Kumpulan Cerita Silat

16/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 66

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:24 am


Bab 66. Nasib
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Dengan tangan kanannya, nona Bok menggenggam erat tangannya Oey Yong, dengan tangan kirinya ia mengusap-usap belakang tangan nona itu. Dengan matanya, ia mengawasi rontoknya bunga ke permukaan air.

“Melihat dia membunuh Auwyang Kongcu, aku menduga ia telah merubah perbuatannnya yang sudah-sudah,” demikian ia melanjuti. “Aku lebih girang lagi melihat dia disambut kedua orang lihay dari Kay Pang, yang memperlakukan dia dengan hormat sekali. Begitulah aku turut dia sampai di Gak-ciu, di mana pihak Kay Pang mengadakan rapat besarnya di gunung Kun San. Lebih dulu daripada itu, diam-diam dia memberitahukan aku bahwa Ang Pangcu telah meninggalkan pesan agar dia menjadi pengganti pangcu. Aku heran dan girang, tetapi aku sangsi, hanya melihat semua orang Kay Pang begitu menghormati dia, kesangsianku lenyap. Aku bbukan orang Kay Pang, tidak dapat aku menghadiri rapat, maka itu aku menanti di dalam kota. Aku pikir, dengan menjadi pangcu dari Kay Pang, pasti dia bakal bekerja untuk negara dan rakyat, pasti benar usahanya. Aku percaya juga, dia bakal menumpas musuhku, guna membalaskan sakit hati ayah dan ibu angkatku. Malam itu aku berpikir keras hingga aku tidak dapat tidur pulas. Diwaktu fajar selagi aku mulai lelah dan tidur layap-layap, mendadak dia pulang dengan jalan melompat jendela. Aku kaget, aku kira dia mau main gila pula. Aku hendak menegur, dia mendahului membisik. ’Adik, urusan gagal, mari kita lekas menyingkir!’ Aku lantas tanya dia apakah yang terjadi. Dia menjawab; ’Di dalam Kay Pang ada pemberontak. Golongan Baju Kotor dan Baju Bersih bentrok karena urusan mengangkat pangcu, mereka bertempur, sudah ada banyak yang binasa’. Aku kaget dan heran, aku menanya bagaimana duduknya persoalan. Dia menjawab; ’Karena yang binasa begitu banyak, aku mengundurkan diriku sendiri, aku tidak mau lagi menjadi pangcu’. Aku pikir, tindakan itu benar. Ia menerangkan pula, ’Tapi pihak Pakaian Bersih tidak mau melepaskan aku, syukur aku dibantu Khiu Pangcu dari Tiat Ciang Pang, dengan begitu bisa juga aku meloloskan diri dan berlalu dari Kun San. Sekarang ini mari kita pergi ke Tiat Ciang Pang untuk menyingkir buat sementara waktu.’ Aku tidak tahu Tait Ciang Pang rombongan baik atau jahat, aku turut padanya. Setibanya di Tiat Ciang San, baru aku melihat gerak-geriknya Khiu Pangcu aneh, rupanya mereka dari kaum sesat. Karena itu aku usulkan dia mencari Tiang Cun CU Cu Khu Cie Kee, supaya imam itu mengundang orang-orang gagah, untuk membantu pihak Kay Pang mengadakan tata-tertib partainya, supaya bisa dipilih satu pangcu yang tepat. Aku kata, dia tidak dapat pergi dengan begitu saja, dia mesti ingat budinya Ang Pangcu serta menjalani baik-baik pesannya. Tapi dia aneh, dia bukannya bicara dari hal Kay Pang, dia justru menimbulkan urusan pernikahan. Kita jadi bentrok, Aku telah memberi teguran padanya.”

“Bagimana kemudian?” Oey Yong tanya selagi nona itu berhenti sebentar.

“Besoknya aku menyesal atas pencederaan kemarin itu,” kata Liam Cu melanjuti. “Dia benar tidak memperhatikan lagi urusan Kay Pang, tetapi dengan menimbulkan soal pernikahan, itu tandanya dia mencintai aku. Aku merasa aku menegur keras padanya, pantas dia tidak menjadi senang. Hanya malam itu, hatiku jadi bertambah tidak tenang. Aku menyalakan api, aku menulis surat padanya untuk meminta maaf. Aku bawa surat itu ke kamarnya, untuk meletakinya di bawah jendelanya. Selagi aku mengasih masuk surat itu di sela-sela jendelanya, mendadak aku mendengar dia lagi bicara entah dengan siapa. Mulanya aku tidak berniat mendengar pembicaraan mereka itu, hendak aku menaruh surat itu lantas pergi. Tapi aku jadi tertarik sebab aku mengenali suara orang itu. Dia mencoba bicara perlahan, tetapi toh aku dapat mendengarnya dengan nyata.

’Siauw-ongya’ demikian aku dengar. ’Pikiran wanita memang tak ketentuannya. Kalau nona Bok itu tidak mau menurut, kau jangan terlalu buat pikiran. Pikirannya itu mungkin buat sewaktu-waktu saja. Khiu Pangcu khawatir kau berduka, ia mengirimkan barang ini untuk kau melegakan hatimu.’ Aku heran. Entah barang apa itu yang Khiu Pangcu hendak memberikannya. Maka ingin aku melihatnya.”

Mendengar itu Oey Yong pun heran dan turut ingin mengetahui. Bahkan ia sayangi selagi di Tiat Ciang San ia tidak dapat melihatnya, kalau tidak, tentulah ia sudah merampas?!”

Liam Cu meneruskan pula ceritanya, “Dia membilang terima kasih. Dia kata dia tidak berduka dan tidak usah pangcu mengirimkan sesuatu padanya. Tapi orang itu tertawa dan berkata; ’Ongya lihat dulu, aku tanggung ongya girang!’ Dia menepuk tangannya perlahan, dua kli. Tanda itu disusul sama datangnya dua orang yang menggotong sebuah keranjang besar. Aku lantas mengintai. Orang tadi menghampirkan keranjang itu dan membuka tutupnya.”

Oey Yong memotong, “Aku tahu isi keranjang itu, kalau bukan ular berbisa tentulah kodok. Pernah aku melihat itu.”

Cin Lam Kim sebegitu jauh berdiam saja, dia tidak campur bicara, air muknaya juga tidak berubah, tapi kali ini dia mengawasi nona Oey.

“Adik, kau salah menerka!” kata Liam Cu. “Di dalam keranjang besar itu ada satu orang, ialah ini adik Cin!”

Oey Yong dan Kwee Ceng mengasih dengar suara kaget perlahan.

Baru sekarang nona Cin itu berbicara, matanya memandang ke kali, sikpanya tenang sekali. Ia kata, “Semenjak Inkong dan nona Oey pergi, bersama kakek aku tetap menuntut penghidupan sebagai penangkap ular. Kami selalu ingat kepada inkong, tak habisnya kami membicarakannya meskipun inkong tinggal di rumah kami cuma satu hari dua malam. Dengan begitu, hidup kami tidak kesepian. Sampai pada suatu hari, aku kedatangan tiga orang yang berpakaian hitam semua. Tidak karuan rupa, mereka tertawa terhadapku. Aku curiga, lantas aku lari pulang. Mereka mengikuti. Belum aku tiba di rumah, mereka telah berhasil menyusul aku dan aku lantas dipegang. Aku ketakutan dan menjerit minta tolong. Kakek keluar, dia mau menolongi aku. Dengan lantas kakek dibunuh mereka itu.”

Kwee Ceng gusar sekali hingga ia menumbuk pahanya.

“Dulu ada inkong yang menolong, kali ini ada siapa?” si nona melanjuti. “Begitu aku dibawa ke gunung Tiat Ciang San. Setibanya di puncak, baru aku mendapat tahu mereka juga membawa beberapa puluh orang yang hidupnya sebagai tukang tangkap ular. Khiu Pangcu mau menangkap banyak ular, untuk dipakai melatih semacam ilmu.”

Oey Yong mengangguk. “Aku tahu itu,” katanya.

Lam Kim seperti tidak mendengar perkataan si nona, ia bicara terus, “Tiat Ciang Pang menitahkan aku menangkap ular. Sampai sebegitu jauh, aku tidak diganggu bahkan ia menitahkan aku mengusir kodok hijau untuk berkelahi dengan kodok besar dan juga mengusir ular untuk memakani kodok besar itu. Hanya di dalam beberapa hari, tahulah aku apa sebabnya aksi mereka itu. Ialah mereka itu memperhatikan caranya semua binatang itu berkelahi, lalu mereka melatih diri dengan mencontoh perkelahiannya kodok hijau dan ular itu!”

Mendengar sampai di situ, Oey Yong berlompat bangun.

“Engko Ceng!” katanya. “Khiu Cian Jin lagi mengharap-harap Kiu Im Cin-keng!”

Kwee Ceng tidak mengerti. “Bagaimana?” dia tanya.

“Dia lagi memahamkan ilmu silat Kap Mo Kang dari See Tok. Kalau nanti datang waktu pertemuan yang kedua kali di gunung Hoa San, dia mau menjadi jago nomor satu di kolong langit ini!”

Baru sekarang Kwee Ceng mengerti.

“Biar mereka berdua bertempur mati-hidup, itu baru bagus,” kata Oey Yong. “Engko Ceng, coba bilang, di antara mereka berdua, siapa yang terlebih lihay?”

Kwee Ceng berpikir, lantas ia menggoyang kepalanya

“Aku tidak tahu, mereka sama lihaynya.”

“Ya, biarlah,” kata pula si nona. Ia berpaling kepada Lam Kim, untuk menanya, “Enci, bagaimana kejadiannya maka kau dimasuki ke dalam keranjang?”

“Aku telah menjadi budak mereka, jangan kata baru dimasuki ke dalam keranjang, disuruh mendaki gunung golok atau masuk ke dalam kuali panas, semua terserah kepada mereka…” sahut nona itu masgul.

Oey Yong menjadi tidak puas dengan jawaban itu, tetapi mengingat orang lagi bersusah hati, ia tidak bilang suatu apa.

“Aku hampir menjerit melihat adik Cin muncul dari dalam keranjang,” kata Liam Cu, yang melanjuti penuturannya. “Dia pun kaget. Bandit Tiat Ciang Pang itu berkata sambil tertawa kepada Yo Kang: ’Siauw-ongya, permainan ini tidak ada kecelaannya, bukan?” Yo Kang menggoyang-goyang tangannya. ’Jangan-jangan!’ katanya, ’Lekas bawa dia pergi! Kalau nona Bok ketahui ini, bisa onar…’ Mendengar suaranya itu, aku menyangka dia benar berlaku baik padaku. Tapi bandit itu membujuki: ’Nona Bok mana tahu? Kalau ongya suka, lagi beberapa hari, apabila ongya turun gunung, dengan cara diam-diam kami nanti mengantarkan dia ke istana, tapi jika ongya sudah bosan, biarkan dia di sini. Semua akan dilakukan hingga iblis pun tidak tahu.’ Lantas dia pegang adik Cin, untuk ditarik keluar dari keranjang. Dia kata: ’Baik-baik kau melayani siauw-ongya. Inilah tugas bagus untukmu!’. Setelah itu dia suruh dua orangnya berlalu dengan membawa keranjang itu, dia sendiri turut berlalu setelah memberi hormat kepada Yo Kang. Ketika dia pergi, dia sekalian menutup pintu. Setelah berada sendirian, Yo Kang mengambil gunting, buat menggunting sumbu lilin, hingga apinya jadi lebih terang, hingga dia bisa memandang kecantikannya adik Cin. Sembari tertawa dia menghampirkan, untuk menarik tangan orang. Dia menanya nama dan umur adik Cin. Adik Cin tidak menyahuti. Lantas dia dipeluk dan mukanya dicium, sembari tertawa dia berkata: ’Harum, sungguh harum!’. Menyaksikan itu, bukan main panas hatiku, mataku seperti kabur, hingga aku tidak melihat apa yang dia lakukan terlebih jauh sampai aku mendapatkan adik Cin memegang sebuah cagak kecil, dua cagaknya diarahkan ke dadanya sendiri. Ia mengancam: ’Memang aku sudah tidak mengharap lagi jiwaku, asal kau langgar tubuhku, aku kubunuh diri di depanmu!’ Aku puji adik Cin. Aku harap Yo Kang nanti mundur. Dugaanku meleset. Acuh tak acuh, Yo Kang memutuskan dua buah kancing bajunya, dengan itu dia menyentil dua kali. Dengan satu kancing dia membikin jatuh cagak di tangan adik Cin, dengan yang satu lagi dia menotok urat gagu orang. Sampai di situ, habis sabarku, maka aku mendobrak jendela dan melompat masuk ke dalam kamar. Dia tercengang tapi lantas dia tertawa.

“Adik, kebetulan kau datang!” kata dia padaku. Entah kenapa melihat dia tertawa, hawa marahku lenyap separuhnya. Ketika kemudian dia membujuki aku, aku jadi bimbang, tidak tahu aku mesti berbuat apa. Adalah ketika itu, adik Oey, kau memanggil aku.”

“Ketika itu aku juga tidak menyangka kau berada di atas gunung Tiat Ciang San,” kata Oey Yong.

“Ketika adik bertempur sama Khiu Pangcu,” kata Liam Cu, “Aku pergi ke luar, niatku untuk membantui, tetapi entah ke mana perginya adik semua. Kembali hatiku menjadi jeri. Diam-diam aku kembali ke kamar, aku mengintai di jendela. Samar-samar aku melihat dia memeluk pula adik Cin. Tiba-tiba saja aku muntah darah, lantas aku berseru: ’Baiklah, putus kita sampai di sini! Untuk selama-lamanya aku tidak akan melihat pula padamu!’ Tanpa menanti jawaban, aku lari turun gunung. Keadaan ada sangat kacau waktu itu. Aku melihat dengan membawa obor orang-orang Tiat Ciang Pang meluruk ke puncak Tiong Cie Hong. Dengan begitu aku turun gunung tanpa rintangan. Hatiku menjadi tawar sekali, niatku ialah untuk mati saja. Aku bertemu sebuah bangunan yang gelap, aku langsung masuk ke dalam situ. Itulah sebuah kelenteng. Di tembok kiri aku melihat gambar seorang imam yang bersenjatakan sebatang pedang panjang, sikapnya gagah, di samping itu ada tulisan tiga huruf, bunyinya Wa Sie Jin, artinya orang mati yang hidup. Aku tidak tahu artinya kata-kata itu, hanya aku berpikir, kalau aku mati, siapa akan membalas sakit hati ayah dan ibu angkatku? Maka itu, aku lantas berdiam di kelenteng tersebut, aku diterima menjadi murid oleh too-kouw tua dari kelenteng tersebut. Besoknya aku merasakan tubuhku panas, lalu aku lupa akan diriku. Lewat beberapa hari, aku tersadar, aku mendapatkan adik Cin ini ada di depan pembaringanku, lagi merawati aku. Ia pun telah berdandan sebagai too-kouw.”

Oey Yong hendak menanya Lam Kim, bagaimana caranya dia lolos dari Tiat Ciang Pang, akan tetapi karena khawatir nanti mendapat jawaban kurang tepat seperti tadi, ia membatalkan niatnya. Sebaliknya nona itu mengawasi Kwee Ceng, sikap siapa seperti juga nona Oey, agaknya ingin ia memperoleh keterangan.

Si nona lantas berkata, “Orang she Yo itu telah digaplok beberapa kali oleh enci Bok, dia menjublak saja. Ketika ia mendengar suara berisik, dari sakunya ia mengeluarkan pedang pendek yang ia selipkan di pinggangnya, terus dia memadamkan api. Dia mendekati aku, dia mengusap-usap mukaku, setelah itu ia tertawa dan lompat keluar jendela. Kira satu jam, suara berisik itu menjadi berkurang, rupanya orang telah pada turun gunung. Sebenarnya itulah saatnya untuk aku melarikan diri, apa celaka si orang she Yo telah mengikat aku, hingga aku mesti rebah di samping pembaringan tanpa berdaya. Masih aku mendengar suara berisik, yang makin lama makin jauh dan akhirnya sirap. Selagi keadaan sunyi itu, si orang she Yo itu kembali dengan jalan melompati jendela seperti tadi. Lantas dia duduk di kursinya, dari bayangannya aku melihat dia menunjang janggut, dia duduk terpekur. Kemudian aku mendengar dia mengoceh sendirian, katanya: ’Bocah she Kwee itu berani mendaki gunung, mestinya di belakang dia ada orang yang pandai yang menyusul. Maka inilah bukan tempat yang bagus! Buat apa aku berdiam lama-lama di sini?”

“Manusia hina!” kata Oey Yong sengit.

Lam Kim menyambungi, “Kemudian dia menepuk meja, dia kata: ’Hm! Kau tidak sudi bertemu pula denganku selamanya…Peduli apa? Asal usahku berhasil, kekayaan dan kemuliaanku bakal tidak ada batasnya, itu waktu di dalam keratonku tentu telah berkumpul tiga ribu selir dan dayang! Mana aku kekurangan si cantik manis!”

“Dasar bangsat!” mendamprat Kwee Ceng yang mendongkol sekali.

Lam Kim terkejut mendapatkan tuan penolongnya begitu gusar. Ia tidak tahu, dari kata-katanya Yo Kang itu, terang sudah orang she Yo itu hendak menjual negara, untuk keuntungan dirinya sendiri.

“Coba kau cerita terus,” kata Kwee Ceng kemudian, sabar.

“Kau menghendaki aku bicara terus?” si nona menegasi.

“Kalau kau letih, kau beristirahatlah dulu,” sahut si pemuda.

Nona Cin mengawasi pula, air mukanya berubah, toh ia bersikap tenang.

“Letih, itulah tidak,” katanya. “Hanya aku mengalami kemalangan dan malu, susah aku mengatakannya…”

“Kalau begitu, tidak usah kau bercerita. Mari kita omong dari lainnya hal.”

“Tidak. Sebenarnya aku mesti menuturkan semua supaya kau tahu.”

“Nah, nanti aku pergi ke sana, kau boleh bicara sama ini dua enci Bok dan Oey,” berkata si pemuda yang lantas berbangkit, untuk bertindak pergi. Ia menduga tentulah Yo Kang sudah main gila terhadap nona ini, hingga dia likat untuk menuturkan pengalamannya itu.

Tetapi Lam Kim berkata, “Jikalau kau pergi, sampai mati juga aku tidak akan menuturkannya. Selama dua hari ini, enci Bok berlaku baik sekali padaku, meski begitu, aku tidak mau bercerita padanya…”

Kwee Ceng memandang Oey Yong, nona itu mengedipi matanya, menganjurkan ia berduduk, maka urung ia mengangkat kaki, bahkan ia duduk pula di tempatnya.

Lam Kim menghela napas. Ia nampaknya lega hatinya. Lantas ia mulai bercerita pula, “Telah tetap keputusannya orang she Yo itu. Dia lantas berbenah. Untuk itu dia menyalakan api. Ketika dia melihat aku di tepi pembaringan, dia terperanjat. Dia menyangka aku telah kabur. Dia membawa ciaktay, untuk menyuluhi mukaku. Lantas dia tertawa dan berkata: ’Hm! Karena kau, aku kehilangan dia! Sekarang kau berpikirlah. Jikalau kau suka menurut aku, akan aku ajak kau turun gunung. Kalau tidak, kau, boleh tetap kau rebah di sini, supaya orang-orang Tiat Ciang Pang perlakukan padamu apa mereka suka’. Aku menjadi bingung, aku bersangsi. Berdiam di gunung akibatnya tentu berbahaya, akan tetapi turut dia, juga entah bagaimana akhirnya. Melihat aku berdiam saja, dia tertawa nyaring. Mendadak timbul nafsu binatangnya, dia lantas merusak diriku…”

Tiga orang itu berdiam, cuma Bok Liam Cu berdiam sambil mengucurkan air mata. Itulah bukti Yo Kang main gila terhadapnya. Ia tahu Yo Kang busuk tetapi tidaklah disangka dia hina begitu rupa. Ia pernah mengasih ampun, tetapi sekarang?

Lam Kim tenang luar biasa. Dia bercerita seperti juga dirinya tak ada sangkut pautnya dengan ceritanya itu. Dia kata, “Karena aku telah ternodakan, aku lantas mengambil keputusan. Aku ikut dia turun gunung. Aku telah ebrpikir, aku mesti menuntut balas, habis mana, hendak aku menghabiskan jiwaku. Gunung Tiat Ciang San itu sangat berbahaya, dengan bersusah payah dia membantu aku turun gunung. Sampai fajar muncul, kita masih ada di tengah gunung. Dia malu bertemu dengan orang Tiat Ciang Pang, dia mengambil jalan dari belakang gunung. Dia sengaja memilih tempat yang tidak ada jalannya. Dengan begitu, sering dia merayap pada pohon rotan. Maka perjalanan jadi semakin lama. Lereng gunung pun makin berbahaya. Di sana ada jurang yang dalam sekali, aku melihatnya hingga kakiku lemas. Tiba di tempat tinggi, kaki tanganku bergemetaran. Dia tertawa. ’Aku nanti gendong kau, asal kau jangan bergerak! Nanti kita berdua habis…’ Lantas dia jongkok di depanku. Aku pikir inilah ketika yang paling baik unntukku, untuk mati bersama. Aku lantas mendekam di punggungnya, kedua tanganku memeluk erat lehernya. Selagi dia hendak berbangkit, dengan kakiku, aku menjejak keras batu disisiku. Dia kaget, dia menjerit keras. Kita berdua jatuh.”

Bok Liam Cu kaget hingga ia berkoak. Tapi segera ia ingat kejahatannya Yo Kang, lantas dia menggertak gigi, ia menguati hati.

“Aku merasakan tubuhku melayang,” Lam Kim meneruskan.

“Aku girang. Kalau tubuhku hancur lebur, dia tentu bakal hancur lebur juga. Mendadak aku merasakan gentakan hebat, mataku kabur, hatiku memukul. Aku menduga habislah aku. Tapi segera aku mendengar Yo Kang tertawa terbahak. Ketika aku membuka mataku, aku melihat tangan kanannya merangkul cabang pohon cemara, yang tumbuh di lereng gunung itu. Tubuh kita berdua bergelantungan di cabang itu, yang telah menolong jiwanya. Tapi dia tidak sadar bahwa aku hendak membikin celaka padanya. Dia menyangka aku ketakutan dan tidak dapat berdiri betul. Dia puas sekali yang kami ketolongan. Sembari tertawa dia berkata: ’Jikalau bukan siauw-ongya lihay ilmu silatnya, apa kau kira jiwa kecilmu masih ada?’ Pohon itu terpisah dari tanah cuma tujuh atau delapan tombak. Dia lantas merayap ke pohon. Dia kata pula: ’Sekarang kita turun dulu ke lembah, di sana baru kita mencari jalan keluar’. Di dalam lembah itu ada hanya rumput-rumpt yang sudah busuk dan tulang-tulang binatang. Dengan satu tulang paha, dia membuka jalan sembari jalan dia bicara sambil tertawa-tawa padaku. Aku takut dia curiga, nanti sukar aku turun tangan, terpaksa aku melayani dia bicara. Tidak lama, dia berteriak sambil lompat mundur. Dia menggunai tulangnya membiak rumput tebal di mana tadi dia menaruh kaki. Di situ dia mendapatkan satu mayat, yang mengenakan baju kuning. Muka mayat itu rusak hingga tak dapat dilihat lagi, cuma kumis dan jenggotnya yang putih bertitikan darah segar. Rupanya belum lama dia jatuh mati di situ.”

“Si tua bangka Khiu Cian Lie telah mampus, toh masih ada orang melihat cecongornya!” kata Oey Yong.

“Yo Kang memeriksa tubuhnya mayat itu,” berkata pula Lam Kim. “Banyak barang yang didapatkan, seperti cincin, pedang pendek dan batu bata. ’Kiranya tua bangka itu mati di sini,’ dia kata. Sembari berkata begitu, dia menarik keluar sejilid buku…”

“Mungkin itu buku sulapnya,” kata Oey Yong.

Seperti yang tidak mendengar perkataan si nona, Lam Kim bercerita terus, “Si orang she Yo itu membuka dan memeriksa buku itu, kelihatannya dia ketarik hatinya, dia membalik-balik terus lembaran dengan romannya girang. Kemudian dia simpan buku itu di dalam sakunya. Habis itu kami berjalan terus. Satu hari kami berada di dalam selat, sampai sore baru kami tiba di mulut selat itu. Kami mencari rumah seorang petani untuk menumpang bermalam. Dia suruh aku mengaku menajdi istrinya, katanya agar orang jangan curiga. Habis bersantap malam, dia menyalakan api, dia membuka buku yang tadi, untuk diperiksa pula. Aku melihat dia menggeraki tangan dan kakinya, seperti lagi bersilat. Rupanya buku itu ada buku pelajaran silat. Aku menyender di pembaringan letih dan berduka, rasanya malas aku bergerak. Mendadak aku mendengar dua kali suara kodok di luar jendela. Aku tahu betul, itulah suara kodok hijau dicekuk ular berbisa. Dengan tiba-tiba aku mendapat pikiran. Aku ingat kakekku yang telah mati itu, ia tentu telah berkumpul bersama ayah ibuku, sekalian pamanku dan yang lainnya di dunia baka. Aku sebaliknya, di dalam dunia ini aku hidup sebatang kara, hidup menderita, sengsara dan ternoda, bahkan mau mati juga sukar. Karena mendapat ingat itu, aku kata kepada orang she Yo itu: ’Siauw-ongya, aku hendak keluar sebentar.’ Dia tertawa. ’Baik’, katanya. ’Asal jangan kau memikir untuk kabur, sebab dalam sekejap, pasti aku dapat menyusul kau!’ Aku menjawab: ’Aku lari? Lari ke mana?’ Dia tertawa pula dan kata: ’Itu betul. Dengan tidak memikir itu, kaulah anak yang manis!’ Sekeluarnya dari kamar, aku pergi ke belakang. Aku berdiri sebentar. Aku mendengar suara si ular lagi menelan mangsanya. Diam-diam aku menghampirkan ular itu, aku tangkap ekornya, terus aku menekuk dia,lalu aku membungkusnya dengan sapu tangan. Lantas aku kembali ke dalam. Senang dia melihat aku kembali begitu cepat. Dia tertawa dan mengangguk-angguk. Kembali dia membaca bukunya itu. Kemudian dia kata: ’Pergi kau tidur lebih dulu, sebentar kau temani kau’. Di dalam hatiku, aku damprat dia: ’Orang jahat, hari ini Thian menyuruhnya aku membalas sakit hatiku!”

Mendengar sampai di situ, Oey Yong lantas ketahui apa cara membalas sakit hati nona Cin ini. Liam Cu juga dapat menduga samar-samar, maka teganglah hatinya. Cuma Kwee Ceng yang masih belum mengerti.

“Aku mengebut pembaringan mengusir nyamuk, terus aku menurunkan kelambu,” Lam Kim menyambungi pula. “Sembari merebahkan diri, aku membuka sapu tanganku, akan mengeluarkan ular itu. Aku menekannya supaya dia tidak berkutik. Dengan tangan kiriku, dengan kipas, aku menutup tubuh ular. Kemudian aku menantikan. Aku mesti menahan napas. Sampai lama dia belum naik ke pembaringan. Aku khawatir aku gagal. Minyak pelita menjadi semkin berkurang, cahayanya pun menjadi guram dan akhirnya padam. Barulah itu waktu aku mendengar dia tertawa dan berkata: ’Haha, aku harus mati. Lantaran membaca buku saja, aku sampai melupakan si manis! Mustikaku, jangan kau sesalkan aku…’ Aku tidak menyahuti, malah aku berlagak pulas dengan mengasih dengar suara menggeros perlahan. Tetapi kupingku kupasang. Aku mendengar dia menutup bukunya yang lantas dikasih masuk ke dalam sakunya. Aku mendengar dia membuka baju luarnya. Aku mendengar juga dia naik ke pembaringan dan membuka sepatunya. Ketika itu hawa sangat panas, dia meloloskan semua pakaiannya. Ketika dia memeluk aku, akumasih terus berpura-pura pulas, adalah tangan kiriku dengan perlahan-lahan menyingkirkan kipas, lalu tangan kananku membawa kepala ular ke dadanya. Dengan kukuku, aku mencubit ular itu, membikinnya kesakitan dan kaget, karena mana dia lantas mengigit dada si jahat, dia kaget, dia berteriak: ’Apa?!’ Terus dia berlompat turun dari pembaringan. Sekarang dia merasakan ular masih menggigit dadanya, dia menariknya hingga terlepas, tetapi gigi ular itu copot dan nancap di dadanya.”

Liam Cu kaget hingga ia berjingkrak bangun, matanya mengawasi nona Cin. Dia ini bercerita sampai di bagian sangat tegang itu tetapi romannya, suaranya juga, tenang-tenang saja. Menampak demikian, nona Bok ini kagum sekali.

“Dia lantas berteriak: ’Ular! Ular!’” Lam Kim masih meneruskan dengan sabar sekali. “Ketika itu aku masih belum memikir lantas mati, aku hendak menyaksikan dia tersika, habis itu baru aku mau pergi ke dunia baka menjenguk kakek dan ayah-bundaku, maka aku pun pura-pura kaget dan berteriak-teriak: ’Apa? Ular? Mana? Mana?’ Dia menyahuti: ’Aku digigit ular!’ Aku menanya pula: ’Mana ularnya? Lekas pasang api! Lekas!’. Benar-benar dia menyalakan api. Aku melihat empat liang kecil dan hitam-hitam di dadanya, diam-diam kau bergirang. Lantas aku kata padanya: ’Kau rebah saja, jangan bergerak, nanti aku pergi mencari daun onat-obatan’ Tuan rumah pun bangun dengan kaget. Dia kata: ’Memang di sini ada ular berbisa, hanya heran dia bolehnya naik ke pembaringan…’ Aku lantas membawa pelita dan pergi ke luar, untuk mencari daun obat-obatan. Yang aku cari bukan daun obat untuk memunahkan bisa ular, sebaliknya obat yang bisa membikin racun ular itu bekerja semakin berbahaya…”

Ketika si nona bercerita sampai di situ, sebelah tangannya Liam Cu melayang ke mukanya, hingga sebelah pipinya menjadi merah dan bengkak.

Oey Yong lantas menyambar tangannya nona Bok.

“Enci, bukankah binatang itu harus mendapatkan bagiannya?” dia menegur.

Liam Cu berdiam, kepalanya pusing. Ia berdiam dengan mata mendelong.

Lam Kim telah ditemeleng, ia tidak menggubrisnya, ia masih melanjuti ceritanya, “Daun obat itu tidak dapat dicari dalam tempo sebentaran, aku pun tidak terus mencarinya. Dia telah digigit ular beracun, dia tidak dapat bertahan enam jam, maka itu aku mencabut rumput sembarangan, aku mamah itu, dengan itu aku beborehkan dia. Dadanya itu telah bengkak dan bergarus hitam. Beberapa kali sudah dia pingsan. Aku berduduk di sisinya, berpura-pura menangis. Mulanya aku berpura-pura, diakhirnya aku menangis benar-benar. Aku ingat akan nasibku, aku jadi sangat bersedih. Satu kali dia sabar dan mengawasi aku dengan tajam. Rupanya dia menyangka akulah yang sengaja menggigitkan ular itu kepadanya. Setelah melihat aku menangis, kecurigaannya itu lenyap. Dia menghela napas dan kata: ’Akhirnya toh ada juga orang yang mengucurkan air mata untukku…’ Dari tengha malam sampai fajar, tiga kali dia pingsan lantas dia kedingian, tubuhnya menggigil. Dia rupanya menduga jiwanya tidak bakal ketolongan lagi, dia kata padaku: ’Aku mau minta tolong padamu, kalau beres dan berhasil kau akan mendapat pembalasan yang baik sekali’. Aku menjawab: ’Aku tidak mengharapi hadiah. Kau sebutkan saja’. Dia menyuruh aku mengambil bukunya dari sakunya, dia kata: ’Kalau aku sudah mati, kau ambil pedang pendek ini, bersama ini buku, kau mengantarkannya ke istana Pangeran Chao Wang dari negara Kim, kau mesti menyerahkan ini buku sendiri ke tangan pangeran itu. Bilang bahwa halnya surat wasiat Gak Bu Bok berada di dalam buku ini.”

Mendengar itu Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi, hati mereka sama bertanya, “Kenapa bukunya Khiu Cian Lie itu ada hubungannya sama bukunya Gak Hui?”

“Dengan tenaganya yang hampir habis, dia melanjuti pesannya padaku,” Lam Kim melanjuti, tanpa memperhatikan sikap orang-orang di dekatnya itu. “Dia kata: ’Kau beritahu kepada Chao Wang bahwa dengan mulutku sendiri aku menjanjikan supaya kau diangkat menjadi permaisuri. Dengan begitu, maka kau bakal hidup senang dan mulia tak ada taranya’. Aku mengangguk tanpa membilang suatu apa. Dia tertawa sedih dan menanya: ’Kenapa kau tidak menghanturkan terima kasih padaku?’ Aku tetap tidak menyahuti. Aku telah memikir, sesudah dia tidak bisa menggeraki tangan dan kakinya, hendak aku membikin hancur kitab itu di depan matanya, supaya di saat kematiannya itu tidak saja dia tersiksa lahir tetapi juga bathinnya…”

“Kau! Kau!” membentak Liam Cu bengis. “Kenapa kau begitu kejam? Benar dia berbuat tidak pantas kepadamu tetapi itu disebabkan dia menyukai kecantikanmu!”

Oey Yong berduka, “Sayang, sayang…” katanya perlahan.

“Sayang?” kata Lam Kim. Baru sekarang dia memperhatikan suara orang. “Manusia begitu jahat tetapi kematiannya masih disayangi?”

Nona ini keliru mengerti. Oey Yong menjawab dia, “Aku bukan menyayangi dia, aku menyayangi bukunya itu…”

Nona Cin tidak meladeni pula, ia hanya melanjutkan, “Di waktu fajar, manusia jahat itu beteriak-teriak meminta air. Aku menuangi air ke dalam mangkok dan meletaki mangkok itu di tepi pembaringan. ’Ini air’, kataku. Dia mengulur tangannya, untuk mengambil mangkok itu. Aku menggeser sedikit jauh. Dia tidak dapat mengambil, maka dia memaksakan diri untuk bangun, untuk berduduk. Nyata tenaganya tidak mengijinkan. ’Tolong. tolong kau kasihkan aku…’ dia minta. ’Kau ambil sendiri’, kataku. Dia mengeluarkan seluruh tenaganya, tangannya dilonjorkan. Dia berhasil mengambil mangkok air itu. Nampaknya dia girang sekali. Akan tetapi tangannya itu kaku, tangannya itu tidak dapat ditekuk, ketika ia memaksa menekuknya, prang! Maka mangkok itu terlepas dan jatuh pecah di tanah! Aku tahu bahwa dia telah habis tenagnya, maka aku ambil bukunya, aku bawa ke depannya seraya berkata: ’Bukankah kau menghendaki buku ini aku membawanya ke istana Chao Wang? Baiklah, kau lihat!’ Aku merobeknya selembar. lembaran itu aku merobek-robeknya pula. Dia nampaknya kaget. ’Kau…kau’ katanya. Terang dia kaget dan gusar. Aku hendak menyiksa dia. Habis merobek selembar, aku merobek selembar lainnya. Dia gusar hingga dia pingsan. Aku menanti, aku menanti sampai dia sadar, lalu aku merobek pula. Demikian sampai kau merobek beberapa lembar, dia lantas merapatkan kedua matanya, tidak suka dia melihatnya lebih jauh. Meski dia tidak melihat, kupingnya dapat mendengar, kupingnya itu masih mendengar terus. Demikian dia mendengari suara sobekan kertas…”

Seorang diri Lam Kim berbicara, tiga orang mendengar dia. Tiga orang ini masing-masing kesannya. Mereka seperti dapat membayangkan romannya Yo Kang di atas pembaringannya, selagi noa Cin merobek kertasnya.

“Tiba-tiba aku melihat perubahan pada air mukanya,” nona Cin melanjuti. “Dia seperti lagi memasang kupingnya memperhatikan sesuatu. Aku berhenti merobek kertas. Aku juga memasang kupingku. Segera aku mendengari suara bicaranya beberapa orang serta tindakan kaki mereka itu, mulanya jauh. Di saat kematiannya, binatang itu masih licik sekali. ’Air, air, kasih aku air…’ katanya. Aku mendengar suara orang itu datang semakin dekat, datang sampai di luar rumah. Lantas aku mendengar cacian: ’Binatang perempuan! Pastilah dua binatang cilik itu diambil. Sin Soan Cu!’ Lantas terdengar suara seorang lain: ’Menurut aku, baiklah perempuan hina itu dibakar mampus berikut binatang cilik itu!’ Lagi seorang berkata: ’Tidak dapat kita berbuat demikian. Kalau dia tidak terbakar mati? Binatang itu lihay, dia bisa menjadi biang penyakit untuk kaum kita Tiat Ciang Pang’. Mendengar mereka itu ada orang-orang Tiat Ciang Pang, aku kaget. Aku takut mereka nanti masuk dan menolongi orang she Yo itu. Tiat Ciang Pang memelihara banyak ular berbisa, mereka pasti bisa mengobati siapa keracunan ular berbisa. Lantas aku menjumput pecahan mangkok. Aku sudah memikir, kalau mereka itu masuk ke dalam, hendak aku membinasakan dulu si orang she Yo, setelah itu aku baru membunuh diri. Aku takut dia membuka mulut, maka dengan bajunya aku membungkus kepalanya dan mulutnya aku sumbat dengan hancuran kertas. Entah bagaimana, orang-orang Tiat Ciang Pang itu lewat terus, tidak ada seorang juga yang mampir dan masuk ke dalam rumah. Setelah merasa orang telah pergi jauh, aku membukai bungkusan kepalanya. Aku berniat mengulangi menyobek lembaran buku itu. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu pekarangan ditolak. Aku heran. Aku tahu di situ sudah tidak ada orang lain. Suami-istri pemilik rumah itu sudha pergi ke sawahnya. Aku pergi ke pintu dan mengintai. Aku melihat depalan orang datang sambil berpegangan tangan, perlahan jalannya, tangan mereka mencekal masing-masing sebatang galah, yang mereka ketruk-ketruki ke tanah. Nyatalah mereka semua orang-orang buta dan pakaian mereka dekil, tetapi terlihat tegas, asalnya pakaian mereka itu ialah putih.”

“Itulah budak-budaknya si bisa bangkotan,” kata Oey Yong perlahan.

Lam Kim menoleh kepada Kwee Ceng dan berkata, “Baru-baru ini ketika inkong dan aku berada di dalam rimba, selagi inkong hendak menangkap hiat-niauw, aku melihat sendiri budak-budak jahat itu dipatuk burung api itu, maka itu aku lantas mengenali mereka. Dengan lantas aku pakai baju panjang itu menutup pula muka si bangsat. Lalu aku mendengar seorang budak jahat itu berkata: ’Ngamal, ngamal…bagilah sayur dan dingin kepada orang-orang buta…Aku tidak berani bersuara, aku diam saja. Si buta itu berkata pula, dia mengemis nasi. Aku tetap tidak menjawab. Beberapa kali permintaannya itu diulangi. Akhirnya aku mendengar; ’Di sini tidak ada lain orang, mari kita pergi mencari ke lain tempat’. Tadinya mereka itu pada berduduk, lantas mereka pada bangun berdiri. Aku khawatir mereka nanti masuk ke dalam, maka aku lantas batuk-batuk, terus aku membuka pintu. Aku tanya mereka itu siapa. Nampaknya mereka itu kaget. Yang satu lantas berkata, ’Nona, sukalah berlaku baik, tolong kau membagikan makanan untuk kami.’ Yang lainnya mengeluarkan sepotong perak dari sakunya seraya berkata: ’Kami membeli dengan uang…’ Aku lantas mempersilahkan mereka duduk, kataku, nanti aku masak nasi untuk mereka. Aku ingin mereka lekas-lekas pergi. Aku lantas pergi ke dapur, aku masak nasi, aku menggorengi sayur. Demikian mereka berdahar. Habis mereka bersantap, disaat mereka mau pergi, mendadak si orang she Yo berteriak. Aku lari ke dalam. Aku melihat dia mencoba menduduk, tangannya menuding aku, dengan roman ketakutan, dia berteriak pula: ’Auwyang Kongcu! Auwyang Kongcu!’ Aku kaget hingga aku mencelat. Aku tidak tahu siapa itu Auwyang Kongcu. Aku khawatir sekali, aku takut orang-orang buta itu mendengar suaranya. Maka aku pungut bajunya, untuk membungkus pula kepalanya. Di luar dugaanku, dia menjadi kuat sekali, dia berontak pula hingga aku terjatuh. Lagi sekali dia menagsih dengar suaranya; ’Auwyang Kongcu, kau,kau ampuni aku…kau ampuni aku…’”

Oey Yong, Kwee Ceng dan Liam Cu melihat tegas Yo Kang membunuh Auwyang Kongcu, mereka mengerti ketakutannya Yo Kang dalam keadaan was-wasnya, meski begitu, mereka merasakan punggung mereka dingin. Mereka merasa ngeri. Bahkan nona Oey, meskipun dia gagah, dia berlompat kepada Kwee Ceng, untuk duduk menyenderkan tubuhnya.

Lam Kim melihat eratnya perhubungan muda-mudi itu, sakit ia merasakan hatinya. Tapi dia meneruskan, “Begitu orang she Yo itu menyebut-nyebut Auwyang Kongcu, budak-budak buta itu menerobos ke dalam, mulut mereka bertanya berulang-ulang: ’Kongcu! Kongcu! Kau di mana?’ Aku menjadi kaget. Tahulah aku, mereka itu bujang dan majikan. Aku merasa aku bakal gagal. Dalam takutku aku lantas lari. Entah kenapa, waktu itu aku lagi tak ingin mati. Aku takut nanti di tangkap mereka, aku bisa disiksa, maka aku kabur terus. Bagaikan ada malaikat yang menunjuki, aku lari sampai ke kuilnya enci Bok, justru enci Bok lagi sakit berat, tubuhnya sangat panas. Aku lantas merawati sebisanya. Malam itu aku berpikir keras, akhirnya aku minta too-kouw tua itu menerima aku sebagai muridnya. Dua hari kemudian baru panas tubuhnya enci Bok kurangan dan dia sadar…”

“Kemudian bagaimana?” Liam Cu memotong cerita nona itu.

“Bagaimana? Tentu saja dia mati!” menyahut Lam Kim.

“Nanti, nanti aku lihat…” Sambil berkata begitu, Liam Cu berlompat bangun, terus dia lari.

“Enci! Enci!” Oey Yong memanggil.

Liam Cu tidak mendengar, dia lari terus, hingga sebentar saja dia lenyap si sebuah pengkolan.

Oey Yong bertiga tahu Liam Cu tidak dapat melupakan Yo Kang, tidak peduli orang she Yo itu terbukti kejahatannya. Mereka menghela napas.

Setelah berdiam sekian lama, Lam Kim berbangkit.

“Inkong,” katanya perlahan kepada Kwee Ceng, “Aku telah menutur segala apa, maka bersyukurlah kepada Thian, aku dapat dipertemukan pula kepada inkong.” Ia merogoh ke sakunya, dia mengeluarkan sejilid buku yang sudah rusak, ia menyerahkan itu kepada si anak muda seraya menambahkan, “Buku ini telah aku robek belasan lembarannya, aku tidak tahu ini sebenarnya buku apa, tetapi orang she Yo itu menganggapnya sebagai mustika, maka mungkin ada faedahnya. Coba inkong periksa.”

Kwee Ceng menyambuti buku itu, tanpa memeriksa lagi, ia masuki itu ke dalam sakunya.

“Sekarang kau berniat pergi ke mana?” ia menanya. ia lebih memerlukan nasibnya nona yang peruntungannya sangat malang ini.

“Aku telah bertemu pula sama inkong, untukku, kemana aku pergi, sama saja,” menyahut nona Cin ini. “Kelihatannya Tiat Ciang Pang bermaksud tidak baik kepada inkong, maka itu aku harap inkong berdua suka berhati-hati.”

“Kenapa kau ketahui tukang perahu itu orang Tiat Ciang Pang?” Oey Yong tanya.

“Sebab dialah orang yang memasuki aku ke dalam keranjang dan menyerahkan aku pada si orang she Yo itu.”

“Oh…” kata nona Oey yang lantas telah mengetahui bagaimana ia harus mengambil sikap kepada si tukang perahu.

“Setelah enci Bok sembuh, kami berdamai untuk melanjutkan perjalanan bersama,” Lam Kim masih berkata lebih jauh. “Demikian tadi di rumah makan, kami melihat inkonng berdua serta itu tukang perahu. Dasar Thian tidak mengijinkan orang jahat dapat berbuat sesukanya, kami telah dibuatnya memergoki dia.”

Habis mengucap, si nona memberi hormat kepada Oey Yong, terus ia berlutut pada Kwee Ceng seraya berkata, “Sekarang perkenankan aku meminta diri. Semoga inkong panjang umur dan beruntung!”

Kwee Ceng mengasih bangun nona itu. hatinya pepat. Tidak tahu dia mesti membilang apa.

“Enci Cin,” berkata Oey Yong, “Kau sudah tidak punya rumah, maka baiklah kau turut kami pergi ke Kanglam.”

Lam Kim menggeleng kepala.

“Aku berniat balik ke hutan kakekku,” katanya.

“Kau tinggal sebatang kara, mana dapat?” Oey Yong kata.

“Seumurku, aku memang bersendirian saja…”

Oey Yong berpaling pada Kwee Ceng, ia membungkam.

Lam Kim menoleh kepada si anak muda, habis mana ia memutar tubuhnya, untuk bertindak pergi.

Pemuda itu masih menjublak sampai ia ingat suatu apa.

“Nona, tunggu dulu!” dia memanggil.

Nona itu menghentikan tindakannya, ia tidak memutar tubuhnya.

“Nona, kalau kau bertemu lagi orang jahat, bagaimana?” Kwee Ceng tanya, nona itu tunduk, ia menyahuti dengan perlahan, “Aku sebatang kara dan lemah, aku cuma akan menerima nasib saja…”

“Mari aku ajarkan kau serupa ilmu,” berkata Kwee Ceng. “Jikalau kau rajin mempelajarinya, aku percaya sekali kau bisa melawannya sedikitnya lima orang.”

Nona itu berpikir sebentar, lalu ia memberikan penyahutannya, “Baiklah, kalau inkong menitahkannya, nanti aku mempelajarinya.”

Kwee Ceng heran melihat orang tidak bergembira karenanya. Ia lantas mengajari nona itu ilmu yang ia dapatkan dari Tan Yang Cu Ma Giok selama di gurun pasir. Itulah ilmu tenaga dalam, Lwee Kang Sim-hoat, yang terdiri dari sepuluh jurus.

Lam Kim berotak cerdas, ia memperhatikan pengajaran itu. Tidak lama, dia telah dapat mengingatnya baik-baik.

“Setelah dipelajari sungguh-sungguh nanti baru nampak kefaedahannya pelajaran ini,” Kwee Ceng memberi keterangan. “Kau tidak mengerti ilmu silat, tetapi dengan meninju dan menendang kalang-kabutan, kau dapat melukai orang.”

Nona itu berdiam, lalu ia meminta diri pula dan pergi dalam kesunyian.

Setelah orang pergi jauh, Oey Yong kata kepada kawannya, “Aku memberi selamat padamu telah mendapat seorang murid!”

“Mana dapat dibilang dialah muridku,” kata si pemuda. “Aku cuma mengharap dia tidak nanti diperhina lagi segala orang jahat.”

“Itulah sukar dibilang,” kata Oey Yong. “Sekalipun orang sepandai kau, kau masih dipermainkan orang jahat…”

Kwee Ceng menghela napas.

“Di jaman kacau seperti ini, manusia kalah dengan anjing,” ia bilang. “Apa mau dikata…?”

“Sekarang mari kita mampusi anjing gagu itu!” berkata si nona.

Si anak muda heran.

“Anjing gagu yang tadi,” sahut si nona, yang lantas menggerak-geraki tangannya seraya mengasih dengar suara ah-aha-uh-uh.

Melihat itu Kwee Ceng tertawa.

“Jadi kita tetap menaiki perahunya si gagu palsu itu?” ia menegaskan.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: