Kumpulan Cerita Silat

14/05/2010

Renjana Pendekar – 04

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:43 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Rsukmana, dan Sisilain)

Pwe-giok tidak gentar, ia hadapi serangan musuh dengan serangan yang sama ganasnya, ia bertempur dengan kalap, betapapun serangan kilat Cia Thian-pi menjadi terdesak oleh terjangan Pwe-giok yang nekat itu.

“Sret-sret-sret”, tahu-tahu baju Pwe-giok tergores robek tiga tempat, darahpun tampak merembes keluar dari pundaknya, tapi hanya sekejap saja darah sudah lenyap diguyur air hujan.

Ang Lian-hoa ikut berdebar-debar menyaksikan pertarungan sengit itu, butiran keringat memenuhi dahinya. Sudah banyak pengalaman tempurnya, tapi belum pernah ada pertarungan sengit serperti sekarang ini. Mendadak ia menemukan pemuda yang berwatak keras ini meski setiap hari tutur-katanya lembah lembut tapi dikala bertempur ternyata gagah perkasa luar biasa, sungguh pahlawan yang belum pernah dilihatnya.

Setiap orangpun dapat melihat bahwa meski semangat tempur Ji Pwe-giok belum runtuh, namun apa daya, maksud ada, tenaga tak sampai.

Tapi dalam keadaan demikian bilamana ada orang hendak membantunya, pemuda yang berwatak keras itu bisa jadi akan marah dan mungkin akan membunuh diri malah.

Terpaksa Ang Lian-hoa hanya menghela napas saja dan diam-diam menyesal. Dilihatnya Cia Thian-pi dari menyerah sudah berubah menjadi bertahan, jelas dia sengaja hendak menguras habis dulu tenaga Pwe-giok, habis itu baru melancarkan serangan mematikan.

Daya serangan Pwe-giok masih tetap dahsyat, namun belum dapat membobol pertahanan lawan, sebaliknya tubuhnya entah sudah bertambah berapa luka pula.

Hujan semakin deras, angin bertambah kencang, jagat raya ini diliputi kegelapan melulu, inilah cuaca yang menyeramkan dan menyedihkan, inipun pertarungan maut yang mengerikan. Melihat Pwe-giok masih terus bertempur dengan mandi darah, sekalipun Ang Liang-hoa berhati baja juga tidak tahan mencucurkan air mata.

Sekonyong-konyong langkah Pwe giok terhuyung, bagian dada jadi terbuka. Pucat wajah Ang Lian-hoa, ia menjerit kuatir. Dalam keadaan demikian, sekalipun dia ingin menolong juga tidak keburu lagi.

Terlihat pedang Cia Thian-pi telah menusuk ke depan, ke dada Pwe-giok yang tak terjaga itu. Serangan cepat ganas. Remuk redam hati Ang Lian-hoa, seketika ia cuma memejamkan mata saja, ia tidak sampai hati untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi.

Sinar kilat berkelebat, tertampak wajah Cia Thian-pi yang pucat itu penuh diliputi napsu membunuh, ia menyeringai seram, ia yakin tusukannya itu pasti tidak akan meleset. Tapi cahaya kilat yang gemerdep itu telah membuat matanya ikut berkedip.

Pada saat itu juga lantas terdengar suara “bluk” satu kali, entah dengan cara bagaimana kedua tangan Ji Pwe-giok telah dapat menjepit pedangnya.

Seketika Cia Thian-pi merasakan pedangnya terjepit oleh sesuatu, seperti terjepit oleh tanggam yang kuat dan tak dapat bergerak lagi. Menyusul Pwe-giok lantas menggeser maju, sekali menyikut, “brek”, dengan tepat dada Cia Thian-pi kena disodok.

Kontan pandangan Cia Thian-pi menjadi kabur, sakitnya tidak kepalang, pada saat itulah tangan Pwe-giok juga lantas melayang tiba, “plok”, dengan tepat mukanya kena digampar sehingga dia tergetar setengah lingkaran.

Menjepit menyikut dan menggampar, tiga gerakan itu se-akan2 dikerjakan sekaligus dalam waktu sekejap. Begitu sinar kilat tadi habis berkelebat, lalu menggelegarlah bunyi guruh.

Pwe-giok terus menubruk maju lagi, ia rangkul tubuh Cia Thian-pi, kedua lengannya seperti tanggam kuatnya, tulang dada Cia Thian-pi tergencet seakan-akan remuk seluruhnya, ingin bersuara saja tidak mampu.

Air muka Cia Thian-pi dari pucat berubah menjadi kemerahan dan kembali pucat pula, sedangkan muka Pwe-giok juga pucat seperti mayat, kedua tangannya mengunci tubuh musuh dengan kuat, terdengar suara napas Cia Thian-pi mulai megap-megap, lalu menjadi lemah, menyusul lantas terdengar suara “gemeretak”, tulang dadanya sama patah.

Tidak kepalang kagum dan girang Ang-lian-hoa, baru sekarang ia sempat berseru, “Jangan dibunuh dulu, harus kita tanyai sejelasnya.”

Pelahan Pwe-giok melepaskan kedua tangannya, lalu menyurut mundur dengan sempoyongan seakan-akan roboh, ia menengadah dan tertawa, serunya, “Akhirnya sudah kulaksanakan… sudah kulaksanakan…”

Tubuh Cia Thian pi lantas terkulai dengan lemas dan tak bergerak lagi.

Ang-lian-hoa menarik tangan Pwe giok, dengan berseri-seri ia berkata, “Apakah jurus ini adalah kepandaian Ji-locianpwe yang pernah menggetarkan dunia Kangouw di masa lalu, yaitu jurus Leng-yang-kua-kak (kambing benggala menggaet tanduk), jurus serangan maut andalan Bu-kek-pay?”

Pwe-giok tersenyum pedih, jawabnya, “Tapi selama hidup ayah belum pernah mencelakai orang dengan jurus serangan ini, sebaliknya sekarang Siaute…” mendadak ia menunduk, butiran air pun berderai, entah air hujan, entah air mata?

“Sungguh jurus serangan yang aneh dan lihay!” ujar Ang-lian-hoa dengan gegetun. “Jurus serangan ini sungguh sukar dicari cirinya dan timbul dalam keadaan kepepet. Ilmu sakti kaum Cianpwe sungguh luar biasa, sekarang barulah mataku benar-benar terbuka.”

Dia menepuk pundak Pwe giok, lalu berseru pula dengan tertawa, “Kau sendiri memiliki ilmu sakti ini, mengapa tidak sejak tadi kau keluarkan sehingga membikin aku kuatir bagimu?”

“Siaute … Siaute… ” Pwe-giok tidak sanggup melanjutkan, mendadak ia jatuh mendekap Ang-lian-hoa, nyata ia telah kehabisan tenaga, sampai berdiri saja tidak kuat.

Cepat Ang-lian-hoa mengeluarkan sebiji obat dan dijejalkan ke mulut Pwe-giok, katanya, “Inilah Siau-hoan-tan Kun-lun-pay yang terkenal, khasiatnya menambah tenaga dan menimbulkan semangat, obat yang tiada bandingannya di dunia ini.”

Mulut Pwe giok terasa sedap dan harum, serunya, “Siau-hoan-tan katamu? Obat yang sukar dicari ini mengapa… mengapa kauberikan padaku?”

Ang-lian-hoa terdiam sejenak, katanya kemudian dengan sedih, “Obat ini bukan aku yang memberikan padamu, tapi Thian-kang Totiang …”

“Suhu?” Pwe giok melengak. “Dia…. beliau mengapa …. ”

“Obat ini kukeluarkan dari bola nasi yang kau terima dari orang tua itu, ” tutur Ang-lian-hoa dengan gegetun. “Semula kukira di dalam bola nasi itu ada racunnya, siapa tahu …siapa tahu ….”

Pwe giok tertunduk muram dengan air mata bercucuran, katanya, “Pantas beliau bilang bola nasi ini tidak dapat dimakan sembarang orang. Cia Thian-pi, kau jahanam, kau bangsat!. . .. ” Dengan gemas ia berpaling ke sana, tapi mendadak air mukanya berubah pucat pula.

Mayat Cia Thian-pi masih terkapar di pecomberan sana, tapi kepalanya sudah tidak kelihatan lagi. Padahal sejak tadi hujan masih turun dengan lebatnya, di sekitar sini tiada terlihat bayangan orang lain, lalu ke mana perginya kepala Cia Thian-pi?

Ang-lian-hoa dan Ji Pwe-giok saling pandang dengan bingung. Kalau kepala Cia Thian-pi dipenggal orang, hal ini tidak mungkin terjadi. Bila dikatakan kepalanya tidak dipotong orang, lalu apakah kepalanya dapat terbang sendiri?

Cerdik dan pandai Ang-lian-hoa, masih muda belia sudah mengetuai sebuah organisasi terbesar di dunia ini, boleh dikatakan tokoh muda yang tiada taranya di jaman sekarang, Tapi meski dia sudah peras otak, tetap sukar memecahkan teka-teki ini.

Setelah melenggong sejenak, ketika ia menunduk dan rnemandang lagi hanya sekejap itu bagian pundak dan dada Cia Thian-pi ternyata sudah lenyap pula.

Mendadak Ang-lian-hoa menepuk pundak Pwe-giok dan berseru, “Aha, tahulah aku!”

“Kau tahu?” Pwe-giok menegas.

“Coba berjongkok dan periksalah yang teliti, ” kata Ang-lian-hoa.

Waktu Pwe-giok melongok pula ke bawah, dilihatnya mayat Cia Thian-pi itu sedikit demi sedikit telah membusuk, darah daging yang merah segar itu secara aneh berubah menjadi cairan kuning, lalu lenyap diguyur air hujan.

Pwe-giok merasa mual dan hampir saja tumpah-tumpah, cepat ia berpaling ke arah lain dan menarik napas dalam-dalam, katanya kemudian, “Jangan-jangan inilah Hoa-kut-tan (obat pemusnah tulang) yang tersiar di dunia Kangouw itu?”

“Ya, betul, ” jawab Ang-lian-hoa. “Rupanya dia tahu pasti akan mati, maka dia rela melebur dirinya menjadi cairan.”

“Tapi kedua tangannya sudah patah tergencet, cara bagaimana dia dapat mengambil obatnya?” tanya Pwe-giok pula.

“Mungkin sebelumnya Hoa-kut-tan itu sudah dikulum di dalam mulutnya, setelah menyadari akan kematiannya, kapsul obat lantas dikunyahnya. Kalau Hoa-kut-tan itu masuk darah, segera terjadi pembusukan. Ai, dia lebih suka menerima nasib demikian daripada membocorkan rahasia komplotannya, sebab dia tahu hanya orang mati saja yang benar-benar tidak dapat membocorkaa lagi sesuatu rahasia.

“Tak tersangka, orang ini pun jantan sejati, ” kata Pwe-giok.

“Salah besar jika demikian pendapatmu, ” ujar Ang-lian-hoa dengan tersenyum getir.

“Yang benar, dia tidak berani mernbocorkan rahasia komplotan jahat mereka, sebab kalau sampai rahasianya diketahui orang luar, maka kematiannya akan jauh lebih mengerikan daripada sekarang ini.”

“Betul, tampaknya mereka semuanya begitu, lebih baik mati daripada membocorkan rahasia mereka, ” ujar Pwe-giok.

“Tapi siapakah sebenarnya pimpinan mereka? Mengapa dapat membuat orang-orang ini sedemikian takut padanya?….Mati, hal ini sebenarnya cukup menakutkan setiap orang di dunia ini. Masa pimpinan mereka ini jauh lebih menakutkan daripada soal “mati”?”

“Dia memang benar lebih menakutkan daripada mati, ” gumam Ang-lian-hoa. “Saat ini aku pun tak dapat membayangkan betapa menakutkannya dia itu…”

“Ah, betul, ” seru Pwe-giok mendadak seperti menemukan sesuatu, “sebabnya Cia Thian-pi ini bertindak nekat, jelas karena dia tahu bila orang sudah mati, maka tidak mungkin lagi dapat membocorkan sesuatu rahasia, tapi kalau dia sendiri mati toh tetap rahasianya bisa terbongkar, kalau tidak, mengapa dia mesti melebur tubuhnya sendiri hingga menjadi cairan?”

“Orang mati juga dapat membocorkan rahasia, maksudmu?” gumam Ang-lian-hoa sambil berkerut kening.

“Ya, orang mati terkadang juga dapat membocorkan rahasia!” ucap Pwe giok tegas, sekata demi sekata.

“Rahasia apa?” tanya Ang-lian-hoa.

“Rahasia penyamarannya!” jawab Pwe-giok.

Ang-lian-hoa melenggong, sejenak kemudian ia menepuk jidat sendiri dan berseru, “Aha, memang betul. Dia kuatir setelah mati mukanya dapat kita kenali, sebab inilah rahasia mereka yang terbesar.”

“Justeru lantaran kuatir rahasia mereka ini bocor, maka pimpinan komplotan jahat ini menyiapkan Hoa-kut-tan bagi mereka, bila perlu, bukan jiwa mereka saja harus melayang, mayat mereka pun harus dilenyapkan!” seru Pwe-giok dengan menggreget dan meremas tangan Ang-lian-hoa, lalu sambungnya pula, “Sekarang kutahu, sedikitnya ada enam orang yang kuketahui adalah palsu di dunia ini, kecuali diriku sendiri ternyata tiada orang lain lagi yang mau percaya dan dapat melihat kepalsuan mereka. Yang mengerikan adalah, kecuali keenam orang yang sudah kuketahui itu masih ada berapa orang pula yang dipalsukan? Inilah yang sulit diketahui dan benar-benar mengerikan.”

Air muka Ang-lian-hoa juga guram seperti cuaca yang mendung ini. Sebenarnya dia seorang tokoh yang periang, jarang ada persoalan yang dapat membuatnya sedih dan bingung. Tapi sekarang, hatinya benar-benar tertekan dan agak cemas.

Dengan suara gemetar Pwe-giok berucap pula, “Umpamanya kalau sanak-kadangmu, sampai ayahmu sendiri pun bisa jadi anggota komplotan jahat itu, lalu di dunia ini siapa pula yang dapat kau percayai? Dan kalau di dunia ini sudah tiada seorang pun yang dapat kau percayai, apakah engkau masib sanggup hidup terus? Bukan… bukankah peristiwa ini tidak dapat kau bayangkan?!”

“Cia Thian-pi palsu sudah mati, sekarang tinggal siapa-siapa saja anak buah komplotan jahat itu yang palsu?” tanya Ang-lian-hoa dengan tenang.

“Ong Uh-lau, Lim Soh-koan, Ong Liong-ong dari Thay-oh, Sim Cin-jiang, Sebun Bu-kut dan dan orang yang mengaku she Ji itu, sebab kutahu dengan pasti keenam orang ini sesungguhnya sudah meninggal semua.””

Ang lian-hoa menghela napas panjang, katanya, “Kecuali keenam orang ini, mungkin tidak banyak lagi yang dipalsukan.”

“Cara bagaimana kau berani memastikannya?” “Sebab hal ini bukan tindakan yang mudah. Untuk memalsukan pribadi seseorang dan harus dapat mengelabui mata-telinga orang banyak, sedikitnya diperlukan waktu latihan bertahun-tahun lamanya, kalau tidak, biarpun mukanya serupa, tapi suaranya, gerak geriknya, sikapnya,tetap akan diketahui orang. Apalagi ilmu silatnya…”

“Aha, betul, ilmu silatnya!” seru Pwe-giok.

“Jika mereka hendak memalsukan pribadi seseorang, mereka juga harus mahir menirukan ilmu silatnya.”

Habis berkata mendadak ia putar tubuh dan berlari ke sana.

Namun Ang-lian-hoa keburu melompat dan menghadang di depannya, ucapnya dengan tenang, “Leng yang-koa kak, betul tidak?”

“Betul, jurus serangan ini kecuali kami ayah dan anak, di dunia ini tiada orang lain lagi yang mampu memainkannya, ” seru Pwe-giok.

“Jika orang yang mengaku she Ji itu tidak mampu memperlihatkan jurus serangan khas ini, maka terbuktilah kepalsuannya.”

“Gagasan ini memang suatu cara yang bagus, ” ujar Ang-lian-hoa dengan gegetun.

“Cuma sayang, perangai ayahmu membuat gagasanmu ini menjadi tiada gunanya.”

“Sebab apa?” tanya Pwe giok.

“Kau tahu perangai yang ramah dan sabar, arif dan bijaksana, setiap orang Bu-lim tahu budi ayahmu yang luhur. Sekarang coba jawab, andaikan beliau masih hidup, adakah orang yang dapat memaksa beliau mengeluarkan ilmu simpanannya yang khas ini?”

Sampai lama Pwe-giok melenggong, akhirnya ia jatuh terduduk.

—0O0— —0O0—

Disiram oleh air hujan lebat, mayat “Cia Thian-pi” itu sudah hilang tak berbekas lagi. Dia telah lenyap dari muka bumi ini, tapi sesungguhnya siapa dia?

Di dunia ini sebenarnya tiada Cia Thian pi kedua, jika demikian, yang baru saja lenyap ini kan seharusnya memang tidak ada. Berpikir demikian, Ang-lian-hoa tidak tahu harus menangis atau mesti tertawa. Sungguh ia tidak berani memikirkannya lagi, bilamana hal-hal demikian banyak dipikir, sungguh bisa membikin gila.

Dipandangnya tempat mayat yang sudah bersih itu, gumamnya, “Pembunuh Thian kang Totiang sudah mati, tapi kalau dibicarakan, siapakah gerangan pembunuhnya, siapa yang dapat membuktikan beradanya si pembunuh ini?”

Melihat sikap Ang-lian hoa yang cemas itu, Pwe-giok jadi merinding, katanya kemudian, “Engkau juga tidak perlu…”

“Jangan kuatir, ” seru Ang-lian-hoa dengan tertawa, “meski ada maksudku akan menebus dosa tapi tidak nanti kutebus kesalahanku dengan kematian. Aku masih ingin hidup terus, tidak nanti kupenuhi kehendak mereka.”

Pwe-giok merasa lega, katanya, “Ya, kutahu engkau bukan manusia biasa, engkau memang lain daripada yang lain.”

Ang-lian-hoa menengadah, membiarkan air hujan menuang ke mukanya, katanya pula dengan pelahan, “Sekarang, ada suatu urusan mau-tak mau harus kukerjakan.”

“Engkau akan pergi ke Kun-lun-san?” tanya Pwe-giok dengan tatapan tajam.

“Anak murid Kun-lun berhak mengetahui berita duka Thian-kang Totiang dan aku berkewajiban menyampaikan berita ini kepada mereka!”

“Tapi pekerjaan di sini juga tidak boleh ditinggal pergi olehmu, ” ujar Pwe-giok dengan suara berat. “Perjalanan ke Kun-lun biarlah kuwakilkan kau ke sana.”

Di antara mereka tiada lagi kesungkanan, tiada tolak menolak, tiada percakapan yang tidak perlu, juga tidak ada duka-cita yang tidak perlu, lebih-lebih air mata yang tidak perlu. Sebab keduanya sama-sama lelaki sejati, sama-sama jantan perkasa. Keduanya berdiri berhadapan di bawah curahan hujan.

“Baiklah, pergilah kau, ” kata Ang lian-hoa kemudian. “Tapi kau harus hati-hati, urusan yang tidak perlu ikut campur hendaklah jangan ikut campur. Jangan lupa, jiwamu sekarang jauh lebih bernilai daripada jiwa orang lain.”

“Kutahu, ” jawab Pwe-giok singkat. Dilihatnya pedang tadi, dijemputnya dan disisipkan pada ikat pinggang, bisa jadi di tengah jalan pedang itu akan berguna.

Tiba-tiba Ang-lian-hoa tertawa dan berkata pula, “Ah, lupa kuberitahukan sesuatu padamu.”

“Urusan apa?” tanya Pwe-giok dengan nada was-was.

“Urusan baik” kata Ang lian-hoa “Tentang bakal istrimu, Lim Tay-Ih, kau tidak perlu berkuatir lagi baginya.”

Entah mengapa, bila menyebut nama Lim Tay-ih, seketika sikap Ang Lian-hoa berubah kikuk, biarpun tertawa juga tertawa setengah dipaksakan.

Dengan sendirinya Pwe-giok tidak memperhatikan sikap orang, ia bertanya, “Sebab apa? Adakah dia…”

“Saat ini dia telah berada di bawah lindungan seorang tokoh yang paling sulit direcoki di seluruh dunia ini.”

“Ya, di bawah perlindungan Ang lian pangcu, memangnya apa yang perlu kukuatirkan lagi?”

Sikap Ang Lian-hoa berubah pula, tapi segera ia berkata dengan tertawa, “Kau jangan salah tampa, bukan diriku.”

“Orang yang paling sulit direcoki di dunia ini siapa lagi kalau bukan dirimu? Apa Jut-tun Totiang?”

“Nama orang ini mungkin tidak lebih terkenal daripada Jut-tun Totiang, tapi orang lain andaikan berani merecoki Jut-tun Totiang tentu juga tidak berani mengusik orang ini.”

“Aha, bunga paling cantik ialah Hay-hong” seru Pwe-giok.

Ang lian-hoa berkeplok, katanya, “Betul, memang dia. Agaknya iapun melihat sesuatu yang tidak beres, maka iapun ikut campur. Kalau dia sudah menangani sesuatu urusan, tidak nanti ditinggalkannya setengah jalan.”

“Wah, tampaknya persoalannya tidak sederhana sebagaimana kita sangka, masih banyak orang lagi yang…”

“Wah, celaka! Aku melupakan sesuatu lagi!” teriak Ang Lian-hoa mendadak.

“He, urusan baik atau buruk?” tanya Pwe-giok.

“Cia Thian-pi palsu muncul di sini, jangan-jangan Cia Thian-pi yang tulen telah mengalami nasib buruk, harus lekas kupergi menjenguknya!” belum habis ucapannya tahu-tahu Ang Lian-hoa sudah melayang pergi secepat terbang.

Memandangi kepergian ketua kaum jembel yang muda dan perkasa itu, Pwe-giok menghela napas panjang, ya kagum, ya terharu, ya berduka….

-oOo-

Hujan sudah mereda, tapi belum berhenti, masih gerimis. Anginpun masih meniup, bahkan tambah dingin.

Dengan langkah berat Pwe giok meneruskan perjalanan, hari depannya terasa guram, sama seperti cuaca yang kelam sekarang ini, sekonyong-konyong terdengar derapan kuda lari yang riuh. Tujuh atau delapan penunggang kuda membedal lewat, air jalanan yang kotor menciprati tubuh Ji Pwe giok. Namun pemuda itu sama sekali tidak peduli, mengangkat kepala saja tidak.

Tak terduga, baru saja barisan pemuda itu lewat seseorang mendadak melayang balik dari kudanya dan menubruk ke arah Pwe-giok.

Dengan terkejut Pwe-giok menyurut mundur dan orang itupun turun di depannya. Dilihatnya orang ini berpakaian hitam ketat dan basah kuyup oleh air hujan. Sorot matanya tajam, jelas dikenalnya sebagai pemuda anggota Tiam-jong-pay itu.

Tergerak hati Pwe-giok teringat olehnya ucapan Ang-lian-hoa tadi, tanpa terasa ia berkata, “Jangan-jangan… jangan-jangan terjadi sesuatu atas diri Cia-tayhiap”

Murid Tiam-jong-pay itu sebenarnya sedang memberi hormat, demi mendengar ucapan Pwe-giok itu, mendadak ia mengangkat kepalanya dan bertanya, “Darimana Ji-kongcu mendapat tahu?”

“0, aku…aku…” Pwe giok menjadi gelagapan dan tak dapat menjawab.

Murid Tiam-jong-pay itu menarik muka, katanya dengan suara bengis, “Waktu melihat Ji-kongcu, sebenarnya Tecu hendak menyampaikan berita duka, tak tersangka Ji-kongcu ternyata sudab tahu lebih dulu, bukankah sangat aneh?”

“Ah, Cayhe cuma omong iseng saja, ” ujar Pwe-giok dengan tersenyum kecut.

Murid Tiam-jong-pay itu menjengek, “Semalam Ciangbunjin kami baru lenyap dan hingga kini belum diketahui jejaknya, kejadian inipun baru dilaporkan kepada Jut-tun Totiang dan Thian-in Taysu pada siang tadi, sedangkan Ji-kongcu sudah berangkat pagi-pagi, darimanakah engkau mendapat tahu malah?”

Nadanya ternyata tajam dan mendesak, seakan-akan mengangap Ji Pwe-giok ada sangkut-pautnya dengan persoalan ini. Beberapa penunggang kuda tadi juga sudah putar balik, mereka sama melototi Pwe-giok dengan pandangan sangsi dan benci,

Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian, “Bisa jadi, Cia-taihiap hanya keluar untuk berjalan-jalan saja. mungkin pula bertemu dengan sahabat dan diajak pergi. Dengan ilmu silat Cia-tayhiap yang tinggi, kuyakin beliau sanggup menjaga dirinya sendiri.”

Murid Tiam-jong-pay tadi berkata pula, “Setiap anak murid Tiam-jong, pedang ada orang ada, pedang hilang orang gugur. Istilah ini tentu Ji-kongcu pernah mendengarnya. Tapi pagi tadi kami justeru menemukan pedang Ciangbunjin terjatuh di semak-semak rumput di luar kemah, apabila tiada kejadian yang luar biasa, rasanya tidak mungkin Ciangbunjin bertindak seceroboh itu dengan meninggalkan pedangnya di sembarang tempat.”

“Kupikir ini… ini…” Pwe-giok jadi gelagapan, mendadak ia merasakan banyak rahasia yang diketahuinya ternyata sukar diuraikan. Andaikan diceritakan juga orang lain takkan percaya.

Mendadak salah seorang penunggang kuda itu menegur, “Saat ini mengapa Ji kongcu berada sendirian? Ke mana perginya Thian-kang Totiang?”

Seorang lagi ikut berteriak bengis, “Mengapa keadaan Ji-kongcu juga serba kumal begini? Jangan-jangan habis bergebrak dengan orang?”

“Di sekitar sini tiada nampak seorang lain, dengan siapakah Ji-kongcu bertempur?” tanya pula seorang lain.

Pertanyaan anak murid Tiam jong-pay itu tiada satu pun dapat dijawab Pwe-giok, betapapun dia tidak dapat menerangkan bahwa Thian-kang Totiang dibunuh oleh “Cia Thian-pi”, ia pun tak bisa mengatakan bahwa “Cia Thian-pi” itu palsu, sebab “Cia Thian-pi” itu itu sudah musnah, dengan sendirinya tiada terdapat lagi seorang “Cia Thian-pi”.

Dengan meraba pedangnya murid Tiam jong pay itu bertanya pula dengan gusar; “Mengapa Ji-kongcu tidak bicara?”

“Bila kalian menyangsikan hilangnya Cia-tayhiap ada sangkut-pautnya dengan diriku, maka hal ini sungguh lucu, apalagi yang dapat kukatakan?”

Air muka murid Tiam jong itu berubah lebih ramah, katanya, “Jika demikian, sebelum urusan ini menjadi jelas, sebaiknya Ji-kongcu ikut kami pulang dulu, sebab mungkin ada urusan lain yang tak dapat Ji-kongcu katakan kepada kami, tapi kepada Bengcu tentu dapat engkau beberkan sejelas-jelasnya.”

“Tidak, aku tidak boleh kembali ke sana, ” jawab Pwe giok tegas.

“Mengapa tidak boleh?” bentak para murid Tiam-jong-pay itu.

“Jika tidak berbuat sesuatu kesalahan, mengapa tidak berani kembali ke sana?” demikian mereka berteriak-teriak sambil melompat turun dari kuda masing-masing, semuanya melolos pedang dan siap tempur.

Murid Tiam-jong-pay yang menjadi kepala rombongan itu membentak; “Ji Pwe-giok, apa pun juga alasanmu, kau harus ikut pulang ke sana bersama kami!”

Butiran keringat yang memenuhi dahi Pwe-giok itu berderai ke bawah diguyur oleh air hujan, tangan dan kakinya terasa dingin. Belum lagi dia menjawab, mendadak dari kejauhan ada seorang menjengek, “Ji Pwe giok, kau tidak perlu kembali ke sana!”

Tujuh atau delapan Tojin berbakiak dan membawa payung tampak berlari datang di bawah hujan. Jelas mereka adalah murid Kun lun pay.

Murid Tiam-jong-pay tadi menanggapi dengan suara keren, “Meski orang ini terhitung murid Kun-lun-pay, tapi dia tetap harus ikut kembali ke sana bersama kami. Selamanya Tiam jong dan Kun-lun bersahabat, tapi persoalan ini menyangkut mati-hidup Ciangbunjin kami, maka hendaklah para Toheng tidak marah kepada sikapku yang kurang sopan ini.”

Air muka para Tojin Kun-lun-pay tampak jauh lebih kelam dan menakutkan daripada murid Tiam-jong-pay, Tojin yang menjadi kepala rombongan berwajah putih dengan jenggot yang jarang-jarang, dengan sorot mata yang tajam ia tatap Pwe giok, katanya, “Tidak perlu kau kembali ke sana, bahkan tidak perlu lagi ke mana-mana.”

Pwe-giok menyurut mundur, murid Tiam jong-pay tadipun heran, tanyanya, “Apa artinya ucapanmu ini?”

Pek-bin Tojin atau si Tojin bermuka putih tersenyum pedih, katanya, “Meski jejak Ciangbunjin kalian tidak diketahui ke mana perginya tapi Ciangbunjin kami justeru… justeru…” mendadak “krek”, payung jatuh ke tanah, batang payung telah diremasnya hingga hancur.

Murid Tiam-jong-pay terkejut, serunya; “Apakah… apakah… Thian-kang Totiang telah…. telah wafat…”

“Guru kami telah disergap orang, telah meninggal tertikam pedang dari belakang, ” seru Pek-bin Tojin dengan suara parau.

Terperanjat anak murid Tiam-jong-pay itu, katanya; “Kungfu Thian-kang Totiang luar-dalam sudah terlatih sempurna, daun jatuh dalam jarak beberapa tombak saja tak dapat mengelabui beliau, sungguh kami tak percaya bahwa beliau kena disergap orang.”

Dengan menggereget Pek-bin Tojin menjawab, “Orang yang menyergapnya dengan sendirinya adalah orang yang berhubungan sangat rapat dengan beliau, seorang yang tidak pernah dicurigai beliau, sebab beliau tidak percaya bahwa orang ini ternyata manusia yang berhati binatang.”

Belum habis ucapannya, berpasang-pasang mata yang beringas sudah melototi Ji Pwe Giok, semuanya penuh rasa gemas dan dendam.

Dengan suara serak Pek Bin Tojin lantas membentak, “Nah, Ji Pwe Giok, cara bagaimana meninggalnya Suhu, lekas katakan, lekas!”

“Suhu… beliau…” seluruh tubuh Pwe Giok bergemetar sehingga tidak sanggup melanjutkan.

“Beliau mati di tanganmu bukan?” bentak Pek Bin Tojin pula dengan murka.

Mendadak Pwe Giok mendekap mukanya dan berteriak dengan parau, “Tidak, aku tidak… matipun aku takkan menyentuh satu jari beliau…”

“Creng”, belum habis ucapannya, tahu-tahu pedang yang terselip di pinggangnya itu telah dilolos orang.

Tangan Pek Bin Tojin memegang pedang rampasan itu, ujung pedang bergetar dan mengarah ke dada Ji Pwe Giok. Sorot matanya yang merah membara itu menatap anak muda itu, tanyanya pula dengan beringas, “Katakan, inikah senjata yang kau gunakan untuk membunuh guru?”

Pedang ini memang betul adalah senjata yang digunakan membunuh Thian Kang Totiang itu, cuma pemilik pedang ini sudah tiada terdapat lagi di dunia ini. Tapi pedang ini sekarang berada pada Ji Pwe Giok. Lalu apa yang dapat dikatakannya. Hancur perasaan Pwe Giok, setindak demi setindak ia menyurut mundur.

Ujung pedang juga mendesak maju setindak demi setindak, meski tajam ujung pedang itu, tapi sorot mata orang-orang itu rasanya berlipat kali lebih tajam daripada tajam pedang manapun.

Mendadak Pwe Giok menjatuhkan diri ke tanah, sambil berlutut ia menengadah, air mata bercucuran, ia berteriak kalap, “O, Thian! Mengapa engkau memperlakukan diriku sedemikian kejam? Apakah aku memang harus mati?”

“Trang”, mendadak pedang itu dilemparkan Pek Bin Tojin ke depannya, lalu Tojin itu berkata tegas, “Hanya ada satu jalan bagimu dan inipun jalan yang paling baik bagimu!”

Betul, memang cuma inilah jalan satu-satunya bagi Pwe Giok. Sebab segala persoalan tiada mungkin dibeberkan dan dijelaskan olehnya. Fitnah yang ditanggungnya tiada satupun yang betul, tapi semuanya itu seakan-akan lebih betul daripada yang “betul”, sedangkan yang “betul” justru tak dipercaya oleh siapapun.

Kini satu-satunya orang yang dapat menjadi saksi baginya hanya Ang-liao-hoa saja. Tapi apakah Ang-lian-hoa dapat membuat semua orang mau percaya padanya? Dengan bukti apa pula Ang-lian-hoa akan membelanya?

Dalam keadaan biasa sudah tentu setiap kata Ang lian-pangcu sangat berbobot, betapapun anak murid Kun-lun dan Tiam-jong pasti percaya padanya. Tapi sekarang persoalannya menyangkut mati-hidup ketua mereka, menyangkut pula segala kemungkinan yang terjadi pada kedua perguruan itu, bahkan menyangkut nasib dunia persilatan umumnya. Cara bagaimana mereka dapat mempercayai perkataan orang lain, sekalipun orang ini adalah Ang lian-hoa yang disegani dan dihormati?

Setelah dipikir lagi, Pwe-giok jemput pedang itu, dia memang tiada pilihan lain, sekali pun…

Mendadak ia meraung murka, pedang diputar kencang, dia terus menerjang ke depan.

Sudah tentu anak murid Kun-lun dan Tiam-jong sama berteriak kaget, keadaan menjadi kacau. Tapi mereka tidak malu sebagai anak murid perguruan ternama, di tengah kekacauan ada sebagian sempat melolos pedang dan menyerang.

Terdengar suara “trang tring” beberapa kali, beberapa pedang sama tergetar mencelat, Pwe-giok telah melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada pedang itu, sekali pedangnya berputar, sukarlah bagi lawan untuk menangkis.

Sungguh anak murid Tiam jong dan Kun-lun tidak menyangka anak muda ini memiliki tenaga sakti sehebat ini. Di tengah kaget dan raung gusar orang banyak, seperti kucing gesitnya Pwe-giok berhasil menerobos keluar kepungan. Hanya beberapa kali lompatan saja, dengan Ginkangnya yang tinggi, di bawah hujan serta berkelebatnya kilat, dalam sekejap saja ia sudah melayang berpuluh tombak jauhnya.

Ia terus berlari seperti kesetanan, ia melupakan segalanya, yang dipikir hanya lari dan lari terus.

Ia tidak takut mati, tapi ia tidak boleh mati dengan menanggung penasaran.

Suara bentakan orang banyak masih terdengar di belakang, suara pengejar itu seperti bunyi cambuk yang memaksanya harus lari terlebih cepat. Ia pun mengerahkan segenap tenaganya untuk lari di bawah hujan, air hujan berjatuhan di tubuh dan di mukanya seperti batu kerikil yang menimbulkan sakit pedas, namun semua itu tak dihiraukan lagi.

Suara bentakan orang akhirnya tak terdengar lagi, tapi langkah Pwe-giok tidak pernah berhenti, hanya sudah mulai kendur, makin lama makin lambat, ia masih terus lari dan lari lagi, mendadak ia jatuh tersungkur.

Sekuatnya ia meronta bangun, ia terjatuh lagi, pandangannya mulai kabur, hujan lebat berubah seperti kabut baginya, ia kucek-kucek matanya, tetap tidak jelas pandangannya.

Tiba-tiba ada suara roda kereta di kejauhan dan juga suara kaki kuda. Darimana datangnya kereta kuda itu?”

Dalam keadaan samar-samar ia seperti melihat sebuah kereta sedang berlari kemari, ia meronta dan berusaha menghindar, tapi ia jatuh lagi, sekali ini ia tidak sanggup bangun pula, ia jatuh pingsan.

oO 0O0 Oo

Cuaca tambah kelarn. Terdengar suara roda kereta yang gemeratak disertai suara kuda meringkik pelahan Pwe-giok sudah siuman, ia mendapatkan dirinya sudah berada di dalam kereta. Terdengar rintik hujan memukul kabin kereta laksana derap kuda berpacu di medan tempur, seperti genderang bertalu-talu menggebu, suara yang mendebarkan jantung.

Ia menjadi ragu, jangan-jangan dirinya terjatuh dalam cengkeraman musuh?

Ia meronta bangun, cuaca sudah kelam, di dalam kereta menjadi tambah gelap. Ada sebuah lentera bergantung di kabin dan bergoyang-goyang mengikuti guncangan kereta, tapi lentera itu tidak dinyalakan.

Seputar kabin kereta penuh tertumpuk sapu, pengki, gentong, tampah dan sebangsanya.

Pwe-giok coba menyingkap terpal kereta dan mengintip ke depan, terlihat di bagian kusir berduduk seorang tua bermantel ijuk dan bertopi caping, meski tidak jelas mukanya, tapi kelihatan jenggotnya yang sudah ubanan bergerak-gerak di bawah hujan angin itu.

Jelas seorang tua yang miskin dan sederhana secara kebetulan menemukan seorang pemuda yang jatuh pingsan di tengah jalan serta menolongnya. Tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.

“Apakah kau sudah siuman, Ji Pwe-giok?” tiba-tiba terdengar orang tua di luar itu menegur dengan tertawa.

Pwe-giok terkejut, cepat ia bertanya, “Dar…darimana kau tahu namaku?”

Kakek itu menoleh, katanya dengan menyipitkan mata; “Tadi kudengar di sekitar sana ada orang berteriak-teriak dan membentak-bentak, ” katanya, “Ji Pwe-giok, kau tak dapat lolos.”

“Kukira Ji Pwe-giok yang dimaksudkan itu pasti kau, tapi akhirnya kau kan lolos juga!”

Wajah si kakek penuh keriput, suatu tanda sudah kenyang asam-garam kehidupan manusia, setiap garis keriputnya itu, seakan-akan melambangkan suatu masa penderitaan di waktu yang lalu. Sinar matanya yang penuh mengandung kecerdasan pengalaman hidup itu juga diliputi perasaan welas asib dan sukaria.

Pwe-giok menunduk, ucapnya dengan tersendat, “Terima kasih atas pertolongan Lotiang (bapak).”

“Jangan kau berterima kasih padaku, ” ujar kakek itu dengan tertawa.

“Kutolong kau adalah karena kulihat kau tidak mirip orang jahat. Kalau tidak, mustahil tidak kuserahkan dirimu kepada mereka.”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tenenyum pedih, “Sudah sekian lamanya, mungkin Lotiang inilah orang pertama yang bilang aku bukan orang jahat!”

“Hahaaha!” kakek itu tergelak. “Biasa, orang muda kalau mengalami sedikit kesusahan lantas suka mengomel. Biarlah nanti kalau sudah sampai di gubuk kakek, setelah minum semangkuk dua mangkuk, tanggung semua rasa penasaranmu akan lenyap.”

“Tarrr”, ia ayun cambuknya dan melarikan keretanya terlebih cepat.

Menjelang petang, hujan masih rintik-rintik. Kereta memasuki sebuah jalan kecil yang tiada orang berlalu-lalang. Kakek yang miskin ini mungkin tinggal sendirian di rumah gubuknya. Tapi bagi Pwe-giok hal ini sangat kebetulan malah. Ia lantas berbaring di dalam kereta dan membayangkan dinding gubuk si kakek yang sudah berlubang-lubang dan pembaringannya yang penuh daki serta tuak kampung yang menusuk tenggorokan itu. Ia merasa dirinya sekarang bolehlah tidur dengan tenteram.

Tiba-tiba terdengar kakek itu bergumam, “Wahai kudaku sayang, larilah yang cepat, sudah dekat rumah kita, kau kenal jalan tidak?”

Pwe-giok tidak tahan, ia merangkak bangun pula dan menyingkap terpal untuk mengintip keluar. Dilihatnya di depan adalah jalan berbatu yang bersih terguyur air hujan. Di ujung jalan sana adalah sebuah gedung yang mentereng dengan cahaya lampu yang gemilang. Dipandang pada petang yang hujan ini tampaknya tiada ubahnya seperti sebuah istana kaum bangsawan.

Pwe-giok terkejut, tanyanya dengan ragu-ragu; “Apakah ini …ini rumah Lotiang?”

“Betul, ” jawab si kakek tanpa menoleh.

Pwe-giok membuka mulut, tapi segera ditelannya kembali kata-kata yang hendak diucapkannya. Dalam hati sungguh penuh rasa heran dan sangsi. Jangan-jangan kakek miskin ini adalah samaran seorang hartawan? Jangan-jangan dia seorang pembesar yang telah pensiun? Atau mungkin juga seorang bandit yang sengaja menutupi gerak-geriknya dengan menyamar sebagai kakek rudin? Apa maksud tujuannya membawa pulang Ji Pwe giok?

Terlihat di luar pintu gerbang yang besar berwarna ungu itu terdapat dua ekor singa batu, di pinggir pagar bambu sana tertambat beberapa ekor kuda bagus, beberapa lelaki tegap dengan bergolok dan pakaian ringkas sedang menurunkan pelana kuda.

Siapa yang datang menumpang kuda-kuda itu?

Meski pertanyaan ini belum dapat segera dijawab, tapi kakek ini adalah seorang tokoh Bulim, hal ini jelas tidak perlu disangsikan lagi. Padahal setiap orang Bulim sekarang, siapakah yang tidak memusuhi Ji Pwe-giok?!

Tangan dan kaki Pwe-giok terasa dingin, lebih celaka lagi sekujur badan terasa lemas lunglai, ingin kaburpun tidak dapat. Apalagi, seumpama dia dapat lari kinipun sudah terlambat. Sebab kereta itu telah masuk ke dalam perkampungan itu.

Pwe-giok menutup kembali terpal kereta, hanya tersisa sela-sela kecil untuk mengintip. Mendadak terlihat dua sosok bayangan orang melayang kemari, orang di sebelah kiri dikenalnya sebagai si Pek-bin Tojin dari Kun-lun-pay itu.

Tidak kepalang kejut Pwe-giok, tanganpun agak gemetar.

Pek-bin Tojin itu menghadang di depan kereta dan menegur; “Dalam perjalanan pulang ini, apakah Lotiang melihat seorang pemuda?”

“Terlalu banyak pemuda yang kulihat, entah yang mana yang kau maksudkan?” jawab si kakek dengan tertawa.

“Dia berbaju panjang warna hijau, cukup gagah dan ganteng, cuma keadaannya agak runyam, ” tutur Pek-bin Tojin.

“Aha, kalau pemuda begini memang ada kulihat, ” seru si kakek.

“Di mana dia?” tanya Pek-bin Tojin cepat.

“Bukan saja kulihat, bahkan telah kutangkap dia ke sini, ” ujar si kakek sambil tertawa.

Tidak kepalang cemas Pwe-giok, hampir saja ia jatuh kelengar.

Dengan tajam Pek bin Tojin menatap si kakek, katanya dengan tegas; “Biarpun pemuda itu dalam keadaan runyam, meski dia sudah payah untuk kabur, kalau dirimu saja jelas tidak mampu menangkapnya pulang. Hendaklah Lotiang ingat selanjutnya, Pek-ho Tojin dari Kun-lun pay biasanya tidak suka berkelakar!”

Habis berkata mendadak ia membalik tubuh dan melangkah kembali ke sana.

Si kakek menghela napas, ucapnya, “Jika sudah jelas kau tahu aku tidak mampu menangkapnya, untuk apa kau tanya pada diriku?”

Dia tarik lagi tali kendalinya dan menghalau keretanya ke suatu gang kecil, terdengar ia bergumam sendirian, “Wahai anak muda, sekarang tentunya kau tahu, semakin cerdik seseorang, semakin mudah pula ditipu. Soalnya hanya dengan cara apa akan kau tipu dia.”

Dengan sendirinya ucapan ini sengaja diperdengarkan kepada Ji Pwe-giok, cuma sayang Pwe-giok tidak dapat mendengarnya. Waktu Pwe-giok sudah dapat mendengar, sementara itu tahu-tahu ia sudah berada di dalam rumah si kakek.

Rumah ini memang betul sudah reyot, dinding sekelilingnya sudah banyak yang rontok dan kotor di atas meja ada sebuah poci yang telah patah corongnya serta dua mangkuk butut, selain itu ada pula sedikit sisa kacang goreng.

Sebuah lampu minyak dengan cahayanya yang guram tampak bergoyang- tertiup angin seolah-olah melambangkan kehidupan si kakek.

Di belakang pintu menyantel sehelai selimut lusuh, dari sela-sela pintu air hujan tampak merembes masuk dan mengalir ke kaki tempat tidur yang terbuat dari bambu. Di tempat tidur inilah sekarang Pwe-giok berbaring. Bajunya yang basah sudah ditanggalkan, meski sekarang badannya ditutup dengan sehelai selimut, tapi rasanya masih menggigil.

Si kakek tidak kelihatan berada di dalam rumah, sekuat tenaga Pwe giok meronta turun dari tempat tidur, dengan selimut membungkus tubuh ia mendekati jendela, jendela terbuat dari papan kayu, ia mengintip keluar melalui celah-celah papan. Di luar ternyata adalah sebuah taman yang sangat luas.

Gelap gulita taman itu, meski di kejauhan ada berkerlipnya Cahaya lampu, tapi sinarnya tidak dapat mencapai ke sini, pepohonan yang gelap di bawah hujan tampaknya seperti bayangan setan yang bergerak-gerak. Pwe-giok merinding, diam-diam ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Sesungguhnya tempat apakah ini? Apa yang telah terjadi dengan diriku?”

Tiba-tiba terlihat setitik sinar lampu melayang ke sana di tengah bayangan pohon, seperti api setan. Kaki Pwe-giok menjadi lemas, ia berdiri bersandar pada ambang jendela. Di tengah kegelapan sayup-sayup terdengar suara nyanyian yang lembut:

Mana ada malam purnama di tengab kehidupan ini, kecuali dicari di dalam mimpi. Katamu kau pernah melihat senyuman dewi, adakah itu di dalam mimpi atau nyata?

Suara nyanyian itu hanya sayup-sayup hampir tak terdengar, membawa semacam perasaan yang hampa, duka dan misterius yang sukar dilukiskan, adakah ini nyanyian orang, bukankah lebih tepat dikatakan rintihan arwah halus?

Api setan dan suara nyanyian itu semakin dekat, sesosok bayangan putih remang-remang muncul dengan tangan membawa sebuah lampu kristal yang kecil mungil, melayang tiba di bawah hujan.

Bentuk bayangan ini sedemikian ramping, baju yang basah kuyup melekat pada tubuhnya, rambut yang panjang terurai juga lengket di atas pundaknya, sinar lampu terpancar menyinari mukanya. Wajahnya putih pucat pasi, cahaya lampu juga menyinari matanya, sorot mata yang kelihatan hampa dan bingung, tapi juga sangat cantik. Kehampaan ditambah cantik menimbulkan semacam perasaan yang sukar diucapkan.

Pwe-giok menjadi lemas dan tak dapat bergerak menghadapi taman yang luas dan seram itu dengan bayangan yang menyerupai badan halus ….

Sekonyong-konyong pintu berkeriut dan terbuka, dengan kaget Pwe-giok berpaling, dilihatnya si kakek dengan mantel ijuk dan bercaping entah sejak kapan sudah berada di situ.

Pwe-giok menubruk maju dan memegang bahunya sambil berseru, “Sia… siapa itu di luar?”

Si kakek tersenyum jawabnya, “Mana ada orang di luar?”

Sudah tentu Pwe-giok tidak percaya, ia membuka pintu dan melongok keluar, di luar hanya taman yang luas dan gelap, mana ada bayangan orang segala?

Si kakek kelihatan tersenyum-senyum, seperti mengejek dan juga merasa kasihan. Pwe-giok mencengkeram leher bajunya dan berseru dengan suara gemetar, “Sesungguhnya tempat… tempat apakah ini? Siapa kau sesungguhnya?”

“Siapa? Kan cuma seorang kakek yang telah menyelamatkan kau, ” jawab si kakek dengan tenang.

Pwe giok jadi melenggong dan melepaskan cengkeramannya, ia menyurut mundur dan jatuh berduduk di atas kursi bambu, baru sekarang keringat dinginnya menetes.

“Kau lelah, kau terlalu lelah, ” kata si kakek, “Janganlah berpikir yang bukan-bukan, istirahatlah.”

Sambil memegangi sandaran kursi bambu Pwe-giok berseru pula, “Tapi… tapi jelas-jelas kulihat…..”

“Kau tidak melihat apa-apa, bukan? Ya, apapun tidak kau lihat… “si kakek memandangnya lekat-lekat.

Tiba-tiba Pwe-giok merasa sorot mata si kakek ada semacam kekuatan yang sukar dilawan, tanpa terasa ia menunduk, ia tersenyum pedih, katanya, “Ya, aku memang tidak melihat apapun.”

“Memang begitulah, ” ujar si kakek dengan tertawa, “semakin sedikit yang kau lihat, semakin sedikit pula rasa kesalmu.”

Lalu dia menaruh sebuah kuali kecil di atas meja di depan Pwe giok, katanya; “Sekarang boleh minumlah kuah pedas ini dan tidurlah baik-baik. Besok, tentulah hari yang tidak sama, entah betapa bedanya besok dengan hari ini?”

“Ya, apapun juga, hari ini pun sudah lalu….” ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

0O0- 000- 0O0

Dalam mimpinya, Pwe-giok merasa bumi ini makin lama makin gelap, tubuhnya seakan-akan terhimpit oleh bumi raya yang gelap ini, ia berkeringat? ia meronta, mengerang…Selimut serasa sudah basah, tempat tidur bambu itu berbunyi keriat keriut!

Sekonyong-konyong ia membuka mata di bawab cahaya pelita yang guram dilihatnya sepasang tangan!

Sepasang tangan yang putih mulus!

Kedua tangan ini sedang menggeser ke lehernya, seakan-akan hendak mencekiknya, “Sia……siapa kau?” jerit Pwe-giok saking kaget dan takutnya.

Di bawah sinar lampu yang guram, dilihatnya seraut wajah yang pucat dengan rambut yang panjang serta sepasang mata yang indah dengan pandangannya yang rawan. Ketika rambut yang panjang itu tersebar, bayangan putih itupun melayang pergi seperti angin, tahu-tahu lantas lenyap dalam kegelapan. Bukankah itu badan halus yang dilihatnya di bawah hujan itu?

Cepat Pwe-giok melompat bangun, ia meraba leher sendiri dengan napas terengah-engah. Sesungguhnya bayangan tadi manusia atau setan? Apakah dirinya hendak dibunuhnya tadi? Tapi sebab apa oraog hendak membunuhnya?

Si kakek tidak diketahui ke mana perginya dan celah-celah papan jendela terlihat cuaca sudah remang-remang, fajar sudah menyingsing. Daun pintu kelihatan masih bergoyang-goyang.

Sesungguhnya bayangan tadi manusia atau setan? Jika benar hendak membunuhnya tentu sudah dilakukannya sejak tadi. Kalau tiada maksud jahat, mengapa dia menyusup datang seperti badan halus dan melayang pergi puia seperti arwah gentayangan?

Jantung Pwe-giok berdebar keras, di tepi tempat tidurnya ada seperangkat baju bekas, tanpa pikir dipakainya dengan tergesa-gesa, lalu ia berlari keluar.

Kabut pagi masih menyelimuti halaman taman yang sunyi senyap ini. Hujan sudah berhenti, cuaca remang-remang, lembab, sejuk dan rada-rada menggiglkan. Remang-remang kabut membuat taman yang sunyi ini menimbulkan semacam keindahan yang misterius.

Diam-diam Pwe-giok menyusuri jalan berbatu itu, langkahnya sangat perlahan, seakan-akan kuatir memecahkan kesunyian bumi raya ini.

Tiba-tiba didengarnya suara kicau burung, semula suara seekor dengan bunyi yang merdu dari pucuk pohon sini terus berpindah ke pucuk pohon sana.

Menyusul suara lain lantas berbangkit, lalu seluruh taman seolah-olah pecah suara burung berkicau dengan nyaringnya.

Pada saat inilah kembali Pwe-giok melihat si “dia” lagi.

Dia masih mengenakan jubah panjang warna putih dan berdiri di bawab pohon yang sana. Dia sedang menengadah dan memandangi pucuk pohon, rambutnya mengkilap, jubah putih dan rambut panjangnya berkibaran tertiup angin, di tengah remang kabut pagi ini dia bukan lagi badan halus, tapi serupa dewi kayangan.

Dengan langkah lebar Pwe-giok mendekatinya, ia kuatir orang akan menghilang pula seperti badan halus. Namun si dia masih menengadah tanpa bergerak sedikit pun.

Sesudah dekat, dengan suara keras Pwe-giok menegur; “He, kau…”

Baru sekarang si dia memandang Pwe giok sekejap sorot matanya yang indah itu penuh rasa bingung seperti orang kehilangan ingatan. Sementara itu kabut sudah mulai hilang, sinar sang surya sudah mulai mengintip di ufuk timur, butiran air hujan atau embun laksana mutiara menghias dedaunan.

Mendadak Pwe-giok merasa si dia ini bukan si “dia”.

Meski si dia ini juga berjubah putih dan berambut panjang, juga bermuka pucat, juga bermata indah, tapi cantiknya terlalu bersahaja. Dari gemerdep matanya dapat terlihat betapa suci murninya, betapa gemilang dan betapa tenangnya.

Sedangkan si “dia” yang dilihatnya semalam itu jelas sangat misterius dan juga sangat rumit, bahkan mengandung semacam hawa yang aneh dan sukar untuk dipahami.

Cepat Pwe giok berkata pula dengan menyesal; “O, maaf aku salah lihat.”

Ia pandang Pwe-giok dengan tenang, mendadak ia membalik tubuh dan kabur seringan burung.

Tanpa terasa Pwe-giok berseru, “Nanti dulu, nona! Apakah engkau juga penghuni perkampungan ini?”

Nona itu sempat menoleh dan tertawa kepada Pwe-giok, tertawa yang cantik, tapi juga mengandung rasa hampa dan linglung yang sukar dilukiskan. Habis itu lenyaplah dia di tengah kabut.

Sampai lama Pwe giok termenung, ia ingin membalik ke arah datangnya tadi, tapi langkah kakinya justeru menggeser ke depan, jalan punya jalan, tiba-tiba ia merasa ada sepasang mata sedang mengintainya di balik pohon sana. Mata yang begitu jernih, begitu bening. Pelahan-lahan Pwe-giok menghentikan langkahnya dan berdiri tenang di situ, sedapatnya ia tidak mau mengejutkan orang.

Akhirnya si dia muncul sendiri dan memandang Pwe-giok dengan linglung.

Baru sekarang Pwe-giok berani tertawa padanya dan menyapa, “Nona, apakah boleh kutanya beberapa kata padamu?”

Dengan tertawa linglung nona itu mengangguk.

“Tempat apakah ini?” tanya Pwe-giok.

Nona itu tetap tertawa sambil menggeleng.

Dengan kecewa Pwe giok menghela napas, ia tidak tahu mengapa tempat ini sedemikian misterius, mengapa tidak seorang pun mau memberitahukan padanya?”

Tapi ia tidak putus asa, ia tanya pula, “Jika nona penghuni perkampungan ini, mengapa tidak tahu tempat apakah ini?”

“Aku bukan manusia, ” tiba-tiba nona itu bersuara dengan tcrtawa. Suaranya nyaring merdu seperti kicauan burung.

Jawaban itu membuat Pwe-giok terkejut. Jika kata itu diucapkan orang lain paling-paling Pwe-giok cuma tertawa saja. Tapi nona yang berwajah bingung ini sesungguhnya mempunyai kecerdasan yang melebihi orang lain.

Dengan tergagap kemudian Pwe-giok bertanya pula, “Masa kau bukan ….”

“Aku seekor burung, ” ucap si nona pula sambil menggigit bibir. Ia menengadah memandangi pucuk pohon, di mana hinggap beberapa ekor burung kecil yang tak diketahui namanya sedang berkicau. Dengan tertawa ringan nona itu berkata pula, “Akupun serupa burung di atas pohon itu, aku adalah saudara mereka.”

Pwe-giok terdiam sejenak, tanyanya kemudian, “Jadi nona sedang bicara dengan mereka?”

Nona baju putih itu berpaling dan tertawa. Mendadak matanya terbelalak dan bertanya, “Kau percaya pada perkataanku?!”

“Sudah tentu kupercaya, ” jawab Pwe-giok dengan suara halus.

Sorot mata si nona menampilkan perasaan hampa, ucapnya dengan menyesal; “Tapi orang lain tidak mau percaya.”

“Bisa jadi mereka orang tolol semuanya, ” ujar Pwe giok.

Sampai lama si nona memandangi Pwe giok dengan tenang, tiba-tiba ia tertawa nyaring, katanya, “Jika demikian, bolehkah kukatakan padamu bahwa aku ini seekor burung kenari.”

Dia tertawa riang, lalu berlari pergi pula.

Pwe giok tidak merintanginya, ia termangu-mangu sejenak, timbul semacam perasaan yang belum pernah dirasakannya selama ini. Perlahan-lahan ia melangkah baiik ke rumah kecil tadi.

Baru saja ia melangkah masuk rumah, sekonyong-konyong dari balik pintu sebatang pedang mengancam punggungnya. Ujung pedang yang tajam dingin itu seakan-akan menusuk ke dalam hati Pwe-giok.

Terdengar seorang bersuara sedingin es; “Jangan bergerak, sekali bergerak segera kutusuk tembus punggungmu….” Jelas ini suara seorang perempuan, juga nyaring dan merdu.

Tanpa terasa Pwe giok menoleh, kembali ia melihat jubah putib dengan rambut panjang terurai dan muka yang pucat serta mata yang indah. Ini bukanlah badan halus semalam, tapi dewi kayangan pagi ini.

Kejut dan heran Pwe-giok, dengan mendongkol ia berkata sambil menyengir, “Nona kenari, masa kau tidak kenal lagi padaku?”

“Sudah tentu aku tidak kenal kau!” kata nona itu dengan suara bengis.

“Tapi… tapi barusan kita baru… baru saja bicara.”

“Hm, mungkin kau melibat setan, ” jengek si nona.

Pwe giok jadi melenggong dan tak dapat bersuara. Sorot mata si nona sekarang telah berubah menjadi tajam dan dingin, tapi alisnya, mulutnya dan hidungnya jelas-jelas si nona cantik tadi.

Mengapa mendadak dia berubah begini? Mengapa sikapnya berubah ketus begini? Kembali Pwe giok kebingungan, ucapnya kemudian dengan tersenyum pedih, “Apakah benar kulihat setan?”

“Siapa kau?” bentak nona itu dengan bengis.

“Mengapa kau berada di tempat Ko lothau (kakek Ko)? Ingin mencuri atau ada pekerjaan lain? Lekas mengaku terus terang, lekas!”

“Begitu ujung pedangnya didorong sedikit, seketika darah mengucur dari punggung Pwe-giok.

“Aku tidak tahu, apa pun aku tidak tahu, ” jawab Pwe-giok sambil menghela napas. Ia merasa setiap penghuni perkampungan ini seakan-akan orang gila semua, terkadang sedemikian baik padanya, tapi mendadak bisa berubah menjadi garang.

Sebentar bersikap ramah, lain saat berubah beringas seperti hendak membunuhnya, “Kau tidak tahu?” jengek nona itu pula. “Baik, akan kuhitung sampai tiga, jika kau tetap bilang tidak tahu, segera kutusukkan pedang ini hingga menembus dadamu.”

Lalu ia berseru, “Satu.” Pwe-giok hanya berdiri tegak tanpa bersuara. “Dua . . .. ” teriak pula si nona. Pwe-giok tetap berdiri saja tanpa bicara. Hakikatnya memang tiada apa-apa yang dapat dikatakannya. Si nona seperti melengak juga, tapi akhirnya ia beseru pula: Tiga!

Pada saat yang sama, sekonyong-konyong Pwe giok menggeser ke samping selicin belut, berbareng tangannya menyampuk balik, seketika tangan si nona kaku kesemutan, pedang mencelat dan menancap di belandar.

Sampukan Pwe-giok ini sangat kuat. Si nona jadi melenggong. Pwe-giok memandangnya dengan dingin, katanya, “Nona kenari, sekarang bolehlah kutanyai kau bukan? Tentunya jangan pura-pura bodoh lagi, sebaiknya kau bicara dengan bahasa manusia, aku tidak paham bahasa burung.”

Nona itu mengerling sekejap, mendadak ia tertawa nyaring, katanya, “Hihi, aku cuma berkelakar saja dengan kau. Jika kau ingin belajar bahasa burung biarlah kuajari kau besok.” Dengan enteng ia terus membalik tubuh dan berlari pergi. “Nanti dulu!” seru Pwe-giok sambil mengejar.

Tapi mendadak dilihatnya si kakek menghadang di depannya sambil menegur, “Telah kuselamatkan jiwamu, tapi bukan maksudku membawa kau ke sini untuk menakuti orang.”

“Kedatangan Lotiang sangat kebetulan, ” jengek Pwe-giok.

“Waktu nona itu mengancam punggungku dengan pedang, mengapa Lotiang tidak lantas muncul?”

Kakek itu tidak bersuara, ia masuk ke rumah dan berduduk, diambilnya cangklong tembakaunya, disulutnya dengan api dan mulai merokok, setelah menghisap tembakaunya satu-dua kali barulah ia berucap, “Biarlah kukatakan terus terang padamu, di perkampungan ini memang banyak hal-hal yang aneh, bila kau dapat anggap tidak dengar dan tidak lihat, tentu kau takkan dicelakai orang. Jika sebaliknya, tentu akan mendatangkan musibah bagimu.”

“Sekalipun aku berlagak tidak dengar dan tidak lihat, kan nona tadi juga hendak membunuhku?!” seru Pwe giok dengan gusar.

Si kakek menghela napas, katanya, “Persoalan tadi hendaklah jangan kau pikirkan lagi, mereka adalah anak perempuan yang harus dikasihani, nasib mereka sangat malang, kau harus memaafkan mereka.”

Dan kerut wajahnya dapat terlihat si kakek jelas sangat berduka ketika membicarakan nona tadi, Pwe-giok termenung sejenak, tanyanya kemudian: Siapakah mereka?”

“Untuk apa kau ingin tahu siapa mereka?”

“Dan, mengapa kau tidak mau memberitahukan padaku?” seru Pwe-giok.

Si kakek menghela napas panjang, katanya, “Bukannya aku tidak mau memberitahukan padamu, soalnya akan lebih baik jika kau tidak tahu.”

Kembali Pwe-giok termenung sejenak, ia memberi bormat, lalu berkata pula dengan suara berat, “Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan jiwa Lotiang, kelak pasti akan kubalas kebaikanmu ini.”

“Kau mau pergi?” tanya si kakek sambil menoleh.

“Kupikir, lebih baik kupergi saja, ” ujar Pwe-giok sambil menyengir.

“Tapi ratusan anak murid Kun-lun dan Tiam-jong saat ini masih berkeliaran di sekitar perkampungan ini, jika kau pergi, dapatkah kau lolos dari pengawasan mereka?”

Pwe-giok jadi ragu-ragu, tanyanya pula, “Sesungguhnya ada hubungan apa antara perkampungan ini dengan Kun-lun dan Tiam-jong-pay?”

Si kakek tersenyum hambar, katanya, “Jika tempat ini ada hubungannya dengan Kun-lun dan Tiam-jong, mungkinkah kau diberi kesempatan tinggal di sini?”

Pwe-giok terkesiap dan menyurut mundur; “Apakah… apakah engkau sudah tahu…”

“Aku sudah tahu semuanya, ” ucap si kakek sambil menyipitkan matanya.

Pwe-giok menubruk maju dan memegang bahu si kakek, serunya dengan parau, “Aku tidak membunuh Cia Thian-pi, lebih-lebih tidak pernah membunuh Thian-kang Totiang, kau harus percaya padaku.”

“Sekalipun aku percaya, tapi orang lain apakah juga percaya?” kata si kakek.

Pwe-giok melepaskan tangannya dan menyurut mundur selangkah demi selangkah hingga bersandar pada dinding.

“Terpaksa kau harus berdiam di sini, nanti kalau keadaan sudah aman, baru kau kubawa pergi, ” ujar si kakek dengan gegetun.

“Pada kesempatan ini pula dapat kau istirahat dan memulihkan tenagamu di sini.”

Basah mata Pwe-giok, katanya, “Lotiang, semestinya engkau… engkau tidak perlu sebaik ini kepadaku.”

Si kakek menghisap lagi tembakaunya, lalu berkata dengan ikhlas, “Sekali sudah kuselamatkan kau, tidak nanti kusaksikan lagi kau mati di tangan orang lain.”

Sekonyong-konyong seutas tali menyambar ke atas dan persis menjirat batang pedang yang menancnp di belandar, sedikit ditarik, pedang itu lantas jatuh ke bawah dan tepat diraih oleh sebuah tangan yang putih halus.

Tahu-tahu si nona telah berdiri di ambang pintu dan berkata kepada si kakek dengan tertawa; “Ko-lothau, ibu ingin melihat dia.”

Si kakek memandang Pwe-giok sekejap. Segera Pwe-giok dapat melihat perubahan air muka si kakek, matanya yang menyipit mendadak terbelalak, katanya dengan berkerut kening, “Ibumu ingin melihat siapa?”

“Di rumah ini selain kau dan aku, ada siapa lagi?” ucap si nona baju putih dengan tertawa.

“Untuk… untuk apa ibumu ingin melihat dia?” tanya si kakek Ko.

Nona itu melirik Pwe-giok sekejap, katanya; “Akupun tidak tahu, lekas kau bawa dia ke sana.”

Lalu ia memutar tubuh dan melangkah pergi pula.

Sampai lama si kakek berdiri termangu.

Pwe-giok tidak tahan, tanyanya. “Siapakah ibunya?”

“Cengcu-hujin (nyonya kepala perkampungan), ” jawab Ko-lothau sambil mengetuk pipa tembakaunya, lalu disisipkannya diikat di pinggang dan berkata pula, “Marilah berangkat, ikut saja di belakangku. Hendaklah hati-hati, saat ini di perkampungan ini terdapat tidak sedikit anak murid Tiam-jong dan Kun-lun pay.

“Sungguh aku tidak paham, ” kata Pwe-giok dengan gegetun, “kalau kalian sudah mau menerima diriku, mengapa kalianpun menerima mereka di sini. Jika kalian telah menerima mereka di sini, mengapa kalian kuatir pula diriku dilihat mereka?”

Si kakek tidak menghiraukan gerundelan Pwe-giok itu, ia membawa anak muda itu menyusur kian kemari di antara pepohonan yang lebat, di jalan berbatu licin bersih, kabut di tengah pepohonan itu sudah buyar.

“Kalau sekarang aku harus menemui Cengcu-hujin, sedikitnya engkau harus memberitahukan padaku sesungguhnya di sini ini perkampungan apa?” kata Pwe-giok pula.

“Sat jin-ceng!” jawab Ko-lothau singkat.

“Sat-jin-ceng (perkampungan membunuh orang)?” seru Pwe giok terkejut dan berhenti melangkah mendadak.

Sementara itu mereka sudah sampai di sebuah serambi yang melingkar, bangunan serambi ini sangat indah dan mentereng, tapi lankan serambi kelihatau tak terawat, catnya yang berwarna merah sudah banyak yang mengelupas, debu memenuhi lantai.

“Kau heran pada nama perkampungan ini?” “Ya, mengapa diberi nama seaneh ini?”

“Sebabnya setiap orang boleh membunuh orang di sini secara bebas, tiada seorangpun yang akan melarangnya. Setiap orang juga dapat terbunuh di sini dan pasti tiada seorangpun yang mau menolong dia!” tutur si kakek Ko.

Pwe-giok merasa merinding, ucapnya dengan ngeri, “Sebab apa, sebab apa begitu?”

“Apa sebabnya kukira lebih baik jangan kau tanya, ” jawab Ko lothau.

“Masa…masa selama ini tiada orang ikut campur?”

“Tidak ada, selamanya tidak ada yang berani.”

“Masa Cengcu kalian juga tidak ikut campur urusan perkampungan?”

Mendadak Ko-lothau menoleh dengan senyuman yang misterius, ucapnya sekata demi sekata, “Cengcu kami selamanya tidak ikut campur urusan, sebab dia….”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang berkumandang dari ujung serambi sana. cepat Ko lothau menarik Pwe-giok dan menyelinap ke balik pintu samping yang berkerai.

Suara langkah orang itu semakin dekat, pelahan-lahan berlalu ke sana.

Pwe-giok mengintip ke luar, dilihatnya bayangan dua Tojin berjubah ungu dan menyandang pedang, jelas mereka murid Kun-lun-pay.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas lega, katanya; “Apakah setiap orang boleh bergerak secara bebas di perkampungan kalian ini?”

“Siapa yang ingin membunuh orang dengan sendirinya boleh bebas bergerak, tapi orang yang mungkin akan terbunuh cara berjalannya harus berhati-hati….. berhati-hati sekali.”

“Kalau orang di sini setiap saat mungkin terbunuh, mengapa mereka masih juga datang kemari? Bukankah tempat lain jauh lebih aman bagi mereka?”

“Bisa jadi dia sudah kehabisan jalan, atau mungkin dia tidak tahu seluk-beluk tempat ini. Mungkin pula ia tertipu ke sini, boleh jadi lagi iapun ingin membunuh orang.”

Pwe-giok merinding pula, gumamnya; “Sungguh tepat sekali alasan ini, keempat alasan ini memang tepat…” segera ia menyusul ke depan dan bertanya: Tapi Cengcu kalian mengapa.,..”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu berkata, “Dia sudah datang, ibu…” Waktu Pwe-giok memandang ke sana, di ujung serambi ada sebuah pintu berukir daun pintu kelihatan terbuka sedikit, suara merdu itu berkumandang dan balik pintu.

Sepasang mata jeli yang semula mengintip di balik pintu kini mendadak lenyap. Dengan langkah berat Ko lothau mendekati pintu itu dan mengetuknya pelahan sambil berseru, “Apakah Hujin ingin bertemu dengan bocah ini?”

“Ya, masuk!” ucap seorang perempuan dengan suara lirih. Hanya dua kata ini saja yang terdengar, namun mengandung semacam daya tarik yang aneh luar biasa, rasanya suara ini seperti tersiar dari suatu dunia yang lain.

Mendadak pintu terbuka, Di dalam sangat gelap, sinar sang surya pagi cukup benderang, tapi tak dapat menyorot ke dalam rumah.

Entah mengapa, jantung Pwe giok berdebar keras, pelahan ia melangkah masuk. Dalam kegelapan sepasang mata yang terang sedang menatapnya, mata yang indah dan juga hampa, Nyonya rumah dari Sat-jin ceng ini ternyata tidak-lain-tidak-bukan adalah “badan halus” yang dilihatnya di bawah hujan itu.

Pwe-giok terkesiap. Segera dilihatnya pula sepasang tangan yang putih dan halus, jelas itulah tangan yang hendak mencekiknya waktu dia tidur itu. Butiran keringat terasa mengucur dari dahinya…

Sepasang mata yang jeli itu masih menatapnya lekat-lekat tanpa bergerak. Pwe-giok juga tidak bergerak, lamat-lamat ia merasa di sampingnya juga ada satu orang. Waktu matanya sudah terbiasa dalam kegelapan, tiba-tiba dilihatnya orang di samping ini tersenyum manis, senyuman yang suci dan bersahaja.

Hai, bukankah ini si dewi yang dilihatnya di tengah pepohonan pagi tadi?

Sekonyong pintu tertutup pula, segera Pwe-giok berpaling. Di dekat pintu kembali dilihatnya sepasang mata yang sudah dikenalnya, mata yang sama jelinya, alis yang sama lentiknya dan mulut yang sama mungilnya.

Bedanya, sorot mata yang satu sedemikian halus dan bersahaja, yang satu lagi justeru begitu tajam dan dalam. Kalau diperumpamakan seorang seperti burung Kenari yang lincah dan riang, seakan-akan tidak kenal arti susah orang hidup. Yang seorang lagi dapat diibaratkan burung elang di padang pasir, garang dan selalu mengincar hati setiap mangsanya.

Baru sekarang Pwe-giok paham duduknya perkara. Rupanya si burung Kenari yang ditemuinya di hutan pagi tadi serta si elang yang menodongnya dengan pedang itu adalah kakak beradik kembar.

Ia pandang ke depan dan melihat ke belakang, ia merasa kedua kakak beradik ini benar-benar mirip seperti pinang yang dibelah dua, sampai-sampai ibu mereka, si badan halus di tengah hujan itu, arwah dalam mimpi, si Cengcu-hujin yang misterius ini, juga serupa benar dengan kedua puterinya. Hanya saja, watak di antara ibu dan kedua puterinya sama sekali berbeda dan terdiri dan tiga jenis watak yang tak sama.

Seketika Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dilakukannya, entah kejut, heran, bingung atau merasa lucu. Segera terngiang pula ucapan si kakek Ko, “Mereka adalah perempuan yang harus dikasihani.”

Perempuan yang harus dikasihani? Mengapa…

Cengcu-hujin masih menatapnya lekat-lekat, mendadak ia tertawa dan berkata, “Di sini sangat gelap, bukan?”

Pada wajah yang pucat dan penuh rasa hampa itu bisa menampilkan senyuman, sungguh sesuatu yang hampir sukar dibayangkan. Pwe-giok merasa terpengaruh oleh semacam daya tarik, yang aneh, dengan menunduk ia mengiakan.

Dengan rawan Cengcu-hujin berkata pula, “Aku suka kepada kegelapan dan benci pada sinar matahari. Sinar matahari hanya mencorong bagi orang yang gembira ria, orang yang berduka selalu hanya kebagian kegelapan.”

Mestinya Pwe-giok ingin tanya sebab apa si nyonya berduka, mengapa tidak gembira saja? Tapi pertanyaan ini tidak jadi dilontarkannya.

Sorot mata Cengcu-hujin tidak pernah bergeser dari muka Pwe-giok, tanyanya kemudian, “Kau she apa dan siapa namamu?”

“Cayhe she… ” belum lanjut ucapan Pwe-giok, tiba-tiba Ko-lothau berdehem pelahan, maka Pwe-giok lantas menyambung, “Yap, namaku Yap Giok-pwe.”

“Kau tidak she Ji?” Cengcu-hujin menegas.

Kembali Pwe-giok terkesiap, ia tidak menjawab.

“Bagus, kau tidak she Ji, ” ucap pula si Cengcu-hujin. “Dahulu seorang she Ji pernah membunuh seorang yang sangat rapat denganku, maka menurut perasaanku setiap orang she Ji pasti bukanlah manusia baik-baik.”

Pwe-giok tak dapat menjawab apa-apa, terpaksa ia hanya mengiakan saja, “Aku sangat senang atas kedatanganmu ke perkampungan kami ini, kuharap kau dapat tinggal beberapa hari lebih lama di sini, rasanya banyak yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Terima…. . terima kasih… .” ucap Pwe-giok.

Mendadak si nona elang melolos pedang dan mengetuk belakang dengkul anak muda itu, keruan Pwe-giok kesakitan dan tanpa terasa ia berlutut.

Pada saat itu juga tahu-tahu seorang menerjang masuk, siapa lagi kalau bukan Pek-ho Tojin dari Kun-lun-pay.

Sekilas melirik Pwe-giok melihat beberapa murid Tiam-jong pay juga ikut masuk bersama Pek-ho Tojin. Begitu masuk mereka lantas memandang sekitar ruangan, tapi orang-orang yang berada di situ seolah-olah tidak mempedulikan kedatangan mereka.

Dengan bertolak pinggang si nona elang lantas mendamperat; “Selanjutnya kalau kau berani membangkang dan malas kerja.. pasti akan kupatahkan kaki-anjingmu.”

Dengan kepala tertunduk Pwe-giok mengiakan dengan suara yang dibikin serak, Pek-ho Tojin masih memandang kian kemari, tapi tidak memperhatikan “tukang kebun” yang berlutut di sampingnya. Baru sekarang ia memberi hormat kepada Cengcu hujin dan bertanya, “Apakah Hujin melihat seorang pemuda asing masuk kemari?”

“Satu-satunya orang asing yang menerobos masuk ke sini ialah anda, ” jengek Cengcu-hujin. “Tapi barusan jelas-jelas ada…..” Belum lanjut ucapan Pek-ho Tojin, mendadak si nona elang melompat ke depannya dan menghardik, “Jelas-jelas apa? Memangnya kau kira kami ibu dan anak main pat-gulipat dengan lelaki di sini?!”

Pek-ho Tojin melengak, cepat ia menjawab dengan menyengir, “O, mana berani kumaksudkan demikian.”

“Hm, lalu, seorang pertapa seperti dirimu ini berani sembarangan menerobos ke kamar orang perempuan, lantas apa maksud tujuanmu? Apakah kau ingin baca kitab di sini?” jengek si nona elang.

Sama sekali Pek-ho To-jin tidak menyangka sedemikian lihaynya nona jelita ini, begini tajam kata-katanya sehingga sukar baginya untuk menjawab. Terpaksa ia berkata, “Pernah kutanya kepada Ceng-cu, katanya….”

“Betul, jika kalian ingin membunuh orang, setiap rumah boleh kalian masuki dengan bebas, ” potong si nona elang dengan suara bengis. “Tapi rumah ini dikecualikan, betapapun tempat ini adalah kediaman Cengcu-hujin, kau tahu tidak?”

“Ya,ya…” terpaksa Pek-ho Tojin memberi hormat dengan munduk-munduk, lalu mengundurkan diri bersama kawan-kawannya. Meski dia tergolong murid Kun-lun-pay yang paling cekatan, menghadapi siocia galak begini iapun mati kutu.

Baju Pwe-giok sudah basah oleh keringat dingin, ia masih berlutut, waktu mengangkat kepala, dilihatnya kedua tangan Cengcu-hujin yang putih mulus itu, tapi sekarang ia tahu kedua tangan ini semalam sebenarnya tiada maksud hendak mencekiknya, kalau tidak, barusan Cengcu hujin tentu akan menyerahkannya kepada Pek-ho Tojin dan tidak perlu turun tangan membunuhnya.

Cengcu hujin memandangnya lekat-lekat, tanyanya kemudian, “Tampaknya kau takut. Sebab apa kau takut?”

“Cayhe… Cayhe…”

“Sudahlah, tidak perlu kau katakan padaku.” ujar Cengcu hujin dengan tertawa. “Setiap orang yang datang ke Sat-jin-ceng ini pasti merasa takut. Tapi siapapun tidak perlu menceritakan alasan takutnya”. Tiba-tiba pandangannya beralih kepada Ko-lothau dan berkata pula, “Kau boleh pergi saja.”

Ko-lothau ragu-ragu, katanya, “Dan dia…”

“Dia tinggal di sini, aku ingin bicara dengan dia, ” ujar Cengcu hujin.

Walaupun masih ragu, akhirnya Ko-lothau memberi hormat dan mengundurkan diri. Kedua nona kembar tadi ternyata juga ikut keluar. Si nona Kenari seperti tertawa terkikik-kikik, sedangkan si Nona Elang sama sekali tidak bersuara.

Daun pintu menutup dengan keras. Kesunyian di dalam rumah mendadak terasa menakutkan, sampai detak jantung sendiri dapat didengar oleh Pwe-giok.

Cengcu hujin masih memandangnya lekat-lekat, hanya memandangnya saja. Pwe-giok ingin bicara tapi sama sekali tidak sanggup buka mulut, terpengaruh oleh pandangan orang yang berdaya misterius ini.

Jendelapun tertutup oleh tirai, di dalam rumah semakin gelap, semacam hawa seram dan tua meliputi setiap sudut ruangan.

Cengcu-hujin tetap tidak bicara, bahkan bergerakpun tidak. Ia tetap menatap Pwe-giok tanpa berkedip, seolah-olah juru tembak sedang mengincar sasarannya, seperti nelayan sedang memandangi kailnya.

—–

Apakah Ji Pwe-giok berhasil menghindari pencarian anak murid Tiam-jong dan Kun-lun-pay?

Orang-orang macam apakah keluarga Sat-jin-ceng yang misterius ini dan apa hubungannya dengan orang she Ji?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: