Kumpulan Cerita Silat

10/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 60

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:17 am


Bab 60. Wanita dari Rawa Lumpur Hitam
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Oey Yong mendengar permintaan itu, ia tertawa.

“Burungku ini tidak dapat menggendong dua orang!” ia riang gembira. “Kamu bersaudara kandung, kau baiklah minta ampun pada saudaramu itu!” Dan ia menepuk burungnya, menyuruhnya si burung terbang terus.

Melihat orang hendak pergi, timbullah hati jahat si orang tua.

“Nona yang baik,” ia berseru, “Kau lihatlah permainanku ini, menarik hati atau tidak?”

Oey Yong tertarik, ia memutar balik burungnya untuk datang mendekati.

Khiu Cian Lie menanti sampai orang telah datang cukup dekat, mendadak ia berlompat menubruk, memegang erat-erat pada si nona, hingga di lain saat, mereka telah berada bersama di punggung rajawali itu. Ia tidak memperdulikan nona itu kaget.

Orang tua itu menjadi nekat. Ketika ular masuk ke dalam gua, ia mengusirnya. Untuk itu, ia pergi sampai di luar gua. Di sini ia dapt dilihat oleh orang-orang Tiat Ciang Pang. Itu berarti keputusan mati untuknya. Ia telah memasuki tempat keramat dan terlarang. Jangan kata ia, sekalipun pangcu sendiri, apabila tanpa sebab dia masuk ke situ, dia bagian mati. Maka itu, ingin ia dapat lolos.

Burung rajawali betina itu benar-benar tidak kuat membawa dua orang. Dia terbang tetapi dia bukan maju jauh, dia turun ke bawah, cuma dengan menggeraki kedua sayapnya dengan sepenuhnya tenaga, baru ia dapat memperlambat turunnya itu. Dia tetap turun….

Khiu Cian Lie memegang erat-erat kepada Oey Yong. Syukur dia ini diikat tubuhnya, kalau tidak tentulah telah terlepas pegangannya pada burungnya itu.

Burung betina itu mengasih dengar suaranya berulang-ulang. Yang jantan mendengar itu, dia hendak menolongi, tetapi bagaimana?

Orang-orang Tiat Ciang Pang lantas dapat melihat peristiwa luar biasa itu. Mereka heran dan kaget, semua mengawasi dengan mata terbuka dan mulut menganga, tidak ada yang bersuara.

Disaat Oey Yong terancam bahaya itu, tiba-tiba satu sinar merah berkelebat di dekatnya. Itulah hiat-niauw, si burung api, yang menyambar dari belakang gunung. Sebab tadi ia terbang mengikuti majikannya. Dan burung ini menyambar matanya Khiu Cian Lie.

Dalam keadaannya itu, orang she Khiu itu tidak dapat membela diri. Ia juga tidak menyangka sama sekali sang burung bakal menghajar matanya. Ia kaget dan kesakitan, lupa kepada pegagannya kepada tubuh Oey Yong, ia mengucak matanya. Tepat ia mengucak matanya, tepat terlepas pegangannya, maka sia-sialah segala dayanya pula, tubuhnya lantas terpelanting jatuh. Maka dilain saat terdengarlah suara hebat dan menyayatkan hati datangnya dari lembah. Di lain saat, burung rajawali telah dapat terbang pula seperti biasa bersama nona majikannya itu, mendekati burung yang jantan, untuk terbang berendeng.

Selagi mendekati kaki gunung, Kwee Ceng mengasih dengar siulannya yang nyaring, untuk memanggil kudanya. Ia sekarang berlega hati, sedang tadi ia kagetnya bukan main, takutnya tak terkira, sebab ia tak berdaya untuk menolongi kekasihnya. Oey Yong sendiri tidak kurang takutnya, hingga ia menyesal yang dirinya kena diperdayakan orang tua yang sudah nekat itu.

Kuda merah itu mendengar panggilannya, dia lari mengikuti, di darat, burung di udara.

Kwee Ceng merasa ia sudah terbang kira-kira tujuhpuluh lie, lantas ia memberi tanda kepada burungnya berdua untuk berhenti terbang, untuk turun ke tanah. Ia berkhawatir untuk Oey Yong, yang diam mendekam saja di punggung burungnya itu. Ketika ia memeriksa, benarlah si nona pingsan. Maka lekas-lekas ia menguruti, untuk membikin darahnya jalan seperti biasa.

Selang sekian lama, barulah si nona mendusin.

Ketika itu awan gelap, hingga si putri malam kena ketutupan. Kwee Ceng bingung juga. Sambil memeluki Oey Yong, ia memandang ke sekelilingnya. Ia berada di tengah tegalan, yang gelap.

Di situ terlihat tempat untuk memernahkan diri. Karena terpaksa, kemudian ia berjalan juga. Dia menerjang rumput yang tinggi sebatas dengkul. Sudah begitu, saban-saban duri pohon menusuk betisnya. Ia merasa sakit tetapi tak ia menghiraukannya. Ia jalan terus.

Secara begini, ia jalan perlahan sekali. Jagat gelap, jalanan tak kelihatan. Itulah hebat. Hatinya berdebaran, ia khawatir nanti kejeblos di liang atau jurang…

Sesudah menderita seperjalanan kira dua lie, mendadak Kwee Ceng melihat satu bintang besar, munculnya dari sebelah kiri. Rendah bintang itu, seperti di ujung langit, cahaya berkelak-kelik. Ia mengawasi, niatnya untuk mengenali arah tujuan. Karena ini ia lalu dapat melihat tegas, itulah bukan bintang hanya api.

“Ada api tentu ada rumah orang,” pikirnya. Maka ia menjadi mendapat hati. Maka ia berjalan terus, tindakannya lebar menuju ke arah api itu.

Ia telah jalan kira satu lie, lalu ia tiba di sutau tempat, di mana ada banyak pohon. Sekarang ternyata, api terlihat dari antara pepohonan. Setelah masuk ke rimba, jalanannya tak lurus lagi. Jalanan kecil itu berliku-liku. Mendadak ia kehilangan api itu.

Kwee Ceng tidak putus asa. Ia lompat naik ke atas sebuah pohon. Dari situ, ia melihat ke bawah. Ia mendapat kenyataan ia telah melewati api itu, yang sekarang berada di sebelah belakangnya. Ia turun, ia menuju balik. Kembali ia kehilangan api itu. Ia menjadi heran setelah ia mengalami kejadian itu dua tiga kali. Ia merasakan kepalanya pusing dan matanya seperti kabur. Terus ia tidak dapat mendekati api itu. Kudanya serta tiga ekor burungnya, entah ada di mana.

Karena jengkel, Kwee Ceng ingin jalan di atas pohon saja. Tapi ini sukar dilakukan. Rimba itu gelap dan ia mesti memodong-mondong Oey Yong. Ia juga khawatir nanti kejeblok atau si nona kena kelanggar cabang-cabang pohon, yang dapat melukakannya. Untung ia sabar, ia tidak menjadi putus asa. Ia beristirahat sebentar, lantas ia berjalan pula.

Oey Yong terluka dan tubuhnya lemah, tetapi dasar cerdik, otaknya berjalan. Ia melihat bagaimana ia dibawa putar kayun oleh Kwee ceng, dengan perlahan-lahan ia mulai mengerti jalan di dalam rimba itu. Ia menggunai otaknya, meramkan matanya.

“Engko Ceng,” katanya kemudian, “Jalan ke kanan, ke samping,”

Girang si anak muda mendengar orang dapat berbicara.

“Ah, Yong-jie, kau baik?” tanyanya.

Nona itu menyahuti tetapi tidak tegas.

Kwee Ceng menurut. Ia maju ke kanan, lalu nyamping.

Oey Yong mengingat-ingat. Setelah tujuhbelas tindak, ia berkata pula, “Engko Ceng, jalan ke kiri, delapan tindak.”

Kwee Ceng menurut.

“Sekarang ke kanan lagi, nyamping, tigabelas tindak.”

Kwee Ceng menurut pula.

Kali ini mereka berjalan dengan si anak muda mengikuti petunjuk dari si nona. Oey Yong sudah lantas dapat menduga, jalanan bukan jalanan wajar, hanya buatan manusia. Dia adalah anak gadisnya Oey Yok Su, dan ia telah mendapatkan separuh lebih warisan ayahnya itu mengenai jalan rahasia. Maka juga, meskipun ia meram, ia seperti bisa melihat tegas jalanan di dalam rimba itu.

Demikian mereka jalan sana jalan sini, maju dan mundur. Akhirnya, dengan lekas, mereka menghadapi api tadi. Kwee Ceng girang hingga ia lantas membuka tindakan lebar untuk berlari.

“Jangan kesusu!” Oey Yong mencegah.

Tapi Kwee Ceng sudah berlari.

Mendadak anak muda itu berkoak, karena kedua kakinya sudah menginjak lumpur, bahkan kaki itu lantas terpendam dalam sebatas dengkul. Syukur ia lihay, dengan segera ia menggenjot diri dengan ilmunya ringan tubuh, untuk berlompatmundur. Ketika ia kembali ke tanah kering, hidungnya mencium bau lumpur itu. Ia berdiri diam dan mengawasi. Cahaya api itu membantu kepadanya. Ia menampak ada kabut putih di depannya itu, di situ ada sebuah rumah dengan dua ruang. Api keluar dari rumah itu, ialah rumah atap.

“Kami ada orang pelancongan!” Kwee Ceng lantas berkata, “Kami pun mendapat sakit berat, maka itu kami minta tuan rumah sukalah berlaku murah dengan mengijinkan kami menumpang beristirahat seraya meminta air hangat.”

Di dalam malam yang sunyi itu, suara Kwee Ceng cukup keras, akan tetapi sampai sekian lama, ia tidak memperoleh jawaban, dari itu ia lekas berbicara pula menyebutkan permintaannya itu untuk menumpang singgah.

Lagi-lagi tidak ada penyahutan.

Ketika lewat sekian waktu, Kwee Ceng mengulangi permintaannya untuk ketiga kalinya, baru ia mendapat jawaban dari seorang perempuan, katanya, “Kamu telah dapat tiba di sini, sudah tentu kamu mempunyai juga kepandaian untuk masuk ke dalam rumahku ini. Mustahil aku mesti keluar menyambut kamu?”

Suara itu tawar sekali, terang orang tidak sudi kedatangan tamu.

Di hari-hari biasa, tidak suka Kwee Ceng mengganggu orang, lebih suka ia tidur di dalam rimba atau tempat terbuka, akan tetapi sekarang ia ada bersama Oey Yong yang lagi sakit itu, ia membutuhkan rumah. Maka dengan perlahan ia berdamai sama si nona. Ia kata rumah dikurung lumpur. Bagaimana mereka bisa menghampirkan rumah itu?

Oey Yong membuka matanya, ia mengawasi sekian lama.

“Rumah ini dibangun di tengah-tengah rawa lumpur,” katanya kemudian. “Sekarang coba perhatikanlah, bukankah benar modelnya satu bundar dan satu persegi empat?”

Kwee Ceng membuka matanya lebar-lebar, lantas ia menjadi girang sekali.

“Oh, Yong-jie, bagaimana kau ketahui itu?” ia bertanya.

“Pergi kau ke belakang rumah yang bundar itu,” kata Oey Yong tanpa menyahuti. “Di situ kau jalan lempang ke arah api banyaknya tiga tindak, lalu nyamping lima tindak, lalu lempang lagi tiga tindak. Dengan lurus dan nyamping itu, kau tidak bakal salah jalan.”

Kwee Ceng menurut perkataan si nona. Benarlah, setiap kakinya ditaruh, kaki itu menginjak pelatok kayu, yang dapat bergerak miring ke sana ke mari, maka siapa tak pandai ilmu enteng tubuh, pastilah ia tak dapat menaruh kakinya dan berjalan di situ. Ia jalan terus, sampai seratus sembilanbelas tindak, maka dapatlah ia jalan mutar hingga di depan rumah yang persegi empat itu. Sekarang terlihat tegas, rumah itu tanpa pintunya.

Oey Yong berbisik, “Dari sini kau berlompat, kau menaruh kaki di sebelah kiri.”

Kwee Ceng menurut, sambil terus menggendong si nona, ia berlompat. Sementara itu ia heran sekali. “Semua dapat diterka Yong-jie!” katanya dalam hatinya.

Tempat di mana si anak muda menaruh kaki adalah tanah, sedang yang di sebelah kanan adalah air atau pengembang.

Berjalan di pekarangan ini, Kwee ceng masuk ke sebelah dalam. Di situ ada pintu model rembulan, yang tak ada daun pintunya.

“Masuk!” kata Oey Yong. “Tidak ada yang aneh di dalamnya.”

Kwee Ceng mengangguk, terus ia berkata nyaring, “Kami orang yang tengah membuat perjalanan lancang memasuki rumah ini, harap tuan rumah suka memaafkannya,” kata-katanya ini diikuti dengan tindakannya masuk ke dalam.

Sekarang Kwee Ceng melihat sebuah meja panjang, di atas mana ada ditaruh tujuh buah pelita, ditaruhnya rapi seperti bintang Pak Tauw. Di depan meja, di tanah ada berduduk seorang wanita tua, yang rambutnya telah ubanan, bajunya dari kain kasar, matanya mengawasi ke tanah di mana ada banyak lembaran bambu, dia seperti sedang memikirkan lembaran bambu itu rupanya, sampai dia tidak mau mengangkat kepalanya walaupun dia mendengar suara tetamunya.

Kwee Ceng meletaki Oey Yong di atas kursi. Ia memandang mukanya, lantas ia merasa sangat berkasihan. Wajah si nona sangat pucat dan kucal. Ia hendak membuka mulutnya, guna meminta air hangat, tetapi ia batal. Ia melihatnya si nyonya rumah tengah memusatkan perhatiannya, jadi ia khawatir mengganggu pemusatan pikiran orang itu.

Setelah dapat berduduk beberapa saat, Oey Yong pulih sedikit kesegarannya. Maka itu, ia juga dapat memperhatikan si nyonya serta lembaran-lembaran bambu yang lagi diawasi nyonya tua itu. Setiap lembaran bambu itu panjangnya kira-kira empat dim dan lebar dua hoen. Dan si nyonya agaknya berat memikirkan itu. Ia lantas mengerti hitungan apa adanya itu. Oleh ayahnya, ia telah diajari dan ia mengingatnya dengan baik.

“Lima! Duaratus tigapuluh lima!” katanya tiba-tiba.

Si nyonya terkejut, dia mengangkat kepalanya, matanya nampak tajam sekali, agaknya ia gusar. Hanya sebentar, ia mulai menghitung pula.

Kwee Ceng dan Oey Yong melihat kulit orang bersih, usianya ditaksir baru tigapuluh tujuh kira-kira, mungkin disebabkan banyak pikir, maka rambutnya telah ubanan.

Habis menghitung, wanita tua itu tampaknya heran. Tepat hitungannya si nona tadi. Maka ia mengangkat pula kepalanya, memandang nona itu. Ia melihat tegas satu wajah muda cantik dan cantik, hanya lesu. Kemudian ia tunduk pula, akan menghitung lebih jauh.

Oey Yong mengawasi, sampai sekian lama si nyonya belum dapat memecahkan, lalu ia berkata dengan perlahan, “Duaratus duapuluh empat!”

Kembali nyonya itu terkejut. Ia lantas mengangkat kepalanya. Agaknya ia penasaran, maka ia menghitung terus. Segera juga ia mendapat jawaban, yang akur sama perkataan si nona. Maka ia berdiri dengan melempangkan pinggangnya. Sekarang ia nampak lebih nyata. Jidatnya sudah keriputan, usianya disangsikan sudah tigapuluhan, mungkin baru duapuluhan lebih. Kedua matanya bersinar tajam.

“Mari ikut aku!” katanya kepada si nona, tangannya menunjuk ke dalam kamar. Ia mengambil sebuah pelita, ia membawanya itu ke dalam kamar yang ditunjuk itu.

Kwee Ceng memepayang Oey Yong untuk mengikuti. Hanya setibanya di mulut pintu, ia merandak, tidak berani ia turut masuk. Ia melihat kamar itu, yang temboknya bundar, lantainya penuh pasir, di atas pasir itu ada coretan tanda-tanda lurus dan bundar, ada pula guratan huruf-huruf thay, thian-goan dan lainnya, yang ia tidak tahu artinya. Ia takut nanti merusak itu semua.

Oey Yong melihat semua itu, ia mengerti itu adalah ilmu “Thian-goan Cie Soet” (yang mirip dengan aljabar), maka ia menarik tongkatnya dari pinggangnya, sambil bergelendot pada Kwee Ceng, ia mencoret-coret di atas pasir itu. Ia memecahkan beberapa hitungan, yang si nyonya belum dapat menjawabnya. Maka lagi-lagi ia membuatnya nyonya itu heran.

Setelah mengawasi dengan tercengan, si nyonya menanya, “Kau siapa?”

“Itulah hitungan Thian-goan yang tidak sulit,” berkata Oey Yong, yang tidak menjawab langsung, dan tanpa diminta, ia menjelaskan pokoknya hitungan itu.

Muka si nyonya menjadi pucat, tubuhnya bergoyang. Mendadak ia menjatuhkan diri di atas pasirnya, tangannya memegangi kepalanya. Kelihatannya ia berpikir keras sekali. Kemudian ia mengangkat kepalanya, lalu wajahnya menjadi terang.

“Dalam hal menghitung, kau terlebih pandai daripada aku!” katanya. “Sekarang jawab aku, bagaimana kau menghitung ini?” Dan ia menunjuki hitungannya di atas pasir.

Oey Yong mengingat baik bagaimana ayahnya mengatur Tho Hoa To hingga menjadi pulau rahasia, pulau keder yang tidak dapat dimasuki sembarang orang.

“Gampang!” sahutnya, dan ia menggurat-gurat pula di atas pasir itu.

Muka si nyonya itu menjadi pucat pula, lalu ia menghela napas.

“Aku kira inilah ciptaan sendiri, kiranya lain orang pun telah mengetahuinya,” katanya masgul.

“Semua itu gampang,” kata pula Oey Yong, dan ia membacanya di luar kepala. “Kau boleh coba.”

Si nyonya menghitung menuruti ajaran si nona dan ia berhasil!

“Semua ini mengenai pat-kwa,” kata Oey Yong pula. Ia menjelaskan terlbih jauh. “Rupanya kau belum jelas dengan petanya.” Terus ia menggurat-gurat lagi.

Nyonya itu menjublak, matanya terpentang, mulutnya terbuka lebar. Lantas ia berbangkit, tubuhnya nampaknya bergemetar.

“Nona, kau siapa?” akhirnya ia tanya. Tapi, sebelum ia menanti jawaban, mendadak ia menekan ulu hatinya, mukanya meringis, tanda ia menahan sakit. Dari sakunya lekas-lekas ia mengeluarkan satu peles obat, yang terisi pil warna hijau, ia mengeluarkan sebutir dan terus dimakannya. Lewat sesaat, wakahnya menjadi sedikit tenang.

“Habis sudah…!” katanya tiba-tiba, lalu ia mengucurkan air mata.

Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang. Mereka heran untuk sikap nyonya ini.

Tidak lama, kelihatannya si nyonya mau bicara, atau ia batal karena kupingnya lantas mendengar suara berisik yang datang dari jauh, lalu datang semakin dekat.

Kwee Ceng dan Oey Yong tahu itulah barisan pengejar dari Tiat Ciang Pang.

“Musuh atau sahabat?” tiba-tiba si nyonya tanya.

“Musuh yang lagi mengejar kami,” sahut Kwee Ceng terus terang. Suara berisik itu mendekati terus.

“Tiat Ciang Pang toh?” tanya pula si nyonya.

“Benar,” menjawab Kwee Ceng.

Nyonya itu memasang kupingnya lalu ia berkata, “Khiu Pangcu memimpin sendiri orang-orangnya itu,” katanya sesaat kemudian. “Sebenarnya kamu ini siapa?!”

Pertanyaan ini luar biasa, saking bengisnya.

Kwee Ceng maju di depan Oey Yong, untuk menghalangi, lalu ia menjawab dengan nyaring, “Kamilah murid-muridnya Khiu Cie Sin Kay Ang Pangcu. Ini adik seperguruanku telah kena dilukai Khiu Cian Jin dari Tiat Ciang Pang, karena itu kami menyingkir ke mari, maka umpama kata cianpwee ada punya sangkutan sama Tiat Ciang Pang itu dan tak sudi menerima kami, sekarang juga kami meminta diri.”

Habis berkata, pemuda ini menjura, lalu ia memegangi Oey Yong, untuk dibawa pergi.

Nyonya itu tertawa tawar.

“Usia begini muda tetapi sudah keras kepala!” katanya. “Kamu dapat bertahan tetapi adikmu ini tidak, kau mengerti? Aku kira kamu siapa, tidak tahunya kamu murid-murid Ang Cit Kong. Pantas kamu lihay!”

Habis berkata, si nyonya memasang kuping. Ia mendengar suara berseru-seru orang-orang Tiat Ciang Pang itu, sebentar jauh sebentar dekat, sebentar tinggi sebentar rendah. Kemudian ia kata, “Mereka itu tidak menemui jalanan, mereka tidak dapat masuk ke mari. Umpama kata mereka toh dapat masuk, kamulah tetamu-tetamuku, kamu boleh melegakan hati. Apakah kau kira Sin…Sin…Eng Kouw dapat dibuat permainan?”

Sebenarnya dialah Sin-soan-coe Eng Kouw, si ahli hitung, tetapi mengingat si nona jauh terlebih pandai daripadanya, setelah menyebut Sin, ia tidak berani meneruskannya.

Kwee Ceng menjura, ia menghanturkan terima kasih.

Eng Kouw menghampirkan Oey Yong, ia membuka baju orang, untuk memeriksa lukanya. Ia mengerutkan keningnya, tanpa membuka suara, ia mengambil sebutir obatnya yang hijau itu, setelah melumerkan itu di air, ia mengangsurkan pada Oey Yong.

“Kau minum ini,” katanya.

Oey Yong menyambuti obat itu, tetapi ia bersangsi untuk meminumnya. Ia belum kenal nyonya ini.

Eng Kouw mengawasi, lalu ia tertawa dingin dan berkata, “Kau terlukakan tangan jahat Khiu Cian Jin, apakah kau masih memikir untuk sembuh pula? Umpama kata aku berniat mencelakakan kau, tidak perlu aku membuat begini. Inilah obat untuk menghentikan rasa sakit, kau tidak meminumnya pun tidak apa!”

Mendadak ia merampas pulang obatnya itu dan membuangnya ke tanah!

Kwee Ceng gusar melihat orang begitu kurang ajar terhadap kekasihnya.

“Adikku lagi terluka parah, mengapa kau membikin dia gusar begini macam?!” ia menegur.

“Yong-jie, mari kita pergi!”

Nyonya ini tertawa dingin pula. Ia kata, “Kamar Eng Kouw ini kecil tetapi apa kamu kira kamu dua orang muda bisa bilang pergi lantas dapat pergi dan bilang keluar lantas keluar? Hm!” Ia lantas memegang dua batang bambunya dan menghadang di ambang pintunya.

Kwee Ceng berpikir, “Tidak dapat dengan jalan halus, terpaksa aku mesti menerjang…” Maka ia berkata, “Cianpwee, maafkanlah aku!” Sembari berkata begitu, dengan gerakannya Hang Liong Yu Hui ia nerobos keluar. Ia menggunai setengah tenaganya karena ia khawatir nyonya itu tidak dapat mempertahankan diri. Ia pun tidak berniat melukakan nyonya itu.

Atas datangnya terjangan, si nyonya berkelit, tangan kirinya berbareng menolak dengan enteng, dengan begitu gampang saja ia mengasih lewat serangan itu.

Kwee Ceng menjadi heran sekali. Inilah ia tidak menyangka. Ia pun kaget karena tanpa perlawanan tubuhnya terjerunuk. Syukur ia bisa lantas mempertahankan diri.

Melihat demikian, si nyonya juga nampaknya heran. Ia tidak menyangka si anak muda bisa menahan diri hingga sampai jatuh ngusruk. Maka berserulah dia, “Ha, bocah, rupanya kau telah mewariskan semua kepandaian gurumu!” Ia lantas menggunai bambunya menotok jalan darah kiok-tek-hiat di sambungan tangan si anak muda.

Kwee Ceng melihat totokan itu, yang berbahaya, ia membebaskan diri dengan satu jurus lain dari Hang Liong Sip-pat Ciang juga. Sekarang ia mengerti ilmu silat si nyonya adalah dari pihak lunak. Karena ini, ia tidak berani alpa. Beberapa kali ia diserang secara berbahaya. Syukur ia telah mendapatkan ajaran Pek Thong, kedua tangannya dapat memecah diri, maka selalu ia lolos dari ancaman itu.

Selang beberapa jurus, Kwee Ceng kena terdesak dua tindak. Karena terancam, ia menjadi terpaksa. Maka ia lantas membalas menyerang dengan “Siang liong chio cu”, atau “Sepasang naga merebut mustika”. Inilah ajaran dari Ang Cit Kong yang ia peroleh semasa si Poo-eng, di dalam rumah abu keluarga Lauw.

Nyonya itu terkejut atas serangan itu, diwaktu berkelit, ia sampai mengeluarkan seruan. Walapun ia gesit, kali ini ia tidak dapat meloloskan diri sepenuhnya. Ia bebas dari tinju kanan yang lurus tetapi ia tidak dapat menyingkir dari serangan tangan kiri. Maka pundak kanannya kena tertekan tangan kiri si anak muda. Kwee Ceng tidak menggunai tenaga, sebab ia tahu, umpama si nyonya terbentur, tubuhnya bakal terlempar menabrak rumah dan rumah atapmya itu bisa roboh. Tapi juga dugaan si anak muda meleset. Ketika tangannya mengenai pundak orang, tangan itu seperti mengenai benda yang licin, yang terus meluncur lewat. Untuk kagetnya, tubuh si nyonya seperti tertegar dan dua batang bambunya dilemparkan ke tanah. Ia mengira nyonya itu terkena hebat, lekas-lekas ia menahan tangannya itu.

Nyatanya Eng Kouw menggunai tipu. Selagi si anak muda menarik pulang tangannya, sebab sekali ia membalas menyerang. Lima jarinya menusuk ke dada, di mana ada dua jalan darah sin-hong dan giok-sie.

Kwee Ceng terdesak, ia lantas berkelit, terus kedua tangannya dipakai menolak seperti tadi.

Itulah serangan membalas yang hebat. Si nyonya mengetahui itu, maka kembali ia membebaskan diri seperti tadi. Nyata ia telah menggunai “Nie-ciu Kang”, ialah ilmu silat si Lindung.

Sampai di situ, keduanya sama-sama berlompat mundur dan sama-sama bersiaga. Mereka telah menginsyafi lihaynya masing-masing. Kwee Ceng berpikir, “Aneh ilmu silat si nyonya ini. Dengan dia tidak bisa dihajar, bukankah tinggal aku sendiri yang setaip saat bisa diserang olehnya?” Dan si nyonya kata di dalam hatinya, “Ini anak masih muda sekali, cara bagaimana dia sudah jadi begini lihay?. Di sini aku telah bersembunyi sepuluh tahun lebih, aku telah mendapatkan ilmu yang luar biasa, aku memikir aku bisa menjagoi, hingga tak lama lagi, aku bisa pergi untuk menuntut balas, siapa tahu, bocah bau susu ini pun aku masih belum bisa merobohkannya…Tidakkah ini berarti sia-sia belaka aku menyiksa diri sepuluh tahun lebih. Bagaimana aku bisa nanti membalas sakit hatiku itu?” Ingat begini, ia menjadi berduka, tanpa merasa, matanya menjadi merah, air matanya lantas mengalir turun…

Kwee Ceng berhati mulia, ia mengira si nyonya telah terhajar keras olehnya, ia lantas berkata, “Maaf, cianpwee, aku yang muda berbuat kurang ajar terhadapmu, tetapi inilah bukan disengaja. Sekarang aku minta sukalah cianpwee mengijinkan kami berlalu…”

Eng Kouw mendapatkan sambil bicara si anak muda itu saban-saban melirik si nnona, agaknya ia sangat menyayang dan memperhatikan, melihat begitu, ia jadi ingat akan nasibnya sendiri yang tidak beruntung, yang terpisah jauh dari kekasihnya, yang tidak mempunyai harapan akan dapat berkumpul pula. Kapan ia ingat akan nasibnya, mendadak timbul rasa julesnya. Maka ia kata dengan dingin, “Anak perempuan ini telah terkena tangan beracun Ngo Tok Sin-ciang dari Khiu Cian Jin, paling lama ia hidup hanya tiga hari, perlu apa kau masih menyayangi dan melindunginya?”

Mendengar itu, Kwee Ceng kaget sekali, lekas-lekas ia menoleh kepada Oey Yong. Ia melihat muka si nona seperti ditawungi sinar guram. Dengan lantas ia lompat kepada kekasihnya itu.

“Yong-jie, bagaimana kau rasa?” ia menanya, suaranya menggetar.

Oey Yong merasai dada dan perutnya panas, sebaliknya kaki tangannya dingin. Ia menyahuti, “Engko Ceng, selama tiga hari ini, jangan kau meninggalkan aku pergi sekalipun cuma setindak. Dapatkah?”

“Setengah tindak juga aku tidak akan tinggalkan kau…” menjawab si anak muda cepat sedang hatinya mencelos. Rupanya si nona telah mendengar perkataannya si nyonya tua itu.

“Sekalipun tidak berpisah setengah tindak, temponya cuma lagi tigapuluh enam jam…! berkata si nyonya dingin.

Kwee Ceng mengangkat kepalanya, memandang nyonya itu. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menunjuk roman minta dikasihani, ialah agar nyonya itu jangan mengeluarkan kata-kata yang dapat melukai hatinya Oey Yong…

Sebenarnya Eng Kouw masih hendak memuasi kejelusannya ketika ia menmpak roman si anak muda ang lesu itu, ia lantas berpikir, “Adakah Thian mengirim dua orang ini ke mari untuk aku membalas sakit hatiku ini?” Ia mengangkat kepalanya, memandang langit. “Oh, Thian, Thian…” keluhnya.

Justru itu di luar terdengar pula suara berisik dari orang-orang Khiu Cian Jin, rupanya mereka masih mencari di sekitar situ dan sekarang kembali mendekati rumah yang dikurung dengan rawa lumpur, yang pepohonannya merupakan rahasia keder. Terang mereka menyangka si muda-mudi berada di dalam rumah tetapi mereka tidak berdaya untuk memasukinya.

Lewat lagi sesaat dari arah rimba terdengarlah suaranya Khiu Cian Jin, si ketua Tiat Ciang Pang, “Sin-soan-coe Eng Kouw, Kiu Tiat Ciang mohon bertemu denganmu!”

Suara itu datang dengan melawan angin tetapi karena dikeluarkannya dengan bantuan tenaga dalam yang mahir, terdengarnya terang sekali.

Eng Kouw bertindak ke jendela. Ia pun mengempor tenaga dalamnya. Ia menyahuti dengan suara yang panjang, “Aku ini biasanya tidak menerima kunjungan orang luar. Apakah kau tidak ketahui bahwa siapa datang ke tempatku ini, rawa lumpur hitam, dialah bagiannya mati, tidak bagian hidupnya?!”

Di sana terdengar pula suaranya Khiu Cian Jin, “Ada dua orang muda, satu pria dan satu wanita, masuk ke dalam rawa lumpr hitam kau ini, maka aku minta sukalah kau menyerahkan mereka padaku!”

“Siapakah yang dapat masuk ke dalam rawa lumpur hitamku ini?” berkata Eng Kouw. “Sekarang ini ada tengah malam buta rata, maka janganlah kau mengganggu tidur orang yang nyenyak!”

“Baiklah kalau begitu!” terdengar lagi suara Khiu Cian Jin. “Jangan kau berkecil hati!”

Suara itu bernada tak berani memandang enteng kepada si nyonya. Habis itu terdengarlah suara berisik yang pergi jauh.

Eng Kouw berpaling pada Kwee Ceng. “Kau ingin menolongi adikmu ini atau tidak?” ia tanya.

Kwee Ceng melengak, lalu ia menjatuhkan dirinya berlutut.

“Jikalau locianpwee suka menolong…” katanya.

“Locianpwee!” kata si nyonya, bengis. “Apakah aku sudah tua?”

“Tidak, tidak terlalu tua,” sahut Kwee Ceng cepat.

Sinar matanya Eng Kouw berpindah dari si anak muda ke jendela, dari mulutnya terdengar kata-kata ini, “Tidak terlalu tua…Hm, itu artinya sudah tua…!”

Kwee Ceng menjadi bingung. Rupanya perkataannya itu telah menyinggung si nyonya. Ia tidak tahu mesti membilang apa.

Eng Kouw menoleh pula. Sekarang ia melihat kepala orang berkeringatan.

“Kalau orangku itu dapat menyayangi aku satu persepuluh saja dari si bocah tolol ini,” pikirnya. “Ah, tidakkah sia-sia belaka hidupku ini…” Lalu ia bersenandung dengan perlahan:

“Empat buah perkakas tenun…maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan…Sayang, belum lagi tua tetapi kepala sudah putih…Gelombang musim semi, rumput hijau, di musim dingin di dalam tempat yang tersembunyi, saling berhadapan mandi baju merah…”

Mendengar itu Kwee Ceng heran.

“Ah, rasanya aku kenal syair ini…” pikirnya. Tapi ia tidak ingat, siapa pernah membacakan itu. Itulah bukannya Cu Cong, gurunya yang nomor dua dan juga bukan Oey Yong. Maka dengan perlahan, ia menanya si nona, “Yong-jie, siapakah yang mengarang syair ini? Apakah artinya itu?”

Si nona menggeleng kepala.

“Aku mendengar ini baru untuk pertama kali,” sahutnya. “aku tidak tahu siapa pengarangnya. Sayang belum tua tetapi kepala sudah putih…Sungguh suatu kata-kata yang bagus!”

Kwee Ceng masgul, sudah ia tidak ingat, Oey Yong pun tidak tahu, sedang si nona terpelajar, luas pengetahuannya. Pikirnya, “Syair bukan buatan Oey Yong, tentu bukan karya ayahnya. Habis siapakah? Toh aku ingat aku pernah mendengarnya…”

Eng Kouw pun lantas berdiam. Ia lagi memikirkan segala apa yang telah berlalu. Ia nampak sebentar bergirang sebentar berduka. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Adikmu ini terhajar tangannya Kiu Tiat Ciang Pang, entah ada benda apa yang menghalanginya sehingga ia tidak mati lantas, meski begitu, tidak peduli bagaimana dia tidak bakal dapat bertahan lewat tiga hari. Ah, lukanya ini cuma ada satu orang yang dapat menolongnya…”

Kwee Ceng lagi menjublak ketika ia mendengar kata-kata terakhir itu, hatinya lantas memukul keras saking girangnya, maka ia lantas menjatuhkan diri berlutut pula di depan nyonya itu, ia mengangguk tiga kali hingga kepalanya membentur tanah. Ia lantas memohon, “Tolong loo…oh, tidak, tidak! Tolong kau menolongi adikku ini, budimu tidak nanti aku lupai…”

“Hm!” bersuara Eng Kouw, dingin. “Mana aku mempunyai kepandaian untuk menolongi orang? Kalau aku pandai, musahil aku berdiam di ini tempat membeku menderita kesengsaraan ini…”

Kwee Ceng berdiam saja.

“Nyata kau beruntung,” kemudian nyonya itu berkata pula, “Kamu telah bertemu denganku yang mengetahui tempat kediaman orang itu, dan beruntung pula, tempatnya tidak jauh, maka di dalam tempo tiga hari, kamu dapat tiba di sana…Hanyalah sukar untuk dibilang orang itu suka menolongi atau tidak.”

Kwee Ceng girang bukan kepalang.

“Aku nanti meminta, memohonnya!” ia berkata. “Aku percaya tidak nanti ia tidak menolong kalau ia melihat bahaya lagi mengancam…”

“Apa itu melihat bahaya mengancam tidak menolong?” kata Eng Kouw. “Kebaikan apa kau telah berikan padanya? Kenapa dia mesti menolong kamu?”

Suara itu menggenggam kegusaran.

Kwee Ceng mengerti, ia tidak berani menyahuti.

Si nyonya bertindak ke kamar luar, di sana ia duduk di kursi, kepalanya ditunduki. Ia memegangi pit, entah dia menulis apa. Habis menulis, surat-suratnya itu dilepit, lantas dibungkus rapi dengan masing-masing sepotong cita, yang terus ia jahit, kemudian ia menjahit dan menjahit lagi hingga merupakan tiga kantung. Habis itu, baru ia kembali ke kamar bundar itu.

“Sekeluarnya dari rimba ini, menyingkirlah kamu dari kepungannya Tiat Ciang Pang,” ia berkata. “Kamu menuju langsung ke timur laut, terus sampai di kecamatan Tho-goan. Di sana barulah kamu membuka kantung yang putih itu. Seterusnya tindakan apa yang kamu harus lakukan, di dalam situ ada ditulis jelas. Sebelum kamu sampai di sana, ingat baik-baik, jangan kamu buka surat ini!”

Kwee Ceng girang sekali, ia menghanturkan terima kasih berulangkali. Kemudian ia menyodorkan tangannya untuk menerima kantung-kantung itu.

Eng Kouw menarik pulang tangannya.

“Tunggu dulu!” katanya. “Jikalau orang itu tidak sudi menolong, yah sudah saja, tetapi apabila dia suka menolongi hingga adikmu ini ketolongan, aku hendak minta suatu apa.”

“Budi ini mesti dibalas,” berkata Kwee Ceng. “Cianpwee menitahkan saja!”

Eng Kouw tertawa dingin ketika ia berkata, “Jikalau adikmu ini tidak binasa, maka di dalam tempo satu bulan ia mesti kembali ke mari dan di sini ia mesti tinggal bersama aku selama satu tahun!”

Kwee Ceng heran.

“Kenapa begitu?” tanyanya.

“Kenapa begitu?” balik tanya si nyonya. “Apakah sangkutannya itu sama aku? Aku cuma tanya kau, kau suka atau tidak?”

“Kau menghendaki aku mengajari kau ilmu hitung Kie-bun-sut, bukan?” Oey Yong campur bicara. “Apakah susahnya itu? Baik, aku memberikan janjiku!”

Eng Kouw mendelik kepada si anak muda.

“Percuma jadi laki-laki, kau tak bisa melawan kecerdikan adikmu satu persepuluh!” ia mengejeknya tetapi ia menyerahkan tiga kantung kainnya itu.

Kwee Ceng menyambuti. Ia melihat satu kantung putih, satu merah dan satu lagi kuning. Ia lantas menyimpan itu baik-baik. Ia memberi hormat sambil menjura tetapi Eng Kouw menyingkir, tak mau ia menerima hormat itu. Ia kata, “Tak usah kau mengucap terima kasih padaku, aku juga tidak sudi menerimanya. Kamu dan aku bukan sanak bukan kandung, perlu apa aku menolongi adikmu ini? Taruh kata kita bersanak, juga tak usah kau menjadi begini bersyukur. Adalah janji kita yang mesti ditepati. Aku bilang padamu, aku menolongi adikmu untuk diriku juga. Hm, siapa tidak berbuat untuk dirinya, dia dimusnahkan Langit dan Bumi!”

Kwee Ceng heran sekali. Suara itu pun tak sedap untuk kupingnya. Oleh karena ia memang tidak pandai bicara, ia tidak tahu mesti membilang apa. Ia sekarang cuma mengingat keselamatannya Oey Yong.

Eng Kouw mengawasi pula si pemuda dengan mata mendelik.

“Kau telah bercapai lelas satu malaman,” katanya. “Kmau juga tentu telah lapar, maka baiklah kamu dahar bubur!”

Oey Yong sudah lantas merebahkan diri di atas pembaringan, ia beristirahat separuh pulas separuh sadar. Kwee Ceng menjagai dia di sampingnya, pikirannya tidak tentram.

Eng Kouw, yang pergi ke dalam, tak lama datang pula dengan membawa sebuah tetampan, di atas mana ada dua mangkok bubur yang masih panas, asapnya masih mengepul-ngepul. Harum bubur itu. Sebagai temannya ada daging ayam dan ikan.

Kwee Ceng lantas saja terbangun selera makannya. Ia memang saudh lapar sekali. Ia tidak menyangsikan pula si nyonya. Tadi ia mengkhawatirkan Oey Yong, ia lupa makan. Maka ia menepuk-nepuk belakang tangan kekasihnya itu.

“Yong-jie, mari dahar!” katanya.

Oey Yong membuka matanya, ia menggeleng kepala perlahan.

“Dadaku sangat sakit, aku tidak mau dahar,” sahutnya.

“Hm!” Eng Kouw tertawa dingin. “Ada obat untuk melenyapkan rasa nyeri tetapi kamu bercuriga!”

Oey Yong tidak ambil peduli sindiran itu.

“Engko Ceng, mari kasih aku sebutir pil Kiu-hoa Giok-louw-wan,” kata dia.

Pil itu ada pil pemberiannya Liok Seng Hong semasa di Kwie-in-chung, si nona simpan itu di dalam sakunya, ketika Ang Cit Kong dan Kwee Ceng terluka di tangan Auwyang Hong, mereka makan obat itu beberapa butir, benar obat itu tidak dapat menyembuhkan tetapi bisa menghilangi rasa sakit.

Kwee Ceng menyahuti, ia membuka kantung si nona dan mengeluarkan obat yang diminta itu.

Ketika Oey Yong menyebutkan namanya obat, hati Eng Kouw terkesiap, begitu lekas ia melihat pil merah itu, ia kata dengan bengis, “Adakah ini Kiu-hoa Giok-louw-wan? Kasih aku lihat!”

Kwee Ceng heran mendengar suara orang demikian aseran, ia menoleh. Maka ia melihat mata si nyonya bersinar tajam. Ia menjadi lebih terheran lagi. Tapi ia menyerahkan semua sekantung obat itu.

Kapan Eng Kouw menyambutnya, ia merasakan bau harum dari obat itu menyampok hidungnya. Ia lantas merasakan tubuhnya adem. Ia mengawasi si anak muda, terus ia menanya; “Obat ini ada obat dari Tho Hoa To, darimana kamu mendapatkannya? Lekas bilang! Lekas!” Suaranya itu bengis tetapi bengis bercampur nada sedih.

Dalam herannya, Oey Yong berpikir, “Dia hendak mempelajari ilmu Kie-bun-sut, apakah ia mempunyai hubungannya sama salah satu murid ayahku?”

Kwee Ceng sendiri sudah lantas menjawab, “Adikku ini ialah putrinya pemilik Tho Hoa To!”

Mendadak Eng Kouw berlompat berjingkrak.

“Anaknya Oey Lao Shia?!” dia berteriak. Kedua matanya lantas bersinar bengis, kedua tangannya terus dipentangkan, agaknya hendak dia menubruk si nona di depannya itu.

“Engko Ceng, kembalikan tiga kantung itu!” kata Oey Yong. “Karena dialah musuh ayahku, kita jangan menerima budinya!”

Kwee Ceng mengeluarkan kantungnya hanya ia berayal mengembalikannya. Ia bersangsi.

“”Letaki, engko Ceng!” kata pula Oey Yong. “Belum tentu aku mati! Mati pun boleh apa!”

Belum pernah Kwee Ceng tidak meluluskan sesuatu kehendaknya si nona, maka ia meletakinya tiga kantung surat wasiat itu.

Eng Kouw memandang keluar jendela, perlahan terdengar keluhannya, “Oh, Thian, Thian…!” Kemudian dengan lantas ia pergi ke kamar sebelah, di sana ia membaliki tubuhnya, entah apa yang ia lakukan.

“Mari kita berangkat!” mengajak Oey Yong. “Aku sebal melihat perempuan ini!”

Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, si nyonya sudah kembali.

“Aku hendak memperlajari ilmu Kie-bun-sut, perlunya untuk memasuki Tho Hoa To,” ia berkata, “Sekarang gadisnya Oey Lao Shia ada di sini, aku menyakinkannya seratus tahun juga tidak ada gunanya. Dasar nasib, apa mau dibilang? Nah, pergilah kamu! Bawalah kantung itu!”

Ketiga kantung itu, bersama kantung obat, ia sesapkan di tangannya si anak muda. Kepada Oey Yon ia berkata, “Obat Kiu-hoa Giok-louw-wan ini untukmu ada bahayanya tidak ada faedahnya, maka janganlah kau makan pula, hanya kalau nanti kau sudah sembuh, jangan kau lupa janji kita satu tahun itu! Ayahmu telah membikin rusak seluruh penghidupanku, maka semua barang makanan di sini, lebih suka aku memberikannya anjing yang makan, tak sudi aku memberikannya kepada kamu!”

Lantas bubur dan dua rupa masakannya itu ia lemparkan keluar jendela!

Oey Yong gusar bukan kepalang, mau ia membuka mulutnya, atau mendadak ia sadar, maka ia lantas pegangi Kwee Ceng, untuk bangun berdiri. Dengan tongkatnya, ia menulis tiga baris huruf di atas pasir, setelah mana ia mengajak si anak muda itu bertindak ke luar.

Kapan ia sudah tiba di pintu luar, Kwee Ceng berpaling ke belakang, dengan begitu ia bisa melihat Eng Kouw, yang semenjak tadi berdiam saja, lagi mengawasi ke tanah, agaknya dia berdiri bengong, rupanya dia tengah menghitung…

Sesampainya di muka rimba, Kwee Ceng menggendong Oey Yong, lalu ia bertindak pergi mengikuti jalan masuknya tadi. Selama itu, ia menutup mulut, karena pikirannya dipusatkan kepada tindakan kakinya itu supaya ia tidak salah jalan. Adalah setibanya di luar, di tempat aman, baru ia menanya si nona apa yang ditulisnya tadi.

Oey Yong tertawa.

“Aku menulis tiga macam hitungan untuknya,” sahutnya. “Dia boleh memikirkan itu setengah tahun, tidak nanti dia mendapatkan jawabannya. Biarlah rambut putihnya menjadi tambah uban! Siapa suruh dia bersikap demikian kurang ajar!”

“Sebenarnya dia bermusuh apa dengan ayahmu?”

“Aku tidak tahu. Tidak pernah aku mendengar ayah mengomonginya.” Ia hening sedetik. Lantas ia menanya, “Dimasa mudanya, dia mestinya cantik sekali. Benar tidak engko Ceng?” Selagi menanya begitu, di hatinya ia menduga apa mungkin nyonya itu pernah saling menyinta dengan ayahnya…

“Biar dia cantik atau tidak,” Kwee Ceng menyahut. “Dia lagi memikirkan tulisanmu itu, umpama kata dia mendadak menyesal, tidak nanti dia dapat menyusul kita.”

“Entah apa dia tulis di dalam kantungnya itu?” tanya Oey Yong. “Jangan-jangan dia tidak bermaksud baik. Apakah tidak baik kita membuka dan melihatnya?”

“Jangan, jangan!” Kwee Ceng mencegah. “Biar kita turut pesannya, sampai di kecamatan Tho-goan baru kita buka…”

Oey Yong sangat terpengaruhkan keinginan tahunya, ingin ia melihatnya, tetapi Kwee Ceng tetap mencegah akhirnya ia suka mengalah.

Sementara itu tanpa terasa sang malam telah berlalu, sang fajar datang menggantikannya, Kwee Ceng naik ke atas sebuah pohon tinggi, untuk melihat kelilingan. Ia tidak melihat orang-orang Tiat Ciang Pang, maka hatinya lega. Ia lantas bersiul memanggil kuda serta burungnya, yang muncul dengan cepat. Yang datang belakangan ialah kedua burung rajawali.

“Mari kita berangkat,” kata si anak muda setelah ia dan si nona sudah berada di punggung kuda mereka.

Justru itu waktu, di pinggiran rimba terdengar suara orang berseru-seru, lalu terlihat munculnya beberapa puluh orang. Merekalah orang-orang Tiat Ciang Pang, yang tak putus asa meskipun Eng Kouw telah menampik mereka, dengan terpaksa mereka menanti sambil menyembunyikan diri, baru mereka keluar setelah Kwee Ceng mengasih dengar suaranya yang nyaring memanggil kuda dan burungnya.

“Maaf, tak dapat kami menemani kamu!” berkata Kwee Ceng kepada mereka itu seraya ia mengeprak mengasih kudanya lari, maka dalam tempo yang pendek, di kuda merah meninggalkan jauh sekali kawanan pengepungnya itu.

Di waktu tengah hari, Kwee Ceng telah melalui perjalanan beberapa ratus lie, maka ia lantas berhenti di tepi jalan, di mana ada sebuah warung nasi. Si situ ia bersantap. Oey Yong lagi sakit, ia makan sedikit bubur.

Habis makan anak muda ini menanya tuan rumah tempat itu apa namanya. Ia diberi tahu bahwa ia berada di dalam wilayah kecamatan Tho-goan, maka tidak ayal lagi ia mengeluarkan kantung putihnya, untuk dibuka dan diperiksa. Di dalam situ ada sehelai peta bumi dengan dua baris yang berbunyi, “Jalan mengikuti petunjuk dalam gambar ini. Di ujung jalanan ini ada sebuah air tumpah yang besar, di samping mana ada sebuah rumah yang atap. Sampai di situ bukalah kantung yang merah.”

Tanpa ragu-ragu, Kwee Ceng menuruti surat wasiat itu. Ia mengasih kudanya lari sampai sekira delapanpuluh lie, sampai jalanan nyata makin jauh makin sempit. Lagi delapan atau sembilan lie, jalanan merupakan jalanan selat yang sempit, di kiri-kanan ialah tembok gunung. Jalanan demikian kecil hingga muat hanya satu orang. Kuda merah juga tidak dapat jalan di situ. Saking terpaksa, Kwee Ceng menggendong pula Oey Yong dan kudanya ditinggalkan, dibiarkan mencari makanannya sendiri.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: