Kumpulan Cerita Silat

02/05/2010

Pedang Abadi – 2

Filed under: Tujuh Senjata — Tags: — ceritasilat @ 6:54 am

Pedang Abadi – 2

Karya: Gu Long
Penerjemah: Tjan ID
Penerbit: See Yan Tjindjin

(Terima kasih kepada uploader-ansari)

Bab 2: Bai Yu-Jing

Bai Yu-jing tidak berada di khayangan, tapi di atas punggung kuda.

[Catatan: Bai Yu-jing berarti Kota Pualam Putih, yang muncul pada bait syair terkenal di atas, digunakan oleh Gu Long sebagai nama tokoh utama dalam cerita ini.]

Pelananya sudah usang, sepatu kulit dan sarung pedangnya pun sama tuanya, tapi bajunya masih baru.

Sarung pedang itu terayun-ayun di pelananya; angin musim semi berhembus lembut di wajahnya.

Ia merasa amat senang, amat gembira.

Pelana tua terasa lebih empuk untuk diduduki; sepatu kulit usang terasa lebih nyaman di kaki; sarung bekas tidak akan merusak ujung pedangnya yang tajam; pakaian baru selalu membuatnya merasa waspada dan tenang, penuh tenaga.

Yang paling membuatnya gembira, tapinya, bukanlah benda-benda itu, tapi sepasang mata.

Di dalam kereta besar di depannya, sepasang mata yang indah menawan sedang mengintip ke arahnya dengan sembunyi-sembunyi. Ini bukanlah pertama kalinya ia melihat mata itu. Ia ingat bahwa saat pertama kali ia melihatnya adalah ketika berada di sebuah losmen di sebuah kota kecil.

Dia baru saja memasuki losmen itu, gadis itu kebetulan sedang melangkah keluar.

Gadis itu pun bertubrukan dengannya.

Senyum minta maafnya tampak malu-malu, wajahnya merah padam seperti matahari yang dibasahi oleh air hujan.

Melihat tingkahnya yang malu-malu, dia pun berharap gadis itu akan bertubrukan lagi dengannya karena walaupun perempuan itu seorang wanita yang amat menarik. Dia sendiri bukanlah seorang lelaki sejati yang sempurna.

Kali kedua ia melihatnya di sebuah rumah makan. Ia baru saja hendak meneguk cawan minumannya yang kedua ketika gadis itu masuk, dan memberikannya senyuman yang sama, sambil menundukkan kepalanya dengan malu-malu kucing.

Senyuman gadis itu tetap malu-malu. Kali ini Bai Yu-jing juga tersenyum.

Ini dilakukannya karena dia tahu, seandainya gadis ini berjumpa dengan orang lain, dia tentu tak akan tersenyum seperti itu.

Dia juga tahu bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang tidak menarik. Sesuatu yang amat dia yakini penuh. Itulah sebabnya ia pergi lebih dulu, tapi tidak tergesa-gesa melanjutkan perjalanannya.

Seperti yang diperkirakan, kereta gadis itu sekarang telah menyusulnya-apakah ini terjadi dengan sengaja? Atau murni kebetulan saja?

Dia memandang dirinya sendiri sebagai seorang petualang, terlahir untuk mengembara, dan telah bertemu segala jenis manusia di sepanjang perjalanannya.

Ada orang-orang liar berjenggot merah yang berkeliaran di luar dinding peradaban, dan para ksatria berbaju besi yang memacu kudanya melintasi gurun pasir besar; ada pula penjahat-penjahat kejam yang membunuh orang tanpa berkedip matanya, serta orang-orang muda yang idealis.

Tapi hidupnya selalu segar dan berwarna.

Ia tidak pernah bisa meramal-peristiwa apa yang akan terjadi pada tahap berikutnya dari perjalanannya? Orang-orang macam apa pula yang akan ia temui?

Angin berhembus semakin dingin.

Hujan musim semi yang membawa kabut tiba-tiba turun dari awan, membasahi baju barunya.

Kereta di depannya tiba-tiba berhenti. Ia lalu mendekatinya dan melihat bahwa tirainya telah tersingkap, dan mata yang memikat itu sedang menatapnya dengan tajam.

Sorot mata yang memikat, senyum malu-malu, bentuk wajah yang seperti biji kuaci, tanpa sentuhan alat rias, tetapi mengenakan baju berwarna cerah seperti matahari terbenam di balik awan.

Gadis itu menunjuk pada kakinya yang indah, lalu pada baju Bai Yu-jing yang basah.

Tangannya tampak halus dan jari-jarinya lentik seperti daun bawang di musim semi.

Bai Yu-jing menunjuk dirinya sendiri, kemudian menunjuk bagian dalam kereta.

Gadis itu mengangguk, dan dengan senyum memikat, membukakan pintu.

Bagian dalam kereta itu tampak nyaman dan kering, alas tempat duduk yang terbuat dari sutera tampak halus seperti kulit gadis itu.

Ia turun dari kuda dan melangkah masuk ke dalam kereta.

Hujan masih turun bersama kabut; hujan ini turun pada saat yang tepat.

Di musim semi, agaknya alam sering sekali memanjakan manusia dengan mengatur perjumpaan-perjumpaan tak disengaja, membuat orang-orang yang menawan hati bertemu di tempat-tempat tak terduga.

Tidak ada kecanggungan, juga tiada kata-kata yang tidak perlu.

Seolah-olah Bai Yu-jing sudah mengenalnya sejak dia lahir. Seakan-akan di sepanjang hidupnya dia sudah terbiasa duduk di dalam kereta ini.

Ini perjalanan yang sunyi, penuh kepedihan bagi orang-orang yang melakukannya-tapi siapa yang bisa mengatakan bahwa mereka seharusnya tidak bertemu secara kebetulan?

Ketika dia bermaksud hendak mengusap wajahnya yang basah dengan lengan bajunya, gadis itu memberikan sehelai saputangan sutera merah yang lembut.

Dia menatap gadis itu, tapi si nona menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan ujung bajunya.

“Terima kasih kembali.”

“Margaku Bai, namaku Bai Yu-jing.”

Si nona tersenyum menawan dan berkata, “Kota pualam putih di langit? Punya lima menara dan duabelas benteng, di mana seorang dewa berdiam di atas kepalaku, memelihara rambut yang panjang dan hidupku bersamanya.”

Bai Yu-jing pun tersenyum. “Kau juga menyukai Li Bai?”

Si nona memegang ujung bajunya dengan jari-jarinya yang lentik, dan mulai bersyair dengan suara yang sungguh-sungguh, “Saat melakukan perjalanan di Laut Timur, aku melihat keajaiban gunung Lao. Di atas gunung aku bertemu dengan Tuan An yang legendaris, yang memberiku buah plum sebesar melon, sehingga aku berangkat tua tanpa teringat pada kampung halamanku. Rona muka seorang pemuda telah lenyap dari wajahku, dan rambutku pun memutih yang menandakan akhir kehidupanku. Aku dahaga akan obat awet muda, dan melangkah ke atas kereta awan. Aku ingin ikut tuanku ke negeri khayangan di seberang sana, dan menghabiskan waktuku dengan membersihkan bunga-bunga yang berguguran, ditemani oleh para bidadari.”

Di bagian yang menyebutkan ‘gunung Lao’, suaranya agak berhenti sejenak.

Bai Yu-jing memberanikan diri, “Nona Lao?”

Sambil menundukkan kepala semakin rendah, si nona menjawab dengan lembut, “Yuan Zi-xia.”

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda, tiga ekor kuda lalu melintas, dan tiga pasang mata yang tajam menyapu ke bagian dalam kereta.

Saat kuda-kuda itu lewat dengan kecepatan tinggi, penunggang kuda yang paling belakang mendadak melompat dari pelananya, melayang ke belakang sejauh dua zhang dan mendarat di atas pelana kuda Bai Yu-jing, dan dengan ujung kakinya menggaet sarung pedang yang tergantung di pelana.

Ketiga ekor kuda tadi kembali berbalik ke arah kereta.

Sambil memutar tubuhnya, penunggang kuda tadi lalu berpindah dengan cekatan ke atas kudanya sendiri.

Dalam sekejap mata ketiga ekor kuda itu sudah menghilang dalam kabut yang samar-samar, tidak terlihat lagi.

Mata indah Yuan Zi-xia terbelalak dan ia pun berseru, “Mereka mencuri pedangmu!”

Bai Yu-jing menyeringai tipis.

Yuan Zi-xia berkata, “Kau melihat mereka mengambil barangmu, dan kau tidak mau berbuat apa-apa?”

Bai Yu-jing tetap menyeringai.

Sambil menggigit bibirnya, Yuan Zi-xia berkata, “Menurut cerita, ada orang-orang di dunia persilatan yang memandang pedang mereka sebagai nyawa mereka sendiri.”

“Aku bukan orang seperti itu,” kata Bai Yu-jing.

Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut, tampaknya dia kecewa.

Apakah ada gadis yang tidak mengagumi pahlawan-pahlawan yang tampan? Jika kau berkelahi hingga mati demi sebilah pedang, mereka mungkin akan menganggapmu sebagai orang tolol, atau mungkin mereka akan menumpahkan air mata untukmu.

Tapi jika kau cuma duduk mengawasi orang lain mengambil pedangmu dan tak berbuat apa-apa, mereka tentu akan merasa kecewa.

Bai Yu-jing menatapnya, lalu menyeringai sekali lagi dan berkata, “Agaknya kau tahu banyak tentang dunia persilatan.”

Yuan Zi-xia menjawab, “Tidak banyak, tapi aku suka mendengarkan dan menonton.”

“Itukah sebabnya kau pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan seorang diri?” tanya Bai Yu-jing.

Yuan Zi-xia mengangguk, dan memain-mainkan ujung bajunya lagi.

Bai Yu-jing lalu berkata, “Untunglah belum banyak yang kau lihat; bila telah banyak yang kau lihat, kau tentu akan kecewa.”

“Mengapa?” Yuan Zi-xia bertanya.

“Hal-hal yang akan kau lihat tidak seromantis cerita-cerita yang pernah kau dengar,” Bai Yu-jing menjawab.

Yuan Zi-xia agaknya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tidak jadi.

Tepat saat itulah bunyi derap kaki kembali berkumandang, tiga ekor kuda yang baru lewat tadi ternyata kembali lagi.

Penunggang satunya mencondongkan badan ke belakang seperti bendera yang tertiup angin, dan dengan tangan terjulur, mengembalikan sarung tadi ke tempatnya semula di samping pelana.

Pada saat yang sama, kedua temannya menjura bersamaan dan membungkukkan badan ke depan dari pelana mereka, sebelum kembali menghilang dalam kabut.

Mata Yuan Zi-xia pun terbelalak, tampaknya ia merasa bingung dan bersemangat, “Mereka mengembalikan pedangmu!”

Bai Yu-jing hanya menyeringai.

Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya, lalu berkata, “Kau tahu mereka akan mengembalikannya?”

Bai Yu-jing menyeringai lagi.

Yuan Zi-xia menatapnya, matanya bersinar terang. “Agaknya mereka takut padamu.”

“Takut padaku?” Bai Yu-jing mengulang.

“Kau…kau tentu telah banyak membunuh orang dengan pedang itu!” suara Yuan Zi-xia bergetar karena terlalu bersemangat.

“Apakah aku kelihatan seperti seorang pembunuh?” Bai Yu-jing mengulang.

“Tidak,” Yuan Zi-xia mengakui.

“Kurasa juga tidak,” kata Bai Yu-jing.

“Tapi, kalau begitu, kenapa mereka takut padamu?” Yuan Zi-xia bertanya dengan ragu-ragu.

“Mungkin mereka takut padamu, bukan padaku,” Bai Yu-jing berkata.

Yuan Zi-xia tersenyum. “Aku? Mengapa mereka takut padaku?”

Bai Yu-jing berkata sambil menghela napas, “‘Satu senyuman bisa menaklukkan sebuah kota, satu senyuman lagi bisa meratakan sebuah negara’. Tak perduli betapa pun tajamnya sebuah pedang, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan senyuman seorang perempuan cantik.”

Kali ini senyuman Yuan Zi-xia semakin menawan. Dengan mata berkedip-kedip, ia pun bertanya, “Kau…kau takut padaku tidak?”

Seperti ada kekuatan yang tak tertahankan di dalam sorot matanya, sesuatu yang seperti menantang Bai Yu-jing.

Sambil menarik napas, Bai Yu-jing berkata, “Walaupun aku tidak ingin takut padamu, tapi aku tak bisa mencegahnya.”

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya, lalu berkata, “Jika kau takut padaku, sebaiknya kau lakukan apa yang kukatakan, benar?”

“Tentu saja,” Bai Yu-jing menjawab.

“Bagus,” Yuan Zi-xia tampak puas. “Aku ingin kau minum bersamaku.”

Bai Yu-jing tampak heran. “Kau bisa minum?”

“Aku kan tidak kelihatan seperti orang yang tak kuat minum?”

“Memang,” Bai Yu-jing menjawab sambil menghela napas lagi.

Ia tidak punya pilihan kecuali harus mengakuinya.

Karena ia tahu, minum itu seperti membunuh orang, kau tidak bisa tahu siapa yang hebat dalam hal itu hanya dari tampangnya saja.

Bai Yu-jing pernah mabuk sebelumnya, cukup sering malah, tapi tidak pernah semabuk ini.

Ketika dia masih amat muda, dia telah mendapatkan sebuah pelajaran.

Di dunia persilatan, ada tiga jenis manusia yang paling sukar dihadapi: pengemis, pendeta dan perempuan.

Jika kau ingin melewati hari-harimu dengan tenang, sebaiknya jangan ganggu mereka, baik itu dengan berkelahi atau dengan adu minum.

Sayangnya lama-kelamaan dia telah melupakan pelajaran ini, mungkin karena dia tidak ingin hari-harinya lewat begitu tenang.

Inilah sebabnya kenapa dia akhirnya tersadar dengan kepala yang rasanya seperti akan pecah.

Dia hanya teringat bahwa akhirnya dia beruntun kalah tiga babak dalam adu minum mereka, dan dihukum harus menenggak tiga cawan besar arak dengan amat cepat.

Sesudah itu benaknya seperti mendadak kosong, dan jika bukan karena sesuatu yang dingin seperti es menyentuh wajahnya, dia mungkin tidak akan terbangun.

Sesuatu yang dingin seperti ini tentulah tangan Xiao Fang.

Tidak ada orang yang memiliki tangan sedingin ini, kecuali karena Xiao Fang tidak punya tangan kanan.

Di tempat di mana seharusnya tangan kanannya berada, terdapat sebuah gaetan besi.

Xiao Fang bernama Fang Long Xiang, walaupun dia tidak kecil lagi.

Jika kau dengar nama ini, dan mengira dia seorang wanita, maka kau keliru besar, karena kemungkinan besar amat sedikit laki-laki yang lebih jantan daripada dirinya.

Walaupun sudut matanya sudah ada kerutan, matanya masih tajam dan cemerlang, dan bisa melihat apa saja yang mungkin tidak kau lihat.

Sekarang dia sedang menatap Bai Yu-jing.

Bai Yu-jing mengangkat kepala dan, sambil mendekap kepalanya, berkata, “Ya Tuhan, kau. Mengapa kau datang?”

“Aku ada di sini karena nenek-moyangmu sudah cukup mendapatkan ganjarannya,” Fang Long Xiang menjawab.

Dengan gaetan besinya dia membelai pelan leher Bai Yu-jing, dan berkata dengan nada acuh tak acuh, “Jika aku adalah Gaetan Kembar Wei Chang, aku khawatir kepalamu mungkin sudah berada di tempat lain.”

Bai Yu-jing menghela napas sambil bergumam, “Kematian yang amat cepat seperti itu mungkin tidak begitu menyenangkan.”

Fang Long Xiang juga menghela napas, “Itulah salah satu masalahmu, hidupmu selama ini terlalu menyenangkan.”

“Bagaimana kau tahu aku berada di sini?” Bai Yu-jing bertanya.

“Kau tahu bagaimana kau bisa berada di sini?” Fang Long Xiang balas bertanya.

Mereka berada di sebuah kamar yang tampaknya amat bersih, dengan sebuah jendela yang memperlihatkan kerimbunan sebatang pohon pakis besar di luar sana.

Bai Yu-jing memandang ke sekelilingnya, menyeringai tak berdaya dan berkata, “Benarkah kau yang membawaku ke mari?”

Fang Long Xiang berkata, “Lalu menurutmu siapa lagi?”

Bai Yu-jing berkata, “Di mana Nona Yuan?”

“Dia mabuk sepertimu,” Fang Long Xiang menjawab.

Bai Yu-jing tersenyum. “Aku tahu dari awal, tidak mungkin dia bisa minum lebih banyak dariku.”

“Dia tidak bisa minum lebih banyak darimu? Lalu bagaimana kau bisa mabuk lebih dulu?” Fang Long Xiang bertanya.

“Aku minum lebih banyak.”

“Oh.”

“Sebagai seorang lelaki, aku tidak mendesak agar dia minum sebanyak diriku, dan sementara kami adu minum, aku tidak memintanya untuk berpegang teguh pada aturan, jadi bagaimana mungkin aku tidak bisa minum lebih banyak dari dia?” Bai Yu-jing memberikan alasan.

“Jika kalian berdua berkelahi, sebagai seorang laki-laki, kau juga tentu tidak akan menanggapinya dengan serius,” kata Fang Long Xiang.

“Tentu saja.”

Fang Long Xiang menghela napas. “Ujar-ujar orang tua dulu di dunia persilatan memang tidak pernah keliru.”

“Ujar-ujar yang mana?”

“Karena sebagian besar laki-laki punya masalah yang sama denganmu, jadi orang-orang tua dulu sudah paham, baik berkelahi atau minum, jangan pernah bertanding dengan seorang wanita.”

“Kau sekarang sudah jadi orang tua?” Bai Yu-jing menyeringai.

Fang Long Xiang melanjutkan, “Tapi, ada satu hal yang tidak terpikirkan olehku, yaitu betapa besarnya perkembangan egomu.”

“Ego yang mana?”

“Sementara kau enak-enakan tidur di sini, sedikitnya ada sepuluh orang yang berdiri menjaga di luar.”

Tampak terperanjat, Bai Yu-jing segera bertanya, “Orang-orang macam apa?”

“Orang-orang yang biasanya dikirim oleh musuh yang tangguh.”

“Siapa saja mereka?”

“Jika kau bisa bangkit, lebih baik kau lihat sendiri.”

Kamar itu adalah kamar terakhir di lantai atas sebuah bangunan kecil. Di kamar itu terdapat sebuah jendela belakang yang menghadap ke sebuah gang sempit.

Seorang laki-laki bungkuk memakai topi sobek dan mantel hujan yang compang-camping duduk terkantuk-kantuk di bawah terik matahari musim semi.

Fang Long Xiang mendorong daun jendela hingga terbuka dengan gaetannya. “Tahukah kau siapa si bungkuk itu?”

“Aku hanya bisa melihat bahwa dia bungkuk,” Bai Yu-jing berkata dengan nada getas.

“Kau akan tahu siapa dia jika dia melepaskan topinya.”

“Bagaimana aku bisa tahu?”

“Karena warna rambutnya berbeda dengan orang lain.”

Sambil mengerutkan alisnya, Bai Yu-jing berkata, “Perkumpulan Rambut Merah dari Sungai Timur?”

Fang Long Xiang mengangguk. “Dilihat dari tampangnya, jika bukan orang kedua dari Sembilan Sekawan Berambut Merah, dia tentu yang nomor tujuh.”

Bai Yu-jing tidak bertanya lagi, karena dia selalu percaya pada mata Fang Long Xiang yang tajam.

Fang Long Xiang berkata, “Kau lihat lagi orang yang berada di bawah pohon di pintu masuk sana.”

Di pintu masuk ke gang sempit itu berdiri sebatang pohon buah yang besar, di bawahnya terdapat sebuah gerobak penjual sup akar teratai. Pemilik gerobak itu sedang menuangkan seperiuk air mendidih ke dalam semangkok tepung.

“Kekuatan pergelangan tangannya lumayan,” Bai Yu-jing berkata.

“Tentu saja lumayan,” Fang Long Xiang menjawab. “Kalau tidak, dia tak akan mampu menggunakan golok seberat duapuluh tujuh pon.”

“Golok seberat duapuluh tujuh pon? Dia dari Gunung Tai-hang?”

“Akhirnya kali ini kau benar. Goloknya disembunyikan di dalam gerobaknya.”

“Bagaimana dengan orang yang sedang makan sup itu?” Bai Yu-jing menunjuk.

Berjongkok di bawah pohon itu ada seorang laki-laki yang menggenggam mangkuk berisi sup akar teratai. Dia menghirupnya lambat-lambat, tapi matanya selalu terpaku ke arah kamar mereka.

Fang Long Xiang berkata, “Di gerobak itu terdapat dua bilah golok.”

Bai Yu-jing bertanya, “Mereka berdua adalah kakak-beradik di bawah pimpinan Zhao Yi-dao?”

“Dialah Zhao Yi-dao,” Fang Long Xiang menjawab. Dia menepuk bahu Bai Yu-jing. “Mendapatkan Zhao Yi-dao sebagai penjagamu, kau tak bisa mengatakan kalau egomu kecil.”

Bai Yu-jing tersenyum. “Egoku memang tidak kecil.”

Tepat saat itulah, seorang detektif pemerintah, memakai topi berujung bundar dan berseragam warna pucat, datang mengendap-endap dari ujung lain gang itu. Ketika tiba di bawah pohon, dia juga membeli semangkuk sup.

“Tampaknya Zhao Yi-dao seharusnya berganti profesi menjadi penjual sup akar teratai saja,” Bai Yu-jing berkata sambil menyeringai. “Berdagang sup ini hasilnya lumayan, dan agaknya tidak ada resikonya.”

“Tidak beresiko?” tanya Fang Long Xiang.

“Resiko apa yang ada di sana?” Bai Yu-jing balas bertanya.

“Laki-laki bertopi merah berujung bundar itu, siapa yang tahu kapan dia akan menusuk punggungnya.”

“Sejak kapan detektif pemerintah membunuh orang semaunya sendiri di sebuah gang sempit?”

“Dia sekarang sedang memakai topi detektif, tapi dia datang ke sini dengan seekor kuda putih.”

“Kuda Putih Zhang San?” kata Bai Yu-jing.

“Kau tidak yakin?”

“Kuda Putih Zhang San selalu bekerja seorang diri. Bagaimana dia bisa bergabung dengan orang-orang ini?”

Fang Long Xiang berkata dengan nada kering. “Itulah pertanyaan yang ingin kuajukan padamu.”

“Mungkinkah ini kebetulan saja?”

“Sedikit sekali kejadian yang serba kebetulan di dunia ini.”

Bai Yu-jing menuangkan secawan teh dingin untuk dirinya sendiri, menenggaknya dalam satu tegukan, lalu bertanya, “Selain keempat orang itu, siapa lagi yang ada di sana?”

“Kau tidak ingin melihat keluar?” kata Fang Long Xiang.

“Orang-orang ini saja sudah cukup untuk kulihat.”

“Cobalah perhatikan lebih jauh, kujamin orang-orang lainnya tidak kalah menarik.”

“Bagaimana kau tahu semua orang ini akan datang ke sini?” Bai Yu-jing bertanya.

“Jangan lupakan tempat siapa ini,” Fang Long Xiang menjawab sambil menyeringai.

Bai Yu-jing pun menyengir. “Jika aku lupa, aku tidak akan pingsan dalam keadaan mabuk.”

Fang Long Xiang mengawasinya dengan kesal. “Jadi semua ini sudah direncanakan olehmu. Kau sudah memperhitungkan kalau aku akan menjagamu.”

“Kau adalah penjagaku, dan kau pun tentu bersedia memberi piutang padaku,” Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum. “Karena aku tamu di sini, aku akan menyerahkan segalanya ke tanganmu.”

“Kau akan berhutang apa saja?”

“Aku berhutang makan dan minum, sampai kau menjerit meminta bantuanku.”

Fang Long Xiang menarik napas dan tersenyum letih. “Orang sepertimu memang tidak pernah mabuk di tempat yang salah.”

Di bawah jendela depan kamar itu terdapat sebuah halaman yang tidak besar dan juga tidak kecil.

Sebatang pohon ungu tumbuh di halaman itu, di bawahnya terdapat sebuah gentong besar berisi ikan mas.

Seorang pemuda gemuk, dengan menggendong tangan, sedang mengawasi ikan mas itu. Sesosok tubuh jangkung dan kurus berbaju hitam berada di belakangnya bagaikan sebuah bayangan.

Seorang wanita tua yang seluruh rambutnya sudah memutih, membimbing seorang bocah berusia tigabelas atau empatbelas tahun menyeberangi halaman itu dengan langkah-langkah yang lambat.

Tiga orang laki-laki kekar berbaju warna terang dan ringkas berdiri dalam sebuah barisan di depan kamar-kamar di sebelah barat halaman itu, menatap lurus ke pintu gerbang seakan-akan sedang menantikan seseorang.

“Aku melihat tiga orang itu kemarin,” Bai Yu-jing berkata.

“Di mana?” kata Fang Long Xiang.

“Di jalan raya.”

“Mereka sedang mencarimu?”

“Mereka hanya ingin meminjam pedangku untuk dilihat.”

“Lalu?”

“Lalu mereka mengembalikannya,” Bai Yu-jing menjawab dengan tenang. “Seandainya ketua Perkumpulan Naga Hijau sendiri yang meminjam pedangku, dia pun tentu akan mengembalikannya juga.”

Fang Long Xiang mengerutkan kening dan berkata, “Kau tahu mereka berasal dari Perkumpulan Naga Hijau?”

“Jika bukan dari Naga Hijau, aku ragu kalau yang lainnya punya nyali sebesar ini.”

Fang Long Xiang meliriknya dari sudut matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Memangnya kau pikir siapa dirimu?”

“Aku adalah Bai Yu-jing.”

Fang Long Xiang mengedip-ngedipkan matanya. “Lalu orang macam apakah Bai Yu-jing itu?”

Bai Yu-jing menjawab sambil menyeringai, “Orang yang tidak gampang dibunuh.”

Tiba-tiba, dengan bunyi gemeretak yang nyaring, gentong berisi ikan mas tadi pecah, ditimpuk oleh sebuah benda tak dikenal. Air di dalamnya tumpah, dan nyaris membasahi pemuda gemuk tadi.

Tidak ada yang menyangka kejadian itu, tapi tubuh pemuda gemuk yang berbobot beberapa ratus pon itu tiba-tiba melayang ke atas. Dengan sebuah jari ia menggaet sebuah ranting pohon dan bergantungan di udara, seolah-olah tubuhnya terbuat dari kertas.

Yang mengejutkan, ternyata celana laki-laki baju hitam di belakangnya yang menjadi basah kuyup.

“Siapa yang menyangka, ilmu ginkangnya ternyata lumayan,” kata Bai Yu-jing.

“Kau tidak tahu siapa dia?” Fang Long Xiang bertanya.

“Dilihat dari gerakannya, tampaknya dia dari Sekte E’Mei, tapi sejak tigapuluh tahun yang lalu di sekte itu cuma ada pendeta-pendeta wanita, semuanya juga cuma makan sayuran. Mereka tidak mungkin mempunyai anggota gemuk seperti dia.”

“Kau lupa dengan ketua sekte E’Mei,” Fang Long Xiang memotong. “Dari keluarga mana dia berasal, sebelum dia menjadi seorang pendeta?”

“Keluarga Zhu, dari propinsi Su.”

“Benar,” Fang Long Xiang membenarkan. “Orang gemuk ini adalah putera sulung keluarganya, sang tuan muda.”

“Bagaimana dengan pengawalnya?”

“Aku tidak yakin,” kata Fang Long Xiang. “Tapi dinilai dari kungfunya, paling-paling hanya seorang jagoan kelas tiga.”

“Dia jelas-jelas punya kungfu kelas satu, jadi mengapa membawa seorang pengawal kelas tiga?”

“Karena hal itu menyenangkan dirinya?” Fang Long Xiang mengangkat bahu.

Ikan mas dalam gentong tadi ikut keluar bersama air. Mereka bergelimpangan tak keruan di atas tanah.

Tapi laki-laki baju hitam itu tetap berdiri tak bergerak dengan kaki terendam dalam air. Matanya yang cekung tujuh bagian memperlihatkan perasaan muram, dan tiga bagian perasaan duka.

Fang Long Xiang tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata, “Itulah orang yang patut dikasihani.”

“Kau kasihan padanya?” Bai Yu-jing bertanya.

“Jika bukan terbentur tembok hingga tak bisa lari ke mana-mana, siapa yang mau menerima pekerjaan seperti ini? Juga, dilihat dari senjatanya, dahulu dia mungkin memiliki sedikit ketenaran di dunia persilatan, tapi sekarang…” Fang Long Xiang sekonyong-konyong merubah pokok pembicaraan dan malah bertanya, “Tahukah kau siapa yang memecahkan gentong tadi?”

“Si-Ma Guong?” Bai Yu Jing menerka-nerka.

[Si-Ma Guong, seorang pelajar dan pejabat ternama di masa dinasti Song Utara, yang dalam sebuah dongeng terkenal memecahkan sebuah gentong dengan batu-bata untuk menolong seorang sahabatnya.]

Fang Long Xiang menatapnya dengan kesal. “Lucu, lucu sekali.”

Bai Yu-jing menyeringai dan berkata, “Jika bukan Si-Ma Guong yang memecahkan gentong itu, tentu seseorang yang bersembunyi di kamar ketiga di sisi timur sana.”

Setelah menjatuhkan diri dari ranting pohon tadi, Tuan Muda Zhu pun mendengus ke arah kamar sana.

Perempuan tua berambut putih tadi lalu muncul dengan sebuah baskom cucian, jelas dia ingin memasukkan ikan-ikan mas tadi ke dalamnya. Langkah kakinya limbung, tiba-tiba dia tersandung, dan air di dalam baskom pun tumpah ke atas tanah.

“Menurutmu, siapa perempuan itu?” Bai Yu-jing bertanya.

“Seorang wanita tua,” Fang Long Xiang menjawab.

“Mengapa seorang wanita tua datang ke sini?”

“Ini adalah losmen, siapa pun boleh datang ke tempat ini.”

“Setidaknya, dia bukan ke mari karena aku?”

“Kau belum cukup tua.”

“Naga Hijau, Golok Kilat, Rambut Merah dan Kuda Putih, semua orang ini datang ke sini hanya untukku?” Bai Yu-jing terdengar ragu-ragu.

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau pernah bersalah pada mereka sebelumnya?”

“Tidak,” Bai Yu-jing menggelengkan kepalanya.

“Tidak pernah mengambil barang milik mereka?”

“Apakah aku seorang perampok?”

“Meskipun tidak, kau kan tidak jauh dari itu.”

Bai Yu-jing tertawa, lalu berkata dengan santai, “Jika mereka benar-benar datang ke sini untukku, mengapa mereka tidak mencariku?”

“Mungkin mereka takut padamu, atau mungkin mereka sedang menunggu seseorang,” Fang Long Xiang menjawab.

“Menunggu siapa?”

“Perkumpulan Naga Hijau mempunyai tiga ratus enam puluh lima cabang, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala cabang. Tidak seorang pun dari mereka bisa diatasi dengan mudah.”

“Aku pun agaknya tidak bisa diatasi dengan mudah,” Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum.

“Bagaimana dengan dia?” Fang Long Xiang bertanya.

“Dia?”

“Pendekar wanitamu yang sedang mabuk itu.”

“Kenapa dengan dia?”

“Karena dia datang bersamamu, kau tidak akan meninggalkannya begitu saja, kan?” Fang Long Xiang bertanya. “Mereka sudah tahu kalau dia bersamamu, jadi menurutmu mereka akan melepaskan dia begitu saja?”

Sambil mengerutkan keningnya, Bai Yu-jing pun terdiam.

Fang Long Xiang menghela napas. “Hidupmu sudah cukup menyenangkan. Mengapa membuang semua itu dan datang ke sini untuk mengalami penderitaan?”

Bai Yu-jing tersenyum tenang. “Aku toh belum menderita.”

“Walaupun belum dimulai, masalah itu tentu hanya tinggal menunggu waktu,” Fang Long Xiang berkata sambil menyeringai.

Baru saja habis kata-katanya, terdengar seseorang mengetuk dinding kamar sebelah.

“Itukah dia?” Bai Yu-jing bertanya.

Fang Long Xiang mengangguk dan menepuk bahunya. “Aku khawatir penderitaanmu baru saja dimulai.”

“Penderitaan apa?”

“Terkadang penderitaan adalah kesenangan, dan kesenangan adalah penderitaan,” Fang Long Xiang bertutur dengan bijaksana.

Yuan Zi-xia berbaring di bantal dengan rambut yang kusut, wajahnya pucat pasi seperti baru saja menderita sakit yang parah.

Pintu kamarnya tertutup tapi tidak dikunci. Tak diketahui apakah ia baru saja membuka kunci pintu itu atau memang tidak pernah menguncinya.

Dia menggenggam sebuah sepatu di tangannya, jejak sepatu tampak membekas di atas dinding kamar.

Bai Yu-jing memasuki kamar itu dengan perlahan dan memandang si nona.

Tiba-tiba saja dia menyadari bahwa seorang wanita yang baru saja mabuk malam sebelumnya seperti memperlihatkan daya tarik baru yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata di pagi harinya.

Denyut jantungnya pun seperti berpacu.

Jika seorang laki-laki, yang mabuk malam sebelumnya, melihat seorang perempuan cantik di pagi harinya, jantungnya tentu akan berdebar lebih kencang.

Yuan Zi-xia juga sedang menatapnya. Sambil menggigit bibirnya kuat-kuat, ia berkata, “Kepalaku rasanya seperti akan pecah, dan kau masih bisa tertawa.”

“Aku tidak tertawa,” kata Bai Yu-jing.

“Wajahmu tidak tertawa, tapi hatimu yang sedang tertawa.”

Bai Yu-jing menyengir. “Kau bisa melihat ke dalam hatiku?”

“Emm,” Yuan Zi-xia mengiyakan dengan suara tak jelas. Suara itu seperti berasal dari hidungnya.

Suara yang keluar dari hidung seorang wanita, sering jauh lebih merangsang daripada suara yang keluar dari mulutnya.

Bai Yu-jing tak tahan lagi dan bertanya, “Kau tahu apa yang ada dalam hatiku?”

“Emm.”

“Katakan.”

“Aku tak bisa,” Yuan Zi-xia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Karena…karena…” Wajahnya tiba-tiba memerah, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu tersenyum dan berkata dengan malu, “Karena di hatimu ada pikiran-pikiran yang tidak bersih.”

Jantung Bai Yu-jing berdebar makin kencang.

Memang di benaknya sedang muncul pikiran-pikiran kotor.

Seorang laki-laki yang mabuk malam sebelumnya biasanya menjadi lebih rapuh di pagi harinya, dan kurang mampu untuk bertahan terhadap godaan.

Bagaimana dengan seorang perempuan yang mabuk malam sebelumnya? Bai Yu-jing hampir tak bisa menahan keinginan untuk melangkah menghampirinya.

Mata Yuan Zi-xia mengintipnya dari balik selimut. Sepertinya dia juga berharap agar Bai Yu-jing mau mendekat.

Dia bukan seorang laki-laki sejati, tapi bila teringat pada “penjaga-penjaga yang berdiri di luar” untuknya, hatinya pun serasa karam.

Dengan wajah memerah seperti matahari terbenam, Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata, “Saat aku melihatmu terus berusaha membuatku mabuk tadi malam, aku pun tahu kau bukan orang baik-baik.”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata dengan senyum dikulum, “Aku yang berusaha membuatmu mabuk?”

“Bukannya memang begitu?” Yuan Zi-xia menatapnya dengan kesal. “Lalu kenapa kita minum dengan cawan-cawan besar? Sejak kapan kau lihat seorang gadis minum dengan cawan besar?”

Bai Yu-jing tidak bisa berkata apa-apa.

Bila seorang wanita mengajakmu berdebat, walaupun ada sesuatu yang hendak kau katakan, sebaiknya kau tutup saja mulutmu. Ini adalah prinsip yang dia pahami benar-benar.

Sayangnya Yuan Zi-xia tidak mau melepaskannya dengan mudah. “Sekarang kepalaku sangat sakit, bagaimana tanggung-jawabmu?” ia berkata lagi.

“Kau saja yang mengatakannya.” Bai Yu-jing menyeringai sedih.

Si nona memandangnya dengan termangu. “Kau… kau setidaknya harus meredakan sakit kepalaku.”

Sebuah suara tiba-tiba saja berteriak, “Itu gampang, tebas saja batok kepalanya.”

Suara itu berasal dari lorong di luar kamar.

Sebelum suara itu hilang, Bai Yu-jing sudah melompat ke luar pintu.

Lorong itu amat sempit. Daun-daun pohon pakis bergoyang-goyang dalam hembusan angin sepoi-sepoi.

Tidak seorang pun yang terlihat, bahkan bayangan pun tidak ada, Fang Long Xiang sudah pergi beberapa saat yang lalu.

Dia tidak mau berada di tengah-tengah dua pihak yang bertikai.

Jika bukan Fang Long Xiang, lalu suara siapa itu? Halaman itu kembali sunyi senyap.

Seseorang sudah membersihkan ikan mas dari atas tanah. Tuan Muda Zhu dan pengawalnya agaknya juga sudah kembali ke kamar mereka.

Cuma tiga orang laki-laki kekar dari Perkumpulan Naga Hijau yang masih ada, masih berdiri di sana sambil mengawasi pintu gerbang, menunggu seseorang yang tidak diketahui identitasnya.

Bai Yu-jing hanya bisa kembali ke dalam kamar.

Yuan Zi-xia sudah duduk di ranjang. Wajahnya kembali tampak pucat, dia bertanya, “Siapa di luar?”

“Tidak ada siapa-siapa,” Bai Yu-jing menjawab.

Mata si nona pun terbelalak. “Tidak ada orang? Lalu siapa yang bicara tadi?”

Bai Yu-jing cuma tersenyum, itulah satu-satunya jawaban yang terpikir olehnya.

Mata Yuan Zi-xia seperti disaput awan karena ketakutan dan dia pun berkata dengan bimbang, “Dia… dia menyuruhmu untuk menebas batok kepalaku… Kau tidak akan melakukannya, kan?”

Bai Yu-jing hanya bisa menghela napas.

Tiba-tiba Yuan Zi-xia melompat bangkit dari atas ranjang dan menghambur ke dalam pelukannya, suaranya terdengar bergetar, “Aku takut. Tempat ini menyeramkan, kau tidak boleh meninggalkanku sendirian di sini.”

Tangan gadis itu memeluk lehernya erat-erat. Lengan bajunya pun tersingkap, memperlihatkan lengannya yang mulus seperti pualam.

Yang dia kenakan adalah sehelai gaun tipis. Dadanya terasa hangat dan kencang. Bai Yu-jing bukan terbuat dari kayu, dia juga bukan seorang malaikat yang luput dari nafsu.

Yuan Zi-xia berbisik, “Aku ingin kau tinggal di sini bersamaku. Kau… kenapa kau tidak menutup pintu?”

Bibirnya yang lembut dan merangsang itu berbisik di dekat telinganya, sangat dekat malah.

Tepat saat itu tiba-tiba terdengar suara tangisan yang memilukan hati dari halaman sana.

Siapa yang menangis itu? Siapa pun dia, tangisannya itu telah dikeluarkan pada saat yang tidak tepat.

Tangan Yuan Zi-xia pun terlepas. Tidak perduli siapa pun yang mendengar suara tangisan seperti itu, jantung mereka tentu terasa karam.

Gadis itu berdiri di lantai dengan kaki telanjang, sorot matanya tampak seperti orang bingung, seperti seorang bocah yang tersesat arah.

Tangisan itu pun agaknya berasal dari seorang bocah.

Bai Yu-jing berjalan ke arah jendela dan melihat sebuah peti. Perempuan tua berambut putih dan bocah kecil tadi tampak bersandar di peti mati itu sambil menangis tersedu-sedu, suara mereka sudah hampir hilang.

Tidak jelas siapa yang membawa peti itu ke sana, tapi mereka telah meletakkan peti mati itu di tempat gentong ikan mas tadi berada.

Sudah cukup orang hidup yang datang ke tempat ini, dan sekarang, entah dari mana asalnya, satu orang mati pun sudah datang.

Bai Yu-jing menghela napas sambil bergumam, “Setidaknya orang mati tak mungkin datang karena aku…”

Yuan Zi-xia menutup pintu, menarik sebuah kursi dan duduk di pinggir jendela.

Di halaman, tampak dua orang biksu yang sedang membacakan doa. Menyaksikan upacara ini dari bangunan sebelah atas, kepala biksu-biksu yang berkilauan itu mungkin tampak amat lucu, tapi suara mereka saat membacakan doa terdengar khusyuk dan memilukan.

Di samping suara yang monoton dan memilukan itu, juga terdengar suara isak tangis perempuan tua dan bocah itu. Hal ini membuat orang-orang yang mendengarnya akan teringat kembali pada kesedihan dan kerisauan di hati mereka.

Yuan Zi-xia menarik napas dan mengangkat muka untuk melihat cuaca. Dia tidak tahu pukul berapa dia bangun tadi, tapi sekarang jelas sudah senja.

Langit tampak mendung, seolah akan turun hujan. Tiga orang lelaki dari Perkumpulan Naga Hijau juga sudah memindahkan kursi mereka dan duduk di bawah wuwungan. Mereka melihat ke sekeliling mereka sambil menanti dengan wajah gelisah.

Bai Yu-jing dan Fang Long Xiang sedang berjalan, melangkah dengan perlahan ke arah pintu gerbang. Mereka tentu saja tidak memandang pada orang lain, tetapi mereka dapat merasakan banyaknya mata yang menatap mereka di balik punggung mereka. Jika secara kebetulan mereka berpaling ke arah sana, pandangan mata orang-orang itu tentu akan segera beralih dari mereka.

Yuan Zi-xia tentu saja merupakan pengecualian. Di matanya terlihat kehangatan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata, terulur seperti benang sutera yang terikat di tumit kaki Bai Yu-jing.

Di luar pintu, pemandangan tampak indah seperti lukisan. Jalan yang terlihat coklat gelap, berkelok-kelok mulai dari tempat itu seperti seekor cacing, menembus hutan yang hijau, menelusuri danau berair biru yang dalam, lalu tiba di jalan raya yang ramai.

Gunung di kejauhan tampak berawan, seperti dalam kabut, terlihat indah sekaligus penuh hawa gaib. Kota kecil itu tentu saja tidak jauh dari sini, tapi ada danau biru dan hutan hijau yang memisahkan tempat ini dengan keramaian di bawah gunung sana.

Bai Yu-jing menarik napas dalam-dalam untuk menghirup udara segar dan merasa sedih. Tak tahan ia menghela napas dan berkata, “Aku suka tempat ini.”

Fang Long Xiang berkata, “Banyak orang yang menyukai tempat ini.”

Bai Yu-jing berkata, “Ada orang hidup dan ada juga orang mati.”

Fang Long Xiang berkata, “Biasanya orang mati tidak diterima di sini.”

Bai Yu-jing berkata, “Hari ini adalah kekecualian.”

Fang Long Xiang berkata, “Tamu mana pun yang tinggal di tempat ini, tak perduli siapa pun dia, harus patuh pada aturan dan tidak boleh melanggarnya.”

Bai Yu-jing berkata, “Jika dia membunuh orang?”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata, “Hal itu tergantung pada siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh.”

Bai Yu-jing berkata dengan dingin, “Omonganmu itu jelas cuma basa-basi seorang pedagang.”

Fang Long Xiang berkata, “Aku memang seorang pedagang.”

Bai Yu-jing berjalan maju beberapa langkah dan berkata, “Kukira mereka tidak akan membiarkanku pergi, tapi waktu aku keluar, tidak seorang pun yang menghalangiku.”

Fang Long Xiang berkata, “Emm.”

Bai Yu-jing berkata pula, “Mungkin mereka bukan datang untukku.”

Fang Long Xiang berkata, “Mungkin.”

Bai Yu-jing tiba-tiba menepuk pundaknya dan berkata sambil tersenyum, “Kali ini nasibmu memang bagus.”

Fang Long Xiang berkata, “Nasib apa?”

Bai Yu-jing berkata, “Kau tidak perlu takut kalau aku menyalah-gunakan kebaikanmu. Aku akan pergi besok pagi-pagi sekali.”

Fang Long Xiang berkata, “Malam ini kau…”

Bai Yu-jing berkata, “Malam ini aku ingin minum, jangan biarkan lemarimu tertutup rapat.”

Mimik wajah Fang Long Xiang mendadak berubah sendu, dan sambil menatap gunung berawan di kejauhan sana, perlahan-lahan ia berkata, “Malam ini pasti amat panjang.”

Bai Yu-jing berkata, “Oh.”

Fang Long Xiang berkata, “Malam yang begini panjang, tentu akan ada banyak urusan.”

Bai Yu-jing berkata, “Oh.”

Fang Long Xiang berujar, “Juga cukup panjang untuk membunuh orang.”

Bai Yu-jing berkata, “Oh.”

Fang Long Xiang tiba-tiba berpaling dan menatapnya. Lalu ia berkata, “Kau tentu menunggu kedatangan orang itu, dan kemudian barulah kau mau pergi?”

Bai Yu-jing berkata, “Siapa orang itu?”

Fang Long Xiang berkata, “Orang yang sedang ditunggu oleh orang-orang Naga Hijau.”

Bai Yu-jing tersenyum, di matanya terlihat ekspresi yang amat luar biasa. Setelah sekian lama, barulah kemudian ia berkata dengan perlahan, “Sejujurnya, lambat laun aku merasa orang ini sangat menarik.”

Fang Long Xiang berkata, “Kau tidak tahu apa-apa tentang dia.”

Bai Yu-jing berkata, “Karena aku tidak tahu, maka aku menganggap dia menarik.”

Fang Long Xiang berkata, “Asalkan ada urusan yang menarik, kau tak akan pergi?”

Bai Yu-jing berkata, “Biasanya ya.”

Fang Long Xiang berkata, “Adakah orang yang bisa membuatmu berubah pikiran?”

Bai Yu-jing berkata, “Tidak ada.”

Fang Long Xiang menghela napas dan berkata, “Bagus, akan kuambilkan arak dan biar kau loloh pendekar wanitamu itu sampai mabuk.”

Bai Yu-jing berkata, “Aku juga harus pergi berganti pakaian.”

Fang Long Xiang berkata, “Sekarang?”

Bai Yu-jing berkata, “Bila tiba waktu minum arak, aku selalu mengenakan baju baru.”

Sorot mata Fang Long Xiang tampak berkilat-kilat, katanya, “Bila tiba waktu untuk membunuh, kau juga selalu berganti pakaian baru?”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata dengan nada ringan, “Itu tergantung siapa orang yang akan kubunuh.”

—–

Yuan Zi-xia duduk di atas ranjang, memegang selimut yang terlipat dan berkata, “Mengapa kita tidak membawa arak itu ke sini dan minum di kamar ini.”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata, “Untuk minum arak, kita butuh tempat yang tepat, kalau tidak arak yang enak pun akan terasa getir.”

Yuan Zi-xia berkata, “Mengapa tempat ini tidak tepat?”

Bai Yu-jing berkata, “Tempat ini gunanya untuk tidur.”

Yuan Zi-xia berkata, “Tapi… di bawah ada banyak orang, aku tidak punya pakaian baru untuk dikenakan, bagaimana aku bisa turun ke bawah?”

Bai Yu-jing berkata, “Akulah pakaian barumu.”

Yuan Zi-xia berkata, “Kau?”

Bai Yu-jing berkata, “Dengan aku berada bersamamu, kau tidak perlu berganti baju, orang lain mungkin tidak akan memandangmu.”

Yuan Zi-xia tersenyum menawan dan berkata, “Kau selalu mengira dirimu ini amat hebat?”

Bai Yu-jing berkata, “Biasanya ya.”

Yuan Zi-xia berkata, “Mukamu tidak pernah memerah?”

Bai Yu-jing berkata, “Tidak.”

Tiba-tiba ia membalikkan badan dan berkata, “Tapi di sini aku takluk padamu.”

Yuan Zi-xia berkata, “Kenapa?”

Bai Yu-jing berkata, “Karena wajahku sekarang sedang memerah. Bila aku malu, aku tak mau orang lain melihatnya.”

Yuan Zi-xia mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan seperangkat pakaian. Walaupun ini bukan pakaian baru, tapi tampak indah seperti awan ungu. Dia menyukai pakaian berwarna cerah dan menyukai orang-orang ‘berwarna cerah’.

Bai Yu-jing agaknya adalah orang seperti ini. Dia angkuh, melakukan apa pun yang dia sukai, kadang-kadang suka meledak-ledak seperti anak kecil, terkadang tenang tapi menghanyutkan seperti rubah yang licik. Dia tahu laki-laki seperti ini tidak mudah untuk dihadapi. Bila seorang wanita ingin memikatnya, itu bukan hal yang gampang. Tapi dia memutuskan untuk berusaha.

Rumah makan itu tentu saja tidak besar, tapi sangat baik. Mejanya terbuat dari kayu padat, lantainya dilapisi oleh batu-batu yang indah. Di atas dinding juga terpajang kaligrafi dan lukisan yang sesuai, dan beberapa macam tanaman dengan bunga yang mekar digantung di dekat pintu. Bila seseorang memasuki ruangan itu, ia bisa melihat bahwa mencicipi makanan di tempat itu akan membuat orang merasa terhormat. Karena itu harganya pun lebih mahal daripada di tempat lain, tapi tidak ada yang keberatan.

Tiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau duduk di sebuah meja di dekat pintu, mata mereka menatap keluar pintu. Mereka jelas sedang menunggu seseorang. Meja Tuan Muda Zhu berada di dekat jendela. Dia pun sudah mulai makan dan minum dengan enaknya, sementara si baju hitam berdiri seperti bayangan di belakangnya.

“Apakah pelanggan ini juga ikut makan?”

“Dia akan menungguku selesai makan, baru dia akan makan.”

Membiarkan orang lebih dulu dan menunggu orang selesai makan sebelum bisa makan. Itulah takdir yang dipilih oleh beberapa orang.

Upacara Buddha tadi sudah selesai, secara tak disangka-sangka kedua biksu tadi juga makan di sini. Kepala mereka yang berkilauan tampak gemerlap seperti pantat botol. Agaknya kepala mereka baru saja dicukur.

Dalam hembusan angin, suara isak tangis perempuan tua itu bisa terdengar samar-samar. Sebenarnya siapa yang mati?

Mengapa dia menangis begitu sedih?

Apakah orang yang memecahkan gentong ikan mas itu pernah muncul?

Mengapa dia bersembunyi di dalam kamar seperti tidak berani bertemu siapa pun?

Teh itu rasanya enak, araknya juga arak yang baik.

Bai Yu-jing sudah berganti pakaian dengan baju baru berwarna biru. Dia sudah minum beberapa gelas arak, seakan-akan tidak ada urusan yang perlu dirisaukan olehnya. Fang Long Xiang tampak termangu, dia hanya minum sedikit dan juga tidak banyak makan sayuran.

Yuan Zi-xia berkata dengan menawan, “Kau makan lebih sedikit daripada seorang gadis muda.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum, “Karena aku bayar sendiri, aku selalu tidak mau menghambur-hamburkan uang.”

Bai Yu-jing berkata, “Aku juga tidak.”

Tiba-tiba ia bertepuk tangan memanggil pelayan dan berkata, “Bawakan beberapa macam makanan dan arak terbaik untuk orang di belakang sana.”

Fang Long Xiang berkata dengan dingin, “Juga untuk si pemakai topi sobek?”

Bai Yu-jing berkata, “Pepatah mengatakan, mereka yang tidak mengikuti musim, mungkin tak akan berhasil mendapatkan makanan untuk dimakan.”

Tiba-tiba Yuan Zi-xia menyeletuk, “Makanan di sini enak. Kira-kira bahannya apa ya?”

Fang Long Xiang berkata, “Kelabang, kadal, ular kecil.”

Wajah Yuan Zi-xia mendadak pucat pasi, dia tak tahan lagi dan muntah-muntah.

Di ruangan itu semua orang diam-diam memandangnya, bahkan kedua biksu tadi pun tidak terkecuali. Mulut mereka memang pantang makan daging, tapi mata mereka tentu tidak pantang apa-apa.

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda. Seekor kuda yang besar berhenti di luar pintu. Ketiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau pun mendadak bangkit. Segera muncul mimik muka yang gembira di wajah mereka. Orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba.

Fang Long Xiang memandang Bai Yu-jing, mengangkat cawan arak dan berkata, “Kusulang kau secawan arak.”

Bai Yu-jing berkata, “Mengapa kau tiba-tiba bersulang untukku?”

Fang Long Xiang menarik napas dan berkata, “Aku hanya khawatir aku tak akan punya kesempatan lagi untuk bersulang.”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata, “Kita lihat dulu orang ini, baru kemudian bersulang untukku, tentu masih belum terlambat.”

Ketika dia bicara begitu, mata semua orang sedang menatap ke arah pintu masuk. Kuda besar tadi berdiri di luar, seseorang lalu masuk dengan tergesa-gesa. Seorang laki-laki kekar berbaju hitam melangkah masuk dengan keringat bercucuran.

Ketiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau melihatnya, di wajah mereka segera timbul kekecewaan, dan dua orang di antaranya kemudian duduk. Orang yang datang itu jelas bukan orang yang dinanti-nantikan.

Yang seorang lagi menyambut kedatangan teman mereka itu, mengerutkan kening dan bertanya, “Kenapa…”

Orang lain mendengar ucapannya itu, tapi suaranya tiba-tiba berubah menjadi rendah seperti berbisik. Orang yang baru masuk itu pun berbicara dengan nada yang lebih rendah. Dia hanya mengucapkan beberapa patah kata sebelum pergi lagi dengan terburu-buru.

Ketiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau itu saling berpandangan. Mereka lalu duduk dan minum. Raut muka yang gelisah tadi tidak terlihat lagi di wajah mereka. Walaupun orang yang mereka tunggu belum datang, jelas mereka sudah mendapatkan berita. Tapi berita apa?

Tuan Muda Zhu mengerutkan alisnya dengan gelisah, raut muka tak sabaran yang tadi terlihat di wajah orang sekarang pun muncul di wajahnya.

Kedua biksu tadi tiba-tiba bangkit, merapikan pakaian mereka dan berkata, “Tagihan biksu-biksu miskin ini, harap dicatatkan atas nama Nyonya Guo.” Biksu-biksu itu makan di sini karena keadaan istimewa, tentu saja mereka tidak membayar.

Tapi entah karena alasan apa, Bai Yu-jing selalu merasa bahwa kedua orang biksu itu tidak terlihat seperti biksu. Sorot matanya pun tampak seperti orang yang sedang merenung. Ketika mereka sudah keluar, tiba-tiba dia berkata sambil tersenyum, “Kudengar kau punya sepasang mata yang tajam seperti rubah sejak lahir. Aku ingin mengujimu.”

Fang Long Xiang berkata, “Ujian macam apa?”

Bai Yu-jing berkata, “Ada dua macam ujian.”

Fang Long Xiang menghela napas dan berkata, “Ujilah aku.”

Bai Yu-jing berkata, “Kau lihat kedua biksu tadi, bagian tubuh mana yang tadi tidak ada?”

Yuan Zi-xia merasa bingung. Kelima panca indera dua orang biksu tadi seluruhnya lengkap, dan mereka bukan orang-orang cacat. Kenapa ada bagian tubuh yang hilang?

Fang Long Xiang memikirkan pertanyaan yang sulit itu dan tiba-tiba menjawab, “Luka bekas bakaran dupa.”

Yuan Zi-xia hanya bisa menghela napas. “Mata kalian benar-benar tajam, agaknya mereka memang tidak punya luka bekas bakaran dupa.”

Bai Yu-jing berkata, “Kedua orang itu memang tidak punya.”

Yuan Zi-xia berkata, “Mereka…mereka bukan biksu sungguhan?”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata, “Kenyataan adalah ilusi, ilusi adalah nyata, asli dan palsu, kenapa kita begitu serius memikirkannya?”

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata, “Kapan kau juga berubah menjadi biksu? Kenapa kau bicara begitu bijak?”

Fang Long Xiang berkata, “Dia bukan hanya bisa bicara bijak seperti seorang biksu, dia juga bisa makan tanpa membayar.” Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing buka mulut dan berkata lagi, “Kau telah menguji sekali, lalu apa lagi?”

Bai Yu-jing merendahkan suaranya dan berkata, “Kau tahu siapa orang yang sedang ditunggu oleh orang-orang Naga Hijau itu?”

Fang Long Xiang menggelengkan kepalanya.

Bai Yu-jing berkata, “Mereka sedang menunggu Wei Tian-ying!”

Fang Long Xiang segera mengerutkan keningnya dan berkata, “Wei Tian-ying? Si ‘Pisau Iblis’ Wei Tian-ying?”

Bai Yu-jing mengangguk.

Mimik wajah Fang Long Xiang pun berubah dan ia berkata, “Bukankah orang itu sudah diusir oleh musuh bebuyutannya ke timur sana, ke Pulau Fu Sang?”

Bai Yu-jing berkata, “Fu Sang bukanlah neraka. Walaupun dia pergi ke sana, tidak mustahil baginya untuk kembali.”

Fang Long Xiang mengerutkan alisnya dan berkata, “Menurut cerita, bukan ilmu pisaunya saja yang menakutkan, tapi ia juga telah mempelajari ilmu ‘tahan derita’ ala Fu Sang. Dalam Perkumpulan Naga Hijau, dia dianggap sebagai salah seorang dari ‘Dua Belas Hantu Naga Hijau’.”

Bai Yu-jing berkata dengan nada ringan, “Kurasa juga begitu.”

Yuan Zi-xia menatapnya dan berkata, “Apa itu ilmu ‘tahan derita’?”

Bai Yu-jing berkata, “Ilmu ‘tahan derita’ adalah kungfu istimewa yang mengajarkan cara melukai orang secara diam-diam, jadi lebih baik kau tidak mendengarnya.”

Yuan Zi-xia berkata, “Tapi aku ingin dengar.”

Bai Yu-jing berkata, “Walau kau ingin mendengarnya, aku tak dapat mengatakannya.”

Yuan Zi-xia berkata, “Kenapa?”

Bai Yu-jing berkata, “Karena aku pun tidak tahu.”

Sebenarnya dia tahu sedikit tentang ilmu ini. Menurut dongeng, ilmu ‘tahan derita’ diwariskan dari Jiu Mixian (Dewa Jarak Jauh), di jaman Istana Kebajikan, lalu diteruskan oleh ‘Perkumpulan Kera Terbang’ dan anggota-anggota ‘Ruang Kabut Rahasia’, serta jago-jago beladiri dari pulau Fu Sang.

Walaupun seperti ilmu gaib, kungfu ini sebenarnya dilandasi oleh ilmu meringankan tubuh, ilmu menyaru, tenaga dalam dan kepandaian menyelam. Keistimewaan dari ilmu ini adalah bahwa mereka bisa menggunakan hewan-hewan yang biasa hidup di bawah tanah sebagai alat untuk menghindari pengejaran musuhnya. Ilmu ini dibagi dalam tujuh bagian.

Walaupun Bai Yu-jing memahami semua itu, tapi dia tak mau menyebutnya karena hal itu terlalu rumit. Jika kau ingin menerangkan sebuah urusan yang rumit pada seorang wanita, maka hanya akan muncul kecanggungan saja.

Fang Long Xiang dari tadi cuma merenung saja, tiba-tiba sekarang dia bertanya, “Bagaimana kau tahu kalau mereka sedang menunggu Wei Tian-ying?”

Bai Yu-jing berkata, “Mereka tadi baru saja mengatakannya.”

Fang Long Xiang berkata, “Kau bisa mendengar percakapan mereka?”

Bai Yu-jing berkata, “Aku tidak bisa mendengar, tapi aku bisa melihat.”

Yuan Zi-xia tidak faham dan tak tahan lagi ia pun bertanya, “Mereka bercakap-cakap dan kau bisa melihat? Bagaimana kau bisa melihatnya?”

Bai Yu-jing berkata, “Dengan memperhatikan bibir mereka.”

Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata, “Kau benar-benar orang yang menakutkan. Agaknya tidak ada urusan yang bisa disembunyikan darimu.”

Bai Yu-jing berkata, “Apa kau takut padaku?”

Yuan Zi-xia berkata, “Mmm.”

Bai Yu-jing berkata, “Jika kau takut padaku, seharusnya kau dengarkan kata-kataku.”

Yuan Zi-xia tersenyum. Dia pernah mengucapkan kata-kata yang sama pada Bai Yu-jing. Dia tersenyum lembut dan berkata, “Kau memang bukan orang baik-baik.”

Tuan Muda Zhu berjalan keluar dengan lagak yang angkuh. “Kau makanlah. Setelah selesai makan, segera kembali.”

Si baju hitam segera menyantap makanan di dalam mangkuk dengan tergesa-gesa. Lalu dia melangkah pergi dengan terburu-buru.

Bai Yu-jing tiba-tiba berkata, “Sobat, tunggu, tunggu dulu!”

Si baju hitam menghentikan langkahnya, tapi tidak berpaling.

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum, “Di sini ada arak yang enak, mengapa kau tidak tinggal di sini dulu dan minum tiga cawan?”

Si baju hitam akhirnya membalikkan badannya. Wajahnya tidak menampilkan ekspresi apa-apa, tapi gerak-geriknya memperlihatkan perasaan duka yang makin mendalam. Dia menjura sambil berkata, “Aku juga ingin minum banyak-banyak, tapi sayangnya ada delapan orang lagi dalam keluargaku yang butuh makan.”

Walaupun perkataannya itu amat sederhana, tapi membayangkan kepedihan hati yang teramat sangat.

Bai Yu-jing berkata, “Tuan Muda Zhu sudah memanggilmu?”

Jawaban si baju hitam sederhana saja, “Aku rasa begitu.”

Bai Yu-jing berkata, “Kau tidak ingin melakukan pekerjaan lain?”

Si baju hitam, “Aku cuma tahu kungfu. Walaupun dulu aku juga terjun ke dunia Kang-ouw, tapi sekarang…” Ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan lesu, “Walau aku sudah tua, aku tidak mau mati dan juga tidak boleh mati.”

Bai Yu-jing berkata, “Karena itu kau hanya bisa tinggal bersama Tuan Muda Zhu?”

Si baju hitam, “Ya.”

Bai Yu-jing berkata, “Kau bersamanya, tentunya bukan untuk melindunginya, tapi karena kau ingin dia melindungimu!” Dia mengucapkan kalimat ini dengan tajam, dengan tatapan mata yang menusuk.

Si baju hitam seperti ditampar oleh sebuah telapak tangan terbuka, mundur terhuyung-huyung beberapa langkah sebelum kemudian membalikkan badan dan berlari keluar.

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata, “Kau… mengapa kau melukai hati orang seperti itu?”

Wajah Bai Yu-jing juga menampilkan ekspresi yang sedih.

Setelah sekian lama, dia lalu menarik napas panjang dan berkata, “Karena aku bukan orang baik-baik…”

Tapi tidak ada yang mendengar kata-katanya, karena tepat pada saat itu tiba-tiba terdengar jeritan yang memilukan dalam keheningan malam. Suara jeritan yang membuat beku darah orang. Jeritan itu seperti berasal dari luar pintu depan. Fang Long Xiang melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya, dia mengayunkan gaetan besinya. Dengan menimbulkan bunyi “brak!” yang keras, dia telah menghancurkan daun jendela.

Diterangi oleh cahaya yang keluar dari pintu depan, halaman yang luas itu tampak sunyi senyap. Peti mati tadi telah dibawa masuk. Di tengah halaman tidak ada siapa-siapa. Tapi sekarang, tiba-tiba muncul seseorang yang berlari masuk lewat gerbang depan seperti orang gila.

Seorang biksu.

Cahaya lampu yang samar-samar memperlihatkan tidak adanya bekas luka bakaran dupa di kepalanya yang gundul. Tidak ada bekas luka, tapi ada darah! Darah yang tidak berhenti mengalir dan membasahi wajahnya. Masuk ke matanya, masuk ke dalam kerutan-kerutan di sudut matanya. Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, wajah itu tampak sangat menakutkan. Dia berlari masuk ke halaman dan melihat jendela yang hancur berantakan itu.

Fang Long Xiang berlari keluar lewat jendela. Sorot mata biksu tadi memperlihatkan perasaan terkejut, takut, duka dan gusar.

Sudut mulutnya berkerut-kerut tiada henti. Mungkin dia berusaha membersihkan wajahnya dengan tangannya tapi malah melukai sudut mulutnya.

Setelah keluar lewat jendela, Fang Long Xiang merendahkan suaranya, “Siapa dia? Siapa yang melakukan perbuatan yang keji ini?”

Biksu itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan mendesis, “Hijau… Hijau.. Hijau..”

Fang Long Xiang berkata, “Hijau apa?”

Biksu itu belum sempat mengucapkan kata kedua ketika kaki dan tangannya tiba-tiba berkelojotan. Dia pun melompat di atas satu kaki dan terjungkal roboh!

Fang Long Xiang mengerutkan alisnya dan bergumam, “Hijau apa? Naga hijau?”

Pelan-pelan dia pun berpaling. Tiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau berbaris di bawah wuwungan atap. Tampaknya mereka pun sangat terkejut.

Darah pelan-pelan mengalir menuruni kepala biksu tadi dan akhirnya mengental. Hal itu membuat sebuah kilauan emas terlihat sehingga Fang Long Xiang segera berjongkok dan memutar kepala itu ke arah sinar lampu untuk melihat sumber kilauan tadi. Dia segera melihat sebuah logam keemasan berbentuk seperti mata rantai. Mata rantai berdiameter tujuh inci itu menancap di kepala tersebut, hanya sebagian saja yang terlihat.

Fang Long Xiang akhirnya paham kenapa biksu ini tadi bertingkah seperti orang gila dan tampak amat menyeramkan. Sebuah mata rantai emas berdiameter tujuh inci, jika menancap di kepala orang, orang itu tentu akan segera menjadi gila.

Bai Yu-jing mengerutkan keningnya dan berkata, “Rantai emas Perkumpulan Rambut Merah?”

Fang Long Xiang mengangguk, bangkit berdiri, matanya menatap pintu kamar ketiga sana dan bergumam, “Mengapa dia harus membunuh biksu ini?”

“Mengapa kau tidak pergi dan bertanya padanya?” Orang yang bicara ini adalah Tuan Muda Zhu.

Jelas dia tadi mendengar suara jeritan yang memilukan itu, keluar dengan tergesa-gesa, dan sekarang sedang berlipat tangan, berdiri di bawah lampu. Si baju hitam membayanginya dalam jarak dekat.

Fang Long Xiang memandangnya dan berkata, “Sejak kapan Gedung Sejuta Emas dan Perkumpulan Rambut Merah bermusuhan?”

Tuan Muda Zhu berkata, “Bermusuhan? Siapa bilang Gedung Sejuta Emas mempunyai sengketa dengan monster-monster rambut merah itu?”

Fang Long Xiang berkata, “Bagaimana gentong ikan mas tadi bisa pecah?”

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata, “Mungkin mereka bersengketa mengenai ikan mas itu…Mengapa kau tidak bertanya padanya saja?”

Fang Long Xiang berkata, “Kau ingin aku bertanya padanya?”

Tuan Muda Zhu berkata, “Hal itu terserah padamu.”

Fang Long Xiang menyeringai, tiba-tiba tubuhnya melesat pergi. Pintu kamar ketiga biasanya selalu tertutup, tapi sekarang terlihat sinar lampu keluar darinya.

Fang Long Xiang tidak mengetuk pintu, pintu memang terbuka. Seseorang berdiri di ambang pintu, di telinganya terpasang dua buah anting-anting emas berbentuk mata rantai yang berbunyi “ting-tang”, matanya tampak berapi-api.

Fang Long Xiang memandang anting-anting emas di telinganya, “Ketua Miao?”

Miao Shaotian berkata dengan wajah tenang, “Tuan Fang benar-benar memiliki mata yang tajam.”

Fang Long Xiang berkata, “Tadi…”

Miao Shaotian, “Tadi aku sedang makan. Bila sedang makan, aku tidak pernah membunuh orang.”

Di atas meja memang ada baki berwarna kuning keemasan, di atas baki terdapat seekor ular yang kulitnya sudah separuh terkelupas. Di sudut mulut Miao Shaotian terdapat darah.

Perut Fang Long Xiang tiba-tiba terasa memberontak, agaknya orang ini sedang memakan seekor ular berbisa.

Miao Shaotian melirik Tuan Muda Zhu di halaman sana. Dengan dingin dia berkata, “Jangan lupa, siapa saja yang punya rantai emas, dia bisa melemparkan mata rantai emas itu. Asal orang itu punya tangan, dia bisa menggunakan mata rantai emas itu untuk membunuh orang.”

Fang Long Xiang mengangguk, dia tidak bisa membuka mulutnya karena khawatir kalau dia akan muntah.

Di kamar sebelah, suara isak tangis yang amat memilukan sayup-sayup masih terdengar.

Miao Shaotian membanting pintunya hingga tertutup. Dia meneruskan makannya lagi.

Tiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau pun telah menarik diri.

Yuan Zi-xia memegang tangan Bai Yu-jing erat-erat. Dia takut kalau pemuda itu menyelinap pergi dengan tiba-tiba. Mayat biksu tadi telah menjadi kaku.

Fang Long Xiang mengerutkan keningnya dan berkata, “Siapa yang membunuhnya? Mengapa dia dibunuh?”

Bai Yu-jing berkata, “Karena dia biksu palsu.”

Fang Long Xiang berkata, “Biksu palsu? …Mengapa ada orang yang membunuh biksu palsu?”

Tidak seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Fang Long Xiang menghela napas, lalu berkata sambil tersenyum pahit, “Jika tidak keliru, di luar juga tentu ada mayat seorang biksu palsu lagi.”

Bai Yu-jing berkata, “Mayat biksu palsu lagi?”

Yuan Zi-xia berpegangan pada tangan Bai Yu-jing, dan berjalan masuk ke dalam paviliun mungil itu. Tangannya terasa dingin seperti es.

Bai Yu-jing berkata, “Kau kedinginan?”

Yuan Zi-xia berkata, “Aku bukan kedinginan, tapi ketakutan. Mengapa begitu banyak orang menyeramkan yang datang ke mari?”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata, “Mungkin mereka semua datang untukmu.”

Wajah Yuan Zi-xia makin pucat pasi dan ia berkata, “Untukku?”

Bai Yu-jing berkata, “Semakin menakutkan seseorang itu, semakin menarik pula wanita yang dia sukai.”

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata, “Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga orang yang amat menakutkan?”

Bai Yu-jing berkata, “Aku…”

Tiba-tiba ia melihat pintu kamar Yuan Zi-xia telah terbuka. Ia ingat, ketika mereka turun tadi, mereka telah menutup pintu dan membiarkan lampu kamar tetap menyala.

Yuan Zi-xia membawa enam atau tujuh buah kotak. Ada perempuan yang tidak mau membiarkan laki-laki melihat barang-barang miliknya berserakan di mana-mana. Yuan Zi-xia merasa malu, sekaligus gelisah, dia pun berseru, “Ada… ada pencuri.”

Tangan Bai Yu-jing mendorong pintu kamar itu hingga terbuka. Sebenarnya kamarnya masih lebih berantakan daripada kamar ini. Tapi Yuan Zi-xia tidak membiarkan dia melihat-lihat lagi, dan telah menariknya keluar. Dia tak mau membiarkan barang-barang miliknya dilihat oleh orang laki-laki, wajahnya sudah memerah hingga ke telinga.

Bai Yu-jing berkata, “Barang apa yang tidak boleh kulihat?”

Wajah Yuan Zi-xia makin memerah, ia pun berkata, “Aku…tidak… tidak ada barang berharga milikku yang dicuri orang.”

Bai Yu-jing menyeringai dan berkata, “Mungkin memang tidak ada pencurinya.”

Yuan Zi-xia berkata, “Mengapa pencuri itu tidak datang ke kamar yang lain dan mengacak-acak di sana?”

Bai Yu-jing berkata, “Agaknya mereka memang sedang mencariku.”

Yuan Zi-xia berkata, “Mencarimu? Siapa? Mengapa mereka mencarimu?”

Bai Yu-jing tidak menjawab, dia melangkah dan membuka daun jendela sebelah belakang.

Di lorong sempit berkabut itu tidak terlihat siapa-siapa.

Pengemis yang meminta makanan, pedagang kaki lima, si bungkuk bertopi sobek, semuanya entah ke mana.

Bai Yu-jing berkata, “Aku akan pergi untuk melihat-lihat keadaan.”

Dia baru saja membalikkan badan, tapi Yuan Zi-xia segera memburu dan memegang tangannya. Dia berkata, “Kau… jangan pergi, aku… aku… aku bisa mati ketakutan jika tidak ada orang lain yang berada di kamar ini.”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata, “Tapi aku…”

Yuan Zi-xia berkata, “Kumohon, kumohon padamu, sekarang aku benar-benar sangat ketakutan.” Wajahnya pucat seperti kertas, dadanya yang montok tampak kembang-kempis.

Bai Yu-jing memandangnya, sorot matanya melembut dan ia pun berkata, “Kau benar-benar ketakutan sekarang ini?”

Yuan Zi-xia berkata, “Mmm.”

Bai Yu-jing berkata, “Kalau tadi?”

Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan berkata, “Tadi… tadi aku berdusta padamu.”

Bai Yu-jing berkata, “Mengapa harus berdusta?”

Yuan Zi-xia berkata, “Karena aku…”

Wajahnya yang pucat juga sudah memerah, tiba-tiba ia memukuli dada Bai Yu-jing dan berkata, “Kenapa kau harus memaksa orang lain untuk mengatakannya? Kau memang bukan orang baik-baik.”

Bai Yu-jing berkata, “Karena aku bukan orang baik-baik, kau juga berani membiarkan aku tinggal di kamarmu ini?”

Wajah Yuan Zi-xia semakin memerah, ia pun berkata, “Aku akan menyerahkan tempat tidur ini untukmu. Aku akan beristirahat di lantai.”

Bai Yu-jing berkata, “Apakah aku tega membiarkanmu tidur di lantai?”

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata, “Tidak apa-apa, asal kau mau tinggal di sini, tidak usah perdulikan hal lainnya lagi.”

Bai Yu-jing berkata, “Naik ke ranjang!”

Yuan Zi-xia berkata, “Tidak…”

Yuan Zi-xia berbaring di atas ranjang.

Bai Yu-jing juga berbaring di atas ranjang.

Mereka sudah melepaskan sepatu mereka sebelum berbaring di atas tempat tidur itu. Tanpa sepatu, tapi pakaian masih dikenakan lengkap.

Setelah sekian lama, barulah Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata, “Aku tidak mengira kalau kau orang seperti ini.”

Bai Yu-jing berkata, “Aku juga tidak.”

Yuan Zi-xia berkata, “Kau… kau tidak khawatir kalau ada orang yang masuk?”

Bai Yu-jing berkata, “Sama sekali tidak.”

Yuan Zi-xia berkata, “Sama sekali tidak?”

Bai Yu-jing berkata, “Walaupun aku bukan seorang laki-laki sejati, aku juga bukan seorang bajingan yang akan mengambil keuntungan dari keadaan seseorang yang sedang tidak menentu.”

Ia mengulurkan tangannya dan membelai tangan si nona dengan lembut. Lalu ia berkata dengan suara yang lemah-lembut, “Mungkin karena aku menyukaimu, karena itu aku tidak mau menakut-nakutimu, apalagi dalam situasi yang kuciptakan sendiri.”

Yuan Zi-xia membelalakkan matanya dan berkata, “Kau sengaja memanggil orang-orang ini untuk menakut-nakutiku?”

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum getir, “Mungkin, tapi sebenarnya mereka sedang mencariku.”

Yuan Zi-xia berkata, “Mengapa mereka mencarimu?”

Bai Yu-jing berkata, “Karena ada sebuah benda yang sangat mereka inginkan berada di tubuhku.”

Yuan Zi-xia berkata dengan mata berkedip-kedip, “Apakah kau kira aku menginginkan benda itu, dan karena itu aku pun mencarimu?”

Bai Yu-jing berkata, “Aku tidak pernah punya pikiran seperti itu.”

Yuan Zi-xia berkata, “Jika aku memintanya darimu?”

Bai Yu-jing berkata, “Maka aku akan memberikannya.”

Yuan Zi-xia berkata, “Memberikan benda itu kepadaku?”

Bai Yu-jing berkata, “Mmm.”

Yuan Zi-xia berkata, “Benda itu begitu berharga, mengapa kau begitu mudah memberikannya padaku?”

Bai Yu-jing berkata, “Benda apa pun, asal kau membuka mulutmu, akan kuberikan padamu dengan segera.”

Yuan Zi-xia berkata, “Benarkah?”

Bai Yu-jing berkata, “Sekarang juga kuberikan padamu.”

Dia benar-benar memasukkan tangannya ke dalam bajunya.

Yuan Zi-xia tiba-tiba memeluknya erat-erat. Seluruh tubuhnya seperti dipenuhi perasaan yang hangat dan ia berkata dengan lembut, “Aku tidak ingin apa-apa, asal kau mau menemaniku…” Suaranya bercampur dengan isak tangis, air mata tiba-tiba telah mengalir turun.

Bai Yu-jing berkata, “Kau menangis?”

Yuan Zi-xia mengangguk dan berkata, “Karena aku terlalu bahagia.”

Ia menghapus air mata di wajahnya yang jatuh ke wajah Bai Yu-jing. Lalu ia berkata, “Lebih dulu ada yang hendak kukatakan padamu.”

Bai Yu-jing berkata, “Katakanlah, aku akan mendengarkan.”

Yuan Zi-xia berkata, “Aku diam-diam minggat dari rumah, karena ibuku memaksaku untuk menikah dengan seorang laki-laki tua yang kaya.” Ini cerita yang amat biasa, yang juga merupakan cerita yang amat kasar. Tapi dalam cerita semacam ini, entah berapa banyak air mata yang tumpah. Asal ada ibu yang serakah akan uang, dan ada laki-laki tua bernafsu besar di dunia ini, cerita seperti ini selamanya akan terus terjadi.

Yuan Zi-xia berkata, “Ketika aku minggat, aku hanya membawa sebuah perhiasan kecil bersamaku. Sekarang semuanya sudah terjual.”

Bai Yu-jing mendengarkan.

Yuan Zi-xia berkata, “Aku belum pernah bekerja mencari nafkah, karena itu… karena itu aku ingin mencari seorang pria.”

Perempuan memang tidak bisa hidup sendirian, biasanya mereka akan mencari seorang pria dambaan. Urusan seperti ini juga tidak akan pernah berubah.

Yuan Zi-xia berkata pula, “Saat itulah aku menemukanmu, tentu saja bukan karena aku menyukaimu, tapi cuma karena aku merasa kau amat meyakinkan, kau tentu bisa memberiku nafkah.”

Bai Yu-jing hanya tersenyum dipaksa.

Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut dan berkata, “Tapi sekarang, segalanya terasa berbeda.”

Bai Yu-jing berkata, “Apa perbedaannya?” Suaranya seperti menyimpan rasa sakit.

Yuan Zi-xia berkata dengan suara yang lembut, “Sekarang aku tahu bahwa aku tidak akan bisa menemukan laki-laki yang lebih baik darimu. Aku bisa menemukanmu, itulah nasib baikku, aku… aku benar-benar bahagia.”

Air matanya mengalir turun membasahi pipinya, ia memeluk Bai Yu-jing erat-erat. Lalu ia berkata, “Asal kau mau, aku akan memberikan segalanya kepadamu, aku tidak akan meninggalkanmu seumur hidupku…”

Bai Yu-jing tak tahan lagi dan balas memeluknya erat-erat, lalu katanya dengan suara yang lembut, “Apakah aku menginginkan dirimu? Bagaimana mungkin aku tidak menginginkanmu?”

Yuan Zi-xia tersenyum sambil menangis dan berkata, “Kau mau membawaku pergi?”

Bai Yu-jing berkata, “Sejak saat ini, tak perduli apa pun yang aku lakukan, aku tentu akan membawamu.”

Yuan Zi-xia berkata, “Benarkah?”

Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing membuka mulutnya dan menutup mulut laki-laki itu dengan mulutnya sendiri. Dia lalu berkata, “Aku tahu kau mungkin mulai jengkel, tapi aku hanya memintamu untuk tidak pergi dengan orang-orang itu. Kita tidak usah memperdulikan mereka dan pergi saja diam-diam dari tempat ini.”

Bai Yu-jing mengecup air mata yang membasahi wajahnya dan berkata, “Aku berjanji, aku akan berusaha sekuatnya untuk tidak pergi bersama mereka.”

Yuan Zi-xia berkata, “Sekarang juga kita pergi?”

Bai Yu-jing menghela napas, “Sekarang aku hanya khawatir kalau mereka yang tidak akan membiarkan kita pergi. Tapi jika kita menunggu sampai besok pagi, aku tentu akan punya cara untuk membawamu pergi, maka nantinya tidak ada lagi orang yang akan bisa mengganggu kita.”

Yuan Zi-xia tersenyum, sorot matanya memancarkan kegembiraan dan juga harapan akan kebahagiaan di masa depan. Akhirnya dia memperoleh apa yang dia inginkan. Seorang wanita cantik dengan sifatnya yang baik, mengapa hal ini tidak lebih sering terjadi sehingga mereka bisa memperoleh apa yang mereka dambakan?

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: