Kumpulan Cerita Silat

24/05/2010

Renjana Pendekar – 14

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:31 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, dan M_haury)

Sekilas itu Gin-hoa-nio sudah dapat membedakan arah mulut gua, segera ia melayang ke sana secepat terbang, baru sekarang ia merasakan bobot tubuh Tong Giok sangat berat, hakekatnya anak muda itu seperti tidak mau ikut pergi kalau tidak diseret.

Dalam pada itu terdengar suara Tong Siu-jing lagi membentak, “Jaga rapat mulut gua, siapapun dilarang meninggalkan tempatnya!”

Gin-hoa-nio menjadi gelisah, katanya, “Tong Giok, bila kau tidak mau ikut pergi, kalau aku kepepet, tentu takkan menguntungkan kita masing-masing.”

Entah takut digertak atau mendadak berubah pikiran, segera Tong Giok juga bergerak cepat ke depan, kedua orang menerjang keluar bersama. Dari lengan baju Gin-hoa-nio mendadak terpancar pula selarik sinar perak.

Sekali ini sinar perak itu menyambar ke luar gua, waktu itu para penjaga mulut gua sedang menggeser pintu besi dan ada yang hendak menghadang mereka dengan golok terhunus, tapi senjata rahasia Gin-hoa-nio lantas dihamburkan menyusul dengan terpancarnya sinar perak tadi.

Terdengar serentetan jeritan ngeri, Gin-hoa-nio dan Tong Giok sudah menerjang keluar gua.

Di luar bintang-bintang masih berkelip bertaburan di langit, malam masih sunyi senyap, Kekacauan yang terjadi di dalam gua belum lagi tersiar keluar, hanya seorang penjaga segera memapak mereka dan membacok dengan goloknya, tapi sekali Gin-hoa-nio angkat tangannya, setitik sinar perak menyambar ke depan, kontan orang itu roboh terkapar.

Pada saat itulah di dalam gua baru terdengar suara tanda bahaya, suara bende bertalu-talu, serentak terdengar pula suara bende dimana-mana, perkampungan yang tadinya tenggelam dalam kesunyian malam itu seketika terjaga bangun, hanya sekejap saja dari berbagai penjuru lantas muncul bala bantuan.

Akan tetapi selama beberapa hari ini Gin-hoa-nio sudah mempelajari keadaan perkampungan ini, setiap jalan keluar sudah diperhitungkannya, tanpa pikir ia terus meluncur ke arah tenggara.

Tong Giok sudah berubah seperti boneka saja dan membiarkan dirinya ditarik lari oleh Gin-hoa-nio, ke timur ia ikut ke timur, ke selatan ia turut ke selatan, hanya mulutnya masih melawan, “Penjagaan di sini sangat ketat, tidak nanti kau dapat kabur.”

“Mungkin orang lain memandangnya seperti tembok tembaga dan dinding besi, tapi bagiku tiada ubahnya seperti jalan rata, mau datang atau ingin pergi dapat sesukaku,” kata Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Sementara itu pagar tembok perkampungan Tong sudah kelihatan di depan, memang dengan leluasa ia dapat keluar tanpa halangan. Tapi ucapan Gin-hoa-nio itu agaknya terlalu pagi, sebab mendadak di atas pagar tembok muncul belasan lelaki kekar berseragam hitam, tangan kanan memegang golok dan tangan kiri membawa busur. Yang memimpin barisan ini ternyata Tong Siu-hong adanya.

Terkejut Gin-hoa-nio melihat munculnya Tong Siu-hong secara mendadak ini. Lebih-lebih tangan kirinya kelihatan memakai sarung tangan kulit, entah berapa banyak jiwa orang pernah melayang di bawah hamburan senjata rahasianya.

“Berhenti! Kalau tidak, senjata rahasia kami tidak kenal ampun lagi!” bentak Tong Siu-hong dengan bengis.

“Memangnya senjata rahasia hanya monopoli kalian dan aku tidak mempunyai senjata rahasia?” jengek Gin-hoa-nio dengan tertawa genit. “Kalau perlu, boleh kita coba-coba senjata rahasia siapa yang lebih lihay.”

Tangan Tong Siu-hong yang sudah terangkat itu lantas diturunkan. Begitu juga, mestinya Gin-hoa-nio hendak menyerang, tapi telah dicegah Tong Giok.

Mendadak Tong Giok mengacungkan sepotong pelat besi dan berteriak, “Siapa yang berani merintangi diriku?”

Melihat pelat besi itu, Tong Siu-hong tampak tunduk benar-benar, sambil mengiakan ia lantas memberi tanda. Serentak belasan orang berseragam hitam itu menghilang dengan cepat dan mendadak seperti munculnya tadi.

Di tengah tertawa Gin-hoa-nio bersama Tong Giok mereka lantas melayang keluar pagar tembok.

Di luar sana adalah lereng bukit, suasana malam tetap sunyi. Namun langkah Gin-hoa-nio tidak pernah berhenti, ia melintasi lereng bukit, di kaki gunung ada sebuah kelenteng Toa-pekong tanpa penghuni. Ke situlah ia menuju, agaknya sebelumnya tempat ini sudah dipilihnya.

Orang yang cerdik takkan menjadi maling jika tidak lebih dulu mengatur jalan larinya.

Setiba di kelenteng itu barulah Gin-hoa-nio menghela napas lega, ucapnya dengan tersenyum, “Betapapun kau masih punya liangsim dan mau membantuku lari keluar, tidak percuma kami kakak beradik sayang padamu…”

Sambil bicara ia terus membuat api dan menyalakan lampu minyak di atas meja sembahyang. Tiba-tiba ia melenggong setelah lampu menyala.

Di bawah cahaya lampu kelihatan muka Tong Giok coreng-moreng tak keruan seperti muka setan. Setelah dipandang lebih cermat baru diketahui dia memakai kedok tipis yang aneh dan buruk.

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Mau pakai topeng kan seharusnya pilih topeng yang sedap dipandang, mengapa kau pakai topeng setan begini? Kaget aku, kukira Cihuku yang cakap itu mukanya telah dirusak orang.”

“Justeru lantaran ayahku kuatir ku lari dan bertemu dengan orang luar, maka aku diberinya topeng ini,” ucap Tong Giok dengan menyesal.

Gin-hoa-nio menjulur lidah, katanya dengan tertawa, “Wah, ketat amat pengawasan bapakmu, tapi sekarang topeng setan ini dapat kau tanggalkan bukan?”

“Topeng ini dipasang dengan lem buatan khusus ayahku, jika ditanggalkan sebelum waktunya, mungkin kulit mukaku bisa ikut terbeset,” jawab Tong Giok. Kembali Gin-hoa-nio melenggong, ucapnya kemudian, “Wah, langkah ini ternyata tepat juga, dengan memakai topeng setan ini memang tak dapat dikenali siapapun juga, tapi aku… tetap kuingat bagaimana bentukmu, biar kau memakai topeng apapun tetap tidak menjadi soal bagiku.”

“Masa benar-benar kau masih ingat akan diriku?” tanya Tong Giok.

Gin-hoa-nio menunduk, jawabnya perlahan, “Meski Toaci selalu menyembunyikan dirimu, walaupun cuma satu kali kulihat kau dan hanya beberapa kalimat saja percakapan kita, tapi… tapi selamanya takkan kulupakan suaramu!”

Tong Giok termenung sejenak, ia menghela napas panjang dan berkata, “Apakah baik-baik saja Toacimu?”

Mendadak Gin-hoa-nio mengangkat kepalanya, matanya tampak basah, ucapnya dengan suara rada gemetar, “Dengan susah payah ku tolong kau dari penjara maut itu, kau… kau sama sekali tidak mengucapkan terima kasih padaku, tapi buru-buru tanya tentang Toaci?”

Dengan suara halus Tong Giok berkata, “Aku memang harus berterima kasih padamu. Sungguh tidak mudah kau dapat menemukan diriku.”

Gin-hoa-nio menunduk dan memainkan ujung bajunya sambil menggigit bibir, ucapnya malu-malu, “Asal kau tahu saja.”

“Sungguh aku tidak tahu dengan cara bagaimana kau dapat menemukan diriku?” tanya Tong Giok.

Gin-hoa-nio tertawa cerah, katanya, “Kau kenal Kim-yan-cu?”

“Sep… seperti pernah kudengar nama ini,” jawab Tong Giok.

“Tidak perlu kau dusta,” omel Gin-hoa-nio, “Aku takkan cemburu, masa kau tidak kenal dia, bukankah dia saudara angkat kakak ipar dan kakak perempuanmu?”

“Ya, aku memang kenal dia,” kata Tong Giok dengan tertawa.

“Sebelumnya memang sudah kuketahui hubungannya yang erat dengan keluarga Tong, demi menemukan dirimu, maka akupun telah mengangkat saudara dengan dia.”

“Kau… kaupun mengangkat saudara dengan dia?” Tong Giok menegas.

“Tidak perlu kau terkejut,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Dengan sendirinya dia tidak tahu sesungguhnya siapa aku ini. Dia cuma tahu aku ini anak perempuan yang sebatang kara dan memerlukan seorang sahabat atau kakak yang dapat melindunginya.”

“Ai, dia ternyata sangat mudah ditipu orang,” ujar Tong Giok dengan gegetun.

“Jangan kau remehkan dia,” kata Gin-hoa-nio. “Waktu kuminta dia membawaku ke Tong-keh-ceng ini perlu ku bujuk dengan susah payah.”

“Oo!” melenggong Tong Giok.

“Semula dia ogah-ogahan, untung aku baru menemukan beberapa peti batu permata, maka sengaja kukatakan hendak mencari suatu tempat penitipan yang dapat dipercaya, benarlah dia lantas mengusulkan titip saja di Tong-keh-ceng ini.”

“Dan sekarang kau rela meninggalkan barang-barang berharga itu di Tong-keh-ceng?” tanya Tong Giok.

“Haha, memangnya kau kira aku begitu murah hati dan meninggalkan barang-barang berharga itu bagi orang lain?” kata Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Kau tahu, sepanjang perjalanan hampir sembilan bagian isi peti itu sudah kukeluarkan dan kuganti dengan barang palsu, hanya bagian atas saja ada beberapa potong permata tulen yang memang hendak kuberikan kepada kakak-kakakmu. Selebihnya tidak berharga sama sekali. Mengenai permata yang tulen itu …”

Dia mengerling genit, lalu menyambung, “Permata yang tulen itu memang tidak sedikit jumlahnya, cara bagaimanapun akan kau gunakan atau dihamburkan, selama hidup juga takkan habis.”

“Dan mengapa Tong Lin mau membawa kau ke gua itu?” tanya Tong Giok pula.

“Adik perempuanmu itu sedang birahi,” tutur Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Beberapa hari yang lalu konon dia baru kenal seorang lelaki, sekali bertemu dia lantas tergila-gila padanya. Kukatakan dapat kutemukan lelaki itu baginya, maka segala apapun akan dikerjakannya untukku.”

Tong Giok termenung-menung sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Tampaknya kau telah banyak memeras tenaga bagiku, bilamana diketahui Toacimu, dia pasti sangat berterima kasih padamu.”

Tiba-tiba wajah Gin-hoa-nio yang berseri-seri berubah menjadi murung, matanya basah lagi, ucapnya dengan tersendat, “Kembali Toaci dan Toaci lagi, kau… kau hanya tahu Toaci saja, tapi tahukah kau betapa susah payah usahaku mencari kau, waktu itu dia lagi bekerja apa?”

“Darimana ku tahu?” jawab Tong Giok.

“Dia… dia… ” belum lanjut ucapannya air matanya lantas berderai.

“Apakah… apakah terjadi sesuatu atas dirinya?” tanya Tong Giok.

“Tiada terjadi apa-apa atas dirinya,” jawab Gin-hoa-nio sambil mendekap mukanya.

“Habis mengapa kau menangis?”

“Tolol, aku tidak menangis baginya, tapi bagimu!” omel Gin-hoa-nio sambil membanting kaki.

“Bagiku? Sebab apa?”

“Sebab… sebab aku kasihan padamu, sungguh aku tidak tahan dan berduka bagimu.”

“Berduka bagiku? Memangnya kenapa?”

Mendadak Gin-hoa-nio mendongak dan berseru dengan parau, “Biarlah kukatakan terus terang padamu, pada… pada waktu kau menderita baginya, dia sendiri justeru….”

“Dia kenapa?” Tong Giok menegas

“Dia… dia justeru berada dalam rangkulan lelaki lain,” seru Gin-hoa-nio sambil mendekap mukanya.

Tong Giok seperti melenggong, hingga lama ia tidak bersuara.

“Sebenarnya tidak pantas kukatakan padamu, tapi… tapi akupun tidak tega membohongimu, sungguh aku… aku ikut sedih,” sambil menangis mendadak Gin-hoa-nio menjatuhkan dirinya ke pangkuan Tong Giok.

Sama sekali Tong Giok tidak bergerak, ucapnya sekata demi sekata, “Siapa lelaki itu?”

“Tak dapat kukatakan lagi…” jawab Gin-hoa-nio sambil menangis. “Aku… aku sudah bersalah kepada Toaci.”

“Kan lebih baik jika lebih cepat kau katakan padaku, kalau tidak…”

“Baik, biar kukatakan padamu,” kata Gin-hoa-nio dengan parau, “Lelaki itu bernama Ji Pwe-giok!”

“Ji Pwe-giok!?” Tong Giok menegas.

“Betul. Kau kenal dia?”

“Baru sekarang kudengar namanya,” jawab Tong Giok perlahan.

“Untung kau tidak kenal dia, kalau tidak, tentu kaupun akan tertipu.”

“Oo!?” Tong Giok melongo

“Orang ini sangat culas dan keji, tapi justeru mempunyai seraut wajah yang menyenangkan, wajah yang putih dan cakap, iapun mahir membujuk rayu terhadap perempuan, sebab itulah Toaci ter… tertipu olehnya.”

Kembali Tong Giok termenung agak lama, katanya kemudian dengan muka masam, “Jika hati Toacimu sudah berubah, untuk apa pula kau cari diriku?”

“Masa… masa kau tidak paham?” kata Gin-hoa-nio sambil membenamkan kepalanya ke rangkulan anak muda itu.

“Aku tidak paham,” jawab Tong Giok perlahan

“Ai, kau memang…tolol!” omel Gin-hoa-nio

“Aku memang tolol, kalau tidak masa….”

“Cukup, tidak perlu kau katakan lagi,” sela Gin-hoa-nio. “Meski Toaciku membuat salah padamu, tapi aku…” ia bergeliat dalam pangkuan Tong Giok, ia ingin menggunakan tingkah-lakunya sebagai ganti ucapannya.

Perlahan-lahan akhirnya tangan Tong Giok terangkat dan merangkul pinggang si nona.

“Ooo sayang, padamkan dulu lampunya,” ucap Gin-hoa-nio sambil berkeluh.

“Jangan dipadamkan, sebab ingin kupandang kau sejelasnya,” kata Tong Giok.

“Ai, bu… busuk amat kau!” omel Gin-hoa-nio.

“Ingin kupandang sejelasnya mengapa di dunia ini ada perempuan sekotor, sekeji dan tidak tahu malu seperti kau ini…”

Tidak kepalang kejut Gin-hoa-nio seperti melihat setan, teriaknya, “Apa katamu?”

Segera ia bermaksud melepaskan diri dari rangkulan Tong Giok, namun sudah terlambat, tangan Tong Giok telah bekerja, sekaligus beberapa Hiat-to di punggungnya sudah tertutuk.

Seketika Gin-hoa-nio menggeletak di lantai dan tak dapat berkutik, serunya kuatir, “He, apa-apaan kau ini?”

Tong Giok menjengek, “Apakah betul suara Tong Giok selama hidup tak terlupakan olehmu?”

Sekujur badan Gin-hoa-nio terasa lemas dan dingin, serunya, “He, masa kau bu…. bukan dia…”

Sungguh mimpipun tak terpikir olehnya bahwa orang yang dibawanya lari keluar dari tempat yang terjaga ketat dan hampir tidak mungkin dimasuki orang luar itu, ternyata bukan Tong Giok, bahkan sampai detik inipun dia tidak pernah meragukannya.

Lantas siapakah orang ini kalau bukan Tong Giok? Mengapa dia sedemikian jelas mengetahui urusan Tong Giok dan Kim-hoa-nio?

“Se…. sesungguhnya siapa kau?” tanya Gin-hoa-nio sambil memandangi orang dengan cemas.

Dengan perlahan “Tong Giok” berkata pula, “Sekalipun kau ini perempuan paling licin di dunia juga tak dapat menerka siapakah diriku ini.” – Perlahan ia lantas membuka kedoknya yang berwujud buruk itu dan tertampaklah wajah aslinya.

Sungguh sebuah wajah yang sukar dibayangkan, Wajah yang sukar ditemukan setitik ciripun. Meski pada wajah ini terdapat bekas luka sayatan pisau yang cukup panjang, tapi bekas luka ini tidak membuat orang merasa muak, sebaliknya malah menambah daya tarik kelelakiannya.

Seperti orang gila Gin-hoa-nio menjerit, “Ji Pwe-giok! Kau… mengapa bisa kau?” – Seketika hatinya terasa seperti tenggelam ke dalam kegelapan yang tidak ketahuan dasarnya.

Tersembul senyuman mengejek pada ujung mulut Ji Pwe-giok, ucapnya dengan tak acuh. “Tentu tak kau sangka bukan? Salah mu sendiri, nasibmu yang jelek, masa membuat desas-desus Ji Pwe-giok di depan Ji Pwe-giok. Kalau tidak, cara bagaimana kau memaki Ji Pwe-giok di depan orang pasti akan dipercaya penuh oleh siapa saja yang mendengar.”

Gin-hoa-nio seperti terkesima saking kagetnya dan tidak mendengarkan ucapan anak muda itu, Ia memandangnya dengan linglung dan berulang-ulang bergumam, “Mengapa bisa kau… mengapa bisa kau…”

“Masa tidak pernah kau dengar dari Tong Lin bahwa pernah ku datang ke Tong-keh-ceng sini?” tanya Pwe-giok.

“Ya, tahulah aku,” seru Gin-hoa-nio, “Karena kau sudah kepepet dan menghadapi jalan buntu, akhirnya kau minta bantuan Tong Bu-siang agar menyembunyikan kau… Ai, mengapa sebelum ini tidak pernah kupikirkan hal ini.”

Ji Pwe-giok menghela napas, katanya, “Ucapanmu memang tepat, sesungguhnya aku sudah kepepet dan sudah buntu, pula terluka. Tapi Tong Bu-siang tidak menghina diriku, ia malah melanggar kebiasaannya dan menyembunyikan diriku di tempatnya yang paling rahasia.”

Kini Gin-hoa-nio sudah mulai tenang kembali, ia lantas menjengek, “Tua bangka itu memang tidak jelek terhadapmu, sampai anak perempuannya juga dikelabuinya dan mengira kau ini Tong Giok yang tulen, bahkan menyesali kau tidak mengajak bicara padanya.”

Pwe-giok tersenyum, ucapnya, “Soalnya dia benar-benar tak dapat melupakan suara Tong Giok.”

“O, jika memang demikian, jadi Tong Giok tadinya memang betul-betul disembunyikan di rumah batu itu?”

“Ya, bukan saja memang berada di rumah batu itu, bahkan mukanya juga diberi topeng ini. Tong Bu-siang membawa aku ke sana, lalu memindahkan topeng yang dipakai Tong Giok ke mukaku serta menukarkan pakaian kami. Semua anak murid keluarga Tong yang berdinas di sana juga cuma tahu Tong Bu-siang datang dengan membawa seorang pengiring, hanya sebentar saja mereka lantas pergi lagi. Maka tiada seorangpun yang tahu apa yang terjadi sesungguhnya.”

“Apakah Tong Giok yang asli dibawa pergi Tong Bu-siang?”

“Ya, masa perlu ditanya pula?”

“Dibawa kemana?” tanya Gin-hoa-nio.

“Akupun tidak tahu,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum tak acuh. “Seumpama tahu, seandainya kuberitahukan kepadamu, mungkin kaupun tak dapat mencarinya lagi untuk selamanya.”

Pucat air muka Gin-hoa-nio, tanyanya dengan takut, “Akan… akan kau apakan diriku?”

Pwe-giok memandangnya tanpa menjawab.

“Aku yang melukai wajahmu, ku tahu kau pasti sangat benci padaku…” tanpa memberi kesempatan bagi Pwe-giok untuk bicara, segera ia berteriak dengan suara parau, “Tapi hanya kusayat mukamu satu kali, sebaliknya orang lain telah menusuk dan menabas kau berkali-kali, mengapa kau tidak benci padanya dan cuma dendam padaku.”

Orang lain yang dimaksudkannya jelas Lim Tay-ih adanya.

Dengan pedih Pwe-giok menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya.

Melihat sikap anak muda itu, seketika mata Gin-hoa-nio mencorong terang, serunya pula, “Apalagi, seumpama kulukai dan memaki kau, semua ini hanya karena ku cinta padamu, saking cintanya baru timbul benci. Apakah… apakah tidak kau pikirkan sampai di sini?”

Akhirnya Pwe-giok bersuara perlahan, “Jangan kuatir, pasti tidak kubunuh kau.” – Dia tersenyum pedih, lalu menyambung pula, “Ucapanmu tidak salah, sesungguhnya memang terlalu banyak orang yang pernah mencelakai dan memaki diriku, mengapa aku hanya dendam padamu seorang? Mengapa aku cuma membalas kepadamu saja?”

“Kau tidak benci padaku?” semakin mencorong sinar mata Gin-hoa-nio.

“Tidak, aku tidak benci padamu, akupun tidak bermaksud mengganggu seujung rambutmupun,” jawab Pwe-giok. “Aku…. aku hanya akan mengantar kau pulang ke Tong-keh-ceng.”

Seketika air muka Gin-hoa-nio berubah pucat lagi, serunya dengan suara serak, “Jika… jika kau tidak dendam padaku, mengapa kau perlakukan diriku cara begini! Tentunya kau tahu bilamana berada di Tong-keh-ceng, bagiku hanya ada kematian belaka.”

“Kan sudah kukatakan, biar kau dusta padaku, memaki padaku, bahkan membunuhku juga tidak menjadi soal dan takkan kupikirkan, tapi tak dapat kubiarkan kau menipu dan mencelakai orang lain lagi.”

Baru sekarang Gin-hoa-nio kelabakan, teriaknya dengan suara serak, “Kau binatang, kau pendusta, bicaramu muluk, tapi hatimu terlebih keji dari siapapun. Kau ingin membunuhku, tapi sengaja meminjam tangan orang lain.” – Mendadak ia berteriak lebih keras, “Orang she Ji, bila benar kau lelaki sejati, kalau berani, hayolah turun tangan sendiri dan bunuhlah diriku, untuk itu aku akan kagum padamu. Tapi kalau kau bawa diriku ke Tong-keh-ceng, maka kau adalah hewan, hewan yang lebih kotor daripada babi dan anjing.”

Pwe-giok memandangnya dengan tenang, ia tidak marah juga tidak bicara, menghadapi lelaki demikianlah Gin-hoa-nio benar-benar mati kutu.

Saking gemas dan cemasnya Gin-hoa-nio benar-benar menangis.

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Jika sebelum ini kau tahu menghargai orang dan tidak menganggap orang lain semuanya orang tolol, tentu nasibmu takkan seperti sekarang…”

Mendadak terdengar suara derapan kuda lari, ditengah malam sunyi di angkasa pegunungan, suara derapan kaki kuda terdengar lebih jelas.

Sebelum suara derap kaki kuda mendekat, lebih dulu Pwe-giok telah memadamkan api lampu, Ia tutuk Hiat-to bisu Gin-hoa-nio, iapun sudah meneliti keadaan ruangan kelenteng kecil ini.

Apa yang dilakukan ini bukan lantaran nyalinya kecil, tapi disebabkan dia sudah kenyang pahit-getirnya pengalaman, maka tindakannya sekarang jauh lebih hati-hati daripada orang lain.

Suara derapan kaki kuda tadi sangat cepat dan ramai, sedikitnya ada tiga penunggang kuda yang datang. Jauh malam begini mengapa mereka menempuh perjalanan tergesa-gesa begini? Apalagi menuju ke tempat terpencil ini?

Memangnya Pwe-giok sudah sangsi, apalagi kemudian didengarnya suara kuda lari itu menuju ke kelenteng ini, cepat ia angkat tubuh Gin-hoa-nio, terus melompat ke atas belandar.

Jika orang lain, tempat yang dibuat sembunyi kalau tidak panggung pemujaan tentu adalah kolong meja. Namun tempat-tempat itu diketahui oleh Pwe-giok dalam keadaan bersih, tidak banyak debunya, hal ini menandakan tempat-tempat itu sering digunakan orang.

Hal-hal ini pasti takkan ditemukan orang lain, andaikata diketahui juga takkan diperhatikan, namun Pwe-giok sudah kenyang mengalami mara bahaya sehingga setiap tindak tanduknya sekarang berpuluh kali lebih hati-hati dan lebih cepat daripada orang lain.

Benarlah, beberapa penumpang kuda itu akhirnya berhenti di luar kelenteng kecil ini.

Terdengar seorang diantaranya bertanya, “Apakah di sini?”

“Ya, di sini,” jawab seorang lagi. “Silahkan kalian masuk.”

Dalam kegelapan Pwe-giok melihat berturut-turut masuk tiga orang, wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya perawakan orang pertama kelihatan jangkung, tampaknya sangat hapal terhadap keadaan kelenteng ini.

Selagi heran, orang itu sudah menyalakan lampu minyak di atas meja. Di bawah cahaya lampu dapatlah Pwe-giok melihat jelas muka ketiga orang itu. Betapa kagetnya hampir saja ia jatuh terjungkal dari tempat sembunyinya.

Orang yang berperawakan jangkung itu adalah seorang pemuda berpakaian perlente, pinggangnya bergantung sebuah kantung kulit beraneka warna, itulah tanda pengenal khas anggota keluarga Tong.

Dua orang yang ikut masuk itu, yang satu berjubah sulam dan berkopiah tinggi, pedang bergantung di pinggang, rambutnya sudah mulai ubanan, tapi sikapnya tetap gagah, tiada sedikitpun tanda-tanda ketuaannya.

Seorang lagi berwajah kereng, langkahnya mantap, perbawanya besar.

Kedua orang ini ternyata Leng hoa-kiam Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong dari Thay-oh.

Kedua tokoh yang rapat hubungannya dengan Ji Hong-ho ini datang bersama anak murid keluarga Tong, bahkan tidak menuju ke Tong-keh-ceng sebaliknya datang ke tempat terpencil seperti ini, lalu apakah yang hendak mereka lakukan?

Kejut dan heran Pwe-giok, bahkan juga kesal.

Yang membuatnya kesal ialah Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong ini, baik gerak-gerik maupun wajahnya sungguh mirip dengan yang asli, tampaknya intrik mereka ini benar-benar sukar untuk dibongkar.

Dilihatnya mata Ong Kim-liong mencorong seperti sinar kilat, ucapnya sambil mengusap jenggot, “Mengapa Bu-siang Lojin mengundang kami ke tempat terpencil dan kotor ini untuk bertemu? Coba kalau Tong-kongcu tidak datang sendiri, tentu kami akan merasa curiga kesungguhan hati Bu-siang Lojin.”

Pemuda baju perlente itu menjawab dengan tersenyum, “Demi keamanan agar tidak dilihat orang dengan sendirinya ayahku bertindak sehati-hatinya. Kecuali Wanpwe sendiri, anak murid perguruan kami tiada satupun yang tahu. Bukankah kedua Cianpwe juga menghendaki agar urusan ini jangan terlalu banyak diketahui orang.”

“Hahahaha, betul, memang inilah transaksi perdagangan kita sendiri dan tidak perlu diketahui orang lain.” ujar Ong Kim-liong dengan bergelak tertawa.

Pwe-giok tambah terkejut. Ia yakin pemuda perlente itu tentu Tong Jan, putera sulung Tong Bu-siang. Sedangkan kedatangan Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong ini adalah untuk memenuhi janji pertemuan dengan Tong Bu-siang. Sesungguhnya transaksi perdagangan apa yang hendak mereka lakukan? Dan mengapa transaksi ini harus dirahasiakan?

Sejenak kemudian, terdengar Ong Kim-liong berkata pula, “Waktu yang dijanjikan ayahmu apakah betul pada malam ini juga?”

“Betul, urusan sepenting ini masa Wanpwe bisa salah ingat?” jawab Tong Jan dengan tertawa.

Tiba-tiba Lim Soh-koan menyeletuk, “Konon keparat itu sangat tinggi ilmu silatnya, bahkan sangat licin, apakah ayahmu yakin benar-benar dapat menangkapnya?”

Tong Jan tersenyum, “Biarpun keparat ini sangat licin, tapi terhadap ayahku dia percaya penuh dan tidak sangsi sedikitpun. Apalagi ayah sudah menjebloskan dia ke tempat yang terjaga sangat ketat dan dilarang didatangi siapapun juga, sekalipun dia tidak terluka juga jangan harap akan dapat kabur.”

Lim Soh-koan tersenyum, ucapnya, “Jahe memang pedas yang tua, cara kerja Bu-siang Lojin sungguh sangat mengagumkan kami.”

Ong Kim-liong lantas berkata pula, “Tapi Kongcu perlu tahu, terhadap keparat itu, Bengcu juga tiada maksud jahat, yang dikuatirkan adalah kemungkinan keparat itu akan memperalat nama mendiang putera Bengcu untuk bertindak sewenang-wenang di luaran, sebab itulah Bengcu ingin menemukan dia…”

“Ya, Wanpwe paham,” tukas Tong Jan dengan tertawa.

Ong Kim-liong juga tertawa, katanya, “Setelah ayahmu menyelesaikan urusan ini bagi Bengcu, dengan sendirinya Bengcu takkan melupakan kebaikannya. Tapi saat ini Bengcu mengemban tugas pengamanan dunia persilatan, setiap tindakannya tentu akan menarik perhatian orang, beliau kuatir ada anasir-anasir tak bertanggung jawab akan menggunakan kesempatan ini untuk menyiarkan desas-desus, sebab itulah urusan ini perlu dirahasiakan.”

“Cianpwe jangan kuatir, Wanpwe pasti takkan membocorkan sedikitpun urusan ini,” kata Tong Jan.

Mendengar sampai di sini, kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin seluruhnya.

“Keparat” yang disinggung Lim Soh-koan dan begundalnya itu tidak perlu disangsikan lagi pastilah dirinya. Nyata, iblis yang menyaru sebagai ayahnya, yaitu Ji Hong-ho, masih juga tidak mau mengabaikan dia.

Lalu Tong Bu-siang yang mau melanggar peraturannya dan menerima dia itu ternyata juga jahanam yang bermuka manusia tapi berhati binatang, setelah dia disembunyikan di Tong-keh-ceng, diam-diam ia telah dijualnya.

Untung secara tidak sengaja Gin-hoa-nio telah menyerobotnya keluar, kalau tidak, saat ini mungkin dirinya sudah terjeblos di dalam cengkeraman kawanan iblis ini dan nasibnya sukar untuk dibayangkan.

Berpikir sampai di sini, seketika Pwe-giok bermandi keringat dingin.

Didengarnya Tong Jan berkata pula, “Setelah urusan ini selesai, diharap cianpwe juga jangan lupa kepada urusan yang telah dijanjikan.”

“Ucapan Bengcu laksana gunung kukuhnya, masa ingkar janji?” ujar Lim Soh-koan dengan serius.

Ong Kim-liong tertawa dan berkata, “Asalkan ayahmu dapat dipercaya ucapannya, kami menjamin akan menumpas Khing-hoa-samniocu. Bengcu memerintah seluruh dunia persilatan, kekuasaannya tak terbatas, masa cuma Thian-jan-kau yang tiada artinya itu tak dapat membereskannya?”

“Bila Bengcu sudi menumpaskan bibit bencana bagi ayahku, selanjutnya apapun perintah Bengcu, segenap anggota keluarga Tong yang berjumlah beberapa ratus jiwa pasti siap melaksanakannya,” kata Tong Jan.

Kiranya Tong Bu-siang takut diganggu oleh “Khing-hoa-samniocu”, demi menghilangkan penyakit ini dia rela mengkhianati Ji Pwe-giok.

Dan rupanya inilah transaksi dagang mereka.

Mendengar semua percakapan itu, sungguh Pwe-giok sangat sedih, ingin menangispun tidak keluar air matanya. Tak tersangka olehnya seorang tokoh suatu perguruan besar yang disegani sebagai Tong Bu-siang bisa berubah menjadi pengecut dan rendah begini.

“Krek”, mendadak terdengar bunyi sesuatu, tempat patung pemujaan mendadak bergeser, menyusul Tong Bu-siang muncul dari meja sembahyang.

Di bawah meja sembahyang itu ternyata ada sebuah jalan tembus di bawah tanah, kiranya patung Toa-pekong itulah pusat pengendali jalan rahasia ini. Untung sebelumnya Ji Pwe-giok bertindak sangat hati-hati, kalau dia sembarangan mencari tempat sembunyi, saat ini dia tentu sudah kepergok.

Di bawah cahaya lampu kelihatan Tong Bu-siang bermuka pucat dan lesu, ia berusaha menenangkan diri dan memberi hormat serta menyapa, “Anda berdua sungguh orang yang bisa pegang janji, kedatanganku agak terlambat, harap maaf.”

Gemerdep sinar mata Ong Kim-liong, ia membalas hormat dan berkata, “Ah, tidak apa-apa. Tentunya Tong-tayhiap telah membawa kemari Ji Pwe-giok itu?”

Tong Bu-siang berdehem beberapa kali, lalu menjawab, “Sebenarnya urusan ini tidak menjadi soal, siapa tahu… siapa tahu…”

Seketika Ong Kim-liong menarik muka dan berkata, “Adakah sesuatu perubahan mendadak?”

Tong Bu-siang menghela napas panjang, jawabnya kemudian dengan menyengir, “Urusan ini memang betul ada perubahan, sebab Ji Pwe-giok telah… telah kabur.”

“Apa katamu?” Ong Kim-liong menegas dengan melengak.

“Perubahan yang tak terduga ini, sungguh membuatku merasa malu, sekali lagi kuminta maaf,” ucap Tong Bu-siang dengan menyesal.

“Perubahan tak terduga bagaimana? Hm, jangan-jangan kau sengaja hendak mempermainkan kami?” tanya Ong Kim-liong dengan gusar.

“Biarlah langit dan bumi menjadi saksi, apa yang kukatakan adalah sejujurnya,” jawab Tong Bu-siang sambil menyengir.

“Seumpama betul keteranganmu, masa Tong-keh-ceng yang gilang gemilang dapat dibuat terobosan orang sesukanya?” jengek Lim Soh-koan.

“Anda mungkin tidak tahu bahwa demi membuat tenteram hati Ji Pwe-giok itu, maka waktu ku ajak dia masuk ke gua rahasia kami, secara tidak sengaja telah kuserahkan sebuah Lengpay (pelat besi tanda perintah) yang biasanya dapat digunakan untuk keluar masuk tanpa rintangan,” demikian tutur Tong Bu-siang.

“Tanpa sengaja apa?” damperat Ong Kim-liong dengan gusar. “Kukira kau mempunyai tipu muslihat lain?!”

“Ah, sama sekali tiada maksud demikian!” jawab Tong Bu-siang.

“Jika kau tiada mempunyai tipu muslihat lain, maka pastilah kau ini sudah tua dan pikun…” jengek Lim Soh-koan.

Sejak tadi Tong Jan sudah menahan gusar, sekarang mendadak ia menggebrak meja dan membentak, “Kalian ini menganggap dirimu ini apa? Berani bicara sekasar ini kepada ayahku?”

Kalau Tong Bu-siang tambah tua tambah penakut, tidak perkasa lagi seperti waktu mudanya, sedangkan putranya justeru menginjak masa keras dan berani, maka bentakannya tadi membuat Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong terkejut.

Dengan bengis Tong Jan berteriak pula, “Hendaklah kalian jangan lupa tempat apakah sini. cukup orang she Tong memberi aba-aba, mungkin tidaklah mudah bagi kalian untuk pergi dengan selamat!”

Mendadak Ong Kim-liong bergelak tertawa, katanya, “Kenapa Tong-kongcu marah-marah begini? Yang kami sayangkan hanya karena urusan penting ini telah gagal, sekalipun ada ucapan kami yang kurang pantas, masakah kami berani berlaku kasar terhadap Tong-kongcu?”

Mendengar nada orang berubah lunak, Tong Bu-siang lantas membusungkan dada, ucapnya dengan tersenyum sambil mengusap jenggotnya, “Meski urusan kita telah gagal, tapi biarpun Bengcu datang sendiri juga takkan menyalahkan diriku.”

“Apakah betul?” ujar Ong Kim-liong dengan tersenyum aneh.

Sekonyong-konyong terdengar suara langkah orang yang ramai, delapan orang berseragam hitam ringkas dan bercaping dengan golok terhunus menerobos masuk.

Tong Bu-siang terkejut, serunya, “He, ada… ada apa ini?”

Belum lenyap suaranya, seorang kakek berbaju hijau dengan wajah putih bersih melangkah masuk dengan pelahan, siapa lagi dia kalau bukan Bulim-bengcu sekarang, Ji Hong-ho adanya.

Keringat dingin membasahi tangan Ji Pwe-giok. Dahi Tong Bu-siang juga berkeringat. Terpaksa ia menyapa sambil memberi hormat, “Maaf, hamba tidak tahu Bengcu akan berkunjung kemari sehingga tidak dilakukan penyambutan selayaknya, mohon Bengcu memberi ampun.”

“Ah, ucapan Tong-heng terlalu sungkan,” jawab Ji Hong-ho dengan tak acuh. Ia memandang sekejap ke arah Tong Jan yang masih bersikap marah itu dan menambahkan, “Yang ini tentunya putera Anda bukan?”

“Betul, dia anak sulungku, Tong Jan,” jawab Bu-siang dengan mengiring tawa.

Ji Hing-ho mengangguk dan tersenyum, katanya, “Bagus, bagus, benar-benar ksatria muda perkasa, tidak malu sebagai putera dari ayah ternama… Eh, entah sudah berapa usianya tahun ini?”

“Wanpwe berusia 26 tahun,” jawab Tong Jan sambil membungkuk tubuh.

“Wah, orang pemberang begini dapat hidup selama 26 tahun, sungguh tidak mudah,” ujar Ji Hong-ho dengan acuh tak acuh.

Setelah Tong Jan melengak, mukanya menjadi pucat.

Pelahan Ji Hong-ho berkata pula, “Di hadapan orang tua bisa jadi orang muda akan bersikap kurang hormat, ini dapat dimengerti, tapi kalau sampai menggebrak meja segala, kukira cara demikian agak keterlaluan.”

Tong Jan tidak tahan, ia membantah, “Tapi sikap Tecu itu bukannya mengacau tanpa beralasan.”

“Oo, jadi Tong-kongcu tidak terima ucapanku ini? Memangnya tadi orang she Ji yang mengacau tanpa alasan?” kata Ji Hong-ho dengan tersenyum.

Belum Tong Jan menjawab, cepat Tong Bu-siang membentaknya, dengan mengiring tawa ia berkata kepada sang Bengcu, “Maaf, jika anak ini ada kesalahan, biarlah kumohonkan ampun baginya.”

Tiba-tiba Ji Hong-ho menarik muka dan berkata, “Yang kutanya ialah putramu, sebaiknya Tong-heng jangan ikut bicara.”

Dan Tong Bu-siang benar-benar tidak berani ikut bicara lagi.

Tong Jan menarik napas dalam-dalam, ucapnya kemudian dengan suara berat, “Biarpun Wanpwe orang bodoh, pernah juga kubaca kitab ajaran Nabi, mana berani ku lawan orang tua. Tapi kalau orang lain menghina ayahku, betapapun Wanpwe tidak dapat tinggal diam!!”

“Lalu mau apa kalau tidak dapat tinggal diam?” tanya Ji Hong-ho.

Saking tak tahan Tong Jan berteriak, “Barang siapa menghina ayahku, biarpun mengadu jiwa juga akan ku labrak dia.”

Ji Hong-ho tersenyum, katanya, “Oo, apa betul? Sungguh terpuji….” belum lanjut ucapannya, mendadak tangannya menampar ke samping.

Entah karena keder terhadap perbawa sang Bengcu atau memang tak dapat menghindar serangan kilat itu, tahu-tahu “plok”, muka Tong Bu-siang tergampar dengan telak.

Lalu Ji Hong-ho berpaling pula kepada Tong Jan dan bertanya dengan tersenyum, “Nah, bagaimana?”

Air muka Tong Jan sebentar pucat sebentar hijau, meski mengepal, tapi tangan terasa gemetar.

Sambil mendekap mukanya yang bengap, dengan suara serak Tong Bu-siang membentak, “Kau binatang yang durhaka, masa kau berani kurang ajar terhadap Bengcu?”

“Sudah tentu ia tidak berani,” tukas Ji Hong-ho dengan tersenyum tak acuh, “plak”, mendadak sebuah tangannya menyampuk pula dan tepat mengenai muka Tong Bu-siang.

Tong Jan tidak tahan lagi, air matanya bercucuran dan menangis sedih, teriaknya, “Ayah, anak tidak berbakti dan tidak… tidak dapat…” di tengah jerit pilu dan murkanya serentak ia menubruk ke arah Ji Hong-ho.

“Jangan, anak Jan!” Tong Bu-siang menjerit kaget.

Akan tetapi sudah terlambat, pukulan Tong Jan tepat mengenai bahu Ji Hong-ho, “krek”, tahu-tahu pergelangan tangan Tong Jan sendiri tergetar patah, tubuhnya juga terpental dan mencelat.

Sebaliknya Ji Hong-ho masih tenang-tenang saja sambil memangku tangan, ucapnya dengan tertawa, “Tong-heng, nyali putramu memang teramat besar.”

Tong Bu-siang lantas berjongkok di tanah dengan air mata bercucuran, katanya dengan terputus-putus, “Anak kecil tidak tahu aturan, mohon… mohon Bengcu memberi ampun padanya…”

Ji Hong-ho menghela napas, katanya, “Sudah tentu tidak kupikirkan perbuatannya, hanya saja… kaupun peserta pertemuan Hong-ti, masa kau tidak tahu hukuman apa bagi orang yang berani menghina dan menyerang Bengcu?”

Tong Bu-siang menyembah dan berkata pula, “Mohon Bengcu sudi mengampuni jiwanya, biar kupotong sendiri kedua tangannya untuk minta maaf kepada Bengcu.”

Ji Hong-ho tidak menjawab, ia berpaling ke arah Ong Kim-liong dan bertanya, “Bagaimana?!”

Dengan suara bengis Ong Kim-liong lantas berseru, “Undang-undang yang ditetapkan dalam pertemuan Hongti mendapat perhatian sepenuhnya di seluruh dunia, apabila undang-undang itu dilanggar, lalu siapa pula yang akan menghargai Bengcu, siapa pula yang menghargai pertemuan Hongti?”

Ji Hong-ho lantas berpaling pula ke arah Tong Bu-siang dan berkata, “Dan bagaimana dengan pendapatmu? Terikat oleh undang-undang, terpaksa aku tak dapat berbuat apa-apa.”

Dalam pada itu Ong Kim-liong sudah menggusur Tong Jan keluar, menyusul lantas terdengar jeritan ngeri di luar. Dengan sempoyongan Tong Bu-siang berdiri, hampir saja jatuh terkulai lagi di lantai.

Di tempat sembunyinya Ji Pwe-giok dapat mengikuti adegan dramatis itu, tanpa terasa air matanya berlinang-linang. Kalau saja dia harus bertahan hidup demi perjuangannya yang belum selesai, tentu dia sudah melompat turun untuk mengadu jiwa.

Dilihatnya Ji Hong-ho sedang menatap Tong Bu-siang dengan tajam, lama dan lama sekali, tiba-tiba ia berkata pula, “Kau berduka atas kematian anakmu, tentunya Tong-heng bermaksud menuntut balas bukan?”

Dengan napas terengah-engah Tong Bu-siang menjawab dengan menunduk, “Apa yang terjadi adalah akibat perbuatan anak itu sendiri, mana berani kusalahkan orang lain.”

Ji Hong-ho tertawa cerah, katanya, “Bagus, Tong-heng memang orang yang bijaksana.”

Makin rendah Tong Bu-siang menunduk, begitu rendah sampai Ji Pwe-giok ikut malu baginya.

Terdengar Ji Hong-ho berkata pula, “Dari jauh ku datang ke sini, tahukah Tong-heng apa tujuanku?”

“Dengan sendirinya untuk Ji Pwe-giok itu,” jawab Bu-siang dengan ragu.

“Hahaha, salah kau!” seru Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Salah?” Tong Bu-siang melengak.

“Ketahuilah, tujuanku mencari Ji Pwe-giok itu adalah karena ingin kuselidiki asal-usulnya, sebab ku kuatir dia adalah putraku yang durhaka itu, tapi sekarang sudah jelas diketahui bahwa dia memang orang lain. Sebab itulah, selanjutnya tentang orang ini, apakah dia masih hidup atau sudah mampus tidak ku perduli lagi.”

Urusan ini sebenarnya suatu rahasia, kini Ji Hong-ho menguraikannya secara blak-blakan, tentu saja Ji Pwe-giok terkesiap, lebih-lebih Tong Bu-siang, ia terkejut dan sangsi pula, tanyanya dengan tergagap-gagap, “Jika demikian, untuk… untuk keperluan apakah kedatangan Bengcu ini?”

“Kedatanganku ini adalah ingin memperkenalkan beberapa sahabat kepadamu,” jawab Ji Hong-ho.

Tong Bu-siang tambah heran, ia berkedip-kedip tanyanya, “Sahabat? Entah siapa-siapa saja?”

“Memang aneh kalau diceritakan,” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa. “Terhadap orang ini jelas Tong-heng sudah sangat kenal, sebaliknya orang ini selamanya tidak pernah melihat Tong-heng.”

Seketika Bu-siang melongo, sama sekali tak dapat dirabanya siapakah gerangan yang dimaksudkan, iapun tidak tahu untuk maksud apakah Ji Hong-ho hendak memperkenalkannya kepada “sahabat” yang disebut itu.

Tiba-tiba ia merasa wajah Ong Kim-liong dan Lim Soh-koan menampilkan semacam senyuman yang misterius, seketika timbul rasa ngerinya dari kaki ke ulu hati.

Diam-diam Pwe-giok juga merasa heran. Untuk apakah Ji Hong-ho sengaja membawa seorang “sahabat” untuk dipertemukan kepada Tong Bu-siang, bahkan sebelumnya dengan suatu dan lain alasan dibunuhnya lebih dulu anak lelaki Tong Bu-siang.

Apakah karena orang ini tidak boleh dilihat oleh Tong Jan?

Siapakah orang ini sesungguhnya? Mengapa begini misteriusnya?

Intrik apa yang tersembunyi di balik semua kejadian ini?

Pwe-giok merasa tangan dan kakinya rada dingin, dahinya juga berkeringat dingin.

Dalam pada itu Ji Hong-ho telah memberi tanda, beberapa lelaki berseragam hitam tadi lantas melangkah keluar, menyusul dari kegelapan di luar lantas menyelinap masuk seorang.

Orang ini memakai kopiah dan berjubah hijau. Waktu Pwe-giok mengintai dari atas, tentu saja muka orang ini tidak kelihatan. Tapi Tong Bu-siang dapat melihat dengan jelas wajah orang yang baru masuk ini.

Tiba-tiba Pwe-giok melihat, setelah berhadapan dengan orang yang baru masuk ini, seketika wajah Tong Bu-siang merinding seperti melihat setan, air mukanya penuh rasa takut, tubuhnya berkejang dan mulut melongo…

Pwe-giok terperanjat, ia tidak tahu sesungguhnya terdapat keanehan apa pada wajah orang yang baru datang ini sehingga dapat membuat Tong Bu-siang ketakutan setengah mati.

Dengan tersenyum Ji Hong-ho lantas berkata, “Bagaimana, Tong-heng. Tidak keliru bukan perkataanku, bukankah kau sudah kenal dia?”

“Aku…. aku… dia…” Tong Bu-siang gelagapan dengan suara parau, kerongkongannya seperti tersumbat dan tak dapat bicara lancar.

“Sudah lama dia ingin bertemu dengan Tong-heng, cuma waktunya yang tepat belum tiba, juga aku tidak menghendaki Tong-heng bertemu dengan dia… Apakah Tong-heng sudah tahu apa sebabnya?”

“Ti…. tidak tahu.” jawab Bu-siang.

“Sebab tidak kuhendaki Tong-heng mati terlalu cepat,” ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum.

Dahi Tong Bu-siang penuh keringat, baru diusap keringat sudah merembes keluar lagi, dengan suara parau ia tanya, “Ap… apa maksudnya?”

“Sebab pada waktu kalian bertemu, pada saat itu pula ajalmu tiba,” jawab Ji Hong-ho dengan tertawa.

Terbelalak lebar mata Tong Bu-siang, ia menatap orang yang misterius itu, butiran keringat berketes-ketes di mukanya dan merembes ke matanya, tapi dia sama sekali tidak berkedip.

“Apakah kau ingin memandangnya dengan lebih jelas? … Baik!” mendadak Ji Hong-ho menyingkap topi orang itu yang berpinggir lebar dan…

Ternyata wajah orang inipun wajah “Tong Bu-siang”, mukanya, alisnya, matanya, hidungnya, semuanya mirip, persis seperti berasal dari satu cetakan.

Baru sekarang Pwe-giok dapat melihatnya dengan jelas, tidak kepalang tegangnya sehingga sekujur badan sama gemetar.

Akhirnya dengan mata kepala sendiri ia dapat menyaksikan rahasia kawanan iblis ini!,

Didengarnya Ji Hong-ho lagi berkata dengan tertawa, “Nah, sekarang Tong-heng sudah melihat jelas bukan? Bukankah ini suatu karya seni yang belum pernah ada sejak dahulu hingga kini. Biarpun seniman paling tersohor dari jaman dulu hingga sekarang banyak yang dapat melukis dengan sedemikian indahnya, tapi semuanya itu adalah benda mati. Dan buah karya kami sekarang, bukan saja terdiri dari darah daging, bahkan juga berjiwa.”

Tong Bu-siang sudah mirip sebuah patung yang tak berjiwa dan tidak bergerak.

“Dengan susah payah kami berusaha, dengan pembantu-pembantu mengawasi gerak-gerikmu, akhirnya dapatlah kami ciptakan Tong Bu-siang yang kedua. Untuk ini, Tong-heng, kukira kau harus merasa bangga.”

“Tapi… tapi sesungguhnya apa sebabnya?” tanya Bu-siang.

“Masa sampai sekarang Tong-heng belum lagi paham?” tanya Ji Hong-ho sambil bergelak tertawa.

“Aku benar-benar tidak paham,” kata Bu-siang sambil menjilat bibirnya yang kering.

Serentak Ji Hong-ho berhenti tertawa, lalu berucap sekata demi sekata, “Sebab Tong Bu-siang yang pertama sudah hidup cukup lama, sekarang dia boleh istirahat dengan baik-baik dan biarkan Tong Bu-siang yang kedua menggantikan kehidupannya.”

Sekonyong-konyong Tong Bu-siang bergelak tertawa, tertawa latah.

Ji Hong-ho memandangnya dengan dingin, sejenak kemudian baru ia berucap pula, “Pada saat demikian Tong-heng masih sanggup tertawa, sungguh peristiwa aneh juga.”

“Mengapa aku tidak dapat tertawa, aku justeru tertawa geli,” teriak Tong Bu-siang sambil terbahak-bahak. “Hahaha, dengan boneka ciptaan kalian ini akan kalian gunakan untuk menggantikan diriku?”

“Kenapa kau heran? Sudah beberapa kali kami berhasil!” jawab Ji Hong-ho dengan dingin.

“Sekarang percayalah aku kepada perkataan Ji Pwe-giok itu, dengan sendirinya akupun tahu kalian sudah berhasil beberapa kali,” kata Tong Bu-siang. “Tapi aku Tong Bu-siang tidaklah sama dengan kau Ji Hong-ho, juga tidak sama dengan orang-orang seperti Cia Thian-pi, Ong Ih-lau, Sebun Bu-kut dan sebagainya.”

“Di mana perbedaannya?” tanya Ji Hong-ho dengan sinar mata gemerdep.

“Orang-orang ini andaikan tidak berdiri sendirian, orang yang berdekatan dengan mereka juga tidak banyak, kalian dapat menghancurkan Ji Pwe-giok, dapat memaksa minggat Lim Tay-ih, tapi dapatkah kalian membunuh habis anak murid keluarga Tong? Meski kalian dapat membinasakan anakku, Tong Jan, tapi aku masih banyak anak murid yang lain, pada satu hari rahasia kalian pasti akan terbongkar.”

“Begitukah?” ucap Ji Hong-ho dengan tak acuh dan tetap tenang.

“Sekalipun kalian dapat menciptakan orang ini sehingga serupa diriku, bahkan cara bicara dan gerak-geriknya juga serupa, tapi apakah kalian tahu siapa nama kecil putera puteriku dan muridku? Tahukah kalian bilakah hari lahir mereka? Tahukah kalian sifat dan perangai mereka masing-masing?….” Tong Bu-siang terbahak-bahak, lalu menyambung pula, “Suatu keluarga besar seperti keluarga Tong ini tentu terdapat banyak hal yang tidak diketahui orang luar, untuk bisa menjadi kepala keluarga sebesar ini, memangnya semudah perkiraan kalian?”

Ji Hong-ho terdiam sejenak, katanya kemudian, “Betul juga ucapanmu, memang ada sementara hal-hal yang tidak kami ketahui, tapi dengan cepat pasti akan kami ketahui.”

“Kukira belum tentu mampu,” jengek Bu-siang.

“Tapi aku yakin sanggup, kupercaya kau pasti akan membeberkan segala rahasiamu kepada kami,” kata Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Tidak, siapapun jangan harap akan dapat memaksa diriku,” bentak Bu-siang.

“Orang lain mungkin tidak dapat, tapi kami mempunyai cara tersendiri, mempunyai cara yang aneh, bolehlah Tong-heng mencobanya…”

Belum habis ucapan Ji Hong-ho, mendadak di luar ada suara suitan. Cepat Ong Kim-liong memburu keluar dan cepat pula berlari kembali, dengan suara tertahan ia memberi lapor, “Ada tanda bahaya, seperti kedatangan orang.”

“Mundur cepat!” kata Ji Hong-ho. “Segenap penjagaan terang maupun gelap, seluruhnya meninggalkan pegunungan ini.”

“Dan orang ini?” tanya Ong Kim-liong sambil memandang Tong Bu-siang.

“Kerudungi kepalanya dan bawa dia!” kata Ji Hong-ho.

Mendadak Tong Bu-siang melompat ke atas, kedua tangannya bekerja sekaligus, terdengar suara mendesing ramai, dalam sekejap saja berpuluh biji senjata rahasia telah berhamburan.

“Semuanya jangan bergerak, biar kubereskan dia!” bentak Ji Hong-ho. Berbareng itu ia telah menanggalkan topinya dan diputar satu lingkaran, seketika senjata rahasia yang bertebaran itu seperti laron menubruk pelita, semuanya hinggap ke dalam topinya. Akan tetapi dengan kalap Tong Bu-siang lantas menerjangnya.

Senjata rahasia keluarga Tong tiada bandingannya di dunia ini, Kungfu lain juga tidak lemah. Rambut dan jenggot putih si kakek ini beterbangan, kedua telapak tangannya serentak menghantam dengan gencar.

Tapi Ji Hong-ho juga bergerak dengan gesit, bentaknya, “Kau berani melawan?”

“Hm, mau apa kalau melawan?” Tong Bu-siang menyeringai. “Memangnya kau berani membunuh aku? Kukira kau masih perlu keterangan-keterangan dariku!”

Dalam sekejap mata sudah belasan pukulan dilontarkan, setiap pukulannya cukup keras dan ganas, bila perlu dia bersedia gugur bersama lawan.

Pertarungan nekat begini benar-benar memusingkan kepala, betapapun tinggi ilmu silat seseorang, bila ketemu serangan kalap demikian pasti akan kewalahan dan terpaksa harus menghindar sedapatnya.

Tong Bu-siang hanya ingin mengulur waktu saja, ia pikir asalkan Ji Hong-ho tidak berani mengadu pukulan, maka dia dapat mengulur tempo sebanyak-banyaknya, dan bila ada yang datang berarti akan tertolonglah dirinya.

Ji Hong-ho memang tidak berani menyambut serangannya dengan keras lawan keras, sudah dua-tiga puluh jurus dan tetap tidak balas menyerang. Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong juga tidak membantu, bahkan memandang saja tidak.

Nyata mereka yakin benar-benar Tong Bu-siang pasti tak tahan sekali hantam oleh Bengcu mereka.

Pwe-giok ikut berdebar-debar menyaksikan pertarungan seru itu, sesungguhnya ia ingin tahu gaya asli ilmu silat “Ji Hong-ho” ini, siapa tahu yang dimainkan “Ji Hong-ho” ini memang gerakan asli “Bu-kek-bun”, yakni perguruan Pwe-giok sendiri, bahkan gerakannya sangat gesit dan indah, tiada setitik ciri apapun dapat ditemukan.

Padahal di seluruh jagat ini selain Hong-ho Lojin, ayah Pwe-giok sendiri, siapa lagi yang mampu memainkan Kungfu asli Bu-kek-bun ini?

Seketika Pwe-giok berkeringat dingin dan kebingungan.

Dalam pada itu terdengar Ji Hong-ho sedang berseru dengan tersenyum, “Tong-heng, seranganmu yang nekat ini akhirnya tetap tiada gunanya… Pergilah kau!” – Disertai bentakan perlahan, sebelah tangannya secepat kilat menghantam.

Pukulan Ji Hong-ho ini tampaknya sukar menembus serangan Tong Bu-siang yang gencar itu, siapa tahu justeru dapat menerobos pada bagian yang sama sekali sukar dipercaya orang.

Begitu terpukul, kontan Tong Bu-siang roboh.

Ji Hong-ho tidak lagi memandangnya, begitu pukulannya dilontarkan, segera ia melompat mundur sambil berseru, “Bawa dia, lekas ikut mundur!”

Hanya sekejap saja sinar lampu di kelenteng kecil ini sudah padam, semua orang juga sudah pergi, hanya tertinggal Ji Pwe-giok saja yang masih termangu-mangu di tempat gelap dengan mandi keringat dingin.

Dimulai sejak munculnya Ong Kim-liong dan Lim Soh-koan sampai dengan kepergian mereka, jarak waktu itu tidaklah lama, tapi bagi Pwe-giok rasanya seperti sudah selang setahun lamanya.

Dalam jarak waktu ini Ji Pwe-giok benar-benar bernapas diantara mati dan hidup, seperti telur di ujung tanduk. Asalkan tempat sembunyinya diketahui orang, maka tamatlah riwayatnya.

Bila orang lain, bisa jadi akan ketakutan setengah mati dan sedikit badannya bergemetar atau napasnya sedikit keras, bila setitik debu di atas belandar terjatuh, maka selamanya jangan harap lagi akan meninggalkan kelenteng ini dengan hidup.

Untung Gin-hoa-nio dalam keadaan tertutuk Hiat-to seluruh tubuhnya sehingga tak dapat bergerak dan bersuara, Pwe-giok sendiri sejak kecil sudah biasa berlatih duduk bersemedi dan menahan perasaan, sekalipun di bawah panas terik matahari atau di gua es juga dia sanggup bertahan tanpa bergerak sedikitpun. Sebab itulah dia tidak sampai diketahui musuh.

Tapi sekarang, setelah bebas dari ketegangan yang hebat tadi, ia merasa ingin mencari suatu tempat untuk berbaring dan istirahat.

Namun iapun tahu kesempatan yang sukar dicari ini tidak boleh disia-siakan. Asalkan dia dapat mengikuti jejak orang-orang ini secara diam-diam dan berhasil menemukan tempat penyimpanan Tong Bu-siang asli dan palsu itu, maka besar harapannya akan dapat membongkar rahasia mereka.

Namun iapun menyadari, untuk menguntit tokoh-tokoh kelas satu itu sama halnya berjudi dengan jiwanya sendiri, meski kesempatan untuk menang tidaklah banyak, namun resiko ini cukup berharga untuk dihadapi.

Padahal kesempatan ini segera akan lenyap dalam sekejap saja, sungguh peluang untuk bernapas saja terasa tidak ada.

Dilihatnya Gin-hoa-nio sedang menatapnya dengan terbelalak lebar, meski dia tak dapat bergerak dan bersuara, namun dia dapat mendengar segala apa yang terjadi.

Pwe-giok tidak sempat banyak berpikir lagi, segera ia membisiki nona itu, “Sebenarnya hendak ku antar kau ke Tong-keh-ceng agar mereka membuat perhitungan dengan kau, tapi sekarang… Ai, biarlah suka-duka kita selanjutnya kuhapus seluruhnya, Hiat-to yang kututuk dalam waktu tak lama lagi akan punah dengan sendirinya dan kau dapat bergerak kembali. Semoga selanjutnya jangan kau cari diriku lagi dan akupun takkan mengusik dirimu.”

Sesudah memberi pesan ini, segera ia hendak melompat turun dan tinggal pergi.

Siapa tahu, pada saat itu juga dari luar ada suara langkah orang pula disertai berkelebatnya cahaya lampu, ternyata Ong Kim-liong telah masuk pula dengan membawa dua orang berseragam hitam.

Heran dan gelisah Pwe-giok, sudah jelas Ji Hong-ho telah pergi bersama anak buahnya, mengapa Ong Kim-liong dan dua begundalnya kembali lagi ke sini?

Didengarnya Ong Kim-liong lagi berkata, “Lekas kembalikan patung itu dan meja sembahyang pada tempatnya semula, lalu lantai dibersihkan pula, jangan sampai meninggalkan sesuatu tanda agar anak murid keluarga Tong tidak dapat memperkirakan ke mana perginya Tong Bu-siang.”

Nyata setiap tindak-tanduk komplotan jahat ini dilakukan dengan sangat cermat dan teliti tanpa meninggalkan sesuatu apapun.

Pwe-giok menjadi kelabakan. Sudah tentu sekarang ia dapat melompat turun dan membinasakan ketiga orang itu. Dengan ilmu silatnya jelas ketiga orang itu bukan tandingannya. Tapi dia kuatir tindakannya ini akan mengejutkan Ji Hong-ho yang pergi belum jauh itu. Sebaliknya bila ditunggu lagi sampai pekerjaan ketiga orang itu selesai, tentu Ji Hong-ho juga sudah pergi jauh dan sukar untuk menyusulnya.

Konyolnya, cara kerja kedua orang berseragam itu justeru adem-ayem saja, alon-alon asal kelakon, sesuatunya dikerjakan dengan sangat cermat. Sudah tentu semuanya ini memakan waktu lebih lama. Keruan Pwe-giok tambah gelisah, tapi apa daya?

Kini dia hanya berharap semoga ketiga orang ini nanti habis bekerja juga akan menyusul kepergian Ji Hong-ho, dengan demikian asalkan dia membuntuti ketiga orang, maka jadinya akan mencapai tujuannya, bahkan penguntitannya nanti akan lebih mudah daripada menguntit Ji Hong-ho.

Karena inilah satu-satunya harapan yang masih ada, maka ia tidak dapat menyerang ketiga orang ini.

Siapa tahu, justeru pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar suara mendenging nyaring tiga kali, suara sambaran senjata rahasia dari luar. Kontan kedua lelaki berseragam hitam tadi menjerit dan roboh terjungkal.

Dengan sendirinya reaksi Ong Kim-liong lebih cepat dan gesit, dia sempat melompat ke atas, agaknya berhasil dia menghindari serangan senjata rahasia itu, lalu membentak dengan suara bengis, “Siapa itu, berani menyerang petugas Bengcu di sini, apakah sudah bosan hidup kau?!”

Di tengah bentakannya, serentak senjata ruyungnya Kim-liong-pian lantas dilolosnya dan diputar dengan kencang, dia terus menerjang keluar. Dalam kegelapan di luar pintu seperti ada orang tertawa seram dan misterius.

Pwe-giok terkejut dan juga gelisah. Ia tidak tahu siapakah gerangan orang yang menyergap Ong Kim-liong bertiga itu dan apa tujuannya?

Melihat serangan yang keji dan tanpa kenal ampun ini, jelas penyerang ini pasti juga bukan manusia baik-baik. Jangan-jangan anak murid keluarga Tong telah memburu tiba? Meski kedatangan mereka sangat kebetulan, tapi setitik harapan terakhir Pwe-giok menjadi ikut buyar.

Lampu di meja sembahyang tadi sudah dinyalakan, di bawah gemerdepnya cahaya lampu, tiba-tiba terlihat Ong Kim-liong masuk lagi dengan mundur.

Kim-liong-pian atau ruyung naga mas yang dipegangnya tampak terseret di lantai, wajahnya penuh rasa kejut dan takut, keringat dingin memenuhi dahinya, tapi tiada kelihatan mengalami sesuatu luka. Matanya tampak melotot penuh rasa takut, entah apa yang membuatnya setakut ini? Sesungguhnya apa yang dilihatnya?

Terdengar seorang berkata di luar, “Siapa sahabat ini? Kau datang dari mana?”

Suaranya sangat aneh, halus, rendah, tapi membawa semacam nada yang membikin merinding pendengarannya.

Mendengar suara orang itu, seketika Pwe-giok merasa tidak enak. Ia tidak mengerti mengapa suara seorang bisa begitu lembut dan halus, tapi juga begitu aneh dan menyeramkan. Sungguh ia ingin tahu bagaimana macamnya orang yang bicara itu.

Di luar pintu memang kelihatan ada sesosok bayangan manusia. Kelihatan sepasang matanya yang kelam, sama kelamnya seperti kegelapan malam. Akan tetapi sinar matanya yang mencorong justeru menampilkan perasaan hampa, semacam kesuraman yang sukar diraba. Meski sinar mata itu tidak memandang ke arah Ji Pwe-giok, tapi tanpa terasa Pwe-giok bergidik sendiri.

Terdengar Ong Kim-liong lagi menjawab dengan suara rada gemetar, “Aku she Ong, Ong Kim-liong, dari Thay-oh.”

“O, kiranya kau si raja naga dari Thay-oh,” ucap suara yang indah tapi aneh itu. “Untuk apa kau datang ke sini?”

“Ku datang ikut Bu-lim-bengcu,” jawab Ong Kim-liong.

“Bu-lim-bengcu? Maksudmu Ji Hong-ho?”

“Betul,” jawab Ong Kim-liong pula.

“Mau apa dia datang ke sini?”

“Ada janji dengan Tong Bu-siang untuk bertemu di sini.”

Begitulah tiap kali suara itu bertanya segera ia menjawabnya dengan sejujurnya. Ong Kim-liong seolah-olah sudah kehilangan pikiran sehatnya, seperti sama sekali sudah tunduk di bawah pengaruh sinar mata yang aneh itu. Tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin menyaksikan kejadian ini.

Suara aneh itu bertanya pula sesudah termenung sejenak, “Ji Hong-ho bertemu dengan Tong Bu-siang, mengapa di sini tempatnya? Yang dirundingkan mereka apakah sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?”

“Didalam urusan ini memang betul ada sesuatu rahasia, sebab Bengcu…”

Pwe-giok merasa terkesiap dan bergirang juga karena akan mengetahui rahasia pertemuan Tong Bu-siang dan “Ji Hong-ho” itu, tak terduga, bicara sampai di sini, mendadak sekujur badan Ong Kim-liong menggigil dan tutup mulut rapat-rapat.

Sorot mata orang di luar itu semakin mencorong, dengan suara bengis ia mendesak, “Rahasia apa, kenapa tidak kau ceritakan?”

Ong Kim-liong tetap tutup mulut, keringat dingin tampak berketes-ketes memenuhi dahinya.

Suara itu kembali berubah lunak dan halus sekali, katanya pelahan, “Bicaralah, tidak menjadi soal! Sesudah kau ceritakan, pasti tiada orang menyalahkan kau.”

Tubuh Ong Kim-liong tambah gemetar, mukanya berkerut-kerut, tampaknya sangat menderita, jelas sedang bergulat dengan batin sendiri yang bertentangan. Akhirnya tercetus juga ucapannya yang gemetar, “Ti… tidak, tidak dapat kukatakan.”

“Mengapa tidak dapat kau katakan?” ucap suara itu. “Jangan lupa, saat ini tubuhmu, jiwamu, sukmamu, semuanya sudah menjadi milikku, masa kau berani membangkang?”

Sekonyong-konyong Ong Kim-liong berteriak seperti orang gila, “Tidak, segala apa yang ada pada diriku ini milik Bengcu, tidak boleh kukhianati dia, kalau tidak, bagiku hanya… hanya ada kematian…” mendadak ia angkat ruyungnya terus menghantam kepala sendiri.

Agaknya orang yang berada di luar itu tidak menduga akan tindakan Ong Kim-liong ini, ia berseru kaget, namun Ong Kim-liong sudah terkapar bermandi darah.

Bercucuran keringat dingin Pwe-giok, apa yang terjadi ini sungguh sukar untuk dimengerti, ia hampir-hampir tidak percaya pada matanya sendiri.

Dalam pada itu dari luar lantas masuk satu orang. Langkahnya enteng, pelahan tanpa suara, seperti badan halus saja.

Di bawah cahaya lampu kelihatan orang ini memakai baju kain kasar sebangsa kain belacu yang biasa dipakai kaum petani. Tangan membawa sebuah caping yang sudah rusak, perawakannya tinggi kurus, wajahnya putih cakap dan agak kurus.

Tampaknya usianya antara 30-an, tapi seperti juga sudah lebih 50. Begitu melangkah masuk, sorot matanya yang kelam kehijau-hijauan itu seketika lenyap, tiada sesuatu yang menyolok, hanya tangannya yang panjang dan kurus itu kelihatan putih indah berkilau.

Sama sekali tak terpikir oleh Pwe-giok bahwa mata yang aneh itu bisa tumbuh pada seorang yang sangat umum ini, lebih-lebih tak terpikir sinar matanya bisa berubah begitu cepat. Lamat-lamat ia merasa orang ini seperti seekor bunglon yang setiap saat dapat berganti warna badan untuk mengelabui musuh demi keselamatan sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan muda menghela napas dan bergumam, “Ah, sudah mati semua!”

Pandangan Pwe-giok ternyata tertarik sepenuhnya oleh manusia yang aneh ini, baru sekarang ia tahu di belakang orang ini masih ikut seorang perempuan muda bergaun dan baju kain kasar, perawakan gadis ini padat dan indah, kepalanya juga memakai caping bambu yang ditarik rendah ke depan, agaknya tidak suka wajah aslinya dilihat orang. Sungguh aneh, memangnya siapa yang hendak dihindarinya?

Entah mengapa, Pwe-giok merasa perawakan dan suara gadis itu seperti sudah dikenalnya, tapi seketika tidak ingat di mana pernah bertemu.

Sementara itu si baju belacu tadi telah mengitari ruangan itu satu kali, lalu ia berpaling memandang si gadis, dari wajahnya yang bersih itu tiba-tiba menampilkan senyuman yang sangat menarik, ucapnya dengan pelahan, “Pandanganmu memang jitu, orang-orang ini memang betul sudah mati semua.”

Si gadis menggigit bibir, katanya kemudian, “Mereka kan tidak mengganggu kita, mengapa engkau membunuh mereka?”

“Ucapanmu memang betul, sesungguhnya tidak perlu kubunuh mereka,” ujar si baju belacu dengan tersenyum.

“Jika tidak perlu, mengapa kau bunuh mereka?” kata si gadis.

Orang itu tidak menjawab, ia cuma mengulum senyum dan memandangnya lekat-lekat, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Cantik, sungguh cantik, kerlingan matamu tertampak lebih cantik di bawah sinar lampu ini. cukup kau pandang diriku sekejap dan aku rela mati sepuluh kali bagimu.”

Tampaknya dia sangat memanjakan nona itu dan sangat sayang padanya, setiap ucapannya penuh sanjung puji, tapi siapapun dapat mendengar kata-katanya hanya seperti orang tua membikin senang hati anak kecil saja.

Anehnya, gadis itu sedikitpun tidak merasa dimanjakan atau dibujuk, sebaliknya mukanya menjadi merah dan terkesima, kemudian menghela napas dan berkata dengan rawan, “Yang kuharap asalkan selanjutnya jangan kau bunuh orang lagi, asalkan kita dapat meloloskan diri sekali ini, bolehlah kita mencari suatu tempat yang terpencil jauh di sana dan hidup tenteram selama hidup.”

“Tepat sekali ucapanmu,” kata orang itu dengan tersenyum, “kita akan mencari suatu tempat yang indah, ada gunung ada air, setiap hari akan kuiringi kau pesiar, setiap hari dapat kudengar suara tertawamu yang lebih merdu daripada burung berkicau.”

Pikiran nona itu seakan-akan melayang jauh membayangkan adegan bahagia itu, ia memejamkan mata dan bergumam, “O, alangkah bahagianya bilamana tiba pada hari demikian itu, rasanya segala apa yang telah kulakukan tidaklah sia-sia, asalkan datang hari bahagia itu, andaikan matipun aku rela.”

Akhirnya Pwe-giok dapat melihat mukanya, seraut muka yang cantik, muka yang polos dan murni penuh membayangkan kebahagiaan yang akan datang, dari matanya terembes butir air mata kegembiraan.

Tiba-tiba Pwe-giok ingat siapa nona ini. Ya, betul, dia inilah Ciong Cing, murid Hoa-san-pay yang menyambut kedatangannya pada waktu Pwe-giok menghadiri pertemuan Hong-ti tempo hari.

Sungguh aneh, murid dari perguruan ternama itu mengapa sekarang bisa berada bersama seorang yang aneh dan misterius ini? Apa saja yang telah diperbuatnya demi orang ini seperti ucapannya tadi?

Seketika Pwe-giok tercengang, sangsi dan juga menyesal.

Si baju belacu tidak memandang lagi si nona, tapi sedang mengamat-amati mayat Ong Kim-liong yang digenangi darah itu, tampaknya dia sedang merenungkan sesuatu sambil bergumam, “Sesungguhnya rahasia apa yang tersembunyi di dalam hati orang ini? Mengapa dengan tenaga gaibku tidak mampu menyuruhnya mengaku? Dengan kekuatan gaib apa pula Ji Hong-ho itu dapat membuat anak buahnya lebih rela mati daripada mengkhianatinya?”

Kembali ia mondar-mandir lagi di ruangan itu dan sorot matanya berubah lebih tajam daripada mata elang, setelah menyapu pandang kian kemari, tiba-tiba ia berseru perlahan, “He, lihat, di sini ada sebuah jalan rahasia!”

Ia tepuk patung Toa-pekong dan diputar, segera jalan di bawah tanah itu kelihatan dengan jelas.

Ciong Cing juga berseru, “He, menembus kemanakah jalan di bawah tanah ini?”

Orang itu memejamkan mata dan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum cerah, “Ehm, di sini kan bukit di belakang Tong-keh-ceng?”

“Ya, betul, jalan ini pasti menembus ke Tong-keh-ceng,” seru Ciong Cing.

“Tepat,” kata orang itu dengan tertawa. “Kau benar-benar anak perempuan yang cantik dan cerdik.”

Muka Ciong Cing menjadi merah pula, ia menunduk dan memainkan ujung bajunya, sejenak kemudian baru berkata, “Jika tempat ini mengandung rahasia orang lain, lebih baik kita pergi saja.”

“Pergi? Mengapa?” ujar orang itu. “Selama hidupku kesenanganku justeru membongkar rahasia orang lain.” – Dia mengusap perlahan muka Ciong Cing, lalu berkata pula, “Ji Hong-ho dan Tong Bu-siang main sembunyi-sembunyi, tentu bukan pekerjaan baik yang mereka lakukan, aku akan memeriksanya melalui jalan rahasia ini, hendaklah kau tunggu saja di sini, mau?”

Ciong Cing lantas memegang tangan orang itu dan menjawab dengan cemas, “Tidak, jangan kau pergi!”

Seketika sorot mata orang itu berubah sedingin es, ucapnya, “Kenapa? Kau kuatir ku pergi dan tak kembali lagi?”

Hakekatnya Ciong Cing tidak memperhatikan perubahan sikap orang itu, dengan suara lembut ia berkata, “Tiada lain, yang kukuatirkan adalah keselamatanmu. Lukamu belum sembuh benar-benar, sedangkan Tong Bu-siang dan Ji Hong-ho itu adalah tokoh-tokoh yang lihay…”

Pandangan orang yang dingin itu mulai cair lagi, ucapnya dengan tersenyum, “O, kau kuatir mereka mencelakai diriku?”

Mata Ciong Cing tampak merah dan basah, katanya dengan tersendat, “Jika… jika terjadi apa-apa atas dirimu, lalu… lalu aku bagaimana?”

Orang itu tertawa, katanya, “Jangan kuatir, masih jauh jika orang semacam Tong Bu-siang dan Ji Hong-ho itu hendak mencelakai diriku.” – Dengan lembut ia membelai rambut si nona, lalu menyambung pula, “Kau tunggu saja di sini, sayang, secepatnya aku akan kembali. Ku berjanji padamu, pasti tiada seorangpun dapat mengusik seujung rambutku.”

Habis berkata, sekali berkelebat, tahu-tahu ia sudah menghilang ke jalan di bawah tanah itu.

Dengan termangu-mangu Ciong Cing menyaksikan kepergian orang itu, ia mendekap mukanya dan menghela napas panjang, gumamnya, “O, apa yang kulakukan ini apakah betul? atau salah? …”

“Salah!” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara tertahan.

“Hahh, siapa?” Ciong Cing menjerit kaget sambil melonjak ke atas.

Dilihatnya seorang pemuda dengan tersenyum entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya.” Cayhe Ji Pwe-giok!” ucap pemuda itu.

“Ji Pwe-giok?” seru Ciong Cing dengan terbelalak.

Ia tahu “Ji Pwe-giok” sudah mati, di kelenteng kecil yang terpencil di pegunungan sunyi ini mendadak mendengar nama orang yang sudah mati, seketika ia merinding.

Akan tetapi anak muda ini kelihatan sedemikian ramah tamah, ganteng, cakap, sorot matanya yang mengandung senyuman hangat itu sungguh bisa membuat cair gunung es di bumi ini. Tidak mungkin ada perempuan bisa takut kepada lelaki muda demikian ini.

Ciong Cing tidak lagi gugup, dengan suara keras ia menjawab, “Betul, aku memang kenal seorang Ji Pwe-giok, tapi jelas bukan kau. Aku tidak kenal kau!”

“Tapi kukenal nona” kata Pwe-giok.

“Kau kenal aku?” Ciong Cing melengak.

“Ya, nona kan murid Hoa-san dan bernama Ciong Cing?”

Seketika Ciong Cing tegang lagi, dengan suara bengis ia bertanya, “Jadi kedatanganmu ini adalah untuk menangkap kami?”

Dalam hati Pwe-giok jadi terheran-heran, namun lahirnya dia tenang-tenang saja, katanya pelahan, “Memangnya apa kesalahan nona? Kenapa takut akan ditangkap orang?”

—–

Siapakah orang yang mirip arwah gentayangan dengan sinar mata ajaib ini dan ada hubungan apa antara Ciong Cing dengan dia?

Cara bagaimana “Ji Hong-ho” akan memperlakukan Tong Bu-siang?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: