Kumpulan Cerita Silat

01/05/2010

Pedang Abadi – 1

Filed under: Tujuh Senjata — ceritasilat @ 6:53 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Tjan ID
Penerbit: See Yan Tjindjin

(Terima kasih kepada uploader-ansari)

Bab 1: Losmen Angin Dan Awan

“Kota pualam putih di langit,
Punya lima menara dan duabelas benteng,
Di mana dewa berdiam di atas kepalaku,
Memelihara rambut yang panjang dan hidupku bersamanya.”
(Li Bai)*

Senja.

Di atas jalan berpelat batu itu, sembilan orang yang berpenampilan aneh muncul, semuanya memakai baju tunik dari kain rami, sepatu rami, dan anting-anting emas sebesar mangkuk di daun telinga kiri mereka. Semuanya berambut merah acak-acakan yang terurai di bahu mereka seperti bara api.

Di antara sembilan orang itu, ada yang bertubuh jangkung, pendek, tua, muda; masing-masing dengan wajah yang berbeda, tapi semuanya sama-sama menampilkan ekspresi wajah seperti mayat. Mereka berjalan tanpa menggerakkan bahu ataupun menekuk lutut, persis seperti mayat hidup.

Perlahan mereka melangkah dalam bentuk barisan menyusuri jalan yang panjang itu, membuat hening setiap tempat yang mereka lewati. Bahkan anak-anak pun tiba-tiba berhenti menangis karena ketakutan.

Di ujung jalan, empat buah lentera raksasa terpasang di puncak sebuah tiang bendera setinggi sepuluh meter.

Lentera merah yang terang-benderang, tulisan yang hitam mengkilap!

Tertulis di situ: “Losmen Angin dan Awan”.

Sembilan manusia aneh berambut merah itu berjalan sampai di pintu losmen dan berhenti.

Orang pertama lalu melepaskan anting-anting emasnya dan mengayunkan tangannya. Duk! Anting-anting besar itu menghantam dinding batu di samping pintu gerbang bercat hitam. Percikan api tampak berlompatan ketika anting-anting itu menancap di batu.

Orang kedua lalu mengambil segumpal rambut merah dari pundaknya dan memotong rambut itu dengan tangan kirinya, seakan-akan sedang memotong dengan sebilah pisau. Kemudian orang kedua itu mengikatkan potongan rambut tadi pada anting-anting yang menancap di dinding. Lalu kesembilan orang itu meneruskan langkah mereka.

Untaian rambut merah itu melambai-lambai dalam hembusan angin seperti bara api, tapi kesembilan orang tadi telah menghilang dalam kegelapan yang tiada batas.

Tepat pada saat itulah delapan ekor kuda yang kekar berlari mendekat dari balik kegelapan. Bunyi derap kaki kuda terdengar bergemuruh di atas jalan batu itu seperti hujan badai yang menghantam daun jendela atau genderang yang dipukul bertalu-talu di medan perang.

Semua penunggangnya memakai baju hijau, kain putih melilit di kepala mereka, sepatu yang berujung runcing dan kain pembalut yang melilit di betis mereka. Setiap orang dari mereka tampak gagah dan tangkas.

Ketika delapan ekor kuda itu melesat melewati “Losmen Angin dan Awan”, kedelapan orang penunggangnya semuanya mengayunkan tangan pada saat yang bersamaan. Terlihat kilauan golok seperti petir dan terdengar bunyi “DUKK!”.

Tiba-tiba, sekarang sudah ada delapan buah golok baja yang berkilauan tertancap di tiang bendera yang tebal itu.

Gagang golok masih bergetar, pita sutera merah di gagangnya masih terayun kian ke mari.

Tapi kedelapan ekor kuda itu sudah menghilang.

—-

Kegelapan semakin pekat.

Bunyi derap kaki kuda tiba-tiba kembali bergema di jalan, agaknya gemuruhnya bahkan lebih keras daripada yang ditimbulkan gerombolan yang baru lewat tadi. Tapi ternyata hanya seekor kuda yang muncul.

Seekor kuda yang putih mulus tanpa cacat dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, sudah tiba di depan pintu. Bersamaan dengan suara ringkik kuda, penunggangnya pun segera menegakkan badannya. Terlihat dengan jelas bahwa penunggangnya adalah seorang lelaki kekar tak berbaju dengan jenggot yang ikal. Otot-otot di tubuhnya yang hitam tampak seolah-olah terbuat dari baja.

Orang itu menarik tali kekang dan melihat anting-anting emas dan rambut merah di dekat pintu serta delapan buah golok yang menancap di atas tiang bendera. Sambil menyeringai, dia pun melompat turun dari pelana dan tangan kanan-kirinya masing-masing mencengkeram sebelah kaki kudanya.

Dengan mengeluarkan suara raungan yang mengguntur, orang itu lalu mengangkat kudanya tinggi-tinggi di udara dan meletakkannya di atas wuwungan pintu.

Kembali terdengar suara ringkikan kuda. Bulu surai kuda itu menari-nari di udara, tapi keempat kakinya, tanpa bergerak sedikit pun, seperti sudah menancap di wuwungan itu.

Si brewok pun tertawa terbahak-bahak dengan kepala menengadah ke atas, kemudian dia melangkah pergi. Dalam sekejap mata dia sudah menghilang, tapi kuda putih itu ditinggal sendirian, berdiri di bawah awan gelap dan tiupan angin barat, menyebabkan timbulnya suasana seram di udara.

—–

Jalan yang panjang itu sunyi senyap karena semua orang sudah menutup pintu rumah mereka.

“Losmen Angin dan Awan” juga tidak berpenghuni. Bila pelanggan losmen melihat anting-anting emas dan delapan bilah golok itu, diam-diam mereka tentu akan menyelinap keluar lewat pintu belakang.

Tapi kuda putih itu masih berdiri tanpa bergerak, seperti patung batu, menantang datangnya hembusan angin barat.

Tiba-tiba seorang pelajar berwajah tirus, berusia setengah baya, berbaju biru dan berkaus kaki putih, pelan-pelan berjalan mendekat dengan gaya yang sangat santai, tapi sepasang matanya tampak berkilat-kilat dengan tajam.

Ia berjalan pelan-pelan ke arah losmen itu dengan bergendong tangan, mengangkat dagunya untuk melihat dan menarik napas, “Kuda yang hebat! Benar-benar kuda yang hebat, tapi pemiliknya tidak punya hati dan menyalahimu.”

Tiba-tiba ia mengibaskan sebelah tangannya dari balik punggungnya, lengan bajunya yang panjang pun berkibar-kibar, membawa gelombang angin yang kuat.

Kuda putih itu ketakutan dan meringkik lagi, seolah dia hendak melompat turun dari wuwungan pintu.

Pelajar setengah baya itu menyangga perut kuda dengan kedua tangannya dan menurunkan hewan itu ke atas tanah dengan perlahan. Lalu dia menepuk-nepuk pantatnya dan berkata, “Pulanglah dan beritahu majikanmu untuk datang ke mari. Katakan saja ada seorang teman baik yang menunggunya.”

Seolah-olah memahami maksud laki-laki itu, kuda putih itu segera berlari pergi dari tempat itu.

Si pelajar setengah baya lalu menurunkan anting-anting emas di pinggir pintu dan kemudian melangkah masuk ke dalam losmen dan menepuk tiang bendera.

Delapan buah golok itu semuanya jatuh pada saat yang bersamaan.

Si pelajar mengibaskan lengan bajunya lagi dan mengepit kedelapan golok itu dalam lengan bajunya. Lalu ia bertanya dengan nada serius, “Di mana benderanya?”

Sesosok bayangan yang kecil dan kurus tiba-tiba melesat keluar dari dalam losmen, memanjat tiang bendera seperti seekor kera, dan dalam beberapa detik sudah tiba di puncak.

Sehelai bendera besar tiba-tiba bergulung keluar dari ujung tiang.

Di atas kain bendera itu terpampang gambar seekor naga hitam yang perkasa, tampak seolah-olah akan melesat melewati awan dan terbang pergi setiap saat!

2. Malam.

Tidak ada bintang ataupun rembulan dengan awan yang gelap dan angin yang kencang. Tapi di taman itu lampu-lampu tampak terang-benderang dan di atas meja pun sudah tersedia arak.

Si pelajar setengah baya tampak bergumam sendirian sambil minum arak. Tiba-tiba ia mengangkat cawannya ke arah sebatang pohon beringin besar di luar taman dan tersenyum, “Kudengar kemasyuran ketua Miao sudah tersebar melintasi sungai dan samudera. Karena kau sudah berada di sini, mengapa tidak turun dan ikut minum bersamaku?”

Dari balik daun-daun pohon beringin yang lebat itu, terdengar suara tawa yang aneh seperti bunyi kukuk-beluk (burung hantu). Sesosok bayangan melesat seperti anak panah dan mendarat di atas tanah dengan ringan seperti sepotong kapas yang hanya berbobot empat ons.

Hidung orang ini seperti hidung anjing, mulutnya lebar, kepalanya berambut merah, dan memakai tiga buah anting-anting emas di telinganya. Walau dia telah berada di atas tanah, anting-antingnya masih bergemerincing. Dialah ketua dari Perkumpulan Rambut Merah, Miao Shao-tian.

Sepasang matanya, seperti bara api yang berkobar-kobar, menatap si pelajar setengah baya, dan berkata dengan suara berat, “Apakah tuan adalah Tuan Gong-suen dari Perkumpulan Naga Hijau?”

Si pelajar bangkit berdiri dan membungkuk sambil bersoja dan menjawab, “Ya, itulah aku, Gong-suen Jing.”

Tawa Miao Shao-tian yang seperti kukuk-beluk kembali terdengar menggelegar, “Benar-benar pantas menjadi tokoh penting dalam Perkumpulan Naga Hijau, mata yang amat tajam.”

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda yang bergemuruh seperti bunyi hujan lebat, datang mendekat ke arah mereka.

Sepasang alis Miao Shao-tian segera dikerutkan dan dia pun berkata, “Zhang kecil juga sudah tiba. Sama sekali tidak lambat.”

Bunyi derap kaki kuda sekonyong-konyong berhenti. Terdengar suara tawa yang jernih, “Hari penting bagi Naga Hijau, di dunia ini siapa yang berani datang terlambat?”

Sementara suara tawa yang jernih itu masih berkumandang di udara, tahu-tahu seseorang sudah melompati tembok masuk ke dalam. Orang itu berbaju ringkas, sengaja dibiarkan terbuka di bagian dada untuk memperlihatkan dada berototnya yang bahkan lebih putih daripada bajunya.

Miao Shao-tian mengacungkan jempolnya dan mendengus, “Zhang San kecil si ’Kuda Putih’ yang hebat. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi tampaknya kau malah semakin muda dan tampan? Jika Miao tua ini punya seorang puteri, aku tentu akan mengambilmu sebagai menantu.”

“Walau kau punya seorang puteri, tak seorang pun yang akan berani meminangnya,” jawab Kuda Putih Zhang San dengan ringan.

“Kenapa?” Miao Shao-tian menatapnya.

“Dilihat dari keangkeranmu, puterimu tentu tidak akan jauh beda.”

Miao Shao-tian menatapnya, menatapnya sekian lama sampai akhirnya ia menjawab, “Kita datang ke mari hari ini untuk berdagang, dan jangan coba-coba untuk memulai perkelahian.”

“Bagaimana dengan minum arak?” tanya Kuda Putih Zhang San.

“Kalau itu, tak usah berlama-lama. Ayo, mari kita bersulang tiga cawan untuk Tuan Gong-suen dulu.”

Gong-suen Jing tertawa, “Kekuatan minum arakku cukup terbatas. Bagaimana kalau aku dulu yang bersulang untuk kalian sebanyak tiga cawan?”

Miao Shao-tian mengerutkan alisnya, “Tiga cawan?”

Terdengar suara tawa seseorang dari wuwungan atap bangunan sebelah, “Rambut Merah dari Sungai Timur dan Kuda Putih dari Sungai Barat sudah tiba, betapa lancangnya diriku karena datang terlambat.”

Miao Shao-tian bertanya, “Zhao Yi-dao dari Tai-xing?” Tapi ia tidak perlu menunggu jawabannya.

Ia sudah melihat golok yang berkilauan itu, golok yang tajam! Tidak ada sarungnya.

Golok yang berkilauan itu diselipkan langsung di ikat pinggangnya yang berwarna merah.

Baju hijau, ikat kepala putih, dan sabuk yang lebih merah daripada rambut Miao Shao-tian, amat sesuai dengan pita yang terlilit di goloknya.

Sorot mata Gong-suen Jing tajam seperti golok, menusuk langsung ke wajah orang itu, “Perkumpulan Naga Hijau menyebarkan duabelas surat undangan, tapi hanya kalian bertiga yang datang malam ini. Apakah kesembilan orang lainnya tidak akan datang?”

“Bagus, pertanyaan yang amat langsung ke tujuan,” kata Zhao Yi-dao.

“Kalian bertiga datang dari tempat yang jauhnya ribuan mil, tentu kalian bukan datang untuk mendengarkan omong kosong,” Gong-suen Jing berkata.

“Tentu saja tidak.”

Miao Shao-tian menyeringai seram, “Dari sisa sembilan orang tamu itu, setidaknya ada tiga orang yang tak akan datang.”

Zhao Yi-dao meralat, “Enam orang.”

“Perkumpulan Daun Bambu, Sekte Cincin Baja, dan keluarga Li dari Tai-yuan adalah hasil perbuatanku,” kata Miao Shao-tian.

Zhao Yi-dao menambahkan, “Ketiga teman kita dari Perserikatan Duabelas Ayam, dari Perairan Yangtze, dan Tinju keluarga Yen dari Chen-zhou, tiba-tiba merasa sakit kepala ketika mereka berada dalam perjalanan ke sini, maka…”

“Maka… apa?”

“Sekarang, kepala mereka tidak sakit lagi,” Zhao Yi-dao menjawab.

“Siapa yang mengobati mereka?”

“Aku.”

“Bagaimana caranya?”

Zhao Yi-dao menjawab, “Aku menebas putus kepala mereka.” Lalu ia menambahkan dengan lambat, “Siapa pun yang kepalanya ditebas putus, mereka tidak akan pernah sakit kepala lagi.”

Miao Shao-tian tertawa, “Cara yang bagus, sangat mujarab.”

Kuda Putih Zhang San sekonyong-konyong berkata, “Aku khawatir dua tetua dari Perkampungan Seribu Bambu dan Kuil Ikan Terbang juga tidak akan datang.”

“Oh?”

“Mereka sedang tidur, dan tidurnya amat lelap.”

“Di mana mereka tidur?”

“Di dasar Danau Dong-ting.”

Miao Shao-tian tertawa, “Cerdik sekali. Tempat itu bukan saja sejuk, tapi juga tak akan pernah diganggu orang.”

Kuda Putih Zhang San menjawab dengan tenang, “Aku selalu sangat memperhatikan tetua-tetua dari Wulin.”

Zhao Yi-dao berkata, “Orang-orang yang seharusnya berada di sini, seharusnya juga sudah tiba, tapi di mana orang-orang Perkumpulan Naga Hijau?”

“Bagus, pertanyaan yang langsung ke tujuan,” jawab Gong-suen Jing.

“Tuan mengundang kami ke sini bukan untuk mendengarkan omong kosong belaka, kurasa.”

Gong-Suen Jing mengangguk, “Memang bukan.”

Zhao Yi-dao bertanya, “Bersediakah kau dengar dulu berapa hargaku?”

“Jangan sekarang.”

“Apa lagi yang kita tunggu?” tanya Zhao Yi-dao.

“Barang itu tidak kami dapatkan dengan mudah; semakin banyak orang yang ikut dalam pelelangan ini, akan lebih baik pula harganya.”

Miao Shao-tian menatap dengan tajam, “Kau masih menunggu seseorang?”

“Jangan lupa, aku mengundang sembilan orang tamu lagi ke sini, tapi kalian baru menghabisi delapan orang di antaranya.”

“Siapa yang masih tersisa?”

“Orang yang tidak sakit kepala ataupun tertidur.”

“Sejujurnya, barang itu tentu akan jatuh ke tangan kami Perkumpulan Rambut Merah, jadi tidak usah perdulikan apakah ada lagi orang yang akan datang,” seringai Miao Shao-tian.

Kuda Putih Zhang San mengejek dengan dingin, “Perkumpulan Naga Hijau selalu adil dalam berdagang. Asal tawaran hargamu adalah yang tertinggi, barang itu tentu akan jatuh ke tangan Perkumpulan Rambut Merah.”

Miao Shao-tian berkata dengan kasar, “Kalian ingin bersaing denganku?”

“Untuk apa lagi kami datang?”

Miao Shao-tian segera bangkit dan menatapnya dengan tajam. Anting-anting emas di telinganya masih bergemerincing.

Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dan ringkik kuda. Sebuah kereta yang indah, ditarik oleh enam ekor kuda, berhenti di luar.

Empat orang laki-laki kekar berdada bidang yang berpegangan pada kereta itu, lalu melompat turun, dan membungkuk untuk membukakan pintu.

Setelah sekian lama, seorang laki-laki bermuka pucat, tidak berjenggot dan amat gemuk, melangkah keluar dari kereta dengan terengah-engah. Belum ada tiga langkah, dia sudah kelelahan dan megap-megap mencari napas seperti seekor kerbau yang habis membajak sawah.

Di belakangnya, seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian hitam, mengikutinya seperti bayangan. Wajahnya berwarna coklat dan kedua matanya cekung, persis seperti roh halus yang sedang sakit. Tapi langkah kakinya amat ringan dan dua buah benda yang berkilauan tampak tergantung di pinggangnya. Bila dilihat lebih dekat, benda-benda itu adalah sepasang pedang yang berbentuk unik.

Senjata semacam itu bukan saja sulit dilatih, tapi juga sukar untuk dibuat. Orang-orang yang menggunakan senjata seperti ini amatlah langka, tapi siapa pun yang memakai senjata ini, sembilan dari sepuluh orang tentulah jago yang tangguh.

Miao Shao-tian, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San, tiga pasang mata, semuanya segera tertuju pada sepasang pedang yang unik itu.

Kuda Putih Zhang San mengerutkan alis sambil bertanya dengan pelan, “Siapa dia?”

Gong-suen Jing menjawab, “Tuan Muda Zhu dari Gedung Sejuta Emas di Suzhou.”

“Dan pengawalnya?”

Gong-suen Jing tersenyum, “Aku khawatir dia cuma seorang pengawal.”

Kuda Putih Zhang San terdiam, tapi tiba-tiba dia berpaling kepada Zhao Yi-dao, “Bukankah dia datang dari arahmu?”

“Kurasa begitu,” jawab Zhao Yi-dao.

“Kenapa dia tidak sakit kepala?”

“Walaupun dia sakit kepala, aku tidak bisa mengobatinya.”

“Kenapa?”

“Kepalanya terlalu besar,” kata Zhao Yi-dao dengan nada ringan.

—–

Tuan Muda Zhu sudah duduk, tapi tak henti-hentinya dia menghapus peluhnya dan terengah-engah.

Dia cuma berjalan paling banyak duapuluh atau tigapuluh langkah, tapi kelihatannya seperti baru saja mendaki tujuh atau delapan buah gunung.

Laki-laki baju hitam itu tetap menempel di belakangnya seperti bayangan, tidak pernah lebih dari satu inci pun dari sisinya, sepasang tangannya yang kurus seperti cakar burung tak pernah meninggalkan senjata unik yang tergantung di pinggangnya.

Matanya yang cekung itu seperti mengejek, seolah-olah menertawakan siapa pun yang berdiri di depannya, seakan-akan bertanya mengapa mereka membuang-buang waktu mereka datang ke sini.

Lampu lentera Losmen Angin Dan Awan bergoyang-goyang tertiup angin; persis seperti anting-anting emas Miao Shao-tian yang selalu bergemerincing itu.

Kuda Putih Zhang San merasa kedinginan, dan pelan-pelan menarik bajunya menutupi dadanya yang telanjang, sehingga hanya sedikit bagian dadanya yang masih belum tertutupi.

Zhao Yi-dao seperti sedang termenung menatap cawan arak di atas meja, seolah-olah sedang mengambil keputusan mengenai suatu masalah yang rumit.

Tidak seorang pun yang bicara karena hawa permusuhan terasa tebal di antara orang-orang yang hadir.

Gong-suen Jing jelas sedang menikmati hawa permusuhan itu. Pelan-pelan ia menarik napas dan tersenyum, “Kalian berempat tidak kenal satu sama lain, tapi tentu pernah mendengar nama masing-masing. Karena itu, aku tidak perlu memperkenalkan kalian lagi.”

“Memang tidak,” kata Miao Shao-tian.

“Kami datang ke mari bukan untuk mencari teman,” tambah Kuda Putih Zhang San.

“Walaupun seandainya kami berteman, untuk benda itu kami tidak akan berteman lagi,” Miao Shao-tian memutar bola matanya ke samping untuk meliriknya.

Kuda Putih Zhang San mengejek, “Ucapan Ketua Miao memang selalu masuk di akal.”

Miao Shao-tian balas mencemooh, “Sekarang semua orang sudah ada di sini, di mana barangnya?”

“Tentu saja barangnya ada, tapi…” kata Gong-suen Jing.

“Tapi…apa?”

“Perkumpulan Naga Hijau selalu mengikuti aturan ketika sedang berdagang. Kami selalu bersikap adil, baik kepada pelanggan yang tua maupun muda, dan pertukaran uang hanya berlangsung di tempat.”

“Baik!” Miao Shao-Tian setuju.

Dia lalu bertepuk tangan, dan sembilan orang laki-laki aneh berbaju tunik tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Setiap orang memegang sebuah tas dari kain tunik, jelas tidak ringan bobotnya.

Pada saat itulah kembali terdengar bunyi langkah kaki yang berat di pintu. Laki-laki berjenggot ikal itu pun datang membawa sebuah peti besi berukuran besar di atas kepalanya, sambil melangkah masuk dengan perlahan-lahan. Otot-ototnya yang hitam seperti besi tampak menonjol keluar. Setiap kali melangkah, kakinya selalu meninggalkan jejak kaki yang dalam di permukaan tanah.

“Anting-anting emas mengelilingi delapan tembok, kuda putih meringkik dalam hembusan angin, sekarang aku sudah melihat, aku lihat Sembilan Pendekar Rambut Merah dan Raksasa Besi pun telah datang,” Gong-suen Jing tersenyum.

“Jangan lupakan pula Delapan Golok Pemusnah,” tambah Kuda Putih Zhang San.

Zhao Yi-dao akhirnya mengangkat kepalanya dan tertawa, “Rambut Merah dari Sungai Timur dan Kuda Putih dari Sungai Barat, keduanya memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar. Bagaimana mungkin Golok-golok Kilat dari Tai-xing bisa bersaing untuk menjadi yang terdepan? Untuk barang ini, kami bersaudara akan mengundurkan diri dari persaingan.”

Miao Shao-tian tertawa terbahak-bahak, “Bagus, Ketua Zhao memang berakal sehat.”

Tawanya tiba-tiba berhenti, sorot matanya yang seperti api terpaku pada Tuan Muda Zhu, “Bagaimana dengan tuan muda dari Gedung Sejuta Emas?”

Napas Tuan Muda Zhu yang berat itu akhirnya berhenti dan ia lalu menatap tangannya seperti seorang pemuda yang sedang memandang kekasih pertamanya.

Tapi ia tetap menjawab pertanyaan Miao Shao-tian dengan pertanyaan pula, “Kau menanyakan tawaranku?”

“Hmm!”

“Tidak ada, aku biasanya terlalu malas untuk berpikir.”

Wajah Miao Shao-tian sekarang memperlihatkan kemarahannya, “Tidak ada tawaran? Tidak ada emas?”

“Ada.”

“Berapa banyak yang kau bawa?”

“Kau ingin melihatnya?”

“Di sini, mereka amat menekankan pada pertukaran uang tunai di tempat.”

“Kau sudah melihatnya.”

“Di mana?”

“Kata-kataku adalah emas.”

Wajah Miao Shao-tian menjadi serius, “Jadi berapa banyak pun yang kau katakan, jumlahnya pasti tersedia?”

“Benar.”

“Maksudmu, jika aku menawar seratus ribu, kau akan menawar seratus ribu satu?”

“Kau memang orang yang bijak.”

Tatapan mata Miao Shao-tian tiba-tiba bergeser ke arah sepasang pedang berbentuk unik itu.

Sembilan manusia aneh berambut merah dan berbaju tunik diam-diam telah bergerak mengepung Tuan Muda Zhu. Tapi Tuan Muda Zhu tetap menatap sepasang tangannya. Seolah, selain kedua tangannya itu, tidak ada lagi yang berharga untuk dipandang.

Dengan bunyi “tring!”, seperti dua buah cawan emas yang berbenturan, tangan Miao Shao-tian telah mencakar ke arah sepasang pedang yang unik itu.

Gerak-geriknya tangkas dan akurat.

Dia tidak pernah mengira kalau sepasang tangan lain ternyata bergerak lebih cepat daripada sepasang tangannya yang gemuk dan terperlihara dengan baik.

Tangannya belum sempat menjangkau sepasang pedang unik itu, tapi sepasang tangan lain itu tahu-tahu sudah merenggut anting-anting emas dari telinganya.

Anting-anting emas itu berbenturan satu sama lain, dan terdengar bunyi “tring” lagi.

Miao Shao-tian berjumpalitan tinggi-tinggi di udara dan mundur sejauh enam meter.

Laki-laki baju hitam itu tetap menempel di belakang Tuan Muda Zhu seperti bayangan, sama sekali tidak bergerak.

Tuan Muda Zhu masih menatap sepasang tangannya, cuma kali ini, anehnya, tangan itu sudah menggenggam sepasang anting-anting yang terbuat dari emas.

—–

Ekspresi wajah Kuda Putih Zhang San pun berubah.

Zhao Yi-dao menatap cawan arak di hadapannya dan tiba-tiba menghela napas, “Sekarang kalian sudah paham apa maksudku?”

“Artinya?”

“Walaupun dia punya sakit kepala, aku tidak bisa mengobatinya.”

Kuda Putih Zhang San tak kuasa untuk tidak menghela napas juga, “Ya, kepala ini memang terlalu besar.”

—–

Gong-suen Jing tersenyum tipis, lalu berkata dengan perlahan-lahan, “Karena semua orang sudah membawa uangnya, kita akan pergi melihat barang itu.”

“Benar, sebaiknya kita lihat dulu barang itu. Mungkin saja aku nanti tidak jadi mengajukan penawaran,” kata Tuan Muda Zhu dengan santai.

Dia meletakkan anting-anting emas di tangannya ke atas meja, mengeluarkan sehelai kain sutera seputih salju untuk menghapus keringatnya dengan hati-hati, dan akhirnya bangkit berdiri, “Silakan, silakan tunjukkan jalannya.”

—–

“Silakan, silakan ikuti aku,” kata Gong-suen Jing.

Dia yang lebih dulu berjalan memasuki losmen itu, diikuti dari belakang oleh Tuan Muda Zhu dengan perlahan-lahan, sepertinya dia sudah akan terengah-engah lagi.

Laki-laki baju hitam tetap mengikuti, tidak lebih dari selangkah jauhnya dari Tuan Muda Zhu. Sekarang Kuda Putih Zhang San pun paham kenapa mata orang ini menyimpan sorot mata yang mencemooh.

Dia bukan memandang rendah orang-orang di sekitarnya, tapi malahan memandang remeh dirinya sendiri. Karena hanya dia yang paham bahwa orang yang dia lindungi sebenarnya tidak membutuhkan perlindungannya sama sekali.

—–

Miao Shao-tian berjalan di urutan terakhir, sambil mencengkeram sepasang anting emasnya erat-erat, sehingga urat-urat biru di punggung tangannya menonjol keluar. Dia seharusnya tidak ikut, tapi dia harus ikut. Benda itu seperti memiliki daya tarik yang aneh, menarik dirinya ke arahnya selangkah demi selangkah. Sampai saat terakhir pun dia tidak akan melepaskan kesempatan itu.

Tangga batu itu mula-mula menuju ke atas, tapi sekarang tiba-tiba menurun ke bawah, memperlihatkan sebuah lorong yang gelap.

Di pintu lorong, berdiri dua orang manusia yang mirip patung. Setiap sepuluh langkah setelah itu juga berdiri dua orang laki-laki, seperti dua orang pertama. Wajah mereka kelam seperti dinding batu hijau.

Di dinding batu itu terukir seekor naga hijau perkasa.

Menurut kabar angin, Perkumpulan Naga Hijau mempunyai tiga ratus enampuluh lima cabang. Tempat ini tentu salah satunya.

Di ujung lorong, ada sepasang jeruji besi yang amat tebal.

Gong-suen Jing mengeluarkan serenteng besar kunci dari sabuknya dan menggunakan tiga buah dari kunci-kunci itu untuk membuka tiga buah gembok. Baru kemudian dua orang penjaga di balik jeruji itu mendorong pintu hingga terbuka.

Tapi ini bukanlah pintu terakhir.

Gong-suen Jing tersenyum lembut, “Aku tahu banyak orang yang mampu untuk datang ke mari; keamanan di tempat ini bukanlah yang paling sulit ditembus. Tetapi bergerak maju mulai dari sini adalah tugas yang berat.”

“Mengapa?” tanya Tuan Muda Zhu.

“Di antara titik ini dan pintu batu di sana itu, total ada tigapuluh macam perangkap tersembunyi. Bisa kujamin bahwa cuma tujuh orang di dunia ini yang bisa melewati semuanya.”

Tuan Muda Zhu menghela napas, “Untunglah, tentu aku bukan salah satu dari ketujuh orang itu.”

“Mengapa kau tidak mencoba?” kata Gong-suen Jing dengan sikap yang makin ramah.

“Mungkin aku akan mencobanya lain kali, tapi tidak sekarang.”

“Mengapa tidak?”

“Karena aku masih amat senang dengan hidupku sekarang ini.”

—–

Jarak dari jeruji besi ke pintu batu itu tidak terlalu jauh, tapi setelah mendengar kata-kata Gong-suen Jing, pintu batu itu seperti menjadi sepuluh kali lebih jauh.

Pintu batu itu tidak berat.

Kembali Gong-suen Jing menggunakan tiga buah kunci untuk membuka gembok-gembok di pintu itu.

Di balik pintu setebal dua kaki itu terdapat sebuah sel batu selebar sembilan kaki.

Ruangan itu terasa menyeramkan dan dingin, seolah-olah sedang berada di tengah kuburan kaisar jaman kuno.

Di mana seharusnya peti mati berada, malah ada sebuah peti besi yang amat besar.

Untuk membuka peti ini, dibutuhkan paling sedikit tiga buah kunci lagi. Tapi ketiga kunci ini bukanlah yang terakhir, karena di dalam peti itu ada lagi sebuah peti besi yang lebih kecil.

Tuan Muda Zhu kembali menghela napas, “Menilik keamanan yang amat ketat ini, seharusnya kita mengajukan penawaran yang lebih tinggi.”

“Tuan Muda Zhu memang orang yang bijak,” seringai Gong-suen Jing.

Ia mengeluarkan peti kecil itu dan membukanya.

Senyumnya yang ramah tiba-tiba lenyap, ekspresi wajahnya seperti orang yang disumpal mulutnya dengan sebutir buah kesemek busuk.

—–

Peti besi kecil itu kosong melompong, hanya ada sehelai kertas di dalamnya.

Di atas kertas tertulis, “Terima kasih, kau memang orang yang baik.”

—–

Kamar batu itu seram dan dingin, tapi Gong-suen Jing malah mengucurkan keringat. Butir-butir keringat sebesar kacang kedelai pun mengucur di wajahnya yang pucat.

Tuan Muda Zhu memandangnya, sorot matanya lembut seperti ketika dia sedang menatap tangannya sendiri, dan katanya dengan lembut, “Kau tentu tahu.”

“Tahu…tahu apa?”

“Tahu siapa yang berterima-kasih padamu.”

Gong-suen Jing mengepalkan tinjunya dan tiba-tiba membalikkan badan dan berlari keluar.

Tuan Muda Zhu menarik napas dan bergumam, “Agaknya dia benar-benar orang yang baik. Sayangnya, mereka bilang orang yang baik tidak akan berumur panjang…”

—–

“Misalkan benar-benar cuma tujuh orang yang bisa melewati ketigapuluh perangkap tadi, siapa saja ketujuh orang itu?”

“Ada satu orang yang jelas tidak akan menemui hambatan sama sekali. Tak perduli bagaimanapun caramu menentukan ketujuh orang itu, dia tetap harus menjadi salah satu dari ketujuh orang itu.”

“Siapa dia?”

“Bai Yu-jing!”

Dipublikasi ulang oleh Cerita Silat – WordPress

3 Comments »

  1. wah ceritanya blum seru ni

    Comment by alanksyam — 26/04/2011 @ 9:45 am

    • kan baru mulai

      Comment by lambang — 16/05/2012 @ 3:24 am

  2. keren

    Comment by lambang — 16/05/2012 @ 3:23 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: