Kumpulan Cerita Silat

13/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 63

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:20 am


Bab 63. Sapu tangan sulam
Oleh Jin Yong

Si pelajar berempat menjadi sangat terkejut begitu juga dengan Kwee Ceng. Bersama-sama mereka berlompat menubruk. Mereka melihat daging di mukanya pendeta itu bergerak-gerak, tandanya dia lagi melawan rasa nyeri yang hebat. Mereka menjadi bingung sekali, tak tahu mereka bagaimana harus menolongnya. Semua lantas berdiri diam di pinggiran.

Tidak lama, It Teng bersenyum.

“Anak, adakah obatmu ini buatan ayahmu sendiri?” ia tanya Oey Yong.

“Bukan, supee. Inilah buatannya suko Liok Seng Hong, tetapi ia membuatnya menurut surat obat ayah.”

“Pernahkah kau mendengarnya dari ayahmu, kalau obat ini dimakan terlalu banyak dapat berbalik menjadi bahaya?” si pendeta menanya pula, suaranya sabar.

Oey Yong terkejut. “Mungkinkah ada yang tidak benar pada obatku ini?” pikirnya. Ia lantas menyahuti, “Ayah pernah membilang, semakin banyak dimakan semakin baik, hanya sebab pembuatannya sukar, ayah sendiri tidak berani makan banyak-banyak.”

It Teng berdiam, agaknya ia berpikir. Kemudian ia menggeleng kepala.

“Ayahmu itu sangat cerdik dapan pandangannya sangat jauh,” katanya, “Ia sangat sukar diterka hatinya hingga aku pun tidak dapat membilang apa-apa tentangnya. Mungkinkah ia hendak menghukum Liok Suhengmu maka dia diberikan surat obat yang dipalsukan? Atau mungkinkah Liok Suhengmu itu bermusuh dengan kau maka di dalam obatnya itu dicampuri beberapa biji yang ada racunnya?”

Mendengar disebutnya racun, semua orang terkejut.

“Suhu, apakah suhu telah keracunan?” di pelajar tanya.

“Syukur di sini ada paman gurumu, maka biarnya racun yang lebih dahsyat lagi tidak akan membikin orang mati,” sahut sang guru.

Mukanya keempat muridnya itu lantas berubah, segera mereka menoleh kepada Oey Yong dan berkata dengan bengis, “Guru kami bermaksud baik menolongi kau, cara bagaimana kau begini besar hati berani meracuninya?”

Segera mereka mengurung, agaknya mereka mau lantas menerjang.

Kwee Ceng menjadi bingung sekali. Ia tidak nyana akan perkembangan semacam ini.

Oey Yong pun bingung tetapi segera ia berpikir segala sesuatu mengenai obat itu, hingga ia menduga, pada ini tentu ada hubungannya dengan perbuatannya Eng Kouw di rumahnya di rawa lumpur hitam itu. Bukankah obat itu telah dibawa si nyonya ke lain kamar, untuk diperiksa, dan sampai sekian lama baru nyonya itu membawanya pula ke luar untuk diserahkan kembali kepadanya?

“Supee, aku mengerti sekarang!” katanya. Sebab segera ia dapat menerka. “Inilah perbuatannya Eng Kouw!”

“Benarkah Eng Kouw?” It Teng tanya.

“Ya,” sahut si nona, dan ia tuturkan apa yang terjadi di rumah Eng Kouw, hingga sekarang ia menjadi curiga. “Dia pun telah memesan wanta-wanti supaya aku sendiri jangan makan obat ini. Tentu teranglah sudah sebab ia mencampuri racun di dalamnya.”

“Hm!” mengejek si petani. “Dia perlakukan kau baik sekali maka itu ia khawatir membuatnya kamu mampus!”

Nona ini sangat berduka yang paman gurunya terkena racun, maka itu ia tidak memikir untuk mengadu lidah dengan murid orang, bahkan dengan perlahan ia kata:” Sebenarnya dia bukannya berkhawatir untuk membikin aku mati, hanya ia khawatir, kalau aku memakannya, supee tidak nanti kena ia racuni…”

“Dosa, dosa,” berkata It Teng, yang menghela napas. Lantas sikapnya menjadi sangat tenang. Ia berkata perlahan kepada muda-mudi itu, “Inilah nasib dan dengan kamu berdua tidak ada hubungannya. Juga Eng Kouw sendiri, inilah terjadi karena karma. Sekarang pergi kamu beristirahat beberapa hari, habis itu baik-baik saja kamu turun gunung. Benar aku telah terluka tetapi adik seperguruanku pandai sekali mengobati racun, maka kamu tidak usah berkhawatir.”

Pendeta ini lantas menutup rapat matanya, ia tidak berkata-kata lagi.

Berdua muda-mudi itu membungkuk, untuk pamitan. Mereka melihat It Teng bersenyum, tangannya dikibaskan, maka itu mereka tidak berani berdiam lebih lama lagi di situ, dengan perlahan mereka memutar tubuh dan mengundurkan diri. Si kacung menantikan mereka di luar kamar, lantas mereka diajak ke sebuah kamar di ruang belakang, kamar di mana tidak ada perabotannya kecuali dua pembaringan bambu.

Tidak lama, di situ muncul dua orang pendeta tua dengan barang makanan sayur.

“Silahkan dahar,” mereka mengundang.

“Apakah taysu baik?” tanya Oey Yong. Ia senantiasa memikirkan paman guru itu.

“Siauwceng tidak tahu,” sahut satu pendeta, suaranya tajam. Ia lantas memberi hormat, untuk segera mengundurkan diri.

“Mendengar suara mereka, aku mengira wanita,” kata Kwee Ceng.

“Mereka thaykam,” berkata Oey Yong. “Tentu mereka itu telah merawati taysu semenjak taysu masih menjadi raja.”

Kwee Ceng heran.

Karena masing-masing berpikir, tidak ada nafsu dahar mereka. Terus mereka berdiam di dalam kamar yang sunyi itu, cuma kadang-kadang saja berkesiur suara angin lewat, membuatnya daun-daun bambu bersuara perlahan.

“Yong-jie, kepandaian taysu hebat sekali,” kemudian kata sang anak muda.

“Begitu?” kata si pemudi perlahan dan singkat.

“Guru kita,” kata pula Kwee Ceng, “Dan ayahmu juga Ciu Toako, Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin, walaupun mereka semua lihay tidak nanti mereka dapat melawan It Teng Supee…”

“Coba bilang, di antara mereka berenam, siapa yang pantas mendapat sebutan jago nomor satu di kolong langit ini?”

Kwee Ceng berpikir.

“Sebenarnya sesuatunya dari mereka mempunyai keistimewaan masing-masing,” sahutnya sesaat kemudian, “Dari itu tidak dapat dibilang siapa diantaranya yang paling lihay…”

“Di dalam halnya bu bo coan cay?” si nona menanya pula, tentang kepandaian orang dua-dua di dalam ilmu surat dan ilmu silat.

“Di dalam hal itu, tentulah ayahmu,” menyahut di anak muda.

Oey Yong girang, inilah kentara dari romannya. Hanya sebentar, ia lalu menghela napas.

“Maka itu inilah anehnya!” katanya.

“Apakah yang aneh?” tanya Kwee Ceng cepat. Ia heran.

“Taysu begini lihay, keempat muridnya lihay juga,” kata Oey Yong. “Tetapi kenapa mereka hidup bersembunyi di tempat sunyi begini? Kenapa asal mendengar ada orang datang, mereka nampak takut seperti juga bencana besar bakal mengancam mereka? Di antara keenam jagoan, cuma See Tok dan Khiu Cian Jin yang mungkin menjadi musuhnya, tetapi mereka itu berdua berkenamaan, apa mungkin mereka akan datang berdua untuk mengepung taysu?”

“Tetapi, Yong-jie,” kata Kwee Ceng. “Biarnya See Tok dan Khiu Cian Jin datang bersama, sekarang kita tidak usah takuti mereka.”

“Bagaimana begitu?”

Kwee Ceng nampaknya likat, agaknya ia tak enak hati untuk menjawab.

“Eh, kenapakah kau nampaknya sulit berbicara?” si nona menegur.

“Kepandaiannya It Teng Taysu pasti tidak ada dibawahannya See Tok,” kata si anak muda kemudian, “Atau sedikitnya, mereka berimbang. Menurut penglihatanku, ilmu menotok jalan darah dari taysu mungkin ada cara untuk meruntuhkan Kap Mo Kang dari See Tok itu…”

“Bagaimana dengan Khiu Cian Jin?” Oey Yong tanya pula, “Apakah di tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar, bukannya tandingan dia seorang?”

“Benar, selama di puncak Tiat Ciang Hong, di gunung Kun San, di telaga Tong Teng, pernah aku melayani Khiu Cian Jin. Kalau kita bertempur seratus jurus, mungkin aku dapat melawan seri padanya, tetapi lebih daripada seratus jurus, belum tentu aku dapat bertahan lebih lama pula. Ketika tadi aku menyaksikan Taysu menotok kau…”

Mendadak Oey Yong menjadi girang, ia memotong, “Kalau begitu kau telah dapat mempelajari kepandaiannya Taysu! Dengan begitu, bukankah kau bakal dapat mengalahkan Khiu Tiat Ciang?”

“Kau tahu sendiri, otakku puntul,” berkata si anak muda, “Dan ilmu totok ini sangat dalam, mana bisa aku lantas berhasil memahamkannya? Hanya benar aku telah mendapatkan beberapa jurus. Aku pikir, untuk segera mengalahkan Khiu Cian Jin, itulah sukar, tetapi buat bertahan sampai satu jam atau tiga perempat, mungkin aku sanggup…”

Oey Yong lantas menghela napas.

“Dan kau melupakan satu hal,” katanya masgul.

“Apakah itu?”

“Sekarang ini Taysu terkena racun, entah sampai kapan ia bakal sembuh…”

Kwee Ceng berdiam, lantas ia menjadi sengit.

“Kenapa si nenek Eng Kouw demikian kejam?” katanya mengeluh. Ia baru berkata demikian, atau ia ingat suatu apa, hingga ia berseru, “Ah, celaka!”

Oey Yong kaget.

“Apa?” ia menanya.

“Kau telah berjanji dengan Eng Kouw!” si pemuda memberi ingat. “Setelah kau sembuh, kau mesti menemani dia satu tahun, bukan? Nah, habis bagaimana? Adakah janji itu mesti ditepati atau tidak?”

“Kau sendiri?”

“Jikalau tidak dapat petunjuknya, tidak dapat kita mencari It Teng Taysu. Itu waktu pasti lukamu…Ah, tidak dapat dikatakan…”

“Kenapa tidak dapat dikatakan? Bilang aja terus terang, jiwaku tidak dapat lagi ditolong! Kaulah satu laki-laki, maka tentunya kau ingin menepati janji itu, bukankah?”

Si nona lantas menjadi berduka. Ia ingat Kwee Ceng pun tidak suka melanggar janji perjodohannya dengan putri Gochin Baki dari Mongolia. Air mukanya menjadi guram.

Mengenai sifat wanita ini, Kwee Ceng asing, maka itu selagi Oey Yong berduka dan hendak menangis, ia tetap tidak sadar. Maka ia kata, “Dia membilang ayahmu lihay, menang seratus kali daripadanya, umpama kata kau suka mengajari dia, dia bilang dia tak bakal dapat menyamai kulit atau bulu ayahmu. Dia telah mengetahui itu, habis apa perlunya dia masih menghendaki kau menemani dia?”

Oey Yong menutup mukanya, ia tidak menyahuti.

Pemuda itu masih tidak sadar, ia mengulangi pertanyaanya.

“Eh, engko tolol, benarkah kau tidak mengerti?” akhirnya tanya si nona gusar.

Kwee Ceng heran orang gusar tidak karu-karuan.

“Ya, Yong-jie aku memang dasarnya tolol,” ia mengaku. “Maka itu juga aku minta kau suka memberikan keteranganmu.”

Oey Yong menyesal yang ia telah mengeluarkan perkataan keras itu, sekarang ia mendengar suara orang yang lemah lembut, orang yang telah mengaku ketololannya, ia menjadi sangat berduka, tak dapat ia menahan lagi, ia menangis di dalam rangkulan pemuda itu.

Masih Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengusut-usut pinggang orang seraya menghibur.

Oey Yong menarik ujung baju orang, untuk mengusut air matanya.

“Engko Ceng, aku yang salah,” katanya. Mendadak ia tertawa. “Lain kali aku tidak bakal memaki pula kepadamu…”

“Memang aku tolol, apakah halangannya untuk kau mengatakannya?” kata di tolol, tetap polos.

Nona itu menghela napas.

“Kau memang baik, akulah yang buruk,” katanya kemudian. “Mari aku menjelaskannya padamu. Eng Kpuw itu bermusuh sama ayahku, dia mencari ilmu kepandaian untuk dia pakai menyantroni Tho Hoa To, guna menuntut balas, tetapi ia mendapat kenyataan, dalam ilmu silat ia kalah dari ayahku, maka karena putus asa, dia mengubah siasatnya. Dia sekarang hendak menjadikan aku sebagai manusia tanggungan, supaya ayahku datang menolongi aku. Dengan akal ini, ia jadi menang di atas angin, ia menjadi dapat jalan untuk mencelakai ayahku itu.”

Baru sekarang si tolol mengerti, maka ia menepuk pahanya.

“OH, benar begitu! Kalau demikian adanya, janji itu tidak dapat ditepati!” ia kata.

“Kenapa tidak?” tanya Oey Yong. “Pasti mesti ditepati.”

“Eh?” si anak muda heran.

“Eng Kouw sangat lihay,” berkata si nona, menerangkan. “Lihat saja bagaimana ia telah mencampuri racun di dalam obat Kiu-hoa Giok Louw Wan, dengan apa dia mencelakai It Teng Taysu. Maka jikalau dia tidak disingkirkan, dia akhirnya bakal jadi ancaman bencana untuk ayahku. Dia ingin aku menemani dia, aku nanti menemaninya. Sekarang aku telah siap sedia, tidak nanti aku kena diakali dia. Aku percaya, tidak peduli dia bakal menggunai tipu apa, aku merasa pasti bakal dapat memecahkannya!”

“Tetapi itulah artinya kau menemani seekor harimau betina…” kata si anak muda masgul.

Oey Yonng hendak berkata pula ketika kupingnya mendengar suara berisik dari sebelah depan, dari kamar sucinya It Teng Taysu. Itulah beberapa kali suara kaget atau seruan.

Kwee Ceng pun mendengar itu, maka keduanya saling mengawasi. Selagi mereka memasang kuping, suara berisik itu lantas lenyap.

“Entah bagaimana dengan taysu?” kata si pemuda.

Si pemudi menggeleng kepala.

“Nah, kau daharlah, lantas tidur,” kata Kwee Ceng kemudian. Oey Yong masih menggeleng kepala. Atau mendadak.

“Ada orang datang!” katanya.

“Benar juga, lantas terdengar tindakan kaki beberapa orang, di antaranya ada yang berkata dengan suara sengit, “Budak itu banyak akalnya, baik mampusi dulu padanya!”

Itulah suara si petani. Maka Kwee Ceng berdua terkejut.

“Jangan sembarang,” terdengar suara si tukang kayu. “Kita menanya jelas dulu.”

“Apa yang mau ditanyakan lagi?” kata si petani. “Sudah terang dua bangsat cilik itu disuruh musuh suhu datang ke mari! Kita bunuh yang satunya, biarkan yang satu lagi, untuk menanyakan keterangannya. Cukup kita memeriksa si tolol!”

Selagi mereka berbicara, mereka sudah sampai di depan pintu kamar di mana Kwee Ceng dan Oey Yong berada. Nyata mereka tidak takut suara merea dapat didengar orang di dalam kamar itu.

Kwee Ceng mengerti ancaman bahaya, tanpa bersangsi pula dengan pukulan “Hang liong ya hui”, ia menghajar tembok belakangnya, hingga dengan suara sangat berisik tembok itu gempur, membuat sebuah liang. Setelah itu, dengan membungkuk, ia menggendong si nona, terus ia lompat melewati liang itu.

Di sana terlihat si petani, yang sangat gesit, sebelah tangannya diulur, guna menyambar kaki kiri si anak muda.

Oey Yong tidak berdiam saja, ia melihat sambaran itu, maka dengan tangan kirinya ia mengibas ke belakang, mengebut jalan darah yang -tie-hiat dari si petani. Itulah ilmu kebutan, atau totokan, warisan ayahnya. Itulah yang disebut “Lan-hoat Hut-hiat-Ciu”, atau Bunga Anggrek Mengebut Jalan Darah. Ilmu ini tidak selihay ilmu totoknya It Teng Taysu tetapi toh berbahaya untuk lawan.

Si petani kaget, lekas-lekas ia menarik pulang sambarannya, ia membaliki itu, untuk menangkis, tetapi gerakan ini memperlambat gerakannya, maka Kwee Ceng telah berhasil melompati tembok belakang. Di sini ia baru lari beberapa tindak, atau ia menjerit sendirinya, berkeluh-kesah. Di depannya itu ada tumbuh pohon duri setinggi sependirian orang, lebat dan banyak durinya, hingga tak dapat dilewati orang. Ketika ia menoleh, ia menampak mendatanginya empat orang, yaitu si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar. Mereka itu lantas berdiri menghadang.

“Taysu memerintahkan kami turun gunung, tuan-tuan telah mendengarnya sendiri,” berkata Kwee Ceng, “Kenapa kau sekarang menghalangi kami?”

Si tukang pancing mendelik matanya.

“Guru kami sangat baik hatinya, dia pemurah, dengan mengorbankan diri dia menolongi kamu, kenapa kamu…” kata dia, suaranya mengguntur.

Dua-dua muda-mudi itu terkejut.

“Dia mengorbankan diri?” tanya mereka berbareng. “Bagaimana itu…?”

“Fui…!” berseru si tukang pancing dan petani.

Si pelajar tertawa dingin, dia berkata, “Lukamu, nona telah ditolong diobati oleh guruku dengan guruku itu mengorbankan dirinya! Mustahil kau benar-benar tidak ketahui itu?”

“Dengan sebenarnya, aku tidak tahu,” menyahut Oey Yong. “Tolong kau menjelaskannya.”

Pelajar itu mengawasi. Ia melihat roman orang benar seperti tidak lagi mendusta, maka ia berpaling kepada si tukang kayu. Ia mengangguk. Lantas ia berkata, “Nona, kau telah mendapat luka yang sangat berbahaya, untuk menyembuhkannya kau mesti mendapat penyaluran pada pelbagai jalan darah dan nadimu. Untuk itu dibutuhkan ilmu It Yang Cie Siang-thian Kanghu. Ilmu itu, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang Cinjin, Kauwcu dari Coan Cin Pay, cuma guru kami satu orang yang mengerti itu. Meski begitu, kalau ilmu itu dipakai mengobati orang, dia sendiri mesti turut mendapat penyakit sebagai akibatnya, sebab ia mesti menggunai terlalu banyak tenaga terutama tenaga dalamnya. Untuk lima tahun, habislah semua kepandaian ilmu silatnya…”

Oey Yong kaget hingga ia mengeluarkan seruan tertahan. Ia menyesal dan malu sekali.

“Selama itu tempo lima tahun, untuk memulihkan diri, orang mesti berlatih dan bersemadhi setaip hari, siang dan malam, kalau dia salah berlatih, maka dia bakal nampak kegagalan dan kepandaiannya itu tidak akan pulih kembali. Orang yang menjadi korban begitu, entengnya ia cacad seumur hidup, hebatnya ia lantas mati. Guruku itu murah hati menolongi kau, kenapa kau begini jahat, kebaikan dibalas dengan kejahatan?”

Mendadak Oey Yong melepaskan diri dari Kwee Ceng, lantas ia berlutut ke arah kamarnya It Teng Taysu, empat kali ia mengangguk, sembari menangis ia berkata, “Supee, sungguh keponakanmu tidak menyangka begini besar kau telah melepas budi menolong jiwaku…”

Menyaksikan kelakukan si nona, roman si tukang pancing berempat nampak sedikit sabar.

“Ayahmu menitahkan kau menjalankannya akalnya ini mencelakai guru kami, benar-benar kau sendiri tidak tahu?” tanya si tukang pancing.

Ditanya begitu, Oey Yong menjadi gusar.

“Mana dapat ayahku mencelekai supee?” katanya keras. “Ayahku itu orang macam apa? Mana dapat ayahku berlaku demikian hina-dina?”

Si tukang pancing menjura.

“Jikalau ini bukan titah ayahmu, nona, harap kau memberi maaf atas kelancanganku ini,” ia berkata.

“Hm!” berkata si nona. “Jikalau perkataanmu barusan dapat didengar ayahku, tidak peduli kau muridnya supee, kau pasti bakal diberi rasa sedikit !”

“Hm!” berkata si tukang pancing, “Ayahmu digelarkan Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka itu kami pikir, apa yang dapat diperbuat See Tok, si Bisa dari Barat, tentulah dapat dilakukan oleh ayahmu juga. Sekarang ini rupnaya soal adalah lain.”

“Mana dapat ayahku dibandingkan dengan See Tok?!” berkata si nona. “Auwyang Hong si bangsat tua itu, apa juga dapat dia lakukan! Apakah yang dia telah tidak perbuat?!”

“Baik,” si pelajar datang sama tengah. “Sekarang segala apa sudah jelas, mari kita kembali ke dalam untuk bicara lebih jauh.”

Maka berenam mereka masuk ke dalam kamar, untuk terus berduduk, akan tetapi empat orang itu duduk demikian rupa, hingga sendirinya seperti mereka memegat jalan keluar kedua muda-mudi itu. Oey Yong mengetahui itu, ia bersenyum, ia tidak mau membuka rahasia orang.

“Apakah kamu ketahui tentang urusan Kiu Im Cin-keng?” si pelajar mulai bicara.

“Aku ketahui itu. Apakah sangkutannya supee dengan kitab itu?”

“Ketika diadakan pertemuan pertemuan pertama di Hoa San itu, soalnya ialah perebutan kitab Kui Im Cin-keng itu,” berkata si pelajar. “Ketika itu Coan Cin Kauwcu adalah yang terlihay, kitab itu telah jatuh di tangannya. Bahwa semua orang takluk kepada kauwcu itu, itulah bukan soal lagi. Tiong Yang Cinjin sangat mengagumi ilmu Sian Thian Kang dari guru kami, maka juga di tahun kedua bersama-sama adik seperguruannya dia datang mengunjungi guru kami di Taili, ketika itu mereka berbicara banyak tentang ilmu silat itu.”

“Adik seperguruannya Tiong Yang Cinjin?” tanya Oey Yong. “Itulah Loo Boan Tong Ciu Pek Thong?”

“Benar,” sahut si pelajar. “Nona masih begini muda tetapi banyak sekali orang yang nona kenal…”

“Ah, jangan kau memuji aku,” berkata si nona.

“Paman Ciu itu seorang yang sangat jenaka, tetapi kami tidak tahu bahwa dia dipanggil Loon Boan Tong si bocah tua bangkotan yang nakal. Ketika itu guru kami masih belum menyucikan diri.”

“Oh, kalau begitu, ketika itu supee masih menjadi kaisar?” kata Oey Yong.

“Benar. Coan Cin Kauwcu itu bersama adik seperguruannya tinggal di istana belasan hari, selama itu kami berempat senantiasa mendampingnya. Guru kami telah menjelaskan segala apa mengenai Sian Thian Kang itu. Hingga Tiong Yang Cinjin menjadi sangat girang, maka ia pun lantas mengajari ilmu silat It Yang Cie yang menjadi ilmu silatnya yang paling istimewa. Kami mendengari semua pembicaraan itu akan tetapi pelajaran kami masih sangat rendah dan kami pun tumpul sekali, tak dapat kami mempelajari itu.”

“Habis bagaimana dengan Loon Boan Tong?” Oey Yong tanya. “Kepandaiannya Loo Boan Tong tidak cetek.”

“Paman Ciu itu orangnya gemar bergerak, tak suka ia berdiam, setiap hari dia berputaran saja di seluruh istana. Dia pergi ke timur dan ke barat, ke segala tempat sampai pun dia tak pandang-pandang lagi keraton di mana permaisuri dan selir-selir bertinggal. Semua orang kebiri dan dayang mendapat tahu dialah tetamu agung kami, tidak ada di antaranya yang berani melarang.”

Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang dan tersenyum. Mereka tahu baik sifatnya itu engko atau kakak angkat. Cuma di dalam hatinya, mereka itu kata, “Itu dia sifatnya Loo Boan Tong!”

“Ketika Tiong Yang meminta diri,” si pelajar melanjuti, “Dia berkata kepada guru kami: ’Selama yang belakangan ini penyakit yang lama kembali kumat, maka mungkin aku tidak bakal berdiam lama lagi di dalam dunia ini, karena sekarang sudah ada ahli waris dari It Yang Cie, jadi di dalam dunia ini ada orang yang dapat menidih padanya, bolehlah tak usah dikhawatir yang dia nanti berani malang-melintang bermain gila.’ Baru setelah itu guru kami mengetahui maksud utama kenapa Tiong Yang Cinjin melakoni perjalanan begitu jauh datang ke Taili mengunjungi guru kami, maksudnya ialah untuk mewariskan kepandaiannya itu, agara setelah ia menutup mata nanti, ada orang yang dapat mengekang Auwyang Hong, lima-limanya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong adalah orang-orang yang namanya sama termashyurnya, kalau Tiong Yang Cinjin membilang terus-terang dia datang untuk memberi pelajaran, dia khawatir guru kami merasa dirinya dipandang enteng, dari itu lebih dulu ia minta pelajaran Sian Thian Kang, kemudian baru ia membalas mengajari It Yang Cie. Itulah artinya pertukaran. Guru kami mengetahui maksud baik dari Tiong Yang Cinjin, ia menjadi bersyukur, ia mengagumi kauwcu itu. Ia lantas memahamkan itu dengan bersungguh-sungguh. Kemudian di negera Taili itu telah terjadi suatu hal yang malang, hati guru kami menjadi tawar, maka itu ia pergi mencukuri rambutnya dan masuk menjadi hweeshio.”

Mendengar itu Oey Yong berpikir, “Toan Hongya tidak mau menjadi kaisar, dia lebih suka menjadi pendeta, mestinya kejadian malang itu sangat melukai hatinya. Karena muridnya ini tidak mau menjelaskannya, tidak dapat aku minta keterangan atas kejadian itu…” Ia memandang kapada kawannya. Ia melihat Kwee Ceng seperti hendak membuka mulut, untuk menanya, ia lekas mencegah dengan kedipan matanya.

Kwee Ceng mengerti kedipan itu, ia menunda membuka mulutnya.

Air muka si pelajar nampak guram. Rupanya dia teringat akan peristiwa dulu itu. Ia berdiam beberapa saat baru ia berbicara pula.

“Setahu bagaimana, kemudian hal guru kami mempelajari It Yang Cie itu telah bocor,” katanya. “Pada suatu hari, ini suhengku…” ia menunjuk pada si petani “…telah menerima titah suhu, ialah guru kami itu, untuk pergi mencari daun obat-obatan. Suhengku telah pergi ke gunung Tay Soat San di barat Inlam, di sana orang telah melukai dia dengan ilmu silat Kap Mo Kang.”

“Pastilah si penyerang itu si Bisa bangkotan!” berkata Oey Yong.

“Siapa lagi kalau bukan dia?” berkata si petani gusar. “Mulanya seorang muda yang tidak karu-karuan yang telah mencari perkara denganku, dia membilangnya Tay Soat San itu miliknya dan dia melarang siapa juga mencari daun obat di situ. Aku telah menerima pengajaran suhu, aku berlaku sabar, tetapi justru aku mengalah, si anak muda semakin mendesak, dia menyuruh aku mengangguk tigaratus kali padanya, baru dia mau menginjikan aku turun gunung. Karena habis sabarku, aku menempur dia. Pemuda itu benar lihay, sekian lama kita bertempur, kita tetap seri. Itu waktu mendadak muncullah si tua berbisa itu, tanpa banyak omong, dia menghajar aku hingga aku terluka parah, setelah mana di anak muda menggendong aku, mengantari aku pulang sampai di luar kuil Liong Coan Sie, di mana suhu berdiam.”

“Kalau begitu sudah ada orang yang mewakilkan kau membalas sakit hatimu,” berkata si nona. “Pemuda itu ialah Auwyang Kongcu, sudah ada yang membunuhnya.”

“Ah, dia telah mati?” kata si petani gusar. “Siapakah yang membunuh dia?”

“Eh, heran!” kata Oey Yong. “Ada orang lain membunuh musuhmu, kenapa kau masih gusar?”

“Musuhku mesti aku yang membalasnya sendiri!” sahut si petani.

“Sayang kau tidak dapat membalasnya…” kata si nona menghela napas.

“Sebenarnya siapakah yang membunuhnya?”

“Dia juga orang busuk. Kepandaian dia itu kalah dari Auwyang Kongcu tetapi dia menggunai akal.”

“Bagus!” berkata si pelajar. “Nona, tahukah kau maksudnya Auwyang Hong melukai suhengku ini?”

“Tidaklah sukar untuk menerka itu,” menyahut Oey Yong. “Dengan kepandaian See Tok, dengan dua kali turun tangan, dapat dia membinasakan suhengmu, tetapi dia cuma melukai parah, lalu dia mengantarkannya pulang ke depan pintu rumah gurumu. Maksudnya ialah agar gurumu menghabiskan tenaga dalamnya untuk mengobati suhengmu itu. Barusan kau membilangnya, supee mesti membuang tempo lima tahun untuk memulihkan kepandaiannya, maka itu berarti, kalau nanti diadakan rapat yang kedua di gunung Hoa San, pasti gurumu tak keburu turut mengambil turut mengambil bagian.”

Pelajar itu menghela napas.

“Nona sungguh cerdik, tetapi kali ini nona cuma dapat menerka separuhnya,” dia berkata. “Kejahatan Auwyang Hong itu sukar diterka dari bermula. Justru di saat suhu mengobati suhengku ini, justru kesegaran suhu belum kembali, dia datang melakukan penyerangan, maksudnya untuk membikin mati pada suhu…”

“It Teng Supee demikian murah hati, apakah benar dia menyebabkannya permusuhan dengan Auwyang Hong?” Kwee Ceng menanya. Anak muda ini heran.

“Engko kecil, pertanyaanmu ini tidak tepat,” menyahut si pelajar. “Pertama-tama, si orang murah hati itu justrulah musuh daripada si orang jahat. Si orang jahat tak suka hidup bersama di dalam dunia dengan orang baik hati. Kedua, kalau Auwyang Hong hendak mencelakai orang, dia tentu tidak sudi memperhatikan orang itu bermusuhan dengannya atau tidak. Karena dia ketahui ilmu silat It Yang Cie dari suhu adalah penumpas dari ilmu silatnya, maka itu dia dapat menggunai seratus atau seribu akal keji untuk membinasakan guru kami.”

Kwee Ceng mengerti, ia menganggauk beberapa kali.

“Habis, apakah supee telah kena dia bikin celaka?” ia menanya pula.

“Setelah suhu melihat lukanya suheng, lantas suhu dapat menerka maksudnya Auwyang Hong,” si pelajar menerangkan pula. “Malam itu juga suhu pindah tempat, dan Auwyang Hong tidak berdaya mencari. Karena tahu Auwyang ong tidak bakala berhenti sampai di situ, kami mencari tempat-tempat sampai kami mendapatkan ini tempat suci. Setelah suhu pulih kesehatannya, kami berempat mengusulkan suhu pergi mencari See Tek di Pek To San, guna membuat perhitungan dengannya, akan tetapi suhu berpendirian, kalau dapat mengalah baiklah dia mengalah terus dan kami dilarang pergi menerbitkan gara-gara. Demikianlah untuk belasan tahun kami tinggal dengan aman di tempat ini. Siapa tahu sekarang kamu berdua datang kemari! Kami cuma tahu kau murid-muridnya Kiu Cie Sin Kay, kami menduga kamu tidak bermaksud jahat, maka itu kami merintanginya setengah hati, coba kami berbuat nekat, tidak nanti kami membiarkan kamu masuk ke kuil kami. Sungguh di luar dugaan, toh akhir-akhirnya guru kami telah terkena juga tangan jahat kamu…”

Setelah berkata begitu, mendadak muka si pelajar menjadi bengis pula, bahkan sambil berbangkit bangun, ia menghunus pedangnya, yang lalu berkilau berkeredepan.

Melihat demikian, si tukang pancing, si tukang kayu, dan si petani, turut berbangkit juga sambil menghunus senjata mereka, lantas mereka mengambil sikap mengurung.

“Ketika aku datang mencari supee untuk minta diobati, aku tidak tahu bahwa pengobatannya itu bakal menghabiskan kepandaiannya selama lima tahun,” berkata Oey Yong. “Bahwa obatku itu ada racunnya, itu juga aku tidak tahu, sebab itu ada perbuatannya lain orang. Supee telah melepas budi padaku, meskipun kami tidak punya hati, tidak nanti kami membalas kebaikannya dengan kejahatan.”

“Kalau begitu,” menegur si tukang pancing, “Kenapa selagi kesehatan guru kami belum pulih dan dia pun terkena racun, kamu mengajak musuh mendaki gunung ini?”

Ditanya begitu, Oey Yong dan Kwee Ceng kaget bukan kepalang.

“Tidak ada sama sekali!” mereka menyangkal.

“Masih menyangkal!” membentak si tukang pancing. “Begitu suhu terkena racun, kita lantas menerima gelang kumala dari pihak musuh. Kalau memangnya kamu tidak bersekongkol mana bisa terjadi peristiwa begini kebetulan?”

“Gelang kumala apa itu?” Oey Yong tanya. Ia benar tidak mengerti.

“Hm, masih berlagak pilon!” si tukang pancing mengejek. Mendadak ia menggeraki dua tangannya, maka kedua pengayauhnya lantas menghajar muda-mudi di depannya.

Kwee Ceng duduk berendeng sama Oey Yong, begitu ia melihat datangnya pengayuh, ia berlompat bangun, kedua tangannya bergerak – tangan kanan menyambar satu pengayauh, untuk segera dirampas, tangan yang lain menangkap pengayuh yang kedua, yang terus ia gentak.

Si tukang pancing kaget dan tangannya kesakitan, pengayuhnya itu terpaksa dilepaskan. Selagi begitu, Kwee Ceng meneruskan menangkis garunya si petani, hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya muncrat berhamburan. Setelah itu, lekas-lekas ia mengansurkan, menyerahkan pulang pengayuhnya si tukang pancing, hingga dia ini heran dan tercengang, tetapi cuma sebentar, setelah menyambuti itu, berbareng bersama kampaknya si tukang kayu, ia menyerang pula.

Kwee Ceng sementara itu berlaku sangat sebat, begitu ia mundur, begitu ia menolak, menampak mana si pelajar yang mengenali ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, segera ia meneriaki kedua saudara seperguruannya, “Lekas mundur!”

Si tukang pancing dan si tukang kayu adalah murid-muridnya seorang guru yang lihay, mereka menginsyafi bahaya dengan cepat mereka menarik pulang senjata mereka sambil mengundurkan diri juga. Tapi biar bagaimana mereka sebat, mereka masih kalah gesit, mereka tidak dihajar hanya senjata mereka yang disambar, untuk dirampas pula!

“Sambut ini!” berkata Kwee Ceng, yang kembali mengembalikan senjata orang – sekarang pengayuh dan garuh!”

“Bagus!” si pelajar memuji sambil ia menikam dengan pedangnya ke iga kanan.

Melihat datangnya tikaman itu, Kwee Ceng terperanjat. Sekarang terbukti, dari keempat murid orang itu, adalah si pelajar ini, yang gerak-geriknya halus, justru yang ilmu silatnya paling lihay. Maka ia tak mau berlaku alpa. Untuk dapat melindungi Oey Yong, yang tidak boleh mengeluarkan banyak tenaga, ia membela diri dengan gerakannya barisan Thian Kong Pak-tauw-tin dari Coan Cin Cit Cu. Mula-mula ia hanya mengurung diri, kemudian perlahan-lahan ia memperlebar kurungannya, maka keempat lawan itu terpaksa mundur sendirinya, sampai mereka terdesak ke tembok. Disaat ini, asal ia mau turun tangan, dapat si anak muda melukai mereka itu, atau salah satu diantaranya.

Selama itu Kwee Ceng mempertahankan diri, antaranya ia tidak menambha tenaganya. Dengan begini ia membuatnya mereka dua pihak tidak kalah dan tidak menang.

Si pelajar agaknya penasaran, mendadak ia mengubah ilmu pedangnya: kali ini pedangnya itu mengasih dengan sambaran angin mengaung. Ia menyerang ke empat penjuru, setiap kalinya dengan enam tusukan atau sabetan beruntun. Itulah ilmu pedang Ay Lao Kiam Hoat dari Ay Lao San di Inlam, yang semuanya terdiri dari tigapuluh enam jurus. Tapi terhadap si anak muda, ilmu pedangnya tak mempan. Tenang-tenang seperti biasa, dengan tangan kanan pemuda ini melayani pedang, dengan tangan kirinya ia menghalau setiap senjatanya si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani.

Disaat datangnya tusukan pedang yang ketigapuluh enam, Kwee Ceng menyambut itu dengan sentilannya jari tengah. Itulah dia ilmu silat Tan Cie Sin Thong dari Oey Yok Su, ilmu silat yang tak ada duanya, sebagaimana terbukti ketika dengan Ciu Pek Thong, ia main-main menyentil batu, sedang selama di Kwie-in-chung, dia telah memberi petunjuknya kepada Bwee Tiauw Hong, sementara Kwee Ceng telah melihatnya di Gu-kee-cun, di Lim-an, selama Tong Shia melayani Coan Cin Cit Cu. Memang ia belum mencapai kemahiran seperti Oey Yok Su tetapi ketika pedang si pelajar kena tersentil, pedang itu berbunyi nyaring dan mental. Si pelajar merasai tangannya sakit hampir terlepas cekalannya.

“Tahan!” pelajar itu berseru sambil ia lompat mundur.

Si tukang pancing sudah lantas menurut, semuanya mengundurkan diri, tetapi mereka sudah terdesak ke tembok, tidak ada ruang lagi untuk mundur, maka itu, si tukang pancing mundur ke pintu, si petani lompat di liang tembok yang gempur, sedang si tukang kayu, yang terus menyelip kampaknya di pinggang, bukan menyingkir, hanya sambil tertawa dia kata, “Aku telah membilangnya kedua tetamu kita tidak mengandung maksud jahat tetapi kamu tidak percaya!” Ia bicara sama ketiga saudara seperguruannya.

Si pelajar menyimpan pedangnya, ia menjura kepada Kwee Ceng.

“Kau baik hati, kau suka mengalah, engko kecil,” katanya. “Terima kasih!”

Kwee Ceng lekas-lekas berbangkit untuk membalas hormat. Hanya karena kata-kata si tukang kayu, ia heran, ia kata di dalam hatinya, “Kami memang tidak mengandung maksud buruk, mengapa mereka berempat mulanya tidak mempercayainya? Kenapa baru sekarang mereka percaya?”

Oey Yong melihat paras kawannya itu, ia tahu apa yang orang pikir, maka ia membisik, “Jikalau kau memikir buruk, kau tentunya telah melukai mereka. Sekarang ini, sekalipun It Teng Supee bukanlah tandinganmu.”

Kwee Ceng pikir itu benar, ia mengangguk.

Si pelajar berempat telah berkumpul pula di dalam kamar.

“Sebenarnya siapa musuh dari It Teng Supee?” Oey Yong tanya. “Apa itu yang disebut gelang kumala?”

“Menyesal,” menyahut si pelajar. “Bukannya kami tidak suka menjelaskannya hanya sebenarnya kami sendiri tidak tahu duduknya hal. Apa yang kami tahu ialah suhu dan orang itu ada mempunyai kepentingan.” Oey Yong masih mau menanya ketika si petani berlompat bangun seraya berkata keras, “Ah, inilah berbahaya!”

“Bahaya apa?” tanya si tukang pancing.

Si petani menunjuk si pelajar, ia menyahuti, “Suhu, sedang kehabisan tenaga, sekarang dia menutur segala apa, kalau kedua tetamu kita ini bermaksud tidak baik, kita sendiri tidak sanggup mencegahnya, apakah kau kira suhu masih dapat ditolongi?”

Mendengar kekhawatiran itu, si tukang kayu berkata, “Paduka conggoan pandai berpikir, mustahil hal ini dia tidak dapat memikirkannya? Kalau begitu, mana bisa dia menjadi perdana menteri dari negara Taili? Sebenarnya dia ketahui dari siang-siang bahwa kita bukan tandingannya tetapi toh dia bertindak juga, itulah ke satu untuk mencoba kepandaiannya kedua tetamu kita ini dan kedua untuk membikinnya kau percaya habis!”

Si pelajar bersenyum.

Si petani dan si tukang pancing mendelik kepada saudaranya, mereka kagum, separuhnya lagi menyesali.

Ketika itu terdengar tindakan kaki orang, lalu muncul seorang kacung pendeta, yang lantas memberi hormat seraya berkata, “Suhu menitahkan suheng berempat mengantarkan tetamu pulang.”

Atas itu semua orang berbangkit. Tapi Kwee Ceng segera berkata, “Supee lagi menghadapi musuh, mana dapat kita lantas berlalu dari sini? Bukannya siuawtee tidak tahu diri tetapi ingin aku bekerja sama suheng berempat untuk mengusir dulu musuh itu.”

Si Tukang pancing berempat saling melirik, mereka memperlihatkan roman girang.

“Nanti aku pergi dulu menanyakan suhu,” kata si pelajar, yang lantas berlalu diikuti ketiga saudaranya. Tidak lama mereka kembali, kali ini lenyap roman mereka yang gembira. Si pelajar lantas berkata, “Suhu mengucap terima kasih atas kebaikan jiewi, tetapi suhu membilang juga, segala apa biar terserah kepada karma, biar orang berbuatnya sendiri-sendiri, dari itu orang luar tidak dapat campur tangan.”

Tapi Oey Yong memikir lain.

“Engko Ceng, mari kita bicara sendiri dengan supee!” katanya.

Kwee Ceng menurut. Ketika mereka sampai di kamar It Teng Taysu, pintu kamar dikunci, percuma mereka mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil, tidak ada suara jawaban. Sebenarnya pintu itu bisa digempur tetapi mereka tidak berani berbuat demikian.

“Suhu tidak mau menemui kamu pula, jiewi,” berkata si tukang kayu, yang air mukanya guram. “Karena gunung itu tinggi dan air yang panjang, baiklah lain kali kita bertemu pula.”

Oey Yong belum pikir apa-apa, atau Kwee Ceng mendapat satu pikiran, maka ia lantas berkata dengan nyaring, “Yong-jie, mari kita pergi! Bukankah supee tidak sudi menemui kita? Sebentar di bawah gunung, supee mengasih ijin taua tidak, kalau kita bertemu orang dan orang itu banyak rewel, kita hajar padanya!”

Si nona yang cerdik lantas dapat menerka maksud engko Cengnya itu, ia pun lantas menyahuti dengan nyaring, “Kau benar engko Ceng! Umpama kata musuhnya supee sangat lihay, dan kita mati di tangannya, kita puas, hitung-hitung kita berdua sudah membalas budi supee!”

Dua-dua suara itu keras, pasti suara itu dapat terdengar sampai di dalam, maka juga, ketika si muda-mudi baru jalan beberapa tindak, mendadak daun pintu dipentang lalu terdengar suara tajam dari seorang pendeta tua, “Taysu mengundang jiewi!”

Kwee Ceng girang sekali, bersama Oey Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam kamarnya It Teng Taysu. Di sana si pendeta bersama si pendeta dari India, masih duduk bersila. Mereka lantas menghampirkan, untuk memberi hormat sambil berlutut. Ketika kemudian mereka mengangkat kepala, mereka mendapatkan It Teng Taysu bermuka pucat kuning, beda daripada waktu semula mereka melihatnya. Mereka jadi bersyukur berbareng berduka, hingga mereka tidak tahu mesti membilang apa.

It Teng Taysu bersenyum.

“Semua masuk!” ia kata kepada keempat muridnya, yang menanti di luar pintu. “Aku hendak bicara.”

Si pelajar berempat menghampirkan, lebih dulu mereka memberi hormat kepada guru mereka itu, juga kepada si pendeta dari India. Dia cuma mengangguk, lantas dia tunduk dan berdiam, kembali tidak memperdulikan semua orang.

It Teng Taysu mengawasi asap yang bergulung naik, tangannya membuat main sebuah gelang kumala. Oey Yong melihat itu, katanya dalam hatinya, “Terang itu ada gelang orang perempuan, entah apa maksudnya musuh supee bolehnya mengirimkan ini?”

Untuk beberapa detik, semua orang berdiam, kemudian baru terdengar It Teng Taysu menghela napas dan mengatakan, “Setiap hari dahar nasi, tetapi pernahkah memakannya sebutir beras?” Ia lantas menoleh kepada si muda-mudi untuk melanjuti, “Kamu berdua mulia hati, aku si pendeta tua menerima itu dengan baik. Mengenai urusan ini, jikalau aku tidak menjelaskan, aku khawatirkan murid-murid atau sahabat-sahabat dari kedua pihak nanti menerbitkan gelombang yang tidak diingini. Itulah bukannya kehendakku. Tahukah kamu siapa sebenarnya aku ini?”

“Supee adalah kaisar dari Taili di Inlam,” menyahut Oey Yong. “Supee satu-satunya kaisar di Selatan yang kesohor sekali, siapa yang tidak tahu?”

It Teng tersenyum.

“Kaisar palsu, pendeta juga palsu,” ia berkata. “Kau nona kecil, kau juga palsu…”

Oey Yong tidak menginsyafi si pendeta, ia mengawasi pula.

It Teng berkata pula, dengan perlahan, “Negara Taili kami, semenjak Sri Baginda Sin Seng Bun Bu Tee Thay-couw membangun pemerintahan, ialah di tahun Teng-yoe, itulah yang lebih dulu duapuluh tiga tahun dari berdirinya kerajaan Song oleh Song Thay-couw Tio Kong In. Setelah tujuh turunan, kerajaan diturunkan kepada Baginda Peng Gie. Setelah empat tahun memerintah, Baginda Peng Gie mengundurkan diri dari kerajaan dan masuk menjadi pendeta. Tahta diserahkan kepada keponakannya ialah Baginda Seng Tek. Kemudian tahta diturunkan terus kepada Baginda-baginda Hin Cong Hauw Pek, Poo Teng, Hian Cong Soan Jin serta ayahku, Ken Cong Ceng Kong. Semua baginda telah itu menjadi pendeta juga. Dari Thay-couw sampai pada aku, delapanbelas turunan, ada tujuh raja yang menjadi menyucikan diri.”

Si tukang pancing berempat ada orang Taili, mereka semua tahu hal ikhwalnya raja-raja mereka itu, cuma Kwee Ceng berdua dengan Oey Yong, yang heran, hingga mereka mau memikir, apa mungkin menjadi pendeta lebih senang daripada menjadi raja…

It Teng Taysu melanjuti keterangannya, “Kamu tahu keluarga Toan kami, dengan berkah kebijaksaan, leluhur kami, telah berhasil menjadi sebuah keluarga kaisar di sebuah negara kecil si Selatan. Semua mereka merasa tanggung jawab itu besar, maka juga hati mereka tidak tenang, tidak berani mereka melakukan apa-apa yang melewati batas. Biarnya begitu, siapa yang menjadi raja, bukankah dia dapat dahar tanpa meluku, dapat berpakaian tanpa menenun? Bukankah kalau keluar dia naik kereta, dan kalau pulang memasuki istana? Bukankah semua itu asalnya dari keringat rakyat? Oleh karena itu semua, disaat usianya lanjut, mereka menginsyafi capai lelah rakyatnya itu, mereka merasa menyesal, maka diakhirnya mereka telah menjadi pendeta…”

Selagi mengucap begitu, si pendeta ini memandang keluar, mulutnya memperlihatkan senyuman, tetapi pada alisnya, nampak roman kedukaannya. Maka itu, entahlah dia bergirang atau berduka.

Enam orang itu mendengar dengan terus berdiam.

It Teng Taysu mengangkat gelang kumalanya, ia masuki itu ke dalam jari telunjuk dari tangannya, ia putar itu beberapa kali. Kemudian ia meneruskan, “Aku sendiri, aku bukannya mengikuti kebiasaan leluhurku itu. Tentang aku, sebab-sebabnya ada sangkut pautnya dengan urusan rapat ilmu pedang di gunung Hoa San, ketika lima jago saling berebutan kitab. Ketika tahun itu Tiong Yang Ong Cinjin dari Coan Cin Kauw memperoleh kitab, dilain tahunnya dia datang sendiri ke Taili, dia mewariskan ilmu silat It Yang Cie padaku. Setengah tahun dia berdiam di dalam istanaku, merundingkan tentang ilmu silat. Kita cocok satu dengan lain, sedang adik seperguruannya, Ciu Pek Thong, dia ini ternyata tidak betah duduk berdiam saja, dia lantas pergi putar-kayun di seluruh istana. Diluar dugaan, dia telah menerbitkan peristiwa.”

Mendengar itu Oey Yong berkata di dalam hatinya, “Kalau Loo Boan Tong tidak menerbitkan gara-gara, itu baru namanya heran!”

It Teng Taysu menghela napas.

“Sebenarnya biang peristiwa adalah apad diriku sendiri,” dia berkata pula. “Aku adalah satu raja kecil, kerajaanku tidak dapat disamakan dengan kerajaan Song, meski begitu, aku mempunyai permaisuri dan sedikit selir. Ya, inilah dosa. Aku gemar ilmu silat, jarang aku mendekati orang perempuan, bahkan permaisuri, aku menemuinya beberapa hari sekali, maka itu bisa dimengerti, mana ada tempo akan menemui segala selir?”

Berkata sampai di situ, It Teng memandang keempat muridnya.

“Kamu tidak mengetahui tentang hal ini, sekarang biarlah kamu mendapat tahu juga,” ia menambahkan.

Mendengar ini, Oey Yong kata di dalam hatinya, “Benar-benar mereka tidak tahu, mereka jadinya tidak mendustakan aku.”

“Sekalian selirku melihat aku setiap hari berlatih silat, di antaranya ada yang ketarik hatinya dan minta diajarkan,” It Teng Taysu mulai pula. “Aku suka mengajari mereka. Aku pikir, pelajaran itu ada baiknya, untuk mereka menjadi bertambah sehat dan panjang umur. Di antaranya adalah Lauw Kui-hui, yang bakatnya paling baik. Selir ini, begitu diajari, begitu dia bisa. Dia masih muda, dia rajin belajar, dia memperoleh kemajuan pesat. Dasar mau terjadi urusan. Pada suatu hari dia tengah berlatih di taman, dia terlihat Ciu Suheng. Ciu Suheng gemar silat, dia polos, dia tidak menghiraukan perbedaan di antara pria dan wanita, begitu melihat Lauw Kui-hui, dia mengajaknya main-main. Tentu sekali Lauw Kui-hui bukanlah tandingannya…”

Oey Yong terkejut.

“Tentulah Loo Boan Tong tidak mengenal kira dan dia melukai Kui-hui…” katanya perlahan.

“Melukai, itulah tidak,” It Teng Taysu memberitahu. “Baru dua tiga jurus, dia telah menotok hingga kui-hui roboh, lantas ia menanya, kui-hui takluk atau tidak. Pasti sekali Lauw Kui-hui menyerah kalah. Ciu Suheng puas sekali, setelah menotok bebas kepada kui-hui, ia lantas bicara banyak tentang ilmu totok. Memangnya kui-hui sangat ketarik sama kepandaian itu, padaku ia telah minta diajari berulang-ulang. Coba kamu pikir, ilmu kepandaian macam itu mana dapat diturunkan kepada kui-hui? Sekarang ada ketikanya, ia lantas minta Ciu Suheng mengajarinya.”

“Kalau begitu, niscaya Loo Boan Tong puas sekali,” kata si nona.

“Apakah kau kenal Ciu Suheng?” It Teng tanya.

“Kamilah sahabat-sahabat erat!” si nona menyahuti tertawa. “Dia pernah tinggal sepuluh tahun lamanya di Tho Hoa To, belum pernah dia pergi satu tindak juga!”

“Dia dapat berdiam begitu lama sedang sifat dia tak suka diam?”

“Sebab dia dipenjarakan ayah!” sahut si nona tertawa. “Baru belakangan ini dia dimerdekan!”

It Teng mengangguk.

“Begitu?” katanya. “Apa sekarang dia baik?”

“Dia baik hanya tabiatnya makin tua makin jadi!”

It Teng bersenyum. Kembali ia meneruskan, “Sebenarnya ilmu totok itu tidak dapat diajari kecuali ayah dengan anak gadisnya, ibu dengan putranya dan suami-istri. Biasanya guru lelaki tidak menurunkan kepada murid perempuannya dan guru perempuan tidak kepada murid laki-lakinya…”

“Kenapa begitu supee?”

“Itulah sebab lam lie siu siu put cin,” menjawab It teng. “Pria dan wanita, tidak dapat bersentuh tangan. Coba pikir tanpa meraba jalan darah di seluruh tubuh, mana bisa ilmu itu diajari sempurna?”

“Bukankah supee telah menotok sekujur tubuhku?” si nona tanya.

Si tukang pancing dan petani sebal nona ini main potong cerita orang, mereka mengawasi nona itu dengan mata mendelik. Oey Yong melihat itu, ia balik mendeliki mereka, bahkan dia menegur, “Kenapa? Tak dapatkah aku bertanya?”

It Teng tersenyum.

“Dapat, dapat!” katanya lekas. “Kaulah satu bocah, jiwamu pun sangat perlu ditolong, kau mesti dipandang dari jurusan lain.”

“Baiklah, bagaimana selanjutnya?”

“Selanjutnya yang satu mengajari, yang lain mempelajari,” It Teng melanjuti ceritanya itu. “Ciu Suheng sedang gagahnya, Lauw Kui-hui sedang mudanya, tubuh mereka beradu tak hentinya, hari ketemu hari, tanpa merasa, hati mereka berubah, hingga akhirnya mereka mengacau sampai tidak dapat diurus lagi…”

Oey Yong mau menanya atau mendadak ia dapat menahan hatinya. Ia pun segera mendengar kelanjutannya cerita, “Lantas ada orang yang memberi laporan padaku. Sebenarnya aku mendongkol, tetapi aku masih memandang Ong Cinjin, aku berpura-pura pilon. Adalah belakangan hari, hal itu dapat diketahui oelh Ong Cinjin.”

“Urusan apakah sampai tak dapat diurus lagi? tanya Oey Yong akhirnya. Ia polos, ia tidak menyangka jelek.

It Teng ragu-ragu sedikit. Rupanya sulit ia mencari kata-kata.

“Mereka itu bukan suami-istri tetapi kenyataannya mereka mirip suami-istri,” sahutnya kemudian.

“Ah, aku tahu sekarang!” kata si nona. “Loo Boan Tong dan Lauw Kui-hui itu kemudian melahirkan anak?”

“Itulah bukannya,” berkata It Teng. “Mereka baru berkenalan kira sepuluh hari, mana bisa mereka mendapat anak? Ketika Ong Cinjin mendapat tahu itu, dia ringkus Ciu Suheng dan dihadapkan kepadaku, dia menyerahkannya untuk aku memberi hukuman. Kami kaum persilatan, kami menghargai kehormatan dan persahabatan lebih tinggi daripada urusan orang perempuan, maka aku lantas membebaskan Ciu Suheng, lantas aku memanggil Lauw Kui-hui, di situ aku menitahkan mereka menjadi suami-istri. Ciu Suheng menampik, dia mengatakan dia tidak tahu bahwa itulah perbuatan salah, bahwa kalau ia tahu itu perbuatan tidak bagus, dibunuh juga tidak nanti dia melakukannya. Dia keras menolak menikah dengan Lauw Kui-hui. Ong Cinjin menjadi masgul sekali. Dia kata kalau dia memang tidak tahu Ciu Suheng itu manusia tolol dan tak tahu selatan, tentulah dia telah membunuhnya.”

Oey Yong mengulur lidahnya keluar.

“Sungguh Loo Boan Tong, dia menghadapi bahaya!” katanya.

“Penampikannya itu membuat aku mendongkol,” berkata It Teng, yang meneruskan ceritanya. “Dengan tandas aku kata kepadanya: ’ Ciu Suheng, dengan ikhlas aku menyerahkan kui-hui padamu! Apakah kau menyangka aku mengandung maksud lain? Bukankah semenjak dulu ada dibilang, saudara ialah tangan dan kaki dan istri itu pakaian? Apakah artinya seorang perempuan?”

“Ah, eh, supee, kau memandang enteng perempuan?” Oey Yong memotong. “Kata-kata supee mirip sama ngaco-belo!”

Si petani menjadi gusar.

“Tak dapatkah kau tidak memotong?!” dia tanya bengis.

“Supee omong tidak tepat, itulah mesti dibantah!” berkata si nona membelar.

Keempat murid itu melongo. Bagaimana mereka menghormati guru mereka, maka bagaimana “kurang ajarnya” bocah wanita ini.

It Teng sabar luar biasa, dia tidak menggusari si nona. Dia meneruskan perkataannya, “Mendengar perkataanku itu, Ciu Suheng menggeleng kepala. Maka aku menjadi tambah gusar. Aku tanya padanya: ’Jikalau kau mencintai dia, kenapa sekarang kau menampik? Jikalau kau memang tidak mencintai, kenapa kau lakukan perbuatanmu itu? Negeriku memang negeri kecil, tetapi tidak nanti aku menginjinkan kau menghina kami!’ Mendengar itu Ciu Suheng menjublak sekian lama, akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut di depanku, mengangguk beberapa kali lalu berkata: ’Toan Hongya, aku salah! Aku pergi sekarang!’ Aku tidak menyangka akan putusannya ini, aku tercengang karenanya. Dia lantas mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra dari sakunya, dia berikan itu kepada Lauw Kui-hui seraya berkata: ’Ini aku pulangi padamu!’ Lauw Kui-hui tahu orang bersusah hati, ia tertawa sedih. Dia tidak menyambuti sapu tangan itu, maka sapu tangan itu jatuh di dekat kakiku. Ciu Suheng tidak membilang apa-apa lagi, dia terus berlalu. Sejak itu sudah berselang puluhan tahun lebih, tentang dia aku tidak mendengar apa-apa lagi. Ong Cinjin menghanturkan maaf berulang-ulang kepadaku, habis itu ia pun berlalu, sampai kemudian aku mendengarnya ia telah meninggal dunia. Dia berhati mulia tidak ada tandingannya, sayang…”

“Di dalam ilmu silat, mungkin Ong Cinjin lebih lihay daripada kau, supee,” berkata Oey Yong. “Tetapi bicara tentang hati mulia, dia tidak bisa melawan supee sendiri. Habis bagaimana dengan sapu tangan sulam itu?”

Si pelajar berempat tidak puas si nona mengingat selalu sapu tangan itu. Tapi guru mereka berbicara terus, “Aku melihat Lauw Kui-hui menjublak saja, seperti yang ditinggalkan arawahnya, aku jadi mendongkol. Aku menjumput sapu tangan itu. Di situ aku menampak sulaman sepasang burung wanyoh memain di air. Hm, tidak salah lagi, itulah barang Lauw Kui-hui untuk kekasihnya. Aku tertawa dingin. Lantas aku membalik sapu tangan itu. Kiranya di situ ada sebaris syairnya…”

Oey Yong sangat tertarik hingga ia lantas menanya, “Apakah itu berbunyi…’ Empat buah perkakas tenun…maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan…”

Si petani habis sabarnya, dia membentak, “Kami sendiri tidak tahu, bagaimana kau ketahui itu? Ha, kau ngaco saja. kau main potong tak hentinya!”

Tetapi It Teng Taysu sendiri tidak gusar, ia menghela napas.

“Benar begitu,” sahutnya. “Kau juga ketahui itu?”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: