Kumpulan Cerita Silat

12/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 62

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:19 am


Bab 62. It Teng Taysu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Pelajar itu menunjuk dengan kipasnya ke kumpulan pohon palem itu, ia membacakan syairnya itu, atau lian, yang dikatakan bagian atasnya, “Sang angin meniup-niup pohon palem, bagaikan seribu tangan menggoyang-goyang sang kipas.”

Syair itu di satu pihak menggambarkan pemandangan alam – ialah yang pohon, di lain pihak menunjuki juga hal dirinya si pelajar – ialah kipasnya, maka Oey Yong lantas berpikir, “Tidak dapat aku menjawab dia dengan hanya menunjuk serupa benda, mesti juga ada arti yang merangkap di dalamnya.” Ia lantas memandang ke sekitarnya, hingga ia melihat di depannya, di tanah datar, sebuah bangunan sebagai kuil atau biara, di depan mana ada sebuah pengempang teratai. Ketika itu bulan ke tujuh hampir habis, daun teratai sudah kering kebih dari separuhnya. Lalu ia tertawa dan berkata, “Jawabanku itu untuk menyambungi sudah ada hanya aku khawatir aku berbuat salah terhadap kau, paman, jadi tidak leluasa untuk aku mengatakannya…”

“Tidak apa, kau sebut saja!” menyahut si pelajar.

“Jangan kau gusar, paman…”

“Tentu sekali tidak.”

Oey Yong menunjuk kepada kopiah siauw-yauw-kin di kepala pelajar itu.

“Baiköah!” katanya. “Sambunganku bagian bawah dari syairmu itu ialah: ’Diantara daun teratai separuh kering, satu memedi kaki tunggal memakai siauw-yauw-kin.”

Mendengar itu, si pelajar tertawa terbahak-bahak.

“Bagus, bagus!” ia memuji. “Bukan saja jawabannya sangat tepat juga itu dijawabnya cepat sekali.”

Kwee Ceng mengawasi ke daun-daun teratai di pengempang itu, ia melihat ada selembar daun hampir kering yang duduknya begitu rupa hingga mirip dengan satu setan satu kaki yang memakai kopiah siauw-yauw-kin itu! Maka ia juga tertawa.

“Hus, hus, jangan tertawa!” kata si nona pada kawannya. “Tungkulan kau tertawa, kakimu bisa terpeleset, nanti kita berdualah yang bakal menjadi si setan-setan yang tidak memakai kopiah siauw-yauw-kin itu!”

Si pelajar sendiri sementara itu tengah berpkir. “Dia tidak dapat dirobohkan dengan twie yang umum saja, dia mesti menyaksikan yang sangat sukar.” Lalu ia ingat halnya di masa bersekolah, gurunya pernah memberikan ia twie yang sudah puluhan tahun belum pernah ada lain orang yang dapat menimpalinya. Ia hendak mencoba ini. Ia kata, “Sekarang aku mempunyai satu lian lagi, aku minta nona kecil menimpalinya. Inilah Kim Sek pie pee, delapan raja besar semua serupa kepalanya.”

Mendengar itu tanpa merasa Oey Yong tercengang. Kim sek pie pee itu, ialah alat-alat tetabuhan semacam gitar, memang semua empat-empat hurufnya berkepala dengan huruf-huruf Ong = Raja di atasnya. Inilah benar-benar syair atau lian yang sulit untuk ditempeli (twie).

Si pelajar mengawasi orang, senang hatinya menampak si nona menghadapi kesulitan. Ia lantas berkata, “Lian bagian atas ini memangnya sukar, aku sendiri tidak dapat menimpelinya dengan pasti, hanya karena kita sudah omong terlebih dahulu, umpama kata nona tidak dapat menempalinya, seperti janji kita, silahkan kamu kembali saja!”

Justru orang “mengusir” justru Oey Yong mendapat pikiran. Ia tertawa.

“Untuk menimpali itu, tidaklah sukar!” katanya. “Hanya aku merasa kurang enak di hati menyebutkan itu. Tadi saja aku telah berbuat salah terhadap paman, sedang sekarang aku bakal menyinggung berbareng kamu berempat si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan palajar.”

Pelajar ini tidak mempercayai orang.

“Untuk menimpali saja sudah sukar sekali, apapula dengan sekaligus mengenai empar orang,” pikirnya. “Benarkah itu?” Lalu ia membilang, “Asal kau dapat menimpali dengan tepat, bergurau sedikit tidak apa!

Si nona tertawa.

“Kalau paman bilang begitu, baiklah, lebih dulu aku minta maaf!” katanya. “Sambungannya lian paman itu ialah: Ci Bie Bong Liang, ialah empat setan cilik dengan masing-masing ususnya!”

Cie bie bong liang itu ialah setan hutan, setan gunung, setan tukang makan batok kepala orang dan peri, semua empat huruf berpokok dengan huruf Kwie = Setan.

Mendengar itu, si pelajar terperanjat, lekas-lekas ia berbangkit untuk untuk menjura dalam seraya tangannya dikibaskan.

“Aku menyerah, Nona,” katanya.

Oey Yong pun lekas-lekas memberi hormat.

“Jikalau bukannya paman beramai sangat bersungguh-sungguh menghalang-halangi kami berdua mendaki gunung, sebenarnya juga lian paman ini sangat sukar untuk dijawab!”

“Hm!” si pelajar bersuara seraya ia lantas minggir.

“Silahkan!” katanya. Ia memutar tubuh dan berlompat dari tempat menghadangnya itu.

Kwee Ceng mendengar pembicaraan orang dengan perhatian, ia sebenarnya khawatir Oey Yong gagal, maka bukan main girangnya ia mengetahui si nona menang, segera ia berlompat, mulanya di tempat bekas si pelajar, lalu terus ke rintangan lainnya yang paling belakang.

Melihat orang menggendong tetapi gerakannya demikian hebat, si pelajar menghela napas sendirinya dan di dalam hatinya ia berkata, “Aku bangga atas kepandaianku ilmu surat dan ilmu silat, sekarang ternyata, dalam ilmu surat aku tak ada seperti si nona, dalam ilmu silat tak ada seperti si pemuda, sungguh aku mesti malu…” Ketika ia melirik kepada si nona, nyata sekali nona itu sangat girang akan kemenangannya, rupanya ia memikir ia telah merobohkan satu conggoan. Maka ia pikir, “Baiklah aku ganggu dia, supaya ia jangan terlalu girang.” Maka ia lantas berkata, “Nona, meskipun ilmu suratmu lihay, tetapi di dalam halnya prilaku, kau ada cacadnya.”

Oey Yong tertawa.

“Di dalam hal ini aku minta petunjukmu,” ia bilang.

“Bukankah di dalam kitab Beng Coe ada bilang, yang dibilang adat-istiadat ialah pria dan wanita tak dapat saling bersentuh tangan?” katanya si pelajar. “Sekarang lihat sendiri, Nona adalah seorang gadis dan dengan engko kecil ini, kamu bukanlah suami-istri, maka kenapa nona membiarkan ia menggendong padamu? Beng Hoe-coe membilang, cuma kalau sang ipar perempuan kelelap maka sang ipar lelaki dapat menolongnya. Nona ini tidak kelelap, Nona pun bukan iparnya engko kecil ini, kenapa dia menggendong Nona? Itulah sangat besar melanggar adat-istiadat.”

Mendengar sindiran atau ejekan ini Oey Yong berpikir, “Hm! Engko Ceng toh sangat baik denganku. Memang dialah bukan suamiku, suko Liok Seng Hong membilang demikian, sekarang ini conggoan membilang demikian juga…” Ia tidak suka mengalah, maka sambil mainkan mulutnya, ia berkata, “Beng Hoe Coe itu memang paling suka mengaco-belo! Dapatkah kau percaya kau percaya kata-katanya itu?”

Mendengar demikian, si pelajar menjadi gusar. ia tidak senang Beng Hoe Coe dikatakan mengaco-belo.

“Beng Hoe Coe ialah seorang nabi, seorang rasul, mengapa kata-katanya tak dapat dipercaya?” dia tanya keras.

Oey Yong kata tertawa, bagaikan bersenandung, ia kata, “Seorang pengemis mana mempunyai dua istri? Seorang tetangga mana mempunyai demikian banyak ayam? Di jaman itu masih ada kaisar dari kerajaan Ciu, kenapa orang mesti omong banyak dengan raja-raja Gui dan Cee?”

Mendengar kata-kata si nona, pelajar itu berdiri menjublak. Ia mengetahui baik sekali kata-kata nona ini.

Apa yang disebutkan Oey Yong adalah syair karya ayahnya sendiri. Oey Yok Su pintar akan tetapi tabiatnya aneh, maka itu, sering ia membuat syair dengan apa ia mengejek Khong Coe dan Beng Coe. Kalau bukan begitu, dialah bukan Tong Shia di Sesat dari Timur.

Beng Coe itu pernah bercerita dari halnya seorang dari negeri Cee mempunyai seorang istri serta seorang gunidk, toh untuk hidupnya, ia pergi mengemis sisa sayur dan nasi dingin, dan halnya seorang yang setiap hari mencuri seekor ayam tetangganya. Dua cerita itu disyairkan dengan maksud akan dipakai menipu orang. Tentang yang lainnya: jaman itu ialah jaman perang antara negara (Cian Kok), itu masih ada raja dari kerajaan Ciu, maka itu Tong Shia menanya, kenapa Beng Cu bukannya menunjang raja Ciu, dia hanya pergi kepada raja muda Liang Hui Hong dan Cee Soan Ong kepada siapa Beng Cu meminta pangkat? Tong Shia menganggapnya itu bertentangan sama prilakunya seorang nabi atau rasul.

Pelajar ini berpikir, “Si orang negeri Cee dan si tetangga itu cuma cerita, cuma cerita, perumpamaan saja, hanya yang mengenai Beng Coe itu, mungkin Beng Coe sendiri di alam baka sukar menjawab…” Ia melirik pula si nona, ia berpikir lagi, “Dia masih begini muda, kenapa dia begini cerdik?”

Meski apa yang ia pikir itu, si pelajar membungkam. Ia hanya memimpin dua muda-mudi itu. Ketika melewati pengempang, ia memandang kepada daun teratai yang tadi disebutkan si nona itu, kemudian ia melirik kepada si nona. Oey Yong tertawa dan melengos!

Tidak lama sampailah mereka di kuil, si pelajar mengundang kedua tetamunya masuk ke kamar sebelah timur, di mana lantas ada kacung pendeta yang menyuguhkan the.

“Jiewi, harap tunggu sebentar, hendak aku mengabarkan guruku,” kata si pelajar.

“Eh, tunggu dulu,” berkata Kwee Ceng. “Itu paman petani, di lereng gunung di tengah menahan batu yang ada kerbaunya, dia tidak dapat meloloskan dirinya, baiklah paman pergi menolong dia.”

Mendengar ini, si pelajar kaget. Hingga tanpa bilang apa-apa lagi, dia lantas lari keluar.

“Nah, lekaslah buka itu kantung yang kuning!” kata Oey Yong kepada kawannya.

“Ah,” kata si pemuda, “Kalau kau tidak menyebutnya, pasti aku lupa.” Ia lantas mengeluarkan kantung kuning itu, untuk memerika isinya. Itulah kertas putih tanpa huruf, hanya ada gambar, yang meggambarkan seorang India yang menjadi raja, dengan pisau raja itu telah memotongi dagingnya hingga tak ada tubuhnya yang utuh, sedang darahnya berhamburan. Di depan raja ini ada sebuah dacin, alat peranti menimbang: di ujung yang satu ada seekor burung dara putih dan di sebelah yang lain ialah dagingnya itu. Daging lebih banyak, burung dara lebih kecil, tetapi buktinya, burung dara lebih berat. Di samping dacin ada seekor burung elang, yang romannya sangat bengis.

Sekian lama Oey Yong mengawasi gambar itu, ia tidak mengerti maksudnya.

Kwee Ceng pun tidak tahu apa artinya itu, karena si nona diam saja, ia turut berdiam. Maka ia gulung gambar itu, utuk dipegangi dengan digenggam.

Tidak lama terdengar tindakan kaki yang berat dan berisik, lalu nampak si petani datang dengan dipegangi si pelajar, romannya sangat gusar. Rupanya ia mendongkol sebab kena diakali hingga ia seperti tersiksa. Dia terus dibawa masuk ke dalam kuil.

Selang tak lama, muncullah satu kacung pendeta. Dia memberi hormat dengan merangkpa kedua tangannya. Ia menanya.

“Jiewi datang dari tempat yang jauh, entah ada urusan apa?”

“Kami sengaja datang untuk mohon menghadap Toan Hongya,” Kwee Ceng menyahuti. “Kami minta tolong agar kedatangan kami disampaikan.”

Pendeta itu merangkap kedua tangannya.

“Toan Hongya sudah lama tak ada lagi di dalam dunia ini, maka sayang sekali, jiewi telah bercapai lelah tanpa ada hasilnya. Silahkan dahar dulu, sebentar nanti siauw-ceng mengantarkannya turun gunung.”

Kwee Ceng berdiam, karena ia kecele sekali mendapat jawaban itu. Tidak demikian dengan Oey Yong, yang telah melihat kuil itu dan sekarang si pendeta cilik ini. Ia menduga sesuatu. Ia mengambil gambar dari tangannya Kwee Ceng, ia kata, “Aku telah mendapat luka parah, sengaja aku datang ke mari untuk minta gurumu suka menolongi, dari itu sehelai kertas ini tolong kau menyampaikannya kepada gurumu itu.”

Kacung itu menerima, ia tidak berani membuka gambar itu, hanya setelah memberi hormat, ia masuk ke dalam. Tapi tidak lama ia keluar pula, sembari menurunkan alisnya, sambil memberi hormat, ia berkata, “Silahkan jiewi masuk.”

Itulah undangan, maka Kwee Ceng menjadi girang sekali. Ia lantas pegangi Oey Yong, untuk diajak mengikuti kacung itu.

Kuil itu kecil tetapi dalam. Kwee Ceng berdua Oey Yong jalan di satu jalanan batu hijau yang lecil melewati sebuah tempat di mana ada ditanam banyak pohon bambu, yang daunnya lebat, keadaannya sunyi dan tenang, hingga siapa berada di situ, ia tentunya terpengaruh suasana kesucian. Di dalam rimba bambu itu terlihat sebuah rumah batu terdiri dari tiga ruang. Si kacung pendeta lantas membuka pintu, untuk mempersilahkan kedua tetamunya masuk ke dalam. Ia berdiri di pinggaran dengan sikapnya yang sangat menghormat.

Kwee Ceng girang. Ia bersenyum kepada pendeta itu, sebagai tanda terima kasihnya. Bersama Oey Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam.

Di atas meja kecil ada pedupaan dari kayu garu. Di kedua samping itu ada berduduk masing-masing seorang hweeshio atau pendeta. Yang satu mukanya hitam, hidungnya mancung, matanya dalam. Dialah seorang India. Yang lainnya, yang bajunya kasar, mempunyai alis putih yang panjang, ujung alisnya meroyot turun di ujung matanya. Wajah pendeta ini menunjuk ia murah hati, benar sinar matanya rada guram, mungkin tercampur kedukaan, tetapi umumnya dia halus dan agung. Si pelajar dan si petani berdiri di belakang pendeta alis panjang ini.

Oey Yong bertindak tanpa sangsi lagi. Ia menarik tangan Kwee Ceng, untuk menghampirkan pendeta itu, sambil membungkuk ia berkata, “Teecu Kwee Ceng bersama Oey Yong menghadap Supee.”

Kwee Ceng terkejut mendengar nona itu memanggil supee atau paman guru, meski begitu tanpa bersangsi lagi dia menekuk kedua kainya untuk mengangguk sampai empat kali.

Pendeta alis panjang itu bersenyum, ia bangun untuk berdiri, tangannya diulur mengasih bangun pada mereka itu. Ia pun tertawa dan berkata, “Saudara Cit telah mendapatkan murid yang baik sekali dan saudara Yok mendapatkan anak yang manis! Menurut katanya mereka ini…” ia menunjuk kepada si petani dan si pelajar, “Lihay ilmu surat dan ilmu silat kamu berdua, jauh melebihkan murid-muridku yang bodoh itu. Haha, sungguh kamu berdua harus diberi selamat!”

Mendengar suara itu, Kwee Ceng merasa pasti orang adalah Toan Hongya, maka ia heran kenapa seorang raja boleh berubah menjadi hweeshio dan heran juga bahwa Toan Hongya dikatakan sudah mati, toh orang masih hidup segar-bugar. Pula ia heran yang Oey Yong lantas mengetahui pendeta itu adalah Toan Hongya sendiri.

Lalu terdengar si pendeta menanya Oey Yong, “Apakah ayahmu dan gurumu mu baik-baik semua? Ketika dulu hari kita berapat di gunung Hoa San di mana kita merundingkan ilmu pedang bersama ayahmu, ayahmu itu masih sebatang kara, siapa sangka baru berpisah dua puluh tahun, dia telah mendapatkan satu anak perempuan yang cantik dan pintar! Apakah kau ini mempunyai saudara tua dan muda, enci atau adik? Dan kakek luarmu itu, dia orang gagah yang manakah?”

Ditanya begitu, matanya Oey Yong menjadi merah.

“Ibuku cuma melahirkan aku seorang,” sahutnya. “Ibu pun telah meninggal semenjka siang-siang. Siapa itu kakek luarku, aku tidak tahu…”

“Oh,” kata pendeta itu, yang dengan perlahan menepuk pundak orang, sebagai tanda menghibur. “Aku telah bersemadhi tiga hari dan tiga malam, baru saja aku pulang. Apakah kamu sudah lama menunggu aku?”

Oey Yong berpikir, “Dilihat dari sikapnya ini, dia sangat menyukai kami. Maka mungkin di sepanjang jalan tadi, yang menyulitkan kami adalah bisanya muridnya itu…” Karena itu, ia lekas menyahut, “Teecu juga baru tiba. Syukur beberapa paman telah mempersulit di tengah jalan, kalau tidak, tentulah kami sudah tiba semenjak tadi-tadi, hingga dengan supee tengah bersemadhi mungkin tibanya kami akan sia-sia belaka.”

Mendengar itu, si pendeta tertawa riang.

“Mereka itu sangat khawatir aku bertemu sama orang luar,” katanya. “Sebenarnya, bukankah kau bukannya orang luar? Ah, anak, muridmu tajam sekali, dasar turunan! Baiklah kamu ketahui, Toan Hongya sudah tidak ada lagi dalam dunia ini, sekarang aku dipanggil It Teng Hweesio. Gurumu ketahui ketika aku mulai menganut agama, ia menyaksikannya, ayahmu mungkin belum mengetahuinya.”

Baru sekarang segala apa terang bagi Kwee Ceng. Toan Hongya telah menjadi Hweeshio, dia memakai nama It Teng itu, pantas dia dikatakan sudah menutup mata. Memang siapa menyucikan diri, dia bagaikan menjelma pula. “Suhu mengetahui tentang supee ini, kalau suhu menyuruh kita ke amri, tidak nanti ia menyebut pula Toan Hongya, hanya It Teng Taysu.” Maka itu, benar-benar Oey Yong cerdik sekali, ia lantas dapat menerka!

“Memang juga ayah tidak tahu,” berkata Oey Yong.

“Benar,” It Teng pun bilang sambil ia tertawa. “Tentang gurumu itu, mulutnya itu lebih banyak yang masuk, sedikit yang keluar, yang dimakan banyak, yang dibicarakan sedikit, maka itu urusan aku si pendeta tua tentulah dia tak suka bicarakan itu sama lain orang. Kamu datang dari tempat jauh, kamu sudah dahar atau belum? Ah…” Mendadak pendeta ini terkejut, lalu ia menarik tangan Oey Yong ke depan pintu di mana ia mengawasi dengan tajam, di sinar matahari. Di sini dia nampak seperti kaget.

Kwee Ceng benar tak gelap pikirannya tetapi tahulah ia bahwa It Teng Taysu tentu telah mendapat lihat sakitnya Oey Yong, maka itu, hatinya jadi sangat pedih, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan pendeta itu, berulang-ulang ia mengangguk.

It Teng meluncurkan sebelah tangannya, akan mengangkat bangun bocah itu.

Kwee Ceng merasakan satu tenaga besar membentur tangannya, ia tidak berani menentang itu, ia lantas mengikuti, maka ia berbangkit dengan perlahan-lahan. Sembari bangun, ia berkata, “Teecu mohon supee suka menolongi jiwanya sumoy ini…”

It Teng mengangkat si anak muda dengan mengandung dua maksud, satu untuk mengasih bangun benar-benar, yang lain guna mencoba tenaga dalam bocah itu. Umpama Kwee Ceng melawan, tidak nanti ia membikin orang terluka atau terpelanting, di dalam hal itu, ia pandai mengendalikan tenaganya. Sebaliknya, meskipun Kwee Ceng mengikuti, ia merasa bahwa anak muda ini juga pandai mengendalikan tenaganya, maka itu ia menjadi kagum.

“Saudara Cit mendapat murid yang bagus sekali,” pikirnya. “Pantas murid-muridku kalah…”

Sementara itu, habis orang berkata, Kwee Ceng kaget sekali. Mendadak ia merasa tubuhnya kena tertarik hingga ia maju satu tindak, ketika ia mencoba menahan diri, mukanya menjadi merah tahu benar lihaynya pendeta tua itu. Sebenarnya ia menduga It Teng sudah berhenti menguji padanya, ia mengendorkan diri seperti wajar, tidak tahunya, ia diuji terus. Sekarang ia menginsyafi benar lihaynya Tong Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay.

It Teng dapat melihat sinar mata anak muda itu, ia heran dan kagum, ia menepuk perlahan pundak orang, sembari tertawa ia kata, “Anak, kau telah mempunyai kepandaianmu ini, sungguh inilah dukar didapat.”

Dilan pihak, pendeta ini masih belum melepaskan tangannya yang satu lagi yang memegangi tangan Oey Yong, maka ia lantas menoleh kepada si nona. Hanya kali ini ia tidak lagi tertawa hanya bersenyum, cuma dengan sungguh-sungguh dengan perlahan sekali, ia bilang, “Anak, jangan kau takut, kau tetapkan hatimu.”

Lalu ia menuntun nona itu, untuk dikasih duduk.

Oey Yong sangat bersyukur. Seumurnya belum pernah ia merasa orang perlakukan ia begini manis dan halus, tidak juga ayahnya yang aneh itu. Ayahnya itu menyayangi ia, tetapi sikap mereka berdua mirp sahabat erat, tidak pernah si ayah menunjuk tegas cinta kasihnya seorang ayah sebagaimana umumnya. Maka itu, tanpa merasa, ia menangis.

“Jangan menangis, anak yang baik, jangan menangis,” It Teng menghibur. “Tubuhmu sakit, bukan? Nanti supeemu mengobati kau hingga sembuh.”

Hanyalah semakin halus ia pendeta berbicara, semakin sedih hatinya si nona, hingga ia menangis tersedu-sedu tak hentinya.

Kwee Ceng girang mendengar It Teng memberi janjinya itu, tetapi kebetulan ia mengangkat kepalanya dan melihat si petani dan si pelajar, ia terkejut. Dua orang itu memandang dia dengan wajah bermuram durja tanda dari kemurkaan. Ia berpikir, “Kami bisa masuk sampai di sini, semua itu mengandal kepada kecerdikannya Oey Yong, yang pandai menggunai tipu daya, tidak heran, selagi It Teng Taysu begini baik, kenapa keempat muridnya menggunai segala jalan untuk menghalang-halangi kami?”

Pemuda ini baru berhenti berpikir ketika ia mendengar It Teng menanya Oey Yong. Katanya, “Anak, bagaimana caranya kau terluka, dan bagaimana jalannya hingga kau dapat masuk ke mari, coba kau tuturkan pada supeemu.”

Oey Yong memberikan keterangan bagaimana ia terlukakan Khiu Cian Jin, yang mula ya ia tidak tahu ada yang tulen dan ada yang palsu, karena kesangsiannya itu, ia mandah saja kasih dirinya dihajar.

Mendengar disebutknya nama Khiu Cian Jin, It Teng Taysu itu mengerutkan alis, hanya sejenak, lalu ia dapat bersenyum pula, ia nampak tenang seperti biasa.

Oey Yong si cerdik bicara sambil diam-diam memperhatikan si pendeta itu, maka air muka orang itu tidak lolos dari pandangan matanya yang tajam. Begitu ketika ia menutur sampai di bagian mereka bertemu Eng Kouw di rimba rahasia dan rawa lumpur hitam, ia juga mendapatkan si pendeta itu berubah lagi romannya, si pendeta seperti tengah mengenang peristiwa lama. Karena ini, ia menunda penuturannya itu.

“Kemudian bagaimana?” tanya It Teng, yang menghela napas.

“Kemudian kami sampai di kaki gunung,” melanjuti Oey Yong yang terus menceritakan bagaimana mereka dipersulit si tukang pancing, tukang kayu, yang memberi mereka lewat dengan gampang, sebaliknya, mengenai tiga yang lain, ia sengaja menambah-nambahkan hingga si petani dan pelajar mendongkol bukan buatan.

“Yong-jie, jangan omong sembarangan,” beberapa kali Kwee Ceng campur bicara. “Paman-paman itu tak ada sedemikian galak…”

Oey Yong berani bicara begitu rupa, karena ia tahu, di depan gurunya, mereka itu tidak nanti berani berbuat sesuatu atas dirinya. Ia memang sengaja hendak mengocok isi perut mereka itu.

“Anak-anak itu benar perbuatannya kurang bagus terhadap anak-anak kecil,” kata It Teng kemudian. “Biarlah sebentar aku menyuruh mereka menghanturkan maaf kepada kamu.”

Oey Yong melirik dua murid itu, selagi ia bercerita terus sampai ia memasuki kuil ini, akhirnya ia tambahkan. “Begitulah teecu lantas memberikan gambar itu untuk supee periksa. Sedari itu waktu, baru mereka tidak berani menghadang kami lagi.”

It Teng nampaknya heran.

“Eh, gambar apakah itu?” ia tanya.

“Itulah gambarnya burung elang, burung dara dan daging yang dipotong,” menyahut si nona.

“Kau serahkan itu pada siapa?” It Teng tanya pula.

Belum lagi Oey Yong menyahuti, si pelajar telah merogoh sakunya dan mengeluarkan gambar itu.

“Gambar itu ada pada teecu, suhu,” ia berkata. “Tadi suhu belum selesai bersemadhi, gambar itu teecu tidak berani lantas menyerahkannya.”

It Teng menyambuti gambar itu.

“Lihatlah!” katanya. “Jikalau kau tidak menyebutkannya, mana aku bisa melihat ini?” Ia membuka gambar itu perlahan-lahan, terus ia lihat. Cuma sekelebatan, ia lantas tertawa dan kata, “Kiranya orang khawatir aku tidak suka menolong kau, maka ia menggunai gambar ini untuk membangkitkan kemendongkolanku, agar hatiku menjadi panas. Tidakkah dengan begitu ia jadi memandang enteng sekali kepada aku si pendeta tua?”

Oey Yong tidak menjawab, ia hanya melirik si petani dan pelajar, hingga ia kembali melihat muka orang suram, agaknya hati mereka cemas dan tetap mendongkol. Ia menjadi heran sekali. Ia tanya dirinya sendiri, “Kenapa mereka tak senang mendengar It Teng Taysu berniat mengobati aku? Kenapa mereka seperti menghendaki kematianku? Adakah itu disebabkan obatnya ada obat dewa?” Ia mengawasi pula si pendeta, yang lagi memperhatikan gambar itu, yang bahkan dibawa ke terangnya matahari, untuk ddiperiksa dengan teliti. Dia bukannya membaca hanya memperhatikan kertasnya. Beberapa kali kertas itu disentil-sentil, dan air mukanya di pendeta menandakan ia ragu-ragu.

“Adakah lukisan ini lukisannya Eng Kouw sendiri?” ia menanya.

“Benar.”

Pendeta itu berdiam sejenak.

“Kau melihatnya dengan matamu sendiri?”

Pertanyaan ini heran, maka Oey Yong mengingat-ingat kejadian hari itu. Ia menjawab, “Di waktu Eng Kouw menulis, ia membelakangi kami berdua, aku cuma melihat ia menggoyangi pit, entah dia menulis surat atau melukis gambar.”

“Kau membilang masih ada dua kantung surat lainnya. Mana, kasih aku melihatnya.”

Kwee Ceng menyerahkan dua lembar surat wasiat itu.

It Teng mengawasi sekian lama, lalu air mukanya berubah.

“Benarlah!” katanya kemudian. Ia menyerahkan surat itu pada si nona seraya berkata, “Saudara Yok itu seorang pelukis pandai, kau putrinya, kau tentu mengerti segala apa. Kau lihat ketiga surat itu, ada apakah yang berlainan?”

Oey Yong menyambuti dan memeriksa.

“Ini dua kerta giokpoan yang biasa,” ia berkata. “Dan gambar ini memakai kertas ciu-song.”

It Teng mengangguk.

“Mengenai lukisan, akulah si orang diluar kalangan,” katanya pula. “Coba kau bilangi aku pandanganmu tentang gambar ini.

Oey Yong meneliti.

“Supee pura-pura menjadi orang di luar kalangan!” katanya tertawa. “Sebenarnya supee telah melihatny, ini bukan gambar lukisannya Eng Kouw sendiri!”

Kembali berubah air mukanya It Teng.

“Jadi benar ini bukannya lukisannya Eng Kouw sendiri?” katanya. “Aku melihatnya dari jalan pikirannya, bukannya dari gambarnya.”

Oey Yong menarik tangan orang.

“Mari lihat huruf-hurufnya kedua surat ini,” ia berkata. “Bagaimana halus tekukannya dan indah. Huruf-huruf di dalam gambar sebaliknya kaku! Ah, inilah lukisannya seorang laki-laki! Memang, mestinya dia seorang pria, hanya sayangnya dia tidak mempunyai minat menggambar, lukisannya tak ada harganya. Tetapi tulisannya ini, karena ia menggunai tenaganya, telah menembus ke belakang kertas…Air bak ini juga mestinya telah lama sekali, jangan-jangan lebih tua dari usianya…”

It Teng Taysu menghela napas. Ia menunjuk kepada sebuah kitab di atas meja, ia menyuruh si pelajar mengambilnya untuknya.

Oey Yong membaca judulnya kitab, maka ia kata di dalam hatinya; “Dia mau bicara tentang kitab suci dengan aku, mana aku mengerti…” Itulah sebuah kitab suci dan pula cetakan tua.

It Teng membuka lembarannya kitab itu, lalu di samping itu ia meletaki gambar dari Eng Kouw. “Kau lihat!” katanya.

“Eh, kertasnya sama!” kata Oey Yong heran.

Pendeta itu mengangguk.

Kwee Ceng tidak mengerti, sambil berbisik ia tanya si nona, kertas apanya yang sama.

“Kau lihat sendiri dan bandingkanlah,” kata Oey Yong. “Bukankah kertasnya gambar dan kitab ini sama saja?”

Si anak muda mengawasi teliti dan memegang juga kedua kertas, yang tebal dan licinnya sama saja.

“Benar sama. Habis bagaimana?” ia tanya.

Si nona tidak menjawab, ia hanya memandang It Teng, untuk memperoleh jawaban.

“Kitab ini dibawa oleh adik seperguruanku dari Wilayah Barat,” berkata pendeta itu alias Toan Hongya.

Semenjak semula, Kwee Ceng dan Oey Yong tidak memperhatikan si pendeta bangsa India itu, baru sekarang mereka menoleh dan mengawasi. Pendeta itu tetap duduk bersila, tidak bergerak atau menoleh, tidak memperdulikan orang bicara asyik di dekatnya.

“Kitab ini juga terbuat dari kertas buatan Wilayah Barat, demikian juga kertas dari gambar ini,” kemudian It Teng berkata pula. “Pernahkah kau mendengar namanya gunung Pek To San di Wilayah Barat itu?”

Pek To San ialah gunung Unta Putih.

“Gunungnya See Tok Auwyang Hong?” tanya Oey Yong terkejut.

“Tidak salah,” menyahut si pendeta perlahan. “Gambar ini pun dilukis oleh Auwyang Hong.

Oey Yong dan Kwee Ceng kaget sampai mereka bungkam.

It Teng Taysu bersenyum.

“Auwyang Kongcu itu seorang yang pandai berpikir dan jauh pendengarannya,” katanya.

“Supee, aku tidak tahu kalau gambar ini dilukis oleh si bisa bangkotan itu!” kata Oey Yong. “Kalau begitu dia bermaksud tidak baik tentu…”

It Teng bersenyum, tetapi kapan ia melihat parasnya si nona, yang merah, suatu tanda nona ini lagi menahan sakit, ia mengulur tangannya memegang pundak orang.

“Baiklah belakangan saja kita bicara lebih jauh. Sekarang yang penting ialah mengobatimu,” katanya. Lalu ia mengajak si nona pergi ke kamar samping.

Belum lagi mereka memasuki kamar itu, si pelajar dan si petani, yang saling melirik, sudah mendahului lompat ke pintu kamar untuk menghalangi di situ. Keduanya lantas berlutut dan berkata, “Suhu, biarlah teecu saja yang mengobati nona ini.”

It Tent menggeleng kepala.

“Apakah pelajaranmu telah cukup?” ia bertanya. “Apakah kau sanggup mengobati hingga sembuh?”

“Teecu akan mencoba sebisa-bisanya,” menyahut kedua murid itu.

Si pendeta lantas mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

“Apakah nyawa manusia dapat dicoba-coba?” ia kata nyaring.

“Dua orang ini datang ke mari atas petunjuk orang jahat,” kata si pelajar, “Mereka pasti tidak mengandung maksud baik. Walaupun suhu bermaksud baik hendak menolongi orang tetapi tidak dapat suhu kena diperdayakan akal jahat!”

It Teng menghela napas.

“Apakah yang setiap hari aku mengajarkan kamu?” ia tanya perlahan-lahan. “Baiklah kau bawa gambar ini dan pergilah lihat-lihat.”

Guru ini menyerahkan gambarnya Auwyang Hong itu.

Si petani mengangguk dalam.

“Suhu, gambar ini dilukis See Tok,” katanya. “Inilah akal busuk dari Auwyang Hong…”

Kelihatannya murid ini bergelisah sekali, sampai air matanya turun mengalir.

Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi dengan bingung. Mereka tidak menyangka, kenapa tindakannya It Teng Taysu untuk mengobati ada demikian rupa sangkut pautnya. Apakah yang menyebabkan sikapnya kedua murid itu?

“Bangun, bangun,” kata It Teng perlahan. “Jangan kamu menyebabkan hati tetamu kita menjadi tidak tenang.”

Suara itu sabar akan tetapi nadanya ialah nada dari putusan mutlak. Kedua murid itu rupanya mengerti, terpaksa mereka berdiam, mereka berbangkit untuk berdiri di pinggaran, kepala mereka tunduk.

It Teng Taysu mengajak Oey Yong masuk.

“Kau juga masuk!” ia memanggil Kwee ceng, yang berdiri diam.

Pemuda itu bertindak masuk.

Setelah itu, It Teng menarik turun sero bambu, terus ia menyulut sebatang hio, untuk ditancap di tempat abu di atas meja.

Kamar itu berperabot kecuali sebuah meja bambu itu cuma dengan tiga buah tempat duduk dari tikar. Oey Yong diperintah duduk di tikar yang tengah. Kepada Kwee Ceng ia memesan, “Kau jagai hio itu, kalau sudah terbakar habis, kau beritahu aku.”

Pemuda itu menyahuti, “Ya!”

Lantas It Teng duduk di tikar di samping si nona, matanya memandang ke sero, segera ia memesan pula kepada si anak muda; “Kau jagai pintu juga, jangan ijinkan orang lain masuk ke mari – tidak peduli adik seperguruanku atau murid-muridku, kau jangan kasih masuk!”

Kwee ceng heran tetapi ia berikan janjinya.

Habis itu It Teng merapatkan kedua matanya. Tapi tak lama, ia melek pula, ia berkata kepada si pemuda, “Jikalau mereka itu sampai menggunai kekerasan, kau lawan! Ingat, di sini ada bergantung jiwanya sumoymu!”

Kwee Ceng mengangguk, ia jadi semakin heran, hatinya pun tegang.

It Teng lalu berkata kepada Oey Yong, “Kau kedorkan seluruh tubuhmu, tidak peduli ada rasa nyeri atau gatal bagaimana hebat juga, jangan kau membuat perlawanan atasnya!”

Si nona tertawa ketika ia menyahuti, “Aku menganggap diriku sudah mati…!”

Mau tidak mau, It Teng pun tertawa.

“Anak yang baik, kau benar-benar pintar!” ia memuji. Ia lantas menutup pula matanya untuk memusatkan pikirannya. Ketika hio sudah terbakar kira satu dim, mendadak ia berlompat bangun, tangan kirinya diangkat, diletaki di dadanya, tangan kanannya, dengan jari telunjuknya, diarahkan, ditotokan ke jalan darah pek-hwee-hiat di embun-embunan Oey Yong.

Ketika ditotok itu, tanpa merasa, Oey Yong berjingkrak sendirinya, terus ia merasa dari embun-embunnya itu keluar hawa panas.

Habis menotok, It Teng menarik pulang tangannya itu, hanya belum lewat sejenak, kembali ia sudah menotok, sekarang di jalan darah houw-teng-hiat di belakang jalan darah pek-hwee-hiat itu, terpisahnya cuma satu dim. Setelah itu, dengan saling susul ia menotok terus pelbagai jalan darah lainnya, seperti kiang-kian-hiat, laohu-hiat, honghu-hiat, ah-bun-hiat, taytwie-hiat, totoo-hiat dan lainnya, maka ketika hio terbakar baru setengah batang, dia sudah menotok semua tigapuluh jalan darah.

Kwee Ceng telah maju jauh, maka itu ia bisa menyaksikan cara menotok dari It Teng itu, hingga ia melihat tegas kelihayan si pendeta. Sesuatu gerakan beda satu dari lain. Ilmu totok semacam itu, ia belum dapat dari Kanglam Liok Koay, bahkan di dalam kitab bagian ilmu totok dari Kiu Im Cin-keng, tidak ada dicatat juga. Menyaksikan itu, ia kagum hingga mulutnya terbentang dan matanya hampir kabur. Selama itu ia tidak ingat yang It Teng lagi menggunai seluruh tenaga dalamnya guna menyalurkan semua jalan darah dan nadi Oey Yong.

Habis menotok itu, It Teng duduk untuk beristirahat. Sesudah itu, sesudah Kwee Ceng menyulut sebatang hio yang lain, ia mulai bekerja pula. Kali ini dia menotok duapuluh lima jalan darah yang disebut bagian nadi dim-meh. Pula kali ini, totokan dilakukan dengan kesebatan, gerakannya bagaikan sesapung menyambar-nyambar air, ia seperti menahan napas. Yang hebat, semua totokan itu tidak pernah gagal.

“Sungguh hebat, di kolong langit ini ada kepandaian seperti ini,” kata Kwee Ceng di dalam hatinya saking kagum.

Kemudian It Teng Taysu menotok pula empatbelas jalan darah yang disebut im-wie-meh. Juga totokan itu dilakukan dengan lain cara, dengan gerak-gerik kaki “jalan naga” dan “tindakannya harimau”, hingga sikapnya nampak sangat angker, hingga dimatanya Kwee Ceng, dia bukan lagi seorang pendeta suci dan alim, hanya seorang raja dari berlaksa rakyat negeri. Sekali ini It Teng tidak beristirahat lagi, ia meneruskan menotok tigapuluh dua jalan darah dari yang-wie-meh. Totokan ini dari jarak sedikit jauh. Umpama ketika ia menotok jalan darah hongtie-hiat di leher si nona, ia berlompatan dari jarak setombak, habis itu terus ia lompat mundur pula, demikian seterusnya.

Menampak cara menotok itu, Kwee Ceng kata di dalam hatinya, “Kalau kita lagi bertempur sama musuh yang tangguh, apabila bertempur dengan rapat berbahaya, bolehlah kita pakai cara jauh ini. Dengan begitu, sambil menyerang untuk merebut kemenangan, kita juga dapat membela diri dengan sempurna.”

Demikian, sembari menonton, anak muda ini mengingati baik-baik setiap totokan itu, bagaimana sikapnya, dari bersiap sampai menotok dan sampai sesudahnya itu, untuk mulai dengan lain-lain totokan lagi. Diam-diam ia juga mengutuk dirinya, yang dikatakan bebal sekali, yang gampang lupa, hingga ada yang baru dilihat lalu tak teringat lagi.

Setelah menukar lagi dua batang hio, It Teng sudah selesai menotok dua bagian jalan darah im-kiauw dan yang-kiauw. Ketika Kwee Ceng melihat totokan pada jalan darah kie-kut-hiat, mendadak ia ingat, “Ah, totokan ini ada termuat di dalam Kiu Im Cin-keng! Dasar aku yang tolol, aku tidak dapat menangkap maksudnya!”

Sekarang ia melihat gerak-gerak It Teng sama dengan petunjuk-petunjuk dalam kitab Kiu Im Cin-keng itu. Hal ini menggampangi ia mengingat-ingat, hingga ia mengingat baik tempo It Teng menotok jalan darah ciong-meh.

Paling belakang It Teng Taysu hendak menotok jalan darah tay-meh. Untuk itu, ia mesti jalan ke belakang Oey Yong. Pertama kali ia menotok ciangbun-hiat, sedang semuanya ada delapan jalan darah. Sekarang nampak gerakannya si pendeta sangat lambat, agaknya ia bergerak sukar sekali, sedang napasnya sudah memburu dan tubuhnya terhuyung, bagaikan ia tak kuat berdiri lebih lama pula.

Kwee Ceng melihat semua itu, ia terkejut apapula kapan ia menampak peluh membasahi jidatnya pendeta itu, mengucur di alisnya yang putih dan panjang itu. Ia ingin maju menolongi tetapi ia khawatir mengganggu. Tempo ia mengawasi Oey Yong, si nona telah bermandikan keringat, pakaiannya basah. Dia pun mengerutkan alis dan menutup mulut rapat-rapat, rupanya ia melawan rasa nyeri yang hebat.

Selagi anak muda ini terbengong, mendadak ia mendengar satu suara di sebelah belakang, ialah dari tersingkapnya sero bambu, suara mana disusul sama panggilan nyaring, “Suhu!” Disusul lagi sama masuknya orang yang berseru itu. Belum ia ingat itu, ia segera menyerang ke belakang, dengan salah satu totokannya It Teng barusan. Ia menyerang saling susul dengan cepat sekali hingga empat kali. Sebagai kesudahan dari itu, ia mendengar suara robohnya beberapa orang. Sekarang barulah ia menoleh ke belakang, tepat di saat satu orang, ialah si pelajar, berlomnpat ke belakang, hingga ia bebas dari totokan. Yang roboh ialah si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani bertiga, mereka terus rebah di lantai. Ia bengong mengawasi mereka, sebab tak dipikirnya untuk menyerang mereka itu. Ketika ia memandang si pelajar itu, dia itu lagi mengawasi ia dengan bengis, satu tanda orang ada sangat gusar.

“Habis sudah!” berseru si pelajar dalam murkanya. “Apalagi yang hendak dicegah?”

Kwee Ceng menoleh, maka ia melihat It Teng Taysu lagi duduk bersila di atas tempat duduknya, mukanya pucat sekali, bajunya basah dengan peluhnya, sedang Oey Yong telah roboh dengan tubuh tak bergerak, entah dia sudah meninggal atau masih hidup. Maka dalam kagetnya, ia lompat menubruk, guna mengasih bangun. Paling dulu hidungnya mendapat cium bau amis.

Muka nona itu pucat bercampur sinar biru, tak ada cahaya dari darahnya, hanyalah sinar hitamnya yang samar-samar sudah lenyap semua.

Kwee Ceng mendengari napas orang di hidung, jalan napas itu berat sekali. Tapi dengan mendapat dengar suara napas itu, ia merasa lega sedikit.

Ketika itu si pelajar sudah menolongi menotok bebas si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani, bersama-sama mereka merubungi guru mereka, semua membungkam, roman mereka diliputi kedukaan dan kegelisahan.

Kwee Ceng tidak memperhatikan mereka itu, ia terus menungggui si nona, muka siapa ia awasi. Maka hatinya menjadi bertambah lega kapan dengan perlahan-lahan ia mendapatkan paras nona itu berubah pula sedikit dadu. Hanya paras dadu itu, lama-lama berubah terus, lalu merah, habis mana kedua pipi nona itu terasa panas begitu pun dahinya, panasnya seperti api ketika dahi itu diraba.

Lagi beberapa saat, butir-butir peluh yang besar turun dari jidatnya di nona lalu kembali parasnya berubah, dari merah menjadi putih pula. Kejadian ini terulang sampai tiga kali, tiga kali juga peluh keluar banyak sekali. Diakhirnya, Oey Yong mengeluarkan suara kaget dan kedua matanya dibuka, terus ia menanya, “Engko Ceng, mana dapur? Mana es?”

Bukan kepalang girangnya Kwee Ceng mendengar orang dapat berbicara.

“Apa dapur? ia bertanya. “Apa es?”

Si nona melihat ke seputarnya, ia menggeleng kepala. Akhirnya ia tertawa.

“Ah, aku bermimpi hebat sekali!” katanya. “Aku bermimpikan Auwyang Hong, Auwyang Kongcu dan Khiu Cian Jin. Mereka itu menjebloskan aku ke dalam dapur, untuk dipanggang, lalu mereka mengambil es, dengan apa aku dibikin dingin, setelah tubuhku dingin, dia membakar pula…Ah, sungguh menakutkan! Eh, bagaimana dengan It Teng Taysu?”

It Teng membuka matanya, ia tertawa.

“Lukamu sudah sembuh,” katanya. “Sekarang kau perlu beristirahat satu atau dua hari. Jangan sembarang bergerak, supaya kau nanti sembuh seluruhnya.”

“Seluruh tubuhku rasanya tidak bertenaga sama sekali,” berkata si nona, “Sampai pun jari tangan malas digeraki…”

Ketika itu si petani mendelik pada si nona, dia agaknya sangat gusar. Oey Yong melihat itu, ia tidak mengambil mumat. Ia hanya kata kepada paman gurunya itu.

“Supee tentulah sangat lelah sebab untuk mengobati aku, supee telah mengeluarkan banyak tenaga. Aku mempunyai obat Kiu-hoa Giok-louw-wan buatan ayahku, apa supee mau memakannya beberapa biji?”

“Bagus!” kata It Teng gembira. “Aku tidak menyangka kau membawa obat mujarab buatan ayahmu itu. Itulah obat untuk menambah tenaga. Ketika kita merundingkan ilmu pedang di Hoa San, tempo semuanya sudah sangat letih, ayahmu membaginya kepada kami beramai, habis makan itu, kita semua menjadi segar sekali.”

Oey Yong lantas mengeluarkan kantong obatnya, untuk diserahkan pada si paman guru.

Si petani lari ke dapur, untuk mengambil semangkok air, sedang si pelajar mengeluarkan obat itu, semuanya dikeluarkannya obat itu, lalu semuanya dikasihkan pada gurunya.

“Tidak begini banyak!” berkata It Teng tertawa. “Obat ini sangat sukar dibuatnya. Cukup kita minta separuhnya saja.”

“Tetapi suhu!” berkata si pelajar, yang romannya cemas, “Meski obat di dalam dunia digotong semua ke mari, itu masih belum cukup!”

Pendeta itu tidak tega menampik, maka ia lantas menelan beberapa puluh butir, yang ia bantu dengan air beberapa ceglukan. Kemudian ia kata kepada Kwee Ceng, “Kau pergi pimpin sumoymu ini untuk beristirahat dua hari, setelah itu kamu pergi turun gunung, tak usah kamu menemui aku lagi. Eh, ada satu urusan yang aku hendak minta dari kamu…”

Kwee Ceng sudah lantas menjatuhkan dirinya berlutut seraya mengangguk empat kali hingga kepalanya membentur lantai. Oey Yong pun turut menjura, sambil berkata perlahan, “Supee telah menolongi jiwaku, budimu ini tidak nanti keponakanmu berani melupakannya.”

It Teng tertawa. “Lebih baik dilupakan, supaya tak usah diingat-ingat lagi,” katanya, seraya ia terus menoleh kepada Kwee Ceng, untuk memberi pesannya, “Kamu telah naik ke gunung ini, hal itu segala kejadian di sini, jangan kamu omongkan kepada orang lain, juga tak usah kau menyebutkannya kepada gurmu.”

Kwee Ceng tercengang. Ia justru lagi memikirkan bagaimana harus membawa gurunya datang ke mari guna minta pertolongan paman guru ini.

It Teng tertawa. Ia berkata pula, “Kamu juga lain kali tak usah datang pula ke mari, kami sekaligus hendka pindah.”

“Pindah?” tanya si anak muda heran. “Pindah ke mana, supee?”

It Teng tersenyum, ia tidak menjawab.

“Ah, engko tolol,” kata Oey Yong tertawa. “Karena tempat supee ini telah ketahuan oleh kita maka supee mau pindah. Mana supee dapat memberi keterangan padamu?”

Meski ia berkata begitu, nona ini sebenarnya berduka sekali. Itulah gara-garanya dia maka si supee mau pindah meninggalkan tempat kediamannya yang bagus ini. Mana bisa ia melupakan budi yang sangat besar itu? Mengingat begini, ia mengawasi empat murid orang, yang telah berkumpul semua. Ia ingin berkata-kata kepada mereka itu. Hanya belum lagi ia membuka mulutnya, mendadak paras It Teng menjadi pucat, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dari tempat duduknya!

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: