Kumpulan Cerita Silat

31/05/2010

Renjana Pendekar – 21 – Tamat

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, dan M_haury)

Kwe Pian-sian menghela napas, ia tahu tiada gunanya lagi main sembunyi-sembunyi. Sekalian ia lantas berdiri, dia mengangguk pelahan terhadap Hay-hong Hujin dengan tersenyum, sikapnya seolah kejut, heran dan juga girang, seperti kekasih yang mendadak berjumpa kembali setelah berpisah sekian tahun lamanya. Kaceknya cuma dia tidak terus berlari maju dan merangkul atau memegang tangannya untuk menyatakan rasa rindunya selama berpisah itu.

Namun Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, seakan-akan di situ tiada terdapat seorang macam Kwe Pian-sian. Sebaliknya ia malah berkata terhadap Ji Hong-ho dengan tersenyum, “Ada satu hal yang sangat mengherankan aku?”
(more…)

Advertisements

30/05/2010

Renjana Pendekar – 20

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:26 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)

“Tapi masih ada satu hal yang tidak diketahui nona,” kata Oh-lolo dengan tertawa.

“Oo? Hal apa?” tanya Lui-ji.
(more…)

29/05/2010

Renjana Pendekar – 19

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 10:23 pm

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)

Setelah melayang keluar dari biara itu, detak jantung Ji Pwe-giok belum lagi hilang.

Sesungguhnya siapakah gerangan orang yang telah menyelamatkannya?
(more…)

28/05/2010

Renjana Pendekar – 18

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:23 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Bsarwono, Budiwibowo, Koedanil, Kris_jusuf, dan Sukantas009)

Sebaliknya Dian Ce-hun juga tidak menyangka pemuda cakap yang tampaknya lemah lembut ini, ternyata memiliki tenaga sakti sekuat ini. Dia menahan dari atas, jadi posisinya lebih menguntungkan, tapi ternyata kedua tangan lawan ternyata tetap keras bagai baja, betapapun dia mengerahkan tenaga lagi tetap tak mampu menekannya ke bawah.

Karena adu tenaga, hanya sekejap saja kedua orang sudah sama-sama berkeringat. Diam-diam Dian Ce-hun menyesal, tidak seharusnya dia beradu tenaga dalam dengan lawan.
(more…)

27/05/2010

Renjana Pendekar – 17

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 10:23 pm

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Koedanil, Kunamisme, dan Tingsen)

Setelah memetik bunga mawar itu, tanpa berpaling lagi Cu Lui-ji lantas kembali ke loteng sana.

Ko Tiong dan lelaki baju hijau itu terpesona, wajah mereka tampak linglung seperti tergila-gila kepada anak dara itu sehingga lupa daratan.
(more…)

26/05/2010

Renjana Pendekar – 16

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 2:17 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Ipan, dan Kunamisme)

Si Sakit telah memejamkan matanya, tapi mata si nona cilik justeru gemerdep di dalam kegelapan. Diam-diam Pwe-giok mendekatinya dan bertanya dengan suara halus, “Adik cilik, siapa namamu?”

“Ah, pertemuan secara kebetulan, untuk apa anda tahu namaku.” jawab anak perempuan itu dengan sayu.
(more…)

25/05/2010

Renjana Pendekar – 15

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 12:17 pm

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Linghu, dan Mogei)

Ciong Cing memandangnya sejenak, ia mulai tenang, jawabnya dengan tersenyum ewa, “Sudah tentu aku tidak berbuat salah apa-apa, aku cuma mencoba dirimu saja.”

Pwe-giok menghela napas, katanya dengan suara halus:
(more…)

24/05/2010

Renjana Pendekar – 14

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:31 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, dan M_haury)

Sekilas itu Gin-hoa-nio sudah dapat membedakan arah mulut gua, segera ia melayang ke sana secepat terbang, baru sekarang ia merasakan bobot tubuh Tong Giok sangat berat, hakekatnya anak muda itu seperti tidak mau ikut pergi kalau tidak diseret.

Dalam pada itu terdengar suara Tong Siu-jing lagi membentak, “Jaga rapat mulut gua, siapapun dilarang meninggalkan tempatnya!”
(more…)

23/05/2010

Renjana Pendekar – 13

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:27 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra dan Sukantas009)

Gin-hoa-nio telah menyingkir ke samping, ia hanya menonton tanpa ikut bicara. Ia tahu api sudah menyala dan tidak perlu diberi minyak lagi.

Dilihatnya Ang-hoa dan Hwe-long lagi saling melotot, sampai lama sekali keduanya tetap diam saja.
(more…)

22/05/2010

Renjana Pendekar – 12

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:27 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, dan Koedanil)

Kim-yan-cu tidak lantas menjawab, ia memandang seputarnya, melihat Kwe Pian-sian seketika ia berteriak, “Dia, ya dia inilah si iblis jahat, dengan ilmu siluman dia memikat diriku, dia menyuruh aku menjadi kekasihnya, menjadi muridnya, menjadi istri dan menjadi anaknya”

Sampai di sini barulah meledak raungan murka anak murid Kay-pang.
(more…)

21/05/2010

Renjana Pendekar – 11

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:29 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia dan Budiwibowo)

Sudah tentu Sin-to Kongcu tidak tahu sebab apa Gin-hoa-nio bergembira dan merasa geli, yang dirasakan cuma gaya tertawa Gin-hoa-nio yang menggiurkan itu, ia memandangnya dengan kesima, sampai sekian lamanya barulah ia berkata pula:

“Waktu itu, demi melihat Lim Tay-ih tidak berkabung, sebaliknya malah sudah bergaul dengan lelaki lain, sungguh hatiku sangat gemas. Kupikir perempuan ini ternyata seorang munafik, lahirnya kelihatan dingin dan kereng, se-olah2 puteri suci yang tak boleh diganggu, nyatanya cuma seorang perempuan yang tidak teguh imannya dan berharga murah.”
(more…)

20/05/2010

Renjana Pendekar – 10

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:23 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Asep_ay, Bagusetia, Bpranoto, Budiwibowo, Edisaputra, Hiku, Koedanil, Pheol, dan Yusuf_hari)

Pwe-giok tidak mengelak juga tidak menghindar atas serangan si kakek, ia malah sambut pukulan lawan dengan sebelah tangannya, “plak” kedua tangan beradu, kedua orang sama-sama tergetar mundur dua-tiga tindak.

Si kakek sama sekali tidak menyangka Kungfu anak muda ini bisa sedemikian lihai, ia terkejut dan gusar, katanya dengan menyeringai, “Tak terduga boleh juga kau, akulah yang salah pandang!”
(more…)

19/05/2010

Renjana Pendekar – 09

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:07 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Asep_ay, Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Ipan, dan Pheol)

Pwe-giok gelagapan dan tak dapat menjawab, bilang suka terasa tidak tepat, bilang tidak suka juga terasa tidak betul. Ia menjadi kelabakan, ia merasa untuk menjawab pertanyaan nona ini jauh lebih sukar daripada berbuat apapun.

Thi Hoa-nio menatapnya tajam-tajam, katanya pula:
(more…)

18/05/2010

Renjana Pendekar – 08

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 8:07 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Agusis, Bagusetia, Bpranoto, Hiku, M_haury, dan Yusuf_hary)

Apa yang digunakan Thi-hoa-nio ini disebut “Lo-pek-ciau-hun-tay-hoat” atau ilmu sapu tangan pengisap sukma. Gerak tangannya kelihatan enteng tapi sesungguhnya memerlukan kecermatan yang luar biasa, baik gerakannya, timingnya, arah angin, semuanya harus diperhitungkan dengan tepat.

Selain itu, lebih dulu pihak lawan harus dirayu sehingga setengah linglung dan sama sekali tidak berjaga-jaga, untuk ini sudah tentu diperlukan daya pelet dan kecerdikan, jadi lambaian sapu tangan yang kelihatannya sepele ini sesungguhnya memerlukan pengetahuan yang luas dan dalam, sebab itulah ia termasuk satu di antara ke tujuh ilmu iblis berbisa dari Thian-cam-kau.
(more…)

17/05/2010

Renjana Pendekar – 07

Filed under: +Renjana Pendekar — Tags: — ceritasilat @ 7:49 am

Karya: Gu Long
Penerjemah: Gan KL

(Terima kasih kepada: Bagusetia, Bpranoto, Edisaputra, Hiku, Koedanil, dan Yusuf_hary)

“Tampaknya kau tidak sabar menunggu lagi, boleh kau keluar saja jika mau, ” kata Ko-lothau. “Cuma kau harus hati2…, Ya, sesungguhnya akupun tidak sabar ingin kau dilihat orang lain, agar seluruh umat manusia di dunia ini mengetahui bahwa lelaku paling cakap dan sempurna di dunia kini telah lahir!”

Ia memutar kasuran yang menutupi lobang keluar itu, maka cahaya lantas menerangi wajah Ji Pwe giok.
(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.