Kumpulan Cerita Silat

20/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 70

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:26 am


Bab 70. Kumpul semua!
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Kwee Ceng berlayar terus menuju ke barat sesudah melalui beberapa puluh lie, mendadak ia mendengar suar burung terbang di atasannya. Ia mengenali sepasang burungnya, yang terbang menyusul padanya. Dengan cepat kedua burung itu menclok di atas layar.

“Burung ini mengikuti aku, Yong-jie berada sendirian di pulau, ia bakal menjadi tambah kesepian,” pikirnya, maka timbullah rasa kasihannya.

Di hari ketiga, pemuda ini mendarat. Ia membenci segala benda dari Tho Hoa To, dari itu ia mengangkat jangkar, ia menghajar perahunya, maka tenggelamlah kenderaan air itu. Ia sendiri melompat ke darat sebelum air memenuhi perahu itu, maka ia melihat perahu perahu perlahan-lahan masuk ke dalam air dan lenyap. Ia berjalan tanpa tujuan. Ia mampir di rumah seorang petani dimana ia membeli beras untuk masak nasi guna menangsal perut. Habid dahar, setelah menanya jalanan untuk ke Kee-hin, ia berangkat menuju ke kota itu.

Malam itu pemuda ini bermalam di tepi sungai Cian Tong Kang, ketika ia tengah mengawasi permukaan air, tiba-tiba ia melihat bayangan rembulan. Ia terkejut. Ia memang telah lupa tanggal. Tentu sekali ia khawatir nanti melewati jani pertemuan di Yang Ie Lauw. Lantas ia menanya tuan rumah. Lega sedikit hatinya ketika ia diberitahukan hari itu tanggal tigabelas. Karena ini, malam ini juga ia menyeberangi sungai, terus ia menyewa keledai guna melanjuti perjalanannya. Untuk lega hatinya, ia tiba di kota Kee-hin selewatnya tengah hari. Di sini ia segera menanya orang dimana letaknya Cui Sian Lauw, rumah makan Dewa Mabuk. Itulah rumah makan yang paling berkesan untuknya. Semenjak ia masih kecil, guru-gurunya telah menuturkan kepadanya tentang pertempuran mereka dengan Khu Cie Kee di rumah makan itu. Ia tidak diberitahukan sebab musababnya tetapi ia ketarik dengan caranya bertempuran, mengadu minum arak memakai jambangan perunggu. Kemudian lagi ia ketahui tentang asal-usul dirinya, maka tahulah ia, rumah makan itu ada hubungannya sama kehidupannya. Ketika orang menunjuki dia bahwa rumah makan itu berada di tepi telaga Law Ouw, segera ia pergi ke sana. Setibanya, ia mengangkat kepala, mengawasi rumah makan itu. Ia mendapat cocok apa yang dijelaskan Han Siauw Eng. Setelah sepuluh tahun lebih mengingat- ingat rumah makan itu, baru sekarang ia dapat melihatnya dengan matanya sendiri. Memang rumah makan itu indah dengan lauwtengnya yang berukiran, sedang di tengah-tengah itu ada verdiri sepotong bokpay, atau papan yang bertuliskan empat huruf besar “Tay Pek Ie Hong”, artinya peninggalan kebiasaan dari Lie Thay Pek si sastrawan yang dijuluki Dewa Mabuk, sedang nama “Cui Sian Lauw” yang memakai leter emas, ada tulisannya “Souw Tong Po”. Bersih dan berkilat tiga huruf emas itu.

Dengan hati berdebaran Kwee Ceng naik dengan tindakan cepat ke atas lauwteng. Segera ia dipapaki seorang pelayan, yang memberitahukan bahwa hari itu sudah ada yang memborong rumah makannya itu. Ia heran, hendak ia meminta keterangan, atas segara ia mendengar panggilan, “Anak Ceng! Kau sudah datang?” Ia lantas mengangkat kepalanya. Ia terkejut akan mengenali orang yang memanggilnya itu, sebab ialah Khu Cie Kee, yang lagi duduk bersila. Ia lari menghampirkan, ia lantas berlutut dengan cuma dapat memanggil, “Khu Totiang-!”

Khu Cie Kee mengasih orang bangun.

“Apakah keenam gurumz juga sudah sampai?” ia tanya. “Aku telah memesan barang santapan untuk kita-.” Ia menunjuk ke kanan di mana Kwee Ceng melihat telah disipakan sembilan buah meja yang diperlengkapi dengan sumpit dan cangkirnya. Ia berkata pula, “Ketika delapanbelas tahun yang lalu untuk pertama kalinya aku bertemu di sini dengan ketujuh gurumu, mereka mengatur meja begini rupa. Ini satu meja kepunyaan Ciauw Bok Taysu, maka sayang ia dan gurumu yang nomor lima sudah tidak dapat berkumpul di sini.”

Kelihatannya si imam sangat berduka.

Kwee Ceng berpaling ke arah lain, tidak berani ia mengawasi langsung imam itu.

Khu Cie Kee tidak melihat sikap orang, ia berkata lagi, “Jambangan perunggu yang dulu hari itu kita pakai untuk minum arak, hari ini aku telah mengambilnya dari kuil, maka kalau sebentar semua gurumu datang, kita boleh minum arak pula.”

Kwee Ceng melihat jambangan itu di samping sekosol. Karena usianya yang sudah tua, warnya jambangan itu sudah berubah menjadi hijau gelap. Pula jambangan itu sudah di muati arak hingga dari arah sana tersiar baunya minuman itu. Ia terus mengawasi dengan mata mendelong. Kemudian ia mengawasi kedelapan meja yang kosong itu. Ia pikir, kecuali gurunya yang nomor satu, tidak ada orang lainnya yang dapat duduk di situ untuk minum arak. Ia menjadi melamun, “Asal aku bisa memandang satu kali saja tujuh guruku duduk pula di sini dan minum arak dengan gembira, mati pun aku puas.”

Kembali terdengar suaranya Khu Cie Kee, “Tadinya telah dijanjikan untuk tahun ini bulan tiga tanggal duapuluh empat, kau berdua dengan Yo Kang mengadu kepandaian di sini. Aku mengagumi gurumu semua yang hatinya mulia itu, mengharap-harap kaulah yang nanti menang, supaya dengan begitu nama Kanglam Ciok Koay menjadi bertambha kesohor. Aku sendiri senantiasa merantau, tidak dapat aku mencurahkan perhatianku sepenuhnya kepada Yo Kang, tidak dapat aku mengajari ia ilmu silat dengan baik. Sudah begitu, aku jug atidak berhasil mendidik sifatnya agar dia menjadi seorang gagah. Berhubung dengan ini aku menyesal terhadap pamanmu, Yo Tiat Sim. Benar Yo Kang membilang dia sudah menyesal akan tetapi untuknya sangat sukar untuk merubah sifatnya itu.”

Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan halnya Yo Kang telah mati tetapi ia tidak tahu bagaimana harus mulai bicara, dari itu si imam kembali melanjutkan kata-katanya, “Dalam hidupny manusia, kepandaian ilmu surat dan ilmu silat untuknya ialah soal yang terakhir, yang paling utama ialah Tong Gie – kesetiaan dan kejujuran. Boleh dianggap Yo Kang lebih kosen seratus kali daripada kau akan tetapi dalam prilaku, gurumulah yang menang. Kau tahu, aku kalah dengan puas.”

Habis berkata, saking puasnya itu Khu Cie Kee tertawa lebar.

Sebaliknya Kwee Ceng, anak muda ini lantas mencucurkan air mata deras.

“Eh, kenapa kau berduka?” tanya si imam heran.

Anak muda ini maju lebih dekat, lantas ia menjatuhkan dirinya, untuk berlutut, ia menangis.

“Kelima guruku sudah meninggal dunia.” katanya sukar.

Khu Cie Kee terkejut, “Apa?!” ia tanya keras.

“Kecuali guruku yang nomor satu, yang lainnya yang lima lagi, semua sudah meninggal dunia,” kata pula Kwee Ceng.

Khu Cie Kee melengak, ia bagaikan di sambar guntur yang ia tidak sangka, sedang ia mengharap sangat pertemuan ini. Sebagai seorang jujur, ia sangat menghargai Kanglam Cit Koay, yang ia anggap sebagai sahabat-sahabat sejati. Ia telah tak melupai mereka selama delapanbelas tahun, meskipun benar mereka sangat jarang bertemu. Maka ia pergi ke loneng, matanya mengawasi telaga, kemudian ia mendongak dan mengeluarkan napas panjang. Segera terbayang romannya Cit Koay, kemudian ia menoleh, ia pergi mengangkat jambangan perunggu untuk berkata, “Sahabat-sahabatku telah menutup mata, kau ini untuk apa?” dengan mengerahkan tenaganya, ia melemparkannya.

Hebat ketika jambangan itu tercebur ke telaga, suaranya nyaring, airnya muncrat tingggi. Kemudian ia dekati Kwee Ceng, untuk mencekal keras sekali tangan anak muda itu.

“Bagaimana meninggalnya mereka itu?” ia tanya. “Lekas tuturkan!”

Kwee Ceng mau memberikan keterangan, hanya belum sempat ia membuka mulutnya, mendadak ia melihat tubuh seorang berkelebat, di antara mereka lantas tertampak seorang lain, yang bajunya hijau, yang sikapnya tenang. Ia jadi kaget ketika ia mengenalinya. Ia mengawasi, ia tidak salah mata. Orang itu adalah Oey Yok Su si tocu atau pemilik dari Tho Hoa To. Juga Oey Yok Suk melengak melihat anak muda ini. Selagi ia berdiam mengaawasi, dengan mendadak datang serangan untuknya. Sebab Kwee Ceng, dengan melompati meja menerjang dengan jurusnya “Hang liong yoe hui”, itulah serangan yang sangat hebat. Tapi ia tabah dan awas, dengan sebat ia berkelit, tangan kirinya dipakai menolak.

Hebat serangannya si anak muda, hebat perlawanannya majikan dari Tho Hoa To itu, hebat juga kesudahannya. Anak muda itu terjerunuk ke depan, ia menerjang papan lauwteng yang menjadi ruang di situ, terus tubuhnya jatuh ke bawah lauwteng, sedang di bawah ia menimpa para-para cangkir, maka dengan suara sangat berisik hancurlah perabotan itu – cangkir, piring, mangkok dan lainnya.

Pemilik rumah makan lantas saja mengeluh. Ingatlah ia akan kejadian delapanbelas tahun yang lalu. Tadi juga, melihat Khu Cie Kee membawa jambangan, hatinya sudah berkhawatir, sekarang kekhawatirannya itu terbukti.

Kwee Ceng takut ia terlukakan pecahan cangkir itu, dengan lantas ia berlompat naik pula ke lauwteng. Di lain pihak, Oey Yok Su dan Khu Cie Kee telah berbareng melompat turun, hanya mereka mengambil jalan dari jendela. Dengan terpaksa anak muda ini melompat dari jendela untuk menyusul mereka, hanya kali ini ia menyiapkan senjatanya, ia pikir “Si tua itu lihay, tidak dapat aku melawan dia dengan tangan kosong.” Maka ia mengeluarkan tiga macam senjata: Dengan mulutnya ia menggigit pedang pendek dari Khu Cie Kee, tangan kanannya mencokol kim-too – golok emas, pemberian Jenghiz Khan, dan tangan kirinya memegang tombak pendek peninggalan ayahnya. Ia pikir juga, “Biar bagaimana, mesti dapat aku menikam dia dua lubang.”

Ketika itu lagi banyak orang, maka kagetlah mereka itu menampak si anak muda lompat turun dari jendela dengan menghunus senjata, sedang tadinya mereka berkumpul untuk menonton karena mendengar suara ribut disusul dengan melompatnya turun dua orang.

Kwee Ceng, setibanya di bawah tidak melihat Oey Yok Su dan Khu Cie Kee. Ia melepaskan pedang pendek, ia menanya seorang tua di dekatnya ke mana perginya itu dua orang yang barusan turun dari lauwteng.

Orang tua itu kaget dan ketakutan. Ia salah menduga.

“Ampun, hoohan,” katanya. “Aku tidak tahu urusan mereka itu-.”

“Sebenarnya mereka pergi ke mana?” Kwee Ceng tanya pula.

Orang tua itu makin ketakutan, ia minta-minta ampun. Sudah lama si anak muda tinggal di gurun pasir, sekarang hatinya lagi tegang, maka itu suaranya menjadi keras luar biasa. Saking sebal, si anak muda menolak si empeh, ia pergi mencari, tapi tanpa hasilnya, maka ia naik ke lauwteng rumah makan. Dari sini ia memandang ke telaga, maka terlihatlah olehnya sebuah perahu kecil, yang memuat Cie Kee dan Oey Yok Su, yang tengah menuju ke Yan Ie Lauw. Khu Cie Kee duduk di buntut perahu, di mana dia mengayuh.

“Tentu sekali mereka pergi ke Yan Ie Lauw untuk bertempur mati hidup,” pikir Kwee Ceng. “Meskipun Khu Totiang lihay, mana dia sanggup melawan itu bangsat tua?” Maka ia lantas mengambil keputusan. Ia lari turun dari lauwteng, lari ke tepi telaga, untuk menyambar sebuah perahu kecil, yang ia terus kayuh ke arah Yan Ie Lauw juga, menyusul dua orang itu.

Adalah maksudnya si anak muda untuk dapat menyandak, di luar tahunya lantaran ia menggunakan tenaga terlalu besar, pengayuhnya itu patah sendirinya. Terpaksa ia memakai selembar papan sebagai pengganti pengayuh itu, maka sekarang perahunya laju ayal sekali. Dengan lantas ia ketinggalan jauh, lalu ia kehilangan mereka. Ia mengayuh terus. Ketika ia akhirnya tiba di darat, ia menyesal. Di saat seperti itu ia dapat mengendalikan diri.

“Aku mesti sabar,” demikian pikirnya. Ia bertindak ke arah lauwteng. Ketika ia sudah datang dekat, ia mendengar di belakang situ ada suara senjata beradu, suara sambar menyambar angin serta bentakan berulang-ulang. Kalau orang bertempur itu mestinya bukan lain dari Khu Cie Kee dan Oey Yok Su.

Sesudah melihat ke sekitarnya dengan berindap-indap si anak muda bertindak masuk ke lauwteng. Di bagian bawah ia tidak melihat seorang juga, maka ia lantas naik di tangga. Segera ia melihat seorang lagi menyender di jendela, mulutnya menggayam hingga terdengar suaranya mengayamnya itu. Ia menjadi heran.

“Suhu!” ia memanggil seraya menghampirkan.

Orang itu benar Ang Cit Kong adanya. Ia mengasih lihat roman sungguh-sungguh, tangannya menunjuk ke bawah jendela. Dengan lain tangannya ia mengangkat sepotong paha kambing untuk digerogoti.

Kwee Ceng lari ke tepi jendela, untuk melongok. Ia lantas melihat satu pemandangan yang mengherankan itu.

Oey Yok Su lagi bertempur, dia dikurung oleh enam anggota dari Coan Cin pay. Menyaksikan pemilik dari Tho Hoa To itu dikepung, pemuda ini merasa lega juga. Ia hanya kaget ketika ia melihat di situ pun ada gurunya yang nomor satu, guru itu lagi menyerang dengan tongkatnya, di belakangnya ada In Cie Peng. Dia ini berdiri membelakangi, tangannya memegang pedang, dia tidak turut berkelahi.

“Heran kenapa toasuhu ada di sini?”

Kwee Ceng tidak usah menanti lama, lantas ia mengetahui Coan Cin Liok Cu lagi berkelahi dengan mengatur barisannya yang istimewa, yaitu Thian Kong Pak Tauw Tin. Hanya karena Tam Cie Toan telah meninggal dunia, dia digantikan Kwa Tin Ok, yang mengambil kedudukan thian-soan. Seba ketua Kanglam Cit Koay ini cacat matanya, dia ditunjang oleh In Cie Peng, supaya ia tidak usah mengkhawatirkan serangan dari belakang.

Demikian Oey Yok Su diserang. Ketika pertempuran di Gu-kee-cun, cuma dua orang dari Coan Cit Cin Cu yang menggunai pedang, yang lainnya bertangan kosong, tapi sekarang mereka, bertujuh bersama Kwa Tin Ok dan berdelapan sama In Cie Peng, semuanya bersenjatakan pedang. Oey Yok Su tetap bertangan kosong, hebat dia diserang sehingga nampaknya ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas, bahkan membela diri pun kewalahan. Melihat demikian, Kwee Ceng berkata dalam hatinya, “Biar kau sangat lihay, hari ini kau tidak bakal dapat lolos lagi!”

Disaat ia terdesak, mendadak terlihat Oey Yok Su menekuk kaki kiri dan kaki kanan menyambar menyapu kaki lawan semua. Rengkasan itu sangat berbahaya. Dengan serentak delapan lawan itu berlompat mundur tig atindak.

“Bagus!” Kwee Ceng berseru dengan pujiannya. Rengkasan itu dilakukan sambil berputar, maka itu semua musuh mesti menyingkir dengan hampir berbareng.

Habis menyerang, Oey Yok Su mengangkat kepalanya, sambil mengulapkan tangannya ke atas lauwteng kepada Ang Cit Kong dan Kwee Ceng, tandanya ia senang dengan pujian si anak muda.

Menyaksikan sikap orang itu, Kwee Ceng kagum. Walaupun terdesak, tocu dari Tho Hao To itu tetap tenang dan napasnya tidak memburu. Ia pun heran. Dari heran, ia menjadi bercuriga. Bukankah Oey Yok Su tengah berakal muslihat?

Selang sekian lama, datanglah ketika yang mendebarkan hati. Mendadak tangannya tocu dari Tho Hoa To itu menyambar ke ubun-ubunnya Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian. Kalau serangan itu mengenai sasarannya pecahlah batok kepalanya si imam yang nomor tiga itu. Dengan itu ternaglah Oey Yok Su sudah memulai dengan serangan membalasnya.

Oey Yok Su menyerang dengan dua tangan berbareng. Seharusnya Lauw Cie Hien tidak boleh membalas, ia mestinya ditolongi oleh Khu Cie Kee di kedudukan Thian-koan dan Kwa Tin Ok di kedudukan thian-soan di pinggir. Apa mau, Hui Thian Pian-hok tidak dapat melihat, dia cuma mengandalkan kupingnya, maka ketika ia menyerang dari kiri, ia terlambat, ia kena didului Khu Cie Kee. Dengan begitu Oey Yok Su jadi tidak terancam bahaya. Cie Hian melihat ancaman datang, terpaksa ia menjatuhkan diri dengan bergulingan. Ma Giok dan Ong Cie It melihat saudaranya terancam, mereka maju bersama, menyerang lawannya itu.

Semua gerakan berlaku sangat cepat, Lauw Cie Hian lolos dari bahaya, tetapi dengan begitu, Pak Tauw menjadi kacau. Oey Yok Su tertawa terbahak, lantas ia menyerang kepada Ceng Ceng Sangjin Sun Put Jie, imam yang termuda, hanya begitu ia maju begitu lekas juga ia berlompat mundur, guna balik menyerang Kong Leng Cu Cek Tay Thong.

Serangan itu luar biasa, Sun Put Jie heran, Cek Tay Thong melengak. Ketika Ceng Ceng Sanjin menangkis, untuk terus menyerang, Oey Yok Su sudah keluar dari kepungan dan berdiri diam di tempat dua tombak jaraknya.

“Hebat Oey Yok Su,” Ang Cit Kong memuji.

“Biar aku pergi!” berkata Kwee Ceng, yang terus memutar tubuh, untuk lari turun di tangga.

“Sabar, sabar!” mencegah Ang Cit Kong. “Semenjak tadi mertuamu itu tidak melakukan perlawanan, aku sebenarnya berkhawatir untuk gurumu yang nomor satu, tetapi sekarang aku melihat dia tidak ada niatnya untuk mencelakai orang.”

Kwee Ceng kembali ke jendela.

“Kenapa begitu, suhu?” ia tanya.

“Kalau ia hendak mencelakai orang, barusan itu si imam kurus seperti kera tidak bakal ketolongan jiwanya,” menyahut sang guru. “Semua imam itu bukan tandingan dari Oey Lao Shia, bukan tandingannya!” Ia menggigit daging kambingnya dan mengganyam, lalu menambahkan, “Ketika mertuamu dan Kim Coa Long-kun belum datang, aku melihat beberapa imam itu dan gurumu mengatur barisan, agaknya mereka masih menantikan satu orang guna membantui gurumu itu, agar tiga orang bersama menjaga garis thia-soan. Entah kenapa, sampai sekarang orang itu tidak muncul. Sekarang garis thian-soan dijaga hanya dua orang, tak cukup itu guna bertahan dari mertuamu itu.”

“Dia bukan mertuaku!” kata Kwee Ceng sengit.

“Eh!” Cit Kong heran. “Kenapa bukan mertuamu?”

“Dia! Dia! Hm!”

“Bagaimana dengan Yong-jie? Apakah kau dua bercedera?”

“Inilah tidak ada hubungannya dengan dia, dia telah membikin mati kelima guruku! Aku bermusuh dengannya dalamnya bagaikan lautan!”

Cit Kong kaget hingga berjingkrak.

“Benarkah?” ia menegasi.

Kwee Ceng tidak mendengar pertanyaan itu, dia lagi menumpleki perhatiannya kepada pertempuran di bawah.

Oey Yok Su menggunai Pek Khong Ciang, ilmu silat Menyerang Udara Kosong, anginnya itu seperti menderu-deru, ia membuat semuanya musuhnya tak bisa datang dekat. Tapi Pak Tauw Tin telah di atur rapi pula, ia tidak bisa lantas membebaskan diri seanteronya. Hanya terpisahnya mereka sedikit jauh. Dengan begitu, selagi pedang Coan Cin Cit Cu tidak sampai kepada lawan, sebaliknya pihak lawan, kalau ia menghendaki, dia dapat berlompat mendekati.

“Ah, kiranya begitu?” kata Cit Kong tiba-tiba.

“Apa suhu?”

“Oey Yok Su sengaja memancing Cit Cu menggunai barisannya itu, untuk ia memahami sifatnya,” menyahut sang guru. “Itulah sebabnya kenapa ia berayal menurunkan tangan. Ia hendak memperkecil garis.”

Ang Cit Kong telah kehilangan ilmu silatnya, tetapi tidak pikiran atau pandangannya yang tajam. Benarlah, makin lama kalangannya Coan Cin Cit Cu makin rapat, makin rapat, hingga ada membahayakan mereka sendiri kalau mereka menggeraki pedangnya masing-masing. Pernah Lauw Cie Hian, Khu Cie Kee, Ong Cit It dan Cek Tay Thong menyerang berbareng, tempo Oey Yok Su berkelit, hampir mereka saling menikam sendiri.

Hatinya Kwee Ceng menjadi tegang pula, ia cemas, ia mengerti, begitu lekas Oey Yok Su turun tangan, gurunya yang nomor satu itu bisa menjadi korban yang pertama. Ia berada jauh, mana bisa ia menolong?

“Biarlah teecu turun,” katanya seraya ia terus lari turun pula. Hanya ketika ia mulai mendekati kalangan pertempuran itu, di antara mereka itu terlihat pula perubahan.

Oey Yok Su maju dengan tetap ke arah kiri dari Ma Giok, dia seperti memisahkan diri nampaknya hendak ia mengangkat kaki.

Menampak demikian, Kwee Ceng lantas bersiap sedia, asal tocu dari Tho oa To itu berlompat menyingkir, hendak ia menyerang dengan pedang pendeknya.

Tiba-tiba terdengar siutannya Ong Cie It, lalu bersama Cek Tay Thong dan Sun Put Jie, dia bergerak dari kiri, dengan begitu, mereka tetap mengurung musuhnya yang tangguh dan lihay itu.

Oey Yok Su mencoba hingga tiga kali, tidak bisa ia mendekati Ma Giok. Ada saja, Khu Cie Kee atau Ong Cie It atau Cek Tay Thong berempat yang mengganggu padanya, yang melindungi Ma Giok, ketua dari Coan Cin Pay itu.

Setelah percobaan Oey Yok Su yang keempat kali, Kwee Ceng pun sadar, hingga ia berseru di dalam hatinya, “Ah, benar! Dia hendak merampas kedudukan bintang utara Pak-ke-chee!”

Bintang Pak-kee-chee berada di utara di tengah sekali, sedang barisan Pak Tauw Tin itu berpokok üada bintang utara itu (Pak Tauw). Setelah Oey Yok Su menginsyafi sifatnya tin atau barisan lawan itu, ia memusatkan perhatiannya kepada garis tengah itu, ia memusatkan perhatiannya kepad garis tengah itu. Ia mengerti, asal ia bisa merangsak tengah, tin akan pecah, atau kalau tidak, ia akan bertahan di situ, hingga ia tidak dapat dikalahkan.

Juga Ma Giok semua dapat menerka maksud lawan, mereka menjadi bercemas hati. Coba Tam Cie Toan masih hidup, mereka tak usah terlalu berkhawatir, mereka tak nanti membiarkan musuh merangsak ke utara itu, sekarang tidaklah demikian, disebabkan lemahnya Kwa Tin Ok meskipun Tin Ok dibantu oleh In Cie Peng. Tin Ok bercacad dan Cie Peng lemah, sudah begitu, keduanya masih asing dengan tin ini.

Juga kawanan Coan Cin Pay ini telah melihat Kwee Ceng. Mereka mendugas setiap waktu Kwee Ceng bakal membantui mertuanya itu. Maka itu, mereka bingung. Mereka menantikan saat orang, guna mengambil tempatnya Tin Ok di garis thian-soan itu akan tetapi orang yang ditunggu-tunggu belum juga kunjung tiba. Mereka percaya, asal orang itu datang, garus thian-soan bakal menjadi kuat sekali.

Sembari berkelahi, Oey Yok Su kata sambil tertawa, “Sungguh aku tidak menyangka, murid-muridnya Ong Tiong Yang ada begitu tidak tahu selatan!” Kata-kata ini dibarengi dengan rangsakan kepada Sun Put Jie, yang diserang saling susul hingga tiga kali, hingga imam repot. Ma Giok bersama Cek Tay Thong segera maju membantu, guna menolongi.

Oey Yok Su berkelit, setelah pedang kedua orang itu lolos, ia maju pula. Lagi tiga kali beruntun ia menyerang Sun Put Jie. Hebat serangannya itu, sekalipun Ong Tiong Yang atau Cit Kong sembuh, sulit untuk melayani itu. Karena itu, Sun Put Jie terpaksa hanya membela diri. Atas itu Oey Yok Su mengubah siasatnya, ialah lantas ia menyerang di bawah, kedua kakinya kerja bergantian enam kali menyapu kaki lawannya itu. Jadi beruntun tocu Tho Hoa To itu sudah menggunai ilmu silatnya tangan kosong “Lok Eng Ciang” dan tendangan “Sauw Yap Twie”

Ma Giok beramai menjadi bingung. Serangan-serangan itu membahayakan Sun Put Jie. Pula, dengan Kwa Tin Ok tidak dapat melihat, mereka jadi bergerka lambat. Hebat akibatnya kalau Pak Tauw Tin kacau. Sebaliknya Oey Yok Su, ia tidak mengambil mumat apa yang dipikir lawan, ia merangsak maju terus. Mendadak ia tertawa panjang dan tubuhnya melesat, terus terdengar jeritan yang keras dari satu orang yang tubuhnya terlempar ke ujung Yan Ie Lauw.

Itulah In Cie Peng yang punggungnya kena disambar, hingga tanpa berdayam tubuhnya kena dilemparkan Oey Yok Su. Setelah itu, tanpa menanti ketika, jago Tho Hoa To ini maju ke arah Ma Giok. Ia percaya ia bakal berhasil. Tidak tahunya, imam itu tidak berkisar dari kedudukannya, malah dengan pedangnya ia membalas menikam ke alis.

“Bagus!” berseru Oey Yok Su dengan pujiannya sambil ia berkelit. “Tidak kecewa kau menjadi murid kepala dari Coan Cin Pay!”

Meski ia memuji, Oey Yok Su tidak menghentikan gerakannya. Mendadak ia menendang Cek Tay Thong hingga imam itu terguling, pedangnya terlepas, maka ia menubruk pedang itu, untuk dipakai menikam lawannya yang roboh itu.

Lauw Cie Hian kaget, ia lantas menangkis guna menolongi saudaranya itu.

Oey Yok Su melihat datangnya bantuan untuk Tay Thong, ia tertawa, sembari tertawa pedangnya dipakai menangkis Cie Hian. Dengan begitu bentroklah kedua senjata itu. Yang hebat ialah kedua-duanya pedang sambil mengasih dengan suara keras.

Bagaikan bayangan berkelebat gesit sekali toco dari Tho Hoa To merangsak ke arak Pak-kee-chee.

Sejenak itu, kacaulah Pak Tauw Tin. Coan Cin Cit Cu mengeluh saking berdukanya. Ma Giok menghela napas panjang, hendak ia melemparkan pedangnya, guna menyerah kalah, justru itu satu bayangan berkelebat di antara mereka, lanats garis diutara itu tambah satu orang – itulah Kwee Ceng.

Khu Cie Kee menjadi girang sekali. Ia telah menyaksikan di Cui Sian Lauw, di mana mertua dan menantu itu bertempur mati-matian.

Ma Giok dan Ong Cie It juga lantas mengenali si anak muda, yang merek tahu ada seorang yang jujur, maka mereka percaya, anak muda itu tentunya bakal membantu mertuanya itu. Habislah Coan Cin Cit Cu – atau Coan Cit Liok Cu. Kalau mertua dan menantu itu bekerjasama. Tentang Kwa Tin Ok tidak dikhawatirkan, sebab tidak nanti Kwee Ceng mencelakai gurunya itu. Tapi selagi mereka berkhawatir dan berputus asa, lantas mereka menampak kenyataan yang luar biasa, Kwee Ceng bukannya membantui mertuanya, ia justru menempur mertuanya itu!

Oey Yok Su percaya ia bakal dapat mengacau Pak Tuaw Tin ini dan memecahnya, supaya dengan begitu Caon Cin Pay menyerah kalah dan minta-minta ampun, maka heran dia atas datangnya bala bantuan kepada musuhnya itu, tidak menanti sampai ia memutar tubuh, segera ia menyerang ke belakang, ke arah dada, dengan pukulan Pek Khong Ciang. Serangan ini dihalau orang tanpa orang itu berkelit, cuma tangan kirinya dipakai menangkis. Ia terkejut.

“Cuma beberapa orang saja yang dapat menangkis seranganku macam ini,” pikirnya. “Siapakah dia?” Maka ia segera menoleh, akan mengenali Kwee Ceng, hingga ia menjadi dongkol berbareng menyesal. Dengan penasaran, ia menyerang pula, beruntun tiga kali. Ia tahu tanpa dapat mengundurkan si anak muda, ia terancam bahaya terkepung. Ia menyerang dengan tiap pukulannya bertambah hebat, tetapi tiga-tiga kalinya, serangannya itu dapat dihindarkan. Untuk keempat kalinya, ia menyerang pula, dengan siasat berpura-pura dan benar-benar. Siasat ini dapat membingungkan lawan.

Kwee Ceng tidak kena diakali, ia menjaga diri, ia tidak menyerang – pedangnya menjaga dada, tangan kirinya melindungi perut.

Oey Yok Su menjadi heran.

“Terang bocah ini mengenal baik sifat Pak Tauw Tin,” pikirnya. “Dia tahu bagaimana harus membela atau memukul pecah-.Lihatlah dan tidak berkisar dari Pak-kee-chee! Rupanya ia telah diminta bantuannya untuk menentang aku.”

Dugaanya pemilik Tho Hoa To ini benar separuh, salah separuh. Benar ialah karena Kwee Ceng memang mengerti baik barisan Pak Tauw Tin itu, hanya itu didapatkan bukan dari pengajarannya Coan Cin Cit Cu tetapi dari kitab Kiu Im Cin-keng. Dia salah menduga, sebab Kwee Ceng bukannya diminta bantuannya oleh Coan Cin Cit Cu, hanya ia bertindak atas kehendaknya sendiri. Tidak saja di situ ada Kwa Tin Ok, dia pun telah dianggap si anak muda sebagai musuhnya, karena dipercaya dialah yang membinasakan Cu Cong berlima. Hanya karena mengetahui lawannya lihay, Kwee Ceng mengambil sikap membela diri, sama sekali si anak muda tidak mengambil mumat orang menyerang benar-benar atau gertak saja.

Akhirnya Oey Yok Su mengeluh sendirinya.

“Anak ini tak tahu maju atau mundur,” pikirnya. “Hm! Biarlah aku disesalkan Yong-jie, mesti aku hajar dia, sebab kalau tidak, tidak nanti aku dapat lolos dari tin ini!” Ia pun lantas bergerak, tenaganya dikerahkan di kedua tangannya. Tepat disaat ia hendak menyerang, ia berpikir, “Kalau dia tetap berdiri diam dan tidak menyingkir, dia bakal terluka parah, kalau dia sampai kenapa-napa, mana Yong-jie mau mengerti?”

Kwee Ceng telah melihat gerakan lawannya yang tangguh itu, akan tetapi ia tidak mau berkisar dari tempat jagaannya itu. Ia menggertak gigi, ia menangkis dengan jurus “Kian Liong Cay Thian” atau “Melihat naga di sawah” Dengan Hang Liong Sip-pat Ciang hendak ia bertahan, agar Pak Tauw Tin dapat dilindungi.

Dengan mendadak Oey Yok Su menunda serangannya itu.

“Bocah tolol, lekas menyingkir!” ia membentak. “Mengapa kau menantang aku?!”

Kwee Ceng bersiap dengan pedangnya, ia mengawasi dengan tajam. Ia takit jago itu menggunai akal. Ia tidak menyahuti.

Pihak Khu Cie Kee lantas memperkokoh lagi barisannya.

“Di mana Yong-jie?” Oey Yok Su tanya.

Kwee Ceng berdiam, matanya merah bagaikan api, romannya bengis.

Oey Yok Su heran. Ia lantas mau menduga telah terjadi sesuatu dengan putrinya.

“Kau perbuat apa atas Yong-jie?!” ia membentak. Ia mulau berkhawatir . “Lekas bilang!”

Masih si anak muda berdiam, hanya tangannya, yang mencekal pedang, bergemetar.

Oey Yok Su terus mengawasi dengan tajam, maka heranlah dia. Ia menjadi curiga.

“Kenapa tanganmu bergemetar?” ia tanya. “Kenapa kau tidak mau bicara?!”

Kwee Ceng tengah mengingat kebinasaan hebat dari kelima gurunya di pulau Tho Hoa To, ia lagi menahan hawa amarahnya, getaran hatinya, maka ia bergemetar.

Oey Yok Su bercuriga berbareng berkhawatir sekali. Hanya ia berkhawatir, mungkin sebab perebutan di antara putrinya itu dan putri Mongolia, si anak muda telah membunuh Yong-jie, anaknya. Dengan menjejak kaki, ia melompat maju.

Khu Cie Kee melihat gerakan pemilik dari Tho Hoa To itu, ia segera menggeraki barisannnya. Ong Cie It bersama Cek Tay Thong menyerang dari kiri dan kanan.

Kwee Ceng tidak menyingkir, ia cuma berkelit, pedangnya terus ditikamkan. Oey Yok Su pun tidak menyingkir, bahkan dengan satu tekukan tangan, ia menangkap tangan si anak muda, guna merampas pedangnya. Tapi ia gagal, kecuali pedangnya Ong Cie It mengancam punggungnya, pedang Kwee Ceng pun bisa dipakai menikam pula.

Setelah gerakan itu, pertempuran terulang pula, jauh terlebih hebat daripada semula. Selagi Kwee Ceng panas hatinya, Khu Cie Kee semua tidak kurang gusarnya. Mereka ini hendak menuntut balas untuk Ciu Pek Thong dan Tam Cie Toan.

Oey Yok Su merasa di sini telah terbit salah mengerti tetapi ia beradat keras dan jumawa, ia tidak suka mengalah, sedang juga, ai berderajat lebih tua, lebih tinggi. Ia menghajar mereka itu, supaya mereka menyerah kalah, sampai itu waktu barulah ia mau memberi keterangan, untuk sekalian memberi tegurannya. Begitulah, kedua-dua pihak sama kerasnya.

Oey Yok Su ingin mendesak Kwee Ceng, yang ia berniat untuk membekuknya, guna didengar keterangannya. Kalau benar dugaannya, Oey Yong terbinasa di tangan pemuda ini, hendak ia menghukum picis. Tapi Kwee Ceng berjaga diri di garis utara, teguh kedudukannya.

Ketika itu In Cie Peng, yang dilemparkan ke atas lauwteng Yan Ie Lauw, masih belum dapat merayap bangun, tapi tanpa dia, Kwee Ceng tidak menjadi lemah.

Oey Yok Su menghadapi kesulitan. Kalau ia mendesak Kwee Ceng, Khu Cie Kee beramai mendesak padanya. Ingin ia menggempur Khu Cie Kee semua tetapi malang dengan si anak muda.

Kapan pertempuran telah berlangsung lima puluh jurus, maka terlihatlah Oey Yok Su kena terdesak. Kepungan nampak menjadi ciut.

“Tahan!” seru Ma Giok disaat tegang itu.

Seruan ditaati, lima saudaranya lantas berhenti menyerang.

“Oey Tocu!” berkata tertua dari Coan Cin Cit Cu. “Kaulah seorang kenamaan dan juga dari golongan tua, maka itu kami orang-orang dari kalangan muda tidak berani berlaku kurang ajar padamu, kalau toh sekarang, kami mengurung padamu, itulah saking terpaksa. Sekarang aku hendak menanya kau, apa katamu berhubung dengan hutang darah dari paman kami Ciu Pek Thong dan sutee kami Tam Cie Toan?”

Orang yang ditanya tertawa dingin.

“Apalagi yang hendak dikatakan?” katanya. “Lekas kau bunuh Oey Yok Su untuk melindungi namanya Coan Cin Pay! Tidakkah itu bagus? Lihatlah!”

Tahu-tahu tangan kanannya majikan Tho Hoa To ini melayang ke muka Ma Giok!

Inilah satu jurus dari Lok Eng Ciang, yang Oey Yok Su sudah melatihnya belasan tahun, gerak-geriknya sangat gesit, seperti juga tidak terlihat.

Dalam kagetnya, Ma Giok berkelit ke kanan. Justru ia berkelit, justru itu kehndaknya Oey Yok Su, yang serangannya mempunyai dua maksud berbareng benar-benar dan berpura-pura. Maka ia bukannya kena ditinju hanya terjambak dadanya. Asal Oey Yok Su mengerahkan tenaganya, gempurlah dadanya itu!

Semua orang terkejut, semua maju menolongi, tetapi mereka terlambat.

Hanya disaat Ma Giok itu bakal menerima nasibnya, Oey Yok Su tertawa dan jambakannya dilepaskan. Ia pun berkata, “Jikalau dengan caraku ini aku memukul barisan kamu, tentulah kamu tidak puas! Oey Lao Shia boleh mati tetapi tidak nanti dia mau menyebabkan tertawanya semua orang gagah di kolong langit ini. Kawanan imam yang baik, kamu majulah semua!”

Lauw Cie Hian mendongkol, tinjunya melayang disusul sama pedangnya Ong Cie It. Maka itu, bergerak pula Thian Kong Pak Tauw Tin. Kali ini yang digeraki ialah rintasan yang ketujuhbelas, setelah Ong Cie It, serangan mesti disusul Ma Giok. Hanya setelah Ong Cit It menikam ia melompat mundur, Ma Giok bukannya menggantikan menyerang, ia malah lompat mundur juga.

“Tahan!” serunya.

Lagi sekali semua orang berhenti bergerak.

“Oey Tocu, aku menghanturkan terima kasih untuk kebaikanmu,” berkata Ma Giok.

“Itulah kata-kata yang bagus dari kau,” jawab Oey Yok Su.

“Sebenarnya disaat ini jiwaku yang rendah sudah tidak ada,” kata Ma Giok, “Sedang barisan warisan guru kami ini telah tepecahkan olehmu, dengan begitu sudah seharusnya saja kami menyerah kalah, kami mesti menyerah terhadap keputusan tocu. Tapi sakit hati kami tidak dapat tidak dibalaskan! Oey Tocu, aku yang rendah, aku bersedia akan menggorok leherku sendiri untuk menghanturkan terima kasih padamu.”

“Sudahlah!” berseru Oey Yok Su, wajahnya guram. “Tak usah kita banyak omong lagi! Kau boleh turun tangan! Memang juga, perkara sakit hati ini sukar sekali dijelaskan.”

Kwee Ceng telah mendengar semua itu, ia menjadi berpikir, “Ma Totiang membilang ia bertempir guna membalas sakit hati paman guru dan saudara seperguruannya. Apakah artinya itu? Bukankah Toako Ciu Pek Thong masih hidup? Pula kematiannya Tam Cie Toan, bukankah itu tidak ada hubungannya dengan Oey Yok Su? Hanya kalau aku menjelaskan itu semua, apa Coan Cin Liok Cu mengundurkan diri, hingga tinggal aku berdua dengan guruku, mana sanggup aku melawan dia? Jangan kata soal sakit hati, buat melindungi diri sendiri pun sukar.” Baru ia berpikir demikian atau segera ia berpikir lain, “Jikalau aku menutup mulut, apakah aku bukannya menjadi si hina dina? Bukankah semua guruku sering mengajari, kepala boleh kutung tetapi kejujuran tidak?” Karena ini ia segera mengasih dengar suaranya yang nyaring, “Ma Totiang, paman gurmu tidak mai#ti! Tam Totiang pun dibinasakan oleh Auwyang Hong!”

Belum lagi Oey Yok Su membilang apa-apa, Khu Cie Kee telah mendahuluinya.

“Apakah kau bilang?” imam itu tanya.

“Toako Ciu pek Thong tidak mati dan Tam Totiang dibinasakan oleh Auwyang Hong,” Kwee Ceng menjawab seraya terus menjelaskan apa yang ia dengar selama ia sembunyi sembari merawat diri di kamar rahasia, bagaimana Khiu Cian Jin melepas cerita burung dan fitnahnya Auwyang Hong.

Cerita itu luar biasa.

“Apakah kau omong sebenar-benarnya?” Khu Cie Kee menegaskan.

“Teecu sangat membenci dia, ingin teecu menelannya, maka itu apa perlunya teecu membantui dia?” kata Kwee Ceng, dengan sengit sambil menuding Oey Yok Su. “Kenyataan ada demikian rupa maka teecu tidak dapat tidak bicara hal yang benar.”

Oey Yok Su menjadi heran. Sungguh ia tidak Kwee Ceng mau membelai dia.

“Kenapa kau membenci aku sampai begini?” ia tanya pemuda itu. “Mana Yong-jie?”

Tapi Kwa Tin Ok yang panas hatinya.

“Apakah kau tidak tahu perbuatanmu sendiri?” ia membentak. “Anak Ceng, biarnya kita kalah mari kita mengadu jiwa!” Ia terus menyerang.

Kwee Ceng lantas mengucurkan air matanya. Ia mengerti, dengan perkataannya itu, sikapnya Oey Yok Su sudah berubah sedikit. Tapi di situ ada gurunya yang bergusar tak kepalang itu.

“Toasuhu, jiesuhu semua mati secara sangat menyedihkan.” katanya.

Oey Yok Su menyambar tongkatnya Kwa Tin Ok yang dihajarkan kepadanya.

“Apa kau bilang?” ia tanya Kwee Ceng, suaranya keras. “Cu cong berlima baik-baik berada di pulauku, menjadi tetamu, kenapa mereka pada mati?!”

Kwa Tin Ok tidak menanti jawaban muridnya, ia membetot tongkatnya. Tetapi tongkat itu tidak bergeming.

“Kau kurang ajar sekali, di depanmu seperti tidak ada orang yang terlebih tua, kau juga ngoceh tidak karuan, bahkan kau menggeraki tangan dan kakimu, adakah itu untuk Cu Cong semua?” Oey Yok Su tanya pula Kwee Ceng.

Matanya si anak muda seperti mau mencelos, mata itu merah.

“Dengan tanganmu sendiri kau membinasakan kelima guruku, kau masuh hendak berpura-pura tidak tahu?” membentak dia. Dia mengangkat pedang pendeknya dan menikam.

Oey Yok Su menangkis dengna tongkatnya Kwa Tin Ok, maka pedang dan tongkat beradu nyaring, ujung tombak somplak.

“Siapakah yang menyaksikan itu?!” ia tanya.

“Kelima guruku itu aku yang menguburnya dengan tanganku sendiri, apakah dengan begini aku masih memnfitnah padamu?” Kwee Ceng balik menanya.

Oey Yok Su tertawa dingin. Kelakukan anak muda itu membangkitkan hawa amarahnya. Ia memang besar kepala, tidak pernah ia suka mengalah.

“Fitnah atau bukan, masa bodoh!” kata pemilk Tho Hoa To itu. “Seumur hidup Oey Lao Shia suka orang npandang keliru maka itu hanya dengan membunuh beberapa jiwa, mungkinkah aku menyangkal? Tidak salah, semua gurumu akulah yang membunuhnya!”

Tepat disaat habis ucapan Tong Shia, di situ terdengar suaranya seorang perempuan, “Bukan, ayah, bukannya kau yang membunuh mereka! Jangan kau sembarang bertanggung jawab!”

Semua orang terkejut, semua lantas berpaling.

Di sana muncul Oey Yong, ynag orag tidak ketahui datangnya sebab mereka terlalu repot bertarung dan mengadu mulut.

Kwee Ceng melongo. Ia tidak tahu mesti bergirang atau berduka.

Oey Yok Su kaget sebentaran, lantas dia sadar. Bukan main girangnya ia menyaksikan putri tunggalnya itu tidak kurang suatu apa. Dengan begitu lenyap juga semua kemendongkolannya kepada Kwee Ceng. Ia tertawa berkakakan.

“Anak yang baik, ke mari!” ia kata. “Ayah sangat menyayangi kau!”

Sudah banyak hari Oey Yong berduka, sekarang ia mendengar suara demikian manis, lantas ia lari kepada ayahnya, untuk menubruk, melepaskan diri dalam rangkulan orang tua itu. Ia menangis.

“Ayah.” katanya, “Anak tolol itu membikin kau penasaran, dia pun menghina aku-.”

Oey Yok Su merangkul putrinya itu, ia tidak gusar, malah ia tertawa.

“Oey Lao Shia pergi, dia pergi ke mana dia suka, dia bikin apa yang dia!” katanya. “Untukku, selama beberapa puluh tahun, pengalamanku luar biasa! mereka yang tidak ketahui apa-apa, semuanya menimpahkan kesalahan di atas kepala ayahmu, maka itu kalau ditambahkan lagi sama beberapa fitnah, apakah artinya itu? Lima anggota Kanglam Cit Koay itu musuh besar dari kakak seperguruanmu, memang aku yang telah membinasakan mereka!”

“Bukan, bukan!” berteriak Oey Yong cepat. “Aku tahu betul, bukannya ayah yang membunuh mereka itu!”

Oey Yok Su tersenyum.

“Si tolol itu sangat besar nyalinya, dia berani menghina anakku yang baik!” ia berkata. “Kau lihat ayahmu membereskan dia!”

Benar seperti perkataannya, pemilik Tho Hoa To itu lantas bekerja, sebat seperti tadi ia mencekuk Ma Giok.

Kwee Ceng tengah memikirkan pembicaraan itu ayah dan anak, tahu-tahu pipinya yang kiri kena ditampar, nyaring hingga ia merasakan pipinya itu panas. Ia mau mengangkat tangannya, guna menangkis, atau orang telah menarik pulang tangannya itu, untuk dipakai mengusap-usap rambut indah dari putrinya. Ia menjadi bingung, tidak tahu ia mesti menyerang terus atau bagaimana. Tamparan itu keras suaranya tetapi tidak terlalu sakit.

Kwa Tin Ok kaget. Ia tahu muridnya dihajar tetapi ia tidak melihat itu.

“Anak Ceng, bagaimana?” ia lantas menanya.

“Tidak apa-apa,” sahut si murid.

“Kau jangan dengari ocehannya itu silumanan serta anak silumannya!” kata pula Tin Ok. “Aku telah mendengarnya sendiri bangsat tua itu membunuh jiesuhumu dan memaksakan kematiannya Cit…”

Kwee Ceng tidak menanti habisnya perkataan gurunya itu, ia menerjang kepada Oey Yok Su, sedang Tin Ok turut menyerang dengan tongkatnya.

Oey Yok Su melihat datangnya serangan, ia melepaskan anaknya, sambil berkelit dari serangan Kwee Ceng, ia maju untuk menggapai tongkat si jago yang buta itu.

Kali ini Kwa Tin Ok sudah bersedia, tongkatnya itu tidak kena dirampas, maka itu berdua dengan muridnya itu, ia menyerang terus, hingga mereka jadi berkelahi bertiga.

Kwee Ceng telah menemui banyak orang lihay, yang memberikan ia pelajaran, akan tetapi untuk melayani Oey Yok Su, ia masih kalah jauh, meski ia dibantu oleh Kwa Tin Ok, ia masih tidak bisa berbuat banyak. Baru tigapuluh jurus, ia dan gurunya itu sudah terdesak. khu Cie Kee semua berdiam sejak tadi. Mereka dibikin bingung dengan keterangannya Kwee Ceng itu. Belum bisa mereka berpikir, mereka melihat orang bertempur, maka yang pertama mereka pikir ialah, “Tadi Coan Cin Pay terancam bahaya, mereka guru dan murid membantui, maka sekarang sekali mereka terdesak apa kami mesti berdiam saja? Biar urusan Cui Susiok, dia benar masih hidup atau sudah mati, baiklah Oey Yok Su ini dibikin tunduk dulu!” Maka ia mengangkat pedangnya dan berseru, “Kwa Tayhiap, kembalilah ke kedudukanmu!”

Baru itu waktu, In Cie Peng merayap bangun untuk turun dari lauwteng. Ia kaget terbanting keras tetapi tidak terluka parah, cuma mukanya bengap dan matanya biru. Ia lantas kembali ke belakang Tin Ok dengan pedang terhunus.

Lagi sekali Oey Yok Su terkurung, hingga ia menjadi sangat gusar.

“Tadinya orang cuma salah mengerti, masih ada alasan kenapa orang menyerang aku,” pikirnya. “Sekarang setelah si bocah bicara, kawanan bulu campur aduk ini masih mengepung aku! Apakah mereka kira Oey Lao Shia takut membunuh orang?”

Maka ia lantas merangsak ke arah Kwa Tin Ok.

Oey Yong berkhawatir melihat air muka ayahnya. Ia tahu kalau ayahnya itu sudha gusar, dia benar-benar tidak mengenal kasihan.

Ong Cit It dan Ma Giok, lantas menghadang di depan tertuanya Kanglam Cit Koay itu.

Kwa Tin Ok mendongkol sekali, ia menyerang si nona sambil mendamprat, “Manusia hina jahat yang tidak berampun, siluman perempuan!”

Oey Yong menjdai sangat gusar.

“Hey, tua bangka, beranikah kau mencaci pula padaku?!” ia berseru.

Untuk Kanglam Cit Kaoy, mencaci bukan pekerjaan sukar, maka itu Tin Ok mulai nmengulang dampratannnya. Untuk Oey Yong, itulah hal yang langka. Ia tidak bisa mencaci orang, maka sambil meludah, ia berkata, “Cis! Tak malukah kau menjadi guru orang sedang mulutmu begini kotor?”

Tapi Kwa Tin Ok kata, “Aku bicara baik-baik sama orang baik, aku bicara kotor sama manusia hina dina!”

Oey Yong habis sabar, segera ia menyerang.

Tin Ok mengetahui datangnya serangan, ia menangkis, tetapi ia belum kenal Lek-tiok-thung yang luar biasa itu, begitu kedua tongkat beradu, tongkatnya lantas seperti ditempel, tongkat itu kena diputar sekehndak si nona, ia seperti kehilangan kendali. Ia berdiam di garis thian-soan, dengan ia kena dipengaruhi si nona, Pak Tauw Tin menjadi macet.

Khu Cie kee lantas menyerang si nona, punggung siapa dia arah, dengan begitu dia hendak membebaskan Tin Ok. Si nona tidak menghiraukan serangan itu. Ia mengandal pada baju lapisnya.

Ketika ujung pedangnya hampir mengenai sasarannya, imam dari Coan Cin Pay itu berpikir, ia ingat kepada derajatnya yang tinggi, maka mana dapat ia melayani seorang bocah. Karena ini, pedangnya tidak diteruskan menikam. Justru ketika yang baik itu digunai Oey Yong, maka dengan satu sontekan, ia membuatnya tongkat Tin Ok terlepas dari cekalan, mental tinggi, nyemplung ke Lam Ouw, Telaga Selatan!

Khu Cie Kee khawatir nanti si nona menyerang terus kepada tertua Kanglam Cit Koay itu, ia lompat menghalang. Sementara itu heran atas lihaynya si nona, ilmu tongkat siapa dia tidak kenal.

Kwee Ceng juga melihat gurunya terancam, ia berseru, “Suhu, silahkan mengaso, aku nanti menggantikan kau!” Dan ia lompat ke garis thian-soan itu. Begitu ia bertindak, begitu tin menjadi hidup pula, bahkan kedudukan thian-soan ini lantas menggantikan kedudukan thian-kie.

Oey Yok Su menjadi kembali terdesak. Biar dia dibantu gaisnya, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia belum bisa menyelami arti atau sifatnya Thian Kong Pak Tauw Tin itu. Syukur untuknya, di antara lawannya itu cuma Kwee Ceng yang paling hebat, hingga ia seperti harus melayani satu orang saja. Hanya sulit untuknya, ia tidak berniat mencelakai anak muda itu.

Oey Yong mendapat lihat Kwee Ceng berkelahi hebat sekali dan air muka orang juga guram, pemuda itu seperti dikurung sinar pembunuhan, ia terkejut. Belum pernah ia menyaksikan perubahan air muka semacam itu. Karena ini ia maju ke dapan ayahnya, ia kata pada itu anak muda, “Kau bunuhlah aku dulu!”

“Minggir!” membentak si anak muda, bentakannya keras dan romannya bengis.

Oey Yong heran hingga ia tercengang. Pikirnya, “Kenapa kau bicara begitu rupa terhadapku?”

Kwee Ceng maju terus, ia menolak tubuh si nona untuk dikepinggirkan, habis mana, ia terus merangsak Oey Yok Su.

Disaat tegang itu, di belakang mereka yang lagi bertarung itu terdengar suara tertawa berbahak disususl kata-kata nyaring, “Saudara Yok, jangan berduka, mari saudaramu membantu padamu!”

Suara orang itu tajam untuk kuping dan tak sedap terdengarnya.

Orang semua heran, tetapi mereka tidak lantas menoleh, sesudah Oey Yok Su terdorong, Cie Kee semua baru berpaling. Maka mereka melihat di tepian telaga ada lima atau enam orang dengan satu diantaranya panjang kaki dan tangannya, sebab dialah See Tok Auwyang Hong, si Bisa dari Barat.

Caon Cin Cit Cu lantas bertindak, sedang Khu Cie Kee kata kepada Kwee Ceng, “Anak Ceng, mari kita bikin perhitungan dengan See Tok dulu!” Ia mengulapkan pedangnya, terus ia melompat, guna mencoba mengurung Auwyang Hong.

Ketika itu Kwee Ceng tengah memperhatikan Oey Yok Su, ia sampai mendengar suaranya Khu Cie Kee, ia terus menerjang ayahnya Oey Yong itu, bahkan sebentar saja, mereka sudah bertempur lima enam jurus, hebat pertempuran mereka. Beberapa kali mereka sama-sama maju, kembali mereka mundur lagi.

Khu Cie Kee berenam sudah mengatur barisannya, ketika ia melihat ke arah Kwa Tin Ok, orang buta itu lagi memasang kuping, guna mendengar suara pertempurannya Kwee Ceng. Tin Ok bersedia akan melompat menubrk Oey Yok Su, guna memeluk erat-erat, agar muridnya bisa membinasakan musuh ini, untuk itu dia bersedia mengorbankan dirinya.

Menampak demikian, Khu Cie Kee memerintahkan In Cie Peng menggantikan Tin Ok mengambil kedududkan thian-soan.

Auwyang Hong juga telah bersedia. Ia berjonngkok dengan sikap ilmu kodoknya, tangan kanannya memegang tongkatnya. Sebagaimana biasanya, ia berlaku tenang, tidak mau ia lancang bergerak. Ia memangnya pula jeri untuk barisan Pak Tauw Tin dari Coan Cin Pay itu. Adalah setelah Khu Cie Kee bergerak, terpaksa ia melayani. Ia bermata jeli, segera ia merasa kelemahan tin itu berada di pihak In Cie Peng, maka ia memasang mata ke garis thian-soan itu.

Oey Yong menaruh diri di antara Kwa Tin Ok dan ayahnya serta Kwee Ceng yang lagi bertempur itu, ia masgul.

“Tahan dulu!” ia berseru, “Dengar perkataanku!”

Kwee Ceng tidak memperdulikan itu, ia menyerang terus, tetap hebat. Sikapnya ini membikin hilangnya sabar dari Oey Yok Su, dari bergerak dengan setengah hati, ia mulai menggunai tenaganya.

Di pihak Auwyang Hong, si Bisa dari Barat itu lagi mencoba mendesak Coan Cin Cit Cu, saban-saban ia mengasih dengar suaranya berkerak-kerok mirip kodok. Itu artinya bahaya tengah mengancam.

Si nona menjadi bingung. Kalau dua-dua ayahnya dan Auwyang Hong sudah turun tangan benar-benar, itulah hebat akibatnya. Ketika ia berpaling ke Yan Ie Lauw, di sana Ang Cit Kong masih duduk meloneng menonton pertempuran itu.

“Suhu, suhu!” ia lantas memanggil. “Suhu, tolong kau bicara!”

Sebenarnya Ang Cit Kong pun berkhawatir. Kalau ia masih gagah, ia tentu telah maju sama tengah. Maka ia menonton saja, sampai ia mendengar suara si nona. Ia lantas berpikir, “Asal Oey Lao Shia masih sukar mendengar aku, inilah gampang.”

Dengan menekan lonceng, Pak Kay lantas menurunkan diri. Ia terus berseru, “Tuan-tuan, tahan! Aku si pengemis tua hendak bicara!”

Kiu Cie Sin Kay kesohor sekali, melihat datangnya itu, orang lantas berhenti berkelahi. Tapi yang paling berkhawatir sekali ialah Auwyang Hong, hingga ia berkata di dalam hatinya, “Kenapa kepandaiannya si pengemis tua dapat pulih kembali?”

See Tok tidak ketahui, dengan mendapat bantuan dari Kiu Im Cin-keng menurut keterangan Kwee Ceng, Ang Cit Kong memperoleh sedikit kefaedahannya, jalan darahnya mulai lurus sendirinya, di dalam ilmu ringan tubuh, kepandaiannya itu sudah pulih lima atau enam bagian. Cuma dengan ilmu silat, semau kepandaiannya itu masih terhilang, ia mirip orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

6 Comments »

  1. Keren bos…

    Kalo bisa ceritanya di-bundel per-judul pake PDF, biar bisa dibaca ulang di rumah (di warnet mahal!!!)

    Trims.

    Comment by zuqeliang — 08/02/2010 @ 9:47 am

  2. bagus ceritanya,saya seneng banget. tapi kok tidak ada lanjutannya dari (71 dst). Mah lebih bagus lagi kalau dibundel pake pdf, biar bisa diunduh, gtu

    Comment by kusuma — 25/02/2010 @ 2:52 am

  3. Thanks ya atas sharing cersil ini. Sangat bagus …
    Oya … Bab 68 nya tidak ada ya ?

    Comment by OrangManado — 27/06/2010 @ 10:56 am

  4. Utk yg pengen pdf, tinggal kopi alamat halaman ini dan pergi ke http://www.pdfonfly.com/ utk save ke file pdf. Gampang.

    Comment by dewara — 27/07/2010 @ 6:51 am

  5. Siiip ceritanya bgs , saya seneng banget, baca berulang-ulang tapi manaaa lanjutannya

    Comment by yustina — 24/08/2010 @ 12:37 pm

  6. di tunggu lanjutannya gan…

    Comment by ndy enjoy — 09/01/2012 @ 12:13 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: