Kumpulan Cerita Silat

11/05/2010

Renjana Pendekar – 01

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Ipan, dan Sukantas009)

Di suatu halaman rumah yang luas dan rindang, di bawah pohon sana seorang kakek berjubah hijau tampak berdiri tenang dan santai, sambil berdekap tangan sedang menyaksikan seorang pemuda di depannya lagi menulis.

Pemuda itu duduk bersila di depan sebuah meja pendek, pit (Pensil bulu) yang digunakan menulis itu sebesar lengan bayi, panjangnya kurang lebih setengah meter.

Sebesar itu alat tulisnya, tapi yang ditulis justeru huruf kecil yang disebut gaya “Siau Kay”. Saat itu dia baru habis menulis seluruh isi kitab Lam-hoa-keng.

Sampai huruf terakhir, sampai goresan pensil penghabisan, dia tetap menulis dengan tekun dan sungguh-sungguh, gerak pensilnya juga tidak kacau sedikitpun.

Di tengah kerimbunan pohon terdengar suara tonggeret yang bising memecahkan kesunyian.

Perlahan-lahan anak muda itu menaruh pensilnya, mendadak ia menengadah, katanya dengan tertawa terhadap orang tua tadi, “Pertemuan Hong-ti tidak dikesampingkan oleh setiap Enghiong (Pahlawan, Ksatria) di dunia ini, masa ayah benar-benar tidak mau hadir?”

“Setelah Lam-hoa-keng selesai kau tulis barulah kau bertanya, dalam hal kesabaran jelas kau sudah ada kemajuan”, ucap si kakek dengan tersenyum.

“Tapi pertanyaanmu ini mestinya tidak perlu kau ajukan, masa kau masih memandang penting sebutan “Enghiong” segala?”

Pemuda itu mendongak, memandang sekejap pucuk pohon, lalu menunduk pula mengiakan petuah sang ayah.

Rupanya bukan tanpa sebab pemuda itu mendongak dan memandang pucuk pohon. Terdengar suara kresekan daun pohon yang pelahan, mendadak sesosok bayangan manusia melayang turun seringan burung hinggap di tanah.

Kiranya pendatang ini adalah seorang pendek kecil cekatan berbaju hitam, di balik pakaiannya yang hitam ketat ringkas itu tampak otot daging yang kekar, sekujur badan penuh sikap kewaspadaan, seolah-olah anak panah yang sudah siap pasang pada busurnya, sekali tersentuh segera akan menjepret.

Namun kedua orang tua dan muda tadi tetap tenang-tenang saja, dengan tak acuh mereka menandang sekejap tamu tak diundang ini, juga tanpa bicara dan tidak menegur, seakan-akan si baju hitam memang sejak tadi sudah berdiri di situ.

Mendadak si baju hitam bergelak tertawa, serunya; “Sungguh hebat Gak-san-lojin Ji Hong-ho, ternyata benar tetap tenang biarpun gunung Thay gugur di depannya, tak tersangka Kongcu juga setenang ini, baru sekarang aku Hek-kap-cu (si merpati hitam) menyaksikan kehebannya”

Sambil berbicara iapun memberi hormat, sikapnya tampak sangat kagum dan sangat hormat.

“O. kiranya Hek-tayhiap dari ketujuh tokoh ahli Ginkang, ” ucap si kakek, Ji Hong ho, dengan tertawa.

“Mestinya Cianpwe tahu, diantara Bu lim jit kim (tujuh unggas dunia persilatan), aku si Hek-kap ca inilah yang paling tidak becus.” demikian kata si merpati hitam. “Aku tidak berani menjadi bandit, juga tidak sanggup menjadi tukan kawal. Terpaksa kucari sesuap nasi dengan kemampuan dan sifatku yang bisa menjaga rahasia untuk mengantarkan surat kepada cianpwe.

Ji Hong-ho dengan gembira berkata, “Saudara Hek tidak mencari nafkah dengan cara yang tidak jujur dan ini benar-benar kuhormati. Tapi aku menduga-duga, sahabat lama manakah yang meminta saudara Hek untuk mengantarkan surat?”

Hek Kap-cu menjawab, “Kalau orang itu tidak mau mengungkapkan jati dirinya, aku berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan jati dirinya. Itu adalah kode etik pekerjaanku, aku juga tahu bahwa cianpwe bisa memaksaku untuk mengungkapkan jati dirinya. Tapi aku juga tahu bahwa surat ini mengandung suatu rahasia penting dari cianpwe”. Sesudah mengucapkan kata-kata tersebut, dia mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada Ji Hong-ho.

Ji Hong-ho ragu-ragu sejenak dan kemudian ia menyerahkan surat itu kembali kepada Hek Kap-cu dan berkata, “Tolong, bisakah kau membuka dan membaca surat ini keras-keras untukku?”

Hek Kap-cu berkata, “Tapi, isi surat ini mengandung rahasia cianpwe….”

Ji Hong-ho tersenyum, “Oleh karena itu, aku ingin anda membacakannya untukku karena aku sama sekali tidak mempunyai rahasia. Aku tidak takut siapapun mengetahui isi surat ini”.

Hek Kap-cu sangat terkesan dan sambil tersenyum, “Tidak ada rahasia sama sekali! Hanya Cianpwe yang bisa mengucapkan kata-kata ini”

Hek Kap-cu membuka sampul surat itu dan menemukan lembaran lembaran suratnya. Lembaran-lembaran surat itu saling lengket satu sama lain dan Hek kap-cu membasahi jari-jarinya dengan ludah dan memisahkan lembaran-lembaran suratnya.

Dia mulai membaca surat itu keras-keras, “Yang terhormat saudara….”.

Tiba-tiba Hek Kap-cu jatuh dan kejang-kejang. Ji Hong-ho sangat terkejut dan segera bergegas menolongnya. Sesudah memeriksa denyut nadinya, ia segera tahu bahwa Hek Kap-cu tidak akan bertahan lebih lama lagi, dengan suara keras ia bertanya, “Sesungguhnya siapa yang menyuruh kau menyampaikan surat ini kesini? Siapa? Lekas katakan!”

Mulut Hek-kap-ca terpentang, tapi tak dapat mengucapkan sepatah katapun, air mukanya dari hijau berubah pucat, dari pucat berubah merah, dari merah lantas berubah menjadi hitam, hanya sekejap saja air mukanya sudha berubah beberapa warna. Kulit daging mukanya juga mendadak lenyap secara ajaib, seraut muka yang sesaat sebelumnya masih segar dan sehat, kini mendadak berubah menjadi sebuah tengkorak yang hitam.

“Racun! Lihay amat racun ini !” seru pemuda tadi dengan melenggong.

Perlahan Ji Hong-ho berdiri, ucapnya sambil menghela napas sedih, “Sebenarnya akulah yang hendak dicelakai dengan surat berbisa ini, tak tersangka dia yang menjadi korban. Meski bukan aku yang membunuh dia, tapi jelas dia mati lantaran diriku… ”

Dilihatnya kulit daging sekujur badan Hek-kap- cu juga muali menyusut dan hilang dalam waktu singkat, dari bagian bajunya menggelinding keluar beberapa potong biji emas. Mungkin inilah imbalan bagi jasanya menyampaikan surat ini, tapi juga imbalan bagi jiwanya.

Melihat beberapa potong emas itu, mendadak Ji Hong-ho malah menjemput kembali surat tadi. Si pemuda terkesiap, serunya cepat, “He, akan diapakan, ayah?!”

Ji Hong-ho tampak sudah tenang kembali, katanya dengan perlahan, “Orang ini mati lantaran diriku, betapapun harus kubalas budinya. Apalagi, begini keji cara orang yang hendak membunuh diriku ini, kalau cara yang satu gagal, tentu dia nasih ada tipu-daya yang kedua. Jika hal ini sampai terjadi maka hidupku tentu akan menyesal dan merasa berdosa, kan lebih baik akupun mati agar hatiku bisa tenteram”

“Tapi… tapi, ayah tidak ingin mencari tahu sesungguhnya siapa yang hendak mencelakai engkau?. Selama hidup ayah tiada bermusuhan dengan siapapun, sungguh aneh, siapakah gerangan…”

Belum habis ucapan pemuda tadi, se konyong konyong terdengar suara “Blang” yang keras, beberapa potong emas tadi mendadak meledak, semua benda seperti pot air, kertas tulis, tatakan tinta dan sebagainya yang berada diatas meja pendek tadi sama tergetar dan jatuh ke tanah.

Ji Hong-ho sendiri tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak, padahal sebenarnya dia sudah melompat mundur beberapa meter jauhnya untuk kemudian lantas melayang balik ke tempat semula. Sorot matanya yang semula tenang-tenang itu kini mengandung rasa marah, ucapnya sambul mengepal tangannya, “Keji benar orang ini, ternyata di dalam lantakan emas juga diberi obat peledak, bahkan sudah diperhitungkan saat meledaknya setelah Keh-kap-cu menyerahkan surat padaku, jelas bukan cuma aku saja yang ingin dibunuhnya, malahan orang yang menyampaikan surat inipun akan dibinasakan agar tutup mulut untuk selamanya.”

Air muka pemuda tadi juga berubah, katanya dengan gemas, “Orang macam apakah yang berhati keji dan juga perencana yang rapi ini?. Jika orang ini tidak ditumpas, bukankah dunia persilatan akan… ”

“Sebenarnya hal inipun tak dapat menyalahkan dia.” Ji Hong-ho memotong ucapan pemuda itu dengan tersenyum pedih. “Jika secermat ini dia berusaha membunuh diriku, mungkin karena pernah ku berbuat sesuatu kesalahan, makanya dia sedemikian benci padaku.”

Air mata si pemuda tampak berlinang-linang di kelopak matanya, katanya dengan suara agak gemetar, “Tapi engkau orang tua masakah pernah berbuat kesalahan? Engkau sedemikian baik terhadap siapapun juga, tapi toh ada orang yang berusaha membunuhmu, dimanakah letak keadilan dunia Kangouw ini?!”

“Pwe-giok.” ucap Ji Hong-ho dengan tenang “Jangan terburu napsu, jangan kau bilang dunia Kangouw sudah tiada keadilan lagi. Hidup seseorang betapapun sukar terhindar dari berbuat salah, akupun tidak terkecuali. Hanya saja… hanya saja seketika aku tidak ingat kesalahan apa yang pernah kulakukan. ”

Pada saat itulah mendadak dikejauhan sana ada suara orang membentak, “Di mana Ji Hong-ho?… Di mana ji Hong-ho?… ”

Susul menusul suara bentakan itu dan makin lama makin mendekat, ditangah suara bentakan itu terseling pula suara jeritan kaget dan takut serta caci maki, lalu ada suara pintu didobrak dan jatuhnya benda berat, suara itu terus berkumandang, jelas para centeng keluarga Ji tidak mampu merintangi masuknya penyatron.

“Orang macam apakah berani menerjang kemari?” kata si pemuda yang bernama Ji Pwe-giok itu dengan rada terkesiap.

Tapi Ji Hong-ho tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan perlahan, “Sebenarnya mereka tidak perlu merintangi pengunjung, apalagi tamunya sudah masuk rumah, buat apa kau repot keluar menyambutnya… ” mendadak ia berpaling kesana dan dengan tertawa, “Silakan kalian masuk saja.”

Benar juga, melalui pintu bundar taman sana lantas menerobos masuk lima orang lelaki kekar berbaju sulam yang mentereng, semuanya tampak garang dengan wajah napsu membunuh, Tapi demi nampak ji hong-ho dan puteranya menyambut kedatangan mereka dengan tenang-tanang saja, mereka jadi melengak sendiri.

Lelaki kekar pertama yang berewok dan bergolok tebal bergalang sembilan lantas membentak dengan bengas; “Ji-Hong-ho, keparat kau, akhirnya kutemukan juga kau!”

Sambil meraung ia ayun goloknya yang bergelang hingga berbunyi gemerincing itu, dengan kalap Ji Hong-ho dibacoknya.

Daun pepohonan sama tergetar bertebaran oleh guncangan angin bacokan golok yang keras itu, tapi Ji Hong-ho tetap berdiri tenang tanpa bergerak seakan-akan sengaja menantikan bacokan golok lawan.

Tanpa mengangkat kepala, mendadak pemuda Ji Pwe-giok menjentikkan jarinya pelahan, terdengar suara “crit” sekali, menyusul lantas berbunyi “Trang” golok tebal si berewok sudah terjatuh ke tanah.

Setengah badan lelaki berewok itu merasa kaku kesemutan, telingapun mendengung karena suara gataran tadi, mukanya menjadi pucat, ia pandang anak muda tadi dengan melenggong, tidak berani maju dan tidak berani mundur.

Perlahan lahan Ji Pwe giok mendekati orang itu, tapi mendadak Ji Hong-ho membentak tertahan, “Jangan melukai orang, Pwe-giok!”

Karena itu, Ji Pwe-giok lantas berhenti dan tidak melangkah maju pula.

Si berewok lantas bergelak tertawa, teriaknya, “Betul, Ji Hong-ho suka menganggap dirinya seorang arif bijaksana, selamanya tidak mau melukai orang. Tapi biarpun kau tidak mau melukai aku, aku justeru ingin membinasakan kau. Bilamana kau berani mengganggu seuujung rambutku, itu berati kau adalah manusia munafik yang sok jual nama kosong !”

Dia ternyata memutar balikkan persoalan dan menjadikan alasan tidak masuk diakal itu untuk menyudutkan Ji Hong-ho, sungguh manusia yang tidak tahu malu dan berhati keji.

Namun Ji Hong-ho tetap tenang saja dan menghadapinya dengan tak acuh, ia malah tersenyum dan berkata, “Jika demikian, jadi apapun juga kalian pasti akan mencabut nyawaku?!”

“Ucapanmu memang tepat!” teriak si berewok sambil menyeringai. Mendadak ia jatuhkan diri ke tanah dan terus menggelinding maju, tahu-tahu goloknya yang jatuh tadi sudah direbutnya kembali, dengan golok terhunus ia lantas membentak, “Hayo saudaraku, tunggu kapan lagi!”

Di tengah bentakannya, serentak lima macam senjata, yaitu golok bergelang sembilan, pedang pencabut nyawa, gaetan berkepala harimau, Boan-koan-pit dan tumbak berantai, terus menyerang.

Pada saat itu juga mendadak terdengar seorang tertawa panjang dan berseru, “Haha, melulu kalian inipun berani menyerang Ji-locianpwe !?”

Menyusul suara itu sesosok banyangan orang melayang turun dari puncak pohon dan menerjang ke tengah hujan senjata tadi. Terdengar suara gemerantang, golok bergelang tadi yang pertama tama mencelat dan menancap di batang pohon sana. Habis itu “krek”, pedang juga patah menjadi dua. Lalu Boan-koan-pit mabur ke udara, gaetan berbalik merobek perut kawan sendiri yang berpedang tadi, sedangkan rantai tumnak membelit leher orang yang main gaetan, seketika orang itu roboh terguling.

Orang ini muncul mendadak, gerak tubuhnya juga sangat cepat, jurus serangannya bahkan secepat kilat dan sukar ditahan. Keruan Ji Hong-ho dan Ji Pwe-giok melengak.

Baru sekarang mereka dapat melihat jelas pendatang ini adalah seorang pemuda cakap bertubuh jangkung dan berbaju sutera ungu tipis, sinar matanya mencorong tajam, gagah berwibawa, cuma mukanya pucat lesi, dingin kaku tanpa sesuatu tanda perasaan apapun sehingga kelihatannya rada menyeramkan.

Dia terus menyembah kepada Ji Hong-ho, katanya dengan sangat hormat, “Di tengah perjalanan hamba sudah mendengar berita maksud kelima orang ini akan membikin celaka Cianpwe, maka kukuntit kemari. Setelah menyaksikan Cianpwe memperlakukan mereka sedemikan baik, tapi mereka malah tidak tahu diri, terdorong oleh rasa penasaran sehingga cara turun tangan hamba terlalu keras dan membinasakan mereka di kediaman Cianpwe, untuk ini kumohon CIanpwe sudi memberi ampun.”

Dia telah berjasa membantu Ji Hong-ho, tapi dia malah minta maaf dan mohon ampun.

Ji Hong-ho menghela napas dan berkata, “Apa yang anda lakukan ini adalah karena membela diriku, permintaan ampun ini harap jangan disebut ladi. Tentang kelima orang ini… Ai, aku sendiri tidak tahu bilakah pernah bermusuhan dengan mereka sehingga sekarang jiwa mereka harus melayang.”

Setelah terdiam sejenak, ia tertawa sambil membangunkan pemuda baju ungu, katanya, “Anda masih muda dan cakap, alangkah gembiraku bila anda ini putera seorang sehabatku.”

Pemuda itu tetap tidak mau bangun, ia masih mendekam di atas tanah dan berkata, “Meski Cianpwe tidak kenal hamba, tapi jiwa hamba sesungguhnya adalah adalah hadian Cianpwe. Terlalu banyak kebijakan yang disebar oleh Cianpwe, tentu Cianpwe sudah melupakan anak kecil yang pernah mendapat perlindungan dahulu.”

Ji Hong-ho mengandeng tangan pemuda itu dan tarik bangun, katanya dengan tertawa, “Tapi anak itu sekarang sudah dewasa, bahkan telah menyelamatkan jiwaku, tampaknya Thian memang meha adil… ” sampai disini, sekonyong-konyong ia menggentak tanganya sehingga pemuda itu terlempar jauh kesana.

Ji Hong-ho sendiripun semponyongan, katanya dengan suara gemetar, “Kau… kau siapa sesungguhnya?”

Pemuda baju ungu sempat berjumpalitan di udara, lalu turun ke bawah dengan ringan, mendadak ia menengadah dan terbahak bahak, katanya, “Ji-loji, telapak tanganmu sudah terkena To-hon-buceng-ciam (Jarum pencabut nyawa tanpa kenal ampun), biarpun malaikat dewata juga tidak sanggup menyelamatkan kau, jangan harap lagi kau akan mengetahui siapa diriku ini…”

Dalam pada itu Ji pwe-giok telah melompat kesamping ayahnya, dilihatnya kedua tangan sang ayah sudah membengkak satu kali lebih besar hanya dalam sekejap itu warnanya hitam pekat, panas seperti dibakar. Waktu ia pandang wajah orang tua ini, tubuhnya yang gemetar sudah tidak kuat berdiri lagi, mulutnya terkancing rapat dan tidak mampu bicara.

Sedih dan gusar tidak kepalang hati Ji pwe-giok, teriaknya dengan suara parau, “Sebenarnnya ada permusuhan apa antara kau dengan kami? Mengapa kau turun tangan sekeji ini?”

“Permusuhan? Haha, selamanya aku tidak ada permusuhan apapun dengan orang she Ji, ” jawab pemuda baju ungu dengan tertawa. “Tujuanku tiada lain hanya ingin mencabut nyawa kalian saja.”

Sambil bicara dan tertawa, air mukanya tetap dingin dan kaku tanpa emosi apapun.

Ji Pwe giok memandang jenazah san ayah yang menggeletak di tanah itu, ucapanya pula dengan menggertak gigi, “Jadi kau yang mengatur semua rencana keji ini?”

“Betul.” jawab pemuda baju ungu, Demi mencabut nyawa kalian ayan dan anak, yang mengiringi kematian kalian sudah lebih daripada enam orang ini…”

Mendadak ia bersiul, serentak dari luar pagar tembok melompat masuk likuran lelaki berbaju hitam, semuanya bersenjata pedang atau golok, setiap orang tampak gesit dan tangkas, tampaknya likuran orang ini adalah jago silat pilihan, semuanya memakai kedok muka dengan sepotong kain sutera ungu, nyata mereka sengaja menyembunyikan muka aslinya.

“Orang she Ji.” demikian si pemuda baju ungu tadi berseru pula dengan tertawa, “Kukira lebih baik kau menyerah dan terima nasib saja. Yang kami takutkan adalah Kim-i-bun-ciang (Pukulan lunak sutera emas) andalan Ji-loji yang tiada tandingannya di dunia ini, sekarang Ji-loji sudah mampus, lalu apa yang dapat kau lakukan?”

Sekilas pandang saja Ji Pwe-giok sudah mengetahui kawanan penyatron ini adalah jago-jago kelas satu seluruhnya, hatinya tidak kepalang sedihnya, juga gusar tak terkatakan, dengan sendirinya juga sangat terkejut.

Bilamana orang lain, mungkin sudah panik dan bingung, jika tidak patah semangat dan ketakutan tentu menjadi nekat dan mengadu jiwa dengan musuh. Tapi Ji Pwe-giok memang pemuda yang lain daripada yang lain, mendadak ia membalik badan bagian bajunya diringkaskan pada pinggang lalu panggul tubuh sang ayah, menyusul pensil besar bergagang besi yang dibuatnya menulis tadi diraihnya.

Dalam pada itu kawanan lelaki berbaju hitam tadi sudah mendesak maju. melihat pemuda she Ji ini masih tetap berdiri di situ dengan tenang dan mantap, mau tak mau mereka jadi melengak. Habis itu baru mereka mengangkat senjata dan menerjang maju.

Cahaya senjata bertaburan, berpuluh golok dan pedang menyerang serentak, ada yang membacok, ada yang menusuk, ada yang menebas, semuanya ditujukan satu sasaran, semuanya teratur sedikitpun tiada terdengar benturan senjata di antara teman sendiri.

Akan tetapi mendadak angin puyuh berjangkit, Jian-kin-thi-pit atau pencil besi seribu kati senjata khas Ji pwe-giok, menyapu dengan keras, terdengar suara gemerentang nyaring, golok dan pedang musuh sama bengkok dan patah, ada pula yang terlepas dari tangan.

Belasan orang tergetar mudur dengan bahu pegal dan tangan linu sehingga sukar diangkat untuk seketika. Sungguh mimpipun mereka tidak menyangka pemuda yang kelihatannya lemah lembut dan bermuka putih cakap ini ternyata memiliki tenaga sakti sebesar ini.

Namun orang-orang inipun bukan jago kelas kambing, meski terkejut mereka tidak menjadi gentar, setelah belasan orang tergetar mundur segera belasan orang menerjang maju pula. Cepat Jian-kian-pit Ji Pwe-giok berputar lagi.

Sekali ini tiada seorangpun yang berani keras lawan keras, mereka terus berputar dan mencari peluang untuk menyerang. Seketika terdengar angin menderu-deru sehingga daun pohon sama rontok berhamburan.

Likuran orang itu ternyata dapat bekerja sama dengan rapat, sebagian dari kanan dan sebagian lagi dari kiri, sebagian mundur, bagian lain lantas ganti maju. Namun sebegitu jauh tiada seorangpun yang mampu menembus lingkaran pertahanan Ji Pwe-giok.

Cuma, meski jian-kian-thi-pit andalannya ini sangat lihay, namun bobotnya terlalu berat dan juga agak panjang, kurang lincah untuk digunakan seperti pedang biasa, tenaga yang harus dikeluarkan juga lebih banyak. Maka setelah belasan jurus, dahi Ji Pwe-giok yang putih bersih itu mulai dipenuhi butiran keringat.

“Bagus, beginilah caranya.” seru si pemuda baju ungu tadi dengan tertawa. “Kuras dulu tenaganya baru nanti bekuk dia. Kalau tikus sudah masuk kaleng, masakan dia mampu kabur?”

Wajah yang kelihatan kaku dingin tanpa emosi itu jelas lantaran dia memakai topeng, tapi dari suaranya dapat diduga usianya memang belum tua.

Meski Ji Pwe-giok sedang menghadapi kerubutan orang-orang itu, namun pandangannya tidak pernah lalai memperhatikan pemuda yang keji ini, lebih-lebih Bu-ceng-ciam yang siap digenggam pemuda itu.

Didengarnya pernapasan ayah yang berada digendongannya itu semakin lemah sehingga akhirnya hampir tak terdengar lagi, sedangkan musuh tangguh di depan mata semakin mendesak, bahkan jarum berbisa yang siap ditangannya itu kelihatannya segara akan ditaburkan.

Hancur hati Pwe giok saking sedihnya, tenagapun mulai habis, ia menjadi nekat, dia tahu bila tidak segera berusaha meloloskan diri, mungkin selanjutnya tidak dapat lagi mengatahui asal usul dan maksud tujuan sesungguhnya pihak musuh, keadaan memaksanya harus segera keluar.

Karena itulah, mendadak ia meraung murka, Jian-kin-pit menyapu dengan gerakan “Heng-sau-jian-kun” atau menyapu ribuan prajurit, ujung pensil itu terus menjodoh ke dada seorang lelaki yang berada disamping kanan.

Kejut orang itu tak terhingga, cepat ia menjatuhkan diri dan menggelinding ke sana, saking kerasnya tikaman pensil Ji Pwe-giok itu hingga ujung pensil langsung menancap di tanah, tapi dengan tenaga pantulan tikaman itu tubuh Ji Pwe-giok juga lantas melayang lewat di atas kepala orang banyak, melewati pucuk pohon, laksana seekor burung raksasa ia terus terbang keluar.

Bahwa Jian-kin-thi-pit itu masih mendatangkan daya guna sebagus itu, tentu saja tiada pernah terpikirkan oleh orang-orang itu.

“Kejar!” segera si pemuda baju ungu berteriak. Sekali totol kakinya, secepat anak panah terlepas dari busurnya iapun melayang keluar.

Namun dia agak ketinggalan, apalagi Ginkangnya memang juga selisih jauh dibandingkan Ji Pwe giok. Lebih lebih daya pantulan tikaman pensilnya itu. Ginkang Ji Pwe-giok tiada ubahnya bertambah satu kali lipat.

Ketika pemuda baju ungu melayang keluar pagar tembok taman, di luar hanya tampak pepohonan Yangliu melambai pelahan tertiup angin, air sungai mengalir berkilau tertimpa sang surya.

Seokor anjing kecil berlari ketakutan ke seberang jembatan sana dengan mencawat ekor.

Sebenarnya Ji Pwe-giok belum kabur pergi, dia justeru bersembunyi di tengah tengah semak-semak rumput dibawah jembatan.

Karena menggendong ayahnya, sisa tenaga Pwe giok tidak mengizinkan dia berlari lagi, terpaksa ia menyerempet bahaya dan mengadu kecerdasan, ia gunakan jiwa sendiri untuk bertaruh dengan pihak musuh.

Didengarnya pemuda baju ungu tadi sedang menbentak perlahan , “Kejar, bagi empat jurusan, lekas!”

Terdengar seorang berkata, “Jangan-jangan dibawah jembatan…”

Tapi dengan gusar si pemuda baju ungu memotong, “orang she Ji bukanlah orang bodoh, masakan dia menunggu kematian di bawah jembatan?”

Menyusul lantas terdengar suara berkibarnya kain baju, satu persatu orang orang itu melayang lewat jembatan. “plung”, anjing kecil tadi melengking terdepak jatuh ke sungai. Mungkin si pemuda baju ungu tadi menggunakan anjing sialan itu sebagai pelampias marahnya.

Setelah riak air tenang kembali, suasana sekeliling lantas sunyi senyap pula, hati JI Pwe giok juga merasa lega. Namun begitu ia tetap meringkuk di semak semak itu dan tidak berani bergerak.

Dia benar-benar pemuda yang sabar, ia tunggu sampai sekian lama, setelah yakin benar-benar rombongan orang tadi tidak kembali lagi barulah ia melompat keluar, tapi ia tidak menuju ke tempat lain, sebaliknya langsung berlari pulang ke rumahnya sendiri.

Kalau orang lain memperhitungkan dia pasti tidak berani pulang ke rumah, maka dia justeru sengaja balik lagi ke situ.

Halaman rumah tetap sunyi senyap dengan pepohonan yang rimbun, seperti tidak pernah terjadi apapun. Hanya keenam sosok mayat itu yang mengingatkan dia pada kejadian sedih tadi.

Pwe-goik langsung berlari masuk ke ruangan dalam, ia baringkan ayahnya di tempat tidur, lalu dari almari dikeluarkannya sebotol, seluruhnya ia tuangkan ke mulutnya.

Obat mujarab ini adalah buatan khusus orang tua itu dan entah sudah berapa kali menyelamatkan jiwa manusia, tapi sekarang ternyata tidak sanggup menyelamatkan jiwanya sendiri. Baru sekarang Ji pwe-giok mencucurkan iar mata.

Sinar sang surya menyorot masuk melalui jendela sana, wajah si orang tua kelihatan sudah hitam, pada dadanya masih tersisa embusan napasnya yang terakhir, dengan lamat lamat ia membuka matanya dan berkata dengan lemah “Apa… apa salahku?… kesalahan apa yang kelakukan?….”

Dengan tubuhnya Pwe-giok mengalingi sinar matahari yang menyilaukan pandangan orang tua itu, ucapnya dengan air mata meleleh , “Ayah, engkau tidak pernah berbuat salah !”

Orang tua itu seperti mau tersenyum, namun senyumannya sudah sukar lagi menghias mukanya yang mulai kaku, hanya ujung mulutnya saja berkerut sedikit, lalu katanya pula dengan lemah, satu kata demi satu kata, “Aku tidak salah. Kau harus meniru aku, jangan lupa mengalah, sabar, mengalah, sabar…” makin lemah suaranya hingga akhirnya tak terdengar lagi.

Pwe-giok berlutut lemah di depan pembaringan tanpa bergerak, air mata masih terus bercucuran, sampai lama dan lama sekali air matanya belum lagi kering.

Sinar matahari sudah tad ada lagi, di dalam kamar mulai gelap gulita.

DI tengah kegelapan dan kesunyian itu, sekonyong-konyong terdengar suara langkah orang.

Langkah kaki orang ini sangat pelahan dan berat, setiap langkahnya seakan akan menginjak remuk hati orang, suara tindakan ini berkumandang dari serambi samping sana dan akhirnya sampai di depan pintu.

Pelahan-lahan pintu kamar terpentang, didorong orang. Pwe-giok masih tetap berlutut dalam kegelapan tanpa bergerak.

Sesosok bayangan melangkah masuk ke dalam kamar, setindak demi setindak, seperti badan halus, begitu lambat jalannya, padahal perawakannya kelihatan langsing kecil, tapi langkahnya sedemikian beratnya seakan-akan menyeret benda beribu kati.

Akhirnya Pwe-giok berdiri.

Orang itu terkejut dan melompat mundur keluar kamar, lalu tegurnya, “Sia… siapa kau?”

Seyogyanya yang bertanya adalah Ji Pwe-giok, tapi dia malah bertanya lebih dulu, namun Pwe-giok hanya memandangnya dengan tenang, samar-samar kelihatan pinggang orang yang ramping dan rambutnya yang panjang terurai, jelas seorang perempuan.

DI luar dugaan, mendadak perempuan itu berteriak kalap, “Bangat keparat, keji amat caramu, berani kau… tetap tinggal di sini?!”. Segera ia mencabut pedangnya, sinar perak gemerdep, ia menubruk maju sekaligus melancarkan tujuh kali tusukan.

Langkahnya tadi begitu berat, tapi sekarang gerak pedangnya sedemikian enteng dan gesit, cepat dan ganas pula.

Terpaksa Pwe-giok berkelit kian kemari untuk menghindarkan tujuh kali serangan maut itu, lalu ucapnya dengan suara tertahan, “Leng-hoa-kiam?”

Perempuan tadi melengak, ia lantas menjengek, “Keparat, kaupun kenal kebesaran ilmu pedang keluarga Lim? Kau…”

“Aku Ji Pwe-giok!” kata anak muda itu dengan menghela napas dan menyurut mundur dua tiga langkah pula.

Kembali perempuan tadi melenggong dan menarik pedangnya, akhirnya pedang jatuh ke lantai, ucapnya dengan menunduk, “Ji… Ji-toako, apakah… apakah paman…”

Sambil bicara sorot matanya mengikuti pandangan Pwe-giok ke arah tempat tidur, dan bicara sampai di sini agaknya samar-samar ia dapat melihat siapa yang berbaring di situ, tanpa terasa tubuhnya bergetar dan mengigil, akhirnya ia menjatuhkan diri ke lantai dan menangis, “O, aku tidak percaya… Sungguh tidak percaya…”

Pwe-giok tetap memandangnya dengan tenang. Setalah menangis si nona mulai serak barulah ia berkata mendadak, “Sudahlah, kau sudah cukup menangis, sekarang bicaralah kau.”

Tapi Pwe-giok masih tidak bersuara, menyalakan lampu sehingga kelihatan baju putih tanda berkabung yang dipakai si nona. Baru sekarang hati Pwe-giok tergetar, serunya, “Paman Lim… apakah paman Lim… ”

“Ya, enam hari yang lalu ayahku telah dicelakai orang!” kata si nona dengan suara parau.

“Siap… siapa yang melakukannya sekeji itu?” tanya Pwe-giok dengan muka pucat.

“En… entah, aku… aku tidak tahu…”

Mendadak si nona meoleh, dibawah cahaya lampu kelihatan wajahnya yang cantik dan juga agak kurus dan lesu, matanya merah bendul karena terlalu banyak menangis, meski penuh rasa sedih, tapi masih tetap terbelalak memandang Pwe-giok, sorot matanya menampilkan keteguhan hatinya.

“Apakah kau heran?” tanyanya sambil melototi Pwe-giok. “Ayahku terbunuh, tapi aku tidak tahu siapa pembunuhnya. Waktu itu aku sedang keluar, sepulangku di rumah, jenazah ayahpun sudah dingin. Dirumahku sekarang tiada lagi terdapat seorang hidup”

Sungguh tak terbanyangkan oleh Pwe-giok bahwa anak perampuan yang kelihatan lemah lembut ini setelah mengalami peristiwa menyedihkan itu masih sanggup melakukan perjalanan sejauh ini ke rumahnya sini dan sekarang masih dapat bicara dengan jelas.

Nyata di dalam tubuh yang lemah itu terdapat sebuah hati yang teguh dan lebih keras daripada baja. Mau tak mau Pwe-giok menghela napas dan menunduk, ia tak tahu apa yang harus diucapkannya.

Si nona lantas menyambung pula, “Apakah kau heran bahwa aku dapat menyatakan aku sudah cukup menangis?. Sebab aku memang sudah kenyang menangis, aku tidak ingin menangis lagi, sedikitnya sudah lima kali aku menangis sepanjang perjalanan”

“Lima kali?” Pwe-giok menegas.

“Ya, lima kali.” kata si nona, “Kecuali ayahmu dan ayahku, ada pula paman Ong dari Thay-oh, paman Sim dari Ih-hin-sia, paman Sebun dari Mo-san dan…”

“Merekapun menjadi korban keganasan?” sela Pwe-giok sebelum selesai uraian si nona.

Nona itu tidak menjawab, hanya pandangannya beralih ke cahaya lampu.

“Paman Ong dari Thay-oh, si gunting emas, terkenal tiada tandingan selama hidupnya, Paman Sim dari Ih-hin, si tumbak perak berkuda putih, pada waktu mudanya pernah menyapu rata seluruh Kanglam tanpa tandingan. Paman Sebun dari Mo-san terkenal dengan Lwekangnya yang maha lihay masa merekapun dicelakai orang?”

“Dan bagaimana pula dengan Leng-hoa-sin-kiam dan Kim-si-sian-ciang?” tukas si nona dengan beringas.

“Betul…” kata Pwe-giok dengan menunduk muram. “Jangan-jangan mereka terbunuh oleh orang yang sama? Lalu siapakah gerangan orang ini?…”

“Cuma, aku sendiri taidak melihat jenazah para paman itu.” kata si nona dari keluarga Lim itu.

Mendadak Pwe-giok mengangkat kepala dan bertanya, “Kalau tidak melihat jenazahnya, darimana kau tahu mereka sudah meninggal?”

“Kosong melompong tiada terdapat seorangpun… rumah mereka sama sekali tidak kelihatan sesosok mayatpun, tapi juga tidak nampak seorang hidup, rumah mereka seperti kuburan belaka, kosong dan hening… Rumahmu dan rumahku juga demikian.”

Pwe-giok terdiam sejenak, gumamnya kemudian, “Rumah?… kita tidak punya rumah lagi.”

Si nona menatap Pwe-giok dengan sorot mata tajam, tanyanya mendadak, “Dan kau akan pergi kemana dan apa yang akan kaulakukan?”

Pelahan Pwe-giok menjawab, “Jelas, semua ini adalah suatu intrik yang maha besar dan sulit dipecahkan. Sekarang aku tak dapat menerkanya, tapi pada suatu hari pasti dapat kuselidiki dengan baik.

“Apabila kau adalah kau adalah biang keladi dari intrik keji ini, tindakan apa yang akan kau lakukan atas diriku?”

“babat rumput sampai akar-akarnya!” jawab si nona tegas.

“Betul, dan bagaimana jika kau menjadi aku?”

“Lari… tapi lari kemana?”

“Dimana terasa aman, kesanalah kupergi.”

“Aman?… Sedangkan siapa musuh kita saja tidak kita ketahui, seumpama dia berada disampingmu juga tidak kau ketahui, di seluruh dunia ini, dimana ada tempat aman bagimu?”

“Ada, ada suatu tempat”

“Mana?” tanya sinona.

“Hong-ti!” jawab Pwe-giok.

“Hong-ti?” sinona menegas.

“Padahal setiap tokoh Bu-lim saat ini akan pergi kesana…”

“Justeru lantaran para pahlawan akan pergi kesana, maka kuanggap disanalah tempat yang paling aman. Betapapun besar nyali jahanam itu tentu juga tidak berani mengganas disana.”

Si nona mengangguk pelahan, ucapnya, “Bagus, dalam saat begini engkau masih dapat berpikir secermat ini, kuyakin engkau tak nanti dicelakai musuh. Baiklah lekas engkau berangkat.”

“Dan kau?…”

“Kau tidak perlu mengurus diriku!” seru sinona mendadak, ia membalik tubuh dan melangkah keluar.

Pwe-giok tidak merintanginya, ia hanya mengikuti di belakangnya dengan diam-diam, sekeluarnya dipintu, mendadak kaki sinona menjadi lemas dan tubuh akan ambruk, namun Pwe-giok keburu memapahnya dari belakang, katanya sambil menghela napas, “Terlalu banyak penderitaanmu, kaupun terlalu lelah, lebih baik istirahatlah dulu.”

Air mata kelihatan mengembeng pula dikelopak mata sinona, ia menggigit bibir, katanya, “Untuk apa kau sengaja berlagak memperhatikan diriku, jauh jauh kudatang kemari, tapi… tapi namaku saja tidak kau tanyakan.”

“Aku tidak perlu tanya.” jawab Pwe-giok.

Nona itu meronta dan berdiri tegak sambil berseru, “Lepaskan aku… lepaskan… bila kau menyentuh diriku lagi segara kubunuh kau.”

Pwe-giok menghela napas pelahan, katanya, “Meski aku tidak pernah berjumpa dengan kau, tapi mustahil aku tidak tahu namamu.”

Nona itu tersenyum, tapi segera menunduk dan berkata dengan rawan, “Cuma sayang pertemuan kita ini tidak tepat waktunya…”

Belum habis ucapannya, tiba tiba terdengar suara langkah orang diluar, suara seorang tua memanggil dengan pelahan, “Siaoya… ”

“Siapa itu?” tanya Pwe-giok sambil mengaling didepan sinona.

“Masa suara Ji tiong saja tidak Kongcu kenal lagi?” jawab suara itu.

Pwe-giok menghela napas lega, sebaliknya si nona mencengkeram bahunya dan bertanya, “Siapa dia?”

“Budak tua yang ikut ayahku sejak kecil, ” tutur Pwe-giok.

“Tapi… tapi ketika kumasuk ke sini, tiada seorangpun yang kulihat.”

Pwe-giok melengak, katanya kemudian, “Mungkin… mungkin dia bersembunyi.”

Selagi bicara, tampak seorang tua berbaju hijau dan berambut uban sudah melangkah masuk, dan setelah memberi hormat ia berkata, “Ong-loyacu dari Lengcun sedang menunggu di ruang tamu, beliau ingin bertemu dengan Siauya.”

“Apakah Ong-jicek Ong Ih-lau?” tanya Pwe-giok dengan agak melengak.

“Selain beliau siapa lagi?” jawab si budak tua Ji Tong. Belum lenyap suaranya, dengan langkah lebar Pwe-giok lantas menuju keluar.

Dilihatnya jalan serambi yang berliku-liku sana entah sejak kapan sudah ada lampu yang dinyalakan, suasana seperti biasa saja. Dengan heran Pwe-giok melangkah ke ruangan tamu, ternyata di situ juga terang benderang.

Seorang berjubah ungu dan bermuka merah, alis tebal, jenggot panjang, duduk di kursi tamu, jelas si pendekar Kanglam yang termasyur berbudi luhur Ong Ih-lau, Ong jiya.

Pwe-giok berlari maju dan menyembah, ucapnya dengan terguguk, “Jicek, engkau da… datang terlambat.”

“Ai, urusanmu dengan ayahmu, aku ikut tidak enak setelah mendengarnya, ” ujar Ong Ih-lau dengan sedih.

“Sungguh malang, siautit……” baru berucap sampai di sini, mendadak Pwe-giok mengangkat kepalanya dan bertanya dengan keheranan, “Eh. Jicek, da… darimana engkau mengetahui secepat ini?”

Ong Ih-lau mengelus jenggotnya, dengan tersenyum ia menjawab, “Kan Ji-toako sendiri yang bilang padaku.” Keruan Pwe-giok melenggong, serunya, “Ayahku? Beliau… Kapan… ”

“Tadi dia berjalan keluar dengan marah-marah, ” demikian tutur Ong Ih-lau dengan tertawa, “sampai kedatanganku juga tidak begitu dihiraukan. Meski aku tidak tahu apa yang diributkan kalian ayah dan anak, tapi selama 40 tahun ini memang tidak pernah kulihat dia marah sebesar ini. Terpaksa kuminta In-sahcekmu mengiringinya keluar berjalan-jalan agar kalian ayah dan anak tidak……”

Sampai melongo Pwe-giok mendengar penuturan itu, sampai di sini, ia tidak tahan lagi, mendadak ia berseru. “Tapi… tapi ayahku tadi telah terbunuh!”

Air muka Ong Ih-lau tampak kurang senang, katanya sambil berkerut kening, “Anak muda bertengkar dengan orang tua memang lazim terjadi, tapi janganlah engkau mengutuki ayahmu sendiri.”

“Tapi……tapi ayah be……..benar-benar sudah…….”

“Tutup mulut !” bentak Ong Ih-lau. “Jenazah ayah saat ini terbaring di kamar tidurnya, jika paman tidak percaya, silakan memeriksanya sendiri, ” kata Pwe-giok dengan mengertak gigi.

“Baik, hayo ke sana!” dengan gusar Ong Ih-lau bangkit.

Dengan langkah cepat kedua orang lantas menuju ke belakang. Belum lagi sampai di sana, dari jauh sudah kelihatan kamar tidur yang tadi gelap itu kini telah terang benderang oleh nyala lampu.

Pwe-giok terus menerjang ke dalam kamar, dilihatnya selimut bantal di tempat tidur teratur dengan rapi, sedikitpun tiada tanda-tanda pernah disentuh orang, sedangkan jenazah Ji Hong-ho sudah tidak kelihatan lagi.

“Di mana jenazah ayahmu?!” tanya Ong Ih-lau dengan suara bengis. Gemetar tubuh Pwe-giok, mana dia sanggup bicara lagi. Mendadak ia membentak terus berlari ke halaman belakang.

Di bawah cahaya lampu yang bergantungan di serambi sana, terlihat suasana di bawah pohon yang rindang tadi. Jangankan keenam mayat, bahkan daun yang rontok oleh getaran pertarungan sengit tadipun entah sejak kapan sudah disapu bersih.

Jian-koa-pit masih berada di situ, di atas meja pendek itupun masih lengkap tersedia pot air, tatakan tinta tulis, samar-samar kertas tulis yang berada di meja juga kelihatan adalah kertas yang digunakannya untuk menulis Lam-hoa-keng tadi.

Kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin, halaman yang sunyi ini bagi pandangannya seolah-olah berubah menjadi neraka yang seram dan penuh misterius. Ong Ih-lau berdiri dengan berdekap tangan, tanyanya kemudian, “Sekarang apa yang akan kau katakan lagi?”

Pwe-giok seperti orang linglung, jawabnya dengan bingung, “Aku…….aku.”

Tiba-tiba dilihatnya ada bayangan orang bergerak di balik semak-semak sana, jelas itulah si nona jelita tadi. Pwe-giok seperti menemukan bintang penolong, cepat ia memburu maju dan memegang tangannya sambil berseru, “Tadi nona inipun menyaksikan… Dia adalah putrid Lim-loyacu Leng-hoa-sim-kiam, namanya Lim Tay-ih, dengan mata kepala sendiri iapun menyaksikan jenazah ayahku.”

Dengan sorot mata tajam Ong Ih-lau Tanya si nona dengan suara bengis, “Apa betul kau melihatnya?”

“Aku…. Aku. Tadi….”

Belum lanjut ucapan si nona, mendadak empat orang muncul dari serambi sana sambil menyapa dengan tertawa, “Wah, bilakah Ong-jiko daaing kemari, sungguh sangat kebetulan.”

Orang yang berjalan di depan berjubah sulam dan berkopiah tinggi, pedang panjang bergantung di pinggangnya, meski rambut bagian pelipis sudah kelihatan putih, tapi sikapnya masih tetap gagah, tiada tanda-tanda sudah tua.

Melihat ke empat orang ini, seketika Lim Tay-ih berhenti bicara dan tubuh gemetar, terutama orang yang berjalan paling depan itu, melihat dia, sampai Ji Pwe-giok juga terkejut seperti melihat setan, teriaknya:” Pa….. paman Lim, bukankah engkau sudah… sudah meninggal?”

Orang pertama ini memang betul Leng-hoa-sin-kiam Lim Soh-koan, ayah Lim Tay-ih, seorang hartawan dan juga tokoh silat terkemuka di Sohciu. Ketiga orang lainnya adalah Ong Kim-liong dari Thay oh, Sim Gin-jiang dari Ih-hia, Sebun Hong dari Mo-san, yaitu orang-orang yang dikatakan Lim Tay-ih sudah terbunuh tadi.

Belum lagi Lim Soh-koan menjawab teguran Pwe-giok, Sebun Hong lantas bergelak tertawa dan berkata, “Huh, tiga tahun tidak bertemu, sekali bertemu kau lantas menyumpahi ayah mertuamu. Ai, kelakarmu ini terasa agak keterlaluan.”

Mendadak Pwe-giok membalik tubuh dan memandang Lim Tay-ih tajam-tajam, katanya, “Kan, kau yang bilang begitu? Mengapa…..mengapa kau berdusta padaku?”

Tay-ih mengangkat kepalanya perlahan-lahan, sorot matanya tenang dan bening, jawabnya lirih, “Aku yang bilang? Kapan dan apa yang kukatakan?”

Tubuh Pwe-giok bergetar hebat dan menyusul mundur beberapa tindak, dilihatnya kelima tokoh Bu lim termasyur itu sedang menatapnya dengan dingin, sorot mata mereka mengandung rasa kejut, heran dan juga kasihan.

Si budak tua Ji Tiong entah sejak kapan juga sudah berdiri dengan setengah membungkuk tubuh di samping sana, dengan mengiring tawa ia berkata, “Siauya, seyogyanya engkau mengundang kelima Loyacu minum dulu ke ruang tamu.”

Pwe-giok tidak menjawab, sebaliknya ia melompat ke sana dan mencengkeram pundak budak tua tiu sambil berteriak, “Coba katakan! Ceritakan apa yang terjadi tadi.”

Budak tua itu tampak melenggong, jawabnya, “Kejadian tadi? Kejadian apa?”

Keruan muka Pwe-giok tambah pucat.

“Kecuali kami berlima, apakah tadi ada kedatangan orang lain?” Tanya Ong Ih-lau.

Ji Tiong menggeleng, “Tidak ada, tiada orang lain lagi…..”

Perlahan Pwe-giok melepaskan cengkeramannya dan menyurut mundur selangkah demi selangkah, ucapnya dengan suara gemetar, “Meng…….mengapa kau mem…..memfitnah diriku?”

Ji Tiong menghela napas panjang dan memandang Pwe-giok lekat-lekat, sorot matanya juga memantulkan rasa kasihan, katanya kemudian, “Agaknya akhir-akhir ini Siauya terlalu berat berlatih, mungkin engkau….”

“Mungkin aku sudah gila, begitu bukan? seru pwe-giok sambil menengadah dan tertawa terbahak-bahak. “Kalian memandangi diriku dengan heran, karena kalian menganggap aku ini sudah gila, begitu bukan? Kalian sama berharap aku gila, begitu bukan?”

“Ai, anak ini mungkin terlalu keras dikekang oleh ayahnya, ” ujar Lim Soh-koan dengan gegetun.

“Hahaha! Memang betul, aku memang terkekang terlalu keras sehingga gila!” teriak Pwe-giok sambil tertawa latah. Mendadak ia menghantam sehingga jendela di sebelah sana ambrol terkena angin pukulannya.

Serentak Ong Ih-lau, Sim Gin-jiang dan Sebun Hong menubruk maju, secepat kilat mereka memegangi bahu anak muda itu, sedang Lim Soh-koan lantas mengeluarkan sebuah botol hitam kecil, katanya dengan suara halus, “Anak Giok, menurutlah padaku, minumlah obat ini dan tidurlah baik-baik, besok tentu kau akan sehat kembali.”

Segera ia membuka tutup botol terus dijejalkan ke mulut Pwe-giok, seketika tercium bau harum semerbak dan memabukkan.

Tapi Pwe giok tutup mulut serapat-rapatnya, matipun tidak mau pentang mulut.

“Ai, mengapa kau berubah begini, Pwe-giok, ” kata Sim Gin jiang dengan gegetun. “Masa ayah mertuamu sendiri sampai hati membikin susah padamu?”

Mendadak Pwe giok menggertak keras-keras, sekali kedua tangannya terpentang, kontan tokok-tokoh kelas tinggi seperti Sim Gian jiang dan Sebun Hong itupun tidak mampu menahannya, ditengah suara bentaknya Pwe giok terus melayang keatas, ujung kaki menutul wuwungan, secepat burung terbang ia melayang lewat kebalik pepohonan sana.

“Lihai amat anak ini, biarpun waktu mudanya juga Ji Hong ho tidak sehebat ini !” ujar Sebun hong.

“Cuma sayang, dia sudah gila, sungguh sayang….” Ong Ih lau menghela nafas menyesal. Lim Tay ih terus menjatuhkan diri ditengah dan menangis sedih.

– – –

Bintang berkelip memenuhi langit, malam sunyi dan dingin.

Sudah lebih tiga jam Ji Pwe giok berbaring dibawah pohon dan memandangi bintang yang bertaburan dicakrawala, sama sekali tidak bergerak, sampai berkedip juga tidak. Bintang berkelip yang memenuhi langit itu seakan-akan sedang mengejeknya, “Kau sudah gila….kau sudah gila……”

Malam tambah larut, bintang mulai jarang-jarang, ditengah tiupan angin malam yang sepoi-sepoi itu terbawa suara tangisan orang yang memilukan, makin lama semakin dekat suara tangis orang itu.

Akhirnya kelihatanlah seorang tua pendek kecil dengan jenggot yang sangat panjang hingga hampir menyentuh tanah muncul dengan menangis. Setiba dibawah pohon sana, ia menangis lagi sejenak, lalu mengumpulkan beberapa potong batu sebagai ganjal kaki, ikat pinggang dilepaskan dan dilibatkan pada dahan pohon. Melihat gelagatnya kakek itu jelas hendak gantung diri.

Pwe giok tidak tahan menyaksikan orang bunuh diri didepannya, cepat ia melompat kesana dan mendorong si kakek.

Bukannya berterima kasih, orang tua itu malah duduk diatas tanah, kakinya memancal-mancal dan menangis seperti anak kecil, serunya, “Untuk apa kau tolong diriku? Di dunia ini tiada orang yang lebih malang dari padaku, hidupku sudah tiada artinya lagi. Ku mohon janganlah engkau merintangi kematianku, mati rasanya akan lebih baik bagiku.”

Pwe-giok menghela nafas, ucapnya dengan menyengir:

“Apa betul didunia ini tiada orang terlebih malang daripadamu?…. kau tahu dalam satu hari saja aku kehilangan rumah, kehilangan orang tua, apa yang kukatakan terjadi sungguh-sungguh, tapi tiada seorangpun yang mau percaya padaku. Di dunia ini pun tiada seorang lagi yang dapat kupercayai. Pendekar yang biasanya kuhargai dan kupuja, dalam sehari juga mendadak berubah menjadi penuh intrik dan misterius, orang yang setiap hari berdekatan denganku juga mendadak berubah tidak setia lagi padaku dan ingin membuat gila padaku, ingin mencelakai jiwaku, bukankah diriku ini jauh lebih malang daripada dirimu?”

Si kakek memandangnya dengan termangu-mangu hingga sekian lamanya, ucapnya kemudian setengah berguman, “Jika demikian, kalau dibandingkan kau, rasanya aku masih jauh lebih mujur. Kau memang lebih pantas mati daripadaku, biarlah ikat pinggang ini kupinjamkan kepadamu.”

Ia terbahak-bahak, lalu melangkah pergi.

Dengan termangu-mangu Pwe-giok mengikuti bayangan si kakek yang menghilang di kejauhan. Ia coba memasukkan leher sendiri ke jiratan tali pinggang, gumannya, “Cara demikian memang sangat mudah. setelah mati, segala kekesalanpun tak terasa pula, tapi apakah benar aku ini orang yang paling pantas mati didunia ini?…”

Mendadak iapun tertawa, katanya, “Ya, anggaplah aku sudah pernah mati satu kali !”

Ia lepaskan jiratan itu dan melangkah pergi. Sepanjang jalan, apabila dia berlalu dikolam, dimana banyak anak gadis sedang memetik lengkak, maka sering-sering ada gadis yang melemparkan beberapa biji lengkak padanya. Pwe giok lantas menangkap lengkak itu dan dimakan.

Bila dia melalui hutan murbei, nona pemetik murbei juga sering melemparkan buah itu kepadanya dan iapun menerimanya untuk dimakan.

Kalau dia sudah lelah dalam perjalanan, seadanya dia mencari rumput kering atau onggokan jerami untuk alas tidur. Bila mendusin, seringkali ada anak gadis yang sedang memandanginya dengan tersenyum jengah serta memberinya semangkuk telur rebus air gula.

Bilamana diketahui ibu si anak gadis, sang ibu lantas marah-marah dan mengusir Pwe-giok dengan gagang sapu. Tapi melihat wajah anak muda itu, kadang-kadang sang ibu malah tambah memberinya beberapa potong bakpau atau beberapa biji ketela rebus.

Perjalanan sejauh ini entah cara bagaimana di laluinya, apa yang dipikirnya juga tidak berani dibicarakannya dengan orang lain, dalam batin ia hanya selalu ingat, “Sabar….mengalah..sabar…”

Itulah petuah mendiang ayahnya yang selalu mendengung-dengung dalam benaknya.

Dia seperti tidak peduli lagi apakah ada orang menguntit jejaknya, padahal sekarang tiada orang yang mengenalnya lagi, siapapun pasti pangling. Pakaiannya memang sederhana, ditambah lagi sekarang tubuhnya penuh debu kotoran, bajunya sudah robek disana-sini, keadaannya sekarang tiada banyak bedanya dengan kaum pengemis. Dia tidak cuci muka, juga tidak sisir rambut. tapi keadaannya yang kelihatan linglung dan harus dikasihani justru makin disukai oleh anak perempuan.

Tapi sekarang Pwe-giok sudah tidak peduli apakah orang suka atau jemu padanya, ia meneruskan perjalanan menurut selera sendiri.

Akhirnya ia tiba diwilayah Holam, ditengah jalan orang yang berdandan sebagai busu atau jago silat semakin banyak, semuanya bersemangat dan tergesa-gesa. Pertemuan pesilat yang berlangsung setiap tujuh tahun sekali tentu saja sangat menarik perhatian setiap tokoh dunia persilatan.

Selewatnya Siangcu, ditengah jalan bertambah ramai lagi. Bilamana ada tokoh ternama berlalu ditepi jalan lantas ramai orang berbisik-bisik membicarakannya.

“Lihatlah, yang berjubah bunga ungu itulah Sin To Kongcu dari Hongyang, golok yang tergantung dipinggangnya itulah Giok Liong to yang dapat memotong emas seperti merajang sayur.”

“Dan Nona berbaju kuning itu, apakah kau kenal?”

“Kenapa tidak? kalau Kim Yan Cu (si walet emas) saja tidak kukenal, apa gunanya aku berkecimpung didunia kangouw? ai, mereka benar-benar suatu pasangan yang setimpal, yang lelaki ganteng yang perempuan cantik.”

“He, itu dia Jian jiu kun (pukulan seribu tangan) Tio Tayhiap juga datang, ” demikian seru seorang lagi. “Siaw lim pay sudah tujuh kali mengetuai pertemuan Hong-ti kedudukannya dalam pemilihan tahun ini tentu tidak boleh berpindah kepada orang lain. Tio Tayhiap adalah murid Siau lim pay dari keluarga preman, sudah tentu dia harus hadir.”

Percakapan orang itu dapat didengar semua oleh Pwe giok, tapi dia tidak memandangnya, dengan sendirinya orang lainpun tidak memperhatikan seorang jembel semacam dia.

Setiba di Hongciu, malam sudah larut. Dia tidak masuk kekota, tapi berbaring seadanya di emper sebuah hotel kecil di luar kota.

Malam semakin larut, orang lain sudah tidur semua. namun menghadapi pertemuan Hong Li yang sudah dekat didepan mata, mana Pwe giok dapat tidur nyenyak, meski matanya terasa sepat, tapi masih terbelalak dan melamun:

“Apakah Lim Soh koan, Ong Ih lau dan lain-lain juga akan hadir di Hong-ti? Sesungguhnya apa yang hendak mereka lakukan? mengapa mereka berkeras menyatakan ayahku belum meninggal dunia? apakah mungkin…”

Mendadak terdengar seorang berkata, “Ang lian hoa (bunga teratai merah), pek lian ngau (ubi teratai kecil), sebatang gala bambu menjelajah dunia”

Entah sejak kapan, seorang pengemis muda kurus kecil dengan mata besar, tangan memegang sebatang bambu, seang memandangnya dengan tertawa.

Pwe giok balas menyengir padanya, tapi tidak bicara. hakikatnya dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Pengemis muda berkedip-kedip, tegurnya kemudian dengan tertawa, “kau bukan anggota Kay pang kami?”

Pwe giok menggeleng sebagai tanda bukan.

“Jika kau bukan orang Kay pang, mengapa dandananmu mirip benar si tukang minta-minta, tidurmu juga ditempat kaum pengemis, ” kata si jembel muda itu dengan tertawa.

“sungguh aneh, kalau kau menyaingi pekerjaan lain masih dapat dimengerti, jasa pekerjaan mengemis juga ingin kau rebut?”

“O, maaf.” jawab Pwe giok sambil menyengir berbangkit dan melangkah keluar emper rumah, berdiri termangu-mangu dibawah langit yang penuh bertabur bintang.

Pengemis muda tadi memandangnya tanpa berkedip, ia merasa orang ini sangat menarik, ia tutul bahu Pwe giok dengan ujung galanya dan bertanya pula, “Dari logat suaramu, agaknya kau datang dari kanglam?” secara singkat Pwe giok mengiakan.

“Siapa namamu?” tanya pula pengemis muda itu.

Pwe giok menoleh dan memandangnya beberapa kejap, ia merasa sepasang mata yang besar itu seperti kelihatan licin dan nakal, tapi mengandung maksud baik tanpa bermaksud jahat, dengan tertawa ia lantas menjawab:

“Namaku Ji Pwe giok.”

“Aku Lian Ang ji (Lian si anak merah).” kata jembel muda dengan tertawa.

“Soalnya baju yang kupakai meski compang-camping, tapi selalu berwarna merah.”

“O, kiranya Lian heng ( saudara Lian), ” kata Pwe giok.

“Haha, boleh juga kau ini, ternyata sudi berbicara dengan si tukang minta nasi, ” ujar Lian Ang ji dengan bergelak tertawa.

“Tapi aku sendiri ingin minta nasi saja tidak kuat”, tukas Pwe giok sambil menyengir.

Tambah mencorong sinar mata Lian Ang ji, katanya perlahan, “Kulihat dasar ilmu silatmu tidaklah lemah, kalau bukan anak murid keluarga persilatan tentu tak dapat terpupuk dasar sekuat ini, tapi mengapa kau menyaru sedemikian rupa?”

Pwe giok terkejut, jawabnya :

“Aku tidak menyamar, aku tidak mahir ilmu silat.”

Seketika Lian ang ji menarik muka, jengeknya:

“Kau berani mendustai aku?”

Mendadak gala bambunya bergerak, secepat kilat ia tutul Long si hiat didada Ji Pwe giok, hanya dalam sekejab saja ujung gala bambunya bergetar, hampir seluruh Hiat to penting ditubuh pwe giok terancam dibawah gala bambu.

Karena sedang tertimpa malang, Pwe giok merasa setiap orang didunia ini bisa jadi adalah utusan musuh yang tak kelihatan itu, maka cepat ia ia mendak kebawah dan menyurut mundur.

Tak tersangka Lian ang ji juga lantas menarik kembali galanya, ia tatap Pwe giok dengan tajam dan menjengek pula, “Masih muda belia sudah suka berdusta, kalau sudah besar kan lebih celaka !”

Pwe giok menunduk, katanya:

“Sungguh ada… ada kesukaranku yang tak dapat kujelaskan.”

“O, tidak dapat kau katakan padaku?” tanya Lian ang ji.

“Jika kaupun mempunyai sesuatu rahasia, apakah mungkin kau katakan kepada orang yang tak pernah kau kenal?” Pwe giok balas bertanya

Lian ang ji memandangnya dengan melenggong, sejenak kemudian barulah ia berkata pula dengan tertawa, “Tepat sekali pertanyaanmu, tampaknya kau lemah lembut, agaknya kau tidak suka banyak bicara. Tak kusangka sekali bicara lantas begini tajam.”

Dengan kemalas-malasan Lian ang ji merebahkan diri lantas berkata pula dengan kemalas-malasan, “Cuma, perjalananmu ini mungkin akan sia-sia belaka, kau tak dapat hadir dipertemuan Hong-ti nanti.”

Kembali pwe giok terkejut, serunya:

“He, dari… darimana kau tahu?…”

“Mataku ini adalah kaca penyorot siluman, siapapun juga asalkan kupandang tiga kejap, pasti kutahu dia berasal dari apa, ” demikian jawab Lian ang-ji dengan tertawa.

Pwe-giok pandang mata orang dengan rasa kejut, heran dan juga kagum.

Lian Ang-ji lantas memandang ke langit dan berkata pula dengan tak acuh, “Pertemuan Hong-ti bukanlah tontonan umum dan boleh dihadiri setiap orang, yang boleh hadir adalah anak murid ke 13 Mui-pay (golongan dan aliran) yang menjadi sponsor pertemuan ini, orang luar harus membawa kartu undangan. Dan kau?”

“Aku…..aku bukan anak murid ke 13 Mui-pay itu dan juga…. juga bukan tamu yang diundang, ” jawab Pwe-giok dengan menunduk.

“Jika begitu, lebih baik sekarang juga kau pulang saja, ” kata Lian Ang-ji.

Pwe-giok terdiam sejenak. Tiba-tiba ia bertanya, “Apakah Kay-pang termasuk ke 13 Mui-pay itu?”

“Sudah tentu, ” jawab Lian Ang-ji dengan tertawa. “Selama lebih 40 tahun ini, meski setiap kali yang menjadi ketua perserikatan adalah Siau-lim-pay, tapi kalau Kay-pang kami tidak memberi dukungan, mustahil kedudukan itu tidak sejak dulu-dulu direbut oleh Bu-tong-pay atau Kun-lun-pay.”

“Dan kalau aku dapat mencampurkan diri di tengah anggota kay-pang, kukira takkan diketahui oleh orang lain…. ” demikian Pwe-giok bergumam sendiri.

“Haha, enak benar perhitunganmu, ” ujar Lian Ang-ji sambil tertawa.

Mendadak Pwe-giok berlutut di depan jembel muda itu dan memohon, “Kuharap Lian-heng sudilah memberi bantuan sekali ini saja. Tolonglah engkau bicarakan kepada Pangcu kalian, asalkan Siaute dapat hadir di sana, urusan lain tidak perlu lagi dikuatirkan.”

Lian Ang-ji memandangnya dengan tertawa, katanya, “Kenal saja baru sekarang, mengapa harus kubantu kau?”

Pwe-giok melenggong, ucapnya kemudian, “Sebab…..sebab…. ” ia menghela napas panjang dan bangkit. Sesungguhnya ia memang tidak dapat menjelaskan sebab apa…

Terpaksa ia angkat kaki. Lian Ang-ji juga tidak memanggilnya kembali, dengan tertawa ia memandangi kepergian Pwe-giok yang lesu dan menghilang dalam kegelapan, seperti halnya menyaksikan seorang yang hampir terbenam dan akhirnya tenggelam ke dasar sungai.

Dalam kegelapan, entah sudah berapa lama dan berapa jauh Ji Pwe-giok berjalan. Di depan masih tetap gelap gulita.

Sekonyong-konyong di depan ada gemerlapnya cahaya api, serombongan orang datang sambil bertepuk tangan dan berdendang, “Ang-lian-hoa (bunga teratai merah) pujaan beta. Orang jahat ketemu dia merangkak ketakutan, orang baik ketemu dia tepuk tangan memuji. Di seluruh kolong langit ini hanya ada sekuntum Ang-lian-hoa.”

Pwe-giok tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa, maka ia membelok ke arah lain. Tak terduga rombongan orang ini mendadak berkerumun maju dan mengitar di sekelilingnya. Ada yang bergelak tertawa, ada yang bertepuk tangan. Di bawah cahaya obor kelihatan orang-orang ini sama berbaju compang-camping dan telanjang kaki, ada tua ada muda.

Pwe-giok tercengang, belum sempat bicara. Orang-orang itu lantas bersorak-sorak gembira pula, “Ji Pwe-giok, orangnya cakap bagai kemala, tengah malam buta, kau mau ke mana?”

Berubah air muka Pwe-giok seketika, serunya, “He, bagaimana kalian kenal diriku?”

Seorang pengemis tua lantas tampil ke depan, ia memberi hormat dan berkata dengan tersenyum, “Pangcu kami mendengar kedatangan Ji-kongcu, maka kami diperintahkan menyambut….”

“Tapi aku sama sekali tidak kenal pangcu kalian, ” seru Pwe-giok bingung.

“Walaupun Kongcu tidak kenal Pangcu kami, tapi sudah lama Pangcu mendengar nama besar kongcu, sebab itulah kami sengaja disuruh menunggu kedatangan Kongcu di sini, bahkan kami disuruh mengantar sesuatu untuk Kongcu, ” demikian tutur pengemis tua itu dengan tertawa.

Karena pengalaman kematian ayahnya yang mengenaskan itu, terhadap segala sesuatu sekarang Pwe-giok selalu waspada, dengan mengepal tinju ia menjengek, “Baiklah, mana barangnya.”

“Harap Kongcu jangan salah paham, ” ucap si pengemis tua pula. Yang hendak kami sampaikan ini bukanlah senjata tajam atau kepalan.” Lalu ia mengeluarkan sepucuk surat bersampul kuning dan dihaturkan dengan hormat, “Silakan Kongcu memeriksanya dan segera akan jelas isinya.”

Tanpa terasa Pwe-giok menerima sampul surat itu, tapi sekilas teringat lagi “surat maut” tempo hari itu, mendadak ia cengkeram leher baju si pengemis tua, ia sodorkan surat itu ke depan sambil membentak dengan bengis, “Coba kaujilat dulu surat ini!”

Pengemis tua itu tidak melawan, ia pandang Pwe-giok sekejap dengan tersenyum, ucapnya, “Cermat benar Kongcu ini.”

Tanpa ragu ia benar-benar menjulurkan lidahknya dan menjilat sampul yang dipegang Pwe-giok itu, bahkan sehelai kartu di dalam sampul juga dijilatnya sekali, lalu berkata pula dengan tertawa:

“Sekarang Kongcu tidak perlu sangsi lagi bukan?”

Pwe-giok berbalik merasa rikuh dan melepaskan cengkeramannya, waktu ia keluarkan kartu di dalam sampul, yang tertulis ternyata berbunyi, “Mengundang dengan hormat atas kehadiran anda di pertemuan Hong-ti.”

Keruan Pwe-giok terkesiap, waktu ia berpaling, rombongan kaum jembel itu sudah pergi semua, tertinggal onggokan obor saja yang masih gemerdep dalam kegelapan.

Memandangi api obor, Pwe-giok menjadi bingung pula. Siapakah gerangan Pangcu yang dimaksudkan itu? Mengapa menyampaikan kartu undangan ini kepadanya?

Apa yang dialaminya selama beberapa hari ini kalau tidak lucu dan sukar dimengerti, tentulah misterius dan menyeramkan di samping keji dan ganas, tapi setiap kejadian juga sangat aneh dan sukar dibayangkan.

Entah berapa lama ia termenung sambil memegang kartu undangan itu. Tiba-tiba dalam kegelapan ada suara tindakan orang lagi.

Pwe-giok bermaksud pergi saja, tapi mendadak ada orang membentaknya, “Berhenti!”

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun, ia tidak tahu apa yang akan terjadi lagi dan siapa pula yang datang. Apa yang dialaminya selama beberapa hari ini tiada satupun yang dapat menduga sebelumnya, orang yang ditemuinya juga tiada seorangpun yang dapat menerka asal usul serta maksud tujuannya.

Karena itu ia menjadi malas untuk memikirkannya. Dilihatnya yang datang sekali ini ada tujuh orang, dua diantaranya memakai jubah Tosu, seorang berbaju Hweshio, tiga lagi berpakaian ketat ringkas, orang terakhir adalah perempuan, memakai mantel bersulam.

Meski dandanan ke tujuh orang ini tidak sama, tapi semuanya tangkas, semuanya masih muda dan gagah, gerak-geriknya juga sangat gesit.

Seorang pemuda baju hitam ringkas berada paling depan, sinar matanya tajam mencorong, ia melotot pada Pwe-giok dan membentak, “Apa yang sahabat lakukan dengan berdiri di sini?”

“Hm, masa orang berdiri di sini saja tidak boleh?” jengek Pwe-giok.

Alis pemuda itu berjengkit, si Hwesio yang berdiri di sebelahnya lantas menyela dangn mengulum senyum, “Mungkin Sicu tidak tahu, lantaran pertemuan Hong-ti akan berlangsung besok, kebanyakan tokoh dunia persilatan sama hadir disini, dalam pada itu tentu sukar terhindar kemasukan anasir-anasir jahat yang sengaja hendak mengacau. Maklum akan kemungkinan ini, para Ciangbun dari ke-13 Mui-pay yang mengelenggarakan pertemuan ini telah menugaskan pasa anak muridnya untuk melakukan perondaan. Pinceng (Paderi miskin) Siong-cui dari Siau-lim, beberapa Suheng, berasal dari Bu-tong, Kun-lun, Hoa-san, Tiam-joa, Khong-tong, dan lain lain”

Air muka Pwe-giok menjadi cerah, katanya, “Ah, kiranya kalian adalah murid terhormat dari Jit-toa-kiam-pay (ketujuh aliran ilmu pedang beras)…”

Si pemuda baju hitam sejak tadi terus mengincar kartu undangan yang dipegang Pwe-giok, mendadak ia bertanya, “Kartu undangan ini apakah milikmu?”

Pwe-giok mengiakan.

Tak terduga, mendadak sinar pedang berkelebat, tahu-tahu ujung senjata orang sudah mengancam didepan batok kepalanya.

Pemuda baju hitam ini memang tidak malu sebagai murid perguruan ternama, hanya sekejap itu sja pedang sudah terlolos dan penyerang.

Karena tidak terduga-duga, sedapatnya Pwe-giok berusaha menghindar, walaupun berhasil, hampir saja daun telinganya terpapas, keruan ia menjadi gusar dan mendamperat, “Kenapa kau bertindak sekasar ini?. Apakah kaukira kartu undanganku ini palsu?”

Pedang si baju hitam tampak gemerlap dan mendesak maju pula, jengeknya, “Lihat serangan!”

Gerak serangannya itu tampaknya tidak ada sangkut pautnya satu sama lain, tapi sejurus demi sejurus terus dilancarkan, berturut turut Pwe-giok menghindarkan tujuh belas kali barulah sempat berganti napas, teriaknya gusar, “He, apa-apaan ini?”

Tiba-tiba si perempuan muda bermantel berucap dengan dingin, “Tanyai dulu baru bertindak kan belum lagi terlambat.”

Menurut juga pemuda berbaju hitam itu. segera ia menarik kembali pedangnya, tapi mata juga melotot terlebih besar, bentaknya dengan bengais, “Baik, coba katakan, darimana kau peroleh kartu undangan ini?”

“Pemberian orang, ” jawab Pwe giok.

“Hehehe, kawan-kawan sudah dengar, katanya pemberian orang!” demikian pemuda baju hitam itu terkekeh kekeh hina.

“Kenapa kau merasa heran?” tanya Pwe giok. Siong-cui, si paderi Siau-lim-pay juga menarik muka, katanya dengan pelahan, “Kartu undanganmu ini tidak palsu, cuma terlalu tulen sehingga meragukan. Supaya Sicu maklum, dalam pertemuan Hong-ti ini, kartu undangan yang disebar ada tujuh macam. Kartu warna kuning ini paling terhormat, kalau bukan ketua sesuatu perguruan ternama, sedikitnya juga kaum Locianpwe yang disegani barulah mendapat kartu undangan ini. Tapi juga ketua ke 13 Mui-pay penyelenggara saja yang dapat mengirimkan kartu ini, sedangkan anda…”

“Hehe, sedangkan anda tampaknya bukan orang yang mempunyai hubungan erat dengan ketua ke-13 Mui-pay penyelenggara, ” Sambung si pemuda baju hitam dengan tertawa dingin. “Jelas kartu undanganmu ini kalau bukannya kaucuri tentu kau dapatkan dengan menipu.”

Di tengah bentakannya, segera pedangnya menusuk pula. Sekali ini perempuan muda tadi tidak mencegahnya, ketujuh orang bahkan sudah berdiri dalam posisi pengepung sehingga Pwe-giok terkurung di tengah.

Sungguh penasaran Pwe-giok tak terlampias, tapi cara bagaimana dai dapat memberi penjelasan? Si “Pangcu” sialan yang memberi kartu undangan ini bukankah malah sengaja hendak membikin celaka padanya?

Serangan pedang si pemuda baju hitan tambah gencar, yang dimainkan adalah Hui hoa-kiam-hoat (ilmu pedang merontokan bunga) dari Tiam jong-pay. Cepat, ganas, inilah keunggulan Tiam jong-kian-hoat.

Ilmu pedang inipun paling sukar dihindarkan lantaran Pwe-giok tidak menangkis dan balas menyerang, maka berulang-ulang ia harus menghadapi serangan berbahaya.

Si Perempuan muda tadi tampak berkerut kening, katanya, “Masa kau tidak menyerah saja, apakah kau ingin…”

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara tertawa nyaring panjang bergema melayang lewat di angkasa. Semua orang terkejut dan sama menengadah, tertampak sesosok bayangan berkelebat lenyap dalam kegelapan, tapi ada sesuatu benda melayang-layang jatuh ke bawah.

Sekali pedang si pemuda baju hitam mencungkit, benda itu tersunduk pada ujung pedangnya. Waktu diperiksa, kiranya sekuntum bunga teratai merah.

“Ang-lian-hoat?” seru pemuda baju hitam dengan air muka pucat.

Mendadak Siong-oui Hwesio memberi hormat kepada Ji Pwe-giok, katanya dengan tersenyum, “Kiranya sicu adalah sahabat baik Ang-lian-pangcu. Tecu tidak tahu sehingga bersikap kurang hormat, harap anda suka memberi maaf.”

Cepat si pemuda baju hitam menambahkan, “Ai, mengapa engk… Cianpwe tidak omong sejak tadi.”

Pwe-giok sendiri melenggong sejenak, katanya kemudian, “Sesungguhnya akupun tidak kenal pada Ang-lian-pangcu ini.”

“Ai, jika cianpwe bilang begini, betapapun Wanpwe menjadi serba susah.” kata pemuda baju hitam dengan menunduk.

Pwe-giok hanya menyengir saja dan sukar memberi penjelasan.

Si perempuan muda tadi sedang menatapnya dengan sorot mata yang tajam, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa manis, “Tecu Ciong Cing dari Hoa-san. Apabila Kongcu sudi, boleh silakan istirahat dulu di tempat kami sana”

Segera si pemuda baju hitam mendukung usulnya, “Bagus sekali, besok pagi-pagi Tian-jong-pay kami pasti akan mengirim kereta kemari untuk menjemput anda untuk menghadiri pertemuan besar.”

Pwe-giok berpikir sejenak, akhirnya ia menjawab, “Ya, boleh juga”

Dengan demikian Ji Pwe-giok lantas diantar ke wisma tamu agung Hoa-san pay yang terang benderang. Tapi siapakah gerangan Ang-lian-pangcu itu sebenarnya tetap tak diketahuinya.

Ging-pin koan atau wisma tamu agung sepanjang malam terang benderang, ruang tamu sangat luas, tiada hiasan apapun kecuali tergantung potret yang besar. Pwe-giok mengamati potret itu satu persatu, dilihatnya ke – 14 potret orang itu terdiri dari macam-macam jenis, ada Hwesio ada Tosu, ada orang preman, ada perempuan dan ada pula pengemis, kedudukan dan usia tidak sama, tapi semuanya tampak kereng, anggun dan berwibawa.

Ciong Cing masih mengiring disamping Pwe-giok, dengan tertawa ia menjelaskan, “Inilah potret ke-14 tokoh Cianpwe dari ke-14 Mui-pay yang mensponsori pertemuan Hong-ti sejak pertama kalinya. Hal ini terjadi 70 tahun yang lalu, ketika itu dunia persilatan kacau balau, hampir tidak pernah aman dan tenteram. Tapi sejak ke-14 tokoh itu mengikat janji di Hong-ti, dunia Kangouw antas aman dan damai, maka jasa ke-14 tokoh besar ini boleh dikatakan tiada taranya.”

Pwe-giok entah mendengarkan tidak uraian Ciong Cing itu, dia hanya memandang termangu-mangu salah sebuah potret di tangah itu, tokoh yang terlukis di potret itu adalah seorang tua bermuka lonjong dan cerah dengan sikap yang tenang.

Dengan tertawa Ciong Cing lantas menyambung lagi ceritanya, “Mungkin kongcu merasa heran potret di tengah ini bukan Haon-im Taysu dari siau-lim dan juga bukan Thi-koh Tojin dari Butong. Hendaklah Kongcu maklum bahwa Ji-locianpwe inilah orang pertama yang menyelenggarakan pertemuan Hong-ti ini, kedudukan Bu-kek-pay pimpinan Ji-locianpwe di dunia Kangouw pada waktu itu sekali-kali tidak di bawah Siau limpay dan Bup-tong pay.”

—–
Tokoh macam apakah Ang-lian Pangcu yang dihormati dan disegani itu?

Apa yang akan terjadi di tengah Pertemuan Besar Hong-ti dab dapatkah Ji Pwe-giok memperoleh informasi mengenai intrik musuh tak kelihatan yang menghancurkan keluarga dan kehidupannya itu?

—–

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: