Kumpulan Cerita Silat

18/05/2010

Renjana Pendekar – 08

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:07 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Hiku, M_haury, dan Yusuf_hary)

Apa yang digunakan Thi-hoa-nio ini disebut “Lo-pek-ciau-hun-tay-hoat” atau ilmu sapu tangan pengisap sukma. Gerak tangannya kelihatan enteng tapi sesungguhnya memerlukan kecermatan yang luar biasa, baik gerakannya, timingnya, arah angin, semuanya harus diperhitungkan dengan tepat.

Selain itu, lebih dulu pihak lawan harus dirayu sehingga setengah linglung dan sama sekali tidak berjaga-jaga, untuk ini sudah tentu diperlukan daya pelet dan kecerdikan, jadi lambaian sapu tangan yang kelihatannya sepele ini sesungguhnya memerlukan pengetahuan yang luas dan dalam, sebab itulah ia termasuk satu di antara ke tujuh ilmu iblis berbisa dari Thian-cam-kau.

Selama ini entah sudah berapa banyak orang kangouw yang terjungkal di bawah “Lo-pek-ciau-hun-hoat” ini, mengingat usia Ji Pwe-giok yang masih muda belia, Thi-hoa-nio yakin pasti dapat merobohkannya.

Siapa tahu, biarpun masih muda usia Pwe-giok sudah kenyang pengalaman, sudah berkali-kali ia menghadapi momen menentukan mati dan hidup, terhadap siapapun dia senantiasa waspada, maka begitu melihat gelagat tidak baik, segera ia menahan pernapasannya.

Begitulah Thi hoa nio menjadi terkejut, namun di mulut ia masih bicara dengan manis, “Wah, besar amat lagakmu, masa diundang dengan hormat saja tidak mau?!”

Terdengar seorang menukas dengan tertawa di kejauhan, “Jika kongcu sudi ikut pergi bersama kami kakak beradik, kujamin kongcu pasti takkan kecewa!”

Suaranya berat dan rada parau, namun penuh daya pikat yang menggetar sukma, setiap katanya seolah-olah mengkili-kili hati setiap lelaki.

Di tengah suara tertawa, tertampaklah Gin hoa nio (si bunga perak) telah muncul, begitu riang wajahnya seakan-akan alisnya lagi tertawa dan matanya juga sedang tertawa. Hampir setiap bagian sekujur badannya seperti lagi tertawa genit terhadap Pwe-giok.

Belum lagi orangnya mendekat sudah tersiar dulu bau harumnya yang merangsang, sebelah tangannya yang membelai rambut dengan kerlingan mata yang menggiurkan, katanya pula dengan tersenyum getir, “Ku tahu kongcu pasti takkan menolak ajakan kami bukan?”

“Bukan,” jawab Pwe giok dengan hambar, jawaban yang sederhana.

Tampaknya melengak juga Gin hoa-nio, tapi ia lantas berkata pula dengan lenggokan pinggang menggiurkan, “Masa kongcu sampai hati?”

Setiap gerak-gerik Gin hoa nio seolah-olah ingin memancing kaum lelaki berbuat sesuatu, setiap kerlingan dan senyumnya cukup menimbulkan gairah kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, mirip orang yang lagi menonton suatu permainan.

Hakekatnya Pwe giok tidak perlu bicara, sikapnya yang dingin dan menghina ini sudah lebih tajam daripada kata-kata apapun juga.

Gin hoa-nio menghela napas, ucapnya, “Kau tidak mau ikut, juga tidak pergi, memangnya untuk apa kau cuma berdiri saja di sini?”

“Aku ingin tahu Khing hoa sam-niocu masih mempunyai kemahiran apalagi?” jawab Pwe-giok dengan tertawa.

Mendadak air muka Gin hoa-nio berubah, ia tertawa terkekeh-kekeh dan berseru, “Baik!”

Begitu kata “baik” terucapkan, serentak ketiga kakak beradik itu lantas berputar dengan cepat, mantel mereka yang longgar lantas ikut berkibar sehingga kelihatan tubuh mereka.

Seketika Pwe-giok melenggong.

Sungguh tak tersangka bahwa tubuh di dalam mantel itu ternyata telanjang bulat. Di antara tubuh yang putih mulus itu hanya bagian pinggul saja yang menggunakan sepotong gaun hijau yang cekak dan kelihatan kedua kakinya yang jenjang. Dadanya padat dengan kulit badan yang putih bersih.

Mantel hitam mereka mendadak terbang seperti kupu-kupu raksasa, rambut mereka yang panjang terurai di atas dada yang putih, dada yang kelihatan kenyal dan tergetar-getar.

Gaya tarian mereka tampak halus dengan tangan yang mulus serta kaki yang jenjang mempesona, semua ini seakan-akan sedang menggapai-gapai Pwe giok.

Lambat laun pipi ketiga nona itu bersemu merah dengan mata setengah terbuka dan mulut setengah terpentang, dada berombak naik turun dan mengeluarkan suara yang menggetar sukma. Inilah suara kehausan dan gerakan yang penuh harap.

Semua ini benar-benar bisa membikin gila kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, sorot matanya juga tidak dialihkan ke jurusan lain.

Kini gaya tari mereka yang semula kelihatan ruwet itu mulai berubah menjadi sederhana dan bersahaja, mereka seperti masih meronta-ronta ditengah kehausan, bergeliat, berkeluk-keluk, bergemetar dan memohon…

Mendadak Pwe giok menghela napas, katanya, “Nona Kim hoa, gaya tarian mu ini kalau dilihat Tong kongcu, lantas bagaimana jadinya?”

Tubuh Kim hoa niocu tampak bergemetar mirip kena dicambuk orang. Namun tariannya masih tetap berlangsung.

Sekonyong-konyong Gin hoa-nio tertawa nyaring, serentak ketiga nona itu berjungkir dengan kepala di bawah, dengan tangan sebagai kaki mereka menari dengan lebih gila lagi.

Dapat dibayangkan jika perempuan telanjang menjungkir dengan kaki bergerak-gerak di udara dan rambut terurai di lantai dan… tidak perlu menyaksikan sendiri juga setiap orang dapat membayangkan betapa gilanya gaya tersebut. Apabila ada lelaki yang tidak berdebar-debar jantungnya dan timbul reaksi badaniah yang spontan demi menyaksikan tari yang gila ini, maka lelaki itu pasti punya penyakit jika tidak mau dikatakan abnormal.

“Awas, itulah Siau-hun-thian-mo-bu!” tiba-tiba terdengar suara Tong Bu-siang berseru dengan suara gemetar. “Blang”, mendadak daun jendela ditutupnya, ia tidak berani memandang lagi. Siau-hun-thian-mo-bu, tarian iblis pembetot sukma, siapapun tidak tahan melihat tarian gila ini.

Rupanya Tong Bu-siang menyadari betapa lihay daya tarik tarian itu, bila dirinya tidak tahan seketika bisa tertimpa bencana, sungguh ia tidak berani menyerempet bahaya ini.

Suasana sunyi sepi, hanya terdengar suara napas dan keluhan yang menggetar sukma saja, seperti membawa semacam irama yang aneh yang dapat menghancurkan iman setiap lelaki.

Sejenak kemudian, “blang”, daun jendela yang tertutup tadi mendadak berlubang dan dibobol dari dalam, rupanya Tong Bu-siang tidak tahan oleh suara keluhan yang merangsang itu, betapapun dia ingin melihatnya.

Wajah orang tua ini kelihatan merah padam, sorot matanya seolah-olah membara, sekujur badan gemetar, saking tak tahan beberapa kali ia hendak menerjang keluar kamar, namun ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya, celakanya matanya justru sukar dipejamkan.

Tarian iblis pembetot suka ini benar-benar menimbulkan daya pikat yang sukar dibayangkan.

Di bawah bimbingan orang tua yang kereng, sejak kecil watak dan iman Pwe-giok sudah terpupuk dengan kuat. Melulu soal iman, di antara tokoh-tokoh Bu-lim sekarang mungkin tiada seberapa orang yang dapat menandingi dia. Jika tiada keteguhan iman yang melebihi orang lain ini, mungkin dia sudah gila selama lebih sebulan ini mengalami pukulan yang luar biasa ini.
Walaupun demikian, tidak urung jantungnya sekarang juga berdebur-debur dan hampir tiada bertenaga lagi.

Pada saat itu, sinar sang surya menyorot terlebih terang, di depan matanya seolah-olah terlapis cahaya kelabu yang gemerlapan, waktu ia mengawasi lebih cermat, di sekelilingnya ternyata sudah terjalin selapis jaring halus.

Jaring halus berwarna putih kelabu telah mengurungnya di tengah, benang perak yang halus dan hampir tidak kelihatan oleh mata telanjang itu terus terjulur dari ujung jari Khing-hoa-sam-niocu.

Mendadak Thi-hoa-nio melompat ke atas, lalu berdiri tegak, ucapnya dengan tertawa, “Boleh juga ketajaman matamu, akhirnya dapat kau lihat juga.”

“Cara nona mempertontonkan keindahan tubuhmu ini, apakah tujuan kalian adalah untuk memasang jaring labah-labah yang tiada artinya ini?” tanya Pwe-giok dengan gegetun.

“Salah jika demikian pikiranmu,” jawab Thi-hoa-nio dengan tertawa. “Thian-mo sin bu sendiri yang kami tarikan ini memang sudah penuh daya pikat, jika kau tidak percaya, boleh kau lihat Tong loyacu itu, bilamana kami tidak mengingat kepada Tong-kongcu, mungkin… mungkin ahli Am-gi nomor satu yang termasyhur ini sekarang sudah… sudah… ” dia sengaja tidak melanjutkan dan tertawalah terkial-kial.

Tanpa terasa Pwe-giok berpaling ke sana, dilihatnya Tong Bu siang bersandar diambang jendela dengan lunglai, tampaknya sedikitpun tiada bertenaga pula.

Nyata apa yang dikatakan Thi-hoa-nio barusan memang bukan bualan, bilamana Thian-mo-bu ini ditujukan kepada Tong Bu-siang, saat ini mungkin jago Am gi nomor satu ini sudah mati di bawah kerumunan nona-nona bunga ini. Mau tak mau terkesiap juga Pwe-giok.

Sampai sekian lama Thi-hoa-nio tertawa, habis itu mendadak ia berkata pula dengan menyesal, “Cuma sayang, kau ini lebih mirip patung, sama sekali tidak tahu menikmati keindahan orang perempuan, maka terpaksa kami melepaskan Gin-si (benang perak), tapi inipun bukan benang labah-labah.”
“Habis apa kalau bukan benang labah-labah?” tanya Pwe-giok.
“Akan kuberitahukan, supaya tambah pengetahuanmu.” ujar Thi-hoa-nio. “Inilah ‘Ceng-si’ yang dikeluarkan oleh ‘Thian-cam’ (ulat sutera sakti), mahluk sakti agama kami.”
“Ceng-si (benang cinta)?… Bagus juga nama ini,” ujar Pwe-giok dengan tersenyum. “Apabila sudah terlibat oleh Ceng-si ini, maka sukarlah melepaskan diri, benang cinta ini akan mengikat dan merasuk tulang, betapa nikmat rasanya yang menggetar kalbu itu, mimpipun tak dapat kau bayangkan.” kata Thi-hoa-nio pula dengan tertawa genit. “Cuma sayang, terlalu cepat kau melihat benang cinta ini tadi, kalau tidak, tentu sekarang kenikmatannya sudah kau rasakan.”

Pwe-giok tahu Thian-cam ceng-si ini pasti keji luar biasa, tadi apabila dirinya sampai terlibat oleh benang itu, maka jangan harap akan bisa terlepas lagi, mau tak mau harus pasrah nasib untuk diperlakukan sesuka mereka, tatkala mana mungkin minta hidup tak dapat, ingin matipun sukar.

Nyata, dalam waktu singkat tadi meski tampaknya tiada terjadi sesuatu yang berbahaya, tapi sesungguhnya dia sudah berada di ambang pintu neraka dan untung bisa pulang balik.

Teringat begitu, tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin, namun lahirnya dia tetap tenang-tenang saja, katanya dengan tersenyum, “Cayhe cukup maklum, semakin indah nama sesuatu benda, semakin keji pula benda itu. Seperti Siau-hun-san (Puyer pembuyar sukma), To-ceng-ciu (Arak pelarian cinta) dan sebagainya, kuyakin Ceng-si andalan kalian ini pasti juga sejenisnya.”

Mulut Thi-hoa-nio menjengkit, ucapnya, “Ceng-si agama kami ini tidak dapat dibandingi benda apapun di dunia ini, barang sebangsa Sian-hun-san, To-ceng-ciu dan sebagainya mana dapat disejajarkan dengan Ceng-si?”
“Jika demikian, tadi waktu para nona menumpahkan Ceng-si dari tangan, mengapa benang itu tidak kalian libatkan pada tubuhku, sungguh sampai saat ini aku merasa tidak paham.”

“Sudah kubilang kau ini orang tolol, nyatanya kau memang bebal.” ujar Thi-hoa-nio dengan tertawa genit. “Tadi jika kami benar benar langsung melibat dirimu dengan Ceng-si, bukankah segera akan diketahui olehmu? Hanya satu dua utas Ceng-si mana dapat mengikat patung seperti kau ini?”

“Oo, kiranya demikian.” ucap Pwe-giok dengan tersenyum.

Melihat senyuman anak muda itu, segera Th-hoa-nio merasa dirinya telah terpancing dan terlanjur bicara tentang daya guna Ceng-si. Ia berkedip-kedip, lalu berkata pula dengan tertawa, “Tapi saat ini kau sudah terkurung rapat oleh Ceng-si kami bertiga dan jangan harap akan dapat lolos lagi, lebih baik kau berlutut dan menyerah kepada kami, kujamin pasti akan memuaskan kau.”

“Para nona memiliki Ceng-si, aku kan juga punya Hui-kiam (pedang tajam),” kata Pwe-giok. Habis bicara, sekali tangannya bergetar, Am-gi keluarga Tong yang menancap di ranting kayu yang masih dipegangnya itu segera ada dua buah melayang kesana.

Meski kedua biji Am-gi ini terpental karena tenaga sentakan ranting kayu itu, namun dari suara mendesingnya yang keras, jelas jauh lebih kuat daripada ditimpukkan dengan tangan orang lain.

Tak terduga, Am-gi sekuat itu sama sekali tak berguna, begitu menyentuh jaring cinta itu, sama seperti laron masuk ke jaring, meronta tak bisa terlepas, menerjang tak dapat tembus.

Pwe-giok jadi teringat pada dirinya sendirinya juga terikat oleh benang cinta Lim Tay-ih, selama ini pikirannya selalu dirundung rindu dan sukar dilupakan, entah pula bagaimana nantinya.

Teringat sampai di sini, seketika timbul macam-macam pikirannya, ucapnya dengan tersenyum getir, “Nama Ceng-si yang nona gunakan ini sungguh nama yang sangat bagus dan sukar dicari.”
“Dan sekarang kau sudah menyerah?” tanya Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Pwe-giok termangu-mangu seperti orang linglung, seolah-olah tidak mendengar apa yang diucapkan si nona.

Thi-hoa-nio berkata pula, “Jika kau tidak segera menjawab, sekali jaring kami tarik, seketika kau akan menjadi setan bagi cinta.”

“Bisa menjadi setan bagi cinta mungkin akan lebih baik daripada selama hidup senantiasa dirundung rindu,” jawab Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

“Baik jika memang begitulah kehendakmu!” seru Thi-hoa-nio. Dia bertepuk tangan pelahan, lapisan jaring yang putih kelabu itu lantas mulai ringkas ke tengah, pelahan-lahan mendesak ke tubuh Ji Pwe-giok, apabila tubuhnya tersentuh Ceng-si, maka sukarlah melepaskan diri.

Benang cinta ini memang tiada ubahnya seperti benang kematian!

Entah apa yang terpikir oleh Ji Pwe-giok, tampaknya ia tidak menyadari malaikat elmaut selangkah demi selangkah sedang mendekatinya.

Dipandang dari jauh Pwe-giok seperti berdiri di tengah tiga dewi cantik dan sedang bersenda gurau, siapa yang tidak mengiler melihat adegan yang menggiurkan ini? Siapa pula yang tahu sesungguhnya anak muda itu sudah terjeblos ke dalam jaringan maut.

Kim-hoa-nio hanya memandangi Pwe-giok dengan termangu-mangu, ucapnya dengan rawan, “Menjadi setan bagi cinta memang jauh lebih baik daripada hidup dirundung rindu tak sampai, tampaknya kau sudah berpengalaman cinta, seumpama matipun tidak menjadi soal.”

Mendadak Pwe-giok tertawa dan bersenandung, “Ingin tak rindu, membuat orang cepat tua, setelah berpikir, tetap rindu jua…” ditengah senandungnya pelahan ia ayun ranting kayunya setengah lingkaran, Am-gi yang menancap pada ranting kayu itu seluruhnya lengket pula pada jaring cinta itu hingga berwujud suatu lingkaran.

“Hihi, dengan besi rongsokan ini kau kira dapat membobol benang cinta kami ini?” kata Thi-hoa-nio dengan tertawa mengikik.

Belum lenyap suaranya, dengan ranting kayu sebagai pedang, Pwe-giok terus menusuk berpuluh kali, setiap kali tusukannya tepat mengenai Am-gi yang menempel di ‘jaring cinta’ itu. Tenaga tusukan yang digunakan sangat kuat.

Thi-hoa-nio merasa pergelangannya tergetar hebat, bukan saja jaring itu sukar ditarik dan ringkas, sebaliknya malah terasa membentang lebar, tanpa terasa ia berseru, “Sungguh cerdik caramu ini, rasanya akupun rada-rada kagum padamu.”

Hendaklah diketahui bahwa benang ulat sutera alam itu mempunyai daya lengket yang sangat kuat, benda apapun bila melengket lantas sukar terlepas, karena benang itupun bisa mulur mengkeret, maka ditolak atau dipentang sekuatnya tetap sukar membobolnya.

Kalau melulu menggunakan ‘Pedang’ dan langsung menusuk ‘jaring cinta’ itu, sekali pedang melengket, sekalipun besar tenaganya dan dapat melubangi jaring itu, tapi orangnya tetap akan terlilit juga di tengah jaring.

Tapi sekarang Pwe-giok menghamburkan lebih dulu am-gi sebanyak itu dan menempel pada jaring, lalu ‘pedang’ menghantam am-gi dengan sendirinya berbagai senjata rahasia itu takkan melengket benda lain dan Pwe-giok lantas dapat memainkan pedangnya dengan leluasa.

Cara ini tampaknya sangat sederhana, tapi bila tiada mempunyai kecerdasan luar biasa tidak nanti dapat berpikir sejauh ini. Sekarang ranting kayu ditangan Pwe-giok telah berubah menjadi sebilah pedang serba guna.

Terdengarlah serentetan suara ‘trang tring’ yang nyaring. Susul menyusul Pwe-giok menusuk terlebih gencar, tenaga yang dilontarkan juga semakin kuat, padahal jaring itu sedang ditarik dan diringkaskan oleh ketiga nona bunga itu, sebaliknya Am-gi yang ditusuk pedangnya menerjang keluar dengan kuat, akhirnya ujung berbagai senjata rahasia itupun tertembus keluar jaring.

Mendadak Pwe-giok bersiul panjang sambil berputar kencang, pedang menggaris, lingkaran senjata rahasia yang berjajar itu tertolak lebih keras oleh pedang itu. Senjata rahasia pertama merenggang satu-dua inci ke samping dan menyampuk senjata rahasia kedua. Maka senjata rahasia kedua itu dapat merobek jaring cinta itu beberapa inci lagi terus menghantam senjata rahasia ketiga dan begitu seterusnya…

Hanya dalam sekejap saja “Jaring Cinta” itu hampir terobek seluruhnya, ketika Pwe-giok menyingkap dengan ujung ranting kayunya, segera orangnya menerobos keluar sambil bersiul panjang melengking.

Khing-hoa-sam-niocu seakan-akan kesima menyaksikan olah Pwe-giok yang luar biasa itu, baru sekarang mereka terkejut sadar dan cepat melompat mundur bersama.

“Bagus, bagus sekali” seru Thi-hoa-nio dengan tertawa. “Di kolong langit ini kau orang pertama yang dapat menerobos keluar dari Ceng-bang (jaring cinta) ini. Kau memang hebat dan pantas dibanggakan…”

Di tengah suara tertawanya yang seram, mendadak ia mencabut sebilah golok emas yang menancap di pohon, sekali berkelebat, lengan beberapa orang teringkus di batang pohon itu ditabasnya mentah-mentah. Darah segar berhamburan, tapi orang-orang itu seperti tidak merasa sakit, mereka malah tertawa seperti orang gendeng.

Thi hoa-nio lantas melemparkan lengan kutung yang berlumuran darah itu kepada Pwe-giok.

Dengan gusar Pwe-giok membentak; “Sampai sekarang kalian masih membikin celaka orang?”, cepat la melompat mundur, ia tahu darah yang muncrat dari lengan kutung itu pasti darah berbisa yang bisa membikin celaka orang.

Saking gemasnya melihat kekejian Thi-hoa-nio itu, segera Pwe-giok melayang ke atas dan hendak menerjang mereka.

Tapi mendadak “blang”, suara letusan menggelegar, beberapa lengan kutung itu mendadak meledak dan berubah menjadi kabut darah yang mengerikan. Kabut berdarah itu tersebar dengan sangat cepat dan membanjir ke arah Pwe-giok.

Saat itu Pwe-giok masih terapung di atas, ia terkejut, sebisanya ia melejit di udara sehingga tubuh sendiri terpental lebih cepat ke belakang dan turun kembali ke bawah. Dilihatnya kabut berdarah itu masih terus menjalar, cuma jaraknya sekarang sudah mulai menjauh.

Didengarnya suara Thi-hoa-nio yang seram berkumandang dari jauh, “Sekali Thian-can (ulat sutera sakti) menyusup tulang, sebelum mati, takkan berhenti, boleh kau tunggu saja nanti…”

Kabut itupun mulai menipis, tapi bayangan Khing-hoa-samniocu sudah tidak kelihatan lagi, hanya golok emas yang menancap di pohon itu tampak masih bergoyang-goyang.

Kebetulan angin meniup, seketika tercium bau darah yang anyir. Pwe-giok ingin tumpah, sungguh tidak kepalang kejutnya mengingat apa yang terjadi barusan.

Terdengar Tong Bu-siang lagi berkata dengan menghela napas panjang, “Inilah ilmu andalan Thian-can-kau yang disebut Kim-to-kay-te, Hiat-sun-tay-hoat (Golok emas membelah tubuh, ilmu menghilang di balik kabut darah). Sekali ilmu ini dikeluarkan, di dunia ini mungkin tiada seorangpun yang mampu menangkap mereka.”

Ahli senjata rahasia nomor satu yang termasyhur ini tampak bersandar lemas di ambang jendela dan memandang jauh ke depan, sorot matanya juga menampilkan rasa kejut dan takut yang tak terhingga, seperti membayangkan bahaya dan petaka yang bakal timbul.

“Agama iblis sekeji dan kejam ini, mengapa tiada orang yang mau menumpas mereka?” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Tong Bu-siang tersenyum getir, katanya, “Memangnya siapa yang sanggup menumpas mereka? Ilmu silat Thian-can-mo-kau sungguh teramat keji, orang biasa hakekatnya tidak dapat mendekati mereka, begitu menempel tubuh mereka seketika jiwa melayang”

“Siapakah Kaucu mereka?” tanya Pwe-giok.

“Kaucu Thian-can-kau hakekatnya tidak pernah dilihat oleh siapapun juga, jejaknya sukar diketahui, pergi datang tanpa bekas serupa hantu, wajah aslinya tidak pernah dikenal orang, bahkan siapa namanya juga tiada yang tahu.”

“Aku tidak percaya bahwa di dunia ini tiada seorangpun yang mampu mengatasi dia?” ujar Pwe-giok.

“Ilmu silat Thian-can-kau memang sangat keji, tapi juga tidak sembarangan mengganggu orang, jejaknya juga jarang ditemukan di wilayah Tionggoan, mereka kebanyakan berkeliaran di pegunungan sunyi dan di daerah terpencil, bilamana mereka tidak mencari orang lain, hakekatnya orang lainpun sukar menemukan mereka.”

“Namun aku tetap yakin pasti ada orang yang akan menumpas mereka,” kata Pwe-giok pula pelahan setelah termenung sejenak.

Terbelalak mata Tong Bu-siang, katanya, “Ya, mungkin kau… kau masih muda dan berani, tinggi pula ilmu silatmu, apabila kelak ada orang yang mampu menumpas Thian-can-kau, maka… maka orang itu pastilah kau. Mengenai diriku…” dia menyengir, lalu menyambung pula, “Pada waktu mudaku hidupku tidak teratur dan suka menuruti bisikan hati, iman tidak teguh. Jadi ilmu jahat Thian-can-kau kebetulan adalah lawan maut bagiku.”

Baru sekarang Pwe-giok tahu apa sebabnya seorang guru besar dunia persilatan terkenal ini sedemikian jeri terhadap Khing-hoa-sam niocu dan begitu mudah dipengaruhi oleh tarian gila tadi.

Mendadak Sebun Bu kut melongok keluar dan memandang Pwe-giok dengan tersenyum misterius, katanya, “Thian-can merasuk tulang, sebelum mati tidak berhenti. Sekali kau terlibat mereka, jarang ada orang yang dapat lepas dengan hidup. Meski sekarang mereka sudah pergi, tapi Ji-kongcu masih perlu hati-hati.”

“Untuk ini tidak perlu anda ikut kuatir,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum hambar.

“Jika demikian, biarlah Cayhe mohon diri lebih dulu,” kata Sebun Bu kut. Tiba-tiba ia berpaling kepada Tong Bu-siang dan bertanya, “Dan Tong cianpwe? …”

Tong Bu-siang tampak ragu, katanya, “Ji-kongcu ….”

“Cianpwe silahkan pergi saja dan tidak perlu kuatir bagiku,” sela Pwe-giok dengan tertawa, “Bila aku tak dapat menjaga diriku sendiri, cara bagaimana aku akan berkelana di dunia Kangouw kelak?”

Tong Bu-siang berpikir sejenak, katanya pula, “Ya, kuyakin kau pasti dapat menjaga dirimu sendiri. Hanya perlu kau ingat, masa paling lihay dari racun ulat ini hanya tujuh hari, asalkan kau dapat bertahan tujuh hari pertama, selanjutnya tentu tidak berbahaya lagi.”

“Tapi untuk tujuh hari itulah sampai sekarang belum pernah ada orang yang sanggup menghindarinya” kata Sebun Bu-kut dengan seram. Habis itu, sekuatnya ia memayang Ong Uh-lau dan diajak pergi.

Menunggu sesudah Tong Bu-siang juga pergi, barulah Ki Leng-yan muncul dengan tertawa, katanya, “Memang ku tahu di dunia ini tiada seorang perempuan pun yang sampai hati mem… ” belum habis ucapannya, mendadak Pwe-giok jatuh terkapar.

Terlihat wajahnya pucat menghijau, bibirnya bergemetar, sekujur badan menggigil, Leng-yan coba merabanya, terasa badan pemuda itu panas seperti dibakar.

Rupanya tadi waktu kabut berdarah mulai buyar, tanpa terasa ia telah menghisapnya setitik, waktu itu ia memang sudah merasakan gelagat tidak enak, tapi baru sekarang racun itu mulai bekerja.

Leng-yan seperti terkesima saking cemasnya, dipandangnya Pwe-giok dengan termangu-mangu, katanya kemudian, “Akhirnya kau terkena juga… terkena juga racun mereka.”

Pwe-giok merasa seluruh badan sebentar dingin sebentar panas, ia tahu keracunan tidak ringan, tapi dia memang berbudi luhur, selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Ia kuatir Leng-yan berkuatir dan berduka baginya, maka sedapatnya ia berlagak tenang. katanya dengan tertawa, “Sejak tadi ku tahu keracunan, tapi… tapi tak beralangan… ”

Ling-yan berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jika sejak tadi tahu keracunan, mengapa tidak kau katakan?”

“Kau tahu Sebun Bu-kut dan komplotannya itu bermaksud jahat padaku,” tutur Pwe-giok. “Jika tadi ku perlihatkan tanda-tanda keracunan, mungkin mereka takkan meninggalkan diriku. Sebab itulah aku bertahan sekuatnya hingga sekarang.”

Meski untuk bicara saja rasanya sangat sulit, namun Pwe-giok bertahan dan berusaha memberi penjelasan kepada Ki Leng-yan, diharapkannya semoga anak perempuan yang masih polos dan suci bersih ini bisa lebih banyak memahami seluk-beluk orang hidup.

Nona itu menghela napas, katanya, “Ai, kenapa manusia selalu punya macam-macam soal ruwet begitu, burung tentu tidak …..”

Memandangi wajah si nona yang kekanak-kanakan dan linglung itu, susah juga hati Pwe-giok. Ia tahu ucapan Sebun Bu kut tadi bukan untuk menakutinya, Khing-hoa-sam-niocu pasti takkan melepaskan dia, selama tujuh hari ini pasti sukar dilewatkan. Apalagi sekarang dirinya keracunan, untuk berdiri saja tidak kuat.

Bilamana sekarang dia didampingi orang lain, mungkin dapat membantu dia menghindarkan malapetaka ini, celakanya yang mengiringinya sekarang adalah Ki Leng-yan yang linglung dan tidak dapat bertindak apapun.

Semakin dipikir semakin gelisah Pwe-giok, apabila Khing-hoa-samniocu datang lagi dan melihat Ki Leng-yan, mungkin anak dara ini takkan diampuni. Teringat demikian, cepat ia berseru, “Kawanan burung sedang menantikan dirimu, lekas kau pergi mencari mereka saja!”

“Dan kau?” tanya Leng-yan. “Aku… aku akan istirahat di sini,” jawab Pwe-giok. Leng-yan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa: ‘Biarlah kutunggu kau di sini, bila kau sudah sembuh, kita pergi bersama.” – Dengan tersenyum lantas ia berduduk dan sama sekali tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Pwe-giok dalam keadaan gawat.

Pwe-giok merasa darah dalam tubuhnya bergolak hebat, mulut mendadak terasa kaku dan mati rasa, ingin bicara, namun bibir tak dapat bergerak lagi. terpaksa ia hanya memandangi Ki Leng-yan dengan sorot mata yang cemas.

Dilihatnya wajah Ki Leng-yan yang tersenyum simpul itu makin lama makin kabur, makin jauh, suaranya juga seperti semakin lirih seolah-olah berkumandang dari tempat yang tidak kelihatan, sayup-sayup terdengar nona itu berkata, ” Jangan kuatir, bilamana kawanan burung sakit, akupun senantiasa menjaga mereka, setiap hari kusuapi obat kepada mereka, obatku sangat manjur, setelah ka minum tentu akan jauh lebih segar.”

Pwe-giok ingin berteriak, “Aku bukan burung, mana boleh minum obat burung!”

Namun satu katapun tak dapat diucapkannya, ia merasa Leng-yang telah menjejalkan sebiji obat ke mulutnya, pil itu lantas cair dan mengalir ke dalam kerongkongan, malahan terasa membawa semacam bau harum yang aneh.

Ia merasa pikirannya mulai tenang, badan terasa segar dan enak sekali, selang sejenak pula mendadak ia terpulas.

ooooo000OO000ooooo

Begitulah Pwe-giok tertidur dan mendusin dan tertidur pula. Apabila mendusin, Ki leng-yan lantas menyuapi ia satu biji obat, sehabis minum obat rasanya menjadi segar, lalu tertidur pula dengan nyenyaknya.

Mula-mula bila dia mendusin dia masih terus mendesak: ‘Lekas kau pergi saja, larilah lekas, setiap saat Khing-hoa-samniocu bisa muncul lagi.”

Tapi akhirnya ia merasa badan sedemikian segarnya, terhadap segala urusan penuh keyakinan biarpun Khing-hoa-samniocu sekarang datang lagi rasanya juga tidak takut pula.

Ia sendiri tidak paham mengapa bisa timbul perasaan begitu, iapun tidak tahu apakah masa tujuh hari yang konyol itu sudah lewat atau belum.

Entah berapa hari sudah lalu, suatu hari mendadak Pwe-giok sadar kembali, sadar seluruhnya, ia merasa tubuhnya segar bugar, sedikitpun tiada tanda-tanda lemas sehabis keracunan, bahkan rasanya penuh semangat, penuh gairah.

Ki leng-yan juga sedang memandangnya dengan tersenyum. “Obatku memang manjur bukan?” demikian tanya si nona.

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Ya, memang sangat manjur, sungguh obat mujarab yang jarang ada bandingannya…” Sembari bicara iapun memandang sekelilingnya, baru sekarang dia mengetahui dirinya masih berada di kamar itu, meski mayat dan darah sudah tersapu bersih, tapi segera teringat lagi olehnya akan “Khing-hoa-niocu”. ia terkesiap, tanyanya, “Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Rasanya seperti sudah delapan atau sembilan hari,” jawab Leng-yan. “Apa? Sembilan hari?…Dan mereka tidak datang?” seru Pwe-giok kaget.

Tujuh hari yang konyol itu ternyata sudah dilaluinya tanpa sadar, ia terkejut dan bergirang pula, sungguh rada-rada tidak percaya. “Kau merindukan mereka?” jawab Pwe-giok dengan menyengir. “Aku cuma… cuma heran mengapa mereka tidak datang lagi?”

“Dan mengapa kau tidak pergi saja, apakah sengaja menunggu kedatangan mereka?” kata Leng-yan dengan tenang-tenang.

Mendadak Pwe-giok melonjak bangun, serunya, “He, betul juga. mereka pasti tidak menyangka aku masih berada di sini, mereka tentu akan mengejar ke tempat jauh sana dan tidak tahu bahwa aku belum pergi dari sini,” Ia pegang tangan leng-yan, katanya dengan tertawa, “Meski tindakan ini rada-rada menyerempet bahaya, tapi dalam keadaan terpaksa, kukira akal ini adalah akal paling bagus yang dapat dipikirkan, syukur kau dapat memikirkan akal ini.”

“Akal apa? Aku tidak tahu!” kata Leng-yan dengan tertawa linglung. Pwe-giok melengak, dipandangnya wajah yang masih polos, bersih dan kekanak-kanakan itu, entah nona ini benar-benar orang gendeng dan berbuat secara kebetulan saja, atau sebenarnya memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Leng-yan berbangkit, mendadak ia tertawa dan berkata, “Marilah kita pergi, mereka sedang menunggu kau di luar!”

“Apa? mereka menunggu di luar?” Pwe-giok menegas dengan kaget.

“Ya,” jawab Leng-yan dengan tertawa, “Waktu kau tertidur, banyak pula kudapatkan kawan baru di sini, ada kakak gagak, ada adik pipit, sudah kubicarakan dengan mereka, bilamana sakitmu sudah sembuh, akan kubawa kau berkenalan dengan mereka.”

Sementara itu sinar sang surya tampak memancar masuk melalui jendela, waktu masih pagi, di luar memang benar ramai burung berkicau.

Pwe-giok lantas ikut keluar bersama Ki Leng-yan. Begitu melihat kawanan burung, dengan tertawa senang nona itu lantas berlari ke sana.

Pwe-giok melihat pohon itu masih tegak berdiri di sana dihembus silir angin pagi, cuma orang-orang yang semula terikat di pohon itu sudah tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba teringat olehnya pondokan yang letaknya meski terpencil ini toh tidak terlalu jauh dari perkampungan lain, jika di tempat ini mendadak mati orang sebanyak ini, mengapa tiada orang bertanya atau menyelidiki apa yang terjadi. Sesungguhnya orang-orang yang terikat di pohon itu orang hidup atau mati?

Selain itu, tempat penginapan ini sekarang juga tiada nampak bayangan seorangpun. Aneh, apakah semuanya sudah lari dan tiada yang mengurus? Jika tidak ada yang mengurus, mengapa dirinya dapat tinggal di sini sampai delapan atau sembilan hari?

Pertanyaan-pertanyaan ini cukup membuat pusing kepala. Sekalipun Pwe-giok sudah sadar, tapi cara bagaimana pula harus diselesaikannya. Ki Leng-yan yang sama sekali tidak paham seluk-beluk kehidupan manusia ini.

Berpikir sampai di sini, timbul juga rasa curiga Pwe-giok, dipandangnya Leng-yan yang sedang berkeplok dan berjingkrak gembira di kejauhan itu, pikirnya, “Jangan-jangan nona ini tidak gendeng sungguh-sungguh, tapi cuma pura-pura bodoh… Mungkinkah selama beberapa hari ini sudah pernah kedatangan orang lain yang membantu dia menyelesaikan urusan di sini. Tapi mengapa dia tidak omong padaku?”

Tapi segera terpikir lagi, “Ah, dengan susah payah orang telah menolong diriku, tapi aku malah mencurigai dia, betapapun tidak pantas. jika dia bermaksud jahat padaku, untuk apa pula dia menyelamatkan diriku?”

Dilihatnya Ki Leng-yan sedang berlari-lari kemari dengan tertawa riang, serunya sesudah dekat, “Mereka (maksudnya kawanan burung) memberitahukan padaku bahwa di depan sana ada sebuah tempat yang baik, maukah kita melihatnya ke sana?”

Di bawah cahaya sang surya, kelihatan pipi si nona bersemu merah laksana buah apel yang mulai masak, sinar matanya mencorong terang, begitu jernih dan polos seolah-olah tidak tahu betapa licik dan kejinya kehidupan manusia ini.

“Marilah ikut!” ajak Leng-yan pula sambil menarik tangan Pwe-giok. Pwe-giok merasa tiada halangan untuk menolak, dia ikut melangkah ke sana.

Tidak lama kemudian, tertampak di depan sana ada sebuah perkampungan yang cukup megah, pintu gerbang perkampungan itu bercat merah mentereng, dapat diduga penghuni gedung ini pasti bukan sembarang orang.

“Sudah sampai, marilah kita masuk ke sana,” kata Leng-yan tiba-tiba sambil menarik tangan Pwe-giok. “Di dalam sini banyak hal yang menarik, hayo kita melihatnya.’

“Ini rumah siapa? mana boleh sembarangan masuk ke rumah orang lain?” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Tidak apa-apa, masuk saja,” ajak Leng-yan pula.

Dengan lagak rumah ini aku punya, nona itu lantas menolak pintu dan masuk tanpa permisi. Terpaksa Pwe-giok ikut terseret masuk ke sana.

Halaman di dalam ternyata sangat luas, ruangan tamu juga terpasang sangat mewah.

Langsung Ki Leng-yan masuk ruangan tamu terus berduduk. Anehnya juga tiada orang yang merintanginya. Padahal halaman rumah ini terawat rapi dan bersih, jelas ada penghuninya.

“Mumpung tuan rumahnya belum keluar, marilah kita lekas pergi saja,” ajak Pwe-giok.

Tapi Leng-yan tidak menghiraukannya, sebaliknya ia malah berkata:

“Hayo ambilkan teh.”

Sejenak kemudian, benarlah seorang lelaki berbaju hijau (seragam kaum hamba yang umum) membawakan dua mangkuk teh dan ditaruh dengan hormat di atas meja, tanpa bersuara terus tinggal pergi pula dengan kepala tertunduk.

Leng-yan minum seteguk teh yang di suguhkan itu, lalu berseru pula, “Perutku lapar!”

Hanya sebentar saja, segera beberapa orang menghidangkan santapan yang diminta dengan sikap yang sangat menghormat, bukan saja tidak bersuara sepatah pun kepada mereka, bahkan memandang saja tidak berani.

Melenggong lah Pwe-giok, ia mengira dirinya sedang bermimpi.

Segera Leng-yan mengangkat sumpit, katanya dengan tertawa, “Hayolah makan, kenapa sungkan-sungkan?” Dia lantas mendahului menyumpit hidangan dan dimakan dengan nikmatnya.

Pwe-giok sendiri tiada napsu makan, ia termenung-menung, sejenak kemudian, ia tidak tahan dan bertanya, “Apakah tuan rumah di sini memang kenalan mu?”

Leng-yan tidak menggubrisnya, ia makan lagi beberapa sumpit, mendadak ia pegang meja terus didomplangkan, keruan mangkuk piring jatuh berantakan.

“Mana orangnya!” teriak si nona.

Beberapa lelaki baju hijau berlari keluar dengan tergopoh-gopoh, semuanya mengunjuk rasa gugup dan takut, semuanya berdiri di depan Leng-yan dengan kepala tertunduk, sampai bernapas saja tidak berani keras-keras.

Dengan mata melotot Leng-yan berteriak, “Kenapa begini asin masakan Haysom-ah-ciang (teripang masak kuah telapak kaki itik), siapa yang menghidangkan nya tadi?”

“Hamba!” cepat salah seorang baju hijau menjawab dengan suara gemetar sambil berlutut.

“Apakah kau sengaja hendak membikin aku mati keasinan?” teriak Leng-yan pula.

Pwe-giok tidak tahan, ia ikut bicara, “Dia kan tidak mencicipi, darimana tahu rasanya asin atau cemplang, mana boleh kau menyalahkan dia. Apalagi kita makan gratis di tempat orang lain, masa kau marah-marah malah?”

Leng-yan tertawa, katanya, “O, aku tidak tahu urusan, jangan kau marah padaku.”

“Ai, kau…”

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, sekonyong-konyong lelaki baju hijau yang berlutut itu berseru, “Hamba tidak layak menghidangkan makanan yang terlalu asin ini, hamba pantas mampus, tangan yang membawa hidangan ini lebih-lebih harus mampus…” mendadak ia melolos sebilah belati dari pinggangnya dan “krek”, kontan ia potong tangan sendiri.

Terkejut Pwe-giok, dilihatnya orang itu kesakitan setengah mati, butiran keringat memenuhi dahinya, tapi tidak berani merintih sedikitpun, tangan kanan memegangi pergelangan tangan kiri yang buntung itu dengan darah bercucuran, namun tetap berlutut dan tidak berani berdiri.

“Ehm, mendingan begini,” kata Leng-yan dengan tertawa manis.

“He, ken… kenapa kau berubah menjadi sekejam ini?” seru Pwe-giok.

“Mereka kan bukan burung, kenapa harus ku sayang mereka?” jawab si nona.

“Memangnya manusia tidak lebih berharga daripada burung?” kata Pwe-giok.

“Mereka suka dan rela, kenapa kau ribut bagi mereka?” ujar Leng-yan dengan tertawa.

“Di dunia ini mana ada orang yang suka rela membikin cacat anggota tubuh sendiri?” seru Pwe-giok dengan gusar.

Leng-yan tidak menanggapinya, ia pandang lelaki berbaju hijau dan bertanya dengan tertawa, “Kalian tunduk kepada perintahku secara sukarela, begitu bukan?”

Tidak saja lelaki baju hijau yang membuntungi tangan sendiri, bahkan semua hamba itu menjawab serentak, “Ya, secara sukarela.”

“Bagus!” kata Leng-yan dengan gembira. “Jika demikian, coba kalian memotong dua jari masing-masing”

Kata-kata ini membikin Pwe-giok terperanjat.

Siapa tahu orang-orang ini benar-benar lantas melolos pisau dan “krak-krek”, beramai-ramai mereka memotong dua jarinya sendiri.

“Kalian berbuat demikian secara suka rela, bukan?” tanya Leng-yan pula.

“Ya, sukarela.” jawab orang-orang itu tanpa perduli darah mengucur dari tangan masing-masing.

“Kalian tidak merasa sakit, sebaliknya malah sangat senang, betul tidak?” tanya Leng-yan pula.

“Betul, hamba gembira sekali,” jawab orang-orang itu berbareng.

“Kalau gembira, kenapa tidak tertawa?” kata Leng-yan.

Serentak tertawalah orang-orang itu meski sebenarnya semuanya kesakitan setengah mati, dengan sendirinya tertawa demikian lebih tepat dikatakan meringis.

Merinding Pwe-giok menyaksikan kejadian luar biasa ini, tanpa terasa iapun berkeringat dingin.

Sungguh sukar dibayangkan, kaum lelaki yang kekar dan segar ini seakan-akan telah menjadi boneka semata-mata. Mereka hanya mengiakan apa yang dikatakan Ki Leng-yan dan perintah nona itu lantas dilakukan. Sungguh kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapapun Pwe-giok tidak percaya di dunia ini ada kejadian aneh begini.

Leng-yan berpaling dan tertawa kepadanya, katanya, “Tahukah kau sebab apa mereka tunduk kepada perkataanku?”

“Mer…mereka…” Pwe-giok gelagapan.

Tapi Leng-yan lantas menukas, “Sebab mereka telah menjual sukmanya kepadaku.”

Bulu roma Pwe-giok merasa berdiri seluruhnya, serunya kaget, “Ap…apakah kau sudah gila…”

Si nona tersenyum tenang, katanya pula, “Bukan saja sudah ku beli sukma mereka, bahkan sukma mu selekasnya juga akan ku beli, bukan saja mereka tunduk kepada perintahku, nanti kaupun harus tunduk.”

Pwe-giok menjadi gusar, teriaknya, “Kau berani…. ber…”

“Sekarang kedua kakimu sudah lemas, sekujur badanmu tidak bertenaga lagi, berdiri saja tidak sanggup, cukup satu jari saja dapat ku robohkan kau!” kata Leng-yan dengan tertawa.

Mendadak Pwe-giok berdiri, tapi memang betul, kedua kakinya terasa lemas, “bluk”, ia jatuh terduduk pula.

“Selang sebentar lagi sekujur badanmu akan terasa sebentar dingin sebentar panas, habis itu seluruh badan akan terasa sakit dan gatal, rasanya seperti beribu-ribu semut sedang menyusup ke dalam kulit daging mu.”

Padahal tidak perlu sebentar lagi, sekarang juga Pwe-giok sudah mempunyai perasaan begitu, dengan suara gemetar ia bertanya, “Kau…kau turun tangan keji padaku?”

“Hehe, selain diriku masa ada orang lain?” jawab Leng-yan dengan tersenyum manis.

Gemerutuk gigi Pwe-giok saking ngerinya, teriaknya parau, “Meng…mengapa tidak kau bunuh saja diriku?”

“Orang berguna seperti kau ini, kan sayang jika kubunuh?” ujar si nona dengan tertawa.

Keringat dingin memenuhi dahi Pwe-giok, tanyanya dengan parau, “Sesungguhnya apa kehendakmu?”

“Meski sekarang kau merasa seperti terjeblos di dalam neraka,” kata Leng-yan pula “Tapi asalkan kau mau menjual sukma kepadaku, segera dapat kubawa kau menuju ke surga, bahkan ke dunia yang jauh lebih gembira daripada surga.”

Pwe-giok merasa tidak tahan lagi akan siksaan ini, dengan suara serak ia tanya, “Apa yang kau inginkan?”

“Sekarang, hendaklah segera kau pergi ke suatu tempat yang disebut kim-khak-ceng, 23 penghuni perkampungan itu, tua-muda, laki-perempuan harus kau bunuh seluruhnya….” kata leng-yan dengan tertawa. “Lo Cu-liang, pemilik perkampungan itu terkenal kaya-raya, sekaranglah aku sangat memerlukan harta-bendanya itu.” “Apakah dalam keadaan begini aku sanggup membunuh orang?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Saat ini kau memang tidak sanggup membunuh, tapi setiba di Kim-khak-ceng segera kau akan berubah menjadi maha kuat, bila tenagamu tidak kau keluarkan akan terasa tersiksa malah, rasanya seperti mau meledak,” kata si nona.

Siksaan yang sukar ditahan ini hampir membuat Pwe-giok lupa segalanya, sekuatnya ia berdiri dan menerjang keluar pintu, tapi mendadak dia berlari balik dan berteriak dengan parau, “Tidak, tak dapat kulakukan hal ini.”

“Kau harus, harus kau lakukan, apakah kau ingin bertaruh denganku?” kata Leng-yan dengan tertawa.

Dengan suara gemetar Pwe-giok berkata, “Tadinya kukira kau ini anak perempuan yang tulus dan bersih, siapa tahu semua ini cuma pura-pura saja, kau berlagak seperti tidak tahu apa-apa agar orang lain tidak was-was terhadap dirimu, siapa tahu kau terlebih … lebih keji daripada Ki Leng-hong!”

“Hihi,” Leng-yan tertawa misterius. “Memangnya kau kira aku ini siapa?”

Pwe-giok memandangnya tajam, tiba-tiba dilihatnya sorot mata si nona yang poos dan bersih itu memancarkan sinar tajam laksana mata elang. Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, ucapnya, “He, kau… kau inilah Ki Leng-hong!”

Nona itu tertawa terkekeh-kekeh, dia memang bukan Ki Leng-yang melainkan Ki Leng-hong. Katanya dengan tertawa, “Sudah belasan hari kau menjadi orang tolol, baru sekarang kau tahu siapa diriku. Hehe, memangnya kau kira aku benar-benar paham bahasa burung? Di dunia ini mana ada manusia yang benar-benar paham bahasa burung? Biarpun si idiot Leng-yan sendiri juga belum tentu paham. Apa yang kau pahami adalah hasil penyelidikanku sendiri dengan segenap daya upaya ku, kalau manusia saja tidak tahu, darimana burung bisa tahu? Huh, kau sok anggap dirimu pintar, masa hal ini tak dapat kau pahami?”

Gemetar sekujur badan Pwe-giok, katanya, “Pantas, pantas kau berkeras ingin ikut padaku. Pantas kau memperhitungkan Khing-hoa samniocu, pasti takkan datang lagi, apalagi datang ke hotel kecil itu…”

“Ya, meski kau terkena racun Khing-hoa-samniocu, tapi tidak terlalu berat, malahan tampaknya kau pernah minum semacam obat mujarab apa yang memiliki daya tahan sangat kuat terhadap segala jenis racun.”

“Betul, itulah Siau-hoan-tan dari Kun-lun-pay…?”

“Tepat.” sela Leng-hong dengan tertawa.

“Cuma Siau-hoan-tan Kun-lun-pay itu meski dapat menawarkan segala macam racun, namun terhadap Kek-lok-wan (pil maha girang) yang kuberikan padamu ini sedikitpun tak berguna.”

“Kek-lok-wan apa?” Pwe-giok menegas dengan kaget.

“Jadi Kek-lok-wan yang kau beri minum padaku ini telah membikin keadaanku menjadi rusak sedemikian rupa? apakah orang-orang itupun terkena racun Kek-lok-wanmu, maka… maka sukma merekapun dijual kepadamu?!”

“Jika Kek-lok-wanku kau anggap sebagai racun, maka itu sama seperti kau menghina diriku,” kata Leng-hong.

“Meski sekarang kau sangat menderita, tapi cukup minum satu biji Kek-lok-wan, seketika semua rasa derita akan lenyap, bahkan semangatmu akan timbul berlipat ganda dan membuatmu merasa nikmat tak terhingga.”

“Apakah… apakah Kek-lok-wanmu ini bisa membuat orang ketagihan?” tanya Pwe-giok dengan suara gemetar.

“Barang siapa sudah keracunan maka setiap hari harus meminumnya, kalau tidak tentu akan merasa tersiksa dan tak tertahankan?”

“Memang benar perkataanmu,” kata Leng-hong dengan tertawa.

“Dalam kek-lok-wanku ini mengandung semacam getah tumbuh-tumbuhan yang berasal dari negeri barat, tumbuhan ini berbunga sangat indah, tapi getah buahnya dapat membuat hidup orang seperti terbang ke awang-awang, tapi juga dapat membikin orang hidup lebih menderita daripada mati.”

Mendadak ia berpaling dan bertanya kepada orang-orang berbaju hijau, “Hidup kalian sekarang bukankah sangat bahagia?”

“Ya, selamanya hamba tidak pernah sebahagia sekarang ini.” sahut orang-orang itu serentak. “Dan bagaimana kalau tidak kuberi Kek-lok-wan kepada kalian ?” tanya Leng-hong pula.

Seketika wajah orang-orang itu berkerut-kerut, sorot matanya menampilkan rasa kuatir, jelas rasa takut ini timbul dari lubuk hati yang dalam, semuanya munduk munduk dan memohon dengan sangat, “Mohon ampun, nona, apapun akan hamba lakukan bagi nona, asalkan setiap hari nona memberi satu biji Kek-lok-wan.”

“Demi memperoleh satu biji Kek-lok-wan, kalian tidak segan-segan menjual ayah-ibu bahkan istrinya sendiri, begitu bukan?” tanya Leng-hong lagi.

Serentak orang-orang itu mengiakan.

Leng-hong berpaling ke arah Pwe-giok dan tertawa, katanya, “Meski kau tak punya ayah-ibu dan istri untuk dijual, tapi kau dapat menjual dirimu sendiri, dengan tubuhmu sebagai imbalannya akan kau dapatkan kebahagiaan sukma mu yang tak terhingga, tidakkah ini cukup berharga bagimu?”

Keringat bercucuran dari dahi Pwe-giok, serunya dengan tergagap, “Aku… aku…”

Leng-hong berkata dengan suara lembut, “Kau tidak berdaya melawan lagi, selama delapan hari itu setiap hari telah kutambah kadar Kek-lok-wan yang kuberi minum padamu, kecanduanmu sekarang sudah jauh lebih dalam daripada mereka, penderitaan yang kau rasakan hakekatnya tidak mungkin dapat ditahan oleh siapapun juga, kukira lebih baik kau tunduk dan menurut perintah saja.”

Pwe-giok menggertak gigi, saking tersiksanya sampai bicarapun sukar.

“Lebih cepat kau menyatakan tunduk, lebih cepat pula akan berkurang rasa derita mu, kalau tidak, kau hanya akan tersiksa lebih lama secara sia-sia, sebab akhirnya kau toh pasti akan menyerah juga,” habis berkata Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang keluar sebiji obat berwarna coklat, seketika tercium bau harum yang aneh.

Dengan sorot mata yang rakus orang-orang berbaju hijau itu sama melototi pil yang dipegang Leng-hong itu, tampang mereka itu mirip anjing kelaparan yang melihat tulang, bahkan orang-orang ini tampaknya terlebih rendah daripada anjing.

Leng-hong menyodorkan obat itu ke depan Pwe-giok, katanya dengan tertawa:

“Ku tahu kau tidak tahan lagi, boleh kau minum dulu satu biji ini, lalu mulailah bekerja. Asalkan kau menyatakan tunduk padaku, akupun pasti percaya padamu.”

Pwe-giok meremas-remas tangan sendiri, serunya dengan parau, “Tid… tidak, aku… aku tidak boleh!…”

Dengan suara terlebih halus Leng-hong berkata pula, “Sekarang, asalkan pil ini kau terima, seketika dari neraka kau akan menuju ke surga. Kebahagiaan yang dapat kau peroleh dengan cara semudah ini, jika kau tidak mau, kan bodoh kau?”

Orang-orang berbaju hijau itu sama mendekam di lantai, napas mereka ngos-ngosan seperti anjing di musim birahi.

Pwe-giok melirik sekejap orang-orang itu, tiba-tiba terpikir olehnya bilamana obat itu diminum, seketika dirinya akan berubah serendah orang-orang ini dan selama hidup akan mengesot di bawah kaki Leng-hong untuk memohon belas kasihannya agar memberinya satu biji Kek-lok-wan, selama hidupnya akan menjadi budaknya dan tenggelam di tengah penderitaan yang kotor dan rendah serta takkan menjelma lagi untuk selamanya.

Berpikir sampai di sini, sekujur badan Pwe-giok sudah penuh keringat dingin, mendadak ia meraung keras-keras, dua orang berbaju hijau itu didepaknya hingga terjungkal, seperti orang gila ia terus menerjang keluar.

Anehnya Ki Leng-hong tidak merintanginya, ia cuma berucap dengan dingin, “Kau mau pergi, boleh pergilah. Cukup kau ingat, bilamana kau tidak tahan derita lagi, setiap saat kau boleh pulang kembali ke sini, Kek-lok-wan ini senantiasa menantikan kedatanganmu, bila kau kembali ke sini segera kau akan mendapatkan pembebasan.”

Tersembul senyuman keji pada wajahnya, katanya pula dengan pelahan, “Sekalipun kakimu di rantai juga kau akan kembali ke sini, biarpun kedua kakimu ditebas buntung merangkak pun kau akan pulang lagi ke sini.”

0000-0000

Pwe-giok terus berlari-lari, ia menerjang ke ladang, ia menjatuhkan diri di tanah berpasir, bergulingan dan meronta, pakaiannya sudah terkoyak-koyak, tubuh pun berdarah, tapi sedikitpun tidak dirasakannya. Penderitaan lahiriah ini bukan apa-apa, yang sukar ditahan adalah penderitaan yang timbul dari rohaniahnya.

Jika orang tidak pernah mengalami sendiri, selamanya takkan dapat membayangkan betapa menakutkan penderitaan yang sukar dilukiskan itu.

Bahkan Pwe-giok membentur-benturkan kepalanya kepada batu padas sehingga berdarah, ia menggertak gigi kencang-kencang, ujung mulut pun berdarah, ia memukuli dada sendiri dan menjambak rambut…

Semua itu tetap tiada gunanya, telinganya selalu mengiang ucapan Ki Leng-hong tadi, “Setiap saat kau boleh pulang kembali ke sini… bila kau kembali ke sini segera kau akan mendapat pembebasan?”

Pembebasan, saat ini yang dipikirkannya memang cuma mengharapkan pembebasan, apakah untuk itu harus menjual raga sendiri atau menjual sukma sendiri, ia tidak perduli lagi.

Seperti apa yang sudah diduga Ki Leng-hong, mendadak ia berbangkit dan menerjang kembali ke arah datangnya tadi.

Mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Aha, akhirnya kami dapat menemukan kau.”

Tiga sosok bayangan orang segera melayang tiba seperti burung cepatnya dan menghadang di depan Pwe-giok, tertampak mantel hitam yang gemerlapan tertimpa sinar matahari. Mereka ternyata “Khing-hoa-samniocu” adanya.

Akan tetapi bagi Pwe-giok sekarang ketiga ‘nona bunga’ ini tidak menakutkan lagi. Ia mendelik matanya merah membara, teriaknya parau, “Menyingkir! Biarkan ku lewat!”

Heran dan terkejut juga Khing-hoa samniocu melihat perubahan luar biasa Pwe-giok ini, ketiga kakak beradik itu saling pandang sekejap, sambil berkerut kening Thi-hoa-nio lantas berkata, “Pemuda yang cakap dan ganteng mengapa berubah menjadi seperti binatang buas ?”

Belum lenyap suaranya, serentak Pwe-giok menerjang tiba. Saat ini meski tenaganya sengat kuat, tapi itu cuma tenaga yang timbul secara naluri, ia sudah lupa cara bagaimana menggunakan tenaga dalam dan kepandaian.

Perlahan Gin-hoa-nio lantas menjulurkan sebelah tangannya untuk menjegal, kontan Pwe-giok jatuh tersungkur. Kaki Gin-hoa-nio lantas menginjak di atas punggung anak muda itu, katanya dengan tercengang, “Mengapa orang ini berubah menjadi begini, sampai ilmu silat sendiripun tidak ingat lagi.”

“Kumohon, lepaskan diriku!” ratap Pwe-giok sambil meronta dan menggabruki tahan pasir.

“Hm, kau kira kami akan melepaskan kau pergi?” jengek Gin-hoa-nio.

“Jika kalian tidak mau melepaskan diriku, lebih baik kalian bunuh saja diriku!” seru Pwe-giok.

“Ai, kenapa kau berubah menjadi begini?” tanya Kim-hoa-nio dengan gegetun, “Apakah kau terkena sesuatu racun?”

“Kek-lok-wan… Kek-lok-wan, kumohon beri… berilah satu biji Kek-lok-wan!” teriak Pwe-giok dengan serak.

“Apa itu Kek-lok-wan?” tanya Kim-hoa-nio.

“Kuterima segala permintaanmu, ku tunduk kepada segala perintahmu, ku rela menjadi budak mu, akan kulakukan apa saja…” agaknya anak muda itu sudah kurang sadar sehingga bicara tak keruan.

“Lihay amat Kek-lok-wan itu,” Kata Kim-hoa-nio, “Mengapa tak pernah kuketahui barang apakah Kek-lok-wan ini sehingga dapat mengubah watak seorang yang keras kepala begini rela menjadi budaknya?”

“Perduli barang apa, pokoknya kita bawa saja dia,” kata Thi-hoa-nio setelah berpikir sejenak.

Ia memberi tanda, segera beberapa gadis jelita bergaun cekak berlari dari lereng bukit sana, mereka membawa sebuah karung berwarna putih kelabu, Pwe-giok terus dimasukkan ke dalam karung itu.

Karung itu entah terbuat dari bahan apa, kuat dan ulet luar biasa, sia-sia Pwe-giok meronta, memukul dan menendang di dalam sambil berteriak-teriak.

Mungkin mimpipun Ki Leng-hong tidak pernah menyangka Ji Pwe-giok akan ditawan orang dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pergi, kalau tidak, pasti seperti apa yang telah diucapkannya, biarpun merangkak juga Pwe-giok akan balik lagi ke sana.

“Sungguh aneh sekali racun yang diidapnya, entah cara bagaimana menawarkan nya dan entah siapa di dunia Kangouw ini yang paham cara menawarkan racun semacam ini.” kata Kim-hoa-nio dengan masgul.

“Jika kita saja tidak sanggup menawarkannya, siapa lagi di dunia ini yang sanggup?” ujar Thi-hoa-nio.

“Habis, apakah membiarkan dia dalam keadaan demikian?” ucap Kim-hoa-nio sambil berkerut kening.

“Toaci jangan lupa, dia adalah musuh kita,” kata Gin-hoa-nio dengan ketus. “Sekalipun dia tidak keracunan juga kita akan membunuh dia, sekarang dia keracunan, mengapa kita berbalik akan menolongnya?”

Kim-hoa-nio menghela napas panjang, jawabnya, “Meski dia musuh kita, tapi melihat keadaannya aku menjadi tidak tega dan merasa kasihan.”

“Toaci sungguh seorang pecinta besar, cuma cintamu rasanya menjadi tidak murni,” kata Thi-hoa-nio dengan tertawa.

“Memangnya kau kira kasihanku padanya demi diriku sendiri?” kata Kim-hoa-nio dengan mengulum senyum.

“Bukan demi dirimu, memangnya demi diriku?” ujar Thi-hoa-nio sambil terkikik-kikik.

“Ucapanmu sekali ini memang tepat, apa yang kulakukan ini justeru demi kau,” kata Kim-hoa-nio dengan tertawa.

“Aku?” Thi-hoa-nio menegas, mukanya menjadi merah, sambil menggigit bibir ia berkata pula, “Padahal… padahal namanya saja aku tidak tahu, masa… masa Toaci…” – Belum habis ucapannya mukanya bertambah merah dan mendadak ia berlari menyingkir.

Dalam pada itu sebuah kereta besar dan mewah tampak memapak tiba, segera kawanan gadis tadi menggotong karung yang berisi Pwe-giok ke dalam kereta. Khing-hoa-samniocu juga naik kuda masing-masing dan beramai-ramai terus membedal ke depan.

oOo-oOo

Kereta itu terus menuju ke selatan, melalui propinsi Oh-pak, Su-jwan, kemudian ke propinsi Kui-ciu.

Sepanjang jalan Pwe-giok masih terus meronta-ronta dan meraung-raung, jelas penderitaannya luar biasa. Tapi Khing-hoa-samniocu tidak memperlakukan dia dengan sadis, sebaliknya malah merawatnya dengan sangat baik.

Thi-hoa-nio yang galak dan liar itu seakan-akan berubah sama sekali sikapnya terhadap Pwe-giok, bahkan kelihatan merasa sedih.

Kim-hoa-nio tahu meski di mulut saudaranya itu tidak bicara, tapi di dalam hati sesungguhnya sedang berkuatir bagi Pwe-giok.

Sedangkan Gin-hoa-nio terkadang suka menyindir, “Coba lihat Sam-moay (adik ketiga), orang hampir membunuhnya, tapi dia malah menyukai dia.”

Dengan tertawa Kim-hoa-nio berkata, “Biasanya penilaian Sam-moay sangat tinggi, setiap lelaki di dunia ini dipandangnya seperti kotoran yang tidak laku sepeserpun. Sebenarnya aku berkuatir kalau-kalau selama hidupnya takkan mendapat pasangan, tapi sekarang dia bisa jatuh hati kepada seseorang, kan kita harus bergirang baginya.”

“Tapi orang yang ditaksirnya justeru adalah musuh kita,” kata Gin-hoa-nio.

“Ah, musuh apa?” ujar Kim-hoa-nio dengan tersenyum. “Padahal ada permusuhan apa antara dia dengan kita, apalagi kalau dia sudah menjadi suami Sam-moay, dari musuh kan terus berubah menjadi ipar?”

Gin-hoa-nio melengak, ia tertawa, katanya, “Sungguh aku tidak paham mengapa Sam-moay bisa penujui dia?”

“He, dia kan lelaki cakap yang jarang ada bandingannya, ilmu silatnya juga tergolong pilihan, pemuda sebaik ini siapa yang tidak menyukainya? apalagi usia sam-moay sudah waktunya birahi,” kata Kim-hoa-nio.

Gin-hoa-nio menggigit bibir dan tidak bicara lagi, ia terus melarikan kudanya ke depan.

Gerak gerik rombongan ini meski misterius, tapi sangat royal, tidak sayang buang uang, siapapun menghormati mereka, maka sepanjang jalan tiada terjadi sesuatu halangan.

Sesudah menyeberangi Tiangkang, mereka tidak mencari hotel lagi, sepanjang jalan mereka disambut dengan hormat oleh keluarga hartawan. Rupanya pengaruh Thian-can-kau diam-diam telah meluas hingga mencapai daerah Kanglam (selatan sungai Tiangkang), kebanyakan keluarga hartawan di daerah situ sudah masuk menjadi anggota cabang Thian-can-kau.

Yang menggembirakan Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio adalah keadaan Pwe-giok sudah semakin baik, penderitaannya sudah jauh berkurang, terkadang sudah dapat tidur dengan nyenyak.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa bekerjanya racun Kek-lok-wan yang mengandung morfin itu lambat laun akan berkurang apabila si penderita sanggup bertahan pada masa krisis yang memang sangat menyiksa itu.
Tapi bila tiada mendapat pertolongan, satu diantara sejuta mungkin juga tidak sanggup menahan siksaan batin yang maha hebat itu. Coba kalau Khing-hoa-sam-niocu tidak terus mencari jejak Ji Pwe-giok, saat ini dia mungkin sudah terjerumus semakin dalam.

Melihat keadaan Pwe-giok yang bertambah sehat, Thi-hoa-nio menjadi girang. Sebaliknya Gin-hoa-nio tampak semakin dongkol, agaknya dia menaruh dendam kepada Pwe-giok.

Meski perlahan-lahan Pwe-giok sudah sadar kembali, tapi keadaannya sangat lemas, seperti orang yang baru sembuh dari sakit keras.

Bila teringat dirinya hampir terjerumus ke neraka yang sukar melepaskan diri, tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin pula. Baik atau buruk, untung atau celaka, nasib manusia terkadang hanya bergantung pada sekian detik dan sekian jengkal saja.

Namun perlakuan Khing-hoa-samniocu yang teramat baik padanya membuat hatinya merasa tidak tenteram, ia tidak tahu apa pula maksud tujuan yang telah dirancang oleh ketiga kakak beradik yang misterius ini.

Dari propinsi Oh-pak mereka telah masuk ke Su-jwan. Suatu hari sampailah mereka di Song-peng-pah.

Song-peng-pah ini bukan kota besar, tapi jalan kota cukup rajin dan terpelihara. Kotanya juga ramai, orang berlalu lalang, banyak yang tertarik kepada ketiga kakak beradik yang cantik dengan keretanya yang besar itu.

Ketiga nona ini malah sengaja turun dari kuda masing-masing dan berjalan dengan bergandeng tangan, mereka melirik ke kanan dan tersenyum ke kiri, sungguh tidak kepalang senang mereka melihat orang lain sama terpesona terhadap mereka.

Mendadak Gin-hoa-nio menepuk pundak seorang di tepi jalan, tanyanya dengan tersenyum genit, “Apakah toako penduduk Song-peng-pah sini?”

Tanpa sebab ditepuk seorang nona cantik, tulang orang itu serasa lemas seluruhnya, melihat tangan yang putih halus itu masih semampir di pundaknya, tanpa terasa orang itu lantas merabanya dan menjawab dengan menyengir, “Ya, betul!”

Gin-hoa-nio seolah-olah tidak tahu tangannya lagi diraba-raba orang, ia tertawa terlebih manis, katanya pula, “Jika demikian, tentu Toako tahu di mana kediaman Ma Siau-thian?”

Mendengar nama Ma Siau-thian, seketika orang itu merasa seperti kena dicambuk satu kali, cepat ia menarik tangannya kembali dan menjawab dengan hormat, “O, kiranya nona ini kenalan Ma toaya, beliau tinggal tidak jauh di depan sana, di jalan seberang sana, belok ke kiri, gedung yang berpintu cat merah itulah.”

Tiba-tiba Gin-hoa-nio memberikan lirikan genit, lalu membisiki orang itu, “Kenapa kau takut kepada Ma Siau-thian? Asalkan kau berani, malam nanti boleh kau datang mencari diriku…” lalu ia meniup pelahan ke telinga orang itu dan tertawa.

Sukma orang itu seakan-akan terbang ke awang-awang, dengan muka merah ia menjawab, “O, aku… aku tidak berani.”

“Huh, percuma!” omel Gin-hoa-nio dengan tertawa menggiurkan sambil mencubit pelahan pipi orang itu.

Dengan melenggong orang itu menyaksikan kepergian rombongan Gin-hoa-nio, sampai lama ia masih berdiri terkesima seperti habis mimpi, ia meraba pipinya yang rada-rada gatal dan bergumam, “Keparat, barang baik hampir semuanya di borong olehmu, Ma Siau-thian, dasar…” mendadak pipinya yang rada gatal itu berubah menjadi rasa sakit, pipi itu sudah bengkak seperti kepala babi, kupingnya juga sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, ia kesakitan dan ketakutan sambil terguling-guling dan menjerit.

“Ai, untuk apa kau lakukan?” omel Kim-hoa-nio sambil menggeleng ketika mendengar jeritan ngeri dari jauh itu.

Gin-hoa-nio terkekeh-kekeh, katanya, “Terhadap lelaki yang suka iseng begini, kalau tidak dihajar adat sedikit tentu tidak kapok. Tampaknya Toaci telah berubah menjadi welas asih, apakah benar-benar sudah siap untuk menjadi menantu baik hati keluarga Tong?”

Kim-hoa-nio mendongkol, ia tidak bicara lagi, tapi terus melangkah ke depan dengan cepat. Terlihat dinding tembok tinggi di depan sana, beberapa orang sebangsa cecunguk sedang main dadu lempar di samping pintu besar sana.

Gin-hoa-nio mendekatinya, sekali depak ia bikin salah seorang lelaki itu terpental, orang-orang lain terkejut dan gusar, beramai-ramai mereka membentak.

Tapi Gin-hoa-nio memandang mereka dengan tertawa manis, katanya, “Numpang tanya para Toako, apakah di sini tempat kediaman Ma-toaya?”

Melihat wajah yang cantik itu, rasa gusar orang-orang itu seketika terbang ke awang-awang, mereka terbelalak memandangi Gin-hoa-nio dari segala sudut ke segenap bagian tubuhnya.

Seorang diantaranya berkata sambil cengar-cengir, “Akupun she Ma, akupun Ma toaya, ada keperluan apa adik sayang mencari diriku?”

“Ah, kulihat mukamu ini masih boleh juga,” ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa genit sambil menjulurkan tangannya untuk meraba muka orang.

Serentak orang itupun mendekatkan mukanya dan bermaksud mencium, tak tersangka dia lantas dipersen dengan sekali gamparan keras oleh Gin-hoa-nio hingga mencelat.

Keruan lelaki yang lain menjadi gusar terus hendak mengerubutinya.

Dengan tertawa Gin-hoa-nio berkata, “Aku kan tidak mau menjadi menantu orang, biarpun hatiku keji dan tanganku keras sedikit juga tidak menjadi soal.”

Dia ternyata sengaja berolok-olok kepada Kim-hoa-nio, beberapa orang itu terus dilabraknya hingga terkapar di sana-sini dengan kepala pecah dan darah mengucur.

Kim-hoa-nio mendongkol, tapi iapun tidak menghiraukan lagi.

Pada saat itulah terdengar seorang meraung, “Keparat, anak kura-kura darimana, berani ribut-ribut di depan pintu Locu? semuanya berhenti!”

Maka muncul seorang lelaki berjubah sulam dengan wajah merah diiringi beberapa lelaki kekar.

Segera Gin-hoa-nio menanggapi dengan tertawa, “Ah, kukira siapa, rupanya Ma-toaya sudah keluar! Wah, alangkah gagahnya, alangkah kerengnya!”

Beberapa pengiring itu segera mendelik dan bermaksud mendamprat, tapi Ma Siau-thian lantas pucat demi melihat ketiga nona ini, serentak ia bertekuk lutut dan menyembah, katanya dengan hormat, “Tecu Ma Siau-thian dari cabang Sujwan utara menyampaikan sembah bakti kepada ketiga Hiangcu, mohon maaf, karena tidak tahu akan kedatangan ketiga Hiangcu, sehingga tidak dilakukan penyambutan selayaknya.”

Gin-hoa-nio menarik muka dan mendengus, “Hm, mendingan Ma-toaya masih kenal kami, untung juga kau keluar pada waktunya yang tepat, kalau tidak kami mungkin bisa mampus dihajar oleh beberapa tuan yang gagah perkasa ini.”

Ma Siau-thian berkeringat dingin, cepat ia menyembah lagi dan berkata, “Kawanan binatang ini memang pantas mampus, mereka benar-benar buta melek, masa berani bersikap kasar kepada ketiga Hiangcu, sebentar Tecu pasti memberi hukuman setimpal kepada mereka.”

Dengan hambar Kim-hoa-nio lantas berkata, “Sudahlah, yang penting sekarang barangkali Ma-toaya dapat menyediakan suatu tempat bagi kami, sedapatnya tempat yang tenang, sebab kami membawa seorang sakit di dalam kereta.”

Berulang-ulang Ma Siau-thian mengiakan dan menyambut ketiga nona itu ke dalam rumah. Beberapa cecunguk itu sama terkesima melihat Ma-toaya yang biasanya malang-melintang itu sekarang ternyata munduk-munduk dan ketakutan terhadap ketiga nona cantik ini.

Ketika melangkah masuk ke dalam gedung itu, mendadak Gin-hoa-nio mendengus, “Yang menyudahi persoalan ini dan mengampuni mereka adalah Toaci, aku sendiri tidak berkata demikian.”

Ma Siau-thian menjadi kebat-kebit, katanya dengan tergagap, “Ya, Tecu… Tecu paham.”

Thi-hoa-nio menarik lengan baju Gin-hoa-nio dan berkata, “Ji-ci, kau tahu perasaan Toaci akhir-akhir ini kurang baik, kenapa kau suka membikin marah dia.”

“Dia kan tidak mencarikan pacar bagiku, untuk apa aku mesti menjilat dia?” jengek Gin-hoa-nio sambil mengebaskan lengan bajunya dan melengos

Setelah menyilakan ‘Khing-hoa-samniocu’ ke ruangan tamu, Ma Siau-thian mendadak menyingkirkan semua anak buahnya, lalu berkata dengan hormat, “Tecu tahu ketiga Hiangcu suka kepada ketenangan, maka setiap saat senantiasa menyediakan tempat yang baik bagi para Hiangcu.”

“O, dimana tempatnya?” tanya Kim-hoa-nio.

“Di sini,” jawab Ma Siau-thian. Dengan tersenyum ia lantas menggulung sebuah lukisan besar di ruangan tamu itu, tertampaklah di balik lukisan itu ada sebuah pintu rahasia. Pintu dibuka dan tertampaklah sebuah jalan tembus, dibalik pintu terdapat beberapa kamar indah.

“Kami kan tidak mau berbuat sesuatu yang malu dilihat orang, kenapa mesti main sembunyi-sembunyi,” jengek Gin-hoa-nio.

Ma Siau-thian menjadi seperti diguyur air dingin, ucapnya dengan gelagapan, “O, jika… jika Hiangcu kurang suka, di taman belakang masih ada tempat lain…”

“Biarlah, di sini saja,” sela Kim-hoa-nio dengan menarik muka. Segera ia mendahului melangkah masuk ke kamar rahasia itu, beberapa gadis mengikuti di belakangnya dengan menggotong Ji Pwe-giok.

Melihat tempat yang dikunjungi ketiga nona ini makin lama makin misterius, entah bagaimana nasibnya nanti bila digotong masuk ke situ. Namun apa daya, biarpun tidak suka, mau tak mau Pwe-giok hanya menurut saja karena badan tak bisa berkutik.

Setelah menaruh Pwe-giok di atas tempat tidur, beberapa gadis cantik itu lantas tinggal pergi dengan merapatkan pintu.

Sunyi senyap, di dalam kamar rahasia itu, selagi Pwe-giok berbaring memandangi langit-langit kamar dengan melamun, sekonyong-konyong seorang membuka pintu dan melangkah masuk. Ternyata Thi-hoa-nio adanya.

Nona ini berduduk diam saja di ujung ranjang dan memandangi Pwe-giok dengan mengulum senyum, satu kata saja tidak bicara.

Akhirnya Pwe-giok tidak tahan, ucapnya, “Sekali ini berkat pertolongan nona, kalau tidak … kalau tidak, Cayhe mungkin … mungkin …”

“Kau tidak benci kepada kami lagi?” tanya Thi-hoa-nio dengan tersenyum.

Pwe-giok tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya, ia menghela napas, katanya kemudian, “Cayhe tidak pernah membenci kalian, asalkan para nona jang… jangan…”

“Jangan membunuh orang, begitu bukan?” tukas Thi-hoa-nio.

“Nona sendiripun bilang begitu, bila terlalu banyak membunuh orang, wajah cantik bisa berubah menjadi buruk,” kata Pwe-giok sambil tersenyum getir.

Thi-hoa-nio memandangnya pula sejenak dengan diam, mendadak ia tertawa dan bertanya, “Jadi kau ingin supaya aku bertambah cantik?”

—–

Dapatkah Pwe-giok sembuh tuntas dari racun morfin pemberian Ki Leng-hong?

Adakah hubungannya antara Khing-hoa-samniocu dengan komplotan jahat yang membikin sengsara hidup Ji Pwe-giok itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: