Kumpulan Cerita Silat

14/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 64

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:21 am


Bab 64. Asmara di dalam keraton
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Mendengar suara guru mereka, keempat murid itu tercengang.

Kwee Ceng berlompat seraya berseru, “Aku ingat sekarang! Ketika malam itu Oey Tocu meniup seruling, Ciu Toako tak kuat menahan hatinya, kemudian aku mendengar ia membacakan syairnya itu. Ialah: ’Empat buah perkakas tenun…maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan…sayang, belum lagi tua tetapi kepala sudah putih…Gelombang musim semi, rumput hijau, di musim dingin, di dalam tempat tersembunyi, saling berhadapan baju merah…!” Ia menepuk paha kanannya, ia kata pula, “Tidak salah! Ketika itu aku heran sekali. Di dalam segala-gala, Ciu Toako lebih menang daripada aku tetapi selagi aku tidak terganggu serulingnya Oey Ytocu, ia sendiri kelabakan, tak kuat ia mempertahankan diri, tak tahunya ia dapat mengingat peristiwa lama itu hingga pemusatan pikirannya menjadi kacau. Pantaslah ia mencaci orang perempuan! Kau tahu, Yong-jie, dia sampai menasehati aku untuk aku jangan baik dengan kau…”

“Hm, Loo Boan Tong!” kata si nona mendongkol. “Lihat kalau nanti aku bertemu dengannya, akan aku jewer kupingnya!” Mendadak ia tertawa dan menambahkan, “Ketika di Lim-an aku telah menggodai dia, aku telah mengatakan tidak ada wanita yang akan sudi menikah padanya, agaknya dia mendongkol, rupanya itu pun disebabkan peristiwa itu.”

“Ketika aku mendengar Eng Kouw membacakan itu, aku seperti telah pernah mendengarnya,” kata pula Kwee Ceng, “Hanya itu waktu, biar bagaimana aku memikirkannya, tidak juga aku ingat. Eh, Yong-jie, mengapa Eng Kouw pun mengetahui syair itu?”

Ditanya begitu, di nona menghela napas.

“Karena Eng Kouw ialah Kui-hui,” sahutnya.

Di antara tukang pancing berempat, adalah si pelajar yang sudah menduga lima atau enam bagian, maka juga tiga yang lainnya menjadi heran, semua mengawasi guru mereka.

“Kau sangat pintar, Nona,” kata It Teng dengan perlahan, “Tidak kecewa kau menjadi putrinya saudara Yok. Lauw Kui-hui itu mempunyai nama kecil, ialah Eng. Aku pun mulanya tidak mengetahui itu. Itu waktu aku setelah melemparkan sapu tangan kepadanya, lantas aku tidak melihat pula padanya. Karena aku berduka sekali, aku tidak memperdulikan lagi urusan negara, aku menungkuli diri dengan setiap hari melatih ilmu silat.”

“Supee, itu waktu di dalam hatimu kau sangat mencintai dia,” kata Oey Yong. “Kau tapinya tidak mengetahui. Kalau tidak, tidak nanti kau menjadi tidak gembira…”

“Nona,” berkata si pelajar berempat. Mereka ini tidak senang nona ini berani bicara demikian macam terhadap guru mereka.

“Apa? Apakah aku salah omong?” Oey Yong balik menanya. “Supee, salahkah aku?”

Air mukanya It Teng Taysu suram. Ia berkata, “Selama itu lebih dari setengah tahun tidak pernah aku panggil Lauw Kui-hui datang menghadap, tetapi di dalam impian, sering aku bertemu dengannya. Demikian pada suatu malam, habis memimpikan dia, tidak dapat aku melawan niat hatiku, aku mengambil keputusan untuk melihat padanya. Aku tidak memberitahukan niatku pada thaykam atau dayang, aku pergi sendirian dengan diam-diam. Aku ingin menyaksikan apa yang dia kerjakan. Ketika aku tiba di wuwungan kamarnya, aku mendengar suara anak kecil menangis keluar dari kamarnya itu. Ah…! Malam itu es turun banyak dan angin pun dingin sekali, tetapi di atas genting itu aku berdiri lama sekali, sampai fajar, barulah aku kembali ke kamarku. Habis itu aku mendapat sakit berat.”

Oey Yong heran. Seorang raja, dan di tengah malam buta rata, untuk selirnya, telah mesti menyiksa diri secara begitu.

Sekarang barulah keempat murid itu ketahui kenapa guru mereka – ketika itu ialah junjungan mereka – yang tubuhnya demikian tangguh, telah mendapat sakit yang berat begitu.

“Lauw Kui-hui telah mendapat anak, tidakkah itu bagus?” Oey Yong tanya pula. “Supee, kenapa kau tidak menjadi gembira?”

“Anak tolol, anak itu ialah anaknya Ciu Suheng.”

“Ciu Suheng pun telah pergi sedari siang-siang, apakah dia telah datang pula secara diam-diam menemui kui-hui?”

“Tidak. Apakah kau belum pernah dengar orang menyebutnya kandungan sembilan bulan?”

Si nona agaknya sadar.

“Ah, aku mengerti sekarang!” katanya. “Pasti anak itu terlahir mirip Loo Boan Tong, kupingnya lebar dan hidungnya mancung, kalau tidak, mana kau ketahui dialah anaknya Loo Boan Tong!”

“Itulah bukannya. Sudah satu tahun lebih aku tidak mendekati kui-hui, maka anak itu pasti bukan anakku.”

Oey Yong berdiam, urusan itu gelap untuknya.

“Aku jatuh sakit hingga setengah tahun lebih,” kata It Teng kemudian. “Setelah sembuh, aku tidak suka memikirkan pula urusan itu. Kemudian lewat dua tahun lebih, pada suatu malam, selagi aku bersemedhi di dalam kamarku, mendadak Lauw Kui-hui datang, dia menyingkap gorden dan nerobos masuk. Thaykam dan dua siewi yang menjaga di luar mencegah, tetapi mereka kena dihajar. Ketika aku menoleh, aku melihat kui-hui menggendong anaknya itu. Aku mendapatkan dia bermuka pucat, dengan lantas dia bertekuk lutut di depanku dan menangis mengerung-gerung, sambil mengangguk-angguk, dia kata: ’Aku mohon belas kasihan Hongya, supaya anak ini dikasih ampun.’

“Aku berbangkit, akan melihat anak itu. Dia bermuka merah, napasnya memburu. Ketika aku menggendong dan memeriksa, aku mendapatkan tulang iganya patah lima biji. Kui-hui masih menangis, dia kata: ’Hongya, aku bersalah, aku harus mati, tetapi aku mohon anak ini diberi ampun.’ Aku tanya, anak itu kenapa. Dia mengangguk-angguk terus, dia tidak menjawab aku hanya tetap memohon aku mengampuni anak itu. ’Mohon hongya mengampuni dia,’ katanya ketika aku menanya pula, hingga aku menjadi heran sekali. ’Kalau hongya menghendaki kematianku, aku tidak penasaran, hanya ini anak, ini anak…’

“Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?! Aku tanya pula. Sebenarnya kenapa anak ini terluka?”

“Kui-hui mengangkat kepalanya, ia mengawasi aku. ’Apakah bukan hongya yang menitahkan siewi untuk menghajar mati anak ini?’ Dia tanya. Aku menjadi heran. Mesti ada apa-apa pada kejadian itu. ’Jadi dia dilukai oleh siewi?’ Aku tanya. ’Budak mana yang begitu bernyali besar?’ Dia terkejut. ’Oh, jadi bukannya hongya yang menitahkan? Kalau begitu, anak ini bakal ketolongan…!’ Habis berkata begitu, dia pingsan.”

“Aku heran sekali, aku pun merasa kasihan melihat keadaannya kui-hui itu. Aku mengangkat dia bangun, direbahkan di pembaringan. Selama sekian lama, baru dia sadar. Dia lantas menangis, sembari dia menuturkan duduknya kejadian. Katanya dia lagi menepuk-nepuk anaknya untuk ditiduri, mendadak dari luar jendela berlompat masuk satu orang, ialah satu siewi yang mukanya bertopeng, anaknya itu lantas dirampas dan diangkat, dihajar punggungnya. Kui-hui kaget, dia mencegah. Siewi itu menolak Kui-hui, lagi sekali dia menghajar anak itu, kemudian dia tertawa dan berlompat pergi. Kui-hui tidak mengejar, ke satu siewi itu kosen sekali, kedua dia menyangka siewi itu diperintah olehku. Itu pun sebabnya kui-hui lantas membawa anaknya itu datang padaku, untuk minta ampun. Aku menjadi semakin heran. Aku memeriksa teliti anak itu, aku tidak mendapat tahu dia terlukan pukulan ilmu silat apa. Aku mendapatkan, ada otot anak itu yang putus. Aku lantas pergi ke kui-hui, untuk melakukan pemeriksaan, sebab aku percaya si penjahat bukan sembarang orang. Kemudian di atas genteng, aku melihat tapak kai. Aku lantas kata pada Kui-hui: ’Penjahat itu lihay sekali, terutama ilmu enteng tubuhnya. Di dalam negeri Taili ini, kecuali aku, tidak ada orang yang kedua yang lihay sebagai dia.’ Kui-hui menjadi kaget, dia berkata: ’Mustahilkah dia? Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?’ Berkata begitu, mukanya menjadi pucat seperti muka mayat.”

Oey Yong terkejut.

“Tidak nanti Loo Boan Tong berbuat demikan…” katanya perlahan.

“Ketika itu aku justru menduga pada Ciu Suheng,” berkata It Teng Taysu. “Kecuali dia, tidak ada orang yang segagah dia. Aku pun menduga, mungkin dia berbuat begitu sebab dia tidak mempunyai anak itu, yang bakal membuat dia malu. Ketika kui-hui mendengar dugaanku itu, dia malu dan cemas, ia kaget. Mendadak ia berkata: ’Tidak, pasti bukan dianya! Suara tertawanya orang itu bukan suara dia.’ Aku berkata: ’Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin kau kurang jelas?’ Tapi ia berkeras, ia kata: ’Suara tertawanya orang itu aku akan ingat buat selama-lamanya, meski aku menjadi setan, tidak nanti aku lupa! Bukan, bukannya dia!”

Mendengar itu, semua orang menggigil sendirinya tanpa merasa.

Kwee Ceng dan Oey Yong lantas membayangi roman Eng Kouw ketika nyonya itu menggertak gigi.

“Mendengar perkataannya Kui-hui, aku jadi percaya,” It Teng bercerita pula. “Hanya aku tidak bisa menerka si penjahat. Dia begitu kosen, kenapa dia hendak membinasakan seorang anak kecil? Aku sampai menduga kepada murid-muridnya Cinjin umpama Ma Giok, Khu Cie Kee dan lainnya. Mungkin mereka hendak melindungi nama baik partai mereka maka mereka melakukan perjalana jauh guna melakukan pembunuhan itu…”

Kwee Ceng hendak membuka mulutnya atau ia mengurungkan niatnya itu. Ia tidak seberani Oey Yong, yang tak takut memotong pembicaraan orang suci itu.

“Kau hendak membilang apa?” It Teng Taysu menanya kapan ia melihat orang batal bicara.

“Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya itu adalah orang-orang suci dan gagah, tidak nanti mereka melakukan perbuatan serendah itu,” Kwee Ceng bilang.

“Ong Cie It itu pernah aku menemuinya di Hoa San, dia memang seorang laki-laki,” kata It Teng, “Tentang yang lainnya, aku tidak tahu. Memang kalau benar mereka, dengan satu hajaran saja mereka dapat membinasakan anak itu, maka kenapa mereka menghajar hanya setengah mati?”

Sembari berbicara, pendeta ini sembari berpikir. Sudah belasan tahun, ia masih belum dapat memecahkan keragu-raguannya itu. Ruang itu menjadi sunyai sekali.

“Baiklah, nanti aku menuruskan terus,” katanya kemudian.

“Tiba-tiba Oey Yong berlompat.

“Tidak salah lagi, dia pastilah Auwyang Hong!” katanya.

“Belakangan aku juga pernah menduga dia,” kata It Teng, “Hanya kemudian aku berpikir juga, mustahil juga yang berada jauh di wilayah Barat, sedang dia juga bertubuh tinggi dan besar. Menurut Kui-hui, si orang jahat ada terlebih kate dan kecil dari kebanyakan orang.”

“Benar-benar heran,” kata si nona.

“Ketika itu aku sangsi memikirkan anak itu,” It Teng berkata pula. “Dia terlukkan tak lebih hebat daripada lukamu, nona, hanya dia masih kecil sekali, tubuhnya sangat lemah, maka untuk mengobati dia, aku mesti mengorbankan tenaga dalamku. Aku jadi bersangsi sebab aku tahu, di dalam rapat kedua di gunung Hoa San nanti, pasti aku tidak dapat turut mengambil bagian. Bebeapa kali aku hendak menampik, aku gagal. Aku gagal. Aku kasihan melihat kui-hui yang menangis saja. Ah, benarlah kata Ong Cinjin bahwa kitab itu bisa mendatangkan kegaduhan dan mencelakai banyak orang. Buktinya aku sendiri, karena memikirkan kitab itu, aku menjadi lain dari biasanya. Lama aku berpikir, baru aku mengambil keputusan untuk mengobati anak itu. Selama aku berpikir itu, aku merasa akulah seorang hina dina mirip seekor binatang. Aku pun masih tidak dapat mengubah kelakukanku meskipun aku sudah mengambil keputusan itu, aku menganggapnya aku menolong lantaran tidak bisa menolak permohonan sangat dari Lauw Kui-hui.”

“Supee, aku membilang kau sangat mencintai dia, sedikitpun aku tidak salah,” berkata Oey Yong.

It Teng seperti tidak mendengar perkataan si nona, dia terus berkata, “Ketika Kui-hui mendengar jawabanku, dia girang sampai dia pingsan. Lebih dulu aku uruti dia, untuk menyadarkannya, baru aku menolongi anaknya itu. Aku menguruti bocah itu dengan Sian Thian Kang. Ketika aku membuka otonya, aku terkejut. Oto itu memakai sulaman sepasang burung wanyoh serta syairnya itu. Oto itu terbuat dari sapu tangan yang Ciu Suheng dulu hari melemparkannya kepadanya. Selagi aku terbengong, Kui-hui rupanya melihat sikapku itu. Maka ia menggertak gigi, ia mengeluarkan pisau belati, yang ia tujukan ke dadanya. Ia kata: ’Hongya, aku tidak ingin pula di dunia ini, maka itu aku memohon belas kasihanmu, kau tolongilah anak ini. Aku menukar dia dengan jiwaku, nanti di lain dunia, aku akan menjadi anjing dan kuda guna membalas budimu ini.’ Ia lantas menikan dadanya.”

Semua orang terkejut, meski mereka tahu Lauw Kui-hui toh masih hidup. Itulah sebab hebatnya suasana yang diciptakan penuturannya It Teng Taysu. Pendeta ini bercerita terus, tapi sekarang dia seperti berbicara seorang diri. Ia kata, “Segera aku mencegah perbuatan Kui-hui dengan merampas pisau belatinya itu. Aku berlaku cepat tetapi toh dadanya tergores juga hingga dia mengucurkan darah. Karena aku khawatir dia nanti mencoba membunuh diri lagi, aku totok jalan darah di tangan dan kakinya hingga dia tak bisa bergerak. Habis membalut lukanya, aku aksih dia duduk di kursi, untuk beristirahat. Dia tidak membilang apa-apa, dia cuma mengawasi aku, matanya menunjuki kedukaan yang sangat. Aku pun berdiam saja. Maka di situ cuma terdengar suara napasnya si anak kecil, napas yang mendesak. Mendengar napas bocah itu, aku jadi ingat segala kejadian yang berlalu. Aku ingat bagaimana mulanya dia masuk ke istana, bagaimana aku mengajari dia silat. Aku menyayangi padanya dan dia selalu menghormati aku, dai agak jeri, dengan teliti dia merawat aku, belum pernah dia membantah, hanya bahwa dia tidak pernah mencintai aku, inilah aku tidak tahu, baru aku menginsyafinya setelah datang hari yang dia jatuh hati kepada Ciu Suheng. Demikian sifatnya kalau seorang wanita mencintai seorang pria. Dia bengong mengawasi sapu tangannya itu, dia bengong mengawasi Ciu Suheng berlalu untuk selamanya. Sinar matanya itu membuat aku tidak tentram tidur dan tidak bernapsu dahar. Sekarang aku melihat pula sinar matanya itu, sekarang disaat dari hancurnya hatinya pula. Cuma sekarang bukan untuk kekasihnya, hanya untuk anaknya.”

It Teng berdiam sejenak.

“Seorang laki-laki diperhina demikian, tidak dapat apapula aku, seorang raja! Maka itu, mengingat demikian, hatiku menjadi panas. Dengan tiba-tiba aku menendang bangku gadis di depanku hingga bangku itu rusak. Ketika aku kemudian menoleh pada kui-hui, aku terkejut, aku melengak: ’Eh, rambut…rambutmu itu kenapa’ Aku tanya dia. Dia seperti tidak mendengar perkataanku, dia terus mengawasi anaknya. Dulu-dulu aku tidak mengerti orang mempunyai sinar mata demikian itu, baru sekarang aku menginsyafinya. Berapa besar dia harus dikasihani. Dia rupanya telah mengerti yang aku tidak sudi menolongi anaknya itu, maka selama dia masih hidup, ingin dia memandang anaknya itu, makin lama makin baik. Aku mengambil kaca, aku bawa itu kepadanya. ’Lihat rambutmu,’ aku kata padanya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, dia seperti menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedang dia sebenarnya baru berumur sembilanbelas tahun. Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal, penasaran, putus harapan, mendadak rambutnya itu berubah menjadi uban!”

“Dia tidak memperhatikan sedikit juga roman atau rambutnya itu. Dia menyangka aku pakai kaca untuk menghalangi dia mengawasi anaknya itu. Dia kata padaku: ’Angkat kaca itu!’ Dia bicara tegas sekali, dia seperti lupa akulah raja, ialah junjungannya. Aku menjadi heran. Aku tahu biasanya dia sangat menyayangi paras mukanya. Aku menyingkirkan kaca itu, maka terus dia mengawasi anaknya itu. Ah, kalau dia ada seribu arwahnya, tentulah dia serahkan semua itu kepada anaknya, asal anaknya itu hidup. Aku mengerti bagaimana perasaannya itu. Dia ingin mati untuk anaknya itu.”

Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Di dalam hatinya, mereka saling mengatakan, “Kalau aku pun menampak kesukaran seperti itu, apakah kau juga dapat mengawasi aku demikian rupa?” Tanpa merasa mereka saling menyodorkan tangan, untuk saling memegang erat-erat, hati mereka berdenyutan, tubuh mereka dirasai hangat.

“Sebenarnya aku merasa tidak tega,” It Teng kemudian melanjuti ceritanya, “Aku berniat menolongi anak itu, apa mau, sapu tangan itu tetap berada di dadanya. Itulah sulaman sepasang burung wanyoh, yang saling menyenderkan leher mereka. Kepala burung itu putih. Itulah lambang untuk hidup bersama hingga di hari tua. Maka kenapakah, sebelum tua tetapi rambut sudah putih terlebih dulu? Maka melihat rambut putihnya itu, dengan sendirinya aku mengeluarkan keringat dingin. Mendadak hatiku menjadi keras. Aku kata padanya: ’Baiklah, kamu boleh menjadi tua bersama, biarlah aku bersia-sia sendiri di dalam istana sunyi ini sebagai kaisar! Dialah anak kamu berdua, kenapa aku mesti mengorbankan diri untuk menolong menghidupi dia?’ Dia memandang aku. Itulah pandangannya yang terakhir. Pada mata itu terdapat sinar kedukaan, penasaran, bermusuhan. Semenjak itu, dia tidak pernah melihat aku lagi. Sebaliknya aku, tidak dapat melupakan sinar matanya itu. Dia kata dengan dingin: ’Kau lepaskan aku, aku hendak menggendong anakku!’ Perkataannya itu mirip titah, membuatnya orang susah membantahnya. Maka aku membebaskan dia dari totokan. Dia menggendong anaknya itu. Anak itu pasti terluka sangat parah hingga tidak dapat ia menangis, mukanya bersinar gelap, matanya mengawasi ibunya, mungin ia minta ditolongi. Aku sendiri sejenak itu, aku tidak mempunyai rasa kasihan sedikit juga. Aku hanya melihat, rambut hitamnnya berubah menjadi putih. Mungkin itulah perasaan belaka. Lalu aku mendengar dia berkata halus pada anaknya: ’Anak, ibumu tidak mempunyai kepandaian untuk menolongi kau, ibumu tidak dapat membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka, anak kau tidurlah biar nyenyak….Tidur, anak tidur, untuk selama-lamanya jangan kau mendusin pula!’ Aku mendengar dia bernyanyi perlahan, menyanyikan lagu mengeloni anak tidur. Sedap nyanyian itu…Ya, begini, nah kau dengarlah!”

Orang heran. Si pendeta mengatakan demikian tetapi di situ tidak ada nyanyian. Mereka saling mengawasi, mereka terkejut.

“Suhu!” kata si pelajar. “Kau telah berbicara terlalu banyak, kau lelah, baiklah kau beristirahat.”

It Teng seperti tidak mendengar. Dia berkata pula, “Anak itu tersenyum. Hanya sejenak, saking sakitnya, dia bergelisah. Lantas ibunya berkata pula padanya, halus sekali: ’Jantung hatiku, kau tidurlah, nanti lenyap semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak sakit lagi…’ Sekonyong-konyong terdengar suara menumblas dan pisau belati itu telah nancap di dada anaknya!”

Oey Yong kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya memeluk lengan Kwee Ceng.

Si pelajar berempat pun kaget tidak terhingga, muka mereka menjadi pucat.

Hebat penuturannya It Teng Taysu itu, yang sebaliknya berbicara terus, “Aku kaget, kau terhuyung, terus aku jatuh ke lantai. Dalam keadaan lapat-lapat aku tidak tahu memikir apa. Aku hanya ingat dia berbangkit dengan perlahan-lahan, dengan perlahan dia kata: ’Akhirnya akan ada satu hari yang aku, dengan pisau belatiku ini, nanti menumblas ulu hatim.’ Dia menunjuk pada gelang kumala di tangannya, dia kata pula: ’Inilah gelang yang di hari aku masuk ke istana kau memberikannya kepadaku. Kau tunggu saja, di hari yang gelang kumala ini aku kembalikan padamu, maka itu hari juga pisau belati ini akan turut datang.”

Sambil berkata begitu, It Teng memutar gelang itu di jari tangannya. Ia bersenyum.

“Inilah gelang kumala itu,” katanya. “Aku telah menantikan belasan tahun ini hari tibalah harinya itu!”

“Supee, dia membunuh sendiri anaknya, ada pula sangkutannya itu dengan kau?” Oey Yong tanya, “Pula dia telah mencelakai kau dengan racun, maka meskipun ada permusuhan dulu hari itu, bukankah itu sudah impas? Biarlah, sebentar di kaki gunung, akan kami menyuruh dia pergi, supaya dia jangan datang mengganggu pula…”

Tepat selagi si nona berkata itu, satu kacung hweeshio datang masuk.

“Suhu,” katanya, “Di kaki gunung ada lagi yang mengantarkan ini…”

Dengan kedua tangannya, kacung itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil.

It Teng menyambuti, untuk terus dibuka. Untuk kagetnya semua orang, hingga mereka berseru. Itulah sehelai oto bersulamkan burung wanyoh, sulaman burungnya hidup sekali, cuma suteranya sudah berubah kuning. Di antara kedua ekor burung itu ada satu liang bekas tusukan pisau, di samping liang ada bagian yang hitam, sisa darah.

It Teng meletaki oto itu di lantai, ia bengong mengawasi. Sekian lama ia berdiam, romannya berduka, lalu dia berkata, “Inilah sulaman burung wanyoh yang mau terbang berpasangan. Hm, mau terbang berpasangan, tetapi akhirnya menjadi impian belaka. Dia menggendong anaknya, dia berlompat keluar jendela, sembari berlalu dia tertawa keras dan lama. Setibanya di luar, dia lompat ke atas genting, sekejap saja dia lenyap. Aku menjadi tidak dahar dan tidak minum, tiga hari tiga malam aku memikirkannya. Diakhirnya aku sadar, maka itu aku mewariskan mahkota kepada anakku yang sulung, aku sendiri lantas masuk menjadi pendeta.” Dia menunjuk empat muridnya, akan menambahkan, “Mereka ini lama telah mengikuti aku, mereka tidak suka berpisahan, maka mereka turut aku pergi ke Inlam Barat, ke kuil Liong Coan Sie. Mulanya selama tiga tahun pertama, mereka membantu putraku memerintah. Mereka membantu dengan bergiliran. Kemudian setelah putraku sudah mengerti tugasnya, dan justru telah terjadi itu peristiwa di Tay Soat San, di mana Auwyang Hong melukai muridku ini, kita lantas pindah ke mari. Sejak itu kita tidak pernah kembali ke Taili. Hatiku keras, aku tidak suka menolong anak itu, maka itu selanjutnya, sampai belasan tahun hingga sekarang ini, siang dan malam, aku merasa hatiku tidak tenang. Aku memikir untuk lebih banyak menolongi orang, guna menebus dosaku yang besar itu. Mereka ini tidak mengerti kesengsaraan hatiku, mereka selalu mencegah. Ah, taruh kata aku dapat menolong selaksa jiwa, anak itu toh tetap mati. Kalau bukan aku membayarnya dengan nyawaku sendiri, mana dosa itu dapat ditebus? Maka setiap hari aku menanti-nanti kabar dari Eng Kouw, menanti dia membawa pisau belatinya untuk menumblas dadaku. Aku tadinya berkhawatir dia tidak keburu datang, nanti aku mati terlebih dulu,kalau begitu, hebat untukku. Tapi bagus, sekarang temponya telah tiba, harapanku bakal terkabul. Ah, sebenarnya buat apa dia menaruh racun di dalam obat Kiu Hoa Giok Louw Wan? Kalau aku tahu, dia bakal segera datang, tak usah suteku menolongi aku menyingkirkan racun itu.”

Oey Yong tapinya tidak senang.

“Perempuan itu jahat!” dia kata sengit. “Rupanya dia telah ketahui tempat kediaman supee ini, karena khawatir tidak bisa melawan, dia menantikan ketikanya yang baik, maka kebetulan sekali aku terlukakan Khiu Cian Jin, dia sambar ketika ini, dia pakai aku sebagai perkakas. Pantas dia menunjuki aku tempat supee. Dia rupanya memikir untuk terlebih dulu membikin habis tenaga supee, baru dia mau turun tangan sendiri. Aku menyesal yang diriku kena dipermainkan dia! Supee, kenapa gambarnya Auwyang Hong itu bisa berada di tangannya? Ada apa hubungannya dia dengan gambar itu?”

It Teng mengambil sebuah kitab dari atas mejanya dan membalik lembarannya. Ia berkata, “Gambar ini mempunyai lelakon seperti ini. Di sebuah kota di India ada seorang raja yang sujud. Pada suatu hari seekor burung dara terbang kepadanya meminta perlindungan. Burung dara ini dikejar seekor burung elang. Burung elang ini meminta burung dara itu, katanya, kalau tidak, dia bakal mati kelaparan. Sulit untuk raja itu, sebab menolong yang satu berarti mencelakai yang lain. Maka akhirnya ia mengambil pisau dan memotong dagingnya sendiri. Si burung elang meminta daging raja yang sama beratnya seperti burung dara itu, maka daging itu ditimbang. Kenyataannya burung dara itu berat luar biasa, daging raja itu tidak cukup kendati ia sudah memotong seluruh anggota tubuhnya. Ketika raja menimbangkan tubuhnya juga, maka bergoyanglah bumi, langit bergembira, bidadari-bidadari menyebar bunga, harumlah semua jalan, maka juga naga langit dan setan-setan yang berada di udara pada menghela napas dan berkata: ’Siancay, siancy’. Kegagahan seperti ini, sungguh belum pernah ada!”

Itulah dongeng tetapi demikian rupa It Teng menuturnya, semua orang jadi tergerak hatinya.

“Sekarang aku mengerti, supee,” berkata Oey Yong. “Dia khawatir supee tidak suka menolong mengobati aku, dia sengaja menunjuki gambar itu untuk membikin hati supee tertarik.”

“Benar begitu,” kata It Teng bersenyum. “Ketika dulu hari itu ia meninggalkan Taili, tentu hatinya gusar dan penasaran, tentu dia mencari orang gagah, entah bagaimana, dia bertemu sama Auwyang Hong. Pasti Auwyang Hong mengetahui maksud orang maka ia menolong melukis gambar itu. Kitab ini tersiar luas di Wilayah Barat dan Auwyang Hong ada orang sana, tentu dia mengetahuinya dengan baik.”

“Sungguh jahat!” kata Oey Yong sengit. “Si bisa bangkotan menggunai Eng Kouw dan Eng Kouw menggunai aku, ini dia akal jahat meminjam golok membunuh lain orang!”

“Jangan kau gusar,” berkata It Teng menghela napas. “Umpama kata dia tidak bertemu sama kau, mesti dia akan melukakan orang lain, yang dia menyuruhnya datang ke mari meminta aku menolonginya. Cumalah, siapa tidak mempunyai kepandaian, tidak dapat dia datang ke mari. Sudah lama Auwyang Hong melukis gambar ini, maka itu rencananya pasti telah diatur semenjak sepuluh tahun yang lampau. Bukankah ini pun semacam jodoh?”

“Benar, supee. Tapi dia masih mempunyai satu maksud lain, yang lebih penting daripada urusannya dengan supee ini.”

It Teng heran. “Apakah itu?” ia tanya.

“Loo Boan Tong kena dikurung ayahku di Tho Hoa To, dia hendak pergi menolongi,” si nona menerangkan. Ia menerangkan bagaimana Eng Kouw mencoba mempelajari Kie-bun-sat, supaya bisa memasuki Tho Hoa To. Kemudian ia menambahkan, “Kemudian Eng Kouw ketahui, dia belajar lagi seratus tahun juga tidak nanti dia dapat melawan ayahku, maka justru ia melihat aku terluka, lantas dia…”

Mendengar itu It Teng tertawa panjang, lalu ia berbangkit.

“Sudah, sudah!” katanya. “Segala apa terjadi secara kebetulan, maka sekarang tentulah dia sudah puas!” Dia berpaling kepada keempat muridnya, untuk memerintah, “Pergi kamu menyambut dengan baik pada Lauw Kui-hui! Eh, bukan! Kamu menyambut Eng Kouw, kau ajak dia datang ke mari. Sedikit juga kamu tidak boleh berlaku tidak hormat kepadanya.”

Tanpa berjanji, keempat murid itu menekuk lutut mendekam akan menangis menggerung-gerung. “Suhu!” kata mereka.

It Teng menghela napas. Ia kata, “Kamu telah mengikuti aku untuk banyak tahun, mungkinkah kamu masih belum tahu hati gurumu?” Ia menoleh kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengatakan, “Aku hendak meminta sesuatu kepada kamu.”

“Titahkan saja, supee,” menyahut si anak muda.

“Bagus!” kata pendeta itu, “Sekarang pergilah kau turun gunung. Seumurku, aku banyak berhutang kepada Eng Kouw, maka itu kalau di belakang hari dia menemui sesuatu bahaya, aku minta dengan memandang aku si pendeta tua, haraplah kau membantui dia secara sungguh-sungguh. Umpama kata kamu dapat merangkap jodoh dia dengan Ciu Suheng, aku akan terlebih-lebih bersyukur.”

Dua muda-mudi itu tercengang, mereka saling mengawasi. Bukankah Eng Kouw datang untuk menuntut balas? Dengan perbuatannya ini, bukan saja It Teng menutup pintu bagi siapa yang hendak menuntut balas untuknya, dia pula mau membalas kejahatan dengan kebaikan.

Menampak kedua orang itu berdiam, It Teng bertanya, “Apakah permintaanku si pendeta tua ini sulit untu kamu menjawabnya?”

Oey Yong masih bersangsi tetapi ia menjawab, “Kalau supee minta begitu, baiklah, kami menerima baik.” Ia lantas menarik ujung baju Kwee Ceng, untuk diajak bersama-sama memberi hormat, guna meminta diri.

“Kamu tak usah bertemu muka sama Eng Kouw,” It Teng kata pula. “Maka pergilah kamu turun dari gunung belakang.”

Oey Yong menyahuti, ia tarik Kwee Ceng untuk diajak berlalu.

Keempat murid itu melihat wajah si nona tenang saja, diam-diam mereka mencaci nona iti tidak berbudi, sebab mereka anggap nona itu tidak memikirkan keselamatannya orang yang telah menolongi dia.

Kwee Ceng mengikuti tanpa berbicara. Ia tidak percaya Oey Yong demikian tidak berbudi. Ia percaya si nona ada punya maksud lain. Ketika mereka sampai di muka pintu, si nona lantas berbisik kepadanya, atas mana ia mengangguk-angguk, terus ia bertindak kembali, tindakannya perlahan.

It Teng berkata pada pemuda itu, “Kau jujur dan setia, di belakang hari kau pasti berhasil melakukan sesuatu yang besar. Maka itu urusan Eng Kouw pun aku serahkan padamu.”

Kwee Ceng menyahuti baik, akan tetapi berbareng dengan itu, dengan mendadak sekali, dengan kesebatannya yang luar biasa, ia menyambar lengannya si pendeta bangsa India di sisi It Teng Taysu, menyusul mana tangan kirinya menotok dua jalan darah hoa-kay dan thian-cu dari pendeta itu, hingga pendeta itu tidak dapat berkutik dalam detik itu juga.

Kejadian ini membikin si pelajar berempat menjadi kaget dan heran.

“He, kau bikin apa?!” mereka menehur.

Tindakannya Kwee Ceng belum selesai. Ia tidak memberikan penyahutan kepada empat orang itu, sebaliknya tangan kirinya lantas menyambar pundaknya It Teng Taysu.

Menampak sambaran itu, It Teng menggeraki tangan kanannya, gesit luar biasa, ia menyambut tangan kiri si anak muda, untuk ditangkap.

Kwee Ceng menjadi kaget dan heran. Ia tidak menyangka pendeta itu masih bisa menghindarkan diri dari sambarannya. Itulah kepandaian dahsyat, yang ia baru pernah menyaksikannya. Hanya ia mendadapt kenyataan, ketika kedua tangan saling membentur, tenaganya si pendeta lemah sekali, maka ia lantas memutar tangannya untuk membalas menangkap. Berbareng dengan itu, dengan tangan kananya Kwee Ceng menggunai jrus “Naga sakti menggoyang ekor”, guna memukul mundur si tukang pancing dan si tukang kayu, yang menyerang dia dari samping. Sebab kedua murid pendeta itu, dalam kagetnya, sudah lantas menerjang, untuk menolongi guru mereka. Mereka ini cuma bisa maju satu kali saja, lantas mereka dibikin tidak berdaya. Si anak muda meneruskan menotok dua jalan darah mereka, hong-bwee dan ceng-ciok.

Ketika itu Oey Yong juga sudah turun tangan. Dengan tongkatnya ia mendesak mundur si petani sampai di muka pintu.

Si pelajar menjadi kelabakan.

“Berhenti, berhenti!” ia berseru berulang-ulang. “Mari kita bicara dulu!”

Si petani seperti kalap, ia berkelahi nekat sekali hendak ia merangsak, akan tetapi dia dirintangi tongkat kaum Pengemis, saban-saban kena dipaksa mundur pula.

Kwee Ceng sekarang menerjang keluar dari kamar suci, dia paksa memukul mundur kepada si tukang pancing, si tukang kayu dan si pelajar juga, hingga mereka ini dipaksa mundur setindak demi setindak.

Oey Yong dalam melayani si petani telah menotok ke alis lawannya itu. Petani itu terkejut, dia berteriak, dengan terpaksa dia berkelit sambil berlenggak dan berlompat juga.

“Bagus!” berseru si nona selagi orang mundur, lalu dengan sebat ia menutup pintu. Sekarang ia tertawa haha-hihi dan mengatakan, “Tuan-tuan, tahan, hendak aku bicara!”

Si tukang kayu dan si tukang pancing telah menangkis serangan Kwee Ceng, mereka merasakan tangan mereka sakit, mereka terhuyung mundur beberapa tindak, meski begitu, ketika si anak muda maju, mereka pun maju pula dengan berbareng, guna melawan terus. Di dalam keadaan seperti itu, mereka tidak kenal takut.

Kwee Ceng telah mendengar suara kawannya, ia berhenti untuk melayani terlebih jauh, cepat-cepat ia menarik pulang tangannya, sembari memberi hormat, ia kata, “Maaf! Maaf!”

Keeempat murid It Teng menjadi heran dan melengak karenanya.

Oey Yong segera berkata, “Kami telah menerima budi guru kamu, budi yang besar sekali, sekarang guru kamu berada dalam bahaya, cara bagaimana kami bisa berpeluk tangan dan menonton saja? Maafkan perbuatan kami ini ada hubungannya sama maksud kami untuk memberi pertolongan.”

Si pelajar menjura.

“Musuh majikan kami ialah majikan kami juga,” ia berkata. “Di antara kita orang ada tingkat tinggi dan rendah, karena itu, kalau majikan kami yang wanita itu datang ke mari, kami tidak berani turun tangan terhadapnya. Juga guru kami, karena kematiannya sang putra selama belasan tahun, tidak tentram hatinya, maka itu kalau sebentar Lauw Kui-hui datang, jangan kata memangnya telah lenyap kepandaiannya, walaupun ia masih gagah, ia tentu bakal mandah di bunuh Lauw Kui-hui. Maka hal itu sangat menyulitkan kami, kami tidak berdaya. Dari itu nona, jikalau kamu bisa menunjuki jalan keluar kepada kami, meski tubuh kami hancur lebur, tidak nanti kami melupakan budimu yang besar itu.”

Melihat orang bicara demikian sungguh-sungguh, Oey Yong tidak mau bergurau pula.

“Kami mulanya mengharap bantuannya si orang India yang menjadi paman guru kamu,” ia berkata. “Kami tidak menyangka, dia sebenarnya tidak mengerti ilmu silat sama sekali, karena itu sekarang aku mesti menukar siasat. Tindakan ini luar biasa besar bahayanya. Umpama kata kita berhasil, di belakang hari tidak bakal ada ancaman bahaya lagi, Eng Kouw sangat licin, kepandaiannya juga tinggi, dari itu aku masih khawatir. Aku bodoh, aku tidak dapat memikir jalan lagi…”

Si pelajar berempat mengawasi.

“Ingin kami mendengar keterangan nona,” kata si pelajar.

Oey Yong menggeraki alisnya yang bagus, terus ia memberikan keterangannya, mendengar mana, keempat muridnya It Teng saling mengawasi, hingga sekian lama mereka tidak dapat membuka suara.

*
* *

Ketika sang sore tiba, dengan perlahan-lahan, sang Batara Surya turun ke belakang gunung. Tinggal angin gunung, yang masih meniup-niup, membuatnya bergoyang-goyang pepohonan yang ada di depan kuil. Juga daun-daun kering di pengempang mengasih dengar suaranya yang halus. Tinggallah sinar layung, yang membuatnya puncak gunung berbayang, rebah bagaikan satu raksasa…

Si tukang pancing berempat duduk bersila di ujung jembatan batu, mata mereka diarahkan ke ujung lain dari jembatan itu. Hati mereka masing-masing tidak tentram. Lama mereka menanti, sampai sang magrib tiba. Beberapa ekor gagak terbang dengan suaranya yang berisik, terbang pergi ke selatan gunung.

Masih di ujung jembatan sana tak nampak siapa juga.

“Mudah-mudahan Lauw Kiu-hui mengubah pikirannya,” berkata si tukang pancing di dalam hatinya. “Di dalam hal ini, suhu tidak dapat dipersalahkan. Biarlah dia tak datang untuk selama-lamanya…”

“Lauw Kui-hui sangat cerdik, tentulah ia sekarang lagi memikirkan akal muslihatnya,” si tukang kayu berpikir lain.

Si petani adalah yang paling tidak sabaran.

“Biarlah dia datang lebih siang, supaya urusan pun beres lebih siang!” pikirnya. “Biar bahaya biar rejeki, biar baik biar jahat, biarlah lekas ada keputusannya! Dikatakan datang, dia tidak datang, apa itu tidak membikin orang bergelisah?”

Si pelajar sebaliknya berpikir lain, “Makin lambat dia datang, makin berbahya ancaman bencananya. Sebenarnya soal sulit sekali…”

Sebetulnya pelajar ini pintar dan pandai berpikir, belasan tahun ia menjadi perdana menteri negera Taili, pernah ia menghadapi banyak perkara besar dan peperangan juga, tetapi belum pernah ia menghadapi saat tegang seperti ini. Maka ia jadi berpikir keras, apapula ketika itu, cuaca jadi semakin gelap, di tempat jauh di sana, tak nampak suatu apa, kecuali suara menyeramkan dari di burung malam, si kokok beluk atau burung hantu. Tidak heran kalau kemudian dia ingat kepada dongeng semasa dia kecil. “Si kucing malam bersembunyi di tempat gelap, dia mencuri alisnya beberapa orang, alis yang dapat dia menghitungnya dengan tepat, maka dia itu tak menanti sampai fajar…”

Dengan si kucing malam dimaksudkan si burung hantu. Dan cerita itu dogeng belaka, akan tetapi karena teringatnya di waktu sore, dalam suasana seperti itu, mau tidak mau, buulu romanya terbangun sendirinya. Hebat pengaruhnya suara si burung hantu itu…

“Mungkinkah suhu tidak bakal lolos dari takdirnya ini, dan ia mesti mati ditangannya seorang wanita?” si pelajar berpikir.

“Nah, dia datang itu!” mendadak terdengar suara si tukang akyu, suaranya perlahan dan bergemetar.

Benar juga, di atas jembatan, terlihat berkelebatnya satu tubuh manusia. Tiba di bagian liang atau ceglokan, dengan pesat bayangan itu berlompat. Dia begitu gesit hingga si pelajar berempat menjadi heran, hingga mereka berpikir, “Ketika ia belajar silat pada suhu, kita sudah mewariskan kepandaian suhu, kenapa sekarang dia menjadi terlebih lihay daripadaku? Selama belasan tahun ini, di mana ia menyakinkan ilmu silatnya itu?”

Selagi orang itu mendatangi bagaikan bayangan, si pelajar berempat lantas bangun untuk berdiri, segera mereka memecah kedua sisi.

Cepat sekali orang itu telah tiba. Dia mengenakan pakaian hitam, cuaca pun gelap, tetapi dia dapat lantas dikenal. Memang dialah Lauw Kui-hui, selir yang dicintai Toan Hongya. Maka lantas mereka itu memberi hormat sambil mengucapkan, “Siauwjin menghadap Nio-nio!”

Mereka menyebut diri, “siauwjin”, hamba yang rendah dan memanggil nyonya itu dengan io-nio, sebutan mulia untuk permaisuri.

“Hm!” Eng Kouw mengasih dengar suaranya, sedang matanya menyapu empat orang itu.

“Apakah Nio-nio itu?!” katanya bengis. “Lauw Kui-hui sudah lama mati! Aku ialah Eng Kouw. Hai, yang mulia Perdana Menteri, yang mulia Jenderal Besar, yang mulia Laksamana dan Pemimpin dari Pasukan Gie-lim-kun, kiranya kamu semua ada di sini! Aku menyangka Sri Baginda benar-benar sudah melupai dunia, dia menjadi pendeta. Siapa tahu dia justru bersembunyi di sini, dia tetap masih menjadi kaisar yang berbahagia!”

Hati empat orang itu berdenyutan. Suara kui-hui sangat tidak enak di dengar.

“Sekarang ini Sri Baginda bukan lagi seperti Sri Baginda dulu hari,” berkata si pelajar, si bekas perdana menteri yang mulia itu. “Kalau Nio-nio melihat padanya, pasti Nio-nio tidak bakal mengenalinya.”

“Ha, masih kamu menyebut Nio-nio!” membentak Eng Kouw. “Apakah kamu hendak mengejek aku? Apa perlunya kamu hendak memberi hormat padaku sampai aku mati?!”

Keempat orang itu saling mengawasi, lantas mereka bangun berdiri.

“Hambamu yang rendah mengharap kesehatan Nio-nio,” kata mereka.

Eng Kouw mengangkat tangannya.

“Hongya menitahkan kamu memegat aku, perlu apa ini segala macam adat-istiadat?” katanya. “Jikalau kamu hendak turun tangan, lekas kamu menggeraki tangan kamu! Kamu raja dan menteri setahulah kamu telah mencelakai berapa banyak rakyat negeri, maka terhadap aku, seorang wanita, perlu apa kamu masih berpura-pura?”

“Raja kami mencintai rakyatnya seperti dia mencintai anaknya sendiri,” berkata si pelajar. “Dia sangat bijaksana dan mulia hatinya, jangan kata mencelakai orang yang tidak bersalah berdosa, sekalipun seorang penjahat besar, dia masih menyayanginya! Mustahilkah Nio-nio tidak ketahui itu?”

Muka Eng Kouw menjadi merah.

“Beranikah kamu main gila terhadap aku?!” dia menanya bengis.

“Hambamu tidak berani…”

“Kamu menyebut hambamu, sebenarnya, di antara kita mana ada lagi raja dan menterinya?” kata Eng Kouw. “Sekarang aku hendak menemui Toan Tie Hin, kamu hendak memberikan jalan atau tidak?!”

Toan Tie Hin itu ialah namanya Toan Hongya aliasnya It Teng Taysu. Si pelajar berempat mengetahui itu tetapi mereka tidak pernah berani menyebut itu, maka itu terkesiap hati mereka yang mendengar Eng Kouw menyebutnya seenaknya saja.

Si petani yang asalnya adalah komandan Gie-lim-kun, pasukan raja, menjadi habis sabarnya. Dia kata dengan keras, “Siapa satu hari pernah menjadi raja, dia agung seumur hidupnya, maka mengapa kamu mengucap kata-kata tidak karuan?!”

Eng Kouw tertawa panjang, tanpa membilang suatu apa, ia berlompat maju.

Keempat orang itu mengulur tangan mereka, untuk memegat. Mereka pikir, “Meskipun dia lihay, mustahil kita tidak dapat merintangi dia? Biarnya kita melanggar titah Sri Baginda, karena terpaksa, kita tidak bisa berbuat lain….”

Eng Kouw tidak menggunai kedua tangannya, baik untuk mendorong mereka atau untuk meninju, dia maju terus, bersedia akan membentur tubuhnya kepada mereka itu!

Si tukang kayu terkejut. Tentu sekali ia tidak berani membiarkan tubuhnya ditubruk – itu artinya mereka saling membentur tubuh. Maka ia berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, guna menyambar ke pundak si nyonya bekas junjungannya itu. Ia menyambar dengan cepat, ia juga menggunai tenaga, akan tetapi ketika tangannya mengenai sasarannya, ia heran. Ia menjambak sesuatu yang lunak dan licin, ia gagal mencekuk si nyonya.

Justru itu si petani dan si tukang pancing, sambil berseru, menyerang dari kiri dan dari kanan!

Eng Kouw tidak menangkis, ia hanya berkelit. Ia mendak, lalu ia molos bagaikan ular licin di bawahan tangan kedua penyerangnya itu. Berbareng dengan itu, si tukang pancing mendapat cium bau yang harum sekali, hingga ia terkejut, hingga lekas-lekas ia menggeser incarannya, khawatir mengenai tubuh nyonya itu.

“Bagaimana, he!” membentak si petani gusar. Dengan sepuluh jarinya yang kuat, ia menyambar ke pinggang bekas selir raja itu.

“Jangan kurang ajar!” membentak si tukang kayu.

Si petani tidak menghiraukan bentakan itu, ia meluncurkan terus tangannya, hingga ia mengenakan sasarannya, hanya untuk herannya, ia membentur sesuatu yang licin, hingga ia tidak dapat mencengkeramnya!

Demikian dengan ilmu lindungnya, Eng Kouw meloloskan diri dari rintangannya tiga bekas menterinya itu, maka sekarang tahulah ia mereka itu tidak dapat mencegah padanya. Karena ini, ia lantas membalas, sebelah tangannya melayang kepada si petani.

Melihat demikian, si pelajar menyerang dengan totokannya, ke lengan bekas selir itu, tetapi ini bekas junjugan wanita tidak memperdulikannya, bahkan dia juga mengeluarkan jari tangannya, memapaki totokan itu, hingga tangan mereka bentrok seketika.

Bukan main kagetnya si pelajar, hingga dia berseru. Bentrokan itu membikin dia merasa sangat sakit, tubuhnya pun lantas roboh terbanting.

Si tukang kayu dan si tukang pancing berlompat, guna menolongi kawannya itu.

Si petani dengan kepalannya menyerang Lauw Kui-hui, untuk merintangi nyonya itu nanti menyusuli serangannya kepada kawannya yang roboh itu. Tangannya ini keras bagaikan besi.

Eng Kouw hendak menguji kepandaiannya yang ia ciptakan sendiri selama hidup menyendiri di rawa lumpur hitam, ia tidak menyingkir dari serangan itu. Sikapnya ini membikin kaget penyerangnya. Karena si petani pikir, kalau ia mengenakan sasarannya, tentulah hancur lebur batok kepalanya kui-hui itu. Ia lanats menarik pulang tetapi dengan begitu kepalannya itu mengarah juga hidung Eng Kouw!

Nyonya itu berkelit dengan cepat, kepalan lewat di depan hidungnya, mengenaka pipi si nyonya. Justru ia terkejut, justru tangannya dapat kena ditangkap. Ia kaget dan berontak, atau ia lantas merasakan tangannya sakit, sebab tangan itu kena dibikin patah! Ia mengertak gigi, tanpa menghiraukan tangannya yang patah itu, dengan tangan kanannya, ia segera menotok ke ceglokan sikut.

Si pelajar berempat telah mendapat pelajaran baik dari guru mereka, meski belum mereka mewariskan ilmu silat It Yang Cie, buat di dunia kangouw, sudah jarang ada tandingan mereka, maka mereka tidak menyangka pada diri Eng Kouw mereka seperti membentur batu. Tentu sekali, saking kerasnya niatnya menuntut balas, si nyonya pun mempelajari senjata rahasia yang berupa jarum emas. Ia mengambil dasar dari gerakan menyulam. Telunjuk kanannya dipakaikan gelang seperti cincin emas, pada cincin itu ada tiga batang jarumnya yang dipakaikan racun. Demikian sambil tertawa dingin, ia menyambut si petani

Bagaikan orang menusuki diri pada jarum, demikian si petani. Begitu tangannya tertusuk, begitu ia menjerit, begitu ia roboh seperti si pelajar tadi!

“Hm! paduka congkoan!” Eng Kouw tertawa dingin. Ia lantas nerobos maju.

“Nio-nio, tahan!” berseru si tukang pancing.

Eng Kouw memutar tubuhnya. “Kau mau apa?!” ia menanya dingin.

Sekarang si nyonya sudah tiba di depan pengempang. Pengempang itu dipisahkan dengan rumah suci dengan sebuah jembatan batu yang kecil dan ia sudah berada di kepala jembatan. Ia mengawasi dengan roman dan sinar mata bengis, di dalam gelap, sinar matanya itu nampak nyata. Maka terkejutlah si tukang pancing melihat sinar mata itu, hingga ia tidak berani menerjang.

“Yang mulia perdana menteri dan yang mulia congkoan berdua telah terkena jarumku. Cit Ciat Ciam, maka di kolong langit ini sudah tidak ada orang yang dapat menolong mereka!” kata Eng Kouw dengan dingin. Habis berkata begitu, ia memutar pula tubuhnya, tanpa menanti jawaban, ia berjalan maju, perlahan tindakannya, tidak ia berpaling npula. Nyata ia tidak khawatir yang orang nanti menyerang dengan membokong padanya.

Jembatan batu yang kecil itu cuma seperjalanan kira duapuluh tindak, ketika si nyonya hampir sampai di ujung penghabisan, di sana dari tempat yang gelap muncul satu orang, muncul secara tiba-tiba, hanya dia segera memberi hormat seraya berkata, “Adakah cianpwee baik-baik saja?”

Eng Kouw terkejut. Ia berkata di dalam hatinya, “Ini orang muncul secara tiba-tiba begini! Kenapa aku tidak mengetahui dari siang-siang? Jikalau ia menurubkan tangan jahat, pastilah aku telah terbinasa atau sedikitnya terluka…”

Maka ia lantas mengawasi. Ia melihat seorang dengan tubuh dingin dan dada lebar, alisnya gompiok, matanya besar. Ia pun lantas mengenali Kwee Ceng, si anak muda yang ia berikan petunjuk untuk datang ke gunung ini.

“Apakah luka si nona kecil sudah sembuh?” ia menanya.

“Terima kasih untuk petunjuk cianpwee,” menyahut si anak muda sambil menjura. “Lukanya sumoyku syukur telah diobati sembuh oleh It Teng Taysu.”

“Hm!” Kenapa dia tidak datang sendiri menghnaturkan terima kasih padaku?” Eng Kouw tanya, sembari berkata, ia bertindak maju.

Kwee Ceng berdiri di ujung jembatan, ia tahu orang hendak menerobos tak peduli ia bakal kebentur.

“Cianpwee, silahkan kembali!” ia berkata cepat.

Eng Kouw tidak menghiraukan, ia maju terus. Bahkan dengan menggunai Nie-ciu-kang, ilmu silat “Lindung”, ia nerobos ke samping kiri si anak muda.

Kwee Ceng pernah menempur nyonya ini di rawa lumpur hitam, di rumah si nyonya, ia tidak menyangka orang ada selicin demikian, dalam heran dan kagetnya itu, ia berlompat, lantas ia menyerang dengan tangan kirinya, yang dilancarkan ke belakang. Ia telah menggunai ilmu silat Kong Beng Kun ajarannya Ciu Pek Thong.

Eng Kouw sudah melewati si anak muda ketika ia terkejut atas berkesiurnya angin kepalan halus tetapi keras. Untuk menolong diri seharusnya ia mundur pula, akan tetapi ia telah berkeputusan pasti, untuknya ada maju tak ada jalan mundur, maka juga, ia tahu apa yang ia mesti lakukan.

“Hati-hati!” Kwee Ceng berteriak. Atau mendadak ia merasakan ada tubuh wanita yang halus menubruk lengannya, selagi ia kaget, kakinya telah kena digaet si nyonya, hingga tidak ampun lagi, keduanya jatuh ke arah pengempang.

Selagi tubuhnya belum jatuh ke air, tangan kiri Eng Kouw dilewatkan dibawahan ketiak kanan Kwee Ceng, diangkat ke atas, ke belakang leher, terus ke pundak kiri si anak muda, untuk dipakai mencekek ke tenggorakan anak muda itu, untuk itu ia menggunakan kedua jerijinya jempol dan tengah. Inilah ilmu silat “Siauw-kim-na” atau “Tangkapan kecil” jurus “Memecet tenggorakan menutup napas” Kalau orang kena terpencet, ia bisa lantas putus napasnya.

Kwee Ceng merasakan gerakan tangan orang itu, ia terperanjat. Ia tahu yang ia terancam bahaya. Dengan lantas ia membela diri. Ia juga menggeraki tangan kanannya ke arah lehernya si nyonya, hanya ia bukan mengarah tenggorakan hanya belakang leher, sebab ia menggunai tipu serupa untuk bagian belakang, sedang Eng Kouw untuk bagian depan.

Eng Kouw pun lantas merasa akan gerakannya lawan. Ia pun tahu lihaynya pencetan itu, maka ia berdaya untuk menghindarkannya.

Jembatan itu tidak tinggi, jaraknya ke muka air dekat sekali, meski begitu, sebelum tubuh dua orang itu tercebur, mereka sudah saling menyerang atau membela diri. Diakhirnya, “Byur!” maka keduanya jatuh ke air!”

Empang itu dalam kira dua kaki, di situ ada lumpurnya, maka setelah berada di dalam pengempang, keduanya kerendam air sebatas dada.

Eng Kouw licik sekali. Dengan tangan kiri ia merogoh ke dalam air, ia mengambil lumpur, dengan begitu ia lantas menghajar muka si anak muda.

Kwee Ceng terkejut, ia berkelit.

Di dalam bergerak di lumpur, itulah keistimewaannya si nyonya. Sudah belasan tahun ia berlatih di rawa lumpur, maka juga tubuhnya dapat bergerak dengan lincah sekali, mirip dengan lindung. Kalau di darat dia licin, di air terlebih lagi. Ini juga sebabnya ia berhasil menubruk si anak muda, untuk mereka kecebur bersama. Ia percaya, dengan bertempur di air, dapat ia melewati anak muda itu.

Di dalam air, Kwee Ceng kalah gesit. Rugi untuknya, ia juga tidak berani menyerang melukai nyonya itu. Karena ia cuma bertujuan merintangi si nyonya. Maka lekas juga ia terdesak. Berulang-ulang ia diserang dengan lumpur, hingga ia selalu mesti main berkelit. Di akhirnya ia gelagapan, ketika juga ada lumpur yang menimpa mukanya sebelum ia sempat berkelit, ia cuma bisa menutup matanya. Sambil membela diri dengan sebelah tangan, dengan tangan yang lain ia singkirkan tanah basah itu. Ia telah diajari Kanglam Liok Koay, kalau terkena senjata rahasia, jangan sekali kehilangan ketabahan, kalau kita gugup atau bingung, leluasa musuh mengulangi serangannya. Maka itu, ia membela diri sambil menyerang, beruntun tiga kali.

Eng Kouw yang pintar menyingkir dari setiap serangan itu, ia berlompat naik ke darat, dari itu ketika kemudian Kwee Ceng sudah bisa membuka matanya, ia tengah lari menuju ke dalam kuil. Di dalam hatinya ia kata, “Sungguh hebat! Kalau tidak ada pengempang, tidak nanti aku dapat mengundurkan bocah tolol itu. Rupanya Thian ada besertaku, supaya aku berhasil menuntut balas…”

Segera juga ia sampai di depan pintu. Ia mengajukan sebelah tangannya, akan menolak daun pintu.

“Blak!” demikian satu suara nyaring dan pintu terbuka dengan gampang. Ia menjadi terkejut bahna heran. Tentu sekali ia berkhawatir nanti ada musuh bersembunyi, maka ia tidak lantas maju terus untuk masuk, ia hanya berdiri diam sambil memasang mata.

Kuil itu sunyi senyap. Karena itu baru ia bertindak masuk.

Di pendopo ada api pelita, menyorotkan roman agung dari patung sang Buddha yang dipuja di situ. Ia lantas berlutut memberi hormatnya, ia memuji agar ia dibantu melaksanakan pembalasannya. Tengah ia memuji, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa perlahan dan geli di sebelah belakangnya. Ia terkejut. Ia segera bersiap membela diri, ialah dengan tangan kiri ia menyampok ke belakang, dengan sebelah tangan ia menekan tikar untuk berlompat bangun sambil memutar tubuhnya.

“Bagus!” ia mendengar pula satu suara, kali ini pujian untuk lompatannya yang lincah itu. Ia mengenali suaranya seorang nona. Ketika ia mengawasi – karena ia pun tidak diserang – segera ia melihat tegas siapa nona itu, ialah Oey Yong!

Nona Oey mengenakan baju hijau dengan ikat pinggang merah, gelang rambutnya yang terbuat dari emas berkeredep berkeliauan. Pada wajahnya yang cantik terlihat senyuman yang manis. Sedang tangannya mencekal Lek-tiok-thung, tongkat keramat dari Kay Pang, Partai Pengemis.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: