Kumpulan Cerita Silat

15/05/2010

Renjana Pendekar – 05

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:43 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, dan Tingsen)

Lambat-laun Pwe-giok merasa tidak tenteram, pikirnya, “Mengapa dia pandang diriku cara begini?, mengapa?…”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar jendela sana berkumandang suara orang tertawa riuh.

Pwe giok mendekati jendela dan sedikit menyingkap ujung tirai serta mengintip keluar, dilihatnya seekor kucing hitam sedang berlari-lari dikejar oleh seorang pendek kurus kecil dengan jubah kembang. Wajahnya yang pucat itu kelihatan berjenggot, tapi perawakannya serupa anak berumur duabelasan, gerak-geriknya juga kekanak-kanakkan.

Muka orang kerdil ini penuh butiran keringat, rambutnya juga kusut, bahkan sebelah sepatunya juga sudah copot, keadaanya kelihatan serba konyol, ya kasihan, ya lucu, ya menggelikan.

Belasan lelaki kekar berpakaian mentereng tampak mengikut di belakang orang kerdil ini dengan gelak tertawa, seperti orang yang sedang melihat tontonan menarik, ada yang berkeplok gembira, ada yang menimpuki kucing hitamn tadi dengan batu.

Melihat itu, tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.

“Kenapa kau menghela napas panjang, apa yang kau sesalkan?” tiba-tiba seorang bertanya di belakangnya.

Kiranya Cengcu-hujin itu entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dan juga sedang memandang keluar.

“Cayhe melihat orang ini dipermainkan orang banyak seperti badut, hati merasa tidak tega, ” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Cengcu-hujin diam saja, wajahnya kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan perlahan:” Orang ini adalah suamiku.”

“Apa….apa katamu? Dia… dia suamimu? Dia inilah Cengcu?” tanya Pwe-giok dengan terkesiap.

“Betul, dia inilah Cengcu dari Sat-jin-ceng ini, ” jawab Cengcu-hujin dengan dingin.

Pwe-giok melenggong hingga sekian lamanya ia tak dapat bersuara. Baru sekarang ia paham apa sebabnya ketiga ibu beranak ini disebut sebagai “perempuan yang harus dikasihani”. Sekarang iapun tahu duduk perkara sebab apa di perkampungan ini orang boleh bebas bunuh membunuh.

Rupanya Cengcu dari Sat-jin-ceng ini adalah seorang badut yang harus dikasihani, seorang kerdil yang malang. Setiap orang boleh datang ke sini dan mempermainkan dia dengan sesuka hati. Dalam pada itu Cengcu-hujin sudah kembali ke tempat duduknya dan memandangi Pwe-giok tanpa bicara.

Kini Pwe-giok dapat menahan perasaannya, sebab sekarang sudah timbul rasa simpatinya terhadap perempuan di depannya ini, simpati yang tak terhingga terhadap segenap keluarga yang malang ini, sekalipun banyak sekali tingkah-laku mereka yang aneh, tapi itupun dapat dimaklumi.

Entah sejak kapan mereka sudah disediakan santapan, Cengcu hujin hampir tidak menyentuh hidangan itu, tapi Pwe-giok telah makan dengan lahapnya.

Di dunia ini memang tiada sesuatu persoalan yang dapat mengganggu selera makan anak muda. Dan begitulah waktu telah berlalu dengan begitu cepat.

Di dalam rumah semakin gelap, wajah Cengcu hujin mulai samar-samar, rumah ini mirip sebuah kuburan yang akan mengubur masa mudanya yang bahagia.

“Mengapa dia memandang diriku cara begini?!” demikian Pwe-giok bertanya-tanya di dalam hati, ia merasa kasihan dan juga merasa heran.

Mendadak Cengcu hujin berbangkit, katanya dengan hampa, “Hari sudah gelap, maukah kau mengiringi aku keluar berjalan-jalan?”

000 000 000

Inilah sebuah taman yang teramat luas dan juga sangat seram, di tengah-tengah semak-semak, di balik bayangan pohon, di mana-mana seakan-akan ada hantu yang sedang mengintai. Jalan berbatu yang mereka lalui berbunyi gemeresak.

Pwe-giok merasa sangat dingin. Sedangkan Cengcu-hujin sudah tertinggal dibelakang.

Cahaya rembulan yang baru menyingsing melemparkan bayangan Cengcu hujin yang panjang itu ke sebelah sini. entah darimana mendadak berkumandang bunyi burung hantu.

Tanpa terasa Pwe-giok merinding, ia memandang jauh ke sana, tiba-tiba di balik bayangan pohon yang seram sana terdapat sebuah rumah ke kelabu-kelabuan dan berbentuk aneh.

Rumah itu tidak ada cahaya lampu, hakikatnya tiada jendela,runcing atapnya, pintu gerbangnya dari besi warna hitam itu agaknya sudah karatan, rumah aneh yang berdiri terpencil di tengah taman yang seram ini menimbulkan rasa ngeri dan penuh misteri yang sukar dilukiskan.

Terasa takut dan juga heran Pwe-giok, tanpa terasa ia terus mendekat ke sana.

“Jangan ke sana” tiba2 didengarnya bentakan Cengcu hujin, suara yang terasa lembut itu mengandung rasa cemas.

“Sebab apa?” Pwe-giok terkejut dan berhenti.

“Barang siapa mendekati rumah itu, dia pasti mati!” kata Cengcu-hujin.

Pwe-giok tambah terkejut, tanyanya pula, “Seb…. Sebab apa?”

Ujung mulut Cengcu-hujin kembali menyembulkan senyuman misterius, ucapnya kemudian dengan pelahan, “Sebab di dalam rumah itu adalah orang mati semua, mereka ingin menyeret orang lain untuk menemani mereka.”

“orang mati? Semua orang mati?” Pwe-giok menegas.

Dengan pandangan yang hampa Cengcu-hujin menatap jauh ke depan, katanya, “Rumah ini adalah makam keluarga Ki kami. Yang terkubur di dalam rumah seluruhnya adalah leluhur keluarga Ki. Sedangkan leluhur keluarga Ki seluruhnya adalah orang gila. Yang masih hidup gila, yang sudah mati juga gila.”

Pwe-giok mengkirik oleh cerita yang aneh dan seram itu, tangannya penuh keringat dingin.

Di depan ada sebuah gardu segi delapan, mereka mendaki undak-undakan dan naik ke tangah gardu, sekeliling lankan di tengah-tengah gardu itu mengitari sebuah lubang gua yang gelap dan dalam, setelah diperiksa lebih taliti, kiranya adalah sebuah sumur.

“Inilah sebuah sumur yang aneh, ” Cengcu Hujin (nyonya Ki) itu bergumam, seperti bicara kepada dirinya sendiri dan tidak ditujukan kepada orang lain.

Tapi Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya, “Mengapa sumur ini kaukatakan aneh?”

“Sumur ini disebut Mo kia (cermin hantu)” jawab Ki-hujin.

Pwe-giok tambah heran, ia tanya pula, “Mengapa disebut Mo kia?”

“Konon sumur ini dapat meramal kejadian yang akan datang, ” tutur Ki hujin dengan pelahan. Di malam bulan purnama, bila kau berdiri di tepi sumur ini dan bayanganmu tersorot kedalam sumur, maka bayangan di dalam sumur itulah menunjukkan nasibmu yang akan datang”

“Aku… aku rada bingung, ” kata Pwe-giok.

“Umpamanya, bila bayangan seorang tersorot ke dalam sumur dan bayangannya lagi tertawa, padahal ia sendiri tidak tertawa, maka ini melambangkan hidupnya akan beruntung. Sebaliknya jika bayangan di dalam sumur itu menangis, padahal ia tidak menangis, maka kehidupannya pasti akan penuh kedukaan, penuh kemalangan.”

“Hah, masa betul begitu?” seru Pwe-giok terkesiap.

Dengan pelahan Ki-hujin menutur pula, “Tapi ada juga cahaya bulan tak dapat menyorotkan bayangan seseorang ke dalam sumur, di dalam sumur hanya terlihat cahaya darah belaka, maka hal ini melambangkan orang itu akan segera tertimpa bencana, bahkan menuju kematian.”

“Aku… Aku tidak percaya, ” ucap Pwe-giok, tanpa terasa ia mengkirik pula.

“Kau tidak percaya? Kenapa tidak kaucoba?” ujar Ki-hujin.

“Aku…aku tidak ingin…” meski di mulut dia bilang tidak, tapi sumur ini rupanya memang sebuah sumur hantu yang punya daya tarik yang kuat, tanpa terasa ia mendekati tepi sumur dan melongok kebawah.

Sumur itu sangat dalam, gelap gulita dan tidak kelihatan dasarnya, hakikatnya Pwe-giok tidak melihat sesuatu apapun, tapi tanta terasa kepalanya seemakin menunduk dan semakin kebawah.

Mendadak Ki-hijun menjerit, “Da… darah… darah… ”

Kejut dan ngeri Pwe-giok luar biasa, ia melongok lebih kebawah lagi, sekonyong konyong lankan sumur itu jebol, tubuhnya lantas terjerumus kedalam sumur.

Terdengar Ki-hujin sedang menjerit jerit pula, “Darah… darah… Mo-kia…: lalu berlari pergi seperti kesetanan.

Pada saat itulah didalam sumur baru terdengar suara “plung” ini jelas suara jatuhnya Pwe-giok didalam sumur. Sumur hantu ini dalamnya luar biasa untung ada airnya, airnya juga sangan dalam. Tubuh Pwe-giok langsung terbanting dipermukaan air sumur dehingga ruas tulang sekujur badannya seakan akan terlepas. Ia terus tenggelam kebawah, sampai lama sekali belum lagi timbul.

Apabila tubuh Pwe-giok tidak gemblengan seolah olah otot kawat tulang besi, waktu timbul lagi kepermukaan air mungkin sudah berwujud sesosok mayat.

Suara jeritan ngeri Ki-hujin itu seakan akan masih mengiang ditelinganya, dalam keadaan masih berdebar Pwe-giok berendam didalam air sumur yang dingin seperti es, ia menggigil tiada hentinya.

“Mengapa dia mencelakai diriku?… ” “Ah, aku sendiri yang kurang hati hati dan terpeleset hingga jatuh kedalam sumur, mana boleh kesalahkan orang lain?…” “Tapi mengapa dia tidak menolong diriku?… ” “Ah, jiwanya memang sangat lemah, saat ini dia sendiri dangat ketakutan, mana dapat menolong diriku?… ” “Apalagi, tentu dia mengira aku sudah mati,buat apa bersudah payah menolong aku?… ”

Begitulah macam-macam pikiran terlintas dalam benak Pwe-giok, akhirnya dia hanya dapat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri, “Ai, aku memang seorang yang malang, selama hidup ini penuh diliputi ketidak beruntungan.”

Kemalangan yang tidak pernah dibayangkan orang lain, baginya boleh dikatakan sudah biasa seperti makanan sehari hari.

Sumur itu sangat lebar, jika berdiri ditengah tengah dan merentangkan kedua tangan tetap tekdapat mencapai dinding sumur. Apalagi dinding sumur penuh lumut hijau yang tebal dan licin, siapapun jangan harap dana dapat memanjat keatas.

Jika orang lain mungkin sudah berteriak teriak minta tolong. Tapi Pwe-giok sam sekali tidak berani bersuara, apalagi berteriak minta tolong. Sebab kalau suara teriakannya didengar musuh yang sedang mencarinya, bukankah dia akan mati konyol terlebih cepat?.

Untung Pwe-giok mahir berenang sehingga tidak sampai tenggelam, namun tubuh yang terendam di air sumur yang dingin seperti es itu membuat badannya mulai kaku, lambat atau cepat dia tetap akan tenggelam juga.

Semua ini seolah-olah impian buruk saja, sungguh ia tidak mau percaya, tapi tidak dapat tidak percaya.

Sejak dia berlatih menulis ditaman kediamannya sendiri dengan disaksikan ayahnya tempo hari, dimulai dengan penyampaian surat oleh Hek-kap-cu, kehidupan Pwe-giok lantas seperti berada didalam mimpi buruk, dan sekarang, apakah hidupnya akan tamat disini?!

Ia tidak suka membanyangkannya, juga tidak berani memikirkannya, akan tetapi mau tak mau ia justeru harus memikirkannya, teringat apa apa yang telah dialaminya itu, sungguh ia hampir gila. Dan malam yang gelap gulita inipun berlalu ditengah penderitaan yang membuatnya gila itu.

Samar-samar mulut sumur sudah kelohatan remang remang, tapi cahaya itu tersa sedemikian jauhnya dan sukar dijangkau.

Dari kejauhan yang sukar dijangkau itu tiba tiba berkumandang suara kicau burung yang merdu. Bagi pendengaran Pwe-giok, suara burung ini adalah satu langkah kejutan yang sama sekali tak pernah terpikir oleh orang itu. Coba, siapa yang pernah berpikir suara burung berkicau demikian dapat menyelamatkan orang?

Maka mulailah Pwe-giok menirukan suara burung berkicau, Sejenak kemudian, dikejauhan tiba tiba berkumandang suara nyanyian yang terlebih merdu daripada kicau burung. Suara itu makin dekat dan dekat, akhirnya dimulut sumur muncul sepasang mata yang jeli.

Baru sekarang Pwe-giok berani berseru perlahan, “Nona Kenari… ”

Terbelalak mata yang indah itu, serunya, “He kiranya kau? Pantas tidak kupahami apa yang kau katakan, rupanya kau bukan… bukan burung.”

“Aku berharap dapat menjadi burung, nona Kenari, ” kata Pwe-giok dengan menyengir.

Nona Kenari itu berkedip-kedip, katanya kemudian, “Jelas kau bukan burung, sampai bertemu pula!” ia angkat kepala terus hendak pergi.

Cepat Pwe-giok berseru, “Hei, nona, ada orang jatuh didalam sumur, masa kau tidak mengereknya ke atas?”

Si nona kenari melongok pula kedalam sumur, ucapnya dengan tertawa, “Mengapa harus kukerek kau?”

“Sebab… sebab… ” Sebenarnya jawaban ini sangat sederhana, tapi seketika Pwe-giok justeru tidak dapat menjawabnya.

“Hi, hi, kutahu kau tidak punya alasannya.” seru sinona KEnari sambil berkeplok gembira.” Aku akan pergi!”

Sekali ini dia benar benar pergi dan tidak kembali lagi.

Pwe-giok menjadi melenggong dan serba susah, ia jadi gemas terhadap dirinya sendiri dan ingin menggampar mukanya sendiri, masa jawaban sederhana bergitu saja tidak sanggup bicara.

“Apakah segenap anggota keluarga Ki memang orang gila semua?” demikian Pwe-giok bertanya tanya pula didalam batin.

Pedih rasanya, kecuali hatinya yang masih ada perasaan, bagian tubuh lain hampir seluruhnya sudah kaku, sekujur badannya mirip sepotong kayu yang terendam di dalam air. Ia meraup secomot ait untuk membasahi bibirnya yang kering.

Sekonyong-konyong seutas tali panjang terjulur dari atas.

Pwe-giok kegirangan, cepat ia pegang tali itu. Tapi segera teringat sesuatu, ia memandang keatas dengan kuatir. Ternyata diatas tiada orang. Dengan suara yang dibikin serak ia bertanya, “Siapa di sana? Siapa yang meolong diriku?”

Namun tiada jawaban. Ia menjadi ragu-ragu, Jangan-jangan orang Kun-lun-pay atau anak murid Tiam-jong-pay?

Jangan-jangan komplotan jahat itu sengaja hendak menggereknya keatas untuk kemudian membunuhnya?

Pwe-giok menggreget, dipegangnya erat-erat tali itu, perlahan-lahan ia merambat ke atas, Betapapun akan lebih baik daripada mati terendam hidup-hidup di sumur hantu ini.

Dalam keadaan demikian, selain menuruti perkembangan, memangnya apa yang dapat diperbuatnya? Hakikatnya tiada pilihan lain baginya.

Dari bawah sampai di mulut sumur, jarak ini seolah-olah perjalanan yang paling panjang yang pernah ditempuhnya selama hidup. Tapi akhirnya sampai juga di tempat tujuan.

Pagi ini tidak ada kabut, cahaya matahari yang keemas emasan menyinari seluruh halaman taman, sampai sampai gerdu yang tak terawat dengan cat pada pilat dan kantakan yang sudah banyak terkelupas inipun kelihatan sangat indah dibawah sinar matahari yang terang.

Dapat hidup terus, betapapun adalah kejadian yang baik.

Tapi di atas tetap tiada terlihat bayangan kesorangpun. Tali panjang itu kiranya terikat pada pilar gardu. Lalu sesungguhnya siapa yang menolongnya? Mengapa penolong itu tidak memperlihatkan dirinya?

Dengan kuatir dan sangsi Pwe-giok selangkah semi selangkah menuruni undak-undakan.

Sekonyong-konyong dibelakangnya ada burung bercuit, cepat ia menoleh, maka terlihatlan pula si dia, si nona Kenari.

Dia duduk bersandar di luar lantakan gardu, rambutnya yang indah kemilauan tertimpa sinar matahari. Seekor burung hijau kecil hinggap di lengannya yang halus itu, tampaknya seperti benar-benar lagi bicara dengan si nona.

“He, kau.” seru Pwe-giok girang. “Meng… mengapa kau tolong juga diriku ke atas?”

Si nona Kenari tertawa manis, ucapnya, “Dia inilah yang minta kutarik kau ke atas.”

“Dia?… dia siapa?” tanya Pwe-giok.

Penjelasan si nona kenari membelai bulu hijau burung kecil itu, ucapnya dengan lembut, “Adik kecil, katamu dia orang baik, kau bilang pula dia tidak punya sayap seperti kau, maka perlu orang lain menariknya ke atas, begitu bukan? Akan tetapi dia tidak berterima kasih padamu.”

Burung hijau itu lantas bercuat ciut, tampaknya sangat gembira.

Termangu-mangu Pwe-giok memandangi nona kenari itu, ia tidak tahu sesungguhnya gadis ini teramat pintar atau seorang gila?

“Apakah kau benar-benar paham bahasa burung?” tanyanya kemudian ssaking tak tahan.

Mendadak si nona Kenari berbangkit dan melangkah kesana, tmapaknya sangat marah, katanya, “jadi kaupun tidak percaya seperti orang orang itu.” “Aku… aku percaya.” kata Pwe-giok. “Tapi cara bagaimana pula kaudapat belajar bahasa burung?”

“Aku tidak perlu belajar, ” ujar si nona Kenari dengan tertawa manis, “Begitu melihat mereka aku lantas paham dengan sendirinya.”

Dalam sekejap itu sorot matanya yang buram dan linglung itu mendadak penuh bercahaya terang, entah sebab apa, Pwe-giok se-akan2 percaya saja kepada keterangannya, tiba2 ia bertanya pula, “Dan gembirakah mereka?”

“Ada yang gembira, ada sebagian tidak, ter-kadang sukaria, terkadang …. ” mendadak si nona tertawa dan menyambung pula, “Tapi setidak2nya mereka jauh lebih bergembira daripada manu-sia yang tolol.”

Pwe-giok termangu sejenak, katanya kemudian dengan menyesal, “Memang betul, manusia memang teramat tolol, di dunia mungkin hanya manusia saja yang suka mencari susah sendiri.”

Si nona kenari tertawa, katanya, “Asalkan kautahu saja, maka kau harus…” mendadak burung kecil di tangannya itu bercuit nyaring terus terbang ke udara. Seketika air muka si nona juga berubah.

Tentu saja Pwe-giok merasa heran, tanyanya, “Nona, kau…”

Tiba2 si nona Kenari menggoyangkan tangan memutuskan ucapan Pwe-giok, lalu ia membalik tubuh dan berlari pergi secepat terbang, mirip seekor burung yang terbang terkejut.

Selagi Pwe-giok terbelalak bingung, tiba2 terdengar semacam suara aneh berkumandang dari semak2 pohon sebelah kiri sana, suara orang menggali tanah.

Diam2 ia merunduk ke sana dan mengintipnya, benar juga, dilihatnya seorang pendek kecil sedang berjongkok dan menggali tanah, dia memakai jubah kembang yang longgar, kedua tangannya kecil seperti kanak2, siapa lagi dia kalau bukan si “badut” yang dilihatnya kemarin, Cengcu atau kepala kampung Sat jin ceng ini.

Kucing hitam yang diuber2 kemarin itu kini sudah mati dalam keadaan luluh, sangat mengerikan kematiannya.

Selesai menggali liang, Cengcu kerdil itu memasukkan bangkai kucing itu ke dalam liang, lalu ditimbuni bunga, kemudian diuruk dengan tanah. Terdengar ia bergumam, “Orang bilang kucing mempunyai sembilan nyawa, mengapa kau cuma punya satu nyawa?…O, kasihan anakku, kau menipu orang2 itu ataukah orang2 itu yang membodohi kau?”

Memandangi perawakan orang yang kerdil itu, memandangi gerak-gerik orang yang serupa anak kecil yang masih polos itu, tanpa terasa Pwe-giok menghela napas,

Cengcu itu terkejut dan melonjak bangun sambil membentak, “Siapa?”

Cepat Pwe-giok melangkah keluar, ucapnya dengan suara halus, “Jangan kau takut, aku tidak bermaksud jahat.”

“Kau…kau siapa?” tanya sang Cengcu dengan melotot tegang.

Sedapatnya Pwe-giok bersikap ramah agar orang tidak ketakutan; jawabnya dengan tersenyum “Akupun tamu di sini, namaku Ji Pwe-giok.”

Ternyata Pwe-giok merasa urusan apapun tidak perlu mengelabui orang kerdil, sebab ia yakin ma nusia yang mempunyai kelainan tubuh ini pasti mempunyai sebuah hati vang bajik dan luhur. Contohnya, kalau tcrhadap seekor kucing saja dia be gitu welas-asih, mana mungkin dia mencelakai manusia?

Muka sang Cengcu kerdil yang putih pucat tapi cukup cakap dan seperti wajah anak kecil yang belum akil balig itu akhirnya tampak tenang kembali, dia tertawa, lalu berkata, “Jika kau tamu, aku inilah tuan rumahnya. Namaku Ki Song-hoa, ”

“Kutahu, ” ujar Pwe-giok.

“Kautahu?” si kerdil Ki Song-hoa menegas dengan mata terbelalak.

“Ya, aku sudah bertemu dengan isteri dan puterimu, ” tutur Pwe-giok dengan tertawa.

Perlahan2 Ki Song-hoa menunduk, ucapnya dengan tersenyum pedih, “Kebanyakan orang seolah2 harus menemui mereka lebih dahulu baru kemudian bertemu dengan diriku.” Mendadak ia pegang tangan Ji Pwe-giok dan berseru, “Tapi jangan kau percaya kepada ocehan mereka. Otak isteriku itu tidak waras, tidak normal, boleh dikatakan gila. Anak perempuanku yang besar itu lebih2 judas, cerewet, tiada orang yang berani merecoki dia, bahkan akupun tidak berani. Meski mereka sangat cantik, tapi hatinya berbisa, lain kali bila kau bertemu lagi dengan mereka, hendaklah kauhindari mereka sejauh2nya.”

Sungguh tak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa si kerdil ini akan bicara demikian mengenai anak dan isterinya, Apakah betul ucapannya? Atau cuma omong kosong belaka? Tapi tampaknya tiada alasan baginya untuk berdusta? Seketika Pwe-giok jadi melenggong dan tidak dapat bicara.

Dengan suara rada gemetar Ki Song-hoa lantas berkata pula, “Apa yang kukatakan ini demi kebaikanmu, kalau tidak, untuk apa aku mesti mencaci-maki sanak keluargaku sendiri?”

Akhirnya Pwe-giok menghela napas panjang dan mengucapkan terima kasih. Sejenak kemudian, karena ingin tahu, ia bertanya pula, “Dan masih ada pula seorang nona yang fasih berbahasa burung…”

Baru sekarang Ki Song-hoa tertawa, katanya, “Apakah kau maksudkan Leng-yan? Ya, hanya dia saja yang tidak bakalan mencelakai orang, sebab…sebab dia seorang idiot, miring…”

“Apa? Ia… idiot?” seru Pwe-giok dengan tercengang.

Pada saat itulah di tengah pepohonan sana tiba2 terdengar gemersak orang berjalan

Cepat Ki Song-hoa menarik tangan Pwe-giok dan berkata, “Mungkin mereka yang datang, jangan sampai kau dilihat mereka lagi, kalau tidak, jiwamu pasti sukar diselamatkan. Hayolah lekas ikut pergi bersamaku!”

Segera terbayang oleh Pwe-giok sumur hantu yang seram itu, teringat tangan yang akan mencekik lehernya itu, tiba2 ia merasa alasan pembelaannya bagi Ki hujin sebelum ini hanya sia2 belaka dan tiada gunanya.

Dilihatnya Ki Song-hoa menariknya berputar kian kemari di antara pepohonan dan sampailah di depan sebuah gunung2an, setelah menerobosi gunung2an itu, di situ ada sebuah kamar, ruangan kamar itu penuh berdebu dan gelagasi, kertas bertulis yang menghiasi sekeliling dinding ruangan itupun sama berwarna kuning.

Di tengah ruangan ada kasuran bundar dan sudah tua, ruangan ini sangat sempit, untuk berdiri dua orang saja terasa sesak, namun Ki Song-hoa lantas menghela napas lega, katanya, “Di sinilah tempat yang paling aman, tidak nanti ada orang datang kemari, ”

Selama hidup Pwe-giok belum pernah melihat rumah sekecil ini, ia coba bertanya, “Tempat apakah ini?”

“Di sinilah pada masa tua mendiang ayahku suka menyepi dan membaca kitab.” tutur Ki Song-hoa. “Sejak berumur 50 beliau lantas berdiam di sini, satu langkahpun tidak pernah keluar hingga 20 tahun lamanya.”

“Selama 20 tahun tidak pernah keluar dari tempat ini?….” tukas Pwe-giok dengan terkesima. “Tapi ruangan ini sedemikian sempitnya, berdiri saja tidak dapat tegak, berbaringpun kurang leluasa, mengapa ayahmu suka menyiksa diri cara begini?”

“Soalnya ayahku merasa di waktu mudanya terlalu banyak membunuh, sebab itulah pada masa tuanya beliau berusaha merenungkan segala dosanya. Beliau merasa asalkan berhasil mencapai ketenangan batin, hal penderitaan badan bukan apa2 baginya.”

“Beliau, sungguh seorang yang luar biasa, ” ujar Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

Teringat olehnya ucapan Ki hujin yang menyatakan segenap leluhur keluarga Ki adalah orang gila semuanya, diam2 ia tersenyum kecut dan menggeleng.

Ki Song-hoa menepuk tangan Pwe-giok, katanya pula, “Hendaklah kau sembunyi di sini dengan tenang, makan-minum akan kuantarkan ke sini, tapi jangan sekali2 kaulari keluar, di perkampungan ini sudah terlalu banyak banjir darah, sungguh aku tidak ingin menyaksikan darah mengalir lagi.”

Memandangi kepergian orang kerdil itu, diam2 Pwe-giok terharu, pikirnya, “Isterinya gila, anak perempuan berotak miring, ia sendiripun bertubuh tidak normal, selamanya menjadi bulan2an orang, hidupnya ini bukankah jauh lebih malang daripada ku? Tapi terhadap orang lain dia masih begitu baik hati, begitu welas asih, jika aku menjadi dia, apakah aku akan berbuat sebaik dia?”

Di lantai penuh debu belaka, Pwe-giok berduduk di kasuran bundar itu. Kamar ini tiada dinding tembok, sekelilingnya ditutup dengan kotakan pintu dan jendela yang terbuat dari kertas. Tempat demikian tentu sangat menyusahkan di musim dingin atau di waktu hujan angin.

Pwe-giok coba mengamat2i sekitar ruangan, ia merasa di lantai yang penuh debu itu ada gambar loreng2, ia robek sepotong lengan bajunya untuk mengusap lantai, maka tertampaklah sebuah gambar Pat-kwa.

Bagi anak murid “Bu-kek-pay”, perhitungan Pat-kwa dan pelajaran ilmu alam yang aneh2 sudah tidak asing lagi. Pwe-giok adalah putera tokoh ternama dari Bu-kek-pay, terhadap ilmu pengetahuan begituan boleh dikatakan sangat mahir.

Dengan tekun ia memandangi lukisan Pat-kwa itu, dengan jarinya ia coba menggoresi garis2 gambar itu menuruti lukisannya. Mendadak kasuran yang didudukinya bisa bergeser, lalu tertampaklah sebuah lubang di bawah tanah yang gelap dan sangat dalam.

Pwe-giok jadi tertarik dan melangkah ke bawah. Pada saat itu juga, mendadak berpuluh pedang mengkilap telah menusuk ke tempat duduknya secepat kilat dan tanpa suara.

Tidak kepalang kaget Pwe-giok. Coba kalau dia tidak menemukan lukisan Pat-kwa di lantai dan kalau dia tidak mahir ilmu pengetahuan begitu, jika dia masih tetap berduduk di atas kasur, saat ini tubuhnya tentu sudah berubah menjadi sarang tawon ditembus oleh berpuluh senjata tajam itu.

Sungguh kejadian yang sangat kebetulan dan juga sangat berbahaya. Antara mati dan hidup benar-benar bergantung pada sedetik dua detik saja. Jiwa Pwe-giok boleh dikatakan drenggut kembali dari cengkereman elmaut. Tapi dalam keadaan demikian sama sekali ia tidak berani memikirkannya, lekas-lekas ia tutup lubang di atas lantai itu dengan kasur tadi.

Pada saat lain lantas terdengar suara orang berseru di luar ruangan sana, “He, mengapa kosong, tidak ada seorangpun!”

Lalu “blang”, dinding kertas ruangan itu telah dijebol orang, sekeliling ruangan penuh berdiri anak murid K.un-lun-pay dan Tiam jong pay, semua berseru kaget, “He, mengapa sudab kabur!?”

“Ya, dari mana dia mendapatkan berita akan digerebek?” terdengar Pek-ho Tojin berkata.

Dia pasti takkan lari jauh, lekas kita kejar!” seru seorang pula.

Lalu terdengar suara kain baju berkibar, beberapa orang telah melayang pergi, hanya sekejap saja keadaan sudah sunyi kembali.

Sampai lama Pwe giok menunggu di bawah baru berani menggeser lagi kasuran itu sedikit, dilihatnya benar-benar tiada orang lagi barulah dia berani merayap naik ke atas.

Ada suara gemericiknya air di luar serta gemersiknya daun kering tertiup angin, mungkin suara berisik inilah yang menutupi suara kedatangan orang-orang tadi sehingga sebelumnya Pwe-giok tidak tahu sama sekali.

Tapi mengapa mereka dapat mencari ke tempat ini? Darimana mereka mendapat tahu Pwe-giok berada di sini?

Batapapun hati Pwe-giok menjadi kebat-kebit, is merasa di tengah “Sat jin-ceng” ini di mana-mana penuh orang gila, hakikatnya tiada seorangpun yang dapat dipercaya.

Lalu, dalam keadaan demikian, ke mana pula dia harus pergi?

Kini rambutnya sudah kusut masai, matanya penuh garis-garis merah, pemuda yang tadinya cakap dan lembut kini telab berubah seperti seekor binatang buas, seekor binatang yang terluka. Ia tidak memiliki keyakinan akan sanggup bertempur dengan orang, hakikatnya ia tidak punya tenaga untuk bertempur lagi.

Sekonyong-konyong terdengar seorang memanggil dengan suara tertahan, “Yap-kongcu… Yap Giok-pwe… . ”

Semula Pwe giok melengak, tapi segera ia menyadari yang dipanggil itu ialah dirinya. Meski dia tidak kenal suara siapakah itu, tapi orang yang dapat memanggil nama samarannya ini kecuali ibu dan anak itu jelas tiada orang lain lagi.

Tanpa pikir ia terus menerobos masuk pula ke dalam liang di bawah tanah serta menutup lubang itu dengan kasuran tadi. Keadaan di dalam liang itu gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Ia merasa liang di bawah tanah ini sangat besar, tapi iapun tak berani sembarangan bergerak, ia cuma berdiri bersandar saja di situ. Sampai lama sekali, lamat-lamat ia tertidur akhirnya.

Sekonyong-konyong cahaya terang menyorot ke bawah, kasuran itu telah digeser orang.

Dengan terkejut Pwe-giok menoleh, segera dilihatnya wajah yang pucat dan bajik itu, wajah itu kelihatan terkejut dan juga bergirang, terdengar ia berseru lega, “O, syukur alhamdulillah kau ternyata masih berada di sini.”

Sebaliknya Pwe-giok tidak mengunjuk rasa girang sedikitpun, ia menjengek, “Hm, akan kau bikin susah lagi padaku?”

Mendadak Ki Song-hoa memukul dadanya sendiri dan berkata, “Ai, semuanya gara-garaku. Waktu itu kubawa kau ke sini telah dilihat oleh isteriku, mungkin dia yang memberi tahukan kepada pengganas-pengganas Kun-1un-pay dan Tiam-jong-pay itu.”

“Hm, masakah kau kira aku percaya lagi padamu?” jengek Pwe-giok.

“Jika kukhianati kau, saat ini mengapa tidak kubawa mereka ke sini?”

Baru sekarang Pwe-giok percaya penuh, ia melompat ke atas, katanya dengan menyesal, “Ai, rupanya aku telah salah sangka padamu.”

Ki Song-hoa mendepak kasuran itu ke tempat semula, ditariknya Pwe-giok dan berkata, “Sekarang bukan waktunya minta maaf segala. Hayolah, lekas pergi!”

“Hah, mau ke mana?!” mendadak seorang mendengus sambil tertawa latah.

Sungguh tidak kepalang kaget Pwe-giok Belum lagi dia bertindak apa-apa, tahu-tahu sinar pedang sudah menyambar tiba, “Sret-sret-sret”, tiga pedang menusuk sekaligus.

“Hei, hei, berhenti” Ki Song hoa berteriak-teriak. “Kalian tidak boleh….”

Tapi pedang yang sambar menyambar itu tidak menghiraukan seruannya, tubuh Pwe giok sudah tersayat dua baris luka, anak murid Kun- lun dan Tiam-Jong telah mengepungnya dengan rapat. Dengan mati-matian Pwe-giok berusaha membobol kepungan tapi dalam sekejap saja ia sudah mandi darah.

“Jangan dibunuh, akan kutanyai dia!” terdengar Pek-ho Tojin berteru dengan suara bengis.

Pwe-giok menghindarkan tabasan dua pedang, habis itu mendadak ia menghantam ke depan ke arah Pek-ho Tojin. “Blang”, Pek-ho Tojin sempat mengegos, sebaliknya tiang rumah kecil itu telah tergetar patah oleh pukulan Pwe-giok yang dahsyat ini, rumah kecil itu runtuh dan ambruk, tanpa pikir Pwe-giok mengangkat sepotong tiang kayu, tiang itu terus diputarnya dengan kalap.

Di tengah jeritan kaget, seorang murid Tiam-jong pay tersabat tiang itu hingga tulang dada remuk, pedang dua kawannya juga terlepas dari pegangan.

“Keparat ini sudah nekat, dibunuhpun tak menjadi soal lagi!” bentak Pek-ho Tojin.

Sekali berputar, Pwe giok mengayun tiang kayu yang bulatan tengahnya sebesar mangkuk itu seperti kitiran, tubuh manusia yang terdiri dari darah-daging mana mampu menahan hantaman yang begini dahsyat?

Ki Song hoa berdiri jauh di samping sana, tampaknya iapun terkesima dan bergumam sendiri, “Besar amat tenaganya, sungguh hebat tenaganya….”

Pwe-giok benar-benar sudah kalap, tiada sesuatu yang dilihat dan tiada sesuatu yang didengarnya lagi, ia masih terus memutar tiangnya seperti orang gila. Mendadak putarannya mengendur, tiang yang beratnya ratusan kati itu dengan tenaga maha dahsyat mendadak dilepaskan sehingga meluncur ke depan, seorang Tojin Kun-lun pay tepat menjadi sasaran utama, tiang itu menembus perutnya. Terdengarlah jeritan ngeri memanjang menggema angkasa disertai muncratnya darah.

Tentu saja orang lain sama pecah nyalinya dan cepat menyingkir ke samping. Kesempatan itu tidak disia-siakan Pwe-giok, ia terus menerjang keluar. Hakikatnya ia tidak membedakan arah dan tidak melihat jalan lagi, ia hanya berlari dan berlari terus seperti orang kesetanan, ia menerobos pepohonan dan menyusup ke semak-semak. Tubuhnya sudah penuh dicocok duri tetumbuhan, tapi suara bentakan orang mengejar lambat laun juga menjauh, tiba-tiba di depannya muncul pula rumah aneh warna kelabu itu.

Rumah setan itu atau makam, bukankah di situ tempat sembunyi yang paling bagus?

Tanpa pikir Pwe-giok terus menerjang ke sana. Tapi mendadak sinar pedang berkelebat, seorang telah merintangi jalannya.

“Berani kau masuk ke rumah ini, segera kucabut nyawamu!” demikian suara seorang perempuan membentak dengan bengis.

Jalan Pwe-giok sudah sempoyongan, yang dapat dilihatnya hanya bayangan seorang secara samar-samar, seperti berambut panjang, berjubah putih, bermata jeli.

Akhirnya Pwe giok dapat mengenalinya, ialah anak perempuan sulung Ki Song hoa, si elang padang pasir yang galak itu.

Dengan tersenyum pedih Pwe-giok berkata, “Bagus sekali jika dapat mati di tanganmu, sedikitnya kau bukan orang gila …” dia sudah: kehabisan tenaga, belum habis ucapannya iapun jatuh pingsan.

oOo – 0O0- 0O0

Waktu siuman kembali, Pwe-giok merasa berada di dalam sebuah kamar gelap, tapi segera ia mengenali tempat ini adalah kamar tidur Ki-hujin.

Tapi segera iapun mengetahui dirinya tidak siuman sendiri, tapi ada orang yang membuatnya siuman. Sekarang meski di dalam rumah tiada orang, tapi daun pintu yang berat itu berbunyi berkeriut didorong orang hingga terbuka.

Lalu sesosok tubuh kerdil melongok ke dalam, siapa lagi kalau bukan Ki Song-hoa, si Cengcu Sat-jin-ceng yang tidak diketahui bajik atau jahat itu.

Gemetar juga tubuh Pwe giok, katanya, “Selamanya kita tiada permusuhan,mengapa kau berkeras akan mencelakai diriku?”

Ki Song-hoa mendekati pembaringan Pwe-Giok, ucapnya dengan menunduk dan menyesal, “Maaf, mestinya ingin kutolong kau, siapa tahu malah bikin susah padamu… Sungguh aku tidak tahu bahwa orang-orang itu selalu membuntuti diriku.”

“Jika begitu, sekarang juga lekas kau keluar, ” kata Pwe-giok.

“Tidak, tidak boleh kutinggalkan kau kepada mereka, ” kata Ki Song-hoa.

“Tapi merekalah yang menyelamatkan diriku, aku takkan pergi, ” ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

“Anak muda, kau tidak tahu, ” kata Ki Song-hoa dengan menghela napas panjang. “Mereka menolong kau adalah karena ingin menyiksa kau secara perlahan-lahan agar kau mati di tangan mereka.”

Pwe-giok merinding, tanyanya, “Sebab… sebab apa mereka berbuat demikian?”

“Kau benar-benar tidak tahu?”

“Sungguh aku tidak mengerti.”

“Istriku itu paling benci kepada orang she Ji. Memangnya kau kira dia tidak tahu kau ini she Ji?”

“O… aku sampai lupa…” seru Pwe-giok. Sampai di sini, ia tidak sangsi lagi, segera ia meronta turun.

Tapi mendadak seorang masuk lagi, orang ini berjubah putih dan berambut panjang, siapa lagi kalau bukan si nona Elang. Dia menyelinap masuk tanpa suara dan melototi Ki Song-hoa dengan dingin, sama sekali tiada perasaan kasih sayang antara ayah dan anak sebagaimana umumnya, sebaliknya malahan kelihatan sikapnya yang benci dan kasar, bahkan lantas membentak, “Keluar!”

Keruan Ki Song-hoa berjingkrak, teriaknya, “Ki Leng-hong, jangan lupa, aku ini bapakmu. Terhadap ayahmu kaupun bicara sekasar ini?”

Dia berjingkrak dan marah-marah seolah-olah mendadak berubah menjadi gila, wajahnya yang kekanak-kanakkan itupun berubah menjadi beringas menakutkan.

Pwe-giok terkesima oleh perubahan luar biasa ini, tapi si nona Elang atau Ki Leng-hong itu masih tetap berdiri tegak, sama sekali tidak takut, sebaliknya makin dingin sorot matanya, katanya pula sekata demi sekata, “Kau keluar tidak?”

Ki Song-hoa mengepal tinjunya dan mendelik, saking geregetan seakan-akan ingin mencaplok mentah-mentah si nona. Namun Ki Leng-hong itu masih tetap memelototinya dengan sikap dingin.

Sungguh aneh, ayah dan anak ini seperti ada permusuhan yang mendalam, mereka saling melotot dan entah sudah berapa lamanya, akhirnya Ki Song-hoa menghela napas panjang, ia menjadi lemas, lalu berkata sambil terkekeh-kekeh, “Anakku sayang, jangan kau marah, jika kesehatanmu terganggu, kan ayah juga yang susah. Kau suruh aku keluar, baiklah segera aku akan keluar”

Dia berjalan keluar pintu sambil bergumam, “Bagaimana jadinya dunia ini. Ayah takut pada anaknya”

Pwe-giok juga tidak menyangka sang Cengcu bisa diusir pergi oleh anak perempuannya sendiri, ia terkejut dan heran, segera ia merangkak bangun.

“Untuk apa kau bangun? Rebah kembali di tempatmu!” jengek Ki Leng-hong.

“Cayhe merasa tidak… tidak pantas mengganggu di sini dan ingin mohon diri saja, ” kata Pwe-giok.

“Setelah kau dengar ocehan si kerdil itu dan kau percaya aku ingin mencelakai kau?” jengek Ki Leng-hong.

“Betapapun dia… dia kan ayahmu?” ujar Pwe-giok.

“Tidak, dia bukan ayahku, bukan, bukan!” teriak Ki Leng-hong dengan histeris sambil meremas-remas baju sendiri, air mukanya berkerut-kerut dan beringas seperti Ki Song-hoa tadi.

Pwe giok memandangnya dengan terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Selang beberapa saat Ki Leng-hong menjadi tenang dan kembali ke pembawaannya semula yang dingin. Dia lalu bertanya, “Apakah kau pikir dia benar-benar orang baik?”

Ji pwe-giok tidak menjawab karena dia memang tidak yakin apakah sesungguhnya Ki Song-hoa itu baik atau tidak.

Ki Leng-hong tertawa, katanya, “Sungguh aneh, banyak juga orang yang mau tertipu dan dibohongi olehnya, sampai terbunuh juga masih belum tahu, bahkan tetap menyangka dia adalah orang baik.”

“Aku kan tiada permusuhan apapun dengan dia, untuk apa dia mencelakai diriku?” kata Pwe-giok.

“Tiada permusuhan?” jengek Ki Leng-hong. “Apakah kau tahu mengapa tempat ini diliputi suasana bunuh membunuh? Tahukah kau sebab apa nyawa hampir tiada harganya di sini?”

“Aku…aku tidak tahu, ” jawab Pwe-giok.

Jari tangan Ki Leng-hong yang putih lentik itu kembali berkejang, serunya dengan parau, “Sebabnya karena dia suka membunuh orang, suka kepada kematian, dia suka menyaksikan jiwa seseorang tamat di tangannya, semakin mengerikan kematian orang lain, semakin gembura dia.”

Pwe-giok melenggong dan tak dapat bicara, berdiri bulu romanya.

Sungguh luar biasa. Di antara keluarga ini, antara suami dan istri, antara ayah dan anak, seakan-akan penuh dendam dan benci, masing-masing saling mencaci maki dan mengutuki. Pwe giok jadi bingung harus percaya kepada keterangan siapa?

Dengan sendirinya Ki Leng-hong dapat melihat sikap Pwe-giok yang ragu itu, katanya pula dengan dingin:” Terserah kepadamu mau percaya tidak kepada ucapanku, percaya dan tidak juga tiada sangkut-pautnya denganku.”

“Bu….bukannya aku tidak pereaya, ” kata Pwe-giok dengan tergagap. “Aku cuma merasa, jika seorang terhadap seekor hewan saja begitu welas-asih, masakah mungkin terhadap manusia malahan bertindak kejam?”

“Kaubilang dia welas-asih terhadap hewan?” tanya Ki Leng hong sambil berkerut kening.

“Kulihat sendiri dia mengubur bangkai kucing dengan baik-baik, tatkala mana dia tidak tahu aku berada di dekatnya, jelas dia tidak sengaja berbuat begitu agar dilihat olehku, ” tutur Pwe-giok.

“Hm, ” jengek Ki Leng-hong dengan tersenyum aneh. “Dan tahukah kau siapa yang membunuh kucing itu?”

“Memangnya siapa?” tanya Pwe-giok.

“Dia sendiri, ” jawab Ki Leng-hong.

“Dia sendiri!?’ tukas Pwe-giok, tanpa terasa ia merinding pula.

“Umpama bunga sedang mekar dengan semaraknya, iapun akan memetiknya untuk dihancurkan lalu ditanamnya dengan baik-baik, ” jengek Ki Leng-hong pula, “Pendeknya baik bunga maupun kucing atau manusia sekalipun, asalkao melihat kehidupan yang baik, maka dia menjadi sirik dan tidak tahan, tapi kalau kehidupan itu sudah mati, dia lantas tidak dendam lagi. Asalkan mati barulah dapat memperoleh welas-asihnya. Jika kau mati, ia pun akan mengubur kau dengan sebaik-baiknya.”

Tanpa terasa Pwe-giok merinding pula dan tidak sanggup bicara lagi.

“Di bawah tanah seluruh halaman perkampungan ini hampir penuh dengan mayat yang dibunuh dan dikubur olehnya sendiri, ” tutur Ki Leng-hong pula. “Jika kau tidak percaya, boleh coba kau menggalinya pada sembarang tempat dan kau akan melihat buktinya.”

Pwe-giok jadi mual, dengan suara parau ia berkata, “Aku….aku ingin pergi saja, makin jauh makin baik.”

“Tapi sayang, biarpun ingin pergi juga tidak dapat pergi lagi sekarang.” jengek Ki Leng-hong.

Baru saja Pwe-giok berbangkit, demi mendengar ucapan itu, “bluk”, ia duduk kembali di tempat tidurnya.

“Jika kau ingin hidup lebih lama, kau harus turut kepada perkataanku, kalau tidak, boleh kau pergi saja dan takkan kurintangi!” habis berkata Ki Leng-hong benar-benar menyingkir ke sarnping dan daun pintu masih terpentang.

Tapi Pwe-giok menjadi binguug, ia pandang pintu yang terbuka itu, ia tidak tahu apakah harus lekas pergi atau lebih baik tetap tinggal di sini saja.

Ki Leng-hong memandang dengan dingin, katanya kemudian, “Tidak perlu kau kuatir akan kedatangan orang di sini. Betapapun besar nyali Ki Song hoa juga takkan berani membawa orang ke sini. Aku mempunyai cara untuk mengatasi dia, aku pun mempunyai akal untuk melindungi kau.” Akhirnya Pwe giok berbangkit, tanyanya, “Kau akan melindungi diriku?”

“Ya, tidak perlu kau kuatir, selama aku berada di sini, tidak nanti kau mati!” ucap Ki Leng-hong.

“Betul juga, dalam keadaan demikian, memang betul hanya di sinilah tempat yang paling aman. Tapi ada sementara orang yang lebih suka menyerempet bahaya daripada minta perlindungan orang. “Tapi kau jelas bukan orang macam begitu!” “Masa aku bukan?” ucap Pwe giok dengan suara hambar, ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah keluar.

Betapapun duka dan dongkol perasaannya, cara bicara Pwe-giok tetap halus dan sopan, selamanya ia tidak suka bersikap kasar terhadap siapa pun. Tapi kalau orang lain menganggap dia lemah dan penakut, maka salahlah dugaan demikian.

Agaknya Ki Leng-hong melengak juga melihat sikap tegas Pwe giok itu, serunya, “He, kau benar-benar ingin mengantar nyawa?”

Tanpa menoleh dan tanpa menjawab Pwe-giok melangkah keluar.

“He, sudah buntu jalanmu, mengapa kau masih tetap keras kepala?!” seru Leng-hong pula.

Baru sekarang Pwe-giok berpaling, katanya dengan tenang, “Terima kasih atas perhatianmu, aku mempunyai tempat tujuan sendiri.”

“Baiklah, pergilah kau, ” dengus Ki Leng-hong.

“Kau akan mati atau tetap hidup kan tiada sangkut-pautnya denganku.”

Walaupun begitu ucapannya, tapi sudah jauh Pwe-giok melangkah pergi dia toh masih tetap memandangnya dengan termangu-mangu.

0O0 )(o){ 0O0 )(o)(

Pingsan Ji Pwe giok tadi agaknya sampai setengah harian lamanya, sekarang sudah dekat magrib lagi.

Setiap kali Pwe-giok kehabisan tenaga dan pingsan, ia selalu mengira pasti tak tahan hidup lagi.

Tapi aneh, setelah siuman, tenaga baru lantas timbul pula. Hal ini bukanlah disebabkan karena pembawaannya yang kuat, sudah tentu lantaran khasiat siau hoan-tan pemberian Thian-kang Totiang tempo hari.

Sekarang dia berada di tengah taman yang luas itu, cuaca sudah mulai remang-remang lagi, ia menyusuri pepohonan dengan setengah berjongkok, agaknya orang-orang yang mencarinya juga tidak menyangka dia berani berkeliaran di situ, makanya tiada orang berjaga dan mengawasi di taman itu. Apalagi di taman yang luas dengan pepohonan yang lebat ini pun tidak sukar baginya untuk menghindarkan pengawasan orang.

Akan tetapi ia pun jangan harap akan dapat menerobos keluar. Di balik pepohonan sana, di sekeliling taman itu jelas ada bayangan orang, tampaknya di bawah setiap pohon dan di setiap sudut yang gelap selalu ada bahaya yang sedang mengintai.

Pwe-giok terus menyelinap kian kemari, tujuannya hendak menemukan kembali rumah kecil yang bobrok itu, sebab pada saat demikian ia merasa perkampungan “Sat jin-ceng” ini hanya kakek Ko saja satu-satunya orang yang dapat diandalkan.

Tapi di tengah taman yang rindang dan gelap ini sukar baginya untuk membedakn arah. Dia telah berputar kian kemari, mendadak ia menemukan dirinya berada pula di depan rumah kertas yang terletak di tengah gunung-gunungan palsu dengan suara gemerciknya air itu. Meski mayat yang bergelimpangan di situ sudah diangkut pergi, tapi bekasnya masib kelihatan, pertarungan sengit yang mendebarkan itu seolah-olah terbayang pula di depan matanya.

Cepat Pwe-giok membalik tubuh dan melangkah pergi tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia berhenti.

Jika Ki Song-hoa telah menemukan dia di dalam liang rahasia di bawah rumah kertas ini, maka siapapun pasti tidak menyangka dia akan kembali lagi ke situ. Jika demikian, bukankah di sinilah tempat sembunyi yang paling aman?

Sesungguhnya Pwe-giok memang tiada jalan keluar lain, teringat demikian, ia tidak ragu lagi, segera ia putar balik dan melompat masuk ke rumah berdinding kertas itu, kasuran itu digeser, ia terus melompat ke dalam lubang.

Liang di bawah tanah itu tetap gelap gulita,Pwe-giok bersandar pada dinding batu yang dingin dengan napas terengah-engah. Mungkinkah tersembunyi apa-apa di liang bawah tanah yang gelap gulita ini?

Setelah napasnya tenang kembali, tanda tanya tadi semakin membuatnya ngeri. Tanpa terasa ia mulai merayap ke depan.

Sekonyong-konyong tangannya menyentuh sesuatu, jeias tubuh seseorang.

Sungguh kagetnya tidak kepalang, di liang bawah tanah yang gelap ini ternyata ada orang sedang menantikan kedatangannya.

Dalam kegelapan, ia merasa orang ini berduduk di situ dan memakai baju kain belacu.

“Siapa….siapa kau?” tanya Pwe-giok dengan suara gemetar, jantungnya serasa mau berhenti berdenyut.

Tapi oang itu tidak bergerak sama sekali, juga tidak menjawab.

Keringat berketes-ketes di dahi Pwe-giok, dengan menempel dinding ia coba menggeser pelahan ke samping, ucapnya pula dengan auara parau, “Sesungguhnya siapa kau? Apa kehendakmu bersembunyi di sini?”

Dalam kegelapan tetap tiada sesuatu suara, keheningan yang mencekam dan menyeramkan.

Tangan Pwe-giok yang merabai dinding sudah penuh keringat dingin, kakinya bergeser sedikit demi sedikit, kakinya terasa sangat berat, seperti diganduli benda beribu kati.

Mendadak jarinya menyentuh sesuatu benda dingin, ia coba merabanya, kiranya sebuah lentera tembaga.

Dinding di situ mendekuk, maka lentera itu terselip di dekukan itu. Di samping lentera ada dua potong batu api, cepat Pwe-giok meraup batu api itu. Diketahuinya minyak pada lentera itu belum lagi kering, ia ingin mengetik api, tapi tangan terasa gemetar sehingga selalu gagal membuat api. Pwe-giok menarik napas panjang, katanya kemudian, “Sekarang aku sudah memegang batu api biarpun kau tidak bersuara, asalkan api sudah menyala, segera akan diketahui siapa kau, mengapa sampai sekarang kau tidak bicara?”

Dengan sendirinya perkataan Pwe giok itu tiada gunanya, paling-paling anak muda itu hanya menggunakan ucapannya itu untuk menambah keberaniannya. Dan setelah omong begitu, dia benar-benar bisa lebih tenang. “Cret”, akhirnya api dapat dinyalakan untuk menyulut sumbu lentera.

Di bawah kerlipan cahaya api, dapatlah dilihatnya seorang kakek pendek kecil berduduk bersimpuh di situ dengan mata terpejam, rambut dan jenggotnya sudah putih semua, bajunya warna kuning muda dari kain belacu, air mukanya kurus kering dan pucat, tampangnya agak mirip Ki Song-hoa, cuma terlebih seram.

Dingin tangan dan kaki Pwe-giok, tanyanya dengan suara terputus-putus, “Apakah…..apakah kau ini ayah Ki Song-hoa? Masa…. masa kau belum mati?”

Dari ujung kaki hingga kepala orang tua itu sama sekali tidak bergerak, bahkan rambut dan jenggotnya juga tidak bergoyang sedikitpun, di bawah kerlapan cahaya lampu tampaknya menjadi sangat seram dan misterius.

Pwe-giok menggreget dengan nekat ia mendekatinya. Sesudah dekat baru dilihatnva jenggot dan rambut orang tua itu ada sesuatu yang tidak betul. Ia coba merabanya, benar juga, memang terbuat dari malam. Jadi kakek ini tidak lebih hanya sebuab patung malam atau lilin.

Pwe giok jadi menyengir sendiri, tapi setelah dipikir lagi, ia menjadi ragu-ragu pula. Ia pikir patung ini pasti patung ayah Ki Song hoa, mengapa disembunyikan di liang rahasia ini?

Ia coba mencari lagi ke depan, kecuali patung lilin ini ditemukan lagi sebuah ranjang kecil, di samping ranjang ada sebuah almari kecil, di atas almari berserakan teko, cangkir, buku dengan debu tebal.

Meski benda-benda ini cuma alat-alat keperluan sehari-hari tapi ditemukan di liang rahasia yang tak berpenghuni, betapapun menimbuikau rasa misterius yang sukar dijelaskan.

Dengan heran dan sangsi Pwe-giok coba merenungkan hal ini, akhirnya ia paham duduknya perkara, “Bisa jadi ayah Ki Song-hoa itu dipaksa orang atau demi mempertahankan nama baiknya maka dia sengaja pura-pura ingin merenungkan kesalahan yang pernah diperbuatnya, katanya ingin membaca kitab untuk merenungkan dosa, yang benar dia tidur saja di bawah sini. Tapi demi mengelabui mata telinga orang, dia sengaja membuat patung lilin ini. Di hari-hari biasa dia menaruh patung lilin ini di kamar berdinding kertas itu, karena orang lain toh tak berani mengganggunya, kalau dipandang dari jauh dengan sendirinya menyangka ia yang berduduk di kamar ini.”

Analisa ini sangat masuk diakal, Pwe-giok sendiri merasa puas dengan hasil pemikirannya ini. Tapi ia lantas menghela napas menyesal pula, sungguh tak terpikir olehnya bahwa ada sementara orang yang tampaknya sangat suci, kenyataannya justeru kebalikannya, rendah dan kotor perbuatannya.

Ia taruh lentera itu di atas almari, lalu coba membalik-balik kitab yang terletak di situ. Kitab-kitab itu ternyata buku bacaan umum dan bukan sebangsa kitab pusaka pelajaran ilmu silat segala.

Pwe-giok rada kecewa.

Mendadak dilihatnya ada satu jilid buku, di dalamnya terselip beberapa carik kertas yang bertuliskan kata-kata indah dan sanjak asmara. Tampaknya tulisan perempuan.

Pwe-giok menang serba bisa, baik ilmu silat maupun sastra, sekali pandang saja ia lantas paham arti yang terkandung dalam sanjak itu, yaitu sanjak rindu seorang perempuan terhadap kekasihnya.

Padahal patung lilin itu berperawakan kerdil sama seperti Ki Song hoa, mukanya juga lucu, masa orang macam begini juga bisa main roman, apakah mungkin ada perempuan yang jatuh cinta terhadap lelaki demikian?

Pwe giok tersenyum sambil menggeleng, ditaruhnya buku itu. Mendadak dilihatnya pula di bawah tempat tidur itu menongol ujung sebuah kantong kain bersulam, ia coba mengambilnya. Dari dalam kantung sulaman itu mendadak jatuh sepotong batu Giok yang berukir halus. Satu sisi batu kemala itu terukir gambar Bu-kek-to dan sisi lain cuma terukir satu huruf, yaitu “Ji”.

Batu kemala ini ternyata benda pusaka milik keluarga Ji Pwe-giok.

Sungguh luar biasa dan sukae dimengerti bahwa benda mestika keluarga Ji bisa ditemukan di tempat ini, sungguh suatu hal yang sukar dibayangkan.

Sampai lama Pwe-giok termangu-mangu, dilihatnya pula kantung kain itu bersulamkan potret seorang perempuan, matanya jeli, wajahnya sangat cantik, jelas potret Ki-hujin.

Di samping potret sulaman itu terdapat pula dua baris huruf yang berbunyi, “Semoga senantiasa berdampingan-dengan anda, mohon janganlah ditinggalkan.”

Lalu di sisi bawah tersulam pula nama yang menyulam tulisan itu, “Bi-nio”.

Dengan sendirinya Bi nio ini adalah nama Ki-hujin. Meski sulaman berbeda dengan tulisan tangan, tapi gaya tulisannya jelas serupa dengan sanjak tadi.

Pwe-giok dapat membayangkan betapa hampa perasaan Ki-hujin setelah bersuamikan lelaki kerdil macam Ki Song hoa, sebab itulah ia jatuh cinta pula kepada orang lain. Dan kekasihnya itu ternyata anggota keluarga Ji.

———————–

Selagi Pwe-giok termenung menung suara Ki-hujin seolah olah mengiang pula ditepi telinganya , “Dahulu ada seorang she Ji telah membunuh seorang yang sangat dekat denganku, karena itu dalam perasaanku setiap orang she Ji pasti bukan orang baik baik.”

Kalau dipikir sekarang, sebabnya Ki-hujin benci kepada orang she Ji tentunya bukan lantaran orang she Ji itu membunuh orang yang paling rapat dengan Ki-hujin, tapi disebabkan orang she Ji itu telah melukai hatinya.

Tentunya orang she Ji itupun terancam bahaya serupa Pwe-giok sekarang, lali Ki-hujin menyembunyikannya di gua rahasia ini. Tatkala mana ayah Ki song-hoa dengan sendirinya sudah lama meninggal, tapi pada masa hidupnya mungkin tak terpikir olehnya bahwa gua rahasianya yang digunakan menipu orang kemudian dapat digunakan anak menantunya untuk menyembunyikan kekasih gelap.

Bisa jadi Ki-hujin sudah lama kenal orang she Ji itu, mungkin cintanya baru timbul ketika melihat orang she Ji itu berada dalam bahaya. Pendek kata, orang she Ji itu jelas tidak setia pada hubungan cinta mereka dan akhirnya telah meninggalkan Ki-hujin.

Setelah orang she Ji itu pergi, hidup Ki-hujin lantas merana dan kehilangan gairah, terpaksa ia mencari hiburan di alam mimpi, makanya setiap hari Ki-hujin selalu berkeliaran kian kemari seperti orang linglung, seperti arwah halus.

Memandangi Ki-hujin yang cantik pada gambar yang tersulam di kantung itu, kemudian ia membayangkan pula Ki-hujin yang linglung itu, diam diam Pwe-giok menghela napas menyesal. Tapi iapun tidak dapat menerka sesungguhnya siapakah gerangan orang she Ji itu. Kalau dihitung usianya orang itu tentunya kerabatnya dari angkatan yang lebih tua, tapi jelas pasti bukan ayahnya.

Kisah cinta yang menyedihkan dan juga misterius ini, kecuali Ki-hujin dan si “dia” sendiri, mungkin tiada orang lain lagi yang tahu selukbeluknya.

Pwe-giok menghela napas panjang dan bergumam, “Agaknya orang itu akhirnya ingkar janji dan meninggalkan Ki-hujin, ia telah pergi dari sini… Tapi melalui mana dia pergi? jangan jangan di lorong bawah tanah ini masih ada jalan tembus lain?”

Berpikir demikian, semangat Pwe-giok terbangkit lagi, segera ia kesampingkan urusan lain, diangkatnya lentera tadi dan menyusuri lorong yang gelap itu.

Lorong di bawah tanah itu sempit lagi berliku liku san sangat panjang.

“Hampir dibawah setiap jengkal tanah pekarangan ini terdapat mayat korban yang dibunuh dan dikuburnya sendiri… ” teringat kepada keterangan Ki Leng-hong ini, tanpa merasa Pwe-giok berkeringat dingin pula.

Namun di lorong bawah tanah ini tiada terdapat sesuatu mayatpun, akhirnya Pwe-giok dapat mencapai ujungnya, Setelah diraba dan dicari sekian lamanya, akhirnya ditemukan tempat yang merupakan kunci pintu lorong itu. Sebuah papan batu pelahan lahan bergeser.

Dari luar segera menyorot masuk cahaya terang. Girang sekali Pwe-giok, lentera itu ditinggalkan dan segara ia menerobos keluar… sekonyong konyong sebuah tangan merangkul lehernya dengan erat. Tangan itu sedingin es.

“Akhirnya kau kembali juga, memang kutahu kau pasti akan kembali lagi!” demikian suara seorang berkata sambil tertawa terkikik kikik.

Tidak kepalang kaget Pwe-giok, cepat ia menengadah, dilihatnya orang yang merangkulnya itu ialah Ki-hujin, jalan tembus ini ternyata berada didalam kamar tidur Ki-hujin.

Ki-hujin terus menubruk kedalam pelukan Pwe-giok dengan air mata bercucuran katanya dengan suara gemetar, “O. betapa kejam kau, kau pergi tanpa pamit, sudah sekian lama siang dan malam kurindukan kau, saking gemas ingin kubunuh kau… Tapi sekarang kau sudah kembali lagi, rasanya aku dapat juga memafkan kau.”

Ternyata secara kebetulan Pwe-giok telah memasuki lagi kamar tidur Ki-hujin, malahan disangkanya sebagai kekasih sang nyonya rumah yang ingkar janji, keruan ia menjadi serba susah. Katanya dengan menghela napas, “Ki-hujin, kau salah mengenali orang, aku bukan orang yang kau rindukan itu, harap lepaskan diriku.”

Tapi makin erat Ki-hujin merangkulnya, ya menangis ya tertawa, katanya, “Sungguh kejam kau, sampai sekarang kau masih ingin menipu diriku. Tapi aku takdapat kau tipu lagi, takkan kulepaskan kau lagi, selamanya takkan kubebaskan kau.”

Tenpu saja Pwe-giok kelabakan, mendadak dilihatnya Ki Leng-hong juga berdiri disamping sana dengan girang ia lantas berseru “He, nona Ki, tentunya kau tahu siapa diriku ini.”

Ki Leng-hong memandangnya dengan dingin, mendadak ia berkata dengan tertawa, “Sudah tentu kutahu siapa kau, kau adalah orang yang senantiasa dirindukan ibu itu.”

“He, ken… kenapa kaupun sengaja membikin susah padaku?” seru Pwe-giok.

“Kau telah membikin ibu menderita sekian tahun, sekarang sudah waktunya kau menggirangkan hati ibu, ” ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum hambar.

Tidak kepalang kejut dan kuatir Pwe-giok, keringat dingin membasahi bajunya, ia ingin meronta namun rangkulan Ki-hujin teramat erat dan sukar melepaskan diri.

Dengan tertawa linglung Ki-hujin mendorong Pwe-giok berduduk di atas tempat tidur, dipegangnya tangan anak muda itu, katanya dengan mesra, “O, tahukah kau betapa kurindukan kau? Apakah kau baik-baik saja selama ini?”

“Aku… aku tidak… bukan… ” Pwe giok gelagapan.

Tapi sebelum lanjut ucapannya, Ki-hujin lantas berkata pula, “Kutahu kau pasti sangat lelah dan tidak ingin bicara. Tapi kita dapat bertemu pula setelah berpisah sekian lama, sungguh hatiku girang tak terperikan… He, Leng-hong, Kenapa tidak lekas kau ambilkan arak yang telah kusiapkan baginya, rayakanlah partemuan kembali kami ini.”

Ki Leng-hong benar-benar melangkah keluar untuk kemudian datang lagi dengan membawa sebuah poci arak yang berbentuk aneh dengan dua cawan batu kemala.

Setelah menuang secawan penuh dan disodorkan kepada Pwe-giok, dengan tertawa genit Ki-hujin berkata, “Sudah lama sekali tidak pernah kubergembira seperti ini, secawan arak ini harus kau minum.”

Pwe-giok tahu dalam keadaan demikian. biarpun dirinya putar lidah untuk menjelaskan juga tiada gunanya, terpaksa ia mengikuti perkembangan selanjutnya, dengan menghela napas iapun terima arak itu dan diminum habis.

“Nah, meman g harus begitu, ” kata Ki-hujin pula dengan lembut. “Ingatkah kau, waktu minum arak bersama dahulu pernah kau katakan padaku bahwa selamanya kau takkan meninggalkan diriku, apakah masih ingat?”

Pwe-giok menjawab dengan menyengir, “Aku.. .. ..aku….”

Dengan gaya menggiurkan Ki-hujin berbangkit katanya pula sambil menatap Pwe-giok, “Meski dahulu kau telah berdusta padaku, tapi setelah kau minum arak ini, selanjutnya kau takkan berdusta lagi.”

Pwe-giok terkejut, segera ia merasakan hawa dingin menerjang ke atas melalui perut, seketika kaki dan tangannya menggigil kedinginan, matapun berkunang-kunang. Tanyanya kaget, “He, arak ini beracun?!”

“Ya, arak ini disebut Toan-jong-ciu (arak perantas usus), ” tutur Ki-hujin dengan tertawa, “Setelah kau minum arak ini, kau tak dapat lagi pergi secara diam-diam.

“Tapi… tapi orang itu bukan diriku, bu ….kan diriku…” Pwe-giok melonjak dan berteriak takut. Belum habis seruannya, “bluk”, ia jatuh terkapar dan tak tahu lagi apa yang terjadi.

Ki-hujin menyaksikan robohnya Pwe-giok, suara tertawanya perlahan-lahan berhenti, air mata berbalik bercucuran, perlahan ia berjongkok dan membelai rambut anak muda itu, gumamnya, “Aku masih ingat, waktu pertama kalinya dia menerobos keluar dari lorong bawah tanah ini, tatkala mana aku sedang ganti pakaian. Aku terkejut dan gusar pula melihatnya munculnya secara mendadak itu. Tapi dia sedemikian cakap, sedemikian ganteng, dia berdiri di situ dan memandang diriku dengan tertawa, matanya …. ya matanya, pandangannya itu membuat aku tak berdaya . , . . ”

Seperti orang mengigau di waktu mimpi Ki-hujin mengenangkan kejadian di masa yang lampau, peristiwa yang menyenangkan dan menyusahkan itu seolah-olah berada pula di dalam hatinya, akhirnya dia mulai mencari lagi malam bulan purnama dalam mimpinya.

Hambar Ki Leng-hong memandangi sang ibu, katanya kemudian dengan pelahan, “Tatkala mana engkau tentunya sangat kesepian.”

“Kawin dengan suami begitu, perempuan mana yang takkan kesepian?” ucap Ki-hujin dengan hampa. “Kesepian, ya kesepian itulah mengakibatkan aku tertipu olebnya.”

“Tapi apapun juga dia cukup baik padamu bukan?” kata Ki Leng hong.

Wajah Ki-hujin tambah cerah, katanya dengan tertawa, “Betul dia memang cukup baik padaku, selama hidupku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti pada waktu itu. Seumpama aku tidak dapat melihat dia, asalkan terkenang padanya hatiku pun akan terasa manis dan bahagia.”

“Justeru lantaran kalian terlalu bahagia sewaktu berkumpul, maka setelah dia pergi kau lantas menderita, ” ujar Leng hong.

Tangan Ki-hujin tampak mengejang lagi, serunya dengan parau, “Betul! Aku menderita, aku tersiksa-siksa, aku benci….. ” jari tangannya mulai mengendur dan membelai rambut Pwe-giok lagi, lalu katanya pula, “Tapi sekarang aku tidak lagi benci padanya. Sekarang, seluruhhya dia sudah menjadi milikku, tiada seorangpun yang dapat merampasnya dari tanganku.”

“Cuma sayang, orang yang kau bunuh ini bukanlah si “dia” yang dulu itu, ” jengek Leng-hong.

Ki-hujin terbahak-bahak seperti orang gila, teriaknya, “Hahahaha, bohong kau, kau pun ingin menipu aku? Kecuali dia, siapa lagi yang dapat muncul dari lorong bawah tanah ini?”

“Meski lorong ini sangat dirahasiakan, tapi kalau si dia yang dahulu dapat menemukan lorong rahasia ini, orang yang sekarang berbaring di sampingmu ini dengan sendirinya juga dapat menemukannya, ” demikian tutur Leng-hong dengan perlahan. “Sebabnya, mereka sama-sama orang keluarga Ji, mereka sama-sama paham rahasia perhitungan Thay kek-to (Pat-kwa).”

Seketika berhenti suara tertawa Ki-hujin, teriaknya, “Tutup mulut…..”

Tapi Ki Leng-hong tidak menghiraukan dan menyambung pula, “Sebenarnya kau sendiri juga tahu orang ini bukanlah si dia, tapi kau sengaja menganggap orang ini adalah dia. Kau menipu diri sendiri, sebab hanya dengan cara begini kau dapat terlepas dari penderitaan.”

Mendadak Ki-hujin menjatuhkan diri di lantai dan menangis seperti anak kecil, serunya dengan suara parau, “O, mengapa kau sengaja membongkar isi hatiku? Mengapa kau bikin aku menderita.”

Kaku air muka Ki Leng-hong, ucapnya dingin, “Kau cuma tahu aku membikin kau menderita, tapi kau tidak tahu bahwa sudah lama kau membikin kami menderita, kau membikin kami menderita sejak dilahirkan. Leng-yan masih dapat menghindarkan penderitaan dengan dunia khayalannya, tapi aku…aku benci padamu!”

Sorot matanya yang dingin itu akhirnya mengembeng juga butiran air mata.

Mendadak Ki-hujin berbangkit, seperti orang kalap ia angkat Ji Pwe-giok dan meraung, “Kau bukan dia! Kau bukan dia! Jika kau bukan dia, untuk apa kau datang kemari…” sambil meraung ia terus melemparkan Pwe giok keluar jendela.

Cepat Ki Leng hong menyelinap keluar pintu, ia berdiri di serambi sana dan berteriak, “Ini dia Ji Pwe-giok sudah mati, lekas kalian kemari melihatnya!”

Suaranya juga sangat dingin, suara yang melengking dingin ini berkumandang jauh terbawa angin malam. Hanya sejejap saja dalam kegelapan muncul berbagai bayangan orang.

Orang yang melayang tiba lebih dulu adalah Pek-ho Tojin, berkat cahaya lampu yang menembus dari jendela dapatlah dilihatnya jenazah Ji Pwe-giok. Dirabanya tubuh yang tak bergerak itu, lalu berbangkit dan berkata dengan suara berat, “Betul, Ji Pwe-giok sudah mati!”

Anak murid Tiam-jong-pay yang sudah tiba berkata dengan menyesal, “Sungguh sayang kita tak dapat membunuh bangsat ini dengan tangan sendiri.”

Dengan suara bengis Pek-ho Tojin berseru, “Meski tak dapat kita bunuh bangsat ini, setelah mati mayatnya juga harus kita cincang…” di tengah bentakannya segera ia melolos pedang terus menusuk jenazab Ji Pwe-giok.

Mendadak terdengar suara “trang” sekali, pedang Pek-ho Tojin tahu-tahu mencelat, Ki Song-hoa telah berdiri di samping jenazah Ji Pwe-giok dengan berlagak tertawa.

Ternyata pedang Pek-ho Tojin tergetar mencelat oleh tangkisan Ki Song-hoa, keruan Pek-ho Tojin terkejut, serunya, “He.. Ki-cengcu, mengapa engkau bertindak demikian?” “Cut-keh-lang (orang yang sudah meningggalkan rumah, artinya orang yang sudah menjadi Tosu atau Hwesio) mana boleh bertindak sekejam ini, merusak mayat, hal ini sekali-kali tidak boleh kau lakukan, ” kata Ki Song-hoa dengan perlahan.

Pek-hoa Tojin melengak, jengeknya kemudian, “Hm, mulai kapan Ki cengcu berubah menjadi welas-asih?”

“Apa?” Ki Song-hoa mendelik gusar. “Bilakah aku tidak welas-asih?”

Bahwa Sat-jin-cengcu mengaku sebagai orang yang welas-asih, sunggub Pek-hoa Tojin merasa geli dan juga mendongkol, tapi demi ingat betapa lihay caranya orang membikin pedangnya mencelat tadi mau-tak-mau ia rada jeri, katanya sambil memberi hormat, “Ya, maafkan ucapan Teecu yang tidak pantas… Bukan Teeca tidak tahu welas-asih, soalnya dosa Ji Pwe-giok ini teramat besar dan tak terampunkan, jika dia mati begini saja, rasanya belum cukup untuk menebus dosanya.”

“Betapapun besar dosanya waktu hidup, kalau sudah mati, ya lunas seluruhnya, ” ujar Ki Song-boa. “Di dunia ini hanya orang matilah yang paling sempurna, orang hidup harus menaruh segenap hormatnya kepada orang mati.”

Pek-hoa tojin tidak dapat membantah perkataan ini dan berkata, “Toh dia sudah mati, mengapa kau masih…” Ki Song-hoa memotong dan berkata dengan sungguh-sungguh “Ini adalah perkampunganku, orang-orang mati adalah tamu-tamu sejati perkampungan ini. Jika dia masih hdup, kau bebas untuk melakukan apa saja padanya. Tapi sekarang dia menjadi tamuku dan menjadi tanggung jawabku untuk mengurusnya.”

Pek-hoa tojin berkata, “Baiklah jika demikian. Kami akan pergi sekarang. Kami akan membawa mayatnya. Meskipun dia telah membunuh guru kami, dia tetap murid Kun-lun. Terima kasih atas kesediaan anda menampung kami.”

Ki Song-hoa berkata, “Aku tidak peduli apakah ketika dia masih hidup dia murid Kun-lun atau Hoa-san. Setelah dia mati, tubuhnya menjadi milikku. Siapa yang ingin membawanya harus mengalahkanku terlebih dahulu.”

Ki Song-hoa berdiri siap menghadapi siapapun yang berani membawa tubuh Pwe-giok. Murid-murid Kun-lun dan Tiam-jong saling memandang kehabisan akal mau berbuat apa. Pek-hoa akhirnya berkata, “Betapapun juga, Ji Pwe-giok kini telah meninggal! Dendam kematian guru kita telah terbalas, lebih baik kita mematuhi kehendak Ki cengcu”

Ki Song-hoa cepat-cepat lari sambil membawa tubuh Ji Pwe-giok.

Ki Leng-hong berdiri mengawasi apa yang terjadi dengan dingin. Kelihatannya, dia sudah menduga akhirnya jadi begini.

Pek-hoa tojin ingin mengatakan sesuatu tapi Ki Song-hoa sudah pergi berlalu.

Pek-hoa menghentakkan kakinya dan berkata dengan marah, “Seluruh orang di perkampungan ini idiot semua! Mari kita cepat-cepat pergi menjauh dari tempat terkutuk ini.”

Ki Song-hoa mengganti pakaian Ji Pwe-giok dan membersihkan debu kotoran di wajahnya.

Mungkin di dunia ini tiada orang lain lagi yang begini lembut memperlakukan sesosok mayat.

Habis itu, Cengcu kerdil itu mendapatkan sebuah cangkul di balik semak-semak pohon sana dan mulai menggali. Dari sorot matanya tampak rasa gembira yang kelewat batas, tapi di mulut dia justeru bergumam dengan menyesal, “O, anak yang harus dikasihani, masih muda belia begini kau sudah mati, sungguh sangat sayang. Salahmu sendiri, tidak mau turut pada nasibatku, kalau tidak masakah kau sampai mati diracuni perempuan siluman itu.”

“Jika dia turut kepada perkataanmu, mungkin dia akan mati terlebib mengerikan, ” demikian mendadak suara seorang menanggapi. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang kelihatan sesosok bayangan berdiri di samping sana, siapa lagi kalau bukan Ki Leng-hong.

—–

Benarkah Ji Pwe-giok telah mati?

Sebenarnya apakah yang terjadi?

Misteri apa dibalik hubungan Ki-hujin dengan orang she Ji yang dirindukannya itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: