Kumpulan Cerita Silat

16/05/2010

Renjana Pendekar – 06

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:49 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Axd002, Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, M_haury)

Seketika Ki Song-hoa melonjak murka, teriaknya sambil memukuli dada sendiri, “Kau, kau datang lagi! Kenapa kau selalu mengganggu diriku, apakah tak dapat aku diberi sedikit ketenangan?!”

“Dia sudah mati, mengapa tidak kau berikan ketenangan pula?” jawab Leng-hong dengan hambar.

“Justru sekarang akan kuberi ketenangan abadi baginya dengan membaringkannya di bawah tanah” kata Ki Song-hoa.

“Orang yang kau kubur mana bisa terbang? Bisa jadi setiap saat kau akan kembali lagi ke sini dan menggalinya untuk diperiksa pula” jengek Ki Leng-hong.

Dengan gusar Ki Song-hoa berkata, “Mana boleh kau bicara demikian kepadaku?…. Seumpama aku bukan ayahmu, berdasarkan apa pula kau kira aku takut padamu? Enyah, lekas enyah! Kalau tidak, bisa kukubur kau hidup-hidup bersama dia.”

Namun Ki Leng hong tanpa bergerak, ucapnya pelahan, “Tak nanti kau berani menyentuh diriku, betul tidak?…. Kau tahu sebelum wafat kakek telah banyak menyerahkan rahasia padaku, satu di antaranya adalah paling ditakutimu.”

Kata-kata Leng-hong ini ternyata sangat manjur, seketika Ki Song-hoa menjadi lesu, katanya, “Sesungguhnya apa kehendakmu?”

“Mayat ini adalah kepunyaanku, tidak boleh kau sentuh dia!” ucap Leng-hong dengan tegas.

“Hahahahaha! Sungguh lucu, mengapa kau pun merasa tertarik pada orang mati? Apakah kaupun serupa diriku…Aha, memang betul, betapapun kau juga she Ki, biarlah kuberikan mayat ini padamu.”

Sambil berjingkrak gembira dan tertawa latah, lalu Ki Song-hoa berlari pergi.

Ki Leng-hong mengangkat tubuh Ji Pwe-giok, gumamnya, “Orang lain sama menganggap kau sudah mati, siapa pula yang tahu bahwa orang mati kadang-kadang juga dapat hidup kembali.”

Angin dingin menghembus, cabaya bintang berkerlip redup, alam ini memang penuh kegaiban.

oooo 0000 oooo

Di atas batu-batu raksasa itu sudah banyak lumut hijau, di sudut-sudut yang gelap penuh sawang, sampai-sampai debu kotoran juga berbau apek.

Di dalam rumah batu yang seram ini tiada terdapat jendela, tiada angin, tiada cahaya matahari, apapun tidak-ada, yang ada cuma hawa kematian.

Di atap rumah yang tinggi dan lebar itu ada sebuah lubang buncar kecil, setitik sinar matahari menembus masuk dari situ, langsung menyoroti tubuh Ji Pwe-giok.

Anak muda itu sedang gemetar, jangan-jangan Pwe giok benar-benar telah hidup kembali?

Pelahan ia membuka mata, hampir-hampir ia sendiripun terperanjat. Cepat ia melompat bangun, maka terlihatlah pemandangan di dalam rumah batu ini.

Seketika dapat diterkanya tempat ini pasti rumah kuburan yang misterius itu. Kini ia ternyata berada di dalam makam leluhur keluarga Ki.

Kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin, tanpa terasa ia menggigil, pikirnya, “Tentunya aku sudah mati, maka dikubur di sini… Tapi orang mati masa dapat bergerak?… Jangan-jangan sekarang aku telah berubah menjadi setan, menjadi arwah halus?”

Ia kucek-kucek matanya, segera dilihatnya satu orang.

Orang ini berbaju kain belacu putih, duduk di suatu kursi yang longgar dan besar, mukanya kuning, tanpa bergerak, tampatnya juga sangat seram dan penuh misterius.

Tapi Pwe-giok tidak merasakan apa-apa, ia pikir tentu sebuah patung lilin lagi

Ia coba berjalan ke depan, ia merasa di ruangan ini ada silirnya angin, dengan sendirinya angin masuk dari lubang kecil di atap rum ah itu sehingga rambut dan jenggot “patung lilin” tertiup bergerak-gerak.

Jelas itu bukan patung lilin, tapi benar-benar seorang manusia.

“Siapa kau?!” bentak Pwe-giok terkejut.

Orang itu tetap diam saja tanpa bergerak seakan-akan tidak mendengar suaranya.

Pwe-giok pikir dirinya kan sudah mati, apa yang mesti ditakuti? Segera ia melangkah ke sana, mendekati orang itu, ia coba memegangnya, memang betul seorang manusia, tapi manusia tak bernyawa.

Terasa hawa dingin menyusup ke tubuhnya melalui jarinya, cepat Pwe-giok menarik kembai tangannya. Waktu ia berpaling, ternyata di situ tidak cuma seorang ini saja, masih banyak orang lagi, orang mati seluruhnya.

Kiranya jenazah leluhur keluarga Ki tidak ditanam, jenazah mereka telah dibalsam sehingga semua jenazah masih utuh, tidak membusuk untuk selamanya.

Sejauh mata memandang terlihat setiap mayat itu berduduk di suatu kursi yang longgar dan besar. Pwe-giok seolah-olah berada di tengah-tengah mayat itu. Meski diketahui “orang-orang” ini sudah tak dapat bergerak lagi dan tidak nanti membikin susah padanya, tapi merembes juga keringat dingin Pwe-giok.

Cahaya yang remang-remang menyoroti wajah mayat-mayat itu, setiap wajah mayat itu sama dingin dan kurus kering, namun air muka mereka tetap dalam keadaan yang wajar, tidak mengunjuk keberingasan yang menakutkan, namun sikapnya yang dingin itu tampaknya menjadi lebih menyeramkan. Berada di tengah-tengah mayat ini tiada ubahnya seperti berada di neraka.

Pandang sini dan lihat sana, darah di tubuh Pwe-giok seakan-akan beku, ia tidak tahan, akhirnya ia menjerit ngeri terus menerjang keluar.

Di dalam rumah batu itu masih ada sebuah kamar batu, sekeliling kamar batu ini juga berduduk tujuh-atau delapan orang mati, semuanya juga duduk di atas kursi dengan sikap kaku dan dingin.

Pandangan Pwe giok yang pertama lantas tertuju kepada sebuah wajah yang kurus kering dan aneh, yaitu yang serupa dengan patung lilin yang dilihatnya di lorong bawah tanah sana. Dengan sendirinya inilah mayat ayah Ki Song-hoa yang sesungguhnya.

Tampaknya orang ini mati belum terlalu lama, hal ini terbukti dari bajunya yang jauh lebih baru daripada mayat-mayat lain.

Selagi Pwe-giok memandang sana dan memandang sini, sekonyong-konyong seorang mati di sampingnya dapat berdiri dan menegurnya, “Kau… kau pun datang ke sini?!”

Sungguh kaget Pwe-giok sukar dilukiskan, hampir pecah nyalinya.

Dilihatnya orang iniplun memakai belacu putih, malahan mukanya juga djbalut dengan kain putih, bahkan orangnya lantas mendekati Pwe-giok dengan langkah berat.

Kaki dan tangan Pwe giok terasa lemas, setindak demi setindak ia menyurut mundur, teriaknya dengan parau, “Kau…..kau …, ” hanya kata ini saja yang dapat diucapkannya dan sukar melanjutkan pula.

Orang itu lantas berhenti dan memandangi Pwe-giok, katanya pelahan, “Jangan takut, aku bukan setan.”

“Kau… kau bukan setan? Lalu sia… siapa kau?” tanya Pwe-giok.

Cukup lama orang itu berpikir, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Aku Ji Pwe-giok!”

“Hah, kau Ji Pwe-giok? Lantas siapa siapa diriku?” teriak Pwe-giok dengan kaget luar biasa.

Orang itu tidak bicara lagi, tapi mulai membuka kain pembalut mukanya selapis demi selapis sehingga terlihat mukanya yang penuh bekas luka.

Sampai lama sekali Pwe giok memandang wajah yang rusak ini, akhirnya ia berseru, “He, bukankah engkau ini Cia . . ., Cia Thian pi, Cia cianpwe?”

Bahwa Cia Thian-pi bisa muncul di rumah hantu ini, hal ini benar-benar membuatnya terkejut melebihi melihat setan.

Cia Thian-pi tersenyum pedih, ucapnya, “Betul, aku memang Cia Thian pi adanya, tak tersangka kau masih dapat mengenali diriku.”

“Wah, tadi Cia cianpwe benar-benar telah membikin kaget padaku, ” ujar Pwe-giok dengan menyengir.

Dengan menyesal Cia Thian-pi berkata, “Sudah sekian lama berkumpul dengan orang mati di dalam makam ini, ketika mendadak melihat kedatanganmu, saking kejut dan girangnya aku lantas bergurau denganmu.”

“Mungkin Cianpwe sengaja hendak melihat bagaimana sikapku setelah mendengar ucapanmu tadi, untuk mengetahui apakah aku ini benar benar Ji Pwe-giok atau bukan.”

“Betul” kata Cia Thian-pi dengan menghela napas. “Di seluruh dunia sekarang,mungkin hanya kau saja yang dapat memahami isi hatiku. Hanya akau pula yang memahami perasaanmu. Betapa aneh pengalamanmu dan betapa malang nasibmu, baru sekarang aku percaya penuh.”

Pedih hati Pwe-giok, ucapnya dengan rada gemetar, “Dan Cianpwe sendiri… ”

“Ya, meski sekarang aku sudah percaya, tapi sayang, tiada gunanya lagi.” tukas Cia Thian-pi.

“Nasibku sekarang jelas serupa dengan kau, mungkin hidupku ini harus kelalui di tempat gelap begini untuk selamanya.”

“Cara bagaimana Ciapwe berada di sini?” “malam itu diperkemahanku, cukup banyak juga kutenggak arak sehingga terasa rada mabuk, menjelang tengah malam aku tertudir dengan lelapnya. Tiba tiba seorang menggoyangi tubuhku dan membangunkan aku serta bertanya siapa diriku?”

“Dia menerobos ke dalam kemah, belum lagi Cianpwe tanya siapa dia, sebaliknya dia malah ber tanya lebih dulu kepada Cianpwe, orang aneh dan kejadian aneh ini sungguh jarang terjadi.” “Tatkala mana akupun sangat mendongkol, ” tutur Cia Thian-pi pula. “Tapi begitu aku memandangnya, seketika aku tak dapat… tak dapat bersuara.” “Sebab apa?” tanya pwe-giok. “Lampu dalam perkemahanku waktu itu masih menyala, dibawah cahaya lampu dapat kulihat muka orang itu, mata alisnya, ratu wajahnya, semuanya serupa benar dengan diriku, rasanya seakan akan aku sedang berkaca atas diriku sendiri.” “Hm, ternyata benar bangsat itu, ” desis Pwe-giok dengan geram. “aku terbelalak memandangi dia, dia juga terbelelak menatap diriku.

Dia malah berkata, “Akulah CiaThian-pi dari Tiam-jong, mengapa kau tidur ditempatku?” Waktu itu aku masih sangsi kalau mabukku belum lenyap, aku menjadi bungung oleh ucapannya itu. Serupa kau tapi, akupun berteriak “Kau Cia Thian-pi?… lantas siapa diriku?”

“Rupanya karena pengalaman Cianpwe itu, maka setelah mendengar ucapanku tadi Cianpwe lantas yakin diriku ini Ji Pwe-giok tulen, ” ucap Pwe-giok dengan menyesal. “tapi kemudian apa pula yang diperbuat oleh bangsat itu.”

“Setelah mendengar teriakanku, bangsat itu malah mendamperat diriku, ia menuduh aku memalsukan wajahnya, bahkan menyatakan bahwa orangnya dapat dipalsu, tapi ilmu pedang Tiam-jong-pay tidak dapat dipalsu. Dia justeru menantang aku agar menentukan siapa lebih unggul, yang unggul ialah Cia Thian-pi tulen, yang asor adalah palsu dan harus enyah.”

“Jika begitu, jelas ilmu pedang bangsat itu bukan tandingan Cianpwe, ” ujar Pwe-giok.

“Kau salah sangka.” kata Cia Thian-pi dengan tersenyum pedih. “betapa keji dan perencanaan orang-orang itu sungguh sukar dibayangkan. Ternyata dalam arak yang kuminum itu diluar tahuku telah diberinya obat bius sehingga aku tidak mampu mengerahkan tenaga sama sekali, tidak sampai tiga jurus pedangku sedah tersampuk jatuh oleh pedangnya dan ilmu pedang yang digunakannya memang betul Tiam-jong-kiam-hoat tulen.”

“Dan Cianpwe lantas didesak pergi secara begitu?” tanya pwe-giok. “memangnya apa yang dapat kuperbuat lagi?” tutur Cia Thian-pi. “Tatkala mana Ji Hong-ho, Ong Uh lau dan lain lain serentak muncul juga, rupanya mereka sebelumnya sudah bersembunyi disitu, dalam kedudukannya sebagai Bengcu, dia telah menyingkirkan anak muridku ke tempat lain, lalu…”

“Mungkin waktu itu Cianpwe sendiri tidak tahu bahwa merekapun palsu seluruhnya.” kata Pwe-giok dengan gemas.

“Ya, tatkala itu aku memang tidak pernah membayangkan akan terjadi begitu, demi nampak datangnya Bengcu, aku menjadi girang. Siapa tahu mereka lantas menuduh aku inilah yang memalsukan CIa Thian-pi.” dengan tangan gemetar ia pegang tangan Pwe-giok, tanganya sudah penuh keringat, nadanya sangat sedih, sembungnya pula”

“Saat itulah baru kerasakan betapa susahnya orang yang terfitnah. Dadaku serasa mau meledak, tapi apa dayaku, anggota badan terasa lemas, aku tidak sanggup melawan, akhirnya aku dibekuk oleh mereka dan diangkut ke atas kereta serta dibawa pergi… ”

“Orang… orang she ji itupun bedara dikereta itu?” tanya Pwe-giok.

“Meski dia tidak ikut di dalam kereta, tapi dia memerintahkan beberapa lelaki kekar membawa pergi diriku, jelas aku hendak dibunuhnya ditempat jauh san sepi. Waktu itu keadaanku hampir tak bertenaga sama sekali, orang biasa saja tak dapat kulawan, apalagi anak buah bangsat itu.”

“Jika demikian, bahwa Cianpwe masih dapat menyelamatkan diri, boleh dikatakan lolos dari lubang jarum.”

“Ya, kalau tindakan mereka tidak terlalu rapi, bisa jadi aku takkan hidup sampai saat ini.”

“Aneh, mengapa berbalik bergitu?” tanya Pwe-giok heran.

“Coba kalau meraka membunuhku di sembarangan tempat, tentu jiwaku sudah melanyang. Tapi mereka justeru kuatir pebuatan jahat mereka diketahui orang, kuatir pula tindakan mereka akan meninggalkan bukti…” ia tersenyum pedih dan menyambung pula, “Padahal hendak membunuh orang semacam diriku rasanya juga tidak mudah, mereka harus mencari suatu tempat yang baik. Sedangkan tempat pembunuhan yang paling baik diseluruh dunia ini mungkin tiada yang lebih baik daripada Sat-jin-ceng.”

“Betul di sat-jinceng ini, membunuh orang ibaratnya ornag membabat rumput, siapapun tidak peduli dan tanpa perkara.” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

Ia menunggu cerita Cia Thian-pi lebih lanjut, tapi seampai disini Cai Thian-pi lantas berhenti dan tidak menyambung lagi.

Selang sejanak, Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya, “Melihat luka Cianpwe yang parah ini, mungkin kawanan bangsat itu sengaja membuat Ciampwe tersiksa untuk kemudian mati dengan sendirinya.”

“Ya, memang begitu kehendak mereka.” kata Cia Thain-pi.

“Dan entah cara bagaimana Cainpwe mendapat pertolongan dan mengapa pula sampai disini?” Pwe-giok coba memancing.

Cia Thain-pi berpikir sejenak, tuturnya kemudian, “SUdah tentu inipun secara kebetulan saja, cuma… cuma kejadian ini menyangkut rahasia orang ketiga, sebelum mendapat persetujuannya, maafkan, takdapat kuceritakan padamu.”

Dan sebelum Pwe-giok bertanya pula, dengan tertawa ia bertanya, “Dan dengan cara bagaimana kaupun datang kesini?”

Pwe-giok menghela napas sedih, jawabnya, “Tecu… Tecu sudah dianggap orang mati dan dikubur disini.” “Orang mati?” Cia Thian-pi menegas dengan heran. “Jangan jangan kau…” Belum lanjut ucapannya, tiba tiba seorang menyela dengan dingin, “Ucapannya memang tidak salah, dia memang sudah mati satu kali, cuma saat ini dia sudah hidup kembali.”

Di bawah cahaya yang remang remang muncul sesosok bayangan putih dengan rambutnya yang terurai, tertampak matanya yang indah mempesona dan wajahnya yang cantik laksana dewi itu. Ditempat yang suram begini tempaknya lebih mirip badan halus dan membuat orang yang melihatnya seakan akan berhenti bernapas.

Perpaduan antara badan halus dan dewi itu bukan lain ialah Ki Leng-hong.

Cia Thian-pi seperti juga terkesima oleh kecantikan yang tiada taranya serta keangkeran yang sukar dilukiskan itu. Ia termangu mangu sejenak, kemudian berkata dengan tertawa, “Ah, jangan nona berkelekar, orang mati manabisa hidup kembali?”

“Akulah yang membuatnya hidup kembali.” kat Leng-hong dengan pelahan. Suaranya hambar, seolah olah memang mengandung semasam kekuatan gain yang dapat mengendalikan mati atau hidup manusia. Sorot matanya yang dingin itu sekan akan menyembunyikan segala macam rahasia yangdapat menentukan mati atau hiduo seseorang.

Cia Thain-pi han Ji Pwe-giok saling pandang tak dapat bicara.

Dilihatnya Ki Leng-hong telah mendekati patung lilin yang serupa dengan patung di lorong bawah tanah itu serta menyembahnya tiga kali dengan khidmat. Mendadak ia berkata: , “Di makam ini seluruhnya adalah leluhur keluarga Ki. Tentunya kalian heran mengapa aku cuma menyembah dia saja? Biarlah kuberitahu, sebabnya dia pernah menyelamatkan diriku, seperti halnya aku telah menyelamatkan kalian.”

Pwe-giok dan Cia Thian-pi tambah bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Ki Leng-hong telah berbangkit dan membalik tubuh, ditatapnya Cia Thian-pi, katanya, “Dalam keadaan kempas kempis dan tak berdaya, jelas kau pasti akan terbunuh, akulah yang membuat mereka menyangka kau sudah mati, kemudian kupancing pergi mereka dan membawa kau kesini, kau tahu tidak?”

“Ya, budi pertolongan nona takkan kulupakan selama hidup.” kata Thian-pi.

“Sebagai seorang ketua suatu perguruan ternama, ternyata harus ditolong oleh seorang gadis yang tak terkenal, tentu dalam hati kau merasa malu, makanya tadi ketika ditanya orang, kau enggan menjelaskannya, begitu bukan?”

“Ah, nona telah salah paham.” jawab Thian-pi dengan menyengir. “solanya Cayhe ingin…”

“Aku memang berpikiran sempit.” dengan ketus Ki Leng-hong memotong. “Barang siapa sudah kutolong, selama hidupnya harus selalu ingat kepada budi pertolonganku, kalau tidak, akupun dapat membuatnya mati. Untuk itu hendaklah kau ingat dengan baik.”

Cia Thian-pi melongo mendengarkan perkataan Ki Leng-hong itu.

Nona itu tidak menggubrisnya lagi, ia berpaling ke arah Pwe-giok dan berkata pula, “Dan kau, hakikatnya kau sudah mati, setiap orang sudah merabai mayatmu dan menyatakan kau sudah mati. Tapi aku telah membuat kau hidup kembali, Meski di mulut kau tidak bicara, di dalam hati tentu kau tidak percaya. Orang mati masa bisa hidup kembali, begitu bukan?”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian, “Cayhe tidak pernah menaruh curiga, tapi sekarang sudah kupikirkan, rahasia mati dapat hidup kembali pasti terletak pada arak yang kuminum itu.”

“Meski tampaknya kau dungu nyatanya tidaklah bodoh.” Jengek Leng-hong. “Memang betul, arak yang kuberikan itu bukanlah Toan-jiong ciu millik Hujin, tapi To-ceng ciu (arak menghindari cinta).”

“Hah, arak bernama To-ceng, sungguh nama yang bagus.” kata Pwe-giok dengan tertawa.

“Konon arak ini buatan seorang sastrawan termashur di jaman dahulu.” tutur Ki Leng-hong. “Dia terlibat di tengah tiga perempuan yang mencintai dia, selama puluhan tahun dia terombang-ambing di tengah kerumunan wanita cantik itu, akhirnya ia merasa kewalahan dan ingin membebaskan diri, sebab itulah dia berusaha menyuling arak khas ini. Setelah diminum, seketika pernapasannya berhenti, kaki dan tangan dingin serupa dengan orang mati. Tapi dalam waktu 24 jam dapat hidup kembali. Berkat arak itulah dia dapat melepaskan diri dari godaan ketiga perempuan itu dan dapat bebas, sebab itulah dia menamai araknya sebagai To-ceng-ciu.”

“Sungguh tak tersangka arak buatan orang yang romantis di jaman dahulu, sekarang telah menyelamatkan jiwaku.” ujar Pwe-giok dengan menghela napas.

“Tapi jangan kau lupakan, yang menyelamatkan kau bukan To-ceng-ciu itu melainkan aku.” jengek Leng-hong.

“Budi kebaikan nona sudah tentu takkan kulupakan selama hidup.” kata Pwe-giok sambil menyengir.

Dengan tatapan tajam Leng-hong bertanya pula padanya, “Tahukah kau, sebab apa kutolong kau?”

“Aku… ini…” Pwe-giok menjadi gelagapan. Sudah tentu, siapapun tak dapat menjawab pertanyaan ini.

“Jika kau sangka lantaran ku jatuh cinta padamu, maka kutolong kau, maka salahlah kau, ” kata Leng-hong pula. “Sama sekali aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, kaupun tidak perlu bangga bagi diri sendiri.”

Sekenanya dia menerka jalan pikiran orang lain tanpa peduli betul atau salah, juga tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk membantah, dengan muka merah baru saja Pwe-giok hendak bicara sudah didahului lagi olehnya, “Sebabnya kutolong kau sama seperti halnya kutolong Cia Thian-pi, yakni supaya kau selalu ingat akan budi pertolonganku.”

Seketika Pwe-giok melenggong juga.

Didengarnya Leng-hong berkata pula, “Tentunya dalam hati kalian sekarang sedang berpikir bahwa aku ini bukan seorang Kuncu (ksatria sejati), memberi pertolongan dengan mengharapkan balas jasa.”

“Ah, mana Cayhe berani berpikir demikian.” kata Cia Thian-pi.

“Kau tidak berpikir demikian, aku justeru berpikir begitu, ” jengek Leng-hong. “Aku memang bukan seorang Kuncu, aku memang mengharapkan balas jasa. Nah, setelah kuselamatkan jiwa kalian, coba, cara bagaimana kalian akan membalas budi padaku?”

Cia Thian-pi menjadi bingung, dipandangnya Ji Pwe-giok, ternyata anak muda itupun sedang memandangnya. Keduanya jadi saling pandang dengan melongo dan tak dapat menjawab.

“Bagaimana, setelah menerima budi pertolonganku, apakah kalian tidak ingin membalas?” tanya Leng-hong dengan gusar.

“Budi pertolongan nona sudah tentu…” tergagap-gagap Pwe-giok.

“Huh, aku tidak suka kepada segala omong kosong tentang selama hidup takkan melupakan budi pertolonganmu segala. Jika kalian ingin balas budi, kalian harus menyatakan dengan tegas cara balas budi yang nyata.”

Seperti orang menagih utang saja cara si nona mendesak orang membalas budi, sungguh jarang ada orang macam begini di dunia ini.

Cia Thian-pi hanya menggeleng dengan menyengir saja, katanya kemudian, “Entah cara bagaimana kami harus membalas budi menurut pendapat nona?”

Mendapat Ki Leng-hong berpaling menghadapi orang mati tadi dan berkata, “Tahukah kalian siapa dia?”

“Bukankah dia… ayah Ki Song-hoa?” kata Pwe-giok.

Dia tidak bilang “kakekmu”, tapi bilang “ayah Ki Song-hoa”, sebab dia sudah dapat meraba riwayat hidup nona ini pasti ada sesuatu yang ganjil dan rahasia, hakikatnya tidak mengakui dirinya adalah keturunan keluarga Ki.

Benar juga, Ki Leng-hong lantas berkata, “Betul dia inilah Ki Go-ceng, aku menghormat dan menyembah padanya bukan lantaran dia ayah Ki Song-hoa, juga bukan disebabkan dia pernah menyembuhkan penyakitku yang parah, tapi karena kepintarannya, dia pernah meramal bahwa di dunia Kangouw pasti akan timbul kekacauan yang belum pernah terjadi selama ini, dan diriku ini justeru dilahirkan karena jaman kacau ini…”

Mendadak ia membalik tubuh lagi ke sini, sorot matanya tampak merah membara, ia berteriak pula, “Jika aku dilahirkan di jaman demikian, jaman ini harus pula menjadi milikku. Sebab itulah kuminta kalian tunduk pada perintahku, bantulah pekerjaanku. Aku telah menghidupkan kalian, akupun menghendaki kalian rela mati bagiku.”

Sungguh Pwe-giok dan Cia Thian-pi tidak pernah menyangka nona yang masih muda belia ini ternyata mempunyai ambisi sebesar ini, tanpa terasa mereka jadi melenggong.

Dari bajunya Ki Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol kayu kecil, katanya, “Di dalam botol ini ada dua biji obat, makanlah kalian, bila kalian siuman nanti, kalian akan berubah menjadi manusia baru, sama sekali baru, orang lain takkan kenal kalian lagi, akupun menghendaki kalian melupakan segala apa yang telah lalu dan cuma mengabdi bagiku, sebab jiwa kalian adalah pemberianku.”

“Dan kalau kami tidak mau terima?” kata Cia Thian-pi dengan air muka berubah.

“Hm, ” Leng-hong mendengus. “Jangan kau lupa, setiap saat dapat kucabut pula nyawamu.”

Dia terus melangkah maju dua tindak, tanpa terasa Cia Thian-pi dan Pwe-giok lantas menyurut mundur dua tindak.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa latah di luar rumah hantu itu, “Budak busuk, kau sendiri tak bisa hidup lebih lama lagi, masih coba ancam orang lain?”

Terdengar suara tertawanya yang seram itu membawa semacam kegilaan yang mengerikan..

“Ki Song-hoa!” teriak Pwe-giok tanpa terasa, entah terkejut entah girang.

Belum lenyap suara Pwe-giok, secepat angin Leng-hong melayang keluar kamar itu.

Cepat Pwe-giok ikut berlari keluar, tapi tertampak pintu batu yang berat itu sudah tertutup rapat. Baru saja Leng-hong melayang sampai di depan pintu, “krek” terdengar bunyi gembok diluar.

“Hahahaha! budak busuk!” demikian terdengar pula tertawa latah Ki Song-hoa di luar pintu. “Kau kira tidak ada orang yang berani datang ke sini, bukan? Kau kira tiada orang yang dapat mengetahui rahasiamu, he? Tapi, hahahaha, sedikit kau lengah, akhirnya jiwamu harus amblas ditanganku.”

Pucat wajah Leng-hong yang kaku dan dingin itu, jelas dia tertegun dan ketakutan, sebab ia tahu apabila pintu batu itu sudah digembok dari luar, maka siapapun jangan harap akan dapat keluar lagi.

“Hahahaha!” terdengar Ki Song-hoa terbahak-bahak pula. “Seharusnya kau tahu bahwa selamanya tiada seorangpun yang dapat keluar dengan hidup dari rumah setan ini. Dan mengapa kau masuk juga kesitu? Sungguh teramat besar nyalimu… Memang sengaja kuberitahukan rahasia membuka gembok padamu, sudah kuperhitungkan pada suatu ketika kau pasti tidak tahan dan ingin coba melihat ke dalam. Haha, budak busuk, kau kira dirimu sangat pintar, akhirnya kau terjebak juga olehku.”

Makin jauh suara tertawa latah itu, sehingga akhirnya tak terdengar lagi. Tapi Ki Leng-hong masih berdiri mematung di tempatnya, mendadak air matanya bercucuran, yang menyedihkan dia mungkin bukan jiwanya akan melayang, tapi cita-citanya, ambisinya yang belum terlaksana dan kini harus hancur dalam sekejap.

Mau tak mau Pwe-giok dan Cia Thian-pi juga melenggong dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Sampai lama sekali Ki Leng-hong berdiri di tempatnya seperti orang linglung, kemudian ia membalik tubuh perlahan dan mendekati sebuah kursi batu yang lowong serta duduk disitu. Ia memandang sekelilingnya, mendadak ia tertawa seperti orang gila, teriaknya, “Hahaha! Biar matipun tidak kesepian, masih ada sekian banyak orang yang mengiringi diriku.”

Cia Thian-pi terperanjat, cepat ia tanya, “Apakah…. apakah nona juga akan menanti kematian di sini?”

“Ya, ” jawab Leng-hong. “Menanti datangnya kematian secara perlahan-lahan, rasanya pasti lain daripada yang lain dan sangat menarik.”

“Meng… mengapa nona tidak berdaya keluar dari sini?” tanya Thian-pi pula.

“Keluar? Hahahaha!” Leng-hong tertawa hingga suaranya serak. “Sekali sudah tergembok di rumah setan ini, mana ada harapan buat keluar.”

“Apakah betul rumah ini tidak pernah dimasuki orang hidup?” tanya Thian-pi

“Pernah, bahkan banyak, ” jawab Leng-hong “Cuma, hanya ada orang hidup yang masuk dan tidak ada orang hidup yang keluar.”

Mendadak Pwe-giok menimbrung, “Orang yang menggotong mayat ini kesini apakah juga tidak ada yang keluar dengan hidup?”

“Tidak ada orang menggotong mayat ke sini.” jawab Leng-hong dengan tertawa seram.

“Tidak ada orang menggotong mayat ke sini, lalu apakah mayat-mayat ini masuk sendiri ke sini?” tanya Thian-pi dengan terkesiap.

“Ya, memang benar, masuk sendiri ke sini!” ucap Leng-hong dengan sekata demi sekata.

Cia Thian-pi memandang mayat sekelilingnya, mayat-mayat itupun seakan-akan sedang memandangnya dengan dingin, tanpa terasa ia merinding, katanya dengan rada gemetar, “Ah, janganlah nona bergurau.”

“Dalam keadaan demikian, siapa yang bergurau dengan kau?” jengek Leng-hong

“Tapi… tapi mana ada… mana ada mayat yang dapat berjalan sendiri di dunia ini?” ujar Thian-pi dengan mandi keringat dingin.

“Sebabnya mereka memang orang hidup sebelum mayat-mayat ini berduduk di kursi masing-masing, ” tutur Leng-hong. “Setelah berduduk di kursinya, mereka lantas berubah menjadi mayat.”

“Seb… sebab apa?” tanya Thian-pi, bulu romanya sama berdiri.

“Inilah rahasia keluarga Ki!” ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum misterius.

“Sudah begini, masa nona tidak mau menjelaskan?” kata Thian-pi.

Leng-hong menatap ke depan dengan sorot mata yang kabur, ucapnya perlahan, “Setiap anggota keluarga Ki, di dalam darah mereka ada semacam sifat pembawaan yang gila, sifat yang suka menghancurkan diri sendiri. Dalam keadaan tertentu, bisa jadi penyakitnya itu mendadak kumat, tatkala mana bukan saja orang lain akan dihancurkannya, bahkan ia akan menghancurkan dirinya sendiri.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Di mulai sejak leluhur keluarga Ki sampai pada Ki Go-ceng, tiada seorangpun yang tidak mati membunuh diri!”

“Jika mereka masuk ke sini dengan hidup, lalu membunuh diri dengan berduduk di kursi ini, mengapa jenazah mereka sampai sekarang belum lagi membusuk? Jelas jenazah ini telah diberi sesuatu obat. Kalau orang sudah mati, masa dapat menggunakan obat untuk mengawetkan jenazahnya sendiri?”

“Hal ini disebabkan ketika mereka bermaksud mati, sebelumnya mereka lantas minum semacam obat campuran dari berbagai jenis racun, di antara belasan macam racun ini satu sama lain bertentangan sehingga bekerjanya racun sangat lambat, akan tetapi dapat membuat otot daging mereka menjadi kaku sedikit demi sedikit, ketika anggota badan mereka sudah mati dan cuma tinggal kedua kaki saja yang dapat berjalan, lalu mereka masuk ke rumah ini dan berduduk di kursi batu untuk menanti datangnya ajal.”

Ki Leng-hong tersenyum tak acuh, katanya pula, “Begitulah mereka menganggap selama menanti datangnya kematian itu adalah saat orang hidup yang paling aneh dan menarik, mereka menyaksikan sendiri anggota badan sendiri sedikit demi sedikit mulai kaku dan menjalar ke bagian lain, semua ini mereka anggap sebagai suatu kenikmatan yang sukar dicari, bahkan jauh lebih menyenangkan daripada menyaksikan penderitaan orang lain. Maklumlah, mereka sudah terlalu banyak menyaksikan kematian orang lain, hanya menyaksikan kematiannya sendiri barulah dapat mendatangkan semacam rangsangan baru bagi kepuasan mereka.”

Siapapun mengkirik mendengarkan cerita yang aneh dan sukar dimengerti ini di rumah hantu yang seram ini.

“Gila, benar-benar gila…” gumam Pwe-giok sambil memandangi mayat-mayat itu dengan bingung. “Pantas Ki hujin bilang mereka semua orang gila, waktu hidup gila, sesudah mati juga gila.”

“Ya. sekujur badan mereka sudah dirembesi oleh racun yang aneh itu, maka jenazah merekapun takkan busuk selamanya, ” kata Leng-hong pula.

Cia Thian-pi merinding pula, ucapnya dengan gemetar, “Pantas tidak pernah ada orang hidup keluar dari rumah maut ini, kiranya mereka telah mengubur dirinya sendiri di sini.”

“Dan keadaan kita sekarang juga serupa mereka, ” sambung Leng-hong dengan dingin, “terpaksa kita harus berduduk di sini untuk menunggu datangnya elmaut. Keadaan kita sekarang sama juga mengubur dirinya sendiri.”

Dia pandang jenazah Ki Go-ceng di sebelahnya, lalu menyambung pula dengan tenang, “Aku masih ingat pada hari dia mengubur dirinya sendiri, pagi-pagi kami semuanya hadir di depan rumah ini untuk mengantar keberangkatannya, dengan langkah berat dia masuk kesini. Mendadak ia menoleh dan berkata kepada kami dengan tertawa, “Meski lahirnya kalian kelihatan berduka, tapi di dalam hati kalian tentu menertawakan diriku sebagai orang bodoh. Padahal kalian tidak perlu pura-pura berduka, sebab selama hidupku justeru tidak pernah segembira seperti sekarang ini’…”

Sungguh Cia Thian-pi tidak ingin mendengarkan lagi, tapi mau tak mau ia harus mendengarkan.

Ki Leng-hong telah menyambung pula, “Kami tidak ada yang berani menjawab, maka dengan tertawa dia berkata pula, “Kelak kalian akan tahu bahwa seorang kalau sudah mati akan jauh lebih gembira daripada waktu hidup’ – Waktu itu mukanya sudah mulai kaku, meski kedengaran dia tertawa, namun air mukanya tiada sesuatu tanda tertawa, tampaknya menjadi sangat menakutkan. Tatkala mana Leng-yan baru berumur sepuluhan tahun, ia menangis ketakutan.”

Nyata Ki Leng-hong ini suka mencari kepuasan dengan memperlakukan sadis kepada orang lain, semakin sedih orang lain, semakin gembira dia, sudah jelas orang lain tidak suka mendengar ceritanya, dia justeru bercerita terus, bahkan bercerita secara hidup dan nyata.

Membayangkan ceritanya dan memandang pula mayat di depannya sekarang, tambah ngeri hati Cia Thian-pi, mendadak iapun tertawa seperti orang gila, makin keras suara tertawanya dan tidak dapat berhenti.

“He, Cia-cianpwe, kenapa kau?” seru Pwe-giok kuatir.

Tapi Cia Thian-pi masih terus tertawa, seperti tidak pernah mendengar teguran Pwe-giok itu. Cepat Pwe-giok mendekatinya dan menggoyangi tubuhnya, dilihatnya tertawanya yang terkial-kial itu benar-benar seperti orang gila.

Mendadak Pwe-giok menampar pipinya, dengan begitu tertawa Cia Thian-pi baru berhenti, ia tercengang sejenak, tapi mendadak ia menangis tergerung-gerung.

“Orang ini mungkin saking ketakutan dan menjadi gila, ” ujar Leng-hong dengan tenang. “Gila juga baik, paling sedikit dia tidak perlu merasakan siksaan menanti ajal ini.”

Tiba-tiba Pwe-giok membalik tubuh dan menghadapi Ki Leng-hong, katanya tegas, “Meski pernah kau tolong aku satu kali, tapi sekarang akupun sedang menunggu kematian, hal ini sama seperti jiwaku sudah kubayar kembali padamu. Selanjutnya kita sudah tiada utang-piutang lagi, sudah lunas. Dan kalau kau masih bertindak sesuatu yang menusuk perasaan orang, jangan kau salahkan diriku jika terpaksa ku bertindak kasar padamu.”

Ki Leng-hong memandangi Pwe-giok sejenak, akhirnya ia berpaling kesana dan tidak bicara lagi.

Tanpa terasa Pwe-giok mengusap keringat di dahinya. Aneh, ia heran mengapa ia merasa kegerahan?

Rupanya di dalam rumah batu itu semakin panas rasanya, agaknya Ki Leng-hong juga merasakan hal ini, dia berseru, “He… api! Si gila itu hendak memanggang kita di sini.”

Benar juga, lubang kecil di atap itu tampak mulai berasap tipis.

“Rupanya dia kuatir kematian kita kurang cepat, maka ingin memanggang mati kita, ” kata Leng-hong pula. “Padahal kalau kita jelas harus mati, bisa mati lebih cepat memang lebih baik.”

“Mengapa dia tidak mencari jalan yang lebih cepat?” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

“Hm, masa kau belum paham?” jengek Leng-hong. “Bila menggunakan cara lain, tentu mayat-mayat ini akan ikut rusak, selamanya dia menghormati orang mati, sudah tentu dia tidak mau membikin susah orang mati. Pula, orang mati kan juga tidak takut dipanggang dengan api, betul tidak?”

Sementara itu tangis Cia Thian-pi sudah berhenti, dengan termangu-mangu ia memandang ke depan. Di depannya itu ialah mayat Ki Go-ceng, ia sedang bergumam sendiri, “Aneh… sungguh aneh…”

Sampai belasan kali ia bilang “aneh”, tapi tidak di gubris Pwe-giok maupun Ki Leng-hong.

Saat itu Leng-hong lagi duduk diam seperti orang linglung, betapapun dia juga orang she Ki, ia benar-benar seperti sedang menanti ajal, seolah-olah sedang merasakan nikmatnya menunggu kematian.

Sebaliknya Pwe-giok tak dapat diam, betapapun ia masih menaruh setitik harapan akan meloloskan diri dari tempat ini. Namun “rumah maut” ini benar-benar sebuah kuburan, di dunia ini mana ada orang yang dapat keluar dari kuburan?

Sekonyong-konyong Cia Thian-pi menuding mayat Ki Go-ceng sambil tertawa terkekeh kekeh, “Ha, coba kalian lihat, sungguh aneh, orang mati dapat berkeringat… Orang mati juga dapat berkeringat!”

Suara tertawanya yang keras itu menimbulkan gema suara yang nyaring di rumah batu itu.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia menyesal bahwa ketua suatu perguruan ternama di daerah selatan ini kini benar benar telah berubah menjadi orang gila. Mustahil, orang mati mana bisa berkeringat!

Dengan tak acuh ia melangkah ke sana dan tanpa terasa iapun memandang sekejap pada mayat Ki Go-ceng itu.

DIlihatnya muka orang mati yang kelihatan dingin dan seram itu benar benar merembes keluar butiran keringat sebesar kedelai.

Jadi orang mati ini benar benar berkeringat!

Selama setengah bulan ini entah sudah betapa banyak kejadian aneh dan misterius yang dialami Pwe-giok, tapi tiada sesuatu yang lebih aneh dan menakutkan daripada kejadian ini. Orang mati bisa berkeringat!

Dengan mata terbelalak is pandang butiran keringat yang menetes dari muka orang mati ini. Ia menjadi ketakutan sehingga kaki dan tangan terasa lemat, sungguh iapun hampir gila saking takutnya.

Mau tak mau Ki Leng-hong juga memandang ke sana, mendadak ia berteriak dengan gemetar, “He, dia benar benar ber… berkeringat!”

Tapi jelas tidak masuk akal, orang mati mana bisa ketakutan? Orang mati manabisa berkeringat?.

Sungguh kejadian yang sukar dibayangkan dan siapa yang dapat memberi penjelasan mengenai rahasia ini?

Makin panas hawa di dalam rumah batu ini dan butiran keringat di muka orang mati inipun semakin banyak.

Mendadak Pwe-giok nerjingkrak sambil berteriak, “Ah, patung lilin, orang mati inipun sebuah patung lilin!”

“Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia masuk ke sini, manabisa berubah menjadi patung lilin? ” ujar Leng-hong.

Pwe-giok terus melompat kesana, dipuntirnya kepala “Orang mati” itu, seketika kepala orang mati itu copot. Benar, “orang mati” ini memang betul cuma sebuah patung lilin.

Di tempat yang remang remang dan seram, di tengah mayat tulen sebanyak ini, di dalam “Rumah maut” yang penuh dengan kisah yang menakutkan ini, dengan sendirinya tiada seorangpun yang tahu bahwa diantara mayat mayat ini ada sesosok mayat palsu.

Pwe-giok mengusap keringat yang membasahai tubuhnya, ia merasa lemas seperti keahbisan tenaga.

Ki Leng-hong juga sangat kaget, ia meraung, “Ini bukan patung lilin, pasti bukan patung lilin, aku menyaksikan sendiri dia masuk ke sini!”

Memang, jika ini betul patung lilin, lalu kemana perginya Ki Go-ceng?

“Setelah masuk kemari, bisa jadi dia telah keluar lagi.” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“mungkin dia tidak sungguh sungguh minum racun itu, bisa jadi dia cuma pura pura mati.” kata Leng-hong. “Tapi setelah di amasuk ke sini pintu lantas digembok dari luar, hakikatnya dia tidak dapat keluar lagi… Dan kalau dia tidak dapat keluar, tentu dia akan mati di sini, mengapa sekarang bisa berubah menjadi patung lilin?”

Mendadak mata Pwe-giok bersinar, serunya, “DI rumah maut ini pasti ada lagi jalan keluar yang lain. Ki Go-ceng pasti keluar melalui jalan rahasia itu. Jika dia dapat keluar, tentu juga kita dapat keluar!”

Berpiki demikian, seketika terbangkit semangatnya, ia tidak peduli dinding dekelilikng sudah terbakar panas, segara ia mulai menyelidiki.

Orang yang baresal dari perguruan “Bu-kek-bun”, dalam hal ilmu alam serta ilmu pasti sudah tidak asing lagi, terutama mengenai segala macam peralatan rahasia. Tapi Pwe-giok sudah meneliti setiap pelosok rumah batu ini dan tetap tidak menemukan jalan keluarnya.

Baju Pwe-giok dati basah telah menjadi kering, kini matanya juga sudah merah dan bibirnya pecah karena hawa yang panas. Dengan napas terengah engah ia bergumam, “Di manakah jalan keluarnya?… Demi menipu orang dengan berpura pura mati, sudah tentu Ki Go-ceng telah meyiapkan jalan keluarnya. Jika aku menjadi dia, diman lubang keluar itu akan kubuat?”

Setahuku di rumah maut ini tidak ada jalan keluar lagi.; kata Leng-hong.

“Ada, pasti ada.” ujar Pwe-giok “Kalau tidak, cara bagaimana Ki Go-ceng bisa keluar?”

Leng-hong termangu mangu sejenak, katanya kemudian : Apakah tidak mungkin ada orang membuka pintu dari luar dan melepaskan di dari sini?”

Pwe-giok seperti kena dicambuk orang satu kali, seketika ia melenggong dan tidak sanggup bersuara lagi.

Memang betul, dengan sendirinya ada kemungkinan begitu. Orang semacam Ki Go-ceng ini, meski tidak nanti dia menghadapi kejadian yang sukar dipecahkan ini, Pwe-giok merasa apa yang dikatakan Ki Leng-hong itu terhitung yang paling masuk akal.

Apalagi setalah orang itu membukakan pintu meungkin sekali Ki Go-ceng lantas membinasakan orang itu. Dengan demikian rahasia pribadinya akan tetap tertutup.

Berpikir sampai di sini, Pwe-giok benar benar menjdai putus harapan.

Tapi tiba tiba terdengar Cia Thian-pi berteriak pula, “He, lihat aneh sekali, orang mati ini tidak kelihatan lagi, hilang sama sekali!”

Pwe-giok m,emandang lagi ketempat mayat tadi, baner, dilihatnya patung lilin tadi sudah cair seluruhnya, tapi cairan lilinnya ternyata tidak banyak, kemana perginya cairan lilin itu?

Terkilas sesuatu dalam benak Pwe-giok, ia cona mendekati kursi batu itu dan diperiksanya dengan teliti, mendadak ia berseru dengan girang, “Aha, dugaan ku ternyata tidak meleset, di rumah maut ini memang betul ada jalan keluar lagi, jalan keluar itu terletak di bawah patung lilin ini, dibawah kursi batu ini.”

Kiranya di bawah kursi batu itu ada sebuah lubang kecil dna cairan lilin itu justeru mengalir keluar melalui lubang kecil ini. Tapi lubang ini sangat kecil, hanya cukup dimasuki dua jari, cara bagaimana manusia dapat menerobos keluar?

“Hm, kukira lebih baik ketunggu kematian dengan tenang saja.” jengek Ki Leng-hong. “Jika dibawah kursi ini terdapat jalas keluar, sesudah Ki Go-ceng pergi, cara bagaimana patung lilin dapat berduduk di atas kursi ini, memangnya patung dapat berduduk dengan sendirinya?”

Gemeredep sinar mata Pwe-giok, katanya kemudian, “justeru Ki Go-ceng telah memperalat titik ini untuk mengelabui orang,biar orang menemukan rahasia patung lilin juga tidak menyangka jalan keluar itu terletak di bawah patung.”

“Apapun juga, kalau tidak dipindahkan orang, tidak mungkin patung ini dapat berduduk di datas kursi, untuk ini tidak nanti maudapat memberi penjelasan” Kata Leng-hong.

“Tapi lubang kecil ini dapat memberi penjelasan.” ujar Pwe-giok.

“Lubang kecil ini?” Leng-hong menegas. “Ya, ” jawab Pwe-giok. “Pada waktu Ki Go-ceng membuat patung ini, dia benamkan sutas tali di bagian pantat patung ini, lalu tali itu menyusup ke dalam lubang ini. Waktu dia masuk ke lorong di bawah dan tutup lubang dirapatkan kembali, tali ini lantas ditariknya sehingga patung lilin ini diseretnya berduduk di atas kursi.”

“Ya, betul juga, cara ini memang sangat pintar dan bagus.” seru Leng-hong “Cara berpikir Ki Go-ceng yang rapi dan bagus sungguh sukar dibandingkan siapapun, ” ujar Pwe-giok. “Cuma sayang, betapapun rapi perhitungannya tetap tak pernah terpikir olehnya bahwa rumah ini bakal dipanggang dengan api dan patung lilin ini akhirnya akan cair, sudah tentu mimpipun tak terpikirkan olehnya bahwa lubang kecil yang tidak ada artinya ini akhirnya dapat membocorkan seluruh rahsianya.”

Ki Lneg-hong berdian sejenak, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata, “Ai, kau memang jauh lebih pintar daripada apa yang pernah kusangka, sungguh cerdik!”

***

Papan batu di bawah patung lilin itu memang dapat digeser, dibawahnya memang betul ada sebuah lorong yang gelap.

Pwe-giok menarik napas lega, katanya, “Akhirnya diketahui ada orang hidup yang keluar dari rumah maut ini, bahkan tidak cuma satu orang saja?”

Kini Ki Leng-hong tidak dapat omong lagi, ia hanya ikut masuk ke lorong di bawah tanah itu.

Dengan memayang Cia Thian-pi, Pwe-giok terus merayap ke depan. Lorong ini panjang lagi berkelok kelok, dengan sendirinya gelap gulita pula, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Akhirnya mereka dapat lolos keluar. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa jalan tembus ini adalah tempat yang aman?

Bisa jadi lorong ini menembus juga ke kamar tidur Ki-hijun sana.

Baru saja Pwe-giok berpikir demikian, tiba tiba tempak cahaya lampu di depan sangat jelas di tempat gelap begini.

Di tampat yang ada cahaya lampu pasti juga ada manusianya.

Pwe-giok melepaskan pegangannya pada Cia Thian-pi dan cepat melompat ke sana, Siapapun yang dipergoki, setiap saat dia siap merobohkannya dengan sekali hantam.

Tapi mendadak Pwe-giok melihat lampu itu adalah lampu yang dibawanya masuk itu.

Waktu dia ditarik masuk ke kamar Ki-hujin lampu ini masih tertinggal di sini dan juga belum dipadamkan, jadi lorong ini memang betul jalan yang menembus ke kamar tidur Ki-hujin.

Kiranya baik kamar tidur Ki-hujin maupun rumah berdinding kertas dengan kasuran bundar serta rumah mati yang misterius itu satu dan lain ditembusi oleh jalan di bawah tanah ini.

Sudah banyak pengalaman pahit Pwe-giok dan hidup menuju kematian telah dijalaninya, setelah berputar-putar akhirnya dia tiba kembali di tempat semula. Sungguh ia tidak tahu mesti tertawa atau menangis?!

Ki Leng-hong telah datang pula, iapun melenggong.

Pwe-giok bergumam, “Menurut pikiranku, jalan di bawah tanah ini selain menembus ke kamar Hujin serta rumah berdinding kertas itu, pasti ada pula jalan keluar keempat.”

“Berdasarkan apa kau bilang demikian?” tanya Leng-hong.

“Sebab Ki Go-ceng dan orang she Ji itu tidak nanti keluar melalui kamar tidur Ki-hujin, ” tutur Pwe giok. “Mereka lebih-lebih tidak mungkin keluar melalui rumah berdinding kertas itu. Makanya kuyakin di sini pasti ada jalan keluar keempat.”

“Ha, jika begitu, kau kira terletak di mana jalan keluar keempat itu?” kata Leng-hong dengan girang.

Pwe-giok mengangkat lampu minyak itu dan menyusur ke depan dengan pelahan. Jalan ini kembali menuju ke bawah rumah berdinding kertas itu. Tidak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan bertanya kepada Ki Leng-hong, “Apakah kau tahu kapan orang she Ji itu datang ke Sat jin-ceng sini?”

“Tentu saja kuingat dengan jelas, ” jawab Leng-hong. “Hari itu adalah hari ketiga setelah Ki Go-ceng mulai minum racun, yaitu hari ketiga lewat tahun baru. Jadi tepat pada hari tahun baru dia mulai minum racun, tujuannya membikin kegembiraan akan bertambah dengan sedikit rasa duka.”

“Jadi Ce-it (tanggal satu) dia mulai minum racun, lalu hari apa dia masuk ke rumah mati itu?” tanya Pwe giok.

“Itulah hari Cap-go-meh, ” jawab Leng-hong. “Dimulai Ce-it hingga Cap-go-meh, segenap penghuni Sat-jin ceng sama sibuk membereskan urusan kematiannya sehingga orangpun tidak memperhatikan orang she Ji itu.”

Sementara itu mereka sudah sampai di ruangan kecil di bawah rumah kertas itu, kantung bersulam indah yang berisi sepotong kemala berukir itu masih terletak di tempat tidur, patung lilin Ki Go-ceug juga masih di situ dan seakan-akan sedang memandang mereka.

Mendadak Cia Thian pi tertawa terkekeh-kekeh pula, serunya, “Pantas orang mati itu menghilang, kiranva dia mengeluyur ke sini…. ”

Pwe-giok ambil batu Giok itu dan termangu-mangu, katanya kemudian, “Kukira orang she Ji itu tidak mengeluyur pergi, Ki-hujin telah salah sangka padanya.”

“Apa alasanmu kau bilang demikian?” tanya Leng hong heran.

“Waktu kulihat batu Giok ini, aku menjadi heran, ” tutur Pwe giok. “Seumpama orang she Ji itu tidak sayang pada kantung bersulam ini, tidak seharusnya dia meninggalkan batu pualam ini di sini.”

“Ya, tampaknya benda ini adalah benda pusaka keluarganya, bisa jadi dia pergi dengan tergesa-gesa, makanya tertinggal di sini, ” kata Leng-hong.

“Tidak, tatkala itu tiada orang tahu rahasia loong di bawah tanah ini, jika dia menemukan jalan tembus keempat, tentu dia mengeluyur pergi dengan bebas, kenapa dia harus tergesa-gesa; kecuali…” “Kecuali apa?” tanya Leng-hong.

“Kecuali kepergiannya itu bukan kehendak sendiri melainkan dipaksa orang, ” jawab Pwe-giok.

Ki Leng-hong melenggong, katanya kemudian, “Jadi maksud….maksudmu dia telah dipergoki Ki Go-ceng?”

“Kupikir pasti begitu, ” kata Pwe-giok. “Waktu Ki Go-ceng menyusup masuk ke lorong ini dan mengetahui di tempat yang dirahasiakan ini ternyata ada orang luar, tentu saja dia tidak tinggal diam, mana dia dapat membiarkan ada orang kedua yang mengetahui rahasia kematiannya yang pura-pura.”

“Jika demikian, jadi orang the Ji itu bukan cuma dipaksa pergi olehnya, bahkan ada kemungkinan telah dibunuhnya untuk menghilangkan saksi?!”

“Ya, kurasa Ki Go ceng pasti telab membunuhnya, ” ucap Pwe-giok.

Sampai lama Ki Leng hong terdiam, katanya kemudian, “Jika dia (maksudnya Ki-hujin) mengetahui si dia sudah mati, bisa jadi dia takkan begitu berduka dan sedih…”

“Masa dia takkan bertambah sedih jika dia mengetahui kekasihnya sudah mati?” tanya Pwe-giok dengan heran.

Ki Leng-hong tersenyum pedih, jawabnya, “Tahukah kau apakah yang menjadi penderitaan terbesar bagi seorang perempuan?”

Dia tidak menunggu jawaban Pwe-giok, tapi lantas dijawabnya sendiri, “Yaitu ditinggal oleh orang yang dicintainya. Penderitaan ini bukan saja sangat hebat, bahkan tak terlupakan selama hidup. Bahwa kekasihnya itu sudah-mati, walaupun dia akan sedih juga tapi hampir tiada artinya jika dibandingkan penderitaan seperti kalau ditinggal pergi. Sebab itulah ada sementara orang perempuan yang tidak sayang membunuh kekasih sendiri, yaitu karena kuatir sang kekasih akan menyukai perempuan lain. Jadi dia kbih suka kekasihnya mati daripada jatuh dalam pelukan wanita lain.”

“Jika demikian, bila dia mengetahui kekasihnya sudah mati, ia berbalik akan rnerasa senang?”

“Ya, akan jauh lebib senang, ” kata Long-hong.

“Ai, jalan pikiran orang perempuan sungguh sukar untuk dipahami kaum lelaki, ” ujar Pwe-giok sambil menggeleng.

“Lelaki memang tidak seharusnya memahamialam pikiran perempuan dan perempuan juga bukan dilahirkan untuk dipahami orang, tapi supaya dihormati dan dicintai, ” jengek Leng-hong.

Pwe-giok tidak menanggapi lagi, dengan memegang lampu minyak itu, dia mulai menyelidiki sekitar tempat itu. Ia yakin jalan keluar keempat pasti berada di dekat tempat tidur itu. Namun dia tidak menemukannya, sementara itu minyak sudah habis, akhirnya lampu itu padam.

Pwe-giok menghela napas, gumamnya, “Tampaknya sekalipun di lorong bawah tanah ini memang ada jalan tembus keempat, tapi dalam keadaan gelap gulita begini jangan harap akan dapat menemukannya.”

“Padahal, tidak perlu kau cari jalan tembus keempat itupun kita tetap dapat keluar dari sini, ” kata Leng-hong tiba-tiba.

“He, kau punya akal?” tanya Pwe-giok cepat.

“Kukira asalkan kau sanggup membuktikan orang she Ji itu sudah mati, tentu Hujin takkan benci lagi padamu, bisa jadi dia akan segera melepaskan kau, ” kata Leng-hong.

Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak dalam kegelapan ada seorang menanggapi, “Tidak, cara ini tidak tepat.”

“Mengapa tidak tepat?” tanya Leng-hong.

“Jika Ji Pwe-giok sudah mati, cara bagaimana dapat keluar lagi dengan hidup?” ujar orang itu.

Baru sekarang Ki Leng-hong mengenali suara itu bukan suara Ji Pwe-giok juga bukan suara Cia Thian-pi, seketika ia berkeringat dingin dan berteriak tertahan, “Sia ….siapa kau?”

“Hehehhehe, masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap orang itu dengan tertawa.

“Cras”, dalam kegelapan lantas menyala sinar api, tertampaklah seraut wajah tua dan kurus penuh bekas penderitaan hidup.

“Ko-lothau!” seru Pwe-giok dan Leng-hong berbareng. “Mengapa kau dapat masuk ke sini?!”

Wajah si Ko tua yang kurus pucat itu tampaknya juga misterius di bawah cabaya lampu yang gemerdep di lorong bawah tanah ini. Dia pandang Ki Leng-hong dan tersenyum penuh rahasia, katanya, “Ya, si Ko tua yang biasa bekerja sebagai tukang kayu mana bisa datang ke sini? Tapi selain Ko tua yang kau ketahui, adalah hal lain yang kau ketahui mengenai diriku?”

Tiba-tiba Ki Leng-hong merasakan sorot mata si kakek memancarkan semacam sinar tajam yang belum pernah dilibatnya, tanpa kuasa ia menyurut mundur dan berkata dengan suara gemetar, “Sesungguhnya sia . . ., . siapa kau?”

Pelahan? Ko-lothau melangkah lewat di depan Leng hong, ia taruh lampu yang dipegangnya di atas almari kecil di ujung tempat tidur sana, habis itu mendadak ia memhalik tubuh dan memandang si nona dengan sorot mata gemerdep, “Aku inilah orang yang membikin Ki Go-ceng tidak dapat tidur dengan lelap dan tidak dapat makan dengan enak, aku inilah yang membuat Ki Go-ceng merasa tak dapat hidup lebih lama lagi…”

“O, sebabnya Ki Go-ceng terpaksa berlagak merenungkan dosanya di rumah kertas dan terpaksa pura-pura mati, semua itu lantaran dia takut padamu?” seru Pwe giok.

“Hehehe, kau pun tidak menyangka bukan?” kata Ko-lothau dengan tertawa. “Ya, siapapun pasti tidak menduga bahwa orang yang paling ditakuti Ki Go ceng selama ini ternyata adalab seorang tua bangka macamku ini.”

“Apakah….. apakah dia sudah tahu siapa dirimu?” tanya Leng-hong terkejut.

“Sudah tentu dia tahu siapa diriku?” jengek Ko-lothau, “tapi dia justeru tidak berani membongkar hal ini, terpaksa dia berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu, sebab iapun tahu sudah lama kuketahui rahasianya.”

“Rahasia apa?” tanya Leng-hong.

“Lebih 20 tahun yang lalu di dunia Kangouw mendadak terjadi banyak peristiwa yang mengguncangkan, ada pencurian benda pusaka secara besar-besaran, banyak tokoh ternama terbunuh secara gaib, si pencuri dan pembunuh itu sangat tinggi Kungfunya, apa yang diperbuatnya itu pun sangat bersih tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Meski dunia persilatan waktu itu telah mengerahkan berpuluh tokoh pilihan untuk menyelidikinya, namun tak dapat menemukan jejaknya. Maklum, siapapun tidak menyangka orang yang melakukan hal-hal itu adalah Ki Go-ceng yang lagi merenungkan dosanya di rumah kertas dan diketahui tidak pernah keluar rumah sepanjang tahun.”

“Memangnya sudah kuduga apa yang dilakukannya itu pasti mempunyai intrik tertentu, ” kata Pwe-giok, ia sangat tertarik oleh cerita si Ko tua.

“Tapi kalau kau bilang dia adalah pembunuh dan pencuri, jelas aku tak percaya, ” kata Leng-hong.

“Ya, bukan saja kau tidak percaya, jika kuceritakan pada waktu itu, di seluruh dunia ini mungkin juga tiada seberapa orang yang mau percaya, ” ujar Ko-lothau dengan gegetun. “Nah, demi membongkar rahasia inilah terpaksa aku menyelundup ke Sat-jin-ceng sini.”

“Kau bilang waktu itu dia sudah tahu siapa dirimu?” tukas Leng-hong. “Jika begitu mengapa dia dapat membiarkan kau tinggal di Sat jin-ceng dan mengapa tidak dia bunuh dirimu.”

“Jika dia tidak membiarkan kutinggal di sini, bukankah makin menandakan dia bersalah sehingga takut diketahui orang?” ujar Ko-lothau.

“Dan kalau dia bunuh diriku, bukankah akan lebih membuktikan dosanya? Segala sesuatu selalu dipikirkannya dengan rapi, selamanya dia tidak suka menyerempet bahaya dan main untung-untungan, dengan sendirinya iapun tidak mau mengambil resiko dalam persoalan diriku ini. Makanya meski dia tahu kedatanganku ini sengaja hendak mengawasi gerak-geriknya, terpaksa dia tetap pura-pura tidak tahu.” Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Jika tidak demikian, mana bisa Sat jin ceng mau menerima seorang tua bangka yang tidak diketahui asal-usulnya.”

“Jadi menurut perhitunganmu, meski dia tahu kedatanganmu ini hendak mengawasi dia, tapi dia berbalik terpaksa harus menerima kau di sini, walaupun langkah ini sangat bagus, tapi setelah dia tahu siapa dirimu, bukankah setiap saat dia dapat berjaga-jaga segala kemungkinan, manabisa dia memperlihatkan rahasianya di depanmu?” tanya Pwe-giok.

“Sekali pandang saja dia dapat mengetahui asal usul orang lain, orang pintar seperti dia, mau semudah itu orang hendak membongkar rahasianya? Maka setibaku di sini, segera kusadari semua peristiwa yang tiada buktinya takkan terpecahkan untuk selamanya, ” jawab Ko-lothau sambil menghela napas.

“Jika demikian, untuk apalagi kau tinggal di sini selama ini?” kata Leng-hong.

“Aku tinggal di sini, memang tak dapat kubongkar rahasianya, tapi sedikitnya dapat kuawasi gerik-geriknya agar dia tidak berani lagi keluar dan berbuat jahat,’ tutur Ko lothau. “Dan memang, sejak aku tinggal di sini, segala perbuatan yang menggernparkan dunia Kangouw itu lantas lenyap dan tak pernah terjadi lagi.”

“Demi untuk mencegah terjadinya kejahatan, Cianpwe telah mengorbankan nama dan kedudukan sendiri, rela menjadi budak orang, sungguh keluhuran budi dan kebesaran jiwa Cianpwe ini sukar dicari bandingannya, ” puji Pwe-giok dengan gegetun.

Tanpa terasa timbul rasa muram pada wajah Ko-lothau, selama hampir 20 tahun ini tentu dilewatkannya dengan susah-payah. Akan tetapi rasa muram itu hanya sekilas saja menghiasi wajahnya dan segera lenyap, ia lantas bergelak tertawa dan berkata, “Meski aku telah mengorbankan kenikmatan hidupku sendiri dan melewatkan hari-hari sengsara selama ini, tapi akupun berhasil memaksa Ki Go ceng dari pura-pura menjadi sunggguhan, mau-tak-mau dia menderita juga di rumah kertas itu. Jadi pengorbananku ini terasalah cukup berharga.”

“O, lantaran dia tidak mampu membunuh dirimu dan juga tidak dapat kabur, akhirnya terpaksa ia pura-pura mati!” kata Pwe-giok.

“Ya, ambisinya memang besar, dengan sendirinya ia tidak rela mengakhiri bidupnya secara begitu, ” tutur Ko-lothau. “Mungkin setelah dipikirnya, akhirnya didapatkan akal pura-pura mati itu. Meski kutahu dia pasti tidak rela mengeram di rumah kertas itu, taptak terduga olehku bahwa dia akan mengelabui diriku dengan akal bulusnya itu.”

“Setelah kena diakali, mengapa kau tidak pergi?” tanya Leng hong.

“Meski waktu itu dia dapat mengelabui diriku, tapi kemudian kupikir dalam urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, sebab kutahu Ki Go-ceng bukanlah manusia yang mudah menyerah dan rela mati begitu saja, apalagi …” tersembul senyuman pahit pada ujung mulut si Ko tua, lalu sambungnya dengan pelahan, “Sejak kecil aku sudah terbiasa terluntang-lantung kian kemari, belum pernah aku berdiam di suatu tempat lebih dari setengah tahun. lapi di sini, tanpa terasa aku telah tinggal sekian tahun, kehidupan yang sederhana ini terasa sudah biasa bagiku, bahkan rasanya sangat enak. Aku sendiri tidak berkeluarga, tidak punya anak isteri, kusaksikan kalian meningkat dewasa, diam-diam akupun bergembira, makanya ….”

“Hm, tidak perlu kau gembira bagi kami, ” jengek Ki Leng-hong. “Kau pergi atau tidak, sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan diriku, kau pun tidak perlu menggunakan diriku sebagai alasan. Sekarang maksud tujuanmu tinggal di sini sudah tercapai, maka selanjutnya aku tidak kenal lagi padamu.”

Ko-lothau terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan menghela napas panjang, “Ya, betul, setelah maksud tujuanku tinggal di sini sudah tercapai, akhirnya sudab kubuktikan Ki Go-ceng belum lagi mati, selanjutnya aku perlu mengembara lagi ke mana-mana, akan kucari pula jejaknya. Selama belum kutemukan dia, sebelum kusaksikan dia mati di depan mataku, selama itu pula aku tidak rela.”

“Hm, setelah dia pergi, mungkin selamanya jangan harap dapat kau temukan dia, ” jengek Leng-hong pula.

“Betul juga, jika seterusnya dia mengasingkan diri dan hidup di tempat jauh, tentu tak dapat kutemukan dia lagi. Tapi bila dia melakukan sesuatu kejahatan, segera pula aku dapat menemukan jejaknya. Sedangkan orang macam dia itu jelas tidak rela hidup kesepian.”

Kembali sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, jago tua yang sudah lama mengasingkan diri ini kini mendadak telah berubah menjadi kereng dan bersemangat lagi.

Akhirnya Ki Leng-hong tidak tahan, ia bertanya, “Sesungguhnya siapa kau?”

Ko-lothau tersenyum, jawabnya, “Jika selanjutnya kau tak mau kenal lagi padaku, untuk apa pula kau tanya siapa diriku?”

Ki Leng hong melengos ke sana dan tidak memandangnya lagi.

Padahal tanpa bertanya ia pun tahu orang yang dapat membuat Ki Go-ceng takut mustahil tiada mempunyai kisah hidup yang gemilang dan asal-usul yang luar biasa.

ooo 000 ooo

Sesungguhnya siapakah Ko-lothau ini dan bagaimana asal-usulnya?

Kemana perginya Ki Go-ceng?…

Semua itu tidak diperhatikan oleh Pwe-giok, yang sedang dipikirnya hanya satu soal saja. Dia memandang sekelilingnya, akhirnya ia bertanya, “Entah darimanakah Cianpwe masuk ke sini?”

“Kudengar kau sudah mati aku jadi ingin tahu cara bagaimana kau mati? Maka diam-diam kumasuki kamar Ki hujin, disitulah tanpa sengaja kutemukan jalan rahasia di balik almari itu. Padahal almari itu selamanoya tcertutup, entah mengapa sekarang telah terbuka.”

Kiranya seperginya Ji Pwe-giok, Ki hujin telah lupa menutup kembali almarinya.

Terbelalak Pwe-giok demi mendengar keterangan ini, serunya, “He, jadi saat ini di kamarnya tiada orang?”

“Kau ingin keluar melalui sana?” tanya Ko-lothau.

“Jika mereka menyangka aku sudah mati, tentu mereka tidak lagi mengawasi diriku, kesempatan ini dapat kugunakan untuk kabur, ” kata Pwe-giok.

“Bila kau sudah mati, mana dapat keluar lagi dengan hidup?” bentak Ko-lothau mendadak dengan bengis.

“Jadi maksud Cianpwe….” Pwe-giok melengak dan tak dapat melanjutkan.

“Apa maksudku, masa kau tidak paham?” kata Ko-lothau dengan sinar mata gemerdep, ” seperti tanpa sengaja ia melirik sekejap ke arah patung lilin Ki Go-ceng.

Mendadak Pwe giok sadar, serunya, “Aha, betul, jika Ki Go ceng dapat mengelabui orang dengan pura-pura mati, mengapa aku tidak boleh? Di dunia ini mana ada penyamaran lain yang lebih mudah menghindari pengejaran serta untuk alat penyelidikan rahasia orang lain daripada pura-pura mati?”

“Bagus, akhirnya kau paham juga, ” ujar Ko-lothau dengan tersenyum puas. “Pendek kata, ada permusuhan apapun juga kau dengan orang lain, asal sudah mati, orang lain takkan mengusut lebih lanjut. Jika kau hendak menyelidiki rahasia orang lain, setelah kau mati, tentu orang takkan berjaga-jaga lagi akan dirimu.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Pantas ketika Ki Go-ceng masuk ke rumah mati itu dia sengaja bilang bahwa kematian seorang akan jauh lebih menggembirakan daripada hidup. Kiranya di balik ucapannya ini mengandung makna yang sangat dalam, cuma sayang waktu itu tiada seorangpun yang paham maksudnya.”

“Tapi sayang, orang lain sama kenal kau sebagai Ji Pwe-giok, ” tiba-tiba Leng-hong menjengek.

“Ya, betul juga, ” jawab Pwe-giok dengan menyengir. “Meski aku dapat pura-pura mati, tapi wajahku tak dapat mengelabuhi orang.”

Tapi Ko-lothau tidak menanggapi, ucapnya dengan tenang, “Tuhan menciptakan manusia dengan pintar dan bodoh, cakap dan buruk, tapi tidak pernah menciptakan manusia yang sempurna. Melulu bicara tentang lahiriah saja, sekalipun lelaki cakap yang sama-sama diakui umum pasti juga terdapat sesuatu ciri, dari jaman dahulu hingga kini, baik lelaki maupun perempuan tidak pernah ada sebuah wajah yang sempurna.”

Ia menatap tajam-tajam muka Pwe-giok, lalu menyambung pula dengan pelahan. “Misalnya dirimu, kaupun terhitung seorang |elaki cakap, tapi alismu terasa tebal, matamu rada kekecilan, hidungmu kurang tegak, ujung mulutmu juga terasa kurang serasi.”

Pwe-giok tidak tahu mengapa orang tua itu mendadak bicara seperti tukang Kwamia atau tukang nujum di tepi jalan, terpaksa ia cuma menyengir dan menjawab dengan tergagap-gagap, “Ah, mana Wanpwe dapat dianggap orang cakap?”

“Bilamana batiniah seseorang ada cirinya, maka siapa pun tak berdaya memperbaikinya, ” kata Ko-lothau pula. “Tapi kekurangan pada lahiriah, betapapun dapat ditambal. Sudah lama terkandung niatku akan menciptakan seorang yang paling cakap hanya saja aku ingin mencari seorang model yang cocok dan inilah yang sulit. Sebab, betapapun kita tidak dapat menjadikan seorang yang sumbing atau seorang yang juling untuk berubah menjadi lelaki yang sempurna.”

Kembali sorot matanya yang tajam menatap Pwe-giok dan menyambung pula, “Sedangkan kau baik lahiriah maupun tutur-katamu sudah terhitung mendekati sempurna, ciri pada wajahmu juga tidak sulit diperbaiki. Sudah sekian tahun kucari, akhirnya. kutemui dirimu.”

“Memangnya Cianpwe bermaksud meng …. mengubah diriku menjadi lelaki cakap?” tanya Pwe-giok dengan terkejut.

“Menjadi lelaki cakap akan banyak manfaatnya, ” ujar Ko-lothau dengan tersenyum. “Bisa menjadi lelaki cakap yang sempurna terlebih-lebih banyak manfaatnya. Umpamanya, paling tidak setiap perempuan di dunia ini pasti tidak tega mencelakai dirimu lagi.”

“Tapi… tapi terhadap wajahku sekarang ini Wanpwe sudah cukup puas, ” seru Pwe-giok.

Ko-lothau tidak menghiraukannya, dengan tersenyum ia berkata pula, “Manfaat lain sementara tidak perlu kukatakan,, manfaat yang paling besar adalah selanjutnya tidak bakal ada orang yang kenal kau sebagai Ji Pwe-giok lagi.”

Pwe-giok melengak bingung, katanya dengan tergegap, “Tapi… tapi dengan wajah yang begitu cakap kan lebih mudah menarik perhatian orang?”

Karena terpengaruh oleh kecakapan wajahmu; terhadap setiap tindak-tandukmu orang akan menjadi kurang memperhatikannya, ” kata Ko-lothau. “Dengan demkian, andaikan dalam gerak-gerik atau tutur katamu ada sesuatu yang tidak betul juga tidak perlu kuatir.”

Pwe-giok berpikir sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang dan menjawab, “Baiklah, jika demikian, Wanpwe terpaksa menurut saja.”

Waktu menengadah, dilihatnya Cia Thian-pi masih memandangi patung lilin itu dengan termangu-mangu linglung, sedangkan Ki Leng-hong menghadap ke dinding, terhadap apa yang dipercakapkan Pwe-giok dan Ko-lothau itu dianggapnya seperti tidak melibat dan tidak mendengar.

oooo 000 ooo

Lorong di bawah tanah yang kelam itu mendadak terang lagi.

Ko-lothau sudah keluar satu kali, kembalinya telah membawa bahan makanan dan air minum serta cukup banyak lilin dan dua buah cermin tembaga, tersorot oleh cahaya lampu, cermin tembaga itu kelahatan bertambah terang.

Pwe-giok berbaring di tempat tidur, Ko-lothau menutupi muka anak muda itu dengan sepotong kain belacu yang basah, terasa bau obat yang menusuk hidung, seketika Pwe-giok kehilangan ingatan. Dalam keadaan sadar-tak-sadar sempat didengarnya Ko-lothau lagi berkata, “Tidurlah sepuasnya, setelah kau mendusin nanti, jadilah kau lelaki cakap yang paling sempurna dan tiada bandingannya.”

oo 0O0 oo

Entah sudah berapa lama Pwe-giok tertidur nyenyak, waktu mendusin, mukanya masib terbalut oleh kain basah, tujuh hari kemudian barulah pembalut itu dibuka.

Ko-lothau memandangi wajahnya dengan seksama, mirip seorang pelukis yang sedang meneliti buah karyanya dengan sorot mata yang penuh rasa puas dan bangga, gumamnya, “Dengan wajahmu ini, siapa pula yang sanggup menemukan setitik cirinya? Sudah barang tentu melulu wajahmu inipun belum cukup, dengan sendirinya masih ada lainnya, sedangkan kau…” dia tepuk pundak Pwe-giok dan berkata pula dengan tertawa, “Kebetulan juga sejak kecil kau telah mendapatkan pendidikan kekeluargaan dan sudah biasa sopan santun dan lemah lembut, pula dari pengalamanmu yang sudah kenyang menghadapi berbagai macam bahaya kau lebih terbiasa bersikap tenang dan sewajarnya. Kalau tidak berpengalaman seperti kau dan menganggap mati dan hidup sebagai kejadian yang sepele, tentu kau takkan sedemikian sempurna ….” “Betul, dengan gabungan semua itu, kau memang cukup memikat setiap anak gadis di dunia ini, ” jengek Ki Leng-hong mendadak. “Sungguh aku pun sangat bangga bisa mempunyai anak buah semacam kau, tak perlu kuatir lagi usahaku takkan berhasil.”

“Siapa kau anggap anak buah?” tanya Ko-lothau dengan tercengang.

“Ji Pwe-giok, ” jawab Leng-hong pula. “Dengan sendirinya termasuk kau juga.”

Ko-lothau memandangi nona itu dengan terkesima, seperti memandang makhluk yang aneh.

Ki Leng-hong menjengek pula, “Hm, jika kalian tidak tunduk kepada perintahku, segera akan kubongkar rahasia kalian agar usahamu sia-sia, agar Ji Pwe giok segera mati.”

“Jika demikian, lekas kau keluar dan beritahukan kepada orang, silakan!” kata Ko lothau sambil menghela napas panjang.

Sekali ini Ki Leng hong melenggong sendiri ucapnya, “Kau ….kau suruh kubongkar rahasiamu kepada orang lain?”

Ko-lothau tersenyum, katanya, “Dan takkan kau lakukan, bukan? Kutahu betul, meski lahirnya kau kelihatin bengis, padabal hatimu jauh lebih bajik daripada apa yang kau bayangkan sendiri. Sejak kecil kusaksikan kau meningkat dewasa, masa aku tidak pahami pribadimu?”

Leng-hong termenung hingga lama, mendadak ia menerjang keluar. Akan tetapi baru beberapa langkah mendadak ia mendekap di dinding dan menangis tergerung-gerung.

Ko-lothau mendekatinya dan membelai rambutnya pelahan, ucapnya, “Anak yang baik, agaknya kau pandang segala urusan secara bersahaja. Hendaknya kau tahu, sekalipun kau ingin menjadi orang jahat juga bukan perbuatan yang mudah. Terkadang, untuk menjadi orang jahat malahan jauh lebih sulit daripada menjadi orang baik.”

Pwe-giok berbangkit dirasakan mukanya rada gatal, baru saja ia hendak menggaruknya, mendadak Ko-lothau menarik tangannya dan berkata, “Dalam waktu tiga hari belum boleb kauraba mukamu, sebaiknya juga jangan terkena air.”

“Masa aku masih harus menunggu tiga hari di sini?” tanya Pwe-giok.

—–

Bagaimana jadinya setelah Ji Pwe-giok mengalami permak pada wajahnya dan apa yang akan dilakukannya?

Muslihat apa yang tersembunyi di balik kematian pura-pura Ki Go-ceng yang misterius itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: