Kumpulan Cerita Silat

25/05/2010

Renjana Pendekar – 15

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 12:17 pm

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Linghu, dan Mogei)

Ciong Cing memandangnya sejenak, ia mulai tenang, jawabnya dengan tersenyum ewa, “Sudah tentu aku tidak berbuat salah apa-apa, aku cuma mencoba dirimu saja.”

Pwe-giok menghela napas, katanya dengan suara halus:

“Kedatanganku ini bukan hendak menangkap nona, juga tidak untuk menyelidiki rahasiamu, aku hanya ingin memberi nasehat padamu, lebih baik kau pulang saja.”

“Pulang? Pulang kemana?” kembali Ciong Cing terkesiap.

“Pulang ke samping gurumu, beliau pasti akan melindungi dirimu agar tidak sampai ditipu orang lain.”

“Memangnya aku tertipu oleh siapa? Berdasarkan apa kau campur urusanku?” kata Ciong Cing dengan tidak senang.

Pwe-giok menyengir, ucapnya, “Memikirkan diriku sendiri saja repot, sesungguhnya aku memang tidak pantas ikut campur urusan orang lain. Tapi kata-kata ini seperti duri di tenggorokan, kalau tidak kukeluarkan terasa tidak lega. Soal kau mau menurut atau tidak memang terserah kepada keputusan nona sendiri.”

Ia memandang mayat yang menggeletak di lantai itu, lalu menghela napas panjang.

Kalau setitik harapannya tadi kinipun sudah buyar, untuk apa pula dia tinggal lagi di sini? Mengenai Giu-hoa-nio yang masih ditinggalkan di atas belandar itu tidak perlu dikuatirkannya, ia tahu si nona pasti dapat menjaga dirinya sendiri.

Melihat Pwe-giok hendak pergi, Ciong Cing jadi melenggong, seperti mau mencegah, tapi akhirnya urung.

Tapi sebelum Pwe-giok melangkah keluar pintu, tahu-tahu sesosok bayangan orang seperti badan halus saja telah melayang dari belakang dan menghadang jalan keluarnya.

“He, begitu cepat kau sudah kembali?” seru Ciong Cing, kejut dan girang.

“Ya, apakah aku kembali terlalu cepat?” jawab orang itu dengan tersenyum.

Ciong Cing tidak merasakan di dalam kata orang itu berduri, ia bertanya pula, “Sudah kau lihat Ji Hong-ho dan Tong Bu-siang?”

“Tidak, Ji Hong-ho tidak ada, Tong Bu-siang juga menghilang,” jawab orang itu. Baru sekarang sorot matanya yang tajam beralih ke arah Ji Pwe-giok, katanya pula dengan tersenyum, “Urusan ini memang sangat aneh, betul tidak?”

Meski jalan keluar Pwe-giok terhalang, tapi sedapatnya ia bersabar, ia mengamat-amati orang aneh itu, tapi betapapun dia mengawasinya dengan cermat tetap tak dapat diketahui orang ini baik atau jahat, lebih-lebih tak dapat diketahui bagaimana asal usulnya. Hanya dirasakannya seolah-olah setiap saat timbul semacam tenaga gaib yang berpengaruh dari orang yang dihadapinya ini.

Pada waktu sorot mata orang ini beralih ke arahnya, seketika jantungnya berdetak.

Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya, “Urusan ini memang sangat aneh, bukan?”

“Ya, memang sangat aneh,” Pwe-giok hanya tersenyum saja.

“Sesuatu yang aneh, mengapa Anda tidak heran?” kata pula orang itu.

Pwe-giok tahu, menghadapi orang demikian tidak boleh omong sepatahpun. Selagi dia menimbang cara bagaimana menjawabnya, tiba-tiba orang itu tertawa dan berkata pula dengan perlahan, “Jika kau tidak suka menjawab, bolehlah kukatakan bagimu… Sebabnya kau tidak heran atas urusan ini adalah karena sebelumnya rahasia persoalan ini sudah kau ketahui.”

Pwe-giok hanya tersenyum sebagai jawabannya.

Tiba-tiba ia merasa mata orang ini meski sangat menakutkan, tapi senyumannya membawa semacam daya tarik yang sukar dilukiskan, semacam daya gaib yang kuat, jangankan anak gadis seperti Ciong Cing sekalipun Pwe-giok sendiripun tanpa terasa terpikat oleh daya tarik yang gaib itu dan sukar memindahkan pandangannya ke arah lain.

Orang itupun terus menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba menghela napas dan berkata, “Lelaki yang maha cakap, ya, Anda boleh disebut lelaki cakap yang tiada bandingannya. Jangankan perempuan, sampai akupun merasa mabuk melihat senyuman Anda.”

Dia bicara dengan lambat, suaranya rendah dan juga mengandung daya pikat yang sukar disebutkan.

Sebenarnya bukan Pwe-giok tidak suka, hanya saja setelah mendengarkan dan mendengarkan lagi, akhirnya kata-kata yang ingin diucapkannya jadinya malah lupa dikatakannya.

Dengan tersenyum orang itu berkata pula, “Orang yang mempunyai muka seperti Anda ini, bilamana tidak tahu menggunakannya dengan baik-baik sungguh harus disayangkan. Tapi Anda tidak perlu kuatir, sekalipun Anda tidak tahu cara bagaimana harus mendaya-gunakan ketampanan sendiri, dengan suka hati akan kubantu berusaha bagimu agar Anda tidak sia-sia dilahirkan dengan wajah tampan ini.”

Apabila kata-kata ini diucapkan orang lain, andaikan Pwe-giok tidak gusar, sedikitnya juga akan mendongkol. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut orang ini ternyata tidak membuat Pwe-giok naik pitam.

Orang itu tersenyum dan berkata pula dengan suara terlebih halus, “Baiklah, sekarang bolehlah kau lupakan semuanya. Coba beritahukan padaku sesungguhnya rahasia apakah yang kau lihat tadi? Sesungguhnya apa yang dirundingkan Ji Hong-ho dan Tong Bu-siang?”

“Kukira lebih baik tidak kukatakan,” jawab Pwe-giok hambar.

“Kusuruh kau bicara, maka kau harus bicara, tahu?” ucap orang itu dengan suara tegas, meski wajahnya masih mengulum senyum, tapi sorot matanya yang aneh itu tampak mendesak, menatap Pwe-giok tajam-tajam.

Siapa tahu Pwe-giok tetap menjawab dengan hambar, “Memangnya kenapa harus kukatakan?”

Orang itu lantas mengeluarkan seuntai rantai mutiara dan diayun-ayunkannya di depan Pwe-giok, lalu berkata pula dengan perlahan, “Sebab kau sudah menjadi budakku, setiap perkataanku harus kau taati, sedikitpun tidak boleh melawan.”

Ciong Cing tampak lemas dan kuatir, ia tahu kekuatan gaib orang ini, ia tidak ingin dia membikin susah orang lain lagi, tapi iapun tidak berani mencegahnya.

Siapa tahu Pwe-giok tetap tenang-tenang saja, sebaliknya ia malah tertawa dan menjawab, “Selamanya aku adalah orang yang bebas dan merdeka, mengapa tanpa sebab aku harus menjadi budakmu?”

Air muka orang itu berbalik berubah pucat malah, butiran keringatpun menghiasi jidatnya.

Maklumlah, Liam-sim-tay-hoat yang digunakannya sangat keji, tapi kalau tidak dapat menguasai pihak lawan, ia sendiri yang akan celaka. Sekarang ia sudah mengerahkan segenap tenaganya, tapi lawan yang masih muda ini ternyata tiada terpengaruh sedikitpun. Padahal sasaran Liam-sim-tay-hoat ini adalah melunakkan pikiran lawan, peluang itu lantas diselulupi kekuatan gaibnya dan terpengaruhlah orangnya.

Namun sejak kecil Pwe-giok sudah berlatih semedi dan memusatkan pikiran, akhir-akhir ini dia malah tergembleng dengan lebih teguh lagi imannya, hatinya kini boleh dikatakan sekeras baja, semurni emas.

Karena itulah, perasaan orang itu berbalik terguncang dan hampir-hampir saja sukar dikuasai.

Pwe-giok sama sekali tidak tahu mengapa pihak lawan menjadi begitu tegang, dengan tertawa ia malah bertanya, “Barangkali anda hanya bergurau saja denganku, begitu?”

Tanpa terasa orang itu menjawab, “Ya!”

“Siapakah nama Anda?” Pwe-giok coba bertanya.

“Kwe Pian-sian,” jawab orang itu, butiran keringat tampak berketes-ketes seperti hujan. Ia merasa sinar mata Pwe-giok makin mencorong, ia sendiri berbalik terpengaruh, setiap pertanyaan Pwe-giok mau-tak-mau harus dijawabnya.

Pwe-giok termenung sejenak, lalu bergumam, “Kwe Pian-sian, nama ini asing bagiku. Apakah ini nama asli anda?”

Dengan suara gemetar orang itu mengiakan.

Dia memang betul Kwe Pian-sian adanya. Sekarang dia tidak dapat menghindari lagi tatapan Pwe-giok, apabila Pwe-giok bertanya lebih lanjut, mungkin segala rahasianya akan dibeberkannya.

Pwe-giok jadi heran sendiri, tak tersangka olehnya setiap pertanyaannya akan dijawab secara jujur oleh lawan. Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, ia coba bertanya pula, “Apakah nona Ciong ini melarikan diri bersama anda?”

Kembali Kwe Pian-sian mengiakan.

“Siapakah yang anda hindari?” Tanya Pwe-giok.

Sedapatnya Kwe Pian-sian menggigit bibir agar tidak bersuara, tapi mau tak mau ia berucap juga, “Ji Siok-cin!”

“Ji Siok-cin? Ji lihiap ketua Hoa san-pay?” Pwe-giok menegas.

Kwe Pian-sian mengiakan lagi.

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, “Memangnya kau sudah ditawan Ji-lihiap, tapi nona Ciong jatuh hati padamu dan diam-diam melepaskan kau serta minggat bersamamu?”

“Ya, be…begitulah,” jawab Kwe Pian-sian dengan suara terputus-putus.

Sekarang ia benar-benar ketakutan setengah mati, namun apa daya ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri lagi.

Melihat keadaan Kwe Pian-sian, Ciong-cing juga melenggong.

Pwe-giok menghela napas, ia memandang Ciong-cing, katanya dengan tersenyum getir, “Tak tersangka nona sampai hati mengkhianati guru sendiri, tentunya karena cintamu…” belum habis ucapannya, mendadak berpuluh-puluh bintik sinar perak menyambar ke arahnya.

Kiranya begitu pandangan Pwe-giok beralih, seketika Kwe Pian-sian mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari pengaruh sinar mata lawan, tanpa ayal kalung mutiara terus ditebarkan.

Sama sekali tak terpikir oleh Ji Pwe-giok bahwa orang yang sudah ketakutan dan menjawab setiap pertanyaannya secara jujur ini mendadak bisa melancarkan serangan gelap. Karena kepalanya sudah berpaling ke kiri, sekarang tubuhnya lantas ikut berputar ke arah kiri, kedua tangannya juga mengebas, seperti penari ia terus berputar satu lingkaran. Tahu-tahu berpuluh-puluh bintik sinar perak itu seperti ikan yang terisap ke tengah pusaran air dan ikut berputar mengikuti gerakan Pwe-giok.

Dipandang dari jauh, satu lingkaran sinar perak mengitari seorang penari yang sedang berputar dengan gaya yang indah.

Tanpa terasa Ciong-cing terkesima menyaksikan kejadian itu, terdengar suara gemerincing, seperti dering logam digosok, laksana bunyi kecapi, tahu-tahu berpuluh-pulih bintik sinar perak sudah berserakan di tanah.

Tadi kalau Pwe-giok sengaja menghindar, dalam keadaan kepepet belum tentu dia sanggup menyelamatkan diri oleh hamburan berpuluh-puluh bintik perak yang terpancar dari jarak dekat itu. Tapi tanpa sengaja ia berputar, gerakan ini justeru sangat efektif dan ternyata mendatangkan hasil yang tak terduga.

“Kungfu hebat!” puji Ciong Cing setelah terkesima sejenak.

Dalam pada itu Kwe Pian-sian sudah melancarkan beberapa kali pukulan maut. Walaupun serangannya ganas, gayanya indah, tapi setiap pukulan belum menggunakan tenaga sepenuhnya, ia masih menyimpan tenaga untuk menjaga segala kemungkinan.

Maklum, setelah menyaksikan kelihayan Pwe-giok, betapapun ia tidak berani mempertaruhkan seluruh modalnya. Akan tetapi lebih dulu ia perkuat pertahanannya sehingga tak terkalahkan, habis ini barulah dia melancarkan serangan.

Meski dengan santai Pwe-giok dapat mengelakkan serangan lawan, namun di dalam hati dia tidak merasa santai. Sebab segera diketahuinya serangan lawan ternyata sangat teratur, licin, licik dan cekatan, sungguh kepandaian yang belum pernah dilihatnya selama hidup. Ia menyadari, tidaklah mudah bagi siapapun yang ingin merobohkan orang she Kwe ini.

Dalam pada itu, Kwe Pian-sian sudah melancarkan lagi empat kali pukulan lain, gerakan serangan ini mendadak berubah, dari ringan berubah menjadi berat, dari lunak berubah menjadi keras. Namun daya pukulannya tetap terbatas, belum menggunakan sepenuh tenaganya, masih ada tenaga cadangan.

“Apakah anda bertekad akan membinasakan diriku?” tanya Pwe-giok dengan menyesal.

Selesai ucapannya ini, dengan santai empat kali pukulan musuh sudah dihindarinya.

“Betul,” jawab Kwe Pian-sian, kembali empat kali pukulan dilontarkan dengan lebih cepat, selesai ucapannya yang cuma satu kata itu, selesai pula empat kali pukulan.

“Sebab apa?” tanya Pwe-giok pula, begitu cepat serangan lawan, secepat itu pula ia menghindar.

Kwe Pian-sian menjawab, “Sebab kalau anda hidup di dunia ini, maka makan dan tidurku pasti tidak akan tenteram.”

Sekali ini pukulannya berubah menjadi lambat, bicara sepanjang ini juga cuma melancarkan empat kali pukulan, akan tetapi pukulan yang berat dan mantap.

Jelas inilah Thay kek kun asli, padahal Thay kek kun dan Bu kek bun ada hubungan yang erat. Cepat Pwe giok melompat mundur dan berseru, “Jangan-jangan Anda ini kaum Cianpwe dari Thay kek bun?”

Dengan tenaga dalam Kwe Pian sian yang tinggi ini, bilamana betul dia adalah orang Thay kek bun, maka kedudukannya pasti sangat tinggi, maka Pwe giok menghormatinya dengan sebutan “Cianpwe”.

Siapa tahu Kwe Pian sian malah tertawa dan menjawab, “Apa artinya Thay kek bun bagiku?”

Mendadak pukulan telapak tangannya berubah menjadi kepalan terus menghantam, jurus pertama adalah “Lo han hok hou” atau Buddha menaklukkan harimau, inilah jurus pembukaan Lo han kun dari Siau lim Pay.

Pwe giok dibuat terkejut pula. Dalam pada itu pukulan kedua Kwe Pian sian telah berubah menjadi Tay Hong kun, sampai di tengah jalan, mendadak berubah lagi, sekali ini kedua kepalannya menghantam berbareng.

Gaya pukulan ini sangat aneh dan belum pernah dilihat Pwe giok, jelas-jelas yang diincar adalah pipi kanan dan dagu kiri, siapa tahu ketika kepalan sudah dekat, mendadak berubah lurus menghantam dada.

Kwe Pian sian kelihatan sangat bangga, katanya dengan tertawa, “Dan tahukah kau pukulan ini dari aliran mana…?”

Sebenarnya kata-kata Kwe Pian sian ini belum habis terucap, sebab baru saja dia mengucapkan kata “dari”, Pwe giok terpaksa balas menyerang, bahkan dia papak kepalan lawan yang sedang menghantam itu.

Waktu Kwe Pian sian mengucapkan kata “mana” segera dirasakannya tenaga pukulan Pwe giok maha dahsyat, cepat ia bermaksud menarik kembali tangannya, sekalipun dia masih menyimpan tenaga cadangan dan keburu menarik pukulannya, namun kepalannya tetap tersampuk oleh pukulan Pwe giok, seketika ia merasakan ditolak oleh suatu arus tenaga yang maha kuat seolah-olah gugur gunung dahsyatnya, tubuhnya terus mencelat hingga jauh.

Tenaga sakti pembawaan Pwe giok memang maha hebat, biarpun dia mengerahkan segenap tenaganya juga belum tentu sanggup bertahan, apalagi dia masih menyisakan sebagian tenaganya.

“Jangan melukai orang?” seru Ciong Cing kuatir.

Pwe giok tersenyum, katanya, “Tiada maksudku hendak mencelakai orang, jika kalian mau pergi, akupun takkan merintangi!”

Dia sudah kenyang merasakan betapa sengsaranya dibikin celaka orang, maka kalau tidak terpaksa, betapa pun ia tidak mau membikin susah orang lain.

Kwe Pian sian memang tidak terluka apapun, dia berdiri tegak di sana dan menghela napas. Ciong Cing memburu ke sana dan memegang tangannya serta memohon, “Marilah kita pergi, untuk apa kau bergebrak mati-matian dengan dia?”

Sambil menyengir Kwe Pian sian berkata kepada Pwe giok, “Ilmu silat Anda belum nampak terlalu hebat, tapi tenagamu yang maha sakti ini belum pernah kulihat selama ini, tampaknya aku pun tak dapat menjatuhkan kau.”

“Jika demikian, mengapa kau tidak lepas pergi?” ujar Pwe giok dengan tersenyum.

“Tampaknya aku memang lebih baik pergi saja,” kata Kwe Pian sian dengan gegetun. Dia merangkap kedua tangannya seperti memberi salam dan hendak pergi benar-benar, siapa tahu, pada saat itu juga tangannya bergerak pula, dari lengan bajunya kembali menyambar keluar berpuluh bintik hitam.

“He, kau…” Ciong Cing menjerit kaget.

Tapi belum lanjut ucapannya, tahu-tahu tubuhnya sudah diangkat oleh Kwe Pian sian terus dilemparkan ke arah Pwe giok. Kwe Pian sian sendiri terus menyelinap ke belakang Pwe giok untuk menyerang pula, langkah ini sungguh teramat keji dan jarang ada di dunia ini.

Untuk menghindarkan hujan senjata rahasia itu saja tidak mudah bagi Ji Pwe giok, apalagi seumpama dia sempat mengelakkan senjata rahasia, tahu-tahu tubuh Ciong Cing juga sudah menubruk tiba. Karena nona itu dilemparkan orang, dengan sendirinya kaki dan tangannya meronta-ronta, apabila Pwe giok tidak menghiraukan tubuh si nona dan hanya melayani Kwe Pian sian, bukan mustahil Pwe giok akan terluka oleh rontakan si nona yang ingin cari hidup itu.

Sebaliknya kalau Pwe giok menangkap tubuh si nona, sementara itu Kwe Pian sian sudah menyelinap ke belakangnya, peluang itu pasti akan digunakan orang keji itu untuk menghabisi dia.

Perubahan kejadian ini berlangsung dalam sekejap saja, belum lagi Pwe-giok tahu jelas duduknya perkara, tahu-tahu Am-gi atau senjata rahasia sudah menyambar tiba, bayangan orang yang meronta-ronta juga melayang tiba sekaligus.

Mestinya Pwe-giok bermaksud menyampuk balik senjata rahasia musuh, tapi ketika tiba-tiba diketahuinya bahwa bayangan orang yang ikut melayang tiba itu ialah Ciong Cing, bila senjata rahasia disampuk balik niscaya akan membinasakan nona itu.

Jadi serba susah bagi Pwe-giok, kalau tidak berkelit, jiwa sendiri bisa celaka. Kalau bertindak, jiwa Ciong Cing mungkin melayang. Dan Kwe Pian-sian tampaknya sudah memperhitungkan dia pasti tidak tega membikin celaka Ciong Cing.

Tak terduga, pada detik terakhir tangan Pwe-giok tetap bergerak ke depan secepat kilat, cuma tenaga yang digunakan kedua tangannya sama sekali berlainan, tenaga tangan kiri lunak, tenaga tangan kanan keras, tangan kiri bergerak lebih dulu, dengan tenaga lunak ia mendorong sekaligus tubuh Ciong Cing sehingga meluncur lebih jauh ke sana, sedangkan tenaga tangan kanan yang dahsyat itu digunakan memapak hujan senjata rahasia musuh. Dan pada saat itu pula kedua telapak tangan Kwe Pian-sian juga telah menghantam punggungnya.

Karena segenap tenaga sudah dikerahkan, Pwe-giok tidak mempunyai sisa tenaga untuk menghindar, apalagi sisa tenaga untuk menangkis. Dalam keadaan demikian, siapapun juga pasti akan binasa di bawah pukulan Kwe Pian-sian.

Akan tetapi di sinilah terlihat ketangkasan Ji Pwe-giok yang lain daripada yang lain, mendadak tenaga tangan kanannya yang dahsyat tadi berubah menjadi lunak, telapak tangannya berputar terus ditarik ke belakang, segerombolan senjata rahasia yang tergulung oleh tenaga pukulannya itu ikut berkisar di udara terus menyamber lewat di samping Pwe-giok dan langsung menyerang Kwe Pian-sian yang berada di belakangnya.

Mimpipun Kwe Pian-sian tidak menyangka Am-gi yang dihamburkannya sendiri kini berbalik akan makan tuannya malah. Jika pukulannya diteruskan dan dapat melukai Ji Pwe-giok, tapi tubuh sendiri pasti juga berubah seperti sarang tawon.

Ia menjerit kaget sambil menarik tangan dan mendoyong ke belakang, sekalian ia terus berjumpalitan ke belakang, sekalipun dia selalu menyiapkan jalan mundur, tidak urung sekali ini bajunya terserempet robek oleh senjata rahasia sendiri.

Dalam pada itu tubuh Ciong Cing juga telah menumbuk dinding, tapi tenaga dorongan Pwe-giok juga pas sampai di situ saja, maka tumbukan pada dinding itu hampir tidak ada artinya, tubuhnya memberosot ke bawah dengan air muka pucat, tapi tidak terluka sedikit pun.

Dengan sendirinya Pwe-giok juga tidak cedera, namun gusarnya bukan alang kepalang terhadap manusia keji ini.

Orang ini ternyata tidak segan-segan mengorbankan gadis yang telah menolongnya, bahkan mencintainya dengan sepenuh hati, hati orang ini tidakkah berpuluh kali lebih keji dan lebih ganas daripada binatang buas?

Sambil meraung gusar, Pwe-giok terus menubruk ke arah Kwe Pian-sian.

Saking gemasnya, sekali ini dia tidak sungkan-sungkan lagi, dari bertahan ia mulai menyerang. Tenaga pukulannya bergulung-gulung, tampaknya lunak, namun mendampar dengan dahsyatnya sehingga patung Toa-pekong ikut bergoncang.

Sekali ini Kwe Pian-sian terpaksa harus menandingi pula dengan sepenuh tenaga.

Meski tenaga dalam Kwe Pian-sian sangat kuat, tapi kelihatan sukar bertahan lama. Maklumlah, ia tidak biasa bertempur mati-matian dengan lawan, biasanya musuh sukar menemukan dia, umpama bertemu, dengan tipu akalnya yang licik sudah cukup baginya untuk menghadapinya, hakekatnya dia jarang mengeluarkan tenaga.

Apalagi akhir-akhir ini dia dilukai pula oleh Kim-yan-cu. Tikaman itu hampir mengirimnya ke akhirat. Coba kalau dia tidak selalu membawa obat luka mujarab, tidak nanti dia dapat sembuh dengan cepat, apalagi hendak bertempur dengan Ji Pwe-giok sekarang.

Dengan kekuatannya ini jelas dia bukan tandingan Ji Pwe-giok, tapi jurus serangannya justeru sedemikian aneh, sedemikian cepat, gerakannya berubah-ubah tidak menentu, pukulan pertama digunakannya dengan keras, pukulan berikutnya mendadak berubah lunak. Macam-macam gaya dan ragam jurus serangannya, hampir setiap aliran dan perguruan di daerah Tionggoan dan di luar perbatasan dikuasainya dengan baik.

Diam-diam Pwe-giok terkesiap, beberapa kali ini hampir termakan oleh serangan lawan yang aneh, mau-tak-mau ia harus bertempur dengan penuh kewaspadaan. Setelah beberapa puluh jurus, tanpa terasa Pwe-giok sendiri sudah mandi keringat.

Tiba-tiba terdengar Kwe Pian-sian berseru, “Apakah anda bertekad akan membunuhku?”

Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan Pwe-giok, tapi sekarang malah dipertanyakan olehnya Pwe-giok jadi melengak, jawabnya dengan suara berat, “Betul!”

“Sebab apa?” tanya Kwe Pian-sian pula.

“Sebab kalau anda hidup di dunia ini, makan dan tidurku juga takkan tenteram,” kata Pwe-giok.

Dilihatnya waktu bicara napas Kwe Pian-sian sudah rada terengah-engah, jelas keadaannya sudah payah, seperti busur yang sudah terpentang penuh dan sukar ditarik lagi Pwe-giok tidak ayal, serangannya tambah gencar, ia benar-benar hendak membinasakan orang ini untuk menyelamatkan masyarakat.

Butiran keringat tampak memenuhi dahi Kwe Pian-sian, gerak serangannya sudah lemah, semangat ada tenaga kurang, kini serangannya lebih banyak pura-pura belaka, lambat-laun ia sudah terdesak ke pojok ruangan.

Ciong Cing memandanginya dengan termenung, air mata tampak meleleh di pipinya.

“Baik, lebih baik mati saja,” ucap Kwe Pian-sian dengan menyesal. “Memangnya apa artinya hidup bagiku jika orang yang paling dekat denganku juga tidak sudi lagi membantuku.”

Wajah Ciong Cing tidak nampak sesuatu perasaan, katanya dengan suara parau, “Jika kau mati akan kutemani kau!”

“Untuk apa kau temani diriku, temani dia saja!” ucap orang she Kwe itu.

Pwe-giok menjadi gusar, sepenuh tenaga ia menghantam.

Mendadak dilihatnya kedua tangan Kwe Pian-sian menekuk ke kanan dan menikung ke kiri, seperti lemas tanpa tenaga sedikitpun, akan tetapi gaya pukulannya serupa seratus bunga yang baru mekar serentak. Pukulan Pwe-giok itu ternyata terbendung, betapapun sukar menembus pertahanan lawan.

Nyata itulah kungfu istimewa Pek-hoa-bun!

Hendaklah maklum bahwa Kwe Pian-sian sangat merahasiakan asal-usulnya, ia paling tidak suka ada orang mengetahui hubungannya dengan Hay-hong Hujin. Sebab itulah bila tidak kepepet, tidak nanti dia mengeluarkan ilmu silat Pek-hoa bun atau perguruan seratus bunga, lebih-lebih tidak mau memainkan ilmu pukulan Kay-pang.

Hampir seluruh ilmu silat di dunia ini yang dikuasainya dimainkannya, hanya kedua macam kungfu yang paling menjadi kemahirannya disisakan dan baru dikeluarkan pada waktu kepepet.

Pwe-giok terkesiap melihat Kwe Pian-sian tidak berganti ilmu silat aliran lain lagi. Ia menjadi heran, pikirnya, “Jangan-jangan ilmu silat Pek hoa-bun adalah kungfu perguruannya yang sebenarnya?”

Setelah bergebrak lagi beberapa kali, akhirnya Pwe-giok melompat mundur dan berseru, “Apakah kau murid Pek-hoa-bun?”

Gemerdep sinar mata Kwe Pian-sian, jawabnya perlahan, “Tiada lelaki dalam perguruan Pek-hoa-bun, masa kata-kata ini tidak pernah kau dengar?”

“Jika demikian, mengapa kau sedemikian apal ilmu silat Pek-hoa-bun?”

“Memangnya kungfu aliran lain aku tidak paham?” jawab Kwe Pian-sian dengan angkuh.

Pwe-giok menatapnya pula sejenak, katanya kemudian, “Jadi matipun tidak mau kau katakan hubunganmu dengan Pek-hoa-bun?”

Kwe Pian-sian menengadah dan bergelak tertawa, ucapnya, “Biarpun lukaku belum sembuh dan tenaga kurang, kukira kaupun belum tentu dapat membunuh diriku. Memangnya kau kira orang she Kwe ini akan minta ampun padamu?!”

Pwe-giok jadi melengak, tadinya ia mengira orang ini bukan saja keji, bahkan juga takut mati. Tak tersangka orang justeru berwatak angkuh begini. Setelah terdiam sejenak, lalu katanya dengan gegetun, “Jika begini tinggi hati watakmu, mengapa caramu bekerja serendah dan sekotor ini?”

“Hm, selama hidupku, setiap tindak-tandukku hanya ku pertanggung-jawabkan kepada diriku sendiri, untuk apa harus kupikirkan bagi orang lain? Jika kau bermaksud memeras diriku dengan kematianku, jalan pikiranmu ini kan teramat mentertawakan?”

Kembali Pwe-giok melengak, kekejian orang ini di luar dugaannya, keangkuhan orang bahkan lebih-lebih di luar dugaan. Nyata, sejak mula ia sudah salah menilai orang ini.

Tiba-tiba Kwe Pian-sian bertanya, “Kau terus menerus bertanya mengenai hubunganku dengan Pek-hoa-bun, sesungguhnya ada urusan apa?”

“Soalnya aku tidak bergebrak dengan anak murid Pek-hoa-bun,” jawab Pwe-giok.

Berubah air muka Kwe Pian-sian, katanya dengan bengis, “Apa sebabnya? Memangnya apa hubunganmu dengan Kun Hay-hong?”

Selagi Pwe-giok merasa heran oleh perubahan sikap Kwe Pian-sian itu, mendadak Ciong Cing melompat maju dan berseru dengan suara terputus-putus, “Kau…kau sudah berjanji padaku bahwa selanjutnya kau tidak akan menyebut namanya lagi, mengapa… sekarang kau tanyakan hubungan orang dengan dia? Apakah… kau tetap tak dapat melupakan dia?”

Kwe Pian-sian melototi nona itu, sorot matanya mencorong gusar.

Seketika Ciong Cing menggigil, ucapnya dengan suara parau, “Mengapa kau ikut campur urusan orang lain dengan dia? Apakah…apakah kau masih cemburu?”

Dengan gusar Kwe Pian-sian mendelik, lama dan lama barulah sorot matanya berubah tenang kembali, katanya dengan menyesal, “Yang cemburu sekarang bukanlah diriku melainkan kau.”

Dengan suara serak Ciong Cing berseru, “Caramu perlakukan diriku tadi membuktikan sikapmu padaku hanya tipuan belaka. Apabila dia, tentu takkan kau perlakukan dia seperti caramu tadi. Sekarang kau sangat benci padaku dan lebih suka bila aku mati, begitu bukan?”

Kwe Pian-sian termenung sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan, “Jika aku mati, kau akan mengiringi aku. Bila kau mati, memangnya harus kuiringi kau?”

Ciong Cing mendekap tubuh sendiri erat-erat, sesaat ini, ia merasa hanyutlah harapannya, runtuhlah segalanya, air matanya berderai bagai hujan, akhirnya ia menjatuhkan diri ke atas tanah dan menangis tergerung-gerung.

Pwe-giok jadi melenggong.

Dengan perlahan Kwe Pian-sian berkata pula, “Sekarang tanpa kujelaskan tentu kau tahu apa hubunganku dengan Pek-hoa-bun bukan?”

“Betul,” jawab Pwe-giok sambil menarik napas dalam-dalam.

Perlahan Kwe Pian-sian membelai rambut Ciong Cing, lalu berkata, “Sungguh tak kusangka anak perempuan selembut ini bisa mempunyai rasa cemburu sebesar ini.”

Melihat tangan Kwe Pian-sian terletak di atas kepala Ciong Cing, Pwe-giok menjadi kuatir dan berseru, “Kau…kau hendak membunuhnya?”

“Untuk apa kubunuh dia?” ujar Kwe Pian-sian. “Meski dia telah membocorkan rahasia pribadiku, semua ini adalah karena cemburunya yang besar. Kalau dia tidak menyukai diriku dengan sungguh hati masa dia dapat cemburu atas diriku?”

Mendadak ia bergelak tertawa dan menyambung pula, “Hahahaha! Aku dapat membunuh orang dengan seribu alasan, tapi tidak nanti membunuh dia lantaran cemburu atas diriku!”

“Orang…orang macam kau ini juga memperhatikan urusan begini?” ucap Pwe-giok dengan sangsi.

Perlahan Kwe Pian-sian menghentikan tertawanya, di antara mata-alisnya terlihat menampilkan semacam rasa kesepian, katanya kemudian, “Kau tahu, meski selama hidupku mempunyai kekasih yang tak terhitung banyaknya, tapi tiada satu pun yang cemburu atas diriku seperti dia ini.”

Pwe-giok termangu-mangu, akhirnya ia berkata, “Semua ini adalah rahasia lubuk hatimu, mengapa kau katakan padaku?”

Kwe Pian-sian tersenyum hambar, ucapnya, “Jika seorang tak dapat kubunuh, maka aku harus menganggap dia sebagai sahabatku. Dengan demikian hatiku akan terasa tenteram, cuma saja…” Dengan sungguh-sungguh ia menyambung, “… dapat kuberi jaminan padamu, sampai saat ini, sahabatku belum ada tiga orang.”

Dengan tajam Pwe-giok menatapnya, ia merasa watak orang ini benar-benar sangat ruwet dan sukar dipercaya, dia seolah gabungan dari tiga empat orang yang berwatak paling ekstrim.

Dia mungkin seorang yang takut mati, kalau kau hendak membunuh dia, bisa jadi dia akan lari atau menipu kau, bahkan menggunakan berbagai tipu muslihat yang sukar kau duga, tapi pasti tidak akan mohon belas kasihan dan minta ampun padamu, Jika kau bertekad akan membunuhnya, untuk itu kau harus mengadu jiwa dengan dia.

Kwe Pian-sian juga sedang memandang Pwe-giok dengan lekat-lekat dan berucap dengan tersenyum, “Dan sekarang, kau inilah sahabatku yang ketiga.”

“Tapi darimana kau tahu aku akan mau menjadi sahabatmu?” jawab Pwe-giok, ia pun tertawa.

Dengan angkuh Kwe Pian-sian berkata, “Diriku ini boleh dikatakan salah seorang tokoh yang paling berkuasa dan berpengaruh di bu-lim, bahkan juga tokoh yang paling kaya raya di dunia ini. Barang siapa dapat bersahabat denganku, maka berbahagialah dia selama hidup.”

“Bagimu, alasan yang kau katakan memang cukup kuat,” ujar Pwe-giok dengan tersenyum tak acuh. “Tapi bagiku, jika kuterima kehendakmu, bukankah aku seakan-akan menjadi Siaujin (orang kecil, pengecut) yang suka mengumpak ke atas dan menjilat penguasa?”

Sambil bicara, ia terus membalik tubuh dan melangkah pergi.

“Jangan pergi dulu, sahabat!” bentak Kwe Pian-sian.

Meski tidak berpaling, tapi langkah Pwe-giok lantas berhenti, ucapnya perlahan, “Setelah anda gagal mendapatkan sahabat seperti diriku ini, apakah kau ingin coba-coba lagi membunuhku?”

“Dapatkah aku membunuh seseorang, cukup ku tahu sendiri dan tak perlu pakai coba-coba,” kata Kwe Pian-sian. “Hanya saja… Anda sendiri kan belum coba-coba, mengapa kau menolak tawaranku?”

Pwe-giok menghela napas panjang, katanya, “Perlu diketahui, hanya karena hubungan erat Anda dengan Pek-hoa-bun, maka sekarang ku pergi dengan hormat, soal bersahabat… orang macam Anda ini, betapapun aku tidak berani menaksir.”

“Soalnya karena kau anggap aku ini orang yang berhati keji dan bertangan ganas, begitu?”

“Memangnya Anda tidak mengaku?”

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya pula, “Racun meski dapat membunuh orang, kalau digunakan dengan tepat, terkadang juga dapat menolong, betul tidak? Ada semboyan yang menyatakan “menyerang racun dengan racun”, tanpa kujelaskan tentu kau pun tahu akan khasiatnya.”

Pwe-giok terdiam sejenak, gumamnya kemudian, “Menyerang racun dengan racun…”

Mencorong sinar mata Kwe Pian-sian, ucapnya pula dengan suara mantap, “Orang seperti anda ini, apabila dapat bekerja sama denganku, kuberani menjamin, tidak sampai tiga tahun kita pasti dapat menjagoi bu-lim dan merajai dunia.”

Pwe-giok tetap belum lagi berpaling, ucapnya dengan tak acuh, “Tidaklah anda terlalu membesar-besarkan ambisimu?!”

“Memangnya terhitung ambisi macam apa ini?” seru Kwe Pian-sian. “Seorang lelaki sejati, hidup di jaman begini, kan seharusnya berbuat sesuatu yang mengguncangkan bumi dan mengejutkan langit. Kalau Ji Hong-ho itu boleh menjadi bengcu dunia persilatan, kenapa kita tidak boleh? Orang she Ji itu, hm, tampangnya saja kelihatan halus dan baik budi, padahal kusangsikan kejujurannya, tindak-tanduknya kelihatan main sembunyi-sembunyi, jelas dia seorang munafik, asalkan kita dapat membongkar kedoknya…”

Belum habis ucapannya, serentak Ji Pwe-giok membalik tubuh, mukanya yang semula agak pucat tampak bersemu merah penuh semangat, ia memburu ke depan Kwe Pian-sian dan berseru, “Baik, cukup satu kata saja persetujuan kita. Selanjutnya kita bersatu-padu untuk menghadapi manusia yang berhati binatang itu! Supaya mereka pun kenal bagaimana pribadi Ji Pwe-giok ini!”

Seorang yang biasanya tenang dan lembut, kini mendadak bersemangat dan sangat emosi, hal ini rada-rada di luar dugaan Kwe Pian-sian, tapi setelah sinar matanya gemerdep, segera ia menjulurkan tangannya dan berkata dengan tertawa, “Baik, satu kata ini sebagai persetujuan dan tidak boleh menyesal!”

Pwe-giok menengadah dan tergelak, katanya, “Apakah kau lihat aku ini mirip orang yang suka ingkar janji?”

Mendadak di atas ruangan terdengar seorang tertawa dan berseru, “Haha, hanya kalian berdua saja ingin malang melintang di dunia ini? Kukira masih selisih sekian jauhnya!”

Orang ini ternyata Gin-hoa-nio adanya.

Tadi Pwe-giok tidak menutuknya dengan tenaga berat, maka sekarang Hiat-to yang tertutuk itu sudah terbuka dengan sendirinya, maka segera ia tahu siapa orang yang bicara ini.

Sudah tentu yang terkejut ialah Kwe Pian-sian, namun orang ini pun cukup tabah dan tenang, bahkan mengangkat kepala saja tidak, ia malah menanggapi dengan tertawa seram, “Hm, selisih apa menurut pendapatmu?!”

“Selisih diriku!” kata Gin-hoa-nio dengan tertawa genit.

Dia sudah melemaskan otot tulangnya di atas belandar, lalu membersihkan debu kotoran yang menempel bajunya, dikeluarkannya sapu tangan untuk mengusap muka, kemudian baru melompat turun dengan enteng.

Pribadi Gin-hoa-nio dapat digambarkan sebagai berikut: Kalah kau suruh dia membuka baju dan menari telanjang di depan lima ratus pasang mata lelaki, maka dia pasti akan melakukannya dengan muka berseri-seri tanpa malu sedikit pun. Tapi jika menghendaki dia muncul di depan umum dalam keadaan urat nadinya belum lancar, mukanya belum bersih dan bajunya kotor, maka mati pun dia tidak mau, sebab hal ini baginya adalah jauh lebih memalukan daripada perbuatan apa pun.

Kwe Pian-sian hanya memandangnya sekejap, seketika mencorong sinar matanya.

“Hihihi, bagaimana, lumayan bukan aku ini?” ucap Gin-hoa-nio dengan kerlingan yang bisa bikin lelaki jatuh kelengar.

“Ya, lumayan bahkan lebih dari lumayan,” jawab Kwe Pian-sian dengan rada gelagapan.

Gin hoa nio menghela napas, ucapnya pula dengan menunduk, ” Sayang diatas sana tidak ada cermin, kalau ada, tentu aku akan jauh lebih enak dipandang.”

“Begini saja sudah cukup,” ujar Kwe Pian-sian dengan tertawa.

Mendadak Ciong Cing memburu maju dan membentak dengan mata melotot, “Kau ini siapa? Mengapa kau mencuri dengar rahasia orang di sini? Apakah kau tidak ingin hidup lagi?”

“Eh, adik cilik,” jawab Gin-hoa-nio dengan tertawa nyaring,” jangan kau menakuti diriku, nyaliku biasanya sangat kecil.”

“Jika begitu, lekas enyah kau!” bentaknya dengan gusar.

Gin-hoa-nio tertawa ngikik, ucapnya, ” Adik cilik yang baik, tidak perlu kau usir diriku, ku tahu kau ini gentong cuka (maksudnya pencemburu), tapi jangan kau salah sangka, perempuan macamku ini, kalau ingin lelaki, cukup jariku bergerak saja dan lelakipun akan datang sendiri, masa perlu kurebut lakimu?”

Sampai pucat muka Ciong Cing saking dongkolnya, tapi tak tahu cara bagaimana melayani orang.

Pwe-giok lantas menyela, “Jika kau ingin merecoki anak perempuan, hendaklah kau cari sasaran yang lain.”

Terkial-kial Gin-hoa-nio tertawa, katanya, ” Ku tahu Ji-kongcu pasti akan membela keadilan lagi, tapi ….ai, mohon janganlah engkau marah, aku tidak takut terhadap siapa-siapa, hanya takut padamu!”

Dia memandang Kwe Pian-sian sekejap, lalu berkata pula dengan tertawa kenes, “Aku dan dia boleh dikatakan senasib, sama-sama pernah keok di bawah tangan Ji-kongcu. Sekarang kalau Ji-kongcu menyuruh kami berduduk, tidak nanti kami berani berdiri.”

Berulang-ulang dia menyebut “senasib” dan “kami” seolah-olah dia dan Kwe Pian-sian sudah menjadi sepasang merpati yang sehidup dan semati tak terpisahkan.

Pwe-giok tahu Gin-hoa-nio mulai lagi main gila, hanya dengan beberapa patah-kata saja Kwe Pian-san sudah digaet ke pihaknya.

“Sesungguhnya apa kehendakmu, boleh cepat kau katakan saja!” ucapnya dengan menghela napas.

Gin-hoa-nio mengerling genit, jawabnya, “Bukankah tadi sudah kukatakan?”

“Tapi aku tidak paham apa maksudmu?” kata Pwe-giok.

“Kan sudah kukatakan, bila kalian ingin merajai dunia, kukira masih selisih sekian jauhnya, tapi kalau diriku ditambahkan…” dia tertawa manis, lalu menyambung, “Dengan tenaga gabungan kita bertiga barulah benar-benar tiada tandingannya lagi di dunia ini.”

“Hahahaha!” Kwe Pian-sian terbahak-bahak.” Kiranya kaupun ingin bersekutu dengan kami.”

“Betul, ingin ku jadi sahabatmu yang ke empat,” jawab Gin-hoa-nio dengan main mata.

Kwe Pian-sian memandangnya dari atas ke bawah dan kembali dari bawah ke atas, ucapnya kemudian dengan tersenyum, ” Perempuan cantik semacam kau, untuk menjadi selir raja saja melampaui syarat, tapi belum cukup kalau ingin menjadi sahabatku.”

Sambil menggerakkan pinggulnya Gin-hoa-nio bertanya dengan tersenyum genit, ” Masa aku kalah dibandingkan para kekasihmu itu?”

“Kekasih dan sahabat tidaklah sama,” ujar Kwe Pian-sian. “Kekasihku memang jumlahnya sukar dihitung, tapi sahabatku hanya tiga. Malahan yang dua sudah lama mati.”

Gin hoa-nio menggigit bibir, katanya kemudian, “Jika demikian, cara bagaimanakah baru dapat ku jadi sahabatmu?”

“Coba katakan dulu syarat apa saja yang kau miliki,” kata Kwe Pian-sian.

Dengan kerlingan mautnya, Gin-hoa-nio menjawab dengan tertawa, ” Sekalipun aku bukan perempuan tercantik di dunia ini, tapi ku tahu cara bagaimana membikin senang lelaki. Jika kau tidak percaya, selanjutnya lambat laun kau pasti akan tahu.”

“Ya, kupercaya selekasnya aku pasti akan tahu,” kata Kwe Pian-sian dengan memicingkan mata.

“Tapi ini saja belum cukup.”

“Akupun terhitung wanita yang paling berpengaruh di dunia ini, cukup dengan sepatah kataku saja segera dapat kukerahkan beberapa ribu orang di lima propinsi sekitar sini.”

Apa yang ditambahkan Gin-hoa-nio ini memang bukan bualan, sebab kekuasaan Thian-can-kau di wilayah propinsi-propinsi yang dimaksud memang sudah tersebar sampai setiap pelosok.

Tapi Kwe Pian-sian tetap menanggapi dengan tertawa hambar, “Kebaikan satu-satunya bila jumlah orang banyak hanya lebih banyak nasi yang harus disediakan.”

Gin hoa nio mengerling, katanya pula, “Dan aku pun wanita yang paling kaya di dunia ini, kekayaan ku mungkin setan pun dapat ku beli. Jika kau tidak percaya, sebentar lagi dapat kubuktikan.”

Terbeliaklah mata Kwe Pian sian, ucapnya dengan tertawa, “Wah, kalau begitu, rasanya sudah mendekati.”

“Tapi ini pun belum cukup,” tiba-tiba Pwe giok menimbrung.

Gin hoa nio memelototi anak muda itu sekejap, lalu berkata pula dengan perlahan, “Kekejian hatiku, keganasan caraku, kuyakin tidak di bawah siapa pun juga. Jika kau ingin “menyerang racun dengan racun”, maka tiada yang lebih cocok lagi daripada mencari diriku, apalagi …” dengan tersenyum ia meneruskan, “Aku pun seorang perempuan, ada sementara urusan akan jauh lebih leluasa dilakukan oleh perempuan seperti diriku ini daripada lelaki.”

Pwe giok berpikir sejenak, kemudian berkata dengan tertawa, “Baik, kukira sudah cukup sekarang.”

“Dan kau?” tanya Gin hoa nio sambil menatap Kwe Pian sian.

“Kau adalah sahabatku yang ke empat,” jawab orang she Kwe itu dengan tertawa.

Gin hoa-nio berkeplok tertawa, katanya, “Bagus, sekarang kalau ada orang yang berani merecoki kita, maka celakalah dia!”

ooo 000 ooo

Pada setengah hari sebelumnya, mimpi pun Pwe giok tidak menyangka dirinya dapat bersekutu dengan seorang lelaki seerti Kwe Pian sian dan seorang perempuan seperti Gin hoa nio. Tapi sekarang jalan pikirannya sudah berubah sama sekali.

Pertemuan Hong ti tempo hari boleh dikatakan sudah menjaring seluruh pahlawan dan ksatria golongan Pek to (golongan baik), setiap orang yang mengaku sebagai pendekar pembela kebenaran dan keadilan, kini sudah tunduk dan menurut kepada “Ji Hong ho”, seorang diri cara bagaimana Ji Pwe giok mampu melawannya? Dan siapa pula yang mau percaya kepada apa yang dikatakan anak muda ini?

Karena itulah, terpaksa Pwe giok mencari jalan yang lain, satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya, yaitu, “Menyerang raun dengan racun”.

Kini ia sudah tahu jelas wajah asli orang-orang yang menamakan dirinya sebagai pendekar dan ksatria itu. Misalnya Tong Bu siang, itu ketua keluarga Tong yang termasyhur, berapa lebih banyak kebaikannya dibandingkan Gin hoa nio?

Maka kawan yang dicarinya sekarang adalah orang-orang yang biasanya dipandang jahat seperti ular atau kelabang, hanya dengan cara demikian ia dapat menyingkap wajah asli orang-orang yang mengaku sebagai ksatria dan pendekar itu.

Falsafah yang dianut Pwe giok sekarang adalah berdasarkan hati nuraninya sendiri, asalkan dirinya merasa benar, maka cukuplah, perduli pendapat orang lain?

ooo 000 ooo

Di sini adalah sebuah tanah pekuburan yang sepi dan dingin.

Sudah jauh malam, bulan guram bintang suram. Alang-alang tinggi mengelilingi gundukan kuburan yang tak terawat, barangkali tiada tempat lain di dunia yang lebih hening dan rawan dari pada tempat ini.

Yang tertanam di sini rata-rata adalah kaum miskin yang hidup sengsara dan direndahkan, waktu hidup mereka nelangsa, sesudah mati mereka pun kesepian dan kapiran.

Ciong Cing memegangi tangan Kwe Pian sian erat-erat, tapi matanya memelototi Gin hoa nio, katanya dengan mendongkol, “Untuk apa kau bawa kami ke sini? Apa maksudmu?

Gin hoa nio tertawa, jawabnya, “Apakah kau takut, adik yang baik? Sesungguhnya tempat ini tidak menakutkan, bahkan boleh dikatakan sangat menarik.”

Terbelalak lebar mata Ciong Cing, teriaknya, “Menarik? Kau bilang tempat begini ini menarik?”

“Pada malam bulan purnama, arwah setan kuburan ini akan bangun dari kuburan masing-masing dan menari di bawah sinar bulan yang terang. Coba lihat, bisa jadi sekarang juga mereka sudah muncul,” dengan tertawa Gin hoa nio berkata.

Kebetulan angin meniup dan api setan (posfor) beterbangan, pepohonan sama bergemerisik sehingga mirip bisikan setan.

Ciong Cing merinding dan menggigil, tapi ia berlagak tabah dan mendengus, “Huh, jika benar mereka muncul dan menari di sini, aku akan ikut menari bersama mereka.”

Gin hoa nio tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Bagus, melihat anak perempuan cantik seperti kau, tentu saja mereka akan berebut menari dengan kau, bahkan pasti tidak mau melepaskan kau lagi.”

Bergidik Ciong Cing, tanpa terasa ia menubruk ke rangkulan Kwe Pian-sian. Maka tertawalah Gin-hoa-nio hingga terpingkal-pingkal.

Dengan tersenyum Kwe Pian-sian lantas berkata, “Boleh juga kau, hanya kau yang dapat menyembunyikan harta pusaka di tempat begini.”

Gin-hoa-nio mengerling genit, ucapnya, “Apa yang kulakukan ternyata tak dapat mengelabui kau. Isi hatiku juga cuma kau saja yang tahu, apakah kita berdua memang berasal dari sejenis?”

Pwe-giok menghela napas, katanya dengan gegetun, “Moga-moga orang sejenis kalian ini tidak terlalu banyak di dunia ini.”

“Orang sejenis kami ini pasti tidak banyak, cukup kami berdua saja,” jawab Gin-hoa-nio dengan tertawa, lalu ia melirik Kwe Pian-sian dan menambahkan, “Betul tidak?”

Baru saja Kwe Pian-sian tertawa dan belum bicara, serentak Ciong Cing melonjak dan menjengek, “Hm, seumpama kau ingin memikat lelaki, kan tidak perlu di tempat begini?”

“Wah, lihatlah, gentong cuka kita pecah lagi,” seru Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Pwe-giok berkerut kening, katanya, “Apakah benar kau sembunyikan harta bendamu itu di dalam kuburan?”

“Betul,” jawab Gin-hoa-nio. “Kutemukan dua orang gelandangan, kuberi minum arak mereka, ketika mereka sudah lebih dari setengah mabuk, kubawa mereka ke sini untuk menggali sebuah kuburan baru, orang mati di dalam peti kubongkar, lalu kuganti dengan harta pusakaku dan peti mati kututup kembali.”

Dia tertawa terkikik-kikik, lalu menyambung pula, “Coba, bagus tidak akalku ini? Di sini adalah kuburan setan rudin, maling penggali kuburan juga takkan menaksirnya. Bila kutanam harta karunku di sini, kecuali setan, siapa yang tahu?”

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya, “Dan kedua orang yang kau suruh menggali itu?”

“Kutahu caraku menyelesaikan mereka tentu tak dapat mengelabui kau,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Setelah mereka membantuku, dengan sendirinya harus kubalas jerih payah mereka, maka kusediakan satu poci arak yang paling enak, kuiringi mereka menghabiskan arak sepoci penuh itu…” dia menghela napas, lalu menyambung lagi dengan tersenyum, “Cuma sayang, dasar orang melarat, diberi arak enak juga tak sanggup menikmatinya, belum habis arak diminum mereka sudah mabuk dan tak pernah bangun lagi.”

Perbuatan rendah dan keji ini, andaikan orang lain berani melakukannya, tentu juga tidak berani membicarakannya kepada orang lain. Tapi cara Gin-hoa-nio bicara bukan saja bangga seolah-olah harus diberi piala, bahkan ia berkisah seperti perbuatannya ini harus dicatat dalam sejarah.

Kwe Pian-sian memandang Pwe-giok sekejap lalu berkata, “Jika kedua orang itu mau menggali kuburan bagimu, dengan sendirinya mereka pun bukan manusia baik-baik. Orang semacam mereka itu biarpun sehari mati sepuluh atau seratus juga tidak perlu disayangkan. Betul tidak, Ji-heng?”

Sebenarnya Pwe-giok hendak bicara sesuatu, tapi sekarang dia hanya menghela napas saja.

Begitulah mereka berempat terus berputar kian kemari mengelilingi tanah pekuburan itu, sampai sekian lamanya, mendadak Gin-hoa-nio berhenti dan berkata, “Ini dia, di sini. Dihitung dari sebelah timur, inilah kuburan ke-27. Pohon kecil di atas kuburan ini malah aku sendirilah yang menandurnya.

“Tidak perlu kau jelaskan lagi, kupercaya tidak nanti kau lupakan pekerjaanmu ini,” kata Pwe-giok.

“Kuburan ini sudah tidak ada orang matinya melainkan cuma terdiri dari gundukan tanah belaka,” kata Gin-hoa-nio pula. “Ku tahu Ji-kongcu kita pasti tidak sudi menggali kuburan, kalau mencangkul tanah tentunya tidak menjadi soal bukan?”

Padahal sebenarnya dia tidak perlu lagi memancing-mancing Ji Pwe-giok, keadaan anak muda ini sekarang sudah jauh lebih terbuka daripada dahulu, segala apa dirasakannya sebagai kejadian biasa saja, mana dia mempersoalkan gali kuburan segala.

Setelah gundukan tanah dibongkar, tertampaknya sebuah peti mati dari kualitas rendah.

“Ini dia, memang peti mati inilah,” kata Gin-hoa-nio. “Di atas peti malah sudah kuberi tanda. Isi peti mati ini sebenarnya seorang perempuan muda, konon mati kaku saking gemasnya karena suaminya punya istri muda.” Mendadak ia berpaling dan tertawa terhadap Ciong Cing, katanya, “Coba bandingkan, bukankah rasa cemburunya jauh lebih gede daripadamu?”

Muka Ciong Cing tampak pucat pasi, ia menggigit bibir dan tidak menjawab.

Gin-hoa-nio terkikik-kikik, katanya pula, “Konon seorang kalau sudah mati, biarpun mayatnya sudah digotong pergi, tapi kalau malam tiba, arwah setannya tetap akan pulang dan tidur di peti matinya. Karena kalian adalah perempuan sejenis, bila kubuka peti mati ini, dia pasti takkan mencari orang lain, orang pertama yang akan dicarinya pastilah kau. Maka lebih baik lekas kau menyingkir sejauh-jauhnya.”

Meski sedapatnya Ciong Cing bikin tabah hatinya, tapi tanpa terasa langkahnya malah menyurut mundur. Ketika angin malam meniup, ia merasa punggungnya dingin, rupanya keringat dingin telah membasahi bajunya.

“Kriuut”, tutup peti mati telah dibuka. Gin-hoa-nio sendiri yang bermaksud menakuti orang mendadak menjerit kaget malah.

Suaranya yang parau kedengarannya seperti lengking setan di malam sunyi.

Kwe Pian-sian dan Ji Pwe-giok juga saling pandang belaka, mereka seolah-olah juga melenggong kaget.

Di dalam peti mati ternyata tiada harta karun segala, yang ada hanya sesosok mayat yang mengerikan. Wajahnya yang abu-abu dan setengah menyeringai itu seakan-akan hendak berkata kepada Gin-hoa-nio, “Bukan saja arwah setanku sudah pulang ke sini, bahkan mayatku juga pulang lagi!”

Angin meniup pula dan alang-alang gemerisik, api setan bertaburan di udara.

Saking kejutnya Gin-hoa-nio berteriak, “Jelas-jelas mayatnya telah ku bongkar keluar dan jelas-jelas ku taruh harta pusakaku di dalam peti, mengapa…mengapa sekarang…” ia merasa kedua kakinya lemas, belum habis ucapannya ia lantas jatuh terduduk.

Di bawah cahaya bintang yang remang-remang, tangan orang mati itu tampaknya memegang secarik kertas. Kwe Pian-sian mendapatkan satu ranting kayu dan mencungkit kertas itu, ternyata di situ tertulis, “Waktu hidupku keluargaku berantakan akibat seorang perempuan hina, sesudah mati sekarang kau pun akan merampas lagi rumahku ini?”

Kedua baris huruf itu tertulis dengan tak teratur, kertas itupun terasa seram, Kwe Pian-sian merasa jari sendiripun rada gemetar dan kertas itu pun terjatuh. Betapapun tabahnya, tidak urung merinding juga dia.

Hanya Ji Pwe-giok saja, peristiwa aneh dan sukar dibayangkan ini sudah banyak dialaminya, maka ia tidak kaget juga tidak takut, dengan hambar ia tanya Gin-hoa-nio, “Waktu kau tanam harta karunmu itu, apakah benar tidak dilihat orang lain?”

Gin-hoa-nio sudah berbangkit, tapi tubuh masih gemetar, jawabnya dengan terputus-putus, “Ti…tidak ada!”

“Anehlah kalau begitu,” kata Pwe-giok sambil berkerut kening.

“Jika demikian, kecuali kedua orang itu hidup kembali, kalau tidak masa…”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong di kejauhan berkumandang suara orang tertawa terkekeh-kekeh sambil berseru:

“Wah, lezat, nikmat, arak enak, arak bagus, tambah satu poci lagi!”

Di tengah suara tertawa aneh itu, sebuah lampu berkerudung warna merah seperti api setan melayang-layang tiba dalam kegelapan. Sesudah dekat baru kelihatan di balik lampu masih ada dua sosok bayangan orang.

Gin-hoa-nio ketakutan dan berteriak, “Itu…itu dia…kedua orang inilah!”

Kwe Pian-sian mencengkeram tangannya dan bertanya dengan suara tertahan, “Racunmu manjur atau tidak?”

“Kenapa tidak?” jawab Gin-hoa-nio dengan suara parau. “Racun Thian-can, tiada obatnya di dunia!”

Tiba-tiba orang yang membawa lampu merah itu terkekeh-kekeh pula dan berkata, “Hehehe, kau kira setelah kami mati kau racuni lantas segala urusan akan beres?!”

Seorang lagi menanggapi dengan suara serak, “Sudah mati kami hidup kembali dan sengaja hendak menagih nyawa padamu!”

Di bawah cahaya lampu yang merah itu, wajah kedua orang samar-samar kelihatan berlepotan darah, mata, telinga, hidung, mulut, semuanya penuh darah yang bertetes-tetes.

Mendadak Kwe Pian-sian membentak, “Orang mati mana bisa hidup kembali? Biarlah kalian mati sekali lagi!” Berbareng itu berpuluh bintik sinar perak terus menyambar ke depan bagai hujan.

Kedua orang itu menjerit satu kali terus roboh terjungkal, lampu merah itu lantas menyala, di tengah gemerdep cahaya api tubuh kedua orang itu tampak berkelojot, lalu tidak bergerak lagi.

“Haha, kiranya setan juga tidak perlu ditakuti, hanya secomot senjata rahasia saja tidak tahan!” seru Kwe Pian-sian sambil tertawa.

“Tapi…tapi mereka jelas-jelas sudah pernah mati… masa seorang bisa mati dua kali?” seru Gin-hoa-nio dengan gemetar.

Mencorong sinar mata Pwe-giok, tanyanya dengan suara tertahan, “Apakah betul racun Thian-can tidak dapat diobati, sampai perguruanmu sendiri juga tidak mempunyai obat penawarnya?”

Tergetar tubuh Gin-hoa-nio, cepat ia melompat ke depan kedua sosok mayat itu, di bawah cahaya api yang belum padam itu ia memeriksa sejenak, tiba-tiba dia bergelak tertawa pula.

“Apa yang kau tertawakan? Masa cairan yang mengalir di muka mereka itu bukan darah?” tanya Kwe Pian sian.

Gin hoa nio tidak menjawabnya, tapi terus tertawa dan berseru, “Ayah, jika Anda sudah datang, mengapa tidak keluar saja kemari?”

Dalam kegelapan sunyi senyap, mana ada jawaban orang?

Segera Gin hoa nio berkata pula, “Kiranya ayah selalu mengikuti jejakku, harta karun yang kutanam di sini telah engkau gali. Kuracun mati kedua orang ini, engkau pun menghidupkan mereka. Engkau tahu aku pasti akan kembali lagi ke sini, maka engkau lantas menggunakan mereka untuk menakuti diriku?”

Dia tertawa terkekeh-kekeh, lalu menyambung pula, “Sekarang anak benar-benar hampir mati ketakutan, sekali pun ayah hendak menghukum anak, tapi rasanya anak kan sudah cukup dihukum dan mestinya engkau tidak keberatan untuk keluar dan bertemu dengan anak?”

Di tempat gelap di kejauhan sana akhirnya bergema suara seorang, “Pusaka perguruan kita ternyata akan kau caplok sendiri, dosamu ini sebenarnya pantas dihukum mati, mayat hidup tadi hanya sekedar hukuman kecil saja, bila tidak mengingat kau adalah anakku sendiri, tentu kuhukum kau menurut peraturan perguruan.”

Suara itu mengambang terbawa angin, kedengarannya sudah berpuluh tombak jauhnya.

Gin hoa nio menghela napas lega, gumamnya, “Keji amat, satu biji mutiara saja tidak disisakan bagiku.”

Kwe Pian sian termenung agak lama, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Sang ayah ternyata tega menyamar sebagai setan untuk menakuti anak perempuan sendiri, kejadian ini sungguh jarang ada di dunia.”

“Apakah kau kira dia benar-benar cuma hendak menakuti aku saja?” tanya Gin hoa nio.

“Masa bukan begitu?” kata Kwe Pian Sian.

“Tadinya dia mengira aku pasti akan datang sendirian, bila aku ketakutan dan jatuh pingsan maka tamatlah riwayatku. Dengan demikian aku akan mati secara konyol, jadi setan pun tidak tahu siapa yang membunuh diriku. Beginilah biasanya cara Thian can kau kami membunuh orang.”

“Tapi jangan lupa, betapapun dia kan ayahmu?” ujar Pwe giok sambil berkerut dahi.

“Ayah? Memangnya kenapa kalau ayah?” tukas Gin hoa nio dengan hambar. “Thian can kau hanya kenal peraturan perguruan dan tidak kenal kasih sayang sanak keluarga. Kali ini aku tidak dibunuhnya hanya karena dia merasa tidak sanggup merecoki kalian berdua.”

Tiba-tiba ia tertawa terkial-kial lalu menyambung pula, “Coba kalian pikir, bilamana dia seorang yang berperasaan, pantaskah menjadi Thian can kaucu?”

Kwe Pian sian menghela napas panjang, katanya, “Sungguh Thian can kaucu yang tidak bernama kosong! Kekejian hatinya dan keganasan tindakannya sungguh aku pun rada-rada kagum padanya.”

“Dan ada ayah demikian barulah ada anak seperti aku ini,” tukas Gin hoa nio. “Meski dia ingin membunuhku, tapi aku tidak menyalahkan dia, malahan aku merasa bangga mempunyai ayah seperti dia ini.”

“Hm, sekarang kau sepeser saja tidak punya apa yang kau banggakan?” jengek Kwe Pian sian.

Gin hoa nio memandangnya termangu-mangu sejenak, tiba-tiba dia tertawa terkikik-kikik pula, katanya, “Hihihi, kau memang tidak malu sebagai sejenis denganku. Orang kaya memandang hina orang miskin, ini kan lumrah. Aku sendiri pun suka menghina orang rudin. Tapi kalau orang seperti diriku ini sepeser saja tidak punya, bukankah setiap orang di dunia ini akan mati melarat seluruhnya?”

“Memangnya kau…”

Belum lanjut ucapan Kwe Pian sian dengan tertawa Gin hoa nio memotong, “Walaupun aku tidak tahu diam-diam dibuntuti dia, tapi sebelumnya akupun sudah berjaga-jaga akan kemungkinan ini. Sebagian harta pusakaku sudah kusembunyikan di tempat lain.”

“Oo, di mana kau sembunyikan?” Kwe Pian Sian jadi tertarik.

“Sudah tentu di tempat yang selamanya takkan kalian temukan,” ujar Gin hoa nio dengan tertawa penuh rahasia.

ooo 000 ooo

Bahwa ada orang yang menyimpan harta karun di suatu tanah pekuburan yang sunyi, di dalam peti mati seorang perempuan miskin dari rakyat biasa ini saja tidak pernah dibayangkan orang. Tapi sekarang Gin hoa nio bilang sebagian harta karunnya tersimpan di suatu tempat yang tak mungkin ditemukan orang lain. Lalu tempat ini bukankah lebih-lebih sukar untuk dibayangkan?”

Siapa tahu Gin hoa nio bukannya membawa mereka ke suatu tempat yang terlebih sepi dan lebih seram daripada kuburan, tapi berbalik membawa mereka ke suatu tempat yang ramai, ke suatu kota kecil yang tidak jauh dari tanah pekuburan itu.

Meski suasana kota sudah sunyi, namun kelihatan bangunan kota kecil ini cukup menarik.

Melihat orang-orang itu sama heran dan sangsi, Gin hoa nio lantas berkata dengan tertawa, “Tentunya semula kalian menyangka tempat yang akan kutunjukkan pasti suatu tempat terlebih terpencil dan lebih rahasia, siapa tahu aku malah membawa kalian masuk ke kota yang ramai ini, jadi kalian terheran-heran, begitu bukan?”

“Ya,” jawab Pwe giok.

Gin hoa nio menunjuk deretan rumah di dalam kota dan berkata pula, “Kota kecil ini bernama Li toh tin, rumah yang agak tinggi di ujung sana itu adalah sebuah rumah penginapan yang bernama Li keh can. Kira-kira setengah bulan yang lalu pernah kutinggal beberapa hari di hotel itu dengan membawa harta karunku itu.”

“Memangnya sebagian harta itu kau sembunyikan di Li keh can itu?” dengus Ciong Cing.

“Betul, tampaknya kau sudah mulai pintar,” kata Gin hoa nio dengan tertawa. Lalu ia menyambung, “Lebih dulu kubungkus sebagian batu pertama dengan sepotong kain hitam dan kutaruh bungkusan ini di antara rusuk atap rumah, kemudian ku masukkan sisa harta yang lain ke dalam peti dan kusembunyikan di peti mati itu.

Ciong Cing mencibir, jengeknya: :Huh, kukira kau sembunyikan barangmu di tempat yang luar biasa, tak tahunya cuma kau taruh di atap rumah, anak kecil saja dapat menemukan tempat begini.”

“Adik yang baik, meski kau tidak bodoh, bahkan tampaknya mulai pintar, tapi apa yang kau lihat sesungguhnya terlalu sedikit, banyak urusan yang tidak kau pahami,” kata Gin hoa nio dengan tertawa. “Meski tempat yang kugunakan ini tampaknya sangat sederhana, tapi sebenarnya tempat yang paling aman, bila kau tidak percaya boleh kau tanya dia… Dia pasti jauh lebih paham daripadamu…” ia melirik ke arah Kwe Pian sian dan bertanya, “Betul tidak?”

“Betul,” jawab Kwe Pian sian. “Tempat yang paling mudah diketemukan orang terkadang malah tidak diperhatikan dan takkan dicari ke situ, sebab siapa pun tidak percaya bahwa barang-barang yang begitu berharga akan kau sembunyikan di tempat begitu.”

“Apalagi,” tukas Gin hoa nio, “dengan tindakanku itu, sekalipun ada orang diam-diam menguntil diriku, ketika melihat kusembunyikan peti harta karun ke dalam peti mati, tentu dia takkan menyangka sebagian dari harta pusaka itu sudah kusembunyikan dulu di atas rumah.”

Dia melirik sekejap ke arah Ciong Cing, lalu bertanya dengan tertawa, “Nah, adik cilik, sekarang tentunya kau paham bukan?”

“Hm, aku tidak mempunyai kebiasaan main sembunyi-sembunyi begitu, urusan begini hakekatnya tidak perlu kupahami,” jengek Ciong Cing.

“Memang, cukup bagimu asalkan kau paham minum cuka saja,” kata Gin hoa nio dengan tertawa genit.

Saking dongkolnya sampai jari Ciong Cing gemetar, tapi tidak sanggup bersuara lagi.

Gin hoa nio berucap pula, “Ku tahu di depan hotel itu ada sebuah rumah kecil berloteng, dari atas loteng dapat melihat jelas setiap gerak-gerik di sekitarnya. Boleh kita ke loteng itu dulu baru nanti memutuskan cara bagaimana kita harus bertindak.”

“Tak tersangka caramu bekerja juga secermat ini,” ujar Kwe Pian sian dengan tersenyum.

“Orang yang bekerja cermat tentu akan hidup lebih lama sedikit… Bukankah kita bertiga sama-sama orang yang suka bekerja cermat?” kata Gin hoa nio dengan tertawa.

Di atas loteng kecil itu memang dapat memandang sekelilingnya, bahkan hampir seluruh kota kecil itu dapat terlihat dengan jelas, di atas loteng inilah Kim yan cu menyaksikan Gin hoa nio mengerjai “su ok siu” atau tempat binatang buas itu.

Sekarang Gin hoa nio juga mengajak mereka ke atas loteng ini untuk mengintip orang lain. Mereka mengitar ke belakang rumah, lalu meloncat ke atas loteng.

Baru saja mereka berjongkok dan mengintai ke sana, seketika mereka berempat sama melenggong.

Sudah jauh malam begini, rumah penginapan di depan itu ternyata masih terang benderang, jendela juga masih terbentang, entah sejak kapan di sekeliling rumah itu sudah ditambah beberapa bangku tinggi, di atas bangku tersulut lilin raksasa sebesar lengan sehingga rumah yang paling besar di Li toh tin ini terang benderang seperti di siang hari.

Sebuah meja besar tampak tertaruh di tengah ruangan, dua orang duduk berhadapan sedang main catur. Di samping mereka berdiri beberapa orang dengan berpangku tangan, asyik menonton pertandingan catur itu.

Main catur sampai jauh malam, hal ini jarang terlihat, bahkan yang menonton juga berminat mengikutinya sampai laut malam begini, sungguh kecanduan catur mereka ini jarang terdapat.

Yang paling aneh bukanlah permainan catur dan penontonnya melainkan kedua pemain catur, yakni yang mengejutkan Ji Pwe giok dan lain-lain, karena kedua pemain catur itu adalah Tong Bu siang dan Ji Hong ho.

Yang menonton di samping selain Lim Soh koan yang dikenal Pwe giok itu, yang lain-lain kebanyakan gagah perkasa, jelas semuanya jago silat pilihan.

Ciong Cing juga terkejut, sebab mendadak dilihatnya tokoh Kangouw sebanyak itu, ia menjadi kuatir kalau di antaranya ada yang kenal dia sehingga jejaknya akan ketahuan gurunya itu.

Sedangkan terkejutnya Kwe Pian sian adalah karena semula dia menyangka Tong Bu siang dan Ji Hong ho sedang berbuat sesuatu yang kotor yang tidak boleh diketahui orang lain. Tak tersangka kedua orang ini justeru menuju ke Li toh tin sini untuk main catur.

Ji Pwe giok juga terkejut, ia pun tidak menyangka kedua orang itu bisa main catur di sini, lebih-lebih tidak tahu “Tong Bu siang” yang sedang main catur ini Tong Bu siang tulen atau palsu.

Yang paling terkejut di antara mereka berempat ialah Gin hoa nio. Sampai lama ia melenggong, akhirnya ia menghela napas perlahan dan berkata, “Thian benar-benar tidak mau membantu, orang-orang ini tidak mau ke timur atau ke barat, tapi justeru main catur di sini. Dengan beradanya mereka di situ, untuk mengambil barang, terpaksa kita harus menunggu.”

“Marilah pergi saja!” ajak Kwe Pian sian sambil berkerut kening.

“Pergi?” Gin hoa nio menegas.

Kwe Pian sian membisikinya, “Habis kita tidak tahu sampai kapan baru permainan catur mereka akan berakhir. Bahkan habis main catur mereka pun belum tentu akan segera pergi, kan percuma kalau kita hanya menunggu saja di sini.”

“Tidak, kita tidak boleh pergi,” tiba-tiba Pwe giok menyela. “Betapapun, baik tulen atau palsu “Tong Bu siang” ini, dia harus tetap membayanginya hingga jelas.”

Segera Gin hoa nio menyatakan setuju. “Betul, betapa pun kita harus tetap berjaga di sini.”

“Tapi fajar sudah hampir menyingsing, apakah kita dapat tinggal lama-lama di sini?” kata Kwe Pian sian.

Gin hoa nio tertawa, katanya, “Di atas sini tentu tidak dapat, tapi di dalam rumah kan boleh?”

Segera ia mengitar ke bagian belakang dan melongok ke bawah, ia coba mendorong daun jendela tingkat bawah, jendela ternyata tidak tertutup, dengan mudah ia membuka daun jendela dan melayang turun ke sana.

Meski Pwe giok tidak suka sembarangan terobosan di rumah orang, tapi dalam keadaan mendesak ia pikir memang tidak jalan lain, terpaksa ia pun ikut melayang masuk ke sana.

Di dalam rumah itu tiada lampu, jendela yang lain juga tertutup rapat, suasana dalam rumah menjadi gelap gulita, sampai jari sendiri pun tidak kelihatan. Gin hoa nio lantas mengeluarkan ketika dan membuat api.

Tadinya ia menyangka di dalam rumah pasti tidak ada orang, andaikan ada tentu juga sudah tidur seperti babi mampus. Siapa tahu, begitu api menyala, tiba-tiba diketahuinya ada dua pasang mata sedang memandangnya dengan diam-diam.

Kedua pasang mata itu terbelalak lebar, sama sekali tidak berkedip.

Keruan Gin hoa nio terkejut pula, hampir saja obornya jatuh.

Terlihat sekarang, di dalam rumah yang terpajang cukup indah dan resik ini ada sebuah tempat tidur yang sangat besar, di situ berbaring satu orang dengan rambut kusut, mukanya pucat dan kurus kering, hampir tidak menyerupai bentuk manusia lagi.

Saat ini belum musim dingin, tapi orang ini memakai beberapa lapis selimut tebal, sekujur badannya terbungkus rapat di dalam selimut, hanya kepalanya saja yang menongol di luar. Di sampingnya berduduk seorang anak perempuan yang tampaknya baru berusia 11 atau 12, anak ini kelihatan ketakutan sehingga tubuhnya meringkuk menjadi satu, hanya kedua matanya yang besar itu sedang memandang pendatang-pendatang yang tidak diundang ini.

Setelah mengetahui siapa-siapa yang menghuni kamar ini, Gin hoa nio tidak banyak pikir lagi, dengan tertawa manis ia menyapa, “Sudah jauh malam begini, apakah kalian belum tidur?”

Nona cilik itu mengiakan sambil manggut-manggut.

“Jika tidak tidur, mengapa tidak menyalakan lampu, seperti kucing saja bersembunyi dalam kegelapan,” kata Gin hoa nio pula.

Kembali nona cilik itu hanya terbelalak dan menggeleng.

Orang yang tampaknya sakit sudah sangat parah itu tiba-tiba tersenyum rawan, ucapnya, “Di sini tidak ada lampu.”

“Tidak ada lampu?” Gin hoa nio menegas dengan berkerut kening.

Si sakit menghela napas, ucapnya, “Jiwaku sudah tinggal menunggu ajal saja, apa gunanya cahaya lampu? Menanti datangnya ajal dalam kegelapan akan mengurangi rasa takut dan gelisah.”

Dia bicara dengan suara lemah, ada hawa tidak ada tenaga, seolah-olah napasnya setiap saat bisa berhenti.

Gin hoa nio memandanginya sejenak, katanya kemudian, “Orang sebanyak ini mendadak menerobos masuk kamarmu, apakah kau tidak takut?”

“Orang yang sudah hampir mati, rasanya tidak ada sesuatu lagi di dunia ini yang perlu ditakuti,” ujar si sakit dengan hambar.

“Betul,” tukas Gin hoa nio dengan tertawa, “seorang yang sudah hampir mati memang juga ada faedahnya. Misalnya… mestinya akan kubunuh kau, tapi sekarang aku menjadi tidak tega.”

Tiba-tiba ia meraba kepala anak perempuan itu dan bertanya dengan suara halus, “Dan kau… apakah kau pun tidak takut?”

Anak perempuan itu berpikir sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan, “Sacek (paman ketiga) toh sudah hampir meninggal, maka aku pun tidak ingin hidup lagi.”

“Makanya kau tidak takut?” Gin hoa nio menegas.

“Y, tidak takut,” jawab anak perempuan itu dengan mata terbelalak lebar.

“Jika kau tidak takut, dengan sendirinya kau tidak akan berseru dan berteriak bukan?” tanya Gin hoa nio.

“Sacek suka ketenangan, selamanya aku tidak pernah bicara dengan suara keras,” jawab anak itu.

“Ehm, bagus, jika demikian hidupmu akan bertahan lebih lama,” ujar Gin hoa nio dengan tertawa. Ia tidak menghiraukan lagi kedua orang ini, dia mendorong jendela yang di depan itu, hanya sedikit saja daun jendela itu terbuka, lalu ia mengintai ke bawah. Ternyata setiap gerak-gerik di rumah seberang sana dapat terlihat dengan jelas.

Sementara itu obor yang dipegang Gin-hoa-nio sudah padam, keadaan gelap gulita pula, suasana juga sunyi senyap, hanya terkadang terdengar suara “kletak”, suara jatuhnya biji catur di luar sana, suaranya nyaring menyentak pendengaran.

—–

Orang macam apakah sebenarnya anak perempuan dan si sakit di rumah kecil berloteng ini?

Intrik apa pula yang sedang diatur Ji Hong-ho dengan “Tong Bu-siang” tiruannya?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: