Kumpulan Cerita Silat

23/05/2010

Renjana Pendekar – 13

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:27 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra dan Sukantas009)

Gin-hoa-nio telah menyingkir ke samping, ia hanya menonton tanpa ikut bicara. Ia tahu api sudah menyala dan tidak perlu diberi minyak lagi.

Dilihatnya Ang-hoa dan Hwe-long lagi saling melotot, sampai lama sekali keduanya tetap diam saja.

Tiba-tiba Hwe-long mendekati meja, kursi ditariknya lalu duduk, katanya dengan tersenyum, “Tio loji, mengapa tidak duduk saja dan marilah kita berbincang-bincang.”

“Duduk ya duduk, orang lain takut kepada tipu muslihatmu, masa akupun takut kepadamu?” kata Ang-hoa, segera iapun menarik kursi dan duduk.

Dengan tersenyum Hwe long berkata pula, “Sebuah meja boleh berpasangan dengan dua kursi bukan?”

Ang-hoa tidak tahu untuk apakah lawannya bertanya tentang tetek bengek begitu, ia cuma mengangguk dan menjawab singkat, “Betul!”

Hwe-long mengangkat poci dan menuang dua cangkir the, katanya pula dengan tertawa, “Dan satu poci juga boleh berpasangan dengan dua cangkir, betul tidak?”

“Huh, omong kosong!” omel Ang-hou dengan gusar.

Dengan tertawa Hwe-long menyodorkan secangkir teh yang dituangnya itu dan berkata, “Jika kita sama-sama dapat minum teh, untuk apa mesti berkelahi mati-matian?”

Lamat-lamat Gin-hoa-nio sudah dapat merasakan maksud tujuan ucapan si serigala kelabu, diam-diam ia berkerut kening.

Didengarnya Ang-hou menjawab dengan aseran, “Sesungguhnya apa arti ucapanmu, aku tidak paham!”

“Tentunya kau pernah membaca, dahulu ada dua ratu bersama mengawini seorang suami dan kisah itu dijadikan cerita yang menarik. Sekarang kita berdua adalah saudara, mengapa kita tidak boleh berkongsi mengawini seorang isteri?”

“Urusan lain boleh berkongsi, hanya isteri yang tidak boleh berkongsi,” jawab Ang-hou dengan gusar.

“Sabar, pertimbangkan dulu,” kata Hwe-long.” Musuh kita tidaklah sedikit, umpama aku kau bunuh dan tersisa kau sendiri, apakah kau takkan kesepian dan kehilangan kawan? Apalagi bila kita bergebrak sungguh-sungguh, siapa yang akan terbunuh kan juga masih suatu tanda tanya, betul tidak?”

Lama juga Ang-hou melototi si serigala, tiba-tiba ia tertawa, katanya, “Betul juga, setengah potong bini rasanya lebih baik daripada sama sekali tidak punya bini. Apalagi melihat gairahnya yang menyala, sendirian belum tentu ku sanggup melayani dia.” Ia angkat cangkir dan berkata pula, “Saudaraku yang baik, usulmu sangat bagus, terimalah hormat satu cangkir ini.”

Gin-hoa-nio tertawa terkikit-kikik, ucapnya, “Usulnya memang bagus, setelah kau minum teh ini, tentu kau akan tahu betapa bagus usulnya ini.”

Berputar biji mata Ang-hou, cangkir teh yang sudah diangkatnya ditaruhnya lagi. Meski sebodoh kerbau orang ini, betapapun sudah puluhan tahun dia berkecimpung di dunia Kangouw, perbuatan baik mungkin dia tidak paham, tapi perbuatan busuk tidak sedikit yang diketahuinya. Sambil masih memegangi cangkir teh itu, ia melototi Hwe-long dan berkata, “Apakah di dalam air teh ini kau hendak main gila padaku?”

“Lo-ji, jangan kau sembarangan menuduh, kita adalah saudara sendiri, jangan mau diadu domba orang,” teriak Hwe-long.

Gin-hoa-nio tertawa dan berkata, “Jika demikian, boleh coba kau minum teh itu.” Dengan berlenggak-lenggok dia mendekati Ang-hou dan mengambil cangkir teh itu terus disodorkan ke depan Hwe-long. Di luar tahu orang, ujung kukunya yang bercat merah itu seperti dicelup perlahan ke dalam teh. Lalu ucapnya dengan tertawa genit, “Kau bilang air teh ini beracun, jika kau tidak mau minum juga takkan kusalahkan kau.”

“Kalau kau tidak berani minum teh itu, segera kugencet pecah kepalamu!” teriak Ang-hou dengan gusar.

Air muka Hwe-long bertambah pucat, serunya, “Teh ini semula tidak beracun, tapi sekarang telah kau racuni.”

“Kau… kau bilang aku yang menaruh racun?” tanya Gin-hoa-nio dengan terbelalak.

“Ya, kau perempuan busuk ini !” teriak Hwe-long, berbareng ia lantas menjotos.

Namun Gin-hoa-nio keburu menyingkir dan bersembunyi di belakang Ang-hou.

Serentak Ang-hou juga melompat bangun sambil meraung, “Bangsat! Jelas-jelas kau yang menaruh racunnya dan sekarang menuduh orang lain? Kau kira Locu ini babi goblok?”

Berbareng itu ia terus menubruk ke sana. Terdengar suara “blak-bluk ” dua kali, kedua kepalan Hwe-long dengan tepat menghantam tubuh ang-hou, tapi pukulan itu seperti mengenai karung pasir, sama sekali si harimau merah tidak bergeming.

Keruan Hwe-long terkejut, segera ia hendak mencabut belati lagi, namun Ang-hou tidak memberi kesempatan padanya, kontan ia balas menonjok perut Hwe-long.

Serigala kelabu yang kerempeng itu tidak tahan, ia menungging kesakitan. Menyusul Ang-hou lantas menambahi sekali hantam di kepalanya, seketika kepala pecah dan otak berantakan.

Kedua pukulan Ang-hou itu tidak pakai jurus silat segala, tapi pukulan umum, namun cukup berguna. Barang siapa kalau bertangan kosong sebaiknya jangan berkelahi dengan orang gede semacam Ang-hou ini, sebab dipukul dia tidak bergeming, sebaliknya kalau dia balas memukul, maka celakalah kau.

Gin-hoa-nio kegirangan menyaksikan hasil pertarungan itu, ia berkeplok dan tertawa.

Ang-hou terus meludahi mayat Hwe-long dan mendamprat, “Huh, belum belajar tahan pukul sudah ingin memukul orang, kan cari mampus sendiri!”

Gin-hoa-nio tertawa senang, katanya, “Betul kepandaian Tio-kongcu memukul orang tergolong hebat. Kungfumu tahan pukul terlebih tiada bandingannya. Tapi… tapi barusan apakah keparat ini benar-benar tidak melukaimu?”

Dengan membusungkan dada Ang-hou berkata dengan tertawa, “Kedua cakarnya seperti menggaruk gatal badanku, tidak percaya boleh kau periksa sendiri.”

Benar-benar Gin-hoa-nio mendekati Ang-hou, ucapnya dengan suara lembut, “Tapi bahumu masih mengucurkan darah…” Dengan kuku jarinya yang merah ia menggelitik perlahan di bahu Ang-hou yang dilukai si ular putih tadi dan bertanya perlahan, “Sakit tidak?”

“Tidak,” jawab Ang-hou dengan tertawa, “tapi rasanya menjadi geli karena digelitik kau.”

Sambil bergelak tertawa sehingga tubuhnya yang penuh daging lebih itu berguncang-guncang, berbareng ia terus merangkul pinggang Gin-hoa-nio.

Tapi Gin-hoa-nio lantas menyelinap ke samping dengan tertawa genit, ucapnya sambil tertawa terkikik-kikik. “Bila kau dapat menangkap diriku barulah aku menyerah padamu!”

Begitulah ia lantas lari di depan dan dikejar Ang-hou dengan napas terengah-engah. Gerakan Gin-hoa-nio sangat enteng dan gesit, jangankan menangkapnya, meraih ujung bajunya saja tidak mampu dilakukan Ang-hou.

Sampai akhirnya Ang-hou sendiri tidak tahan, ia megap-megap sambil memegang tepi meja, namun begitu ia masih cengar-cengir dan berseru, “O, mestikaku, kemarilah biar kupeluk cium kau.”

Gin-hoa-nio memandangnya dengan tertawa, tiba-tiba ia menggeleng dan menghela napas gegetun, katanya, “Ai, kau ini… jelas kau ini seekor babi goblok, mengapa kau tidak mau mengaku?”

Ang-hou melengak, tanyanya kemudian dengan melotot, “Ap… Apa maksudmu?”

“Baru saja ku taruh racun pada lukamu, racun yang membinasakan bila masuk ke darah. Kadar racun yang ku taruh itu cukup untuk membunuh sepuluh ekor babi gemuk,” tutur Gin-hoa-nio dengan suara halus. “Jika kau tidak bergerak mungkin akan hidup lebih lama beberapa jam, sekarang kau telah berlari-lari, racun sudah mengalir masuk darahmu dan menyebar di seluruh tubuhmu, bila kau gunakan tenaga sedikit seketika jiwamu bisa melayang.”

Mendadak Ang hou meraung murka, dengan segenap sisa tenaganya, ia menubruk maju, terdengarlah suara gemuruh, meja ditumbuknya hingga hancur berantakan dan tertindih oleh tubuhnya yang gede.

Gin hoa nio menghela napas, katanya, “Dengan maksud baik sudah ku peringatkan, mengapa kau tidak mau percaya padaku?”

Lalu ia mengitari meja dan menuju ke ambang pintu, sambil bersandar di depan pintu ia berseru dan tersenyum menggiurkan, “Di dalam rumah ada empat orang mati, maukah para Toako membantuku menggotongnya keluar?”

Sejak tadi anak buah Su ok siu menunggu di luar dengan gelisah, namun disiplin Su ok siu sangat keras, tanpa diperintah, siapa pun tidak berani meninggalkan tempatnya. Mereka cuma mendengar suara kacau di dalam rumah dan tidak tahu apa yang terjadi, setelah mereka dipanggil Gin hoa nio barulah mereka berkerumun maju, mereka jadi melongo kaget setelah melihat keadaan di dalam rumah.

Dengan suara halus Gin hoa nio berkata kepada mereka, “Ku tahu perasaan kalian. Melihat majikan kalian dibunuh orang, takkan kusalahkan kalian bila kalian ingin menuntut balas bagi mereka.”

Melihat Gin hoa nio bersikap tenang dan tertawa riang, bajunya sedikit pun tidak terkoyak apalagi robek, sebaliknya majikan yang mereka puja seperti malaikat dewata itu semuanya terkapar seperti anjing mampus, jelas perempuan ini tidak cuma sangat cantik, tapi pasti juga sangat lihai. Belasan orang ini mana berani lagi bicara tentang menuntut balas, serentak mereka membalik tubuh dan lari terbirit-birit, hanya sekejap saja sudah hilang tanpa bekas.

“Ai, jaman ini tampaknya kaum penjahat juga kecil hatinya,” gumam Gin hoa nio dengan menghela napas.

ooo 000 ooo

Apa yang terjadi, semua itu dapat diikuti Kim yan cu dan Bwe Su-bong dengan jelas, mereka sama melenggong.

Dengan tersenyum getir Bwe Su bong berkata, “Betapa lihai adik perempuanmu, hakekatnya dapat disejajarkan dengan kelihaiannya Hay hong hujin di masa dahulu. Memang sudah kuduga orang lain tidak perlu turun tangan, adikmu sendiri pasti sanggup membereskan mereka.”

Kim yan cu tidak menanggapi, diam-diam ia pun merasa getir.

“Sekarang bolehlah nona turun ke sana dan aku pun akan pulang,” kata Bwe Su bong.

“Kau… kau tidak turun dan berduduk dulu?” tanya Kim yan cu.

“Biarpun aku sudah kakek-kakek, tapi tetap lelaki, maka lebih baik tidak berjumpa dengan adikmu…” belum habis ucapannya dia sudah melayang jauh ke sana.

Kim yan cu menghela napas panjang, dilihatnya Gin hoa nio sedang bersandar pula di pintu dan berkata sambil menengadah ke arahnya, “Tak tersangka di atas loteng juga ada tamu, maaf jika sambutanku kurang baik.”

Tidak tahan lagi Kim Yan cu, mendadak ia melayang turun ke depan Gin hoa nio.

Baru saja Gin hoa nio melengak setelah tahu siapa gerangannya, tahu-tahu mukanya sudah tertampar dua kali. Cukup keras gamparan itu sehingga Gin hoa nio jatuh ke dalam rumah sambil berteriak, “He, Toaci… kau…”

Kim yan cu merasa pukulannya tidak cukup keras, dengan gemas ia mendengus, “Hm, tidak perlu lagi kau panggil Toaci padaku, mana ku berharga menjadi Toacimu? Jiwa manusia bagimu tidak lebih seperti semut, bilamana kau mau, bisa jadi aku pun akan kau bunuh.”

Gin hoa nio merabai mukanya yang digampar itu, mendadak ia menangis.

“Dengan mudah sekali kau bunuh empat orang ini, seharusnya kau bergembira, apa yang kau tangisi?” damprat Kim yan cu dengan gusar.

“Apakah Toaci mengira aku sangat senang setelah membunuh orang?” seru Gin hoa nio dengan menangis sedih. “Toaci, jika kau menyaksikan tingkah laku mereka tadi, tentu kau akan paham bagaimana jadinya jika aku tidak berdaya membinasakan mereka.”

Dengan menangis ia menubruk ke bawah kaki Kim yan cu dan berkata pula, “Toaci, kau mau memukul aku, mau memaki, semua ini bukan soal bagiku, tapi kalau kau tidak mengakui adik lagi padaku, biarlah sekarang juga ku mati di depanmu.”

Setelah memukul dan mendamprat, rasa gusar Kim yan cu sudah hilang sebagian besar, sekarang mendengar ucapan Gin hoa nio yang mengibakan hati ini, akhirnya ia pun mengucurkan air mata dan mengomel pula, “Biarpun kau terpaksa, seharusnya tidak boleh sekeji itu!”

“Ya, Toaci, ku tahu kesalahanku,” jawab Gin hoa nio dengan suara gemetar. “Soalnya sejak kecil aku sudah kenyang dianiaya orang, yang kulihat setiap hari adalah orang-orang yang kejam, aku… aku menjadi takut, maka caraku turun tangan menjadi agak kejam.” Sembari menangis ia terus merangkul kaki Kim yan cu dan meratap pula, “O, Toaci, jika kau datang lebih cepat tentu mereka tidak berani mengganggu diriku dan aku pun takkan bertindak demikian.”

Hati Kim yan cu terharu pula, ia menghela napas dan berkata, “Betul juga, aku pun salah, seharusnya sejak tadi-tadi ku datang kemari.”

Dasar hatinya memang polos, ia merasa kejadian ini tidak dapat menyalahkan orang lain, tapi dirinya ikut bertanggung jawab. Bicara punya bicara, akhirnya ia merangkul Gin hoa nio dan menangislah keduanya.

Meski lahirnya Gin hoa nio menangis tergerung-gerung, tapi di dalam hati sebenarnya lagi tertawa.

ooo 000 ooo

Sekarang ia telah menemukan suatu kenyataan yakni asalkan sifat seseorang dapat kau raba dengan jitu, bukan saja lelaki mudah dihadapi, bahkan perempuan juga tidak sulit dilayani, lebih-lebih perangai anak perempuan seperti Kim yan cu ini.

Dunia Kangouw memang kejam dan berbahaya, tapi juga adil, asalkan manusia yang punya kemahiran tentu akan menanjak ke atas dan kehidupannya seketika juga akan berubah gilang gemilang. Cuma saja, ada kehidupan sementara orang yang meski gilang gemilang, tapi terlalu singkat, seperti meteor saja, hanya sekelebat, lalu lenyap.

Selama beratus tahun sejarah Kangouw entah sudah berapa banyak pahlawan yang baik bintangnya untuk kemudian lantas tenggelam pula. Tapi di antaranya bukan tiada yang tetap berdiri tegak tanpa jatuh.

Ada sementara orang, meski orangnya sudah mati, tapi keturunannya, anak cucunya, masih dapat mempertahankan suatu kekuatan yang tidak pernah runtuh di dunia kangouw, dengan demikian selamanya juga lantas tetap berjaya dan abadi.

Selama 300 tahun ini, kekuatan yang tetap berdiri tegak tanpa ambruk itu, selain Siau-lim pay, Bu tong pay, dan aliran-aliran besar yang mempunyai sejarah gilang gemilang ini, masih ada juga keluarga persilatan ternama dan berpengaruh. Keluarga persilatan ini ada sebagian yang tetap berjaya karena pengorbanan leluhurnya bagi kepentingan dunia persilatan di masa lalu sehingga mendapat penghormatan dari kaum pahlawan dunia Kangouw, tapi kebanyakan adalah karena mereka memang mempunyai Kungfu yang istimewa dan sukar ditandingi, sebab itulah sejarah mereka bisa tetap hidup abadi sepanjang masa.

Di antara keluarga persilatan itu misalnya terdapat keluarga “Thio Kan-cay” di kota-raja yang terkenal dengan ilmu pertabibannya. Ada keluarga “Pi-lik-tong” di Kanglam yang termasyhur karena ahli membuat senjata api. Ada keluarga Lam-kiong dengan ilmu pukulannya yang hebat, ada keluarga “Thian-hi-tong” yang disegani karena kemahirannya menyelam di dalam air, ada pula keluarga Pang di Holam yang merajai dunia persilatan di wilayahnya karena permainan Toan bun to yang lihay.

Dan di antara keluarga-keluarga persilatan yang turun temurun itu, yang paling berkesan dan diketahui setiap orang persilatan kiranya harus ditonjolkan keluarga Tong dari Sujwan yang termasyhur karena Am-gi atau senjata rahasia yang tiada bandingannya selama ini.

Tong keh ceng atau perkampungan keluarga Tong itu terletak di kaki gunung di luar kota Cung king, propinsi Sujwan.

Setelah mengalami perbaikan dan perluasan di sana-sini selama berabad-abad, dari perumahan sederhana dua deret kini telah meluas menjadi sebuah perkampungan yang megah dan sudah menyerupai sebuah kota kecil.

Ini terbukti bilamana orang masuk pintu gerbang yang tiap tahun dicat satu kali itu, maka segala keperluan, dari sandang, pangan sampai tempat tinggal dan sarana lain, sekolahan, hiburan, sampai urusan nikah dan kematian, setiap barang keperluan dapat diperoleh di sini dan tidak perlu berbelanja ke luar.

Hakekatnya, restoran Sujwan yang paling terkemuka, toko cita yang paling mentereng, toko barang kosmetik yang mutakhir, semuanya terdapat di perkampungan ini.

Dengan sendirinya anak murid keluarga Tong masing-masing juga mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, mereka dapat mencari nafkah menurut kemahirannya sendiri-sendiri, lalu dibelanjakan pula kepada toko-toko itu sehingga terjadilah sirkulasi perekonomian yang makmur di perkampungan ini. Bila mereka ingin menikmati kehidupan yang tinggi, cukup asalkan mereka berusaha mencari laba segiatnya, dengan dana dan tenaga yang hanya beredar di lingkungan perkampungan mereka saja, dengan sendirinya makin lama Tong keh ceng bertambah besar dan kuat.

Sampai Gin hoa nio sendiri, begitu memasuki pintu gerbang perkampungan Tong ini seketika ia terkesima dan hampir tidak percaya kepada apa yang dilihatnya.

Dia pernah datang ke Tong keh ceng ini, tapi hanya memandangnya dari luar, sama sekali tidak terbayangkan olehnya bahwa antara luar dan dalam Tong keh ceng terdapat perbedaan sebanyak ini.

Kalau dipandang dari luar, pintu gerbangnya bercat hitam dengan pagar balok kayu sebesar dahan pohon, panji terkerek tinggi di tiangnya, keadaan demikian tiada bedanya dengan perkampungan persilatan lain, hanya formatnya saja yang lebih besaran.

Tapi setibanya di dalam pintu gerbang perkampungan, tiba-tiba ia melihat di dalam perkampungan ini ada sebuah jalan raya, sebuah jalan balok batu yang rajin dan lurus, di kedua tepi jalan terdapat aneka macam toko, cukup ramai toko-toko itu dikunjungi pembeli, cuma saja toko-toko itu tidak pasang merek dagang.

Sungguh mimpipun tak terpikir olehnya bahwa keadaan yang demikian ini akan dilihatnya di dalam suatu “perkampungan”, yang lebih mengherankan lagi adalah di dalam perkampungan keluarga persilatan yang termasyhur ini sama sekali tiada terdapat penjagaan dan tanda-tanda siap siaga. Sungguh aneh.

Ketika kuda mereka sampai di depan pintu gerbang, Kim yan cu hanya memberitahukan sekedarnya namanya, lalu mereka disilahkan masuk. Sedangkan penjaga pintu gerbang itu pun cuma dua kakek reyot.

Gin hoa nio menghela napas panjang, saking tak tahan ia coba bertanya dengan suara tertahan, “Apakah benar inilah satu-satunya Tong keh ceng yang termasyhur itu?”

“Memangnya kau tidak percaya?” tanya Kim yan cu dengan tertawa.

“Bukannya aku tidak percaya, aku cuma merasa bingung,” kata Gin hoa nio dengan gegetun.

Di jalan raya itu banyak juga orang berlalu lalang, sudah barang tentu kedatangan Kim yan cu dan Gin hoa nio menarik perhatian mereka, tapi mereka pun cuma memandang sekejap saja dan tiada seorang pun yang mendekat dan menegur mereka.

Kembali Gin hoa nio bertanya, “Orang Kangouw suka bilang Siau lim si, Bu tong san dan Tong keh ceng adalah tempat-tempat terlarang di dunia persilatan dan jangan harap akan dapat memasukinya, andaikan dapat masuk, maka jangan mengharapkan akan dapat keluar dengan hidup. Tapi melihat gelagatnya sekarang, tampaknya seperti setiap orang boleh masuk dan keluar lagi dengan bebas.”

Kim yan cu tersenyum tak acuh, katanya, “Soalnya lantaran kau datang bersamaku.”

“O, jika aku datang sendiri pasti tidak dapat menerobos masuk?” tanya Gin hoa nio.

“Masuk sih tidak sulit, tapi keluar lagi tubuhmu akan membujur,” jawab Kim yan cu dengan tertawa. Lalu ia menyambung pula, “Coba kau lihat orang-orang yang berlalu, semuanya kelihatan ramah tamah bukan? Tapi salahlah jika kau pikir demikian. Sebab sedikit kau perlihatkan sesuatu yang tidak beres, dari lengan baju setiap orang itu bisa melayang keluar sesuatu benda untuk mencabut nyawamu.”

Diam-diam Gin hoa nio merasa ngeri, tapi di mulut ia menanggapi dengan tertawa, “Tapi kita sudah masuk ke sini, mengapa tiada seorang pun yang melaporkan dan memberi petunjuk jalan?”

“Darimana kau tahu mereka tiada yang melaporkan kedatangan kita?” tanya Kim yan cu. “Hanya caranya mereka melapor itu saja tidak diketahui orang luar. Jika tidak percaya, boleh kau lihat sebentar lagi, segera ada orang keluar menyambut.”

“Cujin (majikan, pemilik) perkampungan ini…”

“Maksudmu Bu Siang Lojin? Beliau berdiam di gedung belakang perkampungan sana, tinggal bersama anak-anaknya. Mungkin kau mengira setiap orang juga dapat menerobos masuk dari pintu gerbang hingga ke tempat tinggalnya, orang itu sedikitnya harus punya sayap dan mempunyai beberapa kepala.”

Gin hoa nio menghela napas, gumamnya, “Jika dia terus menerus berdiam di tempat aman begini, pantaslah kalau nyalinya makin lama makin kecil.”

“Darimana kau tahu nyali beliau makin lama makin kecil?” tanya Kim yan cu sambil berkerut kening.

Gin hoa nio melengak, cepat ia menjawab, “Ah, aku cuma mendengar orang bercerita demikian.”

Mestinya Kim yan cu ingin tanya pula, tapi dari ujung jalan sana sudah muncul beberapa perempuan menyongsong kedatangan mereka. Perempuan itu semuanya memakai gaun berwiru banyak, jalannya berlenggang, mungkin itulah gaya berjalan “macan luwah” atau harimau lapar.

Salah seorang perempuan itu, seorang nyonya berbaju putih dan berperawakan semampai, dari jauh lantas berseru kepada Kim yan cu, “Sam-ya thaucu (budak ketiga), kenapa baru sekarang kau kemari, sungguh Cici telah lama merindukan kau.”

ooo 000 ooo

Tidak lama kemudian Gin hoa nio lantas tahu bahwa perempuan semampai dan bernas ini dengan wajah bulat telur dan sedikit berjerawat ini bernama Tong Ki, puteri tertua, anak kedua Tong Bu-siang. Dia inilah yang memegang kekuasaan rumah tangga di perkampungan Tong ini.

Kemudian dari Kim yan cu juga diketahui Gin hoa nio bahwa Tong ji-kohnaynay (bibi kedua keluarga Tong) ini memang bernasib malang, meski mukanya tidak jelek, pintar mengurus rumah tangga pula, tapi sudah dua kali bertunangan, belum lagi menikah, dua kali pula bakal suaminya meninggal dunia.

Sebab itulah, di belakangnya orang suka bilang mungkin lantaran Tong ji-kohnaynay terlalu pintar mengurus rumah tangga, tapi membawa sial bagi suami.

Mungkin Tong ji-kohnaynay mendengar desas-desus ini, saking gusarnya ia lantas bersumpah di depan abu leluhur bahwa selama hidup dia tidak mau menikah.

Dan sekarang Tong ji-kohnaynay inilah menyambut kedatangan Kim yan cu dengan gembira, ia pun banyak memberi pujian kepada kecantikan “adik baru” Kim yan cu.

Mungkin sudah menjadi sifatnya yang khas, tangan Tong jikohnaynay selalu membawa sepotong handuk kecil, sepanjang jalan bila melihat ada gulungan kertas tercecer atau kulit buah terbuang, segera dijemputnya dan dibungkus dengan handuknya.

Melihat itu baru Gin hoa nio tahu apa sebabnya Tong keh ceng sedemikian rapi dan bersih. Diam-diam ia pun mentertawai Tong jikohnaynay kita ini, untung nona ini tidak menikah, kalau tidak, bisa jadi suaminya akan repot mempunyai isteri begini.

Di antara perempuan-perempuan yang mendampingi Tong Ki, tapi hanya tersenyum dan tidak bersuara, ialah menantu perempuan tertua Tong Bu-siang, isteri Tong Jan, namanya Li Pwe-ling.

Nyonya menantu ini bermuka bundar, matanya juga bundar, pergelangan tangannya juga bulat seperti lontong. Potongan nyonya menantu inilah model menantu bijaksana dan membawa rejeki.

Sedangkan adik Tong Ki, namanya Tong Lin, adalah gadis yang lemah tidak tahan angin. Matanya yang besar kelam itu seolah-olah orang yang selalu menanggung susah.

Gin hoa nio tahu ketiga perempuan inilah orang penting di Tong keh ceng, selebihnya tidak perlu diperhatikannya.

Setelah melintasi jalan raya dan melalui sebuah jalan berkerikil, tiba-tiba membentang sebidang hutan di depan sana, di balik pepohonan terdapat pagar tembok bercat merah dengan genteng warna hijau, disitulah tempat Bu-siang Lojin menikmati kehidupan bahagia di hari tuanya.

Sementara itu, Tong jikohnaynay telah membuang handuk kecil yang penuh membungkus sampah jemputannya tadi dan dibuang ke keranjang sampah, lalu mencuci tangan pada sungai kecil yang melingkari pagar tembok, kemudian ia berkata dengan tertawa, “Loyacu (tuan tua) sedang tidur siang, kukira kalian tidak perlu menjumpai beliau, boleh langsung ke tempat Toa-so (kakak ipar, isteri kakak) saja, ku tahu di tempatnya ada dua botol Bi kwi lo (arak mawar), biarlah kita gasak saja.”

“Wah, dasar tukang gasak, orang menyimpan dua botol arak saja selalu kau incar,” demikian Li Pwe-ling berseloroh.

Tong Ki, Tong jikohnaynay tertawa, ucapnya, “Terus terang, memang sudah lama ku incar kedua botol araknya, sekarang mumpung ada tamu, harus kugunakan kesempatan ini untuk menyikatnya, kalau tidak, bila Toako pulang nanti, mungkin berikut botolnya akan dia lalap sama sekali.”

Kim yan cu tertawa terpingkal-pingkal, Gin hoa nio juga ikut tertawa.

Diam-diam ia pun heran mengapa nona-nona keluarga Tong di Sujwan ini mahir bicara dengan logat Pakkhia, tapi kemudian diketahuinya bahwa isteri Tong Bu-siang justeru adalah puteri keluarga ternama dari kota raja.

Pendek kata, sejak masuk pintu gerbang perkampungan Tong, segenap panca indera Gin hoa nio tidak pernah menganggur, mata telinga dan mulut terus bekerja. Matanya tidak menyampingkan sesuatu benda yang dilihatnya, telinga juga tidak pernah lalai terhadap sesuatu berita yang dapat didengarnya, malahan mulutnya terus menerus memuji dan menyanjung.

Meski semuanya itu tujuannya cuma satu, yakni ingin mencari kabar, akan tetapi betapa pun dia berusaha, kabar yang ingin didengarnya tetap sukar didapat. Yakni mengenai diri Ji-kongcu atau putera kedua keluarga Tong, kekasih Kim hoa nio, Tong Giok, kemana perginya?

Bahwa dia berusaha mati-matian memikat Kim yan cu dan rela diakui sebagai adiknya, harapannya justeru ingin dibawa Kim yan cu ke Tong keh ceng untuk mencari tahu bagaimana keadaan Tong Giok.

Hanya dua hari saja Gin hoa nio sudah dapat bergaul dengan erat bersama beberapa nona keluarga Tong. Dari peti benda mestika dikeluarkannya beberapa bentuk permata yang paling bagus untuk diberikan kepada Tong Ki, Tong Lin dan Li Pwe-ling, dipilihnya pula beberapa perhiasan lain yang tidak begitu indah, namun juga cukup berharga dan dibagi-bagikannya kepada setiap nona, setiap menantu keluarga Tong yang ditemuinya.

Sebab itulah, setiap orang yang pernah bertemu dengan dia, di depan maupun di belakang, semuanya sama memuji betapa baik hati “adik baru” Kim yan cu yang cantik ini.

Dalam pada itu ia pun sudah bertemu dengan Tong Bu-siang, ia tahu orang tua ini belum tentu dapat mengenalnya.

Maklumlah, kebanyakan orang yang sudah pernah melihat “Khing hoa samniocu”, kalau tidak melenggong kaget tentu juga terkesima oleh dandanan mereka yang aneh-aneh atau bisa juga melongo lupa daratan melihat tari bugil mereka, jarang ada yang teringat lagi kepada wajah mereka.

Begitulah, hampir setiap anggota keluarga Tong telah dilihatnya di perkampungan ini, hanya Tong Giok saja yang tidak ditemuinya. Bahkan di Tong keh ceng ini hakekatnya tiada orang lagi berbicara mengenai Ji kongcu yang romantis itu.

Sudah hampir setiap pelosok Tong keh ceng telah didatanginya terkecuali sebuah gua yang terletak di lereng bukit belakang perkampungan, setiap kali dia berpura-pura menyelonong ke sana secara tidak sengaja, setiap kali pula dia dihadang orang dari jauh.

Akhirnya diketahuinya bahwa gua itulah rupanya tempat pembuatan Am-gi atau senjata rahasia keluarga Tong yang termasyhur itu, tempat itu terlarang dikunjungi orang yang tidak berkepentingan.

Malam ini, Tong toaso bergilir pula menjadi nyonya rumah, dengan sendirinya kedua botol Bi kwi lo yang diincar Tong Ki dahulu itu sudah habis terminum, tapi arak enak yang masih tersedia juga lumayan. Sebenarnya arak bukan minuman yang cocok bagi kaum wanita, tapi sifat para nona keluarga Tong ini ternyata tidak kalah daripada lelaki, meski makan sayur sedikit-sedikit, tapi minum arak justeru banyak-banyak.

Cahaya bulan malam ini sangat terang, terendus pula bau harum bunga Kwi di halaman sana, setelah menenggak arak, ucapan Tong Ki semakin banyak, bahkan Li Pwe-ling yang biasanya jarang bicara kini juga banyak omongnya. Pertemuan di antara kenalan lama, mereka dan Kim yan cu seakan-akan tidak pernah kehabisan bahan bicara.

Hanya Gin hoa nio saja yang tidak banyak minum arak, pertama dia merasa tiada artinya minum arak bersama kaum perempuan. Kedua, ia pikir dirinya harus tetap dalam keadaan sadar. Kedatangannya ini bukan untuk minum arak saja.

Tong Lin juga tidak banyak minum arak, matanya yang besar dan kelam itu seolah-olah menanggung kesedihan yang semakin berat, tampaknya dia selalu bermalas-malasan, berbuat apa pun kurang semangat.

Aneh juga, nona cilik yang belum pernah ke luar rumah ini sebenarnya menanggung pikiran apa.

Tiba-tiba Tong Ki melototi Kim yan cu dan bertanya, “He, Sam-ya-thau, tahun ini berapa umurmu?”

Kim yan cu tertawa, jawabnya, “Untuk apa kau tanya urusan ini? Memangnya ingin pacaran denganku? Cuma sayang kau bukan lelaki, kalau tidak aku ingin menjadi istrimu.”

Tong Ki menenggak araknya, lalu berkata pula, “Kau tahu, kau lahir bulan tiga, tahun ini sudah lebih 20, betul tidak?”

“Ehmm..,” Kim yan cu bersuara samar-samar.

“Nona berumur likuran belum lagi kawin, kukira ini rada berbahaya,” kata Tong Ki.

Muka Kim yan cu menjadi merah, omelnya, “Kau tidak gelisah bagi dirimu sendiri, mengapa malah kuatir bagi diriku?”

Kembali Tong Ki minum araknya, ucapnya dengan menghela napas, “Selama hidupku ini jelas tidak akan menikah, tapi kau… kau tidak boleh, perempuan harus menikah, bila kau berumur sebaya diriku baru kau akan tahu betapa susahnya kesepian.”

Tanpa terasa pandangan Kim yan cu menjadi suram, tapi ia berucap dengan tersenyum, “Eh, koh-naynay kita hari ini bisa juga bicara setulusnya.”

Sambil memegang cawan araknya Tong Ki berkata pula dengan rawan, “Untuk apa ku pura-pura di depan kalian? memangnya aku dilahirkan untuk tidak menikah? Tapi sekarang… kau kira aku mesti menikah dengan siapa…? Yang tinggi tidak sudi padaku, yang rendah aku emoh…” dia angkat cawan araknya dan menenggaknya pula.

“Bicara sesungguhnya, Sam-moay, sampai sekarang apakah kau belum punya pacar?” tanya Li Pwe-ling dengan tertawa. “Bukankah Sinto Kongcu itu…”

“Jangan kau sebut dia lagi, bila menyebut namanya, arak saja tak dapat kuminum,” seru Kim yan cu.

“Aneh, mengapa mendadak kau benci padanya, jangan-jangan kau sudah punya yang lain?” kata Li Pwe-ling.

Muka Kim yan cu menjadi merah, jawabnya dengan tertawa, “Huh, mana ada?”

“Aha, tahulah aku,” seru Tong Ki mendadak. “Caramu bicara ini mana bisa menipu orang? Hayolah, siapa, lekas katakan. Lekas mengaku terus terang, kalau tidak pasti tidak kuampuni kau.”

Habis berkata segera dia hendak menggelitik pinggang Kim yan cu. Dengan tertawa Kim yan cu mengelak dan sembunyi di belakang Tong Lin, ucapnya dengan tertawa, “Usia Simoay juga tidak kecil lagi, mengapa kalian tidak tanya dia apakah sudah punya pacar atau belum?”

Mendadak Tong Lin berdiri, ucapnya dengan hambar, “Aku tidak ada urusan dengan mereka, jangan kalian ikut campurkan diriku.”

Sembari bicara ia terus melangkah keluar tanpa berpaling.

Kim yan cu jadi melengak, “He, Simoay marah!” serunya.

“Jangan urus dia,” kata Tong Ki. “Akhir-akhir ini tampaknya budak ini seperti kesurupan setan, selalu kurang semangat, entah menanggung pikiran apa?”

Li Pwe-ling tertawa lembut, ucapnya, “Anak perempuan se-usia dia, mana yang tidak menanggung pikiran? Biar ku keluar melihatnya.”

Biji mata Gin hoa nio berputar, mendadak ia mendahului berdiri dan berseru, “Toa-so jangan repot, biar aku saja yang keluar melihatnya.”

“Boleh juga,” ujar Li Pwe-ling. “Kalian dapat bicara dengan cocok, cuma selekasnya hendaklah kembali, sudah ku sediakan ayam goreng untuk makan malam nanti.”

Setiba di luar, bau harum bunga terasa semakin semerbak.

Tong Lin kelihatan berdiri di bawah pohon Kwi, bayang-bayang pohon menutupi wajahnya, nona itu berdiri diam saja tanpa bergerak laksana badan halus di malam sunyi.

Gin hoa nio tidak lantas mendekati nona yang kesepian itu, ia pun mondar-mandir di bawah cahaya bulan, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan bergumam perlahan, “O, kehidupan manusia sungguh mengecewakan, sinar bulan yang terang, bau harum bunga Kwi, semua ini paling-paling hanya menambah rasa kesunyian orang hidup saja.”

Dia memperhitungkan dengan baik pada waktu murung begini Tong Lin pasti malas untuk bicara, maka dia sengaja menguraikan kesepian orang hidup, kekecewaan dan sebagainya, semua ini ternyata tepat mengena di hati Tong Lin.

Ia jadi tertarik dan menoleh, dipandangnya Gin hoa nio hingga sekian lama, akhirnya ia berucap dengan hampa, “Orang semacam kau, ke mana pun kau dapat pergi, kenapa kau pun merasakan kesepian? Rasa kesepian hanya diketahui dengan jelas oleh burung yang terkurung di dalam sangkar.”

Gin hoa nio menghela napas dan berkata, “Adik yang baik, usiamu masih belia, kau belum tahu persis sesungguhnya apa kesepian itu. Ada sementara orang meskipun setiap hari dapat pesiar dan bergurau dengan orang lain, tapi hatinya jauh lebih kesepian daripada siapa pun juga. Ada lagi setengah orang meski setiap hari hanya berduduk sendirian, tapi asalkan pikirannya melayang ke tempat yang jauh, di sana pun ada seorang sedang memikirkan dia, maka apa pun juga ia takkan merasa kesepian.”

Tong Lin termenung sejenak, ia mengangguk perlahan dan berkata, “Betul, orang yang belum pernah merasakan kesepian tak nanti dapat mengucapkan kata-kata demikian… Tapi waktu pikiranmu melayang ke tempat jauh sana, darimana kau tahu dia juga sedang memikirkan dirimu?”

“Sudah tentu aku tidak tahu, siapa pun tidak tahu soal ini dan inilah penderitaan orang hidup.”

“Betul, inilah penderitaan orang hidup,” tukas Tong Lin dengan rawan dan menunduk.

“Sudah lama sekali,” tutur Gin hoa nio, “ada kukenal seorang pemuda, namanya The Giok long, hanya satu kulihat dia, tapi siang dan malam aku merindukan dia, mungkin… mungkin namaku saja dia tidak tahu…”

Gin hoa nio tahu kelemahan anak perempuan umumnya, bilamana kau ingin seorang anak perempuan membeberkan rahasia isi hatinya, maka jalan yang paling baik adalah menceritakan dulu rahasia di hatinya sendiri.

Sebab itulah dia lantas membuat suatu nama dan mengarang satu cerita.

Benarlah, tubuh Tong Lin kelihatan rada gemetar, selang sejenak, ia coba bertanya lagi, “Sudah banyak tempat yang kau jelajahi?”

“Ehmm,” Gin hoa nio mengangguk.

“Ya, banyak sekali,” jawab Gin hoa nio dengan tersenyum getir.

Tong Lin menunduk, jelas hatinya sedang meronta dan bergolak, ia terdiam lagi sebentar barulah mengambil keputusan, mendadak ia mengangkat kepala dan menatap Gin hoa nio, ucapnya sekata demi sekata, “Tahukah kau seorang na… namanya Ji Pwe giok?”

Ji Pwe giok! Kembali Ji Pwe giok!

Jantung Gin hoa nio hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu tanda sedikit pun, dengan tersenyum ia bertanya, “Kakimu tidak pernah melangkah keluar Tong keh ceng ini, cara bagaimana kau kenal Ji Pwe giok?”

“Beberapa hari yang lalu dia pernah kemari,” tutur Tong Lin perlahan.

“Berkunjung kemari? Beberapa hari yang lalu?” tukas Gin hoa nio tanpa terasa.

Tong Lin menggigit bibir, ucapnya pula, “Dia datang mencari ayahku. Hari itu, kebetulan Toako dan Toa-so keluar mengantar keberangkatan Toako, hanya aku saja yang di rumah. Cukup lama dia bicara dengan ayah, tiba-tiba ayah menyatakan mau keluar, seperti akan mencarikan seseorang baginya, maka… maka aku lantas dipanggil untuk menemani dia…”

Cahaya bulan menembus celah-celah dedaunan yang menyinari wajahnya, menyinari matanya, wajahnya kemerah-merahan, matanya bersinar laksana kerlip bintang di langit.

Dengan tenang Gin hoa-nio mendengarkan dan tidak memutus ceritanya.

Sampai lama Tong Lin termangu-mangu, kemudian disambungnya dengan perlahan, “Sebenarnya aku tidak suka bicara dengan orang yang baru kukenal, tapi di depannya aku merasakan tiada sesuatu kekangan, setiap gerak geriknya kurasakan begitu halus, apa yang diucapkannya terasa penuh rasa simpatik dan pengertian. Tatkala mana dia seperti baru terluka parah, tapi dia tidak memperlihatkan rasa menderita sedikitpun, jelas karena dia tidak ingin ku ikut susah, nyata, setiap urusan apa pun selalu dia pikirkan dulu bagi orang lain.”

Dia bercerita dengan perlahan seperti orang yang mengigau dalam mimpi.

“Kemudian bagaimana?” tanya Gin hoa nio tak tahan.

“Kemudian ayahku pulang dan terpaksa ku kembali ke kamarku, kukira esoknya dapat kulihat dia lagi, siapa tahu, pada… pada malam itu juga dia telah berangkat, ayah pun tidak mau memberitahukan kemana perginya, hanya menyampaikan terima kasihnya atas pembicaraanku dengan dia waktu dia ku ajak ngobrol. Ai, aku… kukira selama hidup ini takkan melihat dia lag.” Dia menunduk dengan air mata bercucuran.

“Kau kan baru melihat dia satu kali, masa dia begitu penting bagimu?” ucap Gin hoa nio dengan perlahan.

“Dan kau sendiri bukankah… bukankah juga baru bertemu satu kali dengan The Giok Long yang kau sebut tadi?”

Baru Gin hoa nio ingat pada bualannya tadi, katanya pula, “Jika benar-benar kau tak dapat melihat dia lagi, lalu bagaimana?”

“Ya, apa boleh buat!?” jawab Tong Lin dengan suara agak gemetar. “Tapi selama… selama hidupku ini mungkin akan selalu… merana.”

Gin hoa jio memandangnya tajam-tajam, tanyanya kemudian, “Bagaimana kalau ada orang yang dapat membuat kau bertemu dengan dia?”

Mendadak Tong Lin memegang tangan Gin hoa nio erat-erat, serunya dengan gemetar, “Jika ada orang dapat mempertemukanku dengan dia, aku bersedia melakukan apapun juga baginya… Ya, apapun juga akan kulakukannya, selama hidupku ini tidak pernah gila bagi urusan apa pun, tapi sekarang, rasanya aku benar-benar hampir gila.”

Gin hoa nio menghela napas, katanya dengan tertawa, “Pikiran anak gadis, ya, inilah pikiran anak gadis.”

Sekujur badan Tong Lin gemetar pula, pegangannya bertambah erat, ia menegas, “Dapatkah… dapatkah kau memper…”

Gin hoa nio menarik tangannya, ia tidak lantas menjawab, ia sengaja jual mahal, sejenak kemudian barulah ia menjawab secara licin, “Aku pun ingin melihat sesuatu, entah kau dapat membantu atau tidak?”

“Urusan apa? katakan saja, katakan!” desak Tong Lin.

“Kudengar cerita orang, konon tempat keluargamu menggembleng am-gi adalah tempat yang paling misterius dan tempat yang paling menarik, mimpi pun aku ingin masuk ke sana untuk melihatnya,” jawab Gin hoa nio.

Seketika air muka Tong Lin berubah, katanya, “Ah, tempat itu tiada sesuatu yang menarik.”

“Tak apalah jika kau tak dapat membantu keinginanku ini,” ucap Gin hoa nio tak acuh. Sejenak kemudian tiba-tiba ia berkata, “O, sebentar, aku akan minum dulu.”

Tapi sebelum Gin hoa nio melangkah pergi, cepat Tong Lin menariknya dan berkata, “Jika kubantu keinginanmu ini, apakah kau…”

“Aku pun akan membantu terpenuhi keinginanmu,” tukas Gin hoa nio dengan tertawa.

Tong Lin berpikir sejenak, akhirnya ia menjawab dengan menggreget, “Baik, akan kubawa kau ke sana. Tapi berhasil atau tidak tak berani kujamin. Selain itu, kau mesti berjanji juga padaku, setelah masuk ke sana, tidak boleh kau menyentuh sesuatu barang apa pun.”

Dengan girang Gin hoa jio menjawab, “Asalkan melihatnya saja hatiku sudah puas, pasti takkan ku sentuh.”

“Baik, sekarang juga kita pergi kesana,” kata Tong Lin.

Tapi Gin hoa nio menariknya pula dan berkata, “Biarlah kita kembali dulu ke dalam, agar mereka tidak curiga. Ku tahu di sana ada sebuah gardu kecil, nanti kalau mereka sudah mabuk dan tertidur kita bertemu kembali di gardu itu.”

Tong Lin mengangguk setuju, tiba-tiba air matanya bercucuran, ratapnya di dalam hati, “Ji Pwe giok, wahai Joi Pwe giok, sejauh ini kulakukan bagimu, tapi apakah kau tahu…?”

ooo 000 ooo

Tengah malam Gin hoa nio sudah datang ke gardu kecil itu, sebelumnya Tong Lin sudah menunggunya dengan tak sabar, begitu melihat Gin hoa nio muncul dari kejauhan segera ia menggapai dengan tangannya.

Jarak gardu kecil ini dengan gua itu masih cukup jauh, tapi gerak-gerik Tong Lin tampak sangat hati-hati. Gin hoa nio juga tahu di tempat ini tidak boleh sembrono.

Kelihatan dua lelaki baju hitam mondar-mandir di depan gua sana, di dalam gua tampak ada cahaya lampu, selain itu tiada kelihatan bayangan orang lain.

Di kejauhan ada suara air gemercik, Gin hoa nio, tahu itulah sebuah sumber air hangat di tebing bukit sana. Konon sebabnya racun senjata rahasia keluarga Tong tidak dapat ditiru orang lain adalah karena dicampur dengan sumber air yang istimewa ini. Tapi sesungguhnya masih ada sebab lain atau tidak sukar dipastikan.

Gin hoa nio lantas mendesis, “Apakah sekarang kita dapat masuk ke sana?”

Muka Tong Lin tampak lebih pucat daripada kertas, katanya sambil menggeleng, “Tidak, saat ini yang dinas jaga gua ini adalah Si-suhengku, Tong Siu-hong, dia berwatak keras dan kaku, bila kita ingin masuk ke sana sekarang, hakekatnya setitik harapan saja tidak ada.”

“Jika demikian, hayolah kita pulang saja!” ucap Gin hoa nio dengan kurang senang.

Tapi Tong Lin lantas mendesis, “Sabar dulu, ketahuilah orang yang dinas jaga di sini akan berganti pada tengah malam tepat, maka boleh kita tunggu lagi sejenak, bila yang dinas jaga nanti adalah Toa suheng atau Jit-suheng, maka bereslah, sebab kedua orang ini paling mudah diajak bicara.”

Gin hoa nio tersenyum cerah dan tidak bersuara lagi.

Tidak lama kemudian, Tong Lin tak tahunya ia bertanya, “Apakah kau pun kenal… kenal Ji kongcu?”

Gin hoa nia mengiakan.

Tong Lin menggigit bibir. “Cara bagaimana kau kenal dia?” tanyanya kemudian.

“Jangan kuatir,” ujar Gin hoa nio dengan tertawa. “Aku dan dia cuma kawan biasa saja, aku sendiri sudah punya pacar.”

Muka Tong Lin yang pucat itu seketika merah semarak, ia menunduk dan tidak bicara lagi.

Lewat sejenak pula, Gin hoa nio juga tidak tahan, ia bertanya, “Konon tidak lama mukanya telah dilukai orang, entah betul atau tidak?”

“Betul,” jawab Tong Lin dengan menyesal, “Mukanya memang ada bekas luka, dia bilang padaku, seorang perempuan paling keji dan paling licin di dunia ini yang melukainya.”

Tentu saja Gin hoa nio merasa gregetan tapi di mulut ia berkata dengan tertawa, “Jika bukan perempuan yang keji, siapa yang sampai hati melukai dia?”

Tiba-tiba Ton Lin tertawa, katanya, “Bila perempuan ini bermaksud merusak wajahnya, maka dia pasti akan kecewa.”

“Oo!? Sebabnya?” tanya Gin hoa nio.

“Sebab setelah mukanya bertambah bekas luka itu, dia bukannya menjadi buruk rupa, tapi malah menambah perbawa kelelakiannya,” tutur Tong Lin. “Kupikir pada sebelum terluka begitu tentu wajahnya berbau pupur, pasti tidak sebaik sekarang.”

Hampir meledak dada Gin hoa nio saking gemasnya, dia hanya menggreget secara diam-diam saja, tapi menanggapi dengan tertawa, “Kukira itulah yang dinamakan di mata pacar timbul bidadari, biarpun seperti siluman juga tampaknya maha cakap.”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara langkah orang ramai, menyusul dari jalan kecil sana lantas muncul dua baris bayangan orang, jumlahnya ada 20-30 orang, empat orang yang di depan dan di belakang sama memegang lampu kerudung kertas.

Seorang pendek gemuk berjalan paling depan, dia tidak membawa senjata, tapi pinggangnya menonjol, jelas banyak am-gi atau senjata rahasia yang dibawanya.

“Wah, mujur kita, yang ganti dinas jaga memang betul Jit-suko,” ucap Tong Lin dengan senang.

“Si gemuk kecil inikah Jit-sukomu?” tanya Gin hoa nio.

“Meski Jit-suko kami ini tampaknya ramah tamah, tapi ilmu silatnya tergolong kelas satu, orang Kangouw memberi julukan “Jian jiu mi to” (Buddha gemuk bertangan seribu) padanya. Di Tong keh ceng sini, kecuali Toako dan Toa-suheng kami, mungkin nama Jitsuko yang paling gemilang.”

“Sungguh tidak dinyana, padahal kelihatannya dia seperti kasir di restoran yang berperut buncit,” Gin hoa nio berseloroh.

Tong Lin juga tertawa geli, katanya, “Pada waktu tidak dinas jaga, pekerjaannya memang kasir restoran. Setiap orang yang berkunjung ke perkampungan ini seluruhnya dilayani oleh dia, yang bermaksud mengacau ke sini juga harus melalui rintangannya dulu.”

Gadis yang baru pertama kali jatuh cinta ini sejak merasa ada harapan akan bertemu lagi dengan orang yang dicintainya, hati yang tadinya murung kini mulai cerah dan bergairah hingga kata-katanya juga bertambah banyak. Dalam pada itu Jian jiu mi to Tong Siu jing sudah berhenti di depan gua sana, dari bajunya ia mengeluarkan sebuah pelat hitam dan diserahkan kepada lelaki yang berjaga di luar gua tadi.

Lelaki itu memberi hormat, lalu berlari masuk ke dalam gua. Tidak lama kemudian dia keluar lagi bersama seorang lelaki kekar bermuka lebar dan berjenggot hitam.

“Si-suheng tentu sudah capai!” sapa Tong Siu jing sambil menyongsong ke depan.

Yang baru keluar itu memang Tong Siu hong, ia memandang kedua barisan tadi, lalu berkata dengan kurang senang, “Mengapa yang datang cuma 29 orang?”

Dengan mengiring tawa Tong Siu jing memberi penjelasan, “Isteri Siau hou cu melahirkan, kuberi dia cuti satu hari.”

Dengan muka bersungut Tong Siu hong berkata, “Punya anak juga bukan sesuatu yang luar biasa, di Tong keh ceng ini hampir setiap hari ada anak lahir. Waktu susomu (kakak iparmu) melahirkan, bukankah akupun tetap berdinas jaga?”

Tong Siu jing menunduk, jawabnya tetap dengan mengiring tawa, “Ya, inilah kesalahanku…”

“Sekali ini tidak jadi soal, bulan depan dia harus tambah dinas sehari,” ucap Tong Siu hong tegas. “Tapi tenaga hari ini tetap tidak boleh berkurang satu.”

“Sudah belasan tahun tempat ini selalu aman tenteram, hanya kurang satu orang masa menjadi soal?” ujar Siu jing dengan tertawa.

“Lojit, salah besar ucapanmu ini,” kata Siu hong dengan bengis. “Biarpun seribu tahun tidak pernah terjadi apa-apa, tetap penjagaan kita tidak boleh teledor. Sebabnya orang luar tidak berani menerobos masuk ke sini justeru karena ketatnya penjagaan di sini.”

Terpaksa Tong Siu jing menunduk dan mengiakan.

Pandangan Siu hong beralih kepada seorang lelaki penjaga tadi dan berkata, “Kemarin waktu istirahat makan, diam-diam kau minum dua ceguk arak, mestinya akan kuhukum kau setelah pulang nanti, tapi sekarang Siu hou cu tidak masuk kerja, bolehlah kau wakilkan dia dinas satu hari lagi.”

Lelaki itu tidak berani membantah dan mengiakan dengan hormat.

Habis ini barulah Tong Siu hong memberi tanda, segera Tong Siu jing membawa kedua barisan tadi masuk ke dalam gua.

Menyusul di dalam gua lantas bergema suara bentakan disertai suara nyaring pintu pagar besi dibuka dan ditutup lagi, lalu ada pula 29 orang berjalan keluar dalam dua barisan.

Tong Siu hong memeriksa pula dengan teliti ke 29 orang ini, air mukanya yang keren barulah rada cerah, lalu ia berpaling dan berkata kepada Siu jing, “Besok sesudah pulang dari dinas, datanglah ke rumah Siko, Si-suso kemarin baru saja masak Ang sio tite, dia tahu kegemaranmu dan disediakan bagimu.”

“Baik, Si-sute akan datang dengan membawa arak,” jawab Siu jing dengan tertawa.

Kemudian Siu hong memberi tanda lagi dan membawa pergi kedua barisan tadi. Beberapa langkah kemudian ia berpaling pula dan berseru, “Jangan terlalu banyak arak yang kau bawa nanti agar tidak sampai mabuk, bisa terlantar pekerjaan kita.”

Siu jing tertawa dan mengiakan.

ooo 000 ooo

Tempat yang selalu aman tenteram selama belasan tahun ini sampai sekarang masih tetap dijaga seketat ini, mau tak mau hati Gin hoa nio terkesiap dan kagum juga menyaksikan semua ini.

Baru sekarang ia tahu sebabnya nama Tong keh ceng di Sujwan tetap jaya, sebab memang tak mudah memasukinya. Untung ia tidak sembarangan bertindak, kalau tidak, bisa jadi saat ini dia sudah digotong keluar dalam keadaan tak bernyawa.

Sesudah Tong Siu hong dan kedua barisannya lenyap dari pandangan barulah Tong Lin menghela napas lega, ia tarik lengan baju Gin hoa nio dan berkata, “Hayolah, sekarang kita boleh coba-coba mengadu untung.”

Segera ia mengajak Gin hoa nio menuju ke gua sana. Baru sampai di luar gua, segera penjaga membentak, “Siapa itu?”

“Aku, masa tidak kenal?” sahut Tong Lin.

“O, kiranya nona Lin,” cepat lelaki itu memberi hormat.

“Ada urusan yang ingin kutemui Jitsuko…” sambil bicara Tong Lin terus hendak menerobos ke dalam.

Siapa tahu lelaki itu lantas menghadang di depan, katanya dengan tertawa, “Maaf nona, tanpa perintah tuan besar, bila hamba membiarkan nona masuk, besok hamba pasti akan mendapat hukuman berat.”

Terpaksa Tong Lin berhenti dan berkata, “Jika demikian, kukira boleh kau panggilkan Jitsuko saja.”

Orang itu tampak ragu sejenak, tapi kemudian mengiakan.

Namun Tong Siu jing tidak perlu dipanggil lagi, dengan tertawa ia sudah memapak keluar. Ia memandang Gin hoa nio sekejap, lalu berkata, “Simoay, mengapa kau bawa tamu ke tempat ini, cara bagaimana harus kuladeni kalian?”

Gin hoa nio tersenyum dan memberikan lirikan genit, lalu menunduk malu-malu.

Tong Lin menjawab dengan tertawa, “Kau tahu dia ini tamu, jadi kau sudah tahu siapa dia?”

“Sudah dua hari kudengar nona Kim datang dengan membawa seorang adik perempuan, kudengar juga dua botol bi kwi lo simpanan Toaso telah terminum habis, padahal kedua arak itupun sudah lama ku incar, tapi Jikohnaynay tidak mengundang diriku, tentu saja aku tidak berani nyelonong ke perjamuannya.”

“Pantas Jici (kakak kedua) selalu bilang Jit-suko bertelinga panjang, nyatanya segala urusan besar kecil di perkampungan ini tiada satupun dapat mengelabui mata telingamu,” ujar Tong Lin dengan tertawa.

“Ah, tidak perlu kau mengumpak diriku, tentu ada yang kau harapkan dariku,” kata Tong Siu jing.

“Coba jawab saja, ada tamu, cara bagaimana kau memberi pelayanan?” kata Tong Lin.

“Ai, kan sudah kukatakan, di sini tiada sesuatu yang cocok untuk melayani tamu. Tapi lusa siang pasti akan kusiapkan satu meja perjamuan besar, semoga para nona sudi hadir.”

“Huh, perjamuan apa, paling-paling juga cuma Hay hong hi sit (sup sirip ikan dan telur kepiting), Yan oh keh yong (sarang burung masak ayam) dan sebagainya, sudah bosan!” seru Tong Lin. Mendadak ia menarik lengan baju Tong Siu jing dan berkata pula dengan tersenyum manis, “Dia hanya ingin meninjau sejenak saja ke dalam, harap Jitsuko memberi izin. Kan tempo hari Jici juga membawa tamunya kemari dan kaupun membiarkan mereka masuk? Jika Jici kau beri kesempatan, supaya adil akupun mesti diberi kesempatan. Kalau tidak, lain kali takkan kuhiraukan kau lagi, jika ku masak wikeh kuah juga takkan kuberikan padamu.”

Tong Siu jing menghela napas, katanya, “Begitu melihat kedatanganmu segera ku tahu maksudmu, kalau tidak, kenapa tidak cepat tidak lambat, begitu aku dinas jaga segera kau muncul?”

Gin hoa nio sengaja mengikik tawa dan berbisik-bisik pada Tong Lin, “Betul tidak, kan sudah kukatakan dia tak dapat dikelabui, kukira lebih baik panggil Jici saja kemari.”

Dia seperti bicara terhadap Tong Lin, padahal sengaja diperdengarkan kepada Tong Siu jing, maka meski suaranya kedengarannya lirih, tapi cukup untuk didengar Tong Siu jing.

“Ai, kutakut pada Ji-siocia, memangnya Si-siocia kutakuti?” ujar Tong Siu Jing dengan menyesal.

“Padahal Si-siocia jauh lebih sulit untuk dilayani.”

Dia membungkuk tubuh sebagai tanda menyilakan dan berkata pula, “Baiklah, kedua nona silahkan masuk saja, lekas! Cuma kalian harus mengikuti petunjukku, tidak boleh sembarangan bergerak, tidak boleh sembarangan pegang dan aku akan berterima kasih jika semua itu kalian patuhi.”

ooo 000 ooo

Dipandang dari jauh hakekatnya gua itu tiada terlihat pintunya, tapi setiba di mulut gua segera akan tertampak tiga lapis pagar besi yang tertanam di dinding batu. Melulu ketiga pagar besi ini saja sukar diterobos oleh segala orang, maklum terali besinya yang sebesar lengan bayi itu jelas tidak mudah digeser orang.

Akan tetapi Tong Siu jing hanya menekan perlahan pada suatu tempat di dinding batu dan pagar besi itu lantas menghilang ke dalam dinding tanpa mengeluarkan suara.

Di balik pintu besi itu sudah kelihatan keadaan gua yang curam dan berbahaya, pada setiap batu yang mencuat keluar pasti ada seorang lelaki berseragam hitam berjaga di situ.

Setelah melintasi ketiga lapis pagar besi itu, hati setiap orang lantas mulai tegang, rasanya seperti masuk ke sebuah biara kuno yang seram, seperti juga masuk ke sebuah hutan purba, secara aneh dirinya sendiri terasa berubah sedemikian kelunya, di segenap penjuru seolah-olah penuh terpendam bahaya yang sukar diraba.

Gin hoa nio menghela napas, desisnya, “Padahal tanpa dipesan, di tempat begini, siapakah yang berani sembarangan bergerak?”

Tong Lin mencibir, katanya, “Jika tidak menemani kau, tidak nanti ku datang ke tempat setan ini.”

Meski di mulut dia bilang “tempat setan”, tapi aneh, sukar menutupi rasa senangnya. Soalnya tempat ini tidak cuma dipandang sebagai “tanah suci” oleh anak murid Tong, bahkan juga dianggap tempat suci oleh orang Kangouw, justeru inilah yang selalu dibanggakan oleh setiap anggota keluarga Tong.

Gua ini cukup dalam dan berliku-liku, tempat demikian seharusnya terasa gelap dan seram, tapi justeru semakin ke dalam rasanya semakin hangat, menyusul lantas terdengar gemerciknya air mengalir.

Setelah membelok lagi satu tikungan, pandangan Gin hoa nio mendadak terbeliak.

Gua yang semula berliku-liku itu, sampai di sini mendadak terbuka, perut gunung ini ternyata kosong, berwujud sebuah terowongan raksasa, atapnya yang bulat melengkung berpuluh tombak tingginya, luasnya entah berapa ratus tombak, seorang berteriak dari ujung sini umpamanya, waktu dia tutup mulut, barulah suaranya dapat berkumandang sampai di ujung sana.

Anehnya meski tempat ini termasuk di dalam perut gunung, tapi di sini dialiri sebuah sungai kecil. Air sungai berwarna kuning bahkan mengepulkan asap dan berhawa panas.

Di tepi sepanjang sungai kecil itu terdapat berpuluh tungku tembaga antik yang beraneka ragam bentuknya, di antara tungku satu dan tungku lain teraling oleh pintu angin batu setengah alam dan setengah buatan tenaga manusia.

Pada saat ini, di samping setiap tungku terdapat dua lelaki kekar dengan telanjang badan bagian atas, kedua orang sedang memukul dan menggembleng di atas talenan besi, palu yang digunakan mereka tidak terlalu besar, jelas barang yang mereka gembleng itu sangat kecil, tapi air muka mereka sama prihatin, seolah-olah menanggung beban beribu kati, segenap tenaga dan perhatian mereka tidak berani lena sedikit pun.

Setelah orang-orang pada tungku pertama selesai membuat benda itu lalu dilempar ke dalam keranjang bambu yang terikat dan terendam di dalam air sungai, setelah digerujuk dan dicuci oleh air sungai yang mengalir tanpa henti itu, lalu orang-orang yang menunggui tungku kedua akan menggantol keranjang bambu itu, terus digembleng dan ditempa pula.

Begitulah setelah mengalami lima kali gemblengan, hasil produksi itu direndam lagi di dalam air sungai sampai sekian lamanya, akhirnya akan dikumpulkan oleh seorang lelaki berseragam hitam dan diantar ke dalam rumah batu yang terdapat berderet di dinding tebing sana.

Di depan pintu rumah batu terpasang kerai, di dalam terkadang juga bergema suara gemblengan, untuk bisa melihat keadaan di dalam rumah harus menyingkap kerai.

Cara bekerja orang-orang itu sangat tekun dengan sikap prihatin pula, terhadap segala urusan dari luar seolah-olah tidak dilihat dan tidak didengarnya. Dunia mereka, kehidupan mereka seolah-olah sudah tercurahkan pada benda kecil yang mereka pegang, padahal benda-benda kecil itu tidak lebih hanya sepotong besi atau sepotong kawat.

Amgi atau senjata rahasia keluarga Tong dari propinsi Sujwan yang termasyhur selama beratus tahun rupanya berasal dari potongan besi atau kawat kecil melalui proses produksi orang-orang ini.

Sampai kesima Gin hoa nio menyaksikan semua ini. Tidak pernah terbayang olehnya bahwa pembuatan sepotong senjata rahasia sekecil itu mengalami proses produksi seruwet ini.

Melihat Gin hoa nio kesemsem, Tong Lin tertawa, katanya, “Sudah cukup kau lihat?”

Gin hoa nio memegang tangannya dan berkata, “Adik yang baik, jangan kau tertawakan diriku, aku benar-benar seperti katak baru keluar dari tempurung, aku merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus kukatakan.”

“Mana bisa kutertawai kau,” kata Tong Lin. “Setiap orang yang berkunjung ke sini semuanya berubah seperti dirimu. Sebab tiada seorang pun yang membayangkan bahwa untuk membuat satu biji senjata rahasia sekecil itu ternyata sedemikian ruwetnya.”

“Ya, memang betul, aku benar-benar bingung,” kata Gin hoa nio.

Setelah berpikir sejenak, Tong Lin mengeluarkan sepotong amgi yang berwarna hitam, amgi ini kalau dipandang mirip setangkai bunga, kalau diamati lagi barulah kelihatan bukan bunga.

“Kau tahu barang apakah ini?” tanya Tong Lin.

“Entah, aku… aku tidak tahu,” jawab Gin hoa nio dengan mata terbelalak.

“Inilah Thi cit le (besi berduri) yang disegani orang Kangouw,” tutur Tong Lin. “Sebenarnya Thi cit le bukan senjata rahasia yang lebih lihay dari pada amgi lain, hanya thi cit le buatan keluarga Tong memang lain daripada yang lain dan lebih lihay, sebab proses pembuatannya berbeda jauh daripada Thi cit le biasa.”

“Ah, tidak kulihat ada sesuatu perbedaannya,” Gin hoa nio sengaja membantah.

“Cara membuat Thi cit le, biasanya orang lain harus membuat cetakan modelnya, lalu menuangkan cairan bajanya ke dalam cetakan, sesudah cairan baja dingin barulah selesai pembuatannya.”

“Dan bagaimana cara keluargamu membuatnya?” tanya Gin hoa nio.

Thi cit le keluarga kami dimulai dengan membuat daun-daunnya yang kecil-kecil, habis itu sepotong demi sepotong dibentuk menjadi satu, apabila Thi cit le ini disambitkan dan masuk tubuh manusia, segera daun-daunnya akan mekar, bila senjata rahasia ini hendak dikeluarkan, sedikitnya sebagian kulit daging akan terkoyak.”

“Wah, sakitnya pasti setengah mati!” seru Gin hoa nio dengan lagak terperanjat.

“Kalau jiwa dapat tertolong, rasa sakit sih tidak menjadi soal,” ujar Tong Lin dengan tersenyum.

“Cuma sayang, ketika senjata rahasia ini dapat dikeluarkan, jiwanya juga tak tertolong lagi”

“Memangnya sebab apa?” tanya Gin-hoa-nio pura-pura bingung.

Sebab Am-gi ini dibentuk dengan 13 sayap, bukan saja setiap sayapnya sudah direndam racun, bahkan jenis racunnya tidak sama, ke-13 macam racun sama lihaynya, asal masuk darah lantas meluas, biarpun malaikat dewata juga tidak mampu menyelamatkan jiwanya”

Diam-diam Gin-hoa-nio merasa ngeri juga setelah mengetahui betapa lihay senjata rahasia keluarga Tong ini. Katanya kemudian, “Pantas orang Kangouw sama bilang, lebih baik ketemu setan daripada ketemu am-gi keluarga Tong”

Tapi Tong Lin lantas bercerita lebih lanjut, “Di antara ke tujuh macam Am-gi keluarga Tong yang paling lihay, Thi-cit-le ini tergolong yang paling umum dan paling sederhana. Thi-cit-le hanya dibentuk dari 13 kepingan besi, masih ada Am-gi lain yang dibentuk dari berpuluh-puluh potong onderdil. Misalnya Kiu-thian-sin-ciam, jarum sakti ini harus disemburkan dengan sebuah bumbung. Untuk merakit bumbung ini sampai saat ini masih merupakan rahasia besar bagi orang Kangouw”

Gemerdep sinar mata Gin-hoa-nio, katanya, “Makanya kalian sengaja memisahkan orang-orang yang membuat am-gi ini, tujuannya adalah untuk menjaga rahasia ini agar tidak dibocorkan oleh mereka, betul tidak?”

“Betul, orang yang dipekerjakan di sini, meski semuanya jujur dan setia, tapi bukan mustahil ada juga yang tidak tahan pancingan dan paksaan orang lain”, kata Tong Lin. “Dan leluhur keluarga Tong sudah memikirkan hal-hal demikian, sebab itulah hakekatnya tiada seorangpun di antara mereka yang mengetahui rahasia seluruhnya dari proses pembuatan Am-gi ini, jadi, seumpama mereka ingin membocorkannya juga sukar membocorkannya secara lengkap dan jelas.”

Dia tuding salah seorang pekerja itu, lalu menyambung pula, “Umpama orang ini, tugasnya hanya membuat salah satu daun Thi-cit-le, maka selama hidupnya juga melulu bekerja menggembleng sayap Thi-cit-le ini, pekerjaan lain tidak pernah tahu, sampai-sampai bagaimana bentuk sayap Thi-cit-le yang lain juga tidak diketahuinya.”

“Selama hidup hanya itu-itu saja yang mereka kerjakan, sampai akhirnya dengan sendirinya hasil pekerjaannya semakin sempurna, pantas Am-gi keluarga Tong selamanya tak dapat ditiru orang,” ujar Gin hoa nio dengan gegetun.

“Cara demikian juga masih ada kebaikan lain yaitu di luar pekerjaan ini mereka dapat hidup seperti orang biasa, tidak perlu kuatir ada orang luar akan membawa lari mereka dan kita pun tidak perlu mengawasinya.”

Gin hoa nio memandang ke deretan rumah batu sana dan bertanya, “Lalu, bagaimana dengan orang-orang di dalam sana?”

“Ya, hanya orang-orang di dalam itulah yang mengetahui rahasia pembuatan amgi, sebab setelah onderdilnya selesai dibuat, semuanya dikumpulkan dan diantar ke tempat mereka untuk dirakit.”

“Apakah mereka takkan membocorkan rahasianya?” tanya Gi hoa nio.

“Orang-orang di dalam rumah itu adalah kakek yang telah pensiun, kebanyakan di antaranya juga sebatangkara, maka sukarela bekerja di situ. Sebab, setelah memangku pekerjaan ini, selama hidup tak boleh lagi keluar dari gua ini.”

Gin hoa nio menghela napas, katanya, “Pantas mereka bekerja dengan sepenuh tenaga, kiranya mereka sudah mempersembahkan jiwa raga mereka buat amgi ini, asalkan dapat membuat sebuah amgi yang baik dan sempurna agar sejarah keluarga Tong tetap gemilang, maka itu pun merupakan kebahagiaan mereka.”

“Ucapan nona memang tepat,” tukas Tong Siu jing mendadak dengan tertawa. Meski kehidupan kakek-kakek itu kesepian, tapi tekad mereka adalah menegakkan dan mempertahankan nama baik keluarga Tong tetap jaya abadi. Setiap anggota keluarga Tong memang sanggup menderita apa pun.”

“Eh, silahkan kalian omong-omong dulu, ku pergi ke sana untuk menjenguk seseorang,” tiba-tiba Tong Lin berkata.

“He, Simoay, jangan lupa kau…” tapi belum sempat Tong Siu jing mencegah lebih jauh, tahu-tahu Tong Lin sudah melompati sungai kecil itu dan berlari ke sana.

Dengan lagak malu-malu dan menunduk Gin hoa nio melayani pembicaraan Tong Siu jing, tapi perhatiannya sebenarnya selalu mengikuti gerak-gerik Tong Lin.

Dilihatnya nona itu berlari secepat terbang ke dalam deretan rumah batu sana dan langsung masuk ke rumah ketiga dari sebelah kiri. Begitu cepat gerak tubuh nona itu, kerai baru tersingkap segera tertutup kembali lagi.

Akan tetapi cukup sekejap itu lamat-lamat Gin-hoa-nio sudah dapat melihat ada orang berada di dalam rumah. Orang itu duduk membelakangi pintu dan tanpa bergerak, tapi tidak menyerupai orang yang lagi asyik bekerja melainkan lebih mirip orang yang lagi duduk melamun. Dengan sendirinya mukanya tidak kelihatan, hanya tertampak rambutnya hitam gelap, bahkan Gin-hoa-nio yakin matanya sendiri pasti tidak keliru lihat, usia orang itu pasti sangat muda.

Kalau menurut cerita Tong Lin tadi, bahwa yang bekerja di dalam rumah-rumah batu itu adalah kakek-kakek yang sudah pensiun, mengapa sekarang ada seorang muda di sana? Untuk apa pula Tong Lin sengaja menjenguknya?

Mendadak jantung Gin-hoa-nio berdetak, “Ha..Tong Giok! Orang itu pasti Tong Giok adanya. Kiranya Tong Bu-sian menyembunyikan puteranya yang kedua ini di sini, pantas dicari sekian lamanya tidak bisa ditemukan”

Saking girangnya hampir saja Gin-hoa-nio berjingkrak, tapi ia tetap tidak lupa melayani bicara Tong Siu-jing. Mata Tong Siu-jing memandangnya semakin mencorong dan semakin lengket.

Tentu saja Gin-hoa-nio berlagak semakin malu kucing, mengangkat kepala saja tidak berani.

Tong Siu-jing berkata, “Sudikah nona dan nona Kim makan siang di rumah makanku besok pagi?”. Gin-hoa-nio menjadi merah mukanya, “Kalau cici Kim bersedia aku bersedia juga”. Dia berjalan ke arah sungai kecil dan berkata, “Dapatkah aku mencuci tangan di sini?”

Tong Siu-jing menjawab, “Tentu saja”

Gin-hoa-nio mencelupkan dan mencuci tangannya ke dalam air. Tong Siu-jing terpesona melihat tangannya yang anggun dan indah.

Tong Lin kembali dan kelihatan sedikit jengkel, dia berkata, “Dia jadi sangat aneh, dia bahkan tidak mau memandangku”

Tong Siu-jing berkata, “Belakangan ini perasaannya tidak enak, jangan perdulikan dia”

Gin-hoa-nio yakin bahwa orang yang dimaksud adalah Tong Giok, diam-diam dia jatuhkan sapu tangan ungunya ke dalam air. Dia berdiri dan berkata, “Adik ke empat, aku rasa aku sudah cukup melihat semuanya”

Tong Siu-jing berkata, “Kakak ke empat…”

Tong Lin menyela, “Adik ke tujuh, tidak usah kuatir. Kita belum merepotkanmu”

Tong Siu-jing berkata, “Lain kali…”

Tiba-tiba Tong Siu-jing melihat air sungai bergolak dan mengeluarkan asap ungu. Asap itu segera berubah menjadi kabut tebal. Dalam waktu singkat kabut itu menjadi semakin tebal, bahkan orang-orang tidak bisa melihat siapa yang berdiri disampingnya.

Dengan terkejut Tong Siu-jing membentak, “Setiap orang tetap berjaga di tempat masing-masing. Jangan sembarang bergerak!”

“Aku bagaimana?…” seru Tong Lin.

“Kau awasi kawanmu, juga jangan pergi dulu!” bentak Tong Siu-jing dengan bengis.

Ditengah suara bentakannya ia sudah membuat obor, di tengah kabut tebal itu api obor ternyata tiada artinya, hanya remang-remang seperti kunang-kunang.

Tong Lin bermaksud meraih Gin-hoa-nio, tapi ternyata meraih tempat kosong, keruan ia terkejut dan berseru, “He, Hoa-cici, Hoa-cici, di mana kau?”

Meski cukup keras teriakannya, namun sayang selamanya tiada jawaban lagi.

oOo

Kiranya sejak tadi Gin-hoa-nio telah mengincar baik-baik arah rumah batu tadi, begitu kabut ditebarkan, secepat anak panah terlepas dari busurnya ia terus melayang ke sana, langsung ia menerobos ke dalam rumah itu sambil berseru tertahan, “Tong Giok, Tong-kongcu, di mana kau?”

Terdengar seorang menjawab dengan suara serak, “Siapa kau? Untuk apa mencari diriku?”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu Gin-hoa-nio telah menarik tangannya terus diseret menerjang ke luar, tidak lupa ia menjawab, “Masa kau tidak kenal suaraku lagi?”

“Hah, kau?!” seru Tong Giok.

“Betul, siapa lagi?” jawab Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Hampir gila Toaci memikirkan dirimu, tanpa menghiraukan bahaya ku datang mencari kau, hayolah lekas lari!”

“Tapi…tapi ayah…” tampaknya anak muda itu masih ragu-ragu, namun tubuhnya sudah tidak berkuasa lagi, ia terseret keluar.

“Ai, kau tidak punya liangsim, masakah kau tidak ingin menemui toaci?” kata Gin-hoa-nio.

Sembari menyeret Tong Giok dengan tangan kiri dan menerobos keluar rumah batu itu, lalu tangan kanan terangkat, kontan sejalur sinar perak terpancar ke depan, seperti meteor yang melintas angkasa gua itu, hanya sekelebat saja sinar perak itu lantas lenyap.

—–

Apakah betul anak muda yang dibawa lari Gin-hoa-nio ini adalah Tong Giok? Kalau bukan, habis siapa?

Misteri apa yang tersembunyi di dalam Tong-keh-ceng dan apa hubungannya dengan Ji Pwe-giok?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: