Kumpulan Cerita Silat

20/05/2010

Renjana Pendekar – 10

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:23 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Asep_ay, Bagusetia, Bpranoto, Budiwibowo, Edisaputra, Hiku, Koedanil, Pheol, dan Yusuf_hari)

Pwe-giok tidak mengelak juga tidak menghindar atas serangan si kakek, ia malah sambut pukulan lawan dengan sebelah tangannya, “plak” kedua tangan beradu, kedua orang sama-sama tergetar mundur dua-tiga tindak.

Si kakek sama sekali tidak menyangka Kungfu anak muda ini bisa sedemikian lihai, ia terkejut dan gusar, katanya dengan menyeringai, “Tak terduga boleh juga kau, akulah yang salah pandang!”

Belum habis ucapannya, sekaligus ia sudah menyerang beberapa jurus lagi. Di tengah serangannya yang aneh itu membawa gerakan keji.

Namun Pwe-giok dapat mematahkan setiap jurus serangan lawan, cuma dia baru sembuh dari keracunan, setelah belasan gebrakan, tenaga mulai terasa lemah. Mendadak ia membentak pada Kim-yan cu, “Kenapa kau tidak lekas terjang keluar?”

Kim yan-cu memang lagi kesima menyaksikan pertarungan mereka, ia terkesiap oleh bentakan Pwe-giok itu, tapi ia lantas menjawab dengan tertawa, “Dua lawan satu kan lebih baik daripada sendirian biarlah akupun maju…”

Cepat Pwe-giok memotong, “Dengan kepandaianmu, biarpun ikut maju juga tiada gunanya. Terjang keluar saja dan jangan hiraukan diriku!”

Karena bicara dan sedikit lengah, kembali dia terdesak mundur dua tiga langkah.

Melihat pertarungan kedua orang sedemikian rapatnya sehingga dirinya tidak mungkin ikut campur, terpaksa Kim-yan cu menghela napas, mendadak ia melompat lewat samping si kakek.

Tak terduga punggung si kakek seakan-akan juga tumbuh mata, sebelah tangannya menghantam ke belakang. Kim-yan-cu tidak sanggup menangkis, dada terasa sesak, ia terpental dan jatuh terguling ke belakang.

Pada kesempatan itulah Pwe-giok juga melancarkan serangan sehingga dapat mendesak maju ke tempat semula. “Apakah kau terluka?” tanyanya kepada Kim-yan-cu.

Tubuh Kim-yan cu terasa pegal seluruhnya tapi dia menjawab dengan tersenyum, “Tidak apa-apa jangan kau pikirkan diriku!”

Melihat senyuman si nona yang setengah meringis itu, Pwe-giok tahu dalam waktu singkat mungkin Kim-yan-cu tidak sanggup berbangkit. Pikirannya menjadi kusut, kembali dia terdesak mundur lagi oleh hantaman si kakek.

Dengan menggertak gigi Pwe-giok menyambut pula tiga kali pukulan kakek itu. Kedua orang berdiri di luar dan di dalam tirai, sesudah bergebrak beberapa jurus lagi, tirai itu pun robek, mutiara dan batu permatanya berserakan di lantai.

“Mengapa kau tidak bersuara, apakah kau terluka?” tanya Kim-yau-cu dengan parau.

Terpaksa Pwe-giok berteriak; “Kau jangan kuatir, aku…” karena bersuara, bawa murni dalam tubuh tambah lemah, kembali dia terdesak mundur dua langkah, kini ia sudah terdesak ke luar pintu.

Si kakek terus mendesak keluar, serunya dengan tertawa, “Kalian berdua boleh dikatakan dua sejoli yang sehidup semati, sungguh aku menjadi iri.”

Pada waktu si kakek bicara, segera Pwe-giok bermaksud menyerang dan mendesak kembali ke tempat semula, tapi sayang, tenaga tidak mau menuruti kehendaknya lagi. Kain putih yang membalut kepalanya juga sudah basah kuyup oleh air keringat. Dalam keadaan demikian kalau dia mau kabur sendiri mungkin masih ada harapan, tapi mana dia tega meninggalkan Kim-yan-cu begitu saja?

Agaknya si kakek dapat meraba jalan pikirannya dengan menyeringai ia berkata pula, “Jika kau tidak keluar sekarang, segera akan kututup pintu ini, akan kukurung dia di dalam, dengan demikian jangan harap lagi kalian akan berkumpul kembali.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Jika demikian, hendaklah kau memberi jalan, biar aku lewat ke sana.”

Si kakek terbahak-bahak, benar juga ia lantas menyingkir ke samping.

Dengan sedih Pwe giok melangkah ke sana. Tapi baru saja sampai ambang pintu, Cepat Pwe giok berteriak, “Sudah kutahan dia, lekas kau lari!”

Dengan terhuyung-huyung Kim yan cu berlari keluar, katanya dengan suara gemetar, “Dan. . . .dan kau?”

Tidak kepalang gemas Pwe giok, sungguh dia ingin mencekik leher si nona dan menghardiknya, “Kenapa kau tidak lari keluar lebih dulu dan nanti berusaha lagi menolong diriku?”

Tapi ia sendiri sedang terdesak oleh serangan si kakek sehingga tidak sempat bersuara sama sekali.

Si kakek sinar perak tertawa terkekeh-kekeh katanya; “Demi keselamatan dirimu, dia rela mengorbankan dirinya di sini, apakah kau tega pergi sendirian?”

“Sudah tentu tidak mungkin ku pergi sendiri,” jawab Kim-yan-cu tegas.

“Mau mati biarlah kami mati bersama saja.”

“Bagus,” ujar si kakek dengan tertawa. “Dengan demikian barulah dapat dikatakan punya perasaan, sungguh aku sangat kagum.”

Cemas dan gemas Pwe-giok sungguh kalau bisa ingin ditendangnya keluar Kim-yan-cu. Karena gusarnya itu, sedikit meleng, dada terasa panas, rupanya telah kena getaran pukulan si kakek. Sekali ini dia tidak mampu balas menghantam lagi.

“Haha, apakah nona tidak ingin masuk lagi ke sana?” seru si kakek dengan tertawa.

“Sudah tentu aku akan masuk ke sana, tidak perlu kau kuatir,” teriak Kim-yan cu dengan suara serak.

Pwe giok hendak membentak untuk mencegahnya, tapi belum lagi bersuara, tahu-tahu Kim-yan-cu sudah lari masuk lagi dengan langkah sempoyongan dan menubruk ke dalam pelukannya.

Terdengar si kakek tertawa latah, katanya, “Sudah kukatakan takkan kubunuh kau, tentu ku pegang teguh janjiku ini. Tapi kalau kalian mati sesak di sini kan bukan salahku.”

Habis berkata, “krek” pintu batu itu telah tertutup.

Seketika di dalam gua itu berubah menjadi sunyi senyap, sampai suara tertawa si kakek pun tidak terdengar lagi.

Kim-yan-cu termangu-mangu sejenak, akhirnya air mata bercucuran, ucapnya dengan tersendat-sendat, “Semuanya gara-garaku sehingga kau pun ikut susah. Mengapa… mengapa kau tidak melarikan diri sendiri tadi?”

“Dan kau sendiri mengapa tidak mau lari?” jawab Pwe giok dengan menyesal. “Setelah kau keluar, kau kan dapat berusaha menolong diriku? Dengan begitu kan lebih baik daripada dua-duanya terkurung mati di sini?”

Kim yan-cu melenggong sejenak, mendadak ia mengikik tawa.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Pwe giok dengan berkerut kening. “Apakah salah ucapanku?”

“Jika kau kira ucapanmu itu masuk diakal, kenapa kau sendiri tidak lari keluar lebih dulu baru kemudian berusaha menolong diriku lagi?” jawab Kim-yan-cu.

Sekali ini Pwe giok juga melenggong, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan tersenyum kecut, “Ya, betul juga. Tadinya kukira kau ini nona bodoh, tak tahunya akulah yang jauh lebih bodoh daripadamu.”

“Kau sama sekali tidak bodoh,” ujar Kim-yan-cu dengan suara lernbut, “hanya karena terlalu memikirkan diriku, maka kau lupa akan dirinya sendiri.”

Tanpa terasa Pwe-giok membelai rambut si nona, katanya dengan gegetun, “Dan kau sendiri bagaimana? Bukankah kau pun begitu, demi diriku kau pun lupa pada dirimu sendiri?”

Kim yan-cu bersuara tertahan terus menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu.

Sejak kecil Pwe-giok sudah kehilangan ibu, di bawah didikan sang ayah yang keras, meski sejak dulu sudah mengikat jodoh, namun jari sang tunangan saja tidak pernah disentuhnya, bilakah dia pernah merasakan kemesraan muda-mudi begini?

Seketika pikirannya menjadi bingung, entah mesti gembira atau harus sedih. Entah suka entah duka?

Umumnya, orang yang sama-sama berada dalam kesusahan memang lebih mudah menumbuhkan benih perasaan dengan cepat, kecepatan yang sukar dibayangkan dan juga sukar dicegah.

Entah selang berapa lama, mendadak Kim-yan-cu melompat bangun, dengan muka merah ia berkata, “Coba lihat, kita telah berubah menjadi tolol semua sehingga tidak terpikir kalau pintu ini dapat di buka dari luar, dengan sendirinya dapat pula dibuka dari dalam. Kalau tidak, waktu Siau-hun-kiongcu masih hidup, apakah dia juga harus dibukakan pintu dari luar bilamana dia ingin keluar?”

Merasa jalan pikirannya ini sangat masuk diakal, tanpa terasa ia menjadi sangat gembira.

Sebaliknya Pwe-giok lantas menghela napas panjang, ucapnya, “Kakek itu sudah tahu dimana letak kunci pintu keluar masuk tempat ini, dia membawa pula pedang wasiat setajam itu, cukup sekali bergerak saja semua alat rahasia dapat dirusaknya. Pintu batu ini seberat ribuan kati, jika pegasnya rusak, siapa lagi yang sanggup menggesernya? jika ia sudah berniat mengurung kita di sini, tentu juga sudah dipikirkannya segala kemungkinannya.”

Kim yan-cu melengak, senyumnya tadi lenyap seketika, katanya dengan ragu-ragu, “Tapi harta… harta benda yang terdapat di sini, apakah tidak… tidak dikehendakinya lagi?”

“Bila kita mati terkurung di sini, tentu harta karun inipun takkan lari, lambat atau cepat tetap akan jadi miliknya, untuk apa dia terburu-buru mengambilnya? apalagi tujuannya sebenarnya bukan terletak pada harta karun ini.”

Dengan lemas Kim-yan cu berduduk lagi, ia termangu-mangu sejenak, mendadak ia tertawa cerah pula dan berkata, “Sebelum pagi hari ini, sungguh mimpipun tak terpikir olehku akan mati bersamamu di sini. Yang aneh adalah sekarang aku tidak merasa takut sedikitpun. baru sekarang ku tahu, mati ternyata bukan sesuatu yang menakutkan seperti apa yang pernah kubayangkan. apalagi kalau dapat mati bersamamu, jelas aku lebih beruntung daripada ke delapan anak perempuan yang telah mati itu.”

Mendadak Pwe-giok terbelalak, serunya, “Kau bilang ke delapan anak perempuan itu?”

Kim-yan cu bingung karena tidak tahu apa sebenarnya anak muda itu berteriak, jawabnya dengan tergagap, “Be… betul”

Pwe-giok memegang tangan si nona dan menegas, “Apakah sudah kau lihat jelas? Betul-betul delapan dan bukan sembilan?”

Kim-yan cu berpikir sejenak, lalu menjawab tegas, “Ya, tidak kurang tidak lebih, persis delapan” ia merandek, kemudian berkata pula, “Tapi delapan atau sembilan, memangnya ada sangkut paut apa dengan kita?”

“Tentu saja ada sangkut pautnya, bahkan sangat besar sangkut pautnya!” seru Pwe-giok.

Melihat anak muda itu mendadak kegirangan, Kim-yan cu menjadi heran, tanyanya, “Ada sangkut paut apa? Bukankah anak-anak perempuan itu sudah mati semua?”

Pwe-giok menggenggam tangannya erat-erat dan berkata, “Menurut orang tua tadi, katanya dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan sembilan anak perempuan masuk ke sini dan tiada seorangpun yang pernah keluar. Berdasar ketajaman matanya kupercaya dia pasti tidak salah hitung, sebaliknya kau cuma melihat delapan sosok mayat dan juga tidak keliru lihat.”

Dia menghela napas panjang dan menatap Kim-yan cu tajam-tajam, lalu menyambung pula sekata demi sekata, “Maka sekarang ingin kutanya padamu, ke mana perginya anak perempuan yang ke sembilan itu?”

Kim-yan cu melongo bingung seperti paham dan seperti tidak, gumamnya, “Ya, betul, kemana perginya anak perempuan ke sembilan itu? Kenapa bisa menghilang?”

“Orang sebesar itu masa bisa hilang?” ujar Pwe-giok.

“Betul, orang sebesar itu mustahil bisa hilang?” tukas Kim-yan cu.

Mendadak Pwe-giok berseru, “Masa kau tidak paham, sebabnya anak perempuan ke sembilan itu bisa menghilang mendadak tentu karena di sini ada jalan keluar lain, kalau tidak, memangnya dia dapat menyusup masuk ke dalam bumi?”

Akhirnya Kim-yan cu paham duduknya perkara, ia melonjak bangun dan merangkul Ji Pwe-giok serunya dengan tertawa, “Ai, kau memang benar-benar bukan orang bodoh, sebaliknya aku inilah budak tolol.”

Pada saat sudah putus asa tiba-tiba mendapatkan setitik sinar harapan, sudah tentu mereka kegirangan, Tapi lantaran kelewat bergirang, mereka menjadi lupa bahwa bilamana anak perempuan ke sembilan itu datang demi mencari harta karun, kalau betul dia sudah keluar melalui suatu jalan rahasia lain, mengapa harta karun ini tidak dibawa pergi sekalian? Setelah mencapai tempat penyimpanan harta karun ini apakah mungkin dia keluar lagi dengan tangan hampa?

Si kakek tadi menemukan kitab pusaka Siau-hun-pit-kip pada sebuah almari batu yang berbentuk aneh, sekarang pintu almari batu itu masih terpentang. Didepan almari batu ada sebuah kasuran berwarna hijau-kelabu, waktu diperiksa lebih teliti, kasuran ini juga ukiran dari batu, saking pandainya mengukir sehingga tampaknya seperti kasuran asli.

Bahwa ditengah ruangan hanya tertaruh sebuah kasuran begini, jelas tampaknya agak janggal, tidak sesuai dan tidak serasi dengan keadaan di ruangan ini, apalagi kasuran ini ukirannya dari batu hijau, lebih-lebih menurut ingatan Ji Pwe-giok, di bawah kasuran begini biasanya tersembunyi sesuatu rahasia. Maka begitu melihat kasuran ini, dia lantas tertarik, segera ia mendekatinya.

Namun kasuran ini seperti berakar di tanah, didorong maupun ditarik tidak bergeming sedikitpun, diputar kesana ke sini juga tidak mau bergetar.

Pwe-giok menghela napas kecewa. waktu menengadah, mendadak dilihatnya di dinding almari batu itupun terukir gambar laki perempuan yang tidak senonoh. Anehnya setiap pasangan manusia ukiran ini secara indah terangkat menjadi satu huruf sehingga seluruhnya berbunyi, “Barang siapa mendapat kitab pusaka ku, masuklah ke perguruanku. Terimalah ilmu tinggalan ku dan menyembah kepada arwahku. Baik buruk atau untung malang, semua itu mesti tunduk kepada perintahku. Yang melanggar pesan tinggalanku ini akan tertimpa bencana dan mati.”

Disamping kedua baris tulisan yang menyerupai ramalan ini terdapat pula beberapa baris huruf kecil dan berbunyi, “Barang siapa menemukan harta dan kitab pusakaku, dia harus masuk ke perguruanku, hendaklah segera berlutut di atas kasuran dan menghadap ke dinding ini, dengan hati tulus dan bersujud menyembah sembilan kali sembilan sana dengan 81 kali sebagai penghormatan mengangkat guru, dengan demikian akan mendapatkan rejeki. Tapi kalau membangkang atas perintahku ini, setelah mendapatkan harta pusaka ini terus pergi, arwahku pasti akan mengejar dirimu dan mencabut nyawamu. Camkanlah peringatan ini.”

Jelas si kakek cahaya perak tidak pernah memperhatikan pesan Siau-hun-kongcu ini, dengan sendirinya dia tidak percaya orang yang sudah mati masih mampu mencabut nyawanya.

Akan tetapi setelah berpikir sejenak, Pwe-giok benar-benar berlutut di atas kasuran itu dan mulai menyembah.

Kim-yan cu melenggong, katanya dengan tertawa, “Masa kau benar-benar ingin mengangkat guru kepada orang mati?”

Sembari menyembah Pwe-giok menjawab, “Pada masa hidupnya, tindak-tanduk Siau-hun-kongcu ini sudah sukar diraba orang. Ketika mendekati ajalnya, tentu dia memeras otak dan mencari akal yang aneh-aneh untuk mengatur segala sesuatu.” “Ya, orang seperti dia itu, kalau mati tentu juga tidak rela barang tinggalannya dikuras orang dengan begitu saja.” ujar Kim-yan cu.

“Sebab itulah, kupikir pesan yang diukir di sini ini pasti juga ada tujuan tertentu, mungkin disinilah letak rahasianya yang paling besar,” kata Pwe-giok.

Kim-yan cu berkerut kening katanya, “Tapi orang sudah mati apa yang dapat diperbuat lagi? …”

Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, air mukanya berubah pucat, dengan suara gemetar ia berkata pula, “Jangan-jangan… jangan-jangan dia belum lagi mati?”

Selesai Kim-yan cu bicara, Pwe-giok juga sudah habis menyembah 81 kali.

Sekonyong-konyong dinding batu yang penuh terukir huruf itu terbelah menjadi dua dan bergeser ke samping. Dibalik dinding tampak cahaya terang gemerlapan menyilaukan mata.

Pada saat itu yang hampir sama, mendadak kasuran batu itu terus meluncur ke arah lemari batu itu secepat kilat. Pwe-giok sendiri waktu itu merasa dengkulnya kaku kesemutan setelah berlutut dan menyembah sekian lama, belum lagi dia sempat berbangkit, tahu-tahu kasuran tempat dia berlutut itu terus meluncur ke balik dinding yang terbelah itu.

Tanpa kuasa Pwe-giok terhanyut oleh kasuran batu itu, seketika ia merasa silau dan tidak melihat apa-apa. Pada saat itu mendadak kasuran batu itu berganti arah terus meluncur balik ke belakang.

Karena dibawa meluncur ke depan dan mendadak membalik lagi ke belakang, tanpa kuasa Pwe-giok terjungkal ke depan dan jatuh di lantai. “bluk”, seperti ada sesuatu barang tertindih oleh tubuhnya. Menyusul asap tebal lantas muncrat berhamburan.

Kasuran batu tadi telah meluncur keluar dinding dan dinding itu lantas merapat kembali, semuanya itu berlangsung dengan cepat, hampir seperti terjadi dalam waktu yang sama.

Apa yang terjadi ini sungguh terlalu cepat dan terlalu banyak sehingga Pwe-giok tak sempat bertindak apapun, hidungnya sempat menghisap bau harum bedak. Meski harum baunya, tapi terasa gelagat tidak menguntungkan.

Sama sekali tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa setelah dia menuruti pesan Siau hun-kiongcu tadi, sebagai imbalan adalah kejadian yang luar biasa ini dan rejeki nomplok. Segera pula dia hendak menahan napas, namun bau harum tadi sudah sempat diisapnya sedikit.

Kim yan cu juga mendadak merasakan cahaya yang menyilaukan tadi sehingga matanya sukar terbuka.

Samar-samar ia sempat melihat kasuran tadi meluncur ke dalam lemari batu dengan membawa Ji pwe giok, waktu dia dapat membuka mata dan melihat lebih jelas, tahu-tahu batu itu sudah meluncur balik ke tempat semula. Waktu dia pandang almari batu itu, keadaannya masih utuh seperti tadi, sedikitpun tiada perubahan apapun namun Ji Pwe giok tidak kelihatan lagi, entah menghilang kemana?

Kim yan cu jadi melongo kesima, sungguh ia tidak percaya kepada pemandangannya sendiri, apakah yang terjadi sesungguhnya? Mengapa bisa begini?

Hampir saja ia berteriak-teriak, tapi dalam keadaan demikian, sekalipun sampai pecah kerongkongannya juga tiada seorangpun yang mendengar suaranya.

Kim yan cu sudah cukup berpengalaman berkelana di dunia kangouw, sudah sering juga dia menghadapi saat-saat antara mati dan hidup, betapapun dia bukan anak perempuan biasa, walaupun dia kelihatan begitu lemah lembut ketika berada disamping Ji we giok.

Tapi anak perempuan mana di dunia yang tidak kelihatan lemah lembut bila berada bersama seorang lelaki? Bila berada bersama seorang lelaki, bisa jadi untuk melangkahi selokan yang setengah meter lebarnya perlu juga dibantu oleh si lelaki Tapi kalau berada sendirian tanpa didampingi lelaki mungkin sungai yang lebarnya tiga meter akan dapat dilompatinya.

Kalau berada bersama lelaki, setiap anak perempuan pasti akan ketakutan setengah mati bilamana kebetulan ada seekor tikus menerobos, disamping kakinya, tapi kalau berada sendirian, biarpun tiga puluh ekor tikus muncul sekaligus juga akan dibinasakan semuanya.

Bila tiada orang yang lain yang dapat diandalkan, setiap anak perempuan bisa mendadak berubah kuat dan tangkas, apalagi pada dasarnya Kim yan cu memang bukan anak perempuan lemah.

Ia coba membaca tulisan yang terukir di dinding almari itu dan direnungkan berulang ulang, mendadak ia berseru , “Aha, paham lah aku!…”

Kiranya di bawah kasuran batu itu memang ada pesawat rahasianya. Kasuran baru itu tidak dapat terbuka juga tidak dapat berputar, tapi harus ditindihi oleh bobot tubuh orang, ditambah lagi orang itu berlutut diatasnya harus menyembah segala, gerakan itu akan menimbulkan daya tekanan pula, bilamana sudah menyembah hingga 81 kali, daya tekanan itu sudah cukup untuk membuka pesawat rahasia yang terpasang di bawah kasuran batu sehingga menggerakan dinding almari, begitu dinding bergerak dan terpentang, segera segala alat rahasia yang lain akan ikut tertarik dan kasuran batu itupun terbawa meluncur ke depan, ketika daya kerja pegas itu sampai pada titik akhirnya, segera kasuran batu itu terpantul balik ke tempat semula dan dindingpun rapat kembali.

Kalau sudah dijelaskan, apa yang terjadi ini menjadi kelihatan sederhana, cuma Siau Kun Kiongcu memang sengaja mengaturnya sedemikian rupa sehingga kelihatan lebih misterius dan menyeramkan.

Kim yan cu tidak ragu lagi, segera iapun berlutut di atas kasuran batu itu dan mulai menyembah. Tapi ketika menyembah 52 kali, mendadak ia melompat turun, ia memandang sekitarnya dan menemukan sebuah peti besi sebesar satu meteran, tutup peti besi itu diambilnya, lalu ditaruh di punggung sendiri, habis itu dia berlutut dan mulai menyembah lagi.

Tak tahunya, sudah 81 kali menyembah, kasuran itu tetap tidak bergerak. Ia menjadi sangsi, jangan-jangan pesawat rahasia ini hanya bergerak satu kali saja, lalu tidak mau bekerja lagi? Tapi dia tidak putus asa, ia ingin mencobanya satu kali lagi, sekali ini dia baru menyembah lima enam kali dan mendadak kasuran itu meluncur keluar sana secepat panah.

Rupanya disebabkan perawakan Kim yan cu yang ramping, bobotnya tidak cukup, mesti ditambah lagi sebuah tutup peti besi, namun cara menyembahnya menjadi kurang membungkuk ke bawah sehingga daya tekanannya menjadi berkurang pula. Maka dia perlu menyembah hingga 86-87 kali barulah daya tekanannya cukup kuat untuk menggerakan pesawat rahasianya.

Ketika merasa orangnya ikut dibawa meluncur masuk ke balik almari batu, sesudah masuk dan kasuran batu itu terpantul balik lagi kesana. Namun diam-diam Kim yan cu sudah mempunyai perhitungan, begitu ia terjerembab ke depan, berbareng itu iapun membuang tutup besi tadi keluar.

Kepandaian menggunakan Am-gi atau senjata rahasia Kim yan cu terkenal lihai juga di dunia kangouw, dengan sendirinya cara menyambitkan tutup besi itupun cukup jitu, tutup peti itu dengan cepat dilemparkan ke tengah-tengah belahan dinding, maka waktu kedua belah dinding itu akan merapat kembali lantas terhalang oleh tutup peti itu, meski tutup peti itu tergencet hingga mengeluarkan suara keriat-keriut, namun dinding itupun tidak dapat rapat sama sekali.

Sementara itu mata Kim yan cu sudah terbiasa oleh cahaya silau, akhirnya ia dapat melihat jelas rahasia di dalam gua misterius ini. Kiranya ruangan batu ini berbentuk segi delapan, dinding sekelilingnya penuh terhias batu permata dan mutiara sebesar gundu, di belakang mutiara ini semuanya dilapisi sepotong kaca kecil. karena itulah cahaya mutiara lantas memantulkan sinar yang kemilauan sehingga kamar inipun gemerlapan dan seperti bintang-bintang yang bertaburan di langit telah dipindahkan oleh Siau hun kiongcu ke kamar ini.

Ditengah-tengah kamar batu ini ada sebuah peti mati batu raksasa, selain peti mati ini sudah tentu masih ada pula barang lain, tapi Kim yan cu tidak menaruh perhatian lagi, yang dipikirkannya cuma Pwe giok saja.

Dilihatnya anak muda itu duduk bersila di sana, sekujur badan tampak menggigil, kain putih yang membalut kepalanya itu sudah basah kuyup seperti habis disiram air. “He, ken… kenapa kau? jerit Kim yan cu. Pwe giok menggertak gigi dan tidak menjawab, bahkan matapun tetap terpejam.

Kim yan cu terkejut dan kuatir, baru saja ia bermaksud memegang tangan Pwe giok, mendadak tangan Pwe giok malah menghantamnya sehingga Kim yan cu terguling. “He, apa-apaan kau?” jerit Kim yan cu “Jangan … jangan kau urus diriku,” teriak Pwe giok.

“Biarkan ku istirahat sebentar dan semuanya akan baik lagi” Setiap kata yang diucapkan anak muda itu seakan akan sangat memakan tenaga, maka Kim yan cu tidak berani bertanya lagi. Dilihatnya disamping Pwe Giok ada secomot benda yang gemerlapan, benda sebangsa pecahan kaca berwarna merah muda, entah barang apa.

Waktu ia memandang lagi ke belakang peti mati, di sana juga ada sebuah almari batu, pintu almari sudah terbuka. Di dalam almari terdapat berpuluh botol kecil berwarna merah muda dan bercahaya, tampaknya serupa dengan barang pecah yang terdapat di samping Ji Pwe giok itu.

Disamping berpuluh botol kecil itu ada pula beberapa jilid buku berwarna merah, buku ini serupa kitab yang dibawa pergi si kakek bercahaya perak itu, halaman buku ini tampak tersingkap, agaknya pernah dibalik-balik orang.

Kim yan cu mengira Pwe giok yang membalik-balik halaman buku itu, ia jadi tertarik juga dan mendekatinya untuk melihat, tapi baru dua halaman buku itu dibacanya, seketika mukanya menjadi merah, jantungnya berdetak keras.

Pada halaman pertama buku itu tertulis, “Siau hun pit kip, yang mendapatkannya mencapai kenikmatan. Siau hun pi yok, yang mendapatkannya naik surga.”

Disamping kedua belas huruf besar itu tertulis pula, “Inilah kitab asli Siau hun pit kip, hanya perempuan yang punya rejeki besar yang akan mendapatkannya. Setelah belajar satu tahun, cukup untuk membuat setiap lelaki di dunia ini tergiur dan jatuh hati. Bila belajar tiga tahun, dapatlah mematahkan iman siapapun di dunia ini. Kitab yang beredar di luar adalah kitab tiruan dan sekali-kali tidak boleh sembarangan dipelajari, kalau tidak menurut, akibatnya akan terjeblos sendiri ke laut penderitaan dan sukar tertolong, berbagai macam penyakit akan timbul dan tersiksa hingga mati. Inilah pesan perguruan yang harus diperhatikan. Karena kau sudah datang ke sini dan mendapatkan kitab pusaka ini, maka bahagialah selama hidupmu.

Waktu ia baca pula halaman kedua, seketika muka Kim yan cu menjadi panas, sungguh mimpipun tak pernah terpikirkan olehnya di dunia ini ada kejadian begini dan juga ada cara begini. Kiranya yang diajarkan dalam kitab ini adalah teknik bercinta yang hampir sukar dibayangkan siapapun juga.

Hampir saja Kim yan cu merobek kitab itu, tapi entah mengapa, rasanya berat juga untuk menghancurkan kitab demikian. Selagi ragu-ragu, tiba-tiba tergerak pikirannya, pikirnya, “Jangan-jangan dia terkena racun yang terisi di botol yang pecah itu? mungkin di dalam kitab ini ada petunjuk cara menawarkannya…”

Sudah tentu inilah alasan yang paling baik baginya untuk membaca lagi kitab ajaib itu. Setelah membaca beberapa halaman pula, ditemuinya di dalam kitab benar-benar ada tulisan yang berbunyi, “Isi botol ini semuanya adalah obat perangsang cinta, ada yang berbentuk pil, ada yang berwujud bubuk. Lelaki yang meminum obat di dalam botol ini, bila tidak mendapatkan pelampiasan tubuh perempuan, akibatnya akan mati dengan tujuh lubang (mata, telinga, hidung dan mulut) berdarah.”

Membaca sampai di sini, tanpa terasa Kim-yan-cu bersuara kaget. Jantungnya serasa mau melompat keluar dari rongga dadanya, ya takut ya kuatir, sungguh tidak keruan rasanya.

Didengarnya Pwe-giok sedang menggertak gigi hingga berbunyi gemertakan, katanya dengan terputus-putus, “Lekas, …lekas kau pergi … lekas pergi saja …”

Tapi Kim-yan-cu masih tetap berdiri melenggong di tempatnya. Lantaran membela dirinya sehingga anak muda itu tersiksa begini, mana dia tega tinggal pergi dan membiarkan orang mati dengan tujuh lubang berdarah?

Mendadak Kim-yan-cu tertawa manis sambil mendekati Pwe-giok. Jantungnya berdebar, tubuhpun terasa lemas, ia sendiri tidak tahu apakah kuatir, takut, malu atau gembira?

Pwe-giok menatapnya dengan mendelik, teriaknya dengan gemetar, “Jangan kau mendekatiku, jangan, kumohon dengan sangat, jangan kau mendekat kemari!”

Tapi Kim-yan-cu malah pejamkan mata terus menjatuhkan dirinya ke dalam pangkuan Ji Pwe-giok.

Dia sudah bertekad akan korbankan dirinya sendiri. Akan tetapi anak perempuan manapun juga tidak nanti mau berkorban bagi lelaki yang tidak disukanya.

Dengan memejamkan mata kim-yan-cu sudah merelakan segalanya, dia sudah siap mempersembahkan miliknya, dan bersedia menerimanya…

Tak terduga, pada saat itu juga mendadak ia merasakan pinggangnya kaku, ia telah tertutuk oleh Pwe-giok. menyusul tubuhnya terus dilemparkan keluar oleh anak muda itu. lalu tutup peti besi tadipun ditendang mencelat dan dinding batu lantas rapat kembali.

Kim-yan-cu terkejut dan melenggong dan juga berterima kasih. Tapi entah mengapa, rasanya juga rada kecewa, berbagai macam perasaan itu bercampur aduk.

Ia tahu Pwe-giok masih punya perasaan, belum hilang akal sehatnya, maka tidak tega membikin susah padanya.

Ia tahu sebabnya anak muda itu menutuk hiat-tonya adalah karena kuatir dirinya akan masuk lagi ke sana. Sebabnya dia menutup dinding itu adalah untuk menjaga agar Pwe-giok sendiri tidak sampai menerjang keluar bilamana tidak tahan oleh rangsangan obat kuat yang diminumnya.

Dan jelas pintu dinding itu tidak mungkin dibuka dari dalam. Sekarang tertinggal Pwe-giok saja yang terkurung di situ untuk menanti kematian.

Air mata Kim-yan-cu bercucuran, teriaknya dengan suara parau, “Meng… mengapa kau begitu bodoh? Memangnya kau kira demi menolong dirimu maka kulakukan seperti tadi itu? Sesungguhnya aku sendirilah yang rela berbuat begitu, apakah… apakah kau tidak tahu aku memang suka padamu?…”

Di luar dugaan, suara Kim-yan-cu itu ternyata bisa tersalur ke dalam kamar batu sana, apa yang diucapkan Kim-yan-cu itu dapat didengar jelas oleh Pwe-giok. Tapi sekarang biarpun dia ingin memasukkan lagi si nona ke sana juga tidak dapat lagi, semuanya sudah terlanjur.

Pwe-giok memukul-mukul dinding dan berteriak dengan suara gemetar, “Kau tahu, aku tidak boleh berbuat begitu, aku tidak boleh merusak dirimu?!”

Kim-yan-cu juga dapat mendengar suaranya, iapun berteriak, “Tapi kalau kau tidak berbuat begitu, terpaksa kau harus mati!”

“O.., kumohon… maafkan…”
“Kubenci padamu, kubenci…” teriak Kim-yan-cu. “Selamanya takkan kumaafkan kau. Kau hanya tahu tidak tega mencelakai diriku, tapi tahukah kau dengan penolakanmu ini kau telah menyakitkan hatiku?”

Sungguh ia tidak tahu mengapa dirinya bisa mengucapkan kata-kata begitu. Bisa jadi ia sengaja hendak mendorong semangat Pwe-giok agar berusaha keluar.

Sekujur badan Pwe-giok serasa mau meledak, ia berteriak-teriak, “Ya, aku salah. Memang aku salah besar! Sebenarnya akupun suka padamu!”

“Dan mengapa kau tidak keluar? Apakah sekarang kau tidak dapat keluar?!” teriak Kim-yan-cu, betapapun dia masih menaruh harapan.

“Sudah terlambat, sudah terlambat!”

“Tahukah kau, hanya ada kematian jika kau tidak keluar?”

“Biarpun mati akupun berterima kasih kepadamu!” teriak Pwe-giok dengan gemetar. Tubuhnya merasa panas seperti dibakar, keadaannya sungguh payah dan tak tahan lagi.

Ia tidak tahu bahwa pada saat itu juga peti mati batu itupun terbuka, seorang perempuan yang lebih cantik daripada bidadari, tapi dingin melebihi hantu telah melangkah keluar dari peti mati itu.

Sungguh aneh, masakan mayat perempuan cantik di dalam peti mati itu benar-benar telah hidup kembali? Baju perempuan itu berwarna putih laksana salju, tapi air mukanya terlebih putih daripada bajunya.

Dia menyaksikan Ji-Pwe-giok yang lagi berkelojotan di lantai, mendadak ia menjengek, “Hm, kalian memang benar dua sejoli yang sehidup semati, setelah kalian mati nanti pasti akan ku kubur kalian bersama.”

Suaranya ternyata juga sedingin es, sedikitpun tanpa emosi. Melihat gelagatnya, seumpama dia memang bukan orang mati, tapi hatinya jelas sudah lama mati, sudah lama beku.

Mendengar suara orang, Pwe-giok terkejut dan cepat berpaling, segera dilihatnya wajah yang cantik ini, wajah ini membuatnya jauh lebih terkejut daripada melihat setan.

Perempuan yang dingin seperti badan halus ini ternyata Lim-Tay-ih adanya!

Jadi ke delapan anak perempuan yang mati dilorong tadi kiranya anak murid Pek-hoa-bun dan Lim-Tay-ih adalah anak perempuan yang menghilang secara misterius itu.

Saking terkejutnya Pwe-gok berteriak, “Lim-Tay-ih, ken… kenapa kau berada di sini?”

Air muka Lim-Tay-ih berubah hebat, jawabnya dengan terkesiap, “Siapa kau? Darimana kau tahu namaku?”

“Aku inilah Ji-Pwe-giok!” teriak Pwe-giok. Lim-Tay-ih melengak, segera ia menjengek, “Hm, kiranya kau Ji-Pwe-giok itu, kau ternyata belum mau ganti nama!”

“Aku memang Ji-Pwe-giok, kenapa mesti ganti nama?” jerit Pwe-giok.

“Hm, apakah kau mau ganti nama atau tidak, sekarang bukan soal lagi,” dengus Lim-Tay-ih, “Sebab kau toh bakal mati, setelah kau tahu rahasia tempat ini, bagimu hanya ada mati!”

Sekuatnya Pwe-giok meronta bangun, mendadak dilihatnya di dalam peti mati batu itu masih ada sesosok mayat perempuan yang sangat cantik dan seperti masih hidup. tanpa terasa ia menjerit pula, “Se…sesungguhnya bagaimana persoalannya ini?”

“Apakah kau terkejut?” tanya Lim-Tay-ih

“Supaya kau tahu, yang membujur di dalam peti mati inilah jenazah asli Siau-hun-niocu. pada waktu masih hidup setiap lelaki pasti tergiur padanya, sesudah mati iapun sayang pada wajahnya dan tidak membiarkannya membusuk.”

“Dan…dan kau? Mengapa … mengapa kau berada di situ?” tanya Pwe-giok.

“Ketika kudengar ada orang masuk kemari cepat ku bersembunyi di dalam peti mati itu. Ku tahu ilmu silatmu tidak lemah, untuk apa ku buang tenaga percuma untuk bergebrak dengan kau?”

“O, jadi obat bius itupun kau yang mengaturnya di sana?”

“Akupun dibawa masuk ke sini oleh luncuran kasuran batu itu, jadi ku tahu bilamana kasuran batu itu terpantul balik ke sana, orang yang berada di atasnya pasti akan terjerembab ke depan, maka lebih dulu ku taruh obat bius itu di sana. Untuk mematikan kau, buat apa aku mesti turun tangan sendiri?”

Baru sekarang Pwe-giok paham duduk persoalannya, ucapannya dengan terputus-putus, “Sejak kapan kau berubah menjadi… menjadi sekeji ini?”

“Orang keji di dunia ini terlalu banyak,” jawab Lim-Tay-ih. “Jika aku tidak keji, tentu aku yang akan dibinasakan orang.”

“Tapi aku ini bakal suamimu, mana boleh kau…”

“Plok”, belum habis ucapan Pwe-giok, kontan Lim-Tay-ih menamparnya sambil membentak, “Persetan kau! Bakal suamiku sudah lama mati, tapi kau berani kurang ajar padaku?”

Tamparan ini cukup keji dan keras, tapi Pwe-giok seperti tidak merasakan apa-apa, ia cuma menatap si nona dengan matanya yang merah dan bergumam, “Kau tunanganku, kau…kau bakal istriku!”

Lim-Tay-ih menjadi takut sendiri melihat sorot mata Pwe-giok yang beringas itu, katanya, “Ap… apa kehendakmu?”

Tersembul senyuman aneh pada ujung mulut Pwe-giok, dia masih terus bergumam, “Kau bakal istriku! Kau inilah…” mendadak ia menubruk ke arah Tay-ih.

Tadinya ia gunakan tenaga dalamnya untuk mengekang bekerjanya obat perangsang, sebab itulah dia masih dapat mempertahankan kejernihan pikirannya, tapi sekarang, obat perangsang itu akhirnya meledak dan tidak tahan lagi.

Apalagi perempuan cantik di depannya ini adalah bakal isterinya, ia merasa tiada salahnya kalau…

Keruan Lim tay-ih terkejut dan gusar pula tangannya kembali menggampar muka Pwe-giok sambil membentak, “Kau gila! kau berani!”

Tapi Pwe-giok sama sekali tidak mengelak dan tetap membiarkan mukanya dihantam seperti tanpa terasa, sebaliknya matanya semakin merah dan menakutkan dan terus menubruk maju.

Baru sekarang Lim Tay-ih ingat muka anak muda itu masih terbalut kain, segera ia ganti menampar dengan satu pukulan tertuju ke dada Pwe-giok. Tak tersangka hantaman inipun tetap tak dapat mencegah tindakan buas anak muda itu.

Kini obat perangsang itu sudah menyebar, seluruh tubuh Pwe-giok serasa mau meledak, betapapun keras pukulan Lim Tay-ih bagi Pwe-giok rasanya seperti dipijat malah.

Keruan Tay-ih ketakutan, mendadak ia membalik tubuh terus lari.

Seperti orang gila Pwe-giok lantas mengejar.

Pemuda yang semula ramah tamah dan sopan santun ini sekarang sudah berubah seperti seekor binatang buas.

Kim-yan-cu yang berada di luar juga terkesiap oleh apa yang terjadi di dalam itu, meski sia tidak dapat melihat keadaan di dalam kamar batu itu, tapi dari suaranya ia dapat berteriak, “He, Ji Pwe-giok, apa yang kau lakukan?”

Tapi di dalam hanya terdengar suara dua orang berlari, kejar mengejar, suara napas terengah engah dan tiada jawaban.

Entah sebab apa, hati Kim-yan-cu serasa dibakar dan seakan akan meledak, mendadak ia berteriak, “Ji Pwe-giok, mengapa kau tidak menghendaki diriku dan menginginkan dia?”

Terdengar Pwe-giok menjawab dengan napas tersengal-sengal, “Sebab di… dia adalah..”

“Kau sendiri sudah menyatakan suka padaku, betul tidak?” teriak Kim-yan-cu dengan suara parau.

“Aku… aku memang… aku tidak…”

Lim-Tay-ih menjadi murka dan benci, teriaknya, “Kau orang gila, jika kau suka padanya, mengapa tidak kau cari dia saja?”

“Tidak, aku suka padamu, kau… kau adalah isteriku!” seru Pwe-giok

“Kentut! Memangnya siapa isterimu?” damprat Lim-Tay-ih dengan gusar.

Dalam pada itu Kim-yan-cu telah menanti di luar.

Keadaan ini sangat ruwet, siapapun tidak dapat membayangkannya, siapapun sukar menjelaskannya. Hubungan antara ketiga orang ini memang luar biasa, cinta dan benci memangnya sukar dijernihkan, tapi pada saat dan keadaan yang paling serba sulit inilah ketiga orang ini telah berkumpul di suatu tempat.

Apabila dipikir, sungguh di dunia ini tiada kejadian lain yang lebih gila, lebih aneh, lebih mustahil dan tidak masuk diakal. Dan semua ini justeru ditimbulkan oleh seorang yang mati.

Jenazah cantik Siau-hun-niocu didalam peti mati tampaknya lagi tersenyum puas.

Kim-yan-cu sedang menangis, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya menangis, daripada dikatakan dia berduka, kecewa, akan lebih baik kalau dikatakan dia merasa penasaran.

Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan kaget Lim Tay-ih, jeritan ini laksana sebatang jarum yang menusuk ulu hati Kim-yan-cu. Ia tahu akhirnya Lim Tay-ih telah berhasil ditangkap oleh Ji Pwe-giok.

Habis itu lantas terdengar suara rontaan, suara caci maki, suara keluhan, suara napas yang ngos-ngosan serta suara punggung dipukul, mendadak terdengar pula suara “bles” , habis itu lantas tidak terdengar apa-apa lagi.

Keheningan ini membikin Kim-yan-cu jauh lebih tersiksa daripada suara apapun, ia ingin menangis terlebih keras, tapi ingin menangispun tidak sanggup lagi.

Entah berapa lama ia termenung-menung di situ, mendadak terdengar suara kumandangnya orang berjalan. Kim-yan-cu bergirang, pikirnya, “Nah, jangan-jangan Pwe-giok datang menolong diriku?” Pada dasarnya Kim-yan-cu bukan perempuan yang berjiwa sempit, tapi rasa benci itu tidak sampai berlarut-larut.

Tak terduga, suara orang berjalan itu ternyata bukan datang dari dalam melainkan berkumandang dari luar gua.

Agaknya pada masa hidupnya Siau-hun-kiongcu sengaja ingin tahu setiap suara yang timbul dari luar maupun dalam gua, maka dia telah mengatur alat penyalur suara sedemikian pekanya sehingga suara yang lirihpun dapat terdengar.

“Giau-jiu-sam-long, kau memang tidak bernama kosong.” demikian terdengar suara seorang perempuan berseru dengan tertawa genit. “Bilamana tidak ku ajak kau ke sini, mungkin selama hidupku jangan harap akan dapat masuk ke sini.”

Suara perempuan ini terasa agak serak-serak bagus, tapi kedengaran manis dan memikat, perempuan yang bicara ini seolah-olah setiap detik, senantiasa bergaya genit dan bersikap manja.

Lalu suara seorang lelaki menanggapi dengan tertawa, “Dan tentunya kau tahu bukan aku sengaja membual bahwa kecuali kedua saudaraku, mungkin terlalu sulit bagi orang lain untuk masuk ke sini.”

“Hihi, lelaki pintar seperti kau ini pasti sangat disukai oleh anak perempuan,” demikian perempuan tadi berkata pula dengan tertawa genit. “Anehnya mengapa sampai sekarang kau belum lagi beristeri dan berumah-tangga.”

Lelaki yang disebut Giau-jiu-sam-long itu terbahak-bahak dan menjawab, “Masa perlu tanya lagi, aku kan sedang menunggu jawabanmu?”

Begitulah sembari bersenda gurau kedua orang itu lantas main cubit dan colek segala.

Apabila Pwe-giok berada di sini, tentu segera dapat dikenali suara itu adalah suara Gin-hoa-nio yang kabur dengan gusar meninggalkan Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio.

Tapi Kim-yan-cu tidak tahu siapa kedua orang ini, dia cuma merasa mereka memuakkan, celakanya dirinya sendiri justeru tak dapat berkutik, ingin menghindarpun tak bisa. Tentu saja Kim-yan-cu sekilas dan kuatir, ia berharap semoga pintu batu di luar telah dirusak oleh si kakek bercahaya perak, dengan demikian kedua orang ini tidak dapat masuk ke situ.

Didengarnya lelaki yang disebut Giau-jiu-sam-long itu mendadak bersuara kaget dan suara tertawanya lantas berhenti, katanya, “He, dinding ini mengapa berlubang, juga alat rahasianya hanya tertutup oleh pelat besi, apakah karena kuatir ada orang menerobos keluar dari dalam?”

Terdengar Gin-hoa-nio menanggapi dengan terkesiap, “Ya, mengapa di dalam bisa ada orang, padahal rahasia tempat ini oleh ayahku hanya diberitahukan kepada kami bertiga kakak beradik dan orang lain tidak ada yang tahu.”

“Tentu rahasia tempat ini sudah bocor.” ujar Giau-jiu-sam-long. “Tempat ini pasti sudah pernah didatangi orang. Dan orang yang mampu datang ke sini pasti bukan kaum lemah, kukira lebih baik kita…”

Dengan tertawa genit Gin-honio lantas memotong, “Biarpun yang datang ke sini bukan kaum lemah, tapi sam-siauya kita dari Ji-ih tong masa takut padanya?”

“Mana ku takut padanya?” ujar Giau-jiu-sam-long dengan tertawa. “Siapapun tidak kutakuti, aku cuma takut padamu, Apabila beberapa jurus kungfu tinggalan siau-hun-niocu itu berhasil kau yakinkan, wah, aku bisa keok.”

Gin-hoa-nio tertawa cekakak-cekikik, jawabnya, “Bila Kungfu siau-hun-niocu berhasil kuyakinkan, tujuanku kan juga untuk memuaskan kau?”

Ditengah suara tertawa kedua orang itu, “krek”, pintu sudah terbuka.

Seorang pemuda berbaju hijau pupus dan membawa cundrik terus melompat masuk, gerakannya ternyata sangat gesit, tapi mukanya kelihatan pucat, hidungnya besar membetet, pipinya kempot, bokongnya tepos, jelas potongan orang yang terlalu bekerja keras di waktu malam.

Namun begitu, sorot matanya ternyata tajam ia memandang sekeliling ruangan, lalu terbelalak ke arah Kim-yan-cu.

Kim-yan-cu juga melotot padanya, tapi tidak bersuara.

Mendadak Giau-jiu-sam-long tertawa, serunya, “He, lihatlah, di sini memang benar ada orang, bahkan seorang nona jelita, tapi entah Hiat tonya ditutuk siapa ?”

Dengan bersorak gembira Gin-hoa-nio memburu maju, pakaiannya ternyata cukup sopan, tapi kedua matanya sama sekali tidak kenal sopan, dia melirik genit dan berkata, “Ya, orang yang menutuk Hiat tonya mengapa tidak kelihatan?” Giau-jiu-sam-long mendekati Kim-yan-cu, dengan ujung kakinya dia menggelitik pinggang Kim-yan-cu dengan laku bangor. Keruan Kim-yan-cu gemas setengah mati. Tapi apa daya, sama sekali ia tak dapat bergerak.

Dengan cengar cengir, Giau-jiu-sam-long lantas berkata, “Nona cilik, siapakah yang menutuk Hiat-tomu? ai, orang ini keterlaluan, masa tidak kenal kasih sayang kepada nona jelita seperti kau ini, Eh, katakan saja kepadaku dimana dia nanti kuhajar dia untuk melampiaskan dendammu”

Gin-hoa-nio tertawa cekikikan, katanya, “adik yang baik, lekaslah kau beritahukan padanya, Sam-siauya (tuan muda ke tiga) kita ini maha pencinta, terutama terhadap anak perempuan yang cantik, bilamana ada anak perempuan cantik teraniaya, dia terlebih penasaran daripada siapapun juga”

“Eh, ucapanmu ini kok terasa berbau cuka (maksudnya cemburu)?” seru Giam-jiu-sam-long dengan tergelak. Gin-hoa-nio terus merangkul lehernya dan berkata, “Kalau aku tidak suka padamu apakah mungkin bisa cemburu?”

Hampir saja Giam-jiu-sam-long jatuh kelenger oleh rayuan itu, ucapnya dengan tertawa, “Sudah memiliki kau, masa ku perlu lagi mencari yang lain? Kedua pahamu…” Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong ia jatuh terkulai, sampai menjerit saja tidak sempat dan tahu sudah putus napasnya, malahan wajahnya masih tersenyum simpul, cara bagaimana matinya mungkin ia sendiripun tidak tahu.

Sebaliknya Gin-hoa-nio sama sekali tidak berkedip, ia pandang Kim-yan-cu, katanya dengan tertawa, “Lelaki macam begini, bila melihat perempuan matanya lantas hijau, biarpun matipun tidak perlu disayang. Tapi kalau bukan lantaran dirimu, sesungguhnya aku rada merasa berat untuk membunuhnya.”

“Lantaran diriku?” Kim-yan-cu menegaskan dengan terbelalak.

“Ai, Cici yang baik, meski kau tidak kenal diriku, tapi sekali kulihat bajumu ini segera kukenali kau,” ucap Gin-hoa-nio dengan suara lembut. “Bukankah kau ini pendekar wanita Kim-yan-cu yang termasyhur di dunia Kangouw itu?”

“Dan siapa kau?” tanya Kim-yan-cu.

Gin-hoa-nio menghela napas, jawabnya dengan rawan, “Aku adalah seorang anak perempuan yatim piatu yang sengsara…”

Kim-yan-cu bergelak tertawa dan menyela, “Kudengar kau bilang mempunyai saudara dan berayah, mengapa sekarang kau katakan yatim piatu dan sengsara?”

Biji mata Gin-hoa-nio berputar, tampaknya air matanya akan menetes, katanya, “Meskipun aku mempunyai ayah bunda dan saudara, tapi mereka… mereka sama benci padaku, akupun sendiri tidak mampu membuat mereka suka padaku, akupun tidak berani bertindak keji dan ganas seperti mereka,”

Hati Gin-hoa-nio rada lunak demi melihat mimik Kim-yan-cu yang memelas itu, namun dia tetap berteriak, “Dan kau sendiri, caramu membunuh orang barusan ini apakah tidak terhitung keji dan ganas?”

“O, tahukah betapa aku tersiksa olehnya hanya karena kuminta dia membawaku ke sini?” tutur Gin hoa-nio dengan suara gemetar. “Apabila tidak kubunuh dia, selama hidupku pasti akan selalu dianiaya olehnya.” Mendadak ia menjatuhkan diri ke pangkuan Kim-yan-cu dan menangis, katanya dengan tersendat, “O, Cici yang baik, coba katakan, apakah ini salahku?”

Hati Kim-yan-cu tambah lunak lagi, ia menghela napas gegetun, katanya, “Ya, betul, kau memang tidak dapat disalahkan. Ada sementara lelaki di dunia ini memang pantas kalau dibunuh.”

Sesungguhnya Kim-yan-cu memang tidak dapat menemukan alasan berdusta si nona jelita ini, sebab kalau orang bermaksud jahat padanya, bukankah sejak tadi sekali tabas saja sudah dapat membinasakan dia?

Nyata ia tidak tahu betapa jelimetnya jalan pikiran Gin-hoa-nio, hakekatnya seumur hidupnya jangan harap akan dapat menerkanya.

Walaupun sudah cukup pengalaman berkelana di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan Gin-hoa-nio, hakekatnya Kim-yan-cu seperti anak kecil berbanding orang tua.

Sekalipun Gin-hoa-nio telah menjualnya mungkin dia belum lagi mengetahui apa yang terjadi.

Sementara itu Gin-hoa-nio telah membuka Hiat-to Kim-yan-cu, katanya dengan tertawa manis, “Tak kuduga Cici akan memaklumi diriku secepat ini, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih padamu.”

“Kau telah menyelamatkan diriku, akulah yang harus berterima kasih padamu,” kata Kim-yan-cu.

Gin-hoa-nio menunduk, mendadak ia berkata pula, “Ada sesuatu pikiranku, entah mesti kukatakan atau tidak?”

“Mengapa tidak kau katakan saja?”

“Aku hidup sengsara sendirian, entah, … entah Cici sudi menerima diriku sebagai adik atau tidak?” ucap Gin-hoa-nio dengan rawan.

Kim-yan-cu melengak, serunya; “Kita.. kan baru saja kenal?”

Belum habis ucapannya, bercucuranlah air mata Gin-hoa-nio, katanya, “Kakak kandungku saja tidak sudi mengakui diriku, orang lain lebih lagi, ai, sungguh aku ini terlalu bodoh, aku. . .aku …” sampai di sini, menangislah dia dengan sedihnya.

Tanpa terasa Kim-yan-cu merangkulnya, ucapnya dengan suara lembut, “O, adik yang baik, siapa bilang aku tidak sudi mengakui kau sebagai adik? Cuma. . . . cuma kau harus memberitahukan lebih dulu siapa namamu?”

“Ai, aku ini memang pikun.,.” seru Gin hoa-nio dengan tertawa cerah. “Cici yang baik, terimalah hormat adikmu, Hoa Gin hong”

Habis berkata ia benar-benar memberi sembah hormat kepada Kim yan cu.

Cepat Kim yan cu membangunkannya, katanya dengan tertawa, “Aku Kim yan cu (walet emas) dan kau Gin hong hong (burung Hong perak), tampaknya kita menjadi seperti kakak adik sekandung.”

Padahal ia sendiri juga sebatang-kara, tidak punya sanak tidak punya kadang. Sekarang mendadak mendapatkan seorang adik secantik ini, dengan sendirinya iapun sangat gembira.

Ia tidak tahu bahwa adik perempuannya ini sesungguhnya bukanlah burung Hong segala, tetapi lebih tepat dikatakan “serigala betina” dan setiap saat dia bisa dicaploknya bulat-bulat.

Lantas untuk apakah sesungguhnya Gin hoa nio memikat Kim yan cu? mengapa dia sengaja mengangkat saudara dengan Kim yan cu? apa maksud tujuannya?

Semua pertanyaan ini, kecuali Gin hoa nio sendiri mungkin tiada seorangpun yang dapat menjawab.

0000ooo00

Gin hoa nio lantas mondar-mandir longak-longok di dalam ruangan ini, tampaknya sangat gembira, sama sekali ia tidak tanya cara bagaimana Kim yan cu datang ke sini dan siapa yang menutuknya.

Sebaliknya Kim yan cu sendiri tidak tahan, ia buka suara lebih dulu, “Meski benda mestika berada di sini tidaklah sedikit, tapi harta pusaka Siau hun niocu yang sebenarnya justru tersimpan di dalam sana.”

“Oooh di dalam sana masih ada kamar lain? ” tanya Gin hoa nio dengan mata terbelalak. Padahal sejak tadi dia sudah memperhitungkan di dalam sana pasti masih ada ruangan lain, kalau tidak, kemana perginya orang yang menutuk hiat-to Kim yan cu itu?

Dengan suara tertahan Kim yan cu lantas berkat, “Boleh kau ikut padaku, tapi harus hati-hati, tak perduli bertemu dengan siapa dan mengalami kejadian apa, hendaklah kau jangan bersuara, dapatkah kau turut kepada perkataanku?”

“Kalau adik tidak turut kepada perkataan kakak, habis mesti turut perkataan siapa?” jawab Gin hoa nio dengan tertawa.

Kim yan cu tertawa, di panggulnya lagi tutup peti besi itu, dia mulai menyembah lagi. Maklum ia merasa tidak mempunyai akal kecuali mengulangi resep semula.

Gin-hoa-nio hanya memandangi saja dengan diam, meski dalam hati merasa heran, tapi dia tidak banyak omong. Dalam keadaan bagaimana harus bicara dan dalam keadaan bagaimana kudu diam, baginya jauh lebih paham daripada orang lain.

Benar juga, kasuran batu itu meluncur masuk lagi ke balik dinding sana, sampai Gin-hoa-nio juga terkejut menyaksikan kejadian tak terduga itu. Didengarnya Kim-yan-cu lagi menjerit kaget berada di dalam sana.

Kiranya Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih sudah menghilang.

Pada detik sebelum dinding itu merapat kembali, secepat kilat Gin-hoa-nio ikut menyelinap masuk ke sana, melihat harta pusaka yang berserakan di situ, kejut dan girang pula Gin-hoa-nio. Sebaliknya Kim-yan-cu berdiri ter-mangu2 dan ber-ulang2 bergumam, “Kemana perginya mereka? Mengapa bisa menghilang?”

“Siapa yang hilang?” tanya Gin-hoa-nio.

Kim-yan-cu tidak menjawabnya, ia mengitari peti mati raksasa itu, mendadak dilihatnya lantai di belakang peti itu bertambah sebuah lubang, dua botol obat di dalam almari batu juga tertindih hancur lagi.

Meski dia tergolong anak perempuan yang polos dan masih ke-kanak2an, tidak paham liku2 dan kelicikan orang hidup, tapi hal ini ia tidak berarti dia orang bodoh. Setelah berpikir sejenak, segera ia dapat menerka apa yang telah terjadi, yakni tentunya Ji Pwe-giok berhasil menangkap Lim Tay-ih, keduanya terus bergumul dan Lim Tay-ih menindih pecah lagi dua botol obat sehingga dia sendiri juga sempat menghisap obat perangsang cinta itu, lantaran itulah dia tidak meronta dan tidak melawan lagi kehendak Ji Pwe-giok. Tapi ketika kedua orang itu bergumul, tanpa sengaja telah menyentuh tombol pesawat rahasia sehingga timbul sebuah lubang di bawah tanah, dalam keadaan pikiran me-layang2, tanpa sadar kedua orang lantas terjeblos ke bawah.

Lubang di bawah tanah itu ternyata gelap gulita, entah berapa dalamnya dan entah tempat apa di bawah sana.

Kim-yan-cu menjadi kuatir dan gelisah, mendadak ia berkata, “Kau tunggu di sini, biar ku turun ke bawah untuk melihatnya.”

Gin-hoa-nio melirik sekejap botol obat dan kitab yang berada di dalam almari batu itu, lalu berkata, “Hendaklah kau hati2, dengan susah payah aku mendapatkan seorang Cici, jangan sampai…”

“Jangan kuatir,” potong Kim-yan-cu, “Cici takkan mati.”

Ia mencoba merangkak ke dalam lubang, diketahuinya lubang ini tidak lurus ke bawah melainkan miring seperti tangga luncur. Tanpa pikir ia terus pejamkan mata dan membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah.

Ternyata di bawah lubang inilah benar2 ‘istana bahagia’ yang dimaksudkan dalam pesan Siau-hun-kiongcu itu.

Inilah sebuah gua batu yang luas, tampaknya gua alam dan tidak mengalami perubahan oleh tangan manusia. Mutiara dan batu permata berserakan dan memancarkan cahaya sehingga kelihatan dinding batu yang berbentuk aneh melebihi ukiran.

Di pojok sana ada sebuah tempat tidur yang indah dan di samping tempat tidur ada sebuah meja kecil yang berbentuk aneh dan di atas meja ada sebuah piala emas dan bokor kemala.

Tempat dimana Kim-yan-cu jatuh itu adalah sebuah kolam yang besar, cuma sekarang kolam itu kering tanpa air sehingga kelihatan berbagai ukiran di tepi kolam, ukiran yang menggambarkan adegan main cinta yang merangsang.

Kini di gua ini sunyi senyap, tapi dapat dibayangkan dahulu tempat ini pasti selalu dalam suasana gembira ria. Kini meski di tempat tidur itu tiada terdapat seorang pun, tapi dapat diduga dahulu selalu berbaring sepasang muda-mudi yang gagah dan cantik. Isi bokor itu pasti santapan yang paling lezat di dunia ini dan isi piala emas itu pasti juga arak yang paling sedap.

Seorang kalau meluncur dari atas ke bawah dan terperosot ke kolam mandi itu serta melihat “pemandangan indah” di sekitarnya, bukankah sama halnya terjatuh ke surga yang hangat dan bahagia.

Akan tetapi disinipun Kim-yan-cu tetap tidak melihat Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih.

Ia coba mengitari ruangan gua ini, akhirnya ditemukan di balik batu dinding yang menonjol sana samar2 seperti ada cahaya yang menembus masuk dari luar. Kiranya di sinilah jalan keluarnya. Jelas Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih telah pergi.

Padahal Ji Pwe-giok sendiri yang menutuknya dan jelas dia masih terkurung di ruangan sana, tapi sekarang pemuda itu tinggal pergi begitu saja tanpa menghiraukan dia. Seketika Kim-yan-cu berdiri terkesima dengan air mata bercucuran.

“Cici, kau baik2 bukan?” terdengar Gin-hoa-nio berseru di atas.

Dengan menahan kesedihannya, Kim-yan-cu berseru, “Semuanya baik2, boleh kau turun saja kemari!”

Dia mengusap air matanya, ia bertekad melupakan apa yang terjadi di sini, apa yang dialaminya ini biarkan seperti mimpi buruk saja dan takkan dipikir lagi, iapun tidak ingin memikirkan Ji Pwe-giok pula.

Cuma sama sekali tak terpikir olehnya bahwa Lim Tay-ih pasti membenci Ji Pwe-giok sampai merasuk tulang, mana bisa nona itu pergi bersama Ji Pwe-giok, cinta dan benci di antara mereka yang sukar dijernihkan itu mana bisa terselesaikan semudah itu?

* * *

Di luar gua sang surya yang baru terbit sedang memancarkan cahayanya yang gemilang, bunga hutan yang tak diketahui namanya sedang mekar mewangi diembus oleh silir angin pagi.

Gin-hoa-nio lagi sibuk mengusungi harta karun di dalam gua itu, satu peti demi satu peti diangkutnya keluar.

Kim-yan-cu menghela nafas rawan, katanya, “Lihatlah butiran embun di kelopak bunga itu, mana ada mutiara di dunia ini yang lebih indah dari-padanya?”

“Tapi mutiara dapat membuat hidup manusia merasa bahagia dan mendatangkan hormat dan tunduknya orang lain, sedangkan butiran embun mana ada daya tarik sebesar itu?” ujar Gin-hoa-nio.

Kim-yan-cu menatap jauh ke langit, memandangi gumpalan awan, katanya pula, “Tapi kau pun jangan lupa, di dunia inipun ada barang yang tak dapat ditukar dengan mutiara.”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Cici, jangan2 engkau menanggung sesuatu kedukaan?”

Kim-yan-cu menghela nafas dan tidak bicara lagi.

“Cici, kau tunggu sebentar di sini, segera ku balik lagi,” seru Gin-hoa-nio sambil berlari pergi.

Kim-yan-cu benar2 menunggunya dengan melamun di situ. Tidak sampai satu jam, Gin-hoa-nio kelihatan kembali dengan membawa tiga buah kereta sewaan ditambah dua ekor kuda.

Ketiga sais kereta itu melotot heran membantu Gin-hoa-nio mengusung semua peti2 itu ke atas kereta, tapi tiada satupun yang berani tanya. Asalkan lelaki, tentu Gin-hoa-nio punya akal untuk membuatnya menurut.

Sebuah sungai mengalir ke bawah melingkari lereng bukit.

Kim-yan-cu menunggang kuda mengikuti laju kereta menyusur jalan di tepi sungai. Tidak jauh tiba2 dilihatnya di permukaan sungai ada sepotong kain putih yang tersangkut di batu, masih kelihatan bekas darahnya ketika Kim-yan-cu mengangkat kain itu dengan sepotong kayu. Jelas itulah kain pembalut kepala Ji Pwe-giok.

Nyata anak muda itu pernah berhenti di tepi sungai ini untuk membuka kain pembalut dan mencuci muka. Bisa jadi iapun bercermin pada air sungai untuk melihat wajah sendiri. Setelah mengetahui muka sendiri yang sudah rusak itu, entah bagaimana perasaannya?

Lalu dimanakah saat itu Lim Tay-ih? Apakah dia hanya memandanginya di samping? Apakah dia tidak benci lagi kepada anak muda itu dan telah mengakui dia adalah bakal suaminya? Apakah Ji Pwe-giok ini sama orangnya dengan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu?

Tapi Ji Pwe-giok yang itu bukankah jelas2 sudah mati? Banyak orang yang menyaksikan jenazahnya, masa bisa palsu?

Dengan gemas Kim-yan-cu membuang kain putih itu dan melompat lagi ke atas kudanya, diam2 ia menggerutu, “Aku sudah bertekad tidak mau memikirkannya lagi, kenapa sekarang kupikirkan dia pula?”

Gin-hoa-nio seperti tidak melihat apapun, iapun tidak tanya Kim-yan-cu. Sebaliknya Kim-yan-cu juga tidak tanya dia kemana iringan kereta ini akan menuju?

Yang pasti iringan kereta itu dilarikan ke arah barat daya, agaknya menuju ke provinsi Sujwan.

Banyak juga kawan orang Kangouw di sepanjang jalan ini, ada yang dari jauh sudah melihat pakaian Kim-yan-cu yang kuning keemasan dan gemilapan, lalu cepat2 menghindar dengan membelok ke jalan lain, kalau kepergok paling2 juga cuma menyapa dari jauh. Seharian sedikitnya ada 40 orang yang kenal Kim-yan-cu, tapi tiada seorangpun yang berani mendekat untuk mengajaknya bicara.

Terkadang Kim-yan-cu ingin bertanya kepada mereka apakah melihat seorang pemuda yang mukanya terluka bersama seorang anak perempuan cantik. Tapi niat itu selalu urung dikemukakan.

Dengan tertawa Gin-hoa-nio berkata, “Menempuh perjalanan bersama Cici sungguh sangat senang, siapapun tak berani mengganggu kita. Coba kalau dua anak perempuan biasa menempuh perjalanan sejauh ini bersama tiga buah kereta besar, mustahil kalau di tengah jalan tidak banyak mendapat rintangan.”

Belum habis ucapannya, tiba2 dari belakang seorang penunggang kuda memburu datang dengan cepat. Penunggang kudanya tampak berwajah cakap dan gagah dengan baju perlente, sebilah golok pendek dengan gagang golok penuh berhias mutiara terselip di tali pinggangnya. Ternyata Sin to Kongcu adanya.

Hanya memandangnya sekejap Kim-yan-cu lantas melengos ke arah lain seperti tidak kenal saja. Sebaliknya Sin-to Kongcu tampak sangat senang melihat si nona, segera ia berucap setengah mengomel, “Adik Yan, mengapa kau pergi tanpa pamit, susah payah kucari dirimu.”

“Siapa suruh kau cari diriku?” jawab Kim-yan-cu dengan muka bersungut.

Sin-to Kongcu melengak, katanya dengan tergagap. “Habis cari… cari siapa kalau aku tidak mencari kau?”

“Peduli siapa yang akan kau cari,” jengek Kim-yan-cu. “Setiap orang di dunia ini boleh kau cari, kenapa kau mencari diriku?” “Plak”, ia tepuk perut kudanya dan dilarikan jauh ke depan.

Sama sekali Sin-to Kongcu tidak menyangka sikap Kim-yan-cu padanya akan berubah 180 derajad, semula ia kegirangan setengah mati karena dapat menemukan kembali si nona, siapa tahu kepalanya seperti diguyur air dingin, seketika ia menjadi melenggong.

Gin-hoa-nio mengerling genit dan mendekati Sin-to Kongcu, desisnya, “Hati Ciciku selama dua hari ini lagi kesal, ada urusan apa boleh kau bicarakan nanti saja.”

“Cicimu?” Sin-to Kongcu menegas dengan terbelalak.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka mempunyai adik perempuan seperti diriku?” ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Baru sekarang Sin-to Kongcu memandangnya lebih seksama dan melihat jelas senyum genitnya yang menggiurkan, melihat kerlingan matanya yang membetot sukma. Mendadak ia terkesima dan tidak dapat bicara lagi.

Perlahan Gin-hoa-nio mencubit pinggang Sin-to Kongcu, katanya dengan tertawa genit, “Jika kau ingin menjadi Cihuku (kakak iparku), maka perlu kau menyanjung diriku dan turut kepada perkataanku.” Habis berkata ia terus membedal kudanya ke depan, mendadak ia menoleh dan memicingkan matanya dan berseru, “Hayolah, mengapa tidak kau ikut kemari?”

Benar Sin to Kongcu lantas ikut ke sana dengan sangat penurut, rasa gusarnya tadi seketika lenyap tanpa bekas.

Menjelang lohor sampailah mereka di Gak keh tin, suatu kota kecil, di sini mereka istirahat dan makan siang.

Gin hoa nio memesan santapan dan arah, ditariknya Kim yan cu dan Sin to kongcu agar berduduk bersama, diam-diam ia bisik-bisik ke sini dan kasak-kusuk kesana sambil tertawa cekakak-cekikik.

Sin to kongcu yang pecinta itu seakan-akan melupakan Kim yan cu, kalau Gin hoa nio tertawa iapun ikut tertawa, bila Gin hoa nio mengerling, sayuran yang disumpitnya hampir kesasar masuk hidungnya.

Mendadak Gin hoa nio mencabut golok pendek di pinggang Sin to Kongcu, katanya dengan tertawa, “Wah, memang engkau tidak malu bernama Sin to Kongcu, golokmu memang golok pusaka.”

Sin to Kongcu menjadi senang, serunya dengan tertawa, “Kau tahu, berapa banyak golok dan pedang kaum ahli kangouw yang patah oleh golok pusakaku ini?”

Seperti tidak sengaja Gin hoa nio memegang tangan Sin to Kongcu, ucapnya dengan lagak manja, “Ai, kenapa tidak lekas kau katakan, ada berapa banyak seluruhnya?”

Gin hoa nio menatapnya lekat-lekat seperti tidak kepalang kagumnya dan sangat memujanya, genggamannya tambah erat seolah-olah tidak mau melepaskannya, katanya dengan tersenyum menggiurkan, “Didampingi orang seperti kau, sungguh apapun tidak perlu kutakuti lagi.”

Jantung Sin to Kongcu berdetak keras seakan-akan melompat keluar dari rongga dadanya, sungguh ia menjadi bingung dan entah apa pula yang harus diucapkannya.

Meski Kim yan cu tidak mengacuhkan Sin to Kongcu, tapi melihat sikapnya yang linglung dan lupa daratan itu, seketika ia naik darah. Maklumlah di dunia ini tiada anak perempuan yang tidak cemburu bila melihat pemuda yang pernah tergila-gila padanya mendadak menaruh perhatian kepada anak perempuan lain.

Soal dia sendiri suka atau tidak terhadap anak muda ini adalah urusan lain, tapi dia tidak tahan bila lelaki ini membuat malu padanya. Akhirnya Kim-yan-cu berbangkit dan tinggal pergi dengan gemas.

Mau tak mau Sin-to kongcu merasakan gelagat tidak baik, cepat ia meng-ada2, katanya dengan tertawa, “eh, apakah kau masih ingat kepada Ji Pwe-giok itu ?”

Nama “Ji Pwe Giok” seolah-olah sebuah kaitan yang dapat seketika menyantol kaki Kim-yan-cu dan membuatnya sukar melangkah lagi. Dia berhenti di ambang pintu, setelah detak jantungnya agak mereda barulah dia berkata dengan dingin, “Bukankah Ji Pwe-giok itu sudah mati ?”

“Sudah mati satu, sekarang muncul satu lagi!” kata Sin-to Kongcu.

Gemetar Kim-yan-cu, ia pegang cagak pintu dan sedapatnya berlagak tak acuh, namun betapapun air mukanya sukar menutupi perasaannya. Ia pun tidak berani berpaling, iapun tidak melihat betapa lebih hebat perubahan air muka Gin-hoa-nio ketika mendengar nama Ji Pwe-giok.

Kim-yan-cu tidak bersuara, tapi Gin-hoa-nio lantas berteriak, “Jadi kau kenal kedua Ji Pwe Giok itu ?”

“Kedua orang ini memang seluruhnya pernah kulihat, Hmmm, masa kukenal orang macam begitu ?” jengek Sin-to Kongcu.

Gin-hoa-nio mengerling genit, ucapnya dengan tertawa, “Konon Ji Pwe-giok yang mati itu adalah putera Bu-lim-bengcu sekarang, bukan saja mukanya tampan, perangainya juga halus, entah Ji Pwe-giok yang hidup ini apakah bisa menandingi dia?!”

Muka Sin-to Kongcu menjadi merah padam saking genasnya, jengeknya “Hmm, kalau bicara tentang rupa, memang tampang Ji Pwe-giok yang sudah mati itu tidak secakap yang masih hidup ini. Tapi soal kehalusan perangai, kukira keduanya tidak banyak berbeda.”

Dia sengaja merendahkan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu seolah-olah tidak laku sepeserpun. Ia tidak tahu bahwa saat ini hati Kim-yan-cu seluruhnya sudah beralih kepada Ji Pwe-giok yang hidup ini, lebih-lebih mimpipun tak terpikir olehnya bahwa kedua Ji Pwe-giok itu sebenarnya adalah satu orang yang sama.

Gin Hoa-nio tertawa terkikik-kikik, katanya, “O, apakah Ji Pwe-giok yang ini juga pemuda tampan ?”

Sin-to Kongcu melototi bayangan punggung Kim-yan-cu dan berteriak, “Ji Pwe-giok yang ini memang tidak perlu malu diberi julukan pemuda tampan. meski entah oleh siapa mukanya telah disayat, tapi toh masih tetap jauh lebih cakap daripada yang sudah mati itu.”

Ucapan Sin-to kongcu ini sebenarnya dimaksudkan untuk membikin dongkol Kim-yan-cu, tak tersangka Gin-hoa-nio yang menjadi gregetan, saking khekinya sampai ia tidak dapat bersuara dan tidak dapat tertawa pula.

Diam-diam Kim-yan-cu terkesiap dan juga senang, gumamnya, “Kiranya Ji Pwe-giok yang ini bukan orang yang sama dengan Ji Pwe-giok yang itu, iapun bukan bakal suami Lim Tay-ih, kiranya luka di mukanya tidak parah dan tidak menjadi buruk rupa.”

Sin-to Kongcu sangat mendongkol, teriaknya, “Kau bilang apa?”

Dengan tak acuh Kim-yan-cu menjawab, “Sebenarnya ada beberapa persoalan yang sukar kupahami, terima kasih atas keteranganmu.”

“Aku…aku tidak paham maksudmu!?” kata Sin-to Kongcu.

“Lebih baik kau tidak paham,” ujar Kim-yan-cu.

“Eh, dimana kau melihat dia? sungguh kamipun ingin menemuinya,” tiba-tiba Gin-hoa-nio bertanya dengan tertawa.

Sin-to kongcu menarik napas, jawabnya, “Kemarin malam kulihat dia satu kali, waktu itu aku tidak tahu iapun bernama Ji Pwe-giok, aku tidak memperhatikan dia, tapi kukenal anak perempuan yang bersama dia itu.”

Mata Gin-hoa-nio terbelalak, ia menegas, “Hanya seorang anak perempuan yang bersama dia?”

“Memangnya satu tidak cukup?” jengek Sin-to Kongcu.

“Budak hina, sampai kakak sendiri juga disingkirkan dan mengangkanginya sendiri,” ucap Gin-hoa-nio dengan gemas. Sudah tentu menurut keyakinannya anak perempuan yang mendampingi Ji Pwe-giok itu pasti Thi-hoa-nio adanya.

Tak terduga Sin-to Kongcu lantas berkata pula dengan tertawa, “Sungguh lucu kalau kuceritakan, perempuan itu sebenarnya adalah bakal isteri Ji Pwe-giok yang sudah mati itu, setelah Ji Pwe-giok mati, baru sebentar saja ia sudah kecantol oleh Ji Pwe-giok yang baru ini…”

“Siapakah perempuan yang kau maksudkan itu?” sela Gin-hoa-nio dengan melengak.

“Dengan sendirinya puteri Leng-hoa kiam yang bernama Lim Tay-ih itu, memangnya kau kira siapa?” jawab Sin-to Kongcu.

Mendadak Gin-hoa-nio bergelak tertawa, serunya, “Ha..ha..ha…, bagus, bagus! Kiranya dia telah berganti pacar dan juga she Lim. Wah, agaknya orang ini memang seorang maha pecinta, di mana-mana ada pacar!”

Teringat Thi-hoa-nio juga telah didepak oleh Ji Pwe-giok, gembira sekali tertawanya.

—–

Muslihat keji apa di balik pikatan Gin-hoa-nio yang mengaku-aku Kim-yan-cu sebagai cici dan kemana akan mereka bawa harta karun tinggalan Siau-hun-kiongcu?

Kemana pula menghilangnya Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: