Kumpulan Cerita Silat

21/05/2010

Renjana Pendekar – 11

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:29 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)

Sudah tentu Sin-to Kongcu tidak tahu sebab apa Gin-hoa-nio bergembira dan merasa geli, yang dirasakan cuma gaya tertawa Gin-hoa-nio yang menggiurkan itu, ia memandangnya dengan kesima, sampai sekian lamanya barulah ia berkata pula:

“Waktu itu, demi melihat Lim Tay-ih tidak berkabung, sebaliknya malah sudah bergaul dengan lelaki lain, sungguh hatiku sangat gemas. Kupikir perempuan ini ternyata seorang munafik, lahirnya kelihatan dingin dan kereng, se-olah2 puteri suci yang tak boleh diganggu, nyatanya cuma seorang perempuan yang tidak teguh imannya dan berharga murah.”

Gin-hoa-nio tertawa ter-kikik2, katanya kemudian, “Berada bersama seorang lelaki kan tidak berarti perempuan itu suka jual murah. Saat ini bukankah akupun berada bersamamu?”

Hampir semaput Sin-to Kongcu oleh lirikan Gin-hoa-nio yang memikat itu, segera ia bermaksud lagi meraba tangannya, ucapnya dengan menyengir, “Sudah tentu aku dan kau bukan…”

“Kemudian bagaimana?” mendadak Kim-yan-cu berteriak. “Mengapa tidak kau sambung?”

Sin-to Kongcu berdehem perlahan dan menegakkan tubuhnya, tuturnya, “Kemudian kami mondok di suatu hotel, kulihat mereka tinggal bersama di satu kamar.”

“Hm, jadi kau selalu membuntuti mereka?” jengek Kim-yan-cu.

“Apa maksudmu selalu membuntuti orang?” tanya Gin-hoa-nio dengan ter-kekeh2. “Barangkali kau ingin mengintip… mengintip… atau kau sendiri juga ingin ambil bagian?”

Muka Sin-to menjadi merah, serunya, “Masa aku ini orang macam begitu? Soalnya di sana hanya ada sebuah hotel, terpaksa akupun masuk hotel itu supaya tidak tidur di jalanan.”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Jangan kau marah. Padahal lelaki mana yang tidak mata keranjang. Bilamana lelaki melihat seorang perempuan yang jual murah, kalau dia tidak ikut mencicipi, maka akan dirasakan rugi besar. Kukira lelaki umumnya sama saja, siapa tahu kau… kau ternyata lain daripada lelaki lain.”

Andaikata Sin-to Kongcu memang rada dongkol, setelah mendengar kata2 ini, lenyap juga rasa marahnya.

Biji mata Gin-hoa-nio berputar, dengan tertawa genit ia berkata pula, “Eh, tapi pada malamnya kau mengintip juga bukan?”

Cepat Sin-to Kongcu menjawab, “Hah, masa ku intip orang macam begitu? Soalnya kamarku berada di sebelah mereka, sampai tengah malam kudengar mereka ribut mulut di kamarnya.”

Baru sekarang Kim-yan-cu tidak tahan dan bertanya, “Sebab apa mereka bertengkar?”

“Waktu kulihat mereka tampaknya Lim Tay-ih sedang sakit, sampai berjalan saja tidak kuat,” tutur Sin-to Kongcu. “Ji Pwe-giok itu memayangnya dengan penuh kasih mesra, jika aku jadi dia tentu kikuk dilihat orang banyak. Bila aku tidak tahu seluk beluk mereka, mungkin akan menyangka mereka itu suami isteri. Ketika kudengar suara pertengkaran mereka, aku menjadi terheran-heran.”

“Hihi… makanya kau tidak tahan dan ingin melihatnya,” tukas Gin-hoa-nio dengan tertawa ngikik.

“Tapi aku tidak mengintip,” ujar Sin-to Kongcu. “Baru saja ku keluar kamar dan sampai di halaman, mendadak Lim Tay-ih itu membuka pintu dan menerjang keluar dengan pedang terhunus.”

“Wah, aneh juga nona Lim itu,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Baru sembuh sakitnya lantas mau membunuh orang. Apakah Ji-kongcu yang telah merawatnya itu dianggap salah?”

“Menurut pengamatanku, tentu Ji Pwe-giok itu telah menggagahi orang pada waktu orang sedang sakit, makanya begitu menerjang keluar segera Lim Tay-ih itu berteriak, “Hayo keluar, Ji Pwe-giok, hari ini kalau bukan kau yang mampus, biarlah aku yang mati!” Pada saat itulah baru ku tahu bocah itu bernama Ji Pwe-giok.”

Gin-hoa-nio melirik Kim-yan-cu sekejap, katanya dengan tertawa, “Jika demikian, Lim Tay-ih itu se-olah2 benar-benar telah dimakan oleh Ji Pwe-giok itu, makanya dia menjadi dendam dan ingin mengadu jiwa dengan dia. Bagaimana Cici, menurut kau apakah memang begitu kepribadian Ji-kongcu?”

Sudah tentu Kim-yan-cu tahu apa alasan Lim Tay-ih ingin membunuh Ji Pwe-giok, tapi hal ini mana boleh diceritakan nya kepada orang lain. Bila teringat kepada apa yang terjadi di tempat Siau-hun-kongcu itu, Kim-yan-cu sendiri merasakan pahit, getir, manis dan kecut bercampur aduk dan sukar menyatakan bagaimana rasanya.

Terpaksa ia menjawab dengan dingin, “Dengarkan saja ceritanya, kenapa kau tanya padaku?”

Gin-hoa-nio melelet lidah dan tidak bersuara pula.

Sin-to Kongcu lantas menyambung ceritanya, “Mungkin Ji Pwe-giok itu merasa malu, dia sembunyi di dalam kamar dan tak berani keluar. Sampai lama Lim Tay-ih mencaci maki di luar, mendadak ia menerjang masuk lagi ke kamar.”

“Masa Ji Pwe-giok belum lagi pergi?” tanya Kim-yan-cu.

“Ji Pwe-giok seolah-olah terkesima, ia duduk di kursinya dengan termangu-mangu,” tutur Sin-to Kongcu. “Sementara itu tamu hotel menjadi kaget dan be-ramai-ramai merubung datang untuk menonton, ada yang menyangka suami isteri sedang bertengkar dan ingin melerai, tapi baru masuk segera orang itu di depak keluar oleh Lim Tay-ih, keruan yang lain-lain menjadi ketakutan dan tidak berani mendekat.”

“Galak benar nona Lim itu,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

“Setelah menerjang ke dalam kamar, Ji Pwe-giok didamperatnya habis-habisan,” tutur Sin-to Kongcu lebih lanjut. “Hakikatnya Ji Pwe-giok dimaki se-olah2 manusia yang paling tidak kenal malu di dunia ini. Tapi Ji Pwe-giok masih tetap duduk mematung dan tidak menanggapi.”

“Kata peribahasa, bertepuk sebelah tangan takkan berbunyi, kalau orang tidak menjawabnya, betapapun galaknya nona Lim itu terpaksa tak dapat berbuat apa-apa lagi,” ujar Gin-hoa-nio.

“Ya, tadinya akupun anggap begitu,” kata Sin-to Kongcu. “Siapa tahu Lim Tay-ih itu seperti sudah gila, mendadak pedangnya menusuk…”

“Dan dia tidak membalas?” betapapun Kim-yan-cu menjadi kuatir dan bertanya.

Sin-to Kongcu melototinya sekejap, lalu menjawab dengan perlahan, “Bukan saja dia tidak membalas, bahkan berkelit saja tidak. Ketika pedang Lim Tay-ih mengenai badannya, hakekatnya dia tidak bergerak sama sekali.”

“Parah tidak lukanya?” tanya Kim-yan-cu.

“Tampaknya Lim Tay-ih tidak ingin sekali tusuk membinasakan dia,” jawab Sin-to Kongcu dengan dingin, “sebab itulah tusukannya itu diarahkan ke bahunya, tusukan yang kedua juga cuma melukai dadanya…”

“Dia tega menusuk lagi?!” seru Kim-yan-cu.

“Tidak cuma menusuk lagi, bahkan sembari memaki dan menangis, pedangnya juga tidak pernah berhenti,” jengek Sin-to Kongcu.

Hampir menangis Kim-yan-cu, katanya dengan tersendat, “Masa tidak ada orang yang mencegahnya?”

“Tadi kan sudah ada yang di depak keluar, siapa lagi yang berani melerainya?” ujar Sin-to Kongcu.

“Dan kau? Kenapa tidak kau cegah dia? Apakah kaupun takut kepada ilmu silatnya?” tanya Kim-yan-cu.

Sin-to Kongcu menunduk, katanya, “Sebenarnya akupun ingin menariknya, tapi begitu mendengar orang itupun bernama Ji Pwe-giok, entah mengapa, aku menjadi… menjadi marah bila mendengar nama Ji Pwe-giok.”

“Jadi… jadi kau saksikan dia dibunuh orang di depanmu?” tanya Kim-yan-cu pula dengan suara gemetar.

“O, kaupun kenal dia?” tanya Sin-to Kongcu dengan terbelalak. “Mengapa begini besar perhatianmu kepadanya?”

“Kukenal dia atau tidak, kuperhatikan dia atau tidak, semua ini ada sangkut paut apa denganmu?” teriak Kim-yan-cu.

Mata Sin-to Kongcu menjadi merah, ia angkat cawan arak, tapi tangannya terasa gemetar hingga arak berceceran membasahi bajunya. “Tapi Ji Pwe-giok itu apakah betul telah dibunuh oleh Lim Tay-ih?” timbrung Gin-hoa-nio dengan tertawa genit.

“Sudah tentu, masakah perlu dijelaskan lagi,” kata Sin-to Kongcu dengan dingin sambil tetap menatap Kim-yan-cu.

Se-konyong2 Kim-yan-cu berbangkit, teriaknya dengan parau, “Dan kau… kau ti…”

Sin-to Kongcu juga berdiri dan meraung, “Ji Pwe-giok sendiri tidak menghiraukan dirinya diserang, jelas ia sendiri rela mati di tangan Lim Tay-ih. Kalau dia sendiri sukarela, mengapa aku mesti ikut campur urusannya?!”

Dengan sinar mata buram Kim-yan-cu menatap Sin-to Kongcu, selangkah demi selangkah ia menyurut mundur ke pintu, akhirnya air mata menetes, mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi dengan mendekap mukanya.

Lama juga Gin-hoa-nio melenggong, lalu ia tertawa ter-kekeh2, katanya, “Hehe, akhirnya Ji Pwe-giok mati juga, bahkan mati di tangan orang perempuan… jika Losam (si ketiga, maksudnya Thi-hoa-nio) mendengar berita ini, kuyakin air mukanya pasti sangat lucu.”

Waktu ia berpaling, dilihatnya Sin-to Kongcu berdiri kaku seperti patung, air mukanya sebentar hijau sebentar putih, mendadak “prak”, cawan arak yang dipegangnya telah hancur diremasnya.

* * *

Kim-yan-cu berlari kembali ke kamarnya dan menjatuhkan diri di ranjang, kepala ditutupnya dengan selimut lalu menangis ter-gerung2. Ia sendiripun tidak menduga dirinya bisa begini berduka.

Entah sudah berapa lama ia menangis, ia merasa sebuah tangan meraba bahunya dengan perlahan, ia membuka selimut, dilihatnya Gin-hoa-nio berduduk di tepi ranjang dan lagi berkata dengan suara lembut, “Orang mati tak dapat hidup kembali, untuk apa Toaci sedemikian berduka?”

Melihat dia Kim-yan-cu merasa seperti bertemu dengan orang yang paling karib di dunia ini, ia menubruk ke pangkuan Gin-hoa-nio dan menangis lagi sekian lamanya, habis itu barulah ia berkata dengan tersendat, “Akupun tidak tahu mengapa aku begini berduka, padahal aku cuma berada bersama dia satu hari saja, bahkan bagaimana bentuknya sesungguhnya akupun tidak jelas.”

“Hah? Kau hanya berkumpul satu hari dengan dia? Hanya satu hari?” Gin-hoa-nio menegas dengan tercengang.

“Ya, meski cuma satu hari, tapi apa yang terjadi selama sehari itu sudah cukup kukenangkan untuk selama hidup,” kata Kim-yan-cu.

Gemerdep sinar mata Gin-hoa-nio, tanyanya pula dengan perlahan, “Dia sangat baik padamu?!”

“Ya”.

“Tapi Sin-to Kongcu itu kan juga sangat baik padamu?”

“Itu tidak sama,” ujar Kim-yan-cu. “Dia baik padaku lantaran ia ingin memiliki diriku, tapi Ji… Ji Kongcu itu, dia selalu memikirkan kepentinganku, bahkan tidak sayang mengorbankan dirinya sendiri demi diriku.”

“Kukira dia bukan manusia sebaik itu…”

“Kau tahu,” mendadak Kim-yan-cu mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara agak gemetar, “Sebenarnya dia dapat mendapatkan segalanya dari diriku, aku… aku sudah rela menyerahkan segalanya kepadanya, tapi dia… dia tidak mau membikin susah padaku…”

Tergetar tubuh Gin-hoa-nio, serunya, “Jadi dia telah menolak dirimu, bisa jadi lantaran dia memandang rendah dirimu!”

“Tidak, sama sekali bukan begitu,” kata Kim-yan-cu. “Kau tidak tahu…”

“Mengapa aku tidak tahu,” jengek Gin-hoa-nio. “Sudah lama ku tahu dia bukan manusia yang tahu kebajikan, sepantasnya kau benci padanya, mengapa kau malah berduka baginya?”

Kim-yan-cu menghela nafas, jawabnya, “Sebenarnya akupun rada benci padanya, tapi sekarang… sekarang aku dapat memahami maksudnya, rupanya dia kuatir kebahagiaan hidupku menjadi korban, maka dia lebih suka membikin kubenci padanya dan tidak mau membikin susah padaku. Tiada lain melulu ini saja selama… selama hidupku takkan kulupakan dia.”

Gin-hoa-nio melengak, tapi dia lantas mendengus pula, “Tapi kalau aku sudah ditolak oleh seorang lelaki, maka aku akan membencinya selama hidup.”

Mendadak pintu berkeriut dan terbuka, dengan kaku Sin-to Kongcu berdiri di depan pintu, wajahnya kelihatan pucat seperti mayat.

Kim-yan-cu menjadi gusar, dampratnya, “Siapa suruh kau kemari? Keluar, lekas keluar!”

Sin-to Kongcu tetap berdiri kesima di situ, mendadak ia menghela nafas panjang, katanya, “Janganlah kau berduka, Ji Pwe-giok itu tidaklah mati!”

Tercengang Kim-yan-cu, tanyanya, “Habis tadi mengapa… mengapa kau…”

Sin-to Kongcu menunduk, jawabnya, “Tadi aku sengaja membikin marah padamu, tapi… tapi sekarang, setelah melihat kau sedemikian berduka, aku… aku tidak sampai hati berdusta lebih jauh.”

Kim-yan-cu menatapnya dengan terkesima, seketika ia menjadi tak sanggup bicara.

“Jika tiada orang menolongnya, bisa jadi Lim Tay-ih benar2 akan membunuhnya,” tutur Sin-to Kongcu lebih lanjut. “Pada saat itulah mendadak seorang melayang masuk dan menghadang di depan Lim Tay-ih.”

“Siapa dia?” tanya Kim-yan-cu cepat.

“Ang-lian hoa!” jawab Sin-to Kongcu.

“Ji Pwe-giok itupun kenal Ang-lian hoa?” seru Kim-yan-cu.

“Meski Ang-lian hoa telah menyelamatkan dia, tapi Ang-lian hoa juga tidak kenal dia, tampaknya malahan rada jemu terhadap orang she Ji itu, cuma dia merasa kesalahan orang tidak perlu dihukum mati, maka dia merintangi Lim Tay-ih.”

“Darimana kau tahu?” tanya Kim-yan-cu.

“Tatkala mana sekujur badan Ji Pwe-giok sudah mandi darah, siapapun dapat melihat lukanya cukup parah, tapi Ang-lian hoa sama sekali tidak memandangnya, sebaliknya malah membujuk dan menghibur Lim Tay-ih, seolah-olah yang terluka bukanlah Ji Pwe-giok melainkan Lim Tay-ih. Ji Pwe-giok itupun memandangi mereka dengan termangu-mangu tanpa bicara.”

“Kemudian?” tanya Kim-yan-cu.

“Kemudian Ang-lian hoa lantas membawa pergi Lim Tay-ih tanpa memperdulikan orang she Ji itu,” tutur Sin-to Kongcu. “Coba pikir, jika dia sahabat Ji Pwe-giok itu atau dia bersimpatik padanya, paling tidak ia pasti akan memeriksa lukanya.”

Sampai di sini barulah Gin-hoa-nio menghela nafas, katanya, “Jika begitu, untuk apa pula Ang-lian hoa menolongnya. Ang-lian hoa benar2 tidak malu sebagai seorang yang sok ikut campur urusan tetek bengek. Tapi tidak lambat tidak cepat, justeru pada saat itulah dia muncul. Jangan-jangan iapun senantiasa menguntit dan mengawasi gerak-gerik mereka?”

“Tapi baru saja Ang-lian hoa dan Lim Tay-ih berangkat, segera ada seorang perempuan melayang masuk lagi dan memandangi Ji Pwe-giok dengan tertawa,” tutur Sin-to Kongcu pula. “Perempuan itu lantas berkata, “Sebelumnya memang ku tahu ada orang akan menolong kau, maka sebegitu jauh aku tidak turun tangan…” Coba pikir, kalau dia tidak menguntit mereka, mana bisa dia bicara begitu?”

“Hm, tampaknya banyak juga pacar Ji Pwe-giok, yang satu menemani dia tidur di hotel, ada lagi yang diam2 menunggu kesempatan baik untuk menolongnya,” jengek Gin-hoa-nio.

“Tapi demi melihat perempuan itu, Ji Pwe-giok seperti melihat setan saja, tanpa menghiraukan lukanya yang cukup parah itu, dia melompat bangun terus kabur,” tutur Sin-to Kongcu. “Hebat juga ginkangnya, biarpun dalam keadaan terluka, perempuan itu belum tentu dapat menyusulnya.”

Gin-hoa-nio berkerut kening, tanyanya, “Siapa pula perempuan itu? Bagaimana bentuknya?”

“Perempuan itu berbaju putih mulus, tampaknya juga tergolong perempuan cantik, ilmu silatnya juga tergolong kelas tinggi, tapi aku tidak tahu di Kangouw ada seorang tokoh semacam dia, bisa jadi baru saja muncul,” tutur Sin-to Kongcu pula dengan wajah pucat dan agak linglung, orang bertanya diapun menjawab, sampai di sini mendadak ia menatap lagi Kim-yan-cu, katanya dengan perlahan, “Sekarang apa yang kulihat sudah kuceritakan seluruhnya, meski di balik urusan ini pasti masih ada hal2 lain yang ter-belit2, tapi aku tidak tahu lagi, akupun tidak tahu kemana perginya Ji Pwe-giok itu.”

Dengan nada yang agak terangsang kemudian dia menyambung pula, “Tapi kelak bila kulihat dia pasti akan kusuruh dia mencari dirimu, ku tahu isi hatimu, apapun sikapmu terhadapku tidak menjadi soal, paling tidak aku sendiri tidak… tidak berbuat salah padamu!”

Habis berkata segera ia membalik badan dan melangkah pergi. Padahal biasanya dia se-akan2 lengket terhadap Kim-yan-cu, tapi kepergiannya ini ternyata cukup ikhlas.

“Orang ini meski terkadang terasa menjemukan, tak tersangka cukup keras juga kepalanya,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Kim-yan-cu ter-mangu2 sejenak, katanya kemudian dengan menyesal, “Dia memang tidak bersalah padaku, tapi aku merasa tidak enak padanya.”

“Tadi aku cuma berpikir bicara dengan Cici dan tidak menyangka dia akan mencuri dengar di luar pintu,” kata Gin-hoa-nio. “Jika dia tidak mendengar perkataan Cici tadi, tentu dia takkan pergi seperti sekarang ini.”

“Sebabnya dia selalu melengket pada diriku adalah karena dia mengira aku pasti jauh lebih dingin terhadap orang lain daripada sikap dinginku terhadap dia. Sekarang setelah dia tahu hatiku sudah terisi orang lain, barulah dia ikhlas melepaskan diriku. Dengan demikian akupun tidak perlu repot lagi menghadapi dia.”

“Tapi mengapa Toaci membikin dia putus asa? Jika dia selalu masih berharap akan memiliki Toaci, tentu dia akan senantiasa mengintil di belakang kita, jika kau suruh dia ke timur, tidak nanti dia berani ke barat. Dengan demikian bukankah akan sangat menyenangkan. Apalagi anak perempuan seperti kita yang suka berkelana di Kangouw justeru memerlukan pesuruh semacam dia.”

Sama sekali Kim-yan-cu tidak pernah membayangkan jalan pikiran yang bukan2 seperti apa yang dikatakan Gin-hoa-nio ini, karena pikiran sendiri sedang kusut, maka iapun tidak menanggapinya. Ia cuma menghela nafas dan berkata, “Aku sangat lelah dan ingin istirahat, harap kau keluar saja.”

Namun Gin-hoa-nio masih tetap duduk saja, ia malah berkata lagi dengan mata terbelalak, “Toaci, menurut kau, sebab apakah nona Lim itu ingin membunuh Ji-kongcu?”

Kim-yan-cu membalik tubuh, memejamkan mata dan tidak menggubrisnya lagi.

“Menurut pendapatku, belum tentu nona Lim itu hendak membunuh Ji-kongcu,” kata Gin-hoa-nio pula. “Dalam hal ini ada dua titik yang mencurigakan, masa Toaci tidak dapat membayangkannya?”

Mesti tidak mau menggubrisnya, tak tahan juga Kim-yan-cu mendengar ucapan tersebut, segera ia bertanya, “Hal apa yang mencurigakan?”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Melihat sikap Ji-kongcu terhadap nona Lim itu, pasti dia tidak berprasangka jelek apapun terhadap nona itu, bahkan tidak cuma satu hari saja mereka berada bersama.”

“Ini kan juga tidak perlu diherankan”

“Jika begitu, kesempatan bagi nona Lim untuk membunuh Ji-kongcu tentunya sangat banyak, mengapa dia sengaja menunggu sampai malam itu, di tempat yang banyak orang dan sengaja ribut2 sehingga ditonton orang?”

“Bisa jadi dia tidak sengaja mengagetkan orang, mungkin dia tidak sabar lagi dan akhirnya ribut,” ujar Kim-yan-cu setelah berpikir sejenak.

“Seorang perempuan kalau sudah benci kepada seorang lelaki, bahkan ingin membunuhnya, maka dia pasti takkan ribut dengan dia secara terbuka, jika sampai ribut2 begitu, tentu dia tidak bermaksud membunuhnya… Toaci, engkau juga perempuan, kau bilang uraianku ini masuk di akal atau tidak?”

Setelah termenung sejenak, akhirnya Kim-yan-cu mengangguk, “Ya, betul juga.”

“Selain itu, jika benar nona Lim itu ingin membunuh Ji-Kongcu, di depan orang banyak kenapa tidak sekali tusuk dibinasakannya?”

“Mungkin dia ingin menyiksanya secara perlahan.”

“Menurut pendapatku, hati nona Lim itu pasti tidak sekeji itu, apalagi seumpama benar ia maksud menyiksanya secara perlahan, tentu serangannya juga tidak seringan itu.”

“Darimana kau tahu serangannya ringan atau berat?”

“Jika serangannya cukup berat, masakah kemudian Ji-kongcu mampu kabur dengan menggunakan ginkangnya?”

Kim-yan-cu termenung, tanyanya kemudian, “Habis kalau menurut kau, sesungguhnya permainan apakah itu?”

“Menurut pendapatku, apa yang dilakukan nona Lim itu hanya sekedar dilihat orang lain saja.”

“Mengapa dia berbuat begitu agar dilihat orang lain?”

“Apa sebabnya akupun tidak tahu, bisa jadi Toaci tahu…”

“Aku cuma tahu dia memang sangat benci kepada Ji Pwe-giok dan memang ada alasannya untuk membunuhnya. Di dunia ini jika ada seorang yang benar2 ingin membunuh Ji Pwe-giok, maka orang itu ialah Lim Tay-ih.”

Walaupun di mulut dia bicara penuh keyakinan, tapi dalam hati lamat2 juga merasakan di balik urusan ini pasti masih ada persoalan lain yang tersembunyi. Tapi tak terpikir olehnya bahwa urusan ini sesungguhnya memang sangat ruwet, sangat pelik, berpuluh kali lebih ruwet dan pelik daripada apa yang pernah dibayangkannya.

* * *

Kereta mereka beristirahat sehari penuh di kota kecil ini, esok paginya, belum lagi terang tanah Gin-hoa-nio sudah bangun untuk mendesak kusir kereta agar mengatur segala sesuatu yang perlu untuk segera berangkat.

Kim-yan-cu semalaman tak dapat tidur, baru saja ia terpulas sudah dikejutkan lagi oleh suara2 di halaman, terpaksa ia bangun dan membuka pintu kamar, tanyanya kepada Gin-hoa-nio dengan dahi berkerut, “Pagi2 begini sudah mau berangkat?”

Gin-hoa-nio menyongsongnya, katanya dengan mengiring tawa, “Sudah ku pesan mereka agar jangan mengejutkan Toaci hingga terjaga, dasar orang kasar, sukar diatur.”

“Sekalipun mereka tidak mengejutkan tidurku, toh kau juga akan membangunkan aku,” ujar Kim-yan-cu hambar.

Karena isi hatinya tepat dibongkar, muka Gin-hoa-nio menjadi merah, baru sekarang ia tahu meski Kim-yan-cu tampaknya serba gampangan, tapi juga tidak sederhana seperti apa yang disangkanya.

Kim-yan-cu balik ke dalam kamar, katanya pula, “Kau ter-gesa2 hendak berangkat, kukira kau pasti sudah mempunyai tempat tujuan. Sesungguhnya hendak kemana? Mengapa tidak kau katakan padaku?”

Gin-hoa-nio tertawa dan menjawab, “Sejauh ini Toaci tidak tanya, maka…”

“Kan sudah kutanyakan sekarang?”

“Soalnya begini,” tutur Gin-hoa-nio, “begini banyak harta benda yang kita bawa, rasanya agak kurang leluasa bila kita menempuh perjalanan jauh, maka kupikir barang2 ini harus kita titipkan pada suatu tempat yang dapat dipercaya.”

“Ingin kau titipkan dimana?”

“Adik baru saja berkecimpung di Kangouw dan belum banyak kenalanku, untuk ini dengan sendirinya mesti minta petunjukmu.”

Setelah kejadian kemarin, meski lamat2 Kim-yan-cu juga merasakan adik angkat yang baru ini tidak sederhana, tapi iapun tidak menyangka orang ada intrik apa2 terhadap dirinya. Setelah berpikir, kemudian ia berkata, “Harta benda sebanyak itu memang tidak leluasa biarpun dititipkan dimana saja. Sekalipun kita percaya penuh kepada orang yang kita titipi, orang lain belum tentu sanggup menerima resiko sebesar ini.”

“Betul juga ucapan Toaci,” kata Gin-hoa-nio. “Makanya orang yang akan kita titipi selain harus dapat dipercaya juga harus berani bertanggung jawab, kalau tidak, titipan harta benda ini jangan2 malah bisa membikin celaka dia.”

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian, “Orang yang kau maksudkan kuingat memang ada satu di dekat sini.”

“Ha, siapa?” seru Gin-hoa-nio cepat dan girang.

“Keluarga Tong di Sujwan…”

Belum habis ucapan Kim-yan-cu, serentak Gin-hoa-nio berkeplok dan berseru, “Aha, nama besar keluarga Tong di Sujwan memang sudah lama kudengar. Jika peti2 ini dapat dititipkan di sana, sudah tentu tidak perlu dikuatirkan lagi. Selain itu, dengan nama baik ayah beranak keluarga Tong itu, tentu orangpun tak berani menyatroni mereka dan mengincar harta benda ini.”

Tiba2 ia berkerut kening dan menyambung pula, “Cuma orang2 keluarga Tong itu biasanya berwatak aneh, suka menyendiri dan jarang bergaul. Jika Toaci tidak kenal mereka, kukira merekapun tak mau menerima titipan ini.”

Kim-yan-cu tersenyum, katanya, “Jika kau tahu seluk beluk dunia Kangouw, mengapa kau tidak tahu aku dan Tong-bun-su-siu (empat cantik dari Keluarga Tong) juga bersaudara angkat?”

Meski ia merasa rasa girang Gin-hoa-nio itu rada kelewatan, tapi ia sangka mungkin karena adik angkat ini terlalu memikirkan keselamatan harta benda itu. Ia tidak tahu sebabnya Gin-hoa-nio memikat dan bersaudara dengan dia justeru lantaran sebelumnya sudah diketahui dia adalah saudara angkat dari para nona keluarga Tong. Kalau tidak tentu sudah lama dia dibunuhnya.

Begitulah terlihat Gin-hoa-nio sangat gembira dan tertawa terus menerus, katanya, “Toaci dan Tong-bun-su-siu adalah saudara angkat, wah, kalau begitu adik kan juga ikut2an menjadi saudara mereka? Biasanya aku sebatang kara dan hidup ter-lunta2, kini mendadak mendapatkan kakak2 sebanyak ini dan rata2 orang termasyhur, aku sangat girang.”

Melihat kegembiraan orang Kim-yan-cu juga tertawa, katanya, “Disiplin keluarga Tong biasanya sangat keras, para nona dan menantunya jarang keluar rumah, mereka selalu merasa kekurangan teman, bilamana mendapat seorang adik cilik yang menyenangkan seperti kau, mereka pasti juga akan kegirangan.”

Teringat kepada nasib Gin-hoa-nio yang sebatang kara dan hidup sengsara, sekalipun pandangannya terhadap harta benda sedemikian penting, hal inipun dianggapnya lumrah. Karena pikiran ini, rasa was-wasnya terhadap Gin-hoa-nio kemarin lantas tersingkirkan semua, ia malah menyesal pagi tadi tidak pantas bersikap dingin padanya. Karena itulah sepanjang jalan kembali ia mengajaknya bersenda gurau lagi.

Perjalanan ke Sujwan cukup sulit ditempuh sebab pada umumnya jalan daerah Sujwan adalah lereng2 bukit. Tapi saat ini mereka berada di dataran Sujwan tengah yang jarang lereng bukitnya, bahkan Sujwan tengah sejak jaman dahulu terkenal sebagai daerah yang subur dan makmur, sepanjang jalan cukup ramai orang berlalu lalang sehingga tidak terasakan kesepian.

Setelah melintasi In-yang-to dan menyusur lembah Tiangkang, jalanan semakin lapang, tapi sepanjang jalan mulai banyak tertampak kawanan pengemis, kebanyakan berkelompok dalam jumlah tiga atau lima orang. Kawanan jembel inipun menempuh perjalanan ke depan dengan teratur, melihat kaum saudagar dan orang lalu, mereka suka memberi jalan dengan sikap hormat, tapi tidak minta2 seperti biasanya. Bahkan di antara kaum jembel itu ada yang kelihatan angkuh, se-olah2 memandang rendah kaum awam ini.

Agaknya Gin-hoa-nio tertarik, ia membisiki Kim-yan-cu, “Tampaknya kawanan pengemis ini sama mahir ilmu silat dan bukan tukang minta2 biasa… jangan2 mereka inilah anak murid Kay-pang?”

Suara Gin-hoa-nio sangat lirih, tapi seorang pengemis yang berjalan sendirian beberapa tombak di depan mendadak menoleh dan tersenyum padanya dan berkata, “Nona cantik hendaklah menempuh perjalanannya sendiri dan tidak perlu ikut campur urusan orang lain.”

Pakaian pengemis ini juga compang-camping dan berlepotan debu kotoran, tapi wajahnya yang agak kurus itu tampak tercuci bersih, sorot matanya juga gemerdep tajam. Gin-hoa-nio melelet lidah dan tertawa genit, katanya, “Wah, tajam benar telinga Cianpwe, Anda tentu Tianglo di dalam Kay pang?”

Mendadak pengemis setengah umur itu menarik muka, mata alisnya memperlihatkan rasa marah, tapi setelah memandang sekejap Kim-yan-cu yang berada di sebelah Gin-hoa-nio, dengan dingin dia berkata, “Aku bukan Cianpwe segala, juga bukan Tianglo apa, mungkin nona yang salah lihat.”

Gin-hoa-nio ingin bicara lagi, tapi pengemis setengah umur itu sudah melangkah ke sana, ia menuju ke bawah pohon di tepi jalan, dikeluarkannya sebuah buli2 kayu, isi buli2 tentunya arak, maka ditenggaklah araknya.

Dalam sekejap saja kereta sudah lalu di samping pengemis itu, Gin-hoa-nio menggeleng dan bergumam, sungguh aneh tabiat orang ini, aku tidak bersalah padanya, mengapa dia merasa marah padaku?”

Kim-yan-cu tidak menjawabnya, selang tak lama, mendadak ia berkata, “Di depan adalah kota Li-toh-tin, hendaklah kau tunggu diriku di hotel Li-keh-can sana, sebelum ku datang jangan pergi dulu.”

“Toaci hendak ke mana?” tanya Gin-hoa-nio dengan tercengang.

“Tiba2 teringat sesuatu olehku…”

“Bolehkah adik mengiringi kepergian Toaci?”

Kim-yan-cu seperti tidak sabar, katanya sambil berkerut kening, “Biar kau tunggu saja di Li-toh-tin, tidak sampai tiga hari tentu ku datang mencari kau, masa kau takut ku kabur?”

Cepat Gin-hoa-nio menjawab, “Baiklah, adik menurut saja.”

Melihat Gin-hoa-nio sudah jauh membawa kedua keretanya, mendadak Kim-yan-cu memutar balik kudanya dan dilarikan ke tempat tadi. Dilihatnya si pengemis setengah baya itu sudah tertidur di tepi jalan di bawah pohon.

Kalau pengemis yang lain, banyak atau sedikit, tentu membawa beberapa karung goni sebagai tanda tingkatannya, makin banyak karung goni yang dibawanya, makin tinggi kedudukannya. Jika tidak membawa karung berarti murid yang belum resmi masuk perkumpulan.

Sikap pengemis setengah baya ini sangat angkuh, langkahnya cepat enteng, jelas sangat tinggi ilmu silatnya, tidak mungkin dia murid Kay-pang yang belum resmi, tapi buktinya dia tidak membawa sebuah karungpun.

Pakaian pengemis yang lain juga compang camping, tapi kebanyakan tercuci bersih, hanya wajah masing2 jelas kelihatan sudah kenyang menderita gemblengan kehidupan sebagai tukang minta2. Sebaliknya meski pakaian pengemis setengah baya ini penuh kotoran, namun mukanya justeru putih bersih, kulit badannya juga halus, bahkan tiada tampak garis keriput sama sekali.

Bila pengemis lain sama berkelompok dan saling menyapa, tapi pengemis aneh ini justeru menempuh perjalanan sendirian dengan langkah angkuh se-akan2 tidak sudi bergaul dengan orang lain.

Tujuan Kim-yan-cu sebenarnya hendak mencari Ang-lian hoa untuk ditanyai apa yang terjadi tempo hari, untuk ini mestinya ia dapat minta keterangan kepada pengemis yang lain. Tapi dia merasa heran terhadap pengemis setengah umur ini, timbul rasa ingin tahunya. Dari kejauhan ia sudah turun dari kudanya, lalu mendekati pohon itu dan berduduk di situ.

Pengemis2 yang lain sama heran melihat seorang nona jelita berduduk di samping pengemis setengah umur yang sedang tidur itu. Ketika lalu di depan mereka, langkah mereka lantas dibikin perlahan, tampaknya kuatir mengganggu tidur pengemis setengah umur yang nyenyak itu.

Kim-yan-cu juga bersabar sebisanya dan tidak membangunkan orang.

Terdengar suara dengkuran perlahan pengemis aneh itu, tidurnya sangat lelap, malahan samar-samar terdengar ia sedang mengigau.

Kim-yan-cu coba pasang kuping dengan cermat, didengarnya orang sedang berkata, “Begitu banyak benda berharga yang termuat di kereta itu, kenapa tidak cepat melanjutkan perjalanan, untuk apa kau cari si tukang minta2 ini? Apakah hendak memberi sedekah?”

Terkejut Kim-yan-cu, diam-diam ia mengakui ketajaman pandangan orang.

Kalau barang muatan kereta itu adalah sebangsa emas-perak yang berat bobotnya, debu yang mengepul yang ditimbulkan oleh roda kereta itu pasti berbeda, orang Kangouw kawakan sekali pandang akan segera tahu hal ikhwalnya.

Tapi sekarang barang yang dimuat kedua kereta itu hanya benda2 berharga yang ringan bobotnya sebangsa ratna mutu manikam, sungguh luar biasa pengemis aneh inipun dapat mengetahuinya.

Begitulah semakin kejut dan heran, semakin bersabar pula Kim-yan-cu, betapapun lama si pengemis aneh ini akan pura2 tidur tetap akan ditunggunya.

Selang sejenak, mendadak pengemis aneh bergelak tertawa dan berbangkit, katanya, “Hahaha, Kang-lam-lihiap Kim-yan-cu yang termasyhur ternyata menunggui tidur seorang tukang minta2, apakah tidak kuatir dijadikan bahan tertawa orang!”

Kim-yan-cu terkesiap, “Kiranya Cianpwe kenal Tecu.”

“Bukan cuma kau si walet ini yang kukenal, bahkan kukenal pula si elang,” ucap pengemis itu dengan tertawa.

Supaya diketahui, guru Kim-yan-cu bernama In Tiat-ih, berjuluk “Sin-eng” atau elang sakti, seorang pendekar termasyhur pada 30 tahun yang lalu.

Selama hidup In Tiat-ih melaksanakan tugas mulianya dengan sendirian, musuhnya tersebar di mana2, sampai tua dia cuma menerima Kim-yan-cu sebagai murid satu2nya. Tapi ketika Kim-yan-cu tamat belajar dan terjun di dunia Kangouw, tatkala mana In Tiat-ih sendiri jatuh sakit berat. Ia tahu musuhnya terlalu banyak dan mungkin akan menimbulkan kesukaran bagi Kim-yan-cu, maka wanti2 dia pesan Kim-yan-cu agar tidak mengatakan asal-usul perguruannya dan selama ini di dunia Kangouw memang tiada yang tahu siapa gurunya. Bahkan Ang-lian hoa yang terkenal serba tahu itupun tidak tahu.

Tapi sekarang pengemis setengah umur ini kontan dapat membongkar rahasia perguruannya, tentu saja Kim-yan-cu terkejut dan cepat berdiri, tapi perlahan2 dia lantas duduk lagi, katanya dengan tersenyum ewa, “Entah siapa nama Cianpwe yang mulia, darimana Anda tahu nama mendiang guruku.”

Pengemis aneh itu ayun tangan memotong ucapannya, katanya dengan berkerut kening, “Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat. Masa kau lupa akan peribahasa ini? Mengenai namaku, biar kukatakan juga kau tidak kenal.”

Kim-yan-cu menjadi bingung karena tidak tahu sebab apa orang menjadi marah, maka ia tidak berani bertanya pula.

Pengemis aneh itu melototinya sejenak, tapi mendadak wajahnya cerah lagi da berkata, “Kau cari padaku, sesungguhnya ada urusan apa? Apakah sangat penting?”

“Tecu ingin mencari Ang-lian-pangcu dari Pang kalian,” jawab Kim-yan-cu. “Sebab itu mohon Cianpwe sudi membawa…”

“Jadi maksudmu mencariku hanya minta aku menjadi penunjuk jalan bagimu?” teriak pengemis itu dengan gusar.

Waktu bicara biji mata orang itu se-akan2 memancarkan dua jalur sinar tajam dan membuat orang tidak berani memandangnya. Tapi dalam sekejap lantas tertawa pula dan membuat orang seperti ditiup angin sejuk.

Selama hidup Kim-yan-cu tidak pernah melihat orang marah dan tertawa dapat berubah secepat ini, selagi ter-heran2, tiba2 pengemis aneh itu menengadah dan bergelak tertawa, katanya, “Jika aku yang kau minta untuk mencari Ang-lian hoa, baiklah akan kubawa kau ke sana. Nah, lekas naik kudamu dan ikut berangkat.”

Kim-yan-cu tidak tahu mengapa orang marah2 tadi dan juga heran apa sebabnya orang tertawa te-bahak2 pula dan begitu aneh cara tertawanya, seketika ia menjadi terkesima bingung.

Sementara itu pengemis itu sudah berbangkit, ia melangkah dua tiga tindak, tiba2 ia menoleh dan membentak, “Suruh kau ikut berangkat, mengapa kau malah diam saja?”

Kim-yan-cu menyengir dan terpaksa berbangkit, ia kuatir membikin marah pengemis yang aneh ini, ia menuntun kudanya dan mengikuti di belakang orang, ia tidak berani menunggang kudanya.

Dalam pada itu hari sudah remang2, orang berlalu lalang sudah mulai jarang2, hanya ada kawanan pengemis yang ber-kelompok2 masih menempuh perjalanan dengan ter-gesa2. Ketika melihat pengemis aneh itu mereka lantas memberi jalan, sikap mereka seperti agak segan dan takut2 tapi tiada seorangpun yang menyapanya.

Pengemis setengah baya itupun tidak menghiraukan kawanan pengemis itu, tampaknya dia seperti bukan orang Kay-pang, tapi kalau bukan orang Kay-pang mengapa dia berdandan sebagai pengemis? Bahkan menempuh perjalanan searah dengan kawanan pengemis itu?

Begitulah Kim-yan-cu semakin heran, diam2 iapun menyesal. Ia merasa salah alamat bertanya keterangan kepada pengemis aneh itu. Pikirnya, “Tingkah laku orang aneh ini kelihatan misterius, jangan2 dia musuh Kay-pang? Yang hendak kucari adalah Ang-lian-pangcu, untuk apa mesti ku ikuti dia?”

Dilihatnya pengemis aneh itu makin cepat jalannya dan makin jauh tanpa menoleh. Mendadak Kim-yan-cu mencemplak ke atas kudanya terus dilarikan dengan cepat, dalam sekejap saja pengemis setengah umur itu sudah tertinggal jauh di belakang, bahkan bayangan anggota Kay-pang yang lain juga tidak kelihatan lagi.

Kim-yan-cu menghela nafas lega, gumamnya, “Sekarang, barulah…” belum habis ucapannya, tahu-tahu di bawah pohon di tepi jalan sana seorang mendengus, “Hm, katanya kau ingin mencari Ang-lian hoa, jelas kau telah kesasar!”

Siapa lagi orang itu kalau bukan si pengemis setengah umur yang misterius itu? Sungguh kejut Kim-yan-cu tak terkatakan, tanpa bersuara ia memutar kudanya, tanpa membedakan arah ia larikan kudanya seperti kesetanan.

Setelah membedal kudanya sekian lama, baru saja ia hendak berhenti, tahu2 pengemis aneh itu sudah berdiri lagi di depan sana sedang menantikan kedatangannya dan mengejeknya, “Kau kesasar lagi!”

Gerak-gerik orang ini secepat hantu, meski biasanya Kim-yan-cu juga bukan orang penakut, tapi memang aneh, pada pertama kali dia bertemu dengan pengemis ini rasanya dia sudah terpengaruh oleh daya gaibnya, sebab itulah secara aneh dia tidak mencari orang lain tapi justeru mencari dia dan secara tidak sadar menunggui dia tidur, kemudian secara membingungkan ia membedal kudanya berlari tak keruan.

Sekarang ia merasakan kaki dan tangan lemas semua, ingin melarikan kudanya juga tak bisa bergerak lagi, dengan suara rada gemetar ia bertanya, “Apa… apa kehendakmu?”

Pengemis itu memandangnya sekejap dengan tertawa, jawabnya kemudian, “Kan kau sendiri yang minta kubawa kau pergi mencari Ang-lian hoa, sekarang aku kan cuma memenuhi permintaanmu dan membawa kau kesana?”

“Sek…sekarang aku tidak… tidak ingin pergi,” jawab Kim-yan-cu.

Seketika pengemis aneh itu menarik muka, katanya dengan ketus, “Sekali kau minta kubawa kau pergi, maka tetap kau harus pergi.”

Bila orang lain yang bicara begini kepadanya, mustahil kalau Kim-yan-cu tidak melabraknya, tapi aneh, di depan pengemis misterius ini sama sekali dia tidak mempunyai keberanian untuk melawan.

Seketika pengemis itu membalik tubuh dan berjalan lagi ke depan, sama sekali Kim-yan-cu tidak berani kabur, ia mengikuti di belakangnya dengan baik2, sampai ia sendiri tidak tahu mengapa dia menjadi penurut begini.

Didengarnya pengemis itu berkata dengan perlahan, “Saat ini tentunya kau menyesal karena kau justeru mencari diriku.”

Kim-yan-cu menggreget dan diam saja.

“Tapi kaupun tidak perlu menyesal, sebenarnya bukan kau yang mencari diriku melainkan aku yang mencari dirimu.”

Kembali Kim-yan-cu terkejut, serunya, “Kau yang mencari diriku?”

“Betul, aku yang mencari kau,” mendadak pengemis itu membalik tubuh. “Cuma kau sendiri tidak tahu.”

Memandangi mata orang yang bercahaya itu, tiba2 Kim-yan-cu ingat sejak dia melihat mata orang secara aneh dan tanpa terasa lantas timbul keinginannya untuk kembali ke sana untuk mencarinya sampai Gin-hoa-nio yang mengajak bicara sejenak itupun dirasakan mengganggu, hatinya terasa gelisah dan tidak tenteram. Tatkala mana ia tidak tahu apa sebabnya, tapi sekarang ia tahu bahwa segala perubahan yang aneh ini adalah disebabkan oleh sinar mata orang yang penuh daya tarik aneh dan berpengaruh ini.

Berpikir demikian, tanpa terasa Kim-yan-cu berkeringat dingin, tanyanya dengan suara gemetar, “Sebab apa… sebab apa kau cari diriku?”

“Ada tiga sebab,” jawab pengemis itu.

“Tiga sebab?” Kim-yan-cu melenggong.

“Ya, ada tiga sebab,” tukas pengemis itu dengan perlahan. “Pertama karena kau murid In Tiat-ih…”

“Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan mendiang guruku?”

Pengemis itu tidak menjawabnya dengan kalem ia menyambung, “Sebab kedua adalah karena kau ingin mencari Ang-lian hoa!”

“Jangan2 kaupun ada permusuhan dengan Ang-lian-pangcu?”

Tetap pengemis itu tidak menjawab, sebaliknya ia tersenyum dan melanjutkan, “Sebab ketiga adalah karena kau seorang perempuan, bahkan perempuan yang sangat cantik.”

Karena tertawa, wajahnya yang kurus itu mendadak kelihatan sangat jahat, sinar matanya menimbulkan rasa yang memuakkan. Dipandang oleh mata orang, Kim-yan-cu merasa dirinya se-olah2 sudah telanjang bulat, ia merasa malu, kalau ada lubang ingin segera diselusupinya.

“Tapi kaupun jangan takut, aku takkan membikin susah padamu,” dengan tersenyum pengemis itu berkata pula.

“Habis… apa kehendakmu?” tanya Kim-yan-cu gemetar. Sungguh kalau bisa dia ingin punya sayap dan segera melarikan diri. Tapi sinar mata orang se-akan2 memancarkan semacam daya tarik yang aneh, bukan saja dia tidak dapat lari, hakekatnya mata ingin berkedip saja tidak bisa.

Dengan kalem pengemis itu berkata pula, “Sebabnya kuinginkan kau cari padaku adalah karena… karena aku hendak melindungi kau… melindungi kau…,” suaranya semakin perlahan, semakin lirih, juga semakin halus.

Kim-yan-cu merasa pikirannya mulai kabur, seperti tertidur, tapi juga merasa seperti jauh lebih sadar daripada biasanya, tanpa terasa ia ikut berkata, “Ya, betul, kau akan melindungi diriku…”

“Dan sekarang tentunya kau tahu bahwa di dunia ini hanya aku inilah satu2nya orang yang paling akrab dengan kau,” kata pula pengemis.

“Ya, betul, engkaulah orang yang paling karib dengan diriku.”

“Makanya apapun yang kutanya harus kau jawab dengan sejujurnya.”

“Ya, apapun pertanyaanmu pasti akan kujawab dengan sejujurnya.”

Pengemis itu tertawa dan berkata pula, “Lebih dulu ingin kutanya padamu, sebelum meninggal In Tiat-ih pernah menemukan sejilid Bu-kang-pi-kip (kitab pusaka ilmu silat), apakah kitab itu diberikannya kepadamu?”

“Tidak,” jawab Kim-yan-cu.

“Mengapa tidak?” tanya pengemis itu.

“Menurut keterangan suhu, kitab pusaka itu hanya dapat dipahami oleh seorang yang memiliki kecerdasan paling tinggi, sebab itulah, biarpun beliau menurunkan kitab pusaka itu kepadaku juga tiada gunanya, sebaliknya mungkin akan membikin celaka padaku malah.”

“Dan setelah dia mati, kemana perginya kitab pusaka itu?”

“Menurut beliau, bila kitab pusaka itu tersiar di dunia ini, akibatnya pasti akan menimbulkan perebutan berdarah, namun beliau juga merasa berat untuk memusnahkan kitab itu, maka kitab itu telah disembunyikannya di suatu tempat yang sangat rahasia, kecuali beliau sendiri tiada seorangpun yang tahu tempat itu.”

“Kaupun tidak tahu?”

“Ya, akupun tidak tahu. Meski suhu tidak pernah merahasiakan apa2 kepadaku, hanya urusan inilah betapapun juga beliau tidak mau memberitahukannya kepadaku, sebab beliau menganggap tiada seorang perempuan di dunia ini yang dapat menjaga rahasia.”

Dengan gemas pengemis setengah baya itu berucap, “Sudah sekian tahun kucari dia dan akhirnya kutemukan kau sebagai muridnya, tak tersangka terhadap murid satu2nya juga tidak diberitahukannya. Padahal setan tua itu sudah mati, mengapa dia bertindak demikian?”

“Kata suhu, barang siapa berhasil meyakinkan ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu, maka dia akan malang melintang di dunia ini tanpa tandingan. Beliau kuatir apabila kita itu jatuh di tangan orang jahat, maka akibatnya sukar dibayangkan. Suhu tahu sudah ada sementara tokoh Kangouw yang telah mencium bau tentang kitab pusaka yang ditemukan Suhu itu, orang2 itu sudah mulai mencari jejaknya. Sebab itulah aku dilarang mengatakan asal-usul perguruanku agar tidak menimbulkan kesulitan bagiku.”

Pengemis itu berkerut kening dan termenung sejenak, tanyanya kemudian, “Dan untuk apa pula kau ingin mencari Ang-lian hoa?”

“Ingin kutanya sesuatu padanya.”

“Urusan apa?”

“Urusan yang menyangkut Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih.”

“Mengapa kau sedemikian memperhatikan urusan orang lain?”

“Sebab kucinta Ji Pwe-giok.”

Ujung mulut pengemis aneh itu tersembul secercah senyuman yang jahat, ucapnya, “Tidak, yang kau cintai bukan Ji Pwe-giok, kau cinta padaku, tahu tidak?”

Se-konyong2 Kim-yan-cu berteriak, “Tidak, yang kucintai ialah Ji Pwe-giok dan bukan kau, bukan kau!”

Orang itu tidak menyangka sedemikian kuat pikiran Kim-yan-cu sehingga dapat melepaskan diri dari pengaruh ilmu gaibnya. Tapi segera ia mengeluarkan seuntai rantai emas yang sangat lembut, pada rantai emas itu terikat sebentuk mutiara hitam yang aneh, rantai emas itu digoyangkan sehingga mutiara hitam itupun ber-putar2 di depan Kim-yan-cu…

Benarlah, pikiran Kim-yan-cu yang terangsang tadi lambat laun tenang kembali.

Dengan suara keras pengemis itu berkata pula, “Tak perduli siapa yang kau cintai, yang jelas aku inilah orang yang paling karib denganmu, begitu bukan?”

“Ya,” jawab Kim-yan-cu dengan mata setengah terpejam.

“Dan sekarang kuminta kau menanggalkan pakaianmu.”

Tanpa pikir Kim-yan-cu menuruti permintaan itu, perlahan ia membuka bajunya sehingga kelihatan dadanya yang putih mulus, buah dadanya yang montok menegak diusap silir angin malam.

Pengemis aneh itu tersenyum puas, katanya pula, “Bagus, dan sekarang bukalah gaunmu!”

Perlahan Kim-yan-cu membuka kancing pinggang gaunnya dan…

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara berderak, suara bambu di-pukul2kan yang berkumandang dari kejauhan.

Pengemis aneh itu menghela nafas, katanya, “Sayang waktunya tidak keburu lagi, bolehlah kau pakai lagi bajumu.”

Waktu Kim-yan-cu selesai mengenakan kembali pakaiannya, pengemis setengah baya itu berkata pula, “Dan sekarang bolehlah kau sadar per-lahan2, hendaklah kau lupakan segala apa yang kutanyakan padamu barusan, cukup kau ingat bahwa aku adalah orang yang paling karib denganmu, aku adalah kawanmu, suamimu, akupun ayahmu, gurumu.”

Habis berkata ia lantas menyimpan kembali mutiaranya dan menepuk tangan perlahan.

Serentak Kim-yan-cu membuka matanya, dengan linglung seperti orang kehilangan semangat ia pandang orang sekejap, lalu bergumam, “Ya, engkau adalah sahabatku, suamiku, kaupun ayahku, guruku. Tapi siapakah engkau? Sesungguhnya siapa kau?…”

Pengemis itu tersenyum, jawabnya, “Jika kau ingin tahu namaku, tiada halangannya kukatakan padamu. Aku inilah manusia yang serba tahu dan serba bisa, namaku Kwe Pian-sian, aku inilah kegaibannya manusia, tiada orang lain lagi di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan diriku.”

“Kwe Pian-sian?!…” Kim-yan-cu mengulangi nama itu, agaknya dia tergetar.

Kwe Pian-sian tertawa pongah, katanya, “Ya, aku pernah menjabat Tianglo Kay-pang, Houhoat Bu-tong-pay, aku inilah juragan peternakan yang paling besar di daerah barat laut sana, hartawan yang paling kaya raya di dunia ini, akupun pernah menjadi suami Kun Hay-hong atau Hay Hong Hujin.”

Sampai di sini ia bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Semua itu hanya beberapa saja di antara berpuluh macam jabatanku, betapa banyak jabatanku sampai aku sendiri terkadangpun tidak ingat. Pengalaman hidupku ini jauh lebih kenyang dibandingkan berpuluh orang lain.”

Kim-yan-cu menghela nafas linglung, gumamnya, “Kwe Pian sian… kegaibannya manusia… suamiku.”

* * *

Tengah malam di pegunungan yang sunyi kelihatan cahaya lampu terang benderang, di suatu tempat tanah mangkuk, di sekeliling dinding tebing penuh tertancap obor yang menyala, di bawah cahaya obor be-ribu2 anggota Kay-pang berduduk tersebar mengelilingi tanah lapang itu.

Ang-lian hoa berduduk di atas sepotong batu besar, air mukanya sangat prihatin, siapapun dapat melihat bahwa Ang-lian hoa yang termasyhur ini sekarang pasti lagi menghadapi suatu urusan yang maha sulit untuk diselesaikan.

Dengan sendirinya Bwe Su-bong, si pengemis yang berjuluk “sibuk selalu tanpa pekerjaan”, juga berduduk di sebelahnya, wajahnya juga kelihatan sedih.

Orang sebanyak itu berkumpul di tanah mangkuk ini, namun suasana tetap sunyi senyap, hanya suara api obor yang terbakar ditiup angin sehingga mirip lolong kawanan serigala yang serak.

Sampai lama sekali, akhirnya Ang-lian hoa tidak tahan, ia membuka suara, “Menurut perkiraanmu, apakah dia betul2 akan datang?”

Dengan suara berat Bwe Su-bong menjawab, “Menurut anggota kita yang datang dari utara, sepanjang jalan banyak yang melihat seorang yang mirip dia, dari bentuknya semua orang sama bilang tidak banyak berbeda daripada orang yang dilukiskan Pangcu itu, sebab itulah mereka sama mematuhi perintah Pangcu, mereka sama menghindari dia bilamana melihatnya dari kejauhan.”

Ang-lian hoa menghela nafas, katanya, “Sudah hampir 15 tahun orang ini menghilang tanpa kabar beritanya, sekarang mendadak muncul lagi, sesungguhnya apa maksud tujuannya, sungguh sukar untuk diterka.”

Terdengar Bwe Su-bong lagi berkata, “Apakah Pangcu memang tidak dapat menerka maksud tujuan kedatangannya ini?”

Ang-lian hoa terdiam sejenak, katanya dengan tersenyum pahit, “Jangan2 dia menghendaki kuserahkan kedudukan Pangcu ini kepadanya? Tapi melihat tindak tanduknya, agaknya kedudukan Pangcu ini juga tidak terpandang olehnya. Kupikir mungkin masih ada intrik lain yang lebih besar.”

Air muka Bwe Su-bong tampak prihatin, ia memandang kejauhan yang gelap sana, ucapnya dengan rawan, “Tak perduli intrik apa yang diaturnya, yang pasti yang dibawanya kemari hanya malapetaka belaka!” Mendadak ia menahan suaranya dan menyambung pula, “Tapi betapapun tinggi ilmu silatnya, berdasarkan kekuatan kita sekarang kukira masih dapat menumpasnya.”

Air muka Ang-lian hoa agak berubah, katanya dengan parau, “Namun apapun juga dia kan tetap Tianglo Kaypang kita?”

Setahuku, ia juga masih menjabat Hou-hoat (pembela agama) Bu-tong-pay,” kata Bwe Su-bong. “Seorang merangkap dua jabatan dari dua aliran yang berbeda, jelas ini telah melanggar peraturan Pang kita, berdasarkan alasan ini boleh Pangcu menghukum dia menurut aturan.”

“Tapi siapa yang dapat membuktikan bahwa dia juga merangkap menjadi Houhoat Bu-tong-pay?” ujar Ang-lian hoa dengan tersenyum getir.

“Ini…” Bwe Su-bong melengak dan tak dapat menjawab.

“Sekalipun kejahatan orang ini sudah kelewat takaran, tapi di dunia ini tiada seorangpun yang dapat membuktikan kejahatannya, kalau tidak, tidak perlu menunggu orang lain, Lo-pangcu (ketua lama) sendiri pasti tidak mengampuni dia dan tidak mungkin dia hidup sampai sekarang,” demikian tutur Ang-lian hoa dengan menyesal.

“Habis bagaimana menurut pikiran Pangcu?”

“Begitu menerima suratnya, mulailah kurenungkan daya upaya untuk menghadapi dia. Tapi sampai saat ini tetap belum kutemukan akal yang baik, bisa jadi…”

Belum habis ucapannya, se-konyong2 dari kejauhan berkumandang suara bambu di-ketok2.

“Itu dia sudah datang!” seru Bwe Su-bong.

Suara gemeretak bambu dipukulkan semakin gencar dan makin keras.

Kiranya bila kaum jembel ini berkumpul, di sekeliling tempat rapat pasti dipasang pos pengawas, bilamana melihat kedatangan orang tak dikenal, segera tongkat bambu di-ketok2 sebagai tanda waspada.

“Cepat amat datangnya!” ucap Bwe Su-bong.

Namun para anggota Kay-pang yang berduduk memenuhi lapangan itu tetap tenang saja meski kelihatan agak tegang juga.

Sekejap kemudian, terlihatlah seorang pengemis setengah umur berperawakan jangkung dan bermuka kurus muncul dengan langkah lebar, di antara sorot matanya yang tajam dan takabur itu jelas kelihatan lagak angkuhnya se-akan2 dunia ini aku kuasa.

Selain pengemis ini, di belakangnya mengikuti pula seorang nona cantik berbaju kuning keemasan.

Seketika air muka Ang-lian hoa berubah, desisnya, “Aneh, mengapa Kim-yan-cu ikut datang bersama dia?”

“Jangan2 Kim-lihiap telah jatuh di dalam cengkeramannya?” kata Bwe Su-bong.

Belum selesai ucapannya, dengan langkah lebar Kwe Pian-sian sudah maju ke depan mereka, sorot matanya yang tajam memandang Ang-lian hoa dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa, “Sekian tahun tidak bertemu, anak yang berpotongan poni dahulu sekarang sudah tumbuh menjadi pemuda yang ganteng, bahkan namanya sudah termasyhur, sungguh mengagumkan dan harus diberi selamat.”

“Terima kasih,” ucap Ang-lian hoa sambil merangkap kedua tangannya.

“Dan entah kau masih kenal padaku atau tidak?” tanya Kwe Pian-sian.

“Meski sudah lama tak berjumpa, tapi wajah Kwe-tianglo senantiasa terkenang oleh Tecu,” jawab Ang-lian hoa.

Mendadak Kwe Pian-sian menarik muka dan berkata dengan bengis, “Jika kau belum lupa bahwa aku ini Tianglo Pang kita, mengapa kau tidak berlutut di depanku?”

Ang-lian hoa melengak, jawabnya tergagap, “Ini…”

Segera Bwe Su-bong memprotes dari samping, “Pangcu adalah yang maha agung di dalam Pang kita, sekalipun Tianglo adalah tokoh angkatan tua, juga Pangcu tidak wajib berlutut dan menyembah padamu.”

Kwe Pian-sian menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, bagus, bagus! Kiranya kau telah menjadi Pangcu, selamat, selamat!”

Suara tertawanya berkumandang sehingga menimbulkan suara yang nyaring, anak telinga anak murid Kay-pang serasa mau pecah, jantung ber-debar2 dan wajah pucat.

Mendadak Kwe Pian-sian berhenti tertawa, ia tatap Ang-lian hoa dan bertanya dengan bengis, “Siapa yang menunjuk kau sebagai Pangcu? Siapa?”

“Itu berdasarkan pesan wasiat Lo-pangcu,” seru Bwe Su-bong.

“Pesan wasiat? Dimana, coba kulihat!”

“Pesan lisan Lo-pangcu sebelum menghembuskan nafas terakhir, dengan sendirinya tiada sesuatu bukti.”

“Pesan lisan Lo-pangcu, memangnya siapa yang ikut dengar?” tanya Kwe Pian-sian.

“Kecuali Pangcu sendiri, tecu juga ikut mendengarkan,” jawab Bwe Su-bong.

“Hm, hanya berdasarkan pengakuanmu lantas dia didukung ke atas singgasana Pangcu? Hah, apakah tidak terlalu naif?”

“Apakah Tianglo menganggap ucapan Tecu tidak benar?”

“Kurang ajar! Berdasarkan apa kau berani bicara demikian padaku?”

“Tecu bicara menurut kebenaran!”

“Menurut kebenaran? Hm, kau sesuai?” bentak Kwe Pian-sian, berbareng itu sebelah tangannya terus menyambar ke depan.

Belum lagi Bwe Su-bong menyadari apa yang terjadi, tahu2 mukanya sudah kena digampar dua kali. Menyusul tubuhnya lantas terlempar jauh ke sana.

Bwe Su-bong berjuluk “Bo-su-bang” atau tidak ada pekerjaan tapi sibuk selalu, dengan sendirinya lantaran pribadinya yang simpatik dan suka membantu. Karena itulah dalam pergaulan dia sangat disenangi kawan2nya.

Meski anak buah Kay-pang merasa jeri terhadap ilmu silat dan perbawa Kwe Pian-sian, tapi melihat Bwe Su-bong dianiaya, seketika terjadi kegaduhan.

Sorot mata Kwe Pian-sian menyapu sekeliling hadirin, lalu katanya dengan bengis, “Lahirnya pangcu kita selama ini hanya melalui dua jalan, pertama berdasarkan tinggi rendahnya kedudukan. Kedua, berdasarkan tinggi rendahnya ilmu silat. Sekarang selaku Tianglo ku datang untuk mengusut perkara ini, apa yang kalian ributkan?”

Meski bengis dan keras suaranya dan berkumandang jauh di tengah kegaduhan itu, namun anak murid Kay-pang masih tetap ber-teriak2 dan tidak mau tunduk.

Dengan gusar Kwe Pian-sian lantas berkata, “Ang-lian hoa, kau ini Pangcu macam apa? Mengapa anak murid Pang kita makin lama makin tidak tahu aturan?”

Sejak tadi Ang-lian hoa seperti tidak ikut campur, baru sekarang dia tersenyum, perlahan ia angkat kedua tangannya dan memberi tanda agar semua orang diam, serunya dengan suara lantang, “Tenanglah saudara2, ada urusan apa biarlah kita bicarakan dengan perlahan-lahan.”

Meski suaranya tidak senyaring Kwe Pian-sian, tapi baru selesai ucapannya, kegaduhan di tengah2 anak murid Kay-pang itu seketika berhenti, suasana menjadi sunyi kembali dan perhatian setiap orang tertuju pula ke arah Ang-lian hoa.

Dengan tersenyum Ang-lian hoa memandang Kwe Pian-sian, katanya, “Anak murid Pang kita masih cukup patuh kepada setiap peraturan dan tata tertib, rupanya mereka sudah agak pangling terhadap Kwe-tianglo, 15 tahun, kukira bukan waktu yang pendek bagi siapapun juga.”

Air muka Kwe Pian-sian berubah, katanya, “Memangnya mereka sudah lupa padaku?”

“Bukannya lupa, mereka cuma mengira Houhoat-tianglo kita di masa dahulu itu sudah mengundurkan diri pada 15 tahun yang lalu,” jawab Ang-lian hoa dengan tenang.

“Siapa yang omong begitu?” teriak Kwe Pian-sian dengan gusar.

“Mendiang Lo-pangcu sudah mengumumkan urusan ini pada 15 tahun yang lalu dan setiap anak murid Pang kita sama mendengar dengan jelas, kuyakin Kwe-tianglo pasti tidak akan menganggap ucapan Wanpwe ini tidak betul.”

Kwe Pian-sian melengong sejenak, segera ia mendengus, “Hm, dia tidak menyatakan aku telah dipecat, tapi hanya mengatakan aku mengundurkan diri dari Pang kita, betapapun dia masih cukup baik padaku.”

“Lo-pangcu memang sudah lama mengetahui cita2 Kwe-tianglo terletak di empat penjuru dan tidak nanti memikirkan sedikit kedudukan Pang kita yang tidak berarti ini, kalau tidak, berdasar tingkatan maupun ilmu silat, setelah Lo-pangcu wafat adalah pantas jika Kwe-tianglo yang mewarisi pimpinan beliau.”

“Haha, pantas orang Kangouw sama bilang Ang-lian-pangcu bukan saja serba pandai dalam segala hal, bahkan mulutnya juga tajam dan sukar ada bandingannya,” seru Kwe Pian-sian dengan tertawa. “Dan setelah bertemu sekarang, semua itu ternyata terbukti memang betul.”

Tiba2 Ang-lian hoa mendekati Kim-yan-cu dan menyapa dengan tersenyum, “Kim lihiap berkunjung kemari, entah adakah sesuatu petunjuk bagiku?”

“Ku datang ikut dia,” jawab Kim-yan-cu.

“Kukira belum terlalu lama bukan Kim-lihiap kenal Kwe-tianglo?” Ang-lian hoa coba memancing.

“Dia adalah orang yang paling karib dengan diriku,” jawab Kim-yan-cu.

“Oh… sungguh tak tersangka…” sebenarnya Ang-lian hoa ingin memancing sesuatu pengakuan Kim-yan-cu mengenai kejahatan Kwe Pian-sian, sekarang ia menjadi kecewa, namun lahirnya dia tidak memperlihatkan sesuatu tanda apapun. Ia menyadari untuk melayani Kwe Pian-sian, bilamana salah langkah sedikit tentu urusan bisa runyam.

Dengan tertawa Kwe Pian-sian berkata pula, “Tadinya ku kuatir usiamu terlalu muda dan tidak dapat memikul beban tanggung jawab Pang kita yang besar ini, tapi sekarang setelah kusaksikan anak murid kita sedemikian hormat dan memuja dirimu, maka akupun tidak perlu kuatir lagi.”

Sedemikian cepat perubahan nada ucapannya membuat orang ter-heran2, mestinya Ang-lian hoa juga sangsi, tapi segera terpikir lagi olehnya, “Mungkin karena dukungan para anggota kepadaku sepenuh hati, ia merasa tiada gunanya andaikan berhasil merebut kedudukan Pangcu dariku, maka segera ia putar haluan menurut arah angin.”

Berpikir demikian, legalah hati Ang-lian hoa, rasa waspadanya menjadi banyak berkurang, dengan tertawa ia berkata, “Kwe-tianglo sudah lama berada di luar Pang dan ternyata masih begini memperhatikan kepentingan Pang kita, sungguh Tecu merasa sangat berterima kasih.”

Ketika ia menyebut “memperhatikan” tadi, tiba-tiba ia merasa kedua mata Kwe Pian-sian memancarkan sinar tajam dan aneh, sorot mata sendiri seketika tertarik. Segera ia bermaksud mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun sudah terlambat.

Dengan sinar mata tajam Kwe Pian-sian menatapnya dengan tersenyum, katanya, “Satu cagak tidak kuat menahan sebuah gedung, tenaga satu orang betapapun terbatas, apakah kau bermaksud minta diriku kembali kepada Pang kita untuk menjadi Houhoat-tianglo?”

“Ya, begitulah,” tanpa terasa Ang-lian hoa menjawab.

Kwe Pian-sian tersenyum puas, katanya pula, “Dan kelak bilamana kau merasa tidak sanggup memikul beban sebagai Pangcu, akan kau serahkan kedudukanmu padaku?”

Kembali Ang-lian hoa mengiakan.

Para anggota Kay-pang sama melengak melihat Ang-lian hoa hanya mengiakan melulu setiap perkataan Kwe Pian-sian itu. Tapi tata tertib Kay-pang biasanya sangat keras, maka tiada seorangpun berani ikut bicara.

Hanya Bwe Su-bong saja, dari ucapan Kwe Pian-sian itu dia sudah tahu tipu muslihat orang, apalagi sang Pangcu kelihatan linglung dan tidak seperti biasanya, ia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, cepat dia berseru, “Pangcu, setiap persoalan yang menyangkut kepentingan Pang kita hendaklah engkau pertimbangkan dengan baik2 dan jangan mudah dipengaruhi orang lain.”

Kwe Pian-sian menjadi gusar, dengan suara bengis ia membentak, “Orang ini tidak menghormati orang tua dan berani terhadap pimpinan, menurut tata tertib harus dihukum mati.”

Ang-lian hoa terbelalak dan menjawab, “Ya, setiap pelanggaran memang harus dihukum.”

Bwe Su-bong berlari maju dan menyembah, ucapnya, “Sekalipun Tecu akan dihukum mati juga Tecu tetap ingin bicara. Kematian Tecu bukan soal, tapi bila kekuasaan Pang kita jatuh di tangan orang ini, akibatnya pasti sukar dibayangkan.”

Air muka Ang-lian hoa tampak serba susah dan tidak bicara.

Kwe Pian-sian mengeluarkan pula jimatnya, yaitu mutiara hitam berantai emas itu, digoyangkannya mutiara hitam itu dengan perlahan dan berkata, “Dosa orang ini harus dihukum mati, kenapa tidak lekas kau beri perintah?”

Wajah setiap anggota Kay-pang sama pucat, dengan berdebar mereka menantikan sang Pangcu membuka mulut.

Bwe Su-bong terus menyembah, kepalanya mem-bentur2 tanah hingga berdarah, ber-ulang2 ia berseru, “Kematian Tecu tidak perlu disayangkan, tapi Pangcu hendaklah berpikir dan menimbangnya se-baik2nya…”

Dengan suara bengis Kwe Pian-sian berkata pula, “Orang ini bukan saja berani terhadap orang tua, bahkan ikut campur kekuasaan Pangcu, dia telah melanggar Undang2 Pang kita nomor satu dan nomor tujuh, dosanya harus dihukum mati, betul tidak?”

“Ya,” tiba2 Kim-yan-cu bersuara. Kiranya sorot matanya juga tertarik oleh mutiara hitam yang ber-goyang2 itu, apapun yang dikatakan Kwe Pian-sian selalu dijawabnya “ya”.

Terdengar Ang-lian hoa juga menjawab, “Ya, harus dihukum mati.”

Bwe Su-bong menjerit saking cemas dan gemasnya, seketika ia jatuh pingsan.

Para anggota Kay-pang juga sama terkesiap dan ketakutan, mereka terkesima dan tidak berani bersuara. Siapapun tidak menyangka sang Pangcu sampai hati menghukum mati Bwe Su-bong.

Hendaklah diketahui bahwa asal-usul anggota Kay-pang terdiri dari berbagai macam unsur yang campur aduk, sebab itulah Pangcu memegang kekuasaan tertinggi untuk mengendalikan ber-juta2 anggotanya yang tersebar di seluruh dunia. Andaikan ada kesalahan perintah sang Pangcu tetap setiap anggota harus tunduk dan menurut, sama sekali tidak boleh membantah dan melawan, kalau berani membangkang, maka hukuman berat yang akan diterimanya. Sebab itulah meski keanggotaan Kay-pang sangat ruwet, namun sedikit sekali yang berani melanggar peraturan.

Lantaran itulah Bwe Su-bong jatuh pingsan demi mendengar perintah hukuman mati Ang-lian hoa tadi. Sedangkan Kwe Pian-sian tersenyum puas, segera ia berseru, “Pangcu sudah memberi perintah, petugas pelaksana hukum kenapa tidak lekas maju?”

Serentak terdengar beberapa orang mengiakan. Empat orang telah berbangkit dan tampil ke depan dengan kepala tertunduk. Kebanyakan anggota Kay-pang sama mengucurkan air mata dan tidak tega menyaksikan Bwe Su-bong dihukum mati.

Mutiara yang dipegang Kwe Pian-sian masih terus ber-putar2 menimbulkan perasaan yang aneh dan tidak enak.

Dengan tersenyum manis Kwe Pian-sian berkata, “Ang-lian hoa, sekarang bolehlah kau…”

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara “crit”, angin tajam terus menyambar ke depan dari jari Ang-lian hoa, mutiara hitam itu seketika pecah.

Kwe Pian-sian menyurut mundur beberapa langkah, serunya tertahan, “Kau…”

Ang-lian hoa terbahak-bahak memutus ucapan orang, serunya, “Hahahaha! Jika kau kira semudah itu dapat kau pengaruhi diriku dengan ilmu gaib Lian-sim-sut (ilmu pengisap hati, sebangsa ilmu hipnotis), maka salah besarlah kau.”

Pucat wajah Kwe Pian-sian, teriaknya dengan gemas, “Bagus Ang-lian hoa, mirip benar caramu ber-pura2.”

“Jika tidak mirip caraku ber-pura2, mana bisa ku pancing semua tipu muslihatmu,” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa. “Dan kalau tidak dapat kubongkar kedokmu di depan beribu anggota Pang kita, lalu kutumpas dirimu, kan bisa jadi orang lain akan mengira aku lagi berebut kedudukan dengan kau?”

Melihat perubahan itu, anak murid Kay-pang terkejut dan bergirang pula.

Sementara itu Bwe Su-bong juga sudah siuman, iapun kegirangan sehingga mengucurkan air mata, ia menengadah dan berseru, “Thian maha adil! Apa yang dahulu tidak berhasil dilaksanakan Lo-pangcu, kini dapatlah dibereskan oleh Pangcu muda. Tipu muslihat Kwe Pian-sian akhirnya terbongkar, arwah Lo-pangcu di alam baka bolehlah merasa tenteram.”

Muka Kwe Pian-sian kelihatan pucat hijau, mendadak ia pun tertawa latah dan berteriak, “Hahahaha..! Tipu muslihat apa maksud kalian? Lian sim-sut apa katamu? Sungguh aku tidak paham!”

“Hm, urusan sudah berlanjut begini dan kau belum lagi mau mengakui kesalahanmu?” bentak Ang-lian hoa dengan bengis.

“Aku harus mengaku salah apa?” jengek Kwe Pian-sian. “Jadi kau sendiri yang hendak menghukum Bwe Su-bong, sekarang kau sendiri pula yang mengingkari segala tindakanmu itu, semua itu ada sangkut paut apa denganku?”

Dalam keadaan begini dia masih tetap tenang dan bicara menurut keadaan, nyata dia ingin mengelakkan tanggung jawab apa yang terjad tadi.

Meski Ang-lian hoa, Bwe Su-bong dan lain2 tahu jelas orang terlalu licik dan ingin membela diri, tapi seketika mereka memang tak dapat membantah ucapannya itu.

Kwe Pian-sian menyapu pandang para hadirin, lalu berteriak pula, “Saudara2 sekalian, dia menuduh aku menggunakan ilmu gaib Liap-siam-sut segala, coba kalian tanya dia, mana buktinya? Jika dia tak dapat memberi bukti nyata, maka berarti dia memfitnah orang. Ketahuilah, fitnah lebih jahat daripada membunuh.”

Seketika para anggota Kay-pang hanya saling pandang saja dan tiada yang membuka suara.

Melihat Ang-lian hoa juga diam saja dan tak dapat membuktikan dia menggunakan ilmu gaib, segera ia mendengus, “Ang-lian hoa, bilamana ada yang bisa membuktikan aku menggunakan Liap-sim-sut segala, segera ku tunduk dan mengaku dosa. Sebaliknya kalau tak dapat kau buktikan, maka berarti kau sengaja memfitnah orang tua. Selaku Houhoat Tianglo Pang kita, aku tidak dapat tinggal diam dan terpaksa aku harus bertindak untuk membersihkan rumah tangga Pang kita dari unsur2 jahat.”

Orang ini memang licik dan licin serta jahat jauh di luar perkiraan Ang-lian hoa, meski nyata2 kedoknya sudah terbongkar, tapi dengan segala jalan ia tetap berusaha membela diri, bahkan memutar balik tuduhannya.

Tanpa terasa Ang-lian hoa menjadi gelisah, pikirnya, “Selama puluhan tahun Lo-pangcu berusaha membongkar tipu muslihatnya dan tidak berhasil, jelas tidak mudah bagiku untuk membuka kedoknya dalam waktu sesingkat ini, tampaknya urusan memang sukar diselesaikan.”

Pada saat itulah se-konyong2 seorang berteriak, “He, tempat apakah ini?… mengapa aku berada… berada di sini?…”

Ang-lian hoa berpaling, yang berteriak itu kiranya Kim-yan-cu adanya. “Ia menjadi girang, cepat ia berseru, “Kwe Pian-sian, apakah kaukira di dunia ini benar2 tiada seorangpun yang dapat membuktikan Liap-sim-sut yang kau gunakan?”

Rupanya setelah mutiara hitam tadi dihancurkan Ang-lian hoa, segera Kim-yan-cu merasa otaknya tergetar se-olah2 dipalu orang dengan keras, kontan dia ter-huyung2 dan hampir roboh.

Akan tetapi kemplangan yang keras itu justeru telah menghancurkan daya gaib yang mempengaruhi pikirannya. Kiranya mutiara hitam itu adalah lambang penguasa jiwanya, begitu mutiara hitam itu hancur, segera jiwanya bebas dari pengaruh apapun.

Walaupun begitu, dia masih harus pingsan sejenak untuk kemudian baru dapat berteriak.

Dilihatnya Ang-lian hoa melompat ke depannya dan berseru, “Nona Kim, apakah kau benar2 tidak tahu cara bagaimana kau datang ke sini?”

—–

Dapatkah Kwe Pian-sian melepaskan diri dari amukan orang banyak dan siapa yang mampu mengatasi dia?

Kemana perginya Ji Pwe-giok? Dapatkah Kim-yan-cu memperoleh keterangan dari Ang-lian hoa?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: