Kumpulan Cerita Silat

13/05/2010

Renjana Pendekar – 03

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:33 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, dan Budiwibowo)

“Hehe, apakah kau ingin jadi setan yang tahu duduknya perkara?” tanya si jangkung. “Tidak, tidak boleh, kau ditakdirkan harus menjadi setan penasaran.”

“Bukan kami tidak mau memberitahukan padamu, sebab rahasia di balik urusan ini kami sendiripun tidak tahu, ” ujar yang pendek.

Baru habis ucapannya, mendadak ia melonjak kaget seperti melihat setan, jeritnya dengan ketakutan, “He, ular! ular!” benar juga, kaki kanannya telah dirambati oleh dua ekor ular kecil berwarna hijau gelap.

Di atas tanah masih ada dua ekor ular lagi dan secepat kilat menyambar ke arah si jangkung. Tapi gerak tubuh si jangkung juga selicin ular, sekali berkelebat dapatlah ia menghindarkan pagutan ular, berbareng goloknya lantas menabas dan tepat mengenai muka si pendek, bentaknya dengan bengis:

“Keluargamu pasti akan kujaga dengan baik, kau tidak perlu kuatir.”

Muka si pendek berlumuran darah, tapi masih sanggup tertawa pedih, katanya, “Te! terima kasih! aku dapat mati bagi Cusiang (majikan) sungguh aku sangat! sangat senang!” belum habis ucapannya ia terus roboh dan binasa.

Dalam pada itu si jangkung sudah melayang pergi beberapa tombak jauhnya, sekali berkelebat pula lantas menghilang.

Mandi keringat dingin Ji Pwe-giok menyaksikan kejadian itu, pandangannya mulai gelap, tubuhnya terasa semakin berat dan seolah tenggelam ke lubang gua yang tak terkira dalamnya dan akhirnya tidak melihat apa2 lagi.

* * *

Sang surya sudah terbenam di sebelah barat, jagat raya ini diliputi kekelaman, meski di musim panas, angin malam mengembus silir2 sejuk, suasana sunyi senyap dan terasa mencekam.

Waktu Pwe-giok siuman, ia merasa tangannya seakan-akan dicocok oleh beribu-ribu jarum, tangannya yang sudah kaku itu tiba-tiba dapat dirasakan lagi, tapi bukan rasa gatal lagi melainkan rasa sakit.

Ia membuka mata, dalam keadaan remang-remang terlihat sesosok bayangan berdiri di depannya tanpa bergerak, rambut orang sudah memutih perak dan bergoyanggoyang tertiup angin.

Kejut dan girang Pwe-giok. “Bwe!” belum sempat dia berseru, tahu2 mulutnya sudah didekap oleh Bwe Su-bong.

“Jangan bergerak, ” kata pengemis tua itu. “Saat ini sedang kusuruh Siau Jing (si hijau), Siau Pek (si putih), Siau Pan (si loreng) dan Siau Hek (si hitam) mengisap racunmu, asalkan racun sudah terhisap habis, tentu takkan berbahaya lagi.”

Waktu Pwe-giok memandang ke bawah, dilihatnya empat ekor ular kecil menempel di tangannya, yang seekor berwarna hijau, satu lagi warna putih, yang lain warna belang dan yang keempat berwarna hitam bertutul putih. Mungkin itulah keempat ekor ular Siau Jing dan lain2 yang disebut Bwe Su-bong tadi.

Memandangi ular2 itu, Bwe Su-bong tampak sangat kasih sayang seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya. Dengan tersenyum ia berkata, “Coba lihat, mereka sangat menyenangkan bukan?”

Dengan setulus hati Pwe-giok mengangguk. Setelah melihat manusia kejam dan keji tadi kini melihat pula keempat ekor ular kecil ini, sungguh ia merasa ular terlebih menyenangkan daripada manusia.

“Sudah lama, mereka bukan saja menjadi kawan karibku, menjadi anakku, bahkan juga pembantuku yang setia, ” tutur Bwe Su-bong dengan tertawa. “Aku sendiri sudah tua, tangan dan kakiku sudah kaku dan tidak gesit lagi, tapi mereka masih sangat muda.”

Bicara sampai disini, tertawalah dia dengan sangat gembira.

Teringat kepada tingkah laku orang yang digigit ular tadi, mau tak mau timbul juga rasa puas Ji Pwe-giok. Sudah sekian lamanya, untuk pertama kali inilah hati anak muda ini merasa senang.

“Tentunya kau tahu sekarang bahwa namaku juga timbul dari kawanan ular ini, ” tutur Bwe Su-bong pula. “Orang Kangouw suka menyebut diriku “Bo-su-bang” (tidak ada urusan, sibuk selalu)! Haha, padahal namaku Bwe Su-bong (Bwe si empat ular), Bo Su-bang dan Bwe Su-bong, hehe.. entah keparat siapa yang mencetuskan olok2 ini padaku.”

Tiba2 Pwe-giok teringat kepada gerak-gerik kedua orang tadi, yaitu si jangkung dan si pendek, jelas kepandaian mereka tidak lemah dan pasti tokoh ternama dunia Kangouw. Bwe Su-bong sudah lama berkelana di dunia persilatan, pengalamannya sangat luas, entah dia kenal mereka tidak?

Agaknya Bwe Su-bong dapat meraba isi hati Pwe-giok, dengan menyesal dia berkata, “Siapa orang ini mungkin aku dapat mengenali dia, cuma sayang mukanya telah dihancurkan oleh bacokan golok temannya. Ai, orang itu bukan saja membunuh kawan untuk tutup mulut, bahkan menghancurkan mukanya, tindakannya yang keji ini sungguh jarang ada bandingannya.”

Dengan sedih Pwe-giok memejamkan matanya, nyata garis petunjuk yang diharapkan ini kembali lenyap.

“Orang2 ini tidak saja kejam dan keji dengan rencana yang rapi, bahkan cara kerja mereka sangat cekatan dan bersih, ” tutur Bwe Su-bong pula. “Tadi sudah kugeledah tubuh mereka dan tiada menemukan sesuatu benda tanda pengenal mereka.”

Lalu pengemis tua ini berjongkok dan memeriksa tangan Pwe-giok, mendadak ia bersuit perlahan, serentak empat ekor ular kecil itu melepaskan gigitannya dan merambat ke tubuh Bwe Su-bong, dari kaki merambat ke perut, ke dada dan melintasi pundaknya.

“Anak sayang, tentu kalian sudah lelah. Pulanglah dan tidur!” kata Bwe Su-bong dengan riang gembira.

Keempat ular kecil itu juga sangat penurut, beramai-ramai mereka lantas menyusup ke dalam karung goni di punggung Bwe Su-bong.

“Untung racun yang mengenai dirimu masuknya melalui kulit badan secara tidak langsung, untung juga tanganmu tiada lubang luka, meski tubuhmu sekarang masih terasa lemah, tapi pasti tidak beralangan lagi, ” ujar Bwe Su-bong dengan tertawa.

Pwe-giok tidak mengucapkan terima kasih, ia merasa budi pertolongan sebesar ini tidak dapat dibalas hanya dengan ucapan terima kasih saja.

Tampaknya Bwe Su-bong sangat gembira, ia bangunkan Pwe-giok dan berkata pula, “Pertemua Hong-ti entah sudah berakhir belum, jika sudah ditutup, tentu Pangcu kami sedang menantikan kedatanganmu. Marilah kita pulang untuk menemuinya.”

“Aku! aku tidak ingin kesana, ” mendadak Pwe-giok berkata.

“Kau tidak! tidak mau menemui Pangcu?” Bwe Su-bong menegas dengan heran.

“Saat ini disekitarku sedang mengintai berbagai setan iblis yang tak terhitung jumlahnya dan setiap saat akan turun tangan keji kepadaku, jika kupulang kesana, mungkin Pangcu akan ikut terembet, ” kata Pwe-giok dengan tersenyum sedih.

“Aah, kau kira Ang lian-pangcu itu manusia yang takut urusan?” kata Bwe Su-bong dengan tak acuh.

Pwe-giok tidak bicara lagi, ia menunduk dan menghela nafas, lalu ikut pengemis tua itu kesana.

“Tadi waktu kubersihkan racunmu, kudengar sorak sorai gemuruh di tempat sidang sana, mungkin upacara sumpah setia perserikatan telah berlangsung dengan memuaskan dan selanjutnya para kawan Bu-lim boleh hidup dengan aman dan tenang lagi.”

“Hah, apakah betul dapat hidup tenang dan aman?” ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Bwe Su-bong memandangnya sekejap dan menghela nafas panjang. Katanya dengan tersenyum getir, “Ya, semoga begitu hendaknya!”

Tidak lama mereka berjalan, terlihat di tempat sidang sana cahaya api gemerdep dan terdengar suara sorak gembira yang sayup2 berkumandang terbawa angin. Cahaya api dan suara sorakan itu tidak terlalu jauh, tapi bagi penglihatan dan pendengaran Ji Pwe-giok rasanya seperti ter-aling2 oleh sebuah dunia lain, cahaya terang dan sorak gembira tidak berani lagi diimpikannya.

“Pertemuan tahun ini tampaknya jauh lebih meriah daripada tahun2 sebelumnya, ” tutur Bwe Su-bong dengan gegetun. “Sudah enam kali kuikut serta pertemuan besar demikian, hanya sekali ini saja tidak ikut pesta bergembira dengan para kawan peserta rapat! rasanya aku seperti kurang bersemangat.”

“Sehabis pertemuan besar ini apakah selalu diadakan pesta besar?” tanya Pwe-giok.

“Sudah tentu pesta demikian tidak boleh berkurang.”

“Tapi hidangannya!”

“Setiap pertemuan Hong-ti, para hadirin selalu membawa hidangan dan arak sendiri, ” tutur Bwe Su-bong dengan tertawa cerah. “Habis sidang, beramai-ramai lantas duduk di perkemahan masing-masing atau mengajak beberapa kawan karib untuk makan minum dengan gembira, biasanya pesta berlangsung semalam suntuk. Esoknya jarang ada yang dapat berangkat pagi-pagi.”

Wajahnya yang sudah tampak ketuaannya kelihatan bersemangat demi bercerita tentang pengalamannya di masa lalu, dengan tertawa ia sambung pula, “Beberapa kali pertemuan besar itu sungguh sukar dilupakan orang, dimana-mana cahaya terang, dimana-mana berkumandang dendang gembira, disana-sini mengundang minum, setelah menenggak beberapa cawan, bisa jadi kau akan jatuh di pangkuan seorang kawan lama yang sudah belasan tahun tak berjumpa, sekalipun kau tidak sanggup minum lagi dia masih akan mencekoki kau dengan paksa! Ai, aku sudah tua, hari2 menyenangkan begitu mungkin takkan kembali lagi.”

“Apapun juga, kenangan demikian tetap sangat menyenangkan, ” kata Pwe-giok dengan gegetun.

“Betul, manusia harus mempunyai sedikit kenangan yang manis, kalau tidak, cara bagaimana akan melewatkan malam2 yang sunyi dan musim dingin yang menyiksa!”

Pwe-giok berusaha mengunyak betapa rasanya ucapan pengemis tua itu dan coba meresapinya, tetapi sukar diketahui apakah pahit atau manis.

Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan perkemahan Ang-lian pangcu. Orang2 yang semula berkerumun di luar kemah sekarang sudah bubar, samar-samar ada cahaya lampu di dalam kemah. Belum lagi mereka mendekati segera ada orang yang membentak di dalam kemah, “Siapa itu?”

Suaranya kereng berwibawa, ternyata bukan suara Ang-lian hoa. Selagi Pwe-giok terkesiap, suara Ang-lian hoa yang lantang sudah bergema, “Apakah Bwe Su-bong di luar? Sudahkan kaubawa pulang domba kecil kita yang tersesat itu?”

* * *

Di dalam kemah yang sangat besar itu hanya menyala sebatang lilin merah. Cahaya lilin gemerdep, bayangan Ang-lian-hoa kelihatan terseret memanjang di tanah, seorang kakek berjubah warna jingga dan bertopi besar, wajah kehitam-hitaman dan berjenggot panjang, alis tebal lurus sehingga kelihatan angker, kakek ini berduduk di samping Ang-lian-hoa dengan tegak, sorot matanya tajam menatap Ji Pwe-giok.

Tanpa terasa Pwe-giok menunduk oleh perbawa si kakek yang kereng ini.

“Akhirnya kau datang juga!.” Kata Ang-lian hoa dengan tertawa. “Apakah kau kenal Locianpwe ini?”

“Ketua Kun-lun pay, ” jawab Pwe-giok.

“Boleh juga penglihatanmu, sama sekali Thian-kang Totiang tidak bersuara, tapi dapat juga kau kenali, ” puji Ang-lian hoa. Mendadak ia berpaling dan tanya Bwe Su-bong, “Dia terkena racun apa? Siapa yang meracuni dia?”

“Orang yang meracuni dia belum jelas asal-usulnya, racun yang digunakan juga belum diketahui jenisnya, untung hanya…!”

Belum habis cerita Bwe Su-bong, mendadak Thian-kang Totiang melompat ke samping Ji Pwe-giok, secepat kilat ia tutuk beberapa hiat-to penting di kedua lengan anak muda itu, menyusul ia jejalkan satu biji obat ke mulutnya dan berkata, “Jangan bergerak dalam waktu setengah jam.”

Sambil bicara ia telah menutuh 12 hiat-to penting di tubuh Pwe-giok, saat itu pula obat sudah ditelan anak muda itu, lalu Thian-kang Totiang melayang kembali ke tempat duduknya.

Keruan Pwe-giok melenggong, begitu pula Bwe Su-bong merasa bingung, katanya, “Ini! ini!.”

“Memangnya kau kira racunnya sudah habis kaupunahkan?” kata Ang-lian hoa.

“Sudah! sudah kuperiksa tadi!”

“Jika Kim-kong-ci dan Hoa-kim-tan terlambat diberikan Thian-kang Totiang, tentu kedua tangan Ji-kongcu akan cacat untuk selamanya, ” kata Ang-lian hoa pula.

Tentu saja Pwe-giok terkesiap dan Bwe Su-bong menunduk malu oleh karena tidak menduga bahwa racun yang disangkanya sudah tuntas dihisap keluar oleh ularnya ternyata belum bersih sama sekali.

“Lalu bagaimana dengan orang yang kusuruh kauselidiki itu?” tanya Ang-lian hoa.

“Hamba sudah menanyai belasan orang, tapi tiada seorangpun yang memperhatikan siapa yang berteriak itu, ” tutur Bwe Su-bong. Hanya ada seorang mengatakan bahwa dia melihat orang yang bersuara itu seperti berbaju hitam!”

“Berbaju hitam?…” gumam Ang-lian hoa dengan mengernyitkan kening.

“Setiap pertemuan besar disini, orang yang berbaju hitam mulus rasanya tidak banyak, ” kata Bwe Su-bong. “Tapi sekali ini menurut penyelidikan hamba, orang berbaju hitam yang ikut hadir di pertemuan ini ternyata ada ratusan orang, malahan di tengah kerumunan pengunjung di luar sidang ada pula ribuan orang berseragam hitam. Orang2 ini ternyata belum dikenal, tampaknya juga tidak lemah ilmu silatnya.”

“Orang berseragam hitam! ribuan orang!” gumam Ang-lian hoa. Perlahan-lahan sorot matanya beralih kepada Thian-kang Totiang, tanyanya kemudian, “Bagaimana pendapat Totiang terhadap kejadian ini?”

“Racun yang tidak dikenal dan orang yang tidak dikenal, rapi benar perencanaan ini dan sukar dipecahkan, ” demikian ucap Thian-kang Totiang dengan suara berat.

“Apakah orang2 berseragam hitam inipun anak murid Bu-kek-pay?” kata Ang-lian hoa.

“Umpama bukan murid Bu kek pay, kukira pasti juga ada hubungannya, ” ujar Thian-kang Totiang.

“Sungguh sukar untuk dipercaya bahwa tokoh2 angkatan tua yang terhormat dan disegani seperti Ji Hong-ho, Lim Soh-koan, Ong Uh-lau, dan lain2 dapat bertindak sekeji ini, ” kata Ang-lian hoa dengan gegetun. “Nama baik mereka selama berpuluh tahun tentu bukan palsu, jika dikatakan mereka tiada niat jahat dan sesuatu intrik tertentu, jelas akupun tidak percaya.”

“Nama mereka memang tidak palsu, orangnya yang palsu, ” seru Pwe-giok dengan parau.

Ang-lian hoa menggeleng, katanya, “Sudah kuamat-amati mereka dengan teliti, jelas tiada seorangpun yang menyamar atau merias mukanya, apalagi sekalipun mereka berganti rupa dan menyamar, tentu gerak-gerik dan senyum-tawa mereka tidak semirip ini. Selain itu, Thian-in taysu, Jut-tun Totiang juga kenalan lama mereka, mustahil penyamaran mereka tak ketahuan?”

Dengan sedih Pwe-giok menunduk. Apa yang diuraikan Ang-lian hoa itu memang betul. Tidak perlu orang lain, melulu ayahnya saja, orang ini bukan saja wajahnya mirip benar dengan ayahnya, bahkan setiap gerak-gerik, setiap tutur kata dan senyum-tawanya boleh dikatakan persis sama. Apabila sebelumnya dia tidak menyaksikan sang ayah meninggal di depannya, mungkin ia sendiripun tidak percaya orang ini adalah ayahnya yang palsu.

Bwe Su-bong tidak tahan, iapun menimbrung, “Jangan2 mereka kehilangan kesadarannya dan segala tindak tanduknya berada di bawah perintah orang. Hamba ingat, puluhan tahun yang lalu di dunia Kangouw juga pernah terjadi peristiwa demikian.”

“Orang yang kesadarannya terbius, gerak-gerik dan sinar matanya pasti kaku dan berbeda dengan orang normal, ” kata Ang-lian hoa. “Sedangkan mereka jelas kelihatan sehat dan wajar, sorot mata merekapun jernih dan tajam, tiada tanda2 dipaksa orang atau dibius orang.”

Thian-kang Totiang menengadah dan menghela nafas panjang, katanya, “Sungguh perencanaan yang rapi dan sukar dipecahkan.”

“Hal ini memang serba aneh, ” kata Ang-lian hoa pula. “Jika orang2 ini dikatakan palsu, jelas2 mereka bukan palsu, bila dikatakan mereka ini tulen, justru terjadi banyak hal2 yang aneh. Apakah mereka itu didalangi orang atau mereka sendiri mempunyai intrik tertentu, yang pasti setelah mereka mengetuai dunia persilatan dengan kekuasaan besar, apa yang akan terjadi selanjutnya sungguh sukar dibayangkan. Sedangkan di dunia sekarang selain kita berempat tiada orang lain lagi yang menaruh curiga terhadap mereka.”

Setelah tertawa getir, kemudian Ang-lian hoa menyambung pula, “Selama beribu tahun sejarah dunia persilatan, kukira tiada intrik lain yang terlebih besar dan keji daripada yang kita hadapi sekarang.”

Air muka Thian-kang Totiang bertambah prihatin, katanya dengan perlahan, “Jika ingin membongkar rahasia ini, kuncinya terletak pada diri Ji-kongcu ini.”

“Ya, justru inilah, maka jiwanya setiap saat terancam bahaya, ” kata Ang-lian hoa. “Sebab kalau dia mati, maka…!”

Tanpa terasa Bwe Su-bong menimbrung pula, “Bukankah Ji Hong-ho itu sudah mengetahui Ji Kongcu sebagai puteranya, mana dapat membunuhnya lagi?”

“Meski tak dapat membunuhnya secara terang-terangan, kan dapat turun tangan secara gelap2an?” ujar Ang-lian hoa. “Lalu dibuat sedemikian rupa seolah-olah dia mati kecelakaan, dengan demikian kan segala urusan menjadi beres?”

“Pantas, tadi ketika kuobati dia, tak kulihat seorangpun yang berani menyergapnya, agaknya mereka tidak bebas turun tangan bila Ji-kongcu didampingi seseorang, ” kata Bwe Su-bong.

“Makanya kubilang kalau sendirian dia hendak pergi dari sini sungguh lebih sulit daripada manjat ke langit, kecuali…!”

Mendadak Thian-kang Totiang memotong ucapan Ang-lian hoa, “Apakah kau tahu urusan apa yang paling menakutkan sekarang?”

Ang-lian hoa berkerut kening, tanyanya, “Adakah Totiang teringat sesuatu?”

“Apabila hal ini terjadi, kukira Ji-kongcu pasti tak dapat hidup!”

Belum habis ucapan Thian-kang, mendadak di luar ada orang berseru, “Apakah Thian-kang Totiang berada di sini, Bengcu mengundang untuk berunding sesuatu urusan.”

Air muka Thian-kang Totiang rada berubah, ucapnya dengan suara tertahan, “Jangan pergi dulu, tunggu sampai kukembali.” Segera ia berbangkit dan melangkah keluar.

Ang-lian hoa juga berkerut kening, katanya kemudian, “Biasanya Thian-kang Totiang tidak suka sembarangan bicara, apa yang dikatakannya tadi pasti ada dasarnya! sesungguhnya apa yang terpikir oleh dia? Urusan apa yang dimaksudkannya?”

Bwe Su-bong garuk2 rambutnya yang kusut masai itu dan bergumam sendiri, “Menakutkan, menakutkan, apa yang terjadi memang sudah cukup menakutkan, masa masih ada urusan lain yang lebih menakutkan? Ai, Ji-kongcu memang…!” dia pandang Pwe-giok sekejap dan tidak melanjutkan, ia menunduk dan menghela nafas.

Selama hidupnya sudah banyak menemui orang yang bernasib malang, tapi kalau orang2 itu dibandingkan nasib Pwe-giok sekarang, mereka masih terhitung orang2 yang mujur.

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya, “Kutahu diriku sudah terdesak ke jalan buntu, untung ada orang seperti Pangcu dan sudi pula membantu aku! aku biarpun mati juga takkan melupakan budi kebaikan Pangcu ini.”

Ang-lian hoa hanya menggeleng-geleng saja dan tidak tahu apa yang harus dikatakan pula.

Mendadak Pwe-giok berkata pula, “Padahal Pangcu tidak pernah kenal diriku, mengapa engkau menolong diriku dengan sepenuh hati. Setiap orang menganggap aku sudah gila, mengapa Pangcu percaya penuh padaku?”

“Dengan sendirinya ada alasannya!” perlahan Ang-lian hoa mengeluarkan sebuah kantongan kain berwarna hijau, kantongan kain ini bersulam indah, seperti dompet kaum gadis bangsawan, siapapun tidak menyangka Ang-lian pangcu, ketua kaum jembel, bisa menyimpan barang begini.

Setelah membuka kantongan itu, Ang-lian hoa mengeluarkan secarik kertas dan disodorkan kepada Pwe-giok dan berkata, “Coba kau lihat sendiri, apa ini?”

Jelas cuma secarik kertas yang kumal, tapi terlipat dengan rajin. Bahwa Ang-lian hoa menyimpan sebuah kantongan bersulam begitu sudah cukup aneh, di dalam kantongan itu hanya tersimpan secarik kertas kumal, hal ini lebih2 mengherankan lagi.

Tanpa terasa Bwe Su-bong ikut melongok ke depan dan ingin tahu apa yang terdapat pada kertas kumal itu.

Pwe-giok lantas membuka lipatan kertas itu, ternyata di atasnya tertulis, “Ji Pwe-giok, percayai dia, bantu dia.”

Huruf itu tertulis dengan rada kabur, tampaknya ditulis dengan tergesa-gesa dengan goresan benda tajam sebangsa jarum yang ditutulkan pada tanah liat.

Pwe-giok termenung memandangi tulisan itu, katanya kemudian, “Sia! siapa yang menulis ini?”

“Calon isterimu, ” jawab Ang-lian hoa.

Seketika air muka Pwe-giok berubah rada aneh, tapi Ang-lian hoa tidak memperhatikannya. “Lim Tay-ih maksudmu? Kaukenal dia?” tanya Pwe-giok kemudian.

Ang-lian hoa mengangguk, jawabnya, “Tiga hari yang lalu pernah kulihat dia di sekitar Siangciu. Dia berada bersama ayahnya dan Ong Ih-lau. Sudah lama kukenal dia, tapi waktu itu dia hanya memandang sekejap padaku seakan-akan sama sekali tidak kenal lagi padaku.”

“Memangnya kalian sudah… sudah lama kenal baik?” tanya Pwe-giok.

“Tampaknya kau memang sebangsa Kongcuya yang jarang keluar pintu, masa urusan Kangouw sama sekali tidak tahu, ” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa. “Pada usia 13 Lim Tay-ih sudah berkelana di dunia Kangouw, seterusnya setiap tahun sekali dia pasti mengeluyur keluar, bahkan telah melakukan beberapa pekerjaan yang mulia, namanya sudah cukup terkenal di dunia persilatan.”

Terbayang oleh Pwe-giok sorot mata Lim Tay-ih yang memperlihatkan sifatnya yang keras dan berani serta ilmu pedangnya yang cepat dan ganas itu. Terbayang pula tubuh si nona yang kelihatan lemah itu ternyata memiliki watak yang kuat, mau tak mau Pwe-giok menghela nafas gegetun, katanya, “Ya, dia memang tidak sama seperti diriku, dia memang jauh lebih kuat daripadaku.”

“Sebenarnya Tay-ih adalah anak perempuan yang lugu dan suka terus terang, tapi hari itu dia telah berubah sama sekali, ” ujar Ang-lian hoa. “Kutahu dalam hal ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Maka ketika mereka beristirahat, segera kusuruh anggota Kay-pang di Siangciu untuk menghubungi kuasa hotel tempat mereka mondok, anggota itu kusuruh menyamar sebagai pelayan hotel. Benar juga, sekali pandang Tay-ih lantas mengenalinya, dia lantas mencari kesempatan dan diam2 menyerahkan kantongan kain ini kepadanya.”

“Pantas kemarin dulu Song-losi dari Siangciu datang terburu-buru minta bertemu dengan Pangcu, kiranya ingin menyerahkan kantong bersulam ini kepada Pangcu, ” sela Bwe Su-bong.

Pwe-giok jadi melenggong sambil bergumam, “Kiranya dia sering berkelana di dunia Kangouw, pantaslah pada hari kejadian itu dia tidak berada di rumah.”

Berubah juga air muka Ang-lian hoa, cepat ia menegas, “Di rumahnya terjadi apa? Jangan2 mengenai ayahnya?”

“Ya, dengan sendirinya Lim Soh-koan yang Pangcu lihat itu juga palsu, tapi hari itu…!” dengan menyesal Pwe-giok lantas menceritakan perubahan sikap Lim Tay-ih yang mendadak itu ketika berhadapan dengan ayahnya yang palsu, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Waktu itu kukira dia sengaja hendak memfitnah diriku, tak tahulah kalau waktu itu dia sudah memahami betapa berbahayanya intrik musuh, ia tahu tiada pilihan lain terkecuali mengakui musuh sebagai ayah. Sedangkan diriku! meski sudah kutunggu sampai sekarang, agaknya terpaksa akupun harus menempuh jalan yang sama seperti dia! Ai, dia sesungguhnya anak perempuan yang cerdik.”

“Ya, diantara orang2 yang kukenal, baik lelaki maupun perempuan, bila bicara tentang kecerdikan dan kegesitan bertindak menurut keadaan, mungkin tiada orang lain yang dapat melebihi dia, ” kata Ang-lian hoa.

“Tapi! tapi Lim Soh koan itu jelas sudah tahu segalanya, mengapa dia tidak membunuh Tay-ih sekaligus?” kata Pwe-giok. “Melihat gelagatnya sekarang, jelas Tay-ih telah berada di tahanan mereka, mungkin… Mungkin…!”

Ang-lian hoa memandangi Pwe-giok dengan tertawa, katanya, “Anak perempuan secantik dan sepintar dia, dengan sendirinya dia mempunyai akal untuk membikin orang lain tidak dapat dan tidak tega mencelakai dia. Kukira kita tak perlu berkuatir baginya, sebab kalau ada urusan yang tak dapat dibereskan oleh dia, maka tiada gunanya orang lain bergelisah baginya.”

Habis berkata Ang-lian hoa lantas masukkan lagi kertas tadi ke dalam kantong.

Pwe-giok mengira Ang-lian hoa akan menyerahkan kantong bersulam itu kepadanya, tak tersangka Ang-lian hoa terus menyimpan kembali kantong itu ke dalam kantong bajunya, lalu berkata pula, “Apabila kita dapat mengadakan kontak dengan Tay-ih, kuyakin pasti dapat!” mendadak ia berhenti ketika dilihatnya Thian-kang Totiang telah kembali dengan langkah lebar.

“Ai, kembali ada persoalan yang memusingkan lagi, ” kata ketua Kun-lun-pay itu.

Bwe Su-bong terkejut dan bertanya, “Urusan memusingkan apalagi?”

“Ji… dia telah menunjuk diriku sebagai Houhoat (pelindung) perserikatan kita ini!” tutur Thian-kang.

“Hou-hoat?” Pwe-giok menegas.

“Selain Bengcu, perserikatan Hong-ti inipun harus mengangkat salah seorang ketua suatu perguruan ternama sebagai Houhoat, ” demikian Ang-lian hoa menjelaskan. “Selama ini, kalau Siau lim-pay menjadi Bengcu, maka yang diangkat menjadi Hou-hoat adalah Bu-tong-pay.”

“Tapi sekali ini kalau Jut-tun Toheng yang diangkat menjadi Houhoat, tentu tindak tanduk mereka akan kurang leluasa, ” kata Thian-kang Totiang dengan tersenyum kecut. “Sedangkan kediamanku jauh di Kun-lun-san, selamanya jarang ikut campur urusan dunia ramai, jelas orang she Ji itu mempunyai maksud tujuan tertentu dengan mengangkat diriku sebagai Hou-hoat.”

“Tapi juga lantaran nama Totiang yang memang sesuai untuk menjadi Hou-hoat, ” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa. “Kalau tidak, kan lebih baik mereka mengangkat Thi-pah-ong saja yang jauh tinggal di Kwan-gwa sana?”

Sampai disini mendadak senyuman yang menghias wajah Ang-lian hoa lenyap seketika, dengan prihatin dia bertanya, “Tadi Totiang bicara tentang urusan…”

Dengan sungguh2 Thian-kang menukas, “Urusan yang kukuatirkan adalah kalau2 terjadi orang she Ji itu menyuruh Ji-kongcu ikut dia pulang ke rumah, lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Ya, betul juga!.” Ang-lian hoa juga terkesiap.

“Bila Ji-kongcu ikut pulang bersama dia akan berarti jatuh di dalam cengkeraman mereka dan setiap saat ada kemungkinan dicelakai, ” kata Thian-kang. “Dan kalau sang ayah menyuruh anaknya sendiri ikut pulang, mana bisa si anak membangkang?”

“Ya, bukan saja si anak tidak boleh membangkang, bahkan orang lainpun tiada hak buat bicara, siapapun tak dapat merintanginya, ” ujar Ang-lian hoa. “Ai, urusan segawat ini seharusnya sudah kupikirkan jauh2 sebelumnya.”

Bwe Su-bong ikut gelisah, keluhnya, “Wah, lantas bagaimana! bagaimana baiknya?”

“Urusan ini hanya ada satu jalan baik untuk menolongnya, ” kata Thian-kang.

“Betul, hanya ada satu jalan untuk menolongnya, ” tukas Ang-lian hoa.

“Terpaksa Ji-kongcu harus melarikan diri selekasnya, begitu bukan?” tanya Bwe Su-bong.

Thian-kang Totiang menggeleng.

“Habis bagaimana kalau tidak lari?” tanya Bwe Su-bong pula dengan gelisah.

“Asalkan Ji-kongcu lekas2 mengangkat seseorang sebagai guru, lalu sang guru minta si murid ikut pulang untuk belajar, dalam keadaan demikian biarpun ayahnya sendiri juga tak dapat menolak lagi, ” tutur Thian-kang dengan perlahan.

“Bagus, bagus sekali, cara ini sungguh sangat bagus!” seru Bwe Su-bong.

Segera Ang-lian hoa berkata dengan tertawa, “Kionghi (selamat) Ji-kongcu mendapatkan guru bijaksana dan Kionghi kepada Totiang yang mendapatkan murid berbakat.”

Pwe-giok jadi melengak. Sedangkan Thian-kang Totiang berkata, “Ah, mana aku sesuai menjadi guru Ji-kongcu!”

“Di dunia sekarang ini, kecuali Totiang siapa lagi yang sesuai menjadi guru Ji-kongcu?” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa. “Demi kesejahteraan dunia persilatan selanjutnya, kuharap Totiang sudi menerimanya.”

Akhirnya Pwe-giok berlutut dan menyembah. Pada saat itu juga di luar kemah ada orang berseru memanggil, “Ji Pwe-giok, Ji-kongcu diharap keluar. Bengcu ingin bicara denganmu!”

Ang-lian hoa memandang Pwe-giok sekejap, ucapnya perlahan, “Nah, apa kataku? Setiap gerak-gerikmu senantiasa diawasi orang, kemanapun kau pergi pasti sudah diketahui.”

Bwe Su-bong melenggong juga, kaki dan tangan terasa dingin dan hampir saja tidak dapat bergerak.

* * *

Di luar kemah tampak api unggun menyala di mana2, suasana riang gembira, beribu orang duduk mengelilingi api unggun di bawah bintang2 yang bertaburan memenuhi langit, silir angin malam membawa bau harum arak. Kehidupan manusia seyogyanya penuh diliputi gembira dan bahagia.

Akan tetapi Ji Pwe-giok berjalan dengan kepala tertunduk, hatipun pedih dan getir. Saat ini dia seolah2 berubah menjadi sebuah boneka, segala urusan harus patuh kepada perintah dan didalangi orang lain.

Terdengar disana-sini orang sama menyapa, “Ang-lian-pangcu, silahkan mampir dan marilah minum tiga cawan!”

Ada juga yang menegur Bwe Su-bong, “Hai Bo-su-bong, tampaknya kau masih sibuk selalu. Apakah kau sudah pantang minum arak?”

Selain itu ada pula yang berseru heran, “He, bukankah itu Ji-kongcu?”

Di tengah sorak gembira itu, seorang pemuda baju hitam melangkah tiba dengan cepat dan memberi hormat, katanya, “Saat ini Bengcu sedang menunggu di perkemahan Siau-lim-pay.”

Ber-turut2 tujuh kali Siau-lim-pay menjabat Bengcu, tapi perkemahannya juga tiada bedanya dengan pihak lain, hanya beberapa meter di sekeliling perkemahannya tiada orang berani bergerombol. Hormat orang terhadap Thian-in juga tidak berkurang lantaran sekali ini dia tidak terpilih lagi sebagai Bengcu.

Saat ini di depan perkemahan Siau-lim-pay tiada seorangpun, cuma dibalik kemah yang gelap sana samar2 seperti ada bayangan orang berkelebat. Baru saja mereka sampai di depan kemah, di dalam Thian-in Taysu sudah lantas menegur dengan tertawa, “Jangan2 Ang-lian-pangcu juga ikut datang?”

“Kesaktian Taysu sungguh luar biasa, se-akan2 dapat melihat dari tempat yang jauh, ” puji Ang-lian hoa dengan tertawa.

Terlihatlah orang yang disebut Ji Hong ho itu duduk berhadapan dengan Thian-in Taysu dan sedang minum, Lim Soh-koan, Ong Uh-lau dan lain2 ternyata tidak ikut serta di situ.

Di dalam kemah asap dupa wangi semerbak, masuk di sini rasanya seakan-akan masuk di suatu dunia lain lagi.

Setelah beramah tamah dan berduduk, kemudian pandangan Ji Hong ho beralih ke arah Ji Pwe-giok yang berdiri tertunduk di samping sana, dengan senyum kasih sayang seorang ayah ia berkata, “Anak Giok, apakah badanmu terasa lebih enak?”

“Terima kasih atas perhatian ayah, ” jawab Pwe-giok dengan hormat.

“Biasanya kau jarang keluar rumah, tidak-tandukmu selanjutnya hendaklah hati2 dan prihatin agar tidak menjadi buah tertawaan kaum Cianpwee dunia Kangouw, ” kata Ji Hong-ho pula.

Pwe-giok mengiakan dengan menunduk.

Yang satu memberi petuah dan yang lain mengiakan dengan hormat, tampaknya seperti benar2 seorang ayah yang kereng dengan seorang anak yang berbakti. Siapa yang menduga bahwa keduanya sesungguhnya sedang main sandiwara?

Sudah jelas Pwe-giok mengetahui orang di depan ini adalah musuhnya, hatinya sangat sakit, tapi lahirnya dia justru harus berlagak hormat dan menganggap orang sebagai ayahnya.

Sebaliknya Ji Hong-ho juga tahu bahwa pemuda di depannya ini bukanlah anaknya, dalam hati iapun ingin sekali hantam mampuskan Ji Pwe-giok. Tapi lahirnya dia harus berlagak kasih sayang kepada seorang anak.

Ang-lian hoa dapat mengikuti semua ini dari samping, dalam hati tak keruan rasanya, entah duka, entah marah atau merasa geli.

Sejak umur tujuh Ang-lian hoa sudah terjun di dunia Kangouw, adegan ramai apapun pernah dilihatnya. Tapi permainan sandiwara yang serba konyol ini sungguh belum pernah ditemuinya. Kalau orang di luar garis saja demikian perasaannya, apalagi orang yang bersangkutan seperti Ji Pwe-giok, tentu saja sukar untuk diceritakan.

Begitulah Thian-in Taysu lantas berkata pula dengan tersenyum, “Ji-kongcu kelihatan halus di luar, tapi keras di dalam, di tengah ketenangan jelas kelihatan kecerdasannya, sungguh bakat yang sukar dicari. Bilamana tidak keliru pandanganku, hasil yang akan dicapai Ji-kongcu di kemudian hari pasti akan diatas Bengcu sendiri.”

Segera Ang-lian hoa berkeplok tertawa, serunya, “Hendaklah Taysu dan Bengcu maklum, kecuali mempunyai seorang ayah termashur, kini Ji-kongcu sudah mempunyai pula seorang guru ternama!”

“O, guru ternama?” Ji Hong-ho seperti melengak.

Thian-kang Totiang lantas menukas, “Berhubung melihat putera anda mempunyai bakat tinggi dan sukar dicari, hatiku jadi tergerak dan secara sembrono telah menerima putera anda sebagai murid. Untuk ini diharap Bengcu suka memberi maaf atas kelancanganku.”

Ang-lian hoa tertawa dan menambahkan, “Ji-kongcu akan merangkap keunggulan kedua keluarga Bu-kek dan Kun-lun, kelak pasti akan memancarkan cahaya gilang gemilang bagi dunia persilatan umumnya. Kuyakin Bengcu pasti akan kegirangan, masa menyalahkan Totiang malah?”

“Ini… ini memang harus berterima kasih kepada Totiang, ” jawab Ji Hong-ho.

Meski tampaknya tersenyum tapi senyuman kecut atau lebih tepat dikatakan menyengir.

“Besok juga kami akan berangkat pulang ke Kun-lun-san, putera anda…”

Belum lanjut ucapan Thian-kang Totiang, segera Ang-lian hoa menyambung dengan tertawa, “Ji-kongcu dengan sendirinya harus ikut pergi bersama Totiang. Tentu saja Bengcu tidak perlu kuatir, kungfu Kun-lun-pay sudah termashur, bisa selekasnya belajar kan lebih baik. Apalagi Bengcu baru mulai menjabat tugas berat, tentu banyak pekerjaan dan tidak sempat memikirkan pelajaran Ji-kongcu.”

Lalu ia tarik tangan Ji Pwe-giok, katanya pula dengan tertawa, “Besok juga kau akan ikut Totiang ke Kun-lun dan harus belajar dengan giat, jangan harap lagi ada tempo senggang dan pesiar seperti sekarang ini, andaikan bertemu lagi kelak sedikitnya juga tiga atau lima tahun pula. Mumpung masih berkumpul sekarang, marilah kita pergi minum sepuasnya sebelum berpisah.”

Habis berkata Ang-lian hoa lantas menarik Pwe-giok dan diajak pergi.

Ji Hong-ho jadi melenggong dan tak dapat bersuara.

Dengan tersenyum Thian-in Taysu lantas berkata, “Putera anda dapat berkawan dengan Ang-lian-pangcu, rejekinya sungguh tidak kecil.”

“Ya, sungguh beruntung!” ucap Ji Hong-ho sembari menenggak teh untuk menutupi rasa canggungnya.

* * *

Esok paginya, baru saja remang2 di ufuk timur, namun sebagian besar para ksatria masih bergelak tertawa dengan muka merah karena terlalu banyak menenggak arak, ada sebagian lagi yang tidak dapat tertawa dan sudah roboh tertidur lelap.

Hanya anak murid Kun-lun-pay saja, baik mabuk atau tidak, saat ini dengan khidmat sama berdiri di depan perkemahan untuk mengantar keberangkatan sang ketua.

Di dalam kemah Ji Pwe-giok sedang menyembah kepada sang “ayah” sebagai tanda mohon diri. Ber-ulang2 “Ji Hong-ho” memberi pesan, kembali keduanya lagi main sandiwara kasih sayang antara ayah dan anak.

Habis itu delapan Tojin muda berbaju ungu mengiringi Thian-kang Totiang dan Ji Pwe-giok melangkah keluar kemah. Di luar tiada kereta atau kuda. Dari Kun-lun-san ke Hongciu, jarak ribuan li itu ternyata ditempuh kawanan Tojin Kun-lun-pay itu dengan berjalan kaki.

Ang-lian hoa memegangi tangan Ji Pwe-giok, ucapnya dengan tersenyum, “Selamat jalan, jangan lupa kepada kakakmu yang rudin ini.”

“Aku… Cayhe… Siaute…” saking terharunya Pwe-giok tidak tahu cara bagaimana harus berucap, suaranya menjadi ter-sendat2 dan air mata ber-linang2, akhirnya ia cuma tertunduk belaka.

Se-konyong2 seorang mendekatinya dan berkata dengan tertawa, “Anak Giok, perpisahan ini kukira akan makan waktu cukup lama, apakah kau tidak ingin bertemu dulu dengan Tay ih?”

Cepat Pwe-giok menengadah, dilihatnya Lim Soh-koan yang berdiri di depannya.

Pagi2 masih diliputi kabut yang tipis, samar2 disana berdiri bayangan seorang dengan kerlingan mata sayu, siapa lagi dia kalau bukan Lim Tay-ih?

Melihat bayangan si nona yang lembut, teringat perpisahan ini entah kapan baru dapat bertemu kembali, seketika Pwe-giok jadi kesima.

Memandangi mereka, Ang-lian hoa sendiri juga tertegun.

Mendadak terdengar Thian-kang Totiang membentak perlahan, “Kehidupan di pegunungan selalu sunyi, perasaan laki perempuan janganlah ditumbuhkan! Hayolah!” Segera tangan Pwe-giok ditariknya terus melangkah pergi.

Lim Tay-ih masih berdiri disana dan memandangnya dengan sayu, pada matanya yang jernih itu entah sejak kapan sudah mengembeng air mata.

“Melihat kepergian kekasih dan tidak dapat berbicara sepatah dua, apakah hatimu tidak merasa sedih?” demikian tiba2 suara seorang senyaring genta menegur dengan tertawa genit disertai bau harum semerbak terbawa angin.

Tay-ih tidak berpaling, sebab Ong Ih-lau dan Sebun Bu-kut sudah sampai pula disampingnya, dengan sorot mata tajam dan kereng kedua orang itu berkata, “Tay-ih, hayolah pergi.”

Suara nyaring merdu tadi berkata pula dengan tertawa, “Perempuan bicara dengan perempuan juga dilarang oleh kalian kaum lelaki?”

Dengan suara berat Ong Ih-lau menjawab, “Selama ini Bu-kek-pay tiada hubungan apapun dengan murid Peh-hoa-pang.”

“Dulu tidak ada, sekarang kan sudah ada, ” ujar suara genit itu.

Lim Tay-ih hanya berdiri diam saja, rambutnya ber-gerak2 tertiup angin. Sesosok bayangan lemah gemulai tahu2 melayang tiba di depannya dengan baju tipis berkibar laksana dewi kayangan.

Meski sama2 perempuan, mabuk juga Tay-ih melihat sepasang mata orang yang baru muncul ini, sungguh sama sekali tak tersangka olehnya bahwa ketua Pek-hoa-pang yang termashur itu ternyata sedemikian cantiknya.

Berbareng Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut hendak mengadang di depan Lim Tay-ih, tapi mendadak bau harum menusuk hidung, se-konyong2 kain tipis seperti kabut menyampuk tiba, tanpa terasa Ong Uh-lau berdua melompat mundur lagi.

Waktu mereka memandang lebih jelas, terlihat Hay-hong Hujin telah menggandeng tangan Tay-ih dan melangkah pergi, terdengar suaranya yang nyaring merdu lagi berkata, “Leng-hoa-kiam, kan boleh kubawa pergi anak perempuanmu untuk mengobrol sejenak?… Akupun seperti kaum lelaki, bila melihat anak perempuan cantik lantas terpikat dan ingin bicara dengan dia.”

Lim Soh-koan hanya melongo bingung disana tanpa bersuara.

Dari jauh Ang-lian hoa dapat menyaksikan kejadian ini, tersembul senyumannya yang puas. Di tengah kabut pagi yang belum buyar itu ke-14 panji besar masih berkibar di udara, tapi pertemuan besar setiap tujuh tahun satu kali ini sudah berakhir, para ksatria secara ber-kelompok2 telah mulai berangkat pulang.

Memandangi panji Bu-kek-pay yang baru saja ikut dikerek, Ang-lian hoa jadi terharu, tanpa terasa ia menghela nafas panjang.

“Apa yang Pangcu renungkan disini?” tiba2 seorang menegurnya. “Apakah sahabat baru Pangcu si Ji-kongcu sudah ikut berangkat bersama Thian-kang Totiang?”

Kiranya orang ini adalah Cia Thian-pi, ketua Tiam-jong-pay. Dengan terharu Ang-lian hoa menjawab, “Ya, sudah berangkat!”

“Wah, mengapa… mengapa secepat ini berangkatnya?!” seru Cia Thian pi mendadak dengan air muka berubah.

Melihat adanya kelainan air muka orang, Ang-lian hoa terkesiap, cepat ia bertanya, “Cepat? Cepat bagaimana?”

“Maaf Pangcu, ternyata kedatanganku ini tetap terlambat sejenak, ” kata Cia Thian-pi dengan muram dan menunduk.

“Sesungguhnya ada urusan apa?” tanya Ang-lian hoa sambil pegang pundak orang.

“Pernahkah Pangcu mendengar nama “Thian-kai-biau-peng-khek” (si kelana kian kemari)?”

“Sudah tentu pernah, ” jawab Ang-lian hoa. “Sesuai namanya, orang ini tidak tertentu tempat tinggalnya, dimanapun dapat dijadikan rumah olehnya. Jut-tun Totiang dari Bu-tong menganggap satu2nya tokoh Kangouw saat ini yang pantas disebut “Yu-hiap (pendekar kelana) hanya dia saja seorang.”

“Dan baru saja Siaute menerima surat merpati dari dia, katanya… Katanya…”

“Katanya apa?” Ang-lian hoa menegas, makin erat cengkeramannya pada pundak orang.

Cia Thian-pi menghela nafas panjang dan memejamkan mata, lalu menjawab dengan perlahan, “Katanya Thian-kang Totiang dari Kun-lun-pay telah wafat pada setengah bulan yang lalu.”

“Apa betul beritanya ini?” seru Ang-lian hoa terperanjat.

“Demi membuktikan kebenaran berita ini, dia telah membuang waktu selama setengah bulan, setelah menyaksikan sendiri jenazah Thian-kang Totiang barulah dia mengirim berita merpati kepadaku. Yu hiap Ih Eng selamanya bertindak dengan cermat dan hati2, berita penting begini mana berani dia siarkan secara ngawur jika tidak terbukti kebenarannya?”

Seketika kaki dan tangan Ang-lian hoa dingin semua, katanya, “Wah, jika demikian jadi Thian-kang Totiang inipun palsu?!”

Cia Thian-pi berkata dengan menyesal, “Ketika dia hadir di atas panggung pertemuan, kulihat dia selalu diam saja, sebenarnya sudah timbul rasa curigaku, kemudian dia diangkat menjadi Houhoat pula, tentu saja!”

“Mengapa tidak… tidak kaukatakan waktu itu?” tanya Ang-lian hoa.

“Mana berani Siaute memastikannya!” ujar Cia Thian-pi.

“Sekarang Ji Pwe-giok telah dibawa pergi, bukankah ini sama dengan mengantar domba ke mulut harimau?” kata Ang-lian hoa dengan suara rada gemetar.

“Ya, sebab itulah aku merasa kuatir, ” kata Cia Thian-pi.

Butiran keringat memenuhi dahi Ang-lian hoa, katanya pula, “Dia berangkat hanya membawa Pwe-giok seorang, anak muridnya masih tertinggal semua disini, rupanya supaya dia leluasa turun tangan! Ai, akulah yang membikin celaka dia! akulah yang bersalah!”

“Bisa jadi inilah langkah yang sudah lama diatur oleh komplotan jahat itu, ” ujar Cia Thian-pi, “kalau tidak, biasanya Kun-lun-pay sangat keras dalam hal memilih murid, mengapa dia mau terima murid secepat dan semudah itu?”

“Sungguh rapi dan cermat sekali rencana keji mereka dan sukar untuk dibendung, ” kata Ang-lian hoa dengan tersenyum pedih. “Tapi!” mendadak ia tarik tangan Cia Thian-pi dan mendesis, “Untung juga kedatangan Cia-heng ini belum terlalu terlambat.”

“Apakah mereka belum pergi jauh?!” tanya Thian-pi.

“Dengan kecepatan berjalan kita, kuyakin dapat menyusulnya!” seru Ang-lian hoa.

Dengan gemas Cia Thian-pi berkata, “Jahanam yang licik dan keji, baginya tiada soal peraturan Kangouw lagi, bila bertemu nanti, biarlah kita berlagak tidak tahu, coba kita lihat bagaimana sikapnya nanti.”

“Ya, marilah kita kejar!” seru Ang-lian hoa.

* * *

Makin sepi tempat yang dilalui mereka, makin tebal pula kabut yang mengambang di udara.

Pwe-giok berjalan di belakang Thian-kang Totiang, memandangi jenggot Tojin yang bertebaran tertiup angin dengan perawakannya yang tegap, teringat pula pertemuan dirinya yang aneh dan kebetulan, sungguh Pwe-giok tidak tahu mesti bergirang atau bersedih.

Kun-lun-pay cukup termashur, betapa keras caranya menerima murid juga sukar dibandingi perguruan lain, apabila murid juga sukar dibandingi perguruan lain, apabila dirinya tidak tertimpa musibah sebanyak ini, manabisa dalam semalam saja telah berubah menjadi murid Kun-lun-pay.

Didengarnya Thian-kang Totiang berkata, “Perjalanan masih jauh, kita harus berjalan dengan lebih cepat.”

Dengan hormat Pwe-giok mengiakan, “Peraturan perguruan kita selamanya sangat keras, tata tertib kehidupan se-hari2 sangat prihatin, hidup sederhana dan harus tahan uji, apakah kau sanggup?”

“Tecu tidak takut menderita.”

“Kau terakhir masuk perguruan, setiba di gunung, pekerjaan se-hari2 yang harus kaulakukan dengan sendirinya akan lebih banyak daripada murid lain. Tampaknya badanmu lemah lembut, entah kausanggup tidak bekerja berat?”

“Di rumah Tecu juga biasa bekerja berat.”

“Baiklah, di depan sana ada sumur, timbalah airnya sedikit.”

Pwe-giok mengiakan.

Benar juga, tidak jauh di depan sana ada sebuah sumur yang sangat besar, baru saja Pwe-giok menurunkan timba ke dalam sumur, mendadak terbayang waktu menimba air di rumah, terkenang pada taman yang rimbun dan sejuk itu, terbayang wajah sang ayah yang welas asih! seketika air matanya berderai, timba yang dipegangnya mendadak terlepas dan jatuh ke dalam sumur.

Ia terkejut dan cepat hendak meraih tali timba, tapi entah mengapa, mendadak ia terpeleset, tubuhnya ikut terjerumus ke dalam sumur.

Padahal sumur itu sangat dalam, biarpun dia memiliki ilmu silat maha tinggi, kalau jatuh ke dalam sumur mungkin sukar juga manjat ke atas. Sudah banyak musibah yang menimpanya, sudah sering dia menghadapi bahaya, kalau sekarang ia harus mati di dalam sumur, apakah bukan permainan nasib?

Padahal sejak kecil ia belajar silat, kuda2nya terlatih sangat kuat, entah mengapa dia bisa terpeleset.

Air sumur sedingin es, keruan Pwe-giok menggigil, ia me-ronta2 dan berusaha memanjat ke atas, tapi dinding sumur penuh lumut tebal dan licin, hakikatnya tiada tempat yang dapat dibuat pegangan.

Anehnya, mengapa Thian-kang Totiang tidak datang menolongnya?

Sekuatnya ia bertahan. Mendadak terdengar kumandang derap kuda lari yang langsung menuju ke tepi sumur. Lalu suara seorang perempuan berseru, “Siapakah yang jatuh ke dalam sumur?… Ai, jangan-jangan Ji…”

“Betul, memang dia!” terdengar suara Thian-kang Totiang.

“Totiang menyaksikan dia jatuh ke dalam sumur, mengapa engkau tidak menolongnya? Apakah ingin dia mati disitu?” tanya perempuan itu.

“Dia mengira dirinya sanggup menderita dan tahan uji, tapi tidak tahu betapa sengsaranya orang hidup di dunia ini. Demi hari depannya supaya dia dapat menjadi orang yang berguna, maka sengaja kugembleng dia mulai sekarang.”

“O, jika begitu, maafkan bila barusa Tecu salah omong, tapi! tapi sekarang ujian baginya apakah belum cukup?”

“Mengapa kau begitu memperhatikan dia?” tanya Thian-kang Totiang dengan tersenyum.

Perempuan itu tak dapat menjawab, seperti merasa kikuk, sejenak kemudian barulah dia berseru, “Sebabnya Tecu menyusul kemari justeru ingin… ingin bicara beberapa patah kata dengan dia.”

“O, jika demikian, bolehlah kunaikkan dia!” lalu Thian-kang Totiang melemparkan seutas tambang ke dalam sumur.

Waktu Pwe-giok naik ke atas, mukanya tampak merah padam, seluruh tubuhnya basah kuyup, ia merasa malu juga serba runyam.

Dilihatnya sebuah tangan yang putih halus mengangsurkan sepotong sapu tangan, pada sapu tangan warna keemasan itu tersulam pula seekor burung walet emas, terdengar suara merdu itu berkata padanya, “Lekas mengusap air yang membasahi mukamu!”

Ucapan yang sederhana ini ternyata mengandung perhatian yang sangat mendalam, kepala Pwe-giok tertunduk semakin rendah, ia menjadi bingung apakah harus menerima sapu tangan itu atau tidak.

Didengarnya Thian-kang Totiang berkata dengan suara bengis, “Seorang lelaki sejati, mengapa mengangkat kepala saja tidak berani?”

Sudah tentu bukannya Pwe-giok tidak berani mengangkat kepalanya. Begitu dia angkat kepala, segera dilihatnya Kim-yan-cu, gadis yang lincah dan cerah ini sedang memandanginya dengan penuh simpati.

“Ada urusan apa silahkan bicaralah, segera kami harus melanjutkan perjalanan jauh, ” kata Thian-kang Totiang. Biarpun orang pertapaan tulen, agaknya iapun paham hubungan mesra antara muda-mudi, sambil mengelus jenggotnya ia lantas menyingkir ke sana.

Kim-yan-cu tersenyum manis dan menyerahkan sapu tangannya kepada Pwe-giok, katanya, “Ambil, takut apa kau?”

Air yang memenuhi muka Pwe-giok entah air atau keringat, dia berucap dengan gelagapan, “Te! terima kasih nona.”

“Tentunya kau heran, selamanya kita belum kenal, mengapa kususul kemari untuk bicara dengan kau?” kata Kim-yan-cu.

Pwe-giok mengusap air di mukanya, lalu menjawab, “Entah! entah nona ada petunjuk apa yang harus dibicarakan padaku?”

“Sebenarnya akupun heran, ” kata Kim-yan-cu dengan gegetun. “Entah mengapa, kurasakan kita tak dapat berpisah dengan begini saja. Maka aku lantas menyusul kemari. Biasanya memang begitu. Apa yang ingin kukerjakan seketika juga kulaksanakan.”

“Tapi… tapi nona!” Pwe-giok tidak sanggup melanjutkan, ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya, sekilas dilihatnya dikejauhan sana ada sesosok bayangan orang berdiri di tengah kabut bersandar di samping kuda, tampaknya sangat kesepian.

Pwe-giok berdehem, katanya, “Maksud baik nona cukup kupahami. Sin-to Kongcu sedang menunggu di sana, le… lekaslah nona kesana, bisa jadi kelak…”

“Jangan pusingkan dia, berapa lama dia akan menunggu, buat apa kau gelisah baginya?” sela Kim-yan-cu dengan kurang senang. Mendadak ucapannya berubah lembut, katanya dengan perlahan dan tandas, “Aku cuma ingin tanya padamu, selanjutnya kau ingin bertemu lagi denganku atau tidak?”

“Aku…” Pwe-giok menunduk dan ragu2.

Kim-yan-cu menggigit bibir, tanyanya pula, “Aku anak perempuan, kalau kuberani tanya masa kau tak berani menjawab?”

Dengan menggeret Pwe-giok berkata, “Cayhe adalah orang yang bernasib malang, selanjutnya… selanjutnya paling baik kita tidak bertemu lagi.”

Tergetar tubuh Kim-yan-cu, ia melenggong sekian lamanya, akhirnya dia berkata dengan suara gemetar, “Ba.. bagus kau!” mendadak ia mencemplak ke atas kudanya terus dibedal pergi secepat terbang.

Tangan Pwe-giok masih memegangi sapu tangan kuning itu dan mengikuti bayangan si nona yang lenyap di tengah kabut. Bau harum saputangan masih terendus, tanpa terasa Pwe-giok rasa terkesima.

Pada saat itulah mendadak seekor kuda menerjang tiba, bayangan golok berkelebat terus membacok!

Serangan ini datangnya teramat cepat dan keras. Keruan Pwe-giok terkejut, untuk menghindar terasa tidak sempat lagi, terpaksa Pwe-giok menubruk ke depan malah, terasa punggungnya terserempet angin tajam, dilihatnya Sin-to Kongcu telah melarikan kudanya ke sana, dengan gelak tertawa dan mengangkat goloknya Kongcu golok sakti itu lantas berseru, “Bacokan ini hanya sebagai peringatan saja, jika kau tetap tidak tahu diri, lain kali kepalamu pasti akan kupenggal!”

Pwe-giok benar2 serba susah. Setelah berdiri tegak lagi barulah diketahui baju bagian punggung telah robek tersayat golok lawan, hanya selisih sedikit saja jiwanya bisa melayang di bawah golok kilat tadi.

Thian-kang Totiang juga sedang memandang padanya, ucapnya sambil menggeleng, “Jika persoalan demikian selalu terjadi, cara bagaimana kau bisa hidup tenteram?”

“Tecu… tecu…” Pwe-giok tertunduk dan tidak sanggup melanjutkan.

“Sudahlah, hayo kita berangkat, ingin kulihat apakah kau sanggup berjalan sampai Kun-lun-san!” kata Thian-kang Totiang.

Cara berjalan Thian-kang Totiang tidak cepat juga tidak lambat, tapi bagi Pwe-giok sudah kepayahan untuk mengikuti langkahnya. Duka derita selama akhir2 ini benar2 telah menyiksa jiwa raganya. Ia sudah basah kuyup oleh air keringat, rasanya akan menggigil, tapi di samping guru yang kereng ini mana dia berani mengeluh.

Kabut sudah mulai buyar, tapi sinar sang surya belum lagi muncul. Cuaca mendung, lembab dan kelam seperti air muka Thian-kang Totiang.

Mereka terus jalan dan entah sudah berapa jauhnya, baju Pwe-giok yang basah oleh air keringat sudah kering, tapi segera basah lagi. Ia mulai ter-engah2, langkahnya tambah lambat, kepalapun merasa berat!

Se-konyong2 Thian-kang Totiang berhenti di depan sebuah kelenteng bobrok, katanya sambil menggeleng, “Nak, tampaknya kau tidak tahan menderita, marilah masuk dan mengaso dahulu.”

Kelenteng itu sunyi senyap dengan ruangan yang gelap, patungnya tinggi besar dan beringas menakutkan se-akan2 sedang mengejek siksa derita yang dialami manusia.

Tanpa terasa Pwe-giok terus berbaring di depan patung, di luar angin meniup santer, agaknya akan hujan. Biarkan hujanlah, air hujan mungkin dapat mencuci bersih segala kekotoran kehidupan manusia.

Thian-kang Totiang berdiri di depan Pwe-giok, tampaknya iapun angker seperti patung kelenteng itu, dengan bengis ia berkata, “Berdiri, di depan malaikat pujaan mana boleh sembarangan berbaring!”

Pwe-giok mengiakan dan meronta bangun, ia berdiri dengan sikap hormat, dalam hati tiada sedikitpun merasa menyesal. Tanpa guru yang kereng, mana dapat mengeluarkan anak didik yang baik?

Air muka Thian-kang tampak ramah kembali, katanya, “Setiap anak murid Kun-lun harus berani menderita, lebih2 kau, nasibmu berbeda dengan orang lain, kau harus berani menderita berlipat ganda daripada orang lain.”

“Tecu mengerti, ” jawab Pwe-giok dengan muram.

Perlahan Thian-kang berpaling ke sana, diluar daun rontok gemerasak oleh tiupan angin, ketua Kun-lun-pay yang termashur ini se-akan2 merasakan akan datangnya musim rontok yang senyap, ia bergumam, “Akan hujan lagi! langit selalu datang awan dan angin yang sukar diramal, kehidupan manusia tidaklah juga demikian adanya? Nak, sampai matipun kau harus tetap ingat, tiada seorangpun di dunia ini yang dapat dipercaya sepenuhnya, kecuali dirimu sendiri.”

Tiba2 angin meniup, entah mengapa Pwe-giok jadi merinding. Suasana sedemikian senyapnya, jangan2 inilah firasat yang tidak baik.

“Nak, kemarilah kau, ” kata Thian-kang pula perlahan.

Dengan sikap hormat dan prihatin Pwe-giok mendekatinya.

Dari kantongan yang dibawanya Thian-kang mengeluarkan sepotong bola nasi yang dibuat seperti onde2. Diberinya onde2 nasi ini kepada Pwe-giok, air mukanya yang kereng itu tersembul senyuman yang jarang terlihat, katanya, “Makanlah, pada usia semuda kau, gurumu juga merasakan cepatnya lapar.”

Orang tua yang kereng ini ternyata juga punya rasa kasih sayang. Memandang onde2 nasi di tangannya, saking terharu hampir saja Pwe-giok mencucurkan air mata. “Dan suhu sendiri?” ucapnya kemudian.

Thian kang tertawa, katanya, “Bola nasi ini tidak sembarangan orang dapat memakannya, setelah kau makan tentu kau tahu apa sebabnya, gurumu!”

“Jika bola nasi itu sedemikian bernilai, entah boleh tidak Cayhe ikut minta sebagian?” mendadak seorang menimbrung dengan tertawa.

Tahu2 seorang muncul di luar, dengan langkah lebar masuk ke dalam kelenteng, dadanya tampak ter-engah2, senyuman yang menghiasi mukanya juga rada aneh. Cuma cuaca mendung kelam sehingga tidak begitu jelas kelihatan.

“Mengapa Pangcu menyusul kemari?” seru Pwe-giok dengan girang setelah mengetahui siapa pendatang ini.

Dengan mengelus jenggotnya, Thian-kang juga menyapa, “Pangcu menyusul kemari dengan tergesa2 begini, kukira pasti bukan untuk minta bagian makanan ini.”

“Totiang memang bijaksana dan tahu segalanya, ” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa. “Kedatanganku ini memang ini memperlihatkan sesuatu kepada Totiang.”

Ia lantas mengeluarkan sesuatu barang dan disodorkan ke depan Thian-kang. Benda itu sangat kecil, di ruangan kelenteng yang gelap ini tidak terlihat jelas.

Terpaksa Thian-kang Totiang menunduk untuk memeriksa barang itu sambil berkata, “Barang yang diantar kemari oleh Ang-lian-pangcu secara tergesa-gesa ini pasti benda yang sangat menarik!”

Belum habis ucapannya, se-konyong2 tangan Ang-lian hoa terangkat ke atas dan tepat menghantam mata Thian-kang Totiang.

Pada saat itu juga mendadak terdengar guntur menggelegar, hujan turun bagai dituang. Pada saat yang sama pula sinar pedang lantas berkelebat dan menancap di punggung Thian-kang Totiang.

Thian-kang meraung sambil menghantam dengan sebelah tangannya. Tapi Ang-lian hoa sempat melompat mundur, angin pukulan yang dahsyat menghantam altar patung hingga berantakan, patung besarpun sama ambruk.

Muka Thian-kang berlumuran darah, rambut dan jenggotnya se-akan2 kaku berdiri, teriaknya dengan parau, “Ken! kenapa kau!” belum habis ucapannya, robohlah dia terkapar.

Di luar hujan turun semakin deras, pedang yang menancap di punggung ketua Kun-lun-pay itu tampak masih bergetar.

Terkesiap Pwe-giok oleh kejadian itu, bola nasi yang dipegangnya juga terjatuh. Ang-lian hoa berdiri mepet dinding sana, dadanya naik-turun dengan napas ter-engah2, air mukanya juga berubah pucat. Tapi Pwe-giok masih dapat diselamatkan, betapapun kedatangannya belum terlambat.

Terlihat Cia Thian-pi lantas melayang masuk, serunya dengan tertawa, “Betapapun kedatangan kita masih keburu dan sekali turun tangan lantas berhasil.”

“Mestinya jangan kau binasakan dia, harus kita tanyai lebih dulu, ” ujar Ang-lian hoa dengan menyesal.

“Tanya apalagi?” kata Cia Thian-pi. “Kalau ditanyai mungkin akan!”

Mendadak Pwe-giok meraung murka, teriaknya dengan parau, “Apa2an kalian ini? Mengapa kalian membunuhnya?”

“Jika dia tidak dibunuh, dia yang akan membunuh kau!” kata Thian-pi.

Kejut dan kesima Pwe-giok, ucapnya, “Meng! mengapa?…”

“Kelak kau tentu akan tahu sendiri, ” ujar Cia Thian-pi, lalu ia tarik tangan Pwe-giok dan berkata, “Komplotan jahat ini pasti ada begundalnya di sekitar sini, siaute akan berangkat dulu besama dia, harap Pangcu merintangi mereka, nanti Siaute akan balik lagi untuk membantu.”

Karena tangannya dipegang, tanpa kuasa Pwe-giok ikut terseret pergi.

Ang-lian hoa lantas berdiri di ambang pintu kelenteng dan bergumam, “Hayolah maju, akan kutunggu kalian disini!”

Hujan angin tambah keras, cuaca tambah kelam. Ang-lian hoa mencabut pedang yang menancap di punggung Thian-kang Totiang itu.

Kembali guntur menggelegar pula. Darah menetes dari ujung pedang. Air muka Ang-lian hoa mendadak berubah pucat, tubuhnya serasa lemas, ia terhuyung-huyung dan menumpahkan darah.

* * *

Dalam pada itu Pwe-giok telah diseret pergi oleh Cia Thian-pi, mereka berlari di bawah hujan lebat, dengan langkah agak sempoyongan Pwe-giok bertanya, “Ken… kenapa?”

“Thian-kang Totiang itu adalah samaran komplotan jahat, ” kata Cia Thian-pi. “Apa yang dilakukannya itu ialah ingin mencelakai kau. Bola nasi yang diberikan padamu itu adalah racun yang tak dapat ditolong!”

“Apa betul?” teriak Pwe-giok terkejut.

“Sekalipun mungkin aku menipu kau, apakah Ang-lian pangcu juga akan menipu kau?” kata Cia Thian-pi.

“Tapi dia… dia…” mendadak Pwe-giok ingat kejadian jatuh ke dalam sumur tadi, apa benar Thian-kang Totiang bermaksud mencelakai dia? Tapi sikapnya yang kereng dan berwibawa itu masa dapat dipalsukan?

Hati Pwe-giok terasa kusut, tanpa kuasa tubuhnya ikut terseret berlari ke depan. Se-konyong2 ia merasa tangan Cia Thian-pi yang menariknya itu sangat dingin, sungguh dingin luar biasa, tanpa terasa ia menggigil dan berkata, “Mengapa tanganmu sedemikian aneh?”

“Kau bilang apa?” tanya Cia Thian-pi sambil menoleh.

Pwe-giok pandang wajah orang dan menjawabnya, “Kubilang! hei!” mendadak ia meraung. “Kau! kau inilah palsu! kukenal matamu!”

Belum habis ucapannya, ia merasa beberapa hiat-to pada tangannya sudah tertutuk, tubuhnya lantas dilemparkan oleh Cia Thian-pi.

“Hehe.. anggaplah kau memang pintar, tapi orang pintar justeru mati terlebih cepat!” kata Cia Thian-pi sambil menyeringai, ia angkat kakinya terus menginjak ke dada Pwe-giok yang jatuh tersungkur di tengah lumpur itu.

Lengan kanan Pwe-giok serasa kaku semua, ingin mengelakpun tidak sanggup lagi. Untung tangan kirinya masih dapat bergerak, secepat kilat ia pegang ujung kaki Cia Thian-pi. Walaupun pembawaan tenaga Ji Pwe-giok sangat kuat, apa daya, saat ini dia seperti anak panah yang sudah jauh meluncur dan tinggal jatuh lemas ke tanah.

Cia Thian-pi masih menyeringai dan kakinya tetap ingin menginjak ke bawah, ucapnya, “Hayolah tahan sekuatnya, ingin kulihat sampai berapa lama kau mampu bertahan!”

Ruas tulang Pwe-giok terasa gemertak, air hujan berhamburan di mukanya, hampir2 tidak sanggup membentangkan matanya, sedangkan injakan Cia Thian-pi terasa semakin berat. Ia mengertak gigi dan bertahan sekuatnya, teriaknya dengan parau, “Kiranya kau yang membunuh ayahku! Susah payah kucari kau!”

“Hehehe… dan sekarang sudah kautemukan diriku, bukan?” jawab Cia Thian-pi dengan ter-kekeh2. “Tapi apa yang dapat kau lakukan? Ayahmu mati di tanganku, sebaliknya kau akan mati di bawah kakiku!”

Lengan Pwe-giok serasa hampir patah, sebaliknya kaki Cia Thian-pi semakin berat seperti bukit menindih. Dia bertahan sekuatnya, tapi jelas tiada harapan lagi. Betapa dia tersiksa oleh injakan kaki musuh, sungguh ia ingin lepas tangan dan pasrah nasib. Dengan demikian segala duka nestapa, segala siksa derita, semuanya takkan menimpa dirinya lagi.

“Hayolah tahan yang kuat!” demikian Cia Thian-pi berteriak sambil tertawa latah. “Apakah kau sudah kehabisan tenaga? Wahai Ji Pwe-giok, setelah mati janganlah kau menyesal padaku. Meski kita tiada permusuhan apa2, tapi kematianmu akan membuat hidup orang lain jauh lebih nikmat dan bahagia!”

Pwe-giok merasa pandangannya mulai kabur dan gelap, tenggorokan terasa anyir, akhirnya tak tahan lagi, darah segar tersembur keluar dan mengotori baju Cia Thian-pi.

Sambil menyeringai kaki Cia Thian-pi terus menginjak sekerasnya, pada saat itulah mendadak terdengar suara mendenging tajam menyambar dari belakang.

Dengan daya pantulan injakannya itu cepat Cia Thian-pi meloncat ke atas, ia berjumpalitan di udara, lalu turun di kejauhan sana.

Terlihat di bawah hujan lebat sana melayang sesosok bayangan orang seperti badan halus, mukanya kaku tanpa emosi, tapi sorot matanya merah membara. Siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian hoa.

Suara mendenging tajam tadi adalah sambaran pedang yang ditimpukkan, pedang itu akhirnya menancap pada batang pohon dan amblas hampir setengah pedang, dari sini dapat diketahui betapa pedih dan gemas hati Ang-lian hoa.

Air muka Cia Thian-pi tampak berubah pucat, tapi ia tetap bersikap tenang dan menyapa, “Kenapa Pangcu sudah menyusul tiba, apakah kawanan penjahat sudah dihalau pergi?”

Seperti berapi sorot mata Ang-lian hoa, ia tatap orang dengan tajam, tanyanya sekata demi sekata, “Siapa kau sebenarnya!?”

“Aku… Siaute…” Cia Thian-pi menjawab dengan gelagapan dan menyurut mundur setindak demi setindak.

“Hm, mirip benar penyamaranmu, sungguh teramat mirip, sebentar harus kusayat mukamu secuil demi secuil, ingin kutahu mengapa penyamaranmu bisa begini mirip!” kata Ang-lian hoa. Suaranya dingin seram, jauh lebih menakutkan daripada suara raungan murka. Siapapun percaya, apa yang dikatakan Pangcu kaum jembel ini pasti akan dilaksanakannya.

Keruan Cia Thian-pi merasa ngeri, tapi mendadak ia bergelak tertawa, serunya, “Hahaha, bagus, Ang-lian hoa, tak tersangka akhirnya kau tahu juga. Dengan jerih payah tiga tahun kubelajar merias, kuyakin sudah dapat berlagak serupa benar dengan Cia Thian-pi. Kukira biarpun dia sendiri juga sukar membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Tapi kau, cara bagaimana dapat kau pecahkan penyamaranku ini?”

“Pedangmu itu, ” kata Ang-lian hoa. “Setiap anak murid Tiam-jong-pay tidak mungkin menggunakan pedang begitu, lebih2 tidak nanti membuang pedangnya begitu saja. Mungkin kau lupa istilah yang dipatuhi setiap anak murid Tiam-jong, yaitu “Pedang ada orang ada, pedang hilang orang gugur.”

Cia Thian-pi melenggong, serunya kemudian, “Ah, kiranya langkah ini telah kulupakan. Wahai Ang-lian hoa, engkau memang luar biasa, pantas Cusiang kami bilang engkau ada tokoh nomor satu yang paling sulit direcoki.”

“Si.. siapa Cusiang kalian?” tanya Ang-lian hoa dengan geregetan.

“Selamanya takkan diketahui olehmu, ” jawab Cia Thian-pi sambil tertawa latah. “Bilamana nanti kau tahu, saat itu pula mungkin jiwamu akan melayang. Biarpun tokoh yang beribu kali lebih kuat daripadamu juga sukar menandingi satu jari Cusiang kami.”

“Hehe.. memang betul, selama beratus tahun ini di dunia Kangouw memang tiada seorangpun yang terlebih licik, licin dan keji seperti dia, ” kata Ang-lian hoa dengan tersenyum pedih.

“Dunia Kangouw yang akan datang akan menjadi dunianya Cusiang kami, ” teriak Cia Thian-pi dengan bengis. “Ang-lian hoa, kau adalah orang pintar, coba pikirkan baik2, apa yang akan kau lakukan?”

Ang Lian-hoa maju beberapa langkah kearahnya dan berkata, “Aku ingin membunuhmu. Saat ini, yang aku ingin lakukan hanyalah membunuhmu.”

Cia Thian-pi berkata, “Tugasku adalah membunuh Ji Pwe-giok, oleh karena itu aku harus membunuh Thian-kang totiang. Tetapi jangan lupa, engkau adalah komplotanku, kalau kau ingin membunuhku engkau juga harus menghukum dirimu sendiri.”

Ang Lian-hoa berkata dengan menyesal, “Itu adakah kesalahan terbesar selama hidupku. Begitu bodohnya aku mempercayaimu. Aku akan menghukum diriku sendiri kelak di kemudian hari. Tapi engkau…engkau…”

Secepat kilat Ang Lian-hoa menyerang dengan kepalan 3, 4 jurus. tidak banyak orang di dunia persilatan yang pernah bertempur dengan Ang Lian-hoa. Sekarang Cia Thian-pi menyadari bahwa ketua Kaypang yang masih muda ini mempunyai jurus kepalan dan telapak tangan yang hebat. Setiap jurusnya dilambari kekuatan tenaga dalam yang penuh.

Terlebih-lebih saat ini dia menyalurkan kemarahannya ke kepalan dan telapak tangannya. Kekuatannya sangat menggiriskan hati orang-orang.

Ji Pwe-giok kini berteriak, “Engkau tidak boleh membunuhnya!”

Ang Lian-hoa dan Cia Thian-pi sama-sama dikejutkan dengan teriakannya itu. Ang Lian-hoa bertanya dengan amrah, “Mengapa aku tidak boleh membunuhnya?”

Ji Pwe-giok menggunakan tangan kirinya untuk membebaskan 3 titik jalan darahnya yang tertotok dan berdiri. Dia nampak sangan pucat dan matanya memancarkan sinar kebencian. Pemuda yang biasanya nampak rapuh dan lembut ini kini telah berubah menjadi seorang yang beringas.

Ji Pwe-giok berkata dengan lantang, “Bangsat licik ini tidak hanya telah membunuh ayahku, dia juga telah membunuh guruku. Hanya aku yang boleh membunuh bajingan ini!”

Ang Liang-hoa tersenyum nyengir, “Baiklah, dia milikmu sepenuhnya.”

Ji Pwe-giok merangsek ke Cia Thian-pi. Ang Lian-hoa melihat langkah kakinya tidak stabil dan gerakannya lambat, jelas pikiran dan tenaganya sangat terganggu.

“Kau masih mengawasi di samping, kenapa dia harus hati2 segala?!” jengek Cia Thian-pi

Dengan mengertak gigi Pwe-giok berteriak pula, “Hari ini harus kubunuh kau dengan tanganku sendiri, siapapun tidak boleh membantuku!”

Semangat Cia Thian-pi terbangkit, ia tertawa latah dan berkata, “Bagus, jantan sejati! Ucapan seorang lelaki harus dipegang teguh!”

Sembari bicara sembari bertempur, berbareng iapun menyurut mundur, pada suatu kesempatan mendadak ia mencabut pedang yang menancap di batang pohon, “sret” kontan ia menabas ke depan, ber-turut2 ia menusuk dan menabas tujuh kali.

Serangan mendadak dan secepat kilat ini jelas bukan ilmu pedang Tiam-jong-pay, tapi keganasan dan kekejiannya bahkan di atas ilmu pedang Tiam-jong.

—–

Siapakah sebenarnya Cia Thian-pi gadungan ini?

Dapatkah Pwe-giok mengalahkan musuh dan apa tindakan Ang lian pangcu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: