Kumpulan Cerita Silat

12/05/2010

Renjana Pendekar – 02

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:29 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Budiwibowo, Edisaputra, Ipan, Nugi, dan Sukantas009)

“Ya, kutahu.” kata Pwe-giok pelahan sambil menghela napas.

“Tiga kali berturut turut Ji-locianpwe mengetuai perserikatan Hong-ti, meski kemudian beliau mengundurkan diri, tapi setiap tindak dan ucapannya masih berbobot. Baru 30 tahun yang lalu, ketika Ji-locianpwe menjabat ketua Bu kek pay, beliau baru sama sekali mengundurkan diri dari urusan perserikatan, sebab itulah dalam kartu undangan sekarng hanya tercantum ke 13 Mui-pay saja.”

Meski cara bercerita Ciong Ling yang cantik ini sangat menarik akan tetapi tetap Pwe-giok tetap menunduk saja dengan wajah sedih.

Malam ini dia bergolek tek dapat tidur, sampai fajar sudah hampir menyingsing, baru saja dia akan terpulas, tahu tahu suara Ciong Ling sudah terdengar diluar pintu kamar, “Kongcu sudah bangun belum? Nyo Kun-pi, Nyo-suheng dari Tiam jong-pay sudah datang menjemput anda.”

Cepat Pwe-giok bangun dan menyambut keluar, dilihatnya kerlingan mata si nona masih tetap lembut, senyumnya tetap menggiurkan. Nyo Kun-pi dari Tiam-jong-pay itu kini tampak memakai baju kuning diluar bajunya yang hitam ketat, sikapnya masih tetap sangat menghormat seperti semalam.

“Kereta penyambutanmu kami sudah menunggu di luar, Ciangbun Cin-suheng kami juga menantikan kedatangan anda diatas kereta.” demikian Nyo Kun-pi bertutur sambil memberi hormat.

Cepat Pwe-giok membalas hormat dan mengucapkan terima kasih.

Di wisma tamu agung itu sudah mulai ramai, banyak yang sedang latihan pagi, tapi Pwe-giok tidak memusingkan mereka, langsung dia ikut Ciong Ling dan Nyo Kun-pi keluar.

Benar juga, diluar sebuah kereta besar dengan empat kuda penarik yang tinggi besar sudah menunggu. Kereta itu sangat mewah dan longgar, disitu sudah berduduk sembilan orang.

Sekilas pandang Pwe-giok melihat diantara kesembilan orang itu ada seorang pemuda berbaju kembang ungu, ada pula seorang nona berbaju kuning dan membawa pedang. Mungkin mereka inilah Sin-to-kongcu (Kongcu bergolok sakti) serta Kim-yang-cu (si walet emas). Selain itu ada pula seorang lelaki kekar bermuka ungu dan berbaju menterang, dua orang Tosu yang berdandan serupa. Didekat jendela sebelah sana berdiri seorang pemuda dengan baju sutera kuning dan berpedang sarung hijau sedang melongok keluar dan bicara dengan seorang lelaki yang menuntun kuda.

Pwe-giok tak dapat melihat jelas sekaligus seluruh penumpang kerata itu, tapi iapun tidak memandang lebih lanjut. Orang lain tidak menghiraukan dia, iapun tidak pedulikan orang lain, dia tetap berduduk dan menunduk.

“Sampai bertemu di tengah rapat… ” seru Ciong Ling sambil melambaikan tangannya kepada Pwe-giok ketika kereta mulai berangkat.

Setelah pintu kereta ditutup dan kereta sudah mulai bergerak barulah pemuda baju kuning tadi menarik kepalanya dan membalik tubuh, tanyanya dengan tertawa, “Yang manakah sahabat Ang-lian-pangcu?”

Waktu Pwe-giok mengangkat kepalanya, sungguh kagetnya tidak kepalang. Dilihatnya sorot mata pemuda baju kuning itu mencorong tajam meski mukanya putih pucat, jelas pemuda inilah yang membunuh ayahnya, Ji Hong-ho, secara keji itu.

Karena mendengar Pwe-giok adalah sahabat Ang-lian-pangcu, semua orang lantas berubah sikap dan sama memandang ke arah Pwe-giok, terlihat mata Pwe-giok melotot dan memandang pemuda beju kuning dengan beringas.

Tapi pemuda baju kuning lantas berkata dengan tertawa hampa “Cayhe Cia Thian-pi dari Tiam-jong, juga sahabat lama Ang-lian-pangcu, entah siapa nama anda yang terhormat?”

Mendadak Pwe-giok berteriak dengan suara parau, “Meski kau tidak… tidak kenal padaku, tapi… tapi kukenal kau…” berbareng itu ia terus menubruk maju, kedua tinjunya menghantam sekaligus, tidak kepalang dahsyat angin pukulannya sehingga para pemunpang kereta sama terkesiap.

Pemuda baju kuning Cia Thian-pi seperti terkejut juga, sekuatnya ia menghindarkan serangan Pwe-giok itu, lalu membentak, “Apakah maksudmu ini?”

Pwe-giok melancarkan pukulan pula sambil berkata dengan mengertak gigi, “Hari ini jangan kau harap akan kabur? sudah lama kucari kau!”

Kejut dan dongkol pula Cia Thian-pi, untung ruangan kereta ini cukup longgar,dia sempat berkelit kian kemari dengan lincah, setelah mengelak lagi beberapa kali pukulan, dengan gusar ia menbentak, “Selamanya kita belum kenal, mengapa kau…”

“Utang darah yang terjadi diluar kota Lengcu enam hari yang lalu sekarang harus kaubayar dengan darahmu!” teriak Pwe-giok murka, tangan bergerak keatas, tangan kiri terus menonjok dengan jurus “Ciok-boh-thian-keng” atau batu hancur mengejutkan langit.

Karena sudah kepepet, terpaksa Cia Thian-pi menangkis serangan ini. “Blang”, dua tangan beradu dan menerbitkan suara kulit dipukul kayu, Cia Thian-pi tergetar mundur dan menubruk pintu kereta.

Pwe-giok tidak memberi kelonggaran, secara berantai kedua kepalan menghantam pula.

“Berhenti!” mendadak beberapa orang membentak, tahu-tahu tiga batang pedang sudah mengancam dipunggung Pwe-giok, dua gaetan tajam mengantol bahunya, sebilah belati yang mengkilap juga mengancam didada kirinya, ujung belati terasa sudah menyentuh kulit, dalam keadaan demikian mana Pwe-giok berani bergerak pula.

Kereta itu masih terus dilarikan kedepan, wjah Cia Thian-pi bertambah pucat, dengan gusar ia bertanya, “Apa katamu tadi? Diluar kota Lengcu apa? utang darah apa maksudmu? sungguh aku tidak mengerti!”

“Kau pasti mengerti!” teriak Pwe-giok, mendadak ia menjatuhkan tubuhnya kekiri, menumbuk Tojin sebelah kiri yang bersenjata gaetan, menyusul tangan kanan menarik gaetan Tojin itu dan ditangkiskan ke belakang sehingga kedua pedang yang mengancam punggungnya tersampuk pergi, waktu pedang ketiga hendak menusuk, ia mendahului menyukit perutnya sehingga orang itu menungging kesakitan.

Akan tetapi golok pendek atau belati yang mengancam dadanya tadi masih belum bergeser. Rupanya belati inilah senjata andalan Sin-to Kongcu atau si Kongcu golok sakti, dengan sorot mata setajam goloknya dia mengejek, “Ketangkasan anda memang harus dipuji, tapi ada urusan apa, hendaklah dibicarakan dengan baik-baik sambil berduduk saja?”

Sedikit belatinya bergerak, baju dada Pwe-giok sudah terobek dan kulit dadanya seperti tertusuk jarum, mau tak mau ia menurut dan berduduk kembali.

Orang yang disikut perutnya tadi masih menungging, saking sakitnya, dia belum sanggup berdiri lagi.

Keruan semua orang terkesiap. Seorang pemuda yang tidak terkenal ternyata sanggup mengadu pukulan dengan ketua Tiam-jong-pay yang tergolong tokoh terkemuka di kalangan anak muda jaman ini, lalu merobohkan tokoh ternama “Yu-liong-kiam” Go To, walaupun caranya rada jahil, namun cukup mengejutkan.

Lelaki kekar bermuka ungu sejak tadi hanya berduduk saja tanpa bergerak, mendadak ia berkata dengan bengis, “Tampaknya ilmu silatmu tidak lemah, tapi mengapa tindakanmu begini sembrono? Selamanya Cia-heng tidak kenal kau, mengapa kau menyerang orang secara ngawur? Jangan jangan kausalah mengenali orang?”

“Hm, biarpun dia menjadi abu juga kekenal dia” ucap Pwe-giok dengan menggreget. “Eman hari yang lalu, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia mencelakai ayahku dengan cara yang licik dan keji…”

“Persetan kau!” teriak Cia Thian-pi dengan penasaran. “Dari Tiam-jong langsung kudatang kesini, jangankan tidak tahu menahu tentang ayahmu, hakikatnya tak pernah kulewatkan wilayah kota Lengcu”

“Apakah Benar kau tidak ke sana?” Pwe-giok meraung murka.

“Untuk itu aku bersedia menjadi saksi, ” kata salah seorang Tojin berjubah jingga tadi.

“Apa gunanya kau menjadi saksi?” teriak Pwe-giok.

“Apa yang dikatakan Sian-he-ji-yu tidak pernah bohong!” jengek si Tojin.

Pwe-giok melengak, nama “Sian-he-ji-yu atau dua kawan dari Sian -he-nia, sudah pernah didengarnya. Konon ilmu silat kedua orang bersaudara ini tidak terlalu tinggi, tapi terkenal jujur dan setia kawan, apa yang diucapkan mereka jauh lebih dapat dipercaya daripada paku yang kelihatan di dinding.

Walaupun begitu, masa mata Pwe-giok sendiri tidak dapat dipercaya dan malah harus disangsikan?

“Apa yang dapat kau katakan lagi sekarang?” ujar Sin-to Kongcu. Pwe-giok hanya mengertak gigi kencang-kencang dan tidak bicara pula.

Akhirnya si Yu-liong-kiam Go To dapat berduduk tegak, dengan suara penasaran ia lantas berkata, “Sebelum pertemuan besar, orang ini sengaja datang mencari perkara kepada Cia-heng, dia pasti tidak bertindak sendiri, tentu masih ada dalangnya dengan muslihat tertentu, kita jangan membebaskan dia.”

Sejak tadi Kim-yan-cu hanya menonton saja tanpa bersuara, kini mendadak menjengek, “Betul, kalau Go-tayhiap ingin membalas sakit hati karena disikut tadi, boleh kau bunuh dia saja.”

Muka Go To menjadi merah, ingin bermaksud bicara pula, tapi melihat pedang yang tergantung di pinggang si nona dan Giok-liong-to yang terhunus di tangan Sin-to Kongcu, akhirnya ia urung buka mulut.

Setelah berfikir sejenak, kemudian Cia Thian-pi berkata, “Lalu bagaimana baiknya kalau menurut pendapat nona Kim?”

Tanpa memandang sekejap pun kepada Ji Pwe-giok, Kim-yan-cu berkata, “Kukira orang ini kurang waras, lempar dia keluar saja dan habis perkara.”

“Kuharap betul dugaan nona, lantas….”

Belum habis ucapan Cia Thian-pi, mendadak Sin-to Kongcu berseru, “Tidak, seumpama dia dilepaskan, sebelumnya harus kita tanyai sejelasnya.”

Kim-yan-cu mendengus dan melengos ke sana dengan mendongkol.

“Kupikir betul, ” segera Go To mendukung usul Sin-to Kongcu. “Melihat ilmu silatnya, dia jelas bukan sembarang orang, hendaklah Kongcu…”

“Aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, tidak perlu kau repot, ” jengek Sin-to Kongcu.

Pwe-giok tidak bicara apa-apa, sesungguhnya memang tidak ada yang perlu dibicarakannya.

Sementara itu kereta sudah berhenti, terdengar suara ramai di luar seperti pasar.

Dengan tertawa Cia Thian-pi berkata, “Karena terlalu sibuk, biarlah orang ini kuserahkan kepada Suma-heng, tapi Ang-lian-pangcu….”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seorang berseru di luar, “Apakah Cia-tayhiap berada di dalam kereta? Adakah seorang Ji-kongcu ikut datang menumpang kereta ini?”

Menyusul ia lantas melongok ke dalam kereta melalui jendela. Siapa lagi dia kalau bukan si pengemis tua yang menyampaikan kartu undangan kepada Ji Pwe-giok itu.

Serentak Sian-he-ji-yu tertawa dan menyapa, “He, Bwe Su-bong, sekian tahun tidak berjumpa, tampaknya kau terus sibuk setiap hari tanpa urusan.”

“Tapi hari ini aku ada urusan, ” jawab si pengemis tua bernama Bwe Su-bong itu dengan tertawa. “Pangcu kami menugaskan diriku menyambut tamu, selesai pekerjaanku nanti akan kucari kalian untuk minum tiga ratus cawan.”

Pengemis tua itu seperti tidak melihat golok di tangan Sin-to Kongcu yang masih mengancam di dada Ji Pwe-giok, segera ia membuka pintu kereta dan menarik Pwe-giok keluar, berbareng ia menyapa dengan tertawa, “Ji-kongcu, kau tahu, Mui-pay yang paling miskin di dunia Kangouw ini adalah Kay pay kami, dan paling kaya adalah Tiam jong pay. Sungguh mujur Kongcu dapat kemari dengan menumpang kereta semewah ini. Eh, Cia tayhiap, terima kasih banyak-banyak, bilamana ada tempo, lain hari Pangcu kami akan mengundang engkau minum arak.”

Air muka Sin-to Kongcu tampak sangat buruk, entah menyengir entah meringis, dengan mata terbelalak ia menyaksikan Bwe Su-bong menarik keluar Ji Pwe-giok tanpa berani bersuara sepatah kata pun.

Dalam pada itu, Cia Thian-pi sedang menjawab, “Sampaikan salamku kepada Ang lian Pangcu, katakan aku pasti akan datang bila diundang.”

Di luar suasana hiruk pikuk, tapi pikiran Pwe-giok terlebih kusut.

Sudah jelas Cia Thian-pi ini adalah pemuda yanhg membunuh ayahnya, masa bisa keliru?

Tapi siapa pula gerangan Ang-lian Pangcu ini? Mengapa berulang-ulang menolongnya?

Didengarnya Bwe Su-bong sedang membisikinya, “Jangan melamun, coba berpalinglah ke sana.”

Tanpa terasa Pwe-giok menoleh, dilihatnya sepasang mata yang bening di dalam kereta tadi sedang memandangnya dengan sorot mata yang mesra dan juga dingin.

Bwe Su-bong menepuk pundak Pwe-giok, katanya dengan tertawa pelahan, “Walet kecil ini berduri, apalagi selalu dikintil oleh gentong cuka, cukup kau pandang sekejap saja, sekarang lebih baik memandang keramaian di depan sana.”

-o0o-

Hong-ti adalah nama sebuah tempat yang sudah terkenal sejak jaman Cunciu, terletak di selatan kota Hongciu di Propinsi Holam.

Tempat ini sejak dahulu sering menjadi tempat pertemuan orang-orang penting. Maka pertemuan besar Hong-ti sekarang juga ingin memperlihatkan kebesarannya, nyatanya suasananya sekarang memang tidak kurang semaraknya daripada jaman dulu.

Bangunan kuno Hong-ti kini sudah runtuh semua, keadaan tempat ini hanya berwujud tanah lapang belaka seluas ratusan li.

Di lapangan seluas ratusan li ini sekarang kepala manusia berjubel-jubel sehingga sukar dihitung berapa jumlahnya dan juga tidak jelas siapa mereka, tapi setiap orang yang hadir ini jelas terhormat, kepala mereka sedikitnya bernilai ribuan tahil emas.

Semua orang sama mendongak memandangi 13 panji besar yang berkibar tertiup angin di atas sebuah panggung raksasa seluas belasan meter persegi itu, asap tampak mengepul di atas panggung laksana gumpalan awan.

Sambil menunjuk sehelai panji kuning dengan tertawa Bwe Su-bong berkata kepada Ji Pwe-giok, “Kuning adalah warna kebesaran, panji kuning ini hanya boleh digunakan Siau lim pay yang mengetuai dunia persilatan ini. Agama To suka pada warna ungu, panji ungu itu adalah tanda pengenal Bu tong pay, sedangkan panji dengan sulaman naga itu adalah tanda pengenal Kun lun pay, angker benar tampaknya panji mereka….”

Pwe-giok melihat di antara panji-panji itu ada sehelai panji yang terbuat dari sepuluh jalur kain yang berbeda warnanya, ia bertanya, “Panji ini mungkin adalah pengenal Pang kalian.”

Bwe Su-bong mengiakan dengan tertawa, katanya, “Kay pang kami adalah kumpulan kaum jembel, kami kumpulkan sisa kain panji orang lain, lalu kami sambung dan jahit menjadi sebuah panji, satu peser pun tidak perlu keluar, praktis dan hemat.”

“Entah berada di mana Ang-lian Pangcu kalian sekarang, Cayhe sangat ingin menemuinya, ” kata Pwe-giok.

“Di bawah setiap panji pengenal itu ada sebuah tenda, di situlah Pangcu kami beristirahat, ” tutur Bwe Su-bong. Segera mereka menyibak kerumunan orang banyak dan menyusur ke depan, kebanyakan orang yang melihat Bwe Su-bong hampir semuanya memberi hormat dan menyapa.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Selama ratusan tahun ini Kay pang tetap bertahan sebagai Pang terbesar di dunia Kangouw, dengan sendirinya anak muridnya juga lain daripada perguruan lain. Mengingat anggotanya berjumlah ratusan ribu, harus menjaga kehormatan perkumpulan dan mempertahankan kedudukan, andaikata Ang-lian Pangcu ini bukan manusia tiga kepala berenam tangan, paling sedikit dia harus memiliki kepandaian maha sakti. Padahal, selamanya aku tidak pernah berkecimpung di dunia Kangouw, bilakah pernah kukenal tokoh semacam ini, mengapa dia mengakui diriku sebagai sahabatnya?”

Makin dipikir makin bingung. Sementara itu sebuah tenda besar sudah kelihatan di depan. Di antara satu denga tenda lain berjarak puluhan meter dan dijaga oleh berpuluh muda-mudi yang ronda kian kemari, sikap mereka gagah dan cekatan, dandanan tidak sama, bisa jadi mereka adalah anak murid pilihan ke-13 Muy-Pay penyelenggara pertemuan Hong-ti ini.

Belum lagi mereka mendekati tenda itu, seorang Tosu muda berbaju ungu sudah menyongsong kedatangan mereka, setelah mengamati Pwe-giok sekejap, Tosu itu memberi hormat dan menyapa, “Baru sekarang Bwe locianpwe datang? Tuan ini….”

“Supaya To-heng maklum, suadara ini adalah tamu Pangcu kami, Ji-kongcu, ” jawab Bwe Su-bong dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Pwe-giok dan berkata: Kartu undangannya…”

Segera Pwe-giok memperlihatkan kartu undangannya, lalu Tosu itu menyurut mundur dan memberi tanda, “Silahkan!”

Penjagaan ternyata sedemikian ketatnya, benar-benar satu langkah saja sukar dilalui. Baru sekarang Pwe-giok merasa dirinya memang beruntung. Ia coba memandang ke belakang sana, saat ini ksatria yang sedang longak-longok di sana dan tidak berdaya hadir di sidang sedikitnya ada puluhan ribu orang.

Sementara itu, Bwe Su-bong telah berada di luar kemah, ia memberi hormat ke arah pintu kemah sambil berseru, “Lapor Pangcu, Ji Kongcu sudah tiba.”

Seorang di dalam kemah lantas berseru dengan tertawa, “Aha, mungkin dia sudah tidak sabar menunggu lagi, lekas disilahkan masuk.”

Pwe-giok memang benar tidak sabar lagi, sungguh ia ingin lekas-lekas melihat bagaimana macamnya Ang-lian Pangcu yang misterius ini. Baru saja Bwe Su-bong menyingkap tenda dan menyilakan, segera ia menerobos masuk dengan langkah lebar.

Dilihatnya di tengah kemah yang luas ini hanya terdapat sebuah meja rongsokan, dua bangku panjang, sungguh sangat menyolok perbedaannya dengan kemah yang tampak mewah dari luar ini.

Seorang kelihatan bersidekap di atas meja, entah sedang menulis atau kerja apa, dari belakang hanya tampak rambutnya yang kusut dan tidak tahu bagaimana raut wajahnya.

Terpaksa Pwe-giok memberi hormat dari jauh, “Teecu Ji Pwe-giok menyampaikan sembah hormat kepada Ang-lian Pangcu.”

Baru sekarang orang itu menoleh, katanya dengan tertawa, “Apakah Ji-heng masih kenal padaku?”

Tertampak tubuhnya yang kurus kecil dengan baju merah yang compang-camping, kedua matanya justru bening dan mencorong terang seakan-akan sekali pandang saja dapat menembus isi hatimu.

Pwe-giok melengak dan menyurut mundur, katanya dengan tergagap, “Jadi an… anda inilah Ang-lian Pangcu?”

“Bunga teratai merah, ubi teratai putih, dengan sebatang gala menjelajah dunia!” orang itu tertawa dan berdendang pula.

Ang-lian Pangcu yang termashur ini ternyata bukan lain daripada Lian Ang-ji, si pengemis muda yang cerdik dan jahil yang ditemui Pwe-giok di emper rumah kemarin malam itu.

Pwe-giok sampai melongo dan tak dapat bicara.

“Apakah kau heran?” tanya Ang-lian-hoa atau si bunga teratai merah dengan tertawa. “Padahal, untuk menjadi Pangcu tidak mutlak harus seorang tua. Misalnya Ketua Tiam-jong pay sekarang usianya juga belum ada 30, Ketua Pek-hoa-pang juga baru berumur likuran.”

“Cayhe hanya heran, selama hidup Cayhe tidak kenal Pangcu, sebab apa Pangcu memberi bantuan sebesar ini?” ujar Pwe-giok.

Ang-lian Pangcu terbahak-bahak, katanya, “Tidak ada sebab apa-apa, hanya karena merasa cocok saja. Selanjutnya kau akan tahu sendiri bahwa di dunia Kangouw ini banyak sekali orang yang berwatak aneh. Ada orang hendak membikin celaka padamu tanpa kau tau apa sebabnya, ada pula orang membantu kau secara membingungkan kau.”

Tergerak hati Pwe-giok mendengar kata-kata yang penuh arti ini, ia menghela napas dan menjawab, “Ya, betul…”

Mendadak Ang-lian Pangcu berhenti tertawa, sorot matanya menatap Pwe-giok tajam-tajam, lalu menambahkan, “Apalagi, melihat gerak-gerikmu, soal kau dapat menghadiri pertemuan Hong-ti atau tidak, tampaknya sangat besar sangkut-pautnya dengan dirimu.”

“Ya, besar sekali sangkut-pautnya, menyangkut soal mati dan hidup!” jawab Pwe-giok denga pedih.

“Itu dia, ” kata Ang-lian Pangcu. “Maka kalau banyak orang yang tiada sangkut-pautnya dapat menghadiri rapat besar ini, sebaliknya kau tidak dapat, bukankah hal ini sangat tidak adil? Dan segala apa yang tidak adil di dunia ini, aku justru ingin ikut campur.”

“Sungguh Cayhe sangat berterima kasih atas kebijaksanaan Pangcu, ” kata Pwe-giok dengan tunduk kepala.

Mendadak Ang-lian Pangcu berkata pula dengan mengulum senyum, “Apalagi tidak lama lagi kau akan menjadi Ciangbunjin (ketua) Bu-kek pay, tatkala mana sekalipun kami mengundang kehadiranmu mungkin akan kau tolak.”

Seketika Pwe-giok mendongak dan berseru, “Dari…. darimana kau tahu…..”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara “blang” yang keras, habis itu di luar kemah terdengar suara tetabuhan dibunyikan, menyusul seseorang lantar berteriak, “Pertemuan Hong-ti segera akan dimulai, dengan hormat para Ciangbunjin dipersilahkan menempati tempatnya masing-masing.”

Suara orang itu sangat keras dan lantang sehingga berkumandang sampai jauh.

Ang-lian Pangcu lantas menggandeng tangan Ji Pwe-giok dan keluar kemah, katanya dengan tertawa, “Sudah menjadi kelaziman setiap orang yang menjadi Pangcu kaum jembel ini, bukan saja harus ikut campur urusan orang lain, bahkan juga harus serba tahu. Mengenai cara bagaimana aku mengetahui hal-hal sebanyak ini, kukira lain hari kau akan tahu sendiri.”

-o0o-

Dikelilingi ke-13 kemah besar itu, di tengahnya adalah sebuah panggung raksasa, di seputar panggung sudah berkumpul para undangan, hampir semua inti ksatria di seluruh jagat telah berkumpul di sini.

Di atas panggung terdapat sebuah tungku tembaga ribuan kati, asap tampak mengepul bergulung-gulung dari tungku tembaga itu, di kedua samping tungku ada 13 buah kursi besar.

Saat itu ke-13 kursi sudah diduduki delapan atau sembilan orang, seorang Hwesio berjenggot putih dan berkasa kuning berdiri di depan tungku, meski perawakannya kurus kering, tapi sikapnya gagah dan kuat.

Di bawah panggung, di bagian depan, juga terdapat tiga baris kursi, yang duduk di situ rata-rata adalah tokoh-tokoh Bulim yang terhormat, tapi barisan kursi pertama masih kosong semua, entah diperuntukkan siapa kursi baris depan ini.

Dengan suara pelahan Ang-lian Pangcu lantas berkata kepada Pwe-giok, “Aku harus naik panggung untuk mulai beraksi, silakan kau cari suatu tempat duduk. Jika kau sungkan-sungkan, tentu orang lain yang beruntung.”

Pwe-giok mengiakan. Baru saja ia mendapatkan suatu tempat duduk, dilihatnya Ang-lian Pangcu sudah membawa enam murid Kaypang naik ke atas panggung diiringi dengan suara tetabuhan, orang yang bersuara lantang tadi segera berseru, “Ang-lian Pangcu dari Kaypang!”

Suaranya berkumandang jauh, apra hadirin sama mendongak, baru sekarang Pwe-giok melihat jelas wajah si pembawa acara yang mukanya hitam seperti pantat kuali, matanya sebesar gundu, perawakannya tinggi.

Betapa tinggi perawakannya dapat dibandingkan ketika Ang-lian Pangcu lewat di sampingnya, ketua Kaypang itu hanya setinggi pundaknya.

Namun pandangan semua orang justru terpusat kepada Ang-lian-hoa yang pendek kecil itu, sekalipun si pembawa acara lebih tinggi satu meter lagi juga tidak diperhatikan orang.

Tanpa terasa Pwe-giok tertawa senang.

Mendadak seorang di sebelahnya berkata, “Kawanmu begitu keren, kau pun ikut gembira, bukan?”

Suara itu kedengaran dingin dan angkuh, tapi nyaring merdu. Waktu Pwe-giok menoleh, dilihatnya sepasang mata yang bersinar dingin tapi juga mesra itu.

Kiranya tanpa sengaja ia kebetulan berduduk di sebelah Kim-yan-cu. Terpaksa ia menjawabnya dengan menyengir saja.

Belum lagi dia buka suara, mendadak Sin-to Kongcu berbangkit dan berkata kepada Kim-yan-cu, “Adik Yan, marilah kita pindah tempat duduk saja, ”

“Memangnya tempat ini kenapa?” jengek Kim-yan-cu.

“Tempat ini mendadak berbau busuk, ” kata Sin-to Kongcu.

“Kalau kau bilang bau busuk, boleh kau pindah sendiri saja, aku tetap duduk di sini, ” ujar Kim-yan-cu.

Pwe-giok tidak tahan, segera ia berdiri dan bermaksud melabrak orang, tapi tangan Kim-yan-cu yang halus sempat menariknya.

Melihat itu Sin-to Kongcu tambah gregetan, ia melototi Pwe-giok. Lalu berkata dengan gemas, “Baik, aku akan pindah….” mulut bicara begitu, tapi pantatnya tetap duduk di tempat semula.

Diam-diam Pwe-giok tertawa geli, tapi juga serba runyam. Meski dia belum pernah merasakan pahit getirnya “cinta”, tapi sudah dapat dibayangkannya rasanya pasti manis juga getir dan memusingkan kepala. Melihat sorot mata Kim-yan-cu yang dingin hangat itu, entah mengapa, tiba-tiba ia jadi teringat kepada kerlingan mata Lim Tay-ih:

Kerlingan mata yang lembut dan juga keras, begitu bening sorot matanya, tapi entah mengapa selalu mengandung perasaan rawan dan penuh misteri, seakan-akan rela menyerahkan segalanya kepadanya, tapi entah sebab apapula si nona tega menipunya dan mencelakainya dengan menyangkal keterangan yang pernah dikatakan kepadanya itu.

Selagi di mengelamun sendiri, mendadak terdengar si protokol berteriak pula, “Hay-hong Hujin, Pangcu Pek hoa pang tiba!”

Pwe giok terkejut dan cepat menengadah, segera tercium bau harum menusuk hidung, dilihatnya 12 gadis berbaju sutera dan berhias bunga mutiara dikepalanya menggotong sebuah tandu penuh hiasan bunga beraneka warna muncul dari sebelah kiri. Bau harum bunga semerbak itu tersiar jauh, biarpun orang yang berdiri paling belakang juga pasti dapat menciumnya.

Di dalam tandu yang penuh bertumpukan bunga itu bersandar seorang perempuan cantik tiada bandingannya dengan baju sutera tipis, pelahan-lahan ia turun dari tandunya dengan dipapah oleh dua gadis cantik.

Baju suteranya yang tipis panjang itu melambai-lambai, tubuhnya meliuk lemas seperti tak bertenaga, seakan-akan berjalan saja malas, dengan setengah bersandar pada kedua dayang yang memapahnya itu, pelahan-lahan ia naik ke atas panggung.

Melihat pinggangnya yang ramping, hampir semua orang sama menahan napas, sampai agak lama baru semua orang menyadari mereka belum melihat jelas wajah si jelita. Maklum, gayanya saja sudah membuat sukma mereka melayang ke awang-awang sehingga mereka lupa untuk melihat wajahnya.

Mendadak Kim-yan-cu menghela napas pelahan, ucapnya, ” Sicantik dipapah lemas tak bertenaga, ratusan bunga paling indah bunga Hay-hong…. Ai, nyonya Hay-hong-kun ini memang benar-benar cantik tiada bandingnnya.”

Ucapannya ini dengan sendirinya ditujukan kepada Ji Pwe-giok, tapi anak muda itu sama sekali tidak menggubrisnya, pandangannya masih terus berjelilatan kian kemari untuk mencari, di antara ke 13 Ciangbunjin penyelenggara pertemuan ini sudah datang 12 orang. tapi orang yang diharapkannya ternyata tiada seorangpun yang muncul.

Apakah jalan pikirannya yang keliru, jangan-jangan mereka memang tidak hadir.

Dalam pada itu di tengah kerumunan orang banyak sudah ramai orang berbisik-bisik, “He, mengapa Hi-ciangbun dari Hay-lam-kiam-pay belum nampak hadir?”

“Perjalanan dari lautan selatan terlalu jauh, mungkin dia malas datang.”

“Tidak mungkin, kemarin dulu kulihat dia minum arak di restoran Wat-pinlau di kota Khay-hong, malahan telah terjadi tontonan yang menarik di sana.”

“Wah, apa betul? Tontonan menarik apa?”

“Kebetulan Kim-si-ngo-hou (lima harimau keluarga Kim) juga minum arak di restoran itu, cuma lucu, mereka tergolong kawanan Kongouw, tapi Hi-tay ciangbun yang termasyur itu ternyata tidak mereka kenal dan terjadilah pertengkaran. Hui-hi-kiam benar-benar pedang paling cepat di dunia, sekali sinar pedang berkelebat, tahu-tahu kelima Kim bersudara lantas….”

Mendadak ia berhenti bicara, suara berisik itupun sirap.

Rupanya mereka terkesiap ketika mendadak melihat seorang pendek gemuk berbaju hijau dengan perut gendut telah muncul. Topi yang dipakainya sudah melorot hingga hampir terjatuh, dada bajunya terbuka sehingga kelihatan simbar dadanya, pedang yang tergantung di pinggangnya sangat panjang hingga menyeret tanah, ujung sarung pedang sudah pecah tergosok-gosok, ujung pedang yang menongol dari lubang yang pecah itu kelihatan mengkilap.

Meski dipandang orang sebanyak itu, tapi sigendut anggap tidak tahu saja, dia tetap berjalan dengan sempoyongan menuju kepanggung. Dari jauh sana Pwe giok dapat mengendus bau arak yang memenuhi tubuh sigendut.

Si protokol berkerut kening melihat kedatangan orang ini, namun tidak urung ia lantas berteriak :

“Hi tayhiap, ciangbunjin Hay lam kiam pay tiba!”

Mendengar suara ini, ahli pedang dari ke 18 pulau dilautan selatan yang terkenal dengan julukan “Hui hi gway kiam” atau pedang kilat ikan terbang ini, baru membetulkan topinya yang miring itu, lalu naik keatas panggung dan berseru sambil tertawa:

“Jangan-jangan kehadiranku ini agak terlambat, maaf maaf !”

Ketua Siau lim si, yaitu si Hwesio kurus kering tadi, masih tetap berduduk tenang dan memberi salam.

Seorang tosu berjubah hitam dengan mata tajam seperti elang dan bertulang pipi menonjol lantas mendengus:

“Hmm, lambat sih tidak, biarpun Hi heng minum lebih banyak juga takkan terlambat.”

Hui hi kiam berkedip-kedip, ucapnya dengan tertawa :

“Minun arak adalah suatu kenikmatan, orang yang tidak biasa minum mana tahu kenikmatannya, Khong tong pay kalian pantang minum arak, apa yang dapat kukatakan dengan kalian?”

Mendadak tosu jubah hitam itu berbangkit,teriaknya dengan bengis:

“Pertemuan Hong yi ini sekali-kali tidak boleh memberi kelonggaran kepada manusia-manusia pemabukan dan gila perempuan ini !”

Dengan kemalas-malasan Hui hi kiam khek Hi soan berduduk dikursinya dan tidak menggubris lagi kepada si tosu.

Thian in taysu dari Siau lim pay lantas berkata dengan tersenyum:

“Coat ceng toheng hendaklah jangan marah dulu….”

“Orang ini menyepelekan pertemuan besar ini hanya karena minum arak, jika tidak diberi hukuman setimpal, cara bagaimana kita dapat menegakkan disiplin?” teriak Coat ceng cu, si tosu tadi dengan gusar.

Thian in taysu berpaling memandang Jut tun Totiang dari Butong pay. terpaksa tosu yang alim ini berdiri dan angkat bicara:

“Hi tayhiap memang bersalah, tapi….”

Mendadak Ang lian pangcu bergelak tertawa dan menyeletuk:

“Apakah para hadirin mengira kelambatan Hi tayhiap ini benar-benar lantaran minum arak dan lupa daratan?!”

Dengan tersenyum Jut Tun Totiang menjawab:

“Silahkan Ang Lian pangcu memberi keterangan, pemberitaan Kay pang dengan sendirinya jauh lebih cepat daripada orang lain.”

Segera Ang lian hoa berseru :

“Semalam Hi tayhiap berhasil memancing “Hun Lin Jit hong” (tujuh kumbang hutan bedak) ke Tong Wah siang dan sekaligus membunuh mereka, Hi tayhiap telah menyelamatkan sanak keluarga perempuan yang ikut menghadiri pertemuan ini dari kemungkinan diganggu oleh kawanan kumbang itu, untuk mana aku Ang Lian hoa lebih dahulu mengucapkan terima kasih.”

Keterangan ini membuat semua orang sama melengak.

Hun Lin jit hong adalah kawanan penjahat yang suka mengganggu kaum wanita, kalau sampai mereka berhasil menyusup ketengah-tengah rapat besar ini tanpa ketahuan, apabila ada anggota keluarga peserta yang tercemar kehormatannya, maka para ketua penyelenggara tentu akan kehilangan muka. Apalagi Siau lim pay sebagai ketua perserikatan ini, tanggung jawabnya lebih-lebih sukar terelakkan. Mau tak mau Thian in taysu terkesiap juga setelah mendapat keterangan Ang lian pangcu.

Tapi Hi soan hanya tersenyum tak acuh, katanya:

“Cepat amat berita yang diterima Ang lian pangcu. Padahal urusan sekecil ini untuk apa disebut-sebut?”

“Mana boleh dikatakan urusan kecil.” kata Thian in taysu dengan prihatin.

“Melulu jasa ini Hi tayhiap sudah pantas menjabat kedudukan bengcu (ketua perserikatan) ini, bila perlu Siau lim pay bersedia mengundurkan diri.”

Kata-kata ini kalau diucapkan orang lain mungkin akan dianggap basa-basi saja, tapi ucapan yang keluar dari ketua Siau lim pay tentu saja lain bobotnya. seketika para hadirin sama melenggong.

Segera Hi soan menjawab dengan tegas:

“Jika Ang lian pangcu sudah tahu peristiwa ini, andaikan aku tidak turun tangan pasti juga Ang lian pangcu akan membereskan secara diam-diam, maka cayhe sama sekali tidak berani mengaku berjasa.”

“Wah, jika begitu kan berarti kedudukan bengcu harus diserahkan kepada Kaypang?” cepat Ang Lian hoa menanggapi.

“Haha, kalau situkang minta-minta menjadi Bulim bengcu, apakah bukan lelucon yang tidak lucu? Budi luhur Thian in taysu cukup diketahui siapapun juga, maka kedudukan bengcu tahun ini kukira tetap dijabat taysu saja.”

Thian in menghela nafas, katanya:

“Akhir-akhir ini sudah kurasakan keloyoanku, ku tahu tidak sanggup memikul tugas berat ini lagi, maka sudah lama ada maksutku mengundurkan diri, andaikan tidak terjadi peristiwa Hi tayhiap ini, soal ini tetap akan kukemukakan kepada sidang.”

Biasanya kalau Siau lim pay mencalonkan diri, maka Mui pay lain tidak berani berebut lagi dengan dia. Tapi sekarang Thian in taysu ingin mengundurkan diri secara sukarela, seketika Jut tun totiang dari butong, Coat ceng cu dari Khong tong, Cia Thian pi dari Tiam jong, Liu Siok cin dari Hoa san pay, tokoh-tokoh ini menjadi besar harapannya untuk menjadi ketua.

Lin Siok cin tokoh wanita Hoa san pay yang cantik segera mendahului berseru dengan suara yang nyaring:

“Bu tong pay sudah sama-sama kita kenal kemampuannya, jika Thian in taysu ada maksud mengundurkan diri, Hoa san pay kami tidak sungkan-sungkan untuk mencalonkan Jut tuh toheng untuk menggantikannya.”

“Hm, tidak sungkan-sungkan, ” jengek Coat ceng cu “Sayang aku tidak mempunyai adk perempuan yang menjabat sebagai ketua perguruan ternama dan tidak sungkan-sungkan untuk mencalonkan kakaknya sendiri.”

Kiranya Liu Siok cin ini adalah adik kandung Jut tun totiang. Kakak beradik ini masing-masing mengetuai suatu perguruan ternama, sebenarnya biasanya suka dipuji oleh orang-orang persilatan, tapi sayang sekarang dijadikan bahan cemoohan Coat ceng cu.

Seketika alis Liu Siok cin menjengkit marah, tapi Jut tun totiang hanya tersenyum saja dan berkata:

“Jika demikian, biarlah aku mencalonkan Coat ceng toheng saja untuk menjadi bengcu.”

Mendadak Cia Thian pi berteriak:

“Jika orang lain menjadi ketua, cayhe pasti setuju, kalau Khong tong pay yang menjadi ketua, 731 anggota Tiam Jong pay kami yang pertama-tama tidak tunduk.”

Meski Tiam jong pay jauh berada di perbatasan propinsi Hualam, tapi akhir-akhir ini anggotanya bertambah banyak dan pengaruhnya besar, kekuatannya cukup mengimbangi Bu tong pay, dengan sendiri apa yang diucapkan ketuanya juga berbobot maka perkataan Cia Thian pi serentak mendapatkan sorak-sorai dibawah panggung.

Dengan mendongkol Coat ceng cu menjawab:

“Kalau begitu, jadi kedudukan ketua sekali ini harus kubereskan dulu dengan anda, begitu?”

“Bagus, memang sudah lama aku ingin belajar kenal dengan Coat-ceng kiam Khong-tong pay, ” kata Cia Thian-pi sambil meraba pedangnya.

Mendadak seorang tua berjubah sulam, berjenggot dan rambut ubanan, wajahnya penuh kudis berbangkit dan berteriak, “Atas nama 36 pangkalan laut pimpinanku, aku Auyang Liong mencalonkan Cia tayhiap dari Tiam-jong pay sebagai Bengcu, tentang Coat-ceng Totiang, kami…”

Belum habis ucapannya, seorang kakek botak di sebelahnya dengan wajah merah seperti anak muda, mendadak bergelak tertawa terhadap kakek tegap yang berbicara itu, lalu ia pun berseru, “Tiam-jong pay jauh terletak di perbatasan selatan sana, apabila Cia tayhiap menjadi Bengcu, maka Auyang Pangcu akan tambah berpengaruh dan merajalela di pangkalannya sendiri.”

“Hm, apa maksudmu?” teriak Auyang Liong dengan gusar. “Orang lain takut kepada senjata rahasia berbisa keluarga Tong kalian dari Sujwan, orang she Auyang ini tidak nanti gentar.”

“O, apakah kau ingin mencobanya?” tanya si kakek botak dengan tertawa. Baru tangannya bergerak, tahu-tahu Auyang Liong sudah melompat mundur.

“Hahaha, besar amat nyali Auyang Pangcu?” ejek kakek dengan tertawa.

Melihat suasana menjadi kacau, Thian-in Taysu tampak sedih, segera ia membuka suara. “Cara bertengkar kalian ini, bukankah bertentangan dengan maksudku yang sebenarnya?”

Dia berbicara dengan tenang, suaranya perlahan dan tertahan, tapi sekata demi sekata tetap berkumandang hingga jauh.

Mau tak mau, semua orang lantas diam. Mendadak seorang lelaki tinggi besar dengan muka hitam serupa si pembaca acara tadi tampil ke depan dan mendekati tungku tembaga, ia berjongkok sambil meludahi telapak tangannya, tungku yang beribu kati itu lantas diangkatnya tinggi-tinggi ke atas.

Serentak terdengarlah suara sorakan ramai, tanpa terasa Pwe-giok juga berseru memuji akan tenaga orang.

Segera Kim-yan-cu menanggapi pujian itu. “Orang ini adalah tokoh utama dunia persilatan di Kwan-gwa, orang menyebutnya “Bu-tek-thi-pah-ong” (Si raja maha kuat tanpa tandingan), kedua tangannya memang memiliki tenaga yang sukar diukur. Cuma sayang, meski anggota badannya berkembang melebihi orang lain, tapi otaknya terlalu sederhana.”

Pwe giok tetap tidak menghiraukan si walet, dilihatnya Thi pah ong yang mengangkat tungku raksasa itu berjalan satu keliling di atas panggung lalu menaruh kembali tungku itu ditempat semula. Ternyata mukanya tidak merah dan nafasnya tidak tersenggal, lalu ia berseru :

“Barang siapa sanggup mengangkat tungku ini dan berjalan tiga langkah saja, maka aku akan mengakui dia sebagai bengcu.”

Meski yang berduduk diatas panggung ialah ketua dari berbagai aliran ternama, tapi tenaga sakti pembawaan demikian memang sukar tertandingi. Seketika suasana menjadi hening dan tiada yang bersuara.

Selagi Thi pah ong memandang kesini dan mengerling kesana dengan bangga, tiba-tiba Hay hong hujin dari Pek hoa pang, mendekatinya dengan langkah lemah gemulai, dengan kerlingan mata genit ia berkata dengan tertawa:

“Hari ini dapat menyaksikan tenaga sakti Thi pah ong disini, sungguh aku kagum tak terhingga.”

Tidak menjadi soal jika Hay Hong hujin tidak ketawa, sekali ketawa, maka tidak cuma orangnya saja yang tertawa, bahkan alisnya, matanya, sampai bunga yang menghiasi sanggulnya seakan-akan juga tertawa semua.

Biarpun Thi pah ong adalah seorang lelaki kasar, melihat tertawa yang menggiurkan dan merontokkan sukma ini, mau tak mau ia terkesima lupa daratan, sejenak kemudian barulah ia berdehem-dehem, lalu berkata:

“Terimakasih atas pujian Hujin.”

Hay hong Hujin menengadah memandang wajah Thi pah ong, katanya pula dengan suara halus, “Tenagamu yang maha sakti ini apakah benar timbul dari kedua tanganmu ini?”

Dipandang dari jauh saja orang sudah mabuk oleh kecantikannya, apalagi sekarang dia berdiri didepan Thi pah ong, bau harum tersiar mengikuti suaranya, bau harum yang mirip Lan hoa (bunga anggrek) tapi bukan lan hoa, rasanya biarpun harum segala bunga didunia ini berhimpun menjadi satu masih kalah harumnya daripada bau hay hong hujin ini.

Keruan Thi pah ong menjadi lemas, berdiri saja hampir tidak sanggup, ia mengangguk dan menjawab :

“Ya, timbul dari kedua tanganku ini.”

“Apakah boleh kupegang?” pinta Hay hong hujin dengan lembut.

MUka Thi pah ong menjadi merah. katanya dengan gelagapan :

“Hu… Hujin…”

Tapi tangan Hay-hong Hujin yang mulus itu sudah mulai merabai tangan Thi-pah-ong yang kuat seperti besi itu, Thi-pah-ong terkesima seperti orang hilang ingatan, ia diam saja dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Mendadak terdengar Ang-lian-hoa membentak, “Awas Thi-heng…”

Thi-pah-ong terkejut, seketika terasa jari Hay-hong Hujin berubah sekeras baja, tahu2 setengah badannya terasa kaku.

Terdengar suara tertawa nyaring Hay-hong Hujin, tubuh Thi-pah-ong yang gede seperti kerbau itu telah diangkatnya.

Seorang lelaki sebesar itu diangkat begitu saja oleh seorang perempuan cantik yang tampaknya lemah tak bertenaga, pemandangan ini sungguh sangat berkesan dan sukar untuk dilupakan oleh siapapun yang melihatnya.

Semua orang menjadi tertegun dan tidak tahu apakah harus bersorak atau mesti tertawa, yang jelas tertawa tidak, bersorak juga tidak, menjadi bingung sendiri.

Perlahan-lahan Hay-hong Hujin menurunkan Thi-pah-ong ke tempatnya tadi, dibetulkannya baju orang yang kusut serta membenarkan rambutnya, lalu berkata dengan suara lembut, “Sungguh lelaki yang hebat, bilamana Bengcu harus dijabat oleh orang yang bertubuh paling besar dan berat, maka aku pasti mencalonkan kau.”

Habis berkata dengan tersenyum manis dan langkah gemulai ia kembali ke tempat duduknya.

Meski tangannya sudah dapat bergerak, tapi terpaksa Thi-pah-ong menyaksikan si jelita melangkah pergi tanpa dapat berkutik.

Dilihatnya Hui-hi-kiam-khek telah menyongsong Hay-hong Hujin dan menyapanya dengan tertawa, “Bunga yang menghiasi sanggul Hujin ini sungguh sangat indah, bolehkah pinjamkan padaku sebentar?”

Hay-hong Hujin ber-kedip2, ucapnya dengan tertawa, “Apabila Hi tocu kurus sedikit, tanpa syarat tentu akan kuberikan bunga ini…”

Belum lanjut ucapannya, se-konyong2 sinar pedang berkelebat, angin tajam menyambar lewat di samping telinganya, tahu2 sekuntum bunga segar yang menghias sanggul Hay-hong Hujin itu telah dicungkil oleh ujung pedang Hi Soan. Cara bagaimana dia melolos pedang dan cara bagaimana turun tangannya, ternyata tiada seorangpun yang tahu.

Hay-hong Hujin menyurut mundur dua tiga langkah dengan wajah berubah pucat.

Ang-lian-hoa lantas bergelak tertawa dan berseru, “Kalau bunga Hay-hong Hujin itu sudah diberikan kepada Hi-heng, sebagai gantinya boleh pakai saja bunga terataiku ini!” Di tengah gelak tertawanya tertampak bayangan berkelebat.

Waktu semua orang memandang Hay-hong Hujin, ternyata di sanggulnya sekarang sudah bertambah sekuntum bunga teratai merah.

Ginkang yang diperlihatkan Ang-lian-hoa ini sungguh luar biasa, biarpun Kun-lun-pay yang terkenal dengan ginkangnya juga merasa kalah.

Seketika muka Hay-hong Hujin menjadi pucat, kedua tangannya berselubungkan lengan bajunya yang longgar, katanya dengan senyum genit, “Dua lelaki besar merecoki seorang perempuan lemah, apa kalian tidak malu?”

Meski dia tersenyum manis dan berucap dengan lembut, tapi setiap orang tahu Pek-hoa-pang masih ada ilmu sakti simpanan yang disebut “Sam-sat jiu” atau tebaran tiga maut, yaitu berupa bunga, hujan, dan kabut. Saat ini ketiga macam senjata rahasia itu sudah siap di dalam lengan bajunya dan setiap saat dapat dihamburkannya.

Meski lahirnya Hi Soan dan Ang-lian-hoa masih bergelak tertawa, tapi diam2 mereka sama siap siaga.

“Siau-hun-hoat” atau bunga pencabut sukma, “Sit-kun-uh” atau hujan penyusut tulang dan “Thian-hiang bu” atau kabut harum semerbak, tiga macam senjata rahasia maut Pek-hoa-pang ini bila dihamburkan, selama ini belum pernah ada orang yang sanggup lolos dengan selamat.

Sebaliknya semua orang juga tahu kecepatan pedang kilat Hui-hi-kiam-khek, sekali bergerak hampir tidak pernah meleset.

Dalam keadaan tegang itu, semua orang sama menahan nafas.

Syukurlah Thian-in Taysu lantas mengadang di depan Hay-hong Hujin, katanya sambil menghormat, “Beribu macam ilmu silat berasal dari sumber yang sama, sedangkan kalian masing2 memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri2, andaikan benar2 saling gebrak kalah menang pasti sukar ditentukan, yang jelas kalian pasti akan ditertawakan dulu oleh setiap ksatria di dunia ini.”

Semua orang menjadi bungkam dan merasa malu.

Jut-tun Totiang lantas berkata, “Lalu bagaimana menurut pendapat Taysu?”

“Bicara tentang ilmu silat, jelas kalian mempunyai keistimewaannya masing2, dalam hal nama, kalianpun pimpinan suatu golongan terkemuka, ” demikian kata Thian-in Taysu. “Maka untuk kedudukan Bengcu ini, akan lebih baik…”

“Kedudukan Bengcu ini akan lebih baik diserahkan saja kepada Bu-kek-pay kami!” mendadak seseorang menanggapi dengan bergelak tertawa.

Serentak semua orang berpaling ke sana, tertampak belasan orang muncul dari sebelah kanan, tampaknya sangat lambat jalannya, tapi baru lenyap ucapan tadi, rombongan mereka pun sudah berada di depan panggung.

Tentu saja semua orang sama melengak. Tubuh Ji Pwe-giok juga lantas bergemetar, gumamnya, “Ini dia baru…. baru datang…”

Belasan orang itu terbagi menjadi dua baris, jubah yang mereka pakai berwarna hijau seluruhnya, semuanya berjenggot, usianya rata-rata sudah di atas setengah abad.

Meski wajah belasan orang ini tidak luar biasa, namun sudah cukup membuat para ksatria terkesiap. Sebab, tiada satu pun di antara belasan orang ini bukan tokoh kelas wahid, andaikan ada yang belum pernah melihat muka mereka, paling sedikit juga pernah mendengar nama kebesaran mereka.

Pada baris pertama dua orang di kanan dan kiri masing-masing adalah Leng-hoa-kiam Lim soh-koan, satu di antara kesepuluh ahli pedang jaman ini, yang lain ialah Kanglam tayhiap Ong Ih-lau. Di belakang mereka mengikut Sim Cin-jiang si tumbak perak dari Ih-hian, Sebun Hong dari Mo-san dan raja bajak Thay-oh Kim Liong-ong.

Pendek kata, belasan orang ini meski bukan sesuatu ketua perguruan ternama seperti ke-13 Mui-pay, tapi nama mereka sama sekali tidak di bawah ke-13 ketua mui-pay besar yang berada di atas panggung ini.

Kursi baris terdepan yang berada di bawah panggung itu justeru disediakan bagi rombongan ini, tapi mereka malah langsung naik ke atas panggung. Maka cepat Thian-in Taysu menyongsong mereka dan menyapa, ” Kalian datang dari jauh, disilahkan mengikuti upacara ini di bawah panggung.”

“Kedatangan kami ini bukan cuma sebagai peninjau saja, ” dengan suara lantang Lim Soh-koan lantas berkata.

Thian-in rada melengak, ia tetap bersikap hormat, katanya dengan tersenyum, “Bilakah kalian masuk menjadi anggota Bu-kek-pay? Ah, janganlah kalian bergurau!”

“Waktu kami masuk perguruan, tidak sempat mengundang Taysu untuk ikut menyaksikan upacaranya, untuk ini mohon dimaafkan, ” kata Lim Soh-koan.

“Ah, tidak soal, ” ujar Thian-in. “Tapi Ji Ciangkun kalian…”

Mendadak di belakang sana seorang menanggapi dengan tertawa, “Sudah sekian tahun tidak bertemu, baik-baikkah Taysu selama ini?!”

Cepat Thian-in Taysu berpaling, dilihatnya seorang tua dengan baju longgar dan berwajah lonjong, sikapnya tenang dan sabar seperti dewa, siapa lagi dia kalau bukan ketua Bu-kek-pay, Ji Hong-ho adanya.

Ternyata di depan mata orang banyak, secara diam-diam ia telah naik ke atas panggung, sampai-sampai Coat-ceng-cu yang berdiri paling belakang sana juga tidak mengetahuinya.

Mau tak mau Thian-in Taysu melengak, cepat ia memberi hormat dan menyapa, “Ji-heng laksana dewa yang hidup di surgaloka, tak tersangka hari ini benar-benar menginjak pula dunia ramai. Ini benar-benar sangat beruntung bagi dunia Kangouw, pertemuan ini dihadiri Ji-heng, tak sesuatu lagi yang perlu kukuatirkan.”

Di balik ucapannya ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa jabatan ketua Perserikatan Hong-ti ini jelas tak dapat dijabat orang lain terkecuali Hong-ho Lojin atau si kakek Hong-ho. Padahal Hong-ho Lojin memang juga tokoh yang paling dihormati dan menjadi pujaan setiap peserta rapat ini.

Meski Coat-ceng-cu dan lain-lain tetap merasa berat untuk menarik diri dari pencalonan jabatan ketua itu, tapi melihat Bu-kek-pay kini telah didukung oleh berbagai tokoh terkemuka golongan lain, mau tidak mau mereka tidak berani banyak omong lagi.

Segera Jut-tun Totiang mendahului buka suara, “Apabila Hong-ho Toheng sudi memegang pimpinan pula, sudah tentu anak murid Bu-tong akan merasa sangat beruntung.”

“Anak murid Khong tong juga sudah lama mengagumi kepribadian Hong-ho Lojin, ” seru Coat-ceng-cu.

Auyang Liong juga berteriak, “Mendiang guruku juga sering menyatakan bahwa Ji locianpwe adalah seorang paling bijaksana, tak tersangka hari ini dapat kutemui di sini. Bilamana Ji locianpwe sudi memimpin perserikatan ini, para kawan yang hidup di atas air pimpinanku dengan ini menyatakan akan tunduk di bawah perintah.”

Suara Hay-hong Hujin yang nyaring juga berseru, “Ji-ciangbun luhur budi dan bijaksana tentu bukanlah manusia yang suka menganiaya anak perempuan. Pek-hoa Pang kami memang tidak tunduk kepada siapa pun juga terkecuali kepada Ji cianpwe.”

Sampai di sini, melihat gelagatnya jelas jabatan ketua sudah diputuskan dengan suara bulat. Semua orang, baik di atas maupun di bawah panggung sama bertepuk tangan dan bersorak gembira. Hanya Ang-lian-hoa saja yang tidak memberi reaksi apa-apa, dengan pandangan heran dan sangsi ia terus mengawasi sikap Ji Pwe-giok.

Dalam pada itu, terdengar Hong-ho Lojin sedang berkata dengan tersenyum, “Sebenarnya Losiu (orang tua lapuk) sudah terbiasa hidup malas dan tiada maksud apa pun, tapi lantaran…..”

Mendengar suara ini, Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia melompat ke atas, seperti orang gila saja dia menerjang ke atas panggung sambil berteriak dengan suara parau, “Orang ini bukan ayahku! Dia palsu!”

Seketika senyap suara sorak-sorai tadi, semua orang sama melenggong kaget.

“Pwe-giok, apa kau sudah gila?” bentak Lim Soh-koan dengan gusar.

Berbareng Sebun Hong dan Kim Liong-ong menubruk maju, akan tetapi mereka lantas diseruduk Pwe-giok hingga tergetar mundur.

Dengan kalap Pwe-giok menerjang ke depan “Hong-ho Lojin” dan membentak, “Sesungguhnya siapa kau? Berani kau memalsukan ayahku?!”

Di tengah bentakannya ia terus menjotos, akan tetapi semacam tenaga lunak dan sukar ditahan telah membuat tubuhnya terpental. Karena itu, Ong Ih-lau dan lain-lain lantas memburu maju dan membekuknya.

Dengan suara berat Thian-in Taysu berkata, “Orang muda mana boleh berlaku sekasar dan tidak soan begini, ada persoalan apa hendaklah dibicarakan secara baik-baik saja.”

“Kau anak murid siapa?” Jut-tun Totiang lantas bertanya.

“Tecu Ji Pwe-giok, ” seru Pwe-giok dengan menggertak gigi dan air mata bercucuran.

Sorot mata Thian-in Taysu beralih ke arah Ji Hong-ho, tanyanya, “Apakah benar dia puteramu?”

Ji Hong-ho tersenyum pedih, katanya sambil mengangguk, “Anak ini…. Ai, dia…..” sampai di sini dia lantas menghela napas panjang dan tidak melanjutkan.

Jut-tun Totiang lantas membentak Pwe-giok, “Mengapa kau berani berbuat kasar begini terhadap orang tua?”

Kedua lengan Pwe-giok terasa kaku dan tak dapat berkutik lagi, dengan suara parau ia berteriak, “Dia bukan ayahku! Ayah sudah meninggal, di sampingku beliau meninggal!”

Thian-in dan Jut-tun saling pandang sekejap dengan air muka berubah.

Oh Ih-lau lantas menyela, “Anak ini benar-benar sudah gila, masa ngaco-belo tidak keruan.”

“Ya, dia memang gila, ” tiba-tiba Cia Thian-pi menukas. “Pagi tadi dia datang menumpang keretaku, tapi dia menuduh aku membunuh ayahnya. Padahal jejakku selama beberapa hari terakhir ini tentu diketahui oleh kalian, syukur sekarang Ji Locianpwe berada di sini, kalau tidak…. wah!”

Meski dalam hati orang banyak timbul rasa curiga, tapi setelah mendengar keterangan ketua Tiam-jong pay ini, mereka pun sama menggeleng dan menghela nafas gegetun.

Apakah ucapan tokoh-tokoh angkatan tua yang terhormat dan disegani ini lebih dapat dipercaya atau harus percaya kepada penuturan seorang pemuda yang tampaknya kurang waras ini? Tanpa dijawab pun kiranya sudah jelas.

Hancur luluh perasaan Pwe-giok melihat air muka para hadirin yang merasa tidak senang terhadap tindakannya itu, air matanya berderai bagaikan hujan. Musibah yang dideritanya dan fitnah yang diterimanya apakah sejak kini akan tenggelam ke dasar lautan dan tak dapat dibongkar lagi?

Lim Soh-hoan memandang sekeliling, dengan sendirinya ia pun dapat melihat sikap orang banyak yang menguntungkan pihaknya, dengan suara bengis ia lantas membentak, “Berani kepada atasan dan mengacau di sidang khidmat ini, durhaka kepada orang tua dan menuduh secara ngawur, dosanya ini harus dihukum mati dan sukar diampuni. Orang she Lim terpaksa harus mengenyampingkan hubungan keluarga dan melaksanakan keadilan bagi dunia Kangouw.”

Jika ayah mertuanya saja sudah begitu bicaranya, orang luar mana ada yang berani ikut campur lagi.

Segera Lim Soh-koan melolos pedangnya terus menusuk.

“Nanti dulu!” mendadak seseorang membentak.

Tahu-tahu tangan Lim Soh-koan yang memegang pedang dicengkeram orang seperti terjepit tanggam, sehingga badannya terasa kaku dan tak bisa berkutik.

“Ang-lian Pangcu, masa kau mem… membela anak durhaka ini?” teriak Lim Soh-koan.

Yang mencengkeram tangannya memang betul Ang-lian-hoa, ia tidak pedulikan ucapan orang, tangan yang lain menepuk pundak Pwe-giok, katanya dengan tertawa, “Memang agak keterlaluan kelakar ini, tapi rasanya sudah cukuplah sekarang!”

Ucapan ketua Kay pang ini membikin beribu-ribu orang, baik di atas maupun di bawah panggung, semuanya sama tercengang.

“Kel…. kelakar apa maksudmu?” tanya Lim-soh-koan dengan terkesiap.

Ang-lian-hoa bergelak tertawa, katanya, “Setiap kali sidang pertemuan Hong-ti berlangsung, suasana selalu terasa sangat tegang, karena itulah Siaute lantas mencari akal ini agar dapat sekadar mengendurkan urat syaraf para hadirin.”

Thian-in saling pandang dengan Jut-tun Totiang, sedangkan Ong Ih-lau, Lim Soh-koan dan konco-konconya sama melenggong seperti patung.

Sekali tepuk Ang-lian-hoa membuka hiat-to Pwe-giok yang tertutuk, lalu katanya pula, “Sekarang kita mengakhiri kelakar ini dan bolehlah kau bicara dengan sejujurnya.”

Pwe-giok menunduk dan mengiakan, mendadak ia lantas menengadah dan tertawa, ia terus menyembah kepada Ji Hong-ho dan berseru, “Anak terlalu kurang ajar, mohon ayah sudi memberi ampun.”

Wajah Ji Hong-ho tampak kurang senang, katanya sambil terbatuk-batuk, “Kau…. hk, hk…. kau terlalu…. terlalu….. hk, hk…..”

“Nah sudahlah, ayahmu sudah memberi ampun padamu, lekas kau bangun!” seru Ang-lian-hoa.

Sampai di sini, ada sementara orang sudah mulai tertawa, mereka merasa “kelakar” ini sungguh sangat menarik. Sebaliknya Lim-soh-koan, Ong Ih-lau dan lain-lain sama menyengir bingung mimpi pun mereka tidak menduga akan terjadi perubahan begini.

Cia Thian-pi menghela nafas lega, ucapnya dengan tertawa, “Memang seharusnya sudah kuduga ini adalah kelakar yang disutradarai Ang-heng.”

Ang-lian-hoa berkedip-kedip dan menjawab dengan tertawa, “Memang, seharusnya sudah tadi-tadi kau duga, mustahil di dunia ini ada manusia semberono begini, masa menuduh kau membunuh ayahnya tanpa berdasar?”

Cia Thian-pi terbahak-bahak, agaknya makin dipikir terasa semakin lucu.

“Kelakar ini tidak ditujukan kepada orang lain, tapi justeru tertuju kepada Ji locianpwe yang bijaksana dan baik hati, tidak nanti beliau marah hanya karena sedikit urusan ini.”

“Hk, hk,…. anak ini… hk, hk,…” selain batuk-batuk saja, memangnya apa yang dapat dikatakan Ji Hong-ho?

Segera Ang-lian-hoa membangunkan Pwe-giok dan berkata, “Gara-gara berkelakar, kau yang terpaksa harus berlutut dan minta ampun, harap aku dimaafkan.”

“Nanti dulu, ” mendadak Lim Soh-koan membentak.

“Apakah kaupun ingin dia menyembah dan minta ampun padamu seperti perbuatannya terhadap ayahnya?” tanya Ang-lian-hoa.

“Sidang Hong-ti ini masa kau anggap tempat berkelakar seperti anak kecil begini?” seru Lim Soh-koan dengan bengis. “Perbuatan yang tidak sopan dan tidak masuk akal begini apakah cukup dengan menyembah dan minta ampun saja?”

“Habis, mau apalagi kalau menurut pendapat anda?” tanya Ang-lian-hoa.

“Melulu kesalahan mempermainkan orang tua sudah harus dihukum dengan memunahkan ilmu silatnya dan dipecat dari perguruan, ” bentak Lim Soh-koan.

Ang-lian-hoa tersenyum dan bertanya, “Apakah anda ketua sidang pertemuan ini?”

“Bu…. bukan, ” jawab Lim Soh-koan.

“Apakah anda ayah Ji Pwe-giok?” tanya Ang-lian-hoa pula.

“Bukan, ” jawab Lim Soh-koan dengan muka merah.

Mendadak Ang-lian-hoa menarik muka, katanya, “Kalau begitu, lantas anda ini orang macam apa? Dengan hak apa kau bicara di atas panggung ini?”

Sorot mata Ang-lian-hoa mendadak berubah tajam sehingga Lim Soh-koan tidak berani menatapnya, ia menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Ang-lian-hoa lantas memberi hormat kepada segenap hadirin, lalu berkata, “Kelakar ini sama sekali adalah karena doronganku, jika para hadirin merasa Siaute bersalah, kalau harus dipukul, Siaute terima dipukul, kalau mesti dihukum, Siaute juga rela dihukum.”

Kay-pang adalah organisasi Kangouw terbesar selama 80 tahun, anggotanya beratus ribu bahkan jutaan banyaknya dan tersebar di seluruh negeri, usia Ang-lian-hoa masih sangat muda, tapi kepribadiannya, kecerdasan dan tinggi ilmu silatnya dipuji oleh setiap orang kangouw. Sekarang dia bicara blak-blakan begitu, siapa yang berani bermusuhan dengan dia dengan menyatakan dia harus dipukul atau dihukum.

Apalagi persoalannya tidak menyangkut kepentingan sendiri, kebanyakan di antaranya lebih suka tidak ikut campur. Hanya Hui-hi-kiam-khek saja, sambil meraba pedangnya ia berkata dengan tertawa, “Menurut pendapatku, Ang-lian-pangcu justru telah menghibur kita di tengah ketegangan ini, bukannya dihukum seharusnya dia harus mendapat pahala, maka aku mengusulkan dia harus disuguh tiga cawan arak!”

Thian-in Taysu termenung sejenak, katanya kemudian, “Kukira urusan ini serahkan saja kepada keputusan Hong-ho Lojin!”

Ji Hong-ho berdiam cukup lama, belum lagi bicara, tiba-tiba suara seorang tajam melengking terdengar di bawah panggung sana, “Sebuas-buasnya harimau juga tidak makan anaknya sendiri, kukira persoalan ini pasti tidak diusut lebih lanjut oleh Ji Locianpwe!”

Air muka Ji Hong-ho tampak berubah demi mendengar suara itu, segera ia pun berkata dengan tertawa getir, “Jika Ang-lian Pangcu sudah bicara bagi anak ini, biarlah kuberi ampun padanya sekali ini.”

Serentak terdengarlah suara sorak-sorai di bawah panggung. Pada kesempatan itu Ang-lian-hoa lantas mendekati Bwe Su-bong dan membisikinya, “Lekas pergi mencari tahu, siapa orang yang bicara tadi?”

Diam-diam Bwe Su-bong lantas melayang turun melalui belakang panggung. Sedang Ang-lian-hoa berlagak seperti tidak terjadi apa-apa, ia maju pula ke depan panggung dan memberi hormat kepada segenap hadirin sambil mengucapkan terima kasih. Lalu ia tepuk-tepuk pundak Pwe-giok dan berkata, “Nah, untuk apalagi kau berdiri di sini? Pergilah ganti pakaian dan sediakan arak, tunggulah kedatangan ayahmu nanti.”

Pwe-giok memandangnya sekejap, entah betapa rasa terima kasihnya yang terkandung dalam sorot matanya ini. Lalu, ia pun memberi hormat kepada para hadirin dan berlari meninggalkan panggung.

Terpaksa Lim Soh-koan, Ong Ih-lau dan lain-lain hanya memandangi kepergian anak muda itu dengan melongo, bagaimana perasaan mereka sukar untuk diketahui orang lain.

Tiba-tiba Sin-to Kongcu mengomel, “Sialan!”

Kim-yan-cu lantas menjengek, “Huh, orang sekarang resminya adalah putera Bu-lim Bengcu, betapa pun kedudukannya sudah jauh lebih terhormat daripadamu, kukira janganlah kau coba-coba merecoki dia.”

Tidak kepalang gemas Sin-to Kongcu, ia hanya melotot dan menggertak gigi, tapi tak sanggup bicara lagi.

-o0o-

Setelah turun dari panggung, tanpa berpaling Ji Pwe-giok terus berlari meninggalkan perkemahan sidang, di luar hanya lautan manusia belaka, ia menyelinap ke tengah kerumunan orang banyak. Orang banyak yang di depan melihat kedatangannya sama memberi jalan padanya, tapi orang yang di belakang hakikatnya tidak tahu siapa dia sehingga dia mandi keringat tergencet di sana-sini.

Dengan susah payah tampaknya dia sudah hampir menyelinap keluar dari berjubelnya lautan manusia, sekonyong-konyong ia merasa pinggangnya seperti tertutuk oleh sesuatu benda keras, segera ia mendoyongkan tubuh ke depan dengan sekuatnya, tentu saja orang lain tidak tahan oleh gentakan tenaganya yang kuat ini, belasan orang sama tertumbuk jatuh tunggang langgang.

Pada saat yang sama itulah ia dengar di belakang seperti ada suara orang yang menjerit tertahan, begitu bersuara lantas berhenti, mirip orang yang baru menjerit dan segera mulutnya didekap.

Ia pun tidak ingin mencari tahu apa yang terjadi, cepat ia menyelinap keluar dari kerumunan orang banyak dan berlari ke depan. Tapi lari kemana? Sungguh kusut pikirannya, mana dia tahu ke mana akan ditujunya?

Setelah tertiup angin barulah ia merasa belakang tubuhnya silir-silir perih, seperti ada cairan mengalir, ia mengira air keringat, tapi ketika dirabanya dengan tangan dan memandangnya, ternyata tangannya penuh berlepotan darah segar.

Baru sekarang ia menyadari bilamana tadi dia tidak bertindak cepat dengan mendoyong ke depan, tentu saat ini dia sudah mati di tengah berjubelnya manusia.

Lalu siapakah yang hendak membunuhnya? Sudah tentu sukar untuk diselidiki.

Teringat kejadian ini, belum lagi keringat hangatnya kering, kembali keringat dingin merembes lagi.

Seketika tidak keruan rasa hati Ji Pwe-giok, ya pahit ya getir, ya benci ya terima kasih, ya gemas ya sedih. Jelas tadi orang hendak membunuhnya, tapi ada seorang lain telah menjadi korban karena dia sempat menyelamatkan diri. Hal inilah yang membuatnya sedih.

Ang-lian-hoa boleh dikatakan baru saja dikenalnya, tapi telah membantunya dengan sepenuh hati tanpa pamrih, hal inilah yang membuatnya berterima kasih.

Ayahnya dibunuh orang secara keji, tapi keadaan memaksanya sedemikian rupa, bukan saja dia tidak dapat menuntut balas, bahkan terpaksa harus mengakui musuh sebagai ayah. Untuk ini masakan dia tidak pedih dan tidak benci?

Sekarang keluarganya berantakan, dikhianati orangnya sendiri, hari depannya tak menentu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, semua ini membuatnya sedih.

Teringat kepada kejadian tadi, ketika dia harus tertawa dan menyembah kepada musuh dan mengaku ayah padanya, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana dia dapat berlakag tertawa. Bisa jadi lantaran bencinya sudah merasuk tulang, maka dia harus menuntut balas, dia harus hidup! sekali kali tidak boleh mati.

Pada saat itulah mendadak dibelakang terdengar suara orang berjalan dengan langkah perlahan, cepat Pwe-giok berpaling, beberapa bayangan orang segara berkelebat dan sembunyi dibalik pohon dab batu.

Pwe-giok pura pura tidak tahu, ia tetap melangkah ke dapan, tapi sengaja dilambatkan jalanya. Baru belasan langkah, sekonyong-konyong datang serangan, tiga batang golok, dua dari atas dan satu dari bawah, serentak membacok dan menebas dengan cepat dan kuat.

Secepat kital Pwe-giok menjatuhkan diri kedepan, sambil setengah bertiarap, kakai kanan terus mendepak kebelakang.

Kontan terdengar suara jeritan, seorang lelaki terdepak terpental. Dua lainnya kaera serangan tidak berhasil, segara bermaksud kabur.

AKan tetapi Pwe-giok bergerak terlebih cepat, mendadak ia melompat bangun terus menghantam tepat mengenai punggung salah seorang itu. Lelaki itu sempat berlari beberapa langkah, tapi tubuh bagian atas terus menekuk kebelakang mirip bambu patah, lalu roboh terlukai.

Lelaki yang lain merasa tidak dapat kabur lagi, terpaksa ia mengadu jiwa, goloknya membacok lagi. Tapi sekali pegang, pergelangan tangannya dapat ditangkap oleh Ji Pwe-giok, segera orang itu menjotos dengan tangan lain, tapi kepalannya juga kena dihimpit dibawah ketiak oleh Pwe-giok.

Pada waktu biasa lelaki inipun tergolong jagoan, tapi ilmu silat yang dimilikinya sekarang bagi Ji Pwe-giok jadi seperti permainan anak kecil belaka. Tulang tangannya sama retak, sakitnya membuatnya hampir kelenger.

Dengan suara bengis Pwe-giok lantas membentak, “Kau bekerja bagi siapa? Asalkan kau mengaku terus terang segara kuampuni jiwamu!”

Lelaki itu tertawa pedih, katanya, “Apakah kau ingin tahu? tapi selamanya kau tak mungkin tahu…” suaranya semakin lemah dan mendadak berhenti dengan muka pucat.

Waktu Pwe-giok memeriksa napasnya, hanya sekejap saja lelaki itu ternyata sudah mati. Air mukanya dari pucat lantas berubah hitam, kulit daging mukanya juga lantas menyusut, sampai biji mata juga lantas ambles kedalam dan akhirnya lenyap semua. Hanya sejenak saja berubah menjadi tengkorak.

Nayata didalam mulut lelaki itu sudah disiapkan racun. Racun ini serupa dengan racun yang membinasakan Hek-Kap-cu tampo hari itu. Jelas ketiga lelaki inipun didalangi oleh iblis tak kelihatan yang membinasakan Hong-ho Lojin itu.

Waktu Pwe-giok memeriksa lagi kedua orang lain, yang satu tulang dadanya remuk dan yang satu lagi tulang punggung patah, semuanya sudah mati sejak tadi. Maklum, terlalu berat tandangan dan hantaman Pwe-giok bagi mereka.

Pwe-giok menghela napas sedih, ia menunduk, dirasakan tangannya terasa rada gatal. Ia tidak mengacuhkan dan menggaruk garuknya. Tak terduga, makin digaruk makin gatal, bahkan akhirnya rasa gatal itu seakan-akan menggelitik hati.

TIdak kepalang kagetnya, ia tahu gelagat tidak baik, tapi rasa gatal itu sungguh sukan ditahan dan ingin menggaruknya lagi. Hanya sekejap saja jarinya sudah bengkak, telapak tangan juga mulai bersemu hitam, rasa gatal itu dari telapak tangan mulai menjalar ke lengan.

Kejut dan takut pula Pwe-giok, ia berusaha menjemput golok orang yang terjatuh ditanah itu, bilamana perlu ia bermaksud membuntungi tangan sendiri.

Akan tetapi jari tangan sudah tidak mau menurut perintah lagi, sudah kaku dan mati rasa, golok terpegang dan terjatuh pula. Dengan menggertak gigi sekuatnya ia pegang pula golok itu, akhirnya dapatlah golok itu diangkatnya terus hendak menebas lengan sendiri. Syukurlah pada detik itu mendadak setitik sinar menyambar tiba, “trang”, golok itu tergerat hingga terlepas.

Pada saat yang hampir sama dua lelaki berjubah panjang dan memakai kedok hitam melayang keluar dari tempat teduh, yang seorang tinggi kurus, yang lain pendek besar.

Yang jangkung lantas terkekeh kekeh terhadap Pwe-giok, ucapnya, “Gatal, aduh, gatalnya, nikmat sekali kalau digaruk.” Sambil bicara ia terus berlagak seperti orang yang menggaruk.

Tanpa terasa Pwe-giok juga hendak menggaruk pula, tapi mendadak ia tersentak kaget, tangan kanan terus menghantam tangan kiri sendiri sambil berteriak, “Akhirnya aku terperangkap juga olah tipu keji kalian. Jika mau bunuh boleh kalian bunuh saja diriku.”

Dengan terkekeh sijangkung berkata, “Baru sekarang kautahu terperangkap? Padahal alangkah tangkasnya tadi ketika kau main depak dan pukul membinasakan ketiga kawan kami ini”

Sipendek juga mengejek, “tentunya kau tahu sekarang bahwa ketiga orang ini sengaja kami kirim agar kau bunuh, kalau tidak, masa pihak kami mengirim orang tak becus seperti mereka ini.”

Sijangkung lantas menyambung, “Sudah kami perhitungkan, setelah kaubunuh mereka, tentu akan kau periksa mayat mereka, sebab itulah dibaju mereka sudah ditaburi racun, begitu tanganmu menyentuh bubuk itu, sedikit terasa gatal, segara racun itu akan bekerja terlabih cepat. Ha ha, bilamana rasa gatal sudah menggelitik, mustahil kau tidak menggaruknya?”

“Dan sekarang kedua tangamu sudah bengkak seperti kaki babi, jalas tanganmu tiada gunanya lagi, coba, apakah kau masih bisa berlagak garang dan memukul orang?”

Begitulah kedua orang, yang satu jangkung dan yang lain pendek, keduanya bercakap seperti pealwak diatas panggung, meraka sengaja mengejek dan berolok olok.

Dengan menggertak gigi Ji Pwe-giok berkata, “Cara kalian mencelakai orang ternyata tidak sayang mengorbankan kawan sendiri, hm, apakah cara kalian ini terhitung perbuatan manusia, hakikatnya melebihi binatang buas.”

“Ketiga orang itu rela mati demi Cukong kami, kematian mereka harus dipuji, bukan saja mereka merasa bangga, bahkan anggota keluarga yang ditinggalkan mereka juga akan merasa beruntung.” ujar sijangkung.

“Tapi sekarang kematianmu justeru mati tanpa suara dan tak berbau, bahkan orang lain tiada yang tahu apakah kau sudah mati atau masih hidup, mungkin ada yang mengira kau telah melarikan diri karena takut dosamu akan dituntut.” sambung sipendek.

Tidak kepalang pedih hati Ji Pwe-giok, ia merasa kematian sudah menanti dan sukar dihindari, ia tertawa sedih dan berkata, “Sungguh tak tersangka didunia ini ada manusia sekeji dan kejam seperti kalian ini…” belum habis ucapannya pandangannya menjadi gelap dan robohlah dia.

“He he he, bagaimana kalau kita berlomba, kubacok satu kali dan kaupun bacok satu kali, coba siapa yang lebih dulu membinasakan dia, ” kata sijangkung dengan terkekeh kekeh.

Sipendek menjawab, “Aha bagus, usul yang menarik…”

Kedua orang lantas menjemput sebatang golok kawan mereka yang sudah binasa ini, lalu mendekati Pwe-giok pula.

“Sebelum ajalku, apakah kalian tetap tidak mau memberitahukan padaku sesungguhnya bagaimana bentuk intrik ini dan siapa yang berdiri dibelakang semua ini?” teriak Pwe-giok dengan parau.

—–

Apakah Pwe-giok akan binasa keracunan atau akan tertolong, siapa penolongnya?

Siapa biangkeladi yang mendalangi semua intrik keji ini terhadap Ji Pwe-giok dan siapa pula orang yang menyaru sebagai ayahnya itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: