Kumpulan Cerita Silat

19/05/2010

Renjana Pendekar – 09

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:07 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Asep_ay, Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Ipan, dan Pheol)

Pwe-giok gelagapan dan tak dapat menjawab, bilang suka terasa tidak tepat, bilang tidak suka juga terasa tidak betul. Ia menjadi kelabakan, ia merasa untuk menjawab pertanyaan nona ini jauh lebih sukar daripada berbuat apapun.

Thi Hoa-nio menatapnya tajam-tajam, katanya pula:

“Kalau suka bilang suka, kalau tidak jawab saja tidak suka, kenapa tidak berani menjawab ?”

“Sudah…sudah tentu suka,” akhirnya tercetus juga jawabannya.

“Dan kau menghendaki aku turut perkataanmu,” tanya Thi Hoa-nio pula dengan tersenyum. Nona yang jahil ini semakin aneh pertanyaannya.

Dengan menyengir Pwe-giok menjawab:

“Memikirkan diri sendiri saja tidak sempat, mana berani kuharapkan nona menurut kepada perkataanku ?”

“Asalkan kau menghendaki demikian, tentu aku akan menurut,” ucap Thia Hoa-nio dengan suara lembut.

“Tapi…tapi aku…” Pwe-giok tergagap-gagap pula.

“Apakah kau menghendaki aku membunuh orang ?”

“O, aku tidak bermaksud begitu,” jawab Pwe-giok.

“Jika begitu, kau cuma ingin ku turut kepada perkataanmu saja ?”

Pwe-giok menghela nafas dan terpaksa mengiakan.

Mendadak Thi Hoa-nio melonjak bangun dan mencium satu kali di pipinya, lalu berlari pergi dengan tertawa genit.

Menyaksikan menghilangnya bayangan si nona di luar pintu, Pwe-giok berguman sendiri:

“Aneh, mengapa mendadak dia kegirangan begitu ? Apakah dia menyangka aku telah menyanggupi sesuatu kepadanya ?”

Teringat kepada Tong Kongcu yang digoda mereka, tanpa terasa Pwe-giok jadi ngeri sendiri.

Selama beberapa hari ini, meski keadaannya semakin sehat, tapi tetap dirasakan lemas tak bertenaga, lesu dan lelah, ia melamun hingga lama dan akhirnya terpulas tanpa terasa.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, ketika mendadak dirasakannya sesosok tubuh yang halus dan lunak menyusup ke dalam selimutnya, pelahan-lahan orang itu menggigit samping lehernya serta meniup hawa di telinganya.

Pwe-giok terjaga bangun, namun lampu sudah padam, apapun tidak kelihatan, hanya dirasakan gumpalan tubuh yang lunak dalam pelukannya dengan bau yang harum sedap dan membuat jantung berdetak keras.

“He, sia…siapa kau ?” seru Pwe-giok.

Orang yang berbaring disampingnya tidak menjawab, tapi lantas membuka bajunya serta merangkulnya, jari-jemari yang halus itu meraba perlahan sekujur badannya.

Pwe-giok tahu orang yang menyerahkan diri ke dalam pelukannya ini pasti Thi Hoa-nio adanya dan tidak mungkin orang lain. Ia merasa detak jantungnya bertambah keras, dengan menahan perasaan ia berkata:

“Jika kau benar-benar menurut perkataanku, hendaklah lekas kau keluar !”

Tapi orang di sebelahnya tertawa genit dan menjawab:

“Siapa mau turut kepada perkataanmu ? Justru kuharap kau yang turut kepada perkataanku, sayang…” suara yang setengah tertahan dan rada serak itu penuh daya tarik dan godaan.

“Hei, kau, Gin Hoa-nio !” seru Pwe-giok kaget.

“Ya, makanya kau harus turut kepada perkataanku, pasti takkan ku kecewakan kau,” kata Gin Hoa-nio dengan lembut.

Tenaga Pwe-giok saat ini ternyata lenyap tanpa bekas, ia tertindih di bawah hingga hampir tak dapat bernapas, jantungnya berdetak-detak keras dan mandi keringat.

“Maukah kau menyalakan lampu ?” kata Pwe-giok mendadak.

“cara begini saja apakah kurang baik ?” tanya Gin Hoa-nio

“Aku ingin melihat dirimu,” jawab Pwe-giok.

Gin Hoa-nio tertawa cekikikan, katanya:

“Sungguh tidak nyana kau ternyata sudah berpengalaman dan ahli. Baiklah akan kuturuti kehendakmu.”

Dengan kaki telanjang Gin hoa-nio lantas melompat turun dari tempat tidur, digerayanginya batu api untuk menyalakan lampu. Di bawah cahaya lampu itu tertampak jelas potongan tubuhnya yang menggiurkan.

“Kau mau lihat, silahkan lihatlah sepuasmu !” katanya dengan tertawa sambil melirik genit kepada Pwe-giok.

Tapi anak muda itu lantas mendengus:

“Hm, memang ingin kulihat betapa bejatmu, betapa kau tidak kenal malu ? Hm, kau kira kau sangat cantik ? bagiku justru memualkan !”

Selama hidup Pwe-giok belum pernah mengucapkan kata-kata sekeji ini, apalagi terhadap seorang perempuan. Tapi sekarang ia sengaja hendak memancing kemarahan Gin Hoa-nio, maka dipilihnya kata-kata yang paling menyakitkan hati dan dilontarkan langsung:

Benarlah senyum yang menghiasi wajah Gin Hoa-nio seketika lenyap, mukanya yang bersemu merah seketika berubah menjadi kelam, lirikan yang menggoda juga memancarkan sinar buas, teriaknya dengan suara parau:

“Kau… kau berani mempermainkan diriku ?!”

Kuatir orang akan menggodanya lagi, Pwe-giok lantas mencaci maki sekalian:

“Sekalipun kau tidak tahu malu, seharusnya kau berkaca dulu agar kau tahu…”, makin menyakitkan hati makiannya, biarpun perempuan yang sedang dirangsang napsu birahi juga pasti akan dingin seketika.

Bibir Gin Hoa-nio sampai pucat, teriaknya dengan suara gemetar:

“Memangnya kau kira kau sendiri ini lelaki cakap ? Hmm, justru ingin kulihat berapa lama kecakapanmu ini akan bertahan ?”

Mendadak ia menyambar sebilah golok yang tergantung di dinding dan menerjang ke depan tempat tidur, dicekiknya leher Pwe-giok sambil menyeringai:

“Sekarang juga akan ku bikin kau berubah menjadi lelaki yang paling buruk di dunia ini, agar setiap perempuan di dunia ini akan mual bila melihat tampangmu. Akan kulihat apakah kau masih bisa jual tampang atau tidak ?”

Segera Pwe-giok merasakan mata golok yang dingin menggores di pipinya, akan tetapi dia tidak merasakan sakit, sebaliknya merasakan semacam kesadisan yang menyenangkan, ia malah bergelak tertawa.

Gin Hoa-nio menyaksikan muka yang tiada cacat itu telah robek di bawah mata goloknya, darah tertampak mengucur dari wajah yang pucat itu. Seketika Gin Hoa-nio merasakan tangannya gemetar, sayatan kedua sukar dilakukannya lagi.

Maklum, bilamana seorang harus merusak hasil seni yang indah, betapapun memang bukan pekerjaan mudah.

Tapi Pwe-giok lantas melotot, teriaknya dengan tertawa:

“Hayolah, turun tangan lagi ? Mengapa berhenti ? Muka ini bukan milikku, jika kau rusak justru kurasakan sebagai suatu pembebasan bagiku, aku malah berterima kasih padamu dan takkan sakit hati.”

Kulit daging yang tersayat itu jadi merekah akibat tertawa Pwe-giok itu, darah mengucur lebih deras, tapi sorot matanya juga mengandung semacam pembebasan yang latah.

Gin Hoa-nio merasa keringat dinginnya telah membasahi gagang goloknya, dengan suara histeris ia berteriak:

“Biarpun kau tidak sakit hati, tapi ada orang lain yang akan merasa sakit. Jika tak dapat ku peroleh kau, biarlah kuhancurkan kau, ingin kulihat apakah dia tetap suka kepada orang gila bermuka buruk macam kau ?”

Mendadak iapun bergelak tertawa seperti orang gila, sayatan kedua akhirnya dilakukan pula.

Sekonyong-konyong “Blang”, pintu didobrak orang, Thi Hoa-nio menerjang masuk dan merangkul pinggang Gin Hoa-nio terus diseretnya mundur sambil berteriak-teriak:

“Toaci, lekas kemari, jici sudah gila !”

Gin Hoa-nio meronta-ronta dan menyikut Thi Hoa-nio, teriaknya dengan tertawa:

“Aku tidak gila, tapi kekasihmu itulah yang gila. Dia bilang mukanya itu bukan miliknya, biarlah kuberikan si gila ini padamu, sekarang diberikan secara gratis padaku juga aku tidak mau.”

Selagi Pwe-giok, Gin Hoa-nio dan Thi Hoa-nio berebutan begitu, datanglah Kim Hoa-nio, ia kaget melihat muka Pwe-giok berdarah, teriaknya, “He.. apa yang kau lakukan?”

Gin-hoa-nio tertawa, teriaknya parau “Akulah yang melakukannya, apakah.. apakah kau pun merasa sakit…” Belum habis ucapannya, “plok”, mukanya telah digampar sekali oleh Kim-Hoa-nio.

Mendadak suara tertawanya berhenti, suasana yang ribut seketika berubah menjadi hening pula.

Thi Hoa-nio melepaskan pegangannya dan Gin Hoa-nio mundur selangkah sambil meraba pipinya, sorot matanya memancarkan sinar yang buas, teriaknya gemetar, “Kau pukul aku! Kau berani pukul aku?”

“Mengapa kau berbuat demikian?” tanya Kim Hoa-nio.

Gin Hoa-nio berteriak sambil berjingkrak, “Mengapa aku tidak boleh berbuat begitu? Kau hanya tahu losam ( ketiga, maksudnya Thi Hoa-nio ) suka padanya, tapi apakah kau tahu bahwa akupun suka pada nya? Kalian sudah mempunyai pilihan sendiri-sendiri, mengapa aku tidak boleh memilihnya pula?”

“Bu… Bukankah kau benci padanya?” Tanya Kim Hoa-nio dengan melengak.

“Betul, kubenci dia, akupun benci padamu,” teriak Gin Hoa-nio dengan parau. “Kau hanya tahu usia losam sudah besar dan perlu mencari lelaki. Tahukah kau bahwa usiaku lebih tua daripada dia, apakah aku tidak menginginkan lelaki?”

Sejenak Kim Hoa-nio tertegun, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Sungguh tak terpikirkan olehku bahwa kau masih memerlukan bantuanku untuk mencarikan lelaki bagimu. Kan sudah.. sudah banyak lelakimu. Masa masih perlu dicarikan orang?”

Mendadak Gin Hoa-nio meraung dan mendadak menerjang keluar.

Terdengar suaranya yang semakin menjauh. “Kubenci padamu, kubenci kepada kalian.. kubenci semua orang di dunia ini, kubenci … hendaklah semua orang di dunia ini mampus seluruhnya!”

Kim Hoa-nio berdiri termangu-mangu, sampai lama ia diam saja.

Thi Hoa-nio lantas mendekati tempat tidur, melihat wajah Pwe-giok yang rusak itu, menangislah dia.

Sebaliknya Pwe-giok malah bersikap tenang, gumamnya, “Di dunia ini tiada sesuatu yang kekal, tiada sesuatu yang sempurna, anehnya logika ini kenapa tidak dipahami oleh Ko-lothau? Saat ini bila dia melihat diriku, entah bagaimana pula perasaannya..”

Mendadak ia merasa geli dan tertawa terbahak-bahak. Akhirnya ia merasa terbebas dari suatu beban yang berat, hati terasa lega sekali.

Thi Hoa-nio berhenti menangis, ia pandang anak muda itu dengan terkesiap, apa yang dipikir Pwe-giok dengan sendirinya tak diketahuinya, siapapun tak dapat memahaminya.

0000

Tiga hari kemudian, Pwe-giok merasa sebagian tenaganya sudah pulih, tapi mukanya sekarang penuh terbalut kain perban, yang kelihatan hanya hidungnya, matanya dan sebagian mukanya.

Kim Hoa-nio dan Thi Hoa-nio memandangi dia dengan penuh rasa menyesal dan pedih.

Akhirnya Kim Hoa-nio berkata, “Apakah benar kau hendak pergi?”

“Saat kepergianku sudah lama lalu,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

Mendadak Thi Hoa-nio menubruk maju dan merangkulnya erat-erat sambil berseru, “Kau jangan pergi! Bagaimanapun kau berubah, tetap… tetap sama baiknya aku terhadapmu.”

“Jika betul kau baik padaku seharusnya kau lepaskan aku pergi,” kata Pwe-giok dengan tertawa. “Seorang kalau tidak dapat bergerak bebas, lalu apa artinya hidup ini baginya?”

“Tapi, sedikitnya, harus kau perlihatkan kepada kami betapa kau telah berubah?” kata Kim Hoa-nio dengan pedih.

“Betapapun perubahan diriku, aku tetap aku,” kata Pew giok.

Pelahan ia mendorong Thi Hoa-nio, lalu berbangkit. Katanya pula mendadak dengan tertawa, “Tahukah kalian, sepergiku dari sini urusan apa yang akan kulakukan pertama-tama?”

“Jangan-jangan akan mencari Jimoay yang kejam itu?” Kata Kim Hoa-nio.

“Aku memang hendak mencari satu orang, tapi bukan dia yang kucari,” jawab Pwe-giok dengan tertawa.

“Habis siapa yang kau cari?” Tanya Thi Hoa-nio sambil mengusap air matanya.

“Jika kalian mau berduduk saja di sini dan membiarkan ku pergi sendiri, inipun sudah cukup sebagai tanda terima kasih padaku,” kata Pwe-giok. Lalu ia melangkah keluar tanpa menoleh.

Ternyata Kim Hoa-nio dan Thi Hoa-nio juga tidak menguntitnya, air mata mereka sudah berderai.

Hati Pwe-giok terasa lega. Tiada sesuatu yang terpikir dan juga tidak perlu menyesal terhadap seseorang, jika memang tidak pernah merugikan atau mengingkari orang lain, maka air mata orang lainpun tak dapat mempengaruhi dia.

Dia membuka pintu ruangan di bawah tanah dan menyingkap lukisan itu, cahaya matahari di waktu senja menyinari mukanya, meski senja belum tiba, namun sudah dekat magrib.

Agar tidak silau ia angkat sebelah tangannya untuk mengalingi sinar matahari, tangan yang lain digunakan merapatkan pintu. Sekonyong-konyong kedua tangannya terjulur lemas ke bawah, kakipun terasa berat untuk melangkah.

Ternyata di ruangan luar ini tergantung sebaris orang di belandar, semuanya sudah mati. Darah segar masih menetes, agaknya darah mereka belum lagi beku. Leher tiap-tiap orang itu sama tertembus, lalu lubang yang tembus itu dicocok dengan tali dan digantung mirip ayam panggang. Orang yang paling depan jelas tuan rumah di sini.

Apa yang terjadi ini jelas baru berlangsung sore tadi, sebab siangnya tuan rumah yang ramah ini pernah masuk ke ruangan bawah tanah dan mengantar santapan.

Orang sebanyak itu terbunuh sekaligus, tapi di ruangan dalam sedikitpun tidak mendengar, jelas tindakan si pembunuh sangat gesit, cekatan dan juga keji.

Pwe-giok berdiri termangu sejenak, ia ingin masuk kembali ke ruangan dalam, tapi sekilas pikir ia berganti haluan, segera melangkah keluar ruangan besar itu.

Sekalipun dalam hatinya rada was-was, tapi orang lain tidak dapat mengetahui perasaannya, waktu ia lalu di barisan orang mati itu, dia anggap seperti lalu di samping sederetan pohon saja.

“Siapa itu? Berhenti!” mendadak seorang membentak.

Seketika Pwe-giok berhenti, tak terlihat rasa kagetnya sedikitpun, juga tiada tampak rasa gugup atau rasa terpaksa, seperti sudah tahu sebelumnya bakal dibentak orang begitu.

“Kemari Kau” bentak orang itu pula.

Segera Pwe-giok berputar dan melangkah ke sana, maka dapatlah dilihatnya orang yang baru keluar dari pintu sana adalah Kim yan cu, si walet emas.

Meski dirasakannya agak di luar dugaan, tapi sikapnya tidak berubah, sebaliknya Kim Yan cu tampak penuh rasa kejut dan heran, bentaknya pula dengan bengis, “kau keluar dari mana? Mengapa tadi tidak kulihat kau?”

“Ku keluar dari jalan keluar tentunya!” Jawab Pwe-giok dengan hambar.

Kim yan cu membentak pula, “Apakah kau bersembunyi bersama Khing hoa sam-niocu?”

“Benar atau tidak ada sangkut pautnya apa dengan kau?” jawab Pwe-giok ketus.

Belum habis ucapannya, tahu-tahu ujung pedang Kim yan cu sudah mengancam di tenggorokannya. Dengan sendirinya dia tidak kenal lagi yang dihadapinya ialah Ji Pwe-giok.

Maklumlah, saat ini bukan saja mula Pwe-giok hampir seluruhnya terbalut, bahkan sikapnya yang tenang dan sewajarnya juga sama sekali berbeda daripada dahulu. Jangankan cuma sebilah pedang yang mengancam tenggorokannya, sekalipun ada seribu pedang yang sama menusuk ke dalam dagingnya juga takkan menimbulkan rasa jerinya.

Seorang kalau sudah menyaksikan sendiri kematian ayahnya secara ngeri, tapi ia sendiri malah dituduh sebagai orang gila, malahan harus mengakui sebagai ayah orang gila, malahan harus mengakui musuh sebagai ayah yang jelas-jelas sudah mati, lalu kejadian apa di dunia ini yang tak dapat ditahannya?

Jika seorang berhadapan dengan orang yang dicintainya, tapi tidak dapat mengakui dan berbicara, lalu urusan apa di dunia ini yang dapat membuatnya lebih pedih.

Bila seorang sudah mengalami beberapa kali ancaman maut dan tidak sampai mati karena kejadian-kejadian yang ajaib, lalu soal apa di dunia ini yang dapat membuatnya takut?

Apabila seorang dari yang cakap telah berubah menjadi buruk rupa, lalu hal apalagi di dunia ini yang dapat membuatnya merasa risau?

Seorang kalau sudah mengalami berbagai kejadian yang sukar dibayangkan orang lain, maka tidak ada sesuatu yang dapat mengguncangkan perasaannya.

Ketenangan dan kewajaran Pwe-giok ini diperolehnya dengan imbalan yang cukup mahal, rasanya di dunia ini tiada orang lain yang mampu membayar semahal ini. Di dunia ini memang tiada orang lain lagi yang dapat dibandingkan dengan dia.

000

Begitulah tanpa terasa pedang Kim yan cu terjulur ke bawah. Nyata ketenangan orang ini telah mempengaruhi dia.

Pwe-giok menatapnya tajam-tajam, tanyanya kemudian dengan tertawa:

“Dimana Sin to kongcu ?”

“Kau…kau kenal padaku ?” seru Kim yan cu dengan melenggong.

“Sekalipun cayhe tidak kenal nona juga tahu bahwa nona dan Sin to kongcu selamanya berada bersama seperti tubuh dan bayangan yang tak pernah terpisahkan.”

Kim yan cu terbelalak, katanya kemudian:

“Ya, rasanya aku sudah seperti sudah kenal kau.”

“Orang yang terluka dan kepalanya terbalut sudah tentu tidak cuma aku saja,” kata Pwe-giok.

“Sesungguhnya siapa kau ?” tanya Kim yan cu

“Ji Pwe-giok !”

Wajah Kim yan cu yang cantik itu seketika berkerut-kerut, ucapnya dengan gemetar:

“Ji Pwe-giok kan sudah mati, kau…kau…”

“Tahukah nona di dunia ini ada dua Ji Pwe-giok, yang satunya sudah mati, yang lain masih hidup, syukur cayhe bukan Ji Pwe-giok yang mati itu, cuma kawannya agaknya memang jauh lebih banyak dariku.”

Kim yan cu menghembus nafas lega, tanyanya mendadak:

“Apakah kau yang membunuh orang-orang ini ?”

“Masa bukan nona yang membunuh orang-orang ini ?” balas Pwe-giok bertanya.

“Kejahatan orang-orang ini sudah kelewat takaran, mati sepuluh kali juga belum cukup untuk menebus dosa mereka,” ucap Kim yan cu dengan gemas.

“Memang sudah lama ingin ku bunuh mereka, cuma sayang kedatanganku sekarang ini agak terlambat sejenak.”

“Jadi nona benar-benar tidak tahu siapa pembunuhnya ?” tanya Pwe-giok

“Aku inilah pembunuhnya !” sekonyong-konyong seorang menanggapi dengan pelahan.

Suaranya begitu datar dan hambar, seolah-olah ucapan demikian sudah sangat biasa baginya, seperti juga membunuh orang bukan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan lagi.

Menyusul ucapan tersebut, seorang mendadak muncul di depan mereka. seorang yang buntung sebelah tangannya.

Jenggot panjang putih kelabu berjuntai di depan dada orang itu, pinggangnya juga terikat tali sutera putih kelabu, sepatunya juga berwarna putih kelabu, rambutnya yang juga kelabu terikat dengan kopiah perak.

Mukanya juga putih kelabu, di bawah alisnya yang sama warna, biji matanya yang juga kepucat-pucatan itu memancarkan sinar yang tajam.

Sudah lama Kim yan-cu malang melintang di dunia Kangouw, biasanya Ia suka menganggap dirinya adalah perempuan yang paling berani di dunia ini. Tapi sekarang tidak urung ia merinding juga melihat orang yang aneh ini, serunya kemudian, “Jadi kau yang membunuh orang-orang ini?”

Dengan hambar si kakek serba kelabu itu menjawab, “Kau kira dengan sebelah tanganku saja tak dapat membunuh? Jika aku tidak dapat membunuh, tentu orang jahat di dunia ini sekarang bertambah banyak daripada dahulu.”

“Cianpwe…entah Cianpwe…”

“Tidak perlu kau tanya namaku,” potong si kakek sebelum lanjut ucapan Kim yan-cu. “Kalau kau memusuhi Thian-can-kau, ini berarti kau sehaluan denganku Kalau tidak, saat ini tentu kau tidak hidup lagi di dunia ini.”

Bila orang lain yang bicara demikian pada Kim-yan cu, tentu ujung pedang si walet emas sudah mengancam di ulu hatinya. Tapi sekarang meski hambar saja ucapan si kakek, namun bagi pendengaran Kim-yan cu rasanya memang tepat dan pantas. Ia lantas bertanya pula, “Entah Cianpwe sudah menemukan Khing-hoa-sam niocu atau belum?”

“Kau pun bermusuhan dengan mereka?” tanya si kakek.

“Betapa dalamnya permusuhan ini sukar diceritakan dalam waktu singkat,” jawab Kim-yan-cu dengan menggreget.

“Kau bertekad akan menemukan mereka?” tanya si kakek pula.

“Jika dapat menemukan mereka, tanpa kupikirkan apa imbalannya,” jawab Kim-yan cu.

“Baik, bila kau ingin menemukan mereka, ikutlah padaku,” kata si kakek sambil melangkah keluar ruangan besar itu, setelah menyusuri taman dan keluar dari sebuah pintu kecil, jalan lebar di pinto belakang sunyi senyap tiada nampak bayangan seorangpun.

Kim-yan-cu ikut di belakang si kakek dengan penuh semangat. Pwe-giok juga ikut di belakang mereka dengan penuh rasa sangsi.

Jelas kakek ini tidak tahu di mana beradanya Khing-hoa-sam niocu mengapa dia bilang hendak membawa Kim yan-cu pergi mencari mereka. Sekalipun kakek ini dapat membunuh Ma Siau-thian dan begundalnya, tapi orang yang cuma bertangan satu cara bagaimana menggantung orang sebanyak itu di belandar? Cukup dengan dua soal ini saja jelas si kakek telah berdusta. Dan untuk apakah dia berdusta?

Orang yang berdusta kebanyakan bertujuan membikin celaka orang lain. Tapi melihat kemampuan kakek ini, jika dia mau membunuh Kim-yan-cu boleh dikatakan sangat mudah, kenapa mesti bersusah payah mencari jalan lain. Sesungguhnya hendak dibawa ke manakah Kim-yan-cu?

Sejak mula si kakek sama sekali tidak memandang Pwe-giok, seolah-olah tidak merasa ada seorang Ji Pwe-giok di sekitarnya.

Pwe-giok juga mengikuti mereka dengan diam saja tanpa bersuara.

Si kakek dapat menahan perasaannya, Ji Pwe-giok juga cukup sabar, tapi Kim yan-cu yang tidak tahan akan gejolak pikirannya.

Sementara itu cuaca sudah makin gelap, jalan yang mereka tempuh juga semakin terpencil, di bawah sinar bulan, kakek yang misterius ini mirip badan halus berwarna kelabu.

“Sesungguhnya Khing-hoa-sam niocu berada di mana?” saking tak tahan akhirnya Kim yan-cu bertanya.

Si kakek menjawab dengan hambar tanpa menoleh; “Orang yang jahat dengan sendirinya berada di tempat yang jahat.”

“Tempat yang jahat?” tukas Kim-yan-cu.

“Ya jika kau tidak berani ke sana, sekarang juga boleh kau putar balik,” kata si kakek.

Kim-yan-cu menggreget dan tidak bicara lagi.

Diam-diam Pwe-giok membayangkan kata-kata “tempat yang jahat” tadi, ia merasa maksud tujuan si kakek lebih-lebih sukar dijajaki.

Lengan baju si kakek yang longgar itu melambai di tanah, jalannya tampaknya tidak cepat, tapi hanya sebentar saja mereka sudah berada di luar kota.

Kim yan-cu belum lama muncul di Kangouw dan namanya sudah cukup terkenal, dia memakai nama julukan “walet” dengan sendirinya ahli Gin-kang, namun setelah ikut berjalan sekian lama bersama si kakek, tanpa terasa mulai terengahlah napasnya.

Mendingan Ji Pwe-giok, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, tapi dia belum merasakan lelah, terhadap kepandaian si kakek diam-diam ia bertambah waspada.

Dilihatnya si kakek berputar kian kemari di tengah hutan, mendadak mereka berada di sutu lereng bukit yang tidak terlalu tinggi, namun batu padas aneh berserakan di sana sini, lereng bukit tandus kering, tampaknya sangat curam dan bahaya.

Di tengah lereng terdapat sepotong batu padas besar yang mencuat keluar, pada batu padas itu semula tertatah tiga huruf besar, tapi sekarang penuh dengan bekas bacokan golok, ketiga huruf itu telah dirusak entah oleh siapa.

“Huruf pada batu padas itu tentu nama gunung ini,” demikian Pwe-giok membatin. “Tapi ada orang sengaja memanjat ke atas dan merusak ketiga huruf itu, apakah maksud tujuannya? Memangnya nama gunung inipun mengandung sesuatu rahasia sehingga tidak boleh dilihat orang, masa cuma nama gunung saja mengandung rahasia?

Rupanya setelah beberapa kali menghadapi detik antara mati dan hidup, Pwe-giok bertambah matang, ia cukup memahami betapa keji dan kejamnya orang hidup ini, maka terhadap segala sesuatu ia selalu lebih hati-hati. Barang sesuatu yang mungkin dipandang sepele oleh orang lain, baginya justeru dipandang cukup berharga untuk direnungkan dan dipelajari asalkan ada sesuatu yang menyangsikan tentu diperhatikannya dengan baik.

Cuma sekarang ia sudah berhasil belajar dari pengalaman, segala sesuatu tentu dipikirnya lebih mendalam. Sebab itulah rasa sangsinya sekarang juga bertambah besar, namun dia tetap bersikap tenang dan tidak menyinggungnya.

Setiba di depan batu padas yang mencuat keluar di lereng situ, tanpa kelihatan bergerak, tahu-tahu kakek itu telah melayang ke atas padas itu.

Selagi Kim-yan-cu bermaksud ikut melayang ke atas, sekonyong-konyong terdengar suara keriat-keriut, batu raksasa itu mendadak bergeser pelahan dan tertampaklah sebuah gua yang gelap di balik gua batu.

Perubahan ini sungguh membuat Pwe-giok terkejut, Kim-yan cu malahan melongo menyaksikan kejadian itu, dia sudah bergerak mau melompat ke atas, sekarang diurungkan.

“Kenapa kalian tidak ikut naik ke sini?” terdengar si kakek berseru.

Kim yan-cu berpaling dan memandang Pwe-giok sekejap, tiba-tiba ia mendesis, “Perjalanan ini sangat berbahaya, untuk apa kau ikut kemari? Lekas pergi saja!”

Pwe-giok tersenyum, jawabnya, “Sudah ikut sampai di sini, hendak pergipun terasa terlambat sudah.”

“Memangnya kenapa?” ujar Kim-yan-cu sambil berkerut kening.

Pwe-giok tidak menjawabnya, segera ia mendahului melayang ke atas. Ia merasakan si kakek sedang memandangnya dengan sorot mata yang tajam, se-olah2 ingin tahu betapa tinggi kemampuannya. Tergerak hati Pwe-giok, cepat ia kurangi kekuatannya, hanya setengah kemampuannya saja dikeluarkannya.

Meski air muka si kakek tidak berubah, tapi sorot matanya mengunjuk perasaan kurang puas. Sementara itu Kim-yan-cu sudah melompat ke atas dengan sepenuh tenaga dan si kakek kelihatan merasa senang.

Kembali Pwe-giok merasa heran, Jika si kakek bermaksud jahat terhadap mereka, bila kepandaian mereka makin rendah kan makin mudah baginya untuk turun tangan, jadi seharusnya dia merasa senang.

Tapi dari sikapnya ini tampaknya dia mengharapkan ilmu kedua orang muda ini lebih tinggi lebih baik. Lantas apa maksudnya? Sesungguhnya apa yang dikehendaki?

Saat itu Kim-yan-cu sudah berada di atas batu padas, dilihatnya gua itu gelap gulita, dalamnya sukar dijajaki, terasa angin dingin meniup keluar dari dalam gua.

Batu raksasa yang bergeser itu tepat ambles ke samping tebing yang mendekuk, jadi sudah di-perhitungkan dengan tepat. Apalagi batu raksasa yang berpuluh ton ini dapat digeser oleh seorang saja, jelas pesawat rahasianya dibuat sedemikian dan entah betapa banyak memakan tenaga dan pikiran untuk menciptakan alat rahasia yang hebat ini.

Dan kalau di dalam gua ini tidak tersembunyi sesuatu rahasia yang maha penting, siapa pula yang sudi mengorbankan tenaga dan pikiran sebesar ini?

Sampai di sini, mau tak mau timbul juga rasa curiga Kim-yan-cu, ia berguman, “Apakah mungkin Khing-hoa-samniocu berada di gua ini?”

“Gua ini sebenarnya tempat rahasia Thian can-kau, tempat penyimpanan harta karun, apabila Khing-hoa-samniocu bukan Tancu (kepala seksi) dalam Thian-can-kau, jangan harap dapat masuk ke sini”, kata si kakek

Mendadak Kim-yan-cu bertanya, “Darimana pula Cianpwe mengetahui rahasia Thian-can-kau?”

Si kakek tertawa hambar, jawabnya, “hehe, betapa banyak rahasia di dunia ini yang dapat mengelabui mataku?”

Jika kata2 ini diucapkan orang lain, andaikata Kim-yan-cu tidak menganggapnya membual tentu akan menganggapnya omong besar. Tapi di mulut kakek ini ucapan tersebut memang lain bobotnya.

Kim-yan-cu seperti takluk benar2 lahir batin terhadap kakek itu, setelah berpikir sejenak, ia bergumam, “Aneh, Thian-can-kau jauh berada di daerah Miau, sebaliknya tempat rahasia penyimpanan harta pusakanya terletak di sini.”

“Kau tidak berani masuk ke situ?” tanya si kakek dengan sorot mata tajam.

Kim-yan-cu menghela napas panjang, katanya keras-keras, “Asalkan dapat menemukan Khing-hoa-sam niocu, ke gunung golok atau masuk lautan api juga bukan soal bagiku.”

Seketika sorot mata si kakek berubah halus lagi, ucapnya, “Bagus, bagus sekali, asalkan kau tabah dan hati-hati, kujamin kau takkan menghadapi apapun. Kalian boleh masuk saja dan tidak perlu kuatir.”

“Tapi Cayhe tiada maksud buat masuk ke situ,” kata Pwe-giok mendadak.

Baru sekarang ia membuka suara, mestinya dia hendak bilang, “Ku tahu Khing-hoa-sam niocu tidak berada di gua ini, kenapa kau berdusta?”

Tapi dia tahu bilamana kata-kata itu diucapkan, maka si kakek pasti takkan mengampuni dia. Saat ini ia merasa bukan tandingan si kakek, maka dia sengaja memancingnya dulu dengan ucapan tadi.

Benar juga, segera sorot mata si kakek berubah tajam pula, katanya, “Kau tidak mau masuk ke sana?”

“Cayhe kan tidak ingin mencari Khing-hoa-sam niocu, untuk apa masuk ke situ?” jawab Pwe-giok.

“Ya, persoalan ini hakekatnya tiada sangkut pautnya dengan dia, sesungguhnya akupun tidak kenal dia,” demikian cepat Kim-yan-cu menyela.

“Jika kau tidak mau masuk ke sana ya terserah lah, akupun tidak memaksa,” kata si kakek dengan tak acuh.

Seperti tidak sengaja, mendadak tangannya menepuk pelahan pada dinding tebing itu, tiada terdengar sesuatu suara, tapi di dinding tebing itu lantas bertambah dekukan cap telapak tangan seperti pahatan senjata tajam.

Dengan tertawa Pwe-giok lantas berkata, “Sebenarnya cayhe tidak berniat masuk ke situ, tapi kalau benar harta pusaka Thian-can-kau disimpan di sini, kesempatan ini biarlah kugunakan untuk mencari rejeki.”

Si kakek tidak menghiraukan dia lagi, dia mengeluarkan sebuah pedang bersarung perak, panjangnya cuma setengah meteran, serta sebuah geretan api, semua itu ia serahkan kepada Kim-yan-cu sambil berkata, “Pedang ini sangat tajam, memotong besi seperti merajang sayur, Geretan api pun bukan barang sembarangan, boleh kau bawa dan tentu banyak gunanya. Hendaklah kau jaga dengan baik dan jangan sampai hilang.”

“Terima kasih,” kata Kim-yan-cu.

Begitu dia dan Pwe-giok melangkah masuk gua batu padas raksasa itu pelahan-lahan lantas bergerak merapat lagi.

Dengan kaget Kim-yan-cu berteriak, “He, jika Cianpwe menutup batu ini, bukankah kami tak dapat keluar lagi?”

Segera ia bermaksud melompat keluar, siapa tahu mendadak suatu tenaga maha kuat menolaknya dari luar gua sehingga dia jatuh terjengkang.

Sempat terdengar si kakek berkata, “Jika nanti kau ingin keluar, gunakan pedang pendek itu mengetuk dinding batu tujuh kali dan segera ku tahu…” belum habis ucapannya batu raksasa itu sudah menutup rapat.

Seketika keadaan di dalam gua gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Mendadak cahaya perak meletik, Km-yan-cu telah menyalakan api geretan yang diberikan si kakek tadi. Geretan api ini sangat aneh, lelatu berhamburan seperti bunga api dan cahaya perak yang tidak begitu terang terus terpancar.

Di bawah cahaya perak itu tertampak wajah Pwe-giok yang terbalut kain perban itu, tapi sorot matanya gemerdep, nyata dia tidak menjadi gugup atau kuatir.

Kim-yan-cu tidak tahu orang ini bodoh atau gendeng, namun jelas nyalinya sangat besar. Ucapnya dengan menyesal, “Urusan ini kan tiada sangkut-pautnya dengan kau, untuk apa kau ikut masuk kemari?”

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun, “Meski watak nona ini suka menang, namun hatinya sangat bajik. Dalam keadaan demikian dia masih juga berpikir bagi orang lain.”

Selama beberapa hari ini perempuan yang pernah ditemui Pwe-giok kalau tidak berhati keji tentu berwatak aneh dan jahil, sekarang mendadak melihat kebaikan hati Kim yan-cu, seketika timbul kesan baiknya, dengan tersenyum ia menjawab, “Dua orang berada bersama kan jauh lebih baik daripada menempuh bahaya sendirian?”

“Kau … kau datang ke sini demi diriku?!” tanya Kim-yan cu dengan melengak.

“Jika nona adalah sahabat Ji Pwe-giok yang itu, maka engkau sama juga kawanku,” kata Pwe-giok dengan tertawa.

Kim-yan-cu memandanginya sekejap, mendadak mukanya bersemu merah, untung cahaya perak itu sangat aneh, air mukanya merah atau putih sukar dibedakan orang lain.

Dia terus melengos ke sana dan terdiam sejenak, kemudian berkata pula, “Menurut dugaanmu, sesungguhnya apa maksud tujuan orang tua tadi?”

“Menurut nona, bagaimana?” Pwe-giok balas bertanya setelah merenung sejenak.

“Jika dia berniat mencelakai diriku, untuk apa pula dia menyerahkan benda berharga ini kepadaku,” kata Kim-yan cu. “Apalagi kalau melihat tenaga pukulannya tadi, jika dia tidak bermaksud membunuh kita, kukira bukan sesuatu yang sukar baginya.”

“Betul, tenaga pukulan orang ini lunak tapi maha kuat, boleh dikatakan sudah terlatih hingga puncaknya, tampaknya tidak di bawah “Bian-ciang” (pukulan lunak) Jut tun Totiang dari Bu-tong-pay.”

“Tapi bila dia tidak bermaksud jahat, mengapa dia memaksa kau masuk kemari, lalu menyumbat pula jalan keluarnya sehingga kita tiada jalan mundur terpaksa kita harus menerjang ke depan?”

“Jika demikian, marilah kita menerjang ke depan,” kata Pwe-giok dengan tertawa.

Akhirnya Kim-yan-cu berpaling memandangnya lagi sekejap, ucapnya, “Berada di sampingmu, sekalipun aku merasa takut, akhirnya aku menjadi tidak takut lagi.”

Di bawah cahaya perak yang remang-remang, tertawa Kim-yan-cu kelihatan sedemikian cerah, di balik wajah yang cerah ini tampaknya tiada tersembunyi sesuatu rahasia apa pun.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, pikirnya, “Apabila setiap perempuan di dunia ini serupa dia, tentu dunia ini akan jauh lebih aman…”

Kemudian Pwe-giok mengambil oper geretan api itu, dia membuka jalan di depan.

Di bawah cahaya perak tiba-tiba dilihatnya kedua sisi dinding gua ini penuh terukir gambar-gambar yang halus dan indah, setiap gambar terdiri dari satu lelaki dan satu perempuan.

Hanya sekejap saja Kim yan-cu memandang ukiran dinding itu, seketika mukanya menjadi merah, teriaknya, “Tempat setan ini benar-benar tempat jahat, menga… mengapa…”

Muka Pwe-giok terasa panas juga, sungguh tak tersangka olehnya di gua yang misterius ini bisa terukir gambar-gambar tidak senonoh begini.

Kiranya gambar lelaki dan perempuan yang memenuhi dinding gua itu rata-rata adalah dalam adegan “hot” di luar susila.

Mendadak Kim-yan-cu mendekap mukanya dan berlari ke depan.

Tak tersangka, sekonyong-konyong dari tempat gelap muncul dua orang, dua golok besar terus membacok secepat kilat. “Awas!” bentak Pwe-giok.

Begitu bersuara segera ia pun menerjang maju, Kim-yan-cu dirangkulnya dan berguling ke sana sehingga mata golok menyambar lewat di samping mereka.

“Ah, kiranya cuma dua orang batu saja,” ujar Pwe-giok sambil menyengir setelah melihat jelas kedua penyerang itu.

“Tapi kalau tiada kau, bisa jadi aku sudah berubah menjadi orang mati,” kata Kim yan-cu.

Pwe-giok merasa bau harum memabukkan, waktu ia menunduk, baru disadarinya Kim-yan-cu masih berada dalam pelukannya, mulut si nona yang kecil mungil cuma beberapa inci di bawah mulutnya.

Berdetak keras jantungnya. Selagi ia hendak minta maaf, mendadak Kim yan-cu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Sin-to Kongcu yang kau katakan itu tentu akan mati kheki bila melihat keadaan kita sekarang, Sungguh aku berharap dia benar-benar menyaksikan adegan ini sekarang.”

Tadinya Pwe-giok kuatir si nona akan malu dan menjadi gusar, tak tahunya Kim-yan-cu jauh lebih terbuka pikirannya daripada nya, bahkan juga tidak pura-pura malu dan berlagak rikuh segala.

Sungguh mujurlah, seorang lelaki dalam keadaan demikian dapat bertemu dengan seorang nona yang berhati terbuka seperti ini. Mau-tak-mau gembira juga Pwe-giok, katanya dengan tertawa, “Bahwa sekali ini dia tidak mengikuti kau, sungguh kejadian yang aneh.”

Dengan tertawa Kim-yan-cu menjawab, “Sepanjang hari dia terus mengintil di belakangku, asalkan orang lain memandang sekejap padaku, dia lantas marah. Sungguh aku pun merasa sebal, maka kucari kesempatan untuk meninggalkan dia…” mendadak sorot matanya menatap ke belakang Pwe-giok dan berkata pula, “Eh, coba . .. .coba lihat…”

Pwe-giok berpaling, dilihatnya dinding batu di belakangnya seperti berbentuk beberapa daun pintu, di atas pintu terukir delapan huruf, di bawah cahaya perak itu warnanya kelihatan pucat kehijau-hijauan.

Ke delapan huruf itu berbunyi, “Siau-hun-bi-kiong, barang siapa masuk mati.”

Terbelalak Kim-yan-cu memandangi ukiran itu, katanya sambil berkerut kening, “Tempat penyimpanan benda pusaka Thian-can-kau mengapa disebut Siau-hun-bi-kiong (istana penggetar sukma)?”

Tapi dari ukiran cabul yang dilihatnya di dinding gua tadi, lalu melihat lagi nama Siau-hun-bi-kiong ini, tahulah Pwe-giok bahwa gua ini tidak saja “jahat”, bahkan sangat misterius dan sangat berbahaya, bisa jadi juga tempat yang sangat mengasyikkan, tempat yang menakutkan tapi juga menarik seperti dalam dongeng itu.

Mendadak ia menatap Kim-yan-cu dan bertanya, “Kau masih berani masuk ke sana?”

“Apakah dengan kedelapan huruf ini dapat menggertak mundur kita?” jawab Kim-yan-cu dengan tertawa.

Pwe-giok melengak, katanya kemudian; “Tapi kalau Khing-hoa-sam niocu tidak berada di dalam sana?”

Kim-yan-cu juga melengak, katanya, “Mengapa mereka tidak berada di dalam? Masa kakek itu membohongi aku?”

“Setahuku, Khing-hoa-sam niocu tidak berada di dalam,” tutur Pwe-giok. “Mengenai sebab apa si kakek membohongi kau, inipun aku tidak habis mengerti,”

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian pelahan, “Coba, menurut kau, sesudah begini, apakah kita masih dapat keluar lagi?”

Dia membetulkan rambutnya yang agak kusut, Ia lalu menyambung pula, “Sekarang biarpun kita mengetuk tiga ratus kali di dinding batu itu juga si kakek takkan melepaskan kita keluar. Jika dia telah menipu kita masuk ke sini, betapapun pasti ada maksud tujuannya.”

“Setiap langkah di sini ada kemungkinan akan menghadapi bahaya,” kata Pwe-giok kemudian.

“Kukira lebih baik kau tunggu di sini saja, biarlah ku masuk lebih jauh untuk memeriksanya.”

“Kau sendiri bilang, dua orang berada bersama jauh lebih baik daripada sendirian,” ucap Kim-yan-cu dengan tersenyum manis.

Dalam keadaan begini, biasanya watak asli setiap orang akan tertampak, orang yang menggemaskan bisa bertambah menggemaskan, orang yang menyenangkan bisa pula bertambah menyenangkan.

Tanpa terasa Pwe-giok menarik tangan Kim-yan-cu, katanya dengan tertawa, “Marilah kita maju lagi ke sana, asalkan hati-hati kukira takkan…”

Belum habis ucapannya mendadak kaki terasa menginjak tempat kosong, lantai batu di bawahnya mendadak merekah menjadi sebuah lubang, kontan tubuh kedua orang terjeblos ke bawah.

Kim-yan cu menjerit kaget, tapi segera dirasakan tangan Pwe-giok yang menggandeng tangannya itu menolaknya dengan kuat, oleh tenaga dorongan yang kuat itu tubuh Kim-yan cu dapat ditolak ke atas. Sebaliknya Pwe-giok sendiri tetap terjerumus ke bawah.

Berkat tenaga dorongan Pwe-giok itu, Kim-yan-cu berjumpalitan sekali di udara dan menancapkan kakinya di tepi lubang itu, teriaknya, “He, kau . . . . kau bagaimana?”

Lubang di bawah tanah itu ternyata sangat dalam, cahaya perak geretan api yang dipegang Pwe-giok kelihatan gemerdep jauh di bawah, tapi tidak jelas apakah anak muda itu masih hidup atau sudah mati.

Saking cemasnya Kim-yan-cu mengucurkan air mata, teriaknya parau, “Ja… jawablah, kenapa kau diam saja?”

Tapi tetap tiada suara jawaban dari bawah.

Kim-yan-cu menjadi nekat, ia pejamkan mata dan hendak ikut terjun ke bawah.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang telah meraihnya dengan erat. Cepat Kim-yan-cu membuka mata, cahaya perak kelihatan masih gemerdep di bawah lubang sana, ia terkejut dan heran siapakah yang menariknya. Waktu ia mengawasi lebih cermat, siapa lagi orang yang berdiri di sebelahnya dengan tersenyum simpul jika bukan Ji Pwe-giok adanya?

Kejut dan girang bercampur aduk, Kim-yan-cu menjerit tertahan terus menubruk ke dalam pelukan Pwe-giok, serunya, “Ai, kau bikin aku mati kaget, ken … kenapa tadi kau tidak bersuara?”

Dengan tersenyum Pwe-giok menjawab, “Dengan menahan napas tadi ku sempat panjat dinding gua, bila membuka mulut, tentu akan kehilangan tenaga dan bisa jadi benar-benar terjerumus ke bawah.”

“Kulihat gemerdep nya api geretan di bawah sana, kukira … kukira kau sudah tamat, siapa tahu geretan api itu cuma terjatuh saja ke bawah dan kau… kau masih hinggap di dinding gua dan dapat naik ke atas.”

Pwe-giok memandangnya lekat-lekat, ia menghela napas dan berucap, “Dan untuk apa kau bertindak demikian?”

Yang dimaksudkannya ialah tindakan Kim-yan-cu yang hendak ikut terjun ke bawah tadi.

Kim-yan-cu menunduk, jawabnya pelahan, “Bilamana kau mati lantaran menyelamatkan diriku, lalu apakah aku dapat hidup sendirian?”

Mendadak ia menengadah dan tertawa cerah, katanya, “Tidak cuma kau saja, siapapun kalau mati demi menyelamatkan diriku, kukira aku pasti tak dapat hidup lagi sendirian.”

“Apa yang kau katakan terakhir ini sungguh bisa mengecewakan harapanku,” Pwe-giok sengaja menggoda dengan mata berkedip-kedip.

“Ku tahu, orang semacam kau ini pasti sudah lama mempunyai kekasih,” ucap Kim-yan-cu dengan tersenyum. “Sebab itulah bilamana kukatakan akan mati demi dirimu, bukankah akan membuat kau serba salah?”

Tanpa terasa Pwe-giok memegang pula tangan si nona, katanya dengan tertawa, “Haha, sungguh kau ini anak perempuan satu-satunya yang tidak membikin kesal daripada semua anak perempuan yang pernah kukenal.”

Ia merasa sangat gembira bisa berada dengan anak perempuan seperti Kim-yan-cu, orangnya lugu, terus terang, tidak sok, tidak pura-pura dan tidak menonjolkan diri, juga tidak suka membikin kesal orang. Anak perempuan demikian sungguh terlalu sedikit di dunia ini.

Namun geretan api tadi sudah jatuh ke bawah, sambil memandangi api geretan yang masih gemerdep itu, kedua orang menjadi sedih.

Sekilas mendadak Pwe-giok melihat pedang pendek bersarung perak itu. Segera ia melolos pedang itu, sinar pedang kemilauan, ia menusuk pelahan dan hampir seluruh pedang itu amblas ka dalam batu. Sekali pedang diputar, batu itu lantas berlubang.

“Tajam amat pedang ini,” seru Pwe-giok girang. “Untuk menjemput kembaii geretan api itu terpaksa harus kita andalkan pedang ini.”

Lebih dulu ia mengerek Kim-yan-cu ke bawah, dengan pedang pendek itu Kim-yan-cu membuat sebaris lubang di dinding, kemudian Pwe-giok merambat ke bawah dengan lubang-lubang di dinding itu sebagai tangga dan geretan api itu berhasil di jemput kembali.

Dilihatnya di dasar gua itu banyak terpasang pisau tajam, ujung pisau penuh berserakan kain baju dan tulang kering, melihat kain baju yang sudah lapuk itu sedikitnya korban-korban itu sudah jatuh 20 tahun yang lalu, hanya satu di antaranya, yaitu mayat perempuan berbaju hijau kelihatan pakaiannya masih baru, mayatnya juga belum membusuk.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Melihat tengkorak-tengkorak ini dan kematian perempuan berbaju hijau ini jaraknya sedikitnya ada 20 tahun lamanya. Jangan-jangan Siau-hun-bi-kiong ini sudah 20 tahun tak dikunjungi orang. Jadi rahasia di sini sudah terpendam antara 20 tahun dan baru akhir-akhir ini ditemukan orang. Dengan sendirinya tempat ini bukan gudang penyimpan harta pusaka Thian-can-kau segala.”

Kim-yan-cu menggosok-gosok sepatunya di lantai untuk menghilangkan lumut dan kotorannya, maka tertampaklah lantai batu yang rajin dan licin. Ia berkerut kening dan berkata, “Sepanjang jalan ini mungkin penuh dengan jebakan, cara bagaimana kita harus maju lebih lanjut?”

“Kau ikut di belakangku, jangan terlalu dekat, dengan demikian, andaikan aku terjeblos kan masih ada yang bisa menolong,” kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

Mendadak Kim-yan-cu berteriak, “Sebenarnya ini kan urusanku, mestinya aku yang berjalan di depan, tidak perlu kau anggap aku orang perempuan dan segala sesuatu baru mengalah padaku!”

Pwe-giok tertawa, katanya, “Meski aku tidak ingin menganggap kau sebagai perempuan, tapi nyatanya kau memang perempuan. Di depan orang perempuan kaum lelaki sok berlagak sebagai pahlawan, kenapa kau tidak mau mengalah padaku?”

Kim-yan-cu memandangnya tajam-tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Sungguh kau ini satu-satunya lelaki yang tidak menjemukan yang pernah kulihat.”

Pwe-giok terus berjalan ke depan dengan lebih hati-hati, sebelum langkahnya terasa mantap, tentu dia mencoba-cobanya dulu apakah tiada sesuatu jebakan. Sudah tentu reaksinya juga jauh lebih peka daripada orang lain.

Sepanjang jalan ternyata tiada perangkap lagi, sesudah beberapa tombak jauhnya, sekonyong-konyong terlihat dua patung batu wanita telanjang yang saling rangkul dengan mesra, bukan saja perawakan patung itu terukir dengan indah dengan garis-garis tubuhnya yang menyolok, bahkan wajahnya juga terukir dengan mimik yang “hot” dan penuh daya merangsang. Meski patung telanjang ini sudah penuh debu, tapi siapapun juga pasti akan berdetak jantungnya bila melihatnya.

Kedua patung batu ini lebih besar sedikit daripada orang hidup dan tepat menghadang di tengah jalan.

Selagi Pwe-giok hendak mencari tombol rahasia untuk menyingkirkan patung itu, dengan muka merah mendadak Kim-yan-cu merampas geretan api yang dipegang Pwe-giok sambil mendengus, “Hm, di tempat ini penuh barang begini melulu, sungguh memuakkan.”

Sembari berkata mendadak ia mendepak.

Pwe-giok bermaksud mencegahnya, namun sudah terlambat.

Kontan dari pusar salah satu patung perempuan telanjang itu menyemburkan kabut bubuk putih, cukup keras semburan itu dan langsung menyemprot muka Kim-yan-cu.

Cepat Pwe-giok menariknya ke samping, tanyanya dengan kuatir, “Sudahkah kau cium baunya?”

Karena gugupnya ia sendiripun lupa menahan napas sehingga hidungnya juga sempat menghisap sedikit bau harum bedak.

Baru saja Kim-yan-cu menggeleng, dilihatnya Pwe-giok telah duduk bersila dan sedang mengatur pernapasan.

“Kau . . . . kau …” tanya Kim-yan-cu dengan suara gemetar, ia tahu dirinya yang telah membikin gara-gara lagi.

Berulang-ulang Pwe-giok mengedipi si nona agar jangan bicara. Meski Kim-yan-cu sudah tutup mulut, tapi hatinya tambah gelisah. Selang sejenak, dilihatnya Pwe-giok menghela napas panjang dan berkata, “Untung jarak waktunya sudah terlalu lama sehingga khasiat obat ini sudah kurang manjur, kalau tidak . . . . ”

“Meski khasiat obat sudah kurang manjur, tapi kalau sampai mukaku kesemprot, jiwa tetap bisa melayang, betul tidak?”

“Bisa jadi!” ucap Pwe-giok. “Kembali kau telah menyelamatkan diriku,” kata Kim-yan-cu dengan menghela napas.

Dengan cahaya geretan Pwe-giok menyinari patung perempuan telanjang itu dan dipandangnya dengan cermat, sejenak kemudian, mendadak ia berkata; “Coba, pejamkan matamu?”

“Kenapa aku tidak boleh melihatnya?” tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

“Letak kunci rahasianya di tempat yang kurang sopan,” tutur Pwe-giok dengan menyengir.

Belum habis ucapannya, cepat Kim-yan-cu memejamkan matanya. Entah di bagian mana Pwe-giok telah meraba dan memutarnya, lalu terdengarlah suara “Kreek”, kedua patung yang saling rangkul itu mendadak terpisah sehingga bagian tengah terluang jalan lewat selebar setengah meteran, segera Kim-yan cu lewat ke sana melalui pangkuan kedua patung telanjang itu.

Ia menghela napas, katanya dengan gegetun; “Tak tersangka kau pun mahir berbagai macam permainan setan begini. Tanpa kau, mungkin selama hidupku jangan harap akan dapat lewat kesini.”

“Menurut pendapatku, daripada masuk ke situ akan lebih baik tidak masuk saja ke sana,” kata Pwe-giok pelahan.

“Sebab apa?” tanya Kim-yan-cu dengan tertawa. “Setiap tempat di sini, seumpama tiada persoalan Khing-hoa-sam niocu juga aku ingin masuk ke sana untuk melihatnya.”

“Tempat yang semakin besar rahasianya, bahaya yang akan timbul juga semakin besar…”

“Ada kau, apa yang kutakuti?”

Terpaksa Pwe-giok menyengir pula. Segera ia membuka jalan di depan. Selewatnya rintangan patung telanjang itu, debu di lantai juga lebih sedikit, di bawah cahaya perak yang gemerdep samar-samar kelihatan juga penuh gambar dan corat-coret.

Ternyata corat-coret dan gambar di lantai juga melukiskan adegan mesra antara lelaki dan perempuan.

Pwe-giok mengamatinya sejenak katanya kemudian, “Hendaklah kau ingat di mana kakiku menginjak dan ke situ pula kau ikut melangkah, jangan sampai salah.”

Dan di mana kakinya menginjak pertama ternyata adalah bagian tubuh yang paling tidak sopan yang terlukis di lantai itu.

Sambil ikut melangkah, berulang-ulang Kim-yan-cu mengomel, “Benar-benar tempat setan dan tidak boleh didatangi orang baik?”

“Sebabnya tuan rumah sengaja mengatur begini tempatnya, mungkin tujuannya justeru hendak mencegah datangnya orang baik-baik. Sekalipun orang tahu rahasianya, tapi sungkan juga datang ke sini. Kalau tidak, mana bisa dia terlepas dari tuntutan hukum.”

“Bagaimana dengan kau? Kau orang baik-baik bukan?” tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

“Terkadang baik, terkadang juga tidak,” jawab Pwe-giok tertawa.

Kim-yan-cu tertawa genit, katanya, “Kau ternyata tidak menjemukan bahkan rada menyenangkan…”

Belum habis ucapannya, mendadak suara tertawanya terhenti. Dilihatnya seorang gadis berbaju merah tergantung terbalik dengan muka yang menyeringai seram.

“He, tampaknya barang siapa masuk mati, kata-kata ini bukan cuma gertak sambel belaka,” seru si walet emas dengan ketakutan.

Mayat gadis berbaju merah ini masih utuh, paling-paling baru dua-hari dia mati.

“Tempat yang sudah terpendam selama puluhan tahun, bilamana diketemukan orang, seketika akan berbondong-bondong didatangi orang banyak, apakah rahasia yang terdapat di tempat ini memang betul-betul sedemikian menarik sehingga matipun tak terpikir oleh orang-orang?” demikian gumam Pwe-giok.

Baru dua-tiga langkah, dilihatnya pula mayat seorang perempuan berbaju ungu, mati terpantek di dinding oleh sebatang paku raksasa berbentuk aneh. Kedua tangannya tampak erat memegangi pangkal paku, jelas sebelum mati dia berusaha mencabut paku itu, tapi tidak mampu mencabutnya sehingga dia mati terpantek hidup-hidup.

Hanya sekejap saja Kim yan-cu memandangnya, ia merasa mual dan hampir saja tumpah-tumpah.

Selanjutnya setiap beberapa langkah lagi ke depan pasti ditemukan sesosok mayat perempuan, ada yang mati terbacok golok, ada yang mukanya hancur, ada yang mati terhimpit di tengah celah-celah batu.

“Jalan ini benar-benar maut menunggu pada setiap langkah, jika aku tidak mengikuti kau, mungkin sekarang sudah… sudah mengalami nasib serupa anak-anak perempuan ini,” kata Kim yan-cu dengan suara gemetar.

“Tapi mereka dapat sampai di sini, suatu tanda di antara mereka pasti ada orang yang pintar,” ujar Pwe-giok.

“Darimana kau tahu mereka datang bersama?” tanya Kim-yan-cu.

“Kuyakin mereka pasti satu rombongan,” jawab Pwe-giok.

“Pada masa hidupnya anak-anak perempuan ini pasti muda dan cantik, tapi untuk apakah mereka datang ke tempat setan ini dan mengantarkan nyawa,” ujar Kim-yan-cu.

“Hanya ada satu alasan,” ujar Pwe-giok, “meski tempat ini bukan gudang penyimpan pusaka Thian-can-kau, tapi pasti terpendam satu partai harta karun yang tak ternilai jumlahnya.”

Mendadak Kim-yan-cu berhenti melangkah dan berkata, “Menurut kau, kakek itu sengaja menipu kita masuk ke sini, mungkinkah kita hanya dijadikan perintis jalan baginya?”

“Kukira memang demikian, makanya dia berharap lebih tinggi ilmu silat kita akan lebih baik pula, tidak sayang meminjamkan pedang wasiat kepadamu.”

“Wah, kalau begitu, apabila kita bisa masuk ke sana, hal ini sama saja seperti membuka jalan baginya,” seru Kim-yan-cu dengan terkesiap.

“Dan umpama kita menemukan benda mestika terpaksa juga harus diserahkan kepadanya. Dan kalau kita mati, dia sendiri tidak rugi. Hati orang tua ini sungguh keji, padahal kita tidak pernah kenal dia, namun dia tega menggunakan jiwa kita sebagai taruhan bagi kepentingannya.”

“Di dalam hal ini masih ada kejadian lain yang aneh,” kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

“Hal … hal apa?” tanya Kim-yan-cu.

“Coba kau lihat, jenazah ini semuanya adalah perempuan, di dasar lubang tadi, kulihat kerangka tulangnya juga seluruhnya tulang perempuan, apakah orang yang datang ke sini dan mengincar harta pusaka ini tiada seorang lelaki pun?”

“Hal ini ada dua alasan, apakah kalian ingin tahu?” mendadak seorang menanggapi dengan tak acuh.

Mendengar suara yang datar dan hambar ini, air muka Kim yan-cu seketika berubah, ia tarik tangan Pwe-giok dan berkata, “Hahh, dia … dia ikut masuk ke sini.”

“Jika kugunakan kalian sebagai perintis jalan dengan sendirinya aku mesti ikut masuk kemari,” kata si kakek.

“Setelah kalian menghancurkan semua perangkap yang terpasang di sini, maka aku pun tidak perlu bersusah payah lagi.”

Di tengah gemerdepnya cahaya perak, tahu-tahu orang tua itu sudah muncul seperti badan halus.

Dongkol dan gusar pula Kim-yan-cu, omelnya, “Kuhormati kau sebagai orang tua, tapi kau bertindak kejam kepada kami malahan tanpa malu-malu kau mengakui perbuatanmu.”

“Meski kalian telah menderita bagiku, tapi juga tidak bekerja percuma, kalianpun akan menarik keuntungannya,” kata si kakek bercahaya perak.

“Apalagi kalian diberi kesempatan pesiar ke sini, andaikan matipun tidak perlu penasaran.”

“Sesungguhnya tempat apakah ini?” tanya Kim-yan cu.

“Kenapa kalian tidak melihatnya sendiri, itulah dia!” kata si kakek.

Waktu Kim-yan-cu memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di samping mayat seorang perempuan berbaju hijau, di atas dinding terukir 16 huruf besar yang berbunyi, “Un-yu-ci-biang, bing-lok-ci-kiong” atau surga yang hangat, istana yang gembira. Lalu di bawahnya, “Siau-hun-si-kut, jik-tok-ji-hiong” atau sukma tergetar tulang terhapus, selain keji juga ganas.

“Empat puluh tahun yang lalu, tempat inilah surga yang di impi-impikan oleh setiap pendekar muda di seluruh dunia ini,” demikian tutur si kakek. “Barang siapa dapat berkunjung ke sini, sekalipun tulang terhapus dan sukma tergetar juga rela.”

“Apa sebabnya?” tanya Kim-yan-cu dengan terkesiap.

“Sebab kalau sudah berada di sini barulah diketahui sesungguhnya apa kegembiraan kaum lelaki? Hahaha, cuma sayang, setelah menikmati kebahagiaan ini, lalu orang itupun harus mati.”

Sampai di sini, si kakek bergelak tertawa beberapa kali, namun suaranya tetap hambar, tiada tinggi-rendahnya nada, juga tiada terdengar rasa suka atau duka.

Kim-yan-cu menarik napas dingin, ucapnya kemudian, “Jika demikian, mengapa di sini tidak terlihat mayat lelaki seorangpun?”

“Soalnya waktu itu setiap lelaki harus menunggu setelah masuk istana dan dinilai dulu oleh Siau-hun Kiongcu (puteri penggetar sukma), habis itu barulah dia akan mati,” tutur Si kakek.

“Jika sudah tahu tempat setan yang jahat ini mengapa anak perempuan juga sengaja kemari?” tanya Kim-yan-cu.

“Untuk ini memang banyak alasannya,” tutur pula si kakek. “Ada sementara orang perempuan yang iri kepada kecantikan Siau-hun-kiongcu dan bertekad akan membunuhnya. Ada lagi yang dendam karena suami atau kekasih sendiri menjadi korban pikatan sang Kiongcu dan sengaja datang kemari untuk menuntut balas…”

“Tapi kalau Siau-hun-kiongcu itu masih hidup sampai sekarang, tentunya dia sudah berwujud siluman tua, mengapa masih tetap ada anak perempuan sebanyak ini yang mengantar nyawa ke sini?”

“Meski Siau-hun-kiongcu sudah mati, tapi harta pusakanya dan kitab wasiat tinggalannya masih berada di sini,” kata si kakek. “Harta pusakanya tidak perlu dipersoalkan, melulu kitab wasiat pelajaran ilmu silatnya saja selama berpuluh tahun ini selalu diincar oleh setiap perempuan di dunia ini, tak perduli siapapun, asalkan bisa memperoleh Bikang (ilmu memikat) Siau hun-kiongcu, maka setiap lelaki di dunia ini pasti akan bertekuk lutut di bawah kakinya.”

Kim-yan cu memandang Pwe-giok sekejap, tanpa terasa air mukanya menjadi merah pula, katanya, “Barang kotor begitu, melihat saja aku tidak sudi.”

Si kakek tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Tapi sekali sudah kau lihat mungkin kau akan merasa berat untuk melepaskannya.”

Sekonyong-konyong sorot matanya beralih ke arah Pwe-giok, katanya pula; “Meski ilmu silatmu kurang memadai, tapi pengetahuanmu dalam hal-hal lain ternyata cukup luas, orang seperti kau ini rasanya sayang jika kubunuh.”

Pwe-giok tersenyum, katanya, “Saat ini kita belum masuk ke istana, dengan sendirinya kau takkan membunuhku.”

Mencorong sinar mata si kakek, ucapnya, “Jika kau dapat membawaku masuk ke istana ini, bukan saja tidak kubunuh kau, bahkan akan ku bagi sama rata harta pusaka yang kita temukan nanti.”

“Dan kalau aku tidak mau?” tanya Pwe-giok.

“Jika kau tidak mau, sekarangpun jangan kau harap akan bisa hidup lagi,” kata si kakek dengan hambar.

“Tempat ini sudah didatangi orang, bisa jadi harta pusaka yang terpendam di sini sudah diambil orang,” kata Pwe-giok dengan tertawa.

“Sampai saat ini belum pernah ada seorangpun yang dapat keluar dari sini dengan hidup!” ucap si kakek dengan dingin.

Pwe-giok tertawa, katanya, “Sering kudengar kata-kata seperti ini. Padahal tempat yang tak dapat keluar dengan hidup justeru selalu ada orang yang keluar dengan hidup, hanya keluarnya tidak diketahui orang lain.”

Si kakek terbahak-bahak, katanya; “Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ke sembilan perempuan ini masuk ke sini dan aku sendiri yang menyumbat jalan keluarnya, dua hari pula ku jaga di luar. Bilamana ada orang keluar di luar tahuku, kedua biji mataku ini rela kukorek keluar.”

Dengan sorot mata gemerdep Pwe-giok berkata pula dengan pelahan. “Kau membunuh segenap keluarga Ma Siau-thian, apakah lantaran kau mencurigai dia membocorkan rahasia tempat ini kepada ke sembilan perempuan ini.”

“Hm, kau sudah bertanya terlalu banyak,” jawab si kakek dengan sorot mata tajam.

“Hanya karena mencurigai seorang, lalu kau bunuh segenap keluarganya, tidakkah caramu ini terlalu keji dan kejam?” seru Kim-yan-cu.

“Jangan lupa, yang kubunuh adalah anggota Thian-Can-kau,” jawab si kakek dengan tak acuh.

“Lantaran mereka membocorkan rahasiamu kepada orang lain, makanya kau bunuh mereka, begitu?” Kim-yan-cu menegas.

“Hm!” si kakek cuma mendengus saja.

“Tapi dari mana pula orang Thian-can-kau mengetahui rahasiamu?” teriak Kim-yan-cu.

“Jangan-jangan kau pun sekomplotan dengan mereka?”

Mendadak si kakek membalik tubuh dan “plok”, tangannya menepuk dinding batu, lalu menjawab dengan pelahan, “Kaupun sudah terlalu banyak bertanya.”

Melihat dekukan cap tangan di dinding, Kim-yan-cu mencibir dan tidak bersuara pula.

o oO 0O0 Oo o

Cukup lama Pwe-giok meraba dan mencari dan berulang-ulang bergumam, “Jangan-jangan pintu masuk istananya tidak terletak di sini?”

“Di depan sudah buntu, kalau pintunya tidak di sini, lalu di mana?” ujar si kakek.

Pwe-giok berpikir sejenak, ia menggeser sesosok mayat perempuan berbaju hijau, tiada dilihatnya sesuatu luka pada mayat ini, tapi kedua tangannya tampak matang biru.

Ia berjongkok, dengan sarung pedang ia mencungkil jari-jemari mayat itu, dilihatnya jari telunjuk kanan-kiri masing-masing ada setitik darah kering. Seperti luka yang habis digigit nyamuk atau seperti bekas dicocok jarum bilamana orang hendak diperiksa darahnya pada jaman ini. Namun begitu sudah mengakibatkan kematian perempuan ini.

Pwe-giok berdiri dan menghela napas panjang, gumamnya pula, “Kiranya rahasia untuk masuk ke dalam istana ini terletak pada kedua titik di huruf “ci” ini.”

Huruf yang terukir di dinding batu itu pun, penuh debu, hanya kedua titik pada huruf “Ci” saja yang kelihatan licin dan bersih, seolah-olah sering digosok.

Dengan girang Kim-yan-cu berseru, “Aha, betul, aku pun tahu sekarang. Asalkan kedua titik pada huruf Ci ini ditekan, seketika akan muncul pintunya, begitu bukan?”

Sambil berkata segera ia hendak menekan kedua titik itu.

Cepat Pwe-giok mencegahnya dan berkata, “Apakah kau pun akan meniru perempuan baju hijau ini? Jika setiap kali hendak membuka pintu istana harus mengorbankan satu nyawa, harga ini kukira terlalu mahal.”

Mendadak sinar perak gemerdep, si kakek telah merampas pedang pendek dan memotong kedua jari telunjuk mayat itu, lalu digunakan menekan kedua titik huruf Ci itu.

Seketika dinding yang tadinya rapat dan rata itu berbunyi keriat-keriut, pelahan-lahan dinding itu bergeser dan muncul selapis tirai bermutiara yang melambai hingga menyapu lantai.

Cahaya mutiara gemerlapan menyilaukan mata, di atas juga muncul enam belas huruf yang berbunyi, “Kegembiraan yang bahagia, dinikmati bersama anda. Masuk ke dalam pintu ini, sekaligus naik ke surga.”

Air muka si kakek yang tadinya dingin dan hambar itu seketika memperlihatkan rasa gembira dan bersemangat, sinar matanya mencorong terang, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak; “Hahaha! Rahasia Siau-hun-niocu akhirnya terjatuh juga di tanganku sekarang!”

Di tengah gelak tertawanya itu ia lantas menyingkap tirai dan melangkah masuk.

Kim-yan-cu coba memeriksa kedua potong jari kutung yang di buang ke lantai itu, ternyata pada ujung jari yang sudah hitam kering itu bertambah lagi dua lubang kecil. Ia pandang Pwe-giok sekejap, katanya dengan penuh rasa terima kasih, “Kembali kan telah menyelamatkan diriku. Sungguh tak tersangka pada kedua titik kecil inipun terpasang perangkap yang dapat membunuh orang.”

Kiranya pada kedua titik itu masing-masing ada sebuah jarum berbisa yang sangat lembut dan hampir sukar terlihat oleh mata telanjang Bilamana jari itu tercocok jarum, hanya terasa gatal sedikit dan bilamana mulai merasa sakit, maka tak tertolong lagi orangnya.

Pwe-giok sedang memandangi tirai bertabur mutiara itu, seperti sedang menimbang apakah harus ikut masuk atau tidak. Sekonyong-konyong sebuah tangan yang pucat terjulur keluar dari balik tirai dan menarik Kim-yan-cu ke dalam.

Terdengar si kakek berkata, “Harta pusaka ini ada separuhnya adalah milikmu, kenapa kau tidak ikut masuk kemari?”

Belum habis ucapannya Kim yan-cu sudah terseret masuk ke sana.

Diam-diam Pwe-giok merenungkan apa yang bakal terjadi nanti, pikirnya; “Setelah maksud tujuannya tercapai, orang tua ini pasti takkan melepaskan diriku…”

Sementara itu didengarnya suara sorak gembira Kim-yan-cu, akhirnya Pwe-giok ikut melangkah masuk ke sana.

Di balik tirai itu memang betul terdapat suatu dunia lain. Seketika Pwe-giok merasa silau oleh gemerlapnya cahaya emas dan sinar perak sehingga tidak jelas keadaan di dalam.

Tiba-tiba Kim-yan-cu mendekatinya dengan membawa sebuah cangkir kumala, di dalam cangkir penuh terisi ratna mutu manikam yang kemilauan sehingga wajah si nona yang berseri-seri itu semakin menarik.

“Lihatlah, betapa indah benda-benda ini?” seru si nona dengan berjingkrak gembira.

“Kau suka?” tanya Pwe-giok.

“Anak perempuan mana yang tidak suka kepada intan permata? Kalau lelaki suka kepada intan permata adalah karena nilainya yang tinggi, sedangkan perempuan suka kepada intan permata adalah karena keindahannya. Coba lihat, yang ini bagus atau tidak?”

Dia lantas angkat seuntai kalung mutiara dan digantung di depan lehernya, cahaya mutiara yang kemilauan menyinari kerlingan matanya yang redup seperti agak mabuk.

Pwe-giok menjawab dengan gegetun, “Betapa pun indahnya mutiara ini, mana bisa lebih indah daripada kerlingan matamu?”

Kim-yan-cu menunduk dan tertawa, mukanya menjadi merah.

Tapi si kakek bercahaya perak tadi sama sekali tidak memandang mereka, terhadap ratna mutu manikam yang memenuhi ruangan itu seolah-olah juga tidak tertarik, ia masih terus mencari dan menggeledah di segenap pelosok.

Mutiara, jamrud, kumala, mirah, safir . . .. satu persatu dibuangnya di lantai seperti membuang sampah. Sungguh aneh, apakah barang yang dicarinya bisa lebih berharga daripada benda-benda mestika ini?

“Menurut kau, apakah dia sedang mencari Siau-hun-pit-kip (kitab pusaka penggetar sukma) tinggalan Siau-hun-kiongcu itu?” tanya Kim-yan cu dengan suara tertahan.

“Kukira begitulah,” jawab Pwe-giok.

Kim-yan-cu tertawa cekikik, katanya, “Dia kan bukan perempuan, seumpama berhasil meyakinkan ilmu memikat tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, lalu apa gunanya?”

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, “Bisa jadi Kungfu yang diyakinkan nya sehaluan dengan ilmu Siau-hun kiongcu ini. Jika keduanya bergabung dan saling menambal kekurangan masing-masing, dengan sendirinya lantas besar manfaatnya. Atau mungkin juga dia mempunyai anak perempuan…”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar si kakek bergelak tertawa seperti orang gila. Terlihat tangannya yang pucat itu memegangi beberapa jilid buku tipis warna jambon, rasa gembiranya itu jauh melebihi Kim-yan-cu ketika menemukan batu permata tadi.

Tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.

“Cita-citaku telah terkabul, kau harus ikut bergembira bagiku, kenapa kau menghela napas?” omel si kakek dengan tertawa.

“Soalnya Cayhe lantas teringat kepada pepatah “Niau-cin-kiong-cong” (burung habis gendewa disimpan, kiasan bahwa setelah burung terbidik, gendewa tidak diperlukan lagi), maka aku menjadi sedih.”

“Kan sudah kukatakan takkan kubunuh kau, masa aku ingkar janji,” ujar si kakek dengan tergelak. Lalu ia menggunakan tangan kiri dan memberi tanda garis tengah ruangan itu dan berkata pula, “Bukan saja jiwamu takkan kuganggu, bahkan aku tetap pegang janji dan akan ku bagi separoh harta pusaka ini kepadamu. Di sinilah batasnya, yang sebelah sana semuanya adalah milikmu, boleh kau ambil saja sesukamu.”

“Anda dapat pegang janji, tidak sia-sia ku sebut engkau sebagai Cianpwe,” ujar Kim-yan-cu dengan tertawa.

Tapi Pwe-giok menanggapi dengan tak acuh, “Biarpun Cianpwe memberikan kepadaku seluruh harta pusaka ini, kalau tidak dapat kubawa keluar kan juga percuma dan tiada gunanya,”

Sembari bicara, seperti tidak sengaja, ia tetap menghadang di depan pintu tanpa bergeser.

Si kakek tertawa, katanya, “Meski ilmu silatmu kurang tinggi, kukira tenagamu cukup kuat, boleh kau bungkus saja harta pusaka ini sekantong demi sekantong, kan akhirnya dapat kau bawa pergi seluruhnya?”

“Sekalipun Cianpwe tidak mengganggu jiwaku, tapi bila Cayhe sedang meringkasi benda-benda berharga ini, mungkin Cianpwe terus melayang keluar dan menyumbat pintu keluar, lalu apa gunanya biarpun Cianpwe memberikan seluruh harta karun ini kepadaku?”

Tak tersangka oleh si kakek bahwa pemuda yang tampaknya lugu dan tulus itu dapat menerka isi hatinya. Sejenak ia melenggong, dari malu ia menjadi gusar, segera ia membentak, “Kau menghadang di depan pintu, apakah kau kira aku tidak mampu keluar?”

Di tengah bentakannya kelima jarinya laksana kaitan terus mencengkeram urat nadi pergelangan tangan Pwe-giok.

Mendadak Pwe-giok memutar tangannya dan berbalik memotong urat nadi lawan, gerakan cepat dan balas menyerang secara licin ini membuat si kakek terkejut, cepat telapak tangannya yang lain juga memukul.

—–

Dapatkah Pwe-giok melawan si kakek dan siapakah sebenarnya kakek yang misterius ini?

Rahasia apa yang terpendam di istana Siauw-hun-kiong-cu yang menjadi incaran orang itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: