Kumpulan Cerita Silat

22/05/2010

Renjana Pendekar – 12

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:27 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, dan Koedanil)

Kim-yan-cu tidak lantas menjawab, ia memandang seputarnya, melihat Kwe Pian-sian seketika ia berteriak, “Dia, ya dia inilah si iblis jahat, dengan ilmu siluman dia memikat diriku, dia menyuruh aku menjadi kekasihnya, menjadi muridnya, menjadi istri dan menjadi anaknya”

Sampai di sini barulah meledak raungan murka anak murid Kay-pang.

“Orang she Kwe” teriak Bwe Su-bong dengan gusar, “sekarang apa yang dapat kau sangkal lagi?”

Biji mata Kwe Pian-sian berputar, benaknya bekerja cepat. Dilihatnya anak murid Kaypang telah mendesak maju dan sukar dibendung, setiap orang memperlihatkan rasa murka dan benci padanya.

Mendadak Kwe Pian-sian membentak, “Berhenti! apa yang hendak kalian lakukan?”

“Menghukum pengkhianat, membersihkan rumah tangga perguruan!” teriak Bwe Su-bong.

“Hm, kau tidak sesuai untuk melakukan hal itu,” jengek Kwe Pian-sian. Mendadak ia mengeluarkan sesuatu benda dan diangkat tinggi ke atas sambil membentak, “Coba kau lihat, apakah ini?”

Yang dipegangnya itu adalah sepotong kain kuning yang sudah tua dan lusuh, pada kain itu tertulis delapan huruf besar yang berbunyi, “Di mana Houhat tiba, sama seperti ku datang sendiri”.

Apa yang diperlihatkan Kwe Pian-sian ini adalah panji tanda pengenal yang berkuasa penuh atas nama sang Pangcu.

Air muka Bwe Su-bong seketika berubah pucat, ucapnya dengan gemetar, “Dari…darimana kau peroleh panji ini?”

Kwe Pian-sian tidak menghiraukan dia, ia melototi Ang Lian-hoa dan membentak, “Ini tulisan tangan siapa tentunya kau tahu bukan?”

Ang Lian-hoa menunduk, jawabnya, “Ku tahu, inilah panji gulung para tetua Pang kita sejak tiga ratus tahun yang lampau…”

“Jika tahu, kenapa tidak lekas berlutut dan menyembah?” bentak Kwe Pian-sian.

Ang Lian-hoa menghela napas sedih, pelahan-lahan ia berlutut.

Kalau sang Pangcu sudah berlutut, anak murid Kay-pang yang lain siapa pula yang berani berdiri? Dalam sekejap saja beribu murid Kay-pang sama bertekuk lutut. Dalam sekejap saja beribu murid Kay-pang sama bertekuk lutut.

Kwe Pian-sian menengadah dan tertawa latah, katanya, “Sekalipun aku bersalah umpamanya, kecuali pada tetua angkatan lalu yang sudah mati itu dapat hidup kembali, siapa pula yang berhak menghukum akan kesalahanku?”

Tapi mendadak suara tertawanya berhenti, air mukanya juga berubah hebat.

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak, “Aku bukan murid Kay-pang, akupun tidak perduli panji gulung yang kau pegang apa segala!”

Rupanya dengan belatinya Kim-yan-cu telah menyergap Kwe Pian-sian dari belakang. Setelah belatinya bersarang di tubuh sasarannya barulah ia berteriak. Lantaran sedang latah dan lupa daratan, Kwe Pian-sian menjadi lengah, ketika ia merasa apa yang terjadi, namun sudah terlambat, belati Kim-yan-cu sudah ambles di tulang punggungnya.

Para anggota Kay-pang sama terkejut dan juga bergirang, terlihat Kwe Pian-sian hendak roboh, serunya dengan tersenyum pedih, “Bagus, tak tersangka orang she Kwe kena disergap oleh seorang anak perempuan…” mendadak tangannya membalik dan menghantam secepat kilat.

Pukulan ini berlangsung dengan segenap sisa kekuatannya. Kim-yan-cu tidak mampu menghindar, tubuhnya mencelat dan jatuh beberapa tombak jauhnya, menjerit saja tidak sempat, tahu-tahu ia sudah pingsan. Namun belatinya tetap menancap di tubuh Kwe Pian-sian.

Dengan sempoyongan Kwe Pian-sian menyurut mundur ke belakang dengan tangan masih memegangi panji gulung tadi, serunya dengan menyeringai, “Panji kebesaran ini masih ku pegang, siapa di antara kalian yang berani mendekati aku?”

Walaupun tahu dirinya dapat membekuk pengkhianat itu dengan mudah, tapi terpaksa Ang Lian-hoa tidak dapat turun tangan, terpaksa dengan mata terbelalak ia saksikan orang mundur ke tengah-tengah kerumunan orang banyak.

Syukurlah sebelum Kwe Pian-sian menghilang, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, berturut-turut muncul dua orang menghadang jalan pergi Kwe Pian-sian. Orang yang mendahului adalah seorang To-koh (pendeta perempuan agama To), berambut hitam dan berjubah kuning, meski usianya sudah setengah baya, tapi masih kelihatan cantik. Pedang melintang di belakang punggungnya dengan untaian benang sutera kuning menghiasi gagang pedangnya.

Dia inilah ketua Hoa-san-pay, Hu-yong-siancu Ji Siok-cin, si dewi cantik.

Seorang lagi di belakangnya adalah gadis jelita berperawakan jangkung, namanya Ciong Cing, murid tertua Hoa-san-pay angkatan terakhir.

Melihat munculnya kedua orang ini, legalah hati Ang Lian-hoa.

Terdengar Ji Siok-cin mendengus, “Hm, karena dosamu sudah kelewat takaran sehingga sukar bagimu untuk lolos dari jaringan malaikat. Kwe Pian-sian, akhirnya kutemukan juga kau di sini!”

Kwe Pian-sian meraung keras-keras, segera ia membalik tubuh dan bermaksud menerjang pergi.

Namun Ji Siok-cin tidak memberi kesempatan lari baginya, kesepuluh jarinya bekerja cepat, sekaligus ia totok beberapa Hiat-to penting Kwe Pian-sian. Betapapun Kwe Pian-sian memang sudah terluka parah sehingga sama sekali ia tidak sanggup melawan.

“Apakah Siancu juga ada permusuhan dengan orang ini?” tanya Ang Lian-hoa dengan kejut bercampur girang.

“Seusai pertemuan Hong-ti, seterusnya aku lantas membuntuti dia,” tutur Ji Siok-cin. “Permusuhan Hoa-san-pay kami dengan orang ini boleh dikatakan tidak mungkin hidup bersama.”

Lalu ia memberi tanda, Ciong Cing lantas mengangsurkan panji gulung yang dirampasnya dari Kwe Pian-sian kepada Ang-lian-hoa.

Menyusul Ji Siok-cin berkata pula, “Panji sudah kami persembahkan kembali, bagaimana kalau Pangcu menyerahkan orang ini kepada Hoa-san-pay kami?”

Dengan hormat Ang-lian-hoa menerima penyerahan panji itu, setelah berpikir sejenak, lalu berkata, “Jika Siancu tidak kebetulan menyusul tiba, akhirnya orang ini akan kabur juga.”

Ji siok-cin tersenyum dan menyambung, “Apalagi, pada belasan tahun yang lalu mendiang pangcu kalian yang dulu sudah mengusirnya keluar dari Pang kalian, jika sekarang kubawa pergi dia tentunya tidak merugikan nama Pang kalian.”

“Betul,” jawab Ang Lian-hoa.

“Terima kasih, pangcu” ucap Ji Siok-cin sambil memberi hormat. Dari jauh ia pandang sekejap kepada Kim-yan-cu, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Bila tidak ada orang ini, kukira tidaklah mudah untuk menangkap Kwe Pian-sian. Mohon pangcu sampaikan kepada nona ini, kelak bila dia ada sesuatu urusan, pasti Hoa-san-pay akan memberi balas jasa kepadanya.”

“Sungguh beruntung nona Kim itu bisa mendapat perhatian khusus dari Siancu” ujar Ang Lian-hoa dengan mengulum senyum.

Ia menyaksikan Ji Siok-cin membawa pergi Kwe Pian-sian dan baru sekarang perasaannya rada lega, selagi ia hendak mendekati Kim-yan-cu untuk memeriksa keadaan lukanya, mendadak sesosok bayangan orang melayang tiba dengan cepat.

Ginkang orang ini tidak terlalu tinggi tapi gayanya indah, bajunya yang merah tipis berkibar-kibar tertiup angin laksana gumpalan awan yang meluncur tiba.

“Yang datang apakah Pek-hoa-sucia (dua seratus bunga)?” tegur Ang Lian-hoa dengan dahi berkerut.

Seorang gadis cantik dengan baju sutera merah tipis sudah berada di depan Ang-Lian-hoa dan menyembah padanya, jawabnya, “Tecu Hoa Sin menyampaikan sembah hormat kepada pangcu”

“Terima kasih” kata Ang-lian-hoa dengan tersenyum. “Kedatangan nona ini adakah membawa pesan Hay-hong Hujin?”

Gadis jelita ini memang betul anggota Pek-hoa-pang (klik seratus bunga) pimpinan Hay-hong Hujin yang cantik itu. Dengan hormat ia lantas menjawab, “Betul, Tecu diperintahkan kemari oleh Hujin, pertama untuk menyampaikan terima kasih pangcu yang telah mengantar pulang Lim suci, kedua: hamba disuruh memohon sesuatu kepada pangcu.”

“Urusan Hay-hong hujin pasti akan kubantu sekuat tenaga.” ujar Ang Lian-hoa dengan tertawa.

Hoa Sin berkedip-kedip kemudian menutur dengan tertawa, “Kwe Hou-hoat dari pang kalian di masa lampau yang sudah menghilang dari Kangouw selama 15 tahun, konon sekarang telah muncul lagi. Menurut laporan Toa-suci Hoa Bwe dari perbatasan Siamsay, katanya kemunculan Kwe Houhoat telah dilihatnya di sana. Hujin pikir, kalau pangcu sedang mengadakan pertemuan anggota di sini tentu ada hubungannya dengan kemunculan Kwe-Houhoat, sebab itulah hamba disuruh kemari untuk memohon kepada pangcu…”

“Apakah Hujin ada persoalan dengan dia?” sela Ang-lian-hoa.

Hoa Sin menghela napas, jawabnya, “Ya, begitulah, sebab itulah Hujin mohon bantuan Pangcu agar bila Kwe-houhoat datang kemari hendaklah segera Pangcu memberi kabar kepada Hujin dengan bunga api khas kalian, apabila Hujin berada di sekitar sini tentu beliau dapat segera memburu kemari.

Ang Lian-hoa terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum pahit, “Pesan Hujin sudah tentu akan kuperhatikan, cuma sayang, kedatangan nona ini agak terlambat satu langkah.”

“Apakah Kwe-Houhoat telah dihukum mati oleh Pangcu?” seru Hoa Sin kaget.

“Hendaklah nona sampaikan kepada Hujin, katakan bahwa Kwe Pian-sian sudah lama dipecat oleh Pang kami.” kata Ang-lian-hoa dengan gegetun. “Saat ini dia… dia sudah dibawa pergi oleh Ji-siancu, ketua Hoa-san-pay”.

* * *

Cukup lama kemudian barulah Kim-yan-cu siuman.

Ang-lian-hoa seperti tidak sabar menunggunya, begitu melihat nona itu sadar segera ia memberi hormat dan berkata, “Berkat bantuan nona sehingga Pang kami terhindar dari kesukaran, sebaliknya karena itulah nona terluka, sungguh segenap anggota pang kami tidak tahu cara bagaimana menyampaikan terima kasih kepada nona.”

Kim-yan-cu tertawa hambar, “Ah, terlalu berat ucapan Pangcu ini bagiku…” dengan cepat tertawanya berganti menjadi cemas pula, tanyanya, “Dan iblis itu apakah… apakah sudah mati?”

“Dia terluka parah dan telah dibawa pergi oleh Ji-siancu dari Hoa-san” tutur Ang Lian-hoa. “Hoa-san-pay juga bermusuhan dengan dia, apalagi Ji-siancu terkenal paling benci kepada kejahatan, kukira iblis itu pasti tak bisa hidup lama lagi.”

Kim-yan-cu terdiam sejenak, katanya kemudian dengan menyesal, “Terus terang, kalau aku tidak menyaksikan mayatnya, betapapun aku tetap kuatir.”

“Musuh orang ini terdapat di mana-mana, sekalipun Ji-siancu tidak membunuhnya, tentu Hay-hong Hujin juga takkan ampuni dia” ujar Ang Lian-hoa dengan tertawa.

“Hay-hong katamu?” Kim-yan-cu menegas dengan berkerut kening.

“Ya, Hay-hong hujin, baru saja ia mengirim utusan untuk mencari berita tentang iblis itu” tutur Ang-lian-hoa.

“Dan sudah kau beritahukan?” tanya Kim-yan-cu dengan muka pucat.

“Dengan sendirinya kuberitahukan padanya, mengapa nona merasa cemas?”

“Jika pangcu memberitahukan apa yang terjadi barusan, maka selanjutnya Hoa-san-pay dan Pek-hoa-pang pasti akan banyak timbul persoalan.”

“Mengapa begitu?” tanya Ang-lian-hioa dengan terkesiap.

“Apakah Pangcu tahu ada hubungan apa antara Kwe Pian-sian dengan Hay-hong hujin?”

“Tidak tahu” jawab Ang-lian-hoa.

“Apakah orang kangouw tidak ada yang tahu bahwa antara dia dan Hay-hong Hujin adalah suami-istri?”

“Apa katamu? Suami-istri?” Ang Lian-hoa menegas dengan terperanjat.

“Ya, makanya seumpama Hay-hong Hujin mempunyai dendam apa-apa terhadap bekas suaminya itu, betapapun dia tidak akan membiarkan dia mati di tangan orang lain. Dengan demikian dia dan Ji-siancu dari Hoa-san tentu akan bermusuhan.”

Ang Lian-hoa termangu-mangu sejenak, dengan menyesal ia berkata, “Pantas, begitu nona Hoa Sin itu mendengar keteranganku, buru-buru ia lantas permisi pulang lapor kepada Hay-hong hujin… Ai, kedua orang ini boleh dikatakan perempuan yang paling sukar direcoki di dunia Kangouw saat ini, bilamana keduanya saling gempur, maka akibatnya sukar dibayangkan”

“Urusan sudah terlanjur begini, berkuatir juga tiada gunanya” ujar Kim-yan-cu sambil meronta bangun berduduk. Tiba-tiba ia menambahkan pula, “Kedatanganku ini sebenarnya ingin minta sesuatu keterangan kepada Pangcu.”

“Asalkan ku tahu, segala apapun pasti akan kuberitahukan,” jawab Ang-lian-hoa dengan tertawa.

Kim-yan-cu menunduk, katanya dengan perlahan, “Malam itu, apa yang terjadi antara nona Lim Tay-ih dan Ji-kongcu di kamar hotel sana, dapatkah pangcu menceritakan kepadaku dengan jelas?”

Rada berubah air muka Ang Lian-hoa, ia termenung agak lama, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Dan entah ada sangkut-paut apa antara nona dengan persoalan ini?”

“Bila Pangcu sudi memberitahu, untuk apa pula mesti tanya hubunganku dengan mereka?” ujar Kim-yan-cu tersenyum kecut.

Kembali Ang Lian-hoa terpekur sejenak, akhirnya ia menutur dengan gegetun, “Hari itu kebetulan akupun singgah di kota kecil itu, kebetulan kulihat mereka juga masuk ke kota itu, aku dan nona Lim memang … memang sudah kenal baik, meski tidak kukenal pemuda yang mendampingi dia itu, tapi kudekati juga dan menyapanya.”

“Pangcu dan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu memang sahabat baik, bila melihat nona Lim berada bersama lelaki lain, mungkin timbul rasa kurang senang di hati Pangcu”

Ang Lian-hoa melengak, mendadak ia tertawa dan berkata, “Ha.ha.ha..ha.! Jika nona anggap demikian sifat pribadiku, maka salah besar nona. Watakku cukup terbuka, tidak suka memikirkan adat kolot yang terlalu mengikat itu, jangankan nona Lim memang belum menikah secara resmi dengan Ji Pwe-giok, sekalipun mereka sudah menikah juga tiada alasan bagiku untuk memaksa Lim Tay-ih harus menjanda selama hidup. Bila dia mendapatkan teman lelaki baru, aku justru bersyukur dan bergembira baginya.”

Meski dia tertawa dengan lantang, namun lamat-lamat mengandung perasaan sedih.

Dengan sendirinya Kim-yan-cu tidak dapat merasakan isi hati ketua Kaypang yang gagah dan muda itu, dengan tertawa cerah ia berkata, “Pangcu memang berpribadi lain daripada yang lain, bilamana ucapanku tadi salah, hendaklah pangcu jangan marah.”

Ang Lian-hoa tertawa, tapi ia lantas berkerut kening dan berkata pula, “Namun ketika ku sapa mereka, pemuda itu tampaknya sangat simpatik, sebaliknya nona Lim tidak mau menggubris diriku, seakan-akan tidak kenal padaku. Padahal persahabatanku dengan dia bukan cuma sehari dua hari saja, tidak pantas ia bersikap demikian”.

“Bisa jadi… bisa jadi dia sedang murung atau ada persoalan lain” ujar Kim-yan-cu.

“Ucapanmu memang beralasan, tapi mendadak kuingat bulan yang lalu pernah juga satu kali dia tidak menggubris padaku ketika kami bertemu, kemudian baru ku tahu bahwa waktu itu dia terancam bahaya, ada kesukaran yang tak dapat dikatakannya padaku”

“Makanya sekarang Pangcu juga curiga jangan-jangan nona Lim ada kesukaran lain yang tak dapat diberitahukan kepadamu?” tukas Kim-yan-cu.

“Ya, begitulah” kata Ang Lian-hoa.

“Lantaran itulah Pangcu jadi ketarik untuk menyelidiki seluk-beluknya, meski sebenarnya urusan orang lain. Dan apa yang Pangcu lihat pada malam itu?”

Mendengar ucapan Kim-yan-cu ini, Bwe Su-bong yang sejak tadi hanya berdiri menunggu di samping mendadak menyeletuk, “Apa yang dikatakan nona sebenarnya tidak salah. Jika orang lain melihat sesuatu yang mencurigakan pada siangnya, malamnya tentu akan menyelidiki hal yang menarik perhatiannya itu, sekalipun tempat yang harus didatangi adalah kamar perawan juga takkan dihiraukannya…” dia pandang Kim-yan-cu dengan tersenyum, lalu menyambung pula, “Tapi nona jangan lupa, seorang kalau sudah menjabat Pangcu Kay-pang, maka kedudukannya akan banyak berbeda daripada orang lain, setiap tindak tanduknya tidak boleh lagi gegabah.”

Muka Kim-yan-cu menjadi merah, cepat ia berkata, “Ya, maaf… jika ucapanku tidak pantas tapi… tapi apakah Pangcu memang sama sekali tidak tertarik untuk menyelidikinya?”

“Setiap langkah Pangcu kami selalu hati-hati dan prihatin, meski beliau tidak sudi melakukan sesuatu yang merosotkan derajatnya, tapi urusan yang menyangkut keselamatan teman pasti juga takkan dibiarkannya begitu saja” kata Bwe Su-bong.

“Kecermatan bertindak Ang-lian Pangcu dan keluhuran budinya terhadap teman-teman sudah cukup dikenal orang, termasuk pula diriku, kukira tidak perlu dijelaskan lagi oleh Cianpwe!” kata Kim-yan-cu.

Sekali ini muka Bwe Siu-bong yang agak merah, cepat ia berdehem dan berkata pula, “Demi menyelidiki apa yang terjadi, Pangcu hanya menyuruh seorang anggota Pang kami menyamar sebagai pelayan hotel untuk mengawasi setiap gerak-gerik yang terjadi di kamar nona Lim”

“Oo, bilakah hal itu terjadi?” tanya Kim-yan-cu.

Bwe Su-bong memandang Ang-lian-hoa sekejap, sang Pangcu mengangguk, habis itu baru Bwe Su-bong menyambung lebih lanjut. “Tatkala itu sudah magrib…”

Mendadak Kim-yan-cu memotong dengan tertawa, “Jika suka, mohon Pangcu sendiri saja yang bercerita. Kalau tidak, setiap kalimat Bwe cianpwe harus minta izin satu kali kan repot?”

Bwe Su-bong bergelak tertawa, katanya; “Pendekar perempuan si walet emas benar-benar tidak boleh direcoki. Hanya karena kata-kataku tadi agak menyinggung, tampaknya nona menjadi sakit hati dan tidak dapat mengampuniku.”

Sembari tertawa iapun memberi hormat dan mengundurkan diri.

Kim-yan-cu berkata dengan gegetun, “Pangcu mempunyai pembantu setia begini, sungguh sangat mengagumkan orang.”

Tanpa menunggu tanggapan Ang-lian-hoa, segera ia bicara tentang soal pokok pula, “Setelah anggota Pang kalian menyamar dan masuk ke kamar nona Lim, adakah hal-hal mencurigakan yang dilihatnya?”

“Keadaan yang dilihatnya memang agak mencurigakan, dilihatnya nona Lim selalu murung, sejak awal hingga akhir sama sekali tidak menggubrisnya,” tutur Ang-lian-hoa.

Tentu saja, mana mungkin nona Lim menggubris seorang pelayan, kenapa mesti diherankan?” ujar Kim-yan-cu.

“Soalnya nona Lim seharusnya kenal anggota kami itu,” kata Ang lian hoa.

“Oo . . .. ” Kim-yan-cu melengak.

“Sebelum ini, kira-kira sebulan yang lalu di sekitar Siang-ciu, waktu itu nona Lim juga terancam bahaya, tapi dia mencari peluang untuk secara diam-diam mengirimkan berita kepadaku. Tapi sekali ini dia jejak awal hingga akhir tidak menggubris penghubung kami itu, bukankah sangat aneh?” “Maka Pangcu lantas…”

“Makanya aku lantas menduga keadaan nona Lim sekali ini jauh lebih berbahaya daripada pengalaman yang dulu sehingga sama sekali tiada peluang baginya untuk mengadakan kontak denganku.

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian, “Apakah Pangcu tidak berpikir ada kemungkinan nona Lim memang tiada terancam bahaya apa-apa sehingga dia memang tidak perlu mengirim sesuatu berita kepadamu?”

“Sudah tentu kemungkinan ini pun bisa terjadi cuma . .. . kalau nona Lim tidak terancam bahaya, sedikitnya dia kan mesti bertegur sapa padaku?”

“Bisa jadi mendadak dia tidak suka bertegur sapa dengan Pangcu.”

“ini jelas tidak mungkin.”

“Masa Pangcu begitu yakin?” tanya Kim-yan cu dengan tatapan tajam.

“Ya,” jawab Ang-lian-hoa pasti.

Tiba-tiba Kim-yan-cu tertawa, katanya, “Jika demikian, hubungan Pangcu dengan nona Lim pasti lain daripada yang lain, pantaslah Pangcu sedemikian memperhatikan urusan nona Lim.”

Air muka Ang-lian-hoa rada berubah, tapi ia lantas berkata dengan tertawa: Nona juga sangat memperhatikan utusan ini, bahkan selalu berbicara mengenai Ji kongcu itu. Agaknya nona juga mempunyai hubungan istimewa dengan Ji-kongcu?”

Kim-yan cu melengak, segera ia tertawa, katanya, “Ang-lian-pangcu memang betul-betul tidak boleh direcoki oleh siapapun juga.”

Kedua orang saling pandang dengan tertawa, namun tertawa yang menyerupai menyengir, meski mereka berdua sama-sama cukup bijaksana terhadap sesuatu, tapi sekarang tertekan juga perasaan mereka.

Selang sejenak barulah Ang-lian-hoa berkata lagi, “Anak buah kami yang bernama Seng-losu itu beberapa kali pura-pura mengantar teh ke kamar nona Lim, dilihatnya nona itu sedang menangis, waktu dia masuk kamar, nona Lim lantas menutup kepalanya dengan selimut dan Ji-kongcu itupun melengos ke arah dinding, agaknya tidak ingin muka mereka dilihat orang.

“Dan Pangcu bertambah heran tentunya,” kata Kim yan-cu.

“Ya, waktu Song-losu menyampaikan laporan kepadaku, sementara itu hari sudah jauh malam, tatkala mana meski aku tambah curiga, tapi masih juga ragu-ragu apakah aku harus langsung menyelidiki ke sana ataukah tidak.”

“Entah kemudian mengapa Pangcu bertekad turun tangan sendiri?”

“Pada saat itulah kulihat beberapa Ya heng-jin (orang berpakaian piranti malam) yang tinggi sekali Ginkangnya telah melayang ke arah hotel sana, maka aku tidak ragu lagi dan segera menyusul ke sana.”

“Aha, yang mengikuti gerak-gerik mereka kiranya masih ada lagi kelompok lain. Siapakah mereka itu, apakah Pangcu melihatnya?” seru Kim yan-cu.

“Gerak-gerik orang-orang itu rada misterius, mereka sama memakai kedok kain hitam, hakekatnya aku tidak tahu siapa mereka. Tapi setiba di hotel itu dari jauh kulihat salah seorang di antaranya terus menyusup masuk ke cerobong hawa di atap rumah. Padahal cerobong hawa itu sangat sempit, orang biasa jelas sukar masuk ke situ, kecuali orang yang memiliki Nui-kang (ilmu kelemasan, badan plastik) yang hebat. Tentunya nona tahu jarang sekali orang Kangouw yang terkenal mahir Nuikang.”

“Jangan-jangan Pangcu mengira orang itu adalah Sebun Bu Kut?” ucap Kim yan cu.

“Ya, kukira bukan orang lain.”

“Untuk apakah Sebun Bu kut senantiasa mengawasi mereka?”

“Persoalan ini agak panjang untuk diceritakan. Yang dapat kuberitahukan kepadamu adalah karena nona Lim itu adalah bakal istri Ji-hiante yang telah mati itu, sedangkan segala sesuatu urusan yang menyangkut Ji-hiante tidak pernah terlepas dari pengawasan mereka.”

Kim yan-cu termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan berkerut kening, “Wah, urusan ini makin lama makin ruwet tampaknya.”

“Ya, dalam persoalan ini memang terkandung banyak rahasia, kalau kami tidak utang budi kepada nona, tidak nanti kuceritakan padamu.”

“Tapi Pangcu juga tidak perlu kuatir, asalkan urusan yang menyangkut Ji Pwe-giok, baik Ji Pwe-giok yang hidup ataupun Ji Pwe-giok yang sudah mati, aku berjanji akan menjaga rahasia baginya.”

Ang lian hoa tertawa, ia menyambung pula, “Malam itu gelap gulita, tiada rembulan dan tanpa bintang, tamu hotel sudah tidur seluruhnya, suasana di halaman hotel itu sunyi dan gelap. Kelima Ya heng-jin itu, kecuali Sebun Bu-kut yang sembunyi di dalam cerobong hawa itu, empat lainnya telah mengepung rapat kamar nona itu.”

“Bukankah mereka hanya mengintai gerak-gerik nona Lim secara diam-diam, mengapa mereka mengepung tempat tinggal nona Lim, apakah mereka ada maksud jahat lain?”

“Betul, memang ada maksud jahat lain.”

“Mereka… apa yang hendak dilakukan mereka?”

Ang lian hoa menatapnya dengan terbelalak, sampai lama tidak menjawab.

Dengan suara keras Kim yan cu berkata pula , “Urusan apapun juga, demi Ji Pwe-giok itu, aku rela mati daripada membocorkan sepatah kata rahasianya.”

Ang lian hoa menghela napas lega, katanya pula dengan pelahan, “Jelas mereka hendak meringkus nona Lim dan dibawa pulang, kalau tidak dapat meringkusnya dengan hidup, membunuhnya bukan soal lagi.”

“Sebab apa?” seru Kim yan cu.

“Hal ini kukira tiada sangkut pautnya lagi dengan persoalan yang ingin diketahui nona, betul tidak?” tanya Ang lian hoa.

Kim yan cu berpikir sejenak, akhirnya ia tanya pula, “Sebun bu-kut adalah sahabat baik Leng-hoa kiam Lim Soh koan, sedangkan Lim Tay-ih adalah puteri tunggal Lim Soh koan, mengapa Sebun Bu-kut hendak membunuhnya, apakah dia tidak takut dituntut balas oleh Lim Soh koan?”

“Di dunia ini memang banyak persoalan yang sukar dimengerti orang,” tutur Ang lian hoa dengan gegetun. “Hanya dapat kukatakan padamu, jauh sebelum itu mereka sudah bermaksud membekuk Lim Tay-ih, tapi waktu itu nona Lim telah dibawa pergi oleh Hay-hong Hujin, meski mereka tidak berani merecoki Hay-hong Hujin, tapi demi melihat Lim Tay-ih berada sendirian, tentu saja mereka tidak mau melepaskan dia.”

“Lalu mengapa mereka tidak… tidak cepat turun tangan?”

“Bisa jadi lantaran mereka pun rada-rada jeri terhadap Ji kongcu ini, mungkin pula mereka ingin tahu ada hubungan apa antara Lim Tay-ih dan Ji Pwe-giok yang satu ini.”

Setelah menghela napas, lalu ia sambung pula, “Tampaknya mereka rada jeri terhadap Ji-hiante dan masih sangsi kalau-kalau dia belum mati. Sebab itulah ketika dilihatnya nona Lim berada pula dengan Ji Pwe-giok baru, mereka menjadi curiga kalau-kalau Ji Pwe-giok yang baru ini adalah samaran Ji Pwe-giok yang lama, kalau tidak, menurut sifat Lim Tay-ih yang angkuh itu tidak nanti mau tinggal bersama satu kamar dengan pemuda yang tidak dikenalnya.”

“Mungkin hal ini pula yang menimbulkan curiga Pangcu?” kata Kim yan cu.

“Tapi ku tahu pasti Ji-hiante benar-benar sudah mati, apabila Ji-kongcu yang ini adalah samaran Ji-hianteku itu, mustahil dia tidak menyapa diriku ketika berjumpa.”

Kim yan cu terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Ucapan Pangcu memang tidak salah, Ji Pwe-giok yang mana pun tidak nanti bersikap dingin begitu.”

“Kukenal kelihaian kelima orang ini, seluruhnya tergolong jago kelas satu, dengan sendirinya aku sangat kuatir bagi nona Lim. Tapi sebelum mereka bertindak, terpaksa akupun tidak dapat turun tangan, akupun tak dapat mendekat hingga mengejutkan mereka terpaksa aku hanya sembunyi di balik atap rumah seberang, dari jauh ku intai gerak-gerik mereka.”

“Dalam pada itu di dalam kamar nona Lim apakah tiada sesuatu suara?” tanya Kim yan cu.

“Waktu itu di kamarnya sama sekali tiada sesuatu suara, namun lampunya menyala, kusangka mereka sudah tidur, siapa tahu pada saat itu juga mendadak nona Lim mendepak pintu kamar, sambil berteriak-teriak ia terus menerjang keluar.”

“Aha, pahamlah aku!” seru Kim yan cu mendadak sambil berkeplok tangan.

“Nona paham apa?” tanya Ang lian hoa dengan melengak.

“Mungkin nona Lim tahu ada orang sedang mengintainya, secara diam-diam maka dia sengaja menerjang keluar, apabila di sekitarnya terdapat banyak orang, dengan sendirinya Sebun Bu-kut dan begundalnya itu tidak bebas turun tangan.”

Ang lian hoa berpikir sejenak, katanya, “Nona Lim memang cerdik dan pintar, dari tindak-tanduknya di masa memang bisa jadi dia sengaja berbuat begitu. Tapi umpama pertengkarannya dengan Ji-kongcu itu hanya pura-pura saja, beberapa tusukan pedangnya itu jelas-jelas bukan pura-pura.”

“Tapi dia kan tidak melukai Ji-kongcu itu dengan parah?”

“Biarpun tidak parah, tapi juga tidak ringan. Apalagi… seumpama terkaan nona betul, kan salah juga perbuatan Lim Tay-ih itu?”

“Salah!? Salah bagaimana?”

“Kau tahu, sebabnya Sebun Bu-kut tidak segera turun tangan jelas karena dia rada jeri terhadap Ji Pwe-giok itu, maka Sebun Bu-kut tidak perlu kuatir lagi.”

“Tapi di halaman hotel kan banyak orang?”

“Orang-orang di hotel itu mana dipandang sebelah mata oleh mereka? Maka waktu Lim Tay-ih menusuk Ji Pwe-giok untuk kedua kalinya, serentak Ya heng-jin yang siap di atas rumah juga lantas berdiri dan hendak bertindak.”

“Sebab itulah Pangcu lantas mendahului menerjang ke sana!?”

“Waktu itu akupun tahu tidak boleh ayal lagi, harus turun tangan lebih dulu secara mendadak, Tay-ih harus diselamatkan agar mereka kaget dan kelabakan.”

“Tatkala mana orang lain mungkin menyangka orang yang ditolong Pangcu ialah Ji-kongcu, tak tahunya yang ditolong adalah nona Lim. Dari sini terbuktilah bahwa sesuatu yang disaksikan sendiri terkadang juga belum pasti betul,” Kim Yan cu menghela napas, lalu berkata pula, “Bukankah apa yang kupikirkan tadipun salah?”

“Salah? Hal apa?” tanya Ang lian hoa.

“Yaitu, nona Lim benar-benar ingin membunuh Ji-kongcu dan bukan cuma pura-pura saja, sebab kalau dia benar-benar tahu ada orang sedang mengincarnya, dengan sendirinya dia memerlukan bantuan Ji-kongcu untuk menghadapi musuh, mana bisa dia bertengkar sendiri dengan Ji-kongcu?”

“Kukira belum tentu,” kata Ang lian hoa setelah termenung.

“Oo!…”

“Bisa jadi sebelumnya dia telah melihat diriku, tahu diam-diam aku pasti akan mencari kesempatan untuk menolong dia.”

“Jika demikian, apa gunanya dia berlagak begitu?”

“Mungkin disebabkan dia kuatir Sebun Bu-kut dan begundalnya itu akan salah sangka Ji-kongcu itu sebagai Ji-hianteku yang sudah meninggal itu, setelah dia melukai Ji-kongcu itu tentu orang lain takkan menaruh curiga lagi…” sampai di sini, ujung mulut Ang lian hoa seperti rada gemetar.

Kim yan cu jadi terharu, katanya, “Jika demikian, apa yang dilakukan nona Lim itu bukan cuma untuk kepentingan sendiri, tapi juga demi keselamatan Ji-kongcu. Dia menyerang kepada Ji-kongcu bukan sengaja hendak mencelakainya, tapi sebaliknya ingin menyelamatkannya.”

“Itu pun hanya dugaanku saja,” ujar Ang lian hoa dengan menghela napas.

“Setelah kau selamatkan nona Lim, apakah tidak kau tanya kepadanya?”

Ang lian hoa memandang jauh ke depan sana, jawabnya kemudian dengan perlahan, “Dengan hak apa kutanyai isi hatinya?”

Kim yan cu menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, “Jangan kau kuatir, dia pasti tidak benar-benar jauh cinta terhadap Ji-kongcu itu, dia justeru benar-benar sangat benci padanya, bisa jadi dia benar-benar ingin membunuhnya.”

Ang lian hoa melengak, katanya kemudian dengan tersenyum hambar, “Jangan kuatir? Memangnya apa yang kukuatirkan?”

“Tidak perlu kau dusta padaku,” ucap Kim Yan cu dengan rawan, “ku tahu isi hatimu, hanya saja… hanya saja nona Lim tidak tahu, kuharap semoga dia akan tahu.”

Tiba-tiba sorot mata Ang lian hoa menampilkan perasaan menderita, tapi di mulut ia tergelak tertawa, katanya, “Apapun yang kau pikir atas diriku pasti keliru seluruhnya, ketahuilah hubungan Ji Pwe-giok dan aku adalah seperti saudara sekandung.”

“Tapi Ji Pwe-giok sudah mati bukan?”

“Meski dia sudah mati, tapi di dalam hatiku dia tetap hidup selamanya.”

“Apakah demi dia, kau rela mengorbankan perasaanmu? Jika dia benar-benar sahabatmu yang sejati, di alam baka juga dia berharap kau yang akan menggantikan dia untuk menghibur nona Lim.”

“Nona Lim tidak perlu dihibur siapapun!” seru Ang lian hoa.

“Kau salah!” ucap Kim yan cu. “Ku tahu saat ini nona Lim sangat menderita, orang yang dapat menghiburnya saat ini mungkin cuma kau saja, hanya Ang lian hoa seorang.”

Ang lian hoa memandangnya tanpa berkedip, sampai lama barulah ia mendengus, “Hm, kau berharap maku akan menghibur nona Lim, apakah lantaran kau takut dia akan merampas kau punya Ji-kongcu? Kau berharap dia membenci Ji-kongcu, bahkan membunuhnya daripada mereka terikat menjadi satu?”

Gemetar tubuh Kim yan cu, ia menunduk perlahan, ucapnya dengan tersendat, “Be… betul, ucapanmu memang tidak salah, aku… aku manusia yang egois… aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri…” belum habis ucapannya, berderailah air matanya.

Sinar mata Ang lian hoa memancarkan cahaya penuh penyesalan, katanya dengan suara halus, “Demi cinta, siapakah di dunia ini yang tidak egois? Cinta artinya monopoli, tidak mungkin dibagi.”

“Hanya kau!” kata Kim yan cu sambil menengadah. “Cintamu berarti pengorbanan, meski mengorbankan dirinya sendiri toh kau berusaha tidak diketahui orang lain. Dan untuk itu mengapa aku tidak boleh meniru kau? Mengapa tidak boleh…”

Ang lian hoa tidak ingin si walet emas meneruskan ucapannya itu, maklumlah, kata-kata itu laksana jarum yang menyakitkan hatinya, ia coba mengalihkan pokok pembicaraan, katanya dengan tersenyum: Setelah nona bertanya padaku, sekarang akupun ingin tanya beberapa hal kepadamu.”

“Ta…tanya saja,” jawab Kim-yan-cu.

“Dari mana nona mengetahui urusan ini?”

Kim-yan-cu mengusap air matanya, jawabnya, “Malam itu, kau lihat Suma Bun tidak?”

“Sin-to Kongcu Suma Bun, maksudmu? Malam itupun ia hadir di sana?”

“Dia sendiri yang memberitahukan peristiwa itu kepadaku, tadinya kukira urusan ini sangat sederhana, setelah mendengar cerita Pangcu barulah kurasakan persoalan ini sesungguhnya sangat ruwet dan di luar dugaanku. Meski Pangcu telah menceritakan kejadian itu secara terperinci dan jelas, tapi sesungguhnya bagaimana latar belakang persoalan ini tetap tidak jelas bagiku”

“Bukan saja nona tidak jelas, memangnya aku tahu jelas?” ujar Ang Lian-hoa. “Padahal malam itu akupun banyak melalaikan hal-hal lain, aku cuma memperhatikan tindak-tanduk Sebun Bu-kut dan begundalnya, sampai Sin-to Kongcu berada di sana juga tidak kuperhatikan. Kalau diam-diam ada orang lain lagi tentu aku lebih tidak tahu.”

“Ya, secara diam-diam memang masih ada lagi satu orang!” kata Kim-yan-cu.

“Siapa?” tanya Ang Lian-hoa cepat.

“Seorang gadis yang cantik dan misterius” tutur Kim-yan-cu dengan pelahan. “Konon setelah melihat dia, seketika Ji-kongcu ketakutan seperti melihat setan dan segera melarikan diri”

“Siapa pula nona cantik itu? Mengapa Ji-kongcu sedemikian takut padanya?”

“Rahasia ini kukira selain Ji Pwe-giok sendiri tiada orang lain lagi yang tahu.”

“Ji Pwe-giok, Ji Pwe-giok!…” Ang Lian-hoa menarik napas panjang sambil menengadah. “Nama Ji Pwe-giok mengapa selalu menyangkut rahasia sebanyak ini?”

“Mengapa tidak… tidak kau tanyakan padaku tentang rahasia apa di balik hubungan nona Lim dengan Ji-kongcu itu? Bukan mustahil akulah orang yang tahu rahasia mereka.”

Ang Lian-hoa tersenyum pedih, ucapnya, “Makin banyak rahasia yang diketahui seseorang, semakin menderita pula dia. Sudah cukup banyak rahasia yang kuketahui, lebih baik aku tidak menambah penderitaan lagi”.

ooo oooo

Meski Kim-yan-cu dapat berbicara panjang lebar, tapi lukanya tidak ringan, untung obat luka Kay-pang sangat mujarab, sekalipun begitu dia tetap sukar melangkah, masih belum boleh bergerak.

Ang-lian-hoa menyarankan agar dia merawat lukanya, setelah sembuh baru berangkat, tapi Kim-yan-cu tidak sabar lagi, kalau disuruh berbaring di tempat tidur betapapun dia tidak betah.

Terpaksa Ang-lian-hoa menyuruh Bwe Su-bong mengantar nona itu, bahkan melanggar kebiasaan, Kim-yan-cu disewakan sebuah kereta. Maklumlah, kaum pengemis terkenal sebagai kaki besi, selamanya berjalan dan tidak pernah menggunakan kendaraan.

Kebetulan Bwe-su-bong juga seorang yang tidak sabaran, tanpa didesak Kim-yan-cu ia terus membedal kereta kudanya dan sekaligus sampai di Li toh-tin. Setiba di kota kecil ini bahkan masih tengah malam hari kedua.

Bwe-su-bong menghentikan kereta, ia berpaling dan bertanya, “Apakah adik perempuanmu menunggu nona di suatu tempat di kota ini?”

“Ya, dahulu pernah kutinggal semalam di kota ini, tempatku bermalam itu bernama Li-keh-can, di hotel itulah kusuruh dia menunggu kedatanganku” tutur Kim-yan-cu.

“Baru pertama kali ku datang ke kota ini, entah Li-keh-can itu terletak di jalan mana?”

Kim-yan-cu melongok keluar dan memberi tahu dengan tertawa, “Di kota ini hanya ada sebuah jalan raya ini, hotel itu terletak di…”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba di dalam kegelapan di sebelah timur sana bergema suara raungan yang seram, mirip suara raungan macan tutul sebelum keluar rimba.

Menyusul di sebelah selatan juga bergema dua kali suara aneh, suara seperti tambur dipukul, di sebelah barat juga berkumandang suara auman seperti bende berbunyi, lalu dari sebelah utara juga bergema suara siulan nyaring.

Di tengah malam gelap mendadak timbul suara aneh itu, sampai Kim-yan-cu juga gemetar dan berkerut kening, katanya, “Suara apakah itu, jelas seperti suara tambur, bende dan sebagainya, tapi rasanya seperti raungan binatang buas”

Air muka Bwe Su-bong berubah hebat, ucapnya dengan suara tertahan, “Lekas sembunyi di dalam kereta dan jangan bersuara”. Segera ia melayang turun ke bawah kereta.

Kuda penarik kereta juga ketakutan oleh suara seram itu hingga kaki lemas dan tak sanggup berjalan, mulut kuda tampak berbuih, sekuatnya Bwe Su-bong menyeretnya ke bawah pohon.

Pada saat itulah terdengar suara kain baju berkibar tertiup angin, beberapa sosok bayangan melayang tiba secepat terbang, dalam kegelapan tidak jelas kelihatan wajah mereka. Tapi jelas semuanya memakai baju ketat dengan gerakan lincah dan gesit.

Meski diliputi perasaan heran, tapi demi mendengar suara misterius tadi serta melihat kuda yang lemas ketakutan, diam-diam tangan Kim-yan-cu berkeringat dingin, ia mendekap di dalam kereta dan tidak berani bersuara.

Bwe Su-bong berlagak memegang tali kendali dan berdiri di bawah bayang-bayang pohon tanpa bergerak seolah-olah kuatir dilihat oleh kawanan Ya-heng-ji itu, tapi orang-orang itu toh melihatnya juga.

Salah seorang di antaranya tampak merandek dan mengomel, “Kereta ini sangat menyolok mata, hancurkan saja!”

“Sudahlah, bos telah mendesak, untuk apa kita cari gara-gara” kata seorang lagi.

Orang pertama tadi menjengek, “Jika begitu, untunglah kakek ini.”

Baru habis ucapannya beberapa orang itu sudah melayang lewat beberapa tombak jauhnya.

Kim-yan-cu melongok keluar lagi dan bertanya kepada Bwe Su-bong, “Malam ini mengapa Cianpwe menjadi takut perkara?”

Bwe Su-bong menghela napas, ucapnya sambil menyengir, “Mereka tidak mengganggu kita, buat apa kita mengganggu mereka?”

“Apakah orang-orang ini sukar direcoki?” tanya Kim-yan-cu.

“Masa nona tidak tahu siapakah mereka?”

“Memangnya siapa?”

“Apakah nona tidak pernah mendengar “Su-ok-siu” (empat binatang buas) yang malang melintang di wilayah propinsi Sujwan, Kamsiok, Siamsay dan Ohpak?”

“Jadi mereka itulah Su-ok-siu?”

“Ya, lengkap empat, semuanya datang”

“Konon Su-ok-siu ini meski sama terkenalnya, tapi masing-masing berkuasa di wilayahnya sendiri-sendiri, biasanya jarang berhubungan satu sama lain, mengapa sekarang mereka berkumpul di sini?”

“Ya, hal ini memang rada mengherankan, kalau tiada transaksi besar, tidak nanti Su-ok-siu turun tangan sekaligus bersama, tapi di kota kecil seperti Li-toh-tin ini masa ada transaksi besar?”

Tiba-tiba air muka Kim-yan-cu berubah, ia pandang jauh ke depan sana, terlihat jalan raya sepi nyenyak, kawanan Ya-heng-jin tadi sudah menghilang. Ia menghela napas, katanya, “Apakah kau memang melihat kemana perginya mereka?”

“Seperti menghilang di gedung ujung jalan sana” jawab Bwe Su-bong.

“Hah, celaka, disitulah letak Li-keh-can,” seru Kim-yan-cu.

Berubah juga air muka Bwe Su-bong, tanyanya, “Apakah adik perempuanmu membawa sesuatu benda mestika yang berharga?”

“Bukan saja membawa benda mestika, bahkan tidak sedikit jumlahnya,” jawab Kim-yan-cu, sembari bicara ia terus berusaha melompat keluar.

Tapi Bwe Su-bong keburu mencegahnya, desisnya, “Jangan bergerak, nona, lukamu belum lagi sembuh.”

Kim yan-cu menjadi gelisah, katanya, “Su-ok-siu ini sedemikian terkenal, tentu ilmu silat merekapun tidak lemah, adik perempuanku cuma sendirian dan pasti bukan tandingan mereka. Apakah aku harus berdiam diri menyaksikan dia dicelakai orang?”

Bwe Su-bong tampak prihatin, katanya pelahan, “Tapi biarpun sekarang nona ikut turun tangan juga tiada gunanya, malahan cuma mengantar nyawa belaka.”

“Habis… habis bagaimana baiknya?” Kim yan-cu menjadi kelabakan.

“Jangan kuatir nona” ujar Bwe Su-bong dengan tertawa, “asalkan ku hadir di sini, tidak boleh mereka berbuat sesukanya”

Meski begitu ucapannya, sesungguhnya iapun tidak yakin akan jaminannya itu.

“Kalau begitu lekaslah kau mencari akal, kalau terlambat mungkin urusan bisa runyam” pinta Kim-yan-cu.

“Cara turun tangan mereka takkan terlalu cepat” tutur Bwe Su-bong setelah berpikir sejenak. “Sebelum turun tangan biasanya Su-ok-siu selalu berhati-hati, makanya selama ini mereka jarang gagal”

Sembari bicara ia terus mengamat-amati sekeliling sana, dilihatnya di belakang hotel Li-keh-can itu terdapat sebuah rumah kecil berloteng sehingga lebih tinggi daripada atap rumah di sekitarnya.

Tiba-tiba Bwe Su-bong tertawa dan berkata, “Aku sudah kakek-kakek hampir 70 tahun, kalau nona tidak merasa tubuhku kotor, marilah ku gendong saja, kita sembunyi dulu di atas loteng sana untuk mengawasi gerak-gerik mereka”

“Ya, selain jalan ini kukira tak berdaya lagi” ujar Kim-yan-cu dengan gegetun.

Begitulah Bwe-Su-bong lantas menggendong Kim-yan-cu dan memutar ke samping rumah kecil berloteng itu, ia mengeluarkan seutas tali panjang, digantolkan pada emper loteng, lalu merambat ke atas dengan hati-hati.

Meski gelisah dan wataknya tidak sabaran, namun jelek-jelek dia tokoh Kangouw yang sudah ulung, dengan sendirinya dia bisa lebih hati-hati dari pada biasanya, apalagi dia menggendong seorang, gerak-geriknya kurang leluasa, bila melompat tentu menimbulkan suara, maka dia tidak berani main loncat ke atas loteng.

Dari atas loteng itu dapat memandang jelas, keadaan sekitarnya, terutama Li-keh-can di depannya, kecuali kedua lampu kerudung yang tergantung di depan pintu hotel itu serta samar-samar ada cahaya lampu di kamar pengurus, suasana sekelilingnya gelap gulita dan sunyi senyap, hanya keresekan daun pohon yang terkadang tertiup angin memecah kesunyian malam yang seram.

Di bawah pohon, di ujung tembok, di balik atap rumah, setiap tempat yang gelap lamat-lamat ada bayangan orang, namun tidak terdengar sesuatu suara yang mencurigakan.

Kim-yan-cu menjadi kuatir, gumamnya dengan suara tertahan, “Mengapa tidur Ji-moay seperti babi mampus, kawanan bandit sudah di depan pintu dan dia belum lagi tahu.”

Di tempat gelap terdengar ada orang menjentik sebagai tanda, empat lelaki serentak melolos golok dan merunduk ke rumah di depan sana. Dua orang di antaranya menuju ke pintu dan dua lagi mendekati jendela. Tapi belum lagi dekat, mendadak di dalam rumah cahaya lampu terang benderang.

Ke empat orang itu terkejut dan berhenti dengan golok terhunus dan siap tempur. Tak tersangka di dalam rumah lantas berkumandang suara tertawa orang perempuan yang genit, berbareng itu pintu lantas terbuka.

Tertampaklah seorang nona jelita dengan membawa sebuah lampu minyak muncul di ambang pintu. Dia memakai baju tidur warna ungu tipis, perawakannya yang ramping dan garis tubuhnya yang samar-samar kelihatan di bawah cahaya lampu.

Terkejut juga Bwe Su-bong memandangnya dari jauh, pikirnya, “Adik perempuan Kim-yan-cu mengapa secantik ini?”

Ke empat lelaki tadipun terkesima berhadapan dengan perempuan cantik itu sampai bernapas saja setengah ditahan, bahkan orang-orang yang masih bersembunyi di tempat gelap juga sama melotot.

Perempuan cantik itu memang betul Gin-hoa-nio adanya, dia mengerling genit, katanya dengan tersenyum menggiurkan, “Kedatangan para Toako ini apakah hendak mencari diriku?”

“Iya…” mestinya ke empat lelaki itu hendak mengucapkan kata-kata yang bengis, tapi aneh, mulut terasa kering dan jantung berdetak keras, bukan saja tidak dapat memperlihatkan sikap buas, bahkan kata-kata kasar juga sukar terucapkan.

“Jika kalian ingin mencari diriku, hayolah silahkan masuk dan minum dulu, mengapa berdiri saja di luar, kalau masuk angin kan bisa berabe…” demikian ucap Gin-hoa-nio dengan suara lembut sambil menggeliatkan pinggangnya yang ramping, senyumnya juga tambah genit.

Dia seperti nyonya rumah yang simpatik terhadap kunjungan tamunya dari jauh, seperti sama sekali tidak tahu kedatangan orang-orang ini bermaksud membunuhnya.

Ke empat lelaki tadi menjadi melenggong bingung. Sesungguhnya mereka sudah cukup berpengalaman, tapi terhadap nona jelita tanpa senjata ini mereka tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Mendadak salah seorang di antara ke empat lelaki itu berkata dengan tertawa aneh, “Nyonya rumah secantik ini mengundang kita minum, mana boleh kita kecewakan kehendaknya. Biarlah aku “Oh-pa” (harimau tutul hitam) Cin Piao mencicipi dulu suguhannya”

Di tengah suara tertawa seram, seorang di antaranya yang berbaju hitam, berbadan tinggi dengan gerak-gerik gesit segera melangkah maju. Langkahnya kelihatan sangat mantap, namun tidak terdengar suara sedikitpun.

Dipandang dari jauh, orang itu seperti sangat gagah, tapi ketika mukanya tersorot cahaya lampu, seketika orang terperanjat, orang tidur saja mungkin akan terjaga bangun.

Ternyata muka orang gagah itu hitam pekat, tulang pipinya menonjol, mukanya penuh codet, bekas sayatan pisau, ketika tertawa mulutnya yang lebar tampak merah menganga seakan-akan sekali caplok lawan bisa diganyangnya mentah-mentah.

Gin-hoa-nio memandangnya tanpa gentar, ia malah tersenyum genit dan berkata, “Wah, pahlawan gagah perkasa begini mana boleh minum teh saja, syukur di sini tersedia beberapa botol arak simpanan, pahlawan dengan arak, begini barulah setimpal.”

Cin Piao si macan tutul hitam terbahak-bahak.

Belum lagi dia bicara, seorang lagi sudah berteriak, “Keparat, perempuan ini memang menarik, betapapun aku juga mau minum satu cawan”

Di tengah gelak tertawa masuk lagi tiga orang. Orang pertama tinggi besar dan gemuk, mukanya penuh daging lebih. Orang kedua tinggi kurus, mukanya pucat seperti mayat, hidungnya tinggal separuh, telinganya juga hilang satu.

Orang ketiga tampaknya tidak begitu buruk rupa, tapi jalannya yang abnormal, terincat-incut, kedua tangannya juga terus gemetar, orang bisa muak melihat dia.

Kim-yan-cu saja hampir tumpah demi melihatnya dari jauh.

Bentuk ketiga orang itu dari kepala sampai ke kaki hakekatnya sukar dikatakan mirip manusia. Namun Gin-hoa-nio tidak memperlihatkan rasa kurang senang, ia tetap tertawa manis menyambut kedatangan ketiga orang itu, bahkan ia memberikan lirikan yang menggiurkan kepada setiap orangnya sehingga membikin setiap orang itu berpikir seolah-olah lirikan si cantik hanya ditujukan kepadanya saja.

Lelaki baju merah yang tinggi besar dengan muka penuh daging lebih itu terbahak-bahak, teriaknya, “Busyet, sudah lama ku malang melintang kian kemari, tapi belum pernah aku “Ang-hou” (harimau merah) Tio Kang melihat perempuan sexy begini, sungguh ingin sekali ku caplok kau mentah-mentah”

Orang berbaju putih yang berjalan paling belakang terkekeh-kekeh, katanya, “Nona jangan kaget, Hou-loji (si harimau kedua) memang suka omong kasar, tapi hatinya sangat baik…” sembari bicara, tubuhnya terus menggigil tiada hentinya.

Ang-hou Tio Kang berkata dengan tertawa, “Betul, mukaku sih tidak setampan Pek-coa-longkun (si bagus ular putih), tapi hatiku lebih baik dari pada dia, bila kau digauli sekali olehnya, sedikitnya tiga hari kau tak bisa bangun…”

Begitulah sambil bersenda-gurau beberapa orang itu terus melangkah masuk kamar seperti masuk ke rumah sendiri, hakekatnya tidak gentar kalau-kalau si cantik menggunakan akal licik terhadap mereka.

Hanya si baju kelabu yang hidungnya tinggal separuh itu tetap bersikap acuh tak acuh, memandang sekejap saja tidak terhadap Gin-hoa-nio, seolah-olah sama sekali tidak berminat terhadap perempuan.

Tapi ketika dia lalu di samping Gin-hoa-nio, sekonyong-konyong ia remas pantat Gin-hoa-nio sehingga nona itu menjerit kesakitan. Tapi segera Gin-hoa-nio tertawa genit dan membisikinya, “Tadinya kukira kau ini lelaki suci bersih, tak tahunya juga sama bangornya. Anjing yang suka menggigit orang biasanya memang tidak menggonggong”

Tanpa menoleh, si baju kelabu berucap dengan ketus, “Serigala yang makan manusia biasanya juga tidak menyalak.”

“0ooo, kau serigala ?” tanya Gin-hoa-nio dengan tertawa.

“Ya, serigala kelabu.” jawab orang itu.

Sesudah ke empat orang itu berada di dalam kamar, si Harimau merah Tio Kang lantas menjatuhkan diri di tempat tidur, ia tarik selimut dan diendusnya lalu tertawa dan berkata, “Haha, harum amat tubuh perempuan ini, sampai selimutnya juga ketularan wangi, sungguh aku tidak tahan, ingin ku tindih mampus dia.”

“Wah tampaknya Loji sudah lupa tujuan kedatangan kita ini !” omel si baju kelabu.

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Apapun maksud tujuan kedatangan kalian ini, pokoknya minum arak saja dahulu, kan tidak menjadi soal bukan ?” Segera ia menuang empat cawan arak dan diaturkan kepada tetamunya.

Pek-coa-longkun terkekeh-kekeh, katanya, “Ai, tangan nona putih mulus begini, entah arak yang kau suguhkan ini beracun atau tidak?”

Ang-hoa melompat bangun, ia tarik tangan Gin-hoa-nio dan di rabanya, katanya dengan tertawa, “Arak suguhan dari tangan putih halus begini, sekalipun beracun juga akan kuminum.”

Benar juga, tanpa pikir ia angkat salah satu cawan arak itu terus ditenggaknya hingga habis.

Ob-pah melototi sang kawan, ia cukup licin, ia tunggu sebentar lagi dan melihat Ang-huo sama sekali tidak ada tanda-tanda keracunan, bahkan si harimau merah itu bertambah gembira. Maka tertawalah Oh-pah alias Macan Tutul hitam katanya, “Masa ada orang main racun di depan kita ? … Hehe, kukira nona ini bukan orang bodoh!” Sambil bicara iapun angkat satu cawan dan di minum habis.

Pada saat itulah, Bwe Su-bong yang mengintai di rumah seberang sana sedang tanya Kim-yan-cu dengan suara tertahan, “Kau kira arak itu beracun atau tidak ?”

“Mungkin tidak,” jawab Kim-yan-cu, “Ai, seharusnya di berinya racun.”

“Jika demikian pikiran nona, kukira kau keliru besar,” ujar Bwe Su-bong dengan tersenyum. “Menaruh racun di dalam arak terlalu mudah di ketahui lawan, tentu saja sangat berbahaya, jelas adik perempuanmu tidak mau bertindak sebodoh itu.”

“Memangnya dia mempunyai cara lain?” ujar Kim-yan-cu dengan gregetan.

“Menurut pandanganku, tindakan adikmu mungkin jauh lebih pintar dari pada nona sendiri dan jauh lebih tinggi daripadaku.” kata Bwe Su-bong. “Tampaknya urusan ini tidak perlu lagi kita ikut campur.”

Dalam pada itu terlihat Gin-hoa-nio sedang menyuguhkan arak ke depan Pek-coa-long-kun, katanya, “Apakah kongcu tidak sudi minum arak suguhanku?”

Pek-coa-long-kun tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Tapi melulu minum arak saja kan kurang menyenangkan, nona harus memberikan barang pengiring arak sekalian.”

Gin-hoa-nio melirik genit, tanyanya, “Kongcu menghendaki barang pengiring arak apa ?”

“Sepanjang jalan kami mengikuti nona ke sini apa tujuan kami masakah nona tidak tahu ?” kata Pek-coa -longkun dengan tertawa misterius.

“O, barang yang tidak manis juga tidak asin begitu masa dapat digunakan pengiring arak ?” ucap Gin-hoa-nio dengan menggigit bibir.

“Meski barang-barang itu tidak manis, juga tidak asin tapi, asalkan ku lihatnya sekejap, sedikitnya ku sanggup minum tiga cawan arak,” ujar Pek-coa-long-kun. “Tapi entah nona sudi memperlihatkan tidak kepada kami barang tersebut ?”

“Jika Kongcu menghendaki demikian, mana aku berani menolak,” kata GIn-hoa-nio dengan tertawa genit, Mendadak dia menyingkap kain sprei tempat tidur yang terletak di pojok kamar sana.

Seketika pandangan semua orang terasa silau, sinar-sinar lampu seolah-olah menjadi suram oleh cahaya gemerlapnya ratna mutu manikam. Seketika ke empat orang itu mendelik, tubuh Pek-coa-longkun menggigil semakin keras.

Segera Ang-hou melompat maju, diraupnya segenggam batu permata itu, teriaknya dengan gembira, “Sungguh tak kusangka begini gemuk kambing kita ini, setelah transaksi ini, mungkin selanjutnya kita tidak perlu susah payah lagi dan dapat hidup tenteram sampai tua.”

Pek-coa-longkun terkekeh-kekeh, katanya, “Cuma sayang, barang-barang ini kan milik nona jelita ini, apakah orang sudi menyerahkannya kepada kita kan masih menjadi soal.”

“Kita angkut saja dan habis perkara, perduli dia mau memberi atau tidak?! teriak Ang-hou.

“Kita kan orang sopan, segala sesuatu harus permisi dulu kepada yang empunya,” ujar Pek-coa-longkun dengan terkekeh-kekeh.

“Baik, biar kutanya dia, ” teriak Ang-hou. “Eh, mestika ratu, boleh tidak ? Hahahaha, kita bertanya padanya boleh atau tidak, Hahaha…”

Makin keras tertawanya dan makin geli rasanya, sampai-sampai ia memegangi perut dan menungging.

Gin hoa nio tidak memberi reaksi-apa-apa, dengan tersenyum ia berkata, “Sebelumnya hamba sudah tahu kalian akan kemari, maka sudah kusiapkan semua barang yang kalian inginkan ini.”

“Hahaha, memang sudah kukatakan kau ini perempuan cerdik,” seru Ang hou sambil bergelak.

“Bukan cuma batu permata ini saja akan kupersembahkan kepada kalian, bahkan masih ada barang berharga lain juga akan kuserahkan kepadamu, entah kalian sudi menerima atau tidak?”

Ang-hou mendelik, teriaknya, “Masih ada barang berharga lain lagi? Di mana? Lekas perlihatkan kepadaku!”

Gin hoa nio mengerling genit, ucapnya dengan tersenyum, “Barang itu sudah berada di sini. Coba kalian pikir, benda paling berharga apa yang terdapat pada diriku? Masa kalian tidak dapat menerkanya?”

Ang-hou garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berteriak-teriak, “Tak dapat kuterka, aku tidak tahu, benda apa maksudmu?”

“Andaikan kalian tak dapat menerkanya, biarlah ku perlihatkan saja!” ujar Gin hoa nio dengan lirikan mautnya.

Perlahan ia menarik baju tidurnya yang tipis itu sehingga merosot ke lantai, maka tertampaklah dadanya yang menegak hanya tertutup oleh selapis kutang yang tipis remang-remang, tubuhnya yang montok dan pahanya yang mulus dengan warna kulit yang putih bersih…

Biji mata Su ok siu melotot seperti mata ikan emas yang akan melompat keluar dari rongga matanya, napas mereka pun makin kasar dan akhirnya megap-megap, kalau semula ada tiga bagian mereka masih menyerupai manusia, tapi sekarang hampir seluruhnya berubah menjadi binatang yang buas dan kelaparan.

Biji leher Ang hou tampak naik turun, berulang kali ia menelan air liur, gumamnya kemudian, “O, mestika ratuku, sungguh ini benar-benar mestika ratu nomor satu di dunia ini, jika ada anak kura-kura yang bilang ini bukan mestika ratu, maka matanya pasti buta dan akan kuhancurkan mulutnya.”

Pek coa longkun juga tambah gemetar sehingga pinggangnya hampir patah, gumamnya dengan tergagap-gagap, “Nona… nona benar-benar … benar-benar hendak memberikan barangmu yang berharga ini kepada kami?”

Gin hoa nio bersuara aleman, ucapnya sambil tersenyum manis. “Pemuda mana yang tidak birahi, gadis mana yang tidak gairah. Perempuan kalau sudah dewasa yang dikehendakinya bukan lagi batu permata melainkan lelaki.”

Tangannya yang menutupi dada itu perlahan-lahan mulai merosot ke bawah, lalu ucapnya pula dengan suara yang menggetar sukma, “Tentunya para Kongcu dapat melihat sendiri, aku tidak lagi anak kecil bukan?”

Ang hou tertawa dengan setengah menjerit, teriaknya, “Bilamana ada anak kura-kura yang bilang kau masih anak kecil, seketika akan ku masukkan lagi dia ke perut biangnya.”

Mendadak Oh pah Cin Piau berkata dengan bengis, “Perempuan cantik dan genit macam kau ini kalau ingin cari lelaki, sekaligus satu keranjang juga dapat kau dapatkan, sebab apa kau sengaja menghendaki kami? Sesungguhnya akal bulus apa yang telah kau atur?”

Gin hoa nio tertawa ngikik, katanya, “Meski kalian berempat tidak terhitung cakap, tapi kalian adalah lelaki sejati, jantan cemerlang, hanya anak perempuan yang masih hijau saja yang suka kepada lelaki sebangsa enak dipandang tak berguna dipakai. Aku justeru…” ia lantas menunduk dan malu-malu kucing seperti gadis pingitan, lalu sambungnya dengan tertawa genit, “Yang kusukai adalah lelaki jantan, jantannya lelaki.”

“Plok”, Ang hou berkeplok sambil berteriak, “Keparat, ucapanmu memang tepat, nyata pandanganmu memang tajam, anak muda yang bermuka putih seperti pupuran itu mana becus bekerja? Hahaha, cukup kau jepit dengan pahamu saja mungkin seketika keluar kuning telurnya.”

“Tapi… tapi hamba pun mempunyai sesuatu kesukaran,” tiba-tiba Gin hoa nio menghela napas.

Ang hou jadi mendelik, tanyanya cepat, “Apa kesukaranmu?”

Gin hoa nio tidak lantas menjawab, ia mengerling mesra sekeliling kepada keempat orang itu, lalu berkata dengan menyesal, “Soalnya begini, meski batu permata ini dapat dibagi menjadi empat, tapi diriku hanya seorang saja…”

“Di antara kami berempat hanya aku saja yang belum berbini, sudah tentu kau mestika ratu ini adalah milikku,” teriak Ang hou.

Dengan menunduk Gin hoa nio berkata, “Tio-kongcu gagah perkasa, sudah tentu terhitung lelaki tulen, bilamana kudapatkan suami seperti dirimu, apa pula yang kuharapkan lagi, hanya saja…” sembari bicara, matanya diam-diam melirik Cin Piau, si macan tutul.

Benar saja, belum habis ucapannya, serentak Cin Piau berteriak, “Tio-loji, barang lain boleh kuberikan padamu, tapi mestika ratu jelita ini adalah milikku Cin-lotoa.”

“Lotoa (si tua)? Hehe, jika aku tidak mengalah, bisakah kau menjadi Lotoa?” jengek Tio Kang alias Ang hou atau di harimau merah.

Cin Piau menjadi gusar, bentaknya, “Jadi kau tidak terima?”

“Terima? Berdasarkan apa aku mesti mengalah padamu?”

Gemerdep sinar mata Gin hoa nio, jelas dalam hati sangat senang, tapi di mulut ia berkata, “E-eh, janganlah kalian bertengkar, apabila kalian bersaudara bertengkar lantaran diriku, wah, entah bagaimana hamba harus menebus dosaku ini.”

Pek coa longkun terkekeh-kekeh, katanya, “Ucapan nona ini memang tidak salah, jika kita bersaudara bertengkar mengenai seorang perempuan, bukankah akan dibuat buah tertawaan orang? Menurut pendapatku, mestika ratu ini akan menjadi milik siapa boleh ditanyakan langsung kepada dia sendiri.”

Si ular putih ini menganggap dirinya paling cakap dan menarik di antara mereka berempat, jika sang “mestika ratu” disuruh memilih, jelas dirinya yang akan terpilih.

Tapi harimau merah, serigala kelabu dan macan tutul hitam juga mengira dirinya masing-masing yang dipenujui Gin hoa nio, kalau tidak masakah lirikan si cantik yang membetot suka itu selalu tertuju ke arahnya?

Baru habis ucapan si ular putih, serentak ketiga rekannya menyatakan setuju, “Ya cara ini memang paling bagus dan adil!”

Ang hou lantas menyambung pula dengan tertawa, “Mestika sayang, jadilah kau Ong Po sun dan Aku Sih Peng kui (Nama-nama peran dalam cerita roman kuno), pilihlah aku!?”

Gin hoa nio menunduk sambil menggigit bibir, seperti malu dan juga seperti serba salah. Kerlingannya yang mesra justru mengusap kian kemari secara bergilir di antara ke empat orang itu.

Oh pah Cin Piau bertepuk-tepuk dada dan berkata, “Siapa yang kau sukai, katakan saja terus terang, tidak perlu takut!”

“Betul, jangan takut,” tukas Ang hou. “Bila aku yang kau pilih, katakan saja, kalau ada anak kura-kura yang berani mengganggu seujung rambutmu, lihat saja kalau tidak kugetok kepalanya hingga gepeng.”

Sembari bicara sebelah tangannya bertolak pinggang dan tangan yang lain memperlihatkan ototnya yang kuat.

Begitulah ke empat orang itu sama yakin pasti dirinya yang akan dipilih Gin hoa nio. Sungguh luar biasa. Memang tidak mudah bagi seorang perempuan untuk membuat setiap lelaki sama merasa mabuk baginya, dalam hal ini Gin hoa nio harus diberi piala.

Menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, berulang-ulang Bwe Su-bong juga mengurut dada, sungguh mimpi pun dia tidak menyangka Kim yan cu mempunyai adik perempuan sehebat itu, diam-diam ia pun membatin, “Untung usiaku sudah hampir 70, kalau tidak, bisa jadi akupun akan terjun ke sana dan ikut ambil bagian…”

ooo 000 ooo

Dalam pada itu, Gin hoa nio tampaknya masih ragu-ragu, biji matanya berputar-putar dan tetap tak dapat mengambil keputusan, lama sekali barulah ia menghela napas dan berkata, “Kalian semuanya adalah lelaki sejati dan ksatria terpuji, sungguh aku menjadi bingung, entah siapa yang harus ku pilih. Setelah kupikir pergi-datang, kukira hanya ada satu cara untuk menentukannya.”

Cara bagaimana?” tanya ke empat orang itu serentak.

“Begini,” tutur Gin hoa nio dengan senyum genit dan lirikan mautnya, “kalian kan tahu, perempuan adalah kaum lemah, setiap perempuan tentu berharap akan mendapatkan suami yang berilmu silat tinggi dan bertenaga kuat….”

Air muka si serigala kelabu yang licin dan licik itu seketika berubah, tapi Gin hoa nio tidak memberi peluang baginya untuk bicara, cepat ia menyambung, “Tapi kalau kalian berempat benar-benar saling berhantam sehingga ada yang cedera, tentu hatiku akan sedih.”

Mendengar ini, air muka si serigala kelabu berubah menjadi tenang kembali.

Sebaliknya si harimau merah berkerut kening dan berkata, “Tapi kalau tidak saling gebrak, cara bagaimana membedakan Kungfu siapa yang lebih unggul? Keparat, aku menjadi bingung apa kehendakmu sesungguhnya.”

Gin hoa nio tertawa manis, ucapnya pula, “Maka hamba cuma ingin kalian memperlihatkan sejurus Kungfu masing-masing saja, aku yang melihat dan aku yang menilai, sebaliknya takkan merusak persaudaraan kalian sekaligus juga ketahuan Kungfu siapa yang lebih unggul.”

“Aha, bagus,” teriak Ang hou dengan tertawa. “Tak terduga, kepalamu yang kecil ini berisi akal sebanyak ini.”

Pada saat itulah Kim-yan-cu mengintip di seberang sana berkata pula kepada Bwe Su-bong:

“Entah akal apa yang sedang diaturnya sekarang?”

“Sudah tentu akal untuk memancing agar ke empat orang itu saling membunuh sendiri.” ujar Bwe Su-bong.

“Jika demikian, mengapa dia tidak berdaya agar mereka lekas saling bergebrak?” kata Kim-yan-cu.

“Di sinilah letak kecerdikan adikmu” ujar Bwe-Su-bong dengan tertawa. “Serigala kelabu itu sudah mencurigai adikmu sedang main gila, jika saat ini juga adikmu menyuruh mereka saling baku hantam, mungkin serigala kelabu itu akan segera berontak.”

“Tapi kalau ke empat orang itu tidak saling gebrak, cara bagaimana pula bisa terjadi bunuh membunuh?”

“Agaknya adikmu sudah tahu, meski ke empat orang itu bersaudara, tapi satu sama lain tidak mau mengalah, tiada satupun mengakui kungfunya di bawah yang lain, maka akhirnya mereka pasti akan saling hantam sendiri. Biarkan mereka baku hantam sendiri kan jauh lebih baik daripada adikmu yang menyuruhnya?”

Kim-yam-cu menghela napas dan tidak bicara lagi.

Dalam pada itu terlihat si harimau merah sedang mengulet badan dengan kemalas-malasan sehingga seluruh ruas tulang badannya sama berbunyi keriat-keriut, habis itu mendadak ia meraung, sebelah tangannya terus menghantam sebuah bangku batu bulat disampingnya.

Bangku itu berbentuk bulat tengahnya kosong, tapi biarpun begitu, umpama orang biasa memukulnya dengan palu besar juga tidak mungkin dapat menghancurkannya dengan sekali hantam. Sekarang si harimau merah sekali hantam telah dapat membuat bangku batu itu menjadi berkeping-keping.

Gin-hoa-nio berseru dengan tersenyum genit:

“Wah, hebat sekali kungfu Tio-kongcu, sungguh mimpipun tak terpikir olehku tenaga seorang bisa begini besar dengan kepalan yang begitu keras”

Ang-hoa tertawa latah sambil melirik hina kesana dan ke sini, teriaknya:

Setelah kuperlihatkan kungfuku ini, kukira orang lain tidak perlu coba-coba lagi”

“Ya, kungfumu ini memang sukar dibandingi siapapun,” ujar Gin-hoa-nio dengan senyuman menggiurkan, namun matanya senantiasa melirik ke arah si macan tutul.

Cin-piau, si macan tutul hitam mendengus:

“Hm, tangan To-loji memang kuat untuk membelah kayu, tapi kalau digunakan untuk bertempur jelas tiada gunanya.

Muka Ang-hou menjadi merah, teriaknya gemas, “Bedebah, tiada gunanya katamu? Memangnya kau lebih kuat daripadaku?”

Oh-pah atau si macan tutul hitam mendengus, pelahan ia berduduk di bangku batu yang lain, ia duduk dengan diam, sampai sekian lama tetap tidak bergerak.

“Hehe, kungfu macam apa yang kau perlihatkan? kungfu pantat barangkali? ejek si harimau merah dengan tertawa.

Oh-pah tetap berduduk tanpa bergerak, jengeknya kemudian, “Seumpama otakmu bebal, apakah matamu juga buta?”

Baru sekarang Ang-hoa mengamati-amati rekannya dan seketika ia tidak sanggup tertawa lagi. Tiba-tiba dilihatnya bangku batu yang diduduki Oh-pah itu makin lama makin pendek, bangku batu yang berat itu ada sebagian ambles ke dalam tanah.

Nyata, meski kelihatannya Oh-pah hanya berduduk tanpa bergerak, tapi sesungguhnya dia sudah memperlihatkan Lwekangnya yang hebat.

Dengan tertawa genit Gi-hoa-nio berseru, “hih, Cin-lotoa memang tidak malu sebagai orang pertama, jika bangku ini berujung lancip masih dapat dimengerti, tapi bangku ini berujung rata, sekarang ada setengahnya tertanam ke dalam tanah, sungguh hebat tenaga dalamnya betul tidak Kongcu-kongcu yang lain?”

Pek-coa-longkun tertawa terkekeh kekeh, ucapnya, “Betul, betul! beberapa bulan tidak bertemu, tak tersangka kungfu Cin-lotoa sudah maju sepesat ini.”

Oh-pah tertawa bangga, katanya, “Jika kungfuku tiada kemajuan, kan bisa di…” mendadak ia berhenti tertawa, air mukanya juga berubah pucat.

Rupanya entah sejak kapan si serigala kelabu telah merunduk ke belakang Oh-pah dan menyarangkan belatinya di punggung rekannya.

Keringat dingin tampak menghiasi dahi Oh-pah dengan suara gemetar ia berkata, “Losam, ke… keji amat kau!”

Wajah si serigala tiada memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan dingin:

“Aku cuma ingin memberitahukan padamu bahwa Kungfu Tio-loji hanya cocok untuk dipakai memotong kayu, sebaliknya kungfumu juga belum tentu ada gunanya.

Manusia adalah makhluk hidup, mungkinkah dia akan kau duduki sesukamu seperti bangku yang kau tanamkan ke dalam tanah ini?”

Dengan pandangan yang licik ia melototi Gin-hoa-nio dan berkata pula dengan menyeringai, “Kungfu yang paling berguna di dunia ini adalah kungfu yang dapat digunakan membunuh orang betul tidak nona?”

Oh-pah meraung kalap, segera ia membalik tubuh dan bermaksud mencekik leher si serigala. Namun si serigala sempat melompat mundur, belati juga dicabutnya sehingga darah lantas mancur dari tubuh Oh-pah, belum lagi macam tutul hitam itu berdiri seketika ia jatuh terguling ke lantai dan tidak mampu bangun pula.

Ang-hou meraung gusar, “Sekalipun Cin-lotoa bukan orang baik, jelek-jelek dia kan saudara kita, mengapa kau membunuhnya?”

“Setelah ku bunuh dia, bukankah kau yang menjadi Lotoa?” jawab si serigala.

Ang-hoa mengelak, ia mendengus dan tidak bicara lagi.

Pek-coa-longkun terkekeh kekeh katanya, “Ucapan … memang betul, kungfu apa segala, semuanya palsu, hanya kungfu yang dapat membunuh orang adalah kungfu sejati. Kungfuku membunuh orang tentunya juga tidak kurang hebat daripada kungfu si Lo-sam?”

Sambil bicara terus ia terus mengitar ke belakang Ang-hou, mendadak ia melolos belati terus menikam. Kecepatan dan kegesitan serta kelihaiannya memang tidak di bawah Hwe-long atau si serigala kelabu.

Tak tersangka, meski si harimau merah itu tampaknya gede dan bodoh, sesungguhnya dia malah cukup cerdik. Baru saja si ular putih turun tangan, secepat itu pula dia membalik tubuh dan balas menghantam.

Cuma sayang, badannya terlalu gede, meski tikaman si ular tidak mengenai tempat yang fatal namun tetap mengenai bahunya, begitu keras tikaman itu sehingga belati itu ambles seluruhnya ke dalam dagingnya. Begitu kuat tikaman itu sampai si ular sendiripun tak sempat menahan diri.

Di tengah raungan keras Ang-hou terus pentang sebelah tangannya, seketika si ular kena didekapnya di bawah ketiak, Anghou menyeringai, “He he, coba kemana lagi kau akan lari?”

Si ular ketakutan dan berteriak, “He, Tio-loji, lepaskan, ampuni aku!”

“Hatiku sih mau mengampuni kau, tapi sayang tanganku tidak boleh.” jawab Ang-hou sambil tertawa. ia perkeras dekapannya, terdengarlah suara “Krak-krek” beberapa kali tulang badan si ular tergencet remuk, jeritan ngeri berubah menjadi rintihan. Sampai akhirnya suara rintihanpun tidak terdengar lagi, barulah Ang-hou mengangkat tangannya dan Pek-coa-longkun terus jatuh terkapar seperti bangkai ular.

Diam-diam si serigala kelabu merasa ngeri, ucapnya kemudian dengan terkekeh, “Wih, hebat benar tenaga Tio-loji.” Ang-hou mencabut belati yang menancap di belakang bahunya, darah segar kontan menyembur seperti air mancur, namun dia sama sekali tidak merasa sakit, katanya terhadap Hwe-long sambil menyeringai, “Sekarang tinggal kau, apa kehendakmu?”

—–

Apakah si harimau merah akan berkongsi isteri dengan si serigala kelabu?

Cara bagaimana Gin hoa-nio akan membereskan lawan dan kemana dia akan memboyong harta karunnya dengan Kim yan-cu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: