Kumpulan Cerita Silat

26/05/2010

Renjana Pendekar – 16

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:17 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Ipan, dan Kunamisme)

Si Sakit telah memejamkan matanya, tapi mata si nona cilik justeru gemerdep di dalam kegelapan. Diam-diam Pwe-giok mendekatinya dan bertanya dengan suara halus, “Adik cilik, siapa namamu?”

“Ah, pertemuan secara kebetulan, untuk apa anda tahu namaku.” jawab anak perempuan itu dengan sayu.

Anak perempuan sekecil ini dapat mengucapkan kata-kata seperti orang tua, Pwe-giok jadi melengak malah.

Siapa tahu anak dara itu bahkan menatap Pwe-giok sekian lama, tiba-tiba ia berkata pula, “Tapi lantaran kau sudah tanya, boleh juga kukatakan padamu. Namaku Cu Liu-ji, Liu artinya air mata, sebab sejak kecil aku memang anak yang suka mengucurkan air mata.”

“Dan sekarang kau…”

“Sekarang tidak mengucurkan air mata lagi, mungkin sumber air mataku sudah kering.”

Pwe-giok termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Apakah Sacekmu sudah lama sakit?”

“Ya, sudah empat-lima tahun.”

“Kau yang merawat dia selama ini?”

“Ehmm,” Cu Lui ji mengangguk.

“Masa tiada ditemani orang lain?”

“Sacek tidak mempunyai sanak keluarga lain, hanya diriku.” tutur Cu Lui-ji dengan pelahan.

Pwe giok menghela nafas panjang, terbayang olehnya empat-lima tahun yang lalu, tatkala mana anak perempuan ini hanya berumur tujuh atau delapan tahun. Itulah usia anak yang lagi nakal dan paling suka bermain, tapi nona cilik ini justru harus menemani seorang sakit yang sudah kempas-kempis dan telah hidup selama empat-lima tahun di loteng kecil yang sunyi dan rawan ini, malahan dimalam haripun tanpa lampu.

Setelah menghela nafas panjang, Pwe giok tidak tahu pula apa yang harus diucapkannya.

Suasana di dalam rumah sunyi senyap seperti kuburan, ditengah keheningan yang mencekam inilah fajar menyingsing dan pelahan-lahan tampak remang-remang menembus kertas jendela, dikejauhan mulai ramai terdengar ayam berkokok.

Ciong Cing sudah tertidur dengan mendekap di atas tubuh Kwe Pian-sian. Sorot mata Kwe Pian sian masih terus menatap lekat-lekat kepada orang sakit yang hampir mati itu dan entah apa pula yang sedang dipikirnya.

Tiba-tiba Gin Hoa nio menguap ngantuk, ucapnya dengan menghela nafas pelahan , “Setengah malam kedua orang itu main catur, biji catur yang bergeser hanya tiga kali, tampaknya pertandingan mereka ini biarpun sampai lima tahun depan juga belum berakhir…”

Tiba-tiba pula ia mendekati si anak perempuan dan berkata dengan tersenyum , “Ku tahu kau ini anak perempuan yang pintar, maukah kau turun ke bawah sana, buatkan nasi yang agak lembek serta beberapa macam sayur untuk sarapan para paman dan bibi ini?”

Cu Lui ji sama sekali tidak bergeser, jawabnya dengan tak acuh, “Tidak, aku tidak mau pergi, tidak boleh kutinggalkan sacek.”

“Pergilah sayang, anak kecil mana boleh membantah kehendak orang tua?” ujar Gin hoa-nio dengan tertawa.

Cu Lui ji sama sekali tidak memandangnya, jawabnya pula, “Tidak, aku tidak mau !”

Tertawa Gin hoa-nio tambah lembut, ucapnya dengan suara halus, “Ku tahu sama sekali kau tidak takut padaku, makanya tidak menurut kepada perkataanku, begitu bukan?”

Di mulut ia bicara lembut, tapi tangannya telah menampar satu kali di muka Cu Lui ji. Muka nona cilik yang putih pucat itu seketika merah bengkak, namun dia tetap tidak bergerak, bahkan matapun tidak berkedip, seperti tidak mempunyai daya rasa apapun, hanya tetap terbelalak memandang Gin Hoa-nio.

Gin Hoa nio berkerut kening, tanyanya dengan tersenyum, “Apa yang kau lihat, kau anggap tamparanku kurang keras, begitu?”

Segera ia hendak memukul pula, tapi tangannya keburu dipegang Pwe-giok.

“Ai. ku tahu kau akan ikut campur lagi,” kata Gin hoa nio dengan gegetun.

Pwe-giok berkata dengan dingin, “Jika kau masih ingin berada bersamaku, selanjutnya hendaknya…”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Cu Lui ji mendekap mukanya dan berseru dengan suara gemetar, “O, sakit…sakit sekali kau pukul diriku !”

Gin Hoa nio jadi melengak, tanyanya, “Kupukul kau tadi dan baru sekarang kau rasakan sakit?”

“Oo, sakit…sakit sekali…mati aku!” teriak Cu Lui-ji pula.

Melenggong Gin hoa-nio memandangi anak dara yang aneh itu, seketika ia tidak sanggup bicara pula.

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini ada manusia yang berdaya rasa selambat ini, orang telah memukulnya sejak tadi, sekian lama kemudian baru dia merasakan sakit. Terlongong Gin Hoa nio memandangi nona cilik itu sehingga urusan makan nasi jadi terlupakan.

Pada saat itulah, si sakit yang seakan-akan sudah tidur itu tiba-tiba menghela nafas dan berkata , “Jika kau takut sakit, kenapa tidak kau turuti perkataan orang, pergilah ke bawah dan menanak nasi.”

Mendadak Cu Lui ji mendelik, katanya sambil melototi Gin Hoa-nio, “Sacek yang suruh aku maka kuturuti, jika orang lain, biarpun aku mati dipukul juga takkan kukerjakan.”

Dengan pelahan ia turun dari tempat tidur dan alon-alon ia turun ke bawah loteng.

Melihat perawakan si nona yang kurus dan lemah dengan wajah yang pucat, diam-diam Pwe giok menghela nafas menyesal.

Baru sekarang Gin Hoa-nio tertawa cerah, katanya, “Tak tersangka watak anak ini sedemikian keras, tampaknya serupa aku waktu kecil…” mendadak ia berhenti bicara, biji matanya tampak berputar, mungkin teringat sesuatu olehnya, segera ia menyambung pula dengan tertawa , “Tapi kalau anak ini serupa diriku waktu kecil, setelah kita makan nasinya, maka jangan harap lagi akan dapat pergi dari sini dengan hidup. Rasanya aku harus turun ke bawah untuk mengawasi dia.”

“Anak sekecil itu, masa kau takut diracuni olehnya?” ucap Pwe-giok dengan dahi berkernyit.

“Ketika aku lebih kecil daripada dia, orang yang mati kuracuni sudah lebih dari 80 orang,” kata Gin hoa nio sambil menoleh dan tertawa genit.

“O, jadi dia tidak takut padamu, sekarang kau malah takut padanya?” ujar Pwe-giok dengan tertawa hambar.

Gin hoa-nio melenggong, sungguh ia sendiripun tidak tahu mengapa bisa timbul semacam perasaan jeri yang sukar dilukiskan terhadap anak perempuan yang kurus kecil itu. Padahal menghadapi sorot mata Kwe Pian-sian yang begitu lihai saja tidak merasa takut sedikitpun, tapi ketika anak perempuan itu menatapnya, dalam hati terasa rada ngeri.

Sampai sekian lama ia melenggong, katanya kemudian dengan tersenyum, “Betapapun kan tiada buruknya jika hati-hati, masa pesan orang tua ini kau lupakan?”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Daripada kau yang turun ke bawah, lebih baik aku saja turun.”

Di bawah loteng juga cuma terdiri dari satu ruangan, hampir setengah ruangan tertimbun kayu bakar dan sebagainya, hanya tersisa suatu sudut yang sempit, di situ ada gentong air, rak mangkuk dan tungku.

Cu Lui-ji tampak berjongkok disamping gentong dan sedang mencuci beras, sudah sekian kali ia membilas berasnya, satu biji gabah saja diambilnya dari beras cuciannya dan dikumpulkannya disamping.

Setelah beras masuk kuali, lalu gabah yang dikumpulkannya tadi dibungkusnya dengan secarik kertas, kemudian ia membersihkan lantai sebersih-bersihnya.

Pwe giok melihat ruangan seluas ini terawat dengan sangat resik, bahkan tungku yang setiap hari digunakan juga tiada bekas-bekas minyak setitikpun. Dapur ini ternyata jauh lebih bersih daripada ruangan tamu orang lain.

Tangan yang kurus dan putih kecil itu setiap hari harus melakukan pekerjaan sebanyak dan seberat ini tubuh yang kurus kecil ini masa mampu melaksanakan tugas sebanyak ini?

Tanpa terasa Pwe-giok menghela nafas pula, katanya kemudian, “Apakah setiap hari kau bersihkan ruangan ini sebersih ini?”

“Aku sudah terbiasa hidup serba bersih,” ucap Cu Lui-ji dengan tak acuh.

“Karena itulah bila kulihat sesuatu yang kotor, aku lantas mual. Sesungguhnya, kalau tidak terpaksa, memangnya siapa yang mau berkumpul dengan orang-orang yang tidak bersih?!”

Mendadak ia berpaling dan menatap Pwe-giok serta bertanya, “Betul tidak?”

Tergerak hati Pwe-giok, jawabnya sambil menyengir, “Betul, siapapun tidak nanti suka berada bersama orang yang tidak bersih.”

Mencorong sinar mata anak dara itu, ucapnya pula dengan pelahan, “Jika begitu… mengapa kau berada bersama orang yang tidak bersih?”

Seketika Pwe-giok jadi melenggong, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.

Sungguh aneh anak perempuan ini, terkadang dia kelihatan begitu lemah dan harus dikasihani, tapi ada kalanya dia berubah seperti orang dewasa yang sudah kenyang merasakan asam garamnya orang hidup.

Dalam pada itu Cu Lui ji telah menggeser kesana, dia berduduk di satu bangku kecil dan mulai mengipasi api tungku sambil berbicara, “Meski aku sangat jarang keluar, tapi di atas loteng kecil ini banyak sekali yang dapat kulihat. Bilamana kulihat hal-hal yang menarik lantas kuceritakan kepada Sacek, kalau tidak entah betapa dia akan kesepian.”

“Di… di atas loteng ini sering kau lihat hal-hal yang menarik?” tanya Pwe-giok dengan keheranan.

“Ya, sering…!” jawab Cu Lui ji.

Sejenak kemudian, tiba-tiba ia berpaling pula dan berkata, “Satu hari, pernah kulihat seorang perempuan yang sangat cantik, dengan caranya yang sangat aneh dia telah membunuh sekian banyak orang. Coba apakah kau tahu siapa dia?”

“Ya, ku tahu ialah orang yang memukul kau tadi,” jawab Pwe-giok.

“Siapa yang memukul ku tadi? Aku sudah lupa,” kata Cu Lui ji dengan tersenyum hambar.

Tiba-tiba Pwe giok melihat muka si nona yang merah bengkak terpukul tadi kini sudah halus putih lagi, sama sekali tiada meninggalkan bekas setitikpun.

Didengarnya Cu Lui ji berkata pula, “Bila orang memukulmu, kalau kau tidak mampu membalas, maka jalan paling baik adalah melupakan saja kejadian itu agar hatimu tidak sedih”

“Tapi… tapi setelah kau dipukul orang, apakah betul harus selang sekian lama barulah kau rasakan sakit?” tanya Pwe-giok.

Cu Lui-ji mencibir dan tertawa, katanya, “Kalau sudah kena pukul kan mesti merasakan sakit, perihal cepat merasakan sakit atau terlambat merasakan sakit tidaklah menjadi soal. Sebab, makin cepat kau rasakan sakit, makin senang orang yang memukul kau itu. Jika selang sekian lama baru kau rasakan sakitnya, maka orang lainpun tidak dapat bergembira lagi.” Ia merandek sebentar, lalu menyambung pula, “Kalau aku sudah dipukul, kenapa aku mesti membikin orang bergembira pula?”

Kembali Pwe-giok melenggong. Anak sekecil ini ternyata penuh dengan pikiran-pikiran yang serba aneh, macam-macam jalan pikirannya yang aneh, sungguh sukar untuk diraba orang lain.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda, menyusul lantas ramai dengan suara orang, jelas suara-suara itu berkumandang dari rumah di seberang.

ooOoo

Halaman Li-keh-ceng memang sudah berjubel-jubel dengan orang, bahkan makin datang makin banyak. Meski Pwe-giok tidak dapat melihat jelas-jelas siapa mereka, tapi dia dapat memastikan mereka pasti tokoh-tokoh Kangouw.

“Untuk apa orang-orang ini datang ke sini? Apa mau melihat setan?” demikian Gin-hoa-nio menggerundel.

“Jika Bulim-bengcu sekarang sedang main catur dengan ketua keluarga Tong dari Sujwan yang termasyhur, siapa orang Kangouw yang tidak ingin menontonnya?” kata Kwe Pian-sian dengan tenang. “Cukup tiga hari saja berita ini tersiar, maka halaman hotel Li itu pasti akan jebol dibanjiri pengunjung.”

“Entah keparat siapa yang menyiarkan berita ini?” kata Gin-hoa-nio dengan gemas.

Sudah tentu tiada yang menjawab pertanyaannya, tapi Pwe-giok lantas paham persoalannya. Dengan sendirinya berita itu sengaja disiarkan oleh Ji Hong-ho sendiri.

Sang “Bulim-bengcu” sengaja menyiarkan berita hangat ini agar orang dunia persilatan menyaksikan dia lagi main catur dengan Tong Bu-siang. Maka anak murid keluarga Tong takkan curiga lagi akan hilangnya Tong Bu-siang secara mendadak.

Sedangkan orang lain menyaksikan Bu-lim-bengcu yang terhormat itu lagi main catur dengan “Tong Bu-siang” maka biarpun Tong Bu siang ini palsu, dengan sendirinya lantas berubah menjadi tulen.

Begitulah saat itu di halaman hotel sana sedang ramai orang memperbincangkan kejadian itu. Ada yang berkata. “Inikah Ji Hong ho yang baru saja diangkat menjadi Bu-lim bengcu? Nyata memang hebat, pantas tokoh semacam Ang lian pangcu juga menyerah padanya.”

“Entah dapat tidak kita minta Bengcu keluar untuk berbicara sebentar!” kata seorang lagi.

Maka tampaklah Lim Soh koan muncul keluar, serunya dengan lantang, “Diharap para pengunjung suka tenang dan sabar, babak permainan catur ini tampaknya masih harus berlangsung tiga atau lima hari lagi, kukira lebih baik kalian mencari pondokan dulu, nanti kalau Bengcu sudah menyelesaikan permainan catur ini barulah beliau dapat leluasa berbicara dengan kalian, bila kalian ada kesulitan apa-apa boleh juga dikemukakan nanti agar Bengcu dapat membereskan urusan kalian.”

Seketika bergemalah sorak sorai orang banyak. Nyata ketua “Bu-kek-pay” yang menjadi Bu-lim-bengcu ini sangat dihormati dan disegani orang Kangouw. Tapi hal ini membuat perasaan Pwe giok bertambah tertekan.

Terlihat Lim Soh koan masuk ke dalam rumah, di halaman hotel lantas ramai lagi orang berbicara. “Apakah dia ini Leng hoa kiam Lim Soh-koan yang tersohor di utara dan selatan Tiangkang? Konon dia mempunyai seorang puteri kesayangan dan terkenal sebagai wanita tercantik di dunia Kang ouw.”

“Ya, tapi sayang sejak dahulu kala hingga kini orang cantik kebanyakan pendek umur dan bernasib buruk. Nona Lim ini mestinya sudah bertunangan dengan putera Bengcu kita, siapa tahu, belum lagi pernikahan berlangsung, lebih dulu Ji kongcu sudah tewas di Su jin ceng.”

“Siapa yang membunuhnya, masa Bengcu tidak menuntut balas bagi kematian anaknya?”

“Khabarnya Ji kongcu ini rada-rada tidak beres otaknya sudah lama Bengcu putus asa terhadap putera satu-satunya itu. Sekalipun nona Lim jadi menikah dengan dia juga harus disayangkan.”

Begitulah berisik orang ramai itu membicarakan hal ikhwal Lim Tay-ih dan Ji Pwe-giok. Seketika Pwe giok sendiri jadi terkesima. Butiran keringat tampak menghias dahinya.

Mendadak Gin hoa nio menutup daun jendela, katanya dengan menyesal, “Coba, kau dengar tidak, jelas mereka masih akan tinggal di sini dan entah berapa lama lagi kita harus menunggu.”

“Kau tidak perlu tunggu lagi” mendadak Pwe giok berbangkit.

Gin ho nio berkejut, “Kau…kau akan…”

“Ada sementara urusan, semakin kau hindari semakin main sembunyi-sembunyi, orangpun semakin mencurigai kau. Akan lebih baik apa bila kita hadapi saja secara terang-terangan…Lambat laun hal ini sudah mulai kupahami.”

Ucapan Pwe giok ini entah ditujukan kepada orang lain atau bicara kepada dirinya sendiri.

Tapi Gin hoa nio lantas tertawa, katanya, ” Apa yang kau maksudkan, sungguh aku tidak mengerti?”

Namun sebelum habis perkataan Gin hoa nio, Pwe giok terus turun ke bawah, ia membuka pintu dan keluar.

Cepat Gin hoa-nio menyingkap daun jendela lagi sedikit, selang sejenak kemudian, benarlah di lihatnya Pwe giok telah masuk ke halaman rumah sana, dia menyisihkan orang-orang yang berkerumun itu dan langsung masuk ke dalam.

“Dia mempunyai sahabat seperti diriku, dengan sendirinya nyalinya berubah besar,” kata Kwe Pian sian dengan tersenyum.

Gin hoa nio menghela napas, ucapnya dengan perlahan, “Sebelum dia bersahabat dengan kau, dia pun bernyali besar, lahiriah orang ini kelihatan lemah lembut seperti kucing, padahal dia terlebih menakutkan dari pada harimau.”

Ketika Pwe giok masuk ke halaman rumah sana, serentak berpuluh pasang mata memandangnya dengan terpesona. Maklum, jejaka setampan ini, biarpun lelaki juga ingin memandangnya beberapa kejap.

Namun pandangan Pwe giok tidak terarah kepada siapapun, dengan tersenyum ia menyisihkan kerumunan orang banyak dan langsung masuk ke ruangan dalam.

Serentak para penonton pertandingan catur sama menoleh dengan melengak, Lim Soh-koan berkerut kening dan menegur, “Siapakah Anda? Bengcu sedang…”

“Cahye Ji Pwe-giok!” jawab Pwe giok sebelum lanjut ucapan orang.

Mendengar nama “Ji Pwe giok” seketika wajah Lim soh-koan berubah pucat pasi. Di luar sayup-sayup juga terjadi kegemparan.

Semula “Ji Hong ho” dan Tong Bu siang sedang memusatkan perhatian pada papan catur, kini tanpa terasa merekapun berpaling dengan terkejut, Pwe giok hanya dipandangnya sekejap saja. Tapi hal inipun sudah cukup bagi Pwe giok untuk memastikan bahwa Ji Hong ho ini tidak mengenal wajah aslinya, “Tong Bu-siang” itu juga pasti tidak mengenalnya, berdasarkan ini dia yakin Tong Bu-siang ini pasti palsu.

Sinar mata “Ji Hong ho” tampak gemerdep, dengan tersenyum ia berucap, “Namamu Ji Pwe giok? Sungguh tidak nyana nama Anda sama dengan nama puteraku yang almarhum, sungguh sangat kebetulan.”

Berhadapan dengan orang ini, sungguh hati Pwe giok seolah-olah tertusuk-tusuk dan berdarah. Namun lahirnya dia tetap tenang-tenang saja, dia malah tersenyum dan menjawab, “Aha, sungguh beruntung dan bahagia bahwa aku dapat bernama dengan putera Anda.”

“Entah ada keperluan apakah kedatangan Anda ini?” Tanya Ji Hong ho dengan mengulum senyum.

“Aku ingin kembali ke sini untuk mengambil sesuatu barang,” jawab Pwe giok.

“Oo, masa di sini terdapat barangmu?” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Ya. Sebab beberapa hari yang lalu pernah ku mondok di sini, tanpa sengaja sedikit barangku ketinggalan di sini,” kata Pwe giok pula.

Tampaknya Ji Hong ho sangat tertarik oleh cerita Pwe giok itu, dengan tertawa ia berkata, “Di dalam hotel sudah tentu banyak tamu yang pergi datang, semoga barang Anda masih terdapat di sini.”

Pwe giok memandangnya dengan tenang, sejenak kemudian barulah ia berkata, “Barangku yang ketinggalan ini terletak ditempat yang tidak menyolok, asalkan Bengcu mengizinkan, segera ku….”

“Asalkan barangnya masih ada, silahkan Anda mengambilnya” jawab Ji Hong ho dengan tertawa.

“Jika demikian, maafkan kalau ku berlaku sembrono,” ujar Pwe giok.

Mendadak tubuhnya mengapung lurus ke atas, ia melayang ke atas belandar seluruh tubuh kaki maupun tangan, sama sekali tidak memperlihatkan bergerak, bahkan dengkul juga tidak nampak tertekuk sedikitpun, tapi tahu-tahu tubuhnya terapung ke atas.

Inilah “Kan-te-poat-jong” atau membedol bawang di tanah tandus, semacam Gingkang yang paling sukar dilatih.

Hendaklah maklum, di dunia persilatan terdapat macam-macam perguruan, cara berlatih Gingkang setiap perguruan itupun berbeda-beda dan mempunyai cara-cara khas sendiri. Tapi bila mencapai gaya semacam “Kan-te-poat-jong” ini, maka dapat dikatakan Gingkangnya sudah mencapai puncaknya yang paling sempurna.

Anak murid Bu tong pay misalnya, bila sudah mencapai tingkatan “Kan-te-poat-jong” ini, maka gerak dan gayanya akan sama seperti ini, begitu pula aliran lain, biarpun Siau-lim pay Go bi pay atau Tiam jong pai, kalau sudah menguasai Gin-kang hingga tarap Kan-te-poat jong, maka gayanya juga sama, tiada beda sedikitpun.

Sebabnya Pwe giok menggunakan gaya Gin-kang tertinggi ini, maksud tujuannya agar orang lain tidak dapat mengenali asal-usul ilmu silatnya. Malahan supaya orang lain menganggap dia sengaja hendak pamer Gingkangnya yang hebat.

Ji Hong ho lantas berkeplok dan tertawa, katanya, “Wah, Ginkang yang jempol!”

Kalau sang Bengcu sudah berkata demikian dengan sendirinya orang yang berkerumun di halaman hotel itu sama bersorak memuji. Hanya Gin hoa-nio saja yang berada di loteng kecil itu tidak memperhatikan gerakan apa yang dilakukan Pwe-giok. Sebab yang buru-buru ingin diketahuinya hanya harta karunnya yang disembunyikan itu apakah dapat ditemukan kembali atau tidak.

Waktu dilihatnya Pwe giok melompat turun dan tangannya benar-benar sudah memegang sebuah bungkusan kain hitam yang besar dan berat, maka bergiranglah Gin hoa nio, hampir saja ia bersorak gembira.

“Masih ada barangnya?” dengan tersenyum Kwe Pian sian bertanya

“Tentu saja ada” ucap Gin hoa nio dengan tertawa bangga. “Kan sudah kukatakan, barang simpananku tidak nanti dapat ditemukan orang lain.”

Kwe Pian sian tertawa, katanya, “Hebat sekali Ji Pwe giok, bukan saja tabah, bahkan jua punya otak. Dia berani mengambil bungkusanmu itu secara terang-terangan disaksikan orang sebanyak itu. Dalam keadaan demikian, andaikan Ji Hong ho mengincar barangmu juga tidak leluasa untuk turun tangan.”

“Aha, sekarang dia sudah hampir keluar…Wah, celaka…” sudah tertawa girang mendadak Gin hoa nio mengeluh pula, air mukanya yang bergembira itupun seketika lenyap.

Sambil berkerut kening Kwe Pian sian bertanya, “Ada apa? Masa Ji Hong ho tidak mau melepaskan dia pergi?”

Mata Gin hoa nio tampak melotot, ucapnya dengan suara parau, “Sialan! Tampaknya rase tua itu (maksudnya Ji Hong-ho yang licin) tidak enak untuk main kekerasan, dia hanya menyatakan ingin bersahabat dengan Ji Pwe giok dan berkeras minta Ji Pwe giok tinggal saja di situ.”

“Dan bagaimana sikap Ji Pwe giok?” tanya Kwe Pian sian.

“Tampaknya dia dapat menahan perasaannya. Dia malah tertawa…Nah, sekarang dia sedang bicara, katanya sehabis Ji Hong ho selesai main catur tentu dia akan datang lagi untuk mohon petunjuk”

“Kau dengar apa yang dibicarakannya?” tanya Kwe Pian sian.

“Berisik sekali di halaman sana, mana bisa ku dengar ucapannya? Hanya dari gerak bibirnya dapat ku terka sebagian besar apa yang diucapkannya”

Kwe Pian sian tertawa, katanya, “Wah, banyak juga kepandaianmu…”

Mendadak Gin hoa nio berseru tertahan, “Wah, celaka! Rase tua itu mendadak mengaduk biji caturnya, ia malah menyatakan kalau bisa berada bersama dan mengobrol dengan ksatria muda seperti Ji Pwe giok, biarpun tidak main catur juga tidak menjadi soal baginya.”

“Wah, jika begitu, kalau Ji Pwe giok tidak ngotot dan main kekerasan, tampaknya tidak mudah baginya untuk keluar,” kata Kwe Pian sian sambil berkerut kening.

Gin hoa nio tampak cemas juga, katanya, “Dalam keadaan demikian, mana bisa dia bersikap keras tampaknya dia juga rada gugup…”

Baru bicara sampai di sini, mendadak terdengar seorang berseru lantang di halaman sana dengan tertawa, “Haha, permainan catur yang menarik ini sukar dicari bandingannya, kalau Bengcu tinggalkan setengah jalan bukankah para penggemar catur seperti kami ini akan sangat kecewa?”

“He, siapa orang itu?” seru Kwe Pian sian.

Wajah Gin hoa nio menampilkan rasa girang, katanya “Ah, orang ini ternyata dapat mengembalikan biji catur pada papannya seperti keadaan sebelum diaduk, bahkan satu biji saya tidak keliru… Wah, nampaknya dia memang hebat…”

Belum habis ucapannya, serentak Kwe Pian sian melompat mendekatnya dan ikut mengintai!.

Terlihat di seberang sana, di dalam ruangan sudah bertambah dengan seorang pengemis muda berbaju berwarna merah tua, kelihatan baru, tapi penuh tambalan. Kiranya dia inilah Ang lian pangcu yang termasyhur.

Terlihat Ji Hong ho sedang tertawa dan berkata, “Tak tersangka Ang lian pangcu juga penggemar catur, tampaknya terpaksa harus kulanjutkan permainan ini”

Kwe Pian sian hanya memandang sekejap saja kesana dan segera menutup rapat-rapat daun jendela, keringat dinginpun berketes-ketes.

Gin hoa nio memandangnya sekejap, katanya dengan tertawa genit, ” He, kenapa kau sangat takut padanya?”

Kwe Pian sian mundur kembali ke tempat duduknya tadi, mana dia mampu bersuara lagi.

Gin hoa nio bergumam, “Sungguh aneh, apakah Ang lian hoa sengaja datang untuk membantu Ji Pwe giok? Jika benar kawan baik Ji Pwe giok, kenapa dia diam saja ketika melihat Ji Pwe giok dilukai oleh Lm Tay ih…”

Dalam pada itu terdengarlah suara terbukanya pintu di bawah, serentak Kwe Pian sian melonjak bangun. Ia menghela napas lega ketika dilihatnya yang naik ke atas adalah Ji Pwe giok. Cepat ia bertanya dengan suara parau, ” Apakah Ang lian hoa melihat kau masuk ke sini?”

“Untuk apa dia memperhatikan diriku?” jawab Pwe giok dengan perlahan.

“Masa dia tidak kenal kau?” tanya Kwe Pian sian

“Tidak kenal” jawab Pwe giok sambil menghela napas menyesal.

Tentu saja ia sangat menyesal. Baru saja ia berhadapan dengan sahabat baiknya, tapi tidak berani menegur sapa, bahkan harus mengeluyur pergi secara diam-diam. Saat ini hatinya justru terasa sangat pedih.

Meski dia kembali dengan menyesal, tapi kepergiannya tadi bukannya sama sekali tidak membawa hasil. Betapapun dia dapat mengetahui bahwa “Tong Bu-siang” yang senang main catur itu adalah palsu. Maka diharapkannya semoga Tong Bu siang yang asli itu belum lagi terbunuh.

Sementara itu Gin hoa nio sudah lantas mengambil bungkusan hitam yang dibawa pulang Pwe giok itu dan berkata, “Tempat ini tidak boleh ditinggali lama-lama, setelah barang sudah ditemukan, hayo lekas kita berangkat”

“Sebelum Ang lian hoa pergi, betapapun kita juga tak dapat pergi” kata Kwe Pian sian sambil menarik muka.

Gin hoa nio tertawa genit, katanya, “Kau takut dipergoki dia, aku kan tidak perlu takut, kalau aku berkeras harus pergi, lalu bagaimana?”

“Kau takkan pergi” ucap Kwe Pian sian sekata demi sekata.

Gin hoa nio mengerling, tertawa tambah manis, katanya, “Betul, tentu saja aku takkan pergi. Kalau kau masih tinggal di sini, mana dapat ku tinggal pergi?”

Dia masih memegangi bungkusan hitam yang dibawa pulang Pwe giok tadi, ia memandang ke sana dan ke sini mirip orang udik yang kuatir kecopetan, sungguh kalau bisa ia ingin telan bulat-bulat bungkusan itu, dengan demikian barulah aman rasanya.

Sambil memandangi bungkusan yang dipegang Gin hoa nio itu, mendadak Kwe Pian sian mendengus, “Hmm, padahal boleh juga kalau kau ingin pergi, bahkan bungkusan itu boleh kau bawa sekalian!”

Gin hoa nio melengak.” Betul?” katanya dengan curiga.

Dengan dingin Kwee Pian sian menjawab, “Kenapa tidak kau periksa dulu isi bungkusanmu itu?”

“Apa isi bungkusan ini?” tukas Gin hoa nio dengan tertawa. “Haha, tanpa melihatnya ku tahu apa isinya.”

Tapi iapun merasakan ucapan Kwe Pian sian itu ada sesuatu maksud tertentu, meski begitu ucapannya dimulut, bungkusan yang dipegangnya itu lantas ditimang-timang dan diraba-raba, mendadak ia melonjak kaget dan berteriak, ” Wah, celaka!.”

Waktu bungkusan itu dibuka, mana ada batu permata atau harta pusaka apa segala, isinya hanya pecahan genteng melulu.

Begitu bungkusan itu terbuka, seketika Gin hoa nio mirip kena dibacok orang satu kali, hampir saja ia jatuh kelenger.

Ji Pwe giok dan Ciong Cing juga terkesiap.

Hanya Kwe Pian sian saja yang tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia malah mengejek, “Nah bagaimana? apa isinya, tidak perlu dibuka kan sudah kau ketahui?”

Dengan suara terputus-putus Gin hoa nio berkata, “Dan dari…darimana kau tahu…”

Kwe Pian sian tersenyum hambar, katanya, “Jika isi bungkusan ini adalah batu permata yang berharga tentu suara langkahnya waktu naik ke atas loteng ini berbobot lain…Memangnya kau kira mata dan telingaku sama tidak bergunanya seperti dirimu?”

Mendelik Gin hoa nio, ucapnya dengan menggigit bibir, “Tapi…tapi siapa pula yang mempermainkan diriku, siapa yang menukar barangku ini? Padahal waktu kusimpan barangku ini telah kulakukan dengan sangat teliti, bukan cuma jendela dan pintu saja kututup rapat, bahkan lampu juga kupadamkan, siapa yang dapat mengetahui rahasiaku?”

Dia mengitari ruangan kamar sambil bergumam pula, “Jangan-jangan Ji Hong-ho…ya, betul hanya rase tua ini yang paling mencurigakan, dia datang ke sini dan menempati kamar yang pernah kutinggali, bisa jadi segenap pelosok kamar itu telah diperiksanya seluruhnya.”

“Jika benar harta pusaka itu telah ditemukan dia, mungkin selama hidup ini jangan kau harap akan kau dapatkan kembali.” kata Pwe giok.

Kwe Pian sian juga diam saja, ia hanya memandangi si sakit dengan termangu, orang sakit itu sejak tadi tidak pernah bergerak sedikitpun.

Tanpa terasa pandangan Gin hoa nio ikut menjurus ke sana. Tiba-tiba melihat si sakit yang tampaknya kurus kering tinggal kulit membalut tulang itu. ditempat tidurnya yang tertutup selimut itu tampak menonjol tinggi ke atas, di dalam selimut seperti tersembunyi apa-apa.

Saat itu cahaya matahari menyorot miring masuk dan menyinari selimut itu, kelihatan di dalam selimut itu ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Gemeredep sinar mata Gin hoa nio, tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Tak tersangka aku telah berubah menjadi orang buta melek. sampai apa yang terdapat di depan mata tidak kulihat.”

Sembari menyeringai segera ia mendekati tempat tidur orang sakit itu.

“He, kau mau apa?” seru Pwe giok dengan dahi berkerut.

Gin hoa nio tertawa terkikik-kikik, katanya, “Di dalam selimut seperti ada permainan yang menarik, ingin kusingkapnya agar kita dapat melihatnya.”

Sementara itu ia sudah berada di depan tempat tidur, segera tangannya terjulur.

Siapa tahu orang sakit itu mendadak membuka matanya dan berkata sambil mendelik, “Asal sedikit saja kau singkap selimut ini, mungkin kau akan segera mati tanpa terkubur.”

Si sakit yang tampaknya sudah senin-kemis itu mendadak bisa mengucapkan kata-kata begitu, matanya yang semula tampaknya sayu dan guram itu kinipun mendadak memancarkan sinar yang tajam.

Entah mengapa, hati Gin hoa nio merasa ngeri, tangan yang teratur itu tidak jadi meraih selimut, sebaliknya ia malah menyurut mundur.

Perlahan si sakit pejamkan matanya pula, mukanya tersorot cahaya sang surya, tampaknya tidak banyak berbeda dengan mayat. Tidak mungkin sakitnya ini cuma paru-paru belaka.

Setelah tenangkan diri, dengan tertawa. Gin hoa nio berkata pula, “Apakah betul selimut ini tidak boleh disingkap?”

“Ya,” jawab si sakit.

“Tapi pembawaanku tidak percaya kepada hal-hal yang mustahil, semakin tidak boleh dilihat, semakin ingin kulihatnya,” kata Gin hoa nio

Si sakit menghela napas, katanya kemudian “Jika begitu, Lui ji, boleh kau perlihatkan kepadanya.”

Waktu dia bicara begitu jelas.” Cu Lui ji masih berada di bawah loteng, tapi baru selesai ucapannya, tahu-tahu Cu Lui ji sudah naik ke atas, katanya sambil melototi Gin hoa nio, “Benar-benar kau ingin melihatnya? Kau tidak akan menyesal?”

“Menyesal apa? Memangnya di dalam selimut ini ada makhluk aneh?” ujar Gin hoa nio dengan tertawa, walaupun begitu, di dalam hati sebenarnya sudah rada ngeri…

Padahal kedua orang ini, yang satu anak kecil kurus pucat, yang lain sakit keras, jelas tidak mungkin dapat menyerang orang. Gin hoa nio sendiri tidak tahu sesungguhnya apa yang menakutkan dirinya?

Dilihatnya Cu Lui ji lantas turun ke bawah waktu naik lagi ia membawa sebuah mangkuk besar penuh berisi air jernih. Ia keluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, dengan kuku jari dicukitnya setitik bubuk hitam yang disentilkan ke dalam air, air semangkuk penuh itu seketika berubah menjadi hitam seperti tinta.

Gin hoa nio memandangnya dengan kesima, iapun tidak dapat menerka permainan apa yang sedang dilakukan nona cilik itu.

Lalu Cu Lui ji menaruh mangkok besar itu di sudut kamar. ia pandang Gin hoa-nio dengan, katanya, “Tunggu sebentar lagi hal-hal yang menarik segera akan muncul.”

Senyuman, nona itu seakan-akan mengandung sesuatu yang misterius, sampai Ji Pwe giok juga rada tegang. Mata Gin hoa nio juga terbelalak lebar.

Tertampaklah selimut yang menutupi badan si sakit itu mulai bergerak dengan keras, bergolak seperti ombak samudera. Loteng kecil ini meski terang benderang oleh sinar matahari, akan tetapi mendadak seperti berubah dingin menyeramkan.

Saking ketakutan Ciong Cing sudah berjongkok dan meringkuk menjadi satu, kaki dan tangan sudah dingin seluruhnya.

Gin hoa nio tak tahan, katanya, ” Apapun yang ter…terdapat didalam selimut, aku…aku tidak ingin… tidak lagi ingin melihatnya…”

“Baru sekarang kau tidak ingin melihatnya sudah terlambat” kata Cu Lui ji.

Pada saat itulah dari dalam selimut mulai menongol sesuatu kiranya seekor kelabang.

Kelabang ini tidak besar, bahkan jauh lebih kecil daripada kelabang umumnya, tapi seluruh badannya merah terang mirip mainan buatan dari batu jade. Di belakang kelabang ini mengikat pula dua-tiga puluh ekor kelabang lain yang beraneka warnanya dan besar kecil tidak sama.

Satu persatu seperti berbaris merayap keluar secara teratur. Jelas setiap ekor kelabang ini beracun sangat jahat.

Gin hoa nio tertawa mengikik, “Hihi kukira barang apa yang bisa menakuti orang, kiranya cuma kawanan kelabang saja. Pada waktu berumur tiga tahun sudah biasa ku tangkap dan main-main dengan kelabang yang lebih besar.”

Apa yang dikatakannya memang tidak bergurau. Orang Thian-can-kau masa takut pada kelabang? Cuma kawanan kelabang ini bisa merayap keluar dari dalam selimut orang ini betapapun juga satu kejadian yang aneh.

Meskipun Gin hoa nio masih tertawa tapi tertawanya sudah mulai berubah menjadi menyengir.

Di belakang barisan kelabang tadi ternyata mengikuti pula barisan tokek, lalu muncul lagi sejumlah ular berbisa, katak buduk, kalajengking dan macam-macam lagi serangga berbisa yang belum pernah dilihat Gin hoa nio, akan tetapi semuanya seperti mendapat perintah, satu persatu merayap keluar secara teratur.

Akhirnya Gin hoa nio tak bisa tertawa lagi.

Ciong Cing menjerit dan jatuh kelengar.

Sungguh sukar untuk dibayangkan, orang sakit yang sudah hampir mati itu bisa tidur bersama makhluk-makhluk berbisa sebanyak itu di satu tempat tidur dan di dalam satu selimut. Malahan kelihatannya dia dapat tidur dengan aman dan tenang.

Mau tak mau merinding juga Gin hoa nio, meski sejak kecil ia hidup di tengah-tengah gerombolan makhluk berbisa, tapi kalau dia disuruh tidur di sini seperti si sakit ini biarpun dibunuh juga dia tidak berani.

Sementara itu barisan makhluk-makhluk berbisa itu satu persatu mulai merambat turun ke bawah tempat tidur, menuju ke sudut ruangan tempat mangkuk berisi air tadi.

Cu Lui ji lantas memasang dua tangkai sumpit di kanan kiri tepi mangkuk, dengan sumpit sebagai jembatan, kawanan makhluk berbisa itu lantas merayap ke dalam mangkuk besar itu sesudah mandi dalam air, merayap turun melalui jembatan sumpit di sebelahnya. Makhluk berbisa yang tadinya tampak bercahaya dan gesit, sehabis mandi lantas kelihatan lesu dan lemas.

Begitulah beratus ekor binatang berbisa itu bergantian mandi di air mangkuk besar itu, lalu satu persatu menyusup kembali ke dalam selimut.

Sementara itu air mangkuk yang tadinya hitam seperti tinta lambat laun mulai berubah menjadi putih. Ketika beberapa ekor ular berbisa yang tak diketahui namanya habis mandi di air mangkuk, lalu air mangkuk mulai berbuih, malahan terus mengepulkan hawa panas, mirip air yang baru di masak dan mendidih.

Butiran keringat di muka Kwe Pian sian juga mulai berketes-ketes.

Air mangkuk dari hitam kini telah berubah menjadi putih, dari putih lantas jernih dan kembali seperti asalnya. Bedanya air semangkuk penuh itu sekarang seperti air mendidih yang habis di masak.

Sementara itu kawanan makhluk berbisa tadi seluruhnya sudah menyusup kembali ke dalam selimut. Di ruangan loteng kecil ini kembali sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi apapun. Yang terdengar hanya suara pernapasan yang berat di sana sini, siapapun tidak ada yang bicara.

Cu Liu ji lantas mengangkat mangkuk besar tadi, dengan tertawa disodorkannya kepada Gin hoa nio, katanya, “Nasi belum selesai di masak, kalau nona lapar, silahkan minum dulu air mukjizat ini. Setelah ditambahi bumbu sebanyak ini, rasa air ini pasti jauh lebih segar daripada kuah ayam.”

Kontan Gin hoa nio menyurut mundur sambil menggoyang tangan, katanya sambil menyengir, “O, jang…jangan sungkan, silahkan… nona minum sendiri saja.”

Betapa dia memang berasal dari keluarga ahli racun, pengetahuannya banyak dan pengalamannya luas, Sekarang sudah dilihatnya bubuk hitam yang dicampurkan ke dalam air oleh Cu Lui-ji tadi sesungguhnya adalah semacam obat mujarab, dengan obat itulah kawanan makhluk berbisa tadi dipancing keluar agar menuangkan racunnya ke dalam mangkuk.

Kini racun beratus ekor binatang berbisa itu telah tertuang ke dalam air mangkuk, jangankan di minum, tersentuh saja mungkin bisa celaka, tubuh orang biasa kalau kena satu tetes air itu, bisa jadi seluruh badan akan membusuk.

Siapa tahu Cu Lui ji malah tersenyum dan berkata, “Kuah segar dan lezat ini, kalau para tamu tidak sudi minum, terpaksa harus kuminum sendiri saja.” Sambil bicara ia terus angkat mangkuknya dan benar-benar diminum seluruhnya, habis itu mulutnya malah berkecap-kecap seperti orang habis merasakan makanan yang paling lezat.

Pwe-giok tidak memperlihatkan perasaan apa-apa menyaksikan perbuatan nona cilik itu, tapi air muka Kwe Pian sian dan Gin hoa nio lantas berubah seketika, sebab mereka tahu betapa hebat kadar racun di dalam air itu, sungguh mimpipun tak terbayangkan oleh mereka ada yang sanggup meminumnya setetes atau dua tetes, tapi sekarang nona cilik ini justeru minum semangkuk penuh, bahkan tidak terlihat terjadi sesuatu. Apakah mungkin isi perut nona ini gemblengan dari baja?

Dengan tenang-tenang Cu Lui ji berkata lagi, “Penyakit Sacek sudah sangat parah hingga merasuk tulang, berkat hawa dingin kawanan makhluk berbisa inilah jiwa sacek dapat dipertahankan hingga kini. Maka kalau kami kiranya bersikap kurang sopan, hendaklah para tamu sudi memberi maaf.”

“Penyakit apakah yang menghinggapi Sacekmu?” tanya Gin hoa nio dengan mengiring tawa.

Lui ji menghela nafas, jawabnya dengan rawan; “Penyakit ini tidak diketahui namanya, tapi kalau kalian ingin tahu…”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba di bawah ada orang mengetuk pintu, habis itu lantas terdengar suara seorang tua berseru, ” Ji Pwe-giok, Ji-kongcu apakah berada di atas? Ang lian pangcu kami sengaja berkunjung kemari dan mohon bertemu!”

Itulah suara Bwe Su bong. Kejut dan girang Pwe giok ia tidak tahu untuk apakah Ang lian pangcu mencarinya.

Dalam pada itu air muka Kwe Pian sian menjadi pucat, katanya dengan parau, “Lekas kau turun ke sana dan men…mencegah mereka… aku pergi dulu…”

Pada saat itulah kembali pintu diketuk lagi lebih gencar, suara seorang perempuan muda sedang berteriak, “Buka pintu, Ji-kongcu! Kun hujin kami juga berkunjung padamu!”

Bahwa selain Ang lian hoa, Hay hong Hujin juga datang, keruan wajah Kwe Pian sian bertambah pucat. Cepat ia melompat ke jendela, perlahan ia membuka daun jendela dan mengintip keluar. Ternyata loteng kecil ini sudah penuh dikepung orang, atap rumah disekitar loteng ini dan setiap tempat yang dapat dibuat berdiri sudah penuh dengan orang.

Terdengar orang berteriak lagi ke bawah, ” Kun-Hujin dan Ang lian pangcu berkunjung kemari kenapa Ji kongcu tidak lekas membuka pintu?”

Cepat Kwe Pian sian menarik Pwe giok, katanya, “Apakah mereka tahu aku berada di sini?”

“Cara bagaimana ku tahu,” jawab Pwe giok.

“Untuk apa mereka mencari kau?” tanya Kwe Pian sian pula.

“Akupun tidak tahu,” ujar Pwe giok sambil mengangkat bahu.

“Mereka telah mengepung rapat tempat ini, tampaknya mereka hendak memusuhi kita, menghadapi musuh bersama, jangan…jangan kau buka pintu,” kata Kwe Pian sian.

“Pintu tidak ku buka, memangnya mereka tidak dapat mendobrak dan masuk dengan paksa?” ujar Pwe giok sambil menghela nafas.

Dalam pada itu suara perempuan muda tadi sedang berteriak pula, “Ji kongcu, kami sudah minta dibuka pintu dengan sopan, kalau pintu tetap tidak dibuka, terpaksa kami menerjang masuk!”

Biji mata Gin hoa nio berputar, tiba-tiba ia tertawa genit dan berseru, “Ji Kongcu lagi sibuk di kakus, bila sekarang kalian menerobos masuk, tentu akan kebagian bau sedap. Tunggu saja sebentar, bilamana dia habis kuras gudang, pintu tentu akan dibuka, masa kalian terburu-buru?”

Di bawah terdiam sejenak, lalu perempuan muda itupun tertawa ngikik dan berkata, “Baiklah akan kami tunggu sebentar, asalkan dia tidak kecemplung ke dalam jamban, masa pintu takkan dibuka.”

Pwe giok berkerut kening memandang Kwe Pian sian, katanya, “Masa kaupun tidak berani bertemu dengan Hay hong Hujin? Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan dia?”

Kwe Pian sian hanya batuk-batuk saja dan tidak menjawab. Dalam pada itu Ciong cing sudah siuman, pelahan ia mengurut punggungnya dengan rasa cemas.

Pwe giok menghela napas, katanya pula dengan perlahan, ” Apapun juga akhirnya mereka toh akan naik ke sini, rasanya pintu harus kubuka, sebaiknya kau cari akal saja.”

Orang sakit yang sudah kempas-kempis itu mendadak membuka matanya dan berkata, “Aku ada akal! Coba dekatkan telingamu ke sini, akan ku bisiku kau,” kata orang itu.

Dengan girang Kwe Pian sian mendekatinya, tapi baru dua tiga langkah mendadak ia berhenti teringat olehnya hal-hal yang misterius pada diri si sakit ini, tanpa terasa ia menyurut mundur lagi.

Rupanya Ciong Cing jauh lebih gelisah daripada Kwe Pian sian, tanpa pikir ia mendekati orang sakit itu dan berkata, “Apabila Cianpwe ada akal yang dapat menolong dia, silahkan beritahukan kepadaku, sungguh Tecu akan sangat berterima kasih.”

Orang itu berkerut kening, tanyanya kemudian, “Siapa kau? Anak murid perguruan mana?”

Ciong Cing ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata juga, “Tecu Ciong Cing dari Hoasan.”

“Anak murid Hoa-san, terhitung juga golongan murni…” orang itu bergumam, lalu menambahkan, ” Baik, coba kemari, akan kuberitahu.”

Butiran keringat memenuhi muka Ciong Cing, teringat olehnya makhluk-makhluk berbisa yang memenuhi kolong selimut itu, ia merinding dan kakipun terasa lemas. Tapi demi orang yang dicintainya, betapapun ia tabahkan hati dan mendekat kesana.

Tiba-tiba orang sakit itu bertanya pula, “Sudah berapa lama kau latih Kungfu?”

Meski tidak tahu untuk apa orang bertanya urusan ini, namun Ciong Cing menjawab juga, “Sudah sebelas tahun.”

Wajah orang sakit yang kurus dan kuning itu menampilkan secercah senyuman, katanya, “Bagus, bagus…” mendadak sebelah tangannya terjulur, pergelangan tangan Ciong Cing terpegang. Tampaknya ia sudah kempas kempis dan setiap saat bisa menghembuskan napas penghabisan, tapi begitu bergerak ternyata cepatnya luar biasa.

Sampai-sampai orang macam Kwe Pian sian dan Ji Pwe giok juga tidak jelas cara bagaimana orang sakit itu menjulurkan tangannya, Ciong Cing sendiri bahkan menjerit saja tidak sempat dan tahu-tahu sudah diseret lebih dekat sana.

“Apakah yang hendak Anda lakukan?” tanya Pwe giok dengan was-was.

Setelah orang sakit itu memegang pergelangan tangan Ciong Cing, lalu ia tidak melakukan gerakan lain lagi. Sebaliknya ia lantas memejamkan mata.

Meski merasakan tangan orang sangat dingin, Ciong Cing mulai tenang juga karena orang tidak bertindak lain lagi. Ia lantas bertanya, “Sesungguhnya Cianpwe mempunyai akal apa? Tecu siap mendengarkan.”

Sambil tetap memejamkan mata orang itu berkata dengan perlahan, “Kalian tetap tunggu saja di sini dan tidak perlu buka pintu.”

“Hanya…hanya begini saja masa terhitung akal?” seru Ciong Cing dengan mendongkol.

Dengan tak acuh orang sakit itu berkata, “Asalkan kalian tidak membuka pintu, di seluruh kolong langit ini tiada seorangpun berani naik ke atas loteng ini.”

Meski merasa bualan orang agak terlalu besar, tapi mengingat tindak-tanduk orang ini sangat misterius, mau tak mau iapun percaya separoh-separoh, ia tidak merasakan air muka sendiri kini telah mulai pucat dan makin pucat. Sebaliknya air muka si sakit yang tadinya kuning mayat kini mulai bersemu hawa orang hidup.

Dalam pada itu suara teriakan di bawah loteng bergema pula, maka orang lainpun tidak memperhatikan perubahan air muka mereka berdua. Suara teriakan orang di bawah semakin ramai dan kasar, tapi benar juga, tiada seorangpun berani mendobrak pintu.

Terdengar Bwe Su-bong berteriak pula, “Ji kongcu, Bengcu dan Bu siang Lojin juga berkunjung padamu, masa kau tetap tidak mau turun?”

Semula Pwe giok bermaksud turun, tapi sekarang ia menjadi ragu-ragu. Untuk apakah orang-orang itu terburu-buru ingin bertemu dengan dirinya?

Perempuan muda tadipun berteriak lagi, “Ji kongcu, jika kau tidak menghendaki kami naik ke atas, boleh kau turun dan bicara sepatah kata saja dengan kami…Ji-kongcu, sebanyak ini orang yang ingin bertemu denganmu, mengapa engkau menolak maksud baik orang banyak?”

Orang-orang itu ternyata tidak bermaksud naik ke atas, ini menandakan sasaran mereka bukan terhadap Kwe Pian sian. Tapi mereka menghendaki Pwe giok turun ke bawah, apakah memang ada intrik tertentu?

Semakin didesak, semakin ragu Pwe giok. Saat itulah mendadak Ciong Cing menjerit, orang sakit itu telah melepaskan tangannya, kontan Ciong Cing roboh terkulai.

Cepat Kwe Pian sian memayangnya bangun, tapi tubuh Ciong Cin terasa lunak seperti kapas, tanganpun sukar terangkat, waktu Kwe Pian sian memeriksa napasnya, ternyata juga sangat lemah.

“He, kenapa kau?” teriak Kwe Pian sian kaget.

Air muka Ciong Cing tampak ketakutan setengah mati, serunya dengan suara lemah dan gemetar, “Ib…iblis ini bu…bukan manusia dia…” dengan kaku ia memandang ke tempat jauh dan berulang-ulang mengucapkan kata-kata yang sama, dia seperti tidak waras lagi saking takutnya, ditanya juga tidak dapat menjawab lagi.

Kwe Pian sian memandangi si sakit air mukanya tampak mulai bersemu merah, nyata tenaga dalam latihan belasan tahun Ciong Cing tanpa terasa telah dihisap oleh orang itu.

Mendadak Kwe Pian sian berbangkit dengan sorot mata yang sangat ketakutan. Sebaliknya si sakit tampaknya sudah terpulas, Cu Lui ji sedang merapikan selimutnya.

Diam-diam Gin hoa nio menarik Kwe Pian sian dan Ji Pwe giok ke samping sana, katanya dengan suara tertahan, “Sesungguhnya apa yang terjadi ini?”

Keringat nampak memenuhi dahi Kwe Pian sian, dengan suara parau ia mendesis, “Menghisap sari tenaga orang lain untuk menambah kekuatan sendiri, tak tersangka di dunia ini benar-benar ada Kungfu selihai ini. Kalau sekarang kita tidak menggunakan kesempatan ini untuk menumpas dia mungkin kitapun akan mati tak terkubur.”

Gin hoa nio menghela nafas, katanya kemudian, “Jika kau berani turun tangan lebih dulu, pasti akan kubantu kau.”

Kwe Pian sian jadi melengak dan tak dapat menjawab.

Sunyi seperti kuburan di loteng kecil ini, Pwe giok seperti ingin bertindak sesuatu, tapi pada saat ini juga di bawah telah berkumandang suara Ji Hong-ho, “Kalau dia tidak mau turun, tentu dia sudah ikut berkomplotan dengan mereka. Kini kita sudah berkumpul, bila tidak segera turun tangan mungkin akan terjadi perubahan…”

Tiba-tiba terdengar Hay hong Hujin menyeletuk, “Apakah Bengcu sudah menyelidikinya dengan jelas?”

“Bukti dan saksi sudah lengkap di sini. Ang lian pangcu juga melihat sendiri,” kata Ji Hong ho.

Tiada terdengar suara Ang lian hoa, mungkin secara diam-diam ia membenarkan.

Selagi Pwe-giok menerka urusan apa sebenarnya yang dimaksudkan mereka, tiba-tiba terdengar suara deru angin yang keras, beberapa bola hitam sebesar semangka telah menerobos jendela dengan membawa api yang berkobar.

Hakekatnya Pwe giok dan lain-lain tidak tahu benda apakah ini seketika mereka menjadi bingung tidak tahu bagaimana harus menghadapi bola berapi itu, terpaksa mereka menyingkir saja menghindari.

Si orang sakit yang tampaknya tertidur itu mendadak menjulurkan kedua tangannya yang tadinya tertutup selimut, kesepuluh jarinya menyelentik susul menyusul. Terdengar suara “crat-crit” berulang-ulang seperti desing anak panah di udara, belasan bola hitam tadi kontan terjentik kembali keluar.

Kiranya selentikan jari si sakit itu membawa semacam tenaga yang tak berwujud, tapi keras dan tajam seperti senjata.

Apa lagi ia menyelentik susul menyusul sehingga tenaga jari yang tak kelihatan ini terpancar lebih kuat, sekalipun ilmu tenaga jari sakti “Sian-ci-sin-thong” yan terkenal di dunia persilatan juga tidak selihai ini. Keruan semua orang sama terkesiap.

Setelah bola-bola hitam tadi terjentik keluar, lalu terdengarlah suara “blang-blung” yang keras disertai lelatu api yang berhamburan. Suara ledakan menggelegar tiada hentinya. Suasana menjadi kacau, terdengar jeritan di sana sini serta suara orang yang berlari ketakutan. Loteng kecil itupun tergetar seakan-akan ambruk.

“Apakah ini senjata api buatan Pi-lik-tong (nama pabrik mesiu jaman kuno) yang terkenal di daerah Kanglam itu?” kata Gin hoa nio dengan terkejut.

“Betul,” jawab Kwe Pian sian dengan gegetun. “Kalau saja bola api tadi meledak di sini, andaikan tubuh kita tidak hancur lebur, sedikitnya akan babak-belur dan mungkin pula cacat selama hidup.”

“Makanya tentunya sekarang kalianpun tahu,” sela Cu Lui-ji sambil menoleh tertawa. “Meski Sacek telah meminjam pakai kekuatan belasan tahun latihan nona ini, tapi Sacek juga telah menyelamatkan jiwa kalian berempat. Jual beli ini kan tidak merugikan kalian?”

Daun jendela sudah jebol diterjang oleh bola-bola hitam tadi, sembari bicara Cu Lui ji lantas merapatkan tabir jendela agaknya tidak suka kalau keadaan didalam ruangan ini terlihat orang luar.

Kedua tangan si sakit telah disembunyikan kembali ke dalam selimut, air mukanya mulai pucat lagi. Sungguh, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak percaya orang yang sudah sekarat ini mempunyai kungfu selihai tadi.

Pwe-giok tidak tahan, ia coba bertanya, “sesungguhnya Ji Hong ho itu ada permusuhan apa dengan Anda?”

“Bermusuhan denganku? Hm, dia belum sesuai!” jengek orang sakit itu.

“Jika demikian, untuk apa dia bertindak sekeji ini terhadap Anda?” tanya Pwe giok pula.

“Darimana kau tahu yang dia tuju adalah diriku dan bukan kalian?” ujar orang itu.

“Tapi Ji Hong ho tidak bermain catur ditempat lain, justru datang ke kota kecil yang terpencil dan sepi ini, tadinya aku sangat heran baru sekarang ku tahu tujuan kedatangannya ialah Anda.” kata Pwe-giok pula dengan gegetun.

Tapi orang sakit itu tidak menanggapi, ia memejamkan mata pula.

Pwe giok berkata lagi, “Ada lagi, Anda tidak tetirah ditempat lain, tapi justeru datang ke kota kecil ini, inipun kejadian yang maha aneh. Sungguh tidak habis ku terka sesungguhnya dimana terletak daya tarik kota kecil ini?”

Tapi orang sakit itu tetap tidak menggubrisnya, maka Pwe giok tidak dapat bicara lagi.

Selang sejenak, tiba-tiba Cu Lui-ji berkata, “Yang mereka tuju bukanlah Sacek melainkan diriku!”

“Dirimu?” Pwe giok menegas dengan melenggong. “Usiamu sekecil ini, untuk apa mereka mencari kau?”

“Apakah usiaku terhitung masih kecil?” ujar Lui-ji sambil tertawa.

“Biarpun orang she Ji itu manusia berhati binatang, tapi dalam kedudukannya selaku Bu-lim-bengcu, mana bisa dia mengerahkan tenaga sebanyak itu untuk menghadapi seorang anak kecil seperti dirimu ini?” kata Pwe giok pula.

“Bu-lim-bengcu? Huh!” jengek Cu Lui-ji. “Memangnya berapa harganya satu kati Bu-lim-bengcu begitu? Tidak perlu Sacek, aku saja tidak memandang sebelah mata padanya.”

Padahal Hong ti-tayhwe atau pertemuan besar Hong ti adalah suatu sidang paripurna dunia persilatan yang mengikat, Bengcu atau ketua perserikatan yang diangkat didalam sidang itu dihormati dan disegani setiap ksatria dan pendekar di dunia ini. Tapi anak perempuan kecil ini menyatakan tidak pandang sebelah mata terhadap sang Bengcu.

Tentu saja hal ini sangat luar biasa. Memangnya kedudukan anak perempuan ini jauh lebih terhormat dan lebih agung daripada Bu-Lim-bengcu?

Pwe giok jadi semakin heran.

Selagi ia hendak bertanya pula, mendadak Gin hoa-nio bersorak gembira, serunya, “Aha, orang-orang itu sudah pergi semua, bersih tanpa seorang-pun yang ketinggalan!”

Cepat Kwe Pian-sian menyingkap tabir jendela, memang betul, di luar sana tiada nampak bayangan seorangpun.

“Kenapa mesti heran,” dengan hambar Cu Lui-ji berkata pula, “setelah orang-orang itu mengetahui kungfu Sacek sudah pulih, memangnya mereka berani tinggal lebih lama lagi di sini untuk menunggu kematian?”

Bahwa orang-orang seperti Ji Hong-ho, Kun Hay-hong dan lain-lain seakan-akan juga sangat jeri terhadap orang yang sakit ini, maka dapat diperkirakan orang sakit ini pasti luar biasa asal-usulnya. Sesungguhnya siapakah dia?

Tentu juga Pwe-giok sangat heran, terkejut dan juga tertarik, namun saat itu juga Kwe Pian-sian sudah memondong Ciong Cing dan berkata, ” Hayolah kita berangkat sekarang!”

“Betul, tidak berangkat sekarang mau tunggu kapan lagi?” tukas Cu Lui ji dengan dingin.

Pwe-giok lantas berkata, “Kalau mereka mendadak kembali lagi, apakah kalian…”

“Urusan Sacek tidak perlu kau ikut campur” ucap Lui ji dengan angkuh. “Mengenai diriku…apakah aku akan hidup atau mati lebih-lebih tidak perlu diresahkan orang lain.”

Dengan suara gemetar mendadak Ciong Cing berteriak, “Jika demikian, mengapa…mengapa kalian men…mencuri tenagaku?”

“Kan kalian yang dating sendiri ke sini. Kami tidak mencari kau, kenapa kau salahkan orang lain?!”, jawab Cu Lui-ji dengan ketus.

Ciong cing melengak, mendadak ia menangis tergerung-gerung.

Tiba-tiba si sakit buka suara dengan perlahan, “Mengingat kedatangan mereka ini tidaklah sia-sia barang itu boleh kau berikan saja kepada mereka.”

“Tapi barang-barang ini memang milikku, kenapa harus kuberikan kepada mereka?” ujar Cu Lui-ji.

“Hanya sedikit batu permata begitu apa artinya? Kenapa kau berubah menjadi sebodoh ini?” ujar si sakit sambil berkerut kening.

Lui-ji mengiakan dengan menunduk. Tanpa bicara lagi ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari almari dinding sana terus dilemparkan ke depan Gin-hoa-nio.

Ketika ujung bungkusan itu terlepas sedikit. Tertampaklah cahaya gemerlapan, nyata itulah harta benda Gin-hoa-nio yang hilang itu.

Meski didalam hati penuh tanda tanya, tapi Gin-hoa-nio tidak berani lagi banyak bicara, setelah tertegun sejenak, mendadak ia angkat bungkusan itu terus lari ke bawah loteng secepat terbang.

oooooooOOOOoooooooo

Sesungguhnya siapakah gerangan si sakit itu? Mengapa Ji Hong-ho dan lain-lain sedemikian takut kepadanya?

Siapa pula sebenarnya Cu Lui-ji dan darimana asal-usulnya? Mengapa sebanyak itu tokoh-tokoh Bu-Lim berkumpul di kota kecil ini hanya untuk menghadapi seorang anak kecil begitu? Bahkan diantara tokoh-tokoh Bu-Lim itu termasuk pula Ang-lian-hoa? Masa Ang-liang-hoa seorang yang suka merecoki seorang anak kecil?

Sesungguhnya penyakit apa yang menghinggapi orang sakit itu? Mengapa dia merawat sakitnya di kota kecil terpencil ini? Jelas tenaganya belum pulih seluruhnya. Sedangkan Ji Hong-ho dan lain-lain pasti tidak pergi begitu saja, seharusnya dia menahan ji Pwe-giok dan lain-lain di situ, mengapa dia melepaskan mereka pergi?

Begitulah didalam benak Pwe-giok penuh tanda tanya yang sukar dipecahkan.

Gin hoa nio juga bergumam terus menerus.” Aneh, si tebese itu mengapa mengembalikan harta benda ini kepadaku? Mengapa begini saja dia membebaskan kita pergi? Masa dia benar-benar tidak mengharapkan sesuatu dari kita?”

Sembari menggerundel ia terus berlari ke depan. Kota kecil itu bermandi cahaya sang surya, namun setiap pintu rumah penduduk tampak tertutup rapat, satu bayangan manusia saja tidak kelihatan.

Baru sekian langkah Kwe Pian-sian berlari mendadak ia menghadang di depan Gin-hoa-nio.

Cepat Gin-hoa-nio menyembunyikan bungkusan ke belakang punggungnya, tanyanya dengan was-was, “Kau mau apa?”

“Ai, dasar perempuan,” ujar Kwe Pian-sian dengan gegetun. “Sampai perempuan seperti ini juga berpikiran sempit, dalam keadaan demikian masa dapat ku incar harta bendamu ini?”

Gin hoa nio mengerling genit, katanya dengan tersenyum, “Jika kau tahu perempuan berjiwa sempit mengapa kau sengaja merintangi jalan orang? Apakah kau tidak ingin cepat-cepat pergi dan hendak menunggu kedatangan Ang-lian-hoa?”

“Sudah tentu aku ingin lekas-lekas pergi, tapi aku tidak ingin pergi dengan digotong orang,” kata Kwe Pian-sian dengan dingin.

Gin hoa nio memandang Ciong Cing sekejap, ucapnya dengan tertawa, “Kamipun ingin pergi dipondong olehmu, tapi sayang, tanganmu tidak ada peluang lagi.”

“Kalau kau terus berlari ke depan, masa tidak bakalan ada orang akan menggotong kau?” kata Kwe Pian-sian.

“Maksudmu…maksudmu kita tidak pergi sekarang?”

“Saat ini, kau dan aku jangan harap akan dapat meninggalkan kota kecil ini selangkahpun!”

“Hihi, memangnya kau sangka aku ini kegirangan karena mendapatkan kembali harta-bendaku sehingga pikiranku sudah keblinger?” kata Gin hoa nio dengan tertawa.” Sudah tentu ku tahu Ji Hong-ho dan rombongannya takkan pergi jauh, besar kemungkinan mereka sudah mengepung rapat kota kecil ini, maka bayangan setanpun tidak kelihatan di sini”

“Tapi menurut perhitunganmu, karena kau tidak bermusuhan apapun dengan mereka, tentu kau akan diberi jalan, mak kau sendiri lantas mau kabur begitu saja tanpa memperdulikan orang lain, begitu bukan?”

“Ai. Aku ini kan perempuan yang berjiwa sempit dan tidak bisa apa-apa, memangnya hendak kau suruh aku bertindak bagaimana? Kalian kan lelaki gagah perkasa, masa memerlukan perlindunganku malah?”

“Hahahaha! Teman baik, sahabat karib…!!” Kwe Pian-sian bergelak tertawa. “Sungguh tidak nyana kau dapat menutupi perbuatannya yang cuma mementingkan diri sendiri ini sebagai tindakan yang menarik, untung kau bukan lelaki, kalau tidak mustahil kalau tidak sejak tadi-tadi kau disembelih orang.”

Gin hoa nio tertawa terkekeh, katanya, “Tapi ku tahu kau pasti takkan membunuhku, seumpama kau bermaksud menahanku di sini, Ji kongcu kita yang luhur budi dan bijaksana ini pasti juga tidak tinggal diam dan tentu akan membelaku.”

“Jika kau ingin pergi, tidak nanti ku rintangi kau.” kata Kwe Pian sian.

“Oya?! Tak tersangka kau juga seorang yang luhur budi dan bijaksana…”

“Tapi dengan membawa satu bungkus mestika begini, apakah orang lain mau membebaskan kau pergi begitu saja?” jengek Kwe Pian sian.

Seketika Gin hoa nio merasa seperti kena depak orang satu kali, sekujur badan terasa lemas lunglai.

Dengan tenang Kwe Pian sian menyambung pula, “Makanya, jika kau ingin pergi, mau tak mau bungkusan ini harus kau tinggalkan di sini dan ini berarti… seolah-olah menghendaki jiwamu.”

Mendadak Gin hoa nio melonjak dan berjingkrak, katanya, “Ah, tahulah aku sekarang, sebabnya si tebese itu mengembalikan harta pusakaku ini, maksudnya justru hendak mengganduli diriku supaya aku tidak pergi. Ai, orang sudah hampir mampus begitu masih juga banyak akal-bulusnya.”

Mendadak Pwe giok ikut bicara, “Jika kau sangka dia sengaja hendak membikin susah padamu, mengapa tidak kau kembalikan harta benda ini kepadanya?”

Gin hoa nio mendepakkan kakinya ke tanah dan berkata, “Sudah tentu iapun memperhitungkan aku tidak rela…” Tapi mendadak ia tertawa dan mengerling genit sambungnya, “Apalagi, seumpama tidak ada bungkusan batu permata ini, masa ku-sampai hati meninggalkan kalian di sini? Apa yang ku katakan barusan kan cuma bersenda-gurau saja.”

“Hehe, lucu ya guraumu?” jengek Kwe Pian sian.

Gin hoa nio memandangnya dengan menengadah, tubuhnya seakan-akan hendak jatuh ke pangkuan orang, dengan suara halus ia berkata, “Eh, coba katakan, apakah sekarang juga kita harus mundur kembali ke sana?”

“Adalah maha beruntung kalau kita dapat keluar dengan selamat, mana boleh balik lagi ke sana” ujar Kwe Pian sian. Nyatanya, ia lebih suka menghadapi Ang lian hoa dari pada bermusuhan dengan si sakit yang misterius itu.

“Maju tidak mau, mundur juga emoh, lalu bagaimana baiknya?” Tanya Gin hoa nio. “Apakah kita perlu mencari lagi sebuah rumah lain untuk sembunyi? Tapi kalau kepergok si tebese lagi, kan bisa celaka.”

“Tempat yang kucari sekali ini pasti takkan terdapat orang lain…”

“Dimana?” Tanya Gin hoa nio sebelum ucapan Kwe Pian sian dilanjutkan.

“Di sana, hotel itu!”

“Haha, kau memang pintar” puji Gin hoa nio dengan tertawa genit. “Orang-orang tadi baru saja meninggalkan hotel itu, besar kemungkinan mereka takkan kembali kesana. Hotel itu memang tempat yang paling aman di kota ini, cuma…” dia pandang Pwe giok sekejap, sambil menggigit bibir ia menyambung pula, “Ji-kongcu kita yang terhormat ini apakah kau mau bersembunyi bersama kita?”

“Dia pasti ikut,” kata Kwe Pian sian.

“Oo… pasti?” Gin hoa nio merasa sangsi.

“Ya,” kata Kwe Pian sian. “setelah sekian lama Ji hong-ho dan rombongannya tidak melihat suatu gerak-gerik di sini, tentu mereka akan balik lagi ke sini. Dan kalau kita sembunyi di hotel itu, kebetulan dapat menjadi penonton tanpa bayar.”

Dia tersenyum bangga, lalu menyambung pula, “Saat ini Ji-heng tentu juga penuh diliputi tanda tanya, kalau urusan ini tidak ikut terpecahkan hingga jelas, betapapun Ji-heng pasti tidak rela tinggal pergi. betul tidak Ji-heng?”

Pwe giok tersenyum hambar, jawabnya, “Apa lagi saat ini aku memang tidak ada tempat tujuan untuk pergi.”

Di hotel itu memang benar sunyi senyap tiada bayangan seorangpun, sampai-sampai pengurusnya dan pelayannya juga sudah kabur entah kemana, seakan-akan merekapun sudah tahu di sini bakal tertimpa bencana, maka cepat-cepat cari selamat lebih dulu.

Sebagai pemrakarsa, Kwe Pian sian berjalan di depan, dia tidak mencari kamar tamu biasa, juga tidak menuju ruangan tempat tinggal Ji Hong ho tadi, tapi langsung menuju ke dapur.

Api tungku di dapur hampir padam tapi belum padam, satu wajan nasi tanak sudah hampir hangus. Di atas meja sayur terdapat segebung sayur asin yang sudah dirajang sebagian, di suatu mangkuk juga ada telur ayam yang sudah diaduk, agaknya si koki tadi sedang siap-siap mengolah sayur asin goreng telur, tapi belum selesai dibuat.

Gin hoa nio celingukan kian kemari, dengan tertawa ia berkata, “Penghuni hotel ini mungkin kabur dengan tergesa-gesa sehingga tidak sempat sarapan pagi. Apa lagi mereka diusir oleh Ji Hong ho dan begundalnya?”

“Ji Hong ho tidak perlu mengusir mereka, setelah mengalami kekacauan tadi, masa mereka masih berani tinggal ditempat yang penuh penyakit ini?” kata Kwe Pian sian.

“Mungkin lagi sial juga pemilik hotel ini, akhir-akhir ini penghuni hotel ini kebanyakan orang mati melulu…” sembari bicara Gin hoa nio terus menyembunyikannya ke bawah onggokan kayu bakar. Lalu ia mengambil mangkuk dan mengisi nasi terus dimakannya dengan lauk sayur asin.

Kwe Pian sian juga mengisi satu mangkuk nasi dan disodorkan kepada Ciong Cing, katanya dengan tertawa, “Ini, kaupun makanlah sedikit, meski nasi ini rada sangit, tapi pasti tidak beracun.”

Gin ho nio tertawa, katanya, “Selama hidupku sungguh tidak pernah dahar nasi seharum dan sesedap ini, kau…”

Belum habis ucapannya, mendadak mangkuk yang dipegang Kwe Pian sian telah disampuk jatuh Ciong Cing. Nona itu menangis tergerung-gerung sambil meratap, “Aku sudah orang setengah mati, ku tahu nanti pasti kau tinggalkan diriku. Untuk apa pula ku makan nasi segala….Biarlah ku mati kelaparan saja, lebih cepat mati lebih baik!”

Kwe Pian-sian tidak menjadi marah, ucapnya dengan suara halus, “Ku tahu pikiranmu lagi risau tapi kan tidak apalah kalau cuma kehilangan Kungfu saja. Aku toh tidak bakalan minta perlindunganmu, kau mahir ilmu silat atau tidak kan tidak menjadi soal bagiku?”

“Kau…kau tidak perlu pura-pura di depanku,” kata Ciong Cing dengan suara terputus-putus. “Coba jawab sudah tegas-tegas kau katakan padaku bahwa kau sudah putus segala hubungan dengan Kun Hay-hong, sekarang mengapa kau tidak berani bertemu dengan dia, apa yang kau takuti?”

Air muka Kwe Pian-sian tampak berubah.

Pada saat itulah mendadak ada suara orang batuk satu kali, seketika ke empat orang lantas bungkam.

Ditengah keheningan itu sayup-sayup terdengar di luar ada suara langkah orang yang sangat perlahan. Di samping tungku dapur ini terletak pintu belakang hotel, maka suara langkah itu terdengar seperti menuju ke pintu belakang.

Dari celah-celah pintu Kwe Pian sian dapat mengintip keluar, dilihatnya dua orang sedang menuju ke sini, seorang mendekap mulut, jelas orang yang baru saja batuk.

Orang ini tinggi kurus, bermuka putih, sedang melintang tersandang di punggung, untaian benang sutra merah penghias garan pedang berpadu dengan bajunya yang hijau pupus sehingga kelihatan sangat menyolok.

Seorang lagi juga tinggi kurus, sinar matanya tajam. Sekali pandang saja Kwe Pian sian lantas tahu Ginkang kedua orang ini pasti tidak lemah.

Kedua orang ini berjalan dari kanan dan kikir terpisah beberapa kaki jauhnya, langkah mereka sangat hati-hati, agaknya ingin menyelidiki keadaan di sini dan kuatir mengejutkan si sakit yang menakutkan di atas loteng kecil itu.

Gemerdep sinar mata dari Kwe Pian sian, mendadak ia membuka pintu dan tertawa kepada mereka. Tentu saja kedua orang itu melengak. Segera pula Kwe Pian sian menyurut mundur. Dengan sendirinya pintu masih terbuka dan mengeluarkan suara” keriat-keriut” karena tertiup angin.

“Mengapa kalian tidak lekas masuk ke sini?” kata Kwe Pian sian dengan suara tertahan.

Gin hoa nio tahu maksud Kwe Pian sian hendak memancing kedua orang itu masuk ke sini untuk ditanyai gerak-gerik di pihak Ji Hong ho sana. Padahal maksud tujuan kedatangan kedua orang ini adalah untuk menyelidiki keadaan di sini, sekarang mereka malah menjadi sasaran perangkap orang, diam-diam Gin hoa nio tertawa geli.

Rupanya Kwe Pian sian sudah memperhitungkan dengan baik bahwa mengetahui di dapur hotel ini ada orang, biarpun harus menyerempet bahaya juga kedua orang itu akan masuk ke sini untuk melihat apa yang terdapat di tempat ini.

Siapa tahu, meski sudah di tunggu sekian lama orang di luar masih juga tidak masuk kemari, bahkan tiada terdengar suara sedikitpun.

Kembali Gin hoa nio merasa heran, segera ia mendesis, “Sstt, mengapa kedua orang itu sedemikian penakut?”

“Kukenal satu diantaranya, namanya Ko Tiong, anak murid Tiam jong pay, orang ini cukup terkenal di daerah Hunlam dan Kuiciu, tidak nanti dia takut urusan…”

Belum habis ucapannya, “kriuut”, daun pintu terpentang tertiup angin ternyata bayangan kedua orang tadi sudah tidak kelihatan lagi.

“Hah, tampaklah kedua orang itu memang berhati kecil melebihi tikus,” Gin hoa nio berolok-olok.

Kwe Pian sian berkerut kening, ia coba melongok lagi keluar, dilihatnya Cu Lui ji entah sejak kapan telah turun dari lotengnya dan sedang memetik bunga di halaman sana.

Rupanya ada setangkai bunga mawar yang menongol keluar pagar halaman sana, seharum semerbak tampaknya bunga mawar itu.

Cu Lui ji sedang menengadah ke atas sambil berjinjit tangannya yang kecil itu meraih tangkai bunga mawar itu, mendadak lengan bajunya merosot ke bawah sehingga kelihatan tangannya yang putih bersih.

Orang yang dikenal bernama Ko Tiong dan lelaki berbaju hijau tadi tampak melangkah ke sana dan berdiri tidak bergerak di belakang Cu Lui-ji, mereka memandangi anak dara itu dengan termangu-mangu.

—–

Sebab apakah “Ji Hong-ho” dan rombongannya hendak menggerebek Cu Lui-ji dan orang sakit itu?

Siapakah sebenarnya anak dara itu dan si “Sacek”?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: