkan tahu-menahu rahasia persembunyiannya.”

“Tapi penduduk di sekitar sana tahu Cu Bi adalah isteri yang baik dan Ibu Rumah Tangga yang teladan rajin dan hemat, bahkan sangat pintar meladeni sang suami,” kata orang sakit itu.

“Sepulangnya Li Bong tong di rumah tentu iapun mendengar cerita tetangga itu,” ujar Kwe Pian sian.

“Betul, makanya setelah membaca surat Tonghong Bi-giok itu, ia sangat terkejut,” tutur si sakit. “Sungguh ia tidak percaya seorang isteri teladan dan ibu rumah tangga yang terpuji itu asalnya adalah seorang iblis yang ditakuti. Tapi iapun menganggap Tonghong Bi-giok tidak pantas berbuat khianat terhadap istrinya sendiri. Namun waktu itu ia sudah keblinger oleh janji upah besar, yang terpikir olehnya hanya harta benda yang takkan habis digunakan selama hidup. Ketika mendekat ajalnya barulah timbul hati nuraninya, baru dia menceritakan seluk beluk urusan itu padaku.”

Habis bicara, kembali tangannya hendak menggabruk meja lagi. Karena sepanjang tahun dia berbaring di situ, dalam anggapannya di sebelahnya adalah meja kecil, tak teringat olehnya bahwa meja itu tadi sudah digebrak hingga hancur.

Dengan sendirinya gebrakan ini mengenai tempat kosong dan mungkin akan mengenai pinggir tempat tidur dan bisa jadi tempat tidur itupun akan hancur. Untunglah mendadak Cu Lui ji menjulurkan tangannya. dengan enteng tangan sang paman dipegangnya sambil berkata dengan suara halus, “Sacek, maukah kau jangan marah-marah lagi?”

Tindakan Cu Lui ji itu mungkin takkan mengherankan orang lain, tapi bagi pandangan Pwe-giok dan Kwe Pian sian yang sudah tergolong jago silat kelas satu, melihat itu hati mereka jadi terkesiap.

Maklumlah, betapa cepat dan betapa kuat pula gebrakan tangan si sakit, tapi dengan ringan saja Cu Lui-ji dapat menangkapnya.

Diam-diam Kwe Pian-sian membatin, “Budak cilik ini selain mahir memikat lelaki, Kungfunya ternyata juga tidak rendah dan tampaknya tidak di bawahku.”

Padahal si sakit sudah dalam keadaan senin-kemis, tapi masih mampu mendidik seorang nona cilik dengan Kungfu setinggi itu, mau tak mau Kwe Pian sian merasa ngeri.

Dilihatnya tangan Cu Lui ji yang kecil itu sedang mengelus tangan si sakit yang kurus seperti cakar itu, lambat laun rasa gusar si sakit pun mereda, ia menghela nafas dan berkata, “Sesudah mendengar penuturan Li Bong-tong waktu itu, aku tidak tahan akan rasa gusarku, sungguh tak pernah terpikir olehnya di dunia ini ada manusia tak berbudi semacam Tonghong Bi-giok itu. Segera kuminta Li Bong-tong melukiskan letak pulau kediaman Tonghong Taybeng. Habis memberi keterangan Li Bong tong lantas menghembuskan nafas penghabisan.”

“Dan Cianpwe lantas memburu ke Put-ya-sin di Jit-goat-to untuk mencari Tongheng Tay-beng?” tanya Pwe giok.

“Betul,” jawab si sakit. “Cuma sayang, waktu itu Tonghong Tay-beng sudah meninggalkan pulaunya. Dalam gusarku, ku obrak-abrik seluruh pulau itu hingga morat-marit. Ku pikir kepergian Tong hong Tay-beng itu tentu akan mengundang bala bantuan lagi, untuk itu tentu akan makan waktu, jika segera menyusul ke Li-toh-tin, bisa jadi jiwa Cu-Bi dapat kuselamatkan. Maka aku lantas berlayar pulang ke daratan sini, siapa tahu…kedatanganku masih tetap terlambat satu langkah.”

Sampai di sini, bagi Kwe Pian sian dan Gin hoa nio kisah Siau hun kiongcu itu sudah jelas sebagian besar, tapi diam-diam merekapun heran atas diri si sakit, pikir mereka, “Jika orang ini sudah sedemikian benci terhadap sesamanya, saking bencinya seakan-akan baru puas bilamana setiap manusia di dunia ini sudah mau terbunuh habis, lalu untuk apa dia terburu-buru pulang ke sini hanya untuk menolong Cu Bi?”

Hanya Ji Pwe giok saja yang berbeda pendapat, meski masih muda, tapi dia sudah kenyang dengan macam-macam pengalaman, iapun seorang yang berperasaan halus dan pecinta yang luhur, lamat-lamat ia dapat menerka isi hati si sakit itu, diam-diam ia berpikir, “Dari nada ceritanya, sebabnya dia berubah menjadi ekstrim dan ingin membunuh setiap manusia di dunia ini, jangan-jangan lantaran dia sendiri juga mengalami persoalan yang menyakitkan hati, misalnya dikhianati kekasihnya, maka dia dendam kepada setiap orang yang berhati palsu dan suka mengkhianati. Bahwa dia memburu ke Li-toh-tin katanya hendak menolong Cu Bi, siapa pula yang tahu bahwa tujuannya justeru hendak membunuh Tonghong Bi-giok yang tidak setia terhadap anak istrinya itu.”

Dihatinya si sakit telah memejamkan mata pula dengan nafas terengah-engah.

Orang bicara tampaknya tidak perlu tenaga tapi lantaran dia terkenang kepada kejadian dahulu, karena emosi, jantungnya lantas berdetak keras.

Mestinya Pwe giok ingin bertanya kisah lanjutan Siau-hun-kiongcu, cara bagaimana dia mati dan bagaimana pula akhirnya dengan nasib Tonghong Bi-giok, juga tentang Tonghong Tay-beng yang katanya juga telah dibunuh semuanya olehmu, mengapa pula kau sendiri bisa terkena racun separah ini?

Namun pertanyaan itu hanya berputar saja dalam benak Pwe giok, ia tidak tega berucap melihat keadaan si sakit yang payah itu.

Didengarnya Cu Lui-ji berkata, “Tentu kalian sudah lapar, nasi sudah kusiapkan, biarlah kuambilkan untuk kalian,”

Cepat Kwe Pian sian berbangkit dan berkata “Ah, mana berani kami merepotkan nona?!”

Tapi Cu Lui ji tidak menanggapinya, ia mengusap air matanya, lalu turun ke bawah loteng.

Gin hoa nio tidak tahan lagi, cepat ia berseru dengan suara gemetar, “Nona, kumohon sudilah engkau menolong jiwaku, jika terlambat, mungkin…”

Tanpa menoleh Cu Lui ji mendengus, ucapnya, “Barang siapa mendapatkan kitab pusakaku, berarti dia telah masuk perguruanku. Selamat atau celaka, untung atau malang, apapun yang akan terjadi tetap harus tunduk kepada perintahku. Barang siapa tidak taat kepada perintahku dia pasti akan binasa…”

Apa yang diucapkannya ii adalah amanat Siau-hun-kiongcu yang terukir di dinding istana di bawah tanah itu. Tempo hari, setelah Pwe giok dan Kim-yan-cu mendapatkan kitab pusaka Siau hun pi-kip, lalu timbul bermacam-macam kejadian. Karena itulah kitab pusaka itu mereka buang di sembarang tempat. Kemudian terjadi lagi hal-hal lain dan merekapun tidak memperhatikan kitab pusaka itu sehingga dapat ditemukan Gin hoa nio.

Tentu saja Gin hoa nio kegirangan seperti mendapat rejeki nomplok. Dapat kitab pusaka itu, setiap ada tempo senggang ia lantas berlatih menurut petunjuk di dalam kitab. Dasar wataknya memang berdekatan dengan isi pelajaran kitab itu, dengan sendirinya hasilnya juga memuaskan dan maju pesat.

Sebab itulah begitu melihatnya tadi si sakit lantas mengetahui pada tubuh Gin hoa nio terdapat ilmu memikat ajaran Siau hun kiongcu, karena itulah ia menegurnya apakah dia murid siau hun kiongcu.

Tapi lantaran kitab pusaka itu diperolehnya dengan tidak halal, ia tidak berani mengaku. Orang yang tidak mengakui perguruannya sendiri dalam dunia persilatan dianggap khianat dan dosanya tak terampunkan. Sekarang di dengarnya ucapan Cu Lui-ji yang cocok amat dengan amanat tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, seketika hati Gin-hoa-nio tergetar, tubuh menjadi lemah dan jatuh terkulai.

Mendadak bayangan Cu Lui-ji berkelebat ke atas loteng lagi. Gin-hoa-nio ketakutan dengan mandi keringat. Tak terduga yang di tuju Cu Lui-ji bukanlah dia melainkan Kwe Pian-sian, dengan mata melotot, ia bertanya, “Nona di bawah itu apamu?”

“O, dia … dia kawanku,” jawab Kwe Pian-sian dengan tergagap.

“Hmm, kukira tidak cuma kawan saja?!” jengek Lui-ji.

“Pandangan nona memang tajam,” terpaksa Kwe Pian-sian mengakui dengan menyengir.

“Jika begitu, mengapa kau tinggalkan dia di bawah tanpa menghiraukannya ?” damprat Lui-ji.

Diam-diam Kwe Pian-sian mendongkol, ia pikir justeru kalian yang mencelakai dia, masa sekarang kau malah membela dia dan menyalahkan aku ?

Walaupun begitu pikirnya, sudah tentu tidak berani di utarakannya, dengan menyengir, ia menjawab, “Kukira tidak … tidak leluasa ku bawa dia naik turun, maka kubiarkan dia menunggu saja di bawah.”

“Hmm,” Cu Lui-ji menjengek, “kiranya kaupun seorang yang tak berperasaan.”

Karena dituduh “tidak berperasaan”, seketika Kwe Pian-sian berkeringat dingin. Ia tidak berani bersuara lagi, cepat dia berlari ke bawah dan membawa Ciong Cing ke atas.

Selang tidak lama, Cu Lui-ji naik lagi ke atas dengan membawa satu bakul nasi yang masih mengepul. Cuma sekarang hari setiap orang sama merasa tertekan, siapapun tidak bernapsu makan lagi.

Selagi Pwe-giok termenung sambil memegangi mangkuk nasinya, dalam benaknya bergolak bermacam-macam persoalan. Pada saat itu tiba-tiba si sakit mendesis, “Sssst, ada orang datang!”

Suasana saat itu sunyi sepi, sampai suara anginpun tidak terdengar, mana ada suara orang segala.

Diam-diam Pwe-giok mengira si sakit ini sudah terlalu lama menggeletak di tempat tidurnya sehingga telinganya mungkin juga rada tuli.

Tapi selang sejenak mendadak di bawah ada suara pintu di ketuk suaranya rada aneh, seperti sesuatu alat tajam yang di gunakan untuk mengetuk pintu.

Lalu suara seorang berseru dengan lantang, “Sepada! Adakah orang di atas ? Wanpwe Dian Ce-hun datang mengantarkan surat!”

“Surat ? Mengantar surat apa ?” gumam Cu Lui-ji sambil berkerut kening, “Siapa pula Dian Ce-hun ini ?”

Sembari bergumam, ia terus turun ke bawah.

Tiba-tiba si sakit memberi pesan, “Ginkang dan Lwekang orang ini tidak lemah, bahkan seperti pernah berlatih kungfu sebangsa Eng-jiau-kang (tenaga cakar elang), jika kau tidak mampu merintangi dia, biarkan saja dia naik ke sini!”

“Ku tahu,” jawab Lui-ji. Walaupun begitu ucapnya, namun di dalam hati merasa penasaran.

Pwe-giok tahu dari suara ketukan pintu itulah si sakit menilai kungfu pendatang yang mengaku bernama Dian Ce-hun itu dan dari suaranya dapat diukur pula tenaga dalamnya. Selain itu, kedatangannya itu ternyata tidak di dengar oleh orang-orang yang berada di atas loteng, dari sini dapat diketahui Ginkangnya pasti sangat tinggi.

Setelah berpikir, Pwe-giok lantas berkata, “Wanpwe juga ingin turun untuk melihatnya.”

Setiba di bawah, Pwe-giok melihat pintu sudah dibuka oleh Cu Lui-ji. Di bawah cahaya sang surya yang terang benderang, di luar pintu tampak tegak seorang pemuda jangkung dan berwajah cakap serta berbaju ungu.

“Kau yang mengantar surat kemari?” tegur Lui-ji. “Dimana suratnya?”

Orang yang mengaku bernama Dian Ce-hun itu memandang sekejap kepada Lui-ji, jawabnya dengan tersenyum. “Surat ini tidak boleh kuserahkan kepada anak kecil, bolehkah aku masuk ke situ ?”

Dia bicara dengan tersenyum, namun sikapnya angkuh.

Lui-ji tersenyum, jawabnya, “Hanya pengantar surat saja mana boleh sembarangan terobosan di tempat orang ? Jika suratmu tidak mau di serahkan padaku, silahkan kau bawa pulang saja.”

“Tajam amat mulut nona cilik,” kata Dian Ce-hun dengan tertawa, “Tapi apakah nona sanggup menerima surat ku ini ?”

Dia benar-benar mengeluarkan sepucuk surat dari dalam baju dan disodorkan lurus ke depan dengan di pegang kedua tangan. Surat itu disodorkan tepat ke Cu Lui-ji, tampaknya sopan dan sangat menghormat.

Namun Pwe-giok dapat melihat kedua tangan orang sedikit melengkung, jelas mengandung tenaga dalam yang sukar di jajaki, tampaknya saja tenang-tenang, tapi diam-diam siap siaga. Apabila Lui-ji benar-benar menjulurkan tangan untuk menerima surat itu, bisa jadi nona cilik itu akan kecundang.

Selagi Pwe-giok hendak memburu maju, tiba-tiba Lui-ji berkata dengan ketus, “Boleh kau taruh suratmu di lantai saja!”

Gemerdep sinar mata Dian Ce-hun, ucapnya dengan tersenyum, “Masa nona cilik tidak berani menerima suratku ini ?”

“Hmmm, percuma kau ini kelihatan seperti orang terpelajar, masa persoalan lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan juga tidak tahu?” jengek Lui-ji.

Dian Ce-hun tertawa, katanya, “Haha, lihay amat nona cilik, pantas sekian banyak orang terjungkal di tanganmu.”

Di tengah suara tertawanya, kedua tangannya terus mendorong ke depan bersama sampul surat yang di pegangnya. Tampaknya sampul surat itu hanya benda yang tipis, tapi terpegang di tangannya tiada ubahnya seperti baja tipis yang tajam.

Belum lenyap suaranya, angin berkesiur, tahu-tahu Dian Ce-hun sudah menyelinap lewat di samping Lui-ji tanpa menyenggol ujung bajunya.

Betapapun, Lui-ji tidak sempat lagi untuk mencegatnya.

Terdengar Dian Ce-hun berkata dengan tertawa, “Lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, biarlah ku antar surat ini langsung ke atas saja.”

Tapi mendadak seorang menanggapi dengan tegas, “Tidak perlu, serahkan padaku di sini kan sama saja.”

Suara Dian Ce-hun terhenti seketika, dilihatnya seorang pemuda maha cakap dan sopan santun sudah berdiri di ujung tangga dengan mengulum senyum, tempat berdiri pemuda cakap itu tepat merintangi jalan lewatnya.

Biasanya Dian Ce-hun sangat angkuh, menganggap dirinya maha cakap dan tiada bandingannya. Tapi demi melihat pemuda di depan ini, mau tak mau ia terkesiap dan merasa kalah. Segera ia bertanya dengan tertawa, “Apakah Anda tuan rumah di sini?”

Pemuda cakap itu adalah Pwe-giok, ia menjawab, “Tuan rumah sedang tidur siang, hendaklah anda…”

Tapi Dian Ce-hun lantas memotong dengan tertawa, “Jika Anda bukan tuan rumahnya, mana boleh kau terima surat ini ?”

Segera ia mendorong ke depan pula sampul surat itu dengan kedua tangannya. Ternyata Pwe-giok tidak mengelak dan juga tidak menghindar, sebaliknya kedua tangannya lantas memapak tangan lawan, gerak tangannya cepat luar biasa.

Alis Dian Ce-hun berjengkit, dampratnya pelahan, “Apakah kau benar-benar ingin menerima surat ini? Kau mampu?”. Mendadak jarinya menjentik, sampul surat diselentik masuk ke dalam lengan baju sendiri, sedangkan tangannya terus menindih ke bawah.

“Plak”, seketika empat tangan beradu dan kedua orang sama-sama terkejut.

Maklumlah, pembawaan tenaga sakti Ji Pwe-giok jarang ada bandingannya, tapi pemuda she Dian ini ternyata mampu menindih tangannya hingga tertekan beberapa inci ke bawah, hampir saja Pwe-giok tidak sanggup menahannya.

—–

Orang macam apakah pemuda she Dian ini? dan utusan siapakah dia?

Dapatkah Cu Lui-ji dan Ji Pwe-giok merintangi Dian Ce-hun naik ke atas loteng?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: