Kumpulan Cerita Silat

19/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 69

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:25 am


Bab 69. Hebat!
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Suhu,” kata Oey Yong kemudian. “Di dalam pertemuan di Yan Ie Lauw itu, pihak sana pasti bakal mengundang Auwyang Hong, benar Loo Boan Tong tidak bakal kalah tetapi dia berandalan, dia suka mengacau, aku khawatir nanti timbul keonaran, maka itu aku pikir perlu kita pergi ke Tho Hoa To untuk mengundang ayahku. Dengan begitu barulah kita akan merasa pasti akan kemenangan kita!”

“Kau benar,” berkata Cit Kong. “Biar aku yang pergi dulu ke Kee-hin dan kamu berdua pergi ke Tho Hoa To.”

“Baiklah kita pergi bersama dulu ke Kee-hin,” kata Kwee Ceng. Ia berkhawatir untuk gurunya itu.

“Tidak usah, biar aku pergi sendiri,” kata guru itu. “Aku akan menunggang kudamu. Umpama kata ada orang jahat, aku dapat mengaburkannya. Siapa dapat menyusul aku?” Ia lantas melompat ke punggung kuda itu, di mana dia menenggak araknya. Ketika ia menjepit kedua kakinya, kuda itu berpekik menghadapi Kwee Ceng, lantas ia kabur ke arah utara.

Pemuda itu mengawasi gurunya sampai guru itu lenyap dari pandangan matanya, lantas ia mengingat sikap Kwa Tin Ok, gurunya yang ke satu itu dari pihak Kanglam Cit Koay, ia menjadi sangat berduka.

Oey Yong tahu orang bersusah hati, ia tidak membujukinya, hanya ia terus menyewa perahu, untuk mengajak orang menaikinya, guna berangkat ke Tho Hoa To. Di dalam perjalanan itu, mereka tidak mengalami sesuatu, maka mereka tiba dengan tidak kurang suatu apa di pulau yng dituju. Setelah mendarat dan membayar sewaan perahu, hingga si tukang perahu lantas pergi, baru ia kata kepada kawannya, “Engko Ceng aku hendak memohon sesuatu padamu, kau suka meluluskan atau tidak?”

“Kau sebutkan dulu, aku mendengarnya,” menyahut si anak muda, “Jangan nanti soal yang aku tidak dapat melakukannya.”

Oey Ying tertawa.

“Aku bukannya minta kau memotong kepalanya keenam gurumu itu!” katanya.

Pemuda itu tidak puas.

“Untuk apa kau menimbulkan urusan itu, Yong-jie?” ia tanya.

“Kenapa aku tidak boleh menimbulkannya?” si nona balik menanya. “Mungkin kau dapat melupakan itu, aku tidak! Biarnya aku baik dengan kau tetapi aku tidak suka kepalaku dipotong olehmu…”

Anak muda itu menarik napas panjang.

“Sungguh aku tidak mengerti kenapa toasuhu demikian gusar…” katanya.

“Toasuhu ketahui baik sekali kaulah orang yang aku cintai. Biar aku mesti mati seribu atau selaksa kali, tidak nanti aku sudi melukai kau biar bagaimana kecil juga.”

Oey Yong bersyukur. Ia menarik tangan si anak muda, ia menyenderkan tubuhnya ke tubuh anak muda itu.

“Engko Ceng, apakah kau anggap Tho Hoa To ini bagus?” ia tanya. Ia menunjuk barisan pohon yangliu di tepi air. Perlahan suaranya.

“Mirip tempat dewa-dewi,” Kwee Ceng menyahut.

Si nona menghela napas.

“Ingin aku tinggal hidup di sini, tidak sudi aku dibunuh kau…” katanya.

Kwee Ceng mengusap-usap rambut nona itu.

“Anak tolol! Mana dapat aku membunuh kau..”

“Bagaimana kalau kau didesak enam gurumu, ibumu dan sekalian sahabatmu? Kau turun tangan juga atau tidak?”

“Biar semua orang di seluruh jagat memusuhkan kau, aku tetap akan melindungimu!” kata si anak muda.

Oey Yong memegang keras tangan si anak muda.

“Untukku, kau suka mengorbankan segala apa?” ia tanya.

Kwee Ceng berdiam, agaknya ia bersangsi.

Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengawasi mata orang. Sinar mata itu menunjuki roman kedukaan atau ragu.

“Yong-jie,” kata si anak muda kemudian, “Aku telah bilang padamu aku suka berdiam di Tho Hoa To untuk memenani kau seumur hidupku, ketika aku mengatakan itu, aku telah mengambil keputusanku.”

“Bagus!” si nona berseru. “Mulai hari ini ,kau tidak akan meninggalkan pulau ini!”

Kwee Ceng heran.

“Mulai hari ini?” dia tanya.

“Ya, mulai hari ini,” berkata si nona. “Aku akan minta ayah pergi ke Yan Ie Lauw untuk membantu pihakmu, aku bersama ayah nanti pergi membunuh Wanyen Lieh guna membalaskan sakit hatimu, habis itu aku bersama ayah nanti pergi ke Mongolia menyambut ibumu! Bahkan akan aku minta ayah menemui keenam gurumu guna memohon maaf untukmu. Aku hendak membikin supaya hatimu lega dan tidak ada apa-apa lagi yang harus dipikirakn!”

Kwee Ceng heran. Aneh sekali sikap nona ini.

“Yong, jie, apa yang aku bilang, semua itu kata-kataku,” ia bilang. “Kau boleh menetapkan hati.”

Si nona menghela napas.

“Urusan di dalam dunia ini banyak yang sukar dibilang pasti,” katanya. “Ketika dulu hari kau menerima baik perjodohan putri Mongolia itu, mana kau pernah ingat bahwa kau hari ini bakal menyangkal dia. Juga aku sendiri, aku pikir aku dapat melakukan segala apa sesukaku. Sekarang baru aku tahu…Ah, apa yang kita pikir baik, justru Thian pikir sebaliknya.”

Kedua matanya si nona menjadi merah, lekas-lekas dia tunduk.

Kwee Ceng pun berdiam, pikirannya bekerja. Ingin ia menemani Oey Yong seumur hidup di Tho Hoa To ini, tetapi berat untuk meninggalkan semua urusan dalam dunia, itulah tidak sempurna. Hanya kenapa dia tidak dapat menyebutnya.

“Aku bukannya tidak percaya kau dan hendak memaksa kau berdiam di sini,” si nona berkata pula sesaat kemudian, perlahan, “Hanya…hanya…Di dalam hatiku aku sangat takut…” Ia lantas mendekam di pundak anak muda itu, ia menangis.

Kwee Ceng bengong. Inilah ia tidak sangka. Ia juga heran.

“Kau takut apa Yong-jie?” ia tanya.

Si nona tidak menjawab, ia hanya menangis terus.

Kwee Ceng menjadi semakin heran. Semenjak mengenal si nona, biar bagaimana berat beban pengalaman mereka, belum pernah nona itu menangis, ia lebih banyak tertawa, tetapi sekarang, sepulangnya ke pulau ini? Inilah kampung halamannya. Apakah yang dia buat takut? Bukankah dia justru bakal bertemu sama ayahnya?

“Apakah kau mengkhawatirkan keselamatan ayahmu?” ia tanya akhirnya.

Oey Yong menggoyangi kepalanya.

“Apakah kau takut, kalau aku meninggalkan Tho Hoa To, lantas aku tidak kembali?”

Oey Yong menggeleng kepala pula. Dan ini dilakukannya terus meski si anak muda menanya pula ia hingga empat atau lima kali.

Maka berdiamlah mereka sekian lama.

“Engko Ceng,” kata si nona kemudian seraya mengangkat kepalanya mengawasi si anak muda. “Aku takut tetapi tidak dapat aku mengatakan apa sebabnya…Kalau aku ingat sikap dan romannya gurumu tempo dia hendak membinasakan aku, aku jadi bingung sekali. Aku menjadi khawatir, akan ada suatu harinya kau nanti mendengar perintah gurumu itu hingga kau membunuh aku…Maka itu aku minta kau jangan meninggalkan lagi pulau ini. Kau berjanjilah!”

Kwee Ceng tertawa.

“Aku kira urusan besar bagaimana, tak tahunya urusan begini!” katany. “Ingatkah kau kejadian dulu hari di Pakhia, ketika keenam guruku mengatai kau sebagai silumana? Ketika itu aku ikut kau pergi, lalu akhirnya tidak terjadi apa-apa. Memang roman keenam gurku itu bengis tetapi hatinya mereka sangat baik, maka kalau nanti kau sudah mengenal mereka, mereka tentulah akan menyukai kau…Jiesuhu lihay ilmunya merabai saku orang, nanti kau boleh belajar padanya. Tentang Citsuhu, ia sangat halus dan sabar…”

Tapi si nona memotong, “Dengan begitu, artinya kau mau meninggalkan pulau ini?”

“Kita meninggalkannya bersama-sama,” berkata si anak muda. “Kita sama-sama pergi ke Mongolia untuk menyambut ibuku. Kita bersama-sama membunuh Wanyen Lieh. Lalu bersama-sama juga kita pulang! Bukankah itu bagus?”

Si nona melongo.

“Kalau begitu, tidak dapat untuk selamanya kita bersama dan tidak dapat juga untuk selamanya berada bersama,” katanya selang sesaat.

Kwee Ceng menjadi heran.

“Kenapa begitu?” ia tanya.

“Aku tidak tahu,” si nona menggeleng kepala. “Jikalau aku melihat romannya toasuhumu, aku dapat menerka sesuatu. Untuk dia, tidak cukup dia mengutungi kepalaku! Dia membenci aku sampai ke tulang-tulangnya!”

Kwee Ceng melihat orang berbicara secara sungguh-sungguh, non aitu jadi sangat berduka. Ia jadi memikirkan. Tanpa merasa, ia pun berkhawatir. Ia ingat pula sikap gurunya yang kesatu yang sangat bengis itu.

“Dia biasa pandai berpikir,” katanya dalam hati. “Kalau sekarang aku tidak turuti dia dan kemudian kekhawatirannya itu terbukti, bagaimana nanti jadinya?” Ia jadi sangat berduka. Tapi ia pun dapat mengambil keputusannya. Maka ia kata, “Baiklah, aku tidak akan berlalu dari sini!”

Mendengar itu, Oey Yong bengong mengawasi pemuda itu, air matanya meleleh dari kedua belah pipinya.

“Yong-jie, kau menhendaki apa lagi?” tanya si anak muda perlahan.

“Aku menghendaki apalagi?” menyahut si nona. “Apa juga aku tidak menghendaki pula.” Lantas sepasang alisnya yang bagus bergerak, lantas ia tertawa. Ia kata pula, “Kalau aku menghendaki apa-apa lgai, Thian juga tidak bakal meluluskannya!”

Saking gembiranya, lantas di situ ia menari-nari, tangan bajunya yang panjang berseliweran, gelang emasnya berkilauan. Kadang-kadang ia menyambar-nyambar pohon bunga dengan bunganya warna merah, putih, kuning dan ungu. Tiba-tiba ia berlompat naik ke atas pohon, ke pohon yang lain, kembali lagi. Dalam kegembiraannya itu ia bersilat dengan Yang Siang Hui dan Lok Eng Ciang.

Menyaksikan di nona, Kwee Ceng seperti ngelamun. “Dulu ibu mendongeng kepadaku, bahwa di laut Tang Hay ada sebuah gunung dewi, bahwa atas gunung itu ada sejumlah dewinya. Mustahilkah di dunia ini ada gunung dewi yang lebih indah daripada pulau Tho Hoa To ini? Mungkinkah benar ada dewi yang melebihkan cantiknya Yong-jie ini?” Ia sadar ketika mendadak Oey Yong berseru seraya terus melompat turun, tangannya menggapai padanya seraya dia terus lari ke depan, menerobos di antara rimba.

Kwee Ceng menyusul. Ia pun khawatir nanti kesasar.

Oey Yong lari berliku-liku sampai ia berhenti dengan mendadak.

“Apakah itu?” tanyanya seraya tangannya menunjuk ke depan di mana ada benda bertumpuk.

Kwee Ceng mendahului maju. Itulah seekor kuda yang lagi rebah. Bahkan ia lantas mengenali itulah kudanya Han Po Kie, samsuhu atau gurunya yang nomor tiga. Ia mengulur tangannya memegang perutnya kuda itu. Dingin rasanya. Terang sudah, kuda itu telah lama mati. Berbareng heran, Kwee Ceng berduka. Kuda ini pernah turut pergi ke gurun pasir dan dengannya Kwee Ceng kenal sejak dia masih kecil.

“Boleh dibilang inilah kuda luar biasa dan kuat, kenapa dia mati disini?” si anak muda berpikir. “Tentu sekali samsuhu sangat berduka…”

Mengawasi lebih jauh, Kwee Ceng dapat memperhatikan, kuda itu bukan mati rebah melonjor hanya keempat kakinya bertekuk meringkuk. Ia terkejut. Ia lantas ingat kudanya Gochin Baki, yang terbinasa dihajar Oey Yok Su. Kuda putri itu mati melingkar mirip dengan kuda ini. Maka dengan tangan kirinya ia mengangkat lehernya kuda itu dan dengan tangan kanannya meraba dua kaki kuda itu. Untuk kagetnya ia mendapatkan tulang-tulangnya kuda itu remuk. Ia lantas meraba punggung kuda itu. Tulang punggungnya itu juga patah! Ketika ia mengangkat tangannya, ia melihat tangannya itu berlepotan darah – darah yang sudah berubah menjadi hitam tetapi bau amisnya masih ada. Mungkin sudah tiga empat hari kuda ini mati.

Oleh karena penasaran, Kwee Ceng membaliki tubuhnya binatang itu, untuk memeriksa. Ia tidak mendapatkan luka di luar. Saking heran, ia duduk dengan menjatuhkan diri di tanah, hatinya bekerja, “Mungkinkah ini darahnya samsuhu? Habis dimana adanya guruku itu?”

Sekian lama Oey Yong berdiam di samping menyaksikan kelakukannya Kwee Ceng, ia pun heran, tetapi ia dapat menenangkan diri. Maka kemudian ia kata, “Kau jangan bergelisah. Mari kita memeriksanya perlahan-lahan…”

Nona ini maju, ia mementang kedua tangannya membiak pohon-pohon bunga, sembari berjalan ia memperhatikan tanah. Kwee Ceng mengikuti, ia juga mengawasi ke tanah, maka terlihatlah olehnya titik-titik yang disebabkan bercecerannya darah. Saking ketarik dan tegang hatinya, ia sampai melupai jalan yang sesat, ia mendahului si nona, dari jalan perlahan, ia menjadi membuka tindakan lebar. Tidak heran kalau beberapa kali ia kesasar.

Oey Yong berlaku teliti, ia berjalan hingga di gombalan rumput, di pinggir batu karang. Di situ tanda darah itu sebentar kedapatan sebentar lenyap. Ia memeriksa dan melihat tapak serta bulu kuda.

Tanpa mengenal capai, mereka berjalan terus hingga beberapa lie, sampai di depan sekumpulan pohon bunga dan pepohonan lain di mana ada sebuah kuburan. Melihat itu Oey Yong lari menghampirkan.

Ketika dia pertama kali datang ke Tho Hoa To, Kwee Ceng pernah melihat kuburan itu, yang ia masih mengenalnya. Itulah kuburan dari ibunya si nona. Hanya kali ini, kuburan itu tidak utuh seperti dulu hari itu. Batu nisannya telah roboh. Ia maju untuk mengangkat itu. Ia membaca tulisan di batu peringatan itu. Ibunya Oey Yong ada orang she Phang. Terang tulisan itu ada tulisan Oey Yok Su – tulisannya bagus dan tegak.

Oey Yong melihat pintu perkuburan telah terpentang lebar-lebar. Ia merasa pasti bahwa di pulaunya ini sudah terjadi sesuatu. Tadi pun ketika dari atas pohon ia melihat melingkarnya kuda, hatinya sudah tercekat. ia tidak lantas bertindak masuk. Lebih dulu ia memasang mata ke sekitar kuburan. Di kiri kuburan, rumput hijaunya bekas terinjak-injak. Di muka pintu terlihat bekas-bekas senjata beradu. Ia memasang kuping. Ia tidak mendengar suara apa-apa. Maka dengan membungkuk, ia masuk di pintu.

Kwee Ceng berkhawatir, ia mengikuti masuk.

Begitu berada di dalam, muda-mudi itu merasakan hati mereka tegang, lebih-lebih si pemudi. Bukankah ini kuburannya ibunya? Tembokan pada gugur atau gugus, bekas terhajar senjata tajam akibat suatu pertempuran dahsyat.

Oey Yong memungut suatu barang ketika ia mulai bertindak masuk. Kwee Ceng mengenali itulah timbangan atau dacin, yang menjadi senjata gurunya keenam, Coan Kim Hoat. Timbangan itu terbuat dari besi, ukurannya sebesar lengan, tetapi toh orang dapat mematahkannya menjadi dua. Maka mereka berdua saling mengawasi, mulut mereka bungkam, mereka seperti tidak berani membuka mulut. Mereka tahu, cuma ada beberapa gelintir orang yang tenaganya kuat istimewa dan untuk Tho Hoa To, orang itu melainkan Oey Yok Su seorang…

Kwee Ceng menyambut dari tangan Oey Yong potongan dacin itu, ia lantas mencari potongan yang lain, sembari mencari ia merasakan hatinya tertindih berat sekali, ingin ia mencari dapat, ingin ia tidak dapat mencarinya…

Lebih jauh ke dalam, tempat kuburan itu menjadi terlebih suram. Kwee Ceng lantas membungkuk, tangannya meraba-raba ke tanah. Mendadak tangannya membentur sesuatu yang keras, yang ternyata adalah batu timbangan, batu yang mana dipakai Kim Hoat sebagai senjata rahasia untuk menimpuk. Hatinya berdebaran. Ia masuki gandulan itu ke sakunya, ia maju lebih jauh.

Untuk terkesiapnya hatinya, Kwee Ceng kena meraba benda yang dingin tetapi lunak. Ia meraba-raba. Akhirnya ia kaget hingga ia lompat bangun, ia kena pegang muka orang. Justru ia lompat, justru – duk…! Kepalanya membentur langit kuburan itu. Tapi di saat seperti itu, ia melupakan nyeri. Maka ia lantas mengeluarkan bahan apinya dan menyalakan itu. Begitu dapat melihat, ia menjerit dan langsung ia roboh pingsan!

Api di tangannya pemuda itu tidak padam, dengan cahaya api, Oey Yong bisa melihat tegas.

Coan Kim Hoat rebah terterlantag sebagai mayat, kedua matanya terbuka besar. Di dadanya nancap potongan lain dari dacinnya itu. Maka sekarang duduknya hal menjadi terang.

Oey Yong kaget tetapi ia mencoba menentramkan diri. Dari tangannya Kwee Ceng ia mengambil api, dengan itu ia mengasapi hidungnya si anak muda. Itulah daya untuk menyadarkan orang pingsan.

Tidak lama, anak muda itu berbangkis dua kali, lantas ia mendusin. Ia membuka matanya mengawasi si pemudi. Kemudian ia bangun, untuk berdiri. Tanpa membilang suatu apa, ia masuk lebih jauh. Oey Yong mengikuti.

Di ruang dalam yang merupakan liang kubur asli, segala apa kacau. Meja sembahyang pecah ujungnya, Pikulan besi dari Lam Hie Jin nancap di lantai. Di pinggir kiri kamar itu, rebah melintang tubuh satu orang, ikat kepalanya robek, sepatunya copot. Dengan melihat dari punggung saja sudah dapat dikenali dialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay.

Dengan tindakan perlahan, Kwee Ceng menghampirkan. Ia membalik tubuhnya jiesuhu itu, gurunya yang nomor dua. Ia melihat bibir yang tersenyum, tapi yang sudah dingin, seperti dinginnya seluruh tubuhnya. Maka anehnya senyumannya Kanglam Cit Koay yang kedua ini.

“Jiesuhu, teecu Kwee Ceng datang!” kata si anak muda perlahan. Setelah itu dengan berhati-hati ia mengangkat tubuhnya gurunya itu, atau – ting-tang! Ia mendengar suara barang jatuh saling susul. Itulah jatuhnya dari sakunya banyak barang permata, seperti batu kumala, yang berserakan di lantai.

Oey Yong menjumput beberapa potong barang permata itu, untuk ditelitikan. Segera ia melemparkannya pula, dengan dingin, ia berkata: Ini permata mulia yang dikumpul ayah yang sengaja dipakai untuk menemani ibuku!”

Kwee Ceng terkejut. Ia menoleh kepada kekasihnya itu. Ia menjadi terlebih kaget pula. Disamping suara dingin dan tak sedap dari si nona, ia melihat sinar matanya mencorong tajam dan bengis, dari mata yang merah bagaikan darah.

“Apakah kau maksudkan guruku datang ke mari mencuri permata ini?” ia menanya perlahan.

Mata si pemudi menatap si pemuda akan tetapi di tidak dapat mundur, dia bahkan mengawasi, hanya sekarang sinarnya berubah. Itulah sinar mata dari putus asa, dari kedukaan.

“Guruku yang kedua adalah seorang laki-laki sejati,” kata Kwee Ceng. “Mana mungkin ia mencuri harta ayahmu? Lebih-lebih tidak mungkin dia mencuri barang permata di dalam kuburan ibumu ini!”

Oey Yong mendengar nada orang, dari gusar menjadi berduka.

Memang juga pikiran Kwee Ceng berubah dengan perlahan-lahan. Ia menyangka si nona menuduh gurunya itu, seorang kesatria, ia menjadi tidak senang, ia menjadi gusar. Segera setelah itu, ia memikir kepada kenyataan. Bukankah gurunya itu terkenal sebagai si tangan lihay, yang sangat pandai mencopet? Bukankah semua permata itu meluruk dari saku gurunya itu? Bukankah mereka justru berada di dalam liang kubur di mana harta itu di simpan? Tapi, benarkah gurunya itu datang ke situ untuk mencuri? Bukankah gurunya itu seorang laki-laki sejati? Ia menyangsikan gurunya berbuat demikian busuk dan hina. Maka ia menduga kepada suatu yang di luar dugaannya. Dalam kesangsian itu, antara kegusaran dan kedukaan dan keragu-raguan, ia mengepal keras tangannya hingga terdengar suara meretek.

Oey Yong masih mengawasi lalu ia berkata dengan perlahan, “Ketika itu hari aku melihat air mukanya gurumu yang nomor satu, aku merasa aneh sekali, aku lantas seperti dapat firasat bahwa di antara kita berdua sulit ada akhir yang baik, yang membahagiakan. Jikalau keu hendak membunuh aku, sekarang kau boleh turun tangan. Ibuku ada di sini, maka kau tolong saja mengubur aku di sisinya. Lekas kau angkat kaki dari sini supaya jangan sampai kau bertemu dengan ayahku…”

Kwee Ceng tidak menyahuti, ia jalan mondar-mandir, tindakannya lebar dan cepat, napasnya memburu.

Oey Yong berdiam. Ia mengawasi ke gambar lukisan dari ibunya. Ia melihat suatu benda di situ, ia lantas menghampirkannya. Nyata itulah senjata rahasia yang nancap. Ia menurunkan itu.

Kwee Ceng melihat itu, ia mengenali tok-leng atau lengkak rahasia dari Kwa Tin Ok.

Oey Yong terus berdiam, tangannya menyingkap toh-wie di belakang meja sembahyang . Di situ ada peti mati dari ibunya. Ketika ia menghampirkan, mendadak ia menghela napas panjang. Di belakang peti mati ibunya itu rebah dua mayat dari kakak-beradik, atau engko beradik, Han Po Kie dan Han Siauw Eng. Siauw Eng itu terang telah membunuh diri, sebab tangannya masih memegang gagang pedang. Tubuh Po Kie sendiri menindih peti mati. Hanya yang hebat, batok kepalanya telah meninggalkan liang bekas lima jari.

Kwee Ceng telah melihat kedua mayat itu. Ia sekarang bisa berlaku tenang. Ia memondong turun tubuh gurunya yang ketiga itu, seorang diri ia berkata, “Aku melihat sendiri kematiannya Bwee Tiauw Hong. Di kolong langit ini, orang yang pandai Kui Im Pek-kut Jiauw, siapa lagi kecuali Oey Yok Su?” Ia mengambil pedangnya Siauw Eng, terus ia bertindak ke luar, ketika ia melewati Oey Yong, ia tidak berpaling lagi pada si nona.

Oey Yong merasa hatinya dingin secara tiba-tiba, ia berdiam. Justru itu, ruang itu menjadi gelap, sebab apinya padam. Ia kaget, hatinya berdebaran. Itulah kuburan yang ia kenal baik, tetapi di situ sekarang rebah empat mayat dalam caranya yang berlainan, yang mengerikan, maka ia lantas lari keluar. Satu kali ia terpeleset, hampir ia roboh. Setibanya di luar baru ia ingat bahwa ia telah kesandung tubuhnya Coa Kim Hoat. Sekarang ia melihat batu nisan yang roboh. Ia hendak menutup kuburan itu ketika ia ingat satu hal. Ia lantas kata kepada dirinya sendiri, “Kalau ayah yang membunuh keempat anggota Kanglam Cit Koay ini, kenapa pintu tidak di kunci? Ayah sangat mencintai ibu, biarnya ia sangat kesusu, tidak nanti ia membiarkan pintu tinggal terpentang?” Maka ia menjadi ragu-ragu. Ia menjadi ingat pula, “Cara bagaimana ayah dapat membiarkan mayat keempat orang ini menemani ibu? Tidak mungkin! Mungkinkah ayah sendiri yang nampak sesuatu yang tidak dinyana?”

Lantas Oey Yong membetulkan batu nisan itu, ia menguncu pintunya, ialah dengan mendorong batu nisan itu ke kanan tiga kali dan ke kiri tiga kali juga, habis itu ia lari ke rumahnya. Ia dapat menyusul Kwee Ceng meskipun anak muda itu telah keluar lebih dahulu beberapa puluh tindak. Anak itu berputaran karena kesasar, kapan ia melihat si nona, dia lantas mengikuti. Mereka berjalan tanpa membuka suara, mereka melintasi pengempang, sampai di rumah peranti bersemedi dari Oey Yok Su.Hanya sekarang rumah itu roboh tidak karuan, di bagian depan terlihat tiang-tiang dan penglari yang patah.

Oey Yong menjadi kaget sampai ia menjerit-jerit, “Ayah! Ayah!” Dia lari ke dalam rumahnya. Di situ kursi dan meja pada terbalik dan segala perabot tulis, buku semua berserakan di lantai. Di situ tidak ada sekalipun bayangan Oey Yok Su.

Nona ini berotak tajam, dia cerdas dan lekas berpikir, tetapi kali ini pikirannya kacau. Ia memegang meja tulis ayahnya, tubuhnya bergoyang-goyang mau jatuh. Sampai sekian lama, baru ia bisa menetapkan hati. Ia lari ke samping, ke kamarnya budak-budaknya yang gagu, sia-sia belaka ia mencari, dia tidak dapat menemukan seorang budak juga. Di dapur sunyi semua. Rupany, meski orang tidak mati, semua telah pergi entah ke mana. Rupanya di pulau itu, kecuali mereka berdua, tidak ada orang lainnya lagi…

Dengan tindakan perlahan Oey Yong menuju ke kamar tulis, di situ Kwee Ceng berdiri menublak, matanya mengawasi lempang ke depan.

“Engko Ceng, lekas kau menangis!” berkata si nonoa. “Kau menangis dulu, baru kita bicara!”

Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya dengan matanya mendelik ia mengawasi si nona itu, Ia sangat mencintai keenam gurunya, sekarang ia mendapat pukulan begini hebat, kedukaannya sampai di puncaknya hingga tak dapat ia menangis.

Oey Yong kaget.

“Engko Ceng!” katanya. Cuma sebegitu ia bisa bilang lantas ia berdiam.

Keduanya berdiri saling mengawasi.

Akhirnya si anak muda mengoceh sendiri, “Tidak dapat aku membunuh Yong-jie, tidak dapat aku membunuh Yong-jie!”

Oey Yong lantas berkata, “Gurumu telah mati, kau menangislah!”

“Tidak, aku tidak menangis!” kata Kwee Ceng seorang diri.

Kembali keduanya berdiam. Sunyi kamar tulis itu. Cuma di kejauhan terdengar samar-samar suara berdeburnya gelombang.

Oey Yong berpikir keras, ia mengingat segala apa, tetapi tetap dia diam.

“Aku mesti mengubur dulu guru-guruku…” Kemudian etrdengar Kwee Ceng mengoceh pula.

“Benar, semua guru mesti dikubur lebih dulu!” menimpali Oey Yong. Bahkan ia mendahului berjalan kembali ke kuburan ibunya.

Tanpa bersuara, Kwee Ceng mengikuti. Selagi si nona hendak mendorong batu nisan, mendadak ia lompat melewati, terus ia menendang batu nisan itu. Ia menggunai tenaga besar tetapi batu itu besar dan berat, ia tidak dapat menggempur roboh, sebaliknya, kakinya yang berdarah, hanya ia tidak merasakan. Bagaikan kalap, ia menyerang kalang-kabutan dengan pedangny, menikam dan menebas, dan tangan kirinya juga menghajar, hingga batu gugur dan gugusannya terbang berhamburan. Pedangnya tak tahan, pedang itu patah. Ia menjadi panas, maka ia terus menyerang dengan tangannya. Kali ini ia berhasil membikin batu patah, hingga terlihat sebatang besi. Ia pegang besi itu, ia menggoyang-goyang keras. Dengan satu suara nyaring, besi itu membuatnya pintu kuburan terbuka sendirinya. Ia melengak, ia kata seorang diri, “Kecuali Oey Yok Su, siapa dapat membikin pintu rahasia ini dan siapa dapat memancing semua guruku masuk ke dalam kuburan hantu ini?” Lalu ia berdongak dan berseru nyaring, terus ia melemparkan pedang buntungnya, untuk lari masuk ke dalam kuburan itu!

Oey Yong mengawasi pedang buntung dan batu nisan yang patah, yang terkena darahnya si anak muda, ia bengong, hatinya bekerja. Ia melihat kebencian hebat dari Kwee Ceng itu. Ia pikir, “Jikalau ia melampiaskan amarahnya dengan merusak peti mati ibuku, lebih dulu aku akan membunuh diri dengan membenturkan kepalaku ke peti…” Lantas ia menyusul pemuda itu itu atau ia melihat Kwee Ceng berjalan keluar dengan memondong tubuhnya Coan Kim Hoat, setelah meletaki tubuh itu, dia masuk pula, akan mengambil mayatnya Cu Cong. Perbuatan itu dilanjutkan kepada mayat Han PO Kie dan Han Siauw Eng.

Dengan mata mendelong, Oey Yong mengawasi si anaj muda pada muka siapa kentara sekali cintanya pada guru-gurunya itu. Hatinya menjadi dingin. Ia kata di dalam hatinya, “Nyatalah ia mencintai gurunya melebihkan cintanya padaku. Ah, mesti aku mencari ayah, mesti aku mencari ayah…”

Kwee Ceng membawa keempat mayat gurunya ke dalam rimba, terpisah dari kuburan ibunya Oey Yong beberapa ratus tindak, di situ barulah ia menggali lubang. Ia menggali dengan patahan pedang, hebat ia menggunai tenaganya. Sekian lama ia bekerja, mendadak pedangnya bersuara keras, pedang itu patah dua!

Justru itu ia merasakan dadanya sesak, hawa panas naik, kerika ia mementang mulutnya, ia memuntahkan darah hidup dua kali, tetapi ia bekerja terus, dengan kedua tangannya ia membongkar tanah, yang ia saban-saban melemparkannya.

Melihat demikian, Oey Yong lari mengambil dua buah sekop peranti bujang gagunya, yang satu ia kasihkan pada si anak muda, yang lain ia pakai sendiri, untuk membantui menyingkirkan tanah.

Kwee Ceng merampas sekop di tangan si nona, ia sendiri patahkan itu, kemudian dengan sekop yang satunya lagi ia bekerja sendiri, ia menggali terus lubang.

Oey Yonng tahu artinya perbuatan anak muda itu, ia merasakan hatinya sakit, tetapi ia tidak menangis, ia hanya duduk mengawasi saja.

Kwee Ceng bekerja luar biasa. Ia berhasil menggali dua buah lubang yang besar dan satu kecil. Ke lubang yang kecil itu ia pondong tubuh Siauw Eng, untuk diletaki dengan hati-hati. Ia lantas berlutut, ia paykui beberapa kali. Ia mengawasi muka guru wanita itu, guru yang ketujuh, sesudah itu baru ia menguruknya. Setelah itu ia mengangkat tubuhnya Cu Cong dimasuki ke dalam liang kubur yang besar. Mendadak ia berpikir, “Permata mulia kotor dari Oey Yok Su mana dapat menemani jiesuhu?” Maka itu, ia merogoh saku gurunya, ia mengluarkan sisa baru permata, paling akhir ia menarik keluar sehelai kertas putih, yang ada suratnya. Ia membeber itu dan membaca:

“Yang rendah dari Kanglam, Kwa Tin Ok, Cu Cong, Han Po Kie, Lam Hie Jin, Han Po Kie dan Han Siauw Eng, dengan ini menghanturkan beritahu kepada cianpwee pemilik Tho Hoa To bahwa mereka telah mendengar kabar yang Coan Cin Cit Cu, dengan tidak menaksir tenaganya sendiri, hendak melakukan sesuatu terhadap Tho Hoa To. Mengenai itu, menyesal kami tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengakurkannya, hanya mengingat cianpwee adalah pantarannya Ong Tiong Yang Cinjin, kami memikir mana dapat cianpwee melayani anak-anak muda. Di jaman dahulu Liang Siang Jie telah mengalah terhadap Liam Po, peristiwa itu menjadi buah tutur yang berupa pujian. Karena siapa gagah, dadanya lapang bagaikan lautan, dia tentu tidak menghiraukan segala perbuatan di antara ayam dan kutu. Kalau nanti kejadian Coan Cin Cit Cu datang ke depan Tho Hoa To, untuk mengakui kesalahannya sendiri, pastilah semua orang gagah di kolong langit ini akan mengagumi kepribadian cianpwee. Bukankah itu bagus?”

Habis membaca itu, Kwee Ceng berpikir, “Dulu hari Coan Cin Cit Cu bertempur sama Oey Yok Su di Gu-kee-cun, lantas Auwyang Hong secara diam-diam menggunakan akal jahatnya dan membinasakan Tiang Cun CU Tam Cie Toan, kesalahan digeser kepada Oey Yok Su. Oey Yok Su berkepala besar, ia tidak menghiraukan urusan itu, dia tidak mau membersihkan diri, maka kejadian Coan Cin Cit Cu jadi semakin membenci padanya. Rupanya sekarang guruku mendapat dengar Coan Cin Cit Cu datang untuk melakukan pembalasan, karena ia khawatir kedua pihak itu rusak bersama, guruku itu menulis suratnya ini menganjurkan Oey Yok Su menyingkirkan diri untuk sementara waktu, supaya kemudian di dapat jalan guna membeber duduknya hal. Dengan begitu, guruku ini bermaksud baik, maka Oey Yok Su si tua sesat, kenapa dia telah menurunkan tangan jahatnya kepada guruku semua?” Baru ia berpikir begitu, atau lantas ia berpikir pula, “Jiesuhu sudah menulis surat ini, kepada ia tidak menyampaikannya kepada Oey Yok Su melainkan dibiarkan berada di dalam sakunya? Ah, mungkin waktu terlalu mendesak, Coan Cin Cit Cu telah keburu datang, dia jadi tidak mendapat tempo lagi untuk menyerahkannya, maka mereka lantas datang sendiri, guna maju sama tengah di antara kedua pihak yang bertempur itu. Oey Lao Shia, Oey Lao Shia, mungkin kau menyangka guru adalah kawan-kawan undangan dari Coan Cin Cit Cu, yang bakal membantui pihak sana, maka dengan semberono kau taleh menurunkan tangan jahatmu itu…”

Kembali pemuda ini berdiam. Surat itu ia lipat, hendak di masuki ke dalam sakunya. Selagi ia melipat, tiba-tiba di belakang itu ia melihat coretan beberapa huruf, yang membikin ia kaget hingga hatinya berdebaran. Tulisan itu, yang suratnya tidak karuan, berbunyi, “Segera bakal terjadi hal yang tidak diduga-duga, maka semua bersiaplah berjaga-jaga…” Masih ada tulisan lainnya, yang belum tertulis lengkap, mungkin disebabkan bencana sudah lantas tiba.

“Inilah terang huruf ’Tong’ yang hendak ditulisnya. Jiesuhu memperingati untuk bersiaga untuk ’Tong Shia’, sayang sudah terlambat…”

Maka ia kepal-kepal surat itu menjadi gulungan kecil, dengan menggertak gigi, ia kata dengan sengit, “Jiesuhu, jiesuhu, maksudmu yang baik telah dipandang sebagai maksud jahat oleh Oey Lao Shia…”

Setelah itu, surat itu jatuh ke tanah, ia sendiri lantas mengangkat tubuh Cu Cong.

Oey Yong mengawasi terus pemuda itu, ia melihat muka orang yang seperti berubah-ubah. Ia menduga surat itu mesti penting sekali, maka perlahan-lahan ia bertindak. Ia pungut surat itu untuk segera dibaca dua-duanya, yang di depan dan yang di belakang. ia pikir, “Keenam gurunya datang ke Tho Hoa To dengan maksud baik, maka sayang Baiuw Ciu Sie-seng hatinya tidak lurus, sudah biasa ia menjadi pencopet, melihat hartanya ibuku hatinya terpincuk, hingga ia melanggar pantangan besar dari ayahku…”

Ketika itu Kwee Ceng telah meletaki tubuhnya Cu Cong, lalu ia membuka tangan kiri orang yang terkepal, mengambil dari situ serupa barang.

Oey Yong melihat itulah sebuah sepatu wanita, yang panjangnya satu dim lebih. Terang itu ada sepatu mainan yang terbuat dari batu hijau tetapi buatannya indah sekali. Itulah benda yang berharga mahal. Belum pernah ia ingat ibunya mempunyai barang mainan semacam itu, maka entah di mana Cu Cong mendapatkannya.

Kwee Ceng membulak-balik sepatu-sepatuan itu, di bagian bawahnya ia mleihat ukuran huruf “ciauw” sedang di dasar sebelah dalam, ada ukiran huruf “pie”. Ia sengit, ia banting sepatu itu, syukur tidak pecah. Kemudian ia bergantian mengangkat tubuhnya Coan Kim Hoat dan Han Po Kie, dikasih masuk ke dalam liang kuburan yang besar itu, diletaki dengan rapi. Ketika ia hendak menguruk, ia melihat muka ketiga gurunya, ia tidak tega hatinya. Maka ia mengawasi batu permata itu. Tiba-tiba timbul pula hawa amarahnya. Ia pungut semua itu dengan kedua tangannya, ia lari ke kuburan ibunya Oey Yong.

Si nona khawatir orang nanti merusak peti mati ibunya, ia pun ikut lari. Ia lari, untuk mendahului. Ia bisa memotong jalan, maka ia tiba lebih dulu. Lantas ia menghadang di depan pintu kuburan, kedua tangannya dipentang.

“Kau mau apa?” ia tanya si pemuda.

Kwee Ceng tidak menjawab, dengan tangan kirinya, ia menolak tubuh si nona, lalu kedua tangannya disempar ke depan,maka terdengarlah suara nyaring, dari meluruk jatuhnya barang-barang permata, di antaranya itu sepatu mainan dari batu hijau yang jatuh di kaki nona.

Oey Yong membungkuk, ia memungutnya.

“Ini bukannya barang ibuku,” ia kata, dan ia membayarnya pulang.

Kwee Ceng menyambut, ia awasi itu, terus ia masuki ke dalam sakunya. Setelah itu ia memutar tubuhnya. Kali ini ia ,ulai menguruk tanah, hingga menutup rapat mayat keempat gurunya itu.

Lama sang waktu lewat, hari mulai sore.

Oey Yong menyaksikan, Kwee Ceng terus tidak menangis, ia merasa sangat berduka. Maka ia pikir, kalau dibiarkan sendiri, mungkin hati pemuda itu lega. Dari itu, ia pergi pulang, untuk memasak nasi serta lauk-pauknya. Apabila semua itu sudah matang, ia membawanya keluar.

Kwee Ceng terlihat berdiri menjublak di depan kuburan gurunya. Dia berdiri tetap di tempat dia berdiri semula, tubuhnya juga tidak berkisar atau berubah. Ia berdiam setengah jam lebih selama si nona masuk, hingga dia mirip patung. Maka si nona kaget sekali.

“Engko Ceng, keu kenapa?” ia tanya.

Kwee Ceng tidak menyahuti, tubuhnya tetap tidak bergerak.

“Engko ceng, mari dahar,” kata si nona pula. “Sudah satu harian kau belum dahar…”

“Meski aku mati kelaparan, tidak nanti aku makan barang dari Tho Hoa To!” berkata si anak muda.

Mendengar itu, meskipun tidak sedap, hati Oey Yong lega sedikit. Ia mengerti adat orang, tentu Kwee Ceng pegang perkataannya itu. Dari itu ia meletaki naya, ia duduk di tanah.

Demikian, yang satu tegak berdiri, yang lainnya berduduk, keduanya berdiam menghabiskan waktu, hingga rembulan mulai muncul dari permukaan laut. Si Putri Malam naik terus, sampai dia berada di atasan kepalanya dua orang itu, sedang sayur di dalam naya telah menjadi dingin sendirinya. Hati mereka seperti sama dinginnya. Dalam kesunyian itu, suara gelombang terdengar semakin nyata. Dari kejauhan terdengar beberapa kali seperti suara serigala dan harimau, suara mirip dengan jeritan. Sang angin juga yang membikin suara itu lenyap sendirinya.

Oey Yong memasang kupingnya, ia menyangsikan itu suara manusia atau suara binatang yang sedang menderita, karena perhatiannya tertarik, ia berbangkit, untuk lari menuju ke sana. Sebenarnya ia berniat mengajak si anak muda atau ia membatalkan pikirannya itu setelah ia berpikir pula, “Kebanyakan ini adalah urusan tidak bagus., aku akan cuma-cuma menambah keruwetan pikirannya…” Ia sebenarnya sedikit jeri untuk suasana seperti itu, tetapi karena ia kenal baik pulaunya itu, ia maju terus.

Selagi si nona berlari-lari, ia merasakan angin menyambar di sampingnya. Segara ia mendapat kenyataan, Kwee Ceng lagi mencoba mendahului dia. Pemuda ini tidak kenal jalanan, maka itu ia maju dengan tangan dan kakinya saban-saban menghajar pohon-pohon yang menghadang di depannya. Dilihat dari romannya, pemuda itu seperti telah kehilangan pikirannya yang sehat.

“Kau ikut aku!” kata si nona.

Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya ia berteriak-teriak “Soe-suhu! Soe-suhu!” Ia telah mengenali suara gurunya yang keempat, Lam Hie Jin.

Hati Oey Yong terkesiap. Ia tahu, kalau Kwee Ceng bertemu sama gurunya itu, entah bakal terjadi apa pula atas dirinya. Tapi ia tidak takut, maka ia lari terus, akan menunjuki jalan. Ia lari ke timur, di mana ada banyak pepohonan. Tiba di situ ia melihat seorang berada di bawah pohon, tubuhnya bergulingan, tubuh itu melingkar. Itulah Lam Hie Jin.

Kwee Ceng menjerit, ia berlompat menuburuk gurunya itu, untuk diponodng. Ia melihat mulut gurunya terbuka, tertawa, tetapi suaranya bukan tertawa wajar. Ia kaget dan girang, hingga ia menangis.

“Soe-suhu! Soe-suhu!” ia memanggil.

Lam Hie Jin tidak menyahut, hanya sebelah tangannya melayang.

Kwee Ceng tidak menyangka tetapi ia sempat berkelit. Hanya habis menggaplok dan gagal, Hie Jin terus meninju dengan tangan kirinya. kali ini si anak muda tidak berkelit, ia tidak menangkis. Ia menyangka guru itu menyesalkan atau mempersalahkan padanya. Hebat serangan guru yang nomor empat ini, Kwee Ceng terpental jumpaliatn. Ia tidak menduga gurunya bertenaga demikian besar. Dulu-dulu, diwaktu berlatih dengannya, tenaga gurunya ini tidak demikian besar. Ia baru bangun atau Hie Jin, yang sudah maju, menyerang pula dengan kepalannya. Masih si murid tidak berkelit, ia mandah. Hajaran ini terlebih hebat pula, Kwee Ceng merasa matanya berkunang-kunang, hampir ia roboh pingsan.

Setelah itu Hie Jin memungut batu besar, lagi-lagi ia menyerang. Kalau Kwee Ceng terhajar batu ini, mesti ia pecah batok kepalanya. Ia memang masih pusing kepalanya.

Melihat demikian, Oey Yong berlompat maju, dengan tangan kirinya ia menolak lengan Kanglam Cit Koay nomor empat ini, atas mana, bersama-sama batunya Hie Jin roboh ke tanah, mulutnya masih mengasih dengar suaranya tertawa seperti tadi, habis itu dia tidak merayap bangun lagi…

Adalah maksud si nona untuk menolongi Kwee Ceng, maka diluar sangkaannya, Hie Jin ada demikian tidak bertenaga, dia roboh hanya karena tolakan tangan yang enteng. Dengan lantas si nona mengulur tangannya untuk mengasih bangun. Atau ia melihat muka orang yang tertawa, tertawanya yang dipaksakan, hingga menjadi menyeringai, nampaknya sangat menakutkan. Ia menjerit, ia menarik pulang tangannya, untuk membikin tangan itu tidak mengenai tubu orang. Sebaliknya tangan kiri Hie Jin menyambar pundak si nona. Atas itu, dua-duanya, si nona dan si penyerang, mengasih dengar suara seruan bahna sakit dan kaget.

Oey Yong mengenakan baju lapisnya, meski begitu ia merasakan sakit sampai ia terhuyung beberapa tindak.

Hie Jin merasa sakit karena ia menghajar baju yang ada durinya, karena mana tangannya lantas mengucurkan darah.

“Soe-suhu!” Kwee Ceng berteriak saking kagetnya.

Hie Jin meboleh mengawasi si anak muda, suara siapa ia rupanya mengenalinya, hanya ketika ia hendak membuka mulutnya cuma bibirnya bergerak sedikit, suaranya tidak kedengaran. Ia masih mengasih lihat senyuman hanya itulah senyum dari putus asa. Sinar matanya pun guram.

“Soe-suhu, baik kau beristirahat,” kata Kwee Ceng, “Sebentar lagi kita bicara.”

Hie Jin mencoba mengangkat kepalanya, ia seperti memaksa mau bicara, lagi ia gagal, mulutnya tidak dapat dibuka. Ia cuma dapat bertahan sebentar segera kepalanya teklok, terus tubuhnya roboh terjenkang, lalu berbalik.

“Soe-suhu!” Kwee Ceng berseru, ia berlompat maju, guna mengasih bangun.

“Jangan!” berkata si nona. “Gurumu mau menulis surat…”

Tajam matanya si nona.

Kwee Ceng mengawasi. Benar, dengan tangan kanannya, Hie Jin lagi mencoret ke tanah. Di antara sinar rembulan, segera terlihat ia menulis, “Yang…membunuh…aku…ialah…”

Oey Yong mengawasi, ia mendapatkan Hie Jin menulis dengan susah sekali, ia lantas goncang hatinya. Ia lantas ingat, “Dia berada di Tho Hoa To, sekalipun orang yang paling tolol tentulah tahu ayahku yang membunuh dia, maka kenapa dia begini susah menulis nama ayahku? Apakah si pembunuh lain orang sebenarnya…?”

Semakin lama ia menulis, tenaganya Hie Jin makin habis. Maka si nona menjadi tegang, hingga ia memuji, “Kalau kau mau menulis nama lain orang, lekaslah!”

Ketika Hie Jin menulis huruf yang kelima, yang mesti menjadi she atau nama orang yang membunuh dia, baru dia menulis dua coret, yang menjadi huruf “sip” – “sepuluh”, mendadak tangannya berhneti bergerak.

Kwee Ceng melihat tubuh orang tidak bergerak, tanda dari pengerahan tenaga yang terakhir, habis itu berhentilah napasnya sang guru. Ia sendiri menahan napas. Ketika ia melihat huruf “sip” itu, ia berteriak: Soe-suhu, aku tahu kau hendak menulis huruf oey – huruf oey!” Terus ia menubruk tubuh gurunya itu, terus ia menangis keras, kedua tangannya menumbuki dadanya. Dengan demikian meledaklah amarah dan kedukaannya yang sangat, yang sekian lama terbenam di dalam hatinya. Ia menangis menggerung-gerung tidak lama atau ia pingsan di atas tubuh gurunya itu.

Berapa lama anak muda itu tak sadarkan diri, ia tidak tahu. Ketika kemudian ia mendusin, ia melihat sinar matahari, langit telah menjadi terang. Ia bangun, untuk melihat ke sekitarnya. Ia tidak melihat Oey Yong, entah ke mana pergi si nona. Ia mendapatkan tubuh Hie Jin yang kedua matanya terbuka besar. Ia lantas ingat pembilang, “mati tidak meram”, maka ia lantas menangis pula, air matanya turun deras. Ia mengulurkan kedua tangannya., guna merapatkan mata gurunya itu.

Mengingat gurunya begitu sengsara hendak melepaskan napasnya yang terakhir, Kwee Ceng menjadi heran, maka ia membukai baju gurunya itu, untuk memeriksa tubuhnya. Aneh, seluruh tubuh itu tidak kurang suatu apa, dari kepala sampai di kaki, tidak ada yang terluka, kecuali luka di tangan bekas terkena duri baju lapisnya Oey Yong. Pula tidak ada luka di dalam, kulitnya tidak hitam atau hangus.

Sesudah memeriksa dengan sia-sia, Kwee Ceng memodong tubuh gurunya, niatnya untuk dikuburkan bersama-sama dengan ketiga gurunya yang lain. Ketika ia sudah jalan beberapa puluh tindak, ke tempat darimana tadi ia datang, ia kehilangan jalanannya. Terpaksa ia menggali sebuah lubang lainnya di bawah pohon, guna mengubur di situ mayat gurunya itu.

Habis itu ia menjadi bingung. Ia juga merasai sangat lapar. Sia-sia ia berjalan, untuk mencari jalan keluar. Ia duduk di bawah sebuah pohon, guna beristirahat, guna menetramkan pikirannya. Ketika ia berjalan pula, ia mengambil putusan tidak peduli aoa juga, ia mengambil satu tujuan, ialah ke arah timur, terus menghadap matahari. Dengan begini, ia masih mengalami kesukaran, dari pepohonan yang sangat lebat. Sekarang di setiap pohon ia melihat adanya rotan panjang dan duri tajam. Umpama kata ia jalan di atas pohon, di situ tidak ada tempat untuk menaruh kaki…

“Tapi hari ini, cuma ada maju, tidak ada mundur!” ia pikir. Ia paksa melompat ke atas pohon. Ia baru bertindak atau “Bret!” maka celananya robek kesangkut duri, hingga kulitnya lecet dan darahnya mengalir. Rotan pun ada yang melilit kakinya. Maka dengan pisau belatinya, ia memotong putus pohon oyot itu.

Memandang jauh ke depan, Kwee Ceng melihat hanya oyot belaka.

“Biar habis daging betisku, aku mesti keluar dari pulau iblis ini!” kata di dalam hati. Dengan itu ia mengambil keputusannya. Ia mau bertindak pula, lalu mendadak ia mendengar suaranya Oey Yong, “Kau turun! Nanti aku mengantarkan kau!” Ia lantas tunduk, maka ia melihat si nona, dengan pakaian putih seluruhnya, lagi berdiri di bawah pohon. Tanpa membilang apa-apa, ia lompat turun. Ia melihat muka Oey Yong pucat sekali, seperti tidak ada darahnya. Ia terkejut. Hendak ia menanya, tetapi segera ia dapat menguatkan hatinya.

Oey Yong melihat orang hendak bicara tetapi gagal. Ia menanti sekian lama, tetap ia tidak mendengar suara orang, ia menghela napas.

“Jalanlah!” katanya.

Dengan berliku-liku, mereka menuju ke timur. Oey Yong lesu dan berduka. Ia baru sembuh, ia perlu beristirahat dan ketenangan hati, siapa tahu ia telah mesti membuat perjalanan jauh dan menghadapi peristiwa hebat dan gelap ini. Ia pikir ia tidak dapat menyesalkan Kwee Ceng atau mempersalahkan ayahnya, ia juga tidak bisa menyalahkan Kanglam Liok Koay. Ia hanya menyesalkan diri sendiri. Kenapa Thian berbuat begini macam terhadapnya? Apa Thian membenci orang yang hidup terlalu senang?

Tanpa berkata-kata si nona ini menunjuk jalan kepada Kwee Ceng menuju ke tepian laut. Ia mau percaya dengan kepergiaannya ini, anak muda itu bakal tidak kembali. Maka itu setiap satu tindaknya, ia merasa hatinya pecah satu potong.

Ketika akhirnya mereka keluar dari rimba lebat dengan rotan dan duri itu, pesisir terlihat di depan mata.

Oey Yong merasa dirinya sangat letih, ia mencoba menguati hatinya tetapi tubuhnya terhuyng juga, lekas-lekas ia menggunai tongkatnya, untuk menekan ke tanah, guna menunjang, hanya sekarang ia merasakan tangannya juga tidak bertenaga, tongkatnya itu miring, hingga tubuhnya turut berguling.

Kwee Ceng melihat itu, segera ia mengulur tangan kanannya, guna memegangi si nona, atau mendadak ia ingat sakit hati hebat dari guru-gurunya itu, segera dengan tangan kirinya ia menghajar tangan kanannya. Itulah ilmu pukulan ajarannya Ciu Pek Thong, yang dapat memecah pikiran, hingga kedua tangannya dapat bergerak sendiri-sendiri. Karena dihajar, tangan kananya itu segera membalas. Habis itu, ia melompat mundur.

Dengan begitu, sendirinya robohlah tubuh Oey Yong.

Oleh karena jatuhnya tanpa pertolongan ini, hatinya si nona pepat sekali. Ia menyesal, ia penasaran dan ia berduka.

Juga Kwee Ceng kaget, juga pemuda ini menyesal, penasaran dan berduka. Ia berlompat maju, untuk mengangkat tubuh si nona. Ia melihat kelilingan, untuk membawa si nona ke tempat di mana dia bisa beristirahat.

Juga Oey Yong turut melihat ke sekitar mereka.

Di arah timur laut, di mana ada sebuah batu besar, terlihat sepotong kain hijau tertiup angin. Ketika melihat itu Oey Yong lantas berteriak, “Ayah!” Ia lantas saja mendapat tenaga, ia lari.

Kwee Ceng juga lari bersama, maka itu mereka saling berpegangan tangan.

Sampai di batu, di situ pun kedapatan sepotong kulit muka orang.

Oey Yong kenal baik topeng kulit kepunyaan ayahnya itu, dengan kebingungan ia membungkuk akan memungutnya, begitupun baju hijau itu di mana ada tapak tangan dari darah, tegas nampak bekas telunjuk.

Melihat itu Kwee Ceng berpikir, “Pasti ini tapak Kiu Im Pek-ku Jiauw dari Oey Yok Su, habis ia mencelakai Sam-suhu, ia menyusut tangannya di sini…” Ia tengah memegang tangan si nona ketika mendadak ia melepaskannya sambil menyempar terus ia merampas baju hijau itu dan merobeknya. Ketika ia melihat ujung baju itu pecah sedikit, maka ia ingat, juiran itu pastilah yang telah dibawa burung rajawali tempo si nona minta ikan emas istimewanya.

Kwee Ceng berdiam diam kapan ia telah mengawasi tapak jari tangan itu, kemudian ia lekas menggulung itu mengasih masuk ke dalam sakunya, habis itu tanpa membilang apa-apa, ia lari ke pinggir laut sekali di mana ada sebuah perahu layar, yang tidak ada anak kapalnya. Entah kemana perginya semua busak gagu itu. Ia tidak berpaling pula kepada Oey Yong ketika ia memotong putus dadungnya perahu itu. Ia mengangkat jangkarbya dan memasang layarnya, terus ia berlayar…

Oey Yong dengan bengong mengawasi perahu menuju ke barat. Mulanya ia masih mengharap si anak muda berbalik pikir dan akan kembali, untuk mengajak ia pergi, maka ternyata habislah pengharapannya. Dengan lekas perahu layar itu seperti terbenam di dalam lautan. Sekarang merasalah ia yang ia berada sebatang kara di pulaunya itu. Engko Cengnya pergi, ayahnya entah dimana, entah masih hidup atau telah mati…!

“Yong-jie, Yong-jie!” akhirnya ia kata pada dirinya sendiri. “Siang hari masih panjang! Kau tidak dapat berdiri diam saja di pesisir ini! Ingat Yong-jie, tidak dapat kau memikir pendek!!

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: