Kumpulan Cerita Silat

17/05/2010

Renjana Pendekar – 07

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:49 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Hiku, Koedanil, dan Yusuf_hary)

“Tampaknya kau tidak sabar menunggu lagi, boleh kau keluar saja jika mau, ” kata Ko-lothau. “Cuma kau harus hati2…, Ya, sesungguhnya akupun tidak sabar ingin kau dilihat orang lain, agar seluruh umat manusia di dunia ini mengetahui bahwa lelaku paling cakap dan sempurna di dunia kini telah lahir!”

Ia memutar kasuran yang menutupi lobang keluar itu, maka cahaya lantas menerangi wajah Ji Pwe giok.

Sekuatnya Ko lothau menepuk pula pundak Ji Pwe giok, katanya dengan tertawa, “Kenapa tidak lekas kau keluar?”

“Boleh…boleh kukeluar sekarang juga?” tanya Ji Pwe giok dengan ragu2.

“Mengapa tidak?” jawab Ko lothau dengan tertawa. Hendaklah kautahu, selanjutnya tidak perlu lagi kau takut bertemu dengan siapapun, seterusnya tiada orang yang mengenal kau lagi.

Pwe giok memandangi Cia Thian pi sekejap, dilihatnya ketua Tiam jong pay itu masih terus bergumam, “Orang mati bisa berkeringat…orang mati telah menghilang…”

Pedih juga hati Pwe giok, ia pegang tangan Cia Thian pi, katanya dengan menyesal, “Cianpwe, engkau…”

“Tak perlu kau pikirkan dia, ” seru Leng hong mendadak sambil berpaling, “Karena aku yang mengakibatkan dia gila, dengan sendirinya akan kujaga dia. Di Sat jin ceng ini tiada orang lain yang akan tahu rahasiaku, juga tidak bakal ada orang yang menemukan dia.

“Jadi nona sendiri masih akan berdiam di Sat jin ceng sini?” tanya Pwe giok.

“Mengapa tidak?” jawab Leng hong ketus.

“Tapi Ki Song hoa…” Pwe giok ragu2 untuk meneruskan.

“Hm, jika dia tahu aku belum mati, asal melihat mukaku mungkin akan lari terbirit-birit, mana ia berani mencari perkara lagi padaku, ” jengek Ki Leng hong. “Maka jangan kuatir terhadap dia, tidak nanti dia berani menanyaiku cara bagaimana kita dapat lari keluar.”

Mendadak ia memandang Pwe giok dengan sorot mata dingin dan tajam, dia telah kembali kepada keangkuahannya semula, lalu katanya pula, “Nah, kenapa kau tidak lekas pergi? apakah perlu tunggu pikiranku berubah lagi?”

Ko lotahu menyela dengan tersenyum, “Ya, tampaknya memang lebih baik lekas kaupergi saja, pikiran orang perempuan memang sangat mudah berubah.”

OOOO00000OOOO

Tiba di luar rumah kertas itu, cahaya sang surya menyinari baju Pwe giok yang putih bersih itu, pakaian ini dengan sendirinya juga disediakan oleh Ko lothau.

Dengan baju yang baru, dengan wajah baru, kini Ji Pwe giok berada kembali ditengah Sat jin ceng. Dunia ini seakan-akan sedang menyambut kemunculannya dengan segala sesuatu yang serba baru.

Di bawah cahaya sang surya yang cemerlang, sampai-sampai Sat jin ceng yang biasanya seram menakutkan inipun penuh suasana hangat, tercium bau harum bunga dan kicau burung yang merdu sama sekali tidak tercium bau darah lagi.

Pwe giok mendekati sebuah sungai kecil, dengan air sungai ia berkaca, dilihatnya bayangan seorang pemuda tampan seperti lukisan sedang memandangnya.

Pemuda ini kelihatan seperti Ji Pwe giok, tapi seperti bukan Ji Pwe giok, meski mata alis pemuda ini menyerupai Ji Pwe giok,namun entah berapa kali lebih cakap daripada Ji Pwe giok.

Jika alis Pwe giok semula agak tebal, sekarang alis pemuda ini sudah dibenahi sedemikian bagusnya. Jika pemuda sekarang ini diibaratkan sebuah lukisan karya seniman nomor wahid, maka Ji Pwe giok boleh dikatakan cuma barang tiruan dari pelukis kaki lima.

Sampai terkesima sendiri Pwe giok memandangi bayangan di permukaan air itu, gumamnyal “Masakan ini diriku?…wahai Ji Pwe giok, perlu kau ingat, wajah ini kaupinjang pakai untuk sementara waktu saja, jangan sekali-kali kau melupakan dirimu sendiri.

Sekonyong-konyong didengarnya suara tindakan orang banyak.

Pwe giok masih waswas, tanpa terasa ia menyelinap ke balik gunung-gunungan palsu, maka terlihatlah beberapa orang sedang mendatangi sambil mengorbol.

Terdengar seorang diantaranya berkata dengan tertawa, “Menurut cerita yang tersiar di kangouw, konon Sat jin ceng ini sedemikian misteriusnya, sangat menyeramkan dan macam-macam lagi, tempat ini dilukiskan seolah-olah istana hantu atau neraka, tapi setela kita lhat sendiri, ternyata juga tiada ubahnya dengan tempat lain.”

“Kedatanganmu bukan untuk membunuh orang, tentunya kaupun takkan dibunuh orang, ” demikian seorang lagi menanggapi. “Kita cuma datang untuk melawat orang mati, dengan sendirinya Sat jin ceng dalam pandanganmu menjadi tempat yang biasa saja.”

Dengan tertawa orang ketiga menyela, “Padahal kedatanganku untuk melawat ini hanya pura-pura saja, yang benar aku memang ingin tahu bagaimana bentuknya Sat jin ceng. Jika kesempatan ini tidak kugunakan untuk masuk ke Sat jin ceng, di hari2 biasa jangan harap akan dapat keluar dengan hidup”

begitulah sambil bersenda-gurau beberapa orang itu lantas lalu dari situ.

Pikiran Pwe giok tergerak, diam-diam iapun ikut menuju ke sana.

Belum lagi sampai diruangan pendopo sana dari jauh sudah kelihatan orang banyak berkerumun, Pwe giok ikut berjubel di tengah orang bayak sehingga apapun tidak terlihat. Hanya didengarnya seorang berkata” “Meski kematiannya tidak gemilang, tapi yang melawat ternyata luar biasa.”

“Ini kan berkat nama besar ayahnya, ” kata orang lain.

Pwe giok coba menepuk pundak orang itu dan bertanya, “Para pelawat ini entah ksatria-ksatria dari mana saja?”

Orang itu menoleh sambil berkerut kening, tampaknya merasa tidak suka ditanya, tapi demi nampak wajah Pwe giok, seketika terunjuk senyuman pada wajahnya, jawabnya, “Ah barangkali anda tidak tahu, bahwa yang kita lawat ini adalah Ji Pwe giok, putera Bulim bengcu sekarang.”

“Oo, kiranya dia.” ujar Pwe giok sambil menyengir.

Orang mengacungkan jari jempolnya dan berkata pula, “Ji Hong ho benar2 tak malu sebagai Bulim bengcu, Anaknya mati, sama sekali ia tidak mengusut bagaimana kematiannya, bahkan ia berkata, “Jika anak durhaka ini masih hidup, tetap aku akan menumpasnya bagi kesejahteraan umum. Sekarang dia sudah mati, mengingat hubungan ayah dan anak, terpaksa harus kulawat ke sini,…coba, betapa bijaksana dan luhur budinya bulim bengcu kita ini. Sebab itulah, meski waktu hidupnya Ji pwe giok tidak dihormati, sesudah mati malah menerima penghormatan yang besar.”

“Eh, tampaknya anda masih asing, bolehkan mengetahui nama anda yang terhormat?” tanya orang kedua tadi.

Pwe giok ternsenyum hambar, jawabnya, “Cayhe Ji Pwe giok adanya”

Orang itu berjingkat kaget, tapi segera ia tertawa dan berkata, “Ah,.. orang kangouw sama she dan nama tidaklah sedikit. Kalau melihat wajah anda, jelas jauh lebih cakap daripada Ji Pwe giok yang mati itu.”

“Ah, masa?” ujar Pwe giok tersenyum.

Tengah bicara, kerumunan orang banyak mendadak tersingkir ke pinggir, seorang perempuan canti luar biasa tampak muncul dengan langkah lemah gemuali.

Segera Pwe giok kenal perempuan cantik ini ialah Hay hong hujin yang namanya mengguncangkan dunia itu.

Sebelah tangan nyonya cantik menggandeng seoarnag gadis cantik berbaju hitam, muka dikerudungi sutera tipis, meski tidak kelihatan wajahnya dengan jelas, tapi dapat didengar suara tangisnya yang tersedu-sedang.

1011 Tanpa melihat wajah gadis berbaju hitam itu dapatlah Pwe giok mengetahui siapa dia. Tergetar juga hatinya, tanpa terasa ia terkesima.

Seperti sengaja Hay hong hujin meliriknya sekejap dengan mengulum senyum, tapi gadis berbaju hitam itu tetap menunduk dan menangis pelahan tanpa memandang siapapun juga.

Lirikan Hay hong hujin penuh daya tarik, namun Pwe giok seperti tidak tahu, maklum baginya saat ini selain gadis baju hitam itu boleh dikatakan tiada seoarang lain lagi yang terlihat olehnya.

Terdengar orang2 sedang membicarakan kedatangan Hay hong hujin dan gadis berbaju hitam itu.

Seorang berkata, “Nona ini konon adalah bakal istri Ji Pwe giok, waktu bersembahyang di depan layon tadi sedikitnya tiga kali dia jatuh pingsan, bahkan nekat ia telah memotong rambutnya.”

Seketika hati Pwe giok seperti ditusuk-tusuk, hampir saja ia tidak tahan dan menerjang ke sana untuk memberitahu siapa dirinya dan meminta nona itu jangan bersedih.

Tapi saat itu Hay hong hujin dan Lim Yay ih sudah berlalu dan Pwe giok juga menahan perasaanya sebisanya.

Terdengar ada orang berkata pula dengan menyesal, “Mempunyai ayah dan isteri sebaik ini, jika Ji Pwe giok itu dapat menjaga diri tentu hidupnya akan bahagia dan mengagumkan orang. CUma sayang, dia justeru tidak tahu diri…”

Di tengah ramai orang bicara itu, mendadak seorang berteriak, “Ji Pwe giok adalah sahabatku, semasa hidupnya berbuat atau jelek janganlah diurus lagi. Tapi sesudah dia mati, bila masih ada orang suka membicarakan baik-buruknya dan terdengar olehku, maka bolehlah dia berhadapan denganku.”

Segera terlihat seorang melangkah tiba dengan wajah penuh rasa sedih dan penasaran, dengan bersitegang ia terus pergi menyusur kerumunan orang banyak. DIa tak lain tak bukan ialah Ang lian hoa yang berbbudi luhur dan setia kawan itu.

Perasaan Pwe giok benar-benar disayat-sayat.

Dengan jelas dilihatnya bakal isterinya dan sahabat karibnya lewat di depan matanya, tapi dirinya tidak berani menegur dan menyapanya. Sungguh tiada kejadian lain yang lebih memilukan daripada sekarang ini. Sekalipun Pwe giok dapat menahan diri, tidak urung bercucuran juga air matanya.

Untung saat itu siapapun tidak memperhatikan dia, sebab tokoh yang paling menarik di dunia persilatan saat ini telah muncul, yaitu bulim bengcu Ji Hong ho.

Meski wajahnya juga penuh rasa duka nestapa, serombongan orang yang ikut dibelakangnya juga semua sama menunduk dengan langkah berat, hanya saja air mata mereka tidak sampai menetes.

Dada Pwe giok serasa mau meledak demi melihat orang ini. Tapi pada saat dan tempat ini betapapun sedih dan murkanya juga dapat ditahannya.

Kerumunan orang banyak mulai bubar, setiap orang yang lalu di depan Pwe giok tentu menoleh dan memandangnya sekejap dua seakan-akan semuanya terkejut dan heran mengapa di dunia ini ada pemuda setampan ini.

Sampai lama Pwe giok berdiri bingung di situ, sekonyong-konyong ia melihat wajah Ki Song hoa, orang kerdil itu sedang memandangnya dengan tertawa.

Meski wajah ini tampaknya kekanak-kanakan dan sedemikian polosnya, tapi bagi Pwe giok saat ini terasa lebih seram daripada ular yang paling berbisa.

Selagi ia hendak tinggal pergi, tak terduga Ki Song hoa lantas mendekatinya. Diam-diam Pwe giok terkesiap, pikirnya, “Jangan-jangan dia telah mengenal diriku”

Langsung Ki SOng hoa mendekati Pwe giok, ia memberi hormat dan menegur, “Cakap benar saudara ini, sungguh cayhe sangat kagum. Entah sudikah mampir sejenak ke kediamanku untuk minum dua cawan agar cayhe dapat sekedar memenuhi kewajibab sebagai tuan rumah.”

Ucapannya sangat serius dan jujur dengan tersenyum ramah, undangan yang penuh simpatik ini sukar bagi siapapun untuk menolaknya. Jika orang lain pasti akan segera ikut pergi tanpa sangsi.

Tapi bagi Pwe giok sekarang, wajah yang simpatik ini justeru tiada ubahnya seperti topeng hantu, semakin enak didengar ucapanya semaikin sukar untuk diraba muslihat yang terkandung didalamnya.

Pwe giok merasa ngeri, terpaksa ia menjawab, “Ah, mana cayhe berani mengganggu ketenangan cengcu.”

“Jika anda tidak mau berarti memandang rendah padaku, ” ucap Ki Song hoa dengan tertawa, segera ia tarik tangan Ji Pwe giok dan diajaknya menuju ke dalam rumah.

Tangan orang kerdil ini terasa dingin dan lembab sehingga serupa badan ular, Pwe giok menjadi bingung dan tidak tahu cara bagaimana melepaskan diri.

Syukurlah pada saat itu juga terdengar seorang gadis berseru dengan suara merdu, “Tamu ini sudah berjanji lebih dulu akan bertemu dengan hujin kami, harap cengcu melepaskan dia.”

Sebuah tangan yang putih halus segera terjulur tiba, seperti tidak sengaja terus memencet ke urat nadi tangan Ki Song hoa.

Terpaksa Ki SOng hoa harus lepas tangan, dilihatnya seorang gadis berbaju merah tipis sedang memandangnya dengan matanya yang jeli dan tersenyum nakal.

“Besar amat nyali nona cilik, tahukah kau siapa aku?” tanya Ki Song hoa dengan terkekeh-kekeh.

Dengan tertawa nona baju merah itu menjawab, “Dan tahukah kau siapa hujin kami?”

“Memang ingin kutanya siapa dia?” jawab Ki Song Hoa.

Nona berkedip-kedip seperti penuh rahasia ia mendesis perlahan, “Kuberutahu padamu dan jangan kaukatakan pada orang lain. Beliau adalah Hayhong hujin.”

Ki SOng hoa melengak mendadak ia putar tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh.

Pwe giok menghela napas lega menyaksikan si kerdil tua itu.

Tiba-tiba didengarnya pula si nona baju merah berkata, “Kaupandangi orang kerdil itu, apakah kau merasa berat ditinggal pergi olehnya dan ingin ikut ke sana?”

Karena dipandang oleh mata si nona yang terbelalak lebar itu, Pwe giok jadi kikuk.

“Kau tahu untuk apa dia mengundangmu ikut ke sana?” tanya si nona.

“Tidak, tidak tahu” jawab Pwe giok.

Nona itu tertawa terkikik-kikik, katanya, “Dia mengajakmu ke sana adala untuk membunuh kau. Sebab selama ini dia belum pernah membunuh lelaki setampan kau, maka dia ingin mencicipi rasanya membunuh seorang pemuda cakap. menurut pikiranku, membunuh pemuda tampan seperti dirimu ini memang benar jauh lebih merangsang daripada membunuh orang-orang yang buruk rupa itu.”

“Apakah kaupun ingin coba2?” tanya Pwe giok dengan tertawa.

Gemerdep biji mata si nona yang jeli itu, jawabnya sambil tertawa genit, “Meski aku memang ingin mencobanya, tapi masa aku tega turun tangan?”

Sambil tertawa mendadak ia jejalkan sepotong lipatan kertas ke tangan Pwe giok, lalu berlari pergi dengan terkikik-kiki. tidak eberapa jauh, mendadak ia berpaling dan berseru:” Anak tolol, untuk apa kau berdiri melongo disitu? lekaslah buka kertas itu dan dibaca, ada rejeki nomplok masa belum kau rasakan?”

Pwe giok tercengang, tercium bau harum yang memabukkan, bau harum seperti bau harum yang terbawa Hay hong hujin itu.

Segera ia membuka surat itu, dilihatnya disitu tertulis, “Tengah malam nanti di luar Sat jin ceng, di depan Hoa sins su, tersedia bunga indah dan minuman enak, anda datang atau tidak?”

ooo00000oooo

Malamnya, belum tengah malam Ji Pwe giok sudah berada di depan Hoa sin su atau kelenting malaikat bunga.

Dia memenuhi undangan itu bukan karena tertarik kepada bunga yang indah, juga bukan terpikat oleh minuman enak, tapi karena ingin bertemu dengan si jelita berkerudung sutera hitam seperti diselimuti oleh kabut tipis itu.

Di bawah sinar bulan di depan Hoa sin su yang sunyi itu entah mulai kapan sudah berwujud lautan bunga, di tengah onggokan bunga itu setengah berbaring sesosok tubuh yang cantik dengan baju sutera tipis. Di tengah lautan bunga dan di bawah cahaya bulan yang permai tertampak kerlingan mata yaang menggiurkan dengan tubuh putih mulus membuat orang lupa daratan.

Namun begitu Pwe giok merasa kecewa juga, biarpun mendapat pelayanan serupa di surga tetap dirasakannya tidak lebih bahagia daripada kerlingan mata si “dia” yang dirindukannya.

Terdengar suara tertawa nyaring berkumandang dari lautan bunga sana, “Kau sudah datang, mengapa tidak berani kemari? APakah kau sudah mabuk sebelum mendekat?”

Dengan langkah lebar Pwe giok mendekati si cantik, jawabnya dengan tersenyum hambar, “Sebelum mengetahui untuk apa hujin mengundangku ke sini, mana cayhe berani mabuk lebih dulu.”

“Bulan seterang ini, malam seindah ini, jika dapat mengobrol dan minum bersama pemuda tampan seperti kau, bukankah suatu kesenangan hidup? Apakah alasan ini belum cukup dan perlu lagi kau tanya padaku untuk apa kuundang kau kemari?”

Pwe giok tersenyum, ia menuju ke depan Hay hong hujin dan berduduk, ia menuang arak dan diminumnya sendiri, berturut-turut dihabiskannya tiga cawan, ia angkat cawan terhadap bulan dan berseru tertawa, “Betul, orang hidup berapa lama, kalau dapat minum bersama di bawah bulan purnama, inilah kesenangan orang hidup yang utama, apapula yang perlu kutanyakan…”

Sebenarnya Pwe giok adalah pemuda yang hidup prihatin, tapi seorang kalau sudah mengalamai beberapa kali hidup kembali dari kematian, maka terhadap segala persoalan di dunia ini akan dipandangnya tawar dan tiada artinya, untuk apa dia mesti mengikat diri dengan susah payah? Kini sesuatu urusan yang dianggap orang lain sangat gawat, baginya sudah bukan apa-apa lagi.

Hay hong hujin menatapnya dengan tajam, mendadak dia tertawa dan berkata, “Tahukah kau?.. makin lama aku semakin tertarik olehmu!”

“Tertarik?” Pwe giok mengulang dengan tertawa.

“Ya, segala sesuatu mengenai dirimu, semuanya aku merasa tertarik, ” jawab Hay hong hujin. “Misalnya.. Siapa dirimu? darimana asal usulmu dan dari aliran mana ilmu silatmu?”

“Seorang petualang yang suka mengembara ke segenap pelosok dunia ini, mungkin dia sendiripun tidak tahu cara bagaimana harus menjawab pertanyaanmu ini? Bukankah begitu?”

“Usiamu masih muda, memangnya betapa banyak pengalamanmu? mengapa caramu bicara seolah-olah sudah kenyang dengan egala macam asam garam kehidupan ini dan seolah-olah sudah hambar terhadap kehidupan ini?”

“Ada beberapa orang, biarpun baru sebulan menghadapi berbagai persolaan, mungkin sudah jauh lebih banyak daripada apa yang dialami oleh orang lain.

Mendadak Hay hong hujin tertawa nyaring pula, katanya, “Tepat sekali ucapanmu. Tapi sedikitnya kan harus kaukatakan namamu dulu?”

Pwe giok berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Cayhe Ji Pwe giok.”

“Ji Pwe giok?” Hay hong hujin menegas. Suara tertawanya seketika berhenti.

“Apakah hujin merasa namaku ini tidak baik?” tanya Pwe giok.

“Aku cuma merasa lucu pada namamu.” jawab Hay hong Hujin dengan tertawa cerah. “Bahwa Ji Pwe giok sendiri ikut melawat kematian Ji Pwe giok, apakah hal ini tidak kaurasakan lucu?” – Ia tatap anak muda ini dengan sorot mata tajam dan ingin tahu apa reaksinya.

Pwe giok tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum hambar, “Ji Pwe giok ini dan Ji Pwe giok itu memang ada perbedaanya, meski seorang Ji Pwe giok telah mati, tapi ada seorang Ji Pwe giok yang lain masih hidup.”

“Dapatkah kau meyakinkan bahwa kau sendiri bukan Ji Pwe giok yang mati itu?” kata Hay hong hujin sekata demi sekata.

Pwe giok terbahak-bahak, “Hahahaha!.. Memangnya hujin menyangka aku ini badan halus?”

Hay hong hujin tersenyum, katanya, “Pertama kali kulihat kau segera kurasakan kau memang rada-rada berbau setan!”

“Oo?”

“Sebab kau ini seperti mendadak muncul di dunia ramai dari alam halus sana. Sebelum kemunculanmu, tidak pernah ada orang yang melihat kau dan juga tiada seorangpun yang tahu asal usulmu.”

“Jangan-jangan hujin sudah menyelidiki seluk beluk diriku?” tanya Pwe giok.

Hay hong hujin tertawa genit, katanya, “Tiada seorang perempuan di dunia ini yang tak tertarik kepada lelaki semacam kau ini. Dan aku, betapapun aku kan juga perempuan, betul tidak?”

“Hujin bukan saja perempuan, boleh dikata hujin adalah perempuannya perempuan, dewinya dewi, ” ujar Pwe giok dengan tertawa.

“Tapi kau ternyata tidak tertarik kepadaku, ” kata Hay hong hujin. “Waktu kulalu di depanmu, kau bahkan melirik saja tidak, bukankah hal ini rada-rada mengherankan?”

Meski senyumnya sedemikian genit, walaupun suaranya begitu lembut, tapi ucapan2 itu seakan-akan semacam duri yang dapat menembus segala rahasia orang hidup di dunia ini.

Diam-diam Pwe giok terkejut, sedapatnya ia menenangkan diri, jawabnya dengan tersenyum, “Menghadapi kecantikan hujin yang semarak, mana cayhe berani memandang secara kurang sopan?”

“Kukira yang kau pandang hanya orang yang berjalan di sisiku, ” Ucap Hay hong hujin dengan lembut. “Tapi dia memakai cadar sutera hitam, hakikatnya kau tidak dapat mengenal wajahnya. Caramu memandang dia, jangan2 sudah kau kenal dia sebelumnya?”

“Sia.. siapa dia?” tanya Pwe giok.

“Jangan kau harap akan mengelabui diriku, ” ujar Hay hong hujin dengan tertawa genit. “Sudah kurasakan kau ialah Ji Pwe giok yang mati itu. Kau tahu, sampai saat ini di dunia ini belum pernah ada seorangpun yang dapat membohongi aku.”

Hay hong hujin yang namanya mengguncang dunia ini benar-benar luar biasa, sorot matanya seperti mengandung semacam kekuatan gaib yang dapat menjelajahi segala sesuatu.

Sedapatnya Pwe giok bersikap tenang dan menahan guncangan perasaanya, jawabnya dengan tertawa hambar, “Di dunia ini mungkin tiada seorangpun yang tega membohongi hujin.”

“Dan kau?” tanya Hay hong hujin.

“Cayhe kan juga manusia, betul tidak?” jawab Pwe giok.

“Bagus, bagus sekali!” Hay hong hujin tertawa terkikik-kikik. Mendadak ia bertepuk tangan dari balik semak2 bunga sana lantas muncul satu orang.

DI bawah sinar bulan yang terang, pada matanya yang mendelong itu seakan-akan terhimpun kedukaan yang sukar diuraikan, mukanyan yang pucat membawa semacam rasa sedih yang tak dapat diutarakan.

Perasaan sedih dan duka yang mendalam itu tak mengurangi kecantikannya, sebaliknya malah menimbulkan semacam daya tarik yang menggetar sukma sehingga kelihatannya dia bukan lagi kecantikan manusia, melainkan cantiknya dewa bunga di atas langi, mencakup seluruh keindahan bunga yang terdapat di dunia ini.

Seketika itu Pwe giok merasa langit seakan-akan berputar dan bumi terbalik, napasnya serasa mau berhenti.

Hay hong hujin menatapnya dengan tajam, setiap perubahan air mukannya tak terlepas dari pengamatannya. DIa menuding Lim tay ih yang muncul dari balik semak-semak bunga itu dan bertanya, “Coba kaupandang dia lebih teliti, kau kenal dia tidak?”

Pwe giok mengangkat cawan dan ditenggaknya hingga habis, jawabnya, “Tidak kenal.”

“Tidak kenal, ” meski cuma dua kata yang sangat sederhana, tapi entah telah memerlukan betapa besar tenaga Pwe giok untuk bisa mengucapkannya. Kedua kata itu laksanan dua bilah belati yang menusuk kerongkongannya, seperti dua bola bara yang telah membakar lidahnya dan menghanguskan hatinya.

Sudah jelas2 orang yang dirindukannya, orang yang paling dicintainya, tapi dia justru mengeraskan hati dan menjawab “tidak kenal”. COba, adakah sesuatu di dunia ini yang lebih menyakitkan hati daripada kejadian ini?

Sduah terang dia inilah sisa satu2nya sanak keluarganya, tapi dia justeru harus berlagak tidak mengenalnya. COba, adakah sesuatu di dunia ini yang lebih kejam daripada kenyataan ini?

Arak wangi telah masuk tenggorokannya, arak sedap berbau wangi, tapi rasanya seakan-akan telah berubah menjadi pahit dan sepat. Kehidupan ini memang mirip arak yang getir ini dan arak getir ini terpaksa harus diminumnya.

Hay hong hujin lantas berpaling kepada Lim Tay ih dan bertanya, “Apakah kau kenal dia ini?”

Wajah Lim Tay ih yang pucat lesi itu tiada memperlihatkan sesuatu perasaanya, jawabnya dingin, “Tidak kenal!”

Sudah jelas si nona adalah bakal isterinya tapi didepannya menyatakan tidak kenal padanya, ucapan itu mirip dua anak panah yang menancap di ulu hati Ji Pwe giok.

Akhirnya Hay hong hujin menghela napas perlahan, katanya, “Jika dia juga tidak kenal kau, agaknya kau memang bukan Ji Pwe giok yang sudah mati itu, pula,.. jika bakal isterinya sendiri saja tidak mau mengakuinya lagi, maka orang itu sekalipun hidup juga sama seperti sudah mati.”

Hati Ji Pwe giok memang benar2 sudah mati, dia menengadah dan terbahak-bahak, “Bagus sekali ucapan hujin ini, perkenankan cayhe menyuguh hujin tiga cawan.”

Dia menuang dan diminum sendiri, hanya sekejap saja sudah berpuluh cawan arak masuk perutnya, sampai2 Lim Tay ih sudah pergi juga tak dipandangnya barang sekejap.

“Kau sudah mabu, ” ujar Hay hong hujin dengan tertawa.

“Ya, berapa kalikah orang hidup ini sempat bermabuk?” kata Pwe giok sambil angkat cawan araknya.

“Betul juga, sekali mabuk dapat membuyarkan seribu kesedihan, ” ucap Hay hong hujin dengan rawan, “Baiklah, silakan kau mabuk!”

“Cma saya, hanya beberapa cawan arak ini belum lagi dapat memabukkan diriku!” kata Pwe giok, seolah-olah bergumam sendiri.

Ia tahu betapapun kuat takaran minumnya, tapi arak seratus bunga buatan Hay-hong Hujin ini lain daripada arak biasa. Kini seluruh tubuhnya terasa ringan seakan-akan terbang, rupanya dia benar-benar sudah mabuk.

Terdengar Hay-hong Hujin lagi berkata dengan suara lembut, “Mabuklah, silakan mabuklah…, berkecimpung di tengah Kangouw yang penuh bahaya ini, kalau untuk mabuk saja tidak bisa, maka hidup manusia inipun terlalu memilukan. Lain kali jika kau masih ingin mabuk, bolehlah kau kemari mencari diriku.”

Ditengah mabuknya Pwe-giok merasa di depan matanya muncul berbagai bayangan orang yang berbentuk macam-macam, tinggi pendek, gemuk kurus, semua ada. Malah setiap orang itu sama beringas menakutkan. Lalu dia seperti mendengar suara Hay-hong Hujin berkata, “Ji Pwe-giok ini hanya seorang pemuda yang baru terjun di dunia Kangouw, kukira kalian akan percaya padaku.”

Dunia Kangouw ternyata sedemikian keji dan berbahaya, terhadap setiap orang asing selalu harus diselidiki asal-usulnya. Jika tidak ada Hay-hong Hujin, mungkin masih banyak sekali kesulitan yang harus dihadapi Pwe-giok.

Rasa terima kasih Ji Pwe-giok terhadap Hay-hong Hujin sungguh tak terkatakan, sedapatnya ia ingin mengucapkan beberapa kata sebagai tanda terima kasihnya, tapi suaranya terasa samar-samar sehingga ia sendiripun tidak tahu apa yang diucapkannya.

Hanya didengarnya Hay-hong Hujin berkata pula, “Sekali anak muda ini menjadi tamuku, maka selama hidupnya dia adalah tamu kehormatan Pek-hoa kiong kami. Selanjutnya jika tiada sesuatu keperluan apa-apa, hendaklah kalian jangan mengganggu dia. Dan sekarang, biarkan dia tidur saja….”

oOo

Pwe-giok benar-benar terus pulas.

Waktu mendusin, bau harum bunga, sinar bulan purnama, semua sudah tidak ada lagi. Yang ada cuma remang-remang sinar sang surya yang meliputi bumi.

Di kejauhan terdengar suara burung berkicau. Menyusul lantas terlihat sesosok bayangan orang yang ramping muncul dari balik kabut pagi dan mendekatinya dengan pelahan.

Kedatangannya laksana membawa suasana baru bagi bumi raya ini. Sinar matanya gemerdep terang, jernih dan murni, berbeda dengan sorot mata Hay hong Hujin yang tajam dan genit itu, juga tiada sedih dan duka seperti sorot mata Lim Tay-ih. Dunia yang ruwet ini, bagi pandangannya seakan-akan juga sedemikian sederhana, bersahaja tanpa sesuatu hiasan.

Dia pandang ji Pwe-giok, lalu menegur dengan suara merdu, “Wahai walet yang tersesat, akhirnya kau sadar juga. Di dunia ini masih banyak air sumber yang jernih dan manis, mengapa kau sengaja minum arak?”

Ji Pwe-giok menghela napas perlahan, gumamnya, “Kesusahan orang hidup, dengan sendirinya tak dapat dipahami oleh nona kenari.”

Gadis itu memang si nona kenari Ki Leng-yan. Mendadak iapun menghela napas, ucapnya dengan sayu, “Tahukah kau si Kenari yang tadinya tidak tahu apa artinya sedih, kini juga mulai gundah?”

“Memangnya kenapa nona merasa gundah?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum getir.

Tiba-tiba menetes air mata Ki leng-yan, jawabnya, “Sarang si Kenari telah penuh digenangi darah. Dia tidak dapat berdiam lagi disitu. O, Kenari yang harus dikasihani, kini tiada tempat lain lagi yang dapat ditujunya.” – Mendadak ia pegang tangan Pwe-giokdan menyambung dengan setengah meratap, “O, kumohon padamu, bawalah serta diriku, ke manapun juga akan kuturut padamu.”

Tergerak hati Pwe-giok, jawabnya denga suara keras, “Cara bagaimana kau tahu siapa diriku ini? Mengapa kau ingin ikut bersamaku?”

“Kukenal matamu ini”, kata Ki Leng-yan. “Sedemikian bajik, sedemikian bagus matamu ini dan juga sedemikian perwira, sama seperti burung walet. Matamu yang lain daripada yang lain ini, mana bisa kulupakan?”

Gadis yang linglung ini ternyata memiliki daya pandang sepeka ini. Barang sesuatu yang diketahui setiap orang mungkin takkan dipahami olehnya, tapi sesuatu lain yang tak dapat dipecahkan orang lain justru dapat diketahui olehnya. Mungkin inilah sebabnya dia tidak paham kata-kata manusia, sebaliknya paham bahasa burung.

Pwe-giok terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan tersenyum, “Kautahu, tak mungkin kau dapat ikut pergi bersamaku, sebab tempat yang hendak kutuju itu dimana-mana penuh bahaya, setiap orang bisa membikin susah padamu.”

“Tidak, aku tidak takut, di bawah perlindunganmu, apapun aku tidak takut, ” jawab Leng-yan tegas.

Dia pandang Pwe-giok dengan termangu-mangu, sorot matanya penuh harap juga penuh kepercayaan terhadap anak muda itu. Mengahadapi sorot mata demikian, siapa pula yang tega menolak permintaannya?

Akhirnya pwe-giok menghela napas panjang, katany, “Jika kau ingin ikut padaku, sungguh akupun tidak dapat menolak permintaanmu. Cuma…aku sendiri tidak tahu apakah dapat melindungi diriku sendiri atau tidak, cara bagaimana kutahu akan dapat melindungi dirimu?”

Leng-yan tertawa, katanya, “Kutahu engkau pasti akan menerima permintaanku…” Begitulah Pwe-giok berjalan di depan dang Leng-yan ikut di belakang, sama sekali ia tidak peduli ke manapun pwe-giok akan pergi. padahal pwe-giok sendiripun tidak tahu dirinya akan pergi ke mana?

Dia berjalan dengan hati bimbang, selagi merenungkan ke arah mana harus dituju, tiba-tiba terdengar angin berkesiur, empat orang melayang keluar dari balik pohon sana dan menghadang di depannya. Gerakan keempat orang ini sedemikian cepat dan gesitnya, jelas semuanya jago-jago kelas tinggi.

segera Pwe-giok dapat melihat jelas siapa keempat orang ini. Kiranya mereka adalah samaran komplotan jahat itu, yakni Ong uh-lau, lim Soh-koan, ong Sin-jiang dan Sebun Bu-kut.

Ong Uh-lau mendahului maju dan menegur dengan sorot mata tajam, “Ji Pwe-giok bukan?”

“Cahye memang Ji Pwe-giok adanya, ” jawab Pwe-giok hambar. “Siapakah anda sekalian dan ada urusan apa?”

Empat pasang mata yang tajam dan kejam itu sama menatap muka Pwe-giok, mereka ingin tahu bagaimana perubahan sikap anak muda itu. tapi Pwe-giok hanya tenang-tenang saja. Maklum, sudah terlalu banyak pengalaman pahit serta kejadian seram yang dialaminya, di dunia sesungguhnya tiada sesuatu urusan dapat menakutkan dia lagi.

Ong Uh-lau bergelak tertawa, katanya, “Ji-kongcu baru saja terjun di dunia kangouw dan lantas mendapat perlakuan istimewa dari hay-hong Hujin, dengan sendirinya Ji-kongcu mempunyai asal-usul yang lain daripada yang lain pula. Kami tidak berani sembrono, yang kami inginkan adalah belajar kenal dengan ilmu silat Ji-kongcu.”

Pwe-giok terbahak-bahak, jawabnya, “kiranya keterangan Hay-hong Hujin kemarin belum meyakinkan kalian sehingga kalian sekarang hendak memaksa kukeluarkan Kungfu perguruanku, maksud tujuan kalian ingin membuktikan apakah diriku ini Ji Pwe-giok yang mati kemarin ini atau bukan?”

Dia sengaja membongkar maksud tujuan mereka Tapi air muka Ong Uh-lau ternyata tidak berubah, dengan tersenyum ia berkata, “Akhir-akhir ini di dunia Kangouw sedang digemari ilmu tata rias, hal ini kukira cukup diketahui olehmu.”

“Apakah Cayhe mengalami tata-rias, masa kalian tidak dapat melihatnya?” ujar Pwe-giok.

“Ilmu tata rias memang beraneka ragamnya, justeru lantaran kami tidak dapat membedakannya, maka terpaksa harus berlaku lebih hati-hati, ” ujar Ong Uh-lau dengan tersenyum. “Oleh karena itulah, asalkan anda memperlihatkan sejurus-dua, segera kami akan mengundurkan diri.”

Gemerdep sorot mata Pwe-giok, katanya: Sungguh aku tidak mengerti, sebab apa Ji Pwe-giok yang telah mati itu bisa membuat kalian sedemikian kuatir, kan jelas dia sudah mati, mengapa kalian masih merasa tidak aman?”

Berubah juga air muka Ong Uh-lau, jawabnya dengan bengis, “Silakan anda memperlihatkan sejurus-dua dan segara akan kau ketahui sendiri.” Sambil bicara, segera pedangnya menusuk ke depan, serangan cepat dan mantap, inilah jurus “Jong-liong-tay-thau” atau naga tua angkat kepala, suatu jurus ilmu pedung perguruan Ong Uh-lau sendiri.

Tapi Ji Pwe-giok tidak nanti terpancing dan memperlihatkan ilmu silat perguruannya sendiri. Ilmu silat Bu-kek-pay memang bergaya khas dan tidak sama dengan Kungfu dari perguruan lain. Asalkan dia memainkan satu jurus saja segera akan dapat diketahui asal-usulnya.

Maka mendadak terdengar suara “trang” yang nyaring dan keras, pedang Ong Uh-lau yang menusuk lurus ke depan itu terpukul menceng, padahal tenaganya boleh dikatakan jarang ada bandingannya, tidak urung ia merasakan pergelangan tangannya linu pegal.

Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis jelita berbaju seputih salju dengan memegang dua pedang pendek telah mengadang di depan Ji Pwe-giok, dengan tertsnyum berkata, “Dia orang baik, kalian jangan membikin susah padanya.”

Berubah air muka Ong Uh-lau, jawabnya, “Siapa nona? Mengapa kau membelanya?”

“Ayahku sangat gemar membunuh orang, Ciciku juga suka membunuh orang, ” jawab si nona yang bukan lain daripada Ki Leng-yan, “meski aku tidak suka membunuh, tapi akupun tidak suka menyaksikan sahabatku dianiaya orang lain, apalagi dibunuh.”

Sembari bicara dia terus putar kedua pedang pandak. Gerak tubuhnya begitu enteng gemulai, tapi ilmu pedangnya justeru sedemikian aneh, cepat lagi ganas.

Sungguh Pwe-giok sendiripun tidak pernah menyangka nona yang baikitu memiliki ilmu seganas itu.

Baru saja Ki Leng-yan menyelesaikan ucapannya tadi, sekaligus ia telah melancarkan serangan 49 kali, begitu gencar serangannya sehingga membuat Lim Soh-koan dan tokoh-tokoh yang tergolong jago pedang terkemuka itu sama melongo kaget.

Tapi Ki Leng-yan lantas menghentikan permainan pedanguya, lalu berkata dengan tertawa, “Orang bilang ilmu pedangku ini sangat keji dan ganas, apakah kalian juga berpendapat demikian?”

“Hehe, bagus, ilmu pedang bagus!” kata Ong Uh-lau dengan menyengir.

“Meski ilmu pedangku ini dibilang keji dan ganas tapi tidak kugunakan terhadap manusia, ” tutur Ki Leng-yan. “Asalkan tidak digunakan membunuh, betapapun keji dan ganasnva sesuatu ilmu pedang kan tidak menjadi soal, betul tidak?”

Ong Uh-lau memandangnya sejenak, lalu dipandangnya pula Ji Pwe-giok, tanpa bicara mendadak ia berpaling terus melangkah pergi dan dengan sendirinya diikuti oleh orang-orang lain.

Leng-yan menyimpan kembali kedua pedang pandaknya, seperti tidak pernah terjadi apapun ia pandang Pwe-giok, katanya dengan tertawa linglung, “Marilah kitapun pergi!”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Kau minta perlindunganku, siapa tahu kau yang melindungi diriku malah. Selama ini telah kuremehkan dirimu, sunggub tidak terduga ilmu pedangmu sedemikian hebatnya.”

Si nona berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Jadi kaupun memuji kebagusan ilmu pedangku, semua burung kawanku juga bilang demikian. Kata mereka, setelah si Kenari mahir ilmu pedang, selanjutnya tidak perlu lagi kuatir diserang oleh elang. Menurut kau, orang-orang tadi elang atau bukan?”

Begitulah sepanjang jalan si nona jelita terus bicara tentang dia dan burung, tertarik juga Pwe-giok oleh ceritanya sehingga tidak merasa kesepian dalam perjalanan.

Semula Pwe-giok merasa sedih juga bagi jalan keluar dirinya, tapi setelah dipikir pula, dunia seluas ini, ke manapun boleh pergi, dengan berkelana di dunia ini kan sekaligus dapat menyelidiki rahasia komplotan jahat itu.

Karena pikiran itu, tekanan batinnya menjadi longgar. Waktu istirahat di suatu rumah makan, ia minta disediakan dua poci arak seakan-akan hendak merayakan hidup barunya.

Ki Leng-yan ternyata mengiringi dia minum dua cawan. Burung kenari yang cantik ini jadi tambah lincah dan terus mengoceh ke barat dan timur, berulang-ulang ia pun menuangkan arak dan mengisi nasi di mangkuk Pwe-giok.

Bila Pwe-giok menolak pelayanan itu, maka si nona lantas kurang senang dan mengomel. Ribut antara kedua muda mudi ini sebaliknya menimbulkan rasa takjub dan iri orang lalu.

Malamnya, si kenari yang terus menerus berkicau ini akhirnya tertidur. Tapi di kamar sendiri Pwe giok bergolak-golek tak dapat pulas, diam-diam ia mengenakan baju dan keluar.

Rumah penginapan kecil ini terlelak di luar kota. Cahaya bulan menyinari sebuah kolam kecil di kaki bukit sana, di dalam kolam tampak bintik-bintik bintang gemerlapan, angin malam meniup silir-silir membawa bunyi serangga dan suara katak.

Sudah sekian lama, untuk pertama kalinya ini Pwe-giok merasa hatinya rada tenang dan untuk pertama kalinya pula dia dapat menikmati keindahan malam.

Dia terus melangkah ke depan, di bawah keremangan sinar bulan dan bau harum bunga teratai di kolam. .. …Sekonyong-konyong, dua larik sinar pedang menyam bar ke tenggorokannya.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa di tengah malam yang jndah ini tersembunyi juga hasrat membunuh sekeji ini. Ia terkejut dan cepat menjatuhkan diri ke tanah, syukur sergapan itu sempat dihindarinya.

Pada saat yang sama empat orang berbaju hitam dan berkedok melompat keluar dari tempat gelap, tanpa bicara pedang mereka terus menyerang lagi secepat kilat.

Gerakan Pwe-giok juga tidak berhenti, dia menyelinap keluar dari jaringan sinar pedang musuh. Terdengar dering nyaring sinar pedang, tahu-tahu kain bajunya terkoyak-koyak menjadi potongan kecil dan bertebaran.

Agaknya kawanan seragam hitam itu tidak ingin sekaligus membinasakan dia melainkan cuma hendak memaaksa dia mengeluarkan Kungfunya.

Sinar pedang masih terus berkelebat dan membura bagai uIar berbisa, bukan saja baju Pwe-giok sudah terkoyak-koyak, bahkan tubuhnya sudah tergores beberapa jalur luka, tapi dia tetap tidak berani balas menyerang. Semakin dia tidak balas menyerang semakin besar pula curiga orang-orang berseragam hitam.

Tiba-tiba seorang di antaranya mendengus, “Peduli tulen atau palsu, bunuh saja habis perkara!”

“Betul, ” jawab seorang lagi. “Lebih baik salah bunuh seribu daripada lolos satu.”

Meski tahu siapa kawanan baju hitam ini, tapi Pwe-giok sengaja berteriak, “Jika kalian menghendaki aku turun tangan, mengapa kalian tidak berani memperlihatkan wajah asli? Seorang lelaki sejati mana sudi turun tangan terhadap kawanan cecurut macam kalian ini.”

“Kau tidak mau turun tangan, maka kau harus matl!” jengek orang pertama tadi.

Habis berkata, mereka tidak kenal ampun lagi, sinar pedang membura dengan lebih cepat. Sekali ini kalau Pwe-giok tidak balas menyerang, rasanya jiwanya benar-benar bisa melayang.

Pada saat itulah, tiba-tiba segumpal kabut tipis berwarna kemerah-merahan mengambang tiba terbawa angin terus terlibat ke tengah jaringan sinar pedang.

Seketika kawanan baju hitam itu merasakan gerak pedang’ mereka terhalang, ujung pedang seolaholah melengket pada gumpalan asap tipis itu. Kesempatan itu segera digunakan Pwe-giok untuk melompat mundur.

Segera terdengar seorang berdendang dengan suara merdu, “Bunga, bukan bunga, kabut bukan kabut….”

Baru berjangkit suara nyanyian orang itu, serentak timbul rasa takut pada sorot mata kawanan baju hitam berkedok ini, tanpa, berjanji keempat orang itu terus melayang pergi dan menghilang dalam kegelapan. Perginya jauh lebih cepat daripada datangnya.

“Apakah Hay-hong Hujin yang telah menolong Cayhe?” tanya Pwe-giok dengan membungkuk tubuh.

Tapi dalam kegelapan sama sekali tiada suara jawaban.

Waktu Pwe-giok menengadah, tahu-tahu di depannya sudah bertambah seorang yang berwajah pucat dan kening berkerut dengan sorot matanya yang layu…Yang muncul ternyata bukan Hay-hong Hujin melainkan Lim Tay-ih.

Hati Pwe-giok seketika mengencang, ucapnya dengan tergagap, “Kira…kiranya nona, terima kasih banyak-banyak.”

Lim Tay-ih seperti enggan mendengar kata-kata yang bertele-tele itu, jengeknya, “Mengapa kau pakai nama Ji Pwe-giok?”

Pwe-giok jadi melengak, jawabnya gelagapan, “Ini ….ini lantaran…”

“Sebaiknya kau ganti nama saja, ” kata Tay-ih. “Nama ini tidak membawa alamat baik. Barang siapa memakai nama ini tentu akan mendatangkan kemalangan, bahkan mati. Meski aku diperintahkan Hujin untuk menyelamatkan kau, tapi paling-paling juga cuma kutolong kau satu kali ini saja!”

Setelah terdiam sejenak, dengan tersenyum getir Pwe-giok bertanya, “Kecuali itu, adakah alasan lain?

“Betul, memang masih ada alasan lain, ” jawab Tay-ih. Mendadak ia membalik tubuh dan melangkah beberapa tindak ke sana, lalu menyambung, “Jika dia sudah mati, aku tidak suka mendengar lagi orang memakai namanya.”

“Tapi aku….”

“Kaupun tidak setimpal memakai nama itu!” jengek Tay-ih.

Pwe giok melenggong dan menyaksikan bayangan si nona menghilang dalam kegelapan, sukar untuk dijelaskan bagaimana perasaannya. Dia seharusnya berduka karena sikap dingin yang diperlihatkan tunangannya itu. Tapi sikap dingin si nona itu pun menandakan betapa cintanya terhadap Ji Pwe-giok, untuk ini dia harus bersyukur dan bergembira.

Begitutah gundah gulananya hatinya, sebentar pedih sebentar girang, entah manis entah getir.

ooo 000 ooo

Bintang di langit semakin jarang, bulanpun bertambah buram, di ufuk timur sudah mulai remang-remang. Tapi Pwe-giok masih terus melangkah ke depan dengan hati bimbang.

Entah sudih berapa lama pula, sang surya sudah mulai mengintip di ujung timur. Sekonyong-konyong muncul seorang dengan langkah terhuyung-huyung.

Perawakan orang ini kurus kecil, jenggot dan rambutnya sudah putih semua, senyum misterius menghias wajahnya. Pwe-giok rnerasa sudah pernah kenal pada muka orang ini, tapi tidak ingat di mana.

Dilihatnya si kakek kecil ini membawa sebuah lukisan, sesudah dekat mendadak ia angkat lukisannya ke depan Pwe-giok dan menegur, “Coba kau lihat, apa yang kulukis ini?”

Lukisannya itu tampak samar, seperti mega tapi bukan mega, seperti gunung juga bukan gunung, kalau dipandang lebih cermat, rasanya seperti bekas cat yang tumpah di atas kanvas lukisan itu.

Pwe-giok naenggeleng, jawabnya, “Entah, aku tidak tahu.”

“Yang kulukis adalah gunung di depanmu ini, masa tak dapat kau lihat?” kata pula si kakek kecil.

Mau-tak-mau Pwe-giok memandang gunung yang tertutup oleh kabut pagi di kejauhan itu, 1alu dipandangnya pula lukisan yang dipegang si kakek, sedikit demi sedikit dirasakannya memang rada-rada mirip. Tanpa terasa ia tertawa dan berkata, “Ya, sekarang dapat kulihat persamaannya.”

Mendadak orang tua itu tergelak seperti orang gila, berjingkrak dan menari, jelas girangnya tak terperikan, tapi juga memperlihatkan semacam kelatahan yang aneh.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Pwe-giok heran.

“Aku berhasil, aku berhasil!” teriak si kakek sambil berkeplok gembira.

“Kau berhasil mengenai apa?” tanya Pwe-giok pula.

“Lukisanku telah berhasil, ” teriak si kakek. “Akhirnya dapatlah kucapai intisari dalam lukisanku.”

Pwe-giok menggeleng sambil memandangi “cat tumpah” hasil lukisan si kakek, katanya dengan menyengir, “Lukisan begini masa dapat dianggap telah berhasil mencapai intisarinya?”

“Coba kau pikir, ” kata si kakek, “sudah jelas yang kulukis adalah gunung, tapi dapat kubuat dia tidak menyerupai gunung. Yang kulukis ini jelas-jelas tidak menyerupai gunung, tapi setelah kau pandang dengan cermat terasa seperti gunung pula. Semua ini disebabkan meski tidak kulukis bentuk gunungnya, tapi sudah dapat kulukis jiwanya, intisarinya sasaran lukisanku.”

Pwe-giok berpikir sejenak, gumamnya kemudian, “Mungkin sedikit sekali orang yang dapat memahami jiwa daripada lukisanmu ini.”

“Justeru orang lain tak dapat memahaminya, ” seru si kakek sambil berkeplok. “Tapi asalkan yang kulukis adalah gunung, maka dalam pandanganku lukisan ini ialah gunung, dalam hatiku juga gunung. Hanya aku saja yang paham dan orang lain tetap tidak paham. Cara ini bukankah sangat bebat, sangat bagus?!”

Dia berkeplok sambil bergelak tertawa dan melangkah pergi.

Sebaliknya Pwe-giok berdiri termangu-mangu di situ sambil berpikir, “Jelas-jelas yang kulukis adalah gunung tapi dapat kulukis hingga tidak menyerupai gunung…Meski tidak kulukiskan bentuk gunungnya, tapi sudah dapat kulukis jiwanya, intisarinya…..” selain teringat kepada ucapan si kakek tadi, di tepi telinganya seolah-olah terngiang pula wejangan ayahnya dahulu mengenai ilmu pedang, bahwa betapapun bagus bentuk permainan sesuatu iliiiu pedaog, semua itu bukanlah intisari ilmu pedang perguruannya sendiri. Jiwa ilmu pedang Bu-kek-pay terletak pada maksud yang tak berwujud, terlepas daripada wujud yang terbatas dan mflsuk ke- alam yang tak berwujud (abstrak) dan tak berkutub (Bu-kek), Jika mujijat ini dapat diselami dengan tuntas, muka berarti ilmu pedang yang kau yakinkan telah berhasil, Pwe-giok coba merenungkan dan mengulang lagi petuah sang ayah itu, mendadak ia merasa seperti diguyur air dingin, dalam hati seketika terasa “plong”, terasa terang.

Ia mendapatkan setangkai kayu sebagai pedang, dengan pelahan ia menusuk ke depan. Sepenuh hati dan segenap pikiran hanya dipikirnya satu jenis, “Thian-te-bu-pian” (langit dan bumi tak bertepian) dari Bu-kek-kiam-hoat, tapi waktu pedangnya menusuk, gayanya tidak menurut jurus serangan Thian-te-bu-pian yang sebenarnya.

Jurus serangan ini jelas-jelas jurus Thian te-bu-pian, tapi ketika serangan itu dilancarkan jurus itu justeru tercakup seluruhnya di dalam serangannya, tidak menyerupai jurus Thian-te-bu-pian, tapi jiwa dan intisari jurus serangan itu justeru tercakup seluruhnya di dalam serangan itu.

Kalau dua orang bertempur, bila salah satu pihak dapat melihut lubang kelemahan pihak lawan sehingga dapat mengatasi lebih dulu setiap perubahan gerak lawan, maka dia pasti akan menang. Tapi suara serangan yang bermaksud, namun tanpa wujud, cara bagaimana pihak lawan akan mampu mengindarinya dan cara bagaimana akan sanggup mematahkannya serta cara bagaimana akan menghindarinya?

Saking kegirangan Pwe-giok lantas tertawa tergelak-gelak dan berteriak, “Sudah dapat kupahami! Sudah kupahami sekarang!”

Tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara nyaring, “Kau memahami apa?’

Segera terdengar pula kicau burung yang ramai di hutan sana, ternyata Ki Leng-yan sejak tadi sudah berada di situ.

Dengan tertawa Pwe-giok menjawab, “Apa yang sudah kupahami, masa para burung kawanmu itu tidak memberitahukannya padamu?”

Dengan termenung Leng-yan mendengarkan sejenak, ucapnya kemudian sambil berkedip-kedip, “Mereka tidak tahu apa yang sudah kau pahami, mereka bilang kau seperti rada-rada sinting.”

“Haha, sudah tentu mereka tidak paham, ” ujar Pwe-giok dengan tertawa. “Tapi bolehlah kaukatakan kepada mereka, bahwa asalkan mereka paham persoalan ini, maka mereka tidak perlu lagi takut kepada elang, malahan manusia juga tidak perlu ditakuti pula.”

“Eh, coba dengarkan, ” kata Leng-yan perlahan sambil tersenyum, “mereka sama menyatakan ucapanmu ini memang benar. Kata mereka, elang memang tiada sesuatu yang perlu ditakuti, yang palig menakufkan di dunia ini adalah manusia!”

Suara tertawa Pwe giok mulai mereda, ia pandang burung yang beterbangan di tengah hutan di remang-remang fajar sana, tanpa terasa ia menghela napas dan bergumam pula, “Betul juga, manusia memang sangat menakutkan. Sungguh tak tersangka kalian telah memahami soal ini. Sebaliknya manusianya sendiri malah tetap belum paham. . ..”

“Coba lihatlah burung pipit yang baru terbang dari kota sana, ” kata Leng-ya dengan rawan. “Dia bilang, seumpama manusia sudah paham akan soal ini toh tetap tak mau mengakui kebenarannya.”

ooo 000 ooo

Akhirnya kedua orang pulang ke hotel kecil itu.

Leng yan sudah kenyang tidur, sebaliknya Pwe-giok mulai merasa nguntuk. Dia mendorong pintu kamar sendiri, tapi mendadak ia merandek. Ternyata di atas pembaringannya bersimpuh satu orang.

Sinar sang surya yang baru terbit itu menyorot masuk melalui jendela sana dan terlihat jelas wajah orang itu. Kelihatan kepalanya botak kelimis, tapi wajahnya merah cerah seperti orang muda.

Segera Pwe-giok mengenali orang ini ialah Tong Bu-siang, ketua perguruan keluarga Tong di Sujwan yang terkenal sebagai ahli Amgi atau senjata rahasia nomor satu di dunia.

Tong Bu-siang duduk menunduk dengan mata terpejam, tapi di sekelilingnya berbaris berpuluh macam senjata rahasia yang gemerlapan, jelas itulah Amgi berasal keluarga Tong yang merontokkan nyali setiap jago persilatan.

Selain Tong Bu-siang, ada lagi dua orang yang berdiri di kanan-kirinya, meski tetap berpakaian hitam ringkas, tapi kedoknya sudah ditanggalkan, jelas mereka ialah Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut.

Pwe-giok menghirup napas panjang-panjang, serunya sambil mengalilingi Ki Leng-yan di luar pintu, “Aha, di kamar sempit ini ternyata ada juga tamu agung yang berkunjung, selamat bertemu!”

Pelahan Tong Bu-siang membuka matanya, seketika sorot matanya berkelebat seperti kilat, dengan suara berat ia bertanya, “Apakah bocah ini yang kalian maksudkan?”

“Betul, ” jawab Ong Uh-lau dengan hormat.

“Bagus, akan kucoba dia!” seru Tong Bu-siang. Begitu kata “dia” terucapkan, kontan kelima jarinya menyelentik, serentak barisan Am-gi yang terletak di depannya itu ada lima buah yang menyambar ke depan.

Menyusul tangan yang lain juga bekerja, kedua kakinya juga bergerak, sekaligus berpuluh Amgi melayang ke depan, sisanya tinggal tujuh atau delapan buah, sekali tiup, seluruh Amgi itupun menyambar ke arah Pwe-giok.

Di seluruh tubuh orang tua ini seolah terpasang pesawat khusus dan setiap tempat dapat membidikkan senjata rahasia. Puluhan Am-gi yang berbaris di pembaringan itu dalam sekejap saja telah dihamburkan seluruhnya.

Padahal bentuk Am-gi itu tidak sama, bobotnya juga berbeda, tapi ada yang diselentikkan, ada yang disampuk dengan tangan, ada yang disapu dengan kaki atau ditiup dengan pernapasan yang kuat, cara menyerangnya dan kekuatannya juga tidak sama. Ada yang menyambar dengan cepat dan ada yang lam bat, ada yang menyerang lurus langsung, ada yang melingkar dan ada juga yang berputar-putar di udara untuk kemudian menyerang Pwe-giok dari belakang.

Puluhan Am-gi itu seolah-olah bukan senjata rahasia lagi, tapi menyerupai puluhan jsgo silat kelas tinggi dengan senjata yang berbeda-beda dan mengerubut Pwe-giok dari berbagai jurusan.

Sejak Pwe-giok terjun di dunia Kangouw, tidak sedikit lawan tangguh yang pernah ditemuinya. Tapi Am-gi selihay ini sungguh belum pernah dilihat atau didengarnya.

Dengan tetap memegang tangkai kayu tadi, dengan segenap minat dan pikiran segera ia melancarkan jurus serangan “Thian-te-bu-pian”, habis itu dengan jurus yang sama ia menyerang pula secara terbalik. Dua serangan dilancarkan secara berlawanan sehingga sukar diraba.

Orang lain hanya melihat tangkai kayunya berputar dua lingkaran dan tak terlihat cara bagaimana dia bergerak, tahu-tahu terdengar suara “crat-cret” berulang-ulang, berpuluh bentuk senjata rahasia itu entah mengapa sama menancap pada tangkai kayunya.

Seketika Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut melenggong.

Tong Bu-siang juga tercengang, mau-tak-mau ia berseru memuji, “Ilmu pedang bagus!” — Lalu dia tepuk bahu Ong Uh-lau dan bertanya, “Dia sudah turun tangan, apakah kalian sudah tahu asal-usul ilmu pedangnya?”

Dengan lesu Ong Uh-lau menjawab, “Belum ketahuan!”

“Hahaha! Tidak cuma kau saja yang tidak tahu, bahkan berpuluh tahun pengalamanku di dunia Kangouw juga tidak pernah kulihat ilmu pedang sehebat ini, ” seru Tong Bu-siang dengan tertawa.

“Tapi dapat kupastikan bahwa di perguruan Bu kek-bun tidak ada ilmu pedang selihay ini.”

“Ya, memang tidak ada!” tukas Ong Uh-lau.

“Sebelumnya memang sudah kuketahui dia pasti bukan Ji Pwe-giok yang mati itu, ” kata Tong Bu-siang pula. “Coba pikir jika dia penyamaran Ji Pwe-giok yang pura-pura mati itu, mengapa dia tidak menggunakan nama lain, tapi sengaja tetap memakai nama Ji Pwe-giok?”

Sambil menyengir terpaksa Ong Uh-lau memberi hormat kepada Pwe-giok dan berkata, “Jika tindakan kami terasa agak kasar, mohon Ji-kongcu sudi memberi maaf.”

Pwe-giok tersenyum, katanya, “Ah, tidak menjadi soal, hanya selanjutnya….”

Belum habis ucapannya, mendadak Ki Leng-yan menjerit kaget “blang”, seorang menerobos masuk dengan beringas.

Orang ini memakai baju kasar dan topi kulit semangka, jelas orang ini adalah jongos hotel ini. Tapi jongos yang ramah dan rendah hati ini kini sikapnya telah berubah sama sekali. Kedua matanyanya tampak merah membara, mulutnya menyeringai sehingga kelihatan giginya yang kuning, air mukanya penuh napsu membunuh.

Di tengah jeritan kaget tadi Leng-yan sempat menarik Pwe-giok ke samping, maka jongos hotel itu lantas menerobos langsung ke dalam. Cepat Sebun Bu-kut mendepak sebuah meja kecil di sebelahnya sehingga menyeruduk si jongos.

Tak tersangka sekali hantam jongos itu telah membuat meja itu hancur berkeping-keping.

Diam-diam Pwe-giok terkejut. “Orang macam apakah jongos hotel ini, masa memiliki tenaga sekuat ini?”

Dalam pada itu Ong Uh-lau juga tidak tinggal diam, pedangnya lantas menusu.k. Tapi jongos itu lama sekali tidak mengelak, sebaliknya membusungkan dada dan memapak tusukan itu. “Crat” tanpa ampun lagi pedang itu nenembus dadanya. Sekali depak Ong Uh-lau membikin tubuh si jongos mencelat, darah segera berhamburan dan mengotori tangan Oh Uh-lau.

Sambil berkerut kening Ong Uh-lao berkata, “Keparat ini barangkali sudah gila, masa…..”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Tong Bu-siang melolos belati yang terselip di pinggangnya terus menabas, kontan sebelah lengan Ong Uh-lau dipotongnya mentah-mentah. Ong Uh-lau menjerit kesakitan dan jatuh kelengar.

“Ap…..apa maksudmu Cianpwe?” teriak Sebun Bu-kut terkejut.

Wajah Tong Bu-siang yang semula merah cerah itu seketika berubah menjadi pucat, katanya, “Jongos hotel ini telah terkena racun jahat Thian-cam-kau dari daerah Miau, dia sudah kehilangan kesadarannya sehingga berubah kuat luar biasa, bahkan darah di seluruh tubuhnya juga telah berubah menjadi darah berbisa, barang siapa keciprat setitik darahnya dalam sekejap racun akan terus menjalar ke seluruh tubuh. Bila tidak kubuntungi tangannya ini, hanya sebentar saja seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati.”

Keringat dingin berembes di dahi Sebun Bu-kut, ucapnya dengan suara gemetar, “Jadi. ,…jadi inilah salah-satu ilmu iblis Thian-cam-kau yang disebut Mo-hiat-hu-kut-tay-hoat (ilmu darah iblis pembusuk tulang) itu? Jangan-jangan ada orang Thian-cam-kau datang kemari?”

Dari suaranya yang gemetar dan ketakutan itu mau-tak-mau Pwe-giok ikut merinding juga, waktu dia pandang lengan yang putus dan jatuh di lantai itu, ternyata sudah berubah menjadi genangan darah hitam.

Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, hatipun berdebar Tong Bu-siang yang terkenal berhati bajapun berkeringat dingin.

“Yang datang di luar itu apakah khing-hoa-sam-niocu?” tanyanya dengan suara parau.

Segera terdengar; suara tertawa genit di luar sana. Nyaring dan merdu suara tertawanya laksana kicau burung kenari, siapapun yang mendengar suara tertawa ini pasti akan terguncang perasaannya dan tergetar kalbunya. Namun kulit muka Tong Bu-siang justeru berkerut-kerut demi mendengar suara itu.

Terdengar suara merdu itu berucap pula dengan tertawa genit, “Betapapun memang pandangan Tong-loyacu terlebih tajam, hanya sekilas lihat saja lantas tahu kami kakak beradik yang datang kemari.”

“Untuk apa kalian datang ke Tionggoan sini?” tanya Tong Bu-siang dengan bengis.

“Dengan sendirinya kedatangan kami ini adalah ingin mengunjungi Tong-loyacu, ” jawab suara genit tadi. “Lebih dulu kami telah mendatangi kediaman Tong-loyacn, tapi Loyacu telah berangkat ke Hong-ti. karena itulah kami lantas menyusul kemari. Meski agak terlambat sehingga tidak keburu ikut menyaksikan keramaian pertemuan besar di Hong-ti, tapi dapat berjumpa di sini dengan Tong loyacu, betapapun perjalanan kami ini tidaklah sia-sia.”

Dia bicara sambil tertawa, suaranya enak didengar, sama halnya mengobrol dengan orang tua di rumah, siapapun tidak menyangka di balik suara merdu dan kata-kata ramah ini tersembunyi hasrat membunuh yang sukar diraba.

Namun jago tua yang namanya mengguncangkan dunia Kangouw ini ternyata gemetar juga mendengar ucapan itu, sambil memegang belatinya dia bertanya pula, “Jadi kalian….kalian sudan pergi ke rumahku?”

Suara itu menjawab dengan tertawa, “Loyacu jangan kuatir, meski kami sudah berkunjung ke sana, tapi mengingat Toaciku, sama sekali kami tidak mengganggu apapun di tempatmu, babkan seekor semut pun tidak terinjak mati.”

Meski merasa lega juga mendengar keterangan itu, tapi mendadak Tong Bu-siang bertaanya pula dengan gusar, “Siapa itu Toacihu (kakak ipar, suami kakak) yang kau maksud?”

Suara genit itu menjawab, “Sungguhpun Tong-kongcu pemuda yang cakap dan pintar, tapi Toaci kami juga nona cantik yang serba mahir. Jadi kedua muda-mudi adalah suatu pasangan yang setimpal, ini kan jodob yang ditakdirkan?”

“Omong kosong, kentut busuk!” damperat Tong Bu-siang dengan gusar.

Agaknya orang itu tidak marah, terbukti suaranya masih tetap enak didengar, katanya, “Apalagi mereka berdua memang sudah cocok satu sama lain, si tampan dan si cantik sudah sama-sama ikat janjj di taman bunga akan sehidup semati, mengapa Tong-loyacu justeru berusaha hendak membuyarkan pasangan merpati ini?”

“Omong kosong!” teriak Tong Bu-siang. “Anak durhaka itu lantaran tidak tahu asal-usul perempuan siluman itu, makanya dia terpikat. Sekarang dia sudah sadar dan tidak sudi beristerikan perempuan siluman itu.”

“Ah, kukira belum tentu, ” ujar suara nyaring merdu itu dengan tertawa. “Tong-kongcu adalah pemuda yang berperasaan, tidak nanti dia mengingkari janjinya kepada Toaci kami. Apalagi, gadis secantik Toaci kami itu lelaki mana di dunia ini yang tidak suka padanya?’ Jika ada, maka lelaki itu pasti gendeng.”

“Tidak bisa, keputusanku sudah bulat, tidak nanti pikiranku berubah, tiada gunanya kalian banyak bicara lagi, ” teriak Tong Bu-siang dengan bengis “Mengingat hubungan kalian dengan anak durhaka itu di masa lampau, lekas kalian pulang saja agar tidak terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.”

“Jadi sudah pasti Tong-loyacu tidak setuju?” tanya suara genit tadi.

“Ya, tidak nanti berubah, ” jawab Tong Bu-siang tegas.

“Dan Loyacu takkan menyesal?” tanya pula suara merdu itu.

“Biarpun segenap keluarga Tong mati semuanya juga takkan bersedia menerima menantu seperti perempuan siluman itu!” bentak Tong Bu-siang dengan murka.

Sejenak suara genit tadi terdiam, lalu dia berucap pula dengan tertawa, “Wah, tampaknya sukar bagiku untuk membujuk Loyacu, terpaksa aku mesti minta perantara seorang comblang.”

Mendengar sampai di situ, tahulah Pwe-giok bahwa kedatangan Khing-hoa-sam-niocu atau tiga perempuan bunga ini adalah untuk melamar suami kepada Tong Bu-siang, Agaknya sang Toaci atau kakak tertua di antara Samniocu itu sudah ada ikatan janji dengan Tong-kongcu, tampaknya cara mereka memaksakan perjodohan ini mendekati pemerasan, tapi tekad Tong Bu-siang yang berkeras tidak mau terima perjodohan anaknya inipun agak keterlaluan.

Selagi Pwe-giok pikir siapakah comblang yang dimaksudkan itu? Apakah si comblang akan sanggup membujuk Tong Bu-siang. Tiba terdengar suara daun jendela terbuka, dari luar lantas melayang masuk satu Orang.

Kedua mata orang ini melotot serupa mata ikan emas, air mukanya hitarn kebiru-biruan, kedua pundaknya, dadanya dan punggungnya seluruhnya menancap tujuh bilah belati emas yang gemerdep,tangkai belatipun terbingkai batu permata yang berkilauan.

Dengan mata yang melotot seperti mata ikan mati itu, pendatang ini terus menatap Tong Bu-sing, darah segar tampak meleleh dari ujung matanya, sikapnya sungguh sangat misterius dan juga menyeramkan.

Leng-yan memegangi tangan Ji Pwe-giok dengan mengigil. Muka Sebun Bu-kut tampak pucat dan basah seperti kehujanan, rupanya keringat dinginnya bercucuran seperti air hujan.

Serentak Tong Bu-siang melompat bangun sambil berteriak, “Inilah Kim-to-ho-hiat dari Thian-cam-kau!”

Belum lenyam suaranya, mendadak sinar emas gemerdep, tujuh bilah belati emas itu terus melayang keluar jendela menjadi satu garis lurus. Kiranya pada gagang belati yang berhias batu manikan itu terikat pula satu benang emas yang halus.

Ketika ketujuh belati itu melayang keluarm dari lubang luka belati itu lantas menyembur keluar tujuh panciran darah segar. Seketika itu terjadi hujan darah memenuhi seluruh kamar.

Sebelumnya Tong Bu-siang telah angkat Ong Uh-lau dan di lemparkan keluar pintu, ia sendiripun melompar ke atas belandar ruangan. Ji Pwe-giok juga tidak tinggal diam, dengan angin pukulannya, ia tolak cipratan darah itu.

Hanya Sebun Bu-kut saja yang lebih lamban reaksinya, meski iapun sempat melompat ke atas belandar, tapi tubuhnya sudah terciprat beberapa titik darah berbisa itu. Tapi ia memang pemberani, dengan nekat ia menyayat kulit daging sendiri yang terciprat darah itu.

Ketika darah berbisa yang berhamburan seperti hujan itu mengenai dinding, seketika dinding yang terkapur putih itu berubah menjadi hitam hangus.

Setiap kungfu yang dikeluarkan Khing-hoa-sam-niocu itu ternyata sama membawa suasana seram dan mengerikan, setiap kungfunya harus minta korban jiwa. Sungguh keji luar biasa.

Pwe-giok berkerut kening, mendadak ia melayang keluar jendela, ia ingin tahun bagaimana macamnya Khing-hoa-sam-niocu yang cantik tapi keji itu.

“Hei, Ji kongcu, hati-hati.” seru Tong Bu-siang khawatir.

Tapi Ki Leng-yan lantas menanggapi dengan tertawa linglung, “Jangan kuatir, di dunia ini pasti tiada perempuan yang tega mencelakai dia!”

ooooo0ooooo

Diluar jendela sana ada sebatang pohon besar, pada dahan pohon itu terikat empat atau lima orang, semuanya dalam keadaan tidak sadar, agaknya terbius oleh sesuatu obat.

Di depan pohon berdiri tiga gadis maha cantik, semuanya memakai mantel panjang warna hitam, begitu panjang mantel mereka hingga menyentuh tanah dan menutupi tubuh mereka yang ramping.

Rambut mereka tergelung tinggi diatas kepala, pada bagian atas pelipis sama memakai hiasan bunga permata, yang satu memakai bunga emas gemerdep, satu lagi bunga perak yang berkilau dan seorang lagi memakai bunga yang berwarna hitam gelap.

Gadis yang memakai hiasan bunga emas itu beralis lentik agak menegak, matanya yang jeli itu mengembeng air mata seperti gadis yang lagi dirundung kesedihan.

Jelas gadis bunga emas ini adalah sang Toaci yang sedang kasmaran itu.

Gadis yang berhias bunga perak berwajah bulat, matanya selalu mengerling genit, lirikannya dapat membuat luluh hati lelaki yang berhati baja sekalipun.

Gadis ketiga yang berbunga hitam gelap paling cantik, lirikan matanya juga paling menggirukan, senyumnya yang paling manis, kalau biacara, belum berucap sudah tertawa. Barangsiapa memandangnya sekejap saja pasti akan jatuh hati padanya.

Mungkinkah ketiga gadis maha cantik ini adalah tokoh dari agama jahat yang paling terkenal dan paling disegani di dunia persilatan sekarang ini, yaitu Khing-hoa-sam-niocu.

Apakah ketiga pasang tangan yang halus dan mulus inipun dapat menggunakan kungfu yang misterius serta maha keji itu sehingga jiwa manusia dipandang mereka seperti permainan anak kecil?

Jika tidak menyaksikan sendiri kelihayan mereka, tentu Pwe-giok juga tidak percaya akan kekejian mereka.

Tiga pasang mata jeli dengan lirikan memabukkan sama terpusat pada diri Pwe-giok, seakan-akan menembus dada anak muda itu, ingin tahu isi hatinya.

Mendadak Thi-hoa niocu, yaitu si nona bunga besi berkata dengan tertawa genit, “eh, pemuda bagus dari mana ini? Kedatanganmu ke sini apakah hendak memikat perempuan dari keluarga baik-baik seperti kami ini?”

Diluar jendela sana ada sebatang pohon besar, pada dahan pohon itu terikat empat atau lima orang, semuanya dalam keadaan tidak sadar, agaknya terbius oleh sesuatu obat.

Di depan pohon berdiri tiga gadis maha cantik, semuanya memakai mantel panjang warna hitam, begitu panjang mantel mereka hingga menyentuh tanah dan menutupi tubuh mereka yang ramping.

Rambut mereka tergelung tinggi diatas kepala, pada bagian atas pelipis sama memakai hiasan bunga permata, yang satu memakai bunga emas gemerdep, satu lagi bunga perak yang berkilau dan seorang lagi memakai bunga yang berwarna hitam gelap.

Gadis yang memakai hiasan bunga emas itu beralis lentik agak menegak, matanya yang jeli itu mengembeng air mata seperti gadis yang lagi dirundung kesedihan.

Jelas gadis bunga emas ini adalah sang Toaci yang sedang kasmaran itu.

Gadis yang berhias bunga perak berwajah bulat, matanya selalu mengerling genit, lirikannya dapat membuat luluh hati lelaki yang berhati baja sekalipun.

Gadis ketiga yang berbunga hitam gelap paling cantik, lirikan matanya juga paling menggirukan, senyumnya yang paling manis, kalau biacara, belum berucap sudah tertawa. Barangsiapa memandangnya sekejap saja pasti akan jatuh hati padanya.

Mungkinkah ketiga gadis maha cantik ini adalah tokoh dari agama jahat yang paling terkenal dan paling disegani di dunia persilatan sekarang ini, yaitu Khing-hoa-sam-niocu.

Apakah ketiga pasang tangan yang halus dan mulus inipun dapat menggunakan kungfu yang misterius serta maha keji itu sehingga jiwa manusia dipandang mereka seperti permainan anak kecil?

Jika tidak menyaksikan sendiri kelihayan mereka, tentu Pwe-giok juga tidak percaya akan kekejian mereka.

Tiga pasang mata jeli dengan lirikan memabukkan sama terpusat pada diri Pwe-giok, seakan-akan menembus dada anak muda itu, ingin tahu isi hatinya.

Mendadak Thi-hoa niocu, yaitu si nona bunga besi berkata dengan tertawa genit, “Eh, pemuda bagus dari mana ini? Kedatanganmu ke sini apakah hendak memikat perempuan dari keluarga baik-baik seperti kami ini?”

Dengan hambar Pwe-giok menjawab, “Kedatanganku ini hanya ingin belajar kenal dengan kehebatan cara para nona bunuh orang.”

Thi-hoa-niocu terhitung terhitung paling seksi di antara ketiga Khing hoa-sam-niocu, dengan langkah gemulai ia mendekati Pwe-giok, katanya pula dengan senyum manis, “Membunuh katamu? Wah, sungguh menakutkan ucapanmu ini? Membunuh otang hanya akan merusak kecantikan anak perempuan. Selamanya kami tidak berani membunuh. Apakah anda sering membunuh orang?”

Dia bicara dengan suara lembut dan senyum selalu dikulum serta menatap Pwe-giok dengan pandangan yang tulus sehingga mirip benar seorang nona cilik yang selamanya tidak pernah membunuh, bahkan tidak tahu apa artinya membunuh.

Meski tahu jelas nona ini tidak saja membunuh, bahkan memandang jiwa manusia tidak lebih berharga daripada jiwa semut, tapi melihat cara bicaranya, melihat sikapnya sekarang, Pwe-giok menjadi tidka percaya pada pandangannya sendiri. Ia berkerut kening dan bertanya dengan ragu, “Maksudnmu, kedua orang tadi bukan di bunuh olehmu?”

Mata Thi-hia-niocu terbelalak lebar, seperti terkesiap dan heran, jawabnya, “Kau bilang kedua orang yang masuk ke rumah itu?”

Pwe-giok mengiyakan.

“Bukan kau yang membunuh kedua orang itu?”

“Aku?!…” Pwe-giok jadi melengak sendiri.

“Jelas-jelas kedua orang tadi masuk kesana dalam keadaan segar bugar dan telah kalian bunuh, masa sekarang kalian malah menuduh diriku?!” kata Thi-hoa-niocu.

Dia berbalik menghantam Pwe-giok cara berucapnya juga tegas, meski penasaran, seketika Pwe-giok jadi kalah berbantah.

Thi-hoa-niocu menghela nafas, katanya pula, “Kutahu setelah kau bunuh orang, tentu perasaanmu tidak enak. Tapi kaupun tidak perlu berduka, asalkan lain kali jangan sembarangan membunuh kan beres?!”

Mestinya Pwe-giok yang hendak memberi nasihat padanya, sekarang si nona berbalik memberi wejangan, keruan anak muda itu serba runyam, rasa gusarnya menjadi sukar dihamburkan.

Maklum, menghadapi nona cantik, lincah, pintar, dan binal seperti ini, jika digunakan sikar kasar dengan membentak, memaki atau memukulnya kan tidak pantas.

Kembali Thi-hoa-niocu tersenyum manis, ia mengebaskan saputangannya dengan perlahan dan berkata pula, “Jika hatimu kesal, marilah ikut padaku. Bisa jadi akan kubikin hatimu menjadi riang.”

Dia terus melangkah beberapa tindak kesana, lalu menoleh, dilihatnya Pwe-giok tetap berdiri tenang di tempatnya tanpa ikut melangkah dan juga tiada sesuatu perubahan. Keruan hati Thi-hoa-niocu terkejut, namun senyum yang menghias wajahnya bertambah manis sehingga rasa kejutnya tidak kelihatan.

Rupanya pada saputangannya itu tersembunyi semacam obat bius yang paling lihay dari Thian-cam-kau.

—–

Siapakah sebenarnya Khing-hoa-sam-niocu dan apa latar belakang kemunculan mereka ini?

Apakah Ji Pwe-giok dapat mengatasi ketiga gadis bunga yang lihay itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

3 Comments »

  1. Hello, i feel that i noticed you visited my blog thus i got
    here to go back the want?.I’m trying to in finding issues to enhance my site!I assume
    its adequate to use some of your ideas!!

    Comment by electric pressure cookers — 29/08/2016 @ 12:58 am

  2. It’s actually a nice and useful piece of info. I’m glad
    that you simply shared this useful information with us.
    Please stay us informed like this. Thanks for sharing.

    Comment by review of yoga burn — 02/09/2016 @ 7:07 pm

  3. renjana itu apa ya?

    Comment by ibu muda — 21/10/2016 @ 8:34 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: